Anda di halaman 1dari 71

METODE PELAKSANAAN

PEMBANGUNAN GEDUNG OPERASIONAL DITJEN PERHUBUNGAN UDARA


PT. CAHAYAMURNI ARTHA LANGGENG
DAFTAR ISI :
A. TINJAUAN UMUM
A1. Informasi proyek
A2. Lokasi Proyek (site plan)
A3. Lingkup Pekerjaan
B. METODE PELAKSANAAN
B1. URAIAN METODE PELAKSANAAN
B2. ANALISA KAPASITAS PRODUKSI
B3. KENDALI MUTU (RENCANA MANAJEMEN MUTU)
B4. METODE KESELAMATAN KERJA

A. TINJAUAN UMUM
A1. NFORMASI PROYEK
Nama Pekerjaan

: Pembangunan gedung operasional Ditjen Perhubungan Udara

Lokasi Pekerjaan

: KompleK Perhubungan udara


Jurumudi - Tanggerang

Pemilik Pekerjaan/Owner

: Kementrian Perhubungan
Direktorat Jendral Perhubungan Udara
Jalan Medan Merdeka barat No.8

Nilai HPS Paket

: Rp 1.497.000.000

Waktu Pelaksanaan

: 80 hari kalender

A2. LOKASI PROYEK

A3. LINGKUP PEKERJAAN


a. Pekerjaan Persiapan meliputi :
- Pagar proyek
- Sewa mess proyek
- Gudang matrial
- Pembongkaran bangunan existing
- Buang puing bekas bongkaran keluar lokasi
- Pemasangan Air kerja
b. Pekerjaan Struktur
- Pekerjaan Pondasi
- Pekerjaan Struktur Atas
- Pekerjaan Atap dan Penutupnya
c. Pekejaan Arsitektur
- Pekerjaan Dinding
- Pekerjaan Lantai
- Pekerjaan Gypsum dan ACP
- Pekerjaan Assesoris Arsitektur dan Mebeleir
- Pekerjaan Fasade Bangunan
- Pekerjaan Almunium kusen pintu dan jedela
- Pekerjaan Sanitair
d. Pekerjaan Mekanikal dan Elektrikal
- Pekerjaan Listrik
- Pekerjaan Plumbing
e. Pekerjaan Luar
- Pekerjaan Carport
f.

Pekerjaan Lain Lain


- Pemasangan daya PLN dari 1300watt

Tahapan pelaksanaan berdasarkan jenis pekerjaan untuk masing-masing item pekerjaan secara
umum ditampilkan didalam satu bagan alir (flowchart) diawal uraian pelaksanaan berikutnya.

B. METODE PELAKSANAAN
Pelaksanaan Pengadaan Barang/jasa Pekerjaan PEMBANGUNAN GEDUNG OPERASIONAL DITJEN
PERHUBUNGAN UDARA ini dibiayai dari sumber pendanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negar (APBN) Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Tahun Anggaran 2015. Adapun
pelaksanaan kegiatannya dilaksanakan melalui beberapa tahap/proses, yang nantinya akan
menunjuk satu badan usaha untuk melaksanakan pekerjaan tersebut, sesuai dengan Rencana
Kerja yang telah ditetapkan.
Tugas/sasaran utama dalam pelaksanaan konstruksi ini adalah mencapai sasaran yang diinginkan,
yakni mencakup :
1. Tercapainya Kualitas Pekerjaan, dimana hasil pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan
kualitas teknik yang diinginkan.
2. Fungsi Bangunan yang Optimal, dalam hal ini bangunan konstruksi yang dibuat sesuai
dengan dimensi yang direncanakan dan dapat berfungsi sebagaimana yang diharapkan.
3. Pengendalian Ketepatan Waktu Pelaksanaan, dimana pelaksanaan pekerjaan sesuai
dengan jadwal kontrak yang telah ditetapkan.
4. Pengendalian Biaya Pekerjaan, biaya pekerjaan sesuai dengan kuantitas dan kualitas
bangunan yang dibuat dan secara keseluruhan tidak melampauai dana yang telah
disediakan.
5. Ketepatan Cara Pelaksanaan, dilakukan dengan cara yang tepat.
6. Terjaminnya Keselamatan Kerja, dapat terjaga dengan baik.
7. Hasil Akhir Pelaksanaan, diselesaikan dengan rapih.
8. Diterima Lingkungan, tidak mengganggu lingkungan.

Dibawah ini tampilam flowchart untuk pekerjaan:


1. General flow chart keseluruhan proyek

I. DIAGRAM ALIR PEKERJAAN UTAMA


Secara diagramatis tahapan pekerjaan dapat dilihat pada diagram alir pekerjaan berikut.Contoh
beberapa bagan alir dalam pekerjaan utama
a) Bagan Alir I Pekerjaan Struktur
b) Bagan ALir II Pekerjaan Pas.dinding dan Plafond
c) Bagan Alir III Pekerjaan Pas.Keramik
Bagan Alir I Pekerjaan Struktur

Persiapan Proyek

Pembuatan Direksi kit Proyek

Leveling dan pengukuran

Tidak

cek
Ya

penggalian struktur pondasi,tiebeam


Ya
tidak

cek

penggalian struktur pondasi,tiebeam


ya
tidak

cek

Pabrikasi bekisting

Pabrikasi besi beton

ya
tidak

tidak

cek
ya
pengecoran

cek
ya
Leveling dan pengukuran kolom
balok plat lantai
tidak
cek
ya
Pabrikasi bekisting

tidak

Pabrikasi besi beton

cek
ya

pengecoran

selesai

tidak

Bagan Alir II Pekerjaan Dinding dan Plafond

Persiapan Proyek

pekerjaan plafond

Pekerjaan dinding

cek

ya
pekerjaan plafond

pasangan bata

ya
tidak

ya

Pasang gypsum board

pasangan bata

ya
tidak

tidak

cek

cek

ya
tidak

cek

cek

Finishing gypsum

Plester dan aci


ya

ya

tidak

Tidak

tidak
cek

cek

Wall sealer

Pengecatan

ya
cek

cek

Finish Cat

tidak

selesai

ya
tidak

cek

selesai

Bagan Alir III Pekerjaan Pasangan Keramik


Pekerjaan pesiapan

Pekerjaan cor plat lantai sudah selsai

Pekerjaan pas.bata sudah selasi

cek

ya
Pek spasi adukan keramik

Plester dinding
ya
tidak

ya

Pas.keramik lantai

Pas.keramik dinding
ya
tidak

tidak

cek

cek

ya
tidak

cek

cek

Pek.nat keramik

pek.nat keramik

ya

ya

tidak

tidak
cek

cek

Pembersihan

ya
tidak

cek

selesai

URAIAN SINGKAT METODE PELAKSANAAN UNTUK PEKERJAAN PERSIAPAN


PEKERJAAN PERSIAPAN
Pekerjaan persiapan merupakan langkah awal keberhasilan suatu proyek, dalam tahap persiapan
sangat berpengaruh langsung pada pelaksanaan proyek selanjutnya dikarenakan dalam proses
persiapan ini menunjukan kesiapan dan kemampuan suatu perusahaan dalam pengelolaan
proyek. Tahapan persiapan terbagi menjadi 3 bagian utama meliputi hal hal dibawah ini.
Land Surveyor (pengukuran & Pemetaan)
Pengukuran site, pematokan, setting out as bangunan, posisi bangunan dan garis batas bangunan.
Sebagai level referensi, patok yang ada di lapangan digunakan sebagai referensi. Patok permanen
dibuat dari beton, dan diikat serta ditandai dengan teliti, dan dijaga sampai akhir pelaksanaan
pekerjaan pembangunan. Titik referensi ini merupakan referensi semua pengukuran level
bangunan dan site. Pengukuran titik dan level lainnya dikerjakan secara teliti menggunakan alat
water-level dan theodolite yang telah dikalibrasi. Kontraktor harus memberitahu kepada
Pengawas secara tertulis setiap ketidaksesuaian antara gambar dan kondisi site dan jika menemui
keraguan atas patok referensi. Kontraktor bertanggung-jawab atas semua hasil pengukuran.
Pengawasan yang dilakukan oleh Pengawas resmi tidak melepaskan tanggung jawab Kontraktor.
Proteksi sementara pada batas lahan, struktur, patok dan tugu pengukuran. Pembersihan
lapangan dan grubbing sebelum pelaksanaan pekerjaan. Selama pekerjaan, Kontraktor harus
memelihara kebersihan site dan mengatur penimbunan tanah, bahan, alat, untuk memungkinkan
kelancaran

pelaksanaan

pekerjaan.

Setelah

pelaksanaan

pekerjaan,

Kontraktor

harus

membersihkan site dari sisa material dan melakukan demobilisasi peralatan dari site proyek.
Pekerjaan pembersihan harus disetujui Pengawas sebelum penyerahan pekerjaan.

