Anda di halaman 1dari 8

PERTANIAN BERKELANJUTAN SEBAGAI USAHA ENGATASI

PENGARUH NEGATIF DEGRADASI LAHAN TERHADAP


PRODUKTIVITAS TANAMAN PADI

Disusun oleh:
Nama

: Zaharul Luthfi Zakiyah

NIM

: 13960

Mata Kuliah

: Kebijakan Perlindungan Tanaman

Dosen Pengampu

: Prof. Ir. Y. Andi Trisyono, M.Sc., Ph.D.

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2016

1.

Pengertian Degradasi Lahan


Tenaga Eksogen atau epigen adalah tenaga yang berasal dari luar bumi. Tenaga ini

menimbulkan proses perubahan pada permukaan bumi, yang disebut proses eksogen atau
epigen. Air yang mengalir di permukaan bumi, angin yang bertiup, gletsyer yang bergerak,
gelombang dan arus laut, penyinaran matahari, hujan, turunnya salju, merupakan kekuatan
yang dapat menyebabkan terjadinya proses perubahan pada permukaan bumi. Di satu pihak
proses-proses itu menyebabkan kerusakan pada permukaan bumi, sedangkan di lain pihak
sama-sama membangun. Di suatu tempat terjadi perendahan bagian permukaan bumi yang
menonjol (proses degradasi), sedangkan di tempat lain menimbuni bagian-bagian yang
rendah (proses agradasi) oleh bahan-bahan yang diangkut dari tempat pertama tadi. Proses
degradasi terdiri dari erosi, pelapukan, dan masswasting.
Erosi adalah pelepasan dan pemindahan massa batuan secara alami dari suatu tempat ke
tempat lain oleh suatu zat pengangkut yang bergerak di atas permukaan bumi. Faktor-faktor
utama terjadinya proses erosi yaitu air mengalir, gelombang dan arus laut, air tanah, gletsyer,
dan angin. Erosi yang cepat dapat menimbulkan berbagai kerugian, antara lain penimbunan
terhadap tanah pertanian dan banjir, di samping hilangnya lapisan tanah. Pelapukan adalah
proses yang berhubungan dengan perubahan sifat (fisis dan kimiawi) batuan di permukaan
bumi oleh cuaca. Faktor yang menyebabkan terjadinya pelapukan batuan yaitu struktur
batuan, iklim, topografi, tumbuh-tumbuhan yang menutupi batuan. Masswasting adalah
pemindahn massa batuan oleh gaya beratnya sendiri (gerakan massa). Masswasting dibagi
menjadi tiga macam yaitu pemindahan lambat (rayapan dan solifluksi), pemindahan cepat
(tanah mengalir, lumpur mengalir, lawina hasil rombakan), tanah longsor (tanah
nendat,longsor bahan rombakan, jatuhnya bahan rombakan, longsor massa batuan
berbongkah, jatuhnya massa batuan berbongkah).
Degradasi lahan berarti hilangnya manfaat atau potensi manfaat dari suatu lahan.
Degradasi lahan juga dapat diartikan sebagai peristiwa terjadinya penurunan kualitas lahan,
hilang, atau berubahnya berbagai organisme pada lahan yang tidak dapat digantikan. Jadi,
kerusakan lahan tidak hanya menyangkut kerusakan pada tanah, tetapi juga menyangkut
sumber daya berupa organisme yang ada diatas tanah. Kerusakan tersebut bisa terjadi karena
faktor alam maupun karena faktor manusia. Penebangan hutan yang semena-mena
merupakan degradasi lahan. Selain itu tidak terkendali dan tidak terencananya penebangan
hutan secara baik merupakan bahaya ekologis yang paling besar. Kerusakan lahan atau tanah
akan berpengaruh terhadap habitat semua makhluk hidup yang ada di dalamnya dan

