Anda di halaman 1dari 29

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN EQUITY ANALYSIS

AND VALUATION
PT. UNILEVER INDONESIA Tbk
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Analisa Laporan Keuangan yang di bina oleh
Rilya Aryancana, SE,M.Sc,Ak dan Fury Khristianty Fitriyah, SE.,M.Ak.,Ak

Disusun Oleh:
Batari Chaga Tsania 120110120068
Sonya Hutapea 120110120168
Vanesha Anzani 120110120184

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PADJADJARAN
TAHUN AJARAN 2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat Rahmat dan Karunia-Nya
penulis dapat menyelesaikan makalah berjudul Analisis Laporan Keuangan Equity
Analysis and Valuation PT. Unilever Indonesia, Tbk. Makalah ini disusun untuk pemenuhan
tugas makalah dan presentasi mata kuliah Analisa Laporan Keuangan.

Penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada :


1. Tuhan Yang Maha Esa
2. Rilya Aryancana, SE,M.Sc,Ak dan Fury Khristianty Fitriyah, SE.,M.Ak.,Ak selaku dosen
Analisa Laporan Keuangan.

Penulis berharap makalah ini dapat berguna dikemudian hari. Penulis memohon maaf
bila terdapat kekurangan karena keterbatasan kemampuan penulis dan data yang didapatkan.
Penulis mengharapkan kritikan dan saran yang membangun.

Penulis

5 Juni 2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Laporan keuangan merupakan alat penting untuk memperoleh informasi sehubungan
dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah diperoleh oleh perusahaan. Laporan
keuangan ini sangat diperlukan untuk melakukan penilaian terhadap perusahaan.
Penilaian perusahaan merupakan tujuan penting bagi banyak pengguna laporan keuangan.
Estimasi nilai yang dapat diandalkan dapat digunakan untuk

membuat keputusan

beli/jual/tahan yang terkait dengan efek, menghitung nilai perusahaan untuk keputusan
kredit, estimasi nilai untuk penggabungan usaha, menentukan harga penawaran saham
perusahaan kepada publik, dan berbagai aplikasi bermanfaat lainnya.
Penilaian perusahaan yang dilakukan disini terkait dengan laba yang dihasilkan
perusahaan. Masalah angka laba yang semu saat ini bukanlah akuntansi akrual. Investor,
analis, dan manajer uang semakin sulit menebak pertimbangan yang diambil oleh
perusahaan sehingga akrual atau estimasi tersebut dibuat. Skandal Enron, WorldCom,
Adelphia Communications dan beberapa perusahaan lainnya merupakan peringatan keras
bahwa investor dapat kehilangan miliaran dolar jika tidak memperhatikan bagaimana cara
perusahaan mendapatkan labanya. ( Business week, 2004 ).
Keinginan perusahaan untuk mendefinisi ulang laba dan menerapkan interprestasi
standar akuntansi yang agresif berawal dari mekanisme penilaian harga saham. Proses ini
melibatkan proyeksi laba atau arus kas dimasa depan, kemudian mendiskontokannya saat ini
untuk mendapatkan harga. Agar angka tersebut brmakna, proyeksi harus fokus hanya pada
bagian laba yang kemungkinan akan bertahan dimasa depan. Semakin tinggi laba, semakin
tinggi harga sahamnya. Itulah penyebab perusahaan menawarkan beragam definisi laba
proforma dan mengelola GAAP untuk menggambarkan usahanya seuntung mungkin. Saat
ini, tanggung jawab untuk mengetahui tingkat persisten laba yang sebenarnya ada ditangan
investor
Persisten laba secara luas mencakup stabilitas, prediksi, keragaman, dan tren laba.
Analisis penilaian ekuitas menekankan laba dan pengukuran akuntansi lain untuk menghitung
nilai perusahaan. Peramalan laba memperhitungkan kekuatan laba, teknik estimasi, dan
mekanisme pengawasan.

BAB II
LANDASAN TEORI
I

PERSISTENSI LABA
Analisis ini membantu menghasilkan ramalan kekuatan laba untuk penilaian yang
andal. Analisis keuangan yang baik dapat mengenali komponen laba yang stabil dan dapat
diprediksi atau komponen yang mampu bertahan (persistent).
I.1. Penyusunan Ulang dan Penyesuaian Laba
Salah satu aktivitas analisis ekuitas adalah untuk menyusun laba dan komponen laba
sehinggga dapat memisahakan elemen yang stabil, normal, dan terus-menerus dengan
elemen acak, tidak tentu, tidak biasa dan tidak berulang. Penyusunan ulang juga berguna
untuk mengetahui elemen laba kini yang seharusnya dicakup dalam hasil operasi pada satu
atau beberapa periode sebelumnya.
Informasi mengenai Persistensi Laba
Analisis hasil operasi untuk menyusun dan menyesuaikan laba membutuhkan
informasi yang relevan dan andal. Sumber informasi ini yaitu:
1. Laporan laba rugi
2. Laporan keuangan lainnya dan catatan atas laporan keuangan
3. Management Discussion and Anaysis
Informasi relevan mencakup informasi yang mempengaruhi kemampuan laba untuk
dapat dibandingkan dan diinterpretasikan. Misalnya, perubahan kombinasi produk, inovasi
teknologi, penghentian kerja dan keterbatasan bahan baku.
Penyusunan Ulang Laba dan Komponen Laba
Penyusunan ulang dan penyesuaian laba dapat membantu menetapkan kekuatan laba
suatu perusahaan. Penyusunan ulang bertujuan untuk menyusun komponen laba guna
menyajikan klasifikasi yang lebih berarti dan format yang relevan untuk analisis.
Komponen dapat dibagi, diatur atau dihilangkan pengaruh pajaknya, tetapi totalnya harus
direkonsiliasi terhadap laba bersih untuk tiap periode. Perlakuan yang sama diterapkan
pada komponen seperti ekuitas dalam laba (rugi) anak perusahaan atau afiliasi yang belum
direkonsiliasi. Komponen yang dilaporkan setelah pajak harus dikeluarkan bersamaan
dengan dampak pajak mereka jika diklasifikasi ulang terpisah dari laba operasi yang
berlanjut.
Penyesuaian Laba dan Komponen Laba

