Anda di halaman 1dari 87

BAB IV

PENILAIAN FORMASI

Pada hakekatnya penilaian formasi adalah proses pengumpulan data


dari formasi
lapisan

yang

dilakukan

secara

kontinyu

mengenai

sifat-sifat

yang ditembus. suatu proses analisis ciri dan sifat batuam di bawah

tanah dengan menggunakan


utama

dari

hasil

evaluasi formasi

pengukuran

memperkirakan

adalah

cadangan hidrokarbon

lubang

untuk

sumur.

Tujuan

mengidentifikasi reservoir,

dan memperkirakan

perolehan

hidrokarbon.
Penilaian formasi meliputi serangkaian kegiatan pencatatan data tentang
keadaan dan sifat-sifat atau karakteristik formasi untuk digunakan sebagai
dasar pada penentuan

dan perkiraan cadangan reservoir serta produktivitas

reservoirnya.
Data-data yang diperoleh dari penilaian formasi meliputi sifat-sifat
fisik batuan reservoir, sifat-sifat fisik fluida reservoir, kondisi reservoir dan
jenis-jenis reservoir.
Dari

data

penilaian

formasi

ini

dapat

diketahui

kedalaman

formasi produktif serta batasan-batasannya dengan formasi di atas atau di


bawahnya, jenis reservoir dengan mengetahui sifat fisik batuan dan fluida
reservoir,
disekitar

gangguan pada sumur yang disebabkan oleh kerusakan formasi


lubang bor

pada formasi produktif sebagai akibat dari aktivitas

pemboran, serta dari data ini dapat juga


cadangan

reservoir

serta

untuk

penentuan

atau

perkiraan

produktivitas reservoirnya, dan dapat juga untuk

penentuan kelakuan (performance) reservoir tersebut.


4.1. Metode rilling Log
Drilling
permukaan yang

Log

merupakan

dilakukan

oleh

pencatatan

pemboran berlangsung. Pencatatan

serangkaian

data

bawah

driller atau toolpusher selama operasi


data

ini dilakukan

berdasarkan urutan

waktu (kronologis) dan meliputi antara lain data: kedalaman pemboran, pahat
172

(bit),

beban di atas pahat (WOB), kecepatan

putaran

bit

(RPM),

laju

pemboran, lumpur, jenis batuan formasi yang ditembus, problema-problema


pemboran yang terjadi, dan sebagainya. Dari hasil pencatatan tersebut akan
diperoleh mengenai stratigrafi dan lithologinya, serta kandungan hidrokarbon di
dalam formasi. Yang termasuk dalam drilling log ini adalah dri lers log,
analisa cutting dan analisa lumpur pemboran.
4.1.1.
Log

Driller's
Dri lers

log

merupakan

pencatatan

atau

pengukuran

yang

kontinyu mengenai laju pemboran (dalam waktu) untuk setiap feet sepanjang
kedalaman lubang bor. Log ini merupakan data yang pertama kali tentang
laju pemboran dimana apabila informasi yang didapatkan dari analisa cutting dan
mud logging mengalami keterlambatan waktu pengamatannya di permukaan.

Gambar 4.1. Tipikal Drilling Log Time

Pada pemboran eksplorasi, data yang dicatat oleh adanya drilling time
log sangat

membantu

dalam

mencapai
173

keberhasilan.

Drilling

time

log

dilakukan oleh driller

jika

kedalaman lubang bor mendekati zone yang

dimaksud dengan

174

memberikan tanda pada sambungan kelly untuk interval 1 feet, 5 feet


dan seterusnya. Gambar 4.1. menunjukkan contoh pencatatan drilling time
log, dimana defleksi ke kanan adalah tentang non drilling time (perbaikan
peralatan, penyambungan drill pipe dan trip) sedangkan kolom sebelah kiri
menandakan laju pemboran tiap feet. Waktu pemboran bersih diperoleh dari
mengurangi waktu pemboran seluruhnya dengan waktu tidak terjadi pemboran.
Data

yang

diperoleh

dari

dri lers

log

ini

dapat

digunakan

untuk interpretasi geologi terutama untuk eksplorasi geologi. Di samping


itu

juga digunakan

pemboran,

sebagai bahan

mengenai laju

ulah pahat (bit performance) dan pelaksanaan kerja peralatan

pencatat. Dalam pemboran eksplorasi


log

studi perekayasaan

sangat

membantu

data

yang

diperoleh

dari

dri lers

sebagai pedoman untuk pemboran sumur-sumur lain

yang berdekatan.
4.1.2. Mud Log
Mud log digunakan untuk menganalisa kandungan minyak dan gas
pada serbuk bor di dalam lumpur pemboran selama sirkulasi dilakukan. Pada
pemboran eksplorasi,

mud log memegang peranan yang sangat penting

karena merupakan metode


untuk

pemeriksaan

secara

kualitatif

yang

pertama

mendeteksi adanya minyak dan gas dalam formasi. Pemeriksaan ini

dilakukan secara kontinyu hampir di seluruh kedalaman.


Analisa terhadap tanda-tanda adanya hidrokarbon pada mud log
dibedakan
menjadi dua, yaitu analisa kandungan minyak dan analisa kandungan
gas.
A.
minyak
Untuk

Analisa kandungan
analisa

kadar

minyak

dalam

sampel

dari

lumpur

diamati

warna fluoresensinya. Fluoresence adalah sifat suatu benda bila dikenai


cahaya maka akan mengeluarkan cahaya dengan gelombang yang lebih
panjang.

Gejala

ini digunakan untuk mendeteksi dan mengukur minyak

yang terdapat pada lumpur bor dan serbuk bor. Fluoresence terjadi bila
substansi mengalami radiasi ultraviolet,
175

hal ini dapat

dilakukan karena

minyak

mempunyai sifat

dapat berfluoresensi bila disinari dengan cahaya

ultraviolet dengan panjang gelombang antara 2700 A-3600 A. Kondisi yang


dapat dideteksi pada konsentrasi paling kecil

176

10 ppm (part per million). Warna fluoresensi dapat menunjukkan gravity


minyak sebagaimana dibuktikan oleh Helander, yang diberikan dengan tabel
berikut :

Tabel 4.1. Warna Fluoresensi dari Crude Oil

Gravity, API

Warna Fluoresensi

Kurang dari 15

Coklat

15 25

Oranye (jingga)

25 35

Kuning sampai

35 45

krem Putih

Lebih dari 45

Biru-putih sampai ungu

Meskipun

demikian

tidak

mudah

untuk

mengamati

sinar

fluoresensi

ini. Fluoresensi minyak bumi dengan gravity rendah sukar diamati, karena
terjadinya dekomposisi
yang

dari

molekul-molekulnya.

terkandung juga akan menambah

Makin

banyaknya

gas

kesukaran dalam mengamati sinar

fluoresensi ini.
B.
Gas

Analisa Kandungan Gas


yang

terlarut

dalam minyak

atau terbawa

bersama-sama

serbuk

pemboran (cutting) dapat dianalisa dengan beberapa cara, yaitu Hot Wire
Analyzer, Gas Chromatograph dan Infrared Analyzer.
1.
Analyzer
Prinsip

Hot Wire
kerja

alat

ini

adalah

dengan

menggunakan

prinsip

jembatan

Wheatstone. Bila sampel cell diisikan udara maka jembatan wheatstone akan
berada dalam keadaan setimbang dan alat pencatat akan menunjukkan harga
nol. Tetapi jika sampel lumpur berisi gas hidrokarbon, maka akan terjadi
reaksi oksidasi katalistik pada

filament

detector

cell dan

hal ini akan

meningkatkan temperatur filament sehingga tekanan akan naik dan jembatan


wheatstone tidak akan seimbang lagi. Ketidak seimbangan ini oleh recorder
(alat pencatat) secara kasar ditunjukkan sebagai banyaknya gas hidrokarbon
177

yang ada di dalam sampel. Bagian dari komponen pada alat ini dapat dilihat
pada Gambar 4.2.

178

Gambar 4.2. Bagian dari Hot Wire Analyzer

2.
Chromatograph

Gas

Gambar 4.3. Komponen dari Gas Chromatograph

Gambar 4.3.
chromatograph

merupakan komponen-komponen gas chromatograph. Gas


dapat

berfungsi

untuk

menganalisa

komponen

gas

secara kuantitatif. Cara kerja dari chromatograph adalah volume dalam jumlah
kecil dari sampel yang tidak

diketahui diinjeksikan ke dalam sweep gas

(helium atau udara), gas yang lebih berat akan terserap dan tersapu secara
perlahan ke dalam kolom material, sedangkan untuk komponen yang lebih
ringan relatif tidak terlarut dalam kolom material dan bergerak agak cepat.
Gas-gas yang keluar outlet akan dideteksi oleh gas analyzer.
179

3.
Analyzer

Infrared

Alat yang ditunjukkan pada Gambar 4.4. hanya dapat digunakan untuk
menganalisa kandungan gas metana. Prinsip kerjanya yaitu dua sumber
energi yang

tetap

diletakkan

di depan

suatu rota-ting chopper untuk

memperoleh pulsa- pulsa sinar infrared berkisar antara 2-10 cps. Sumber
infraret berupa Nichrome filament yang dipanaskan oleh arus listrik. Radiasi
yang timbul dari reference cell akan

diserap oleh methane sehingga

menimbulkan panas pada detektor dan panas ini


bertambahnya

volume

gas.

Dengan

akan

menyebabkan

demikian pengembangan volume

gasnya juga akan berubah dan hal ini mempengaruhi besar kecilnya pergerakan
diafragma. Jadi dapat disimpulkan bahwa besar kecilnya pergerakan diafragma
adalah tergantung dari jumlah methane yang ada di dalam sampel cell.

Gambar 4.4. Komponen dari Infrared Analyzer Untuk Metana

4.1.3.
Cutting
Selama

Analisa
operasi

pemboran

berlangsung

akan

terbentuk

cutting,

yaitu pecahan-pecahan batuan akibat gesekan dan putaran bit pada batuan
formasi. Cutting yang terbentuk akan dibawa ke permukaan oleh aliran lumpur
bor dan selanjutnya dianalisa. Analisa cutting digunakan untuk mengidentifikasi
saturasi hidrokarbon, yaitu menentukan tanda-tanda adanya minyak dan gas, dan
180

untuk mendeskripsi lithologi batuan. Cutting atau serbuk pemboran yang


tersaring shale

181

shaker diambil secara periodik, diamati dengan mikroskop binokuler, dan


dicatat. Analisa

cutting dilakukan pada

tiap

interval kedalaman tertentu

kemudian dikorelasi antara hasil deskripsi dengan kedalaman lubang bor.


Pendeskripsian
berikut :

cutting

dilakukan

1.
Tipe batuan, misalnya
gamping
2.
sampel
3.

dengan urutan sebagai

batupasir, shale, atau

Warna

Tekstur

dan

porositas

sampel,

yang

meliputi

ukuran

butir,

angularitas, pemilihan butir, kekerasan, dan sebagainya


4.
Sementasi
5.
fosil

Mineral-mineral tambahan dan

6.
Tanda-tanda hidrokarbon, yang meliputi perkiraan intensitas dan
fluoresensi
Penentuan tanda-tanda adanya minyak atau gas dapat dilakukan
dengan dua cara, yaitu :
1.

Sampel dibersihkan untuk menghilangkan lumpur, kemudian dimasukkan


ke dalam larutan non-fluoresensi (CCl4 ). Cutting yang telah bersih
ditempatkan dalam mangkok (dish) dan diamati secara fluorosensi.

2.

Sampel tidak

dibersihkan / tidak

dicuci,

langsung ditumbuk

dan

selanjutnya dimasukkan ke dalam mangkuk yang berisi air, kemudian


diamati secara fluoresensi.
4.2.
Core

Coring dan Analisa


Analisa sampel batuan akan menghasilkan data dasar untuk mengevaluasi

kemampuan

produktivitas

merupakan contoh

batuan

reservoir.
yang

Cutting,

relatif

kecil,

sampel batuan
oleh

karena

mendapatkan contoh batuan yang lebih besar dilakukan coring.

182

pemboran
itu

untuk

4.2.1.
Coring

Metode
Coring adalah suatu usaha untuk mendapatkan contoh batuan (core) dari

formasi di bawah permukaan untuk dianalisa sifat fisik batuan secara


langsung. Ada dua macam metode coring, yaitu bottom hole coring dan
sidewall coring. Pemilihan metode coring yang akan digunakan dipengaruhi
oleh beberapa faktor

183

yang

berbeda

antara

satu

lokasi dengan

lokasi lainnya,

yaitu biaya,

kekerasan formasi, ukuran core yang diinginkan, kedalaman pemboran, dan


kondisi lubang bor.
4.2.1.1.
Coring

Bottom

Hole

Bottom hole coring adalah cara pengambilan core yang dilakukan


pada waktu

pemboran

berlangsung.

