Anda di halaman 1dari 25

TUGAS

RESUME BUKU
KONSELING KELUARGA
Dosen Pengampu : Drs. Ahmad Hisbullah, M.M

Disusun Oleh :
Nama : Citra Amalia Gistara
NPM : 14110018
Kelas : BK IV B

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
(STKIP-PGRI) BANDAR LAMPUNG
2016
1

DAFTAR ISI

Bab I Latar Belakang Kehidupan Keluarga

Bab II Sejarah Konseling Keluarga

Bab III Konseling Keluarga Dengan Pendekatan Sistem

Bab IV Memahami Konseling Keluarga

Bab V Teori-teori Konseling

Bab VI Aplikasi Teori-teori Konseling

Bab VII Proses Dan Tahapan Konseling Keluarga

Bab VIII Teknik-teknik Konseling Keluarga

Bab IX Ketahanan Keluarga

Bab X Dialog Konseling Kasus Mahasiswa DO

Bab XI Dialog Konseling Keluarga

BAB I
LATAR BELAKANG KEHIDUPAN KELUARGA

A. Degradasi Nilai-nilai
Kehidupan masyarakat khususnya keluarga tidak terlepas dari sistem nilai yang ada di
masyarakat tersebut. Sistem nilai menentukan perilaku anggota masyarakat. Berbagai sistem
nilai ada di masyarakat yaitu agama, adat istiadat, nilai-nilai sosial, dan nilai-nilai kesakralan
keluarga.
1. Nilai-nilai Agama
Semua agama merasakan bahwa kebanyakan umatnya kurang setia terhadap agama yang
dianutnya. Dengan kata lain, banyak umat saat ini kurang taat beribadah sebagaimana
diperintahkan oleh agamanya.
2. Degradasi Nilai Adat Istiadat
Degradasi nilai adat istiadat atau sering disebut juga tata susila atau kesopanan terlihat pada
perilaku anak dan remaja yang berlaku tidak sopan terhadap orang tua, guru, dan orang tua
lainnya. Sumber penyebab dari menghilangnya nilai-nilai kesopanan tersebut adalah:
1. Menghilangnya kurikulum pendidikan kesopanan di sekolah.
2. Kurangnya teladan dari guru dan orang tua pada umumnya dalam hal adat kesopanan.
3. Melemahnya ekonomi sebagian besar rakyat sebagai akibat kesulitan ekonomi negara dan
meluasnya korupsi.
3. Degradasi Nilai-nilai Sosial
Sikap individualistik telah berkembang di masyarakat. Artinya, banyak anggota masyarakat yang
mementingkan dirinya sendiri, dan enggan berbagi terhadap orang tidak berpunya. Beberapa ciri
sikap individualistik yang berkembang di masyarakat, dapat dilukiskan sebagai berikut:
a. Mementingkan diri sendiri dalam segala hal.
b. Enggan berbagi harta, saran, pikiran, dan pendapat.
c. Tidak mau bergaul terutama dengan orang rendahan.
3

d. Memutuskan tali silaturrahim dengan keluarga.


4. Degradasi Kesakralan Keluarga
Degradasi kesakralan keluarga terlihat dengan nyata pada fakta-fakta berikut ini.
a.
b.
c.
d.

Seringnya terjadi perceraian.


Banyak terjadi perselingkuhan, baik oleh suami maupun oleh istri.
Banyak kasus kekejaman dalam keluarga seperti suami membunuh istri, dan sebaliknya.
Keluarga retak karena perselingkuhan maupun faktor ekonomi.

B. Kondisi Keluarga Modern


Keluarga modern mempunyai ciri utama kemajuan dan perkembangan di bidang pendidikan,
ekonomi, dan pergaulan.
C. Krisis Keluarga
Faktor-faktor penyebab terjadinya krisis keluarga, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Kurang atau putus komunikasi diantara anggota keluarga terutama ayah dan ibu.
Sikap egosentrisme.
Masalah ekonomi.
Masalah kesibukan.
Masalah pendidikan.
Masalah perselingkuhan.
Jauh dari agama.

D. Upaya Mengatasi Krisis Keluarga


Akar masalah dari krisis keluarga bersumber pada suami, istri, anak-anak (ibu, bapak, mertua,
atau orang lain). Upaya yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan krisis keluarga ada dengan
cara-cara tradisional dan ada pula dengan cara modern atau yang sering disebut dengan cara
ilmiah. Cara pemecahan masalah dengan sifat tradisional terbagi dua bagian yaitu kearifan kedua
orang tua dan bantuan orang bijak seperti ulama atau ustadz. Cara ilmiah adalah cara konseling
keluarga (family counseling).
Ada dua pendekatan dilakukan dalam hal ini:
1) Pendekatan individual disebut juga individual counseling yaitu upaya untuk menggali
emosi, pengalaman, dan pemikiran klien.
4

2) Pendekatan kelompok (family counseling). Yaitu diskusi dalam keluarga yang dibimbing
oleh konselor keluarga.