Proses penyesuaian menggunakan data dari laporan laba rugi yang disusun ulang dan
informasi yang tersedia untuk meletakkan komponen laba pada periode yang lebih layak.
Untuk perubahan prinsip atau estimasi akuntasi, seluruh jumlah tahun yang dianalisis
harus disesuaikan dalam basis yang dapat dibandingkan. Perubahan estimasi dalam
praktek diterapkan secara prospektif dengan sedikit pengecualian.
Sebelum menilai persistensi laba, kita perlu memperoleh angka laporan keuangan
dengan beberapa penyesuaian. Seluruh komponen laba harus dipertimbangkan, jika kita
telah menetapkan bahwa suatu komponen akan dikeluarkan dari periode pelaporannya,
komponen tersebut dapat dipindahkan pada hasil operasi periode-periode sebelumnya dan
disebar sepanjang periode-periode yang sedang dianalisis, meskipun penyebarannya dapat
membantu dalam penentuan kekuatan laba, hal ini tidak membantu dalam penentuan tren
laba.
I.2 Faktor Penentu Persistensi Laba
Setelah menyusun dan menyesuaikan laba, analisis berikutnya akan menentukan
persisten laba. Manajemen laba, keragaman, tren, dan insentif merupakan penentuan
persisten laba yang potensial. Kita juga sebaiknya menilai persisten laba baik sepanjang
siklus usaha maupun untuk jangka panjang.
1

Tren dan Persistensi Laba


Tren laba dapat dinilai melalui metode statistik atau dengan pernyataan tren. Tren

laba sering kali mengungkapkan petunjuk mengenai kinerja perusahaan saat ini dan
masa depan serta menilai kualitas manejemen. Mungkin salah satu motivasi utama
manajemen laba adalah untuk mempengaruhi tren laba karena dalam praktik
manajemen laba mengasumsikan tren laba penting bagi penilaian.
2

Manajemen dan Persistensi Laba


Terdapat beberapa persyaratan untuk memenuhi definisi manajemen laba.

Persyaratan ini penting karena akan membedakan manajemen laba dengan salah saji
dan distorsi. Manajemen laba menggunakan prinsip pelaporan akuntansi yang
diterima dengan tujuan untuk melaporkan hasil tertentu.
Beberapa bentuk manajemen laba yang harus diwaspadai mencakup:
Perubahan metode atau asumsi akuntansi

Menghapus keuntungan dan kerugian luar biasa (dan tidak biasa). Praktik ini
memidahkan dampak terhadap laba yang tidak biasa dan tidak diperkirakan yang
dapat berpengaruh buruk pada tren laba.
Big Bath, teknik ini mengakui beban periode masa depan pada masa kini, jika
kinerja periode masa kini sangat buruk. Praktik ini melepaskan beban masa depan
dari laba masa depan.
Penurunan nilai, penurunan nilai aktiva operasi seperti pabrik dan peralatan dan
aktiva tak berwujud seperti goodwill saat hasil operasi sedang buruk merupakan
alat manajemen laba lainnya.
Menentukan waktu pengakuan pendapatan dan beban. Teknik ini mengatur waktu
pengakuan pendapatan dan beban untuk melakukan menajemen laba, termasuk
manajemen tren.
3

Insentif dan Persisten Manajemen


Analisis harus mengakui insentif bagi manajer terkait dengan laba. Manajemen

laba sering kali awalnya dicapai dengan pelaporan laba yang terlalu rendah. Hal ini
menciptakan cadangan untuk dapat digunakan pada periode dengan laba rendah
dimasa depan. Dengan adanya insentif kinerja bagi manajer, dan penggunaan angka
akuntansi untuk mengendalikan dan mengawasi kinerja mereka, analisis harus
menyadari adanya potensi manajemen laba dan bahkan salah saji. Analisis harus
mampu mengenali perusahaan yang memiliki dorongan kuat untuk melakukan
manajemen laba, dan kemudian meneliti praktik akuntansi perusahaan untuk
memastikan integritas laporan keuangan.
I.3 Mengukur Persistensi Laba
Pos Laba Persisten dan Sementara
Perusahaan memberikan laporan keuangan kepada berbagai stakeholder dengan
tujuan untuk memberikan informasi yang relevan dan tepat waktu agar berguna dalam
pengambilan keputusan investasi, monitoring penghargaan kinerja, dan pembuatan
kontrak. Agar dapat memberikan informasi yang handal maka laba harus persisten.
Persistensi laba menjadi pusat perhatian bagi para pengguna laporan keuangan, khususnya
bagi mereka yang mengharapkan psersistensi laba yang tinggi, karena persistensi laba
mencerminkan keberlajutan laba di masa depan, karena laba persisten adalah laba operasi.
Penyusunan ulang dan penyesuaian laba untuk penaksiran ekuitas bergantung pada

pemisahaan komponen laba yang stabil dan bertahan (persistent) dengan komponen acak
dan sementara (transitory). Penilaian persistensi sangat penting dalam penentuan
kemampuan laba (earning power). Perkiraan laba

(earning forecasting) juga

mengandalkan persistensi. Bagian penting dalam analisis adalah menilai persistensi


komponen keuntungan dan kerugian dalam laba (earning).
Analisis dan Interpretasi Pos Sementara
Tujuan analisis dan interpretasi pos luar biasa adalah:
1 Menentukan apakah suatu pos bersifat sementara (tidak bertahan). Proses ini
melibatkan penilaian apakah pos tersebut tidak biasa, bukan pos operasi, atau tidak
berulang.
2 Menentukan penyesuaian yang diperlukan setelah penilaian persistensi. Sering kali
diperlukan penyesuaian khusus untuk evaluasi maupun perkiraan laba.
Menentukan Persistensi (Sifat Sementara) Suatu Pos
Adanya insentif bagi manajer terkait dengan pelaporan pos sementara, membuat kita
harus melakukan evaluasi independen mengenai apakah suatu keuntungan atau kerugian
bersifat sementara terlebih dahulu, kemudian juga harus ditentukan bagaimana
menyesuaikan pos-pos tersebut. Untuk tujuan ini pos tersebut dibagi dalam dua kategori
besar: operasi yang tidak berulang berulang dan nonoperasi yang tidak berulang.
a.

