Anda di halaman 1dari 3

Nama

Stambuk

: La Ode Izzan
: G2O115055

1. Salah satu kelebihan analisis wacana kritis dibandingkan dengan analisis wacana yang
lain (analisis wacana biasa) adalah kemampuannya menguak lebih dalam isi wacana.
Dengan pendekatan interdisipliner, analisis wacana kritis mampu menggali ideologi dan
pengetahuan yang tersembunyi di balik suatu wacana.
Analisis wacana memang menggunakan bahasa dalam teks untuk dianalisis, tetapi
bahasa yang dianalisis di sini agak berbeda dengan studi bahasa dalam pengertian linguistik
tradisional. Bahasa dianalisis bukan dengan menggambarkan semata dari aspek kebahasaan,
tapi juga menghubungkan dengan konteks. Konteks di sini berarti bahasa itu dipakai untuk
tujuan dan praktik tertentu, termasuk di dalamnya
praktik kekuasaan.
Analisis wacana kritis (AWK) merupakan penerapan analisis wacana dengan perspektif
interdisipliner. Apabila analisis wacana hanya difokuskan pada penggunaan bahasa alamiah
dengan analisis semata-mata bersifat liguistis, AWK berusaha menjelaskan penggunaan
bahasa dikaitkan dengan perspektif disiplin lain, seperti politik, gender, dan faktor sosiologis
lain. Prinsipnya ialah menggali sistem nilai dan kepercayaan sosial yang tersirat di dalam teks
atau wacana.
Menurut Fairclough dan Wodak, analisis wacana kritis melihat wacana pemakaian
bahasa dalam tuturan dan tulisan sebagai bentuk dari praktik sosial. Analisis wacana kritis
melihat bahasa sebagai faktor penting, yakni bagaimana bahasa digunakan untuk melihat
ketimpangan kekuasaan dalam masyarakat terjadi.
2. Analisis Van Leeuwen secara umum menampilkan bagaimana pihak-pihak dan aktor (bisa
seseorang atau kelompok) ditampilkan dalam pemberitaan. Van Leeuwen fokus kepada
dua hal. Pertama , proses pengeluaran (exclusion). Van Leeuwen (2008:28) berkata bahwa
Exclusion menjadi bagian yang sangat penting dalam analisis wacana kritis. Eksklusi
(exclusion) yaitu apakah dalam suatu teks berita ada kelompok atau aktor yang
dikeluarkan dalam pemberitaan, yang dimaksudkan dengan pengeluaran seseorang atau
aktor dalam pemberitaan adalah, menghilangkan atau menyamarkan pelaku/aktor dalam
berita, sehingga dalam berita korbanlah yang menjadi perhatian berita. Proses pengeluaran
ini secara tidak langsung bisa mengubah pemahaman khalayak akan suatu isu dan
melegitimasi posisi pemahaman tertentu. Kedua , proses pemasukan (inclusion). Proses ini
adalah lawan dari proses exclusion, proses ini berhubungan dengan bagaimana seseorang
atau kelompok aktor dalam suatu kejadian dimasukkan atau direpresentasikan ke dalam
sebuah berita.
Baik exclusion maupun inclusion merupakan strategi wacana. Van Leeuwen
(2008:31) berkata bahwa eksklusi dan inklusi menjadi cara mempresentasikan aktor sosial
di dalam wacana. Dengan menggunakan kata, kalimat, informasi atau susunan bentuk
kalimat tertentu, cara bercerita tertentu, masing-masing kelompok direpresentasikan ke
dalam sebuah teks. Secara lengkap Van Leeuwen (2008:31-54) mengurai untuk melihat
eksklusi dan inklusi dalam wacana memperhatikan adanya: nominalisasi, pasivasi, alokasi,
generiksasi dan spesifikasi, asimilasi, asosiasi dan diasossiasi, indeterminasi dan

diferensiasi, nominasi dan kategorisasi, fungsionalisasi dan identifikasi, personalisasi dan


impersonalisasi, serta overdeterminasi.

3. Dalam proses konstruksi realitas, bahasa merupakan unsur utama. Bahasa adalah alat
konseptualisasi dan alat narasi. Begitu pentingnya bahasa, maka tak ada berita, cerita,
ataupun ilmu pengetahuan tanpa wacana. Selanjutnya penggunaan bahasa (simbol)
tertentu menentukan format narasi (dan makna) tertentu. Sedangkan jika dicermati secara
teliti, seluruh isi media entah cetak maupun elektronik menggunakan bahasa, baik verbal
(kata-kata tertulis atau lisan), maupun non verbal (gambar, video, foto, gerak-gerik, grafik,
angka, dan tabel). Lebih jauh dari itu, peran bahasa dalam wacana bisa menjadi tidak lagi
sekedar untuk menggambarkan realitas, melainkan bisa menentukan gambaran (makna
citra) mengenai suatu realitas yang akan muncul di benak khalayak.
Dengan demikian bahasa adalah nyawa kehidupan sebuah wacana. Hanya melalui
bahasa para pekerja media bisa menghadirkan hasil reportasenya kepada khalayak. Setiap
hari, para pekerja media memanfaatkan bahasa dalam menyajikan berbagai realitas
(peristiwa, keadaan, benda) kepada publik. Dengan bahasa secara massif mereka menentukan
gambaran beragam realitas ke dalam benak masyarakat.

4. Menurut berger, untuk kepentingan komunikator tanda berfungsi:


a. Untuk menyadarkan pendengar akan sesuatu yang dinyatakannya untuk kemudian
memikirkannya,
b. Untuk menyatakan perasaan atau sikap dirinya terhadap suatu objek,
c. Untuk memberitahukan sikap sang pembicara terhadap khalayaknya, dan
d. Untuk menunjukkan tujuan atau hasil yang diinginkan oleh si pembicara atau
penulis, baik disadari maupun tidak disadarai.
Bagi kepentingan komunikan tanda berfungsi:
a. Menunjukkan pusat perhatian
b. Memberi ciri
c. Membuat dirinya sadar akan permasalahan
d. Memberi nilai positif atau negative
e. Memengaruhi khalayak untuk menjaga atau menguvah status quo,

f. Untuk mengendalikan suatu kegiatan atau fungsi,


g. Untuk mencapai tujuan yang ingin dicapainya dan memakai kata-kata tersebut.