Metode

ini

menggunakan

sejenis

pahat yang terbuka di tengahnya dan mempunyai pemotong "dougnut shaped


hole" sehingga menghasilkan plug silinder (core) di tengahnya. Saat pemboran
berlangsung, core ini akan menempati core barrel yang berada di atas pahat dan
akan tetap berada di sana sampai diangkat ke permukaan.
4.2.1.2.
Coring

Sidewall
Sidewall

coring

adalah

cara

pengambilan core

yang dilakukan

setelah operasi pemboran selesai atau pada waktu pemboran berhenti. Metode ini
dipergunakan untuk mendapatkan contoh core dari zona tertentu ataupun
pada zona

yang

telah

dibor.

Hal ini umumnya

dilaksanakan dengan

menggunakan peralatan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.6.

Suatu

peluru kosong yang dapat menggigit dengan sendirinya ditembakkan dari


suatu panel kontrol elektris di permukaan. Suatu kabel baja yang fleksibel
menarik kembali peluru yang telah terisi core.

Gambar 4.5. Diamond Core Bit

184

Gambar 4.6. Sidewall Coring

Sampel yang diperoleh dengan metode ini biasanya mempunyai


diameter
-1

3/16

inci dengan panjang

inci.

Sidewall coring lebih

banyak dipergunakan pada daerah yang batuannya lunak, di mana kondisi


lubangnya tidak memungkinkan untuk operasi Drill Stem Test.
4.2.2.
Core

Analisa
Setelah

di

laboratorium

core

tersebut

disusun

kembali

sesuai

dengan nomor sampel dan urutan kedalamannya, baru kemudian dianalisa


satu persatu. Core tersebut minimal telah mengalami dua proses, yaitu
proses pemboran dan proses perubahan kondisi tekanan dan temperatur dari
kondisi reservoir ke kondisi permukaan.
dipengaruhi

oleh

saturasi core.
pengaruhnya

air

filtrat

Dalam

proses

pemboran

lumpur sehingga akan mempengaruhi harga

Pada proses perubahan kondisi tekanan


banyak

terjadi

core

pada

harga

saturasi

dan

temperatur

core, akibat pengaruh

ekspansi gas maka satuarasi air dan minyak menjadi berkurang.


Dari hasil coring, maka core yang didapat dapat di analisa besaranbesaran
petrofisiknya di laboratorium. Analisa core ada dua macam, yaitu analisa
core rutin dan analisa core spesial. Analisa core rutin meliputi pengukuran
185

porositas, permeabilitas,
core

saturasi

spesial memerlukan

meliputi

fluida,

sampel

pengukuran

186

dan
yang

tekanan

kapiler.

Analisa

segar

(fresh),

yang

kompresibilitas, wettabilitas, dan tekanan kapiler, dan parameter yang


bisa ditentukan disini adalah distribusi fluida.
4.2.2.1. Analisa Core Rutin
Core yang telah sampai di permukaan akan mengalami perubahan
dari keadaan
flushing

awal

di

reservoir.

Core

tersebut

telah

mengalami

dan kontaminasi oleh fluida pemboran, penurunan tekanan dan

temperatur

sehingga gas dalam larutan minyak akan terbebaskan. Akibatnya

kandungan fluida yang ditentukan

di laboratorium

tidak seperti kandungan

aslinya.
Untungnya,

dalam

banyak

kasus

penentuan

porositas

dan

permeabilitas absolut tidak begitu terpengaruh oleh faktor-faktor di atas.


Analisa core rutin

yang dilakukan di laboratorium meliputi pengukuran

porositas, permeabilitas, saturasi fluida.


4.2.2.1.1. Pengukuran porositas
Pengukuran porositas dilakukan dengan menentukan volume pori ,
volume butiran

dan volume bulk batuan. Metode yang digunakan untuk

menentukan volume pori-pori atau volume butiran antara lain : Boyles Law
Porosimeter dan Saturation Method.
1.

Boyles Law Porosimeter


Prinsip

yang

digunakan

metode

ini

merupakan

alat

yang

berdasarkan hukum gas. Alat tersebut terdiri dari dua buah cell yang
telah diketahui volumenya ( V1 dan V2 ) yang dihubungkan dengan manometer
G melalui kran A. Kondisi I kran B ditutup, sedang kran A yang berhubungan
dengan manometer G dibuka, sehingga gas mengisi cell 1 sampai tekanannya
menjadi ( P
tekanan

+ Pa ). Selanjutnya core ditempatkan pada cell 2 pada

atmosfer

dan

kran

B dibuka

,sehingga

kedua

cell

saling

berhubungan . Skema peralatan dapat dilihat pada Gambar 4.7. Volume


butiran batuan dapat ditentukan dengan Persamaan 41 dengan asumsi adanya ekspansi isothermal dari gas.
187

Gambar 3.7. Skema Boyle's Law Porosimeter

Vs = V1 + V2 -

P1
V1 ....................................................................................... (4-1)
P2

Vb Vs
....................................................................................................(4-2)
Vb

Dimana :
Vs = volume butiran
V1 = volume cell 1
V2 = volume cell 2
Vb = volume bulk
P1 ,P2 = tekanan manometer pada keadaan I dan II , psig
2.

Saturation Method
Methode

secara gravimetri

ini

dapat

yaitu

diketahui berat jenisnya

menentukan

dengan

volume

menetesi

sampai jenuh

sampel

pori-pori
dengan

yang
fluida

diukur
yang

Volume pori dapat ditentukan

dengan menggunakan
persamaan :
Vp =

W s Wd
.................................................................................................(4-3)
f
188

Dimana:
Vp

= volume pori-pori

Ws

= berat sampel dalam keadaan jenuh

Wd

= berat sampel dalam keadan kering

= berat jenis fluida

4.2.2.1.2. Pengukuran saturasi


Pengukuran saturasi fluida dari core
cara

dapat dilakukan dengan dua

yaitu
:
1.

Metoda Retort

Metode

ini menggunakan

retort

untuk meletakkan core sampel. Prinsip

kerja metode ini adalah dengan memanaskan core sampel pada 400 o F selama
20 menit sampai
memisahkan

jam,

mengkondensasikan

uap

fluida

dan

dengan menggunakan centrifuge minyak dan air yang didapat.

Hasil kondensasi kemudian dicatat.


2.
Destilasi
Prinsip

Metoda
kerja

menghitung berat
dijenuhi toluene

pengukuran

saturasi

menggunakan

metode

ini

adalah

core sampel sebelum dijenuhi oleh toluene dan setelah


. Core

yang

telah

dijenuhi dengan toluene

kemudian

dipanaskan hingga volume cairan yang terkumpul konstan. Saturasi fluidanya


dapat dihitung dari berat total yang hilang , volume air yang tertampung dan
berat jenis dari minyak. Alat yang digunakan dapat ditunjukan pada Gambar
4.8

Gambar 4.8. Skema Saturation Method

4.2.1.1.1. Pengukuran Permeabilitas


Pengukuran
permeabilitas absolut

permeabilitas
dari

sampel,

dilakukan
yaitu

dengan

dengan

menentukan

menggunakan

alat

permeability plug method (fancher core holder) seperti yang diperlihatkan pada
Gambar 4.9.

Gambar 4.9. Skema Penentuan Permeabilitas dengan Manometer

Fluida yang digunakan oleh alat ini adalah udara, hal ini disebabkan
aliran steady state cepat tercapai, udara kering tidak mengubah komposisi
mineral dalam core serta saturasi 100% mudah didapatkan.
Alat

ini menggunakan holder

type

fancher

dan hassler

untuk

menempatkan core, hal ini dikarenakan holder tersebut menutup satu sisi
sehingga memberikan aliran yang linier. Udara yang dialirkan melalui core
kemudian

diukur tekanan masuk dan keluarnya

menggunakan manometer

sebagai P 1 dan P2 .
Harga permeabilitas ditentukan dengan persamaan Darcy sebagai berikut:
2 Q 2 L P 2
K=
......................................................................................... (4-4)
2
2
A ( P1 P
)
2
Dimana :
K

= permeabilitas, darcy

Q2

= laju alir kondisi luar, cc/sec

= viskositas gas pada temperatur tes, cp

= panjang sampel, cm

= luas sampel, cm2

P1

= tekanan didalam, atm

P2

= tekanan diluar, atm


Penentuan

permeabilitas

menggunakan aliran gas memerlukan


sering disebut koreksi Klinkernberg.

batuan

yang

cara

pengukurannya

faktor koreksi. Faktor koreksi ini


Prinsip

koreksi ini tergantung

pada

tekanan rata-rata saat tes dilakukan. Persamaan yang menyatakan koreksi


Klinkernberg dapat dinyatakan
berikut :

b
Kg = Ka 1
............................................................................................. (4-5)
Pm

Dimana:
Kg
mD Ka

= permeabilitas batuan terhadap udara yang diukur pada P m,


= permeabilitas absolute batuan, mD

= konstanta yang tergantung pada ukuran pori

Pm

= tekanan rata-rata pada tekanan tes, atm

Gambar 4.10. Plot Koreksi Klinkernberg

4.2.2.2. Analisa Core Spesial


Analisa core special dapat digunakan untuk menentukan sifat-sifat
batuan seperti tekanan kapiler, kompresibilitas dan wettabilitas .
4.2.2.2.1. Pengukuran Tekanan Kapiler
Peralatan

yang

digunakan

untuk

pengukuran

tekanan

kapiler

adalah Restored State Capi lary Pressure Apparatus yang ditunjukkan


Gambar 4.11. Prinsip kerja metode ini adalah mengukur tekanan dan air yang
keluar cell sampai tidak ada pertambahan air pada suatu tekanan yang
diberikan. Cara kerja dari metode ini adalah
telah diketahui porositas dan permeabilitasnya.

menjenuhi dengan air core yang


Core

yang

telah

terjenuhi

diletakkan pada membran yang bersifat water wet, yaitu membran yang
hanya

dapat dilalui oleh fluida

yang sifatnya membasahi ( wetting ).

Membran tersebut akan mengeluarkan air saat fluida non wetting ( udara,
nitrogen, minyak ) dipompakan lewat cell . Tekanan dan air yang keluar
diukur dan dicatat sampai tidak ada pertambahan air pada suatu tekanan
yang diberikan.

Gambar 4.11. Skema Peralatan Restored State

4.2.2.2.2. Pengukuran Kompresibilitas


Pengukuran kompresibilitas batuan dapat ditentukan dengan menggunakan
korelasi

dari

grafik.

Cara

kerja

metode

pengukuran

kompresibilitas

batuan meliputi :
a.

Menempatkan core yang telah dibersihkan dan dikeringkan pada


heat shrinkable tubing pada tes aparatus di bawah tekanan 200 psi.

b.

Mengukur volume pori

c.

Menjenuhi sample dengan air formasi ( brine )

d.

Melakukan tes temperatur secara konstan( dibawah tekanan reservoir )

e.

Membuat plot antar volume pori versus net overburden pressure.

4.2.2.2.3. Pengukuran Wettabilitas


Wettabilitas

suatu

batuan

dapat

diketahui dengan melakukan

pengukuran. Cara kerja pengukuran wettabilitas meliputi:


1.
)

Merendam sampel dan mengawetkan sampel dengan kertas perak ( foil


dan lilin ( wax)

2.

Melakukan pengetesan sampel terhadap suhu kamar

3.

Melakukan pengetesan sampel terhadap sudut kontak pada kodisi


ambient temperatur ( temperatur medium terhadap lingkungan
sekitarnya )

4.

Mengukur sudut kontak dengan menggunakan contact angle


apparatus, selama 400 jam ( 2 minggu atau lebih ) agar mencapai
kestabilan.

4.3.

Metode Logging
Metode

logging

merupakan suatu operasi perekaman data secara

kontinyu yang bertujuan untuk mendapatkan sifat-sifat fisik batuan reservoir


sebagai fungsi kedalaman

lubang

bor

yang

dinyatakan

dalam

bentuk

grafik. Data hasil perekaman ini dinamakan log.


Banyak
merekam data.
suatu alat

sekali tipe
Prinsip

dari logging sumur

perekaman log ini adalah dengan menggunakan

yang disebut

sonde,

sebuah kabel (wireline). Sinyal


dikirim ke

yang digunakan untuk

yang
yang

diturunkan

dengan

ditangkap

oleh

menggunakan
sonde

akan

permukaan dengan menggunakan kabel konduktor elektrik. Sesuai

dengan tujuan dari logging yaitu mengumpulkan data bawah permukaan agar
dapat digunakan untuk melakukan penilaian formasi dengan menentukan
besaran-besaran fisik dari batuan reservoir (zona reservoir, kandungan formasi,
petrofisik reservoir, dan tekanan bawah permukaan), maka dasar dari prinsip
logging adalah sifat-sifat fisik atau petrofisik dari batuan reservoir itu sendiri.
Sifat-sifat fisik batuan reservoir tersebut dapat dibagi menjadi tiga bagian
besar, yaitu : sifat listrik, sifat radioaktif, dan sifat rambat suara (gelombang)
elastis dari batuan reservoir.
Metode logging tersebut antara lain: log listrik, log radioaktif, log
akustik dan log-log lainnya.
4.3.1. Log Listrik
Log listrik adalah salah satu cabang yang sangat penting dalam
logging sumur. Biasanya jenis log ini merekam data pada lubang sumur
yang tidak di casing,

yaitu resistivitas

dari formasi.

