Anda di halaman 1dari 24

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK GIGI
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.:IKA/PG/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

INSTRUKSI KERJA CUCI TANGAN


1. TUJUAN
Sebagai acuan bagi dokter dan perawat dan siapa saja yang melakukan cuci tangan
dengan baik dan benar
2. URAIAN UMUM
a. Cuci tangan yang anjurkan adalah dengan menggunakan sabun dan iar yang
mengalir.
3. PROSEDUR KERJA

1) Basahi tangan setinggi pertengahan lengan bawah dengan air mengalir

G
2) gunakan sabun di bagian telapak tangan yang telah basah

3) Digosok telapak tangan ke telapak tangan, sehingga menghasikan busa secukupnya selama 1520 detik

4) Bilas kembali dengan air bersih

5) Tutup kran dengan siku atau tissu

6) Keringkan tangan dengan tissu / handuk kertas

7) Hindarkan menyentuh benda disekitarnya setelah mencuci tangan.

Mengetahui,
Gigi
KEPALA UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

DRS. IDRIS, SKM, S.Kep, , M.Kes


NIP 19580510 198111 1 004
024

Koordinator Poliklinik

drg. SRI ANDRIYANI


NIP 19790307 200604 2

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK UMUM
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.:IKA/PU/04

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

INSTRUKSI KERJA PELAYANAN DI POLIKLINIK UMUM


1. TUJUAN
Sebagai acuan bagi dokter dan perawat dalam memberikan pelayanan
2. URAIAN UMUM
Poliklinik umu memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat umum sesuai
dengan standar pelayanan medis yang talah ditetapkan
3. Prosedur
1. Semua pasien yang berkunjung di poliklinik umum mendaftar di loket
2. Family Folder pasien di serahkan oleh petugas loket ke petugas poliklinik Umum
3. Petugas poliklinik Umum mencatat pada buku register sesuai dengan kartu
yang digunakan pasien ( Jamkasda, Jamkesmas, Askes )
4. Pasien melakukan tanda tangan di buku registrasi
5. Petugas mengukur tanda-tanda vital, anak dibawah 12 tahun dilakukan
penimbangan berat badan dan mencatat hasil yang ditemukan dalam family
folder
6. Pasien masuk kedalam ruangan periksa sesuai dengan nomor antrian.
7. Dokter memeriksa pasien dalam waktu 5 Menit dan memberikan pengantar
ke laboratorium jika diperlukan pemeriksaan penunjang.

Mengetahui,

Koordinator poliklinik

umum
KEPALA UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

DRS. IDRIS, SKM, S.Kep, , M.Kes


SAHRUDDIN
NIP 19580510 198111 1 004
023

Dr.HASPIANA
NIP 19770219 200604 2

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK UMUM

INSTRUKSI KERJA
No. Dok.IKA/PU/04

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

INSTRUKSI KERJA PENGUKURAN TEKANAN DARAH


1. Tujuan
Sebagai acuan bagi dokter/perawat dalam menulis tekanan darah pada pasien
2. Uraian umum
a. Tekanan darah diukur dengan tensimeter
b. Tekanan darah
3. Prosedur kerja
a. Cara palpasi
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Jelaskan prosedur pada klien.


Cuci tangan
Atur posisi pasien (manusia coba).
Letakkan lengan yang hendak diukur pada posisi telentang.
Lengan baju di buka.
Pasang manset pada lengan kanan/kiri atas sekitar 3 cm di atas fossa cubiti (jangan

terlalu ketat maupun terlalu longgar).


7) Tentukan denyut nadi arteri radialis dekstra/sinistra
8) Pompa balon udara manset sampai denyut nadi arteri radialis tidak teraba
9) Pompa terus sampai manometer setinggi 20 mm Hg lebih tinggi dari titik radialis
tidak teraba.
10) Letakkan diafragma stetoskop di atas nadi brakhialis dan kempeskan balon udara
manset secara perlahan dan berkesinambungan dengan memutar sekrup pada pompa
udara berlawanan arah jarum jam.
11) Catat mm Hg manometer saat pertama kali denyut nadi teraba kembali. Nilai ini
menunjukkan tekanan sistolik secara palpasi.
12) Catat hasil.
13)Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.
b. Cara auskultasi
1) Jelaskan prosedur pada klien.
2) Cuci tangan.
3) Atur posisi pasien (manusia coba).
4) Letakkan lengan yang hendak diukur dalam posisi telentang.
5) Buka lengan baju.
6) Pasang manset pada lengan kanan/kiri atas sekitar 3 cm di atas fossa cubiti (jangan
terlalu ketat maupun terlalu longgar).
7) Tentukkan denyut nadi arteri radialis dekstra/sinistra.
8) Pompa balon udara manset sampai denyut nadi arteri radialis tidak teraba.
9) Pompa terus sampai manometer setinggi 20 mm Hg dari titik radialis tidak teraba.
10)Letakkan diafragma stetoskop di atas arteri brakhialis dan dengarkan.

11) Kempeskan balon udara manset secara perlahan dan berkesinambungan dengan
memutar sekrup pada pompa udara berlawanan arah jarum jam.
12)Catat tinggi air raksa manometer saat pertama kali terdengar kembali denyut.
13) Catat tinggi air raksa pada manometer:
Suara Korotkoff I: menunjukkan besarnya tekanan sistolik secara auskultasi.
Suara Korotkoff IV/V: menunjukkan besarnya tekanan diastolik secara
auskultasi.
14)Catat hasilnya pada catatan pasien.
15)Cuci tangan setelah prosedur dilakukan.

