Anda di halaman 1dari 28

TUGAS KELOMPOK

FITOMEDISINAL
Gangguan Saluran Pencernaan

Kelompok II
Sri Perwanti

511 14 011 137

Indah Resky P

511 14 011 025

La Ode Asnal M

511 14 011 149

Muliadi

509 14 011 038

Dewi Yul

511 14 011 217

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PANCASAKTI
MAKASSAR
2015

fi t o m e d i s i n a l | 1

KATA PENGANTAR
Pertama-tama kami ingin mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan
yang Maha Esa yang telah memberkati kami sehingga makalah Fitomedisinal ini
dapat diselesaikan. Kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada bapak
Dosen pengajar Fitomedisinal bagi seluruh pihak yang telah membantu kami
dalam pembuatan makalah ini dan berbagai sumber yang telah kami pakai sebagai
data dalam pembuatan makalah ini.
Kami mengakui bahwa kami adalah manusia yang mempunyai
keterbatasan dalam berbagai hal. Oleh karena itu tidak ada hal yang dapat
diselesaikan dengan sangat sempurna. Begitu pula dengan makalah ini yang telah
kami selesaikan. Tidak semua hal dapat kami deskripsikan dengan sempurna
dalam makalah ini. Kami melakukannya semaksimal mungkin dengan
kemampuan yang kami miliki. Di mana kami juga memiliki keterbatasan
kemampuan.
Maka dari itu seperti yang telah dijelaskan bahwa kami memiliki
keterbatasan dan juga kekurangan, kami bersedia menerima kritik dan saran dari
pembaca yang budiman. Kami akan menerima semua kritik dan saran tersebut
sebagai batu loncatan yang dapat memperbaiki makalah Fitomedisinal kami di
masa datang. Sehingga semoga makalah berikutnya dan karya tulis lain dapat
diselesaikan dengan hasil yang lebih baik.
Penyusun
Kelompok II

fi t o m e d i s i n a l | 2

BAB I
PENDAHULUAN
A; Latar Belakang

Sumber daya alam obat tradisional merupakan aset nasional yang


perlu terus digali, diteliti, dikembangkan dan dioptimalkan pemanfaatannya.
Indonesia sebagai suatu negara dengan wilayah yang mempunyai tingkat
keanekaragaman hayati yang tinggi, dimana potensi sumber daya tumbuhan
yang ada merupakan suatu aset berharga dan sebagai modal dasar dalam
upaya pemanfaaatan dan pengembangannya untuk menjadi komoditi yang
kompetitif (Depkes RI, 2007).
Gaya hidup kembali ke alam (back to nature) menjadi cukup popular
saat ini sehingga masyarakat kembali memanfaatkan berbagai bahan alam,
termasuk pengobatan dengan tumbuhan obat. Sudah sejak zaman dahulu
masyarakat Indonesia mengenal dan menggunakan tanaman obat berkhasiat
sebagai salah satu upaya untuk menanggulangi berbagai masalah kesehatan,
jauh sebelum pelayanan kesehatan formal dan obat-obatan modern menyentuh
lapisan masyarakat. Penggunaan tanaman obat untuk penyembuhan suatu
penyakit didasarkan pada pengalaman yang secara turun-temurun diwariskan
oleh generasi terdahulu kepada generasi berikutnya yang lebih dikenal sebagai
obat tradisional. Saat ini pemilihan bahan-bahan alami untuk pengobatan
didasarkan pada bukti penelitian, sehingga penggunaan bahan-bahan alami
diharapkan dapat lebih tepat sasaran dalam dunia pengobatan. Tanaman
berkhasiat obat mempunyai nilai lebih ekonomis dan efek samping lebih kecil
dibandingkan dengan obat-obat sintesis.
Penyebaran informasi mengenai hasil penelitian dan uji yang telah
dilakukan terhadap obat bahan alam harus menjadi perhatian bagi semua
pihak karena menyangkut faktor keamanan penggunaan obat tersebut.
Beberapa hal yang perlu diketahui sebelum menggunakan obat bahan alam
adalah keunggulan dan kelemahan obat tradisional dan tanaman obat.
Keunggulan obat bahan alam antara lain Efek samping obat tradisional relatif
lebih kecil bila digunakan secara benar dan tepat, baik tepat takaran, waktu
penggunaan, cara penggunaan, ketepatan pemilihan bahan, dan ketepatan
pemilihan obat tradisional atau ramuan tanaman obat untuk indikasi tertentu.
Adanya efek komplementer dan atau sinergisme dalam ramuan
fi t o m e d i s i n a l | 3

obat/komponen bioaktif tanaman obat. Dalam suatu ramuan obat tradisional


umumnya terdiri dari beberapa jenis tanaman obat yang memiliki efek saling
mendukung satu sama lain untuk mencapai efektivitas pengobatan. Formulasi
dan komposisi ramuan tersebut dibuat setepat mungkin agar tidak
menimbulkan efek kontradiksi, bahkan harus dipilih jenis ramuan yang saling
menunjang terhadap suatu efek yang dikehendaki. Pada satu tanaman bisa
memiliki lebih dari satu efek farmakologi.
Zat aktif pada tanaman obat umumnya dalam bentuk metabolit
sekunder, sedangkan satu tanaman bisa menghasilkan beberapa metabolit
sekunder, sehingga memungkinkan tanaman tersebut memiliki lebih dari satu
efek farmakologi. Obat tradisional lebih sesuai untuk penyakit-penyakit
metabolik dan degeratif. Perubahaan pola konsumsi mengakibatkan gangguan
metabolisme dan faal tubuh sejalan dengan proses degenerasi. Yang termasuk
penyakit metabolik antara lain diabetes (kencing manis), hiperlipidemia
(kolesterol tinggi), asam urat, batu ginjal, dan hepatitis. Sedangkan yang
termasuk penyakit degeneratif antara lain rematik (radang persendian), asma
(sesak nafas), ulser (tukak lambung), haemorrhoid (ambein/wasir) dan pikun
(lost of memory). Untuk mengobati penyakit- penyakit tersebut diperlukan
waktu lama sehingga penggunaan obat alam lebih tepat karena efek
sampingnya relatif lebih kecil.
Di samping keunggulannya, obat bahan alam juga memiliki beberapa
kelemahan yang juga merupakan kendala dalam pengembangan obat
tradisional antara lain : efek farmakologisnya lemah, bahan baku belum
terstandar dan bersifat higroskopis serta volumines, belum dilakukan uji klinik
dan mudah tercemar berbagai mikroorganisme.
Upaya-upaya pengembangan obat tradisional dapat ditempuh dengan
berbagai cara dengan pendekatan-pendekatan tertentu, sehingga ditemukan
bentuk obat tradisional yang telah teruji khasiat dan keamanannya, bisa
dipertanggungjawabkan secara ilmiah serta memenuhi indikasi medis, yaitu
kelompok obat fitoterapi atau fitofarmaka. Untuk mendapatkan produk
fitofarmaka harus melalui beberapa tahap (uji farmakologi, toksisitas dan uji
klinik) hingga bisa menjawab dan mengatasi kelemahan tersebut.
Penggunaan obat bahan alam pada gangguan saluran pencernaan
sering dan kerap ditemukan dalam kehidupan bermasyarakat untuk suatu
pencegahan dan pengobatan. Pada Bab Berikutnya beberapa contoh tanaman-

