Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN KASUS ALVEOLEKTOMI

MODUL 7

Oleh:
Ricco Ardes, SKG
1010070110015

Pembimbing :
drg. Andries Pascawinata, MDSc., Sp. BM

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS BAITURRAHMAH
PADANG
2015

LAPORAN KASUS ALVEOLEKTOMI

Data Pasien

1.

Nama

Nasri Agus

Umur

60 tahun

Jenis Kelamin

Laki-laki

Alamat

Katapiang Rt03/01 by pass

Pekerjaan

Swasta

Agama

Islam

Status

Sudah Menikah

Hari / Tgl

Kasus

Kunjungan I
Hari
: Senin

Eksostosis Pada
Regio 32

Tanggal : 24-032015

Tindakan yang
dilakukan
1. Anamnesa
2. Pemeriksaan
Klinis

Operator
Euis Marliana
10-015

Padang, 22 April 2015


Dosen Pembimbing,

( drg. Andries Pascawinata, MDSc., Sp. BM )

MODUL 7
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS BAITURRAHMAH
PADANG

HALAMAN PENGESAHAN

Telah didiskusikan dan dipresentasikan Laporan Kasus Alveolektomi guna


melengkapi persyaratan Kepaniteraan Klinik pada Modul 7.

Padang,

April 2015

Disetujui Oleh
Dosen Pembimbing

(drg. Andries Pascawinata, MDSc., Sp. BM )

BAB I
PENDAHULUAN

Meningkatnya penduduk berusia lanjut menyebabkan bedah preprostetik


menjadi bidang yang semakin penting dalam praktek kedokteran gigi. Bedah
preprostetik tersebut bisa berupa prosedur yang sederhana misalnya kompresi dan
molding digital dari alveolus sesudah pencabutan gigi, atau prosedur pembedahan
rehabilitatif yang relatif luas seperti penambalan linggir (ridge) dan pemasangan
implant. Bedah preprostetik adalah bidang yang secara nyata memanfaatkan
perkembangan teknologi, misalnya bahan baru untuk penambalan linggir dan
peralatan-peralatan untuk implant. Daya tarik bidang ini akan semakin berkembang
terpacu oleh perkembangan bahan, peralatan, teknik serta meningkatnya permintaan
masyarakat (Pedersen, 2012).
Tindakan bedah sebelum pembuatan protesa adalah suatu tidakan bedah mulut
untuk mempersiapkan rahang atau mukosa mulut guna pembuatan protesa yang baik
stabilisasi dan retensinya. Kebanyakan pasien sesudah pencabutan gigi tidak
membutuhkan tindakan bedah sebelum pembuatan protesa. Pada mereka dapat
dibuatkan protesa yang baik, asalkan pada waktu pencabutan giginya telah sekaligus
dibuang tulang-tulang yang tajam dan tulang-tulang yang menonjol. Untuk meratakan
prosesus alveolaris ini ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Radikal alveolektomi
harus dihindarkan terlebih-lebih di rahang bawah karena hal tersebut dapat
mempercepat terjadinya resorbsi tulang alveolus karena tekanan dari protesa,

sehingga lama kelamaan prosesus alveolaris dari rahang bawah tersebut akan menjadi
tipis, tajam, atau datar (Tjiptono dkk, 1998).
Prosesus alveolaris yang tidak rata dapat disebabkan karena pencabutan gigi
yang banyak perbedaan waktu antara pencabutan gigi-gigi tersebut. Selain itu, dapat
juga disebabkan karena adanya septum interdental yang tinggi. Tetapi keadaan ini
dapat hilang apabila kita cukup lama menunggu yaitu sampai 6 bulan. Indikasi untuk
melakukan preprostetik surgery adalah adanya rasa sakit pada saat penekanan atau
palpasi dan retensi serta stabilisasi yang tidak memenuhi syarat (Tjiptono dkk, 1998).
Istilah alveolektomi, alveolotomi, dan alveoplasti

kadang-kdang rancu.