Pengadaan dan mobilisasi.


Tahap awal untuk proyek dapat terlaksana tentunya elemen-elemen pelaksanaan harus diadakan
dan siap untuk bekerja. Tahapan ini termasuk dengan serah terima lapangan dengan pemilik
pekerjaan, perijinan dan mobilisasi sumber daya. Di tahapan ini jadwal mobilisasi sudah harus fix
dan menjadi pegangan pelaksana proyek.
Akses mobilisasi material yang dibutuhkan perlu strategi jelas dan keputusan yang tepat, dalam
pelaksanaan ini yaitu mengingat kondisi waktu yang sangat terbatas, hal ini perlu perhatian yang
serius kapan harus mulai ditentukan mobilitasnya sehingga tiba di site sesuai dengan jadwal yang
telah direncanakan.
Aspek tahapan ini sangat berpengaruh terhadap kesinambungan pekerjaan kedepannya karena
menunjukan kesiapan dari semua unsur yang terkait seperti Owner, Konsultan Pengawas dan
Kontraktor.
Daftar Personil Inti yang akan dimobilisasi pada tahap awal pekerjaan terdiri dari :
1. Site manager
2. Struktur Engineer
3. Pelaksana
4. Mandor Mekanikal Elektrikal
5. Drafter
Personil pendukung akan dimobilisasi pada tahap berikutnya sesuai dengan kebutuhan terdiri
dari :
1. Mandor
2. Kepala Tukang
3. Tukang Gali
4. Tukang Batu
5. Tukang Besi
6. Tukang kayu
7. Pembantu Tukang

Project Site Plan &Fasilitas penunjang operasional


Fasilitas yang akan diadakan sebagai sarana penunjang operasional akan mencakup pada hal
dibawah ini :
1. Fasilitas akomodasi bagi pelaksana proyek dan tenaga supaya tercapai efisiensi
dari segi waktu perlu dibuatkan sarana pemondokan atau barak. Perhitungan
dengan kuantitas yang akan berlangsung di lokasi pekerjaan diperlukan barak
pekerja dengan ukuran minimum 4 m x 10 m untuk kapasitas maksimum 25
personil/tenaga. Sementara untuk key personnel disediakan sarana akomodasi
sekitar lokasi.
2. Direksi Keet sebagai kantor lapangan diperlukan untuk pengawasan dan site
office dan meeting koordinasi yang rutin setiap minggu ataupun setiap bulannya.
Direksi keet diperlukan dengan luasan minimum 3 m x 4 m ditunjang dengan
sarana kursi dan meja dan buku tamu sebagai korespendensi di lapangan dalam
menunjang kegiatan sehari-hari.Foto dibawah ini ada contoh untuk direksi kit

Contoh Foto DIreksi Keet

3. Fasilitas penyimpanan material dan workshop adalah penunjang proyek untuk


mengamankan peralatan kerja dari cuaca maka workshop minimum keperluan
gudang sekitar 18 M2 dengan lahan untuk material curah ditempatkan sekitar
bangunan yang tidak mengganggu akses mobilitas itu sendiri selain itu gudang/
workshop harus dibuat sedemikian rupa tidak terganggu oleh cuaca dan aman
terhadap bahaya-bahaya lainnya yang akan terjadi. Persiapan terpal harus
terencana mengingat akan memasuki musim penghujan nantinya.
4. Sarana Air bersih dan drainase serta penerangan kerja diperlukan untuk
mengantisipasi pekerjaan malam bila diperlukan dan penerangan keseharian yang
diperlukan.
5. Keamanan sangat diperlukan mengingat lahan yang luas dan terbuka akan
memudahkan hal-hal yang tidak terduga bisa terjadi. Perlunya koordinasi dengan
pihak berwenang dan warga setempat sangat dibutuhkan
6. Administrasi dan dokumentasi sebagai bahan pelaporan harian mingguan dan
bulanan.
Pekerjaan Pembersihan Lahan
Pembersihan lahan tidak semata-mata menghilangkan ganguan-gangguan fisik areal seperti akar
pohon atau batu-batu besar atau bangunan lama saja tetapi lebih mendalam lagi adalah tanah jelek
(humus)/ gambut.Secara teknis tanah jelek/gambut harus dibuang keluar karena akan
mempengaruhi daya dukung tanah untuk pondasi. Maka perlu penanganan khusus dalam
pembersihan area bangunan yaitu dengan membuang tanah yang jelek sampai kedalaman 10 - 15
cm.
Pembersihan area site tidak terjadi hanya di awal pekerjaan saja tetapi secara berkala dan menjadi
kegiatan rutinitas proyek itu sendiri Perlunya penataan lokasi untuk tempat pembuangan
sementara baik puing atau sampah sangat diperlukan dimana rutinitas atau kegiatan proyek tidak
terganggu oleh penumpukan-penumpukan yang tidak beraturan . Selain dari pekerjaan
pemancangan minipile yang akan ilakasnaka berurutan (alat pancang yang digunakan 1 set )
semua pekerjaan untuk masing masing bangunan dikerjakan serentak.

Pagar Proyek
Tahapan untuk melakukan pekerjaan Pagar sementara adalah Menyiapkan peralatan berupa
material item diatas sesuai dengan spesifikasi pekerjaan yang telah ditentukan. Menyiapkan titik
galian untuk berdirinya tiang/rangka pagar.Membuat pondasi sesuai spek pekerjaan yang telah
ditentukan untuk dasar berdirinya tiang rangka pagar. Pemasangan seng gelombang pada rangka
yang telah disiapkan.Finishing cat pagar dengancat besi dengan cat kayu jika dikehendaki oleh
pihak Pengawas bahwa pagar harus dicat atau jika ditetapkan dalam spesifikasi khusus.

Contoh Foto Pagar Proyek


B1. METODE PELAKASANAAN PEMBANGUNAN GEDUNG OPERASIONAL BASECAMP
RAWABOKOR
Pekerjaan bangunan gedung ekadiyasa meluputi :
B1.1 PEKERJAAN STRUKTUR
B1.1.1 MOBILISASI DAN DEMOBILISASI ALAT
Untuk mobilisasi alat,khususnya untuk alat pancang seperti HSPD 50 ton dan borepile
menggunaka jenis angkutan trailer,dengan tipe trailer disesuaikan berdasar jumlah kebutuhan
alat yang mau diangkut. Begitu juga Demobilsasi alat,memperhitungkan jumlah alat yang mau
diangkut serta kondisi jalan dan traffic lalu lintas dilokasi proyek

B1.1.2 Pekerjaan Galian


Pekerjaan galian sebagian besar dilakukan dalam tapak bangunan. Pekerjaan Galian terdiri dari
berbagai macam ukuran baik lebar, panjang ataupun kedalaman. Pondasi yang digunakan dalam
proyek ini adalah pondasi batu kali dan sloop, serta dibeberapa bangunan dengan kombinasi
pondasi setempat.
Penggalian pondasi tapak dan batu kali dan rolaag bata menggunakan tenaga manusia karena
setelah galian pekerjaan utama dilanjutkan secara parallel bersamaan dengan pekerjaan pondasi.
1.1 Urugan tanah
Pekerjaan Urugan ini pekerjaan menunggu setelah pekerjaan pondasi keseluruhan selesai
dikerjakan. Urugan tanah dibagi menjadi 2 bagian yaitu :
Urugan kembali tanah galian :
Yaitu pekerjaan yang menggunakan material tanah bekas galian untuk mengisi sisi Prosedur
dalam mengurug kembali tanah galian ke dalam pondasi harus mendapatkan persetujuan dari
direksi lapangan. Sisi pondasi yang akan diurug harus sudah bebas dari kotoran puing-puing atau
kayu serta bekisting yang masih menempel pada pondasi tersebut. Hal ini untuk menghindarkan
keroposnya tanah urug yang menyebabkan daya dukung tanah akan menurun.
Urugan Tanah di bawah Lantai
Yaitu pekerjaan yang menggunakan material sisa tanah bila sisi-sisi pondasi telah terisi semua
maka sisa tanah yang ada disebar diseluruh area dalam bangunan. Tujuan pengurugan ini adalah
untuk mendapatkan titik 0 bangunan sesuai di dalam gambar bestek atau arahan dari direksi
lapangan. Bila tanah yang ada tidak mencukupi maka perlu didatangkan tanah baru atas
persetujuan pemilik dan rekomendasi dari direksi lapangan.
1.2 Pemadatan
Pemadatan adalah proses yang bersamaan dengan proses timbunan pemadatan yang digunakan
dalam proyek ini menggunakan mesin stamper dimana fungsi mesin ini untuk memadatkan tanah .
Pola pelaksanaan mengacu kepada standar teknik di Indonesia yaitu pemadatan dilakukan secara
berlapis dimana setiap lapis mempunyai ketinggian 25 cm dan selama dalam pemadatan tanah
perlu disiram dengan air supaya pori-pori tanah terisi dan monolit secara struktur tanah atau
mencapai kepadatan titik jenuh air. Secara visual kepadatan tanah bisa diperhatikan bila air sudah
tidak bisa meresap lagi dan tanah tidak lengket di mesin pemadat maka tanah tersebut sudah
padat.
Bila direksi lapangan masih ragu akan kualitas maka perlu pengetesan pihak ke-3 atau
laboratorium dengan metode sand cone tes. Yang hal ini sudah mejadi kewajiban pelaksana
proyek dalam menajamin mutu yang dikerjakan.
Perlu diperhatikan pemakaian alat dalam pemadatan mesin stamper hanya digunakan dalam
pemadatan skala kecil seperti disela-sela Pondasi. Kemampuan alat dalam memadatkan tanah
sangat tergantung dari kemampuan dalam urugan yang menggunakan tenaga manusia.