Mengetahui,

Koordinator poliklinik

umum
KEPALA UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

DRS. IDRIS, SKM, S.Kep, , M.Kes

Dr.HASPIANA SAHRUDDIN

NIP 19580510 198111 1 004

NIP 19770219 200604 2 023

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK UMUM
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.:IKA/PU/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

INSTRUKSI KERJA PEMERIKSAAN SUHU TUBUH

1.

Tujuan
Sebagai acuan bagi dokter/perawat dalam melakukkan pengukuran suhu pada pasien
2. Uraian umum
a. Pengukuran suhu tubuh dapat diketahui dengan menggunakan thermometer
b. Dapat dilakkukan dengan cara
1) Axilla
2) Oral
3) rectal
3. Prosedur
Cara pengukuran axiler (ketiak)
1) Keringat pada ketiak dikeringkan
2) Ujung termometer diletakan pada puncak ketiak
3) Lengan dirapatkan kedalam
4) Pembacaan hasil dilakukan setelah 10 menit
5) Suhu normal pada pengukuran rektal yaitu 34,70C 37,30C
Cara pengukuran oral (mulut)
1)
2)
3)
4)
5)

Ujung thermometer dibersihkan dengan kapas alcohol


Ujung thermometer diletakan dibawah lidah
Mulut ditutup dan bernafas melalui hidung
Pembacaan hasil dilakukan setelah 5 menit
Suhu normal pada pengukuran oral yaitu 35,50C 37,50C

Cara pengukuran rectal (anus)


1) Ujung termometer sedikit diberi pelicin (vaselin)
2) Ujung air raksa dimasukan ke anus
3) Pembacaan hasil dilakukan setelah 5 menit
4) Suhu normal pada pengukuran rectal yaitu 36,60C 380C
Mengetahui,

Koordinator poliklinik umum

KEPALA UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

DRS. IDRIS, SKM, S.Kep, , M.Kes

Dr.HASPIANA SAHRUDDIN

NIP 19580510 198111 1 004

NIP 19770219 200604 2 023

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK UMUM
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.:IK/PU/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

INSTRUKSI KERJA
PENATALAKSANAAN GASTRITIS

1. TUJUAN
Sebagai acuan dalam penata laksanaan gastritis dan mencegah terjadinya komplikasi untuk semua pasien
yang menderita gastritis yang datang di Unit Pelayanan Umum Puskesmas kelurahan dan puskesmas
kecamatan, serta 24 jam di puskesmas Pekkae kecamatan Tanete Rilau.
2. URAIAN UMUM
Kriteria diagnosa
gastritis adalah nyeri epigastrium yang hilang timbul / menetap dapat disertai mual atau muntah.
Diagnosis yaitu nyeri ulu hati, mual / muntah, kembung dll. Gambaran klinis :
- Penderita biasanya mengeluh perih atau tidak enak di ulu hati.
- Gastritis erosif akibat obat sering di sertai pendarahan.
- Nyeri epigastrium, perut kembung, mual, muntah tidak selalu ada.
3. PENATALAKSANAAN
Therapi
- Penderita gastritis akut memerlukan tirah baring. Selanjutnya ia harus membiasakan diri makan
teratur dan menghindari makanan yang merangsang.
- Keluhan akan segera hilang dengan antasida (Al, hidroksida, Mg Hidroksida) yang diberikan
menjelang tidur, pagi hari, dan diantara waktu makan.
- Bila muntah sampai mengganggu dapat diberikan tablet metoklapramid 10 mg 1 jam sebelum
makan.
- Bila nyeri hebat dapat dikombinasikan dengan simetidin 200mg 2 x sehari atau ranitidin 150 mg 2 x
sehari.
- Penderita dengan tanda pendarahan seperti hematemesis atau melena perlu segera dirujuk ke rumah
sakit karena kemungkinan terjadi pendarahan pada tukak lambung yang dapat menjadi perforasi.
-

Sumber: pedoman pengobatan dasar di puskesmas tahun 2007 hal. 76

Mengetahui,

Koordinator poliklinik umum

KEPALA UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

DRS. IDRIS, SKM, S.Kep, , M.Kes

Dr.HASPIANA SAHRUDDIN

NIP 19580510 198111 1 004

NIP 19770219 200604 2 023

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK UMUM

INSTRUKSI KERJA
No. Dok.:IK/PU/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

INSTRUKSI KERJA
PENATALAKSANAAN GOUT
1. TUJUAN
Sebagai acuan dalam penatalaksanaan gout dan mencegah terjadinya komplikasi untuk semua pasien yang
menderita gout yang datang di Unit Pelayanan Umum Puskesmas kelurahan dan puskesmas kecamatan, serta 24
jam di puskesmas Pekkae kecamatan Tanete Rilau.
2. URAIAN UMUM
Kriteria diagnosa
Gout adalah penyakit radang sendi yang terjadi akibat deposisi kristal mono sodium urat pada persendian dan
jaringan lunak. Diagnosis nyeri akut pada persendian kecil seperti ibu jari, terutama malam hari. Kadar urat serum
biasanya > 7,5 mg/dl.
3. PENATALAKSANAAN
Therapi
- Pada serangan arthritis akut, penderita biasanya diberikan terapi untuk mengurangi peradangan dengan
memberikan obat analgesik atau kortikosteroid. Setelah serangan akut berakhir, terapi ditujukan untuk
menurunkan kadar asam urat di dalam tubuh.
- Kondisi yang terkait dengan hiperurisemia adalah diet kaya purin, obesitas serta konsumsi alkohol. Purin
merupakan senyawa yang akan dirombak menjdi asan urat dalam tubuh. Alkohol merupakan salah satu
sumber purin dan juga dapat menghambat pebuangan purin melalui ginjal sehingga disarangkan untuk tidak
sering mengonsumsi alkohol. Pasien juga disarankan minum air dalam jumlah banyak karena akan membantu
pembuangan urat dan meminimalkan pengendapan urat dalam saluran kemih
- Obat yang digunakan untuk terapi prevensi adalah :
a. Allupurinol bila terdapat over produksi asam urat. Obat ini menghambat sintesa dan menurunkan kadar
asam urat darah, dosis pada hiperurikemia 100 mg 3 x sehari sesudah makan, bila perlu dinaikkan setiap
minggu dengan 100 mg s/d 10 mg/kgBB/hari.
b. Probenesid derivat asam benzoat ini berdaya urikosuris dengan jalan merintangi penyerapan kembali di
tubuli proksimal. Dosis 2 x 250 mg selama 1 minggu, lalu 2 x 500 mg, bila perlu berangsur-angsur
dinaikkan sampai maksimum 2 g sehari.
c. Natrium bikarbonat 2 tablet 3 x sehari, untuk membantu kelarutan asam urat.

