Anda di halaman 1dari 84

PT.

Wijaya Karya Bitumen

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
SMK Tambang Nusantara Kendari adalah suatu Lembaga Pendidikan
Kejuruan yang mempunyai tugas untuk dapat menghasilkan siswa-siswi yang
terampil dalam bidang pengusahaan bisnis pertambangan, dan berdedikasi
tinggi serta mampu berinteraksi dalam dunia kerja.
Di dalam mencapai tujuan yang mulia tersebut, maka setiap siswa/siswi
kami harus menguasai berbagai kemampuan dan keterampilan dasar, serta
harus memiliki wawasan ilmu pengetahuan yang luas dalam dunia Bisnis
pertambangan khususnya pada Ilmu Geologi Pertambangan.
Agar dapat mencapai tujuan tersebut, maka salah satu cara adalah dengan
menerjunkan siswa/siswi kami langsung pada dunia kerja yang sebenarnya.
Praktek Kerja Industri ini dilaksanakan untuk menambah keterampilan dan
pengetahuan peserta didik kami dalam setiap praktek dan menerapkan teoriteori yang telah penulis dapat pada objek secara langsung.
Pengaturan pelaksanaan Praktek Kerja Industri dilakukan oleh sekolah
dengan mempertimbangkan kesediaan lembaga atau dunia kerja untuk dapat
menerima siswa/siswi kami yang akan melaksanakan Praktek Kerja Industri.
Struktur program kurikulum, kalender pendidikan pada tahun ajaran tersebut
akan disesuaikan dengan situasi dan kondisi keadaan setempat.
Dengan diadakannya Praktek Kerja Industri saat ini sangatlah baik dan
berguna bagi setiap siswa/siswi SMK Tambang Nusantara Kendari
mendapatkan suatu gambaran yang nyata di dalam menjajaki dunia kerja dan

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

menerapkan apa-apa yang telah didapatkan dari akademi pada pekerjaan yang
akan digeluti, sehingga bila mereka terjun ke dunia kerja tidak mendapatkan
kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja dapat menerapkan
keahlian profesi yang dimiliki.
Pada saat ini sekolah kami dituntut untuk dapat lebih memahami teori
yang didapat selama KBM di sekolah dengan mengenal dunia luar atau dunia
kerja.
Oleh karena itu, dengan kurikulum yang diterapkan di sekolah-sekolah
pada umumnya dan terutama di SMK Tambang Nusantara Kendari. Pada akhir
semester satu ini siswa/siswi SMK Tambang Nusantara diwajibkan untuk
mengikuti Prakerin (Praktek Kerja Industri).
Dimana dengan adanya PKL siswa dapat memperoleh pengalaman
tentang dunia kerja dan siswa dapat menuliskan hasil Prakerin tersebut dalam
bentuk laporan.
Praktek Kerja Industri (PRAKERIN) ini merupakan suatu syarat untuk
menuntaskan sistem pembelajaran pada pendidikan di Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK) khususnya SMK Tambang Nusantara Kendari, serta syarat
umum untuk mengikuti Ujian Nasional.
B. Pengertian Prakerin
Praktek Kerja Industri (PRAKERIN) adalah bentuk praktek keahlian
kerja produktif yang dilakukan peserta didik di dunia usaha atau industri yang
didasarkan atas bidang keahlian yang diambi oleh peserta didik selama proses
belajar mengajar yang ditempuhnya.
Prakerin juga merupakan kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta
didik yang menuntut ilmu di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dimana
sebagai bekal untuk terjun langsung kedalam dunia kerja sesuai dengan

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

program studi. Pelaksanaan prakerin ditentukan oleh pihak sekolah dan instansi
perusahaan yang akan menerima siswa/siswi SMK yang melaksanakan Prakrin
tersebut.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

C. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Prakerin


Pelaksanaan kegiatan Praktek Kerja

Industri

(PRAKERIN)

ini

dilaksanakan pada tanggal 1 Oktober 2014 15 November 2014, di PT. Wijaya


Karya (PT. WiKa Bitumen) Pulau Buton. Lamanya waktu praktek kerja
industri kurang lebih satu setengah bulan.
D. Maksud Dan Tujuan
Maksud dan tujuan dari pelaksanaan

Praktek

Kerja

Industri

(PRAKERIN), yaitu mengaplikasikan kompetensi yang diperoleh di sekolah


untuk diterapkan di lapangan kerja, agar dapat mewujudkan peserta didik
SMK Tambang Nusantara Kendari yang berprestasi di dunia usaha/dunia
Industri (DU/DI) khususnya pada program keahlian Geologi Pertambangan,
serta melatih kemandirian dan kemampuan siswa dalam menghadapi dunia
usaha/dunia industri (DU/DI).
Kegiatan Praktek Kerja Industi (PRAKERIN) ini juga bertujuan agar
peserta didik dapat mengenal dunia kerja secara lebih dini, memahami
lingkungan sosial yang berlaku di dunia kerja, serta siswa mampu menguasai
dan menerapkan kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja.
Dengan dilaksanakannya kegiatan Praktek Kerja Industri ini, peserta
didik diharapkan dapat memperoleh pengalaman kerja selama di dunia kerja,
serta dapat menambah wawasan dan kreatifitas bagi setiap peserta didik yang
mengikutinya.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

BAB II
TINJAUAN UMUM
A. Lokasi Sumber Daya Aspal Pulau Buton
Lokasi sumber daya aspal terletak di Pulau Buton, dengan luas Pulau
7.500 km2 terletak di bagian tenggara dari pada pulau Sulawesi atau secara
administrative termasuk kedalam Provinsi Sulawesi Tenggara.
Sumber daya aspal alam di Pulau Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara
merupakan satu-satunya endapan aspal alam di Indonesia. Letak Lokasi
endapan aspal Buton terletak di Kec. Pasarwajo dan Kec. Lasalimu dan di
tambang atau di produksi oleh PT. WiKa (PT. Wijaya Karya Bitumen).
Endapan aspal pada beberapa lokasi lapangan di Kecamatan Pasarwajo,
Kabupaten Buton terdapat pada batuan induk yang berupa batu gamping dan
napal.

(Zona sebaran endapan Aspal Buton)

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

(Zona sebaran endapan Aspal di Pulau Buton)


Banabungi yang terletak di Kec. Pasarwajo yang merupakan tempat
kantor produksi Aspal buton dan juga sebagai tempat penimbunan hasil
produksi aspal dari kabungka yang akan di export keluar daerah atau ketempat
konsumen. PT. Wijaya Karya Bitumen memiliki pelabuhan yang diusahakan
secara khusus yaitu di Banabungi dan di Lawele yang merupakan tempat untuk
pengiriman aspal baik untuk di jual Dalam Negeri maupun Luar Negeri.
Untuk Asbuton Kabungka dari tempat penimbunan aspal di muat ke
kapal/tongkang (Curah) melalui Ship loader (Belt conveyor) dengan kemapuan
muat kurang lebih () 200 ton/jam, selanjutnya diangkut ke daerah seluruh
Indonesia.
Lokasi

: Banabungi, Pulau Buton Sulawesi Tenggara

Koordinat

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

122 52 55,6 BT
52427LS
Dengan fasilitas : Jetty 30 m + 2 dilengkapi dengan Conveyor dan
timbangan serta Kapasitas Kapal maksimum : 10.000 ton DWT.
Untuk Asbuton Lawele dari tempat penimbunan aspal dimuat dengan
Dump Truck ke pelabuhan selanjutnya di muat ke tongkang.
Lokasi

: Teluk Kaluku ( Lawele)

Pelabuhan Nambo Lawele, Pulau Buton - Sulawesi Tenggara.


Koordinat

:
122 50 41,7 BT
5 31 00,1 LS

B. Geologi Regional
Daerah penyelidikan

termasuk

bagian peta geologi lembar Buton,

Sulawesi Tenggara. Keadaan umum daerah penyelidikan sebagian besar


merupakan daerah perbukitan dengan ketinggia antara 100 m sampai maksimal
700 m dpl serta mempunyai kemiringan lereng yang sangat terjal.
Secara regional daerah kegiatan termasuk bagian dari Anjungan Tukang
Besi Buton. Pada Trias Akhir hingga Jura Akhir berturut turut diendapkan
batuan sedimen Formasi Winto, Formasi Ogena dan Formasi Rumu.
Selanjutnya antara Kapur Akhir hingga Paleosen diendapkan sedimen laut
dalam Formasi Tobelo tidak selaras diatas Formasi-Formasi yang lebih tua.
Pada Zaman Tersier kedalam cekungan Miosen diendapkan batuan sedimen
dari Anggota Batugamping Formasi Tondo dan Formasi Sampolakosa. Kedua

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

Formasi ini diduga menjemari dan berumur Miosen.Pada Akhir Tersier


diendapkan Formasi Sampolakosa dalam lingkungan pengendapan neritik
batial. Sedimentasi cekungan Tersier di daerah ini diakhiri dengan
diendapkannya Formasi Wapulaka dan Aluvium pada Zaman Kuarter.
Pada Formasi Winto terdiri atas perselingan serpih, batupasir,
konglomerat, dan sisi pan batu gamping berumur Trias Atas. Serpih biasanya
berlapis tipis sampai sedang, berwar na abu-abu sampai kecoklatan atau kehi
ta man, berbitumen, sering bersisipan dengan ba tupasir halus sampai sedang
dan batu gamping tipis berwarna putih. Terdapat sisa tumbuhan berwarna
coklat sampai kehitaman, berlem bar, sisipan tipis batubara dijumpai
hanya pada tempat tertentu berlapis dan dijumpai perlapisan sejajar, silang siur
dan gelembur gelombang.
Peristiwa tektonik yang terjadi pada anjungan Buton Tukang besi
setidaknya terjadi sebanyak tiga kali. Ketiganya turut berperan dalam
pembentukan tatanan stratigrafi dan struktur di daerah ini.Struktur geologi
yang berkembang terdiri dari antiklin, sinklin, sesar anjak, sesar normal dan
sesar geser mendatar. Sesar-sesar utama yang terjadi umumnya mempunyai
arah sejajar dengan arah memanjangnya tubuh batuan Pra Tersier dan sumbu
cekungan

sedimen

Miosen.