BAB II
SEJARAH KONSELING KELUARGA

A. Perkembangan Konseling Keluarga


5

Sejarah perkembangan konseling keluarga di dunia berasal dari daratan Eopa dan Amerika
Serikat. Perbedaan yang nyata antara model Eropa dan Amerika terletak pada :
a. Minat Pakarnya.
b. Pasien keluarga di Eropa lebih banyak suami isteri yang bermasalah dalam hal-hal
seksual. Sedangkan di Amerika masalah keluarga adalah gabungan, yaitu masalah suami
istri (marriage counseling) dan masalah keluarga (family counseling).
c. Dukungan masyarakat terhadap konseling keluarga lebih luas di Amerika dari pada
Eropa. Namun Eropa adalah tempat belajar orang-orang Amerika tentang family
counseling.
1. Perkembangan Awal di Eropa dan Amerika
Sekitar tahun 1932 terdapat beberapa ratus pusat-pusat konseling perkawinan dan keluarga
(marriage and family counseling) di Jerman dan Austria. Pusat-pusat ini memberikan informasi
mengenai keluarga berencana, perkawinan, dan konseling keluarga. Pada saat itu masyarakat
telah menerima anggapan bahwa masalah-masalah perkawinan dan keluarga hendaklah dibantu
oleh tenaga-tenaga profesional yang telah dilatih menangani masalah-masalah tersebut. Periode
ini datang dan berakhir dengan timbulnya kekuasaan Hitler di Jerman.
Di AS ada dua penentu yang masing-masing berkaitan dalam perkembangan gerakannya:
1) Adanya perkembangan pendidikan keluarga yang diusahakan secara academic settings
dan kemudian menjadi pendidikan orang dewasa sebagai setting lain;
2) Munculnya konseling perkawinan dan keluarga terutama dalam masalah-masalah
hubungan diantara anggota keluarga (suami, istri, dan anak-anak) dalam konteks
kemasyarakatan.

2. Sejarah Konseling Keluarga Di Indonesia


Beberapa indikator perkembangan BK adalah sebagai berikut:

a. Guru pembimbing tidak secara khusus menangani masalah keluarga, akan tetapi
disambilkan dalam penanganan masalah kesulitan belajar, penyesuaian social, dan pribadi
siswa.
b. Terjadi anggapan bahwa konseling keluarga adalah bimbingan bagi calon ibu dan bapak
yang akan memasuki hidup berumah tangga.
c. Orientasi konseling keluarga adalah pengembangan individu anggota keluarga melalui
sistem keluarga yang mantap dan komunikasi antar anggota keluarga yang harmonis.
4. Beberapa Tokoh Konseling Keluarga
a. Virginia Satir
Ia mengembangkan target pekerjaan terapeutik sebagai berikut:
a. Harga diri individu anggota keluarga;
b. Kualitas penyaluran, dan pemolaan komunikasi keluarga;
c. Aturan yang menata perilaku keluarga dan pernyataan-pernyataan afektif;
d. Ikatan antara anggota keluarga dengan masyarakat dan lembaga-lembaga.
b. Jay Haley
Ia terlibat dalam berbagai riset dalam bidang family therapy, salah satunya adalah aliran yang
berorientasi praktis dalam klasifikasi konseling keluarga.
c. Salvadore Minuchin
Menurut Minuchin faktor yang menentukan intetaksi keluarga ialah : struktur keluarga , batas
wewenang anggota keluarga, proses sistem keluarga dan pembagian tugas dalam keluarga.
5. Pertumbuhan Konseling Keluarga.
Pertumbuhan konseling keluarga tampak pada hal-hal:
a. Rentang masalah
b. Para Pakar/Praktisi
7

c. Publikasi
d. Training
B. Klasifikasi Konseling Keluarga.
1. Orientasi Praktis
Menekankan bahwa kebenaran tentang perilaku tertentu diperoleh dari pelaksanaan proses
konseling di lapangan. Menurut Haley ada beberapa aliran yang berorientasi praktis:
a. The Dignified School of Family Theraphy : Ialah aliran yang menghargai martabat
manusia. Aliran ini dipimpin oleh John Bell.
b. The Dynamic Psychodinamic School of Family Diagnosis dengan tokohnya Nathan
Ackerman. Aliran ini menekankan kepada fungsi diagnostik terhadap semua individu
anggota keluarga, dan konselor berperan aktif menemukan perbedaan-perbedaan diantara
anggota keluarga.
c. Chuck It And Run dipimpin oleh Charles Fulweiler : yang berusaha merangsang
konflik diantara anggota keluarga, kemudian setelah konflik itu muncul maka
terapis/konselor meninggalkan ruang konseling untuk mengamati cara-cara mereka
menyelesaikan konflik maka peristiwa itu direkam atau diamati melalui kaca tembus
sebelah (one way mirrors).
d. Great Mother School : dipimpin oleh Virginia Satir aliran yang menekankan pada
penerimaan individu dan saling mempercayai diantara anggota keluarga.
e. Eyebows School dipimpin R.D Laing dan di ikuti terapis-terapis Inggris. Menurut aliran
ini kepedulian mereka adalah terhadap subjektivitas anggota keluarga untuk kemudian
ditafsirkan terhadap kenyataan keluarga.
f. Brotherly Love School : menekankan pada kunjungan terapis (dalam tim) ke rumah
klien.
g. Total Push In The Tall Country :Dipelopori oleh Robert MacGregor dari Texas.
Menurut aliran ini tugas anggota keluarga sangat penting.
8