Mengetahui,

Koordinator poliklinik umum

KEPALA UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

DRS. IDRIS, SKM, S.Kep, , M.Kes

Dr.HASPIANA SAHRUDDIN

NIP 19580510 198111 1 004

NIP 19770219 200604 2 023

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK UMUM
INSTRUKSI KERJA

No. Dok.:IK/PU/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

INSTRUKSI KERJA
PENATALAKSANAN MORBILI (CAMPAK)
1. TUJUAN
Sebagai acuan dalam penata laksanaan morbili (campak) dan mencegah terjadinya komplikasi untuk semua
pasien yang menderita morbili ( campak) yang datang di Unit Pelayanan Umum Puskesmas kelurahan dan
puskesmas kecamatan, serta 24 jam di puskesmas Pekkae kecamatan Tanete Rilau.
2. URAIAN UMUM
Kriteria diagnosa
Morbili ialah penyakit infeksi virus akut yang bermanifestasi dalam 3 stadium yaitu stadium kataral, erupsi,
dan kovalens. Diagnosis : bercak kemerahan terutama pada atas magian atas badan.
Gambaran Klinis
1. Fase pertama disebut masa inkubasi yang berlanggsung sekitar 10-12 hari. Pada fase ini anak sudah mulai
terkena infeksi tapi pada dirinya belum tampak gejala apapun. Bercak-bercak merah merupakan
merupakan campak belum keluar.
2. Pada fase kedua ( fase prodormal ) barulah timbul gejala yang mirip penyakit flu seperti batuk, pilek dan
semam. Mata tampak kemerah-merahan dan berair. Bila melihat sesuatu mata akan silau (fotofobia).
Disebelah dalam mulut muncul. Bintik-bintik putih yang akan berthan 3-4 hari. Terkadang anak juga
mengalami diare. 1-2 hari kemudian timbul demam tinggi yang turun naik, berkisar 38-40,5 C.
3. Fase ketiga ditandai dengan keluarnya bercak merah seiring dengan demam tinggi yang terjadi. Namun
bercak tak langsung muncul di seluruh tubuh melainkan bertahap dan merambat. Bermula dari belakang
telinga, leher, dada, muka, tangan dan kaki. Warnanya pun khas merah dengan ukuran yang tidak terlalu
besar tapi juga tidak terlalu kecil.
3. PENATALAKSANAAN
Therapi
- Bila campaknya ringan, anak cukup dirawat di rumah. Kalau campaknya berat atau sampai terjadi
-

komplikasi maka harus di rawat di rumah sakit.


Anak campak perlu di rawat di tempat tersendiri agar tidak menularkan penyakitnya bagi yang lain.

Apalagi ada bayi di rumah yang belum mendapat imunisasi campak.


Beri penderita asupan makanan bergizi seimbang dan cukup untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya.
Makanannya harus mudah dicerna karena anak campak rentan terjangkit infeksi lain seperti radang
tenggorokan, flu atau lainnya. Masa rentan ini masih berlangsung sebulan setelah sembuh karena daya

tahan tubuh masih lemah.


Pengobatan secara simtomatik sesuai dengan gejala yang ada.

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK UMUM
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.:IK/PU/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

INSTRUKSI KERJA
PENATALAKSAAN SKBIES
1. TUJUAN
Sebagai acuan dalam penata laksanaan skabies dan mencegah terjadinya komplikasi untuk semua pasien yang
menderita skabies yang datang di Unit Pelayanan Umum Puskesmas kelurahan dan puskesmas kecamatan,
serta 24 jam di puskesmas Pekkae kecamatan Tanete Rilau.
2. URAIAN UMUM
Kriteria diagnosa
Skabies adalah penyakit kulit berupa budukan dapat ditularkan melalui kontak erat dengan orang yang
terinfeksi merupakan penyakit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap katu sarcopter

scabies var humois dan tinjanya pada kulit manusia..


3. PENATALAKSANAAN
Therapi
- Pengobatan penyakit ini menggunakan obat-obatan yang berbentuk salep atau krim yang dioleskan pada
bagian kulit yang terinfeksi. Banyak sekali obat-obatan yang teersedia di pasaran. Namun, ada syarat
yang harus di penuhi antar lain; tidak berbau, efektif terhadap semua stadium kutu ( telur, larva
ataupun kutu dewasa ), tidak menimbulkan iritasi kulit, juga mudah diperoleh dan murah harganya.
Sistemik
-

Antihistamin klasik sedatif ringan untuk mengurangi gatal, misalnya klorfeniramin maleat 0,34 mg/kgBB

3 x sehari.
Antibiotik bila ditemukan infeksi sekunder misalnya ampisilin, amoksisilin, eritromisin.