Resistivitas

dari

formasi ini merupakan petunjuk penting untuk mengenali litologi formasi


dan kandungan fluidanya.

Dengan beberapa pengecualian yang jarang terjadi di lapangan minyak,


seperti halnya logam sulfida dan graphit, batuan kering merupakan isolator
yang sangat baik, tetapi ketika pori-porinya terisi oleh air maka akan mudah
menghantarkan listrik. Resistivitas dari formasi tergantung juga dari bentuk
dan hubungan dari pori-pori yang terisi oleh air.
Formasi yang mempunyai resistivity yang besar kemungkinan
poriporinya diisi oleh air tawar, minyak atau gas, karena minyak dan gas
termasuk fluida yang non konduktif.
resistivity

Batuan yang mempunyai

harga

yang rendah menunjukkan bahwa pori-porinya terisi oleh air

formasi yang mempunyai kadar garam yang tinggi.


Standar log listrik biasanya diberikan dalam dua bentuk
penggambaran
grafik

yang

berbeda.

Bagian

sebelah

kiri

adalah

grafik

untuk

SP

(Spontaneous Potential) dan sebelah kanan adalah grafik untuk tahanan jenis
(Resistivity). Log listrik pada umumnya dapat dibedakan menjadi tige jenis,
yaitu :
Log

Spontaneous Potential (SP)

Log

Resistivity

Log

Induction

4.3.1.1. Spontaneous Potential (SP)


Log
Log

ini

mengukur

perbedaan

potensial

listrik

antara

elektroda

yang bergerak sepanjang lubang bor dengan elektroda tetap dipermukaan.


Prinsip dari SP log ini adalah mengukur tegangan lapisan dengan fungsi
kedalaman. Tegangan lapisan dihasilkan dari respon suatu aliran arus kecil
yang menembus rangkaian sirkuit pada saat elektroda di dalam sumur bergerak
ke atas. Secara skematis ditunjukan dalam Gambar
diturunkan kedaam lubang

bor

yang

4.12. elektroda M

diisi lumpur bor yang bersifat

konduktor,sedangkan elektroda N datanam pada lubang dangkal (di permukaan


).setelah sampai pada dasar lubang bor,maka elektroda M ditarik perlahanlahan

sambil

melakukan

pencatatan perubahan tegangan sebagai fungsi

kaedalaman ( Beda potensial antara Elektroda M dalam lubang bor dengan


dengan elektroda N di permukaan). Dengan demikian terdapat dua sumber yang
menyebabkan defleksi SP log yaitu :


serpih

Akibat tegangan dari


Akibat tegengan listrik yang ditimbulkan oleh perbedaan salinitas
antara lumpur dengan air formasi.
Dengan adanya kedua sebab di atas maka pencatatan beda potensial
antara

elektroda M dan N dipengaruhi oleh lapisan yang berhadapan dengan elektroda M


pada saat elektroda ini ditarik. Pengaruh lain adalah permebilitas relative
dari zona tapisan lumpur. Jika pengukuran SP log melalui lapisan yang
cukup tebal dan bersih dari clay, maka kurva SP akan mencapai maksimum.
Defleksi kurva yang demikian disebut Statik

SP

atau SSP,yang dapat

dituliskan dalam persamaan


:
460
K
SSP Tf
537

log

Rmf (4-6)
Rw

Dimana :
SSP

= Statik Spontaneous potensial, mv

= konstanta lithologi batuan ( = 70,7 pada 77 o F


= temperatur formasi, o F

) Tf
Rmf

= tahanan filtrat air lumpur, ohm-m

Rw

= tahanan air formasi, ohm-m


SP log berguna efektif bila digunakan pada kondisi lumpur water

base mud dan tidak dapat berfungsi pada lumpur oil base mud, karena
lumpur ini bersifat non konduktif. SP log biasanya digunakan pada sumur
yang belum di casing (open hole).
SP

log berguna

dan permeabel,

untuk

menentukan

tahanan air formasi (Rw)

mendeteksi lapisan-lapisan
batas-batas

dan dapat

lapisan,

yang

porous

mengestimasi

harga

juga untuk korelasi batuan dari

beberapa sumur didekatnya.


Defleksi kurva dari SP log dipengaruhi oleh dua faktor yaitu :
1.

Lithologi
a.

Shale/Clay, bentuk kurva SP lurus dan merupakan dasar garis


atau disebut juga Shale base line.

b.
Lapisan kompak, Defleksi kurva akan mengecil mendekati
Shale

base line tergantung tingkat kekompakan batuan.


c.

Lapisan Shaly, Memperkecil defleksi kurva SP mendekati


Shale base line.

d.

Lapisan permeable, Defleksi kurva bias positif ataupun


negative tergantung kandungan fluidanya.

Gambar 4.12. Skema dasar rangkaian SP Log

2.

Kandungan :
a.

Air tawar, defleksi SP

positif. b.

Air asin , defleksi

SP negatif.
c.
Jadi

Hdrokarbon , defleksi SP negatif.


pada

prinsipnya

defleksi

negatif

akan

terjadi

apabila

salinitas kandungan lapisan lebih besar dari salinitas lumpur yang digunakan,
sedangkan defleksi positif adalah sebaliknya. Bila salinitas kandungan lapisan
sama dengan salinitas lumpur maka defleksi kurva akan membentuk garis
lurus.

Gambar 4.13. Defleksi Kurva SP Log dari Shale Baseline

4.3.1.2.
Log

Resistivity
Resistivity Log adalah suatu alat yang dapat mengukur tahanan

batuan formasi beserta isinya, yang mana tahanan ini tergantung pada
porositas efektif, salinitas air formasi dan banyaknya hidrokarbon dalam poripori batuan.
Kurva yang terbentuk pada resistivity log adalah sebagai akibat
dari
pengukuran

tahanan

listrik

formasi

dengan

dua

atau

tiga

elektroda

yang diturunkan kedalam lubang bor. Dibanding dengan metode kurva SP


log maka resistivity

log

lebih

rumit

dan

kompleks,

karena

peralatan

yang mempunyai elektroda ganda dan juga menggunakan sumber arus listrik.

4.3.1.3. Normal Log


Normal log merupakan jenis dari resistivity log yang menurut spasi
sonde nya dapat dibedakan menjadi short normal log dan long normal log.
Short normal log memiliki spasi sonde 0.4 m ( 16 )

dan digunakan

untuk mengukur resistivitas pada zona invasi. Long normal log memiliki spasi
sonde 1.6 m ( 64 ) dan digunakan untuk mengukur resistivitas dari zona
uninvaded ( Rt ).
Gambar

4.14.

Rangkaian dasar
Gambar

dari normal log

dapat

tesebut menjelaskan bahwa

dilihat

suatu arus

dengan intensitas yang konstan dialirkan melalui elektroda A dan B

pada
listrik
dan

harga potensial antara M dan N. Elektroda A dan M merupakan tempat sonde


diletakkan , sedangkan B merupakan kabel baja

dan N merupakan suatu

elektroda yang dipasang pada ujung kabel M-N dengan jarak yang cukup jauh
dari elektroda A dan M.

Gambar 4.14. Skema Diagram Normal Sistem

Arus

yang

mempunyai harga

dialirkan

ke

potensial tertentu

elektroda A. Besarnya voltage


salah satu lingkaran dengan

antara

formasi

berbentuk

lingkaran

yang

dan sama dengan sumber arus


elektroda

yang terletak

pada

elektroda yang berjarak tak terhingga adalah sesuai dengan besarnya voltage
dari formasi yang bersangkutan .
Besarnya resistivitas dapat ditulis dengan persamaan:
EMA
R = 4 ( AM )
.................................................................................. (4-7)
i
Dimana:
EMA = besarnya potensial pada galvanometer, volt
AM

= jarak elektroda A dan M, inch

= intensitas dari elektroda A, ampere

= konstanta sebesar 3.14

4.3.1.4. Lateral Log


Tujuan dari log ini adalah untuk mengukur Rt , yaitu resistivitas formasi
yang terinvasi.Skema diagram lateral sistem dapat dilihat pada Gambar 4.15.
Gambar tersebut

menunjukkan

bahwa

arus

listrik

yang

konstan

akan

dialirkan melalui elektroda A , sedangkan perbedaan potensial diukur pada M


dan N yang terletak pada dua lingkaran yang berpusat pada elektroda A.
Titik O terletak ditengah- tengah M dan N . Perbedaan potensial antara M
dan N dapat diketahui dari
galvanometer. Resistivitas dapat diketahui dengan persamaan :
R=

4( AM ) ( AM MN ) EMN
x
............................................................... 4-8)
AN
i

Dimana :
EMN = besarnya potensial pada galvanometer, volt
AM

= jarak elektroda A dan M, inch

AN

= jarak elektroda A dan N, inch

= intensitas dari elektroda A, ampere

= konstanta sebesar 3.14

Gambar 4.15. Skema Diagram Lateral Sistem

4.3.1.5. Laterolog
Alat ini mengukur harga Rt terutama pada kondisi dimana pengukuran
Rt dengan induction log akan mengalami banyak kesalahan karena bersifat
memfokuskan arus kedalam formasi maka pada lapisan tipis sekalipun
hasilnya jauh lebih baik dari pada alat normal maupun lateral.
Laterolog ini dimaksudkan untuk dapat menghilangkan sebanyak mungkin
pengaruh lubang bor, ketebalan lapisan, dan adanya perbatasan-perbatasan antar
lapisan sehingga diperoleh hasil yang lebih teliti.
Berdasarkan

jumlah elektroda dan tahanan formasi yang diukur

maka laterolog dibagi menjadi Laterolog 3 (LL3), Laterolog 7 (LL7), Deep


Laterolog (LLd). Ketiga jenis laterolog ini merupakan tipe untuk Rt , sedangkan
tipe untuk Ri adalah Shallow Laterolog (LLs), dan tipe untuk Rxo

adalah

Laterolog 8 (LL8) dan Spherically Focused Log (SFL).


Optimasi dari laterolog adalah dapat digunakan pada jenis lumpur
water base mud dan Rxo < Rt , Rm /Rw < 5, dan Rt /Rm > 50, sedangkan untuk
ketebalan lapisan batuan disarankan lebih besar dari spasi elektroda laterolog
tersebut.

Keuntungan laterolog adalah dapat memberi informasi yang lebih


baik pada lapisan karbonat yang tipis.
Untuk kemampuan masing-masing jenis laterolog dapat dilihat pada
Tabel
4.2 berikut.
Tabel 4.2. Radius Investigasi Masing-masing Alat Laterolog

Alat

Lebar Pancar Arus

Spasi

Radius
Investigasi

LL7

32"

32"

10'

LL3

12"

12"

15'

LLd

24"

24"

15'

LLs

24"

24"

5'

LL8

14"

14"

3'

< 14"

< 3'

SFL
4.3.1.6.
Log

Microresistivity
Microresistivity

log

direkam dari perhitungan yang dibuat pada

volume yang kecil yang berada disekitar lubang bor yang berisi lumpur
yang konduktif. Tujuannya adalah menentukan Rxo

dan sebagai indikator

lapisan porous dan permeabel yang ditandai dengan adanya mud cake.Hasil dari
pembacaan Rxo dipengaruhi oleh tahanan mud cake ( Rmc ) dan ketebalan mud
cake ( h mc ). Ada
empat
tool,

microresistivity

Microlaterolog

(MLL),

log

yaitu

microlog

Proximity Log (PL)

(ML)

sebagai

dan Micro

kualitatif

SFL (MSFL).

Tiga peralatan terakhir sesuai dengan kondisi resistivitas lumpur tertentu,


ketebalan mud cake dan diameter invasi untuk memberikan pembacaan yang
baik terhadap
Rxo .
Dari kempat log di atas ,hanya kombinasi micro log dengan caliper
log yang dapat mendeteksi adanya lapisan porous dan permeabel,ketebalam
lapisan produktif,dan ketebakan mud cake.

