Anda di halaman 1dari 30

Kemacetan di daerah ibu kota telah menjadi penyakit kronis sejak awal tahun 1990-an,

dengan kecenderungan yang semakin mengkhawatirkan. Berbagai solusi ditawarkan,


namun tidak satupun berjalan efektif untuk mengatasinya, karena solusi yang ditawarkan
(misal: jalur 3-in-1, jalur khusus bus, perbaikan jalan, dan pembangunan jalan tol)
cenderung terpilah-pilah (parsial), tidak sistematis, dan tidak kontinu.
Departemen Pekerjaan Umum (PU) sebagai pembina urusan jalan merupakan salah satu
pihak yang menjadi sasaran complain masyarakat yang bertubi-tubi tentang persoalan
kemacetan tersebut. Fakta ini dapat dipahami mengingat saat ini 90% angkutan
penumpang maupun barang bertumpu pada jaringan jalan yang ada.Tidak dapat
dipungkiri bahwa jalan sejauh ini merupakan harapan terbesar masyarakat ibukota,
daerah sekitarnya, bahkan nasional, untuk mendukung kegiatan sosial ekonominya.
Dengan pembebanan yang ada tersebut, jalan merupakan ground transport infrastructure
yang sangat vitaldalam mewujudkan sasaran pembangunan nasional, yakni untuk :

Mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan target yang telah
ditetapkan antara 6 hingga 8%per tahun.

Mempercepat terjadinya pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, serta


pengentasan kemiskinan bagi tidak kurang dari 36 juta jiwa yang hidup dengan
penghasilan di bawah US $ 2per hari.

Menciptakan lapangan kerja langsung (buruh, supplier material, sektor informal,


dan sebagainya) dan tidak langsung (pedagang pasar, penambang galian C,
pengusaha restoran, pengusaha BBM, dll).

Memperkuat kesatuan dan persatuan nasional.

Namun, permasalahan kemacetan sangatlah kompleks. Kajian singkat ini berupaya untuk
menyajikan anatomi kemacetan ditinjau dari faktor-faktor penyebab, dampak yang
ditimbulkan, konsep-konsep untuk mengatasi kemacetan, serta peran yang dapat
dimainkan oleh Departemen Pekerjaan Umum sebagai kontribusi untuk mengatasi
kemacetan.
Penyebab Kemacetan

Kemacetan dicirikan, secara teoritik, oleh arus yang tidak stabil, kecepatan tempuh
kendaraan yang lambat, serta antrian kendaraan yang panjang, yang biasanya terjadi
pada konsentrasi kegiatan sosial-ekonomi atau pada persimpangan lalu-lintas di pusatpusat perkotaan.
Kemacetan yang parah sebagaimana terjadi di Jakarta dapat ditinjau dari 2 (dua) sisi,
yakni sisi supply (penyediaan) dan sisi demand (kebutuhan). Anatomi kemacetan
diperlihatkan secara skematik pada Gambar 1 berikut :

Sebagian dari faktor-faktor penyebab tersebut(box warna kuning) berada dalam lingkup
tugas, tanggung jawab, dan kompetensi Departemen Pekerjaan Umum, yang meliputi:
Peningkatan laju pertambahan jalan (termasuk jalan tol) di Jabodetabek adalah 1% per
tahun, tidak sebanding dengan laju pertambahan kendaraan yang mencapai 11% per
tahun. Volume yang tidak sebanding antara jumlah kendaraan dan panjang jalan
menyebabkan kemacetan yang parah pada jam-jam puncak;

Upaya peningkatan kapasitas jalan (khususnya jalan tol dan simpang susun)
terkendala oleh proses pembebasan lahan yang berjalan lambat dan keterbatasan
dana yang tersedia. Terlebih bahwa Dep. PU harus menutup setiap tahunnya
biaya eksternalitas dari kerusakan jalan yang disebabkan oleh pembebanan
berlebihan (overloading); dan

Kualitas rencana tata ruang yang belum memadai dan pengendalian pemanfaatan
ruang yang lemah (ketidakmampuan menghadang kekuatan pasar) menyebabkan
instrumen penataan ruang menjadi tidak efektif. Fakta menunjukkan bahwa
penataan ruang tidak mampu mengendalikan penumpukan > 60% kegiatan
ekonomi nasional di Jabodetabek (pusat kegiatan industri, komersial,
pemerintahan, dan jasa keuangan).

Penurunan kondisi jalan dalam banyak hal juga menjadi salah satu penyebab kemacetan
yang merupakan dampak dari:

Kemampuan pemeliharaan dan rehabilitasi jalan yang terbatas.

Laju perbaikan jalan yang berjalan lebih lambat dari laju kerusakan jalan.

Pertambahan volume lalu-lintas maupun intensitas beban yang terus meningkat


termasuk overloading yang tidak terkendali.

Kualitas hasil penanganan jalan masih belum sesuai dengan rencana/spesifikasi.

Perlintasan sebidang menambah kemacetan pada kawasan Jabodetabek. Berdasarkan


identifikasi, pada saat ini terdapat 46 kawasan di kawasan ini dengan total 100 titik
simpang rawan macet di Jakarta, dimana 8 (delapan) kawasan di antaranya memiliki
lebih dari 4 (empat) titik simpang rawan (Kawasan Ancol/Gunung Sahari, Jatibaru/Tanah
Abang, Kalimalang, Mampang/Buncit, Pasar Minggu, Pondok Indah, Pulo Gadung, dan
Tambora). Tingkat keparahan pada 8 (delapan) kawasan ini dua kali lipat lebih tinggi
dari kawasan-kawasan lainnya.
Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa pembangunan beberapa jalur busway di
wilayah ibukota telah meningkatkan 30-40 % dari jumlah titik simpang rawan macet
tersebut.
Pada musim hujan, faktor genangan dan banjir menambah tingkat keparahan dari
kemacetan. Fakta menunjukkan bahwa kapasitas saluran/kanal yang terbatas tidak

mampu menampung curah hujan dengan intensitas yang rendah sekalipun. Apabila
ditambah dengan kemampuan mengelola sampah dari Pemerintah Kota yang belum
optimal dan budaya masyarakat yang buruk dalam membuang sampah, maka dampak
langsung dari luapan air adalah pada badan jalan yang kemudian memicu kemacetan.
Tidak tersedianya moda alternatif mengakibatkan seluruh beban sirkulasi ada pada
prasarana jalan, sementara rendahnya ketersediaan angkutan umum menyebabkan
ketergantungan yang sangat tinggi terhadap kendaraaan pribadi. Keberadaan angkutan
umum (public transport) di Jabodetabek belum mampu memenuhi kebutuhan pergerakan
orang di Jabodetabek. Data menunjukkan bahwa 7 juta orang melakukan pergerakan lalu
lintas per hari di Jabodetabek, dimana 3,08 juta di antaranya menggunakan kendaraan
pribadi dan sisanya menggunakan moda angkutan umum. Sebagai gambaran, busway
yang banyak diandalkan oleh Pemerintah DKI Jakarta sejauh ini hanya mampu
mengangkut 210.000 orang/hari atau sekitar 6% saja dari total orang yang melakukan
pergerakan tersebut.
Akhirnya, ketidakpatuhan pengguna jalan dan kelemahan penegakan hukum(traffic
management) seperti maraknya pasar tumpah/kaki lima, pemanfaatan badan jalan
menjadi lahan parkir dan terminal angkutan umum merupakan faktor-faktor yang
menambah panjang list penyebab kemacetan di Jakarta.
Dampak Yang Ditimbulkan Akibat Kemacetan
1.
Secara ekonomi, kemacetan menyebabkan peningkatan waktu tempuh (inefisiensi
waktu), biaya transportasi secara signifikan, gangguan yang serius bagi
pengangkutan produk-produk ekspor-impor (logistik secara umum), penurunan
tingkat produktivitas kerja, dan pemanfaatan energi yang sia-sia.
2.
3.
Selain itu, kemacetan pun memberikan dampak yang serius bagi penurunan
kualitas lingkungan perkotaan (khususnya tingkat kebisingan dan polusi udara)
dan penurunan tingkat kesehatan (misal: pemicu lahirnya berbagai penyakit
pernapasan, tekanan psikologis/stress, dsb).
4.
5.
Dalam konteks perubahan iklim (climate change) yang kini tengah menjadi hot
topic bagi masyarakat dunia, kemacetan lalu lintas di kota-kota utama dunia telah
menjadi salah satu kontributor utama dalam emisi gas-gas rumah kaca ke
atmosfir yang menyebabkan peningkatan temperatur bumi yang signifikan sejak
kota-kota tersebut tumbuh pesat.
6.
7.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Bappenas tahun 2006 menunjukkan