Topikal
-

Obat-obatan yang dapat digunakan antara lain:


1. Salep 2 4, biasanya dalam bentuk salep atau krim.
Kekurangannya, obat ini menimbulkan bau tak sedap (belerang), mengotori pakaian, tidak efektif
membunuh stadium telur, dan penggunannya harus lebih dari 3 hari berturut-turut.
2. Emulsi benzil benzoas 20 25 %, efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama 3
hari berturut-turut. Kekurangannya dapat menimbulkan iritasi kulit.
3. Gamexan 1 % termasuk obat pilihan karena efektif terhadap semua stadium kutu, mudah digunakan,
serta jarang menimbulkan iritasi kulit. Namun obat ini tidak dianjurkan bagi wanita hamil, maupun
anak usia dibawah 6 tahun, karena bersifat toksik terhadap susunan saraf pusat. Pemakaiannya
cukup satu kali dioleskan ke seluruh tubuh. Dapat diulang satu minggu kemudian bila belum sembuh.
4. Krotamiton 10 % termaasuk obat pilihan karena selain memiliki efek anti- skabies, juga bersifat anti
gatal.
5. Permetrin HCl 5% efektifitasnya seperti gamexan namun tidak terlalu toksik. Penggunaannya cukup

sekali, namun harganya relatif mahal.


Selain menggunakan obat-obatan, yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah upaya peningkatan
kebersihan diri dan lingkungan.hal itu dapat dilakukan dengan cara:
1. Mencuci bersih bahkan sebagian ahli menganjurkan merebus handuk, seprai maupun baju penderita
skabies, kemudian menjemurnya hingga kering.
2. Menghindari pemakaian baju, handuk, seprai secara bersama-sama.

Mengobati seluruh anggota keluarga, atau masyarakat untuk memutuskan rantainya.

Mengetahui,
umum
KEPALA UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

Koordinator poliklinik

DRS. IDRIS, SKM, S.Kep, , M.Kes


SAHRUDDIN
NIP 19580510 198111 1 004
023

Dr.HASPIANA
NIP 19770219 200604 2

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK UMUM
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.:IK/PU/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

INSTRUKSI KERJA

PENATALAKSANAAN SALURAN PERNAFASAN ATAS AKUT


1. TUJUAN
Sebagai acuan dalam penata laksanaan penatalaksanaan saluran pernafasan atas akut dan mencegah
terjadinya komplikasi untuk semua pasien yang menderita ISPA yang datang di Unit Pelayanan Umum
Puskesmas kelurahan dan puskesmas kecamatan, serta 24 jam di puskesmas Pekkae kecamatan Tanete
Rilau.
2. URAIAN UMUM
Infeksi saluran pernafasan akut yaitu radang yang mengenai saluran pernafasan atas dan bawah beserta,
periksa adneksa termasuk parekhim paru.
Infeksi saluran pernafasan atas akut yaitu : infeksi primer respiratorium di atas laryng dan termasuk
infeksi saluran pernafasan atas akut yaitu :
Common Cold
Faringytis
Tonsilitis
Infeksi saluran pernafasan bawah akut yaitu infeksi primer respiratorial mulai laring ke bawah yang
termasuk ini :
Epiglotitis
Pneumonia
Laring tracheo brinchitis
3. Penata laksanaan
Kriteria diagnostic commond cold
Gejala klinis
Pilek, bersin, hidung tersumbat disertai demam dan nyeri otot
Terapi
- Symptomatik :
Anti pyretic (paracetamol di usia 6 12 tahun : 150 300 mg/x, max : 1,2 gr/hari
Anti alergi : - Ctm dosis 2 4 mg / hari, maksimal : 4 gr / hari
- Multivitamin
- Asupan cairan cukup
- Menghindar paparan asap rokok
Kriteria faringitis nasofaringitis tonsilo faringitis akut
Gejala klinis
Batuk, pilek, panas badan dan nyeri tenggorokan mual dan muntah
Terapi symptom
Antipiretik untuk demamnya
- Cough medicine
- Paracetamol dosis anak : 6 12 tahun 150 300 mg/x, dewasa : 250 1000 mg/x dibagi
dalam 3 4 dosis
- DMP anak : 1 mg/kg BB /hari dibagi dalam 3 4 dosis, dewasa 15 130 mg/hari
- GG anak : 2 3 x, 100 200 mg/ hari, dewasa 2 3 x, 200 400 mg/ hari
Anti alergi
- CTM : 2 4 mg/hari
- Dexametharme : pada anak
: 0,1 0,25mg/kgBB/hari
Pada dewasa : 0,5 2 mg/kgBB/hari
Yang dipergunakan untuk ispa
1. Amoxcylin dosis : 20 50 mg/kgBB/hari dalam 3 dosis
2. Erytomicin dosis : anak 6 12 tahun mg/kali tiap 6 jam, dewasa : 4 x 250 500 mg/hari

3. Ciproflokacin dosis : dewasa 2 x 500 mg/hari


4. Kotrimokxsazole dosis : anak 40 mg sulfametoxatole / kgBB /hari dibagi dalam 2 dosis, dewasa : 2
x 480 960 mg/hari
Sumber: pedoman pengobatan dasar di puskesmas tahun 2007 hal. 113
Mengetahui,
umum
KEPALA UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