kerusakan habitat sangat berpengaruh terhadap kelangsungan makhluk hidup yang


disangganya.
Ahli agronomi dan tanah ilmuwan, di sisi lain, berpendapat tanah yang merupakan
sumber daya tidak terbarukan pada skala waktu manusia dan beberapa efek yang merugikan
dari proses degradatif terhadap kualitas tanah dapat diubah, misalnya pengurangan
kedalaman perakaran efektif. Efek masking teknologi perbaikan memberikan rasa aman
palsu. Produktifitas beberapa tanah telah menurun sebesar 50% karena erosi tanah dan
penggurunan. Hanya sekitar 3% dari permukaan tanah global dapat dianggap sebagai perdana
atau Kelas I tanah dan ini tidak ditemukan di daerah tropis. Ini 11% tanah harus memberi
makan enam milyar orang hari ini dan 7,6 miliar diharapkan pada tahun 2020. Desertifikasi
dialami pada 33% dari permukaan tanah global dan mempengaruhi lebih dari satu miliar
orang, setengah di antaranya hidup di Afrika.
Mekanisme yang memulai degradasi lahan meliputi fisik, kimia, dan biologis proses.
Penting antara proses fisik adalah penurunan struktur tanah yang mengarah ke crusting,,
pemadatan

erosi, penggurunan,

polusi anaerobism,

lingkungan,

dan pemanfaatan

berkelanjutan sumber daya alam. Proses kimia yang signifikan termasuk asidifikasi,
pencucian, salinisasi, penurunan kapasitas kation retensi, dan penipisan kesuburan.. proses
biologis termasuk pengurangan karbon total dan biomassa, dan penurunan keanekaragaman
hayati tanah. Yang terakhir ini terdiri dari keprihatinan penting yang terkait dengan
eutrofikasi permukaan air, pencemaran air tanah, dan emisi dari sisa-sisa gas (CO2, CH4,
N2O, NOx) dari darat / ekosistem air ke atmosfer. Struktur tanah adalah sifat penting yang
mempengaruhi ketiga proses degradatif. Tingkat aplikasi untuk menanggulangi fenomena
degradasi lahan itu, adopsi teknologi konservasi lahan masih ditentukan oleh faktor-faktor
yang mempunyai keterkaitan antara tingginya tingkat degradasi lahan dan tingkat
keuntungan pada suatu lahan dan tingkat kemiringan yang berbeda. Tetapi program
konservasi lahan bukan satu-satunya jalan untuk menanggulangi masalah degradasi lahan
terutama di lahan kering, karena degradasi lahan itu sangat berkaitan dengan perekonomian
secara keseluruhan. Yaitu, Pertama, tingginya tingkat intensifikasi penggunaan lahan hanya
akan menimbulkan kegiatan yang seakan-akan menambang tanah (soilmining activities). Hal
tersebut terutama sangat tidak tepat dilakukan pada daerah-daerah yang mempunyai lapisan
atas tanah (topsoil) yang dangkal, seperti kebanyakan tempat di Sulawesi dan Nusa Tenggara.
Pada daerah-daerah yang seperti itu, salah satu cara untuk mengurangi derajat intensifikasi
penggunaan lahan adalah membatasi perluasan lahan pertanian tanaman pangan itu sendiri

secara berlebihan. Kedua, pengurangan tekanan penduduk tentunya tidak terbatas pada usahausaha keluarga berencana atau population control semata, tetapi diarahkan pada strategi
diversifikasi di pedesaan. Ketiga, degradasi lahan mengakibatkan penurunan tingkat
pendapatan petani, terutama mereka yang mengusahakan tanaman-tanaman yang relatif
sensitif, seperti padi lading dan ubi jalar. Dengan demikian, pemilihan jenis tanaman dan
perencanaan pola usaha tani yang lebih tepat sesuai dengan kapasitas sumber daya yang ada
menjadi alternatif yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Dengan demikian, degradasi lahan
adalah proses biofisik didorong oleh sebab-sebab sosial-ekonomi dan politik.