bahwa kemacetan di Jakarta menimbulkan kerugian ekonomi sebesar Rp. 7
Trilyun/tahun yang dihitung untuk 2 (dua) sektor saja, yakni energi (Rp. 5,57
T/tahun) dan kesehatan (Rp. 1,7 T/tahun). Sementara Yayasan Pelangi
memperkirakan kerugian bisa membengkak hingga Rp. 43 Trilyun per tahun
akibat menurunnya produktivitas kerja, pemborosan BBM dan pencemaran
udara.
8.
Beberapa Konsep Untuk Mengatasi Kemacetan
Dalam dunia akademik, dikenal prinsip-prinsip untuk mengatasi kemacetan yang banyak
didiskusikan/diperdebatkan oleh para ahli, yang salah satunya adalah prinsip transit
oriented development (TOD). TOD dapat dikategorikan sebagai salah satu konsep urban
planning, seperti Intelligent Urbanismatau Smart Growth, yang menekankan pentingnya
untuk mengembangkan kota yang efisien dalam pemanfaatan lahan.
Gambar 2 : Compact City
Konsep TOD sendiri menekankan pentingnya kedekatan antara sarana transportasi
(stasiun dan terminal) dengan kegiatan perkotaan campuran (jasa komersial/retail,
residensial dan perkantoran) dengan densitas tinggi (compact). Radius pelayanan
perkotaan 0,4 0,8 km dari stasiun/terminal yang memungkinkan terjadinya sirkulasi
pedestrian dan sepeda. Penggunaan transportasi publik lebih diutamakan didalam
kotadenganmenyediakan sarana-sarana perhentian sementara (transit).
Menarik untuk disimak kutipan berikut: Traffic congestion has increased so much in
virtually every metropolitan area that two-hour commutes now are routine. Attempts to
alleviate the problem of constructing more highways almost have led to more sprawl
and, eventually, more congestion.(Jim Miara, kolumnis untuk majalahUrban
Land).
Sementara itu, Transit Oriented Development (TOD) as an approach to combat traffic
congestion and protect environment has caught on all across the country. The trick for
real estate developers has always been identifying the hot transportation system. Today,
highways are out, urban transit system are in. (The Urban Land Institute). Pertanyaan
yang muncul adalah: bagaimana dengan kita? Tampaknya kita perlu mereformulasi
secara fundamental kxebijakan dan strategi pembangunan transportasi yang selama ini
terlalu bersifat sektoral.
Salah satu alternatif kebijakan yang mungkin perlu dipikirkan untuk mengatasi
(sebagian) kemacetan di Jakarta (walaupun kebijakan ini tetap saja masih sangat bersifat
parsial, tidak komprehensif) adalah penerapan congestion charge, seperti pengalaman
Kota London dalam mengatasi kemacetan di pusat kota. Otoritas setempat menetapkan
charge pada London congestion zones sebesar 5 poundsterling per hari mulai pukul
7.00 pagi hingga pukul 18.30 malam dari hari Senin Jumat pada area seluas 21 km2.
Pengecualian diberikan untuk sarana transportasi umum (bus), taksi resmi (registered
taxi) dan ambulans (emergency vehicles). Discount diberikan bagi mobil-mobil warga

Kota London yang berlangganan. Bilamana pengendara kendaraan bermotor tidak


membayar charge tersebut, maka denda yang berlaku adalah 120 poundsterling.
Bagaimana pun, congestion charge, sebagaimana layaknya sebuah kebijakan publik yang
tidak populer, mendapatkan tentangan keras dari politisi dan Londoners (khususnya para
retailers, shoppers, dll) yang merasakan penurunan angka penjualan secara signifikan
yang diperkirakan sebesar 100 juta poundsterling/tahun akibat penurunan jumlah
orang dan mobil ke pusat Kota London. Selain itu juga bahwa masyarakat London
trauma dengan keselamatan transportasi publik, pasca bom London 2005. Konsistensi
otoritas Kota London dalam menghadapi berbagai kritik dan resistensi terhadap
kebijakan adalah kunci dalam penerapan kebijakan ini.
Penguatan Peran Departemen Pekerjaan Umum
Untuk mengatasi kemacetan di kawasan Jabodetabek, peran Departemen Pekerjaan
Umum perlu diperkuat melalui upaya-upaya jangka pendek dan jangka panjang sebagai
berikut :
Untuk Jangka Pendek, maka upaya Departemen PU adalah melalui:

perbaikan manajemen konstruksi berskala besar (jalan tol, busway, saluran/kanal,


sarana komersial/perkantoran, dsb) yang disertai dengan pengawasanyang ketat
dalam rangka mengurangi hambatan-hambatan sirkulasi;

percepatan realisasi jalan tol pada ruas-ruas strategis, termasuk ruas alternatif
yang mengarah ke Bandara Sukarno-Hatta dan ke Pelabuhan Laut Tanjung Priok;

merealisasikan pembangunan simpang-susun di beberapa titik rawan kemacetan,


dengan memperhatikan pula dampak kemacetan sementara yang bakal
ditimbulkan. Untuk itu, pembangunan dilakukan secara bertahap dan terdistribusi
di beberapa titik;

mengurangi dampak genangan pada badan jalan (misal melalui pembersihan


saluran-saluran yang mampat dari sampah, peningkatan kapasitas sungai, dsb.);

merealisasikan secara konsisten konsep pengembangan hunian vertikal seperti


Rumah Susun; dan

melaksanakan koordinasi intensif dengan sektor/instansi yang menangani


persoalan traffic management dan penegakan hukum dalam rangka
mengembalikan fungsi dan kapasitas badan jalan sebagaimana yang seharusnya
(misal : melalui penertiban kaki lima, angkutan umum, pasar tumpah, dsb).

Perencanaan terpadu dalam penyediaan prasarana transportasi multi-moda menjadi


kebutuhan mutlak, dimana implementasinya lebih penting dibandingkan sekedar rencana
yang komprehensif dan sophisticated. Pembagian peran (role-sharing) dan beban (loadsharing) antar-moda (misal antara jalan raya dan jalan KA khususnya untuk angkutan
barang/heavy loaded vehicle) harus diciptakan, agar prasarana jalan tidak menanggung
eksternalitas akibat kemacetan yang luar biasa.
Untuk itu, Departemen PU perlu pula mendorong mitra kerjanya, khususnya Departemen
Perhubungan, untuk menuntaskan Sistem Transportasi Nasional (SISTRANAS) dan
turunan kebijakan transportasi lainnya. Tanpa Sistranas dan kebijakan transportasi
terpadu yang diharapkan tersebut, pembangunan sektor transportasi terpadu di Kawasan
Jabodetabek akan sulit tercapai, dan dengan demikian masalah kemacetan lalu lintas
yang parah di kawasan ini tidak akan pernah pula dapat diatasi secara tuntas. Penanganan
transportasi di Jakarta sebagaimana konsep yang telah dipresentasikan oleh Menteri
Perhubungan di depan Wakil Presiden RI pada tanggal 30 Mei 2008 yang lalu hanyalah
merupakan bagian dari solusi permanen, menyeluruh dan bersifat jangka panjang dalam
mengatasi kemacetan di Jakarta dan sekitarnya.
Untuk Jangka Menengah dan Panjang, konsep megapolitan yang pernah dikemukakan
oleh Gubernur Sutiyoso layak untuk dikaji kembali secara lebih serius. Dalam bingkai
megapolitan ini, maka persoalan kemacetan dapat dikaitkan pula denganpersoalan
banjir/genangan, karenakeduanyasaling berkaitan. Dep. PU perlu memikirkan dampak
dari pembangunan jalan tol terhadap peningkatan intensitas banjir di kawasan
Jabodetabek, dan sebaliknya, dampak dari banjir/genangan terhadap peningkatan
kemacetan dan penurunan kualitas jalan.
Kemacetan adalah ekses dari visi yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk mewujudkan
Jakarta sebagai pusat kegiatan ekonomi nasional bahkan internasional, karena yang
terjadi saat ini adalah pemusatan kegiatan sosial-ekonomi dan politik yang terlalu
berlebihan, melebihi daya dukung lingkungan dan daya tampung ruang wilayah. Wacana
untuk mengalihkan (mendesentralisasikan) sebagian kegiatan sosial-ekonomi nasional ke
luar Jabodetabek layak untuk dihidupkan kembali, sehingga blok-blok ekonomi tidak
terpusat di kawasan ini saja
Butir di atas disebut pengalihan beban spasial yang memiliki implikasi besar secara
makro-nasional. Mulai saat ini Pemerintah bersama DPR perlu memikirkan pengurangan
beban Jakarta dan sekitarnya melalui desentralisasi kegiatan (bukan hanya desentralisasi
kewenangan dan sumberdaya yang saat ini terjadi). Pengalaman Perancis pasca Perang
Dunia II dengan program mtropole dquilibre yang diikat dengan jaringan

kereta api berkecepatan tinggi dan jaringan jalan bebas hambatan, serta pengalaman
Malaysia dengan pengalihan pusat pemerintahan ke Putrajaya pada tahun 1980an akhir
merupakan best practices yang layak dipelajari.
Tidak ada solusi lain selain bahwa instrumen penataan ruang harus digunakan sebagai
pendekatan perencanaan pembangunan dalam penataan kembali kawasan megapolitan
Jabodetabek ke depan, termasuk dalam upaya serius mengatasi kemacetan di Jakarta dan
sekitarnya ini. Instrumen ini harus memiliki perspektif jangka panjang, yang memikirkan
bagaimana penanganan yang diusulkan dapat bersifat terpadu dan sustainable. Lahirnya
Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, yang sangat
mengedepankan peran penataan ruang sebagai acuan pembangunan, harus dijadikan
momentum penting oleh Departemen PU untuk lebih mengedepankan peran penataan
ruang.
Rencana tata ruang kawasan metropolitan Jabodetabek yang berkualitas tinggi, namun
membumi dan dapat dioperasionalisasikan, yang mampu menjawab tantangan dan
permasalahan nyata di lapangan, bukan rencana tata ruang yang disusun secara business
as usual, sebagaimana yang selama ini banyak dikeluhkan berbagai pihak, merupakan
kata kunci yang tidak bisa ditawar lagi jika Departemen PU memang ingin memperkuat
perannyadalam turut mengatasi kemacetan lalu lintas Jakarta dan sekitarnya. Dalam
konteks ini, maka penataan ruang perlu memberikan perhatian yang besar, di antaranya
bagi:

keterpaduan multi-moda yang lebih mendorong pemanfaatan transportasi publik


secara luas bagi warga Jabodetabek;

pengembangan budaya bermukim pada rumah susun (hunian vertikal) yang lebih
hemat lahan; dan

pembatasan pembangunan prasarana dan sarana sosial-ekonomi berskala besar


yang tumbuh pesat dan mempengaruhi struktur ruang kota (misal : pusat
perbelanjaan/perdagangan/plaza/shopping malls, dsb yang sesungguhnya
bukan merupakan kultur masyarakat Indonesia). Fenomena urban mushroom
yang membangkitkan banyak kemacetan baru, apabila diteruskan menjadi sangat
berbahaya bagi keberlanjutan kota ke depan. Pertanyaan yang muncul adalah
mungkinkah instrumen penataan ruang bisa menghambat laju kapitalisme?