Cara

pengukuran

menempelkan pad

ke

dari keempat

dinding

sumur

alat
dan

tersebut
kemudian

adalah

dengan

menggerakkannya

sepanjang dinding lubang ini dan ketika bergerak sonde merekam.


a.
(ML)

Microlog
Microlog log dibuat dengan suatu alat pad. Pad ini dipasang pada

akhir dari lengan pada alat dan memberi daya tolak pada formasi atau
mud cake. Contoh dari alat ini dapat dilihat pada Gambar 4.16.
Pad digerakkan dengan tenaga hidrolis, sehingga dapat
menyesuaikan
dengan bentuk lekukan lubang bor. Pengukuran alat ini dengan elektrode yang
diletakkan di bawah pada permukaan pad. Elektrode ini bagian vertikalnya 25
mm (1) dan dihubungkan untuk

merekam 25 mm x 25 mm (1 x 1)

microlatral dan
50
mm
micronormal.

(2)

Microlateral (kadang

disebut microinverse) dipengaruhi oleh mud

cake pada interval porous dan permeabel dan pengaruhnya kecil pada flushed
zone. Kebalikannya,

micronormal

dipengaruhi

oleh

flushed

zone

dan

sedikit dipengaruhi oleh mud cake. Setiap lapisan porous dan permeabel
menghasilkan pembacaan

dengan

resistivity

yang

terpisah-pisah dan perubahannya tidak begitu banyak.

Gambar 4.16. Microlog Sonde

rendah

yang

mana

Shale
yang mana

mengindikasikan pembacaan dengan resistivity yang rendah


masing-masing

hampir

identik,

sementara

lapisan

impermeabel yang kompak memberikan harga pembacaan yang sangat tinggi.


Keberadaan

mud

cake

dapat

diketahui

dengan

kaliper

dengan

mengindikasikan jarak antara pad pengukur dan bagian belakang dari lengan
yang mundur.
Nilai

dari

resistivitas

yang

dibaca

tidak

bisa

menggunakan

interpretasi kuantitatif untuk menentukan Rxo , tetapi diberikan dalam bentuk


kualitatif log.
Optimasi dari microlog agar mendapatkan hasil pengukuran yang baik
adalah sebagai indicator lapisan porous dan permeabel didalam susunan
sand- shale dengan range tahanan formasi antara 0,5-100 ohm-m, porositas
batuan lebih besar dari 15% , Rxo/Rmo lebih kecil dari 15, ketebalan mud cake
kurang dari , dan kedalaman invasi Lumpur lebih besar atau sama dengan
4.
b.
(MLL)

Microlaterolog
Pada

prinsipnya

microfocused

tool (microlaterolog dan proximity

log) adalah sama dengan focused tool (microlog), tetapi hanya berbeda pada
ukuran lempeng karet dan cara pengaturan elektrodanya yang melingkar
serta distrib usi arus listrik yang dihasilkan.
Kegunaan
dan
menentukan

microlaterolog

harga

adalah

berdasarkan

untuk

mengukur

persamaan

harga
=

Rxo
Rxo/Rmf.

Microlaterolog merupakan Rxo tool yang terbaik dalam kondisi lumpur salt
mud

dan

batuan formasinya mempunyai resistivity yang relatif besar.

Microlaterolog hanya dapat digunakan pada jenis lumpur water base mud
khususnya

salt

mud.

Log

ini digunakan pada

invasi lumpur

dangkal

(kurang dari 4) serta dipengaruhi oleh ketebalan mud cake pada pembacaan
harga Rxo.
Optimasi microlaterolog dalam pengukuran Rxo adalah di dalam
batuan
invaded carbonat, porositasnya medium ( < 15%), jenis lumpurnya salt
mud, range tahanan formasi berkisar 0,5 sampai 100 ohm-m, ketebalan mud

cake lebih kecil dari 0,25, kedalaman invasi filtrat lumpur lebih besar atau
sama dengan 4, Rxo/Rmc lebih besar dari 15.

Gambar 4.17. Distribusi Arus dan Posisi Elektrode Microl aterolog dalam Lubang Bor

c.
(PL)

Proximity Log
Proximity log lebih sesuai untuk menentukan harga Rxo pada kondisi
hmc

= 3/4. Satu-satunya faktor yang sangat mempengaruhi adalah kedalaman


invasi filtrat lumpur

yang dangkal. Dalam hal ini pembacaan proximity

log banyak dipengaruhi oleh harga tahanan batuan zone uninvaded (Rt),
untuk itu harus dilakukan koreksi.
Optimasi penggunaan proximity log adalah di dalam batuan
invaded
carbonate atau sand, porositasnya medium, pada lumpur water base mud,
range tahanan batuan berkisar antara 0,5-100

ohm-m,

invasi lumpurnya

dalam dan ketebalan mud cake lebih kecil dari 3/4.


d.
(MSFL)

Micro Spherically Focused Log

Spherical focuse logging yang dibalik urutannya untuk menjalankan


secara radial

pada

pad

equipotensial permuakaan

akan

menghasilakn

mempunyai

bentuk

MSFL.
bulat,

Dalam
dan

kasus

arus

ini

penjaga

mencegah pengukuran arus yang keluar dari mud cake atau lumpur pemboran.
MSFL memberikan hasil yang baik pada pengukuran Rxo bahkan
jika kondisinya lebih berat dari pada yang ditunjukkan untuk MLL atau
PL. Pada

kenyataanya, invasinya lebih rendah dari PL (50 cm, 20) dan mud cak e
lebih tebal dari maksimum untuk MLL (10 mm, 3/8). Tiruan dari ML dapat
dihitung dan

direkam dengan

MSFL,

dan

ini akan

menolong

untuk

menempatkan interval porous dan permeabel.


4.3.1.7. Induction Log
Tujuan dari induction log adalah mendeteksi lapisan-lapisan tipis yang
jauh untuk menentukan harga Rt dan korelasi, tanpa memandang jenis
lumpur pemborannya. Skema dasar induction log terlihat pada Gambar 4.18.

Gambar 4.18. Skema Rangkaian Dasar Induction Log 10)

Prinsip

kerja

dari induction log adalah suatu arus bolak-balik

dengan frekuensi kurang lebih 2000 cps yang mempunyai intensitas konstan
dikirimkan melalui transmitter, yang menimbulkan suatu medan elektromagnet.
Medan elektromagnet ini akan menginduksi arus dalam lapisan formasi,
sedangkan arus tersebut mengakibatkan pula medan magnetnya menginduksi
receiver.

Besarnya

medan

konduktivitas formasi.

magnet

yang

terjadi

sebanding

dengan

Peralatan induksi yang sering digunakan meliputi

6FF40, 6FF28 IES, DIL 8 (Dual Induction Laterolog 8) dan ISF TM/sonic.
Pembacaan yang dicatat oleh

penerima

dapat

dikorelasikan

antara

konduktivitas dan resistivitas, dimana skala konduktivitas sering dinyatakan


dengan miliohms (1/ohms).
4.3.2. Log Radioaktif
Radioaktif log dapat dioperasikan dalam keadan cased hole (sesudah
casing dipasang) maupun open hole (lubang terbuka). Ada tiga macam
jenis log radioaktif yaitu :
1. Gamma Ray log
2. Density log
3. Neutron log
Dari tujuan pengukuran dibedakan menjadi alat pengukur lihtologi
seperti gamma ray log dan alat pengukur porositas seperti neutron log dan
density log. Hasil pengukuran alat porositas dapat digunakan pula untuk
,engidentifikasi lithologi batuan dengan hasil yang sangat memadahi.
4.3.2.1. Gamma Ray Log
Gamma ray log adalah suatu kurva yang menunjukkan besaran intensitas
radioaktif yang ada dalam formasi. Prinsip dasar dari gamma ray log
adalah mencatat radioaktif alamiah yang dipancarkan oleh 3 unsur radioaktif
yang ada dalam batuan yaitu : Uranium (U), Thorium (Th), Potasium (K).
Ketiga unsur tersebut secara kontinyu memancarkan sinar gamma ray yang
mempunyai energi radiasi tinggi. Gambar 4.19. menunjukkan detektor gamma
ray jenis Scintillation Counter yang memberikan gambaran proses deteksi dari
alat tersebut.
Pada

batuan

sedimen

unsur-unsur

radioaktif banyak

terkonsentrasi

dalam shale atau clay, sehingga besar kecilnya intensitas radioaktif akan
menunujukkan ada tidaknya mineral- mineral clay.
Pada

lapisan

menunjukkan radioaktif
mengandung mineral-

permeabel
yang

yang

sangat

clean,

rendah,

kurva

gamma

terkecuali lapisan

ray

tersebut

mineral tertentu

yang

bersifat

radioaktif atau

lapisan

berisi air asin

yang mengandung garam-garam potasium yang terlarutkan, sehingga harga


gamma ray akan tinggi.
Berdasarkan

sifat-sifat

radioaktif,

pengukuran

gamma

ray

log

dapat dilakukan secara lubang terbuka ataupun pada casing terpasang. Apabila
kurva SP tidak tersedia, maka kurva gamma ray dapat digunakan sebagai
pengganti SP untuk
gamma

yang

maksud-maksud pendeteksian log, maka kurva sinar

jatuh diantara kedua garis lapisan permeabel ataupun untuk

korelasi. Oleh karena unsur- unsur radioaktif (potasium) banyak terkandung


dalam lapisan shale/clay, maka gamma ray

log sangat berguna untuk

mengetahui besar kecilnya kandungan shale/clay dalam lapisan permeabel.


Disampinhg itu gamma ray log sangat efektif untuk membedakan lapisan
pemeabel dan yang tidak permeabel.
Untuk memperkirakan kandungan clay ditunjukkan dalam
persamaan
berikut :

GR GRmin
................................................................................... (4-10)
V cla y = GR
max
GRmin

Dimana :
GR

= Radioaktivitas yang dibaca pada log

GRmin = Radioaktivitas yang dibaca pad clean formation


GRmax = Radioaktivitas yang dibaca pada shale atau clay

Gambar 4.19. Skema Susunan Alat Gamma Ray Log

10)

4.3.2.2. Neutron Log


Neutron adalah suatu partikel listrik yang netral dan mempunyai
massa yang hampir sama dengan massa atom hidrogen. Suatu energi tinggi
dari neutron dipancarkan
atau

dari

sumber

radioaktif

(plutonium-berylium

americium- beryllium) secara terus menerus dan konstan,

akibat

adanya tumbukan dengan inti-inti elemen di dalam formasi maka neutron


mengalami sedikit hilang energi, dimana
tergantung

pada

banyak

sedikitnya

besarnya

hilang

jumlah hidrogen

energi

dalam

ini

formasi.

Rangkaian peralatan neutron-gamma log ditunjukkan pada Gambar 4.20.


Dalam

beberapa

microsecond

energi

neutron

akan

mengalami

penurunan hingga tertentu dan dengan tanpa mengalami hilang energi lagi
partikel-partikel neutron

menyebar

tertangkap (terserap) oleh inti-inti


hidrogen,
neutron

chlorin,
tersebut

silikon
dihitung

secara
dari

tidak

atom-atom

teratur sampai akhirnya


seperti

halnya

atom

dan sebagainya. Penangkapan partikel-partikel


oleh

detektor dalam

konsentrasi hidrogen di dalam formasi besar, maka

alat

pengukur.

Bila

hampir semua partikel neutron mengalami penurunan energi serta tertangkap


jauh dari sumber radioaktifnya. Sebaliknya bila konsentrasi hidrogen kecil,
partikel- partikel

neutron

akan

memancar

lebih

jauh

menembus

formasi sebelum tertangkap.

Gambar 4.20. Skema Rangkaian Dasar Neutron Log 10)

Jenis neutron log yang sering digunakan adalah Compensated Neutron


Log ( CNL ). Jenis ini dapat digunakan pada kondisi open hole maupun cased
hole. Porositas neutron dapat ditentukan dengan persamaan :

N= 1.02 Nlog + 0.0425.............................................................................. (411)


Besarnya

porositas

neutron harus dikoreksi terhadap

adanya kandungan

shale/clay dalam formasi. Besarnya porositas neutron koreksi dapat ditentukan


dengan menggunakan persamaan berikut :

Ncorr = N ( Vclay x Nclay ) ..................................................................(412)


Dimana
:

N
neutron

= porositas

Nlog = porositas yang terbaca pada neutron


log
Vclay
)

= volume clay ( GR log

4.3.2.3. Density Log


Density log adalah log porositas yang mengukur elektron density
dari formasi. Density log sangat penting karena dapat digunakan untuk:
a.
Menentukan
dalam

densitas

porositas

yang

mana

sangat

diperlukan

modern interpretation.
b.

Menentukan litologi dan nilai porositas yang baik, jika digabungkan


dengan neutron atau sonik log.

c.

Mendeteksi keberadaan

gas

di dalam zona

invasi karena gas

menyebabkan penurunan

yang tajam dari densitas dan karena itu

memperlihatkan densitas porositas yang tidak normal.


