Anda di halaman 1dari 19

Laporan Praktikum Kimia Analitik III

Spektroskopi Uv-Vis
Kelompok 1 PKB12
I.
II.
III.

IV.

JUDUL PERCOBAAN
HARI / TANGGAL PERCOBAAN
TUJUAN PERCOBAAN
1. Mengetahui pengaruh pelarut

: Spektroskopi Uv-Vis
: Selasa / 12 Mei 2015
:
dan pH pada panjang gelombang

optimum.
2. Menentukan konsentrasi suatu larutan.
DASAR TEORI
Spektrofotometer

UV-VIS

merupakan

alat

dengan

teknik

spektrofotometer pada daerah ultra-violet dan sinar tampak. Alat ini


digunakan guna mengukur serapan sinar ultra violet atau sinar tampak oleh
suatu materi dalam bentuk larutan. Konsentrasi larutan yang dianalisis
sebanding dengan jumlah sinar yang diserap oleh zat yang terdapat dalam
larutan tersebut. Dalam hal ini, hukum Lamber-Beer dapat menyatakan
hubungan antara serapan cahaya dengan konsentrasi zat dalam larutan. Di
bawah ini adalah persamaan Lamber-Beer ;
A = - log T = b c
Dengan: A = absorban,
T = transmitan,
= absortivitas molar (Lcm-1.mol-1),
b = panjang sel (cm),
c = konsentrasi zat (mol/L).
Spektrofotometri dapat digunakan untuk menganalisis konsentrasi
suatu zat di dalam larutan berdasarkan absorbansi terhadap warna dari
larutan pada panjang gelombang tertentu. Metode spektrofotometri
memerlukan larutan standar yang telah diketahui konsentrasinya. Larutan
standarnya terdiri dari beberapa tingkat konsentrasi mulai yang rendah
sampai konsentrasi tinggi (Khopkar,2003).
Spektrum cahaya tampak dan warna-warna komplementer :
Panjang Gelombang (nm)
400-435
435-480
480-490
490-500
500-560
560-580

Warna
Violet
Biru
Hijau-biru
Biru-hijau
Hijau
Kuning-hijau

Warna Komplementer
Kuning-hijau
Kuning
Oranye
Merah
Ungu
Violet

Laporan Praktikum Kimia Analitik III


Spektroskopi Uv-Vis
Kelompok 1 PKB12
580-595
595-610
610-750

Kuning
Oranye
Merah

Biru
Hijau-biru
Biru-hijau

Spektrofotometri merupakan metode analisis yang didasarkan pada


absorpsi radiasi elektromagnet. Cahaya terdiri dari radiasi terhadap mana
mata

manusia

peka,

gelombang

dengan

panjang

berlainan

akan

menimbulkan cahaya yang berlainan sedangkan campuran cahaya dengan


panjang-panjang ini akan menyusun cahaya putih. Cahaya putih meliputi
seluruh spektrum nampak 400-760 mm. Spektrofotometri ini hanya terjadi
bila terjadi perpindahan elektron dari tingkat energi yang rendah ke tingkat
energi yang lebih tinggi (Ali,2005).
Keuntungan utama pemilihan metode spektrofotometri ini adalah
bahwa metode ini memberikan metode sangat sederhana untuk menetapkan
kuantitas zat yang sangat kecil. Spektrofotometri menyiratkan pengukuran
jauhnya penyerapan energi cahaya oleh suatu sistem kimia itu sebagai suatu
fungsi dari panjang gelombang radiasi, demikian pula pengukuran
penyerapan

yang

menyendiri

pada

suatu

panjang

gelombang

tertentu. Analisis spektrofotometri digunakan suatu sumber radiasi yang


menjorok ke dalam daerah ultraviolet spektrum itu. Dari spektrum ini,
dipilih panjang-panjang gelombang tertentu dengan lebar pita kurang dari 1
nm (Sastrohamidjojo,1999).
Adapun jenis-jenis spektrofotometri, yaitu :
1. Spektrofotometri Infra Merah
Spektrofotometri Infra Red atau Infra Merah merupakan suatu metode
yang mengamati interaksi molekul dengan radiasi elektromagnetik yang
berada pada daerah panjang gelombang 0,75 1.000 m atau pada
Bilangan Gelombang 13.000 10 cm-1.
2. Spektrofotometri Raman
Interaksi Radiasi Elektro Magnetik (REM) .Apabila media transparan
tersebut mengandung hanya partikel dengan ukuran dimensi atom
(permukaan 0,01 A2) maka akan terjadi percikan radiasi dengan