Kegiatan

tektonik

pada

Plio-Plistosen

mengakibatkan terlipatnya kembali batuan yang lebih tua (Pra Pliosendan)


menggiatkan kembali sesar-sesar yang telah terbentuk sebelumnya.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

(Keberadaan Aspal Buton pada Batuan induk)


(Aspal hitam berada pada batuan induk batu gamping)
Daerah penambangan Kabungka merupakan zona antiklinal yang disebut
Winto Antiklinal, di bagian atas telah terkikis atau tererosi. Pada umumnya
aspal buton ditemukan di puncak atau lereng antiklinal tersebut. Batuan
penyusun Daerah Kabungka terdiri dari lima lapisan, yaitu lapisan Winto
berumur Trias Atas; lapisan Ogene berumur Yura Bawah, lapisan Tobelo
berumur Kapur, lapisan Tondo berumur Neogen Bawah, lapisan Sampolakosa
berumur Neogen Atas. Dari kelima lapisan ini, aspal hanya didapatkan pada
batuan gamping dan napal Sampolakosa yang mempunyai kadar bitumen lebih
tinggi karena batuan tersebut mempunyai banyak pori.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

(Peta geologi Daerah Lembar Buton)


C. Teori Aspal (ASBUTON)
Aspal ialah bahan hidrokarbon yang bersifat melekat (adhesive),
berwarna hitam kecoklatan, tahan terhadap air, dan visoelastis. Aspal sering
juga disebut bitumen merupakan bahan pengikat pada campuran beraspal yang
dimanfaatkan sebagai lapis permukaan lapis perkerasan lentur. Aspal berasal
dari aspal alam (aspal buton) atau aspal minyak (aspal yang berasal dari
minyak bumi). Berdasarkan konsistensinya, aspal dapat diklasifikasikan
menjadi aspal padat, dan aspal cair.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

Aspal atau bitumen adalah suatu cairan kental yang merupakan senyawa
hidrokarbon dengan sedikit mengandung sulfur, oksigen, dan klor. Aspal
sebagai bahan pengikat dalam perkerasan lentur mempunyai sifat viskoelastis.
Aspal akan bersifat padat pada suhu ruang dan bersifat cair bila dipanaskan.
Aspal merupakan bahan yang sangat kompleks dan secara kimia belum
dikarakterisasi dengan baik.
Kandungan utama aspal adalah senyawa karbon jenuh dan tak jenuh,
alifatik dan aromatik yang mempunyai atom karbon sampai 150 per molekul.
Atom-atom selain hidrogen dan karbon yang juga menyusun aspal adalah
nitrogen, oksigen, belerang, dan beberapa atom lain.
Secara kuantitatif, biasanya 80% massa aspal adalah karbon, 10%
hidrogen, 6% belerang, dan sisanya oksigen dan nitrogen, serta sejumlah renik
besi, nikel, dan vanadium. Senyawa-senyawa ini sering dikelaskan atas
aspalten (yang massa molekulnya kecil) dan malten (yang massa molekulnya
besar). Biasanya aspal mengandung 5 sampai 25% aspalten. Sebagian besar
senyawa di aspal adalah senyawa polar. Aspal yang dikenal saat ini dan
dipergunakan dipasaran dapat digolongkan menjadi dua berdasarkan kepada
proses pembentukannya, yaitu :
1. Aspal minyak, aspal yang diperoleh dari penyulingan minyak bumi aspal
dengan berbagai kadar, volume lebih besar dan lebih ekonomis daripada
aspal alam. Adanya variasi kadar ini memungkinkan dipakainya aspal di
berbagai industri, sehingga kedudukan aspal alam banyak diganti oleh aspal
minyak. Bahkan di Amerika konsumsi aspal minyak lebih dari 95% per
tahun. Komposisi elemen karbon pada aspal minyak hampir sama dengan

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

minyak, yaitu 83% dari berat tetapi mengandung unsur belerang (S),
natirum (na) dan oksida (O) jauh lebih besar, terlihat pada tabel berikut.
(Tabel Komposisi Kimia yang terkandung Pada aspal minyak)
Komposisi Elemen (% berat)
C

Gas Alam

76

23

0,2

0,2

0,3

Minyak Bumi

84

13

0,5

0,5

Aspal

83

10

Kerosin

79

Material

2. Aspal alam, aspal yang mulai digunakan sekitar 3000 SM penambangannya


dilakukan dari sumuran terbuka atau danau. Sedangkan di Indonesia aspal
alam di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara.
Aspal dapat digunakan sebagai pelapis permukaan jalan, baik
campuran dingin (cold mix) maupun campuran panas (hot mix). Pada
campuran dingin aspal dicampurkan pada temperatur rendah dengan minyak
pelunak (fluk oil/bunker oil) di dalam campuran panas absuton diperoleh
dengan campuran minyak pelunak dan agregat dengan aspal panas di dalam
Aspalt, Mixing Plant. Industri yang memerlukan material aspal antara lain
industri cat, vernis dan lak, batu batere, barang dari karet, dan barang dari
logam. Asbuton atau aspal buton masih terus diteliti oleh para ahli. Sejauh
ini, mula jadi absuton disebabkan oleh adanya pengaruh tektonik terhadap
cebakan minyak bumi yang berada di dalam bumi.Minyak bumi diduga
semula terkandung dalam batuan induk kemudian berimigrasi melalui dasar
SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

dan mengimpregnasi batuan sekitanya, yaitu batugamping dan batupasir.


Dalam perjalanan waktu fraksi ringan dari minyak bumi menguap
sedangkan fraksi berat bersatu dengan batuan ditempati dan membentuk
aspal alam. Secara teoritis, aspal alam terbentuk perlahan-lahan dari
fraksionasi alami minyak bumi di dekat permukaan.
Tebal lapisan batuan aspal ini berkisar antara 2 8 meter. Ditempattempat tertentu bahkan sampai mencapai 14 meter, tetapi kadang-kadang di
tempat lain kurang dari 2 meter. Jadi ketebalan aspal ini tidaklah menentu,
kemungkinan ini disebabkan oleh factor-faktor yang memengaruhi jalannya
proses impregnasi. Proses impregnasi sendiri ialah proses terjadinya aspal
buton dengan cara proses penyerapan dari pada minyak bunmi yang aspaltik
kedalam formasi batuan kapur yang porous. Factor-faktor yang yang
mempengaruhi jalannya impregnasi sehingga ketebalan aspal menjadi tidak
menentu, adalah sebagai berikut :
Porosits dari pada batuan kapur (lime stone)
Kapileritas batuan kapur.
Lapisan penutup batuan kapur.
Kekompakan batuan kapur.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

BAB III
PELAKSANAAN PERTAMBANGAN
A. Proses Penambangan
Kegiatan penambangan Aspal di perusahaan PT. Wijaya Karya Bitumen
dilakukan dengan melaksanakan kegitan yang telah dikontrol oleh koordinator
lapangan serta dibawah pengawasan dari manager tambang.
1. Persiapan Area Kerja
Dalam melakukan persiapan kerja ini pihak perusahaan dapat melakukan
tahap yang telah di tetapkan pada perusahaan. Tahap yang di lakukan seperti
pembersihan medan dengan menggunakan excavator atau alat-alat manual
lainnya.
2. Kegitan Pembongkaran
Kegitan pembongkaran dilakukan dengan pemboran yang di lanjutkan
dengan pemotongan batuan. Langkah-langkah yang dilakukan dengan cara
pemisahan block dari batuan induknya.
3. Persiapan Alat
Peralatan yang digunakan disesuaikan denga jenis aspal yang akan
diproduksi mengingat jenis aspal yang ada pada umumnya ada dua jenis, yaitu
aspal lunak dan aspal keras. Untuk jenis aspal unak pembokarannya cukup
menggunakan excavator bucket. Kemudian untuk jenis aspal yang keras
menggunakan Giant breaker. Hasil pembongkaran dipindahkan menggunakan
excavator bucket (PC-200).
Sebelum melakukan kegiatan harus mempersiapkan alat-alat yang akan
digunakan terlebih dahulu seperti perangkat pemboran (batang bor, mata bor,
compressor, boller, dan rotd drill), dan alat muat (exchavator, loader), serta alat
angkut (truck). Disamping itu alat-alat juga harus diperiksa terkebih dahulu

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

sebelum di operasikan, apakah alat tersebut layak untuk di operasikan atau


tidak.
4. Proses Pengoperasian
Apabila kondisi medan di lokasi penambangan sudah di siap untuk
dilakukan proses penambangan, maka dapat di operasikan alat-alat yang sudah
di siapkan. Alat-alat dioperasikan sesuai dengan fungsi dan kegunaannya.
Pertama yang di operasikan adalah alat bor di siapkan untuk membor guna
mengambil sampel batuan (Eksplorasi). Kemudian jika pengeboran selesai dan
didapatkan sample, selanjutnya adalah pengujian data sample dilab untuk
dihitung kadarnya. Apa bila data sampel telah dihitung dan hasil nya adalah
cadangan yang cukup ekonomis, maka selanjutnya adalah proses land clearing
dan dilanjutkan proses pengupasan tanah pucuk (top soil) dan pengupasan
tanah penutup (stripping overburden) menggunakan alat Excavator (backhoe),
Bulldozer, atau Loader. Setelah bucket terisi penuh lalu diangkat dari tempat
penggalian dan dilakukan swing, dan pembuangan material hasil galian dapat
dilakukan ke truk atau tempat yang lain Kemudian pada alat Bulldozer denga
roda rantai (track shoe) untuk pekerjaan serbaguna yang memiliki kemampuan
traksi yang tinggi. Bisa digunakan untuk menggali (digging), mendorong
(pushing), menggusur meratakan (spreading), menarik beban, menimbun
(filling), dan banyak lagi. Mampu beroperasi di daerah yang lunak sampai
daerah yang keras sekalipun. Dengan swamp dozer untuk daerah yang sangat
lunak, dan daerah yang sangat keras perlu dibantu dengan ripper (alat garuk),
atau dengan blasting (peledakan dengan tujuan pemecahan pada ukuran
tertentu). Mampu beroperasi pada daerah yang miring dengan sudut