Kadang istilah ini dipertukarkan dan mungkin juga diterapkan kurang tepat.
Alveolektomi adalah suatu tindakan bedah yang radikal untuk mereduksi/mengambil
prosesus alveolaris sehingga bisa dilakukan aposisi mukosa, yaitu suatu prosedur
yang dilakukan untuk mempersiapkan linggir sebelum dilakukan terapi radiasi.
Alveolotomi adalah pengambilan sebagian prosesus alveolaris dan sering juga tulang
antar akar sehingga bisa dilakukan pencetakan (molding) dan pembentukan kontur.
Kadang-kadang istilah tersebut diartikan sebagai eksisi tulang alveolar untuk
mencapai jalan masuk ke struktur yang lebih dalam. Alveoplasti adalah
mempertahankan, pembentukan kembali linggir yang tersisa (dengan pembedahan)
supaya permukaannya dapat menahan protesa dengan baik. Alveoplasti adalah
prosedur yang biasanya dilakukan untuk mempersiapkan linggir, berkisar mulai satu
gigi sampai seluruh gigi dalam rahang, dilakukan segera setelah pencabutan atau

sekunder, dimana dilakukan tersendiri sebagai prosedur korektif yang dilakukan


kemudian (Pedersen, 2012).
Eksostosis merupakan tonjolan tulang pada prosesus alveolaris yang
berbentuk membulat, serta tajam bila diraba, terasa sakit dan tidak dapat digerakkan.
Penyebab eksostosis tersebut dikarenakan adanya proses resorbsi tulang pada usia
lanjut yang terjadi secara fisologis dan tidak teratur. Sehingga didapatkan sisa tulang
resorbsi yang tajam dan mungkin ada yang tumpul. Secara anatomis seperti bentuk
tulang yang tajam dan menonjol serta linggir yang tidak teratur harus dihilangkan
untuk memperoleh suatu basis tulang yang baik pada pembuatan protesa. Eksostosis
dapat

mengganggu retensi, stabilitas dan kenyamanan pada pasien yang

menggunakan gigi tiruan. Agar tidak mengganggu retensi, stabilitas dan kenyamanan
pasien pengguna gigi tiruan maka perlu dilakukan pengambilan pada eksostosis
tersebut. Pembedahan yang digunakan untuk mengambil eksostosis yaitu dengan
alveolektomi (Aditya, 1999).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Alveolektomi
Alveolektomi adalah pengambilan tulang pada prosessus alveolaris yang
membesar atau prosessus alveolaris yang tajam baik pada mandibula maupun
maksila. Alveolektomi juga dapat didefinisikan sebagai suatu tindakan pengurangan
tulang soket dengan cara mengurangi plat labial atau bukal dari prosessus alveolar
dengan pengambilan septum interdental dan interadikuler untuk mereduksi atau
mengambil procesus alveolus disertai dengan pengambilan septum interdental dan
interradikuler sehingga bisa dilaksanakan aposisi mukosa. Alveolektomi juga
merupakan tindakan yang dilakukan setelah ekstraksi multiple atau single yang
mencakup pengambilan tulang dan pemendekan tepi gingiva untuk memperoleh hasil
yang terbaik untuk pembuatan protesa. Alveolektomi termasuk bagian dari bedah
preprostetik yaitu tindakan bedah yang dilakukan untuk persiapan pemasangan gigi
tiruan (Pedersen, 2012; Banjar, 2002; Tjiptono dkk, 1998).
2.1.1 Indikasi Alveolektomi
Pada intra oral tampak tonjolan tulang tajam pada prosesus alveolaris
setelah pencabutan gigi
Adanya tonjolan pada prosesus alveolaris yang terasa sakit apabila ditekan
akibat proses pencabutan gigi
Jaringan hipertopi
Kondisi-kondisi patologi (Banjar, 2002)
2.1.2 Kontraindikasi Alveolektomi
1. Tulang kortikal yang tipis
2. Pasien dengan penyakit sistemik
3. Periostitis

4. Periodontitis, merupakan penyakit periodontal yang parah, yang


2.1.3

mengakibatkan kehilangan tulang (Tjiptono dkk, 1998).