Laporan Praktikum Kimia Analitik III


Spektroskopi Uv-Vis
Kelompok 1 PKB12
intensitas yang sangat lemah. Radiasi hamburan tersebut dikenal
dengan hamburan Rayleigh.
3. Spektrofotometri Fluorescensi dan Fosforescensi
Suatu zat yang berinteraksi dengan radiasi, setelah mengabsorpsi radiasi
tersebut, bisa mengemisikan radiasi dengan panjang gelombang yang
umumnya lebih besar daripada panjang gelombang radiasi yang diserap.
Fenomena tersebut disebut fotoluminensi yang mencakup dua jenis
yaitu fluoresensi dan fosforesensi. Fluoresensi terjadi dalam selang
waktu lebih pedek daripada fosforesensi.
4. Spektrofotometri Resonansi Magnetik Inti
Metode baru sebagai anggota baru teknik soektroskopi yang diberi
nama Nuclear Magnetic Resonance (NMR). Para ilmuwan di
Indonesia mempopulerkan metode ini dengan nama spektrofotometer
Resonansi Magnet Inti (RMI). Spektrofotometri RMI sangat penting
artinya dalam analisis kualitatif, khususnya dalam penentuan struktur
molekul zat organik.
Spektrofotometri merupakan suatu metoda analisa yang didasarkan
pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan
berwarna pada panjang gelombamg spesifik dengan menggunakan
monokromator

prisma

atau

kisi

difraksi

dengan

detektor fototube (Underwood,1986).


Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau
absorban suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Sedangkan
pengukuran menggunakan spektrofotometer ini, metoda yang digunakan
sering disebut dengan spektrofotometri.
Spektrofotometri

dapat

dianggap

sebagai

perluasan

suatu

pemeriksaan visual dengan studi yang lebih mendalam dari absorbsi energi.
Absorbsi radiasi oleh suatu sampel diukur pada berbagai panjang
gelombangdan dialirkan oleh suatu perkam untuk menghasilkan spektrum
tertentu yang khas untuk komponen yang berbeda (Khopkar, 2003).
Absorbsi sinar oleh larutan mengikuti hukum Lambert-Beer, yaitu :
A=

log ( Io / It )

Keterangan : Io = Intensitas sinar datang


3

= abc

Laporan Praktikum Kimia Analitik III


Spektroskopi Uv-Vis
Kelompok 1 PKB12
It = Intensitas sinar yang diteruskan
a = Absorptivitas
b = Panjang sel/kuvet
c = konsentrasi (g/l)
A = Absorban
Spektrofotometri merupakan bagian dari fotometri dan dapat
dibedakan dari filter fotometri sebagai berikut :
1. Daerah jangkauan spectrum
Filter fotometr hanya dapat digunakan untuk mengukur serapan sinar
tampak (400-750 nm). Sedangkan spektrofotometer dapat mengukur
serapan di daerah tampak, UV (200-380 nm) maupun IR (> 750 nm).
2. Sumber sinar
Sesuai dengan daerah jangkauan spektrumnya maka spektrofotometer
menggunakan sumber sinar yang berbeda pada masing-masing daerah
(sinar tampak, UV, IR). Sedangkan sumber sinar filter fotometer hanya
untuk daerah tampak.
3. Monokromator
Filter fotometere menggunakan filter sebagai monokrmator. Tetapi pada
spektro digunakan kisi atau prisma yang daya resolusinya lebih baik.
4. Detektor
- Filter fotometer menggunakan detektor fotosel
- Spektrofotometer menggunakan tabung penggandaan foton atau
fototube.
Komponen utama dari spektrofotometer yaitu :
1. Sumber cahaya
Untuk radisi kontinue :
- Untuk daerah UV dan daerah tampak :
- Lampu wolfram (lampu pijar) menghasilkan spektrum kontiniu
-

pada gelombang 320-2500 nm.


Lampu hidrogen atau deutrium (160-375 nm)
Lampu gas xenon (250-600 nm)

Untuk daerah IR
Ada tiga macam sumber sinar yang dapat digunakan :
-

Lampu Nerst,dibuat dari campuran zirkonium oxida (38%) Itrium

oxida (38%) dan erbiumoxida (3%)


Lampu globar dibuat dari silisium Carbida (SiC).