Keuntungan dan kerugian operasi tidak berulang


Keuntungan dan kerugian ini terkait dengan aktivitas operasi tetapi jarang terjadi atau

tidak dapat diprediksi. Pos operasi yang dimaksud adalah pos yang berhubungan dengan
aktivitas normal bisnis. Peristiwa rutin yang menghasilkan keuntungan/kerugian
dikategorikan peristiwa berulang (recurring) sementara kejadian yang tidak terduga dan
jarang terjadi dikategorikan tidak berulang (nonrecurring). Analisis keuntungan dan
kerugian operasi yang tidak berulang ini harus mengakui sifat jarang terjadi dan pola tidak
berulang keuntungan/kerugian tersebut. Contoh pos ini: kegiatan normal pabrik roti adalah
membuat roti dan kue, namun mungkin saja diprediksi bahwa pabrik akan membeli atau
menjual saham atau akan menjual mesin roti guna menggantinya dengan mesin yag lebih
efisien. Tujuan dari pos ini adalah untuk meningkatkan nilai ekuitas dan saham. Analisis
pos operasi yang tidak berulang tidak hanya berkaitan dengan aturan mekanis.
b. Keuntungan dan kerugian nonoperasi yang tidak berulang
Pos ini tidak berulang dan tidak dapat diprediksi dan terjadi diluar operasi normal.
Ciri-ciri kejadian dari pos ini biasanya tidak ada hubungan dengan kegiatan operasi
(extraneous), tidak diinginkan (unintended), dan tidak direncanakan (unplanned),

namun tidak selalu seluruhnya tidak diharapkan. Aktivitas usaha terkait dengan resiko
kejadian yang merugikan atau kejutan yang tiba-tiba terjadi, apakah sifatnya alami atau
buatan manusia.

Penyesuaian Pos Luar Biasa yang Mencerminkan Persistensi


Langkah kedua dalam menganalisis pos sementara adalah mempertimbangkan
dampaknya terhadap sumber daya perusahaan dan evaluasi manajemen.
1

Dampak pos sementara terhadap sumber daya perusahaan.


Setiap keuntungan/kerugian memiliki dampak ganda, sebagai contoh: ketika mencatat
keuntungan, perusahaan juga mencatat peningkatan sumber daya, sebaliknya ketika
mencatat kerugian, perusahaan juga mencatan pengurangan sumber daya. Keuntungan
atau

kerugian akan menaikan atau menurunkan sumber daya. Karena pengembalian

investasi modal mengukur hubungan laba bersih terhadap sumber daya, keuntungan
atau kerugian sementara mempengaruhi pengukuran ini. Semakin besar pos sementara,
semakin besar dampaknya terhadap pengembalian. Dalam prediksi profitabilitas dan
pengembalian investasi, analis harus mempertimbangkan dampak pencatatan pos
sementara dan kemungkinan kejadian masa depan yang menyebabkan pos sementara.
2

Dampak pos sementara dalam evaluasi manajemen.


Salah satu implikasi yang sering dikaitkan dengan keuntungan dan kerugian sementara
ialah kurangnya keterkaitan mereka dengan aktivitas usaha normal. Karenanya, pos ini
jarang digunakan untuk mengevaluasi manajemen.

II

PENILAIAN EKUITAS BERBASIS LABA


Penilaian perusahaan merupakan tujuan penting bagi banyak pengguna laporan
keuangan. Karena estimasi nilai yang dapat diandalkan dapat digunakan untuk membuat
keputusan. Deskripsi penilaian ekuitas perusahaan tradisional dilakukan berdasarkan
metode diskonto arus kas (discounted cash flow DCF). Berdasarkan metode ini, nilai
ekuitas perusahaan dihitung berdasarkan prediksi arus kas yang tersedia bagi investor
ekuitas. Prediksi ini lalu didiskonto menggunakan biaya modal perusahaan.
II.1 Hubungan Antara Harga Saham dengan Data Akuntansi
Dalam melihat hubungan antara harga saham dengan data akuntasi dapat
menggunakan model evaluasi akuntansi berdasarkan ekuitas:
Vt =

BVt +

E(RIt+1)
(1 + k)1

E(RIt+2)
(1 + k)2

E(RIt+3)
(1 + k)3

BV merupakan book value nilai buku pada akhir periode t, RI adalah residual income
pendapatan sisa pada periode t

n, dan k adalah biaya modal. RI pada periode t

didefenisikan sebagai pendapatan net komprehensif dikurangi biaya pada nilai buku awal,
sehingga RIt = NIt (k x BVt-1). Model ini menggambarkan sangat pentingnya profitabilitas
masa depan dalam menilai perusahaan, dengan menggunakan estimasi laba bersih dan
nilai buku masa depan. Estimasi yang akurat atas ukuran ini hanya dapat dilakukan setelah
mempertimbangkan kualitas dan persistensi laba serta kekuatan laba (earning power)
perusahaan. Metode penilaian berbasis akuntansi memungkinkan adanya manipulasi dan
distorsi laba oleh manajemen untuk kepentingan pribadi. Sehingga, analisis yang
dibutuhkan bukan hanya sekedar analisis terhadap angka-angka. Karena, potensi
manipulasi data akuntansi tersebut bisa atau tidak mempengaruhi peramalan nilai
perusahaan.
II.2 Perkalian Penilaian Dasar
Dua pengukuran penilaian yang sering digunakan adalah rasio harga terhadap nilai
buku (price to book- PB) dan rasio harga terhadap laba (price to earning- PE). Pengguna
sering kali membuat keputusan investasi berdasarkan nilai rasio ini. Berikut dijelaskan
bagaimana seorang analis mendapatkan rasio dasar PB dan PE tanpa mengacu pada
harga pasar saham suatu perusahaan. Melaui perbandingan rasio dasar ini dengan angka
implisit pada harga pasar saham terkini, kita dapat mengevaluasi nilai investasi suatu
perusahaan milik publik. Untuk perusahaan yang sahamnnya tidak diperdagangkan secara
aktif, rasio dasar ini dapat digunakan sebagai alat untuk mengestimasi nilai ekuitas.
1

Rasio Harga terhadap Nilai Buku


Rasio harga terhadap nilai buku (price-to-book PB ratio) dihitung sebagai
berikut:
Nilai pasar ekuitas
Nilai buku ekuitas
Dengan mengganti perhitungan nilai ekuitas berbasis akuntansi pada
pembilangnya,rasio PB dapat dinyatakan dalam akuntansi sebagai berikut:

Vt

BVt
+

[
[

(ROCEt+1 - k)
(1 + k)
(ROCEt+3 - k)
(1 + k)3

]
x

BVt + 2
BVt

(ROCEt+2 -k)
(1 + k)2

+ .....

