Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Angka kematian ibu dan angka kematian bayi merupakan indikator yang
paling penting untuk melakukan penilaian kemampuan suatu negara untuk
menyelenggarakan pelayanan kesehatan, khususnya dalam bidang obstetri.
Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) dan data Biro Pusat
Statistik (BPS) angka kematian ibu dalam kehamilan dan persalinan di seluruh
dunia mencapai 515 ribu jiwa pertahun. Ini berarti seorang ibu meninggal hampir
setiap menit karena komplikasi kehamilan dan persalinannya. Sedangkan angka
kematian bayi di Indonesia pada tahun 2007 2-5 kali lebih tinggi mencapai 34 per
1000 kelahiran hidup atau 2 kali lebih besar dari target WHO yaitu sebesar 15%
per kelahiran hidup .
Adapun

penyebab

kematian

perinatal

adalah

kelainan

kongenital,

prematuritas, trauma persalinan, infeksi, gawat janin dan asfiksia neonatorum.


Terjadinya gawat janin di sebabkan oleh induksi persalinan, infeksi pada ibu,
perdarahan, insufisiensi plasenta, prolapsus tali pusat, kehamilan dan persalinan
preterm dan postterm. Persalinan postterm menunjukkan bahwa kehamilan telah
melampaui waktu perkiraan persalinan menurut hari pertama menstruasinya.
Ballantyne 1902 seperti dikutip Manuaba, seorang bidan Scotlandia, untuk
pertama kali menyatakan bahwa janin yang terlalu lama dalam kandungan dapat
membahayakan dirinya dan ibunya saat persalinan berlangsung. Kemudian
berturu-turut 1950 Clifford mengemukakan tentang sindrom postterm baby,
sedangkan 1960 Mc Clure menyatakan bahwa angka kematian bayi dengan
kehamilan postdate semakin meningkat.
Menurut WHO persalinan postterm adalah keadaan yang menunjukkan bahwa
kehamilan berlangsung sampai 42 minggu (294 hari) atau lebih, dihitung dari hari
pertama haid terakhir menurut rumus Naegele dengan siklus haid rata-rata 28 hari.
Defenisi ini didasarkan pada hasil observasi epidemiologi yang membuktikan
bahwa persalinan postterm dengan disertai gawat janin mempunyai kontribusi

terhadap out come kesehatan yang buruk atau 10% dari persalinan adalah
persalinan postterm (Hidayat, 2009).
Faktor

yang

merupakan

predisposisi

terjadinya

persalinan

postterm

diantaranya faktor ibu adalah karena hanya sebagian kecil ibu yang mengingat
tanggal menstruasi pertamanya dengan baik dan adanya gangguan terhadap
timbulnya persalinan seperti pengaruh esterogen, oksitosin dan saraf uterus.
Banyaknya kasus persalinan postterm di Indonesia yang tidak dapat ditegakkan
secara pasti diperkirakan sebesar 22%.Beberapa ahli dapat menyatakan bahwa
persalinan preterm akan meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas ibu
maupun bayi. Seringnya kesalahan dalam mendefinisikan postterm diperlukan
deteksi sedini mungkin untuk menghindari kesalahan dalam menentukan usia
kehamilan. Jika taksiran persalinan telah ditentukan pada trimester terakhir atau
berdasarkan data yang tidak dapat diandalkan bidan harus tetap siaga pada
reabilitas taksiran persalinan tersebut. Data yang terkumpul sering menunjukkan
peningkatan resiko lahir mati seiring peningkatan usia kehamilan lebih dari 40
minggu. Penyebab kematian tidak mudah dipahami dan juga tidak ada
kesepakatan tentang pendekatan yang paling tepat guna mencegah kematian
tersebut.
Bertolak dari pernyataan diatas, maka penulis sebagai calon bidan dalam
rangka mempersiapkan diri sebagai seorang bidan yang terampil dan memiliki
keahlian diberikan penugasan untuk melakukan pembinaan pada seorang ibu
bersalin . Melalui pembinaan tersebut penulis dapat memahami berbagai proses
yang terjadi selama ibu hamil dan bersalin, sehingga dapat menerapkan asuhan
kebidanan yang tepat dan aman
1.2 Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Untuk mendapatkan pengalaman serta dapat menerapkan dan
mengembangkan pola pikir ilmiah dalam melaksanakan manajemen asuhan
kebidanan pada kasus persalinan postterm.
2. Tujuan Khusus

1. Dapat melaksanakan pengkajian data dengan cara wawancara, observasi dan


pemeriksaan pada pada kasus persalinan postterm.
2. Dapat menegakkan diagnosa, mengkaji masalah dan kebutuhan pada kasus
persalinan postterm.
3. Dapat mengidentifikasi masalah potensi yang mungkin terjadi pada kasus
persalinan postterm.
4. Dapat menentukan tindakan segera pada kasus persalinan postterm.
5. Dapat membuat rencana asuhan pada kasus persalinan postterm sebagai dasar
untuk melaksanakan asuhan kebidanan.
6. Dapat melakukan implementasi secara efektif dan efisien pada kasus persalinan
postterm.
7. Dapat mengevaluasi asuhan yang telah diberikan pada kasus persalinan
postterm.
8. Dapat melakukan pendokumentasian pada kasus persalinan postterm.