1. Faktor-faktor Penyebab Degradasi Lahan


Faktor degradasi lahan adalah proses biofisik dan atribut yang menentukan jenis proses
degradatif, misalnya erosi, salinisasi, dll termasuk tanah kualitas, yang dipengaruhi oleh sifat
intrinsiknya iklim, medan dan posisi landscape , klimaks vegetasi, dan keanekaragaman
hayati, khususnya keanekaragaman hayati tanah. Penyebab degradasi lahan adalah agen yang
menentukan tingkat degradasi. Ini adalah biofisik (penggunaan lahan dan pengelolaan lahan,
termasuk metode deforestasi dan persiapan lahan), sosial ekonomi (misalnya kepemilikan
tanah, pemasaran, bantuan pendapatan, kelembagaan dan kesehatan manusia), dan kekuatan
politik (insentif misalnya, stabilitas politik) yang mempengaruhi efektifitas proses dan faktor
degradasi tanah. Tergantung pada karakteristik yang melekat dan iklim, tanah bervariasi dari
sangat resisten,atau stabil, kepada mereka yang rentan dan sangat sensitif terhadap degradasi..
Kerapuhan, kepekaan ekstrim untuk proses degradasi, bisa merujuk ke seluruh negeri, sebuah
proses degradasi (erosi misalnya) atau properti (struktur tanah misalnya). Stabil atau tahan
tanah tidak selalu menolak perubahan Mereka berada dalam kondisi kondisi stabil mapan
dengan lingkungan baru. Di bawah tekanan, tanah rapuh menurunkan ke steady state baru
dan negara diubah kurang baik untuk pertumbuhan tanaman dan kurang mampu melakukan
fungsi regulasi lingkungan hidup.
Oleh karena itu, untuk lebih singkat dan jelasnya, faktor penyebab degradasi lahan dibagi
menjadi dua yaitu :
a. Faktor Alam
Beberapa faktor alam yang dapat menyebabkan terjadinya degradasi lahan
antara lain sebagai berikut :

Bencana alam seperti banjir, longsor, badai, gempa, atau letusan gunung api.

Iklim, jenis tanah, dan kemiringan lereng sangat mempengaruhi laju kerusakan
lahan. Daerah dengan curah hujan tinggi seperti Indonesia memiliki potensi erosi
yang tinggi pula. Akibatnya, jika hutan ditebangi, laju erosinya akan semakin
tinggi. Jenis tanah tertentu lebih rawan terhadap erosi. Semakin besar kemiringan
lereng, biasanya semakin besar pula potensi erosi sehingga dapat menimbulkan
kerusakan lahan yang lebih besar.

b. Faktor Manusia
Berbagai aktifitas manusia dapat menyebabkan terjadinya degradasi lahan.
Aktifitas-aktifitas tersebut antara lain sebagai berikut :

Penebangan hutan yang dilakukan oleh para pengusaha hutan secara besar-besaran
atau penebangan sedikit demi sedikit oleh para perambah hutan.

Kerusakan lahan oleh manusia sering didasari oleh kepentingan ekonomi semata,
tanpa memperhatikan kelestarian fungsi lingkungannya.

Pertumbuhan penduduk yang tinggi, sehingga membutuhkan lahan untuk


permukiman maupun aktifitas pertanian.

Aktifitas pertanian seringkali tidak cocok dengan kondisi lahan. Misalnya,


aktivitas pertanian yang dilakukan pada lahan dengan kemiringan lereng yang
besar.

Kerusakan lahan banyak pula terjadi karena sejumlah penduduk yang miskin atau
tidak memiliki lahan yang membuka lahan baru di daerah pegunungan. Akibatnya,
tumbuhan dan hewan di dalamnya terancam serta tanahnya menjadi rawan
terhadap erosi.

Lahan-lahan bekas penambangan bahan galian seringkali dibiarkan begitu saja


jika bahan galiannya telah habis sehingga lahan menjadi rusak.