BVt+1
BVt

Penghitungan ini menghasilkan beberapa pemahaman penting. Jika ROCE


masa depan dan/atau pertumbuhan nilai buku meningkat, maka rasio PB
meningkat. Selain itu ketika biaya (resiko) modal ekuitas, k, meningkat, rasio PB
turun. Rasio PB tidak sama dengan satu jika pasar mengharapkan laba sisa residual
earning (baik positif maupun negatif) di masa depan. Jika nilai sekarang laba
residual masa depan bernilai positif (negatif), maka rasio PB akan lebih besar
(lebih kecil) dari 1.
2

Rasio Harga terhadap Laba

Rasio harga terhadap laba (price to earning-PE ratio) dihitung sebagai berikut:
Nilai pasar ekuitas
Laba Bersih
Ohlson and Juettner-Nauroth (2000) memperlihatkan bahwa ratio PE dapat
disajikan sebagai fungsi dari pertumbuhan jangka pendek (short term growth STG) dan pertumbuhan jangka panjang (long term growth - LTG) atas laba per
saham (earning per share - EPS) sebagai berikut:
P0
1
STG LTG
=
X
EPS1
k
k - LTG
Dimana k merupakan biaya modal ekuitas, STG (LTG) adalah perkiraan
perubahan persentase laba per saham jangka pendek (jangka panjang) relatif
terhadap taksiran pertumbuhan normal. Jika STG>LTG dan LTG < k2. STG dapat
dianggap sebagai konsensus analis terhadap tingkat pertumbuhan selama lima
tahun dan LTG merupakan tingkat inflasi jangka panjang yang melewati horizon
perkiraan.
Persamaan ini memberikan dua pemahaman penting: 1) rasio PE
berbanding terbalik dengan biaya modal, yaitu rasio ini lebih rendah untuk biaya
modal ekuitas yang lebih tinggi dan sebaliknya, dan 2) rasio PE berbanding lurus
dengan taksiran pertumbuhan laba per saham relatif terhadap pertumbuhan normal.
Rasio PE tidak berarti tingkat laba absolut (apakah laba per saham tinggi atau
rendah), hanya memperlihatkan tingkat dimana laba per saham diharapkan
meningkat relatif terhadap taksiran pertumbuhan.

Hubungan Rasio PB dan Rasio PE


Tabel berikut memberikan ringkasan implikasi berbagai rasio PB dan rasio PE:
P/E

P/B Tinggi
I

P/B Rendah
III

Tinggi

(Perusahaan dengan kinerja baik)

(Perusahaandalam perbaikan)

Taksiran laba sisa (RI) positif

Taksiran laba sisa (RI) negatif

P/E

Laba meningkat
II

Laba meningkat
IV

Rendah

(Perusahaan yang menurun)

(Perusahaan dengan kinerja buruk)

Taksiran laba sisa (RI)positif

Taksiran laba sisa (RI) negatif

Laba yang menurun

Laba yang menurun

Perusahaan dengan rasio PB dan PE yang tinggi (kolom I) adalah perusahaan yang
memiliki harapan laba sisa positif dan laba bersih yang diharapkan akan naik
dibandingkan saat ini. Ini merupakan perusahaan dengan kinerja baik (pertumbuhan yang
tinggi). Sebaliknya, rasio PB dan PE yang rendah (kolom IV) menunjukkan taksiran laba
sisa negatif dan laba masa depan yang lebih kecil daripada laba saat ini. Jelas bahwa
perusahaan ini mengalami kesulitan serius karena investasi mereeka saat ini diperkirakan
tidak menghasilkan pengembalian yang lebih besar dari biaya modal, dan profitabilitas
ditaksir lebih rendah dari saat ini. Perusahaan dengan rasio PB tinggi dan PE rendah
(kolom II) diharapkan melaporkan laba sisa positif, meskipun laba menurun. Perusahaan
ini masih menghasilkan investasi produk (nilai sekarang yang positif) namun dalam tahap
penurunan. Dan perusahaan dengan rasio PB rendah dan PE tinggi (kolom III) tidak
mampu menghasilkan nilai investasi sekarang yang positif, namun profitabilitas
diharapkan akan meningkat dibandingkan saat ini. Perusahaan ini sedang memperbaiki
operasi mereka,tetapi belum menyelesaikan kesulitan operasinya.
III

KEKUATAN LABA DAN PERAMALAN UNTUK TUJUAN PENILAIAN


III.1.

Kekuatan Laba

Kekuatan Laba (earning power) mengacu pada tingkat laba perusahaan yang
diharapkan akan terjadi pada masa depan. Dengan sedikit pengecualian, kekuatan laba di
akui sebagai faktor utama dalam penilaian perusahaan. Model penilaian berbasis akuntansi
mencakup kapitalisasi kekuatan laba, dimana kapitalisasi ini melibatkan penggunaan suatu
faktor atau penggandaan yang mencerminkan biaya modal dan taksiran risiko dan
pengembalian masa depan. Banyak analisis laba dan laporan keuangan yang ditujukan
untuk menentukan kekuatan laba.
1

Mengukur Kekuatan Laba


Kekuatan laba merupakan konsep yang berasal dari analisis keuangan, bukan

akuntansi. Konsep ini melihat stabilitas dan persisten laba serta komponen laba. Laporan
keuangan digunakan untuk menghitung kekuatan laba. Perhitungan ini membutuhkan
pengetahuan, penilaian, pengalaman, dan perspektif. Laba merupakan pengukuran yang
paling handal dan relevan untuk tujuan penilaian. Meskipun penilaian berorientasi masa
depan, kita harus mengakui relevansi kinerja perusahaan saat ini dan sebelumnya untuk
mengestimasi kinerja masa depan. Laba periode akhir yang melampaui siklus usaha
mencerminkan kinerja operasional aktual dan memberikan kita suatu perspektif atas
aktivitas operasi dimana kita dapat mengestimasi kinerja masa depan. Penilaian sangat
penting untuk beberapa keputusan (seperti investasi, pemberian pinajaman, perencanaan
apajak, keputusan pengendalaian atas peselisihan penilaian). Karenanya, estimasi
penilaian harus kredibel dan harsu dipertahankan, dan kita harus meneliti jika terdapat
penyimpangan dari norma.

