Anda di halaman 1dari 4

Morfin pertama kali diisolasi pada 1804 oleh ahli farmasi Jerman Friedrich Wilhelm Adam

Sertrner. Tapi morfin belum digunakan hingga dikembangkan hypodermic needle (1853).
Morfin digunakan untuk mengurangi nyeri dan sebagai cara penyembuhan dari ketagihan
alkohol dan opium.
Meskipun morfin dapat dibuat secara sintetik, tetapi secara komersial lebih mudah dan
menguntungkan, yang dibuat dari bahan getah papaver somniferum. Morfin paling mudah
larut dalam air dibandingkan golongan opioid lain dan kerja analgesinya cukup panjang (long
acting).(Latief dkk, 2001; Sarjono dkk, 1995).
Efek kerja dari morfin (dan juga opioid pada umumnya) relatife selektif, yakni tidak begitu
mempengaruhi unsur sensoris lain, yaitu rasa raba, rasa getar (vibrasi), penglihatan dan
pendengaran ; bahakan persepsi nyeripun tidak selalu hilang setelah pemberian morfin dosis
terapi.
Efek analgesik morfin timbul berdasarkan 3 mekanisme ; (1) morfin meninggikan ambang
rangsang nyeri ; (2) morfin dapat mempengaharui emosi, artinya morfin dapat mengubah
reaksi yang timbul di korteks serebri pada waktu persepsi nyeri diterima oleh korteks serebri
dari thalamus ; (3) morfin memudahkan tidur dan pada waktu tidur ambang rangsang nyeri
meningkat.
Morfin merupakan agonis reseptor opioid, dengan efek utama mengikat dan mengaktivasi
reseptor -opioid pada sistem saraf pusat. Aktivasi reseptor ini terkait dengan analgesia,
sedasi, euforia, physical dependence dan respiratory depression. Morfin juga bertindak
sebagai agonis reseptor -opioid yang terkait dengan analgesia spinal dan miosis

Gambar morfin(serbuk)

Gambar struktur morfin

Farmakodinamik
Efek morfin terjadi pada susunan syaraf pusat dan organ yang mengandung otot polos. Efek
morfin pada system syaraf pusat mempunyai dua sifat yaitu depresi dan stimulasi.
Digolongkan depresi yaitu analgesia, sedasi, perubahan emosi, hipoventilasi alveolar.
Stimulasi termasuk stimulasi parasimpatis, miosis, mual muntah, hiperaktif reflek spinal,
konvulsi dan sekresi hormon anti diuretika (ADH). .(Latief dkk, 2001; Sarjono dkk, 1995;
Wibowo S dan Gopur A., 1995; Omorgui, 1997).
Farmakokinetik
Morfin tidak dapat menembus kulit utuh, tetapi dapat menembus kulit yang luka. Morfin juga
dapat menembus mukosa. Morfin dapat diabsorsi usus, tetapi efek analgesik setelah
pemberian oral jauh lebih rendah daripada efek analgesik yang timbul setelah pemberian
parenteral dengan dosis yang sama. Morfin dapat melewati sawar uri dan mempengaruhi

