Anda di halaman 1dari 23

Another Coroners

Beranda
Lihat versi web
Tetep Lukman Coroners
Persepsi dan Pembuatan
Keputusan Individual
Oleh Ratna Dewi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap orang mempunyai pengertian akan suatu
peristiwa atau masalah yang terjadi pada dirinya
atau pengalaman. Pengertian ini akan berbeda
pada setiap individu walaupun melihat hal yang
sama.
Salah satu contoh yang terjadi pada perstiwa 11
September 2001, kehidupan masyarakat Amerika
sebagian besar berubah. Perubahan ini
disebabkan oleh berbagai stereotip yang dimiliki
oleh masyarakat Amerika tentang orang-orang
Muslim.
Serangan teroris 11 September juga menyadarkan
berjuta-juta orang Muslim yang hidup di Amerika
tentang kekuatan yang menyakitkan dari stereotip.
Stereotip yang ada ini merupakan bagian dari
persepsi dan membentuk berbagai penilaian yang
kita buat tentang individu lain. Persepsi yang

timbul dalam masyarakat dapat berhubungan


dengan pembuatan keputusan pada individuindividu.
Menurut Stephen P. Robbins persepsi (perception)
adalah proses di mana individu mengatur dan
menginterprestasikan kesan-kesan sensoris
mereka guna memberikan arti bagi lingkungan
mereka. Riset tentang persepsi secara konsisten
menunjukkan bahwa individu yang berbeda dapat
melihat hal yang sama tetapi memahaminya
secara berbeda. Kenyataannya adalah bahwa tak
seorang pun dari kita melihat realitas. Yang kita
lakukan adalah menginterprestasikan apa yang
kita lihat dan menyebutnya sebagai realitas.
Akibat dari serangan yang terjadi di Amerika, pada
umumnya masyarakat USA mempunyai persepsi
bahwa orang Muslim identik dengan teroris.
Karena masyarakat Amerika menginterprestasikan
apa yang dilihatnya pada saat itu. Tetapi saat ini
ada beberapa masyarakat yang mempunyai
persepsi bahwa tidak semua orang Muslim adalah
teroris.
B. Pembatasan Masalah
Penulisan makalah sederhana ini hanya dibatasi
berkaitan dengan Persepsi dan Pembuatan
Keputusan Individual.
C. Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini memiliki tujuan sebagai

berikut :
1. Sebagai pemenuhan tugas Mata Kuliah Perilaku
Organisasi
2. Sebagai bahan bacaan dan referensi tambahan
bagi pihak-pihak yang membutuhkan untuk
berbagai keperluan.
D. Metode Penulisan
Dalam proses penyusunan makalah ini kami
menggunakan pendekatan motode studi literature.
Yaitu dengan melakukan proses pencarian dan
pengumpulan dokumen sebagai sumber-sumber
data dan informasi. Metode ini dipilih karena pada
hakekatnya sesuai dengan kegiatan penyusunan
dan penulisan yang hendak dilakukan.
E. Sistematika Penulisan
Bab I Pendahuluan. Dalam bagian ini penyusun
memaparkan beberapa Pokok permasalahan awal
yang berhubungan erat dengan permasalah
utama. Pada bagian pendahuluan ini di paparkan
tentang latar belakang masalah batasan, dan
rumusan masalah, tujuan penulisan makalah,
metode penulisan dan sistematika penulisan
makalah.
Bab II Pembahasan Persepsi dan Pembuatan
Keputusan Individual . Pada bagian ini merupakan
bagian utama yang hendak dikaji dalam proses
penyusunan makalah. Penyusun berusaha untuk
mendeskripsikan berbagai temuan yang berhasil

ditemukan dari hasil pencarian sumber/bahan.