Syarat - syarat yang harus dipenuhi pada tindakan alveolektomi
1. Pengambilan tulang tidak boleh terlalu banyak dan sedapat mungkin
mempertahankan tulang kortikal, sebab bila tulang kortikal terlalu
banyak diambil dapat mempercepat terjadinya resorbsi tulang alveolar

tersebut.
2. Bagian tulang pendukung gigi tiruan cukup banyak yang tinggal.
3. Kondisi pasien baik (Tjiptono dkk, 1998).
2.2 Prinsip Bedah Mulut
Seorang yang akan melakukan tindakan bedah mulut harus mempunyai
pengetahuan dasar, terutama mengenai anatomi, fisiologi, patologi, farmakologi
dan sebagainya. Prinsip untuk dapat melakukan pekerjaan dengan sebaikbaiknya yang penting adalah diagnosa yang tepat, rencana perawatan, perawatan
secara pembedahan, dan perawatan pasca bedah.
2.2.1 Diagnosa yang tepat
Tanpa mengetahui diagnosa yang tepat, kita tidak akan dapat
mengadakan terapi yang baik, walaupun
2.2.2

ada berbagai macam cara

pengobatan tetapi diagnosa yang tepat hanya satu (Tjiptono dkk, 1998).
Rencana perawatan
Setiap rencana perawatan disusun dengan sedemikian rupa sehingga
meliputi keadaan lokal, kesehatan umum dan sosial ekonomi dari pasien.
Rencana perawatan tidak terlepas dari pada perawatan pasca bedah. Dari
anamnesa perawatan ini akan keluar empat macam hasil yang akan dilakukan
yaitu :
Observasi (diamati selanjutnya)
Perawatan konserfatif (dirawat secara konserfatif dengan pengobatan saja)
Pembedahan (diambil tindakan operasi)

Konsultasi (dikirim ke sejawat yang lebih ahli untuk ditindak lebih lanjut)
2.2.3

(Tjiptono dkk, 1998).


Perawatan secara pembedahan
Pada tindakan operasi harus diikuti syarat-syarat sebagai berikut :
Asepsis
Prinsip asepsis telah diakui dalam ilmu bedah mulut. Dengan bantuan
antibiotik, anestetikum yang tepat, dan keseimbangan cairan yang baik,
maka prosedur-prosedur bedah mulut telah banyak mengalami kemajuan.
Kasus yang fatal, sekarang telah dapat dikerjakan dengan baik. Tetapi ini
saja belum cukup, harus disertai dengan tindakan asepsis. Asepsis adalah
menghindari mikroorganisme pathogen. Secara praktis, merupakan suatu
teknik yang digunakan untuk memberantas semua jenis organisme
(Pedersen 2012; Tjiptono dkk, 1998)
Atraumatic-surgery
Syarat-syarat yang tidak kalah pentingnya yaitu membuat trauma
sekecil mungkin. Bekerja harus hati-hati dan dengan gerakan yang pasti.
Tindakan yang tidak hati-hati akan menyebabkan terjadinya laserasi
mukosa atau memudahkan terjadinya infeksi dan memperlambat
penyembuhan. Alat-alat seperti scalpel, jarum suntik, jarum jahit haruslah
tajam karena apabila jarum dan scalpel tumpul maka akan memperbesar
trauma (Pedersen, 2012; Tjiptono dkk, 1998).
Memenuhi tata kerja yang teratur
Bekerja menurut tata kerja yang teratur yaitu cara kerja yang
sistematis,

agar

dapat

mancapai

hasil

yang

maksimal

dengan

mengeluarkan tenaga sekecil mungkin. Cara kerja ini berbeda untuk setiap
operasi atau tindakan bedah mulut (Tjiptono dkk, 1998).