1.3 . Manfaat Penulisan


a. Menambah wawasan dan pengetahuan, serta agar penulis dapat melaksanakan
manajemen

asuhan kebidanan pada kasus persalinan postterm.

b. Berperan secara profesional sehingga dapat memberikan pelayanan yang


berkualitas pada klien.
c. Mengembangkan kemampuan berfikir dalam menemukan masalah dan dalam
mencari pemecahan masalah tersebut

BAB II

KEHAMILAN SEROTINUS

a. Pengertian Kehamilan Serotinus


Kehamilan lewat waktu (Serotinus) adalah kehamilan
melewati waktu 294 hari atau 42 minggu. Kehamilan lewat
dari 42 minggu ini didasarkan pada hitungan usia kehamilan
(dengan rumus neagle), menurut Anggarani (2007 : 83).
Rumus neagle ini adalah untuk menghitung tanggal kelahiran
bayi yaitu (tanggal +7, bulan -3, tahun +1) atau (tanggal +7,
bulan +9, tahun +0), menurut C Trihendradi (2010 :
11).
b. Etiologi Kehamilan Serotinus
Faktor yang menyebabkan kehamilan serotinus ini, menurut
Sujiyatini (2009 : 35) :
1) Penurunan kadar estrogen pada kehamilan normal umumnya
tinggi
2)Faktor hormonal yaitu kadar progesteron tidak cepat turun
walaupun kehamilan telah cukup bulan, sehingga kepekaan
uterus terhadap oksitosin berkurang.
3)Faktor lain yaitu hereditas, karena post matur sering
dijumpai pada suatu keluarga tertentu.

4) Teori kortisol
Pemberi tanda untuk memulainnya persalinan adalah janin,
diduga akibat peningkatan tiba-tiba kadar kortisol plasma janin.
Kortisol janin akan mempengaruhi plasenta sehingga produksi
progesteron

berkurang

selanjutnya

berpengaruh

prostaglandin.

dan

memperbesar

terhadap

Pada cacat

bawaan

sekresi

estrogen,

meningkatnya

produksi

janin

seperti

anasefalus,

hipoplasia adrenal janin, dan tidak adanya kelenjar hipofisis pada


janin akan menyebabkan kortisol janin tidak diproduksi dengan baik
sehingga kehamilan dapat berlangsung lewat bulan, menurut
Prawiroharjo (2009 : 687).
5) Saraf uterus
Tekanan pada ganglion servikalis dari pleksus frankenhauser
akan membangkitkan kontraksi uterus. Pada keadaan di mana
tidak ada tekanan pada pleksus ini, seperti pada kelainan letak, tali
pusat pendek dan bagian bawah masih tinggi diduga itu sebagai
penyebabnya.
c. Patofisiologi Kehamilan Serotinus
Menurut Wijayarini (2005 : 283), patofisiologi kehamilan
serotinus meliputi bayi yang sangat besar dan akan mengakibatkan
trauma

lahir atau

apabila

bayinya

kecil

karena

pada

saat

kehamilannya kekurangan nutrisi dan akibat penuaan plasenta atau


disfungsi plasenta dan penurunan cairan amnion.

Menurut Manuaba (2007 : 450), patofiologi pada kehamilan


serotinus adalah sebagai berikut :
1) Jika fungsi plasenta masih cukup baik dapat menyebabkan
tumbuh kembang janin berlangsung terus, sehingga berat badan
terus bertambah sekalipun lambat, dapat mencapai lebih dari
4.000-4.500 gram yang disebut makrosomia.
2) Jika fungsi plasenta telah mengalami disfungsi, sehingga tidak
mampu memberikan nutrisi dan oksigen yang cukup, akan
terjadi sindrom postmatur, dengan kriteria :
a)Bayi tampak tua
b) Kuku panjang
c) Lemak kulit berkurang sehingga menimbulkan keriput,
terutama ditelapak tangan dan kaki
d) Verniks kaseosanya telah hilang atau berkurang.
d. Klasifikasi Kehamilan Serotinus
Menurut Prawiroharjo (2009 : 691), klasifikasi pada bayi lewat
bulan adalah :
1)Stadium I yaitu kulit menunjukkan kehilangan verniks kaseosa
dan terjadi maserasi seperti kulit kering, rapuh, dan mudah
mengelupas.
2)Stadium II seperti stadium I dan disertai pewarnaan mekonium
(kehijauan ) di kulit.
3)Stadium III seperti stadium I dan disertai dengan pewarnaan
kekuningan pada kuku, kulit, dan tali pusat.