Rentang Waktu kekuatan Laba


Periode satu tahun seringkali terlalu singkat untuk mengukur laba dengan andal. Hal

ini disebabkan karena sifat aktivitas investasi dan aktivitas pendanan yang sebagian besar
jangka panjang, dampak siklus usaha, dan adanya berbagai faktor yang tidak berulang.
Pengukuran terbaik kekuatan laba suatu perusahaan adalah dengan menggunakan laba
rata-rata (komulatif) selama beberapa tahun. Rentang waktu untuk menghitung laba ratarata umumnya adalah 5 tahun (biasanya hingga 10 tahun). Perpanjangan periode ini
menugurangi distrosi, ketidakteraturan , dan dampak sementara lainnya yang mengurangi

relevansi laba satu tahun. Perhitungan laba lima tahun sering kali menekankan
pengalaman terakhir sekaligus menghindari kinerja yang tidak relevan.
Tren Laba merupakan faktor penting dalam perhitungan kekuatan laba. Jika laba
memperlihatkan tren yang bertahan, kita dapat menyesuaikan proses rata-rata untuk
memberikan bobot yang lebih berat atas laba terkini.
3

Menyesuaikan Laba per Saham


Kekuatan laba dihitung dengan menggunakan seluruh komponen laba. Setiap pos

pendapatan dan beban merupakan bagian dari pengalaman operasi perusahaan.


Masalahnya adalah pada tahun yang mana kita menempatkan pos tersebut saat menghitung
kekuatan laba. Pada kasus tertentu analisis laba kita mungkin terbatas pada jangka pendek,
pos-pos pada serangkaian laba jangka pendek disesuaikan jika lebih terakait pada periode
sebelumnya.
Jika hal ini dilakukan dengan basis per saham, setiap pos harus disesuaikan terhadap
dampak pajak dengan menggunakan tarif pajak perusahaan kecuali jika terdapat tarif pajak
tertentu. Seluruh pos juga harus dibagi dengan jumlah saham yang digunakan untuk
menghitung laba per saham.

Contoh Penyesuaian Laba per Saham


Pos

Tahun 2

Perubahan tarif pajak efektif


Penyelesaian tuntutan hukum
Perubahan menjadi penyusutan garis lurus
Cadangan kerugian aset luar negeri
Kerugian dari penjualan divisi
Perubahan menjadi LIFO
Beban penyelesaian tuntutan hukum
Translasi valuta asing
Pengeluaran litbang yang melebihi periode
sebelumnya
Persentase cadangan piutang tak tertagih
yang lebih tinggi
+ Dampak laba per saham

+$0,02
+0,07
+0,02
+0,02
-0,19
-0,07
-0,09
-0,03
-0,11

Tahun 1
+$0,57
-0,15
-0,12
-0,04

-0,02
-$0,38

Laba per saham yang dilaporkan


Ditambah dampak negatif ( - ) ke tahun 2 0,38
Dikurang dampak positif ( + ) dari tahun 1

$1,71

(00,26)

Laba per saham disesuaikan


III.2

$1,39

$1,45

Peramalan Laba
Bagian utama analisis laporan keuangan dan penilaian adalah peramalan laba. Dari

perpektif analisis, evaluasi tingkat laba sangat terkait dengan peramlan laba. Hal ini
disebabkan ramalan laba yang relevan melibatkan analisis komponen laba dan penilaian
mereka di masa depan. Peramalan laba mengikuti analisis komponen laba dan melibatkan
pembuatan pembuatan estimasi laba masa depan.
1

Mekanisme Peramalan Laba


Peramalan mengharuskan kita untuk menggunakan seluruh informasi yang tersedia

secara efektif, termasuk laba periode sebelumnya. Peramalan juga mendapatkan manfaat
dari pemisahan (disaggregation). Pemisahan melibatkan penggunaan laba berdasarkan lini
produk atau segmen dan teruatam berguna jika segmen tersebut memiliki perbedaan risiko,
profitabilitas, atau pertumbuhan.
Penelitian analisis mengungkapkan berbagai karakteristik statistik dalam laba.
Peretumbuhan laba tahunan sering kali bergerak secara acak. Bagi beberapa pengguna hal
ini berarti pertumbuhan laba tidak dapat diramalkan, tetapi penelitian ini mencerminkan
perilaku keseluruhan dan bukan perilaku perusahaan individu. Peramalan laba yang andal
tidak dapat dihasilkan dari ekstrapolasi sesderhana dari pertumbuhan atau tren laba masa
lalu. Namun dilakukan dengan mengananlisi komponen laba dan mempertimbangkan
seluruh informasi yang tersedia, baik kauntitatif. Juga melibatkan peramalan komponen ini
dan spekulasi mengenai kondisi usaha masa depan.
2

Elemen Peramalan Laba


Elemen pada peramalan laba adalah memeriksa kewajaran ramalan. Untuk tujuan ini

sering kali digunakan angka pengembalian investasi modal. Jika ramalan laba
menghasilkan pengembalian yang sangat berbeda dengan pengembalian masa lalu atau
pengembalian industri, kita harus menilai kembali ramalan dan prosesnya. Perbedaan
pengembalian ramalan dengan yang sewajarnya terjadi harus dijelaskan. Pengembalian
investasi modal tergantung dari laba, sementara laba merupakan produk kualitas produk
manajemen dan manajemen aktiva.
Kualitas manajemen. Dibutuhkan manajemen yang memilki akses ke berbagai
sumber daya untuk menghidupkan aktiva melalui penggunaan yang efesien dan

menguntungkan. Stabilitas hubungan dan tren dapat diasumsikan stabil jika


menunjukkan tidak ada perubahan besar atas keahlian, kedalaman, dan kelangsungan
manajemen. Disamping itu juga, menunjukkan tidak adanya perubahan yang besar
pada jenis usaha yang sesuai dengan keahlian manajemen.
Manajemen aktiva. Perusahaan membutuhkan aktiva untuk mengembangkan operasi.
Kelangsungan keberhasilan dan ramalan pertumbuhan bergantung pada sumber
pendanaan dan dampaknya terhadap laba.
Kondisi keuangan suatu perusahaan merupakan elemen peramalan laba lainnya.
Kurangnya likuiditas dapat membatasi keberhasilan manajemen dan struktur modal yang
berisiko dapat membatasi tindakan manajemen. Semua ini disertai faktor-faktor seperti
ekonomi, industri, dan faktor kompetitif lain, merupakan hal yang relevan terhadap
peramalan laba.
3

Melaporkan Peramalan Laba


Peramalan manajemen berbeda dengan peramalan yang dilakukan analis keuangan.