B1.1.3 Pekerjaan Pondasi / Under Structure


Pengukuran &
Pemasangan
Bowplank
Cek

Perbaikan

Y
Galian Tanah

Pemadatan Tanah

Urugan Pasir

Lantai Kerja

Begisting

Pembesian

Cek

Perbaikan

Y
Pengecoran

Pada Pembangunan Proyek ini Pekerjaan Pondasi atau Under Structure dibagi menjadi tiga bagian
besar :
a. Pondasi Tapak Beton Bertulang
b. Pondasi Type Batu Kali
c. Sloof
Dalam mengerjakan pondasi ini sistem pelaksanaan/ urutan pekerjaan sama dimana urutan
pekerjaan terdiri dari
1.

Pasir Urug/ Beton Cor Lantai Kerja

Pasir urug/ Beton Cor Lantai Kerja berfungsi sebagai penahan supaya beton tidak langsung
menyentuh tanah yang dalam pelaksanaan seringkali saat fabrikasi besi beton bersinggungan
dengan tanah sehingga karakteristik besi beton dan monolitnya antara beton dan besi bisa
terganggu, fungsi pasir urug bisa digantikan oleh beberapa material lainnya seperti Lean Concrete,
Plastik Sheet.
2.

Pekerjaan Pondasi

Pekerjaan pondasi dalam pekerjaan ini menjadi pekerjaan utama dimana pondasi dibagi menjadi

a)

Pondasi Tapak

Pondasi yang berfungsi sebagai penerus gaya-gaya atau beban dari kolom yang akan diteruskan ke
tapak pondasi tiang yang selanjutnya oleh tapak disebarkan ke seluruh tanah. Pondasi ini dipakai
dalam proyek ini adalah hanya pada bangunan gedung Aula dimana betonnya sesuai dengan RKS
K-300.
Kritikal poin dalam pelaksanaan perlu ketelitian dalam pengawasan karena pekerjaan ini
menentukan keberhasilan sebuah konstruksi bangunan dimana seluruh gaya-gaya berpusat di
titik poer ini bila dikerjakan asal dan tidak ada perhitungan maka tidak menutup kemungkinan

konstruksi bangunan akan menjadi lemah atau tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Lebih
fatal lagi adalah gagalnya sebuah konstruksi akibat kelalaian dalam pelaksanaan.
Perlunya pemahaman para pelaksana proyek dalam struktur diperlukan sekali, koordinasi dengan
konsultan perencana untuk mencari solusi teknis yang baik mengingat dari segi waktu dan cost,
sehingga efektifitas konstruksi tercapai.
Dalam pelaksanaan pondasi ini terdiri dari :

Formwork/Bekisting

Beton K-300

Contoh pekerjaan Pondasi tapak

Formwork/bekisting menggunakan papan atau multiplek dan kayu 5/7 berasal dari jenis kayu
klas III, bekisting yang dipasang harus kuat dan kokoh tidak boleh goyang atau lepas.
Untuk pelaksanaan beton menggunakan pengaduk beton Batch Mixer atau Portable Continius
Mixer dikarenakan mutu K-300 adalah beton mutu sedang yang bisa dihasilkan oleh alat yang
berkapasitas standard. Campuran beton dengan perbandingan 1 Pc : 2 Ps : 3 Kr dalam pelaksanaan
dan pengujian beton sesuai bestek dimana setiap benda uji harus ditulis tanggal dan posisi
pekerjaan.
b)

Pondasi Batu Kali

Pondasi batu kali adalah pondasi yang berfungsi menerima beban merata dan menyebarkannya ke
dalam tanah.
Didalam pelaksanaan proyek ini beban merata yang diterima oleh pondasi batu kali berasal dari
beban-beban dinding ataupun lantai. Pondasi batu kali tidak diperuntukan menerima beban
terpusat dari struktur karena pondasi ini tidak bisa menerima gaya lateral.
Pondasi Batu Kali berasal dari batu kali lokal yang dikombinasi dengan adukan pasir semen
dengan komposisi 1 : 5.
Bentuk penampang melintang dari pondasi ini berbentuk trapezium, dengan ukuran yang varian
baik lebar bawah ataupun lebar atas serta ketinggian disesuaikan dengan kebutuhan dilapangan.
Bagian atas diratakan dengan adukan semen yang berfungsi leveling untuk pemasangan sloof di
atasnya.
Yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan batu kali adalah :
1. Sisi-sisi batu tajam tidak bulat, pertemuan antara batu dengan batu harus diisi
dengan spesi.
2. Pemasangan Stek pengikat Batu kali dengan Sloof yang dipasang setiap jarak 1 m
memakai besi beton 10 mm atau 12 mm dengan panjang 40 D.

c)

Sloof

Sloof beton bertulang adalah struktur yang berfungsi sebagi penyebar/pembagi beban merata
yang diteruskan ke pondasi. Selain berfungsi sebagai penyebar/pembagi beban di atasnya juga
sebagai pengaku antara kolom dengan kolom atau sebagai rigid frame.
Sloof biasanya berpenampang segi empat dan berada diantara permukaan tanah tergantung dari
perencana menempatkan sloof sebagai rigid frame atau flexible frame.
Di dalam pelaksanaan pekerjaan sloof untuk memudahkan di pelaksanaan di lapangan pekerjaan
dilaksanakan setelah sebagian tanah urug dikerjakan dan simultan dengan pekerjaan pondasi.

Pelaksanaan Pekerjaan Sloof dilaksanakan setelah 60% - 100% dari pekerjaan Pondasi baik plat
atau pun batu kali selesai. Sebelum melaksanakan pekerjaan sloof,terlebih dahulu melaksanakan
pekerjaan sebagai berikut dibawah ini :
- Pekerjaan Urugan pasir : pekerjaan ini menggunakan pasir urug, penuangan
pasir kedalam galian pilecap dengan cara konvensional. Ketebalan urugan pasir
untuk pilecap 10cm
- Pekerjaan lantai kerja : Fungsi lantai kerja pada proyek ini sebagai leveling
pembesian. Lantai kerja menggunakan campuran pasir pasang dan semen
dengan komposisi 1:3,perataan lantai kerja dikerjakan secara konvensional.
- Pekerjaan bekisting : Bekisting yang digunakan menggunakan pasangan batako
yang disesuaikan dengan ukuran pilecap,menggunakan batako dikarenakan
efisiensi dari waktu dan tidak ada pekerjaan pembongkaran setelah
pengecoran,bekisting batako bisa langsung di urug tanah.

- Pekerjaan Pembesian : Seblum melakukan pabrikasi besi, kontraktor terlebih


dahulu membuat barbending besi untuk minta persetujuan direksi proyek dan
MK, setelah mendapat asistensi shopdrawing pembesian baru bisa diterbitkan
dan bisa dilaksanakan pabrikasi dilapangan. Besi yang digunakan dalam proyek
ini untuk pilecap masih dibawah diameter 29 mm,maka cara pabrikasi
menggunakan 2 jenis alat bantu yaitu barbending dan barcarter. Masing masing
alat banyak nya 1 unit,penambahan alat akan diperhitungkan sesuai dengan
kebutuhan proyek pada nantinya.Pabrikasi besi dilakukan didalam area
proyek,hal ini dilakukan untuk memudahkan langsir. Perkitan besi dengan cara
konvensionnal,pengaku antara besi diikat dengan menggunakan kawat bendrat.