Laporan Praktikum Kimia Analitik III


Spektroskopi Uv-Vis
Kelompok 1 PKB12
-

Lampu Nkrom terdiri dari pita nikel krom dengan panjang

gelombang 0,4 20 nm
Spektrum radiasi garis UV atau tampak :
Lampu uap (lampu Natrium, Lampu Raksa)
Lampu katoda cekung/lampu katoda berongga
Lampu pembawa muatan dan elektroda (elektrodeless dhischarge

lamp)
- Laser
2. Pengatur Intensitas
Berfungsi untuk mengatur intensitas sinar yang dihasilkan oleh sumber
cahaya agar sinar yang masuk tetap konstan.
3. Monokromator
Berfungsi untuk merubah sinar polikromatis

menjadi

sinar

monokromatis sesuai yang dibutuhkan oleh pengukuran


Macam-macam monokromator :
- Prisma
- Kaca untuk daerah sinar tampak
- Kuarsa untuk daerah UV
- Rock salt (kristal garam) untuk daerah IR
- Kisi difraksi
Keuntungan menggunakan kisi :
- Dispersi sinar merata
- Dispersi lebih baik dengan ukuran pendispersi yang sama
- Dapat digunakan dalam seluruh jangkauan spectrum
4. Kuvet
Pada pengukuran di daerah sinar tampak digunakan kuvet kaca dan
daerah UV digunakan kuvet kuarsa serta kristal garam untuk daerah IR.
5. Detektor
Fungsinya untuk merubah sinar menjadi energi listrik yang sebanding
dengan besaran yang dapat diukur.
Syarat-syarat ideal sebuah detektor :
- Kepekan yang tinggi
- Perbandingan isyarat atau signal dengan bising tinggi
- Respon konstan pada berbagai panjang gelombang.
- Waktu respon cepat dan signal minimum tanpa radiasi.
Macam-macam detektor : Detektor foto (Photo detector), Photocell,
Phototube, Hantaran foto, Dioda foto,dan Detektor panas.
6. Penguat (amplifier)

Laporan Praktikum Kimia Analitik III


Spektroskopi Uv-Vis
Kelompok 1 PKB12
Berfungsi untuk memperbesar arus yang dihasilkan oleh detektor agar
dapat dibaca oleh indikator (Hastuti,2007).
V.

VI.

ALAT DAN BAHAN


a. Alat :
- Spektrofotometer UV-VIS
- Labu ukur 10 Ml
- Roll Film
- Gelas Ukur 10 Ml
- Pipet Tetes
b. Bahan :
- Metil Merah 40 ppm
- HCl 0,4 M
- NaOH 0,4 M
ALUR PERCOBAAN
1. Penentuan Konsentrasi Suatu Larutan
A. Penyiapan Larutan Baku
Larutan Metil Merah
Dibuat sebagai larutan baku dengan konsentrasi 40 ppm

Larutan baku metil merah


Dibuat larutan standar 1,3,5,7 dan 9 ppm

Larutan standar

B. Penentuan panjang gelombang optimum


Larutan standar 1 ppm
Diukur absorbansi pada panjang gelombang 300-600 nm
Dibuat kurva serapan masing-masing larutan ( A Vs )
Ditentukan optimum larutan

Volume Na2S2O3 0,1 N 6

Laporan Praktikum Kimia Analitik III


Spektroskopi Uv-Vis
Kelompok 1 PKB12

C. Pembuatan kurva kalibrasi


Larutan standar sebagai konsentrasi

dibuat kurva kalibrasi dengan mengukur absorbansinya ( A Vs ) pada panjang gelombang optim
Ditentukan persamaan kurvanya
pengukuran dimulai dari larutan dengan konsentrasi terendah

Kurva kalibrasi

D. Penentuan Konsentrasi SSuatu Larutan


Sampel larutan metil merah

dibuat spektrum sampel dengan konsentrasi tertentu


diamati dan dicatat absorbansinya
dihitung konsentrasi larutan metil merah tsb menggunakan persamaan kurva kalibrasi yang telah

Konsentasi sampel

2. Pergeseran panjang gelombang


7

Laporan Praktikum Kimia Analitik III


Spektroskopi Uv-Vis
Kelompok 1 PKB12
A.
2 mL larutan metil merah 40 ppm
Dimasukkan ke dalam labu takar 20 mL
Diencerkan dengan aquades sampai tanda batas
Diukur absorbansinya pada = 300-600 nm dengan blanko aquades

Panjang gelombang
B.
2 mL larutan metil merah 40 ppm
Dimasukkan ke dalam labu takar 20 ml
Ditambah HCl 4 mL 0,4 M
Diencerkan dengan aquades sampai tanda batas
Diukur absorbansinya pada = 300-600 nm dengan blanko aquades

Panjang gelombang

C.
2 mL larutan metil merah 40 ppm
Dimasukkan ke dalam labu takar 20 ml
Ditambah NaOH 4 mL 0,4 M
Diencerkan dengan aquades sampai tanda batas
Diukur absorbansinya pada = 300-600 nm dengan blanko aquades

Panjang gelombang

Laporan Praktikum Kimia Analitik III


Spektroskopi Uv-Vis
Kelompok 1 PKB12
VII.