2. Pengaruh Degradasi Lahan pada Tanaman Pangan Padi

Dalam rangka rehabilitasi lahan-lahan kritis yang luasnya semakin besar di Indonesia
serta meningkatnya produktivitas untuk keperluan pertanian, perkebunan, kehutanan dan
pelestarian alam, maka perlu dilakuakan upaya-upaya yang dapat yang dapat
memodifikasi lingkungan tersebut (Subiksa, 2002). Degradasi tanah berpengaruh
terhadap penurunan produktivitas tanah. Kehilanagn produktivitas dicirikan dengan
terjadinya erosi akibat tanah terdegradasi diperkirakan 272 juta Mg pangan dunia hilang
berdasarkan tingkat produksi tahun 1996 (Lal, 2000).
Tanah yang mengalami kerusakan baik kerusakan karena sifat fisik, kimia dan
maupun biologi memiliki pengaruh terhadap penurunan produksi padi mencapai sekitar
22% pada lahan semi kitis, 32 % pada lahan kritis, dan diperkirakan sekitar 38% pada
lahan sangat kritis. Sedangkan untuk kacang tanah mengalami penurunan sekitar 9%,
46%, 58% masing-masing pada tanah semi kritis, kritis dan tanah yang sangat kritis. Sifat
tanah yang berkorelasi nyata terhadap produksi padi adalah kedalaman solum, kandungan
bahan organik (Sudirman dan Vadari, 2000).

3. Cara Mengatasi Degradasi Lahan berkaitan dengan Produktivitas Padi


Kebijakan pembangunan pertanian dewasa ini lebih banyak terfokus kepada usaha
yang mendatangkan keuntungan ekonomi jangka pendek dan mengabaikan multifungsi
yang berorientasi pada keuntungan jangka panjang dan keberlanjutan (sustainabilitas)
sistem usaha tani. Pertanian berkelanjutan, suatu bentuk yang memang harus
dikembangkan jika kita ingin menjadi pewaris yang baik yang tidak semata memikirkan
kebutuhan sendiri tetapi berpandangan visioner ke depan. Pembangunan pertanian
berkelanjutan menyiratkan perlunya pemenuhan kebutuhan (aspek ekonomi), keadilan
antar generasi (aspek sosial) dan pelestarian daya dukung lingkungan/lahan (aspek
lingkungan).
Oleh karena itulah, harus ada keselarasan antara pemenuhan kebutuhan dan
pelestarian sumberdaya lahannya. Pembangunan pertanian yang dilaksanakan masa lalu
belumlah sepenuhnya menggunakan tiga aspek pembangunan yang berkelanjutan secara
seimbang, sehingga masih banyak keluarga yang tergolong miskin, dan terjadi degradasi
lahan sehingga mengganggu keberlanjutan pembangunan ekonomi dan sosial. Berbagai
praktek explorasi lahan yang tidak sesuai dengan daya dukung lahannya hendaklah
dihindari. Penggunaan lahan diatas daya dukung lahan haruslah disertai dengan upaya

konservasi yang benar-benar, sehingga untuk menjamin keberlajutan pengusahaan lahan,


dapat dilakukan upaya strategis dalam menghindari degradasi lahan melaui:(1) Penerapan
pola usaha tani konservasi seperti agroforestri, tumpang sari, dan pertanian terpadu; (2)
Penerapan pola pertanian organik ramah lingkungan dalam menjaga kesuburan tanah; dan
(3) Penerapan konsep pengendalian hama terpadu merupakan usaha-usaha yang harus kita
lakukan untuk menjamin keberlanjutan usaha pertanian kita dan jika kita ingin menjadi
pewaris yang baik.

DAFTAR PUSTAKA
Lal. 2000. Soil management in the developing countris. Soil Science. 165(1):57-72
Subiksa,

I.

2002.

Pemanfaatan

mikoriza

untuk

penanggulangan

lahan

kritis.

http:// rudyet.triped.com/sem2-012/igm-subiksa.htm. (Diakses 30 Maret 2016)


Sudirman dan T. Vadari. 2000. Pengaruh kekritisan lahan terhadap produksi padi dan kacang
tanah di Garut Selatan. Prosiding Kongres Nasional VII HITI: pemanfaatan
sumberdaya tanah sesuai potensinya menuju keseimbangan lingkungan hidup
dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat. Bandung 2-4 November 1999.
Himpunan Tanah Indonesia. Hal: 411-417