h. Hospitalized The Whole Damn Maelstrom dipelopori oleh Halley Menjelaskan


ekperimen Bowen melalui hospitalisasi seluruh anggota keluarga yang salah satu
anggotanya mengalami schizophrenia.
Gaya Kepribadian Konselor Berinteraksi Praktis
a. Gaya Konduktor. Kepribadiannya hebat,giat, dapat menguasai audience sehingga
mereka terpana.
b. Gaya Reaktor. Kepribadian konselornya cenderung tidak menguasai, menggunakan
taktik secara dinamika kelompok di keluarga.
Gaya Konselor Reaktor terdiri atas :
1) Berdasarkan Sistem: yaitu kelompok yang mengamati dan berespon terhadap pola-pola
pengaruh interpersonal dan aturan-aturan yang mengatur pengaruh itu.
2) Analyst (Psikoanalisis) yaitu terapis yang memperhatikan proses intrapsikik atau tradisi
psikodinamika.
2. Orientasi Teoritis
Tedapat tujuh dimensi praktik Terauputik dalam konseling keluarga :
1. Konselor memandang konseling keluarga sebagai metode atau konsep.
2. Pasien dianggap sebagai fokus treatment atau tidak.
3. Kepentingan relatif terhadap sejarah pasien.
4. Menggunakan prosedur diagnostik.
5. Konselor berperan dalam prosedur diagnostik.
6. Adanya penafsiran terhadap sikap perasaan.
7. Adanya prosedur operasional dalam konseling.
3. Pengelompokan Konselor (A-Z)
9

a. Pengelompokan Konselor A Menurut Guerin 1976


Guerin melihat ada empat kelompok konselor tipe A yaitu: individual, kelompok, Ackermanian,
dan experiential.
b. Kelompok Z (berorientasi sistem)
Ada tiga parameter penting dalam konseling keluarga model Z ini: fokus terapeutik yaitu gejala
atau pertumbuhan, derajat optimisme untuk melunakkan perilaku manusia, dan tipe pendidikan
yang ditekankan.
4. Tahun 80-an : Menuju Konstruk yang Lebih Luas.
Perbandingan-perbandingan pendekatan dalam konseling keluarga yaitu :
a. Integratif (Ackerman)
b. Psikoanalitik (Farmo, steirlin, Grotjan)
c. Bowenian (Bowen)
d. Struktural (Minuchin)
e. Interaksional (Jackson, Watslawick, Haley, Satir)
f. Social Network ( Speck, Attinev, Rueveni)
g. Behavioral (Patterson).

BAB III
10

KONSELING KELUARGA DENGAN PENDEKATAN SISTEM

A. Perspektif Sistem Dalam Keluarga.


Menurut teori sistem ada sistem tertutup (closed system) dan sistem terbuka (open system).
Sistem tertutup adalah suatu sistem yang tidak terpengaruh oleh dunia luar. Demikian pula dia
tidak bisa mempengaruhi dunia luar, misalnya sistem mesin mobil, motor, mesin kereta api, dan
sebagainya. Sedangkan sistem terbuka adalah suatu sistem yang dapat dipengaruhi oleh dunia
luar. Sebaliknya mungkin saja dia dapat mempengaruhi dunia luar tersebut. Sebagai contoh:
sistem keluarga, sistem sekolah/universitas, dan sebagainya. Proses dimana anggota keluarga
saling berhubungan, berinteraksi, dinamakan sistem keluarga.
1.Teori Sistem Secara Umum
a. Keseluruhan (wholessness)
b. Umpan Balik (Feed Back)
c. Homeostasis
d. Equifinality
2. Konselor Berfikir Sistem
Jika ada seorang anggota keluarga terganggu berarti seluruh sistem keluarga juga terganggu.
Sebaliknya jika ada seorang anggota keluarga memperoleh keberhasilan atau keunggulan, maka
seluruh anggota keluarga akan bahagia dan sistem keluarga akan bertambah kuat kesatuannya
untuk saling membantu untuk kemajuan.
3. Penggabungan dan Integrasi Pendekatan Konseling.
Ada 3 isu yang selalu berkembang tentang kontradiksi kedua pendekatan konseling psikoanalitik
dan system:
a. Isu Masa Lalu vs Masa Kini
b. Isu vs Proses (content vs process)
11