fi t o m e d i s i n a l | 4

tanaman yang sering digunakan dalam pengobatan gangguan saluran


pencernaan.
B; Tujuan

Untuk mengetahui deskripsi, kandungan kimia, farmakologi, keguaan


atau indikasi, dosis obat, inetraksi obat, efek yang tidak diinginkan dan data
klinik dan keamanan dari suatu tanaman yang dapat digunakan pada gangguan
saluran pencernaan.

BAB II
PEMBAHASAN
A; Gangguan Saluran Pencernaan

Saluran pencernaan adalah suatu sistem yang meliputi organ mulut,


kerongkongan dan perut. Saluran pencernaan bawah meliputi usus kecil,
ususu besar (kolon), rektum dan anus. Fungsi saluran pencernaan meliputi
proses pengunyahan, menelan, mencerna, mnyerap dan mengeliminasi sisa
makanan. Gangguan pencernaan terjadi ketika satiap bagian dari saluran

fi t o m e d i s i n a l | 5

pencernaan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Akibatnya, penderita


mengalami kesulitan dalam mencerna makanan, menyerap makanan dan
buang air besar.
Sistem pencernaan pada manusia dapat mengalami gangguan. Adapun
gangguan sistem pencernaan manusia disebabkan oleh berbagai faktor. Faktor
penyebab gangguan pada sistem pencernaan manusia misalnya
mengkonsumsi makanan yang tidak sehat, pola makan yang tidak teratur.
Gangguan sistem pencernaan manusia :
1 Gastritis
Gastritis merupakan gangguan sistem pencernaan dimana terjadi
peradangan pada dinding lambung. Gastritis disebabkan karena kadar
asam klorida (Hcl) terlalu tinggi. Gastriris juga dapat disebabkan oleh
2

makanan yang banyak mengandung kuman-kuman penyakit.


Diare
Diare merupakan gangguan pencernaan dimana perut terasa mulas dan
feses penderita encer . Diare terjadi karena selaput dinding usus besar
mengalami iritasi. Adapun penyebab diare karena mengkonsumsi
makanan yang mengandung kuman sehingga gerakan peristaltik usus
tidak terkendali dan tidak terjadi penyerapan air di dalam usus besar.
Apabila feses penderita bercampur dengan darah atau nanah, gejala
tersebut menunjukka penderita mengalami desentri yang disebabakan
oleh infeksi bakteri Shigella pada dinding usus besar penderita.
Konstipasi (sembelit)
Sembelit merupakan gangguan pencernaan dimana penderita
mengeluarkan feses yang keras. Sembelit terjadi karena penyerapan air
oleh usus besar terlalu banyak. Sembelit disebabkan oleh kebiasaan
buruk seseorang yang selalu menunda buang air besar, kurangnya
mengkonsumsi makanan berserat seperti buah dan sayuran.
Maag
Maag merupakan gangguan pencernaan dimana penderita merasa perih
pada dinding lambung diserati rasa mual dan perut kembung. Maag
terjadi karena kadar asam lambung terlalu tinggi. Maag disebabkan
karena pola makan yang tidak teratur, pikiran yang terlalu tegang ataupun
stress. Penyebab penyakit maag pada manusia yaitu bakteri Helicobakter
pylori .

fi t o m e d i s i n a l | 6

Hemaroid (wasir)
Wasir atau sembelit merupakan gangguan pencernaan dimana pembuluh
vena mengalami pembengkakan di sekitar anus. Sembelit seringkali
dialami oleh ibu hamil maupun oarang yang terlalu banyak duduk.
Tukak lambung
Tukak lambung merupakan gangguan pencernaan dimana selaput lendir
pada lambung mengalami kerusakan karena terlalu banyak mengeluarkan
asam lambung. Tukak lambung disebabkan oleh kuman maupun oleh
rasa cemas yang berlebih, ketakutan maupun stress.
Radang usus buntu
Radang usus buntu merupakan gangguan pencernaan kaena usu buntu
mengalami infeksi oleh bakteri. Radang usus buntu terjadi karena

tersumbatnya lubang antarausus buntu dan usus besar oleh lendir maupun
oleh biji cabe.
8 Sariawan
sariawan merupakan gangguan pencernaan dimana mulut, gusi maupun
lidah terluka dan terasa perih saat makan. Sariawan terjadi karena panas
dalam pada rongga mulut dan rongga lidah. Sariawan disebabkan
kekurangan vitamin C.
9 Sakit gigi
Sakit gigi disebabkan karena gigi berlubang. Sakit gigi berpengaruh
terhadap kerja ginjal dan jantung. Gigi berlubang disebabkan karena
terlalu banyak mengkonsumsi makanan manis yang mengandung gula.
10 Mallnutrisi (Gizi buruk)
Gizi buruk merupakan gangguan pencernaan dimana pembentukan enzim
pencernaan mengalami gangguan. Gizi buruk disebabkan sel-sel pancreas
atropi terlalu banyak kehilangan reticulum endoplasma.
11 Cacingan
Ada beberapa jenis penyakit cacing. Tiga yang perlu Anda
ketahui yaitu cacing gelang, cacing tambang, dan cacing
kremi.
a;

Cacing gelang
Disebabkan oleh cacing gelang atau Ascaris
lumbriciadea. Telur cacing ini masuk melalui makanan
dan minuman yang tercemar atau tidak bersih.