Bab III Kesimpulan. Pada bagian ini penyusun
berusaha untuk mengemukakan terhadap semua
permasalahan-permasalahan yang dikemukakan
oleh penyusun dalam perumusan masalah.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Persepsi
Persepsi adalah suatu proses yang ditempuh
individu-individu untuk mengorganisasikan dan
menafsirkan kesan indera mereka agar memberi
makna kepada lingkungan. Namun apa yang
merupakan persepsi seseorang dapat berbeda dari
kenyataan yang objektif. Karena perilaku orang
didasarkan pada persepsi mereka akan realitas,
dan bukan pada realitas itu sendiri, maka persepsi
sangat penting pula dipelajari dalam perilaku
organisasi.
Persepsi menurut Robbins adalah suatu proses
yang ditempuh oleh setiap individu untuk
mengorganisasikan dan menafsirkan kesan indera
mereka agar memberi makna kepada lingkungan
mereka.
Menurut Manahan, persepsi adalah gambaran
seseorang tentang sesuatu obyek yang menjadi
fokus permasalahan yang sedang dihadapi.
Ada 3 (tiga) faktor yang mempengaruhi persepsi,
yaitu :

1. Pelaku persepsi : penafsiran seorang individu


pada suatu objek yang dilihatnya akan sangat
dipengaruhi oleh karakteristik pribadinya sendiri,
diantaranya sikap, motif, kepentingan atau minat,
pengalaman masa lalu, dan pengharapan.
Kebutuhan atau motif yang tidak dipuaskan akan
merangsang individu dan mempunyai pengaruh
yang kuat pada persepsi mereka.
2. Target : Gerakan, bunyi, ukuran, dan atributatribut lain dari target akan membentuk cara kita
memandangnya. Misalnya saja suatu gambar
dapat dilihat dari berbagai sudut pandang oleh
orang yang berbeda. Selain itu, objek yang
berdekatan akan dipersepsikan secara bersamasama pula.
3. Situasi : Situasi juga berpengaruh bagi
persepsi kita. Misalnya saja, seorang wanita yang
berparas lumayan mungkin tidak akan terlalu
terlihat oleh laki-laki bila ia berada di mall,
namun jika ia berada dipasar, kemungkinannya
sangat besar bahwa para lelaki akan
memandangnya.
Dari pendapat di atas yang dimaksud dengan
persepsi adalah proses gambaran yang ada pada
individu untuk mengorganisasikan dan
menafsirkan kesan yang diterima oleh indera
sehingga memberikan makna kepada lingkungan.
Ketika seorang individu melihat suatu sasaran

atau mengobservasi dan berusaha


menginterprestasikan apa yang ia lihat,
interprestasi itu sangat dipengaruhi oleh
karakteristik dari pribadi individu yang melihat.
Karakteristik pribadi yang mempengaruhi persepsi
terdiri dari sikap, kepribadian, motif, kepentingan,
pengalaman masa lalu, dan harapan.
2. Beberapa Isu Mengenai Persepsi Orang
o Teori persepsi; persepsi yang diberikan
terhadap orang akan berbeda dengan persepsi
terhadap objek mati, terdapat beberapa teori yang
dikemukakan oleh para ahli berkaitan dengan cara
membuat penilaian mengenai orang lain atau
persepsi orang adalah teori atribusi : teori yang
mengarahkan bagaimana kita mengamati perilaku
individu dan mencoba menentukan apakah
masalah tersebut ditimbulkan secara internal atau
eksternal
o Teori Atribusi menurut Manahan adalah proses
pembentukan persepsi dimulai dengan jalan
obsevasi tentang sesuatu obyek atau subyek,
yang kemudian diinterpretasikan menjadi persepsi
dengna melengkapi gambaran-gambaran
penyebab dan yang akan mengakibatkan sesuai
akan terjadi secara berlanjut.
Sedangkan menurut Robbins adalah pada
dasarnya mengungkapkan bahwa bila individu
mengamati perilaku, mereka mencoba