Contoh pabrikasi pembesian


- Pekerjaan Pengecoran : Untuk memenuhi kebutuhan volume yang cukup besar
maka akan dipakai beton Ready Mix yang diproduksi dari Batching Plant dengan
lokasi yang memadai dalam waktu pengiriman. Schedul dan pengaturan secara
detail akan diberikan pada saat konstruksi. Untuk menjaga mutu beton akan

dilakukan Mix Design dan Trial Test (Test Kubus). Transportasi beton ke proyek
dipakai Mixer kapasitas 5 6 m3. Pengecoran dapat dilakukan dengan Pompa
Beton maupun talang cor.. Pemutusan pengecoran akan memperhatikan PBI 71
yang berlaku maupun yang disebutkan pada spesifikasi.
Berdasarkan pengalaman akan ada beberapa kendala yang dihadapi saat pekerjaan sloof yaitu :
1. Pertemuan antara kolom dan sloof perlu diperhatikan join dan penulangannya
sesuai dengan gambar atau atas arahan direksi lapangan.
2. Stek kolom praktis perlu dipersiapkan sebelum pelaksanaan perlunya pemahaman
terhadap pelaksanaan sehingga stek kolom praktis pada posisi yang tepat.

B1.1.4 Pekerjaan Upper Sturcture


Pembesian Kolom

Cek

Perbaikan

Y
Begisting Kolom

Pengecoran
Kolom
Perancah
Begisting Balok
dan Plat
Pembesian Balok
dan Plat
Cek

Perbaikan

Pengecoran
Curring

Pekerjaan upper structure / Struktur bagian atas adalah pekerjaan struktur yang terdiri dari
kesatuan utuh rangka bangunan. Rangka bangunan atau sering disebut frame terdiri dari kolom ,
balok dan plat daak.
Mekanisme kerja Frame/ Rangka Struktur adalah Beban yang langsung memikul beban-beban di
atasnya (beban mati atau beban hidup) akan diteruskan ke balok menjadi beban merata. Bila
Balok Anak yang menerima beban maka beban ini akan diteruskan ke balok induk menjadi beban
terpusat, sehingga balok utama memikul beban merata dan beban terpusat yang selanjutnya
diteruskan ke Kolom menjadi beban axial.
Kolom selain menerima beban axial juga menahan beban lateral yang di Indonesia diperhitungkan
adalah beban gempa.
Dalam proyek ini rangka bangunan yang dikerjakan memakai beton bertulang dimana beton yang
digunakan memakai beton dengan mutu K-300 dan besi beton/reinforce bar memakai besi ulir.
Dalam pelaksanaan pekerjaan dilaksanakan dari bangunan bawah menuju bangunan atas.
Pekerjaan dilaksanakan tahap per tahap sampai mencapai yang diinginkan.
Pekerjaan ini dibagi dua bagian :
a. Struktur Utama
b. Struktur Penunjang

a.

Struktur Utama

Yang termasuk dalam struktur utama dalam proyek ini :


1.

Kolom Utama

Kolom merupakan struktur yang menahan beban axial dan lateral sangat diperlukan sekali
ketelitian dan presisinya.
Bekisting kolom memakai Multiplek 12 mm supaya dihasilkan presisi dan kehalusan permukaan
kolom terjaga, karena sebagian besar akan terekspos baik dari segi struktur dan arsitektur kolom
akan tercapai maksud dan tujuannya.
Sifat kolom yang rumit didalam struktur perlu diperhatikan adalah proses fabrikasi mulai dari
bekisting pembesian dan pengecoran balok.
Bekisting harus kuat dan kokoh, pengecekan vertikal dalam pelaksanaan pemasangan bekisting
perlu dilaksanakan dari dua arah, untuk menghindarkan terjadinya puntiran.
Didalam pembesian yang perlu diperhatikan adalah sambungan dan tekukan tidak kurang dari 40
dikali diameter besi tulangan.
Tipe sambungan bisa di bengkokan ke arah balok atau bisa juga di bengkokan ke arah plat lantai.
Besi tidak boleh menempel pada bekisting atau selimut beton minimal 2.5 cm.
Pengecoran kolom memakai ready mix/ atau persetujuan khusus bila digunakan cor manual
mengingat kondisi daerah setempat, dengan mutu beton K-300.
K-300 mempunyai arti bahwa beton tersebut mampu menahan beban bk 300 kg/ cm2 setelah
berumur 28 hari. Yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan bila memakai system manual perlu
diperhatikan job mix secara kasat mata memang semen diperbanyak, tetapi selain semen sebagai
pembentukan kualitas beton juga campuran air perlu diperhatikan, karena volume air yang
berlebihan dalam pelaksanaan dapat beresiko menurunkan kuat tekan beton, bleeding, shrinkage.
Pengecoran kolom perlu diperhatikan adalah pemberhentian/ stop cor, stop cor dilaksanakan di
tinggi kolom. Hal ini menjaga stabilitas dalam pekerjaan dimana momen kolom pada ketinggian
h ini adalah 0. Sambungan beton lama dan beton baru perlu memakai cairan semen atau bahan
lainnya/calbon yang telah direkomendasikan oleh direksi lapangan.
Pembukaan bekisting perlu ketelitian supaya bisa digunakan untuk pekerjaan berikutnya dan bila
terjadi beton keropos segera ditutup dengan plaster 1:2 dengan sebelumnya diberi perekat semen
atau atas arahan dari direksi lapangan.

Contoh Pekerjaan Kolom dan Bekisting Kolom


2.

Balok Utama / Ring Balok / Plat Daak

Balok Utama Struktur atau selanjutnya disebut Balok terdiri dari berbagai macam ukuran. Top of
Beam atau sisi atas balok mengikuti ketinggian plat daak.
Didalam pelaksanan seorang pelaksana harus cakap dan memahami system penulangan karena
mempunyai tulangan tumpuan dan tulangan lapangan.
Tulangan tumpuan mempunyai ciri-ciri :
-

Terletak di bentang buhul

Tulangan bagian atas biasanya lebih banyak

Begel / Besi sengkang semakin rapat

Tulangan lapangan mempunyai ciri-ciri :


-

Terletak di bentang bagian tengah

Tulangan bagian bawah biasanya lebih banyak

Begel / Besi sengkang lebih lebar dibandingkan dengan tul tumpuan

Contoh Foto pekerjaan pengecoran area plat dak

Perancah

Dalam pekerjaan balok dan plat daak perlu perancah atau tiang sokong untuk mendapatkan
elevasi yang sesuai. Tiang perancah yang digunakan adalah scafolding, sehingga tidak menyulitkan
dalam pelaksanaan.

Contoh Pekerjaan Perancah

Formwork atau Bekisting

Bekisting plat dan Balok diusahakan terbuat dari Playwood 9 mm dan didalam pelaksanaan bisa
dipakai untuk pembuatan plat lantai berikutnya, maksimal pemakaian adalah 2 x pemakaian.
Saat pembuatan Plat Bekisting yang perlu diperhatikan adalah elevasi bagian bawah plat dan
balok. dan lubang jendela di balok perlu dibuatkan atas arahan dreksi supaya memudahkan saat
pembersihan untuk pelaksanaan pengecoran.
Selain itu perlu diperhatikan dan didiskusikan dengan direksi lapangan titik-titik dimana akan
dipasang conduit / Sparing baik elektrikal ataupun plumbing, sehingga tidak terjadi pembobokan
setelah dicor karena akan mengganggu stabilitas daya dukung beton.

Contoh pekerjaan Formwork

Pembesian

Dalam pelaksanaan pembesian yang perlu diperhatikan karena akan sangat banyaknya ukuran
dan jenis besi, maka jara-jarak menjadi titik acuan.
Pembesian balok bagian bawah tidak boleh menyentuh bekisting dimana selimut beton minimal
2.5 cm perlu beton decking. Besi yang digunakan adalah besi ulir, Setiap pengiriman perlu
dilampirkan mill certificate sebagai control pertama bahwa material yang terkirim sesuai dengan
bestek.

Pengecoran

Pengecoran menggunakan mixer concrete K-300 dan dibantu dengan alat bantu untuk
menjangkau area yang jauh seperti kereta sorong / angklung.

Kontrol

Curring Beton atau penyiraman beton perlu dilakukan selama 7 hari berturut-turut pagi dan sore
untuk menjaga kelembaban beton supaya tidk ekstrim dalam penyusutan yang menyebabkan
retak rambut ataupun kebocoran-kebocoran lainnya khusus untuk plat dak atap perlu dilakukan
perendaman untuk mengantisipasi kebocoran beton. Bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan
akan dikonsultasikan dengan direksi lapangan untuk mendapatkan arahan yang efektif dan efisien.
Pembongkaran bekisting dilakukan bertahap setelah 2 hari bekisting-bekisting vertical bisa di
copot, setelah 7 hari perancah sebagian bisa dibuka kecuali perancah yang menahan beban
langsung / di atas balok, setelah 14 hari dimana kekuatan beton telah mencapai 75% perancah
bisa dibuka kecuali area di bawah balok utama / memikul beban utama. Umur 21 hari baru
keseluruhan bisa di buka.
3.