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

kemiringan tertentu, berbukit, apalagi didaerah yang rata. Jarak dorong efisien
berkisar antara 25-40 meter dan tidak lebih dari 100 meter. Jarak mundur tidak
boleh terlalu jauh, bila perlu gerakan mendorong dilakukan secara estafet. Jika
pengupasan tanah selesai da batuan sudah selesai dipotong/dipecahkan
mengguanakan alat giant breker hingga terbentuk batu blok, maka dibongkar
oleh excavator dan dipindahkan ke tempat yang dapat dijangkau . Setelah itu
pemuatan dilakukan dengan menggunakan Backhoe ke truck untuk diangkut
ke Stockpile atau ke pabrik/crushing plan.
Dalam melakukan sebuah penambangan ada beberapa hal yang harus
diketahui, yaitu :
a. Peta (Topografi)
Peta topografi adalah jenis peta yang ditandai dengan skala besar dan
detail, biasanya menggunakan garis kontur dalam pemetaan modern. Peta
ini menyajikan data dan informasi keadaan lapangan secara menyeluruh
sifatnya umum), baik itu unsur alam (sungai, gunung, danau, laut, dll)
maupun unsur buatan (jalan, jembatan,perkampungan, bendungan, dll)
dengan garis bayangan ketinggian (garis kontur ketinggian) dalam
perbandingan tertentu (skala). Sebuah peta topografi biasanya terdiri dari
dua atau lebih peta yang tergabung untuk membentuk keseluruhan peta.
Sebuah garis kontur merupakan kombinasi dari dua segmen garis yang
berhubungan namun tidak berpotongan, ini merupakan titik elevasi pada
peta topografi. Dalam kegiatan pertambangan khususnya di PT. Wijaya
Karya Bitumen, Peta Topografi digunakan untuk beberapa hal, Antara lain :
Untuk mengetahui bahan galian aspal yang ada (ketersediaan).
Untuk mengetahui medan, bagaimana tempat pembuangan
overburden, serta penentuan penempatan parit.
SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

b. Alat Yang Di Butuhkan


Sebelum melakukan kegiatan harus mempersiapkan alat-alat yang
dibutuhkan yang akan digunakan terlebih dahulu.
c. Pengaturan Jam Kerja
Kegiatan penambangan Aspal di perusahaan PT. Wijaya Karya
dilakukan dengan melaksanakan kegiatan berdasarkan jam kerja yang telah
di tetapkan oleh pihak perusahaan dan dikontrol oleh coordinator lapangan.
B. Program Pelaksanaan
1. Eksplorasi
Pekerjaan explorasi adalah pekerjaan lanjutan dari pada prospecting
tentang Aspal Buton. Ekplorasi adalah penyelidikan lapangan untuk
mengumpulkan data/informasi selengkap mungkin tentang keberadaan sumber
daya alam di suatu tempat khususnya sumber daya Aspal Buton. Kegiatan
eksplorasi sangat penting dilakukan sebelum pengusahaan bahan tambang
dilaksanakan mengingat keberadaan bahan galian yang penyebarannya tidak
merata dan sifatnya sementara yang suatu saat akan habis tergali. Sehingga
untuk menentukan lokasi sebaran, kualitas dan jumlah cadangan serta cara
pengambilannya diperlukan penyelidikan yang teliti agar tidak membuang
tenaga dan modal, disamping untuk mengurangi resiko kegagalan, kerugian
materi, kecelakaan kerja dan kerusakan lingkungan.
Dari teori tentang eksplorasi diatas, dapat disimpulkan bahwa Eksplorasi
adalah suatu kegiatan lanjutan dari prospeksi yang meliputi pekerjaanpekerjaan untuk mengetahui ukuran,bentuk, posisi, kadar rata-rata dan
besarnya cadangan serta studi kalayakan dari endapan bahan galian atau
mineral berharga yang telah diketemukan.
Sedangkan Studi Kelayakan adalah pengkajian mengenai aspek teknik
dan prospek ekonomis dari suatu proyek penambangan dan merupakan dasar

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

keputusan investasi. Kajian ini merupakan dokumen yang memenuhi syarat


dan dapat diterima untuk keperluan analisa bank/lembaga keungan lainnya
dalam kaitannya dengan pelaksanaan investasi atau pembiayaan proyek.Studi
ini meliputi Pemeriksaan seluruh informasi geologi berdasarkan lkaporan
eksplorasi dan factor-faktor ekonomi, penambangan, pengolahan, pemasaran
hukum/ perundang-undangan, lingkungan, social serta factor yang terkait.
Pekerjaan Eksplorasi yang di lakukan oleh PT. Wijaya Karya Bitumen
sekarang hanya bersifat local yaitu hanya di lakukan di daerah Kabungka,
dekat dengan tempat penambangan. Rencana kegiatan eksplorasi di daerah
akbunggka adalah meliputi lapangan (Fiel) B, C, dan D. Kegiatan eksplorasi
yang di lakukan saat ini terpusat di lapangan A.
Dalam kegiatan Eksplorasi yang dilakukan oleh Kelompok prakerin dari
SMK Tambang Nusantara Kendari adalah sudah pada tahap pemboran (Test
Boring). Pemboran dilakukan untuk pengambilan sampel aspal untuk diteliti
kadar bitumennya, apakah bernilai ekonomis atau tidak (perhitungan
cadangan).
1) Test Boring
Test boring adalah cara eksplorasi yang dimaksudkan untuk mengadakan
penyelidikan yang lebih teliti dengan jarak-jarak pengeboran yang tidak begitu
dalam yaitu sekitar 12,5 meter. Pembuatan kedalaman lubang bor tergantung
dari tebal nya lapisan aspal yang masih ditemukan.Pada lapangan C masih
diketemukan aspal sampai pada kedalaman 7 meter. Hal ini berarti tebalnya
aspal 7 meter tetapi masih dikurangi tebal lapisan penutup.
Alat-alat yang digunakan dalam pekerjaan pengeboran ialah air auger
drill yang dilengkapi dengan compressor, selang dan tangki air (water tank).
Tangki digunakan apabila pengeboran mengalami kemacetan yang disebabkan

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

oleh karena lapisan aspal yang dilaluinya terlalu lengket. Namun kadangkadang dengan memasukan air dari lubang bor saja kemacetan ini dapat diatasi.
Air juga memiliki fungsi dalam proses test boring, berikut fungsi air dalam
proses test boring :
Mendinginkan mata bor.
Membantu mengangkat cutting (sisa-sisa hasil pengeboran).
Membantu mememcahkan batuan.
Mencegah melengketnya aspal/batuan pada mata bor dan batang bor.
Bila tidak menggunakan air maka yang keluar adalah udara saja melalui
lubang bor. Compressor adalah suatu alat yang dapat dipakai untuk
memproduksi udara dengan tekanan tinggi.Alat ini dapat memproduksi 10
meter kubik tiap menit. Udara yang diisap dari luar oleh baling-baling akan
dialirkan kedalam tangki yang dapat menampung udara dengan tekanan
maksimum 7 atmosfir. Sebuah compressor dapat melayani dua buah air auger
drill sekaligus. Alat bor air auger drill ini termasuk bor jenis rotary.
Batang bor yang digunakan adalah berulir (berbentuk sepiral) dengan
panjangan; 1 meter, 1.5 meter, 2 meter dengan diameter tiga centi meter. Mata
bor yang dipakai adalah jenis fish tail bit dengan diameter 4.2 centi meter.
Setelah alat-alat dipersiapakan seperti compressor dan alat-alat bor
lainnnya, maka yang dikerjakana selanjutnya ialah pemasangan dry shank
pada batang bor (kebanyakan dry shank telah dilas dengan batang bor).
Kemudian dilanjutkan dengan pemasangan swivel pada dry shank. Dry
shank selanjutnya dimasukkan ke dalam lubang air auger proper.Terakhir
adalah pemasangan mata bor dan menghubungkan selang-selang ke
compressor. Dengan terpasangnya ini maka alat bor sudah siap digunakan.
Apabila di dalam pengeboran dipelukan batang bor lagi untuk mencapai

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

kedalama yang lebih dalm, maka yang dilepas pertama adalah air auger
proper kemudian berturut-turut swivel dan dry shank. Setelah itu
menyambung batang bor dengan alat sambung (rod conection) dan seharusnya,
sisa-sisa pengeboran akan terbawa keatas oleh adanya desakan udara/air yang
keluar melalui lubang mata bor dan juga dibantu oleh adanya uliran dari pada
batang bor. Hasil-hasil sisa pengeboran (cutting) dapat dipergunakan sebagai
pengamatan untuk mengetahui macam batu yang sedang di bor disamping
dengan melihat banyaknnya batang batang bor yang diperlukan.biasanya untuk
lapisan batuan aspal, sisa-sisa pengeborannya yang keluar adalah berwarana
kehitam-hitaman dan butirannya agak pipih. Kalau batuan kapur sisa
pengeborannya berwarna putih kekuningan dan berwarna halus.
Tenaga yang diperlukan untuk melayani sebuah alat bor air auger ialah
sekitar 5 orang (dalam satu shift) dengan perincian sebagai berikut : 1 Orang
sebagai mandor, 2 Orang sebagai pengebor (yang bekerja bergantian), 1 orang
penjaga compressor, dan 1 orang pembantu.
Lancar tidaknya jalan pengeboran tergantung pada :

Mata bor, bila mata bor sudah aus atau tumpul maka pengeboran akan

lebih lama.
Macam batuan yang dibor, apabila terdiri dari batuan aspal yang
berkadar bitumen sekitar 30-40% maka pengeboran akan lancar, akan
tetapi apabila terdiri dari batuan kapur yang keras atau aspal yang

lengket maka pengeboran akan lama.