c. Intrapsikik vs Konteks Interpersonal


B. Konseling Keluarga Struktural : salvador minuchim
Minuchin menekankan perhatiannya pada bagaimana, kapan, dan kepada siapa anggota keluarga
saat ini berhubungan. Praktik konseling keluarga struktural berdasarkan konsep kunci yaitu :
1. Keluarga sebagai sistem manusia yang mendasar
Keluarga mempunyai komponen-komponen yang membentuk organisme keluarga. Komponenkomponen itu ialah anggota keluarga.
2. Fungsi subsistem dalam sistem keluarga
Di dalam sistem keluarga terdapat beberapa subsistem yaitu :
a. Marital Subsystem: merupakan sistem perkawinan antara sepasang manusia yaitu suami
dan istri.
b. Parental Subsystem: yaitu subsistem yang terdiri dari orang tua (ayah-ibu)
c. Sibling System: yaitu subsistem anak-anak dalam sistem keluarga (sibling = saudara
kandung).
3. Karakteristik aturan-aturan sistem dan subsistem
Ialah aturan-aturan tentang siapa dan bagaimana berpartisipasi dalam sistem keluarga. Yang
bertujuan agar sistem keluarga berjalan dengan baik.
4. Pengaruh-pengaruh keterlibatan perilaku antara anggota keluarga
Perilaku egois menyebabkan terganggunya sistem keluarga. Faktor penyebabnya ialah karena
masing-masing anggota keluarga memiliki aturan-aturannya sendiri-sendiri dalam interaksi di
dalam sistem keluarga. Ada beberapa kriteria ketidakberfungsian keluarga yang dilihat dari tiga
dimensi: aturan/batas-batas sistem dan subsistem keluarga, masalah blok dalam keluarga, dan
masalah kekuasaan.
5. Evolusi pola-pola transaksi
C. Kenali Struktur Keluarga
12

Menurut aliran structural, sebelum melakukan praktik khususnya treatmen terhadap keluarga,
maka perlu terlebih dahulu assessment (taksiran, penilaian) terhadap pola interaksi keluarga saat
itu. Teknik-teknik konseling keluarga struktural yaitu:
1. Akomodasi (accomodation)
Ialah suatu teknik dimana konselor berperilaku dalam cara-cara yang sama dengan gaya
keluarga, langkah keluarga dan keistimewaan-keistimewaan/keanehan keluarga. Dalam teknik ini
terdapat dua komponen penting:
a. Konselor berusaha untuk mengubah perilakunya supaya sesuai dengan gaya sistem
keluarga.
b. Komponen kedua didalam teknik akomodasi ialah penghargaan dan rasa hormat
terhadap adanya struktur keluarga.
2. Tracking (mengikuti jalan)
Yaitu mengikuti jalan komunikasi atau pikiran anggota keluarga.
3. Mimesis
Bertujuan agar konselor mengadopsi gaya,langkah, perasaan, penampilan fisik dan sebagainya
dari keluarga.
4. Fokus
Konselor memilih bidang informasi yang akan diolah.
5. Instruksi (enaciment)
Konselor meminta klien untuk melakukan bukan mengatakan.
6. Intensitas
Suatu usaha konselor untuk memberi dan menekan pengaruh kuat dalam keluarga.
7. Mengenal Batas-batas / Aturan Subsistem Keluarga.
Usaha konselor untuk memisahkan batas-batas antara subsistem suami isteri dengan ayah-ibu.
8. Saling Mengisi ( complementary)
Usaha konselor untuk menimbulkan pemahaman pada anggota keluarga.
9. Merekonstruksi Realitas
Bila konselor mengungkapkan kembali atau menginterpretasi pandangan dunia nyata keluarga ,
atau persepsi meraka tentang diri dan masalahnya.
BAB IV
MEMAHAMI KONSELING KELUARGA

A. Latar Belakang Konseling Keluarga


1. Perubahan Kehidupan Keluarga
2. Keluarga Pecah (Broken Home)
3. Kasus Siswa Disekolah
4. Konseling Keluarga dan Sekolah
Banyak kasus siswa bersumber dari iklim kehidupan keluarga tidak sehat. Hubungan keluarga
dan sekolah dalam kaitannya dengan anak dan konselor.
13

a.
b.
c.
d.

Pemikiran Kembali Peranan Konselor Keluarga di Sekolah


Pandangan Terhadap Teori Sistem
Sistem Sekolah Dan Keluarga
Jenis-jenis Masalah
a. Ketakseimbangan Sistem.
b. Gangguan Dalam Perkembangan
c. Gangguan Yang Bukan Pada Krisis Perkembangan
d. Krisis Lingkungan (eksternal)
e. Peranan Konselor keluarga
f. Penilaian Terhadap Pengaruh Sistem Keluarga dan Sekolah
g. Teknik-teknik Pengumpulan Data
a. Wawancara, mengajukan pertanyaan dan mendengarkan dengan responsif.
b. Teknik Menggambar, klien dsuruh menggambar dan melihat gejala emosional
dalam gambar itu.
c. Family Sculpting, semua anggota keluarga diam dan klien berbicara.
d. Memberi Tugas, tugas rumah dapat membantu penyesuaian diri dalam keluarga.
e. Tujuan pengumpulan data atau penilaian adalah untukbmengikat anggota keluarga
dalam treatmen dan menilik kembali masalah.
h. Tujuan Observasi Kelas
i. Tindak Lanjut Pengumpulan Data Keluarga Dan Sekolah
j. Tujuan Konseling Keluarga.
k. Intervensi
B. Pengertian Konseling Keluarga
Adalah usaha membantu individu anggota keluarga untuk mengaktualisasikan potensinya atau
mengantisipasi masalah yang dialaminya, melalui sistem kehidupan keluarga dan mengusahakan
agar terjadi perubahan perilaku yang positif pada diri individu yang akan memberi dampak
positif pula terhadap anggota keluarga lainnya.
14