menentukan apakah itu disebabkan faktor internal


atau eksternal. Misalnya saja persepsi kita
terhadap orang akan dipengaruhi oleh penyebabpenyebab internal karena sebagai manusia mereka
mempunyai keyakinan, maksud, dan motof-motif
didalam dirinya. Namun persepsi kita terhadap
benda mati seperti gedung, api, air, dan lain
sebagainya, akan berbeda karena mereka adalah
benda mati yang memiliki hukum alamnya sendiri
(eksternal). Penentuan apakah perilaku itu
merupakan penyebab eksternal atau internal
bergantung pada tiga faktor :
- Kekhususan : apakah seorang individu
memperlihatkan perilaku yang berlainan dalam
situasi yang berlainan.
- Konsensus : yaitu jika setiap orang yang
menghadapi situasi serupa bereaksi dengan cara
yang sama.
- Konsistensi : apakah seseorang memberikan
reaksi yang sama dari waktu ke waktu.
Salah satu penemuan yang menarik dari teori ini
adalah bahwa ada kekeliruan atau prasangka
(bias, sikap berat sebelah) yang menyimpangkan
atau memutar balik atribusi. Bukti mengemukakan
bahwa kita cenderung meremehkan pengaruh
faktor dari luar dan melebih-lebihkan pengaruh
faktor internal. Misalnya saja, penurunan
penjualan seorang salesman akan lebih dinilai

sebagai akibat dari kemalasannya daripada akibat


kalah saing dari produk pesaing.
Ada beberapa teknik dalam menilai orang yang
memungkinkan kita membuat persepsi yang lebih
akurat dengan cepat dan memberikan data yang
valid (sahih) untuk membuat ramalan. Namun
teknik-teknik ini akan menceburkan kita dalam
kesulitankarena tidak foolproof. Karena itu,
pemahaman akan jalan pintas ini dapat membantu
kita mewaspadai bila teknik-teknik ini
menghasilkan distorsi.
Persepsi selektif : orang-orang secara selektif
menafsirkan apa yang mereka saksikan
berdasarkan pengalaman, latar belakang,
kepentingan, dan sikap. Hal ini dikarenakan kita
tidak dapat mengamati semua yang berlangsung
disekitar kita.
Efek halo : yaitu menarik eksan umum mengenai
seorang individu berdasarkan suatu karakteristik
tunggal.
Efek kontras : yaitu evaluasi atas karakteristikkarakteristik seseorang yang dipengaruhi oleh
pembandingan-pembandingan dengan orang lain
yang baru saja dijumpai yang berperingkat lebih
tinggi atau lebih rendah pada karakteristik yang
sama.
Proyeksi : Yaitu menghubungkan karakteristik
kita sendiri ke orang lain. Misalnya saja orang

yang bekerja dengan cepat dan ulet akan


menganggap orang lain sama dengannya.
Berstereotipe : yaitu menilai seseorang
bedasarkan persepsi seorang terhadap kelompok
seseorang itu. Misalnya kita menilai bahwa orang
yang gemuk malas, maka kita akan
mempersepsikan semua orang gemuk secara
sama. Generalisasi seperti ini dapat
menyerdehanakan dunia yang rumit ini dan
memungkinkan kita mempertahankan konsistensi,
namun sangat mungkin juga bahwa stereotipe itu
tidak mengandung kebenaran ataupun tidak
relevan.
3. Penerapan Khusus dalam Organisasi
Penilaian memiliki banyak konsekuensi bagi
organisasi. Didalamnya orang-orang selalu saling
menilai. Berikut ini adalah beberapa penerapannya
yang lebih jelas :
1. Wawancara karyawan : bukti menunjukkan
bahwa wawancara sering membuat penilaian
perseptual yang tidak akurat. Pewawancara yang
berlainan akan melihat hal-hal yang berlainan
dalam diri seorang calon yang sama. Jika
wawancara merupakan suatu masukan yang
penting dalam keputusan mempekerjakan,
perusahaan harus mengenali bahwa faktor-faktor
perseptual mempengaruhi siapa yang dipekerjakan
dan akhirnya mempengaruhi kualitas dari

angkatan kerja suatu organisasi.