e. Diagnosa Kehamilan Serotinus


Menilai beberapa pemeriksaan untuk kehamilan matur atau
tidak, menurut Sujiyatini (2009 : 36), yaitu :
1)Berat badan ibu turun dan lingkaran perut mengecil dan air
ketuban berkurang.
2)Pemeriksaan dengan USG yaitu dengan pemeriksaan ini
diameter biparental kepala janin dapat diukur dengan teliti
tanpa bahaya.
3)Pemeriksaan sitologi cairan amnion yaitu amniostropi dan
periksa pHnya dibawah 7,20 dianggap sebagai tanda gawat
janin.
f. Pemeriksaan Penunjang untuk Kehamilan Serotinus
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk kehamilan
serotinus, menurut Dr. Taufan (2012 : 144) adalah :
1) Kadar lesitin/spinngomielin
Bila lesitin/spinngomielin dalam cairan amniom kadarnya sama, maka umur
kehamilan sekitar 22-28 minggu, lesitin 1,2 kali kadar spingomielin: 28-32
minggu, pada kehamilan genap bulan rasio menjadi 2:1 . Pemeriksaan ini tidak
dapat dipakai untuk menentukan kehamilan postterm, tetapi hanya digunakan
untuk menentukan apakah janin cukup umur/matang untuk dilahirkan yang
berkaitan dengan mencegah kesalahan dalam tindakan pengakhiran kehamilan.
2) Aktivitas tromboplastin cairan amniom
Hastwell berhasil membuktikan bahwa cairan amnion mempercepat waktu

pembekuan darah. Aktifitas ini meningkat dengan bertambahnya umur kehamilan.


Pada umur kehamilan 41-42 minggu ATCA berkisar antara 45-65 detik, pada
umur kehamilan lebih dari 42 minggu didapatkan ATCA kurang dari 45 detik. Bila
didapatkan ATCA antara 42-46 detik menunjukkan bahwa kehamilan berlangsung
lewat waktu.
3) Sitologi cairan amnion
Pengecatan nile bluesulphate dapat melihat sel lemak dalam cairan amnion. Bila
jumlah sel yang mengandung lemak melebihi 10% maka kehamilan diperkirakan
36 minggu dan apabila 50% atau lebih maka umur kehamilan 39 minggu atau
lebih.
4) Sitologi vagina
Pemeriksaan sitologi vagina (indeks kariopiknotik > 20%) mempunyai sensitivitas
75 %.
5) Kardiotografi yaitu menilai kesejahteraan janin dengan Nonstress test (NTS)
relaktif atau tidak, maupun Contraction Stress Test (CTS) negatif atau positif.
g. Penilaian pada Kehamilan Serotinus
Menurut Sastrawinata (2005 : 14), untuk mengingat
morbiditas dan mortalitas yang tinngi pada kehamilan serotinus,
penilaian terhadap resiko

terjadinya

dismaturitas

harus

dilakukan antepartum untuk

memutuskan apakah fetus masih boleh tinggal dalam rahim


(menunggu persalinan spontan) atau harus dilahirkan segera.
Penilaian kesejahteraan janin dapat dilakukan dengan cara :
1)Evaluasi cairan amnion dengan amniosentesis atau USG untuk
melihat adanya oligohidramnion.
2) Pantau perubahan denyut jantung janin tanpa beban (nonstress test)
atau dengan beban (contraction stress test).
3)Tentukan skoring profil biofisik yang didapat dari pemeriksaan
NST, USG

untuk

melihat

pernafasan

janin,

tonus

fetus,

pergerakan fetus, dan jumlah cairan amnion


h. Penatalaksanaan Kehamilan Serotinus
Adapun penatalaksanaan kehamilan serotinus adalah sebagai berikut :
1)Setelah usia kehamilan > 40 minggu yang penting adalah
monitoring janin sebaik- baiknya
2)Apabila tidak ada tanda-tanda insufisiensi plasenta, persalinan
spontan dapat ditunggu dengan pengawasan ketat, menurut Dr.
Taufan (2012 : 145).
3) Bishop score
Bishop score adalah suatu cara untuk menilai kematangan
serviks dan responsnya terhadap suatu induksi persalinan, karena
telah diketahui bahwa serviks bishop score rendah artinya serviks
belum matang dan memberikan

angka kegagalan yang lebih

tinggi

dibanding servik yang matang. Lima kondisi yang dinilai


dari serviks adalah :
a) Pembukaan (Dilatation) yaitu ukuran diameter leher
rahim yang terenggang. Ini melengkapi pendataran, dan
biasanya merupakan indikator yang paling penting dari
kemajuan melalui tahap pertama kerja.
b) Pendataran (Effacement) yaitu ukuran regangan sudah
ada di leher rahim.
c) Penurunan kepala janin (Station) yaitu mengambarkan
posisi janin kepala dalam hubungannya dengan jarak
dari iskiadika punggung, yang dapat teraba jauh di dalam
vagina posterior (sekitar 8-10 cm) sebagai tonjolan
tulang.
d) Konsistensi

(Consistency) yaitu dalam

primigravida

leher rahim perempuan biasanya lebih keras dan tahan


terhadap peregangan, seperti sebuah balon sebelumnya
belum meningkat. Lebih jauh lagi, pada wanita muda
serviks lebih tangguh dari pada wanita yang lebih tua
e) Posisi ostinum uteri (Position) yaitu posisi leher rahim
perempuan bervariasi antara individu. Sebagai anatomi
vagina sebenarnya menghadap ke bawah, anterior dan
posterior lokasi relatif menggambarkan batas atas dan

10

bawah dari vagina. Posisi anterior lebih baik sejajar


dengan

rahim,

dan

karena

itu

memungkinkan

peningkatan kelahiran spontan.