Operator dari pada alat bor, makin pengalaman makin cepat

pengeborannya.
Dalamnya lubang bor, makin dalm pengeboran maka kecepatan
pengeboran akan berkuran.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

Centris atau tidaknya batang bor, karena kalau batang bor tidak
centrism aka pengeboran akan lebih lama.

Hambatan-hambatan yang sering dialami pada waktu pengeboran :

Batang bor sering sukar dicabut, sehingga untuk mencabutnya perlu

dujungkil.
Lubang mata bor sering tersumbat, apabila lubang mata bor tersumbat
maka

sisa-sisa

pengeboran

akan

sukar

keluarnya

sehingga

mengakibatkan sisa-sisa pengeboran itu menjadi lengket.


Selang bocor, kebocoran selang mengakibatkan melambatnya

perputaran dari pada batang bor.


Dengan melakukan test boring ini maka dapat diketahui dengan lebih
mendekati kebenaran tentang posisi, ketebalan aspal pada daerah itu dan kadar
bitumennya dengan berdasarkan pengamatan. Hasil-hasil eksplorasi ini juga
disesuaikan dengan data-data hasil eksplorasi terdahulu.
2) Persiapan Pemboran
Sebelum dilaksanakannya pemboran (Test Boring) ada beberapa hal
yang harus dilakukan, yaitu sebagai berikut :
1. Penentuan Lokasi titik pemboran
Dalam melakukan pengeboran terlebih dahulu di plotkan ke dalam
bentuk peta sehinga perencanaan pemboran akan lebih jelas.
2. Penentuan arah Pemboran
Penentuan arah yaitu penentuan arah lintasan dari pada test boring
yang akan dilaksanakan. Penentuan arah dari pada test boring digunakan
alat seperti Kompas Geologi dan Theodolite.

Kompas Geologi
Kompas Geologi adalah alat yang digunakan untuk mengukur
kedudukan unsur-unsur struktur geologi serta penentuaan arah.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

(Kompas Geologi)

Theodolite
Theodolite adalah alat ukur geologi yang digunakan untuk
mementukan titik dan kedudukan struktur geologi secara Vertikal
maupun Horizontal.

(Theodolite)
3. Pembersihan front (Clearing)
Pembersihan front atau clearing yaitu pembersihan yang dilakukan
pada area front arah test boring. Alat-alat yang digunakan untuk
pembersihan front atau clearing hanya dengan menggunakan parang dan
pacul.
Tenaga yang diperlukan semua untuk tahap pekerjaan di atas ini
sekitar 7 orang. Seterlah itu selanjutnya diadakan pemasangan patokSMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

patok dari kayu yang telah dilengkapi dengan nomor-nomor patok.


Patok-patok kayu ini mudah didapat disekitar daerah itu, karena daerah
lapangan A sebagian besar masih terdiri dari hutan-hutan yang masih
agak lebat. Pemasangan patok-patok di buat dengan jarak 25 meter satu
sama lainnya dengan system parallel dan disesuaikan dengan jarak test
boring yang direncanakan.
4. Base camp
Base camp merupakan hal yang sangat penting sekali dalam
perencanaan pengeboran ini. Base camp itu sendiri terdiri dari dua jenis
yaitu base camp permanen dan temporary.
Base camp permanen yaitu base camp yang merupakan kantor
utama di lapangan. Base camp ini di temnpatkan tidak jauh dari
akses jalan roda empat namun juga di usahakan tidak jauh juga
dari lokasi pengeboran. Dalam rencana pemboran ini base camp
permanen di dirikan ke arah utara dari singkapan gosaan karena
di arah utara keadaan morfologinya relative datar dan dekat dari
jalan dan masalah kebutuhan akan air maka di base camp
permanen tersebut di buat air sumur dangkal sebab lokasinya

relative rendah dan tidak terlalu di perbukitan.


Base camp temporary adalah base camp yang berpindah pindah
karena selalu ada di dekat lokasi titik pemboran dan base camp
ini berfungsi untuk tempat penyimpanan alat mesin bor dan juga
tempat peralatan pemboran yang merasa di perlukan untuk
melakukan pengeboran pada lokasi- lokasi titik bor dan yang
terutama penting sekali base came temporary harus dekat

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

dengan sumber yang bersih. Sehinga base came tersebut di


bangun atau didirikan dekat pada aliran sungai atau anak sungai
yang berada di dekat rencana pemboran.
5. Peralatan Pemboran
Peralatan pemboran yang akan di gunakan adalah peralatan
pemboran yang sesuai dengan keadaan di lapangan agar nantiknya tidak
menyulitkan pekerjaan pemboran dan tujuan nya adalah untuk pemboran
ekplorasi detail. Berikut ini adalah perlengkapan perlengkapan
pemboran yaitu :
a. Kompresor
Kompresor adalah alat untuk mengeluarkan udara yang besar ,untuk
mengerakan handel dan air.

(Kompressor PDS 390)


b. Hand bor (hand auger drill)
Hand auger drill adalah alat pengerak batang bor yang di sambung kan
selang dari kompresor.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

(Hand bor hand auger drill)

c. Tangkai batang bor (wising rood)


Wising rod adalah alat yang digunakan sebagai penyambung hand bor
ke batang bor.

(Wising rod Tangkai Bor)


d. Batang Bor
Batang bor adalah alat pemutar hand bor.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

(Batang Bor)
e. Mata bor (drill rod/beat)
Mata bor adalah bagian alat Bor yang berfungsi untuk membuat
lubang yang telah ditentukan, mata bornya menggunakan bor mata
dua.

(Mata Bor)
f. Sambungan batang bor
Sambuangan batang bor gunanya adalah untuk menyambungkan
batang bor yang satau dengan yang lain.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

(Sambungan Batang Bor)


g. Selang
Dalam proses pemboran ada dua jenis selang yang di gunakan untuk
membantu proses pemboran yaitu, selang udara dan selang air.

Air

Selang Air

(Selang udara dan Selang Air)


h. Alat-alat pendukung
Kotak sampel

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

(Kotak Sampel)
Tabung air

Kunci pipa

(Tabung Air)

(Kunci Pipa)
Kantong sampel/plastik sampel.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

(Kantong sampel)
3) Proses pengeboran
1. Persiapan alat
Kompresor
Hand bor (hand auger drill)
Tangkai batang bor (wising rood)
Batang bor
Mata bor (drill rod)
Sambungan batang bir
Selang
2. Langkah pemasangan/perakitan alat bor
Selang di pasang di hand bor
Selang di pasang di swipel
Wising rod di pasang di batang bor
Setelah itu pasang swipel di wising rod
Pasang swipel di hand bor ,jangan lupa pasang batang bor
Setelah itu alat siap untuk di operasikan
Cara untuk menyambung batang bor :
Siapkan 2 kunci pipa
Batang bor
Langkah-langkah
Angkat hand bor ke atas
Tahan batang bor bagian bawah , dengan kunci pipa dengan angkat
bagian belakang pipa keatas.
4) Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kemampuan Pemboran
Factor-faktor yang mempengaruhi kemampuan pemboran adalah
sebagai berikut :
a. Arah pemboran
b. Pola pemboran
SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

c. Waktu daur dan jam kerja efektif alat bor


Waktu daur atau jam kerja efektif alat bor tersebut dapat di
nyatakan dalam rumus sebgai berikut :
W
Eu=
x 100

( )

Keterangan :
Eu
= Efektif Utilization/ waktu efektif.
W
= Jam Kerja terpakai.
T
= Total jam kerja per hari.
5) Arah Lubang Bor
Dalam pemboran test boring ada dua jenis arah lubang bor yang
digunakan, yaitu arah lubang bor vertical dan arah lubang bor miring.
Dalam test boring di lapangan A, PT. Wijaya Karya Bitumen, arah lubang
bor yang digunakan adalah arah lubang bor vertical, dan biasanya kedalam
pemboran mencapai 25 meter keatas.
a. Arah lubang bor vertical
Ada beberapa keuntungan yang diperoleh untuk arah lubang bor
vertical, yaitu :
Pada ketinggian jenjang yang sama maka kedalaman lubang bor
vertical lebih pendek dari pada lubang bor miring, sehingga lebih

cepat.
Untuk menempatkan alat pada titik atau posisi batuan yang akan
dib or tidak memerlukan ketelitian yang cermat, sehingga waktu

untuk melakukan maneuver lebih cepat.


Kecepatan penetrasi alat bor akan

lebih

cepat

karena

berkurangnya gesekan yang timbul dari dinding lubang bor


terhadap batang bor.
Ada beberapa kerugian yang mungkin diperoleh untuk lubang bor
vertical, yaitu :
Salmpel hasil pemboran lebih besar/kasar.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

Terjadi rongga saat proses pemboran.


b. Arah lubang bor miring
Keuntungan :
Sampel batuan yang dihasilkan relative lebih kecil.
Memperkecil terjadinya rongga pada jenjang.
Hasil pemboran mempunyai permukaan yang lebih rata.
Kerugian :
Lubang bor yang dibuat lebih panjang dan lebih lama waktu nya.
Penempatan posisi alat bor harus lebih cermat dan teliti.