2. Pengharapan kinerja : Bukti menunjukkan
bahwa orang akan berupaya untuk mensahihkan
persepsi mereka mengenai realitas, bahkan jika
persepsi tersebut keliru. Pengharapan kita
mengenai seseorang/sekelompok orang akan
menentukan perilaku kita. Misalnya manager
memperkirakan orang akan berkinerja minimal,
mereka akan cenderung berperilaku demikian
untuk memenuhi ekspektasi rendah ini.
3. Evaluasi kinerja : penilaian kinerja seorang
karyawan sangat bergantung pada proses
perseptual. Walaupun penilaian ini bisa objektif,
namun banyak yang dievaluasi secara subjektif.
Ukuran subjektif adalah berdasarkan
pertimbangan, yaitu penilai membentuk suatu
kesan umum mengenai karyawan. Semua
persepsi dari penilai akan mempengaruhi hasil
penilaian tersebut.
4. Upaya karyawan : Dalam banyak organisasi,
tingkat upaya seorang karyawan dinilai sangat
penting, jadi bukan hanya kinerja saja. Namun
penilaian terhadap upaya ini sering merupakan
suatu pertimbangan subjektif yang rawan terhadap
distorsi-distorsi dan prasangka (bias) perseptual.
5. Kesetiaan karyawan : pertimbangan lain yang
sering dilakukan manager terhadap karyawan
adalah apakah karyawan tersebut setia atau tidak

kepada organisasi. Sayangnya, banyak dari


penilaian kesetiaan tersebut bersifat
pertimbangan. Misalnya saja individu yang
melaporkan tindakan tak etis dari atasan dapat
dilihat sebagai bertindak demi kesetiaan kepada
organisasi ataupun sebagai pengacau.
4. Hubungan antara Persepsi dan Pengambilan
Keputusan Individual
Pengambilan kuputusan individual, baik ditingkat
bawah maupun atas, merupakan suatu bagian
yang penting dari perilaku organisasi. Tetapi
bagaimana individu dalam organisasi mengambil
keputusan dan kualitas dari pilihan mereka
sebagian besar dipengaruhi oleh persepsi mereka.
Pengambilan keputusan terjadi sebagai suatu
reaksi terhadap suatu masalah. Terdapat suatu
penyimpangan antara suatu keadaan dewasa ini
dan sesuatu keadaan yang diinginkan, yang
menuntut pertimbangan arah tindakan alternatif.
Misalnya, seorang manager suatu divisi menilai
penurunan penjualan sebesar 2% sangat tidak
memuaskan, namun didivisi lain penurunan
sebesar itu dianggap memuaskan oelh
managernya.
Perlu diperhatikan bahwa setiap keputusan
menuntut penafsiran dan evaluasi terhadap
informasi. Karena itu, data yang diterima perlu
disaring, diproses, dan ditafsirkan. Misalnya, data

mana yang relevan dengan pengambilan


keputusan. Persepsi dari pengambil keputusan
akan ikut menentukan hal tersebut, yang akan
mempunyai hubungan yang besar pada hasil
akhirnya.
Dalam kenyataannya pengambilan keputusan yang
dilakukan oleh seseorang tidak sistematis seperti
proses yang dikemukakan sebelumnya. Keputusan
individu dalam organisasi biasanya dilakukan
untuk permasalahan-permasalahan yang tidak
kompleks. Dalam pengambilan suatu keputusan
individu dipengaruhi oleh empat faktor utama
yaitu nilai individu, kepribadian, kecenderungan
dalam pengambilan resiko dan kemungkinan
ketidakcocokan.
Persepsi merupakan fungsi penting bagi individu
dalam membuat keputusan (decission making)
karena persepsi mejadi landasan bagi individu
untuk meyusun identifikasi, analisa, serta
menyimpulkan suatu objek atau subjek yang
dipersepsikan.
5. Proses Pengambilan Keputusan Rasional
Pengambil keputusan harus membuat pilihan
memaksimalkan nilai yang konsisten dalam
batas-batas tertentu. Ada enam langkah dalam
model pengambilan keputusan yang rasional,
yaitu : menetapkan masalah, mengidentifikasi
kriteria keputusan, mengalokasikan bobot pada