2.2.4

2.3

Perawatan pasca bedah


Perwatan pasca bedah atau perawatan sesudah operasi yang baik akan
mencegah terjadinya komplikasi sesudah operasi (Tjiptono dkk, 1998).
Prinsip Pembuatan Flap
Kesalahan yang umum terjadi adalah tidak memadainya jalan
masuk karena kurang besarnya flap. Oleh karena itu prinsip-prinsip
mendesain flap adalah penting dan perlu diperhatikan dengan baik. Dengan
jalan masuk yang adekuat, pemisahan atau pemotongan terkontrol dari gigi
merupakan rute yang pasti untuk mendapatkan arah tanpa halangan dengan
mengorbankan tulang sedikit mungkin. Keterampilan dalam melakukan
pembedahan gigi dicapai melalui pengalaman klinik yang lama. Beberapa
pengalaman terbaik diperoleh dengan melalui kemampuan memecahkan
masalah dengan melalui kemampuan memecahkan masalah melalui pemikiran
dan perencanaaan yang hati-hati.
Bentuk dari flap sangat

mempengaruhi

dalam

keberhasilan

pembedahan, dimana ada 3 macam bentuk flap yang dapat dibuat dan dibuat
tergantung dari daerah operasi dan besar lesi yang akan diambil yaitu :
Semiluner
Trapesium
Segitiga
Ketiga bentuk ini dapat dibuat tergantung dari pada daerah operasi dan
besar bagian yang akan diambil. Apabila tepi gingiva dari pada gigi termasuk
dalam daerah flap, maka harus diinsisi dan tidak boleh diangkat begitu saja.
Untuk melepaskan flap harus dengan gerakan yang halus. Pekerjaan yang
tidak rapi akan menimbulkan trauma dan akan menyebabkan penyembuhan
yang lama dan tidak sempurna, dengan cara bekerja yang atraumatik akan

dapat mempertahankan aliran darah dari flap, sehingga flap tetap hidup dan
baik terhindar dari terjadinya nekrose.
Hal-hal yang perlu diketahui dalam pembuatan flap :
Penyembuhan dari flap tidak tergantung dari besarnya tetapi tergantung dari
pada bagaimana membuatnya dan bagaimana kita bekerja.
Pada waktu melakukan insisi serta pada waktu pembukaan flap, harus
diperhatikan jangan sampai merusak nervus, oleh karena dapat menyebabkan
terjadinya rasa kebas, biru serta paralise.
Insisi pada jaringan lunak, misalnya mukosa pipi, lidah, palatum mole, atau
dasar mulut tidak boleh tegak lurus (Tjiptono dkk, 1998).
Syarat dalam pembuatan desain flap adalah :
Basis lebih lebar dibandingkan tepi bebasnya (insisi tambahan harus serong).
Mempertahankan suplai darah (insisi sejajar dengan pembuluh darah untuk
memberikan vaskularisasi)
Hindari retraksi flap yang terlalu lama
Hindari ketegangan dalam penjahitan, jahitan yang berlebih atau keduanya
Persyarafan : desain diusahakan menghindari saraf yang terletak didalam
(terutama nervus mentalis)
Pendukung : tempatkan tepi sedemikian rupa sehingga terletak di atas tulang
(lebih kurang 3-4 mm dari tepi tulang yang rusak)
Ukuran : ukuran flap seharusnya lebih besar dan jangan terlalu kecil serta
jangan diperluas berlebihan
Ketebalan : untuk flap mukoperiostal, periostum diambil secara menyeluruh
jangan sampai terkoyak dan pada waktu mengangkat flap jangan sampai
sobek (Pedersen, 2012).