Keandalan peramalan tergantung pada akses informasi dan asumsinya. SEC menyarankan
agar peramalan dilakukan dengan itikad baik dengan landasan yang layak. SEC
merekomendasi agar peramalan disajikan dalam format laporan keuangan dan disertai
dengan informasi yang cukup bagi investor untuk menilai kendalan. SEC memiliki aturan
safe harbor yang melindungi perusahaan dari tuntutan hukum jika prediksi mereka tidak
menjadi kenyataan.
III.3. Laporan Interim untuk Pengawasan dan Revisi Estimasi Laba
Laporan keuangan interim merupakan sumber informasi yang berharga untuk
mengawasi kinerja. Laporan ini berguna untuk merevisi estimasi kekuatan laba dan
peramalan laba. Namun tetap harus disadari bahwa laporan keuangan interim memiliki
keterbatasan yang terkait dengan kesulitan untuk meletakan komponen laba pada periode
kurang dari satu tahun.
1

Penyesuaian Akuntansi Akhir Tahun


Menentukan hasil operasi untuk periode satu tahun membutuhkan beberapa

penyesuaian akrual dan estimasi. Penyesuain ini mencakup pengakuan pendapatan,


menentukan biaya persediaan, alokasi overhead, mencari nilai pasar sekuritas, dan
memperkirakan piutang tak tertagih.

Aktivitas Usaha Musiman


Beberapa perusahaan memiliki aktivitas usaha musiman. Penjualan, produksi, dan

aktivitas operasi lain sering kali tidak dapat dibagi sama antar periode interim. Hal ini
dapat mendistorsi perbandingan laba interim. Selain itu juga dapat menimbulkan masalah
pada alokasi biaya-biaya yang sifatnya diskresioner, seperti iklan, penelitian,
pengembangan, perbaikan dan pemeliharaan.
3

Metode Pelaporan Menyeluruh


Laporan kuartalan merupakan bagian dari keseluruhan satu tahun dan bukannya

periode diskrit, mensyaratkan pengakuan pendapatan dan beban. Hal ini mencakup
penyusutan persediaan, diskon atas kuantitas, dan piutang tak tertagih.
4

Persyaratan Pelaporan Interim SEC


a

Laporan interim komparatif dan laporan keuangan hingga tanggal ini dapat diberi
judul tidak diaudit tetapi harus dimasukan dalam laporan tahunan.

Neraca komparatif.

Laporaan arus kas hingga hari ini.

Informasi pro forma mengenai penggabungan usaha yang dicatat sebagai


pembelian.

Kesesuaian dengan prinsip akuntansi berlaku umumdan pengungkapan perubahan


akuntansi, termasuk surat dari auditor.

Analisis naratif manajemen mengenai hasil operasi.

Pengungkapan mengenai apakah Form 8-K diisi selama periode melaporkan


apakah terdapat penyesuaian laba yang tidak biasa atau pergantian auditor.

Analisis Implikasi Laporan Interim


Analisis harus waspada terhadap kesalahan estimasi dan diskresi yang melekat pada

laporan interim. Terbatasnya keterlibatan auditor pada laporan interim mengurangi


keandalan laporan interim relative terhadap laporan tahunan yang diaudit. Peraturan pasar
modal memberikan sejumlah keyakinan, meskipun terbatas.

BAB III
PEMBAHASAN
1

PERSISTENSI LABA
Tren Pergerakan Harga Saham (10 tahun)

Tren Pergerakan EPS (5 Tahun terakhir)

EPS (IN RUPIAH)


800
701

700
634

600
500
400
399

546
444

300
200
100
0
2009

2010

2011

Tren Pergerakan Laba (5 tahun terakhir)

2012

2013

earnings (IN MILLION RUPIAH)


LABA
6,000,000
5,352,625

5,000,000

4,839,145
4,164,304

4,000,000
3,044,107
3,000,000

3,384,648

2,000,000
1,000,000
0
2009

2010

2011

2012

2013

Interpretasi tren:
Dari tahu ke tahun, Unilever Indonesia memperlihatkan tren yang meningkat, artinya dari
tahun ke tahun Unilever Indonesia semakin memperlihatkan kinerja nya yang begitu
memuaskan.
Persestensi Manajemen:
Tahun lalu yang sekali lagi merupakan tahun yang sangat baik bagi Unilever Indonesia
divisi Home and Personal Care berhasil mempertahankan momentum tahun-tahun
sebelumnya dengan meraih pertumbuhan di hampir semua kategori, meluncurkan
berbagai inovasi gemilang ke pasar dan menggunakan kekuatan brand untuk menciptakan
perubahan nyata di masyarakat melalui misi sosial mereka.
Tantangan utama di bisnis Personal Care di tahun 2013 adalah kompetisi yang makin
ketat. Menghadapi kenaikan biaya pengeluaran pada media tradisional dan in-store
promotion serta sejumlah program diskon yang agresif oleh para kompetitor, Unilever
memilih untuk mempertahankan harga produk dan mendukungnya dengan meningkatkan
ekuitas brand , memastikan ketersediaan dan penampilan produk di toko serta
memberikan kualitas produk yang unggul untuk menjaga kepercayaan pelanggan. Strategi
ini terbukti efektif, membuahkan pertumbuhan yang kuat dan membuat Unilever bisa
tetap berada selangkah di depan para pesaing.
Divisi Personal Care terus memperkuat posisinya di tengah tekanan persaingan yang ketat
di

hampir

seluruh

kategori,

dengan

sebagian

besar

brand

Unilever

sukses

mempertahankan atau meningkatkan pangsa pasar. Kategori Deodorant, Baby Care dan
Male Grooming memimpin tren pertumbuhan, yang sebagian besar merupakan
pertumbuhan volume hasil dari penetrasi pasar yang lebih dalam berkat pengembangan