kriteria, mengembangkan alternatif, mengevaluasi


alternatif, dan memilih alternatif terbaik.
Model pengambilan keputusan yang rasional
diatas mengandung sejumlah asumsi, yaitu :
Kejelasan masalah : pengambil keputusan
memiliki informasi lengkap sehubungan dengan
situasi keputusan.
Pilihan-pilihan diketahui : pengambil keputusan
dapat mengidentifikasi semua kriteria yang
relevan dan dapat mendaftarkan semua alternatif
yang dilihat.
Pilihan yang jelas : kriteria dan alternatif dapat
diperingkatkan sesuai pentingnya.
Pilihan yang konstan : kriteria keputusan konstan
dan beban yang ditugaskan pada mereka stabil
sepanjang waktu.
Tidak ada batasan waktu dan biaya : sehingga
informasi lengkap dapat diperoleh tentang kriteria
dan alternatif.
Pelunasan maksimum : alternatif yang dirasakan
paling tinggi akan dipilih.
6. Meningkatkan Kreativitas dalam Pengambilan
Keputusan
Dengan adanya kreativitas pengambil keputusan
dapat memproduksi gagasan-gagasan baru yang
bermanfaat. Selain itu, juga memungkinkan untuk
lebih menghargai dan memahami masalah,
termasuk masalah yang tidak dapat dilihat orang

lain.
1. Potensial kreatif : yaitu potensi yang dimiliki
kebanyakan orang, namun untuk
mengeluarkannya orang harus keluar dari
kebiasaan psikologis yang kebanyakan dari kita
terlibat didalamnya dan belajar bagaimana berpikir
tentang satu masalah dengan cara yang berlainan.
2. Model kreativitas tiga komponen : suatu badan
riset menunjukkan bahwa kreativitas individual
pada hakikatnya menuntut keahlian, ketrampilan
berpikir kreatif, dan motivasi tugas intrinsik.
Semakin tinggi tingkat dari masing-masing
komponen ini, maka semakin tinggi pula
kreativitas seseorang.
Dalam suatu organisasi mengambil keputusan
merupakan solusi dari suatu masalah yang
disepakati bersama dan sesuai dengan tujuan dari
oragansasi itu sendiri. Kebanyakan keputusan
dalam organisasi biasanya diambil seperti
dibawah ini :
1. Rasionalitas terbatas : para individu mengambil
keputusan dengan merancang bangun modelmodel yang disederhanakan yang menyuling ciriciri hakiki dari masalah tanpa menangkap semua
kerumitannya. Bila berhadapan pada masalah
yang kompleks, kebanyakan orang menanggapi
dengan mengurangi masalah pada level amna
masalah itu dapat dipahami. Ini disebabkan