Koordinator poliklinik

DRS. IDRIS, SKM, S.Kep, , M.Kes


SAHRUDDIN
NIP 19580510 198111 1 004
023

Dr.HASPIANA
NIP 19770219 200604 2

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK UMUM
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.:IK/PU/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

INSTRUKSI KERJA
PENATALAKSANAAN HIPERTENSI
1. TUJUAN

Sebagai acuan dalam penata laksanaan hipertensi dan mencegah terjadinya komplikasi untuk semua
pasien yang menderita hipertensi yang datang di Unit Pelayanan Umum Puskesmas kelurahan dan
puskesmas kecamatan, serta 24 jam di puskesmas Pekkae kecamatan Tanete Rilau.
2. URAIAN UMUM
Kriteria diagnosa
Tekanan darah tinggi (hipertensi ) adalah suatu peningkatan tekanan darah di dalam arteri. Secara
umum, hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana tekanan yang abnormal tinggi didalam
arteri menyebabkan meningkatnya resiko terhadap stroke, aneorisma, gagal jantung, serangan jantung
dan kerusakan ginjal.
3. PENATALAKSANAAN
Therapi
1. Langkah awal biasanya mengubah pola hidup penderita :
Menurunkan berat badan sampai batas yang ideal.
Mengubah pola makan penderitadiabetes, kegemukan atau kadar kolestrol dalam darah tinggi.
Mgurangi pemakaian garam sampai kurang 2,3 gram natrium atau 6 gram natrium klrorida setiap
harinya ( disertai dengan asupan kalsium, magnesium dan kalium yang cukup)dan mengurangi
alkohol.
Olahraga aerobic yang tidak terlalu berat
Penderita hipertensi esensial tidak perlu membatasi aktifitasnya selama tekanan darahnya
terkendali.
Berhenti merokok
2. Terapi obat pada hipertensi dimulai dengan salah satu obat berikut :
a. Hidroklorotiazid (HCT) 12,5-25 mg/hari dosis tunggal pada pagi hari( pada hipertensi
kehamilan, hanya digunakan bila disertai hemokonsentrasi / udem paru)
b. Captopril 12,5-25 mg 2-3X sehari. (kontra indikasi pada kehamilan selama janin hidup dan
penderita asma)
c. Nifedipin mulai 5 kg 2 x sehari, bisa dinaikkan 10 kg 2 x sehari.
Sumber: pedoman pengobatan dasar di puskesmas tahun 2007 hal. 98
Mengetahui,
umum
KEPALA UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

Koordinator poliklinik

DRS. IDRIS, SKM, S.Kep, , M.Kes


SAHRUDDIN
NIP 19580510 198111 1 004
023

Dr.HASPIANA
NIP 19770219 200604 2

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK UMUM
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.:IK/PU/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

INSTRUKSI KERJA
PENATALAKSANAAN DIABETES MELITUS

1. TUJUAN
Sebagai acuan dalam penata laksanaan diabetes melitus dan mencegah terjadinya komplikasi
untuk semua pasien yang menderita diabetes melitus yang datang di Unit Pelayanan Umum
Puskesmas kelurahan dan puskesmas kecamatan, serta 24 jam di puskesmas Pekkae
kecamatan Tanete Rilau.
2. URAIAN UMUM
Kriteria diagnosa
Diabetes melitus adalah penyakit metabolisme yang ditandai oleh tingginya kadar plasma
glukosa ( hiperglikemia) yang disebabkan oleh gangguan sekresi insulin, aksi insulin atau
keduanya. Berdasarkan gejala diabetes dengan 3P (polifagia, poliuria, polidipsia). Diagnosis
dapat dipastikan dengan penentuan dengan kadar gula darah.
a. Bila kadar gula darah sewaktu 200mg/dl
b. Glukosa darah puasa 126 mg/dl
c. Pada tes toleransi glukosa oral (TTGO) didapatkan hasil pemeriksaan kadar gula darah 2
jam 200mg/dl sesudah pemberian glukosa 75 gram.
3. PENATALAKSANAAN
Therapi
1. Tindakan umum yang dilakukan bagi penderita diabetes antara lain; diet dengan
pembatasan kalori, gerak badan bila terjadi resistensi insulin gerak badan secara teratur
dapat menguranginya, berhenti merokok karena nikotin dapat mempengaruhi penyerapan
glukosa oleh sel.
2. Jika tindakan umum tidak efektif menurunkan glukosa darah pada penderita diabetes
tipe-2 maka dapat diberikan anti diabetik oral:
- Glibenklamid mulai dengan 5 mg/hari dalam sekali pemberian, maksimal 10 mg/hari
- Metformin mulai 0,5 g/hari dalam 2 3 kali pemberian, maksimal 2 g / hari
Obat ini harus dimulai dengan dosis terkecil. Setelah 2 minggu pengobatan, dosis dapat
ditingkatkan.
Sumber: pedoman pengobatan dasar di puskesmas tahun 2007 hal. 54-55
Mengetahui,

Koordinator poliklinik

umum
KEPALA UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

DRS. IDRIS, SKM, S.Kep, , M.Kes


SAHRUDDIN
NIP 19580510 198111 1 004
023

Dr.HASPIANA
NIP 19770219 200604 2

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK UMUM
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.:IK/PU/0