HASIL PENGAMATAN

No

Prosedur Percobaan

1.

Penentuan Konsentrasi Suatu Larutan


A. Penyiapan Larutan Baku

Hasil Pengamatan
Sebelum:
- Larutan metil merah 40 ppm
= merah (+)

Larutan Metil Merah

Sesudah:
Dibuat sebagai larutan baku dengan konsentrasi 40 ppm
- Larutan metil merah 1 ppm =
merah (-4)
- Larutan metil merah 3ppm =

Larutan baku metil merah


Dibuat larutan standar 1,3,5,7 dan 9 ppm

merah (-3)
- Larutan metil merah 5 ppm =
merah (-2)
- Larutan metil merah 7 ppm =

Larutan standar

merah (-1)
- Larutan metil merah 9 ppm =
merah

- Panjang gelombang max =

Dugaan/Reaksi

Kesimpulan

Reaksi:

Larutan standar metil

MM (aq) + H2O(aq) MM
(aq)

merah 1, 3, 5, 7 dan 9
ppm

Laporan Praktikum Kimia Analitik III


Spektroskopi Uv-Vis
Kelompok 1 PKB12
520,60 nm.
- Absorbansi = 0,176

Absorbansi = 0,176

B. Penentuan Panjang Gelombang Optimum

pada panjang
Larutan standar 1 ppm

gelombang max

520,60 nm. 300-600 nm


Diukur absorbansi pada panjang gelombang
Dibuat kurva serapan masing-masing larutan ( A Vs )
Ditentukan optimum larutan
- 1 ppm = 0,245 nm
- 3 ppm = 0,429 nm
- 5 ppm = 1,421 nm
- 7 ppm = 1,834 nm
- 9 ppm = 2,737 nm
- sampel = 1,096 nm

C. Pembuatan Kurva Kalibrasi

Volume Na2S2O3 0,1 N

konsentrasi = 3,923
Larutan standar sebagai konsentrasi

sampel = 1,096 nm
dan konsentrasi =
3,923

dibuat kurva kalibrasi dengan mengukur absorbansinya ( A Vs ) pada panjang gelombang optimu
Ditentukan persamaan kurvanya
pengukuran dimulai dari larutan dengan konsentrasi terendah
y = 0,319x + 0,264
Kurva kalibrasi

10

Laporan Praktikum Kimia Analitik III


Spektroskopi Uv-Vis
Kelompok 1 PKB12
dengan R = 0,964
sehingga diperoleh
konsentrasi 4,263 mol/L
Konsentrasi sampel =
4,263 mol/L

D. Penentuan Konsentrasi Suatu Larutan


Sampel larutan metil merah

dibuat spektrum sampel dengan konsentrasi tertentu


diamati dan dicatat absorbansinya
dihitung konsentrasi larutan metil merah tsb menggunakan persamaan kurva kalibrasi yang telah diperoleh

Konsentasi sampel

11

Laporan Praktikum Kimia Analitik III


Spektroskopi Uv-Vis
Kelompok 1 PKB12

2.

Pergeseran Panjang Gelombang


A.

- Metil merah = larutan merah


2 mL larutan metil merah 40 ppm

(+)
- Aquades = tidak berwarna
- Metil merah + aquades =

Dimasukkan ke dalam labu takar 20 mL


Diencerkan dengan aquades sampai tanda batas
kuning jernih
Diukur absorbansinya pada = 300-600 nm dengan blankolarutan
aquades
- Absorbansi = 1,130cm-1
- = 532.00 nm

MM (aq) + H2O (l) MM

pH mempengaruhi

(aq)

pergeseran arah
gelombang.