karena kemampuan manusia mengolah informasi


terbatas, membuatnya tidak mungkin
mengasimilasi dan memahami semua informasi
yang perlu untuk optimisasi. Dengan demikian,
mereka mencari pemecahan yang memuaskan.
2, Intuisi : penggunaan intuisi untuk mengambil
keputusan tidak lagi diangap tak rasional atau tak
efektif. Ada pengakuan yang makin berkembang
bahwa analisis rasional terlalu ditekankan dan
bahwa dalam kasus-kasus tertentu mengandalkan
pada intuisi dapat memperbaiki pengambilan
keputusan. Namun perlu dilihat bahwa definisi
intuitif dari para ahli adalah suatu proses tak
sadar yang diciptakan dari dalam pengalaman
yang tersaring. Intuisi ini juga saling melengkapi
dengan analisi rasional. Ada 8 kondisi dimana
orang paling mungkin menggunakan intuisi
didalam pengambilan keputusan, yaitu : bila ada
ketakpastian dalam tingkat yang tinggi, bila hanya
sedikit preseden untuk diikuti, bila variabelvariabel kurang dapat diramalkan secara ilmiah,
bila fakta terbatas, bila fakta tidak menunjukkan
dengan jelas jalan utnuk dituruti, bila data analitis
kurang berguna, bila ada beberapa penyelesaian
alternatif untuk dipilih dengan argumen yang baik,
dan bila waktu terbatas dan ada tekanan untuk
segera diambil keputusan yang tepat.
3. Identifikasi masalah : masalah yang tampak

cenderung memiliki probabilitas terpilih lebih


tinggi dibanding masalah-masalah yang penting.
Ada dua alasan atas hal tersebut : mudah untuk
mengenal masalah-masalah yang tampak, dan
karena kita prihatin dengan pengambilan
keputusan dalam organisasi sehingga para
pengambil keputusan ingin tampil kompeten dan
berada pada puncak masalah.
4. Pengembangan alternatif : bukti menunjukkan
bahwa pengambilan keputusan adalah
inkremental, bukan komprehensif. Artinya
pengambil keputusan mengindari tugas-tugas
sulit yang mempertimbangkan semua faktor
penting, menimbang relatif untung dan ruginya,
serta mengkalkulasi nilai untuk masing-masing
alternatif. Sebagai gantinya, mereka membuat
suatu perbandingan terbatas yang bersifat
suksesif. Akibatnya pilihan keputusanpun
disederhanakan dengan hanya membandingkan
alternatif-alternatif yang berbeda dalam tingkat
yang relatif kecil dari pilihan terbaru.
5. Membuat pilihan : untuk menghindari
keputusan yang terlalu sarat, para pengambil
keputusan mengandalkan heuristik atau jalan
pintas penilaian dalam pengambilan keputusan.
Ada dua kategori umum heuristik dan satu bias
lainnya, yaitu :
1. Heuristik ketersediaan : kecenderungan pada

orang untuk mendasarkan penilaian pada


informasi yang sudah ada ditangan mereka. Ini
menjelaskan mengapa para manager lebih
mempertimbangkan kinerja terakhir karyawan
daripada kinerjanya setengah tahun yang lalu.
Sama halnya dengan pikiran orang bahwa naik
pesawat lebih berbahaya daripada mobil.
2. Heuristik representatif : menilai kemungkinan
dari suatu kejadian dengan menarik analogi dan
melihat situasi identik dimana sebenarnya tidak
identik. Contohnya adalah manager yang sering
menghubungkan keberhasilan suatu produk baru
dengan keberhasilan produk sebelumnya, anakanak yang menonton film Superman dan merasa
dirinya seperti Superman, dan lain sebagainya.
3. Peningkatan komitmen : suatu peningkatan
komitmen pada keputusan sebelumnya meskipun
ada informasi negatif. Individu meningkatkan
komitmen terhadap suatu arah tindakan yang
gagal ketika mereka memandang diri mereka
sebagai orang yang bertanggung jawab atas
kegagalan tersebut, dengan tujuan untuk
memperlihatkan bahwa keputusan awal mereka
tidak keliru dan menghindari keharusan untuk
mengakui kekeliruan itu. Banyak organisasi
menderita kerugian karena seorang manager
bertekad membuktikan bahwa keputusan awalnya
benar dengan terus mengorbankan sumber daya

kepada apa yang merupakan kerugian sejak awal.