INSTRUKSI KERJA

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

PENATALAKSANAAN RHEMATOID ATRITIS


1. TUJUAN
Sebagai acuan dalam penatalaksanaan Rhematoid Atritis dan mencegah terjadinya
komplikasi untuk semua pasien yang menderita Rhematoid Atritis yang datang di Unit
Pelayanan Umum Puskesmas kelurahan dan puskesmas kecamatan , serta 24 jam di
puskesmas Pekkae kecamatan Tanete Rilau.
2. URAIAN UMUM
Rhematoid Atritis adalah suatu penyakit sistemik yang bersifat progresif mengenai jaringan
lunak dan cenderung untuk mengalami kronis , lebih banyak mengenai wanita dari pada lakilaki usia antara 30-40 jiwa yang paling banyak untuk menegakkan diagnosa ada kriteria :
Adanya rasa kaku pada hari pembebekan jaringan lunak sendi, nyeri pada sendi yang
terkena bila digerakkan, Poliatritis yang sistemik dan serentak, di dapat adanya nodul , di
dapat adanya nodul, di dapat adanya kelainan radiologi , tes faktor reme positif, pengendapan
mutin yang kurang pekat, sering mengeluh adanya rasa sakit dan pembengkakan pada sendisendi kecil ( Jari Tangan)
3. PENATALAKSANAAN
a. Golongan Obat Simptomatik
1. Simple Analgetik ( Paracetamol )
2. Obat anti implamasi non streroid misalnya prednison, Indo mensin, fenil butason
sodium diclopenat, indoprofen.
3. Obat anti inflamasi golongan steroid misalnya prednisone, dst
Sumber : kapita selekta kedokteran hal. 143-146
Mengetahui,
umum
KEPALA UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

Koordinator poliklinik

DRS. IDRIS, SKM, S.Kep, , M.Kes


SAHRUDDIN
NIP 19580510 198111 1 004
023

Dr.HASPIANA
NIP 19770219 200604 2

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK UMUM
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.:IK/PU/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

INSTRUKSI KERJA
PENATALAKSANAAN DEMAM THYPOID
1. TUJUAN

Sebagai acuan dalam penatalaksanaan demam thypoid dan mencegah terjadinya komplikasi
untuk semua pasien yang menderita demam thypoid yang datang di Unit Pelayanan Umum
Puskesmas kelurahan dan puskesmas kecamatan, serta 24 jam di puskesmas Pekkae
kecamatan Tanete Rilau.
2. URAIAN UMUM
Kriteria diagnosa
Demam tinggi lebih dari 7 hari disertai sakit kepala
Kesadaran menurun
Gangguan traktus gastrointestinal : obstipasi, mual, muntah, lidah kotor,
hepatosplenomegali brikardi relatif.
3. PENATALAKSANAAN
Pemeriksaan penunjang
Laboratorium : darah rutin, urin lengkap
Tes widal
Kultur kuman
Therapi
- tirah baring
- diet lunak
- antibiotik :
kloramfenikol 2 gr / hari (diberikan sampai 7 hari bebas panas)
antibiotik jenis lain dapat diberikan apabila ada reaksi allergi terhadap
kloramfenikol, seperti : ciprofloxacin 2 X 500 mg, kotrimoxazole 2 x 960,
amoxcylin 3 x 500 mg
- terapi simptomatik dapat diberikan terhadap :
demam : paracetamol 3 x 500
mual : antasida 3 x 1 tab, B6 3 x 1 tab.
Sumber: pedoman pengobatan dasar di puskesmas tahun 2007 hal. 225-226
Mengetahui,
KEPALA UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

Koordinator poliklinik umum

DRS. IDRIS, SKM, S.Kep, , M.Kes


SAHRUDDIN
NIP 19580510 198111 1 004
023

Dr.HASPIANA
NIP 19770219 200604 2

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK UMUM
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.:IK/PU/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

INSTRUKSI KERJA
PENATALAKSANAAN DERMATITIS
1. TUJUAN
Sebagai acuan dalam penatalaksanaan dermatitis dan mencegah terjadinya komplikasi untuk
semua pasien yang menderita dermatitis yang datang di Unit Pelayanan Umum Puskesmas
kelurahan dan puskesmas kecamatan, serta 24 jam di puskesmas Pekkae kecamatan Tanete
Rilau.
2. URAIAN UMUM
Dermatitis adalah pandangan epidemis yang memberikan gejala subyektif gatal, dan dalam
perkembangan memberikan efloresensi polimorf.
Klasifikasi
Menurut perjalanan penyakitnya dermatitis dibagi menjadi
1. Akut : ditandai dengan gambaran klinis eritome, edema, vesikel, eksudasi.
2. Sub akut : eritema tidak begitu menonjol terdapat krusta erosi
3. Kronik : ditandai dengan kipopeg mentasi / hiperpegmintasi, dan likenifikasi
3. PENATALAKSANAAN
Therapi
- Pengobatan sistemik
1. Kotrikosteroid dipergunakan dalam keadaan berat sebagaianti inflamasi dan anti
alergi.
2. Anti biotik bila terdapat infeksi sekunder
3. Sedatif dan tragulizer untuk mengurangi rasa gelisah dan gatal
- Pengobatan topikal
1. Pada keadaan akut dilakukan kompres terbuk
2. Sedangkan pada keadaan sun akut dapat diberikan cream
3. Bila kering dapat diberikan bedak atau bedak kocok
4. Pada keadaan menahan diberikan salep
Sumber : kapita selekta kedokteran hal. 463-464

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK UMUM
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.:IK/PU/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

Sumber: pedoman pengobatan dasar di puskesmas tahun 2007 hal. 56-58

INSTRUKSI KERJA
PENATALAKSANAAN DIARE
1. TUJUAN

Sebagai acuan dalam penatalaksanaan diare dan mencegah terjadinya komplikasi untuk
semua pasien yang menderita diare yang datang di Unit Pelayanan Umum Puskesmas
kelurahan dan puskesmas kecamatan, serta 24 jam di puskesmas Pekkae kecamatan Tanete
Rilau.
2. URAIAN UMUM