Solusi Mengatasi Kemacetan

Tidak ada solusi jitu dalam jangka pendek untuk mengatasi kemacetan lalu lintas di
Jakarta. Pemerintah sebaiknya tidak mengeluarkan kebijakan yang hanya berfungsi
sebagai parasetamol untuk mengurangi kemacetan yang sifatnya semu dan
sementara.
Masalah kemacetan di Jakarta dan sekitarnya bukan hanya masalah transportasi semata.
Alternatif solusi mengatasi permasalahan transportasi di DKI Jakarta sebagaimana yang
ditawarkan oleh Menteri Perhubungan (antara lain dengan mengembangkan transportasi
multi-moda, MRT System, KA Bandara Soekarno-Hatta, pengembangan Intelligent
Transport System (ITS), perubahan struktur pajak kendaraan bermotor, perbaikan
manajemen transportasi, dan sebagainya) hanyalah bagian dari penanganan masalah
kemacetan Jakarta yang sangat kompleks dan berdimensi banyak.
Upaya penanganan kemacetan di Jakarta dan sekitarnya harus bersifat menyeluruh,
berdimensi jangka panjang dan bersifat sustainable. Ramalan para ahli transportasi
mengenai total gridlock dalam 7 tahun ke depan, tepatnya pada tahun 2014, harus
menjadi warning bagi pemerintah (Pusat dan Daerah). Oleh karenanya perlu diupayakan
agar langkah-langkah jangka pendek dan jangka panjang tersebut di atas ditempatkan
dalam prioritas Departemen PU serta memperoleh dukungan politik dan finansial yang
memadai dari Pemerintah dan DPR.
Melihat kompleksitas permasalahannya, tidak ada kata yang lebih tepat selain koordinasi
yang lebih baik dan intensif di lingkungan internal Departemen PU antara Direktorat
Jenderal Penataan Ruang, Direktorat Jenderal Bina Marga, Direktorat Jenderal Cipta
Karya, dan Direktorat Jenderal Sumberdaya Air dalam meninjau kembali dan
merumuskan ulang Rencana Tata Ruang Kawasan Metropolitan (Megapolitan?)
Jabodetabek ini dengan antara lain menambahkan, memperkuat, dan memberikan
penekanan pada beberapa aspek sebagaimana disebutkan di atas. Perencanaan tata ruang
Kawasan Metropolitan Jabodetabek tidak cukup hanya dilakukan oleh Direktorat
Jenderal Penataan Ruang semata.
Di samping itu, koordinasi yang lebih baik dan intensif dengan mitra kerja strategis
dalam mengatasi kemacetan di Jakarta dan sekitarnya ini, seperti Departemen
Perhubungan dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta serta Pemerintah Kabupaten/Kota di
Kawasan Jabodetabek, juga sangat diperlukan.
Pengalaman pada kawasan Jabodetabek seyogyanya menjadi pelajaran yang berharga
(lessons learned) bagi kawasan metropolitan lain di tanah air, seperti Bandung, Medan,
Surabaya, Makassar, dan Denpasar, yang tampaknya dalam beberapa waktu terakhir
mulai bergulat dengan persoalan yang sama, yaitu KEMACETAN.
(Pustra, Kajian Strategis, 120209)
http://www.pu.go.id/isustrategis/view/24
Penyebab Kemacetan di Jakarta
Seringkali kita menyalahkan pengendara sepeda motor sebagai biang kemacetan. Setelah saya telaah
dan perhatikan ternyata pengendara sepeda motor hanyalah penlengkap stress kita saja. Ulah mereka
sering membuat amarah kita meledak, taoi sebenarnya mereka bukan biang macet. Toh amarah kita

menumpuk juga karena tekanan kerja di kantor dan macet yang luar biasa.
Menurut saya penyebab utama kemacetan di Jakarta adalah
1. Tidak adanya pelebaran jalan. Sedangkan jumlah kendaraan bermotor terus bertambah dari tahun ke
tahun. Sebagian pajak kendaraan seharusnya disisihkan untuk biaya pelebaran atau pembuatan jalan
baru.
2. Kemakmuran yang membuat semua orang mampu beli kendaraan, ditunjang pula oleh sistem
perkreditan. Juga kota Jakarta sebagai tujuan migrasi membuat padat kota ini.
3. Putaran Arah (U-Turn). Ini tidak di-design dengan baik. Hampir pada setiap u-turn terjadi
kemacetan. Bagian tata kota khususnya lalu lintas tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Banyak
kasus kendaraan melakukan u-turn sampai 2 atau 3 jalur sedangkan lebar jalan hanya 4 jalur.
4. Perilaku kendaraan umum menaikkan dan menurunkan di sembarang tempat. Sering kali juga
menaikkan atau menurunkan penumpang di tengah2 jalan karena sopirnya malas menepi!
5. Adanya kendaraan dengan ukuran sedang seperti Bajaj! Jika sedang dalam kemacetan, seringkali
Bajaj menyelinap di antara 2 mobil. ni menghambat arus jalan yang sebenarnya bisa digunakan oleh
pengendara sepeda motor. Sopir Bajaj merasa muat kali untuk masuk di celah2 kemacetan dan
akhirnya malah memperparah kemacetan itu sendiri. Bayangkan kemacetan mobil itu adalah tubuh
kita dan celah2 kemacetan itu arus darah tubuh kita. Dan Bajaj itu adalah gumpalan minyaknya yang
menghambat arus darah.
6. Hujan, cukup setengah jam saja bisa membuat Jakarta macet total. Lagi - lagi sistem tata kota yang
kurang apik. Alasan lainnya semua memilih naik mobil sendiri dan pada akhirnya mempersempit jalan
sehingga membuat kemacetan yang panjang.
7. Kesalahan teknis seperti lampu lalu lintas yang mati. Ataupun ada kendaraan yang mogok di tepi
atau tengah jalan.
8. Persimpangan tanpa lampu lalu lintas
9. Rendahnya disiplin kita semua. Baik pemilik mobil, motor, sopir kendaraan umum, penumpang
kendaraan umum, pengguna jalan, pedagang kaki lima. Semua turut mempunyai andil dalam
kemacetan di Jakarta.
Kesimpulannya? Pemerintahlah yang harus bertanggung jawab terhadap masalah kemacetan. Jakarta
tidak boleh dilarang untuk didatangi para pendatang. Lebih baik lagi jika para pendatang dari luar
negeri. Seperti kota New York dan lainnya. Kuncinya adalah tata kota yang baik dan pelebaran jalan.
Kita semua tentu mempunyai hak yang sama untuk memiliki kendaraan bermotor. Jangan dibatasi.
Kenapa tidak jalannya saja yang diperlebar? Atau kerjakan sistem angkutan masal yang baik dan
benar. Busway saja setengah - setengah. Monorail apalagi wacana saja, tanpa tindakan kelanjutan.
Apa perlu kita semua dilarang punya mobil? Dan naik motor saja? Biar jalannya jadi lebar. Kalau
begini bukannya malah pengguna mobil yang membuat macet karena mobil memakan ruang yang
lebih luas dari motor tapi kadang isinya hanya 1 orang saja.
Bagaimana tanggapan teman - teman lainnya? Ada yang mau nambahin?
Sumber:http://www.dakiunta.com/content/peny...akarta#comment

MAKALAH MASALAH KEMACETAN DAN SOLUSI


MENGATASINYA
Posted on 07.34 by Faisal Nurghani

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Lalu lintas adalah sarana untuk bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain, oleh karena itu lalu
lintas merupakan salah satu masalah penting. Apabila arus lalu lintas terganggu atau terjadi
kemacetan, maka mobilitas masyarakat juga akan mengalami gangguan. Gangguan-gangguan ini akan
berdampak negatif pada masyarakat.
Masalah lalu lintas merupakan suatu masalah sulit yang harus dipecahkan bersama dan sangat
penting untuk segera diselesaikan. Apabila masalah lalu lintas tidak terpecahkan, maka semua
kerugian yang timbul akibat masalah ini akan ditanggung oleh masyarakat itu sendiri, dan apabila
masalah ini dapat terpecahkan dengan baik, maka masyarakat sendiri yang akan mendapatkan
manfaatnya.
Sebagai salah satu negara sedang berkembang, Indonesia seperti negara sedang berkembang
lainnya mengalami permasalahan-permasalahan lebih kompleks dibandingkan dengan negara-negara
maju, mulai dari pertumbuhan penduduk yang tinggi, kesenjangan sosial, hingga kurangnya sarana
dan prasarana yang menunjang pembangunan itu sendiri. Kemacetan atau kongesti adalah salah satu
diantaranya.