7. Perbedaan individual-gaya pengambilan
keputusan
Dari hasil riset mengidentikasikan empat
pendekatan individual yang berbeda dalam
pengambilan keputusan, yaitu :
- Analitis : memiliki toleransi jauh lebih besar
terhadap ambiguitas, cermat, mampu
menyesuaikan diri dengan situasi baru.
- Direktif : memiliki toleransi rendah atas
ambiguitas, mencari rasionalitas, efisien, logis,
mengambil keputusan cepat, dan berorientasi
jangka pendek.
- Konseptual : berpandangan sangat luas,
mempertimbangkan banyak alternatif, orientasi
jangka panjang, dan anagt baik untuk menemukan
solusi yang kreatif.
- Perilaku : bisa bekerja baik dengan yang lain,
memperhatikan kinerja rekan kerja dan usulanusulan mereka, mengandalkan pertemuan untuk
berkomunikasi, mencoba menghindari konflik, dan
mengupayakan penerimaan.
8. Hambatan dari organisasi
Hambatan dari organisas mengakibatkan para
manager akan membentuk keputusan sesuai
dibawah ini :
- Evaluasi kinerja : manager dipengaruhi oleh
kriteria yang mereka gunakan untuk

mengevaluasi. Mereka akan bertindak sesuai apa


yang dijadikan penilaian/tolok ukur.
- Sistem imbalan : yaitu dengan mengemukakan
kepada karyawan pilihan apa yang lebih disukai
terhadap upah. Umumnya organisasi membuat
peraturan formal untuk membakukan perilaku
anggotanya. Dengan memprogramkan keputusan,
organisasi mampu membuat individu mencapai
level kinerja tinggi, namun membatasi pilihan
pengambilan keputusan.
- Pembatasan waktu yang menentukan sistem :
batas waktu yang eksplisit dalam pengambilan
keputusan menciptakan tekanan waktu pada
pengambil keputusan dan sering mempersulit
untuk mengumpulkan semua informasi yang ingin
merka dapatkan.
- Reseden historis : keputusan yang diambil
dimasa lalu akan terus membayangi keputusan
saat ini.
9. Perbedaan budaya
Latar belakang budaya dari pengambil keputusan
dapat mempengaruhi seleksi masalah, kedalaman
analisis, arti penting yang ditempatkan pada
logika dan rasionalitas, atau apakah keputusan
organisasional hendaknya diambil secara otokratis
atau secara kolektif.
Menurut Robbins lebih lanjut mengemukakan
kultur berbeda-beda berdasarkan orientasi waktu,

kepentingan rasionalitas, keyakinan terhadap


kemampuan individu untuk menyelesaikan
masalah, dan pilihan untuk membuat keputusan
kolektif.
Bagian terakhir adalah mengenai keetisan dalam
pengambilan keputusan. Ada tiga kriteria
keputusan yang etis, yaitu : kriteria utilitarian
(dimana keputusan diambil semata-mata atas
dasar hasil/konsekuensi mereka), menekankan
pada hak dasar individu sesuai dengan Piagam
Hak Asasi, dan menekankan pada keadilan.
Kepedulian yang meningkat dalam masyarakat
mengenai hak individu dan keadilan sosial
menyarankan perlunya bagi manager untuk
mengembangkan standar-standar etika yang
didasarkan pada kriteria non-utiliter. Tentu saja
ini adalah sebuah tantangan yang besar bagi
manager, karena dengan demikian akan
melibatkan jauh lebih banyak ambiguitas. Ini
membantu menjelaskan mengapa para manager
makin banyak dikritik karena tindakantindakannya. Kini, keputusan seperti menaikkan
harga, menutup pabrik, memberhentikan karyawan
secara massal, memindahkan produksi keluar
negeri untuk mengurangi biaya, hanya dapat
dibenarkan dalam makna utiliter, sedangkan
keputusan tidak dapat lagi dinilai hanya dari
kriteria tunggal tersebut.