Di samping itu density log mempunyai kegunaan yang lain, yaitu :
dapat
mendeteksi adanya hidrokarbon atau air bersama-sama dengan neutron log,
menentukan besarnya

densitas

hidrokarbon dan membantu studi dalam

evaluasi lapisan shaly.


Sumber
dengan intensitas
terbentuk
terdiri

radioaktif
energi

dari butiran

dari

proton

dari alat
tertentu

mineral,

pengukur

menembus

dipancarkan
formasi/

gamma

batuan.

ray

Batuan

mineral tersusun dari atom-atom yang

dan elektron. Partikel gamma ray membentur elektron-

elektron dalam batuan, akibat benturan ini maka gamma ray akan mengalami
pengurangan energi. Energi yang kembali sesudah mnegalami benturan akan
diterima oleh detektor yang berjarak tertentu dengan sumbernya.
lemahnya

Makin

energi yang kembali menunjukkan makin banyaknya elektron-

elekteron dalam batuan , yang berarti makin banyak padatan butiran/mineral


penyusun batuan per satuan volume. Besar kecilnya energi yang diterima
oleh detektor tergantung dari : besarnya densitas matrik batuan, besarnya
porositas batuan, besarnya densitas kandungan yang ada dalam pori-pori
batuan
Karena density log memberikan hasil pembacaan yang baik pada
open hole

maka

prhitungan yang

harus dikoreksi terhadap

pengaruh mud

cake

karena

terdekat akan menambahkan efek ini. Density log kadang diberikan


dalam porositas pada log yang diberikan dengan persamaan berikut :

g 1 ma f ...................................................................................... (413)
Dimana :

g
ma
f

adalah bulk density yang dibaca pada


log adalah densitas metrix batuan
adalah densitas fluida, biasanya mud filtrate
adalah porositas

Gambar 4.21. Skema Rangkaian Dasar Density Log 10)

Dalam density log kurva dinyatakan dalam satuan gr/cc, karena


energi yang diterima oleh detektor dipengaruhi oleh matrik batuan ditambah
kandungan yang ada dalam pori-pori batuan, maka satuan gr/cc merupakan
besaran bulk density batuan, dimana dipengaruhi oleh faktor batuan yang
sangat kompak serta batuan yang homogen dengan porositas tertentu.
Kurva density log dinyatakan dalam satuan gr/cc, karena energi
yang diterima oleh detektor dipengaruhi oleh matrik batuan dan kandungan
yang ada

dalam pori-pori batuan. Satuan gr/cc merupakan besaran bulk density


batuan, dimana dipengaruhi oleh faktor batuan yang sangat kompak serta
batuan yang homogen dengan porositas tertentu.

Porositas batuan dapat

ditentukan dengan
persamaan
:
ma b
............................................................................................... (414)
D= ma f
Penentuan porositas batuan pada formasi batuan yang mengandung clay /
shale membutuhkan koreksi. Persamaan yang menunjukkan adanya koreksi
adalah :

Dclay =

ma cla y
........................................................................................ (415)
ma f

Dcorr= D ( Vclay x Dclay )....................................................................... (4


16) Dimana :

b
ma
f

= densitas bulk yang dibaca pada log, gr/cc


= densitas metrik batuan, gr/cc
( untuk sandstone adalah 2.65, limestone adalah 2.71 )
= densitas rata-rata fluida, ( 1.0 1.1 gr/cc untuk filtrat
lumpur ), gr/cc
= porositas ,fraksi

Dclay = densitas clay, gr/cc (didapat dari lapisan shale yang


terdekat dengan lapisan yang prospek)
Tinggi rendah harga densitas batuan disamping dipengaruhi oleh
porositas dan jenis kandungan yang ada didalamnya, juga dipengaruhi oleh
kekompakan batuan dengan derajat kekompakan yang bervariasi. Sebab
kekompakan batuan berpengaruh
kekompakan dapat

juga

besarnya

porositas,

jadi

dilihat dengan kurva densitas yaitu dengan makin

tingginya harga densitas batuan.


4.3.2.4. Sonic Log

terhadap

Sonic

log

merupakan

rekaman

waktu

yang

diperlukan

oleh

gelombang suara untuk merambat melalui formasi. Kecepatan rambat suara


biasanya dikenal

sebagai internal transite time (t). Interval waktu transite didefenisikan


sebagai waktu yang diperlukan oleh gelombang suara untuk menempuh jarak
satu feet suatu bahan.
Peralatan dari sonik log (Gambar 4.22) terdiri dari sebuah
transmitter yang melepaskan gelombang suara ke formasi, setelah melewati
formasi diterima
oleh 2 receiver. Perbedaan waktu tiba gelombang (two way travel time =
t)
diukur dan dibagi dengan jarak ( s/m), untuk arah yang sebaliknya caranya
sama untuk menghilangkan efek lubang bor (dicari rata-ratanya). Perambatan
suara di dalam formasi tergantung dari matrik batuan, porositas batuan serta
fluida dalam pori-pori.

Gambar 4.22. Peralatan Log Sonik 10)

Gambar 4.23. Contoh Hasil Rekaman Sonic Log

Batasan dari sonik log ini adalah kedalaman invesigasi 0,25 m, resolusi
vertikalnya 0,5 m, semakin padat suatu lithologi maka t semakin rendah,
t- fluida 620 s/m, t-matrix : batupasir 184 s/m, batugamping 161

s/m, dolomite 144

s/m. Willy membuat persamaan untuk menghitung

besarnya transite time yang dibaca dari kurva sonic log yaitu :
tlog = s tf + (1 s) tma ........................................................................... (417) Dimana :
tlog

= transite time yang dibaca pada log, s/ft

tf

= transite time fluida, s /ft (189 s /ft untuk filtrat lumpur)

tma

= transite time pada matrik batuan, s /ft

= porositas sonik dari formasi

Gambar

4.23.

memperlihatkan

hasil

rekaman

dari

sonic

log

dalam interval transit time (microseconds per foot).


Porositas dapat ditentukan dalam batupasir yang unconsolidate dengan
kecepatan

rendah

tanpa

kurang. Raymer-Hunt

diperlukan

koreksi

mengetahui hal ini,

untuk

kemudian

kompaksi

yang

menentukan untuk

porositas antara 0 37 % persamaan transit timenya adalah :


1 1 1 ......................................................................... (4-18)
1 s
s
t f 2
tma
tlog

Perubahan yang sederhana juga diberikan untuk porositas :

s 0.625 1 tma ....................................................................................... (4-19)


tlo g

Dimana :
tma dan tlog dalam s /ft
tf = 189 s /ft
Sonik log saat ini banyak diaplikasikan untuk :
1. Menemukan porositas di dalam lubang bor yang diisi oleh fluida
2. Menentukan porositas, litologi dan shaliness jika digunakan bersamasama dengan density dan neutron log
3. Memperkirakan kecepatan formasi untuk seismik
4. Mendeteksi zona fracture dengan menggunkan variable density
5. Memperkirakan jarak dari tekanan abnormal
4.3.3. Log Tambahan
Log tambahan adalah log selain dari log-log yang telah disebutkan
diatas yang berguna sebagai log pelengkap dalam operasi logging. Log tersebut
berupa : Caliper log, Dipmeter log dan Temperature log.

4.3.3.1. Caliper Log


Akibat

adanya

perbedaan

tekanan

hidrostatik

lumpur

dengan

tekanan formasi, maka terjadi mud cake dan filtrat lumpur. Semakin porous
suatu lapisan maka mud cake akan makin tebal. Mud cake akan memperkecil
diameter lubang bor dan ini akan direkam oleh caliper log. Contoh dari
peralatan caliper dalam lubang bor ditunjukkan Gambar 4.24.
Manfaat utama dari caliper log adalah untuk mengetahui diameter
lubang bor , yang berguna untuk perhitungan volume lubang bor pada
kegiatan penyemenan. Selain itu berguna juga untuk :
a. Untuk menentukan letak setting packer yang tepat pada operasi DST.
b. Membantu interpretasi log listrik dengan memberikan ukuran lubang bor
yang tepat, karena diameter lubang bor yang digunakan pada interpretasi
log listrik biasanya diasumsikan sama dengan ukuran bit.
c. Untuk estimasi ketebalan mud cake.
d.

Untuk perhitungan kecepatan lumpur di annulus , dalam hubungannya


dengan pengangkatan cutting.

Gambar 4.24. skema Peralatan Caliper Log 7)

4.3.3.2. Dipmeter Log


Dipmeter log digunakan untuk mencatat dip (kemiringan) formasi,
baik sudut maupun arahnya
digunakan untuk
continous

terhadap kedalaman lubang bor. Peralatan yang

pengukuran

besaran-besaran

tersebut

adalah

SP

dipmeter, resistivity continous dipmeter dan microlog continous

dipmeter dimana perbedaan ketiga alat tersebut terletak pada sistem elektroda
yang digunakan.
Microlog

continous

dipmeter

mempunyai

kelebihan

jika

dibandingkan dengan SP continous dipmeter, sebab dengan menggunakan


sistem tiga elektroda maka

microlog

continous

dipmeter

dapat

dengan

serentak mencatat tiga kurva, yaitu satu elektroda menentukan kedalaman,


sedangkan

dua

elektroda

Orientasi kemiringan

lainnya mencatat

elektroda,

lapisan

atau

batas

zona.

kemiringan lubang dan arah lubang dapat

serentak direkam oleh microlog continous dipmeter, prinsip pengukuran dari


deepmeter ditunjukkan oleh Gambar 4.25 .
Data-data
memecahkan

kemiringan lapisan (dip)

masalah

penyimpangan

digunakan antara

lubang

bor

serta

lain untuk

berguna

untuk

tujuan geologi, yaitu untuk perpetaan bawah permukaan dan untuk perencanaan
arah penyebaran sumur-sumur pengembangan dari arah pemboran yang berhasil.

Gambar 4.25. Prinsip Pengukuran Dipmeter7)

4.3.3.3. Temperature Log


Temperatur log adalah alat untuk mengukur temperatur di dalam
lubang sumur

yang

hasilnya

merupakan

plot

antara

temperatur

versus

kedalaman. Pengukuran ini dapat diperoleh dengan peralatan pengukur listrik


ataupun dengan temperatur bond sendiri. Instrument listrik mempergunakan
variasi resistivity dari suatu konduktor dengan temperatur. Perubahan voltage
tersebut dicatat sebagai perubahan temperatur, contoh pengukuran temperatur
lubang bor ditunjukkan Gambar 4.26.

Gambar 4.26. Contoh Pengukuran Temperatur Lubang Bor7)

Instrumen

self-contained

umumnya

mencatat

temperatur

versus

waktu, kemudian waktu ini dikorelasikan dengan membuat pemberhentian


berulang

kali pada

pemberhentian

ini

beberapa

interval

kedalaman.

Pemberhentian-

muncul pada chart sebagai interval temperatur waktu

yang konstan. Karena kedalaman

pemberhentian diketahui maka akan didapat suatu plot antara temperatur versus
kedalaman. Pengukuran listrik akan menghasilkan hasil yang lebih detail
dan lebih akurat.
Penggunaan

temperatur

log

terutama

untuk

meneliti

kelakuan

temperatur versus kedalaman dari suatu cekungan sedimen. Walaupun gradien


temperatur bervariasi dalam daerah yang berbeda, tetapi pada daerah tertentu
gradient ini menunjukkan kelakuan yang linier. Indikasi penyimpangan yang
mencolok da ri linieritasnya, disebabkan oleh ekspansi gas atau pergerakan
fluida lainnya. Hal ini dapat digunakan untuk beberapa tujuan yaitu :
up

Penentuan cement fill-

Penentuan
circulation
gas

lokasi lost

Penentuan lokasi zona yang mengandung

Penentuan lokasi kebocoran casing dan


tubing
4.3.4.
Log

Interpretasi

4.3.4.1.
Kualitatif

Analisa

Analisa

kualitatif log

yaitu

pengamatan

secara

cepat

terhadap

lapisan formasi yang diperkirakan produktif melalui hasil defleksi kurva


rekaman

yang telah diperoleh. Hasil pengamatan dalam analisa ini berupa

identifikasi lapisan permeabel,

ketebalan

dan

batas

lapisan

produktif,

evaluasi shaliness dan kandungan hidrokarbon yang ada.


Berdasarkan analisa kualitatif terdapat tiga log dasar yang
diperlukan
untuk

mengevaluasi formasi.

Pertama

diperlukan untuk

memperlihatkan

zona permeabel, kedua memberikan harga resistivity dari formasi dan ketiga
mencatat porositas dari formasi. Suatu set log yang ideal dapat dilihat pada
gambar 3.28 dimana permeabel zone log dicatat ditrack 1, resistivity log di track
2 dan porosity log di track 3. Yang termasuk di dalam jenis permeabel
zone log adalah Spontaneous Potential dan Gamma Ray, resistivity log

adalah Microresistivity, Deep Laterolog, Deep Induction dan porosity log


adalah Density, Neutron dan Sonic Log.