Struktur / Rangka Atap + Penutup


Pengukuran &
Leveling
Pemasangan
Angkur

Fabrikasi Gording
dan Reng

Fabrikasi Rafter

Erection Rafter

Erection Gording
dan Reng
Cek

Penutup Atap

Perbaikan

Contoh Pabrikasi dan Pemasangan Baja ringan

Struktur Rangka Atap menggunakan Struktur baja ringan dengan penutup atap genteng onduline
yang mempunyai ketahanan dan fleksibilitas cukup tinggi khususnya di daerah yang mempunyai
intensitas gempa seperti Indonesia dan beban yang sangat ringan dibandingkan dengan struktur
baja biasanya.
Pelaksanaan dalam proyek ini kontraktor mengajukan produk yang akan digunakan sesuai dengan
data teknis yang ada dalam bestek. Setelah mendapat persetujuan dari direksi lapangan segera
dibuatkan shop drawing dan perhitungan teknis.
Pelaksanaan akan difabrikasi di site dan dirakit sesuai dengan ukuran dan standarisasi dari
pabrik.
Kontrol pelaksanaan dari metode pemotongan untuk mencegah karat yang terjadi bila digunakan
mesin potong, maka pemotongan manual dengan gunting sangat diajurkan dalam pelaksanaan ini.
Lainnya yang perlu diperhatikan adalah screw atau sambungan buhul harus sesuai jumlahnya
dengan yang ditunjukan dalam shop drawing / perhitungan teknis.
Leveling pemasangan gordeng perlu di cek supaya pemasangan atap tidak bergelombang.
Pemasangan penutup atap perlu diperhatikan adalah screw yang digunakan harus mempunyai
seal yang kenyal. Bila ada screw yang tidak ada seal/karet segera diganti karena hal ini akan
menyebabkan kebocoran di atap.
Material struktur rangka atap meliputi:
1. Properti mekanis baja (Steel Mechanical Properties):
- bajamututinggiG550
- tegangan lelehminimum(minimumyield strength) : 550Mpa
- Modulus Elastisitas : 2,1 x 105 MPa

- Modulus Geser : 8 x 104Mpa


2.Lapisanpelindungterhadapkorosi(protectiveCoating):meliputi lapis
alumunium (zincalume/Az)berikut dengan komposisi sebagai berikut:
- 55% alumunium (al)
- 53,5%seng (Zinc)
- 1,5%Silicon(Si)Ketebalan pelapisan: 50 gr/m2 (AZ 50)

pelindung

seng

dan

3. Profil Material:
- Rangkaatap:profil yang digunakan untuk angka atap adalah profillip-channel:
- C75.100 (tinggi profil 75 mm dan tebal dasar baja 1,00 mm), berat 1,29 kg/m2,
- C75.75 (tinggi profil 75 mm dan tebal dasar baja 0,75 mm), berat 0,97 kg/m2
- Reng (batten)menggunakan profil top hat (Uterbalik) denganTS. 41.055 (tinggi profil 41mmdan
tebal dasarbaja 0,55mm), berat 0,66 kg/m2
- Talang jurai dalam (valley gutter) adalah talang jurai dalam dengan ketebalan dasar baja 0,45
dan telah dibentuk menjadi talang lembah Persyaratan Konstruksi Sambungan baut menakik
sendiri

b.

Struktur Penunjang

Struktur penunjang pada proyek ini terdiri dari :


1. Kolom Praktis
2. Balok Praktis
3. Canopy
1.

Kolom Praktis

Pekerjaan Kolom dilaksanakan bersamaan dengan pekerjaan pasangan bata. Kolom praktis
dipasang setiap bidang bata mencapai 12 M2 dan disetiap pertemuan antara dinding dengan
dinding. Kolom praktis selain membantu dinding dari bahaya lateral juga berfungsi mencegah
retak suatu dinding berkepanjangan bila terjadi gempa. Pelaksanaannya memakai site mix
concrete dengan campuran 1 : 2 : 3
Yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan kolom praktis adalah tulangan dan selimut beton.
2.

Balok Praktis

Balok Praktisberfungsi menjaga beban vertical di atasnya bila terdapat lubang di dalam pekerjaan
dinding. Balok Praktisbiasanya di pasang di atas kusen baik pintu atau jendela.
Balok Praktismetode pelaksanaannya sama dengan kolom praktis
3.

Canopy

Canopy adalah plat beton yang menjorok keluar.


Perlunya pemahaman supervisor dalam metode pelaksanaan karena ketinggiannya yang beragam
perlu diperhatikan saat pembuatan bekisting yang efektif. Sistem penulangan dan bekisting di
dalam pelaksanaan perlu dibuatkan shop drawing dan atas persetujuan dari direksi lapangan
pekerjaan baru bisa dilaksanakan.

Pelaksanaan dan pengecoran sama dengan pengecoran dari plat lantai


Pelaksanaan Pekerjaan Pekerjaan Struktur Penunjang mengikuti pekerjaan pemasangan dinding
bata dan tenaga yang digunakan di lapangan adalah tukang batu yang berpengalaman.

B1.1.5 Pekerjaan Arsitektural


Leveling dan
Pengukuran

Fabrikasi Kusen &


Jendela

Pasangan Dinding
Bata

Pemasangan
Kusen & Jendela

Plesteran

Acian

Rangka Metal
Furring

Cat Dasar

Penutup Plafon

Cat Penutup

Pengecatan
Plafon

Pemasangan
Keramik

Pekerjaan Finishing Arsitektural adalah pekerjaan pekerjaan yang berkaitan dengan


kelengkapanan bangunan juga segi estetika yang perlu diperhatikan. Pekerjaan finishing
arsitektural dikerjakan setelah pekerjaan struktur selesai.
Yang termasuk pekerjaan arsitektural :

Pekerjaan Pasangan Dinding & Plasteran


Pekerjaan Lantai dan dinding Homegenius Tile
Pekerjaan Kusen Pintu dan Jendela + Penggantung
Pekerjaan Plafon ceilling
Pekerjaan Pengecatan

B1.2.1 Pekerjaan dinding dan plesteran


Pekerjaan dinding adalah salah satu pekerjaan finishing yang membeutuhkan
keahlian khusus, karna merupakan pekerjaan arsitektur yang dapat langsung dilihat
kecakapan hasil pekerjaannya. Dalam proyek pembangunan labolatorium pengujian
fasilitass perlengkapana jalan tahap III ini meliputi beberapa pekerjaan, yaitu :
- Pekerjaan pasangan Ringan : Dalam proyek ini pasangan bata yang digunakan
adalah pasangan batu dengan adukan 1 pc : 4 ps untuk semua pasangan
dinding. Penetapan campuran 1 : 2 atau 1 : 5 bisa dengan cara perbandingan
volume atau atas arahan dari direksi lapangan.Tahapan pertama adalah
penyiapan peralatan, peralatan disiapkan dan diatur sebagaimana dalam site

organisasi peralata, dengan jarak kira-kira 60 cm dari dinding yang akan


dibuat,kemudian dibuat Profil pada tiap sudut bangunan atau tempat-tempat
yang telah ditentukan. Profil dibuat dari kayu kaso yang telah diserut lurus,
berfungsi sebagai patokan ketegakan pasangan dinding, sehingga profil harus
benar-benar tegak/vertical. Profil diperkuat dengan kayu lain agar tetap
ditempatnya selama masa pelaksanaan pasangan.

Profil-profil diberi tanda setiap ketebalan data dan adukan /siar ( 7 cm),
pasangan bata dicek kelurusannya dengan waterpass. Biasanya digunakan
pensil untuk menandai profil-profil tersebut.

Bata direndam dulu sampai gelembung udara hilang (kira-kira 2-8 menit)
sebelum dipakai untuk mengurangi absorpsi

Ambil bata dan adukan pada saat yang bersamaan, kira-kira cukup untuk
pemasangan satu buah data

Adukan diratakan pada tempat untuk pemasangan bata tersebut, terutama


bagian depannya

Bata diletakan dengan cara seperti pesawat terbang yang mendarat (dari
belakang ke depan) sambil diujung depannya menggaruk/mendorong
adukan sehingga cukup untuk mengisi naad vertikalnya dan ada spesi yang
tertenkan keluar yang berarti naad vertikal berisi penuh. Pengisian naad
vertical dari atas setelah bata diletakkan tidak menjamin bahwa naas benarbenar terisi dan tidak ada rongga udara. Keruk tumpahan/ sisa adukan
dengan menggunakan sendok aduk

Penyesuaian posisi bata dilakukan dengan sedikit menggesernya kearah


depan belakang (tehe forward and backward movement laying technique)

Untuk pemasangan bata yang terakhir, bata tersebut diberi adukan terlebih
dahulu sehingga tidak perlu penggeseran maupun penambahan mortar

Pada tiap pertemuan pasangan dengan kolom diberi angker dengan jarak
antar angker 15 lapis pasangan

Angker-angker kusen (jika ada) dicor dengan beton pada pasangananya

Pemasangan batu-bata dihentikan pada ketinggian 1 mtr, untuk memberi


kesempatan

pasangan

tersebut

mongering,

sementara

itu

lakukan

penegcoran pada kolom praktis

Bersihkan pasangan bata dan rapihkan dengan memakai sendok adukan

Rapihkan semua siar-siar/naad-naad mendatar maupun tegak dengan besi


bulat atau kayu

Berikut dibawah ini gambaran pemasangan bata ringan

1.