2. Exploitasi
Berdasarkan data-data yang telah di dapat dari hasil eksplorasi tersebut di
atas, maka di mulailah persiapan-persiapan untuk pekerjaan penambangan
dengan cara yang paling baik apa bila daerah

tersebut diperkirakan

menguntungkan untuk ditambang.


Dengan mempertimbangkan tentang bentuk, letak, sifat batuan dan
keadaan lapangan dimana deposit aspal ini di temukan dan menguntungkan
apabila di eksploitasi, maka pertambangan aspal dilakukan dengan sistim
Tambang terbuka (surface minning) yang tergolong Quarry Minning. Sistim
penambangan terbuka di bagi menjadi dua yaitu sebagai berikut :
1) Konvensional
Sistim penambangan terbuka konvensional digunakan apabila material
yang digali masih bisa menggunakan alat berat.
2) Non Konvensional
Sistim penambangan terbuka non-konvesional digunakan apabila
material yang digali tidak bisa menggunakan alat berat, namun
mnggunakan Bom/Ledakan (peledakan). Tapi dalam kegiatan
pertambangan

PT. Wijaya

Karya

tidak

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

menggunakan

sistim

PT. Wijaya Karya Bitumen

penambangan terbuka Non-konvesional atau peledakan, disebabkan


karena daerah penambangan sangat dekat dengan pemukiman warga.
Tempat di mana ditemukan deposit aspal di daerah Kabungka adalah di
lapangan A, B, C, D, E, F dan G.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama exploitasi ialah :
1) Development
2) Drilling
3) Digging
4) Loading
Berikut ini akan di jelaskan kegiatan-kegiatan yang di lakukan selama
exploitasi, sebagai berikut :
1) Development
Development adalah persiapan-persiapan untuk penambangan front
yang sudah diketahui perkiraan jumlah cadangannya atau sudah siap untuk
ditambang. Persiapan-persiapan tersebut meliputi :
Pembuatan jalan ke penambangan.
Penggunaan tenaga.
Peralatan penambangan, dan sebagainya.
Setelah persiapan-persiapan tersebut selesai, maka dilakukanlah kegiatan
sebagai berikut :
a) Clearing
Clearing adalah pembersihan suatu daerah dari material-material atau
tumbuh-tumbuhan yang mengganggu pekerjaan selanjutnya. Pekerjaan
clearing dilakukan dengan menggunakan alat bulldozer dan juga dengan
bantuan tenaga manusia dalam hal kegiatan pembabatan.
b) Stipping of over burden
Pada umumnya diketahui bahwa setiap bahan tambang yang akan di
tambang khususnya pada bahan tambang aspal buton, tertutup oleh
lapisan seperti batuan kapur atau tanah biasa, maka untuk mengupasnya

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

ini digunakakn alat Bulldozer dan biasa dibantu oleh Excavator untuk
merubuhkan Pohon-pohon yang besar. Apabila lapisan penutup terlalu
tebal maka pengupasan dibuat bertingkat-tingkat (dibuat menyerupai
bench-bench). Apabila didalam pengupasan pada lapisan batu kapur itu
Bulldozer mengalami kemacetan karena batuan kapurnya keras, maka
untuk mengatasin hal ini bisa dibantu oleh excavator backhoe.
2) Drilling (pemboran)
Setelah lapisan penutup terkupas, maka selanjutnya dilakukan
pengeboran. Pengeboran di tambang juga menggunakan alat bor jenis air
auger. Pengeboran di tahap ini tidak sama dengan cara-cara pengeboran
yang dilakukan pada tahap eksplorasi. Penempatan lubang bor biasa dibuat
sejajara, diagonal, atau kombinasi keduanya dan bahkan biasa disesuaikan
dengan bentuk dan keadaan frontnya. Pengaturan kedalaman lubang bor di
buat tergantung dari kebutuhan produksi dan sample yang diinginkan, dan
dengan kemiringan tertentu untuk menyesuaikan dengan keadaan front.
Batang bor yang digunakan adalah berulir (berbentuk sepiral) dengan
panjangan; 1 meter, 1.5 meter, 2 meter dengan diameter tiga centi meter.
Mata bor yang dipakai adalah jenis fish tail bit dengan diameter 4.2 centi
meter.
Setelah itu selanjutnya dilakukan pemasangan patok-patok dari kayu
yang telah dilengkapi dengan nomor-nomor patok. Patok-patok kayu ini
mudah didapat disekitar daerah itu, karena daerah lapangan A sebagian
besar masih terdiri dari hutan-hutan yang masih agak lebat. Pemasangan
patok-patok di buat dengan jarak 25 meter satu sama lainnya dengan system
parallel dan disesuaikan dengan jarak test boring yang direncanakan.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

3) Digging (penggalian)
Digging adalah proses penggalian atau pengupasan overburden atau
ore (bahan galian) dengan kapasitas tertentu untuk kemudian ndi lakukan
pemuatan di alat angkut. Namun dalam tahap ini Digging di lakukan untuk
proses penggalian ore (bahan galian). Kapasitas penggalian baik over
burden atau ore (bahan galia) bergantung dengan kapasitas bucket yang
dimiliki oleh alat gali.
4) Loading (pemuatan)
Loading atau pemuatan adalah suatu kegiatan penambangan yang
bertujuan untuk memasukkan material yang sudah digali oleh alat gali
kedalam alat angkut tergantung kapasitas bucket alat gali dan kapasitas alat
angkut. Alat-alat yang digunakan dalam kegiatan pemuatan ialah :
1. Bulldozer
Bulldozer adalah salah satu alat berat yang mempunyai roda rantai
(track shoe), untuk pekerjaan serba guna yang memliki
kemampuan traksi yang tinggi. Bisa digunakan untuk menggali,
mendorong, menggusur, meratakan, menarik beban dan menimbun
(Digging, cutting/filling, pushing, spreading, grading, skidding
dll). Mampu beroperasi didaerah yang lunak sampai yang keras.
Mampu beroperasi pada daerah yang miring (sudut kemiringan
tertentu), berbukit apalagi di daerah yang rata. Untuk jarak dorong
yang effisiensi antara 25 40 meter jangan lebih dari 100 meter,
jarak mundur jangan terlalu jauh, bila perlu mendorong dilakukan
dengan estafet, mendorong pada turunan lebih produktif dari pada
tanjakan. Namun dalam kegiatan pemuatan ini Bulldozer
digunakan untuk mengumpulkan material-material aspal yang

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

telah digali dan kemudian dimuat oleh excavator yang kemudian


diangkut oleh truck.
2. Excavator backhoe
Excavator Backhoe adalah salah satu alat berat yang mempunyai
roda rantai (track shoe) yang bucketnya bekerja menggali dari atas
kebawah. Excavator backhoe digunakan untuk pekerjaan pada
kegiatan penggalian, pembersihan lahan, dan pemuatan. Dalam
kegiatan pemuatan excavator backhoe digunakan untuk memuat
material-material yang telah dikumpulkan oleh Bulldozer, dan
dimuat ke truck.
Ada beberapa pola pemuatan atau loading yang digunakan dalam
proses pemuatan, pola pemuatan alat gali yang dilakukan terhadapa alat
angkut dibagi menjadi 3 jenis :
1. Single backup
Single backup yaiu alat angkut memposisikan diri pada satu tempat
sedangkan alat angkut berikutnya menunggu alat angkut pertama dimuati
sampai penuh. Setelah alat angkut pertama berangkat maka alat angkut
kedua siap untuk dimuati sedangkan alat angkut yang ketiga menunggu
dan begitu seterusnya.
2. Double Backup
Double backup yaitu pola pemuatan dimana alat angkut memposisikan
diri untuk dimuati pada 2 tempat, kemudian alat gali mengisi salah satu
alat angkut sampai penuh kemudian setelah itu alat gali mengisi alat
angkut kedua, pada saat alat gali mengisi alat angkut kedua, alat angkut
pertama berangkat dan posisi alat angkut pertama digantikan oleh alat
angkut yang ketiga begitu seterusnya.
3. Paralel backup

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

Parallel backup adalah pola pemuatan alat angkut dimana kedua alat
angkut memposisikan diri untuk diisi oleh alat gali secara bergantian
sehingga kedua alat angkut akan penuh secara hampir bersamaan dan
juga akan berangkat hampir secara bersamaan.
Selain ketiga pola pemuatan di atas terdapat juga pola pemuatan yang
didasarkan pada posisi alat gali muat terhadap alat angkut. Pola pemuatan
ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu :
1. Top Loading
Top loading adalah pola pemuatan dimana alat gali posisinya berada
di atas atau lebih tinggi dari alat angkut (di atas tumpukan material).
2. Bottom loading/ down loading
Bottom loading yaitu pola pemuatan dimana alat gali posisinya sejajar
dengan alat angkut.
Dalam proses pemuatan di PT. Wijaya Karya Bitumen, biasa terlihat
menggunakan pola Top loading.
Efisiensi kerja alat gali muat tergantung factor-faktor sebagai berikut :
1. Kondisi geografis dan geologis daerah setempat.
2. Kekerasan material aspal yang akan digali atau di tambang.
3. Keahlian operator.
4. Kemampuan atau kekuatan alat.
5. Kapasitas alat gali dan alat muat.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

BAB IV
PENELITIAN
A. Penelitian/Uji Laboratorium
Untuk memurnikan bahan tambang aspal buton dan mendapatkan
bitumen yang maksimal, maka dilakukan proses ekstraksi. Proses ekstraksi
dilakukan ketika proses pemboran yang dilakukan dalam kegiatan eksplorasi
telah selesai dan telah didapatkan contoh sampel. Setelah mendapatkan contoh
sampel dari hasil proses pemboran kemudian langkah atau proses selanjutnnya
yang akan dilakukan adalah pengujian sampel dilaboratorium untuk dihitung
kadar sampel tersebut dengan cara Proses ekstraksi.
Pengekstraksian sampel asbuton dilakukan dengan cara metode Sokhlet.
Ekstraksi Soxhlet digunakan untuk mengekstrak senyawa yang kelarutannya
terbatas dalam suatu pelarut dan pengotor-pengotornya tidak larut dalam
pelarut tersebut.Sampel yang digunakan dan yang dipisahkan dengan metode
ini berbentuk padatan.