Dalam

pemilihan

zona

yang

produktif,

langkah

pertama

adalah menentukan zona yang permeabel. Hal ini dapat dilakukan dengan
meninjau log di track 1. Pada log tersebut terlihat adanya suatu base line
disebelah kanan yang mengindikasikan bahwa daerah tersebut adalah shale,
daerah yang impermeabel dan tidak akan berproduksi. Sedangkan garis yang
ke arah kiri mengindikasikan clean zone yang umumnya adalah sand dan
limestone dan dapat beproduksi. Sebagai contoh daerah tersebut adalah zona A,
B, C dan D pada Gambar 4.27.

Gambar 4.27. Contoh Suatu Set Log Ideal

Kemudian
yang memberikan

dari

resistivity

resistivitas

log

yang

di

track

tinggi.

dilihat

Resistivitas

zona

mana

yang

tinggi

mengindikasikan adanya hidrokarbon atau porositas yang rendah setelah


dikorelasikan dengan track sebelumnya yang nantinya akan terbaca pada track 3.
Zona D dan B dari gambar tersebut memperlihatkan resistivitas
sedangkan

zona

dan

yang tinggi

A mempunyai harga resistivitas yang rendah

yang mana hanya dapat dihasilkan oleh adanya air di dalam pori-pori batuan.
Sehingga bisa dikatakan zona C dan A adalah zona air.

Track 3 merupakan identifikasi akhir dari pembacaan kurva log untuk


mengetahui apakah zona D atau B yang berisi hidrokarbon atau justru daerah
berporositas

rendah.

Porosity

log di track

pada gambar tersebut

memperlihatkan harga 0,3 dan 0,007 untuk zona B dan D, sehingga dapat
disimpulkan bahwa zona D berisi hidrokarbon dan zona B adalah zona dengan
porositas yang ketat.
4.3.4.2.
Kuantitatif
Analisa

Analisa
logging

secara

kuantitatif meliputi penentuan resistivitas

air formasi (Rw), penentuan resistivitas sebenarnya (Rt) dan resistivitas


flushed

zone (Rxo), analisa

porositas dan saturasi air (Sw) dan analisa

permeabilitas.
4.3.4.2.1 Penentuan Resistivitas Air Formasi
(Rw)
Ada beberapa metode yang digunakan untuk menghitung resistivitas
air formasi, yaitu :
1.
Analisa
Formasi

Air

Pengukuran harga Rw dilakukan dipermukaan dari contoh air formasi dengan


melakukan pencatatan terhadap temperatur permukaan. Untuk mendapatkan
harga Rw pada temperatur formasi dimana contoh air formasi tersebut berasal
maka digunakan persamaan :
(T
6.77)
Rw(T f) = (Tpengukuran 6.77) xR w (Ts ) ..................................................................(4-20)
formasi

2. Metode SP
Langkah penentuan Rw dari metode SP adalah sebagai berikut :

Menentukan temperatur formasi (Tf) dalam o F :

BHT Ts
Tf = Depth Log x Depth SSP + Ts................................................................ (4-21)
Dimana :
BHT

= temperatur dasar

lubang Ts
permukaan SSP

= temperatur
= Statik SP


Rmf =

Menentukan resistivitas filtrat lumpur (Rmf) pada temperatur formasi :


Ts 6.77 x Rmf(T s) .............................................................................. (4-22)
T f 6.77

Menentukan Rmfc : Rmfc = 0.85 x Rmf

Menentukan konstanta SP : C = 61 + (0.133 x Tf)

Menentukan Rwc dari SP :


Rmfc
Rwc =
ES P / C .............................................................................................. (4-23)
10
4.3.4.2.2. Penentuan Resistivitas Sebenarnya dan Resistivitas Flushed
Zone
(Rt ; Rxo)
Besarnya Rt dapat ditentukan dari hasil pengukuran daerah yang
tidak terinvasi dengan menggunakan Induction Log atau Dual Laterolog,
sedangkan untuk

resistivity

pada

flushed

zone

(Rxo)

menggunakan

microresistivity log yaitu MSFL.


4.3.4.2.3.
Shale
Beberapa

Penentuan
metode

yang

Kandungan
dapat

digunakan

untuk

menentukan

besarnya

kandungan shale. Hasil pengukuran dari metode-metode tersebut memberikan


harga yang berbeda-beda karena itu dipilih harga yang paling kecil.
1. Berdasarkan SP Log
Vclay = 1 -

SP Log
SSP .......................................................................................... (4-24)

Dimana :
SP log

= pembacaan kurva SP pada formasi yang dimaksud

SSP

= harga pembacaan pada kurva SP maksimal

2. Berdasarkan Resistivity Log


Rt cla 1b /

y
Vclay =
........................................................................................... (4-25)

Rt

Dimana :
Rtclay

= resistivity batuan shale/clay

Rt

= resistivity batuan pada kedalaman yang dimaksud

= 1, jika 0,5 <


b

Rt cla y
<1
Rt
Rt cla
= 2, jika y < 0,5
Rt

3. Berdasarkan Gamma Ray Log


Vclay =

GRlo g GRmin
.................................................................................... (4-26)
GRmax GRmin

4. Berdasarkan Neutron Log


N
..................................................................................................(4-27)
Vclay = Ncla y

4.3.4.2.4. Penentuan Porositas dan Saturasi


Air
Penentuan porositas batuan dan saturasi air berkaitan dengan jenis
formasi dari suatu sumur. Formasi yang umum dijumpai adalah formasi
clean sand dan formasi shally sand.
1.
Formasi
Sand

Clean

Poros itas

Porositas dari Neutron Log

N = (1.02 x Nlog) + 0.0425 ............................................................................ (428) Persamaan diatas merupakan harga porositas neutron yang dikoreksi
terhadap formasi batupasir atau dolomite.

:
D =

Porositas Dari Density Log

ma b
................................................................................................ (4-29)
ma f

Dimana :
ma

: densitas matrik batuan, gr/cc

: densitas bulk yang dibaca pada kurva density log setiap


kedalaman yang dianalisa, gr/cc

: densitas fluida (salt mud : 1.1 dan fresh mud : 1)

Porositas Dari Sonic Log

s =

t lo g t ma
............................................................................................. (4-30)
t f t ma

Dimana :
t

= transit time yang diperoleh dari pembacaan defleksi kurva

log

sonic untuk setiap kedalaman, sec/ft


t ma =
t f

transit time matrik batuan, sec/ft

= transit time fluida (air), sec/ft


Porositas Rata-rata :

Porositas rata-rata didapat dengan menggunakan metode pintas, yaitu :



N D
untuk minyak .................................................................(4-31)
A =
2
2N 7D
A =
9

untuk gas....................................................................... (4-32)

Saturas i
n
Sw =

a x Rw ..................................................................................................(4-33)
m x Rt

Dimana :
Rw

= resistivitas air, ohm-m

Rt

= true resistivity, ohm-m

= exponential saturation faktor (n = 2)

Untuk formasi batupasir

m=2

; a = 0.81

Untuk formasi limestone dan dolomite

m=2

; a = 1.00

Humble

m = 2.15

; a = 0.62

2.

Formasi Shally Sand

Menentukan porositas dari Neutron Log yang dikoreksi terhadap Vclay :

Nc = N (Vclay x Nclay ) ................................................................................ (4-34)

Menentukan porositas dari Density Log yang dikoreksi terhadap Vclay :

Dc = D (Vclay x Nclay ) ................................................................................ (4-35)

Menentukan porositas dari kombinasi Density dan Neutron Log :


2Nc 7Dc
............................................................................................. (4-36)
c =
9

Menentukan harga saturasi air pada zona invasi lumpur (Sxo) :

R xo

cla y

Vcla y 2
Rcla y

n
2
xS xo ......................................................... (4-37)
c
0.8xR mf 2

Menentukan saturasi hidrokarbon sisa (S hr) :


Shr = 1 - Sxo.............................................................................................

(4-38)

Menentukan porositas sebenarnya :

tc = c x [1 (0.1 x Shr)] ................................................................................ (4-39)

Menentukan saturasi air formasi :

1 V

1
t

cla y

Vcla y 2
Rcla y

n
2
xS w (Indonesian Equation)....................... (4-40)
c
0.8xRw 2

4.3.4.2.5. Penentuan Permeabilitas


Suatu hubungan empiris yang umum antara permeabilitas dan
porositas dikemukakan oleh Wylie dan Rose, yaitu :
x

k=

C
......................................................................................................... (4-41)
S wi y
Kemudian Tixier dan Timur menjabarkan rumus Wylie dan Rose

ini kedalam sesuatu yang dapat diterapkan pada hasil rekaman log sumur,
antara lain:
1. Rumus Tixier :
3

k1/2 = 250 S wi ................................................................................................ (4-42)

2. Rumus Timur :
2.25

k1/2 = 100 S wi ............................................................................................... (4-43)

4.4.

Well Testing
Well testing merupakan pengujian terhadap lapisan yang diduga produktif

dengan cara
Tujuan utama

mempoduksikan lapisan
dari

well

formasi untuk menghasilkan


adalah

test

tersebut

adalah

fluida

menentukan produktivitas

menentukan

formasi
suatu

pengoperasian dan analisa well testing

untuk
atau

sumur.

yang

tepat

sementara

waktu.

kemampuan
dengan
Suatu
dapat

suatu

kata

lain

perencanaan,
melengkapi

informasi tentang permeabilitas formasi, derajat kerusakan sumur bor atau


stimulasinya,

tekanan

reservoir,

kemungkinan batas-batas reservoir dan

heterogenitas formasi.
4.4.1. Drill Stem Test
DST mula-mula diperkenalkan pada tahun 1926 oleh Halliburton untuk
memastikan apakah suatu formasi produktif atau tidak. DST dapat dilakukan
pada sumur-sumur yang sedang dibor maupun pada sumur pengembangan.
Umumnya prosedur DST meliputi suatu periode aliran mula-mula
yang pendek (the initial flow period), suatu periode penutupan yang pendek
(the initial build up), suatu periode aliran kedua yang panjang (the final build
up). Jika test DST ini hanya dilakukan satu periode pengaliran dan satu
periode penutupan , cara ini disebut sebagai satu cycle dan apabila tes
ini meliputi dua periode pengaliran dan penutupan, cara ini disebut sebagai
dua cycle.
Pada prinsipnya cara kerja atau prosedur pelaksanaan tes dibagi
menjadi lima bagian, yaitu :
1.

Going In Hole

Tahapan going in hole ini adalah mempersiapkan lubang bor untuk dilakukan
tes.
2.

Making Test

Pada tahapan ini proses pengujian berlangsung, disamping itu juga


dapat digunakan untuk mengetahui kelainan pada sistem kerja alat penguji.

3.
Pressure

Taking Closed

Langkah ini dilakukan apabila terjadi laju aliran yang tidak stabil, yang
kemudian dilakukan operasi closed

in valve untuk mengakumulasikan

tekanan reservoir, pada saat ini terjadi pressure build up pada tekanan.
4.
Equalizing
Tahapan

ini terjadi setelah

periode

penutupan

akhir selesai,

adapun

langkah kerjanya adalah membuka equalizer valve untuk menyeimbangkan


tekanan di atas dan di bawah packer.
5.
Reversing
Merupakan

tahapan terakhir dari tes

dilakukan sirkulasi lumpur

sebelum rangkaian dicabut.

Perlu

sehingga kondisi lubang sebelum dan sesudah

pengujian sama.
Ada tiga kriteria tentang karakteristik hasil pencatatan tekanan yang
baik dari DST, yang dianjurkan oleh Murphy,Timmeran dan Van Poolen, yaitu
sebagai berikut :
1.
Pressure base line adalah merupakan garis lurus dan
jelas.
2.

Tekanan hidrostatik mula-mula dan akhir yang dicatat sama dan


tetap terhadap kedalaman dan berat lumpur sama.

3.
Tekanan aliran dan build up pressure yang dicatat merupakan kurva
yang
smooth.
Dengan
adanya kondisi

mengetahui
lubang

karakteristik-karakteristik

bor/sumur

yang

buruk,

di

atas,

maka

alat

yang

tidak

bekerja/berfungsi dengan baik dan kesukaran lainnya dapat diindentifikasi


dari grafik pencatatan tekanan test DST. Perencanaan, pengoperasian dan hasil
analisa tes sumur yang tepat akan melengkapi
derajat kerusakan sumur (S),

Pressure

tentang

permeabilitas,

tekanan reservoir, kemungkinan batas-batas

reservoir dan heterogenitas formasi.