2.

4.

3.

5.

8.

6.

9.

Kontrol :
Pemasangan bata untuk mendapatkan kelurusan horizontal diperlukan benang
sebagai acuannya dan tidak boleh melebihi dari 10 bata posisi benang acuan
harus dipindah dan seterusnya. Pemasangan bata dari bawah ke atas.
Sambungan bata bila tidak selesai dalam satu hari tidak boleh tegak lurus
tetapi membentuk sudut kemiringan 45.

- Pekerjaan plesteran dan aci : Pekerjaan plasteran merupakan pembungkus dari


pekerjaan bata. Ketebalan dalam plasteran perlu diperhatikan, terkadang ada
beberapa area bata yang cekung sehingga pemasangan menjadi tebal. Ketebalan
rata-rata 1,5 cm - 3 cm dengan adukan 1 pc : 2 ps untuk plasteran area KM/WC ,
1pc : 3ps untuk plasteran kolom, dan 1 pc : 5 ps untuk area lainnya. Sistem
pelaksanaan plasteran dari atas ke bawah dengan dibuat kepalaan untuk
mendapatkan kelurusan bidang yang akan diplaster. Sebelum diaplikasikan bata
terlebih dahulu disiran oleh air untuk mendapatkan kelembaban bata sehingga
plasteran akan menyatu baik dengan bata
Alat yang digunakan

Alat bantu tukang

Matrial yang digunakan

Pasir

Semen

Metode pelaksanaan

Basahi permukaan pasangan bata sampai basah dan merata

Pasang tarikan benang vertikal dan horisontal untuk caplakan kepalaan (Cek
tarikan benang)

Buat kepalaan vertikal jarak 1 m, biarkan sampai kepalaan mengeras min 1


hari (Cek kepalaan dan sparing ME)

Plester di antara kepalaan, lalu ratakan dan padat kan menggunakan jidar
alumunium mak. 3 m.

Perawatan Plester kasar dengan penyiraman selama min. 3 hari, sebelum


diacian

Setelah umur plesteran di lebih dari 1 minggu,dan kondisi plesteran tidak


lembab maka pekerjaan pengacian bisa dimulia

Pekerjaan pengacian tahapannya sama dengan pekerjaan plesteran

Kontrol :
Bila ditemukan ketebalan yang melebihi dari 3 cm pemasangan diperlukan kawat
ayam / kawat locket atau atas persetujuan dari konsultan pengawas. Sebelum
ditutup dengan plasteran pastikan pipa-pipa conduit atau pipa-pipa lainnya
telah terpasang, hal ini untuk menghindari pekerjaan bongkar pasang
sehingga hasil plasteran tidak memuaskan. Tenaga yang plaster perlu yang
mempunyai pengalaman dan teknis yang baik supaya menghindari dinding
bergelombang dan retak rambut.

B1.2.2 Pekerjaan lantai


Perlu diperhatikan dalam pemasangan keramik lantai 1 sebelum diaplikasi ada
lapisan beton rabat dengan campuran 1 : 2 : 3 dengan ketebalan 5 cm dan pasir urug
dengan ketebalan 20 cm dimana beton rabat berfungsi sebagai leveling pemasangan
keramik. Sebelum pelaksanaan kontraktor harus mengajukan warna atau berdasarkan
merk yang akan digunakan. Warna, merek dagang, type diusahakan yang ada di
pasaran supaya mudah dalam maintenance dikemudian hari. Yang dilaksanakan
dalam proyek ini kontraktor mengambil warna yang telah diarahkan dalam bestek.
Sebelum pelaksanaan kontraktor mengajukan gambar kerja atau shop drawing
dengan keadaan atau kondisi ruangan yang sebenarnya, hal ini dilakukan untuk
menentukan dan menyamakan persepsi starting point (kepala-an) keramik. Kemudian
dengan ditarik benang ditentukan posisi siku keramik terhadap siku bangunan.
Potongan keramik diusahakan bila terjadi bagian keramik, hal ini lebih
mengutamakan estetika. Pemasangan keramik di area KM/WC perlu diperhatikan titik
sanitasi tidak ada perubuhan, karena akan menimbulkan bongkar pasang kalau
pemasangan

sanitasi

instalasi

belum

selesai.

Pemasangan

tangga

perlu

dikonsultasikan kembali dengan pihak direksi lapangan karena sangat riskan banyak
sekali potongan yang nantinya mengurangi nilai estetika.

Nat keramik atau

sambungan diisi oleh pasta semen grout khusus keramik. Keramik yang dipasang
tidak boleh kopong / kosong bila terjadi hal itu kontraktor akan mengisi dengan pasta
semen dengan cara dipukul-pukul pasta cair mengisi pori-pori keramik yang kosong
atau konsultasi dengan pihak direksi lapangan untuk dicarikan solusi terbaik.
Berikut urutan cara pemasangan keramik :

Pasir di ayak untuk menghilangkan batu-batu kecil.

pasir di campur dengan semen dengan perbandingan 1:8 dan di tambahkan


dengan air secukupnya untuk bahan pengikat.

Kemudian setelah semua bahan itu tercampur dengan baik maka campuran
tersebut di taruh di ember untuk memudahkan pekerjaan.

Disetiap sudut tembok atau jalur pemasangan di beri tali agar pekerjaan
tersebut menjadi lurus dan rata air.

Bahan campuran yang sudah jadi tersebut di masukkan kedalam ember dan
dituangkan di purmukaan lantai yang akan di pasang keramik dengan
menggunakan cetok kira-kira dengan ketebalan sekitar 3cm dan di ratakan.

Kemudian keramik tersebut dipasang di atas campuran yang sudah diratakan


tadi.

Keramik tersebut di keto-ketok dengan menggunakan cetok secara perlahanlahan agar tidak ada udara di dalam pemasangan tersebut.

Disela-sela keramik ada nat selebar 4mm.

Pekerjaan tersebut dilakukan sampai selesai.

Setelah pekerjaan tersebut dirasa telah selasai maka bersihkanlah sisa-sisa


spesi yang berada di atas permukaan keramik.

Gambar dibawah menerangkan secara visual untuk pekerjaan pemasangan


keramik

B1.2.3 Pekerjaan pintu jendela kaca


Pekerjaaan pintu jendela kaca almunium : sebelum melakukan pabrikasi almunium,hal
yang pertama adalah disiapkan bahan bahan dahulu,meliputi : sealeant, semen mortar, almunium
yang sudah di pabrikasi sebelumnya,kaca yang sudah di pabrikasi sebelumnya, fisher,skrup, isolasi
plastic. Dan beberapa alat kerja yang diperlukan untuk pemasangan pintu jendela kaca meliputi :
obeng, bor tembok serta asesoris lainnya.
Berikut adalah urutan pelakasanaan pemasangan pintu kusen jendela dan kaca

Pada saat pemasangan dinding entah itu batu bata atau gypsum maka harus
kita persiapkan lobang kusen agar tidak perlu melakukan pembongkaran,
ukuran lobang disesuaikan dengan ukuran kusen ditambah 1 cm untuk
tempat sealent.

Lalu kita masukan kusen kedalam lobang, mengatur agar posisinya pas
dengan menggunakan alat beji, setelah posisi pas maka kita stel kelurusan
kusen dengan dinding, ketegakan dan kedataran sampai benar-benar bagus.

Kita buat lobang untuk tempat skrup pada dinding melalui lobang kusen
dengan menggunakan alat bor, kemudian kita masukan fischer kedalam
lobang bor yang telah kita buat. lalu kita ambil obeng untuk mengencangkan
fischer.

Kita siapkan daun pintu atau jendela yang sudah dirangkai penuh, misalnya
sudah terpasang kaca dengan sempurna.

Daun pintu atau jendela tersebut kita masukan ke lobang kusen, kemudian
kita pasang semua aksesorisnya seperti engsel, roda, rel, hendle, door closer
dan yang lainya.

Kemudian kita lakukan finishing tembok dengan menggunakan bahan


mortar/ semen dan sealent. pengisian dilakukan sampai tertutup semua
celah antara dinding dan kusen.

Selama proses pelaksanaan pembangunan berlangsung maka rawan terjadi


goresan atau benturan sehingga terjadi kerusakan kusen. oleh karena itu kita
buat pelindung dengan bahan isolaso plastik atau kertas.