Kriteria diagnosa
Diare adalah keadaan buang-buang air dengan baanyak cairan dan merupakan gejala dari
penyakit0penyakit tertentuatau gangguan lain. Diare akut adalah buang air besar lembek/ cair
konsistensinya encer lebih sering dari biasanya disertai berlendir, bau amis berbusa bahkan
dapat berupa air saja yang frekuensinya lebih sering dari yang biasanya. Diare non sfesifik
adalah diare yang bukan disebabkan oleh kuman khusus maupun parasit.
3. PENATALAKSANAAN

WHO telah menetapkan 4 unsur utama dalam penanggulangan diare akut yaitu:
- Pemberian cairan, berupa upaya rehidrasi oral (URO) untuk mencegah maupun
mengobati dehidrasi.
- Melanjutkan pemberian makanan seperti biasa, terutama ASI selama diare dan masa
penyembuhan
- Tidak menggukan anti diare
- Pemberian petunjuk yang efektif bagi ibu dan anak beserta keluarganya tentang upaya
rehidrasi oral dirumah. Tanda-tanda untuk merujuk dan cara mencegah diare di masa
yang akan datang.
Pada penderita diare tanpa dehidrasi:
- Berikan cairan sebanyak yang diinginkan hingga diare stop, sebagai petunjuk berikan
setiap habis BAB
Anak < 1 tahun
: 50 100 ml
Anak 1 4 tahun : 100 200 ml
Anak > 5 tahun
: 200 300 ml
Dewasa
: 300 400 ml
- Meneruskan pemberian makanan / ASI bagi bayi
Pada penderita diare dengan dehidrasi ringan sedang
- Oralit diberikan 75 mg/kgBB dalam 3 jam, jangan dengan botol
- Jika anak muntah, tunggu 5 menit lagi lalu ulangi lagi, dengan pemberian lebih lambat.
- Zink 1 x pada umur < 6 bln dan 1 x 1 pada umur > 6 bln.
Pada penderita diare dengan dehidrasi berat
- Diberika ringer laktat 100ml yang terbagi dalam beberapa waktu
- Setiap 1,-2 jam pasien dipaksa ulang, jika hidrasi tidak ,membaik tetesan dipercepat
setelah 6 jam atau 3 jam pasien kembali diperiksa
Mengetahui,
KEPALA UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

Koordinator poliklinik umum

DRS. IDRIS, SKM, S.Kep, , M.Kes

Dr.HASPIANA

SAHRUDDIN
NIP 19580510 198111 1 004
19770219 200604 2 023

NIP

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK UMUM
INSTRUKSI KERJA
No. Dok.:IK/PU/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

INSTRUKSI KERJA
PENATALAKSANAAN ANEMIA
1. TUJUAN
Sebagai acuan dalam penatalaksanaan Anemia dan mencegah terjadinya komplikasi untuk
semua pasien yang menderita Anemia yang datang di Unit Pelayanan Umum Puskesmas
kelurahan dan puskesmas kecamatan , serta 24 jam di puskesmas Pekkae kecamatan Tanete
Rilau.
2. URAIAN UMUM
Anemia dapat di klasifikasikan menurut beberapa kriteria, namun yang paling praktis adalah
pengelompokan berdasarkan cara terjadinya yaitu Anemia pasca perdarahan, Anemia
hemolitik, Anemia defisiensi, Anemia aplastik dan Anemia karena keganasan.
3. PENATALAKSANAAN
a. Keberhasilan pengobatan sangat tergantung pada kemampuan untuk menegakkan
diagnosi pada tingkat awal.
b. Anemia pasca perdarahan di atasi dengan dengan transfuse darah sebanyak 10-20
ml/kgBB, atau plasma expander. bila tak ada keduanya, cairan intravena lainnya juga
dapat di gunakan.
c. Anemia defesiensi besi diatasi dengan makanan yang memadai, sulfas ferosus
10mg/kgBB 3 x sehari atau besi elementer 1 mg/kgBB/hari.
Anemia megaloblastik diobati spesifik, oleh karena itu harus dibedakan penyebabnya,
defesiensi vitamin B12 atau devesiensi asam folat.
Dosis vitamin B12 100mcg/hari im, selama 5-10 hari sebagai terapi awal di ikuti
dengan terapiu rumat 100-200 mcg/bulan sampai dicapai remisi.
Dosis asam folat 0,5 1mg/hari secara oral sampai dengan 10 hari, dilanjutkan
dengan 0,1-0,5 mg/hari.
penggunaan vitamin B12 oral tidak ada gunanya pada anemia pernisiosa. selain
itu sedian oral lebih mahal.
d. Hemolisis autoimun di atasi dengan prednisone 2 5 mg/kgBB/hari/oral dan
testosterone 1 2 mg/KgBBiv, untuk jangka panjang.
Sumber: pedoman pengobatan dasar di puskesmas tahun 2007 hal. 14-15
Mengetahui,
umum
KEPALA UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

DRS. IDRIS, SKM, S.Kep, , M.Kes


SAHRUDDIN
NIP 19580510 198111 1 004
023

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK UMUM

Koordinator poliklinik

Dr.HASPIANA
NIP 19770219 200604 2

INSTRUKSI KERJA
No. Dok.:IK/PU/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