FLOW SHEET EXTRAKSI ASBUTON


METODE SOKHLET

Ekstraksi yaitu proses pemisahan berdasarkan pada distribusi zat terlarut


dengan perbandingan tertentu antara dua pelarut yang tidak saling bercampur.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu zat atau beberapa dari suatu padatan
atau cairan dengan bantuan pelarut. Proses ekstraksi aspal buton ini
menggunakan asam sulfat (H2SO4). Proses ekstraksi aspal buton ini juga untuk
meningkatkan kandungan bitumen aspal dari 20% - 30% yang masih fresh dari
batuan tambang menjadi 55% - 60%. Proses ekstraksi ini sudah dipastikan
mengurangi massa asbuton karena zat-zat pengotor sepeti kapur akan luruh dan
kita akan mendapatkan sebuah produk aspal buton yang mengandung bitumen
sebesar 55% - 60%, karena zat kapur dan zat pengotor lainnya telah hilang atau
terpisahkan dalam proses ekstraksi tersebut. Ektraksi merupakan salah satu
langkah untuk mendapatkan senyawa dari sistem campuran. Berdasarkan
fasanya, ektraksi dikelompokkan menjadi ekstraksi cair-cair dan padat-cair.
Ektraksi cair-cair dilakukan untuk mendapatkan suatu senyawa dalam
campuran berfasa cair dengan pelarut lain yang fasanya cair juga. Prinsip dasar
pemisahan ini adalah pemisahan senyawa yang memiliki perbedaan kelarutan
pada dua pelarut yang berbeda. Alat yang digunakan adalah corong pisah.
Ekstraksi padat-cair dilakukan bila ingin memisahkan suatu komponen
dalam suatu padatan dengan menggunakan suatu pelarut cair. Alat yang
digunakan adalah ektraktor soxhlet. Ekstraksi aspal buton ini di lakukan dalam
sebuah reactor yang menggunakan agitator (pengaduk), menggunakan asam
sulfat pekat (H2SO4) dan air pada komposisi 0,3% sampai 0,4% (w/w) input
aspal buton. Setelah reaksi terbentuk 3 lapisan yaitu lapisan atas/produk yang
akan diambil (bitumen materials), lapisan air (mengandung gypsum) dan
lapisan padatan. Lapisan atas tersebut kemudian dicuci dalam pencuci
menggunakan air, produk hasil pencucian disebut pure mempunyai kadar air

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

50% - 60%. Reaksi yang terjadi pada proses ekstraksi bitumen di dalam aspal
buton adalah sebagai berikut :
CaCO3 + H2SO4 ------ CaSO4 + CO2 + H2O
Reaksi tersebut bersifat eksotermis, artinya reaksi mengeluarkan panas.
Reaksi yang yang bersifat eksotermis ini didapat dari pencampuran antara air
(H2O) dan asam sulfat pekat (H2SO4), dan dari reaksi tersebut kita dapat
memanfaatkan untuk meluruhkan pengotor/kapur pada asbuton tersebut.
Berikut langkah-langkah awal prose ekstraksi :
1. Air (H2O) wajib pertama kali dimasukkan kedalam rekator, sehingga
bisa bereaksi dengan asam sulfat pekat (H2SO4). Apabila asam sulfat
pekat (H2SO4) yang dimasukkan kedalam reactor maka tidak dapat
menimbulkan reaksi panas.
2. Setelah air sudah mendidih tambahkan asam sulfat pekat (H 2SO4)
yang sesuai ukuran sambil mengaduk-ngaduk hingga menimbulkan
panas, bila sudah menimbulakan panas maka masukkan aspal buton
(sample) yang sesuai ukuran.
3. Setelah asbuton (sampel) dan asam sulfat pekat (H 2SO4) sudah
dimasukkan semua, maka tinggal menunggu sampai reaksi terbentuk
sempurna, setelah itu dikeluarkan menuju ke proses pencucian atau
washer untuk mengendapkan kapur-kapur dan mengambil produk dari
hasil reactor.
Hal-hal yang mempengaruhi kadar bitumen antara lain :
1. Pengaruh rasio asam sulfat pekat (H2SO4) terhadap asbuton, semakin
tinggi dosis asam yang digunakan maka akan semakin tinggi kadar
bitumen yang diperoleh.
2. Pengaruh air proses yang digunakan, semakin bersih air yang
digunakan maka smakin besar kadar bitumen yang diperoleh. Apabila

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

menggunakan air sirkulasi dari air limbah , karena air tesebut sudah
kotor dan akhirnya akan menghambat proses ekstraksi.
3. Pengaruh alat adukan (agitator).
4. Kadar bitumen yang terkandung dalam material (bahan tambang)
asbuton, yang jelas kita perlu menyeleksi material dengan minimum
kadar bitumen sebesar 25% - 30%, bila dibawah itu maka proses
membutuhkan (H2SO4) yang cukup banyak untuk mencapai kadar
bitumen pada produk optimum sebesar 55% dan akan berkaitan
dengan biaya produksi.
Dalam kegiatan Ektraksi yang dilakukan oleh Kelompok prakerin dari
SMK Tambang Nusantara Kendari yaitu meng-ekstraksi sampel asbuton yang
ada pada stock file di kawasan sekitar Lab. Sebelumnya telah di jelaskan
bahwa ekstrkasi dilakukan untuk memurnikan dan mengetahui kadar bitumen
(sampel asbuton), yang akan berkaitan dengan biaya produksi.
Berikut ini Kegiatan Proses Ekstraksi dari awal pengambilan sampel
yang dilakukan oleh Kelompok Prakerin SMK Tambang Nusantara Kendari :
1. Pengambilan Sampel (lima titik)
Pada tahap pengambilan sampel yang dilakukan oleh kelompok Prakerin
yaitu sampel di ambil berdasarkan 5 titik yang telah ditetapkan.
Ket :
Memilih titik pengambilan sampel yang ada di stock file.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

(Titik Pengambilan Sampel)


Titik pengambilan sampel di gali menggunakan Linggis.

(Menggali titik pengambilan sampel)


Sampel hasil galian di ambil mengguanakan skop tangan besi.

(Pengambilan sampel menggunakan skop tangan besi)


Sampel yang di ambil dimasukkan ke dalam karung (kantong
Sampel).

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

(Pengumpulan sampel, dimasukkan ke dalam karung)

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

Sampel dibawa ke LAB.

(Sampel di bawa ke Laboratorium)


2. Penghancuran sampel (penghalusan)
Sampel di hancurkan dengan cara di tumbuk menggunakan Palu
hingga halus sampai lolos saringan 3/8 mm.

(Penghancuran/ penghalusan sampel)

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

3. Pemisahan Sampel (Quarter)


4. Sampel di pisahkan menggunakan alat Quarter yang terbuat dari kayu,
setelah di pisahkan diambil dari sampel semula.

5.
6. (Pemisahan Sampel menggunakan alat Quarter)
7. Penyaringan Sampel
8. Sampel yang telah di hancurkan kemudian di saring menggunakan
saringan 3/8 mm.

9.
10. (Penyaringan Sampel)

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

11. Pengumpulan Sampel


12. Sampel yang telah di saring kemudian di satukan ke dalam wadah kotak.

13.
14. (Pengumpulan Sampel)
15. Proses Ekstraksi
16. Setelah sampel di kumpulkan, kemudian melakukan ekstraksi pada
sampel.
17. Proses/Tahap :
Siapkan kertas saring.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

18.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

19. (Menyiapkan Kertas Saring)


saring ditimbang, menggunakan

Kertas

timbangan

listrik

(Sartorius).

20.

21.
(Penimbangan kertas saring)
Berat kertas saring adalah 3.00 gr.
Siapkan sampel yang akan diekstraksi.
Timbang sampel yang akan diekstraksi dengan menggunakan
timbangan Neraca Pasar.

22.

23.
(Timbangan Neraca Pasar)
Sampel yang ditimbang dengan ukuran hingga 100 gr.
Masukkan sampel yang telah ditimbang ke dalam kertas saring
yang telah di timbang.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

24.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

25.
(Sampel bitumen dimasukkan ke dalam kertas saring)
Sampel yang sudah dimasukan kedalam kertas saring kemudian
ditimbang dengan menggunakan timbangan listrik.

26.
27.(Menimbang sampel yang telah dimasukkan ke dalam kertas

saring)
Sampel yang sudah dimasukkan kedalam kertas saring dan telah

ditimbang siap mengalami proses ekstraksi.


Sampel yang sudah siap mengalami proses ekstraksi terlebih
dahulu di timbang. Dengan rumus : Kertas saring + sampel kertas

saring (A).
Proses ekstraksi menggunakan tabung labu.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

28.
29. (Tabung Labu)

Proses ekstraksi di lakukan selama 6 jam sampai 8 jam,

kemungkinan biasa mencapai 10 jam.


Setelah proses ekstraksi selesai, sampel yang telah di ekstraksi
dinamakan Bitumen. Bitumen tersebut di keluarkan dari kertas
saring.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

30. Proses Penimbangan


A. Proses Pengeringan dan penimbangan Bitumen
Bitumen yang telah diekstraksi dimasukkan kedalam Oven.

31.

32. (Oven Pengeringan Bitumen)


Proses pengeringan di oven di lakukan sekitar 2 jam hingga
kering dengan suhu 1100 C.