B. Permasalahan
Kemacetan lalu lintas sangat sulit untuk dihilangkan, paling tidak hanya dapat dikurangi
kepadatannya. Hal ini disebabkan karena kemacetan lalu lintas dipengaruhi oleh banyak faktor yang
saling berkaitan satu sama lainnya. Letak geografis suatu daerah salah satunya.Untuk mengatasi atau
paling tidak mengurangi kemacetan lalu lintas perlu kita ketahui terlebih dahulu hal-hal yang menjadi
penyebab timbulnya kemacetan lalu lintas, apa dampak negatif yang timbul akibatnya dan bagaimana
upaya yang dapat kita lakukan bersama agar dapat mengurangi terjadinya kemacetan lalu lintas
tersebut.
C. Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk mempelajari masalah kemacetan lebih lanjut, mengetahui tentang
sebab-sebab kemacetan di Indonesia dan juga dapat mengetahui dampak yang ditimbulkannya bagi
kehidupan masyarakat, kemudian dicari solusi yang tepat untuk mengatasi masalah kemacetan.

PEMBAHASAN
A. Pengertian Kemacetan
Sebelum membahas tentang pengertian kemacetan lalu lintas, sebaiknya kita pelajari terlebih
dulu pengertian dari lalu lintas itu sendiri. Dalam UU RI Nomor 14 Tahun 1992, ditetapkan pengertian
lalu lintas adalah gerak kendaraan, orang dan hewan di jalan.
Jadi, Kemacetan adalah situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang
disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan. Kemacetan banyak terjadi di
kota-kota besar, terutamanya yang tidak mempunyai transportasi publik yang baik atau memadai
ataupun juga tidak seimbangnya kebutuhan jalan dengan kepadatan penduduk, misalnya Jakarta.
Kemacetan lalu lintas menjadi permasalahan sehari-hari di Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan,
Semarang, Makassar, Palembang, Denpasar, Jogjakarta, dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.
Dinas perhubungan DKI Jakarta mencatat, pertambahan jumlah kendaraan bermotor rata-rata 11
persen per tahun sedangkan pertambahan jalan tak sampai 1 persen per tahunnya.
B. Penyebab Kemacetan Lalu Lintas
Dari beberapa uraian diatas dapat ditarik faktor-faktor penyebab terjadinya kemacetan lalu lintas
antara lain :
1.

Arus kendaraan yang melewati jalan tersebut telah melampaui kapasitas jalan tersebut.

2.

Terjadinya kecelakaan lalu lintas di jalan tersebut sehingga menimbulkan rasa ingin tahu warga
yang menyebabkan warga berkerumun memadati jalan atau kendaraan yang terlibat kecelakaan
yang belum dibersihkan atau disingkirkan dari badan jalan.


3.

Terjadinya banjir yang merendam badan jalan sehingga para pengendara kendaraan
memperlambat laju kendaraannya.

4.

Adanya perbaikan jalan.

5.

Kepanikan untuk mengevakuasi diri ke tempat yang lebih aman akibat peringatan akan
terjadinya bencana alam seperti tsunami, tanah longsor, banjir dan lainnya.

6.

Adanya bagian jalan yang rusak atau longsor.

7.

Ketidak tahuan masyarakat akan aturan lalu lintas.

8.

Parkir kendaraan yang tidak tertata baik atau tidak pada tempatnya.

9.

Pasar tumpah yang secara tidak langsung memakan badan jalan sehingga pada akhirnya
membuat sebuah antrian terhadap sejumlah kendaraan yang akan melewati area tersebut.

10.

Pengaturan lampu lalu lintas yang bersifat kaku yang tidak mengikuti tinggi rendahnya arus lalu
lintas.

Sedangkan, penyebab kemacetan di yang biasa terjadi di Ibu Kota (DKI Jakarta) :
Pertama, ruas jalan jauh di bawah kebutuhan normal yang seharusnya 20 persen dari total luas
kota.Saat ini, lahan jalan Jakarta hanya 6,2 persen saja dari total lahan.
Kedua, moda angkutan umum belum sesuai dengan kebutuhan di kota besar. Menurut Andrinof,
angkutan umum utama di Jakarta harusnya berupa bus dan kereta yang bisa mengangkut penumpang
dalam jumlah besar.
Ketiga yaitu minimnya jembatan penyeberangan orang atau terowongan penyeberangan orang.
Sehingga orang kerap kali menyeberang beramai-ramai saat arus lalu lintas sedang tinggi. Ini tentu
menghambat laju kendaraan.

Keempat, karena kebijakan perumahan perkotaan yang salah. Rumah susun di Jakarta jumlahnya amat
kecil. Akibatnya, orang menyebar ke daerah pinggir. Penyebaran rumah ke pinggir membuat orang
lama dan banyak berada di jalan.
Kelima

karena

banyaknya

persimpangan

jalan

yang

belum

memiliki

bangunan

fly

over maupun underpass.


Keenam, angka urbanisasi dan pertumbuhan penduduk di pinggir Jakarta amat tinggi. Jumlahnya di
atas 4,5 persen per tahun. Sementara, mayoritas dari mereka bekerja di Jakarta.
ketujuh, yaitu karena banyaknya titik bottleneck, seperti di pintu-pintu masuk jalan tol.
Delapan yaitu karena kurangnya angkutan massal seperti bus dan kereta.
Terakhir, yaitu karena buruknya tata ruang dan kesalahan pemberian ijin bangunan seperti mall dan
ruko.
C. Dampak Kemacetan Lalu Lintas
Kemacetan lalu lintas sangatlah tidak disukai oleh semua masyarakat, karena kemacetan dapat
menyebabkan banyak kerugian terhadap para pengguna jalan. Dampak kemacetan lalu lintas antara
lain adalah pemborosan BBM, pemborosan waktu serta menimbulkan polusi udara. Pemborosann
BBM terjadi karena kemacetan menyebabkan kendaraan menjadi terhambat sehingga terjadi
pembakaran yang tidak efektif.
Selain pemborosan BBM, bila terjadi kemacetan tentu kita juga akan rugi waktu. Misalnya jarak
60 km bisa kita tempuh hanya dengan waktu 1 jam, maka bila terjadi kemacetan dengan waktu yang
sama mungkin kita hanya dapat menempuh jarak 10-20 km saja.
Jadi, dampak yang ditimbulkan oleh kemacetan lalu lintas sangat banyak. Selain waktu dan
biaya, kemacetan lalu lintas juga dapat menyebabkan stress dan menimbulkan emosi. Akibatnya
pekerjaan pun menjadi terganggu. Kadang-kadang akibat terburu-buru akan terjadi kecelakaan yang
dapat mengancam nyawa para pengguna jalan.
Kemacetan juga menyebabkan laju kendaraan menjadi lambat dan pembakaran pun menjadi
lama, pembakaran yang lama akan menghasilkan karbondioksida sehingga akan menimbulkan polusi
udara yanng semakin banyak. Karbondioksida mengandung racun yang dapat mengganggu kesehatan
masyarakat sehingga produktivitas menurun. Bila produktivitas menurun maka perekonomian juga
akan terganggu.
Selain itu, kemacetan juga dapat mengganggu kelancaran kendaraan darurat seperti ambulans dan
pemadam kebakaran dalam menjalankan tugasnya. Jadi dampak yang diakibatkan oleh kemacetan lalu
lintas sangat luas, mulai dari bidang kesehatan, ekonomi hingga produktivitas kerja.
Dapat disimpulkan kemacetan lalu lintas dapat menimbulkan dampak-dampak negatif, antara lain :
a.

Kerugian waktu, karena kecepatan yang rendah.

b.

Pemborosan energi.

c.

Keausan kendaraan lebih tinggi, karena waktu yang lebih lama untuk jarak yang
pendek, radiator tidak berfungsi dengan baik dan penggunaan rem yang lebih sering.

d. Meningkatkan polusi udara, karena pada kecepatan rendah konsumsi energi lebih tinggi, dan
mesin tidak beroperasi pada kondisi yang optimal.
e.

Meningkatkan stress pengguna jalan.

f.

Mengganggu kelancaran kendaraan darurat seperti: ambulans, pemadam kebakaran dalam


menjalankan tugasnya.

D. Solusi Permasalahan Kemacetan


Guna mengatasi kemacetan dan kesemrawutan lalu lintas kendaraan bermotor perlu ditempuh
berbagai upaya (program aksi), utamanya:
1.

Menerapkan manajemen lalu lintas (traffic management) yang tepat dan efektif.
Manajemen lalu lintas bertujuan untuk keselamatan, keamanan, ketertiban dan kelancaran lalu
lintas. Manajemen lalu lintas meliputi:
a.

Kegiatan perencanaan lalu lintas


Kegiatan perencanaan lalu lintas meliputi inventarisasi dan evaluasi tingkat pelayanan.
Maksud inventarisasi antara lain untuk mengetahui tingkat pelayanan pada setiap ruas jalan
dan persimpangan. Maksud tingkat pelayanan dalam ketentuan ini adalah merupakan
kemampuan ruas jalan dan persimpangan untuk menampung lalu lintas dengan tetap
memperhatikan faktor kecepatan dan keselamatan.

b.

Kegiatan pengaturan lalu lintas


Kegiatan pengaturan lalu lintas meliputi: penataan sirkulasi lalu lintas, penentuan kecepatan
minimum dan maximum, larangan atau perintah penggunaan jalan bagi pemakai jalan.

2.

Menyediakan dan mengoperasikan angkutan massal/umum perkotaan yang berkapasitas


mencukupi dan dikelola secara profesional.

3.

Membangun ketersediaan prasarana perkotaan yang berkapasitas yang mampu melayani lalu
lintas secara lancar.

4.

Menerapkan strategi kebijakan transportasi perkotaan yang komprehensif, akomodatif dan


berwawasan masa depan.