2.4 Penjahitan
2.4.1 Benang Jahit
Benang jahit dibagi menjadi dua yaitu yang bisa diabsorbsi dan yang tidak
bisa diabsorbsi. Secara umum, jahitan yang terletak pada permukaan luar
tubuh menggunakan bahan non-absorbsi, sedangkan yang terletak dibawah
kulit menggunakan yang dapat diabsorbsi. Tipe bahan non-absorbsi yang
menonjol adalah sutera, katun, nilon, dan baja tahan karat (kawat). Gut adalah
bahan standar untuk tipe absorbsi. Benang polyglycolic acid yang dapat di
absorbsi juga tersedia dan digunakan secara luas, durasinya lebih lama dari
pada gut. Benang jahit tersedia dalam keadaan steril dengan jarum yang
melekat (swaged atau armed). Benang sutera hitam tersedia dalam bentuk
kering sedangkan gut dibungkus didalam genangan alkohol untuk
mempertahankan kualitasnya. Jarum yang ideal untuk pencabutan intra oral
2.4.2

adalah 3/8 lingkaran dengan cutting edge terbalik (Pedersen, 2012).


Teknik Jahitan
Jahitan Terputus/Matress
Teknik jahitan terputus merupakan teknik yang sering dipakai pada bedah
dentoalveolar. Dengan metode ini dibuat individu/tunggal dan masingmasing diikat tersendiri dengan simpul square atau simpul bedah. Suatu
modifikasi dari jahitan terputus adalah teknik mattress baik vertical
maupun horizontal. Teknik mattress menghasilkan eversi dari tepi luka,
yang pada hal tertentu diharapkan karena permukaan penyembuhan bisa
mempunyai kontak yang luas. Jahitan mattress horizontal dapat dibuat

dengan menggandengkan dua jahitan yang berdampingan yang terletak


pada dataran yang sama dengan simpul tunggal (Pedersen, 2012).
Jahitan Kontinu
Jahitan kontinu bisa simpel atau kunci atau berbagai teknik mattress bisa
diadaptasikan untuk insersi kontinu. Keuntungan sistem kunci (locked
system) adalah jahitan yang dibuat sebelumnya akan tetap kencang,
walaupun tidak ditarik. Jahitan mattress kontinu digunakan di klinik untuk
membuat garis jahitan yang eversi, biasanya mempunyai panjang tertentu
2.4.3

(Pedersen, 2012).
Prinsip-Prinsip Jahitan
Kesalahan umum pada penjahitan adalah menempatkan terlalu banyak jahitan
dan pengikatan yang terlalu kencang. Jahitan adalah benda asing karena itu
makin sedikit jahitan makin kecil trauma dan makin sedikit reaksi jaringan.
Jahitan yang diikat terlalu kencang akan menghalangi suplai darah dan
mengurangi drainase. Penempatan jahitan intra oral, lebih baik hasilnya kalau
berpegang pada aturan berikut : secara umum jahitan dimulai dari posterior
ke anterior (dari jauh ke dekat), dari jaringan yang tidak melekat ke jaringan

yang cekat, apabila memungkinkan tepat menempel tulang (Pedersen, 2012).


2.5 Komplikasi
Setelah dilakukan tindakan prosedur bedah biasanya akan muncul keluhan.
Salah satu keluhan yang mungkin terjadi adalah rasa tidak nyaman. Rasa ini dapat
terjadi sebagai akibat adanya rasa sakit yang dialami pasien. Rasa ini dapat terjadi
akibat adanya rasa sakit yang dialami pasien. Untuk menghilangkan rasa tidak
nyaman ini dapat diberikan obat penghilang rasa sakit.
Komplikasi pasca bedah dan pencabutan gigi kadang-kadang tidak dapat
dihindari, dapat terjadi oleh beberapa sebab tanpa memandang operator,