fi t o m e d i s i n a l | 7

Gejalanya antara lain perut mulas, mencret dan


kembung. Penderita mungkin juga mengalami gejala
ikutan seperti tenggorokan dan hidung gatal.
Terkadang ia mengalami kejang dan kesemutan di
tangan dan kaki. Mata sering mengedip dan timbul
selaput pada putih mata. Anak-anak menjadi sering
rewel dan menangis. Pengobatannya dilakukan dengan
memberikan obat cacing yang tepat melalui resep
dokter. Resep tradisional, rebung atau biji petai cina
dapat menyembuhkan penyakit cacing gelang.
b;

Cacing tambang
Penyakit cacing ini disebabkan oleh cacing tambang.

c;

Telur cacing tambang masuk ke tubuh melalui kulit,


khusunya kaki dan tangan. Telur cacing ini hidup di
daerah lembab dan hangat. Gejala yang tampak ialah
perut mulas, mencret, dan kembung. Seringkali diiringi
dengan tidak enak badan dan gatal di kaki atau
tangan. Pengobatannya dengan obat cacing yang
sesuai.
Cacing kremi
Cara telur cacing ini masuk ke dalam sistem
pencernaan ialah melalui makanan dan minuman
mentah dan tidak bersih. Anak-anak yang mempunyai
kebiasaan menggigit-gigit jari dan bermain di tempat
yang becek-lembap berpeluang terkena penyakit ini.
Karena telur cacing kremi suka berada di air atau
tanah yang tidak bersih. Gejala penyakit cacing keremi
yaitu gatal-gatal pada liang dubur atau liang hidung.
Jika parah, mata anak yang menderita cacing kremi
tampak agak berbusa. Pengobatannya dilakukan
dengan memberikan obat cacing yang sesuai dan
dosis yang tepat atau memakan biji petai cina
sebanyak-banyaknya agar cacingnya mati dan keluar
bersama tinja.

fi t o m e d i s i n a l | 8

B; Tanaman yang digunakan pada Gangguan Saluran Pencernaan

Jahe (Zingiber officinale (L.) Rosc.)


1; Uraian Tanaman
a; Klasifikasi

Divisi
Sub-Divisi
Kelas
Ordo
Famili
Genus
Species
b; Deskripsi

: Spermatophyta
: Angiospermae
: Monocotyledonae
: Zingiberales
: Zingiberaceae
: Zingiber
: Zingiber officinale (L.) Rosc.

Terna berbatang semu, tinggi 30 cm sampai 1 m, rimpang bila


dipotong berwarna kuning atau jingga. Daun sempit, panjang 15 23
mm, lebar 8 15 mm ; tangkai daun berbulu, panjang 2 4
mm ; bentuk lidah daun memanjang,

panjang 7, 5 10 mm,

dan tidak berbulu; seludang agak berbulu. Perbungaan berupa malai


tersembul dipermukaan tanah, berbentuk tongkat atau bundar telur
yang sempit, 2,75 3 kali lebarnya, sangat tajam ; panjang malai 3,5
5 cm, lebar 1,5 1,75 cm ; gagang bunga hampir tidak berbulu,
panjang 25 cm, rahis berbulu jarang ; sisik pada gagang terdapat 5 7
buah, berbentuk

lanset,

letaknya

berdekatan

atau

rapat,

hampir

tidak berbulu, panjang sisik 3 5 cm; daun pelindung berbentuk


bundar telur terbalik, bundar pada ujungnya, tidak berbulu, berwarna
hijau cerah, panjang 2,5 cm, lebar 1 1,75 cm ; mahkota bunga
berbentuk tabung 2 2,5 cm, helainya agak sempit, berbentuk tajam,
berwarna kuning kehijauan, panjang 1,5 2,5 mm, lebar 3 3,5
mm, bibir berwarna ungu, gela p, berbintik-bintik berwarna putih
kekuningan, panjang 12 15 mm ; kepala sari berwarna ungu,
panjang 9 mm ; tangkai putik 2

fi t o m e d i s i n a l | 9

2; Kandungan Kimia

Minyak atsiri zingiberena (zingirona) 0,25%-3,3%, zingiberol, bisabolena,


kurkumin, gingerol, filandrena, dan resin pahit. pati, serat, sejumlah kecil
protein, vitamin, mineral, dan enzim proteolitik yang disebut zingibain
3; Data Klinik/Keamanan
a; Data klinik

Uji klinis jahe telah difokuskan terutama pada dampaknya pada


pencegahan dan pengobatan mual dan muntah berbagai
menyebabkan. Studi klinis lainnya telah menilai efek jahe
persiapan pada motilitas gastrointestinal dan fungsi trombosit,
dan dalam kondisi vertigo dan inflamasi, seperti osteoarthritis
b; Keamanan

Ekstrak etanolil secara per oral 2,5 g/kgBB dapat ditoleransi oleh
mencit, tidak ditemukan kematian atau efek samping, kecuali diare
ringan pada 20% hewan coba. Pada dosis 3,0 dan 3,5 g/kgBB
menyebabkan kematian masing-masing 20-30%.
Nilai Letas Dosis 50 ( LD50) oral minyak jahe pada kelinci lebih dari
5g/kgbb , sedangkan LD50 untuk 6-gingerol dan 6-shogaol adalah
250-680 mg/kgBB
4; Interaksi Obat

Interaksi obat dapat terjadi pada obat cardiotonik dan antiplatelet yaitu
dapat menurunkan aktivitas kedua obat tersebut dan meningkatkan resiko
pendarahan. Hasil uji klinik pada dosis 10g menunjukkan efek bermakna.
Pasien dengan obat antikoagulansia dan gangguan perdarahan agar
menghindari penggunaan dengan dosis yang besar.
5; Dosis

Untuk obat mual dan muntah dengan dosis tunggal atau terbagi 1 - 2 gram,
dengan dosis maksimum dalam sehari 4 5 g rimpang segar atau 2 3 g
serbuk rimpang kering sehari.
6; Reaksi Yang Tidak Diinginkan

fi t o m e d i s i n a l | 10

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bila jahe dikonsumsi dalam


jangka panjang akan mempunyai efek hipoglikemik dan hipolipidemik.
7; Kegunaan

Secara tradisional, kegunaannya antara lain untuk mengobati penyakit


rematik, asma, stroke, sakit gigi, diabetes, sakit otot, tenggorokan,
kram, hipertensi, mual, diare, muntah, demam dan infeksi.

Cengkeh (Syzygium aromaticum (L.) Merr.)