33.

34.
(Oven Pengeringan Bitumen)
Proses pengeringan dimaksudkan untuk menghilangkan

CCl4.
Setelah dari oven kemudian ditimbang untuk mengetahui
berat bitumen.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

B. Proses Pengukuran Jumlah Kadar Air


Siapakan cawan yang akan diisi oleh Bitumen.

35.
36.

(Cawan wadah tempat bitumen yang akan

ditimbang)
Cawan yang sudah di siapkan akan di isi oleh Bitumen
yang telah di proses di Oven.

37.

38.
(Bitumen yang akan ditimbang)
Siapkan timbangan (timbangan Neraaca pasar) yang akan
digunakan untuk menimbang/ mengukur jumlah bitumen
yang akan dimasukkan kedalam cawan.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

39.
40.

(Timbangan Neraca Pasar untuk menimbang

bitumen)
Netralkan timbangan (harus Nol), kemudian naikkan
timbangan sebesar 100 gr (100 gr adalah target yang di

inginkan, tidak menentu).


Bitumen di masukkan kedalam cawan dan ditimbang
hingga mencapai 100 gr yang di tentukan.

41.
42.
(Bitumen yang akan ditimbang dengan ukuran berat

100gr)
Kemudian di masukkan lagi ke dalam kertas saring.
Masukkan bitumen yang telah dimasukkan ke dalam kertas
saring kedalam Labu untuk pemisahan kadar air.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

43.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

44.
(Tabung Labu pemisahan kadar air)
Penambahan pelarut (pelarut SLOL) kedalam Labu Kadar
Air.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

Sebelum penambahan pelarut, pelarut yang akan digunakan


diukur jumlah pemakaiannya.

(Pengukuran Jumlah Pelarut yang akan digunakan)


Masukkan atau tambahkan pelarut (SLOL) yang sudah di
ukur jumlah pemakaiannya kedalam Labu.

(Memasukkan Pelarut SLOL ke dalam Labu)

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

Proses pengukuran jumlah kandungan kadar Air ini juga


bermanfaaat untuk memisahkan kadar air dari pada

bitumen.
Proses pemisahan kadar air dari bitumen juga memakai
bahan kimia yaitu pelarut yaitu SLOL. Pelarut disini di

gunakan untuk memisahakan Bitumen dengan Kadar Air.


Setelah proses pemisahan kadar air telah selesai maka akan

dicari kadar air dalam bitumen tersebut.


Untuk mencari atau mengetahui kadar air pada bitumen
yaitu:

tu:C A berat saberat sampel .itu :kadal air x berat sampel . 1 x


( CA
B )

X=

Keterangan :
A = Kertas Saring.
B = Berat sampel kering.
C = Berat sampel Kadar air.
X = kadar Air

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

Simulasi Langkah-langkah Proses Ekstraksi ASBUTON

SAMPLE

TIMBANG SAMPLE

TIMBANG KERTAS

MASUKKAN SAMPLE ASBUTON KEDALAM

MASUKKAN KEDALAM LABU

MASUKKAN BAHAN PELARUT


(CCl4/C2HCl3)

PANASKAN SAMPAI BAHAN


PELARUT+BITUMEN

MINERAL+KERTAS SARING

BAHAN PELARUT+BITUMEN

KERINGKAN DALAM

TIMBANG

DESTILASI

ASBUTON-MINERAL

%
BITUMEN

BAHAN
PELARUT
MURNI

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

BITUME

PT. Wijaya Karya Bitumen

BAB V

KONDISI KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

(K3)
A. Definisi Kondisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Penerapan Konsep Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada


pekerja suatu proyek tertentu terutama pada proyek-proyek dibidang
pertambangan adalah hal yang sangat penting untuk mengurangi faktor resiko
kecelakaan yang akan terjadi. Kondisi Keselamatan dan kesehatan kerja (K3)
merupakan instrumen yang memproteksi pekerja, perusahaan, lingkungan
hidup, dan ma-syarakat sekitar dari bahaya akibat kecelakaan kerja.
Perlindungan tersebut merupakan hak asasi yang wajib dipenuhi oleh
perusahaan. K3 bertujuan mencegah, mengurangi, bahkan menihilkan risiko
kecelakaan kerja (zero accident). Penerapan konsep ini tidak boleh dianggap
sebagai upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang
menghabiskan banyak biaya (cost) perusahaan, melainkan harus dianggap
sebagai bentuk investasi jangka panjang yang memberi keuntungan yang
berlimpah pada masa yang akan datang. Salah satu karakteristik industri
pertambangan adalah padat modal, padat teknologi dan memiliki risiko yang
besar. Oleh karena itu, dalam rangka menjamin kelancaran operasi
pertambangan, menghindari terjadinya kecelakaan kerja, kejadian berbahaya
dan penyakit akibat kerja maka diperlukan implementasi Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3) pada kegiatan pertambangan.

Terjadinya kecelakaan kerja tentu saja menjadikan masalah yang


besar bagi kelangsungan suatu usaha. Kerugian yang diderita tidak hanya
berupa kerugian materi yang cukup besar namun lebih dari itu adalah

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

timbulnya korban jiwa yang tidak sedikit jumlahnya. Kehilangan sumber daya
manusia ini merupakan kerugian yang sangat besar karena manusia adalah
satu-satunya sumber daya yang tidak dapat digantikan oleh teknologi apapun.

Upaya pencegahan dan pengendalian bahaya kerja yang dapat


menyebabkan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja dapat dilakukan
dengan penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di tempat kerja. Secara
keilmuan K3, didefinisikan sebagai ilmu dan penerapan teknologi tentang
pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Dari aspek hukum K3
merupakan kumpulan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang
perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja.
B. Managemen K3

Manajemen Resiko Pertambangan adalah suatu proses interaksi


yang digunakan oleh perusahaan pertambangan untuk mengidentifikasi,
mengevaluasi, dan menanggulangi bahaya di tempat kerja guna mengurangi
resiko bahaya seperti kebakaran, ledakan, tertimbun longsoran tanah, gas
beracun, suhu yang ekstrem, dll. Jadi, manajemen resiko merupakan sesuatu
yang bila digunakan secara benar akan menghasilkan lingkungan kerja yang
aman,bebas dari ancaman bahaya di tempat kerja.

C. Faktor Resiko Yang Ada Di Perusahaan Pertambangan

Adapun Faktor Resiko yang sering dijumpai pada Perusahaan


Pertambangan adalah sebagai berikut :
a) Ledakan
Ledakan dapat menimbulkan tekanan udara yang sangat tinggi disertai
dengan nyala api. Setelah itu akan diikuti dengan kepulan asap yang
SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

berwarna hitam. Ledakan merambat pada lobang turbulensi udara akan


semakin dahsyat dan dapat menimbulkan kerusakan yang fatal.
b) Longsor
Longsor di pertambangan biasanya berasal dari gempa bumi, ledakan yang
terjadi di dalam tambang, serta kondisi tanah yang rentan mengalami
longsor. Hal ini bisa juga disebabkan oleh tidak adanya pengaturan
pembongkaran atau penggalian untuk tambang.
c) Kebakaran
Bila akumulasi gas-gas yang tertahan dalam pabrik mengalami suatu
getaran hebat, yang diakibatkan oleh berbagai hal, seperti gerakan roda-roda
mesin, tiupan angin dari kompresor dan sejenisnya, sehingga gas itu
terangkat ke udara (beterbangan) dan kemudian membentuk awan gas dalam
kondisi batas ledak (explosive limit) dan ketika itu ada sulutan api, maka
akan terjadi ledakan yang diiringi oleh kebakaran.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

D. Manfaat Manajemen Resiko Pada Perusahaan Pertambangan


E.
Secara umum manfaat Manajemen Resiko pada perusahaan
pertambangan adalah sebagai berikut :
a) Menimalkan kerugian yang lebih besar.
b) Meningkatkan kepercayaan pelanggan dan pemerintah kepada perusahaan.
c) Meningkatkan kepercayaan karyawan kepada perusahaan.
F. Peralatan Standard K3
G. Kesehatan dan keselamatan kerja adalah dua hal yang sangat
penting. Oleh karenanya, semua perusahaan Pertambangan khususnya
Perusahaan PT. Wijaya Karya Bitumen, berkewajiban menyediakan semua
keperluan peralatan/ perlengkapan perlindungan diri atau Personal Protective
Equipment (PPE) untuk semua karyawan yang bekerja di area penambangan
maupun di Laboratorium, yaitu :
1. Pakaian Kerja
H. Tujuan pemakaian pakaian kerja adalah melindungi badan manusia
terhadap pengaruh-pengaruh yang kurang sehat atau yang bisa melukai
badan. Megingat karakter lokasi pertambangan yang pada umumnya
mencerminkan kondisi yang keras maka selayakya pakaian kerja yang
digunakan juga tidak sama dengan pakaian yang dikenakan oleh karyawan
yang bekerja di kantor.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

I. Perusahaan

yang

mengerti

betul

masalah

ini

umumnya

menyediakan sebanyak 3 pasang dalam setiap tahunnya.

J.
K. (Pakaian Kerja Tambang)
2. Sepatu Kerja
L. Sepatu kerja (safety shoes) merupakan perlindungan terhadap kaki.
Setiap pekerja konstruksi perlu memakai sepatu dengan sol yang tebal
supaya bisa bebas berjalan dimana-mana tanpa terluka oleh benda-benda
tajam atau kemasukan oleh kotoran dari bagian bawah. Bagian muka sepatu
harus cukup keras supaya kaki tidak terluka kalau tertimpa benda dari atas.