keterampilan operator maupun kesempurnaan persiapan. Komplikasi yang terjadi


bervariasi demikian juga akibat yang ditimbulkan (Ismardianita, 2013).
2.5.1

Komplikasi Yang Mungkin Terjadi


1) Laserasi mukosa : Ginggiva terjepit pada saat pencabutan, mukosa sudut
mulut luka karena terlalu lebar membuka mulut.
Penanganan : Operator harus bekerja dengan baik dan benar.
2) Lesi pada nervus : Nervus dapat terluka pada saat anastesi lokal karena
memakai jarum yang tumpul dan bisa juga terjadi bila waktu
penyuntikkan ada sisa alkohol yang masuk kejaringan dan sampai ke
nervus sehingga dapat menyebabkan terjadi nekrose dan parastesi.
Penanganan : Anastesi lokal harus memakai jarum yanag tajam serta
operator memperhatikan alat dan daerah tempat dilakukan injeksi.
3) Pendarahan : Waktu tindakan pembedahan dilakukan banyaknya/ besarnya
pembuluh darah yang terkena.
Penanganan :
Secara tekanan : dengan menggunakan kain kasa atau tampon.
Secara biologis : bila pemakaian tampon padat atau kasa tidak bisa
menghentikan pendarahan maka dapat dipakai obat-obatan seperti
adrenalin.
Pengikatan atau penjahitan : bila pendarahan disebabkan karena
terputusnya pembuluh darah yang besar, maka pembuluh darah
tersebut diikat dengan menggunakan cat gut atau benang absorbel dan
bila pendarahan disebabkan karena terbukanya jahitan operasi maka
kita melakukan penjahitan kembali.
Hemostat : digunakan untuk menjepit pembuluh darah.
4) Edema : Kelanjutan normal dari setiap pencabutan atau pembedahan gigi,
serta merupakan reaksi normal dari jaringan terhadap cidera. Edema

adalah reaksi individual yaitu trauma yang besarnya sama, tidak terlalu
mengakibatkan derajat pembengkakan yang sama baik pada pasein yang
sama atau berbagai pasien. Usaha-usaha yang bisa mengontrol udema
adalah termal (dingin), fisik (pemekanan), dan obat-obatan. Obat yang
sering digunakan adalah jenis steroid yang dibarikan secara prenatal, oral
atau tropical sebagai pembalut tulang alveolar.
5) Alveolitis / dry socket : Komplikasi yang paling sering terjadi serta
menakutkan dan paling sakit sesudah pencabutan adalah dry socket atau
alveolitis. Biasanya di mulai dari hari ke 3 sampai ke 5. Keluhan utama
yang dirasakan adalah rasa sakit yang sangat hebat sesudah operasai.
Pemeriksaan terlihat tulang alveolaris yang terbuka, terselimuti kotoran
dan dikelilingi berbagai tingkatan peradangan dari ginggiva. Akibat
terjadinya dry socket adalah hilangnya bekuan akibat lisis, mengelupas
atau keduanya. Dry socket ini bisa juga terjadi akibat adanya
streptococcus, tetapi lisis mungkin bisa terjadi tanpa keterlibatan bakteri.
Diduga trauma berperan karena mengurangi vaskularisasi yaitu pada
tulang yang mengalami mineralisasi yang tingi pada pasien usia lanjut.
Penatalaksanaan : untuk perawatan persyarafan tindakan yang
tenang, hati-hati dan halus. Bagian yang mengalami dry socket diberi
diirigasi dengan larutan saline yang hangat, dan diperiksa. Palpasi dengan
menggunakan aplikator kapas dapat membantu dalam menentukan
sensitivitas (Pederson, 2012).
6) Infeksi : Didasarkan atas potensi penyebaran dari infeksi bakterium atau
keduanya. Pencabutan dan pembedahan yang mengalami infeksi akut