1. Rumusan Definisi Konseling Keluarga


Didalam buku perez (1979;25) Bahwa konseling keluarga adalah suatu proses interaktif untuk
membantu keluarga dalam mencapai keseimbangan dimana setiap anggota keluarga merasakan
kebahagiaan.
2. Tujuan Konseling Keluarga
a. Tujuan Umum Konseling Keluarga
1. Membantu anggota keluarga belajar dan menghargai secara emosional.
2. Agar tercapai keseimbangan yang akan membuat pertumbuhan dan peningkatan setiap
anggota.
b. Tujuan-tujuan Khusus Konseling Keluarga
1. Untuk meningkatkan toleransi dan dorongan anggota keluarga.
2. Mengembangkan motif dan potensi setiap anggota keluarga
3. Mengembang kan keberhasilan persepsi diri orang tua secara realistik sesuai dengan anggota
keluarganya.
BAB V
TEORI-TEORI KONSELING
A. Pengantar
Pendekatan konseling merupakan teori yang mendasari sesuatu kegiatan dan praktik konseling.
B. Pendekatan Psikoanalisis
Dipelopori oleh Sigmund Freud pada tahun 1896.
Pengertian Psikoanalisis mencakup tiga aspek:
1.
2.
3.

Sebagai metode penelitian proses psikis


Sebagai teknik mengobati gangguan psikis
Sebagai teori kepribadian.
15

1. Dinamika Kepribadian
Freud menganggap organisme manusia sebagai suatu kompleks energi yang mendapat energi
dari makanan.
a. Insting
Adalah suatu pernyataan psikologis dari suatu sumber perangsang somatiknyang dibawa sejak
lahir. Freud mengelompokkan insting atas fua jenis yakni : insting hidup dan insting mati.
b. Kecemasan
Freud mengemukakan macam-macam kecemasan yaitu :
1) Kecemasan Realistis, yaitu takut akan bahaya dari luar yang bersumber dari ego.
2) Kecemasan Neurotis, yakni kecemasan yang bersumber dati id, bila insting tidak dapat
dikendalikan akan menyebabkan orang tersebut berbuat sesuatu yang dapat dihukum.
3) Kecemasan Moral yang bersumber dati ego.
2. Proses Konseling
a. Tujuan konseling
Adalah untuk membentuk struktur kepribadian klien dengan jalan mengembalikan hal yang tak
disadar menjadi sadar.
b. Fungsi Konselor
Kinselor bersikap anonim artinya konselor berusaha tak dikenal llien dan bertindak sedikit sekali
memperlihatkanlerasaan dan pengalamannya. Tujuannya adalah agar klien dengan mudah
memantulkan perasaan kepada konselor.
c. Proses Konseling
1. Membina hubungan konseling yang tetjadi pada tahap awal konseling
2. Tahap krisis ada klien yaitu kesukaran dalam mengemukakan masalah
3. Tilikan terhadap masanlalu klien terutama pada masa kekanak-kanakan.
4. Pengembangan untuk pemahaman diri.
5. Pengembangan hubungan transferrnsi klien dengan konselor.
6. Melanjutkan hal-hal yang resistensi.
7. Menutup wawancara konseling.
d. Teknik Konseling
1. Asosiasi Bebas, yaitu klien diupayakan menjernihkan alam pikirannya dari alam pengalaman.
2. Interpretasi, yaitu teknik yang digunakan untuk menganalisa asosiasi bebas, mimpi, dan
transferensi klien.
3. Analisis Mimpi, yaitu suatu teknik membuka hal yang disadari dan memberinkesempatan
untuk menarik masalah yang belum tetselesaikan.
4. Analisis Resistensi, yaitu untuk.menyadarkan klien terhadap alasan resistensinya
16

5. Analisis Transferensi , konselor mengusahakan agar klien mengembangkan transferensinya


agar terungkap.
C. Terapi Terpusat Pada Klien ( client centered-theraphy )
Ciri-cirinya adalah :
1. Ditunjukkan kepada klien yang mampu memecahkan masalah.
2. Sasaran konseling adalah aspek emosi dan perasaan.
3. Titik tolak konseling adalah anggota individu.
4. Proses konseling adalah untuk menyesuaikan ideal self dengan aktual self.
5. Peranan yang aktif dalam konseling dipegang oleh klien.
1. Tujuan Konseling
Terapi terpusat pada klien yang di pelopori oleh Carl Rogers pada tahun 1942 . Bertujuan untuk
membina kepribadian klien secara integral, berdiri sendiri dan mempunyai kemampuan untuk
memecahkan masalahnya sendiri.
2. Proses Konseling
1. klien datang kepada konselor atas kemauan sendiri.
2. Situasi sejak awal adalah tanggung jawab klien.
3. Konselor memberanikan kliem agar mengemukakan perasaannya sendiri.
4. Konselor menerima perasaan klien serta memahaminya.
5. Konselor berusaha agar klien memahami dan mengerti dirinya.
6. Klien menentukan pilihan sikapndan pendapatm
7. Klien merealisasikan pendapatnya.
3. Teknik Konseling
Teknik konseling didasari atas faham filsafat dan sifat konselor.
Pada cara penerimaan pernyataan dan komunikasi.
D. Terapi Gestalt
Terapi yang dikembangkan oleh Frederick S. Pearl (1894-1970).
Yang didasari oleh empat aliran yakni psikoanalisis , fenomenologis , dan eksistensalisme serta
psikologi gestalt.
1. Tujuan Konseling
Adalah membantu klien menjadi individu yang merdeka berdiri srndiri. Untuk mencapai tujuan
itu di perlukan.
2. Landasan Bagi Proses Konseling
a. Pemolaam ( paterning ). Situasi yang tercipta setelah konselor memperoleh fakta atau
penjelasan .
b. Pengawasan (control). Tindakan konselor setelah pemolaan. Kontrol kemampuan untuk
meyakinkan klien.
c. Potensi, usaha untuk mempercepat terjadinya perubagan prilaku dan sikap serta kepribadian.
d. Kemanusiaan
e. Kepercayaan
3. Proses Perubahan Prilaku Klien
a. Transisi, yaitu klien selalu ingin dibantu oleh lingkungan kepada keadaan berdiri sendiri.