11

Tabel 2.1 Bishop score


Achadiat (2004 : 1718)
Skor

0
0
0-30%
-3
Keras
Posterior

Pembukaan
Pendataran
Station
Konsistensi
Posisi Os

U
n
t

1
1
40-50%
-2
Sedang
Tengah

2
3-4
60-70%
-1
Lunak
Anterior

3
5-6
80%
+1+2
Sangat lunak
Anterior

Untuk menilai bishop score yaitu :


a) Bishop Score > 5 yaitu induksi persalinan Cara
induksi persalinan adalah
(1) Menggunakan

tablet Misoprostol

/ Cytotec yaitu 25-50 mg yang

diletakkan di forniks posterior setiap 6-8 jam hingga munculnya his /


kontraksi.
(2) Menggunakan

oksitoksin

intravena yaitu infus

oksitoksin biasanya

mengandung 10-20 unit ekuivalen dengan 10.00020.000 mU dicampur dengan 1000 ml larutan Ringer
Laktat, masing-masing menghasilkan konsistensi oksitoksin
10-20 mU/ml.
Tabel 2.2 Regimen Oksitoksin pada Induksi
Persalinan Kenneth J. Laveno
Regimen
Dosis rendah
Dosis tinggi

Dosis awal
(mU/menit)
0,5-1
1-2
6

Peningkatan
incrementa
l
(mU/menit
1
2
6,3, 1

Interval
dosis
(menit)
30-40
15
15-40

Dosis
maksimal
(mU/ml)
20
40
42

12

b) Bishop Score < 5


(1) Pemantauan janin dengan prafil biofisik, Nonstress test (NST),
Contraction Stess Test (CST).
(2) Volume ketuban normal, NST reaktif yaitu diulangi 2x / minggu.
(3) Volume ketuban normal, NST non reaktif, CST positif yaitu dilakukan
SC.
(4) Volume ketuban normal, NST non reaktif dan CST negatif yaitu
dilakukan pengulangan CST dalam 3 hari.
(5) Oligohidramnion (kantong amnion < 2 cm) yaitu dilakukan SC.
(6) Deselerasi variable yaitu matangkan serviks dan induksi persalinan.
(7) Pematangan serviks dapat dilakukan dengan kateter voley, oksitoksin,
prostaglandin (Misoprostol), relaksin (melunakkan serviks), pemecahan
selaput ketuban
(8) Persalinan per vaginam yaitu Ibu miring ke kiri, berikan oksigen, monitor
DJJ, induksi persalinan dengan tetes Pitosin (jika tidak ada kontraindikasi
dan belum ada tanda hipoksia intrauterine), tetes Pitoksin di naikkan
jangan melebihi 2 m U/ menit atau di naikkan dengan interval < 30 menit,
amniotomi pada fase aktif, infus intraamniotik dengan 300 500 mL NaCl
hangat

selama

30

menit

yaitu

untuk

mengatasi

13

oligohidramnion dan mekoneum, konfirmasi


kesejahteraan janin.
(9) Dilakukan Sectio Caesaria, jika gawat janin (deselerasi lambat, pewarnaan
mekoneum), gerakan janin abnormal (< 5 kali / 20 menit), contraction
stress test (CST), berat Badan > 4000 gr, malposisi, malpresentasi, partus
> 18 jam, bayi belum lahir, menurut Kurniawati (2009 : IX 41-42).
(10)Dilakukan vakum ekstraksi, syarat vakum, menurut Manuaba (2003 : 159)
yaitu
(a) Pembukaan minimal 5
(b) Ketuban negatif atau dipecahkan
(c) Anak hidup, letak kepala atau bokong
(d) Penurunan minimal H II
(e) His dan reflek mengejan baik
i. Komplikasi dari Kehamilan Serotinus
Menurut Manuaba ( 2009 :125-126), komplikasi dari kehamilan
serotinus adalah sebagai berikut :
1) IBU
a) Timbulnya rasa takut akibat terlambat melahirkan atau rasa
takut menjalani operasi yang mengakibatkan
b) Perdarahan post partum yaitu atonia uteri (karena janin besar
atau penggunaan oksitoksin).

14

2) JANIN
a) Kematian janin (3 kali resiko pada kehamilan aterm) yaitu 30
% sebelum partus, 55 % intrapartum, 15 % post natal.
b) Gawat janin karena aspirasi mekoneum, hipoksia, kompresi
tali pusat
c) Kelainan letak seperti defleksi, oksiput posterior, distosia bahu,
trauma kepala janin.
d) Gangguan pembekuan darah.
e) Oligohidramnion adalah air ketuban normal pada kehamilan 3437 minggu adalah 1.000 cc, aterm 800 cc, dan lebih dari 42
minggu
400 cc. akibat oligohidramnion adalah amnion menjadi kental
karena mekonium (diaspirasi oleh janin), asfiksia intrauterine
(gawat janin), pada in partu (aspirasi air ketuban, nilai
APGAR rendah, sindrom gawat paru, bronkus paru tersumbat
sehingga menimbulkan atelektasis).
f) Makrosomia apabila plasenta yang masih baik, terjadi tumbuh
kembang janin dengan berat 4.500 gram yang disebut
makrosomia. Akibatnya terhadap persalinan adalah perlu
dilakukan tindakan operatif seksio caesaria, dapat terjadi trauma
persalinan

karena

operasi

vagina,

distosia

bahu

yang

menimbulkan kematian bayi atau trauma jalan lahir ibu.