pasar yang terus menerus dan inovasi berbasis insight . Peningkatan penjualan tertinggi
dicapai oleh Skin Care, yang merupakan kontributor terbesar walaupun kategori ini
adalah salah satu yang paling sulit.
Seluruh kategori di dalam Foods and Refreshmentsteh, margarin, bumbu masak/
savoury dan jus buahberhasil meraih peningkatan pangsa pasar sepanjang tahun. Hal
ini sangat menggembirakan, terutama mengingat tingginya tingkat inflasi bahan pangan
saat itu, yang mencekik kantong para konsumen.
Unilever mendefinisikan supply chain sebagai keseluruhan cara Unilever menjalankan
bisnis dari awal sampai akhir: mulai dari pengadaan bahan mentah sampai tersedianya
produk di rak-rak toko. Keberhasilan bisnis Unilever Indonesia bergantung pada supply
chain yang dapat diandalkan dan sustainable , yang dapat mendukung profitabilitas
dengan cara secara efektif merespons pasar yang berubah-ubah, tidak pasti, kompleks dan
ambigu (vUCA - volatile, Uncertain, Complex, Ambiguous).
Dalam situasi seperti itu, salah satu tantangan terbesar supply chain adalah menjadikan
efisiensi sebagai prioritas utama. Artinya, bagaimana biaya dapat ditekan sambil terus
memenuhi dan melebihi ekspektasi pelanggan. Pada 2013 Unilever dihadapkan pada
tingginya tingkat inflasi akibat kenaikan biaya energi dan komoditas serta perubahan nilai
kurs yang tidak menentu. Kondisi tersebut mengharuskan Unilever untuk memfokuskan
diri pada faktor-faktor yang bisa mereka kontrol, sambil kami melakukan penyempurnaan
di seluruh rantai supply chain mulai dari hulu sampai hilir serta meningkatkan antisipasi
dan kesiapan Unilever untuk menghadapi peristiwa tak diinginkan, seperti bencana alam
yang dapat mengganggu pasokan maupun permintaan. Unilever melakukan investasi
secara cermat di semua pabrik Unilever untuk secara efisien membangun kapasitas guna
mengantisipasi tingkat permintaan yang tinggi. Unilever menyempurnakan proses logistik
dengan meningkatkan pengisian muatan dan mengoptimalkan jaringan guna mengatasi
tekanan inflasi. Sementara itu, pusat distribusi kami yang baru, West Mega Distribution
Centre, telah berfungsi dengan stabil sehingga dapat membantu Unilever menumbuhkan
volume penjualan serta melayani para pelanggan secara lebih efisien.
Perseroan memfokuskan diri pada sejumlah kategori dan produk dimana Unilever
Indonesia, atau perusahaan induk mereka, memiliki atau mampu membangun keunggulan
kompetitif, dan dimana penjualan dan marjin dapat tumbuh secara konsisten.
Unilever terus memantau tren pasar, melibatkan diri dengan para pelanggan dan
pembelanja guna memperoleh insight tentang kesukaan seraya memantau perilaku
konsumen untuk mengembangkan kategori yang efektif dan strategi brand . Stategi ini

selanjutnya diturun kan dalam bentuk program inovasi dan pengembangan pasar untuk
menciptakan produk-produk dan jasa yang paling relevan dan menarik bagi konsumen.
Unilever percaya bahwa portofolio brand kami yang kokoh, produk-produk berkualitas
tinggi dengan harga kompetitif, inovasi yang teruji dan kemampuan pengembangan pasar,
basis biaya rendah dan eksekusi yang unggul dalam penjualan dan distribusi, serta
karyawan yang berkomitmen tinggi untuk memenangkan pasar, telah menempatkan
Unilever Indonesia dalam posisi yang kuat untuk bersaing.
PROSPEK USAHA
Tahun 2013 merupakan tahun penuh tantangan. Paruh kedua 2013, perekonomian
Indonesia kembali diuji dengan inflasi yang tinggi (setelah pengurangan subsidi BBM),
naiknya suku bunga dan pelemahan Rupiah. Faktorfaktor tersebut memberikan dampak
yang kurang baik bagi konsumen Unilever. Penjualan tumbuh 12.7%, melemah
dibandingkan dengan pertumbuhan tahun lalu sebesar 16.3%. Pertumbuhan yang cukup
bagus mengingat kondisi penuh tantangan yang harus kami hadapi. Laba tetap baik
mencapai Rp5,4 triliun, tumbuh 10,6% dari tahun lalu.
2

PENILAIAN EKUITAS BERBASIS LABA

Hubungan antara Harga Saham dengan Data Akuntansi

Perkalian Penilaian Dasar

Rasio Harga terhadap Nilai Buku

Rasio Harga terhadap Laba

Tujuan grup dalam pengelolaan permodalan adalah untuk mempertahankan kelangsungan


usaha Grup guna memberikan imbal hasil kepada pemegang saham dan manfaat kepada
pemangku kepentingan lainnya serta menjaga struktur modal yang optimal untuk mengurangi
biaya modal. Untuk mempertahankan atau menyesuaikan struktur modal, Grup menyesuaikan
jumlah dividen yang dibayar kepada pemegang saham.
Rasio gearing pada tanggal 31 Desember 2013 dan 2012 adalah sebagai berikut:

Penurunan rasio gearing pada 2013 terutama disebabkan oleh penurunan jumlah pinjaman
dan peningkatan jumlah ekuitas seiring dengan jumlah pendapatan komprehensif tahun
berjalan. Semakin tinggi Rasio Gearing maka akan semakin tinggi Ketepatan Waktu
Pelaporan Keuangan atau sebaliknya, semakin rendah Rasio Gearing maka Ketepatan Waktu
Pelaporan Keuangan akan semakin rendah.
Saham biasa diklasifikasikan sebagai ekuitas. Tambahan modal disetor merupakan
selisih antara kontribusi modal dan nilai nominal saham. Biaya yang secara langsung terkait
dengan penerbitan saham disajikan sebagai pengurang tambahan modal disetor. Pembagian
dividen final kepada para pemegang saham Perseroan diakui sebagai liabilitas ketika dividen
disetujui oleh para pemegang saham Perseroan. Pembagian dividen interim kepada para
pemegang saham Perseroan diakui sebagai liabilitas ketika dividen disetujui berdasarkan
keputusan rapat Direksi dan sudah diumumkan kepada publik. Laba bersih per saham dasar
dihitung dengan membagi laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada
periode yang bersangkutan dengan jumlah rata-rata tertimbang saham yang beredar. Tidak
ada surat berharga yang dapat dikonversi, opsi, atau waran yang dapat menimbulkan
pengaruh dilusi pada laba bersih per saham.

Modal Saham

Saham Perseroan memiliki nilai nominal Rp 10 (nilai penuh) per lembar. Rincian
kepemilikan saham Perseroan pada tanggal 31 Desember 2013 dan 2012 adalah sebagai
berikut:

Pada tanggal 31 Desember 2013 dan 2012, UIH yang memiliki 6.484.877.500 lembar saham
atau 85,00% dari jumlah modal dasar, ditempatkan dan disetor penuh, merupakan pemegang
saham terbesar Perseroan; dan tidak ada pemegang saham lain yang memiliki saham lebih
dari 5,00% dari jumlah modal saham dasar, ditempatkan dan disetor penuh Perseroan. Pada
tanggal 31 Desember 2013 dan 2012, Direktur yang memiliki saham publik Perseroan adalah
Tn. Ainul Yaqin kepemilikan tidak lebih dari 0,001% dari jumlah modal saham dasar,
ditempatkan dan disetor penuh Perseroan. Tidak ada anggota Dewan Komisaris dan Direksi
yang lain memiliki saham Perseroan.