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk memecahkan permasalahan kemacetan lalu lintas
yang harus dirumuskan dalam suatu rencana yang komprehensif yang biasanya meliputi langkahlangkah sebagai berikut :
1.

Peningkatan kapasitas jalan

Salah

satu

langkah

yang

penting

dalam

memecahkan

kemacetan

adalah

dengan

meningkatkan kapasitas jalan/parasarana seperti :


a.

Memperlebar jalan, menambah lajur lalu lintas sepanjang hal itu memungkinkan.

b.

Merubah sirkulasi lalu lintas menjadi jalan satu arah.

c.

Mengurangi konflik dipersimpangan melalui pembatasan arus tertentu, biasanya yang paling
dominan membatasi arus belok kanan.

d.

Meningkatkan kapasitas persimpangan melalui lampu lalu lintas, persimpangan tidak


sebidang/flyover.

e.
2.

Mengembangkan inteligent transport sistem.

Keberpihakan kepada angkutan umum


Untuk meningkatkan daya dukung jaringan jalan dengan adalah mengoptimalkan kepada angkutan
yang efisien dalam penggunaan ruang jalan antara lain :
a.

Pengembangan jaringan pelayanan angkutan umum.

b.

Pengembangan lajur atau jalur khusus bus ataupun jalan khusus bus yang di Jakarta dikenal
sebagai Busway.

c.

Pengembangan kereta api kota, yang dikenal sebagai Metro di Perancis, Subway
di Amerika, MRT di Singapura.

d. Subsidi langsung seperti yang diterapkan pada angkutan kota di Transjakarta, Batam ataupun
Jogjakarta maupun tidak langsung melalui keringanan pajak kendaraan bermotor, bea masuk
kepada angkutan umum.
3.

Pembatasan kendaraan pribadi


Langkah

ini

biasanya

tidak

populer

tetapi

bila

kemacetan

semakin

parah

harus

dilakukan manajemen lalu lintas yang lebih ekstrem sebagai berikut:


a.

Pembatasan penggunaan kendaraan pribadi menuju suatu kawasan tertentu seperti yang
direncanakan akan diterapkan di Jakarta melalui Electronic Road Pricing (ERP). ERP berhasil
dengan sangat sukses di Singapura, London, Stokholm. Bentuk lain dengan penerapan
kebijakan parkir yang dapat dilakukan dengan penerapan tarip parkir yang tinggi di kawasan
yang akan dibatasi lalu lintasnya, ataupun pembatasan penyediaan ruang parkir dikawasan yang
akan dibatasi lalu lintasnya,

b.

Pembatasan pemilikan kendaraan pribadi melalui peningkatan biaya pemilikan kendaraan,


pajak bahan bakar, pajak kendaraan bermotor, bea masuk yang tinggi.

c.

Pembatasan lalu lintas tertentu memasuki kawasan atau jalan tertentu, seperti diterapkan di
Jakarta yang dikenal sebagai kawasan 3 in 1 atau contoh lain pembatasan sepeda
motormasuk jalan tol, pembatasan mobil pribadi masuk jalur busway.

Ada juga solusi dari dengan melibatkan peran pemerintah dan masyarakat, yaitu :
1.

Peran Pemerintah
Urbanisasi dan angka kelahiran yang tinggi menyebabkan pertumbuhan penduduk menjadi tidak

terkendali. Berarti pemerintah harus membatasi laju urbanisasi dan menekan angka kelahiran dengan
cara menjalankan program keluarga berencana.
Bila pemerintah berhasil menangani laju urbanisasi dan angka kelahiran, maka jumlah pengguna
jalan juga akan terkendali. Untuk mencegah semakin parahnya keadaan lalu lintas, pemerintah perlu
megupayakan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan memaksimalkan kendaraan umum,
selain membangun ruas jalan baru, pemerintah juga harus menetapkan batas kecepatan suatu
kendaraan untuk meminimalisasi terjadinya kecelakaan lalu lintas yang dapat menyebabkan
kemacetan.
Disamping itu, pemerintah juga sebaiknya memperbaiki jalan yang rusak, memperlebar jalan,
menambah jembatan peyeberangan dan memperbaiki jembatan penyeberangan yang rusak. Setelah
semua itu terlaksana, pemerintah tetap tidak boleh langsung bersenang-senang, karena mereka juga
masih harus memperbaiki rambu-rambu lalu lintas, memperbaiki lampu lalu lintas serta sebisa
mungkin menjadikan halte agar dapat menjadi lebih aman dan nyaman.
Busway dibuat lebih efektif dengan menambahkan jumlah armada, sehingga penumpang tidak
menunggu lama dan waktu tempuh menjadi lebih cepat atau lebih singkat. Selain itu pemerintah harus
pula mengoptimalkan kereta api yang telah ada, meningkatkan pelayanan dan kenyamanannya baik di
stasiun maupun di dalam kereta api itu sendiri, sehingga banyak penggua jalan yang mau berpindah
dari kendaraan pribadi ke kereta api.
Peraturan ditegakkan sehingga penduduk menjadi lebih disiplin. Apabila ada kendaraan yang
bersalah segera ditilang sesuai dengan aturan yang berlaku. Misalnya angkutan umum yang berhenti
bukan di halte, kendaraan yang menerobos lampu merah, motor yang berada di jalur kanan serta
pejalan kaki yang tidak disiplin juga harus didenda agar mereka merasa jera dengan apa yang telah
mereka lakukan. Selain semua itu, pemerintah juga harus mengajak para pengguna jalan agar beralih
dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum.
2.

Peran Masyarakat

Masyarakat sebagai pengguna jalan juga dapat membantu pemerintah dalam menangani
kemacetan lalu lintas seperti dengan beralih ke angkutan umum yang tersedia dan lebih tertib berlalu
lintas agar para pengguna kendaraan pribadi seharusnya mengikuti aturan agar tidak mengganggu
pengguna jalan yang lain. Pejalan kaki harus mau membiasakan diri berjalan di trotoar dan
menyeberang di jembatan penyeberangan. Apabila ingin menggunakan angkutan umum, maka kita
harus menghentikan angkutan tersebut di halte yang telah di sediakan, begitu pula bila ketika hendak
turun.
Untuk para supir hendaknya mempunyai kesadaran yang tinggi untuk mematuhi rambu-rambu
lalu lintas. Supir angkutan umum tidak berhenti di sembarang tempat. Pada saat berhenti kendaraan
dipinggirkan agar tidak mengganggu kendaraan lain dan jangan menjadikan perempatan atau
pertigaan sebagai terminal. Pedagang kaki lima sebaiknya tidak berdagang di trotoar karena trotoar
merupakan haknya pejalan kaki, begitu juga pejalan kaki untuk tidak membeli barang-barang di
troatoar.
Apabila menggunakan kendaraan pribadi sebaiknya gunakan kendaraan yang kecil dan jangan
mencoba untuk menerobos lampu merah jika terjadi kemacetan lalu lintas dan jangan menggunakan
kendaraan pribadi untuk keperluan yang tidak penting. Bagi para pengguna sepeda motor gunakanlah
selalu jalur kiri dan dengan kecepatan yang tidak tinggi.

PENUTUP
A. Kesimpulan
Lalu lintas sudah sedemikian macetnya. Dari tahun ke tahun kemacetan ini diperkirakan akan
terus bertambah sebab pertambahan kendaraan bermotor 11 persen pertahun sedangkan pertambahan
jalan hanya 1 persen pertahun. Dari perbandingan ini kita dapat membayangkan mengapa kemacetan
lalu lintas itu sangat sulit untuk diatasi.
Untuk mengatasi kemacetan yang semakin bertambah bahkan untuk mengatasi terjadinya
kemacetan total, maka seluruh masyarakat dan juga pemerintah harus segera memikirkan jalan
keluarnya dari sekarang. Pemerintah harus bisa mengendalikan laju urbanisasi dan juga harus dapat
menekan angka kelahiran secara serius. Pemerintah segera membangun jalan satu arah, serta
meningkatkan keamanan dan kenyamanan kereta api, busway dan angkutan umum lainnya mulai dari
sekarang. Selain itu, pemerintah juga sebaiknya memperbaiki penegakan hukum tentang tata tertib
berlalu lintas.
Masyarakat juga dapat membantu pemerintah dalam mengurangi kemacetan, misalnya dengan
selalu tertib berlalu lintas, meningkatkan kesadaran hukum tentang lalu lintas serta juga dapat
dilakukan dengan cara mematuhi semua peraturan lalu lintas. Bila semua itu dapat dilakukan dengan
baik, mungkin kemacetan lalu lintas akan sedikit berkurang. Kedisiplinan berlalu lintas para pengguna
jalan memang masih sangat rendah. Hal ini merupakan salah satu masalah penyebab terjadinya
kemacetan lalu lintas. Dan itu sangat merugikan masyarakat karena kemacetan dapat menyebabkan
pemborosan BBM, pemborosan waktu serta dapat menimbulkan polusi udara.
B. Saran
1.

Pemerintah sebaiknya meningkatkan pelayanan angkutan umum, agar masyarakat tertarik untuk
berpindah dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum.

2.

Melakukan pembatasan usia kendaraan karena jika kendaraan tersebut sudah terlalu tua, maka
kendaraan tersebut menjadi tidak fungsional lagi.

3.

Penegakan hukum yang tegas terhadap pengguna jalan, pejalan kaki dan pedagang kaki lima yang
melanggar aturan.

4.

Aturan yang tegas dan ketat terhadap arus urbanisasi dengan cara yang lebih optimal, dan
hukuman dipertegas apabila ada yang melanggar.

5.