20

j. Pengelolaan selama Persalinan tentang Hamil Serotinus


Menurut Kurniawati (2009 : IX-42) yaitu pengolalaan selama persalinan
tentang serotinus sebagai berikut :
1)Pemantauan yang

baik terhadap

ibu

(aktivitas uterus) dan

kesejahteraan janin.
2) Hindari penggunaan obat penenang atau analgetika selama persalinan.
3) Awasi jalannya persalinan.
4)Persiapan oksigen dan bedah sesar bila sewaktu waktu terjadi
kegawatan janin.
5)Cegah terjadinya aspirasi mekoneum dengan segera mengusap
neonatus dan dilanjutkan resusitasi sesuai dengan prosedur pada
janin dengan cairan ketuban bercampur mekoneum.
6)Segera setelah lahir, bayi harus segera di periksa terhadap
kemungkinan hipoglikimia, hipovolemi, hipotermi, dan polisitemi.
7) Pengawasan ketat terhadap neonatus dengan tanda tanda serotinus.
8) Hati hati kemungkinan terjadinya distosia bahu
9)Perlu kita sadari bahwa persalinan adalah saat paling berbahaya
bagi janin serotinus sehingga setiap persalinan kehamilan serotinus
harus dilakukan pengamatan ketat dan sebaiknya dilaksanakan di
rumah sakit.

21

k. PATHWAY KEHAMILAN SEROTINUS

Pemeriksaan :

Faktor penyebab:

1.
2.
3.
4.

Oksitosin
menurun
Saraf uterus
Estrogen menurun
Hereditas

USG
Amnioskopi
NST (Nonstress Test)
HPHT

Kehamilan serotinus
Air ketuban
NST (Nonstress Test)

Positif atau reaktif

Non reaktif

Sectio saesarea

Test tekan oksitoksin

Reaktif
Keadaan janin baik
Induksi
persalinan
Bishop skor < 5

Keadaan janin yang jelek


Secsio saesaria

Bishop skor >5

Keadaan janin
yang jelek

Pematanga
n serviks

Non reaktif

Induksi persalinan
Persalinan pervaginam

Induksi
persalinan

Secsio saesaria

Persalinan pervaginam

Gambar 2.3 Pathway Kehamilan Serotinus


Sumber : Prawiroharjo (2009 : 694-695)

22

KONSEP ASUHAN KEBIDANAN


PADA IBU HAMIL DENGAN SEROTINUS
A. Langkah- langkah Manajemen Kebidanan
Langkah 1 : Pengumpulan Data
a. Data subyektif

Nama pasien
Dimaksud agar dapat mengenali klien sehingga mengurangi kekeliruan dengan pasien
lain.

Umur
Mengetahui umur pasien sehingga dapat mengklarifikasi adanya faktor resiko kehamilan
karena faktor umur sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam penatalaksanaan
kehamilan serotinus selanjutnya.
Umur Ibu < 20 tahun dan Umur Ibu > 35 tahun
Usia ibu pada saat diadakan penelitian yang umur tersebut merupakan umur yang
tidak reproduktif lagi/umur tersebut termasuk faktor resiko tinggi dalam kehamilan
(Komalasari, 2004).
Umur pada waktu hamil sangat berpengaruh pada kesiapan ibu untuk menerima
tanggung jawab sebagai seorang ibu sehingga kualitas sumber daya manusia makin
meningkat dan kesiapan untuk menyehatkan generasi penerus dapat terjamin. Kehamilan
di usia muda/remaja (di bawah usia 20 tahun) akan mengakibatkan rasa takut terhadap
kehamilan dan persalinan, hal ini dikarenakan pada usia tersebut ibu mungkin belum siap
untuk mempunyai anak dan alat-alar reproduksi ibu belum siap untuk hamil. Begitu juga
kehamilan di usia tua (di atas 35 tahun) akan menimbulkan kecamasan terhadap
kehamilan dan persalinan serta alat-alar reproduksi ibu terlalu tua untuk hamil
(Prawirohardjo, 2005).

Agama dan suku bangsa


Mengetahui kepercayaan dan adat istiadat pasien sehingga dapat mempermudah dalam
melaksanakan tindakan kebidanan.

Pendidikan
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan pemahaman ibu dalam memberi informasi
tentang kehamilan serotinus.

Pekerjaan
Mengetahui tingkat ekonomi pasien. Hal ini perlu dikaji untuk mengetahui pola aktifitas
pasien berhubungan dengan pekerjaan.

Alamat
Untuk mengetahui pasien tinggal dimana dan untuk menghindari kekeliruan bila ada dua
orang pasien dengan nama yang sama serta untuk keperluan kunjungan rumah bila perlu.

Identitas suami
Untuk mengetahui siapa yang bertanggung jawab bila sewaktu waktu dibutuhkan dan
dalam pengambilan keputusan didalam keluarga. Selain itu juga selama proses perawatan.

Alasan datang ke rumah sakit


Untuk mengetahui pasien tersebut datang untuk berobat, periksa, konsultasi atau rujukan.