Dividen

Pada tanggal 31 Desember 2013, jumlah dividen yang belum diterima oleh pemegang saham
sebesar Rp 69.470 (2012: Rp 61.677) telah dicatat sebagai utang lain-lain.

Laba bersih per saham

Earnings Power and Forecasting

Earnings Power

earnings (IN MILLION RUPIAH)


LABA
6,000,000
5,352,625

5,000,000

4,839,145
4,164,304

4,000,000
3,044,107
3,000,000

3,384,648

2,000,000
1,000,000
0
2009

2010

2011

2012

2013

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya pada tren laba, PT Unilever Indonesia Tbk
mengalami peningkatan laba dari tahun ke tahun. Tentunya hal ini dapat mengundang
investor untuk berinvestasi pada PT Unilever Indonesia Tbk. Selain melihat dari tren laba,
investor juga biasanya melihat dari net profit margin pada tahun-tahun sebelumnya.

Investor berasumsi bahwa Net Profit Margin yang lebih tinggi lebih menarik, karena :
-

Apabila NPM semakin tinggi maka laba perusahaan semakin besar

semakin tinggi nilai NPM menandakan bahwa perusahaan tersebut semakin efisien
operasionalnya

sebagai antisipasi melonjaknya bahan baku, biaya operasional seperti kenaikan gaji
pegawai, jika NPM perusahaan lebih tinggi, maka ketika hal-hal diatas terjadi, laba
bersih perusahaan tidak turun signifikan
Net Income
Net Sales
Net Profit Margin

4.839.145.000.
000

5.352.625.000.
000

5.738.523.000.
000

27.303.248.000
.000

30.757.435.000
.000

34.511.534.000
.000

17.7%

17.4%

16.6%

Berikut adalah Net Profit Margin dari PT Unilever Indonesia Tbk :

Dapat dilihat bahwa Net Profit Margin dari PT Unilever Indonesia Tbk. terlihat menurun
setiap tahunnya. Tetapi penurunan net profit margin tersebut tidak begitu signifikan.
Investor pun tidak akan gegabah untuk mengambil keputusan dengan cara tidak
berinvestasi di perusahaan ini hanya dikarenakan oleh net profit marginnya yang
menurun, karena net profit margin bukan satu-satunya cara yang dilakukan investor untuk
melihat kinerja keuangan dari suatu perusahaan.
Investor pun seharusnya dapat melihat dari net income dan net sales perusahaan yang
setiap tahunnya semakin meningkat. Net Profit Margin yang semakin rendah menandakan
terdapat biaya-biaya pada perusahaan yang meningkat, dalam tahun 2012-2014 terdapat
peningkatan pada biaya umum dan administrasi.

Earnings Forecasting

Manajemen pada PT Unilever Indonesia Tbk. tidak berencana untuk menambah lini
bisnisnya atau mengubah bisnis dari perusahaan. Perusahaan tetap memfokuskan diri
pada sejumlah kategori dan produk dimana Unilever Indonesia, atau perusahaan induk

mereka, memiliki atau mampu membangun keunggulan kompetitif, dan dimana penjualan
dan marjin dapat tumbuh secara konsisten. Inflasi biaya tentunya menjadi kendala pada
PT Unilever Indonesia Tbk, tetapi PT Unilever Indonesia Tbk menanggapi inflasi tersebut
dengan cara penghematan biaya seperti melakukan optimasi mix impact.
PT Unilever Indonesia Tbk pun berhasil mengimplementasikan kenaikan harga secara
strategis sambil terus memantau tren-tren pasar untuk memastikan agar harga dari produk
PT Unilever Indonesia Tbk tetap kompetitif dan hasilnya memuaskan, pada tahun 2014
profitabilitas dari PT Unilever Indonesia Tbk tetap sehat. Sehingga untuk kedepannya
bisa diramalkan bahwa laba dari PT Unilever Indonesia Tbk tetap akan meningkat dilihat
dari kebijakan manajemen yang terus berinovasi produk unggulan PT Unilever Indonesia
Tbk dan juga dilihat dari tren laba pada tahun-tahun sebelumnya yang selalu meningkat
setiap tahunnya.
Pada kebijakan pemerintah, pemerintah telah mengumumkan rencana untuk melakukan
akselerasi pembangunan infrastruktur, dan apabila terwujud hal ini akan memacu
pertumbuhan ekonomi dan mendorong pengeluaran konsumen yang makin besar. Itu akan
berdampak pada kenaikan penjualan bagi perusahaan dan tentunya laba pun akan semakin
meningkat apabila hal itu terjadi, diimbangi dengan kebijakan-kebijakan operasional
perusahaan yang telah dibuat sebelumnya.

BAB IV
KESIMPULAN

Dilihat dari pembahasan dari materi yang telah disajikan diatas, dapat dilihat bahwa
pertumbuhan laba pada PT Unilever Indonesia Tbk terus meningkat pada setiap tahunnya.
Hal ini dapat mengundang investor untuk menanamkan modalnya pada PT Unilever
Indonesia Tbk. Tren dari penjualan dan laba yang meningkat tentunya diharapkan akan terus
bertahan pada tahun-tahun yang akan datang, didukung dengan kebijakan-kebijakan
manajemen dan kebijakan dari pemerintah, PT. Unilever Indonesia Tbk akan terus berusaha
untuk memuaskan konsumen, meningkatkan kinerja perusahaan, dan tentunya didukung juga
oleh profitabilitas peruahaan yang sehat sehingga mendorong masyarakat untuk terus royal
pada produk-produk dari PT Unilever Indonesia Tbk.

DAFTAR PUSTAKA
Laporan Tahunan PT. Unilever Indonesia, Tbk 2009 diakses dari www.unilever.co.id tanggal
4 Juni 2015

Laporan Tahunan PT. Unilever Indonesia, Tbk 2013 diakses dari www.unilever.co.id tanggal
4 Juni 2015

Laporan Tahunan PT. Unilever Indonesia, Tbk 2014 diakses dari www.unilever.co.id tanggal
4 Juni 2015

Wild, John J.; Subramanyam K.R.; dan Hasley, Robert F. Analisa Keuangan, Buku 2. Edisi
10. Jakarta: Salemba Empat, 2005.