Panjang gelombang
- Metil merah = larutan merah
(+)
- Aquades = tidak berwarna
- HCl = tidak berwarna
- Metil merah + aquades =

B. 2 mL larutan metil merah 40 ppm


larutan jingga jernih
Dimasukkan ke dalam labu takar 20 ml
Ditambah HCl 4 mL 0,4 M
Diencerkan dengan aquades sampai tanda batas
Diukur absorbansinya pada = 300-600 nm dengan blanko aquades
12

Panjang gelombang

HCl (aq) + H2O (l) HCl

pH mempengaruhi

(aq)

pergeseran arah

Laporan Praktikum Kimia Analitik III


Spektroskopi Uv-Vis
Kelompok 1 PKB12
- Absorbansi = 1,540cm-1
- = 529.00 nm

gelombang.

- Metil merah = larutan merah


(+)
- Aquades = tidak berwarna
- NaOH = tidak berwarna
- Metil merah + aquades =
larutan jingga jernih
- Absorbansi = 0,680cm-1
= 43200 nm

NaOH (aq) + H2O (l)


NaOH (aq)

C.
2 mL larutan metil merah 40 ppm
Dimasukkan ke dalam labu takar 20 ml
Ditambah NaOH 4 mL 0,4 M
Diencerkan dengan aquades sampai tanda batas
Diukur absorbansinya pada = 300-600 nm dengan blanko aquades

Panjang gelombang

13

Laporan Praktikum Kimia Analitik III


Spektroskopi Uv-Vis
Kelompok 1 PKB12

14

Laporan Praktikum Kimia Analitik III


Spektroskopi Uv-Vis
Kelompok 1 PKB12
VIII. PEMBAHASAN
Percobaan 1: Penentuan Konsentrasi Suatu Larutan
a. Penyiapan larutan baku
Larutan baku yang digunakan pada percobaan ini adalah metil
merah 40 ppm yang berwarna merah (+). Larutan baku tersebut
digunakan untuk membuat larutan standar dengan konsentrasi 1, 3, 5, 7
dan 9 ppm. Warna larutan standar yang dihasilkan sebagai berikut

Konsentrasi larutan

Warna

1 ppm

Merah (-4)

3 ppm

Merah (-3)

5 ppm

Merah (-2)

7 ppm

Merah (-1)

9 ppm

Merah

Warna larutan yang dihasilkan berbeda-beda, hal ini dikarenakan


semakin besar pengenceran (penambahan aquades) maka akan
mengubah warna asli dari metil merah tersebut menjadi warna pada
spektrum cahaya tampak.
b. Penentuan panjang gelombang optimum
Penentuan panjang gelombang maksimum larutan metil merah
dapat diketahui dengan mengukur absorbansi larutan metil merah
dengan konsentrasi yang terendah pada panjang gelombang tertentu.
Pada larutan metil merah konsentrasi terendah yaitu konsentrasi 1 ppm
pada rentang panjang gelombang 300nm 600nm didapatkan panjang
gelombang maksimum 520.60 nm dan nilai absorbansi 0,176.
c. Pembuatan kurva kalibrasi
Pada percobaan ini, kurva kalibrasi dibuat dengan mengukur
absorbansi setiap larutan standar metil merah ( 1, 3, 5, 7, dan 9 ppm ),
kemudian membuat kurva kalibrasi antara absorbansi dengan

15

Laporan Praktikum Kimia Analitik III


Spektroskopi Uv-Vis
Kelompok 1 PKB12
konsentrasi larutan standar. Berikut adalah nilai absorbansi dari setiap
larutan standar metil merah dari beberapa konsentrasi
No
1
2
3
4
5