janin. Ekskresi morfin terutama melalui ginjal. Sebagian kecil morfin bebas ditemukan dalam
tinja dan keringat.
Indikasi
Morfin dan opioid lain terutama diidentifikasikan untuk meredakan atau menghilangkan nyeri
hebat yang tidak dapat diobati dengan analgesik non-opioid. Lebih hebat nyerinya makin
besar dosis yang diperlukan. Morfin sering diperlukan untuk nyeri yang menyertai ; (1) Infark
miokard ; (2) Neoplasma ; (3) Kolik renal atau kolik empedu ; (4) Oklusi akut pembuluh
darah perifer, pulmonal atau koroner ; (5) Perikarditis akut, pleuritis dan pneumotorak
spontan ; (6) Nyeri akibat trauma misalnya luka bakar, fraktur dan nyeri pasca bedah.
Dosis dan sediaan
Morfin tersedia dalam tablet, injeksi, supositoria. Morfin oral dalam bentuk larutan diberikan
teratur dalam tiap 4 jam. Dosis anjuran untuk menghilangkan atau mengurangi nyeri sedang
adalah 0,1-0,2 mg/ kg BB. Untuk nyeri hebat pada dewasa 1-2 mg intravena dan dapat
diulang sesuai yamg diperlukan.
Morfin diperdagangkan secara bebas dalam bentuk :
1. Bubuk atau serbuk. Berwarna putih dan mudah larut dalam air. Dapat
disalahgunakan dengan jalan menyuntikkan, merokok atau mencampur dalam
minuman, adakalanya ditaburkan begitu saja pada luka-luka bekas disilet sendiri oleh
para korban.
2. Cairan Berwarna putih disimpan dalam ampul atau botol, pemakaiannya hanya
dilakukan dengan jalan menyuntik.
3. Balokan. Dibuat dalam bentuk balok-balok kecil dengan ukuran dan warna yang
berbeda-beda
4. Tablet. Dibuat dalam bentuk tablet kecil putih. Morfin diabsorbsi dengan baik setelah
pemberian subkutan (dibawah kulit) atau intra muskuler, tetapi tidak diabsorbsi
dengan baik di saluran pencernaan. Oleh sebab itu morfin tidak pernah tersedia dalam
bentuk obat minum. Efek subyektif yang dialami oleh individu pengguna morfin
antara lain merasa gembira, santai, mengantuk, dan kadang diakhiri dengan mimpi
yang menyenangkan. Pengguna morfin umumnya terlihat apatis, daya konsentrasinya
menurun, dan pikirannya sering terganggu pada saat tidak menggunakan morfin. Efek
tersebut yang selanjutnya menyebabkan penggunanya merasa ketagihan. Disamping
memberi manfaat klinis, morfin dapat memberikan resiko efek samping yang cukup
beragam, antara lain efek terhadap sistema pernafasan, saluran pencernaan, dan
sistema urinarius. Efek pada sistema pernafasan berupa depresi pernafasan, yang
sering fatal dan menyebabkan kematian. Efek ini umumnya terjadi beberapa saat
setelah pemberian intravenosa atau sekitar satu jam setelah disuntikkan intramuskuler.
Efek ini meningkat pada penderita asma, karena morfin juga menyebabakan
terjadinya penyempitan saluran pernafasan. Efek pada sistema saluran pencernaan
umumnya berupa konstipasi, yang terjadi karena morfin mampu meningkatkan tonus
otot saluran pencernaan dan menurunkan motilitas usus. Pada sistema urinarius,
morfin dapat menyebabkan kesulitan kencing. Efek ini timbul karena morfin mampu
menurunkan persepsi terhadap rangsang kencing serta menyebabkan kontraksi ureter