Keluhan utama
Keluhan pasien terutama dikaji mengenai hal-hal yang berkaitan dengan lamanya
usia kehamilan yang tidak sesuai dengan perkiraan persalinan. Dilihat dari gejala klinik
pasien apakah gerakan janin berkurang dari biasanya.
Pada kasus ibu hamil dengan serotinus yang dikeluhkan meliputi ibu merasa
khawatir pada kehamilannya karena belum adanya tanda-tanda persalinan yaitu
(kontraksinya teratur apa tidak, sudah keluar lendir darah belum, air ketubannya
sudah pecah belum) padahal di dalam perkiraan sudah waktunya untuk melahirkan.

Riwayat kesehatan

- Riwayat kesehatan sekarang


Untuk mengetahui keadaan atau kondisi pasien serta ditanyakan apakah saat ini sedang
menderita penyakit, sejak kapan, upaya apa yang telah dilakukan, apakah sudah periksa,
hal ini untuk mendeteksi penyakit dalam kehamilan yang dapat mempengaruhi proses
persalinan.
- Riwayat kesehatan lalu
Dikaji mengenai pernah atau tidaknya ibu mengalami kehamilan serotinus sebelumnya
karena serotinus cenderung terjadi lagi pada wanita yang mempunyai riwayat kehamilan
serotinus sebelumnya.
- Riwayat kesehatan keluaga
Untuk mengetahui kemungkinan ada yang menderita penyakit menular, menurun,

kejiwaan yang dapat mempengaruhi proses kehamilan dan persalinan pasien, infeksi
dapat berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan janin sewaktu ibu mengandung.

Riwayat obstetric

- Riwayat perkawinan
Untuk mengetahui lamanya perkawinan dan adanya infertilitas yang membantu dalam
pertimbangan pelaksanaan tindakan.
- Riwayat menstruasi
Teratur / tidaknya haid untuk mengetahui HPHT hal ini perlu dikaji untuk menentukan
umur kehamilan yang sebenarnya apabila tidak jelas bisa ditanyakan mulai kapan terasa
gerakan janin.
Jumlah haid untuk mengetahui apakah jumlah haidnya banyak atau sedikit
sehingga pasien bisa memastikan apakah darah tersebut darah haid atauatau fleks fleks
siklus.
- Riwayat kehamilan sekarang
Untuk mengetahui riwayat antenatal ibu apakah teratur atau tidak, apakah sudah
mendapat imunisasi TT, obat-obat apa saja yang dikonsumsi ibu selama hamil dan apakah
terdapat keluhan ataupun penyakit penyerta kehamilan.

Riwayat kontrasepsi
Ditanyakan metode yang dipakai dan keluhannya karena salah satu efek samping
kontrasepsi adalah haid yang tidak teratur atau tidak haid sehingga dapat menimbulkan
ketidaktepatan dalam menentukan HPHT.

Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari

- Pola nutrisi
Bagaimana pola makan dan kebutuhan cairan, tersedianya nutrisi berkaitan dengan
kebutuhan metabolisme tubuh, karena masalah yang berkaitan dengan pemenuhan nutrisi
dan penyebabnya biasanya saling berkaitan.
- Eliminasi
Menjelaskan pola dari ekskresi, hal ini penting diketahui pola eliminasi dalam keadaan
sebelum dan selama hamil karena merupakan proses penting dalam tubuh

- Personal hygiene
Untuk mengetahui pola hidup bersih dalam kehidupan sehari- hari ibu apakah kurang
atau tidak karena pada masa selama hamil sampai melahirkan rentan terhadap penyakit.
- Pola aktivitas dan istirahat
Untuk mengetahui aktivitas ibu selama hamil , pola istirahat ibu selama hamil apakah
cukup atau tidak karena kecapaian dan kurang istirahat dapat menurunkan daya tahan
tubuh ibu selanjutnya.
- Pola kebutuhan seksual
Untuk mengetahui apakah ada masalah dalam pemenuhan kebutuhan seksual dan
frekuensinya terutama dalam akhir kehamilan karena sperma mengandung prostaglandin
yang dapat membantu kontraksi uterus karena hal ini baik jika dilakukan pada kehamilan
serotinus.
- Data psikososial, spiritual dan emosional
Bertujuan untuk mengetahui hubungan ibu dengan suami dan keluarga, hubungan kasih
sayang, dukungan dari pihak keluarga. Dan juga perlu dikaji apakah ibu dan keluarga
berdoa sesuai dengan kepercayaannya demi kelangsungan dan kelancaran persalinan dan
bagaimana emosi ibu selama hamil stabil atau tidak karena kemua hal tersebut dapat
membantu proses penyelarasan masalh ibu.
- Keadaan sosial ekonomi
Untuk mengetahui kemampuan pasien berkaitan dengan biaya perawatan dan pengobatan
yang akan diberikan di RS.

b.

Data obyektif

Keadaan umum
Baik atau lemah, tampak kesakitan atau tidak, kesadarnnya bagaimana, badannya kurus
atau gemuk, berapa tekanan darahnya, respirasinya, suhunya, tinggi badan, berat

badannya apakah normal atau tidak, hal ini untuk mengetahui adanya ketidaknormalan
keadaan umum yang dapat mempengaruhi kehamilan dan persalinan ibu.