Pemerintah juga sebaiknya memasukkan pendidikan berlalu lintas dalam lingkup sekolah dasar
dan sekolah menengah.

DAFTAR PUSTAKA
Adisasmita, R & Adisasmita, S.A. 2011. Manajemen Transportasi Darat : Mengatasi Kemacetan Lalu
Lintas di Kota Besar (Jakarta). Jakarta:Graha Ilmu.
Khisty, Jotin C dan B. Kent Lall. 2003. Transportation Engineering : An Introduction, 3rd Edition.
Pearson Education. Prentice Hall.
Morlok,

Edward

K.

1978.

Introduction

to

Transportation

Engineering

and

Planning. Mc Graw-Hill.Inc. Pennsylvania.

1.1

Latar Belakang

Di masa saat ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sudah semakin maju.
Diantaranya adalah perkembangan dunia transportasi di perkotaaan. Namun seiring dengan
kemajuannya ternyata muncul berbagai masalah yang mungkin tak terduga sebelumnya.
Masalah yang marak terjadi saat ini adalah masalah kemacetan lalu lintas yang telah
meresahkan bagi para penggunan jalan raya.
Masalah kemacetan transportasi lalu lintas memang sering kali terjadi di daerah-daerah
perkotaan yang ada di Indonesia. Hal itu terjadi karena konsentrasi kendaraan banyak
menumpuk diarea perkotaan. Sehingga tidak heran bila area perkotaan sering terjadi
kemacetan karena kepadatan lalu lintas. Saat ini kemacetan lalu lintas di perkotaan sudah
semakin parah. Seiring dengan berjalannya waktu kondisi kemacetan yang terjadi di daerah
perkotaan tidak semakin membaik, namun semakin memburuk. Hal itu terjadi karena jumlah
kendaraan selalu bertambah dan tidak diimbangi dengan perluasan area jalan raya. Apalagi di
daerah perkotaan banyak ditemui pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya di
pinggir-pinggir jalan yang tentu itu akan menambah volume kemacetan jalan raya. Karena
dengan mereka berjualan dipinggir jalan raya tersebut, maka akan banyak pengendara
kendaraan berhenti untuk membeli barang ke pedagang kaki lima. Sehingga hal itu akan
mengganggu kelancaran lalu lintas. Selain itu adanya pedang kaki lima yang berjualan
dipinggir jalan juga dapat mengganggu para pejalan kaki.
Ada banyak kerugian yang akan ditimbulkan bila terjadi kemacetan di jalan raya. Salah
satunya adalah bahan bakar yang harus terbuang sia-sia di jalan raya. Kendaraan yang
berjalan pelan akan menghabiskan banyak bahan bakar sia-sia. Selain dengan adanya
kerugian bahan bakar yang terbuang sia-sia juga akan ada kerugian waktu. Waktu yang
terbuang sia-sia di jalan raya akan menurunkan tingkat produktifitas manusia, dan dampaknya
akan mengganggu aktivitas ekonomi yang ada dalam suatu negara.

1.2 Rumusan Masalah


Kemacetan lalu lintas merupakan masalah serius yang harus segera diatasi. Masalah yang
akan dikaji dalam makalah ini adalah:
1.
2.
3.

Apa yang menjadi penyebab terjadinya kemacetan tranportasi lalu lintas di


perkotaan?

Apa dampak negatif dari kemacetan lalu lintas ?


Bagaimana mengatasi masalah kemacetan tranportasi lalu lintas di perkotaan?

1.3 Tujuan dan Manfaat


1.3.1

Tujuan

Makalah ini bertujuan untuk mengetahui sebab-sebab terjadinya kemacetan transportasi


lalu lintas di perkotaan dan bagaimana cara mengatasinya.
1.3.2

Manfaaat

Manfaat dari makalah ini adalah dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang
masalah kemacetan lalu lintas transportasi yang terjadi di daerah perkotaan. Makalah ini juga
bermanfaat untuk menambah wawasan pengetahuan mengenai sebab dan cara mengatasi
kemacetan lalu lintas yang ada di daerah perkotaan.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Kemacetan
Pengertian mengenai kemacetan yang telah dikutip dari dalam
http://id.wikipedia.org/wiki/Transportasi dikatakan bahwa Kemacetan merupakan situasi
atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh
banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan. Kemacetan banyak terjadi di kota-kota
besar, terutamanya yang tidak mempunyai transportasi umum yang baik atau memadai

ataupun juga tidak seimbangnya kebutuhan jalan dengan kepadatan penduduk. Dapat
dikatakan bila kemacetan merupakan suasana menumpuknya kendaraan yang ada di jalan
raya yang disebabkan oleh kapasitas jalan yang tidak sepadan dengan jumlah kendaraan yang
ada. Angka dari jumlah kendaraan yang terus bertambah dan kapasitas jalan yang tetap
menyebabkan terjadinya penumpukan julah kendaraan di dalam jala raya.
2.2 Pengertian lalu lintas
Pengertian mengenai lalu lintas seperti yang diungkapakan dalam dalam
http://id.wikipedia.org/wiki/Lalu_lintas, dikatakan bahwa pengertian lalu lintas di dalam
Undang-undang No 22 tahun 2009 didefinisikan sebagai gerak kendaraan dan orang di ruang
lalu lintas jalan, sedang yang dimaksud dengan ruang lalu lintas jalan adalah prasarana yang
diperuntukkan bagi gerak pindah kendaraan, orang, dan atau barang yang berupa Jalan dan
fasilitas pendukung. Dalam hal ini, kaitan antara kendaraan dan orang dengan ruang lalu
lintas jalan merupakan entitas yang keberadaannya selalu berdampingan. Dalam hal ini
pemerintah memiliki tujuan untuk mewujudkan lalu lintas dan angkutan jalan yang selamat,
aman, cepat, lancar, tertib dan teratur, nyaman dan efisien melalui manajemen lalu
lintas dan rekayasa lalu lintas. Tata cara berlalu lintas di jalan diatur dengan peraturan
perundangan menyangkut arah lalu lintas, perioritas menggunakan jalan, lajur lalu lintas, jalur
lalu lintas dan pengendalian arus di persimpangan. Dalam kaitannya dengan hal ini
sebenarnya peran pemerintah dalam mengatur lalu lintas sudah optimal. Akan tetapi karena
para pengguna jalan yang semakin bertambah seiring dengan berjalannya waktu, sudah tentu
menjadi kewajiban bagi pemerintah untuk terus memberikan kontribusinya dalam
menyediakan suasana lalu lintas yang baik.
2.3 Pengertian Transportasi
Transportasi adalah pemindahan manusia atau barang dari satu tempat ke tempat lainnya
dengan menggunakan sebuah kendaraan yang digerakkan oleh manusia ataumesin.
Transportasi digunakan untuk memudahkan manusia dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Di negara maju, mereka biasanya menggunakan kereta bawah tanah dan taksi. Penduduk
disana jarang yang mempunyai kendaraan pribadi karena mereka sebagian besar
menggunakan angkutan umum sebagai transportasi mereka. Transportasi sendiri dibagi 3
yaitu, transportasi darat, laut, dan udara.
2.4 Pengertian Perkotaan
Menurut Cristaller perkotaan merupakan wilayah yang memiliki fungsi
menyelenggarakan penyediaan jasa-jasa bagi daerah lingkungannya. Kota tidak diartikan
sebagai pusat pelayanan. Dalam pandangan ini, dapat dikatakan bila perkotaan merupakan
daerah penyedia jasa bagi daerah-daerah yang ada disekitarnya. Jika ini ditarik kearah
permasalahan tentang kemacetan lalu lintas yang ada. Bisa dikatakan kepadatan daerah
perkotaan terjadi karena kota menyediakan penyelenggaraan jasa-jasa bagi daerah-daerah
yang ada disekitarnya. Kemacetan yang terjadi di wilayah perkotaan merupakan akibat dari
menumpuknya kendaraan dari daerah sekitar perkotaan yang mengadakan aktivitas di wilayah
perkotaan.

BAB 3
PEMBAHASAN
Dalam bagian pembahasan ini akan dibahas mengenai sebab-sebab terjadinya
kemacetan transportasi lalu lintas yang ada diwilayah perkotaan. Wilayah perkotaan sering
kali terjadi kemacetan lalu lintas, sehingga perlu diketahui penyebabnya mengapa hal itu bisa
terjadi. Selain itu, menyelidiki tentang bagaimana cara untuk mengatasi kemacetan
transportasi lalu lintas juga perlu dilakukan untuk menemukan solusi atas kemacetan
transportasi lalu lintas yang terjadi di wilayah perkotaan.
3.1 Masalah Kemacetan Lalu Lintas
Masalah kemacetan lalu lintas memang sudah menjadi masalah yang sering terjadi di
wilayah perkotaan. Bahkan ini sudah menjadi problem yang serius diwilayah perkotaan.
Karena kemacetan selalu memberikan kerugian yang cukup signifikan bagi negara. Masalah
kemacetan lalu lintas selalu menyulitkan pemerintah dalam melakukan penanganan. Segala
kebijakan pemerintah telah dilakukan namun pada kenyataanya kemacetan belum bisa
ditanggulangi. Hal ini dikarenakan kesadaran bagi para pengendara kendaraan yang masih
belum sadar dalam menggunakan jalan sebagai sarana transportasi. Selain itu, penyediaan
transportasi umum yang seharusnya menjadi transportasi yang dapat mengurangi jumlah
kemacetan lalu lintas transportasi di jalan raya juga sangat diperlukan. Namun lagi-lagi
karena sarana transportasi umum yang masih jauh dari memadai membuat para pengguna
kendaraan lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi. Tentu ini jelas akan membuat jalan
akan lebih macet lagi.
3.2 Sebab-Sebab Terjadinya Kemacetan Lalu Lintas
Kemacetan transportasi lalu lintas merupakan suatu masalah yang sering terjadi di
wilayah perkotaan. Banyak faktor yang menjadi penyebab mengapa kemacetan transportasi
lalu lintas itu bisa terjadi. Faktor-faktor yang menjadi penyebab kemacetan lalu lintas itu
antara lain:
1.