4.4.2.
Test

data

Prinsipnya

adalah

mengukur

perubahan

tekanan

terhadap

waktu

selama periode penutupan atau pada periode pengaliran. Penutupan sumur


dimaksudkan untuk
reservoir,

periode

mendapatkan

keseimbangan

tekanan

di

seluruh

pengaliran

dilakukan

sebelum

atau

sesudah periode

penutupan dengan

laju konstan.
Parameter yang diukur adalah tekanan statik (Pws), tekanan aliran
dasar
sumur (pwf), tekanan awal reservoir (Pi), skin factor (S), permeabilitas ratarata (k), volume pengurasan (Vd) dan radius pengurasan (re). Sedangkan
metoda pressure test yang umum ada dua macam, yaitu : Pressure Build UP
dan Pressure draw Down.
4.4.2.1.
Test

Pressure
Pressure

Build-UP

Build-Up

test

adalah

suatu

teknik

pengujian

tekanan

transien yang paling dikenal dan banyak dilakukan orang. Pada dasarnya
pengujian ini dilakukan pertama-tama dengan memproduksi sumur selama suatu
selang waktu tertentu dengan laju aliran yang tetap, kemudian menutup
sumur tersebut (biasanya dengan menutup kepala sumur dipermukaan).
Penutupan sumur ini menyebabkan naiknya tekanan yang dicatat sebagai
fungsi waktu

(tekanan yang dicatat ini biasanya

adalah tekanan dasar

sumur).Dari data tekanan yang didapat, kemudian dapat ditentukan permeabilitas


formasi, daerah pengurasan

saat

perbaikan formasi, batas reservoir


Grafik

pressure build

up

itu,

adanya karakteristik kerusakan atau

bahkan

heterogenitas

suatu

formasi.

pada keadaan ideal dapat dilihat pada Gambar

4.28.
Dasar analisa pressure build up ini dikemukakan oleh Horner, yang
pada
dasarnya adalah memplot tekanan terhadap suatu fungsi waktu. Pada analisa
PBU
dipakai rumus Horner,yaitu
:
Pws = Pi -

162,6.q..B
t t p
log
.............................................................. (4-44)
kh
t

Persamaan ini memperlihatkan bahwa Pws , shut-in BHP, yang


dicatat
t t p
selama penutupan sumur, apabila diplot terhadap log

t
lurus dengan kemiringan :

merupakan garis

m=

162,6.q..B
, psi/cycle ....................................................................(4-45)
kh

Gambar 4.28. Grafik Pressure Build Up dalam Keadaan Ideal 15)

Contoh yang ideal dari pengujian ini dapat dilihat dari Gambar
4.28., dimana harga permeabilitas dapat ditentukan dari slope m sedangkan
apabila garis ini diekstrapolasikan ke harga Horner Time sama dengan
satu (ekivalen dengan

penutupan

yang

tidak

terhingga

lamanya),

maka

tekanan pada saat ini teoritis sama dengan tekanan awal reservoir tersebut.
Sesaat setelah sumur ditutup akan berlaku hubungan :

1688...Ct .rw
162,6.q..B

................................ (4-46)
2
Pwf = Pi 0,869.S
log

kh
kt

t 2w

= Pi m. log 1688...C .r 0,869.S ............................................. (4-47)

kt

Pada saat waktu penutupan = t, berlaku hubungan


:
Pws = Pi - m.log [(tp + t)/t] ............................................................................. (448) Kalau persamaan (4-44) dan (4-46) dikombinasikan, maka dapat dihitung
faktor skin (S), sehingga :

2
Pws Pwf
1688...C .r

t w
1,151.log
S = 1,151

1,151.log

m
kt

t t p
...(4-49)

Dalam industri perminyakan biasanya dipilih t = 1 sehingga P ws


pada persamaan (3-48) menjadi P1jam . P1jam ini harus diambil pada garis lurus
atau garis
ekstrapolasinya.
t t p
Kemudian faktor
dapat diabaikan, sehingga :
t
P(1 ja m) P wf

k
............................................... (4-50)

2 3,23

m
.
.C
.
r t w

S = 1,151

m berharga
positif.
Apabila S ini berharga positif berarti ada kerusakan (damaged) yang
pada umumnya disebabkan adanya filtrat lumpur pemboran yang meresap ke
dalam formasi atau endapan lumpur (mud cake) disekeliling lubang bor pada
formasi produktif yang kita amati. S yang negatif menunjukkan adanya
perbaikan (stimulated), biasanya setelah dilakukan pengasaman (acidizing) atau
karena suatu perekahan (Hydraulic Fracturing).
4.4.2.2. Pressure Draw-down Test
Pressure draw-down test adalah suatu pengujian yang dilaksanakan dengan
jalan membuka sumur dan mempertahankan laju produksi tetap selama
pengujian berlangsung.
sumur

Sebagai

syarat

tersebut, tekanan hendaknya

awal yaitu

sebelum pembukaan

seragam di seluruh reservoir yaitu

dengan menutup sumur sementara waktu agar dicapai keseragaman tekanan


di reservoirnya. Gambar
4.29. menunjukkan hubungan tekanan vs waktu pada saat sumur dibuka.

Gambar 4.29. Skema hubungan tekanan vs waktu15)

Apabila

didesain

mencakup banyak

secara

memadai,

perolehan

dari pengujian

ini

informasi yang berharga seperti permeabilitas formasi,

faktor skin dan volume pori-pori yang berisi fluida.


Seperti yang
adalah :

telah

dikatakan

1. Idealnya sumur yang

sebelumnya

diuji ditutup sampai tekanan mencapai tekanan statik

reservoirnya. Tuntutan ini bisa terjadi pada reservoir-reservoir yang baru,


tapi jarang dapat dipenuhi pada reservoir-reservoir yang telah lama atau tua.
2. Laju produksi disaat drawdown harus dipertahankan tetap selama
pengujian.
Laju

aliran

dianggap

tetap

dan

penurunan

tekanan

dasar

sumur

dimonitor secara kontinyu. Pada pengujian ini segala data komplesi harus
diketahui agar efek dan lamanya well bore storage dapat diperkirakan.
Keuntungan melakukan pengujian jenis ini adalah dapat
memperoleh
produksi minyak sewaktu pengujian (tidak seperti pada buidup test) dan
keuntungan

secara

teknis

adalah

kemungkinan

dapat

memperkirakan

volume reservoir. Sedangkan kelemahan yang utama adalah sukar sekali


mempertahankan laju aliran tetap selama pengujian berlangsung.

4.4.3. Rate Test


Pada

prinsipnya

mengukur

perubahan

pada kondisi sumur yang mengalir dengan

tekanan

rate

terhadap

waktu

yang bervariasi, perioda

penutupan sumur tidak dilakukan. Analisa tekanan pada rate test juga akan
menghasilkan tekanan statik reservoir, permeabilitas rrata-rata dan skin factor.
Pada dasarnya metoda
sumur,
dimana

karena

alasan

ini khusus untuk mengamati performance

ekonomis

tidak

mungkin

ditutup

atau

untuk

memberi kesempatan pada tekanan dasar sumur mencapai keseimbangannya


sebelum dilaksanakan Pressure Draw-down test.
4.4.3.1.
Test

Multiple Rate Flow


Multiple

rate

flow

test

adalah tes

pada

sebuah sumur

yang

dilakukan dengan laju aliran yang bervariasi.


Suatu multiple
berupa :

rate flow test dapat

a. Laju aliran
kontrol.

yang bervariasi tanpa

b. Sederetan laju aliran


besarnya.

yang masing

- masing

tetap

c. Laju aliran dengan perubahan yang kontinyu pada tekanan sumur yang
tetap.
Pengukuran laju aliran dan tekanan yang teliti merupakan sesuatu
hal yang penting untuk
test.

Pada multiple rate

berhasilnya analisa pada setiap

transient well

flow test, pengukuran laju aliran lebih kritis

dibandingkan dengan pengukuran pada test yang konvensional atau pada test
dengan laju aliran yang tetap, seperti drawdown dan buildup. Keuntungankeuntungan daripada multiple rate flow test adalah sebagai berikut :
1.
Dapat memberikan
berlangsung.
2.

data transient

test sementara produksi masih

Dapat mengurangi pengaruh perubahan-perubahan wellbore storage


dan segregasi fasa.

3.

Dapat memberikan hasil yang baik, sementara pengujian draw-down


dan build-up tidak dapat dilakukan.
Persamaan yang dikembangkan untuk multiple flow rate adalah

berasal dari persamaan aliran radial untuk infinite-acting dengan cairan yang

slightly compressible.
dapat dituliskan

Persamaan

aliran

untuk

infinite-acting

reservoir

sebagai berikut :

k
162,6.q..B

Pi

3,23 0,869.S
log t log
2
kh
..Ct .r
w
.

Piwf

(4-51)

= m q (log t + S)
Dimana :
m = 162,6 q B / k h (4-52)
dan
k

S = log
2 3,23
0,869.S
..Ct . rw
Gambar

4.30

berproduksi dengan

.(4-53)

merupakan

skematis

dari

suatu

sumur

yang

aliran yang berubah-ubah. Untuk penyelesaian persoalan

seperti ini tidak berarti bahwa

produksi sumur

tersebut tidak kontinyu.

Dalam hal ini laju aliran yang kontinyu dapat diperlakukan sebagai sederetan
dari selang laju aliran diskrit yang tetap pada setiap selangnya.

Pendekatan

ini akan semakin teliti dengan semakin kecil interval waktu produksi.

Jika

suatu multiple-rate test mempunyai N variable laju aliran (q1 , q2, ... qn ),
maka menggunakan prinsip superposisi,
persamaan dituliskan menjadi,
P

wf m'

q. n
Dimana,

(q q

j1

j1 log(t t

) b'
j1

m = 162,6 q B / k h

b = m log
3,23 0,869.S

. .C t . r2w

(4-54)

Gambar 4.30. Data Tekanan dan Produksi Multiple Rate Flow Test.

7)

4.4.3.2. Two Rate Flow Test


Two

rate

flow test adalah merupakan

multiple

rate flow

test

yang terdiri dari hanya dua harga laju aliran (flow rate) (Gambar 4.31). Test ini
dapat digunakan untuk menentukan permeabilitas (k) dan skin factor (S),
sementara sumurnya masih terus terproduksi.

Gambar 4.31. Skema Plot Data Two Rate Flow Test.

15)

Persamaan untuk two-rate flow test ini dapat diperoleh , untuk n = 2 :


162,6. q 2 . . B q 1
(q q 1 )
log. t 2
log(t t )
Pi Pwf Pi

kh
q2
q2
1
k

+ log
3,23 0,869.S
2
..C t . rw

(4-55)

Jika dituliskan t1 = tp1 dan t - tp1 = t, maka Persamaan menjadi,


. (4-56)
q
t t
P m 2 log. t p1
P
lo
wf

Dimana,

q1

m = 162,6 q B / k h

int

.. (4-57)

dan
q
k

P P m 2 log
3,23
2
0,869.S
int
i
q1
..C t . rw

(4-58)

Dalam test ini, laju aliran ke dua, q 2 , harus

benar-benar dijaga tetap

dan dalam penggunaan persamaan diasumsi bahwa q1

adalah laju aliran

yang tetap, sehingga t1 dapat dihitung dengan persamaan :


t 1 24

Vp
q1

.. (4-59)

Dimana
:
Vp = volume kumulatip yang diproduksi sejak awal q 1 .
4.5.
Reservoir

Analisa

Fluida

Beberapa sifat fisik fluida formasi (reservoir) yang penting dan


akan dibahas

di sini antara

lain

adalah

faktor

volume

formasi dan

viscositas fluida. Besaran-besaran fisik fluida formasi tersebut diperoleh


dengan cara melakukan analisa

contoh fluida formasi yang dilakukan di

laboratorium. Contoh fluida formasi yang akan dianalisa didapat dari hasil
DST atau diambil dengan alat bottom hole sample.
4.5.1.
(Bo)