Pemeriksaan fisik
Kepala : kulit kepala bersih atau tidak.
Muka : pucat atau tidak, skelera ikterik atau tidak, terdapat gerakan otot wajah
atau tidak.
Mata : apakah pucat atau tidak, konjungtiva anemis atau tidak, sclera ikterik
tidak, penglihatan baik atau tidak.
Hidung: bersih atau tidak, penciuman terganggu atau tidak, terdapat lendir atau
tidak, ada polip atau tidak.
Telinga :bersih atau tidak, pendengaran baik atau tidak, terdapat cairan atau tidak.
Mulut: bibir kering atau tidak, mulut bersih atau tidak, terdapat stomatitis atau
tidak.
Gigi: bersih atau tidak, terdapat caries atau tidak, gusi mudah berdarah atau tidak.
Leher: terdapat pembesaran kelenjar tyroid atau tidak.
Dada: bentuknya bagaimana, terdapat retraksi dinding dada tidak, pernafasan
teratur atau tidak, bunyi jantung bagaimana.
Payudara: terdapat benjolan atau tidak.
Perut: terdapat luka bekas operasi atau tidak, terdapat pembesaran atau nyeri
tekan atau tidak.
Vulva:dari faktor predisposisi ketuban pecah dini adalah infeksi pada genetalia.
Anus: terdapat hemoroid atau tidak.
Ekstremitas atas dan bawah: bentuk simetris atau tidak, terdapat kelainan
anatomi fisiologi tidak, kaki oedem tidak, varices atau tidak.

Pemeriksaan obstetric
Muka: terdapat kloasma gravidarum atau tidak, oedem atau tidak.
Payudara: bentuknya bagaimana, aerola menghitam atau tidak, papilla menonjol
atau tidak, kolostrum sudah menonjol atau belum.

Perut:
a) Inspeksi: bentuknya bagaimana, terdapat strie gravidarum atau tidak, ada linea atau tidak,
ada bekas operasi atau tidak.
b)

Palpasi:
Leopod I: tinggi fundus uteri berapa sesuai dengan umur kehamilan tidak, pada bagian
atas teraba bagian apa dan bagaimana.
Leopod II: bagian kanan perut ibu teraba apa dan bagaimana, kiri perut ibu teraba apa, ini

untuk menentukan posisi punggung janin.


Leopod III: bagian bawah perut ibu teraba apa, masih bisa digoyang atau tidak,ini untuk
menentukan presentasi bagain bawah janin dalam panggul ibu dan sudah masuk pintu
atas panggul belum.
Leopod IV: untuk mengetahui apakah bagian bawah janin sudah masuk pintu atas
panggul ( PAP ) belum dan seberapa masuknya.
c)

Auskultasi:
DIJ: DIJ perlu dikaji untuk mengetahui denyut jantung janin dalam keadaan normal atau
distrees. Dengan adanya insufisiensi plasenta maka janin mengalami hipoksia atau
kekurangan oksigen dan tekanan vena umbilicus. Hal ini disebut gawat janin. Pentingnya
DIJ adalah ada kaitanya dengan tindakan segera yaitu pengakhiran kehamilan.

d)

TBJ (taksiran berat janin)


Pada kehamilan serotinus pada umumnya ditemukan TBJ tidak sesuai dengan umur
kehamilan, ini dimungkinkan bayi menjadi besar atau makin kecil.

e)

TFU (tinggi fundus uteri)


TFU pada kehamilan serotinus perlu dijkaji untuk mengetahui apakah bertambah tinggi
atau malah mengalami penurunan. Jika mengalami penurunan dimungkinkan terjadi
pertumbuhan janin yang terlambat karena adannya insufisiensi plasenta.

f)

Gerakan janin
Ditanyakan apakah gerakan janin berkurang atau tidak, pada kehamilan serotinus
biasanya disertai dengan oligohidramnion sehingga gerakan janin terbatas.

g)

Pemeriksaan dalam
Untuk mengetahui bagaimana keadaan vagina, penipisan serviks, konsistensi serviks,
kulit ketuban, penurunan kepala, denominator dan apakah ada bagian yang menumbung.
Pemeriksaan dalam pada kehamilan serotinus penting dilakukan untuk mengetahui nilai
Bishop score sebagai syarat dilakukannya induksi persalinan dan tindakan selanjutnya.

h)

Pemeriksaan penunjang
Ultrasonografi ( USG )
ukuran diameter biparietal,gerakan janin dan air ketuban.
Pemeriksaan sitologik air ketuban

air ketuban diambil dengan amniosentesis baik transvaginal maupun transabdominal,air


ketuban akan bercampur lemak dari sel-sel kulit yang dilepas janin setelah kehamilan
mencapai lebih dari 36 minggu. Air ketuban yang di peroleh dipulas dengan sulfat biru
nil, maka sel-sel yang mengandung lemak akan berwarna jingga bila:
Melebihi 10% =kehamilan diatas 36 minggu
Melebihi 50% =kehamilan diatas 39 minggu
Amnioskopi
melihat derajat kekeruhan air ketuban ,menurut warna katena di keruhi oleh mekonium.
Kardiotokografi
mengawasi dan membaca denyut jantung janin,karena insufisiensi placenta
Uji oksitoksin (stress test)
yaitu dengan infuse tetes oksitoksin dan diawasi reaksi janin terhadap kontraksi
uterus.jika ternyata reaksi janin kurang baik,hal ini mungkin janin akan berbahaya dalam
kandungan.
Pemeriksaan sitologi vagina.
pemeriksaan sitologi vagina ( indeks kariopiknotik > 20% ) mempunyai sensitivitas 75%.
Langkah 2 : Interpretasi Data
a. Diagnosa Kebidanan
Ny. G P A, Umur Tahun Usia