1; Uraian tanaman
a; Klasifikasi

Divisi

: Spermatophyta

Subdivisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledonae

Bangsa

: Myrtales

Suku

: Myrtaceae

Marga

: Syzygium

Jenis

: Syzygium aromaticum (L.) Merr.

b; Deskripsi
Pohon cengkeh merupakan tanaman tahunan yang dapat tumbuh
dengan tinggi 10-20 m. Cabang-cabang dari tumbuhan cengkeh
tersebut pada umumnya panjang dan dipenuhi oleh ranting-ranting
kecil yang mudah patah. Mahkota atau juga lazim disebut tajuk pohon
fi t o m e d i s i n a l | 11

cengkeh berbentuk kerucut. Daun cengkeh berwarna hijau berbentuk


bulat telur memanjang dengan bagian ujung dan pangkalnya
menyudut, rata-rata mempunyai ukuran lebar berkisar 2-3 cm dan
panjang daun tanpa tangkai berkisar 7,5 -12,5 cm. Bunga dan buah
cengkeh akan muncul pada ujung ranting daun dengan tangkai pendek
serta bertandan. Cengkeh cocok ditanam baik di daerah daratan rendah
dekat pantai maupun di pegunungan pada ketinggian 600 1100 m di
atas permukaan laut.dan di tanah yang berdrainase baik
2; Kandungan kimia

Minyak atsiri (15-18%) yang mengandung eugenol (80-90%), eugenil


asetat (27/2%), b caryophyllene-(5-12%). Lainnya termasuk metil salisilat,
metil eugenol, benzaldehida, metil amil keton dan-ylangene.

3; Data klinik/keamanan
a; Data klinik

Sifat antiseptik anodyne dan ringan didokumentasikan untuk cengkeh


minyak telah dikaitkan dengan eugenol. Minyak cengkeh yang
dinyatakan memiliki sifat antihistamin dan antispasmodic. eugenol,
eugenol asetat dan metil asetat dilaporkan menunjukkan
tripsin-potentiating kegiatan. Antibakteri, hipoglikemik, dan ampuh
CNS-depresan kegiatan telah didokumentasikan untuk Syzygium
cuminii L., sebuah spesies yang terkait dibudidayakan di India.
b; Keamanan
Ada kurangnya data dan toksisitas data keamanan klinis untuk minyak
cengkeh dan penyelidikan lebih lanjut dari aspek ini diperlukan.
Minyak cengkeh adalah dinyatakan sebagai dermal dan selaput lendir
iritasi; kontak dermatitis, cheilitis, dan stomatitis telah dilaporkan
untuk cengkeh minyak. Sifat iritan minyak dapat dikaitkan dengan
konten eugenol. Eugenol juga dinyatakan memiliki kepekaan properti.
4; Interaksi obat

fi t o m e d i s i n a l | 12

Tidak ada didokumentasikan. Namun, potensipersiapan minyak cengkeh


untuk berinteraksi dengan obat laindiberikan bersamaan, terutama mereka
yang sama ataumenentang efek, harus dipertimbangkan. Eugenol, seorang
mayorkonstituen minyak cengkeh, menghambat sintesis prostaglandin,
meskipunrelevansi klinis ini, jika ada, tidak jelas.
5; Dosis

Dosis untuk pemberian oral (dewasa) untuk keperluan tradisional


direkomendasikan dalam teks-teks referensi farmasi standar yang lebih tua
diberikan di bawah ini. Dalam kedokteran gigi, minyak cengkeh
diterapkan murni menggunakan plug kapas yang dibasahi minyak dan
diterapkan pada rongga gigi (lihat Kontraindikasi, Peringatan).
Cengkeh 120-300 mg. Minyak cengkeh 0,05-0,2 mL.
6; Reaksi yang tidak diinginkan
Tidak ada didokumentasikan untuk tunas, daun atau batang. Disarankan
bahwa minyak cengkeh harus digunakan dengan hati-hati secara lisan dan
tidak boleh digunakan pada kulit. Aplikasi berulang minyak cengkeh
sebagai obat sakit gigi dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan
gingiva. Mengingat sifat iritan dari minyak atsiri, terkonsentrasi cengkeh
Minyak ini tidak cocok untuk penggunaan internal dalam dosis yang lebih
besar daripada yang direkomendasikan.Ada bukti terbatas dari dalam
penyelidikan vitro yang eugenol menghambat sintesis prostaglandin,
dan koagulasi Gangguan telah dilaporkan setelah konsumsi masa kecil
minyak cengkeh.
7; Kegunaan

Cengkeh telah digunakan secara tradisional sebagai karminatif, antiemetik,


obat sakit gigi dan kontra-iritan. Minyak cengkeh dinyatakan sebagai
karminatif, kadang-kadang digunakan dalam pengobatan kolik kembung
dan umumnya digunakan secara topical untuk mengurangi gejala-gejala
sakit gigi.

fi t o m e d i s i n a l | 13

Daun Kemangi (Ocimum americanum L.)


1; Uraian tanaman

Klasifikasi
Kemangi (Ocimum americanum L.)
Divisio
: Spermatophyta
Sub divisio
: Angiospermae
Kelas
: Dicotyledonae
Ordo
: Amaranthaceae
Famili
: Lamiaceae
Genus
: Ocimum
Spesies
: Ocimum americanum L.
Deskripsi
Pohon cengkeh merupakan tanaman tahunan yang dapat tumbuh dengan
tinggi 10-20 m. Cabang-cabang dari tumbuhan cengkeh tersebut pada
umumnya panjang dan dipenuhi oleh ranting-ranting kecil yang mudah
patah. Mahkota atau juga lazim disebut tajuk pohon cengkeh berbentuk
kerucut. Daun cengkeh berwarna hijau berbentuk bulat telur memanjang
dengan bagian ujung dan pangkalnya menyudut, rata-rata mempunyai
ukuran lebar berkisar 2-3 cm dan panjang daun tanpa tangkai berkisar 7,5
-12,5 cm. Bunga dan buah cengkeh akan muncul pada ujung ranting daun
dengan tangkai pendek serta bertandan. Cengkeh cocok ditanam baik di
daerah daratan rendah dekat pantai maupun di pegunungan pada

fi t o m e d i s i n a l | 14

ketinggian 600 1100 m di atas permukaan laut.dan di tanah yang


berdrainase baik
2; Kandungan kimia

Minyak atsiri (15-18%) yang mengandung eugenol (80-90%), eugenil


asetat (27/2%), b caryophyllene-(5-12%). Lainnya termasuk metil salisilat,
metil eugenol, benzaldehida, metil amil keton dan-ylangene.
3; Data klinik/keamanan