17

b. Audience and Unfinished Busines ialah emosi ataubperistiwa-peristiwa yang tetlambat


dikemukakan klien.
c. Impasse , individu atau konselorbyang bingung/terhambat.
d. Here and Now, Penanganan kasus dari sini dan saat ini.
E. Terapi Behavioral
Yang dikembangkan oleh Wolpe (1958) untuk menanggulangi neurosis.
1. Tujuan Konseling
Untuk membantu klien membuang respon-respon yang merusak diri dan mempelajari redpon
baru yang lebih sehat.
2. Teknik-teknik Konseling
a. Desentisasi Sistematik. Mengatakan bahwa prilaku neurotic adalah ekspresi dari kecemasan.
b. Assertive Training , teknik dalam konseling yang menitiknberatkan pada kasus yang
mengalami kesulitan dalam perasaan yang sesuai.
c. Aversion Theraphy , Bertujuan untuk menghukum prilaku yang negatifdan memperkuat
prilaku positif.
d. Home Work, suatu latihan rumah bagi klien yang kurang mampu menyesuaikan diri terhadap
situasi tertentu.
F. Logotheraphy Frankl
Dikembangkan oleh Frankl pada tahun 1938.
1.Tujuan terapi
Bertujuan agar masalah yang dihadapi klien dia bisa menemukan makna dari penderitaan dan
kehidupan sera cinta.
2. Teknik Konseling
Menggunakan semua teknik konseling yang sesuai dengan kasus yang dihadapi.
G. Rational Emotive Theraphy (RET)
Dikembangkan oleh Albett Ellis pada tahun 1962
A. Tujuan Terapi
Bertujuan untuk memperbaiki dan mengubah sikap, persepsi, cara berfikir serta keyakinan klieb
yang irasional menjadi rasional.
B. Proses Terapi Konseling
a. Konselor berusaha menunjukan klien kesulitan yang dihadapi sangat berhubungan dengan
keyakinan irasional .
b. Konselor berusaha menghindari klien dati pikiran irasionalnya.
c. Komselor berusaha menantang klien untuk mengembangkan filosofis kehidupan yang
iradional.

18

BAB VI
APLIKASI TEORI-TEORI KONSELING

A. Pendekatan Terpusat Pada Klien.


Rogers menekankan bahwa klien secara individual dalam keanggotaan klompok mencapai
kepercayaan diri jika anggota keluatga dapat mempercayai dirinya.
B. Pendekatan Eksistensi Dalam Konseling Keluarga
Walter Kempler dalam kinsep eksistensial, aspek-aspek seperti membuat pilihan-pilihan
,menerima tanggung jawab secara bebas, penggunaan kreatif terhadap kecemasan dan penelitian
terhadap makna dan nilai merupakan terauputik dalam konseling keluarga.
C. Konseling Keluarga Pendekatan Gestalt
Kempler (1982) mendefinisikan konseling keluarga sebagai suatu model difokuskan pada saat ini
dan pada penalamn keluarga di dalam sesi-sesi konseling.
D. Pendekatan Konseling Keluarga Menurut Aliran Adler
Mempunyai sejarah yang panjang dalam pemberian perhatian khusus terhadap hubungan antara
saudara kandung dan posisi saudara dalam keluarganya.
1. Tujuan Konseling Keluarga Menurut Aliran Adler.
Adalah untuk mempermudah perbaikan hubungan anak-anak dan meningkatkan hubungan di
dalam keluarga.
2. Tanggung Jawab Anggota Keluarga Dalam Proses Konseling.
Konseling keluarga harus di ikuti oleh anggota keluarga. Anggota keluarga diharapkam
mengunjungi rentetan sesi-sesi konseling dan terlibat secara sungguh-sungguh.
3. Teknik-teknik Konseling Keluarga
19