Kehamilanminggu, janin

tunggal, hidup intra uteri, letak membujur, presentasi kepala, PUKA atau
PUKI, konvergen atau divergan dengan serotinus.
DS :

Ibu mengatakan khawatir dengan kehamilannya karena kehamilannya lewat


bulan dan belum ada tanda-tanda untuk melahirkan.

Ibu mengatakan ini adalah kehamilannya yang pertama

DO :

Keadaan umum ibu dan tanda vital sign (tekanan darah, nadi, suhu, respirasi).

Memeriksa Leopold untuk melihat TFU > 40 cm atau tidak dan DJJ

Memeriksa HPHT untuk mengetahui usia kehamilannya lewat bulan atau


tidak.

b. Masalah

Ibu merasa khawatir dengan kehamilannya karena kehamilannya sudah lewat


bulan tetapi belum juga ada tanda-tanda untuk melahirkan.

c. Kebutuhan Segera

Kebutuhan pada ibu hamil dengan serotinus meliputi : Akhiri segera


kehamilan dengan pematangan servik dengan persalinan pervaginam atau
apabila terjadi gawat janin dilakukan persalinan section caesaria.
Langkah 3 : Mengidentifikasi masalah / diagnosa potensial
Diagnosa potensial pada ibu hamil dengan serotinus yang dapat terjadi adalah
terjadinya gawat janin atau fetal distress.
Langkah 4 : Mengidentifikasi dan menetapkan kebutuhan yang memerlukan
penanganan segera
Dilakukan

kolaborasi dengan dokter

spesialis

obgyn

untuk

kemajuan

persalinan.

Langkah 5 : Perencanaan
Tanggal :
Jam

Beritahu ibu tentang hasil pemeriksaan yang telah dilakukan tentang keadaan
ibu dan janin.

Beritahu

ibu

untuk

melakukan

USG

kembali

untuk

memastikan

kesejahteraan janin.

Pantau keadaan janin.

Berikan konseling tentang istirahat yang cukup, tanda-tanda persalinan, dan


cara menghitung gerakan janin.

Beri support mental dan spiritual pada ibu.

Lakukan pengawasan 10

Kolaborasi dengan dokter obgyn.

Langkah 6 : Pelaksanaan
Tanggal :
Jam

Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan yang telah dilakukan tentang


keadaan ibu dan janin baik atau tidak.

Memberitahu ibu untuk melakukan USG kembali untuk melihat kesejahteraan


janin meliputi air ketubannya sedikit atau banyak, ada pengapuran plasenta
atau tidak

Memantau keadaan janin meliputi gerakan janin, DJJ

Memberikan konseling tentang istirahat yang cukup, tanda-tanda persalinan,


dan cara menghitung gerakan janin.

Memberikan support mental dan spiritual pada ibu.

Melakukan pengawasan 10 meliputi KU, TTV (tekanan darah, suhu, nadi,


respirasi), kontraksi kuat atau lemah, DJJ regular atau ireguler, PPV, Bandel
ring, tanda gejala kala II (adanya dorongan untuk meneran, tekanan pada
anus, perineum menonjol, vulva vagina membuka).

Melakukan kolaborasi dengan dokter obgyn.

Langkah 7 : Evaluasi
Tanggal :
Jam

Ibu sudah mengetahui tentang hasil pemeriksaan yang telah


dilakukan.

Ibu mau untuk melakukan USG kembali untuk melihat keadaan janin.

Ibu mengetahui bahwa keadaan janinnya baik.

Ibu sudah mengetahui semua penjelasan dokter

Agar ibu optimis dalam menghadapi masalah kehamilannya

Pengawasan 10 telah dilakukan.

Kolaborasi dokter obgyn telah dilakukan.

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Definisi standar untuk kehamilan dan persalinan lewat bulan
adalah 294 hari setelah hari pertama menstruasi terakhir, atau 280
hari setelah ovulasi. Istilah lewat bulan (postdate) digunakan karena
tidak menyatakan secara langsung pemahaman mengenai lama
kehamilan dan maturitas janin
Persalinan postterm menunjukkan kehamilan berlangsung
sampai 42 minggu (294 hari) atau lebih, dihitung dari hari pertama
haid terakhir menurut rumus Naegele dengan siklus haid rata-rata 28
hari
3.2 SARAN
Diharapkan semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca .
Kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi
perbaikan makalah kami selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
Rukiah ,liayulianti,2010,asuhan kebidanan 4 patologi ,Jakarta :trans info medika
Saifudin,abdul,2009,buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan
neonatal,Jakarta :PT bina pustaka sarwono prawiriharjo