Penentuan Faktor Volume Formasi


Contoh fluida formasi dalam bottom hole sample dipindahkan ke

bejana baja tahan karat yang berdinding tebal dan mampu menahan tekanan
tinggi. Bejana tersebut dikenal sebagai sel PVT (pressure volume temperature
cell). Volume PVT cell dapat diubah-ubah dengan cara menekan dan menarik
kembali air raksa (mercury) melalui tabung pemasukan (inlet tube) yang
terletak dibagian bawah dari PVT cell. Alat-alat pembantu yang terdiri dari
pompa air raksa yang berguna untuk memberi tekanan dan memasukkan/
mengeluarkan sejumlah air raksa dari cell, wet test meter atau alat pengukur gas
untuk menetukan volume gas dalam

larutan,

pemanas

suhu

tetap

untuk

mempertahankan suhu cell dan isinya agar sama dengan suhu di reservoir.
Dalam menentukan harga Rs dan Bo secara pembebasan
differensial,
maka PVT cell yang berisi air raksa dan jumlah fluida reservoir dicelupkan
ke dalam pemanas suhu tetap pada kondisi tekanan dan suhu reservoir
kemudian tekanan pada tekana bubble point. Setelah itu tekanan dikurangi
lagi dengan 200

psi dibawah tekanan buble point dengan cara mengevaluasi air raksa dari
cell dengan menggunakan pompa air raksa, PVT cell dan isinya dikocok agar
tercapai kesetimbangan kemudian volume sistem gas-minyak dicatat. Gas yang
terbentuk dikeluarkan melalui alat pengukur dan pada saat yang sama torak
pompa air raksa perlahan-lahan

ditekan

untuk

memperlihatkan

tetapnya

tekanan dalam cell. Bila gas telah dikeluarkan maka volume sisa minyak
dalam cell diukur dan dicatat volume gas yang keluar serta dikoreksi pada
keadaan standart. Tahap selanjutnya tekanan dikurangi lagi dengan 200 psi
dan proses

ini diulangi terus

menerus sampai tekanan dalam cell PVT

mencapai 1 atm. Kemudian cell dipindahkan dari pemanas suhu tetap dan
jumlah sisa minyak diukur volumenya serta dikoreksi.
Pada setiap tekanan tersebut Bo merupakan perbandingan antara
volume
minyak

pada

keadaan

reservoir

(tekanan

pengukuran)

dengan

volume

minya k pada keadaan tangki pengumpul, atau dapat ditulis sebagai berikut ini :
Bo = volume minyak dalam reservoir ,RB/STB(4-60)
volume minyak dipermukaan
Volume

minyak

dalam

reservoir

sesuai

dengan

dan

reservoir, sedangkan volume minyak dipermukaan (kondisi standart) yaitu P =


14,7 psi dan T = 60o F. Hasil analisa dari contoh fluida reservoir tersebut
disajikan dalam suatu bentuk
hubungan

antara

Gambar 4.32

tekanan

grafik,

adapun

grafiknya

merupakan

versus faktor volume formasi (P vs Bo) pada

Gambar 4.32. Hubungan Tekanan Res ervoir dengan Faktor Volume Formas i.

14)

Berikut ini adalah contoh penentuan faktor volume formasi (Bo)


dengan korelasi Standing :
Tentukan Bo pada tekanan titik gelembung dari suatu reservoir
dengan GOR = 350 SCF/STB, gravity gas = 0.75, stock tank gravity minyak =
350 o API dan temperatur reservoir = 200 o F.
Jawab :
Menggunakan Gambar 4.33, mulailah dengan sumbu kiri atas untuk
GOR
= 350, kemudian dibuat garis horizontal dari GOR = 350 memotong
garis gravitasi gas = 0.75, kemudian buat garis vertikal kebawah hingga
memotong garis gravitasi minyak = 30

API. Dari titik potong ini, dibuat

garis horizontal ke sebelah kanan sehingga memotong temperatur = 200


akhirnya

o F.

buatlah garis vertikal kebawah dari titik potong tersebut dan Bo

dibaca 1.22 RB/STB.

Gambar 4.33. Faktor Volume Formasi Cairan Hidrokarbon Jenuh.14)

4.5.2. Penentuan Kelarutan Gas dalam Minyak ( Rs )


Seperti

halnya

factor

volume

formasi

minyak

(Bo)

maka

penentuan kelarutan gas dalam minyak (Rs) juga tergantung pada cara
pembebasan gasnya,apakah

secara differensial

atau secara kilat ( flash

liberation).
Dengan

menggunakan alat,cara, serta prosedur yang sama


dengan

penentuan Bo, maka harga Rs didapat dengan menghitung jumlah standart


cubic feet gas yang terlarut dalam setiap barrel minyak tangki pengumpul
untuk setiap
tekanan pengukuran.Atau harga Rs dapat dituliskan sebagai berikut :
v olume gas dalam k ondisi s t an dart
...(4-61)
Rs volume min yak dalam kondisi s tan dart

Adapun grafik nya merupakan hubungan antara tekanan reservoir


versus
kelarutan gas dalam minyak (P vs Rs) pada Gambar 4.34.

Gambar 4.34 Grafik Hubungan kelarutan gas dengan tekanan reservoir. 14)

Berikut ini adalah contoh penentuan kelarutan gas dalam minyak


(Rs)
menggunakan korelasi Beal :
Tentukan kelarutan gas dalam minyak pada tekanan saturasi sebesar 800 psi
dan oil gravity minyak sebesar 35 o API.
Jawab :
Menggunakan Gambar 4.35 dari Sb-X pada tekanan 800 psi, buatlah
garis vertikal keatas sampai memotong kurva oil gravity sebesar 25

o API,

kemudian tarik garis horizontal kekiri sampai memotong Sb-Y, maka akan
didapat harga sebesar 170 SCF/STB.

Gambar 4.35. Kelarutan Gas sebagai fungsi dari Tekanan Saturasi dan Gravity Minyak. 14)

4.5.3. Penentuan Viskositas Fluida


Banyak
fluida formasi

cara yang dapat dilakukan untuk


di

laboratorium,

akan

tetapi hanya

menentukan viscositas
ada

beberapa

alat

yang sering digunakan untuk mengukur viscositas fluida pada tekanan dan
suhu yang relatif tinggi. Alat tersebut adalah Rolling Ball Viscometer.

Rolling Ball viscometer dapat digunakan untuk mengukur viscositas


gas maupun viscositas cairan pada kondisi tekanan dan temperatur yang sesuai
dengan kondisi reservoirnya. Alat ini terdiri dari tabung berbentuk silinder yang
dapat dimiringkan dengan sudut tertentu.
yang akan diukur
jatuh

viscositasnya,

Tabung ini diisi dengan cairan

kemudian

bola

dari logam dibiarkan

menggelinding kebawah melalui tabung tersebut. Dasar dari tabung

ditutup sehingga ketika bola bergerak ke bawah, maka cairan itu menyelip ke
atas melalui ruangan antara bola dan dinding tabung. Waktu jatuhnya bola
diukur dengan teliti. Kecepatan bola (V)
dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut :
D d ............................................................................................. (4-62)

V C
.

Dimana :
C

= konstanta yang tergantung pada ukuran alat

= berat jenis dari bola logam

= berat jenis cairan yang diukur

= viscositas cairan yang diukur


Bila dikehendaki viscositas relatif, maka alat ini harus

dikalibrasikan dengan viscositas cairan yang telah diketahui. Dalam hal ini
persamaan dapat
dinyatakan menjadi :

2 D d1 2.t............................................................................................. (4-63)

1 D d 2.t1
Dimana,
t

= waktu yang diperlukan untuk jatuh melalui jarak

tertentu d1
d2

= index untuk cairan standart

= index untuk cairan yang diukur

Gambar 4.36. Skema Dari Rolling Ball Viscosimeter Tekanan Tinggi

Untuk

pengukuran

viscositas

minyak

serta

gas

1)

yangterlarut

di

dalamnya pada suhu dan tekanan tinggi (kondisi reservoir), maka rollong
ball viscometer harus diatur.

Tabung alat ini dibuat dari baja

dengan

ukuran panjnag sekitar 8 inchi dan garis tengahnya sekitar inchi. Tabung
ini cocok dalam suatu lubang yang sedikit lebih besar dalam suatu silinder
bajayang berat dan mampumenahan tekanan tinggi, silinder tersebut diletakkan
diatas poros sehingga dapat berputar dengan sudut 330o poros ini dilengkapi
dengan penahan yang dapat menyebabkan lat
75o

itu

mempunyai

kemiringan

dari posisi horizontal. Contoh minyak dimasukan melalui inlet tube

kedalam ruangan yang melebar pada puncaknya. Ruangan ini memungkinkan


cairan digerakkan dengan baik yaitu dengan menggoyangkan

seluruh

alat

didalam pemanas suhu tetap sampai kesetimbangan antara gas dan minyak
terbentuk, selama proses ini bola ditahan diluar pipa (tabung)
yang dapat ditarik kembali melalui kepala tabung. Bila

oleh torak

kesetimbangan

telah

torak, kemudian torak

terbentuk
disekrup

bola

dibiarkan jatuh dengan menarik

pada puncak

tabung sehingga menutup

rapat ujung sebelah atas dan sekaligus menekan bagian ujung bagian bawah
ke dalam suatu selubung sekat (gasket) sehingga ujung bagian bawah dari
tabung juga tertutup
rapat.
Untuk melakukan penentuan viscositas, alat ini diputar 180 o sehingga
bola jatuh ke puncak alat. Kemudian alat diputar kembali dengan cepat ke arah
semula, setelah bola mencapai dasar lubang tabung maka terjadi kontak
listrik dengan elektroda, sehingga timbul suara isyarat , dengan demikian
maka waktu jatuhnya bola dapat diukur. Dengan mengulangi prosedur ini, untuk
cairan yang dapat diukurdapat
alat

ditentukan dengan persamaan

(3-64).

Bila

digunakan untuk mengukur viscositas gas maka perlu menggunkan bola

yang cocok dengan ukuran tubing. Pada keadaan seperti ini laju jatuhnya bola
cukup lambat, sehingga dapat diukur dengan teliti. Hasil analisis viscositas
dari fluida formasi ini biasanya disajikan dalam bentuk grafik hubungan
anatar viscositas minyak terhadap
tekanan (P vs ) pada Gambar 4.37.

Gambar 4.37. Grafik Hubungan antara Viscositas Minyak terhadap Tekanan. 14)

Berikut ini adalah contoh penentuan viscositas minyak dibawah


tekanan titik gelembung (o) dengan menggunakan korelasi Beal :

Tentukan viscositas minyak (o) dibawah tekanan titik gelembung (gas free
atau dead oil) dengan gravity minyak sebesar 40

o API

dan temperature

reservoir sebesar 190 o F.


Jawab :
Menggunakan Gambar 4.38 tarik garis vertikal ke atas pada Sb-X dengan
harga

crude-oil

gravity

sebesar

40

temperature reservoir yang berharga 190

o API
o F,

sampai

memotong

kurva

kemudian dari perpotongan

ini ditarik garis horizontal kekiri sampai memotong Sb-Y, maka perpotongan di
Sb-Y akan menunjukan harga dari viscositas minyak yang bebas dari gas (gas
free atau dead
oil) sebesar 0.9 cp.

Gambar 4.38. Viscositas Minyak Bebas Gas sebagai Fungsi dari Temperatur Reservoir dan
Stock Tank Gravity Minyak.

14)

4.5.4. Penentuan Kompresibilitas Fluida


Untuk mengukur besarnya kompresibilitas fluida reservoir,maka sell
PVT yang terisi oleh air raksa dan sejumlah fluida reservoir dicelupkan dalam
pemanas suhu tetap dalam kondisi dan tekanan reservoir. Volume minyak
pada kondisi ini dicatat sebagai V

demikian juga besarnya tekanan pada

keadaan ini dicatat P 1 .


kemudian tekanan tersebut dikurangi setiap harga tertentu .Pada keadaan
ini,
volume dan tekanan minyak dicatat masing-masing sebagai V 2 dan P 2 .
Sehingga kompresibilitas pada kondisi tekanan antara P 1 dan P 2 dapat
dinyatakan sebagai
berikut :
1 (V 1 V 2
x
Co = V ) (P
1
P2 )

..(4-64)

4.5.5. Penentuan Densitas Fluida


Densitas

minyak

atau berat jenis

dengan spesific gravity (SG).

minyak

umumnya

dinyatakan

Hubungan antara berat jenis dengan SG

didasarkan pada berat


jenis air dengan persamaan sebagai berikut :
SGmin ya k

BJ min ya k
a ir

......................................................................................... (4-65)

BJ
Sedangkan alat yang digunakan untuk menentukan densitas minyak
adalah
Hydrometer dan untuk densitas gas digunakan metode Effusiometer.
Penentuan berat jenis minyak dengan hydrometer dapat ditunjukkan
secara langsung pada pembacaan alat. Untuk temperatur yang lebih tinggi
dari 60 F perlu dilakukan koreksi dengan menggunakan chart yang ada.
Kualitas dari minyak baik minyak berat maupun minyak ringan ditentukan salah
satunya dari gravitynya, sedangkan temperatur dapat mempengaruhi viscositas
atau kekentalan minyak tersebut. Hal ini menjadikan perlunya koreksi terhadap
temperatur standar
60 F.

Dalam dunia perminyakan, SG minyak sering dinyatakan dalam


satuan
API, hubungan Sg minyak dengan API dapat dirumuskan sebagai berikut :


API

141,5
SG

131,5 ...................................................................................... (466)

Semakin kecil harga SG minyak berarti semakin besar harga


API

gravitynya, maka harga minyak tersebut akan semakin mahal.