a. Interview Awal
Tujuan ini adalah untuk membantu konselor mendiagnosis tujuan anak, mengevaluasi metode
orang tua dalam mendidik anak.
b. Role Playing (Bermain Peran)
Bermain peran yang berorientasi kepada perbuatan yang tampak.
c. Interpretasi (penafsiran)
Tujuannya untuk menimbulkam pengetahuan bagi anggilota kluarga, memberi pemahaman
tentang apa yang dilakukannya.
E. Pendekatan Transaksional Analisys(TA) Dalam Konseling Keluarga.
Erskine (1982) bahwa prosedur TAbdapat diadaftasi kepada berbagai masalah dalam keluarga.
F. Aplikasi Konsep-konsep Psikoanalitik
Aliran psikoanalitik dalam konseling keluarga memberi penjelasan tentang latar belakang
kehidupan keluarga sebagai pemahaman terhadap pola-pola intrapsikis
G. Konseling Keluarga Rational Emotive
Tujuan dalam konseling keluarga pada dasarnya sma dengan yang berlaku dalam konselin
individual atau kelompok.
1. Teknik Kognitif (The Cognitive Technques )
Teknik yang disesuaikan dalam kehidupan anggota keluarga ialah dengan cara luas menggali
gangguan emosi dan prilaku.
2. Teknik Emotif (Emotive Techniques)
Untuk menunjukkan kepada anggota keluarga bahwa perasaan mereka adalah hasil dari
pemikiran mereka.
3. Teknik Vegavioral (Behavioral Techniques)
Adalah bagian dari rational emotive dalam konseling keluarga.
H. Aplikasi Teori Behavioral Dalam Konseling Keluarga
1. Peranan Gabungan Terauputik.
2. Penilaian Keluarga
3. Melaksanakan Strategi Behavioral
I. Konsep-konsep Logotheraphy Dalam Konseling Keluarga.
Konsep yang ditulis oleh Frakl pada tahun 1946. Dalam komseling keluarga, konselor sebaiknya
mengusahakan agar anggota keluarga menemukan makna baik dalamnhubungan interpersonal

BAB VII
PROSES DAN TAHAPAN KONSELING KELUARGA

20

Ada lima jenis relasi hubungan dalam konseling keluarga:


1. Relasi seorang klien dengan konselor.
2. Relasi satu klien dengan klien lainnya.
3. Relasi konselor dengan sebagian kelompok anggota keluarga.
4. Relasi konselor dengan keseluruhan anggota keluarga.
5. Relasi antar sebagian kelompok denn sebagian kelompok lainnya.
Secara umum proses konseling berjalan menurut tahapan berikut :
A. Pengembangan Raport.
B. Pengembangan Apresiasi Emosional
C. Pengembangan Altetnatif Modus Prilaku
D. Fase Membina Hubungan Konseling
Proses hubungan konseling dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Klien memasuki ruang konseling , konselor mempersiapkan klien supaya siap dibimbing.
2. Tahap Klarifikasi, klien menyatakan alasan kedatangannya.
3. Tahap Struktur, konselor mengadakan kontrak dengan klien tentang lumayan waktu yang akan
digunakan.
4. Tahap Meningkatkan relasi atau hubungan konseling, pada tahap ini konselor membangun
hubungan konseling untuk mmudahkan pemberian bantuan.
E. Memperlancar Tindakan Positif.
Fase ini terdiri atas bagian-bagian:
1. Eksplorasi, memgeksplorasi dan menelusuri masalah.
2. Perencanaan, mengembangkan perencanaan bagi klien aesuai dengan tujuan untuk
memecahkan masalah.
3. Penutup, mengevaluasi hasil konseling , menutup hubungan komseling.

BAB VIII
TEKNIK-TEKNIK KONSELING KELUARGA

A. Teknik Konseling Keluarga Dalam Pendekatan Sistem.


Perez (1979) mengembangkan sepuluh teknik konseling keluarga yaitu:
1. Sculpting (mematung) yaitu suatu teknik yang mengizinkan anggota-anggota keluarga
untuk menyatakan kepada anggota lain .tentang berbagai masalah diantara anggotaanggota keluarganya.
2. Role Playing (bermaim peran) yaitu teknik dengan memberikan peran tertentu kepada
anggota keluarga.
3. Silence (diam) klien sering datang jika keluarga bermasalah dan mereka tutup mulut.
4. Confrontation (konfrontasi) yaitu teknik yang digunakan untuk mempertentangkan
pendapat-pendapat anggota keluarga.
21

5. Teaching Via Questioning yaitu suatu teknik mengajar anggota keluarga dengan cara
bertanya.
6. Listening (memdengarkan) digunakan agar pembicaraan di dengarkan dengan sabar oleh
orang lain.
7. Recapitulating

(mengikhtisarkan),

teknik

yang

digunakan

konaelor

untuk

mengikhtisarkan pembicaraan yang bergalau dari anggota keluarga.


8. Summary (menyimpulkan), dalam fase konseling konselor menyimpulkan sementara
hasil ebicaraan.
9. Clarification (menjernihkan) yaitu usaha untuk memperjelas atau menjernihkan suatu
pernyataan.
10. Reflection (Refleksi) yaitu cara konselor untuk merefleksikn perasaan klien.
B. Skill Individual Yang Perlu Dikuasai Konselor
1. Teknik Yang Berhubungan Dengan Pemahaman Diri
Yang terbagi atas tujuh kelompok yaitu :
1. Listening Skill (kemampuan mendengarkan)
2. Leading Skill (keterampilan memimpin)
3. Reflecting Skill (keterampilan merefleksi)
4. Summarizing Skill (keterampilan menyimpulkan)
5. Confronting Skill (ketetampilan mengkonfrontasi)
6. Interpreting Skill (keterampilan menafsirkan)
7. Informing Skill (keterampilan menginformasikan)
2. Keterampilan Untuk Menyenangkan Dan Menangani Krisis.
a. Contacting skills (keterampilan mengadakan kontak)
b. Reassuring skills (keterampilan menetramkan hati klien)
c. Relaxing skills (keterampilan untuk memberi relax/santai)
d. Crisis intervening skills
e. Developing action alternatives
f. Reffering skills (keterampilan mereferal klien)
3. Keterampilan Untuk Mengadakan Tindakan Positif dan Perubahan Perilaku Klien.
Tujuannya agar setelah konseling klien mengalami perubahan prilaku dan mampu melakukan
tindakan positif. Terdiri dari modeling dan rewarding skills (keterampilan memberikan reward
atau ganjaran.