INSTRUKSI KERJA
PENATALAKSANAAN ASMA BRONKIALE
1. TUJUAN
Sebagai acuan dalam penata laksanaan asma bronkiale dan mencegah terjadinya komplikasi untuk
semua pasien yang menderita asma bronkiale yang datang di Unit Pelayanan Umum Puskesmas
kelurahan dan puskesmas kecamatan, serta 24 jam di puskesmas Pekkae kecamatan Tanete Rilau.
2. URAIAN UMUM
Kriteria diagnosa
Asma bronkiale adalah suatu keadaan di mana saluran nafas mengalami penyempitan karena
hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang menyebabkan peradangan dan penyempitan yang
bersifat sementara.
3. PENATALAKSANAAN
Therapi
- Faktor pencetus serangan sedapat mungkin dihilangkan.
- Pada serangan ringan dapat diberikan suntikan adrenalin 1 : 1000 0,2 0,3 ml. Dosis anak 0,01
mg/kgBB yang dapat diulang dengan memperhatikan tekanan darah, nadi dan fungsi respirasi.
- Bronkodilator terpilih adalah teofilin 100 150 mg 3 x sehari pada orang dewasa dan 10 15
mg / kg BB sehari untuk anak.
- Pilihan lain : salbutamol 2 4 mg 3 x sehari untuk dewasa.
- Efedrin 10 15 mg / kgBB sehari dapat dipakai untuk menambah khasiat theofilin.
- Prednison hanya dibutuhkan bila obat-obat diatas tidak menolong dan diberikan beberapa hari
saja untuk mencegah status asmatikus. Namun pemberiannya tidak boleh terlambat.
- Penderita satatus asmatikus memerlukan oksigen, terapi parental dan perawatan insentif
sehingga harus dirujuk dengan tindakan awal sebagai berikut :
Penderita di infus glukosa 5 %
Aminofilin 5 6 mg/kgBB disuntikan i.v perlahan bila penderita belum memperoleh
teofilin oral.
Prednison 10 20 mg 2 x sehari untuk beberapa hari, kemudian diturunkan dosisnya
sehingga secepat mungkin dapat di hentikan.
Bila belum coba diatasi dengan adrenalin, maka dapat digunakan dulu adrenalin.
Mengetahui,
umum
KEPALA UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

DRS. IDRIS, SKM, S.Kep, , M.Kes


SAHRUDDIN
NIP 19580510 198111 1 004
023

Koordinator poliklinik

Dr.HASPIANA
NIP 19770219 200604 2

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

POLIKLINIK UMUM

INSTRUKSI KERJA
No. Dok.:IK/PU/0

No. Rev.: 0

Tgl. Berlaku: 20 Februari 2012

INSTRUKSI KERJA
RUJUKAN PASIEN DIPOLIKLINIK UMUM
1. TUJUAN
1.1

Untuk mengidentifikasi kondisi kegawatdaruratan pasien dan menentukan


waktu yang tepat untuk mengambil tindakan rujukan.

2. URAIAN UMUM
2.1

Sistem tingkat kedaruratan TRIAGE mempunyai arti yg penting karena TRIAGE merupakan
suatu proses mengkomunikasikan kondisi kegawatdaruratan pasien di dalam UGD. Jika data
hasil pengkajian tiage dikumpulkan secara akurat dan konsisten,maka suatu UGD dapat
menggunakan keterangan tersebut untuk menilai dan menganalisis serta menentukan suatu
kebijakan seperti berapa lama pasien dirawat di UGD,berapa hari pasien harus dirawat inap dan
kapan harus dilakukan rujukan.

3. KATEGORI TRIAGE
3.1.

Gawat darurat
Pasien membutuhkan tindakan yang cepat.Keluhan utama adalah berdasarkan pada

ancaman

serius terhadap nyawa,tubuh,atau organ,misalnya ; serangan jantung,trauma berat ,gagal napas.


Respon pasien harus diperhatikan dan perlu dilakukan observasi secara terus menerus.
3.2.

Darurat
Pasien membutuhkan tindakan segera,tetapi pasien masih memungkinkan menunggu beberapa
jam jika mampu. Misalnya nyeri abdomen,fraktur dan batu ginjal. Disarankan untuk melakukan
observasi setiap 30 menit.

3.3.

Biasa
Setelah pasien dilakukan pengkajian,karena kondisi pasien tidak kritis maka pasien dapat
menunggu. Misalnya konjungtivitis,gangguan di tenggorokan,kulit ,demam dan sebagainya.
Dilakukan observasi setiap 1 sampai 2 jam..

4.PROSES TRIAGE
4.1

Pengkajian triage haruslah dilakukan dengan jelas dan tepat waktu. Tujuan proses TRIAGE ini
adalah untuk mengumpulkan data dan keterangan sesuai dengan kondisi pasien dalam rangka

pengambilan keputusan untuk kemudian merencanakan intervensi dan bukan untuk


mendiagnosis. Ketika perawat triage menemukan kondisi yang mengancam nyawa
,pernapasan,atau sirkulasi maka harus segera melakukan intervensi dan pasien dibawa ke ruang
tindakan. Setelah dilakukan pengkajian dan observasi sesuai dengan kategori TRIAGE,,pasien
tidak menunjukkan kemajuan dan perbaikan dalam terapi maka segera lakukan tindakan
RUJUKAN
Dasar Dasar Keperawatan Gawat Darurat 2011
Mengetahui,
umum
KEPALA UPTD KESEHATAN PUSKESMAS PEKKAE

DRS. IDRIS, SKM, S.Kep, , M.Kes


SAHRUDDIN
NIP 19580510 198111 1 004
023

Koordinator poliklinik

Dr.HASPIANA
NIP 19770219 200604 2