Konsentrasi
1 ppm
3 ppm
5 ppm
7 ppm
9 ppm

Absorbansi
0,245 nm
0,429 nm
1,421 nm
1,834 nm
2,737 nm

Dari tabel di atas dapat dibuat kurva sebagai berikut

absorbansi Vs konsentrasi
4
absorbansi

f(x) = 0.32x - 0.26


R = 0.96

0
0

8 10

konsentrasi

Berdasarkan kurva tersebut didapatkan persamaan y = 0,319x 0,264


dan R2 = 0,964.
d. Penentuan konsentrasi suatu larutan

16

Laporan Praktikum Kimia Analitik III


Spektroskopi Uv-Vis
Kelompok 1 PKB12
Penentuan konsentrasi dapat diketahui dengan cara memasukkan
nilai absorbansi sampel ke dalam persamaan garis linier yang diperoleh
dari kurva kalibrasi yaitu
y = 0,319x 0,264 dengan R2 = 0,964.
Persamaan tersebut dianalogikan bahwa persamaan garis adalah
y = mx+c, dimana y = absorbansi sampel; m = 0,319 dan c = 0,264
y
= mx + c
1,096
= 0,319x 0,264
0,319x
= 1,36
x
= 4,263
Dari perhitungan tersebut, maka konsentrasi sampel yang diuji
dengan absrobansi sebesar 1,096 yaitu 4,263 mol/L.
Percobaan 2: Pergeseran Panjang Gelombang
Pada percobaan pergeseran panjang gelombang dilakukan 3 macam
percobaan yaitu larutan metil merah tanpa ditambah apapun (suasana
netral), larutan metil merah ditambah dengan HCl (suasana asam), larutan
metil merah ditambah dengan NaOH (suasana basa).
Pada percobaan larutan metil merah tanpa ditambah apapun (suasana
netral), langkah pertama yang dilakukan adalah mengencerkan 2 mL larutan
metil merah 40 ppm di dalam labu takar 20 mL dengan menggunakan
aquades. Larutan metil merah sebelum diencerkan berwarna merah (+),
setelah diencerkan dengan aquades menghasilkan larutan berwarna kuning
jernih. Langkah selanjutnya yaitu mengukur absorbansinya pada pannjang
gelombang 300-600 nm dengan blanko aquades, diperoleh absorbansi
sebesar 1,130 cm-1 dengan panjang gelombang maksimum 532.00 nm.
Pada percobaan larutan metil merah ditambah dengan HCl (suasana
asam), langkah yang dilakukan yaitu memasukkan 2 mL larutan metil merah
40 ppm yang berwarna merah (+) ke dalam labu takar 20 mL kemudian
ditambahkan 4 mL HCl 0,4 M yang merupakan larutan tidak berwarna.
Selanjutnya diencerkan dengan aquades sampai tanda batas, dihasilkan
larutan berwarna jingga jernih. Langkah selanjutnya yaitu mengukur
absorbansinya pada panjang gelombang 300-600 nm dengan blanko
aquades, diperoleh absorbansi sebesar 1,540 cm-1 dengan panjang
gelombang maksimum 529.00 nm.

17

Laporan Praktikum Kimia Analitik III


Spektroskopi Uv-Vis
Kelompok 1 PKB12
Pada percobaan larutan metil merah ditambah dengan NaOH
(suasana basa), langkah yang dilakukan yaitu memasukkan 2 mL larutan
metil merah 40 ppm yang berwarna merah (+) ke dalam labu takar 20 mL
kemudian ditambahkan 4 mL NaOH 0,4 M yang merupakan larutan tidak
berwarna. Selanjutnya diencerkan dengan aquades sampai tanda batas,
dihasilkan larutan berwarna kuning jernih. Langkah selanjutnya yaitu
mengukur absorbansinya pada panjang gelombang 300-600 nm dengan
blanko aquades, diperoleh absorbansi sebesar 0,680 cm-1 dengan panjang
gelombang maksimum 432.00 nm.
IX.

SIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa
1. Konsentrasi larutan metil merah dapat ditentukan dengan
spektrofotometer Uv-Vis. Dalam percobaan ini diperoleh persamaan y =
0,319x 0,264 dengan R2 = 0,964, sehingga didapat konsentrasi larutan
metil merah sebesar 4,263 mol/L.
2. pH dapat mempengaruhi panjang gelombang, dimana pada suasana
asam diperoleh panjang gelombang 529.00 nm dan pada suasana basa
diperoleh panjang gelombang 432.00 nm.

X.

DAFTAR PUSTAKA
Ali, M.F. 2005. Handbook of Industrial Chemistry Organic Chemicals. The
McGraw-Hill Companies, Inc. Sydney.
Hastuti, Sri, M.Si, dkk. 2007. Buku Petunjuk Praktikum Kimia Analitik
Dasar I.Surakarta : Laboratorium Kimia Dasar FMIPA UNS
Khopkar, S.M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas
Indonesia
Sastrohamidjojo, Hardjono. 1992. Spektroskopi Inframerah. Yogyakarta:
Liberty Yogyakarta.
Setiarso, Pirim, dkk. Petunjuk Praktikum Kimia Analitik III (MSA).
Surabaya: Unesa FMIIPA Jurusan Kimia
Underwood, A. L. dkk. 1986. Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi Keenam.
Jakarta: Erlangga.

18

Laporan Praktikum Kimia Analitik III


Spektroskopi Uv-Vis
Kelompok 1 PKB12
LAMPIRAN

Pengambilan larutan metil


merah ke dalam labu ukur

Larutan metil merah


ditambah dengan aquades

Larutan metil merah setelah


diencerkan

Pengenceran larutan metil


merah sampai tanda batas

19