Data klinik
Sifat antiseptik anodyne dan ringan didokumentasikan untuk cengkeh
minyak telah dikaitkan dengan eugenol. Minyak cengkeh yang dinyatakan
memiliki sifat antihistamin dan antispasmodic. eugenol, eugenol asetat dan
metil asetat dilaporkan menunjukkan tripsin-potentiating kegiatan.
Antibakteri, hipoglikemik, dan ampuh CNS-depresan kegiatan telah
didokumentasikan untuk Syzygium cuminii L., sebuah spesies yang terkait
dibudidayakan di India.
Keamanan
Ada kurangnya data dan toksisitas data keamanan klinis untuk minyak
cengkeh dan penyelidikan lebih lanjut dari aspek ini diperlukan. Minyak
cengkeh adalah dinyatakan sebagai dermal dan selaput lendir iritasi;
kontak dermatitis, cheilitis, dan stomatitis telah dilaporkan untuk cengkeh
minyak. Sifat iritan minyak dapat dikaitkan dengan konten eugenol.
Eugenol juga dinyatakan memiliki kepekaan properti.
4; Interaksi obat

Tidak ada didokumentasikan. Namun, potensi persiapan minyak cengkeh


untuk berinteraksi dengan obat lain diberikan bersamaan, terutama mereka
yang sama atau menentang efek, harus dipertimbangkan. Eugenol, seorang
mayor konstituen minyak cengkeh, menghambat sintesis prostaglandin,
meskipun relevansi klinis ini, jika ada, tidak jelas.
5; Dosis

Dosis untuk pemberian oral (dewasa) untuk keperluan tradisional


direkomendasikan dalam teks-teks referensi farmasi standar yang lebih tua

fi t o m e d i s i n a l | 15

diberikan di bawah ini. Dalam kedokteran gigi, minyak cengkeh


diterapkan murni menggunakan plug kapas yang dibasahi minyak dan
diterapkan pada rongga gigi (lihat Kontraindikasi, Peringatan).
Cengkeh 120-300 mg. Minyak cengkeh 0,05-0,2 mL.
6; Reaksi yang tidak diinginkan
Tidak ada didokumentasikan untuk tunas, daun atau batang. Disarankan
bahwa minyak cengkeh harus digunakan dengan hati-hati secara lisan dan
tidak boleh digunakan pada kulit. Aplikasi berulang minyak cengkeh
sebagai obat sakit gigi dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan
gingiva. Mengingat sifat iritan dari minyak atsiri, terkonsentrasi cengkeh
Minyak ini tidak cocok untuk penggunaan internal dalam dosis yang lebih
besar daripada yang direkomendasikan.Ada bukti terbatas dari dalam
penyelidikan vitro yang eugenol menghambat sintesis prostaglandin,
dan koagulasi Gangguan telah dilaporkan setelah konsumsi masa kecil
minyak cengkeh.
7; Kegunaan

Cengkeh telah digunakan secara tradisional sebagai karminatif, antiemetik,


obat sakit gigi dan kontra-iritan. Minyak cengkeh dinyatakan sebagai
karminatif, kadang-kadang digunakan dalam pengobatan kolik kembung
dan umumnya digunakan secara topical untuk mengurangi gejala-gejala
sakit gigi.

fi t o m e d i s i n a l | 16

Daun Jambu Biji (Psidii folium)


1; Uraian Tanaman
Divisi
: Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas
: Dicotyledonae
Bangsa
: Myrtales
Suku
: Myrtaceae
Marga
: Psidium
Jenis
: Psidium guajava L.
Jambu biji berasal dari Amerika tropik, tumbuh pada tanah yang gembur
maupun liat, pada tempat terbuka, dan mengandung air yang cukup
banyak. Pohon jambu biji banyak ditanam sebagai pohon buah-buahan.
Namun sering tumbuh liar dan dapat ditemukan pada ketinggian 1 m
sampai 1.200 m dari permukaan laut. Jambu biji berbunga sepanjang
tahun. Perdu atau pohon kecil, tinggi 2 m sampai 10 m, percabangan
banyak. Batangnya berkayu, keras, kulit batang licin, berwarna coklat
kehijauan. Daun tunggal, bertangkai pendek, letak berhadapan, daun muda
berambut halus, permukaan atas daun tua licin. Helaian daun berbentuk
bulat telur agak jorong, ujung tumpul, pangkal membulat, tepi rata agak
melekuk ke atas, pertulangan menyirip, panjang 6 sampai 12 cm, lebar 3
cm sampai 6 cm. Bunga tunggal, bertangkai, keluar dari ketiak daun,
berkumpul 1 sampai 3 bunga, berwarna putih. Buahnya buah buni,
berbentuk bulat sampai bulat telur, berwarna hijau sampai hijau
kekuningan. Daging buah tebal, buah yang masak bertekstur lunak,
berwarna putih kekuningan atau merah jambu. Biji buah banyak
mengumpul ditengah, kecil-kecil, keras, berwarna kuning kecoklatan.
2; Kandungan Kimia

Daun jambu biji (Psidium guajava L.) mengandung berbagai macam


komponen, diantaranya kelompok senyawa tanin dan flavonoid yang
dinyatakan sebagai kuersetin. Kuersetin (Gambar 1) memiliki aktivitas
menghambat aktivitas enzim reverse transcriptase yang berarti
menghambat pertumbuhan virus berinti RNA.
fi t o m e d i s i n a l | 17

Daun mengandung tannin, minyak atsiri (eugenol), minyak lemak,


dammar, zat samak, triterpenoid, asam malat (Dalimartha, 2004). Tanin
secara ilmiah didefinisikan sebagaisenyawa polipenol yang mempunyai
berat molekultinggi dan mempunyai gugus hidroksil dan guguslainnya
(seperti karboksil) sehingga dapatmembentuk kompleks dengan protein
(Danarto, dkk., 2011). Menurut teori warna, struktur tanin dengan ikatan
rangkap dua yang terkonjugasi pada polifenol sebagai kromofor
(pengemban warna) dan adanya gugus (OH) sebagai auksokrom (pengikat
warna) dapat menyebabkan warna coklat (Wijaya, dkk., 2011). Tanin
merupakan senyawa yang dapat larut dalamair, gliserol, alkohol, dan
hidroalkohol, tetapi tidaklarut dalam petroleum eter, benzene dan eter
3; Keamanan dan Data Klinik