BAB III
KESIMPULAN
Persepsi adalah suatu proses yang ditempuh oleh
setiap individu untuk mengorganisasikan dan
menafsirkan kesan indera mereka agar memberi
makna kepada lingkungan mereka.
Ketika seorang individu melihat suatu sasaran dan
berusaha menginterprestasikan apa yang ia lihat,
interprestasi itu sangat dipengaruhi oleh
karakteristik dari pribadi individu yang melihat.
Karakteristik pribadi yang mempengaruhi persepsi
terdiri dari sikap, kepribadian, motif, kepentingan,
pengalaman masa lalu, dan harapan.
Teori persepsi; persepsi yang diberikan terhadap
orang akan berbeda dengan persepsi terhadap
objek mati, terdapat beberapa teori yang
dikemukakan oleh para ahli berkaitan dengan cara
membuat penilaian mengenai orang lain atau
persepsi orang adalah teori atribusi : teori yang
mengarahkan bagaimana kita mengamati perilaku
individu dan mencoba menentukan apakah
masalah tersebut ditimbulkan secara internal atau
eksternal.
Salah satu penemuan yang menarik dari teori ini
adalah bahwa ada kekeliruan atau prasangka
(bias, sikap berat sebelah) yang menyimpangkan
atau memutar balik atribusi. Bukti mengemukakan
bahwa kita cenderung meremehkan pengaruh

faktor dari luar dan melebih-lebihkan pengaruh


faktor internal. Misalnya saja, penurunan
penjualan seorang salesman akan lebih dinilai
sebagai akibat dari kemalasannya daripada akibat
kalah saing dari produk pesaing.
Ada beberapa teknik dalam menilai orang yang
memungkinkan kita membuat persepsi yang lebih
akurat dengan cepat dan memberikan data yang
valid (sahih) untuk membuat ramalan. Namun
teknik-teknik ini akan menceburkan kita dalam
kesulitankarena tidak foolproof. Karena itu,
pemahaman akan jalan pintas ini dapat membantu
kita mewaspadai bila teknik-teknik ini
menghasilkan distorsi.
Pengambilan kuputusan individual, baik ditingkat
bawah maupun atas, merupakan suatu bagian
yang penting dari perilaku organisasi. Tetapi
bagaimana individu dalam organisasi mengambil
keputusan dan kualitas dari pilihan mereka
sebagian besar dipengaruhi oleh persepsi mereka.
Dari hasil riset setiap indivdu berbeda dalam
mengambil keputusan melalui pendekatan yaitu;
analitis, direktif, konseptual dan perilaku.
Selain dari empat pendekatan tersebut, terdapat
juga latar belakang budaya yang mempengaruhi
persepsi individu dalam membuat keputusan.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
1. blog.indonesia.com/

blog_archieve_12920_9.htmlyo
2. C. M. Judd dan B. Park. Definition and
Assessment of Accuracy in Social Stereotypes,
Psycological Review, Januar 1993.
3. http.//filsafatkita.fzg.net/
4. http;//search.localcolorart.com/search/
encyclopeda/List_of_terors_incidents/.
5. J. S. Bruner dan R. Tagiuri. The Perception of
People. in E. Lindzey (ed.) Addison-Wesley. 1954
6. kuliahpsikologi.dekrzky.com/teori_atribusi
7. Robbins. Stephen P. Prinsip-prinsip Perilaku
Organisasi, Penerbit; Erlangga, Jakarta. 2002
8. Robbns. Stephen P. and Judge. Timothy A.
Perilaku Organisasi. Buku I. Penerbit; Salemba
Empat, Jakarta, 2009
9. Suryabrata. S. Psikologi Pendidikan. Penerbit;
RajaGrafindo Persada. Jakarta.2005
10.Theme:Blix by Sebastian Schmieg.blog at
WordPress.com. Faktor Individu dalam
Pengambilan Keputusan.
11.Tampubolon. Manahan P. Perilaku
Keorganisasian (Organization Behavior) Perspektif
Organisasi Bisnis. Edisi Kedua.Penerbit; Ghalia
Indonesia, Bogor.2008.