yaitu perikoronitis atau abses. Penatalaksanaannya adalah dengan


memberikan obat antibiotik seperti penisilin (Pedersen, 2012).
2.5.2

Beberapa Tindakan Postoperatif yang Harus Dilakukan


1) Istirahat yang cukup. Istirahat yang cukup dapat mempercepat
proses penyembuhan luka.
2) Untuk sementara pasien dianjurkan untuk tidak memakanmakanan yang keras dan merangsang
3) Pasien harus memakan - makanan yang lunak dan lembut terutama
pada hari pertama pasca pembedahan. Pasien tidak boleh memakan
- makanan yang panas karena dapat terjadinya pendarahan. Pasien
baru boleh makan beberapa jam setelah pembedahan agar tidak
mengganggu dan jangan mengunyah pada sisi yang dilakukan
pembedahan.
4) Banyak meminum air putih agar terhindar dari dehidrasi
5) Pasien harus selalu menjaga kebersihan mulut, gigi disikat secara
rutin dan diiringi dengan penggunaan obat kumur.
6) Untuk mengurangi rasa sakit pasien diberi obat analgetik
7) Untuk mempercepat masa penyembuhan pasein diberikan vit c
8) Pasein tidak boleh merokok, karena dapat meningkatkan insiden
terjadinya pendarahan dan dry socket (Ismardianita, 2013)

BAB III
LAPORAN KASUS
Seorang pasien laki-laki berusia 60 tahun datang ke RSGMP Baiturrahmah
dengan keluhan ingin membuat gigi tiruan penuh pada rahang atas dan bawah. Dari
pemeriksaan subjektif didapatkan bahwa pasien tidak memiliki kelainan penyakit
sistemik dan alergi obat. Dari hasil pemeriksaan, tekanan darah pasien 120/90 mmHg,
pada pemeriksaan pernapasan didapatkan 20 kali/menit dan pemeriksaan denyut nadi
didapatkan 74 kali/menit. Pada hari pertama datang, pasien dirujuk ke bagian
prosthodonti untuk memeriksakan apakah pembuatan gigi tiruan bisa dilakukan atau
tidak. Pada pemeriksaan intraoral terlihat adanya penonjolan pada tulang tepatnya di
ridge alveolar pada regio gigi 32. Sewaktu di palpasi didapat adanya rasa sakit,
runcing dan tajam. Berdasarkan hasil pemeriksaan pasien mempunyai eksostosis pada
ridge alveolar di regio gigi 32, yang dapat mengganggu pada pembuatan gigi tiruan.

3.1

Data pasien
Nama

Nasri Agus

Umur

60 tahun

Jenis Kelamin

Laki-laki

Alamat

Katapiang Rt03/01 by pass

3.2

Pekerjaan

Swasta

Agama

Islam

Status

Sudah Menikah

Foto Pasien
3.2.1 Foto Ekstra Oral

3.2.2

Foto Intra Oral

3.3

Prosedur Pembedahan
Tindakan alveolektomi dilakukan pada hari Rabu, 21 Januari 2015.
1. Siapkan alat dan bahan yang telah disterilkan.
Alat :
Alat standar
Handle blade
Raspatorium
Bone file
Blade no 15
Gunting bedah
Benang + jarum jahit
Needle holder
Low speed ( mikromotor )
Bur tulang
Knabel tang
Bahan :

Pehacaine
Povidon iodine
NaOcl 0,9 %
Tampon, kasa, kapas
Alkohol

Gambar 1. Persiapan alat dan bahan

2. Dudukan pasien didental unit, operator menjelaskan kepada pasien tentang prosedur
perawatan secara singkat serta membimbing pasien dalam mengisi inform consent.
3. Asepsis dilakukan baik kepada operator maupun pasien
- Operator : mencuci tangan, membuka perhiasan dan aksesoris tangan yang
-

dipakai, memakai handscone dan masker.


Pasien : asepsis ekstra oral dengan menggunakan alkohol diolesi melingkari bibir
dengan searah jarum jam, dan intra oral dengan menggunakan larutan antiseptik

(povidon iodine) yaitu pada daerah kerja.