Tanaman jambu biji merupakan tanaman yang istimewa, buahnya


memiliki kandungan zat gizinya yang tinggi, seperti vitamin C, potasium,
dan besi. Selain itu, juga kaya zat non gizi, seperti serat pangan, komponen
karotenoid, dan polifenol. Buah jambu biji bebas dari asam lemak jenuh
dan sodium, rendah lemak dan energi, tetapi tinggi akan serat pangan. Di
dalam daun jamu biji antara lain mengandung tanin, minyak
asiri(eugenol), dan minyak lemak. Oleh karena adanya senyawa-senyawa
yang terkandung di dalamnya menyebabkan tanaman ini banyak
dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Pada umumnya bagian yang dapat
digunakan dari tanaman ini adalah bagian daun, buah mengkal, ranting
muda dan akar. Daun jambu biji rasanya manis, sifatnya netral, berkhasiat
astrigen (pengelat), antidiare, antiradang, penghentian perdarahan
(hemostatis), dan peluruh haid. Daun mengandung tanin, minyak
asiri(eugenol), minyak lemak, damar, zat samak, triterpenoid, asam malat
dan asam apfel. Pada umumnya daun digunakan untuk pengobatan: Diare
akut dan kronis, Perut kembung pada bayi dan anak, Kadar kolesterol
darah meninggi, Sering buang air kecil (anyang anyangan), Luka dan luka
berdarah, Sariawan, larutan kumur atau sakit gigi, Demam Berdara.
4; Reaksi yang tidak diinginkan

fi t o m e d i s i n a l | 18

Sejauh ini belum ada efek sampng yang disebabkan oleh penggunaan daun
jambu biji. Namun untuk alasan keamanan ibu hamil dan menyusui harus
membatasi bahkan disarankan untuk tidak mengkonsumsi daun jambu biji
5; Dosis Obat

Sampai saat ini belum ada dosis daun jambu biji yang telah disepakati.
Daun jambu biji aman ketika digunakan tidak berlebihan dan tidak pula
terus menerus. Beberapa cara dapat digunakan untuk menggunakan daun
jambu biji. Diantaranya: Godogan: didihkasn selama 3 menit 10-20 g daun
jambu biji segar dalam satu liter air. Minum 120 mL, 6 kali sehari. Daun
kering bubuk digunakan untuk kondisi dermatologis seperti antibakteri dan
antijamur, (kaki atlet, eksim). Jangan gunakan lebih dari 30 hari. Teh daun
jambu biji dengan menyeduhnya menggunakan air hangat. Untuk
menggunakan minyak esssensial daun jambu biji bisa digunakan dengan
cara meneteskan 3 tetes minyak kedalam secangkir air hangat lalu minum.
6; Kegunaan/ Indikasi

Daun jambu biji berkhasiat astringen (pengelat), antidiare, antiradang,


penghenti perdarahan (homeostatis) dan peluruh haid. Buah berkhasiat
antioksidan karena kandungan beta karoten dan vitamin C yang tinggi
sehingga dapat meningkatkan daya tahan tubuh.
7; Farmakologi

Secara in vitro, infus daun jambu biji dengan bermacam-macam


kepekatan menunjukkan perbedaan yang nyata pada diameter
daerah hambatan pertumbuhan kuman Shigella Flexneri dan Shigella
Sonnei, sebagai penyebab disentri basiler. (Imam Subagyo, Wahjo
Dyatmiko dan Abdul Karim, UNAIR 1981) Secara in vitro, rebusan
daun jambu biji kadar ccdapat mengurangi kontraksi usus halus
terpisah marmut, yang sebanding dengan atropin sulfat 2,5 mcg/ml.
Kekuatan relaksasi antara rebusan 5%, 10% dan 20% b/v tidak
menunjukkan perbedaan yang nyata. (Natsir P. Djunaid, JF FMIPA
UNHAS, 1986) Secara in vitro, infus daun jambu biji dapat
menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dengan
perkiraan kadar terendah sebesar 2% b/v, tetapi tidak menghambat

fi t o m e d i s i n a l | 19

pertumbuhan bakteri Escherichia coli sampai batas 10% b/v (prima


Yuniarti, FF UGM, 1991) Infus buah jambu biji pada kelinci
memiliki efek hipoglikemik (menurunkan kadar glukosa darah).
Sebagai pembanding digunakan tolbutamida (Letty Puspitawati,
Fakultas Farmasi UNTAG 1993). Hasil penelitian efek infus daun
jambu biji dalam upaya pencegahan asfiksia setelah penyemprotan
histami sebagai berikut;
Waktu timbulnya asfiksia lebih panjang pada kelompok yang
mendapat infus daun jambu biji 5% dibandingkan pada kelompok
yang mendapatkan NaCi fisiologis dan antropin sulfat (P<0,05).
Waktu tumbulnya asfiksia antara infus daun jambu bij dengan
fenilhidramin HCI tidak berbeda nyata (P>0,05). Asfiksida tidak
terjadi pada kelompok yang mendapatkan infus daun jambu biji
10%, efedrin dan aminofilin (Aznan Lelo, Yineldi Anwar, M. Iskandar
Lubis, dkk., Bagian Farmakologi FKL USU dan Jurusan Farmasi
FMIPA USU).

Senna (Jati Cina)


Senna alexandrina Mill. (Leguminosae)
1; Uraian Tanaman

Merupakan semak, tinggi mencapai 1,5 meter, daun berwarna hijau sampai
hijau kekuningan, berbentuk lonjong, bagian pangkal dan ujung
meruncing, tangkai agak membesar. Bunga berkelopak 5, mempunyai
mahkota berwarna kuning. Buah yang segar berbentuk elips dengan
panjang 4-7 meter, lebar 2 cm mengandung 6-10 biji. Senna merupakan
fi t o m e d i s i n a l | 20

tanaman asli Afrika, dan tumbuh liat dekat sungai nil dan tersebar pula di
Arab, India dan Somalia, serta sudah dibudidayakan di India, Pakistan dan
Sudan. Panen biasa dilakukan pada bulan September.
2; Kandungan Kimia