dan otot- otot kandung kencing. Tanda- tanda pemakaian obat bervariasi menurut
jenis obat, jumlah yang dipakai, dan kepribadian sipemakai serta harapannya.
Gejala kelebihan dosis :
Pupil mata sangat kecil (pinpoint), pernafasan satu- satu dan coma (tiga gejala klasik). Bila
sangat hebat, dapat terjadi dilatasi (pelebaran pupil). Sering disertai juga nausea (mual).
Kadang-kadang timbul edema paru (paru-paru basah). Gejalagejala lepas obat : Agitasi,
nyeri otot dan tulang, insomnia, nyeri kepala. Bila pemakaian sangat banyak (dosis sangat
tinggi) dapat terjadi konvulsi(kejang) dan koma, keluar airmata (lakrimasi), keluar air dari
hidung(rhinorhea), berkeringat banyak, cold turkey, pupil dilatasi, tekanan darah meninggi,
nadi bertambah cepat, hiperpirexia (suhu tubuh sangat meninggi), gelisah dan cemas, tremor,
kadang-kadang psikosis toksik.
Diagnosis Ketergantungan Narkotika
Diagnosis ketergantungan penderita opiat ditegakkan dengan pemeriksaan klinis (medik
psikiatrik) dan ditunjang dengan pemeriksaan urine. Pada penyalahgunaan narkotika jenis
opiat, seringkali dijumpai komplikasi medis, misalnya kelainan pada organ paru-paru dan
lever. Penyalahgunaan narkotika merupakan suatu pola penggunaan zat yang bersifat
patologik paling sedikit satu bulan lamanya. Opioida termasuk salah satu yang sering
disalahgunakan manusia. Menurut ICD 10 (International Classification Diseases), berbagai
gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat dikelompokkan dalam berbagai
keadaan klinis, seperti intoksikasi akut, sindroma ketergantungan, sindroma putus zat, dan
gangguan mental serta perilaku lainnya.
Sindroma putus obat adalah sekumpulan gejala klinis yang terjadi sebagai akibat
menghentikan zat atau mengurangi dosis obat yang persisten digunakan sebelumnya.
Keadaan putus heroin tidak begitu membahayakan. Di kalangan remaja disebut sakau dan
untuk mengatasinya pecandu berusaha mendapatkan heroin walaupun dengan cara merugikan
orang lain seperti melakukan tindakan kriminal. Gejala objektif sindroma putus opioid, yaitu
mual/muntah, nyeri otot lakrimasi, rinorea, dilatasi pupil, diare, menguap/sneezing, demam,
dan insomnia. Untuk mengatasinya, diberikan simptomatik. Misalnya, untuk mengurangi rasa
sakit dapat diberi analgetik, untuk menghilangkan muntah diberi antiemetik, dan sebagainya.
Pengobatan sindroma putus opioid harus diikuti dengan program terapi detoksifikasi dan
terapi rumatan. Kematian akibat overdosis disebabkan komplikasi medis berupa gangguan
pernapasan, yaitu oedema paru akut (Banks dan Waller). Sementara, Mc Donald (1984)
dalam penelitiannya menyatakan bahwa penyalahgunaan narkotika mempunyai kaitan erat
dengan kematian dan disabilitas yang diakibatkan oleh kecelakaan, bunuh diri, dan
pembunuhan.
Penyalahgunaan obat- obatan sangat beragam, tetapi yang paling banyak digunakan adalah
obat yang memiliki tempat aksi utama di susunan saraf pusat dan dapat menimbulkan
gangguan- gangguan persepsi, perasaan, pikiran, dan tingkah laku serta pergerakan otot- otot
orang ynag menggunakannya. Tujuan penyalahgunaan pada umumnya adalah untuk
mendapatkan perubahan mental sesaat yang menyenangkan. Efek menenangkan sering
dipergunakan untuk mengatasi kegelisahan, kekecewaan, kecemasan, dorongan- dorongan
yang terlalu berlebihan oleh orang yang lemah mentalnya atau belum matang kepribadiannya.
Sedangkan efek merangsang sering dipakai untuk melancarkan pergaulan, atau untuk suatu
tugas, menambah gairah sex, meningkatkan daya tahan jasmani. Penyalahgunaan obat
dapat diketahui dari hal-hal sebagai berikut :
1. tanda- tanda pemakai obat

2. keadaan lepas obat


3. kelebihan dosis akut
4. komplikasi medik ( penyulit kedoktearn )
5. komplikasi lainnya ( sosial, legal, dsb
6. Omorgui, s, Buku Saku Obat-obatan Anastesi, Edisi II, EGC, Jakarta, 1997, hal ; 203207.
7. Latief. S. A, Suryadi K. A, dan Dachlan M. R, Petunjuk Praktis Anestesiologi, Edisi
II, Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FK-UI, Jakarta, Juni, 2001, hal ; 77-83,
161.
8. Sardjono, Santoso dan Hadi rosmiati D, Farmakologi dan Terapi, bagian farmakologi
FK-UI, Jakarta, 1995 ; hal ; 189-206.
9. Samekto wibowo dan Abdul gopur, Farmakoterapi dalam Neuorologi, penerbit
salemba medika, 1995; hal : 138-143