M.
N. (Sepatu Kerja Safety Shoes)

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

3. Kacamata
4. Kacamata pengaman digunakan untuk melidungi mata dari debu
kayu, batu, atau serpih besi yang beterbangan di tiup angin. Mengingat
partikel-partikel debu berukuran sangat kecil yang terkadang tidak terlihat
oleh mata. Oleh karenanya mata perlu diberikan perlindungan. Biasanya
pekerjaan yang membutuhkan kacamata adalah operator alat berat dan para
pekerja yang menggunakan alat berat.

5.
6. (Kaca Mata Lapangan)
7. Sarung Tangan
8. Sarung tangan sangat diperlukan untuk beberapa jenis pekerjaan.
Tujuan utama penggunaan sarung tangan adalah melindungi tangan dari
benda-benda keras dab tajam selama menjalankan kegiatannya. Salah satu
kegiatan yang memerlukan sarung tangan adalah mengangkat besi tulangan,
kayu. Pekerjaan yang sifatnya berulang seperti mengangkat benda-benda
keras dan kasar yang berat serta membawa alat berat secara terus menerus
dapat mengakibatkan lecet pada tangan.
9. Sarung tangan juga dapa di gunakan di laboratorium dan saat
pengambilan sampel di stok file.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

10.
11.(Sarung Tangan)
12. Helm
13.Helm (helmet) sangat pentig digunakan sebagai pelindug kepala,
dan sudah merupakan keharusan bagi setiap pekerja di lapangan untuk
mengunakannya dengar benar sesuai peraturan. Helm ini diguakan untuk
melindungi kepala dari bahaya yang berasal dari atas, misalnya saja ada
barang, baik peralatan atau material konstruksi yang jatuh dari atas.

14.
15.(Helm Lapangan/Kerja)

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

16. Masker
17.Pelidung bagi pernapasan sangat diperlukan untuk pekerja
konstruksi mengingat kondisi lokasi penambangan itu sediri. Berbagai
material konstruksi berukuran besar sampai sangat kecil yang merupakan
sisa dari suatu kegiatan, misalnya serbuk kayu sisa dari kegiatan memotong,
debu hasil dari pengerukkan material bahan tambang, serta saat berada di
Laboratorium dapat melindungi kita dari bau gas/cairan kimia.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

18.

19.(Masker Lapangan dan Masker Laboratorium)

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

20. BAB VI
21. PENUTUP
A. Kesimpulan
22. Lokasi PT. Wijaya Karya Bitumen terletak di Kec. Pasarwajo,
Pulau Buton, provinsi Sulawesi Selatan. Banabungi yang terletak di Kec.
Pasarwajo yang merupakan tempat kantor produksi Aspal buton dan juga
sebagai tempat penimbunan hasil produksi aspal dari kabungka yang akan di
export keluar daerah atau ketempat konsumen. PT. Wijaya Karya Bitumen
memiliki pelabuhan yang diusahakan secara khusus yaitu di Banabungi dan di
Lawele yang merupakan tempat untuk pengiriman aspal baik untuk di jual
Dalam Negeri maupun Luar Negeri.
23. Berdasarkan kegiatan Praktek

Kerja

Industri

yang

telah

dilaksanakan di PT. Wijaya Karya Bitumen, dapat kami simpulkan bahwa


kegiatan operasional dan penambangan berjalan dengan baik, mulai dari
kegiatan Eksplorasi, Eksploitasi, Pengujian sampel, dan Penambangan. Semua
bagian bekerja sama dengan baik di berbagai bidang. Sumber daya manusia
yang ada mampu menyesuaikan diri dan melakukan pekerjaannya baik pribadi
maupun kelompok. Sitem waktu pekerjaan di PT. Wijaya Karya Bitumen di
tetapkan oleh pihak perusahaan dan di awasi oleh coordinator atau manager
perusahaan.
24.
25.
26.
27.
B. Saran

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

28.

Dengan selesainya penyusunan Laporan Hasil Prakerin ini,

penyusun menyadai bahwa dalam penyusunan laporan ini masih kurang


memacu pada hasil Praktek, dalam pembahasan masih kurang memadai, masih
kurang terperinci, dan masih kurang baik. Maka dari itu penyusun
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dan bermanfaat, dari para
pihak perusahaan dan pembimbing Instansi, serta para pembaca lainnya,
sehingga di masa-masa mendatang penyusunan Laporan akan lebih baik dari
sebelumnya. Semoga dengan selesainya Laporan hasil prakerin ini, pihak
perusahaan berkenan memberikan masukkan atau kritik dan saran.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

29. DAFTAR PUSTAKA


-

I Nengah Budha Yadnya, 1974. Laporan Prakerin. PT. Sarana Karya. Aspal

Buton.
Febrianto Jeremy Allak. Harun Andrianto Fadli. Wahyu Eka Wati. Evariani
Desiana. Endang Lestari. Yoga Chandra. Tri Sultan Maulana. Dwi Hariakto.
Data Hasil Prakerin, PT. Wijaya Karya Bitumen. SMK Tambang Nusantara

Kendari.
Febrianto Jeremy Allak. Data-Data Hasil Prakerin, PT. Wijaya Karya Bitumen.

SMK Tambang Nusantara Kendari.


Surono, 2010. Geologi Lengan Tenggara Sulawesi. Badan Geologi

Kementerian energi Dan Sumber daya Mineral.


Sumamur. (1984). Higene Perusahaan Dan Kesehatan Kerja. Jakarta : Gunung

Agung.
Sumamur. (1989). Keselamatan Kerja Dan Pencegahan Kecelakaan. Jakarta :

Cv Haji Masagung.
International Labor Office. (1996). Ergonomic Checkpoints. Geneva :

International Labor Office.


Rudi Suardi. (2005). Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan

Kerja.Jakarta : Penerbit Ppm


Achadi Budi Cahyono. (2004). Keselamatan Kerja Bahan Kimia Di Industri.

Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.


Modul K3 Oleh M. Adam Yerussalem,M.Si. Dan Enny Zuhni Khayati ,M.Kes.

2010.
Proses Pelapukan Batuan. Geography Essertials. Fauzi, 2012. Faktor

Pelapukan.
https://www.scribd.com/doc/144623900/Manfaat-Dan-Tujuan-Prakerin
http://beebasmerdeka.blogspot.com/2012/01/pengertian-tujuan-dan-manfaatprakerin.html

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

Http://Www.Academia.Edu/5335690/Laporan_Pelaksanaan_Praktek_Kerja_In
dustri_Prakerin_Di_Salsa_Bakery_Krasak_Pecangaan_Jepara_Tanggal_18Juli

2013_Disusun_Oleh_Anis_Setiawati_Smkn_1_Batealit_Program_Keahlian.
https://www.scribd.com/doc/34184105/8/H-Waktu-dan-Tempat-Pelaksanaan-

PKL.
http://rizkisetyawan.wordpress.com/2012/03/24/contoh-laporan-prakerin-smk/
https://www.scribd.com/doc/65597196/5/C-Waktu-Dan-Tempat-Prakerin
https://www.scribd.com/doc/60857132/1/maksud-dan-tujuan
http://pkllove.blogspot.com/p/pengertian-praktek-kerja-lapangan-pkl.html
http://1902miner.wordpress.com/bahan-galian/aspal-bitumen/
http://www.academia.edu/5621412/5._makalah_Aspal_Buton
http://www.idorecrusher.com/1/proses-penambangan-aspal.html
http://www.slideshare.net/ekaandinirwana/tahapan-eksplorasi
Http://Www.Academia.Edu/5516745/Eksploitasi_Dan_Eksplorasi_Sumber_Da

ya_Mineral_Dan_Strategi_Pengolahan_Sumberdaya_Mineral.
http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20309138-S43191-Produksi%20aspal.pdf
Wendi Novriawan. 2013. Ekstraksi Asbuton Dengan Metode Asbuton Emulsi
Ditinjau Dari Konsentrasi Pengemulsi Dan Waktu Ekstraksi Menggunakan

Emulgator Texapon Asbuton.


http://www.slideshare.net/Johan19931106/pengertian-definisi-k3-keselamatan-

kesehatan-dan-ke
https://arisetiabudiblog.wordpress.com/2013/06/20/kesehatan-dankeselamatan-kerja-k3-definisi-indikator-penyebab-dan-tujuan-penerapan-

keselatan-dan-kesehatan-kerja/
http://www.trainingcenter.co.id/manajemen-k3-pertambangan
http://yayansuhendri.blogspot.com/2012/10/kesehatan-dan-keselamatan-kerja-

di.html
https://ariagusti.wordpress.com/2011/01/21/manajemen-risiko-k3-di-

perusahaan-pertambangan/
http://ergonomi-fit.blogspot.com/2012/01/k3-di-pertambangan.html
http://standar-operasional.blogspot.com/2013/04/peralatan-k3.html
masopik.wordpress.com/2009/02/03/peralatan-standar-k3-di-proyek/
http://ergonomi-fit.blogspot.com/2011/03/k3-di-industri-pertambangan.html

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

https://evynurhidayah.wordpress.com/2012/06/01/kesehatan-dan-keselamatankerja-di-pertambangan/

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

30. LAMPIRAN
31. FOTO PRAKERIN
1. Pemasangan Safety Line pada Stock file.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

32.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

2. Pengepakkan sampel asbuton di Laboratorium PT. Wijaya Karya Bitumen.

3.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

4. Pengambilan Sampel di Stock File.

5.
6. Belt Conveyord PT. Wijaya Karya Bitumen

7.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

8. Lapangan Tambang Winto.

9.
10. Alat Pres Aspal

11.
12. Laboratorium PT. Wijaya Karya Bitumen

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

13.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

14. Kenampakan Lapisan Aspal di Lapangan Tambang Winto.


15.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

16. Pola Pemuatan Material (Top Loading)

17.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

18. Perpisahan

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)

PT. Wijaya Karya Bitumen

19.

SMK Tambang Nusantara Kendari (Praktek Kerja Industri 2014)