Adanya jumlah kendaraan yang melebihi kapasitas jalan. Hal ini sering kali menjadi
masalah yang ada di wilayah perkotaan. Kemacetan lalu lintas terjadi karena di kota
sebagai pusat kegiatan ekonomi masyarakat. Sehingga tidak heran bila kapasitas jalan
yang ada di kota tidak bisa menampung semua kendaraan yang ada. Sehingga kemacetan
pun tak bisa dihindari.
2.
Adanya pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya di pinggir jalan raya. Salah
satu faktor yang menjadi penyebab dari kemacetan transporasi lalu lintas adalah adanya
pedagang kaki lima yang berjualan dipinggri jalan raya. Biasanya mereka mengambil
trotoar sebagai tempat untuk berjualan. Selain sudah menyebabkan kemacetan lalu lintas,
pedagang kaki lima ini juga telah mengambil hak pejalan kaki. Sehingga pejalan kaki
tidak lagi bisa melewati trotoar, melainkan berjalan melewati jalan raya. Hal itu tentu
membahayakan keselamatan para pejalan kaki . Mengapa dengan adanya pedagang kaki
lima bisa menyebabkan terjadinya kemacetan lalu lintas. Hal itu bisa terjadi karena
banyak dari pengguna jalan raya yang berhenti dipinggir jalan untuk membeli barang
kepada pedagang kaki lima. Selain itu pengguna jalan yang membeli barang di pedagang
kaki lima biasanya memakirkan kendaraannya di pinggir jalan raya sehingga itu bisa
menyebabkan kemacetan lalu lintas.

3.

Terjadinya kecelakaan lalu lintas. Terjadinya kecelakaan lalu lintas juga dapat
menyebabkan terjadinya kemacetan transportasi lalu lintas. Karena ketika ada kecelakaan
biasanya akan banyak para pengguna jalan yang memelankan laju kendaraanya sehingga
itu akan memicu terjadinya kemacetan lalu lintas.
4.
Adanya kendaraan yang diparkir sembarangan di pinggir jalan. Hal ini sudah tentu
seringkali menyebabkan terjadinya kemacetan lalu lintas. Di wilayah perkotaan biasnya
seringkali ditemui kendaraan yang diparkir secara sembarangan. Hal tersebut bisa terjadi
karena minimnya tempat untuk parkir bagi kendaraan yang ada di wilayah perkotaan.
Kendaraan yang diparkir di pinggir jalan sudah tentu akan memakan sebagian dari badan
jalan yang mana itu akan memicu terjadi kemacetan transportasi lalu lintas.
5.
Beralihnya masyarakat dari menggunakan transportasi umum ke transportasi pribadi.
Adanya peralihan masyarakat dari menggunakan transportasi umum ke transportasi
pribadi telah memberikan permasalahan baru bagi dunia lalu lintas. Mengapa hal itu
terjadi, ada banyak faktor yang menyebabkan masyarakat lebih memilih menggunakan
trasportasi pribadi. Diantaranya adalah karena menggunakan kendaraan pribadi dirasa
lebih cepat dan murah. Kendaraan pribadi juga lebih mudah untuk menjangkau daerah
tujuan. Namun demikian, ketika semua orang berusaha untuk beralih menggunakan
transportasi pribadi. Tidak salah jika jalan-jalan yang ada saat ini menjadi padat dipenuhi
oleh kendaraan-kendaraan pribadi.
Banyak faktor lain selain kelima faktor (komponen) di atas yang dapat menyebabkan
kemacetan lalu lintas, misalnya: penerapan yang keliru terhadap kebijakan dan undangundang lalu lintas angkutan jalan, keberadaan mall (pintu mall) di tepi jalan raya sehingga
keluar masuk kendaraan, orang dan angkutan umum yang ngetem akanmengganggu
kelancaran lalulintas, kurangnya jumlah petugas pengatur lalu lintas, demonstrasi, kerusuhan,
dan cuaca (hujan deras dan banjir).

3.3 Dampak Negatif Kemacetan lalu lintas di Perkotaan


Salah satu masalah yang ada di perkotaan yaitu masalah kemacetan lalu lintas. Masalah
kemacetan lalu lintas diperkotaan telah banyak memberikan kerugian bagi berjalannya roda
ekonomi suatu negara. Tak jarang masalah-masalah kemacetan ini selalu menjadi masalah
yang menyulitkan pemerintah dalam suatu negara untuk membuat kebijakan mengenai lalu
lintas.
Ada beberapa macam dampak atau akibat yang ditimbulkan dari kemacetan transportasi lalu
lintas, diantaranya yaitu :
1.

Pemborosan bahan bakar kendaraan. Hal demikian dapat terjadi karena kendaraan yang
berjalan pelan akan menyita banyak waktu dan energi.
2.
Jalanan yang macet juga mudah menimbulkan polusi udara, karena pada kecepatan
rendah konsumsi energi lebih tinggi, dan mesin tidak beroperasi pada kondisi yang
optimal.
3.
Akan mengganggu aktivitas ekonomi, misalnya aktivitas pengiriman barang.
4.
Menggangu kendaraa Darurat. Seperti : Ambulance dan Pemadam Kebakaran pada saat
waktu yang genting.

Masih ada banyak kerugian yang ditimbulkan dengan adanya kemacetan transportasi lalu
lintas ini. Bahkan, ekonomi suatu negara bisa menjadi lumpuh gara-gara masalah kemacetan
lalu lintas ini.

3.4 Upaya Menanggulangi Kemacetan Transportasi Lalu Lintas


Sebenarnya ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk menanggulangi masalah
kemacetan lalu lintas. Diantaranya adalah pengambilan kebijakan yang dilakukan oleh
pemerintah. Namun kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah sering kali diabaian
oleh para penggunan jalan raya. Segala upaya yang dilakukan sebenarnya untuk mengurangi
volume kendaraan yang ada dijalan raya. Namun apa daya karena jumlah kendaraan yang tiap
hari tidak semakin berkurang membuat masalah kemacetan lalu lintas semakin sulit untuk
diatasi.
Berikut beberapa solusi yang dapat digunakan untuk menanggulangi masalah kemacetan lalu
lintas:
1.
2.
3.

4.
5.

Penyediaan sarana transortasi umum yang layak. Hal ini dilakukan untuk menarik para
penggunan jalan raya agar beralih dari kendaraan pribadi kekendaraan umum.
Penggunaan jalur satu arah. Penggunaan jalur satu arah pada jalan raya ini sangatlah
diperlukan untuk menanggulangi masalah kemacetan lalu lintas. Karena jika jalan
dijadikan satu arah memungkinkan kendaraan dapat berjalan lebih rapi.
Pembatasan pemilikan kendaraan pribadi. Hal ini menjadi perlu dilakukan karena
penyebab kemacetan adalah adanya banyak kendaraan pribadi yang menumpuk di
jalanan. Hal ini dikarenakan mudahnya orang memperoleh kendaraan pribadi. Jika
pemilikan kendaraan pribadi ini dapat dilakukan, maka ini akan dapat menekan angka
kemacetan transportasi lalu lintas di jalan raya.
Larangan tegas bagi pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan dan parkir liar
yang sering kali menghambat laju kendaraan.
Memperbanyak armada kendaraan masal yang memadai. Misalnya saja busway seperti
yang ada di Jakarta. Atau mungkin juga kereta bawah tanah. Hal ini perlu dilakukan agar
pengguna jalan raya mau menggunakan sarana transportasi umum.

6. dengan meningkatkan kapasitas jalan, misalnya: memperlebar


jalan, menambah lajur lalu lintas jika memungkinkan, mengurangi
konflik di persimpangan dengan membatasi arus belok kanan.
7. Pembatasan kendaraan pribadi, Kebijakan ini memang tidak
populer, namun jika kemacetan semakin parah maka harus
dilakukan manajemen lalu lintas yang lebih ekstrim sebagai
berikut:
Pembatasan penggunaan kendaraan pribadi menuju suatu
kawasan tertentu yang akan dibatasi lalu lintasnya,
bentuk lainnya adalah dengan penerapan tarif parkir
yang tinggi di kawasan tersebut, sistem ini berhasil
di Singapura, London dan Stokholm.
Pembatasan pemilikan kendaraan pribadi melalui
peningkatan biaya kepemilikan, pajak bahan bakar,
pajak kendaraan bermotor, bea masuk yang tinggi.
Pembatasan lalu lintas tertentu memasuki kawasan atau
jalan tertentu dengan menerapkan kawasan 3 in 1, atau