Berikut dibawah adalah skematik untuk pekerjaan kusen almunium pintu


dan jendela

B1.2.4 Pekerjaan plafond


Pekerjaan Plafond biasanya terdiri dari 2 bagian yaitu pekerjaan rangka dan
plafond gypsum + finishing Didalam pekerjaan plafond

Pemasangan

seluruh instalasi elektrikal telah

terpasang. Langkah pekerjaan adalah penyusunan rangka metal furing sebagai struktur plafond
harus kuat dan leveling rata. tidak bergelombang. Kontrol sebelum papan gypsum dipasang
Supervisor akan mengecek level dan ketinggian dan semua intalasi telah terpasang dengan baik
baru akan ditutup papan gypsum yang selanjutnya akan difinish setiap sambungan memakai
compound . List plafond akan menyesuaikan kondisi lapangan atas persetujuan direksi lapangan.
Plafond dikerjakan oleh spesialis manpower karena tidak semua pekerja memahami system dalam
pekerjaan plafond. Semua produk baik rangka ataupun gypsum akan dikonsultasikan terlebih
dahulu dengan direksi lapangan untuk mendapatkan persetujuan. Pelaksanaan Pekerjaan
Pekerjaan Plafond dimulai setelah pemasangan dinding + Plasteran selesai 75% dan pekerjaan
instalasi listrik selesai 100%. Berikut dibawah adalah skematik dari proses pemasangan plafond

B1.2.5 Pekerjaan pengecetan


Kontraktor sebelum melaksanakan pengecatan perlu persetujuan skem warna dan sebelum
aplikasi harus dilihat terlebih dahulu kelembaban plasteran apakah sudah mencapai titik
minimum untuk pengecatan. Sebelum diaplikasikan pengecatan warna tembok yang sudah kering
di cat memakai cat dasar warna putih 1 lapis, setelah itu cat warna 2 lapis. Aplikasi pengecatan
memakai rol cat dan disetiap pertemuan dinding dengan lantai dan dinding dengan plafond
diaplikasikan memakai kwas. Pengecatan cat minyak diaplikasikan kepada bahan kayu lainnya
(lisplank). Pengecatan menggunakan cat minyak sebelum diaplikasikan dasar atau bahan yang
akan dicat perlu dibersihkan dan dihaluskan memakai dempul dan digosok dengan amplas kayu
sehingga didapat permukaan kayu yang halus. Aplikasi pengecatan cat minyak perlu persetujuan
dari direksi lapangan mengingat estetika akan menurun bila cat yang diaplikasikan tidak disetujui
atau dikerjakan dua kali.

B1.3 PEKERJAAN ME dan PLUMBING

A. PEKERJAAN ELECTRICAL :
Pekerjaan Electrical meliputi Pekerjaan :
A.I Pekerjaan Transformator & MVDB
A.II Pekerjaan LVMDP dan Panel TR
A.III Pekerjaan Penerangan dan Stop Kontak
A.IV Pekerjaan Penangkal Petir

A.I. Pekerjaan Transformator & MVDB


Yang dimaksud pekerjaan Transformator dan MVDB adalah pekerjaan pengadaan unit
Transformator dan MVDB beserta pengkabelannya, termasuk proses penyambungan ke
instalasi existing.
a. Proses Pelaksanaan :
a.1. Handling :
Untuk material material Transformator dan MVDB, karena dimensinya besar dan
berat maka harus menggunakan bantuan mobil forklift atau sejenisnya.
a.2. Pemasangan / Pelaksanaan :
Pekerjaan tersebut perlu dikoordinasikan dengan pihak sipil khususnya untuk
kesiapan ruangan panel dan trafo.

A.II. Pekerjaan LVMDB & Panel TR


Yang dimaksud pekerjaan LVMDB dan panel TR adalah pekerjaan pengadaan unit LVMDB
dan panel TR beserta pengkabelannya, termasuk proses terminasi di panel tersebut.
b. Proses Pelaksanaan :
b.1. Handling :
Untuk material material LVMDB dan panel TR, karena dimensinya besar dan
berat maka harus menggunakan bantuan mobil forklift atau sejenisnya, sedangkan
untuk deminsi yang kecil sampai sedang bisa mengguna kan
tenaga manusia..

b.2. Pemasangan / Pelaksanaan :


Pekerjaan tersebut perlu dikoordinasikan dengan pihak sipil khususnya untuk
kesiapan ruangan panel.

A.III. Pekerjaan Penerangan & Stop Kontak


Yang dimaksud pekerjaan Penerangan dan Stop kontak adalah pekerjaan pemasangan
instalasi penerangan, pemasangan armature, pemasangan panel dan Stopkontak 1 phase
lengkap dengan kabel distribusinya dan panel-panelnya.
c. Proses Pelaksanaan :
c.1. Handling :
Untuk material material elektrikal dan Stop kontak, karena dimensinya tidak
terlalu besar dan tidak terlalu berat maka untuk pekerjaan yang dekat dengan
gudang, pengangkutannya dapat menggunakan tenaga manusia. Tetapi untuk
beberapa equipment harus menggunakan bantuan mobil forklift atau sejenisnya
c.2. Pemasangan / Pelaksanaan :
Pada saat pengecoran plat lantai, pekerjaan Penerangan dan Stop kontak dapat
segera dimulai dengan pemasangan sparing conduit bersamaan dengan
pembesian plat lantai.
Setelah bekisting plat lantai dibongkar, maka pekerjaan wiring kabel untuk
elektrikal dan Stop kontak dapat segera dimulai sesuai shop drawing yang
disetujui.
Test tahanan isolasi kabel dan grouping.
Jika hasil test dinyatakan baik, maka pada saat pemasangan kerangka plafon
dimulai juga pemasangan armature lampu.
Untuk Stop kontak pada saat pekerjaan bata (dinding) sparing dan wiring
dimulai dipasang pada dinding dimana titik Stopkontak
diletakkan.
Setelah dinding dilakukan finishing dan kondisi keamanan sudah
terjamin (ruangan terkunci) maka Stop kontak dapat dipasang.
Setelah itu dilanjutkan dengan connection instalasi ke panel di masing
masing lantai.
Connection panel per lantai dengan panel induk (LVMDP).
Test nyala lampu dan tegangan pada Stop kontak.
c.3. Pengetesan :
Untuk pekerjaan ini dilakukan mager test.

A.IV. Pekerjaan Penangkal Petir


Yang dimaksud pekerjaan penangkal petir adalah pekerjaan pengadaan unit air terminal
type electrostatic beserta down konduktornya berikut supporiting dan pembuatan system
grounding sampai dengan pengetesan, berikut sertifikat dari Depnaker.
d. Proses Pelaksanaan :
d.1. Handling :
Untuk material material pekerjaan ini tidak terlalu berat maka bisa
menggunakan tenaga manusia.
d.2. Pemasangan / Pelaksanaan :
Pekerjaan tersebut perlu dikoordinasikan dengan pihak sipil khususnya untuk
kesiapan lahan dimana titik air terminal berada.

B. PEKERJAAN ELECTRONIC :
Pekerjaan Electrical meliputi Pekerjaan :
Pekerjaan Fire Alarm
Pekerjaan Sound System (Tata Suara)
Pekerjaan Telekomunikasi (PABX)
Yang dimaksud pekerjaan Fire Alarm Telpon dan Sound System adalah pekerjaan
pemasangan instalasi sistem deteksi dini untuk kebakaran dalam gedung dan sistem
komunikasi dengan orang lain.
a. Proses Pelaksanaan :
a.1. Handling :
Untuk material material Fire Alarm, Telpon dan Sound System (conduit, kabel,
klem), karena dimensinya tidak terlalu besar dan tidak terlalu berat maka untuk
pekerjaan yang dekat dengan gudang, pengangkutannya dapat menggunakan
tenaga manusia. Tetapi untuk yang lokasinya jauh maka pengangkutannya dapat
menggunakan bantuan mobil pengangkut.
a.2. Pemasangan / Pelaksanaan :
Pada saat pengecoran plat lantai, pekerjaan instalasi Fire Alarm, Telpon dan
Sound System dapat segera dimulai dengan pemasangan sparing conduit
bersamaan dengan pembesian plat lantai.
Setelah bekisting plat lantai dibongkar, maka pekerjaan wiring kabel untuk
Fire Alarmn dan Telpon dapat segera dimulai sesuai shop
drawing yang disetujui.

Test tahanan kontinuitas.