4. Lakukan infiltrasi anastesi, kemudian lakukan pengecekan dengan menggunakan
RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT
ujung sonde apakah anastesi sudah berjalan atau belum.
YAYASAN
PENDIDIKAN
BAITURRAHMAH
5. Lakukan bleeding
point pada
daerah yang akan
dilakukan insisi dengan bentuk flap
Jl.Raya By Pass KM 15 Aie Pacah Padang. Telp.0751-

trapesium.
463871
6. Buka perlekatan flap dengan menggunakan raspatorium dan dilakukan identifikasi
Dokter

drg. Andries Pascawinata, MDSc.,Sp.BM

penonjolan tulang yang runcing yang akan diambil.


Tanggal tulang
:
7. Buang penonjolan
alveolus yang runcing tersebut dengan bur atau dengan
R/
Amoxicillin tab 500 mg No. X
knabel tang.
8. Raba bagian tulang yang S3dd
masihtab
tajam
dan dihaluskan dengan dengan menggunakan
I P.C

bone file, setelah R/


dihaluskan
lakukantab
irigasi
larutan NaOcl 0,9 %.
Cataflam
50 dengan
mg No.X
9. Kembalikan flap seperti semula kemudian dilakukan suturing dengan interrupted
S3dd tab I P.C

suture.
R/
B.Com C tab 500 mg No.V
10. Instruksi pasca bedah dan medikasi kemudian pasein dipulangkan dan diberi obat.
S1dd tab I P.C
R/

Minosep gargle fls I 1oo ml


S3dd gargle fls I m.et

Pro

: nasri agus

11. Pasien kontrol seminggu kemudian. Pada saat kontrol dilakukan pemeriksaan
kembali, seperti tekanan darah pasien didapatkan mmHg. Pada pemeriksaan Kalor
(-), Rubor (-), Dolor (-), dan Tumor (-). Kemudian dilakukan pembukaan jahitan pada
pasien tersebut.
BAB IV
PENUTUP

Demikian laporan kasus ini dibuat, diharapkan laporan kasus ini dapat memberikan
manfaat bagi pembaca dan menambah wawasan serta pengetahuan tentang pembedahan
dalam melakukan tindakan alveolektomi.

DAFTAR PUSTAKA
Aditya, Gabriella., 1999. Alveoloplasti Sebagai Tindakan Bedah Preprostodontik.
Bagian Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Universitas
Trisakti. Vol. 18. No (1). Jurnal Kedokteran Trisakti.
Banjar, Guntur., 2002. Alveolektomi Setelah Ekstraksi Multipel. Fakultas Kedokteran
Gigi Universitas Sumatera Utara. Skripsi. Medan. Hlm : 1-5.
Fitri, A.N.I., 2014. Persiapan Jaringan Periodontal Untuk Perawatan Gigi Tiruan
Sebagian Dan Gigi Tiruan Penuh. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Hasanuddin. Skripsi. Makassar. Hlm : 16.
Ismardianita, E., 2013. Eksodonsia. Bagian Bedah Mulut. Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Baiturrahmah. Padang. Hlm : 214-216.
Pedersen, G.W., 2012. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Alih Bahasa : Purwanto,
Basoeseno. Editor : Lilian Yuwono. EGC. Jakarta. Hlm : 119-120.
Ragiskos D. Fragiskos., 2007. Oral Surgery. Veldag Berlin Heidelberg : Springer.
Sandira, 2009. Alveolektomi. Bagian Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut, Fakultas
Kedokteran Universitas Trisakti.

Starshak, T.J., 1980. Preprosthetic Oral And Maxillofacial Surgery. Mosby


Publication.
Tjiptono K.N, Toeti R, dkk., 1998. Ilmu Bedah Mulut Edisi Ke Dua. Penerbit Cahaya
Sukma Nelti, R. Indikasi pencabutan. Hlm : 206-208.
Vohra, P and Vohra, N., 2011. Provisional Prosthesis For Class 1 Radical
Mandibular Alveolectomy Patient A Case Report. Vol. 1. Issue 1. Asian
Journal of Oral Health & Allied Science.

Anda mungkin juga menyukai