bentuk lain pembatasan sepeda motot masuk tol, dan


pembatasan mobil pribadi masuk jalur busway.
8. Menerapkan jam kerja berbeda, walaupun cara ini terkesan hanya
memindahkan jam macet tetapi solusi ini bisa memberikan
kontribusi untuk mengurangi kemacetan lalu lintas.
Berikut bukti-bukti upaya yang dilakukan pemerintah untuk menanggulangi kemacetan yang berhasil
saya dapatkan :
SOLO- Kemacetan lalu lintas di kawasan Purwosari dan Kerten selama setahun akan segera terurai
seiring sinyal underpass di Makamhaji akan dioperasikan bulan ini. Kabid Lalu Lintas Dinas
Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Surakarta, Sri Baskoro mengungkapkan,
pihaknya akan memastikan pada Pemkab Sukoharjo. Pasalnya informasi yang baru didapatkannya,
jika proyek underpass sejak 2012 itu akan segera selesai dan dioperasikan.
Untuk itu, dengan selesainya proyek tersebut, maka berdampak positif dengan lalu lintas di Solo
yang selama ini mendapat limpahan pengendara. Kemacetansegeraterurai, katanya,Rabu(10/4).
Dikatakan dia, sejak dibangunnya underpass di Makamhaji, dua daerah di Solo yang terkena dampak
kemacetan yakni di Purwosari (Jalan Agus Salim, Samratulangi) dan Kerten (Jalan Slamet Riyadi).
Bahkan saat pagi hari dan sore menjelang malam, kemacetan bisa mencapai 1 km. Meski hal itu hanya
berlangsung setengah jam.
Karena itu membuat barikade di Purwosari dan Kerten. Di Kerten sudah kami bongkar. Di Purwosari
akan bongkar setelah underpass bisa dilewati, jelas dia. Menurut Baskoro, selama setahun terjadi
pengalihan arus di jalan itu yakni Agus Salim, Samratulangi dan Jalan Slamet Riyadi, kenaikan
volume kendaraan sekitar 2.500 per jam atau meningkat 50 persen.
SOLO - Mengantisipasi lalu lintas yang semakin padat, Dinas Perhubungan, Komunikasi dan
Informatika (Dishubkominfo) Kota Surakarta memasang alat pendeteksi kepadatan lalu lintas di
sejumlah titik rawan macet. Sistem kerja alat tersebut merespons secara penuh (full responsif)
kepadatan lalu lintas, untuk kemudian mengatur durasi nyala traffic lightmenyesuaikan kepadatan
yang terjadi.
Alat tersebut sudah diuji coba lebih dari sebulan terakhir, di 11 titik. Di antaranya di simpang
Panggung, Gendengan, Pajang, Faroka, Kerten, Fajar Indah dan Jalan Jenderal Sudirman. Kepala
Dishubkominfo Yosca Herman Soedrajad menjelaskan, dengan dipasangnya alat full responsif
tersebut, maka countdown timer atau alat hitung mundur durasi nyala traffic lightdicopot.
"Penerapan alat ini bagian dari peningkatan traffic management, untuk mengurai kemacetan dan
meminimalisir kecelakaan," kata Yosca. Menurutnya, pertumbuhan jumlah kendaraan semakin
tinggi. Imbasnya, lalu lintas semakin padat. Antrean panjang kendaraan selalu terjadi di
persimpangan, saat traffic light menyala merah.
"Dengan alat ini, durasi traffic light bisa menyesuaikan kondisi di lapangan. Nyala lampu merah,
kuning atau hijau diatur tergantung banyaknya kendaraan yang antre. Jika antrean terlalu panjang,
maka nyala lampu merah bisa dipercepat. Kalau countdown timer, durasinya kan diprogram,"
jelasnya.

Sistem itu bisa berjalan, karena ada detektor yang dipasang di persimpangan untuk mengetahui
seberapa panjang antrean kendaraan di persimpangan. "Ada kamera yang bisa berputar 360 derajat,
untuk mendeteksi antrean kendaraan," ungkapnya.
Yosca mengatakan, sistem tersebut sudah diterapkan di berbagai negara maju untuk mengurai
kemacetan lalu lintas. Untuk Indonesia, Solo adalah kota pertama yang menerapkan sistem tersebut.
UNGARAN - Kasatlantas Polres Semarang, AKP Gusman Fitra, mengatakan untuk mengurai
kemacetan di Jalur Bawen-Semarang, pihaknya memberlakukan dua sistem secara kondisional. Yakni
sistem buka-tutup serta sistem tiga-satu atau tiga lajur untuk pengendara dan satu lajur untuk proyek
pembetonan.
Jalur utama penghubung Semarang-Solo ini rawan macet untuk beberapa bulan ke depan, sebab
proyek peninggian jalan masih berlangsung. Saat ini sebagian jalur tinggal satu lajur ke arah Bawen,
karena mulai dibeton kembali. Polisi juga membuka dua posko lalu lintas tambahan di sepanjang jalan
yang dibeton. Yakni di sekitar pintu masuk TPA Blondo dan sekitar Apac Inti.
"Tim di posko tersebut memantau kondisi lalu lintas dan mengatur sistem yang dijalankan. Kalau
sistem sudah jalan, ada tim yang mendatangi kendaraan untuk mempercepat laju," katanya, Selasa
(9/4).
Kemacetan terpantau mulai dari depan masjid komplek Apac Inti, sebab proyek pembetonan
dimulai di sekitar lokasi. Kemudian di tanjakan sekitar pintu masuk TPA Blondo, pertigaan Gembol
yang menjadi jalur alternatif Ambarawa-Bawen dan di Simpang Bawen yang mempertemukan arus
dari Semarang dan Solo.
Dari pantauan hari ini, arus lalu lintas padat di dua arah, sejumlah truk mogok di tengah jalan,
sehingga menambah kepadatan. Ketua Relawan Lalu Lintas Bawen, Yakub Puji, mengatakan
kendaraan dari arah Semarang tidak boleh berbelok langsung ke arah Ambarawa, tetapi harus memutar
ke titik belokan berikutnya. Kepadatan di Simpang Bawen terjadi pada pagi dan sore. "Kalau
kendaraan dari Semarang langsung belok, akan tambah macet, jadi maju sedikit terus memutar,"
katanya. Kemacetan ini merupakan dampak dari pengerjaan jalan nasional berupa peninggian
sepanjang 22,5 kilometer dari Bawen hingga Semarang.

BAB 4
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Kemacetan trasportasi lalu lintas merupakan masalah yang semakin lama semakin
kompleks di wilayah perkotaan. Masalah tersebut terjadi karena jumlah kendaraan yang
beredar di jalan raya semakin bertambah setiap tahunnya, dalam hal ini jumlah kendaraan
yang bertambah tidak diimbangi dengan kapasitas badan jalan yang bisa menampung seluruh

kendaraan yang ada. Banyak cara yang telah dilakukan oleh pemerintah untuk menanggulangi
masalah kemacetan lalu lintas ini. Diantanya adalah dengan mengeluarkan kebijakan
pembatasan kendaraan pribadi. Namun hal ini tidak juga mampu mengatasi masalah
kemacetan lalu lintas.

Melihat kemacetan yang semakin parah dari tahun ke tahun,hal


ini merupakan masalah serius yang harus di atasi semua masyarakat,
dan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Dengan pajak
yang di peroleh dari kendaraan bermotor, seharusnya perkembangan
jalan sesuai dengan pertumbuhan kendaraan. Separti pelebaran
jalan, perbaikan jalan, memperbaiki rambu-rambu lalu lintas dan
memperbaiki traffic light yang rusak. Tempat halte juga seharusnya
di buat aman dan nyaman agar masyarakat menunggu angkutan umum
tepat pada tempatnya.
Masalah kemacetan ini harus menjadi kesadaran bagi seluruh
elemen masyarakat bahwa jika hal ini terus dibiarkan, maka
berbagai kerugian yang diakibatkan akan menjadi masalah-masalah
baru bagi masyarakat di kemudian hari. Oleh karena itu, untuk
dapat menanggulangi masalah kemacetan ini, maka semua pihak yang
ada di masyarakat, mulai dari pengguna transportasi, pihak
penyedia, serta pihak pemerintah harus bahu-membahu menyelesaikan
masalah ini dengan kesadaran penuh. Tidak cukup hanya dari satu
pihak saja, tetapi semuanya yang memiliki tujuan bersama yaitu
mewujudkan sistem transportasi yang baik. Semua harus mulai sadar
bahwa seluruh solusi tadi akan dapat berwujud, bila semua lapisan
masyarakat melakukannya mulai dari diri sendiri, mulai dari hal
yang kecil, dan mulai dari saat ini. Dengan demikian, sistem
transportasi yang baik itu akan menjadi suatu daya dukung bagi
bangsa ini agar dapat bersaing dalam percaturan dunia.
4.2 Saran
Sarana transporasi yang aman dan lancar merupakan sebuah kondisi ideal yang
diinginkan oleh banyak orang. Saat ini kondisi permasalahan kemacetan transportasi lalu
lintas sudah semakin kompleks. Upaya-upaya untuk menanggulangi masalah kemacetan
transportasi lalu lintas ini perlu untuk terus dilakukan agar permasalahan kemcetan lalu lintas
dapat teratasi. Kesadaraan untuk bersama-sama menggunakan sarana transportasi yang aman
dan lancar menjadi hal utama yang perlu dilakukan. Sehingga menciptakan sarana
transportasi yang aman dan lancar dapat tercapai.
Adapun cara yang harus di lakukan Pemerintah kota untuk mengatasi kmacetan lalulintas
yang disebabkan oleh kelakuan para pengguna jalan itu sendiri. Misalnya, Memberikan

pengetahuan kepada masyarakat tentang pentingnya mematuhi


peraturan dan kebijaksanaan berlalu lintas demi kenyamanan dan
keselamatan juga menghindari kemacetan, Memberikan prioritas
kepada transportasi masal atau angkutan kota guna mengurangi
kepadatan kendaraan di jalan namun dengan memperhatikan kenyamanan
transportasi pribadi, dan memberikan himbauan kepeda masyarakat

semarang untuk tdk saling serobot dalam menggunakan kendaraannya


di jalan raya.