22

BAB IX
KETAHANAN KELUARGA

A. Latar Belakang
Faktor penyebab dari gejala perpecahan dan gejolak keluarga yaitu:
1. Ketidakberfungsian Sistem Keluarga.
Ada beberapa ketidakberfungsian keluarga menurut Aponte dan Ban Deusen 1980:
a. Tembusnya batas-batas dan aturan dalam keluarga.
Contohnya : masing-masing anggota keluarga bertindak sendiri-sendiri.
b. Terjadi blok-blok dalam keluarga.
Misalnya seorang istri membentuk blok dengan ibunya.
c. Menurunnya Kewibawaan
Contohnya istri menjadi penguasa dirumah tangga dan suami patuh saja pada istri.
2. Keluarga Matrealistik
Keluarga hanya mementingkan mencari harta. Dan anak di asuh pembantu.
3. Isteri Berkuasa
4. Keharmonisan Hubungan Seksual
Rata-rata keluarga stres menyebabkan hubungan keluarga yang tidak harmonis.
B. Situasi Global
C. Kekacauan Keluarga
Sebab-sebab Keretakan Keluarga
bisa dari faktor ekonomi , kecurigaan mengenai
perselingkuhan, sial anak, soal mertua, dan anggota keluarga dari pihak suami isteri.
D. Kasus Kawin Cerai Selebritis
1. Dasar Perkawinan Selebritis
Rata-rata perkawinan selebritis dilandasi atas berbagai hal yakni : daya tarik fisik, daya tarik
materi, dan pengembangan karir.
2. Gejala Emosional
Pada umumnya para artis akan merasakan sesuatu yang memberatkan dirinya yaitu tekanan
emosional baik didasari atau tidak.
3. Pendekatan Konseling Perkawinan (marriage counseling)
Adalah cabang dati family counseling yang bertujuan agar komunikasi suami isteri menjadi
harmonis.
23

E. Pengertian Konseling Pernikahan


Adalah upaya membantu pasangan calon suami isteri oleh konselor profesional agar dapat
berkembang dan mampu memecahkan masalah yang dihadapinya melalui cara saling
menghargai, toleransi dan penuh secara pengertian.
F. Proses konseling Pernikahan
a. Raport , yaitu hubungan timbal balik, bersahabat, juga saling percaya.
b. Pengembangan Apresiasi ( penghargaan)Emosional
c. Pengembangan Alternatif Modus Prilaku
d. Membina Hubungan Konseling
e. Memperlancar Tindakan Positif
G. Teknik-teknik Konseling Pernikahan
a. Sculpting (mematung)
b. Role Playing (Bermain Peran)
c. Silence (diam)
d. Confrontation (konfrontasi)
e. Teaching via qustioning (mengajar melalui pertanyaan)
f. Attending dan listening
g. Refleksi feeling.

BAB X
DIALOG KONSELING KELUARGA KASUS MAHASISWA DO.

Tugas konselor adalah memperlancar komunikasi para anggota keluarga, agar terjadi saling
menghargai, saling membantu dan mempunyai prinsip yang sama dalam mendidik.
Bab XI
DIALOG KONSELING KELUARGA
A.Praktek Konseling Keluarga.
Dalam praktek konseling keluarga sangat berbeda dengan praktek konseling lainnya.
Adapun perbedaannya terletak pada :
1. Tujuan Komseling
Tujuan konseling keluarga adalah :
a. Memperlancar komunikasi diantara sesama anggota keluarga.
b. Membantu anggota keluarga yang mengalami masalah.
24

c. Memelihara keutuhan keluarga.


d. Membuat keluarga menjadi produktif.
2. Konseling keluarga penuh dengan muatan emosional, karena hubungan anggota keluarga
terikat hubungan emosional.
3. Memanfaatkan konseling Individual untuk menyukseskan tetcapainya tujuan konseling
keluarga.
B. Sistematika Konseling Keluarga.
Adapun sistematika konseling keluatga sebagai berikut :
1. Panggilan Terhadap Anggota Keluarga Untuk Mengikuti Konseling
2. Melaksanakan Konseling Individual Terhadap Klien A
3. Melaksanakan Konseling Keluarga.
C. Memulai Konseling Keluarga.
Jika konseling keluarga akan dimulai yang harus diingat oleh konselor ialah :
Pertama, kepada semua anggota keluarga agar mengekspresikan semua perasaannya,
pengalamannya dan jalan pemikiran atau jalan keluar terbaik. Kedua, barulah konselor memulai
mengajukan pertanyaan kepada individu anggota keluarga tersebut.

25