Kandungan kimia dari tanaman Senna alexandrina Mill. berdasarkan


referensi Farmakope Stnadar mengandung Hidroksiantrasena tidak kurang
dari 2,5% pada daun dan 2,2% pada buah. Glikosida Diantrone 1,5%-4%
pada daun dan 2 5% pada buah). Terutama Senosida A dan B (Diantrone
Rhein) dengan Senodisa C dan D (Rhein aloe-emodin diantron),
Antrakuinon bebas termasuk aloe-emodin, Rhein dan Glikosida.
Senna alexandrina Mill. juga mengandung senyawa karbohidrat
polisakarida sekitar 2,5% termasuk gom arabinosa, galaktosa, galaktosa.
Bebas dari gulas misalnya fruktosa, glukosa, pinitol dan sukrosa. Senyawa
flavonoid flavonol juga kerkandung didalamnya termasuk kaemferol dan
kandungan kimia lainnya seperti saponin, resin dan minyak atsiri.
3; Farmakologi

Senna alexandrina Mill. yang diketahui mengandung hidroksiantrasena


telah digunakan sebagai obat pencahar selama bertahun-tahun. Namun
masih ada beberapa ketidak pastian yang tepat dari rekasi dari
hidroksiantrasena tersebut, diperkirakan bahwa glikosida hidroksiantrasena diserap kedalam saluran pencernaan dan membebaskan aglikon
selama metabolisme dan dieksreksikan kedalam usus yang mengekibatkan
stimulasi dan penungkatan gerakan peristaltik. Referansi lain menyatakan
bahwa rekasi pencahar dari Senna alexandrina Mill. karena reaksi dari
bakteri usus pada manusia dengan mengubah senosid A menjadi 8glucosyl Rhein antron yang merupakan senyawa aktif yang menginduksi
sekresi dinding mukosa dan mencegah reabsorbsi air dalam saluran
pencernaan, sehingga dapat digunakan sebagai penyembuhan konstipasi.
4; Data Klinik

Dilakukan penelitian secara terkontrol dan secara acak pada 91 pasien


yang diberikan Senna alexandrina Mill. 12 mg sehari dan laktulosa selama
27 hari. Pada akhir penelitian tidak perbedaan yang bermakna ditemukan

fi t o m e d i s i n a l | 21

diantara kedua masing-masing kelompok interval buang air besar dari


pasien. Kesembuhan masing-masing kelompok juga dilaporkan menjadi
sama. Sebuah studi melaorkan yang meibatkan 77 pasien lanjut usia di
rumah sakit dengan riwayat konstipasi kronik dengan membandingkan
efek kombinasi senna serat ( senna 12,4%, 54,2% ispaghula 10 ml setiap
hari) dan laktulosa (15 ml dua kali sehari) selama 14 hari. Penilaian
meliputi frekuensi feses, kemudahan buang air besar, efek samping dan
biaya pengobatan. Kombinasi senna-serat dilaporkan secara signifikan dan
lebih efektif dari pada laktulosa untuk pengobatan konstipasi.
5; Keamanan

Senna alexandrina Mill. dapat menyebabkan ketidaknyamanan pada perut


seperti kolik dan kram. Penggunaan jangka panjang dan dosis berlebih
dapat menyebabkan diare denga hilangnya ion kalium dan albumin dalam
tubuh, kekurangan kalium dapat menyebabkan gangguan pada jantung dan
kelemahan otot terutama penggunaanya bersamaan dengan glikosid
jantung, diuretik dan kortikosteroid.
Ibu hamil dan menyusui tidak dianjurkan untuk penggunaannya. Tidak ada
laporan reaksi yang tidak diinginkan atau merusak janin bila digunakan
namun data eksperimen tentang resiko genetoksik beberapa penggunaan
antranoids ( misalnya emodine dan piscione) dan hidroksiantrasena tidak
didukung dengan penelitian yang lengkap untuk menghilangkan resiko
yang mungkin terjadi. Pada ibu menyusui tidak dianjurkan karena ada data
yang mendukung mengenai ekskresi metabolit dalam ASI. Sejumlah kecil
metabolit aktif misalnya rhein dari antropoids dapat diekresikan melalui
ASI.
6; Interaksi Obat

Penggunaanya bersamaan dengan glikosid jantung, diuretik dan


kortikosteroid dapat menyebabkan gangguan pada jantung dan kelemahan
otot.
7; Dosis

Dosis untuk pemberian Oral (Dewasa) penggunaan secaea tradisional


menurut standar referensi herbal sebagai berikut :

fi t o m e d i s i n a l | 22

Buah kering : 3 6 buah Senna alexandrina Mill. Direndam dalam


150 ml air hangat selama 6 12 jam mengandung senosida B setara
dengan 20 30 mg.
Daun kering 0,5 2 g mengandung 20 30 mg glikosida
hidrosiantrasena setara dengan senosida B.
Ekstrak cair : 0,5 2,0 ml (1:1 dalam Etanol 25%)
Preparat dari obat tradisional yang setara dengan 15-30 mg derivat
hidroksiantrasena yang setara dengan senosida B yang diberikan pada
malam hari.

8; Reaksi Yang Tidak Diinginkan


Disarankan bahwa penggunaan Senna alexandrina Mill. tidak harus
diberikan kepada pasien dengaa obstruksi usus dan stenosis atonia
penyakit radang usus misalnya penyakit ulcerativ colotis dan radang usus
buntuk dengan gejala perut yang tidak terdiagnosis. Penggunaan jangka
panjang harus dihindari karena dapat menyebabkan Dehidrasi dengan
keluarnya air dan elektrolit dari dalam tubuh. Senna alexandrina Mill.
dapat menyebabkan ketidaknyamanan pada perut seperti kolik dan kram.
9; Kegunaan

Senna alexandrina Mill. Dinyatakan memiliki sifat katarsis yang berarti


daun lebih besar dari buah dan telah digunakan secara tradisional untuk
pengobatan sembelit. Senna alexandrina Mill. Biasa juga dikombinasikan
dengan Ispaghula untuk pengobatan sembelit. Komite Produk Obat Herbal
(HPMC) telah megadopsi literatur dari Obat Herbal untuk daun senna dan
buah senna dengan indikasi pengobatan jangka pendek pada kasus
sembelit.

fi t o m e d i s i n a l | 23

Cinnamon (Kayu Manis)


Cinnamomum zeylanicum Bl. (Lauraceae)
1; Uraian Tanaman

Cinnamon merupakan nama lain dari kayu manis yang berasal dari bahasa
Yunani yang berarti kayu yang manis. Tanaman ini banyak tumbuh di
Pulau Jawa. Termasuk dalam famili Laureceae, pohon kayu manis (atau
nama ilmiahnya Cinnamomum zeylanicum), pohon kayu memiliki tinggi
maksimum 9 meter dengan kulit kayu berwarna abu-abu licin. Daunnya
berbentuk mata tombak dengan panjang sekitar 20 cm dan lebar 5 cm.
Daun berwarna hijau pada bagian atas dan warna putih pada bagian
bawah. Berbunga kecil dengan warna putih atau kekuning-kuningan yang
membentuk gugusan.
Bagian dari pohon kayu manis yang dimanfaatkan adalah kayu bagian
dalam yang berwarna lebih gelap karena pada bagian dalam tercium bau
yang harum sedangkan kulit bagian luar tidak berbau harum. Bagian
dalam kulit kayu ini akan dikeringkan di bawah sinar matahari. Hasilnya,
kulit kayu akan membentuk gulungan yang kemudian dipotong sepanjang
5-8 cm menjadi batang-batang kecil atau ditumbuk menjadi bentuk bubuk.
Bentuk seperti inilah yang biasa kita temukan dan dimanfaatkan sebagai
pengharum dan penambah rasa pada makanan, minuman atau dijadikan
bahan aromaterapi dan parfum.

fi t o m e d i s i n a l | 24

Klasifikasi Ilmiah tanaman Kayu manis


Kingdom
: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom
: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi
: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi
: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas
: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas
: Magnoliidae
Ordo
: Laurales
Famili
: Lauraceae
Genus
: Cinnamomum
Spesies
: Cinnamomum zeylanicum
2; Kandungan Kimia

Berikut ini kandungan kimia dari Cinnamon yaitu tannin terkondensasi,


Minyak atsiri hingga 4%. Cinnamaldehyde (60-75%), benzaldehida dan
cuminaldehyde; fenol (4-10%) termasuk eugenol, dan methyl eugenol,
pinene, phellandrene, cymene n caryophyllene (hidrokarbon), eugenol
asetat, cinnamyl asetat dan benzil benzoat (ester), linalool (alkohol). Dari
berbagai jenis kulit kayu manis minyak dari C. zeylanicum dinyatakan
mengandung jumlah tertinggi eugenol. Minyak kayu manis berbeda dari
minyak cassia terkait erat dalam bahwa yang terakhir dilaporkan tanpa
eugenol, seskuiterpen dan monoterpenoids. Kandungan kimia lainnya
yaitu kalsium oksalat, cinnzeylanin, cinnzeylanol, kumarin, gom,
musilago, resin dan gula. Bagian dari tanaman lainnya minyak daun
cinnamon mengandung konsentrasi eugenol yang tinggi sekitar 80-96%
tergantung pada spesiesnya. Sebuah minyak daun kayu manis asal cina
Cinnamimum japonicum Sieb. Mengandung safrole yang tinggi yaitu 60%
dan hanya sekitar 3% eugenol.
3; Farmakologi

Minyak dari kayu dari manis memiliki efek antijamur, antivirus bakterisid
dan larvasida. Ekstrak dari kayu manis 0,1% telah telah di diteliti untuk
penelitian antibakteri dan meghambat pertumbuhan berbagai
mikroorganiesme termasi Escherichia coli, Staphylococcus aureus dan

fi t o m e d i s i n a l | 25

Candida albicans senyawa eugenol pad kayu manis memiliki sifat


antiseptik dan anastesi serta tanin diketahui memiliki sifat sebagai
astrigen. Simplisia dari kulit kayu manis memili efek terhadapt gangguan
saluran pencernaan seperti dispepsia, flatulens, diare.

4; Data Klinik

Data klinik menunjukkan bahwa pemberian 2 kali sehari 20 mg ekstrak


sinamon kepada 23 pasien setiap hari selama 4 minggu ternyata tidak
meberikan efek untuk menurunkan jumlah Helicobacter pylori.
5; Keamanan

Tidak diberikan berikan kepada pasien yang alergi dengan kayu manis
(sinamon, minyak sinamon dan sinamoldehid) dan tidak dianjurkan
kepada ibu hamil dan wanita menyusui.
6; Interaksi Obat

Pemberian secara bersamaan dengan efek farmakologi dari kayu manis


harus dipertimbangkan.
7; Dosis

Dosis dewasa untuk pemberian secara oral untuk penggunaan secara


tradisional yang dianjurkan berdasarkan literatur standar herbal sebagai
berikut : kulit kering yang digunakan dibuat secara infusa 0,5 1,0 g tiga
kali sehari, ekstrak cari 0,5 1,0 ml tiga kali sehari dan tinctur kayu manis
2 4 ml.
8; Reaksi Yang Tidak Diinginkan

Kulit kayu manis dapat menyebabkan reaksi alergi. Terutama minyak kayu
manis dapat mengakibatkan iritasi pada kulit dan selaput lendir. Karena
berbahaya minyak kayu manis dilarang penggunaannya pada kulit.
9; Kegunaan

Kayu manis dinyatakan memiliki khasiat sebagai antispasmodik,


karminatif, antidiare, anoreksian, anti mikroba dan sebagai antementik.

fi t o m e d i s i n a l | 26

Kulit kayu manis telah digunakan sebagai untuk anoreksia, kolik usus,
diare pada anak, pilek, influenza, kolik kembung, dispepsia dan mual.
Kulit kayu manis juga dinyatakan sebagai astringen dan minyaknya
memiliki sifat sabagai karminatif dan antiseptik.

fi t o m e d i s i n a l | 27

BAB III
PENUTUP
A; Kesimpulan

Berdasarkan pembahasa diatas maka dapat disimpulkan bahwa fungsi


dari saluran pencernaan meliputi proses pengunyahan, menelan, mencerna,
menyrap dan mengeliminasi sisa makanan. Dan jika terjadi gangguan
pencernaan seperti mual, dispepsia, diare, konstipasi, flatulen, gastritis dapat
dilakukan dengan obat-herbal seperti Jahe (Zingiber officinale (L.) Rosc.),
Cengkeh (Syzygium aromaticum (L.) Merr.), Daun Kemangi (Ocimum
americanum L.,) Daun Jambu Biji (Psidii folium,) Senna (Jati Cina), dan
Cinnamon (Kayu Manis).
B; Saran

Disarankan pada pembuatan makalah berikutnya dapat


memaparkan tanaman-tanaman yang lain yang digunakan pada penyakitpenyakit gangguan pencernaan.

fi t o m e d i s i n a l | 28