Pada saat pekerjaan bata (dinding), sparing dan wiring Fire Alarm dan
Telpon dipasang pada dinding dimana titik Fire Alarm (bell, manual station,
dll) dan titik outlet Telpon nanti diletakkan.
Setelah dinding dilakukan finishing, ceiling sudah terpasang dan kondisi
keamanan sudah terjamin (ruangan terkunci) maka titik Fire Alarm dan
Detector, Outlet Telpon dapat segera dipasang.
Setelah itu dilanjutkan dengan connection instalasi ke terminal box
Fire Alarm dan TB Telpon di masing masing lantai.
Connection terminal box per lantai dengan MDF Fire Alarm, MDF
Telpon, dan MDF Sound System
Test fungsi.
a.3. Pengetesan :
Untuk pekerjaan ini dilakukan test kontinuitas.

C. PEKERJAAN MECHANICAL :
a. Pekerjaan Mechanical meliputi Pekerjaan :
Pekerjaan Air Bersih
Pengadaan dan pemasangan secara sempurna unit unit peralatan yang di perlukan
dalam sistem penyediaan air bersih berupa Pompa, Bak/ Tanki Air, pemasangan
pipa ditribusi ke setiap peralatan sanitary seperti halnya closed, wastael, urinal, dan
faucet faucet, dll.
Pekerjaan Air Kotor, Bekas dan Hujan
Pengadaan dan pemasangan system pemipaan beserta perlengkapannya yang
diperlukan dalam system pembuangan air kotor, air bekas dan air hujan.
Pemasangan pemipaan dan peralatan sanitary seperti jalnya closed, wathafel,
urinall, floor drain dan sebagainya.
Pengujian / pengetesan terhadap kebocoran pipa pipa dengan tekanan
hydrolik per bagian, dan selanjutnya pengujian keseluruhan yang ada pada
bangunan.
Pengujian (test run) sistem Plumbing secara keseluruhan dan mengurus izin
izin yang diperlukan dari setiap dinas yang terkait (PDAM/ Dinas
Pekerjaan Umum dan lain lain)

b. Proses Pelaksanaan :
Instalasi Air Bersih
1) Hal yang perlu diketahui terlebih dahulu adalah denah Plumbing serta
Diagram
Isometri dimana dapat diketahui jalur-jalur instalasi pipa itu
diletakkan.
2) Pemasangan pipa dilaksanakan setelah pasangan bata dan sebelum
pekerjaan
plesteran dan acian, fungsi untuk menghindari bobokan yang
menyebabkan keretakan dinding. (Untuk instalasi dalam bangunan).
3) Untuk pemasangan di luar bangunan seperti pipa saluran air hujan
dikerjakan setelah pekerjaan plesteran diselesaikan.
4) Pipa yang melewati plat dak atau balok atau kolom beton harus
dipasang
sparing atau pemipaan
terlebih
dahulu sebelum
dilaksanakan pengecoran.
5) Pipa yang posisi/letaknya sudah betul segera ditutup dengan
plug/dop yang tidak mudah lepas (menghindari kotoran/adukan
masuk sehingga terjadi penyumbatan).
6) Hindari belokan pipa/ knik pipa dengan pembakaran.
7) Posisi pipa pada kamar mandi harus disesuaikan dengan saniter.
8) Rencana instalasi air bersih diletakan pada perempatan nat keramik /
as keramik, semiteris dengan luas keramik.
9) Setelah instalasi terpasang segera diadakan test tekan pipa. Untuk
Pipa GIP maximum 10 Bar dan untuk Pipa PVC maximum 6 Bar.
Instalasi Air Kotor
1) Hal yang perlu diketahui terlebih dahulu adalah denah Plumbing serta air
kotor serta jalur pembuangan.
2) Hindari /jangan terlalu banyak percabangan.
3) Sambungan harus betul-betul rapat.
4) Untuk air bekas (mandi/cuci) harus dibuat Manhole untuk kontrol
pembersihan (bak kontrol) pada tempat-tempat tertentu.
5) Untuk lubang saluran pembuang harus diberi saringan.
6) Sparing harus melebihi rencana peil lantai beton & tebal beton.
(diatas plat = 25 cm, dibawah plat = 15 cm), bagian atas supaya
ditekuk atau digepengkan / ditutup dengan cara dipanaskan.
7) Posisi sparing harus sesuai dengan type saniter (jika saniter tela h
ditentukan).
8) Jika saniter belum ditentukan , dipakai sistem Block Out.
9) Sparing Clean out harus dipasang bersamaan dengan sparing closet
(bila ada), dimana letak sparing clean out berada di samping atau

dekat dengan sparing closet, fungsinya adalah untuk pembersihan apabila


closet terjadi penyumbatan.
10) Fan out dipasang
bila dalam instalasi saluran kotor banyak
percabangan dengan saluran pembuangannya lewat shaft. Fungsinya untuk
mengurangi tekanan udara pada pipa pada saat closet di gelontor o;eh air.
11) Floor drain supaya diletakan jauh dari pintu dan dekat dengan kurasan
bak.
Instalasi Air Hujan
1) Pipa diletakkan persis dibawah lobang talang yang telah diberi torong
talang.
2) Pipa saluran air hujan dapat dipasang menempel di dinding luar
dengan menggunakan klem atau dapat ditanam di dinding bila
berukuran < 2.
3) Bila saluran pembuang air hujan berupa saluran tertutup harus
dibuat bak kontrol pada pertemuan pipa air hujan dengan saluran
pembuang.
4) Bila terdapat sambungan, arah shock harus sebelah atas, dan
penyambungannya harus benar-benar kuat.
Saluran Pipa ke Septictank
1) Pipa saluran dari closet menuju ke septictank harus diperhatikan
kemiringannya,
karena kemiringan
pipa dapat memperlancar
penyaluran kotoran apabila digelontor dengan air, kemiringan
minimal 2%.
2) Pipa sebaiknya dipergunakan kwalitas yang baik atau minimal type D.
3) Jangan ada percabangan untuk pipa yang ditanam di tanah (bangunan
1 lantai), karena bila ada penyumbatan susah untuk perbaikannya. Untuk
bangunan bertingkat (ada shaft) harus dibuat clean out dan fan out.
Tata Cara Penyambungan Pipa
1) Peralatan yang dibutuhkan : Gergaji, Amplas, Lem PVC, Shell tape dan
Kunci Pipa.
2) Untuk pipa PVC, dipotong sesuai dengan ukuran ujungnya diamplas terlebih
dahulu dan dibersihkan oleskan lem pada ujung dan dalam shock
(penyambung) segera masukkan gerakan arah lurus jangan diputar, tunggu
sampai kering. Apabila belum kering betul posisi sambungan jangan
digerakkan, karena akan menyebabkan lem yang telah dioles menjadi tidak
merekat.
3) Pada sambungan pipa yang mempunyai drat terlebih dulu dibungkus
sheeltape secukupnya pada drat sisi luar baru dimasukkan drat dalam
diputar sampai kencang dan rapat.
4) Pada penyambungan pipa besi lebih banyak dipakai sistem drat dan las.
Untuk penyenaian pipa minimum 4 baris/alur/drat.

D. PEKERJAAN AIR CONDITIONING :


a. Pekerjaan Air Conditioning meliputi Pekerjaan :
Pengadaan dan pemasangan secara sempurna unit unit peralatan yang di
perlukan dalam sistem Air Conditioning.
b.

Proses Pelaksanaan :
Cara pemasangan ac split dapat dilakukan bila tool/alat-alat kerja sudah tersedia
seperti :
Kunci-kunci perkakas contoh obeng kembang, palu, kunci inggris dsb.
Flare nut yaitu sebuah alat untuk mengembangkan ujung pipa ac split.
Pemotong pipa, yang berfungsi untuk memotong pipa ac split.
Bor Listrik
Manifold
Freon / Refrigrant
Pertama-tama yang harus dilakukan dalam pemasangan ac split adalah melihat
posisi dimana ac split akan dipasang dan kemana jalur pipa instalasi ac split harus
ditempatkan, diatas plafon, ditanam didalam tembok atau melubangi
tembok
dengan cara memboboknya dengan sebuah pahat.
Setelah menentukan posisi ac split yang cocok, buka dus yg berisi indoor unit yang
didalamnya terdapat indoor unit, bracket indoor, kabel power supply untuk
ke
outdoor
unit
dan
remote
control.
dibelakang indoor unit terdapat bracket yang harus anda lepaskan, lalu pasang
pada
dinding
dengan
posisi
yang
anda
inginkan.
memasang bracket indoor dapat anda lakukan dengan memakunya dengan paku
beton atau mengebornya bila ingin menggunakan fisher, posisikan bracket indoor
dengan waterpas agar tidak miring kekanan dan kekiri agar air yang
keluar dari
indoor
unit
dapat
dengan
lancar
keluarnya.
Setelah bracket indoor terpasang, pada bagian mana drat nepel dari pipa indoor unit
akan diposisikan? bila pada bagian kanan bawah dari bracket indoor, anda harus
membuat lubang atau membobok temboknya yang diameter bobokannya sesuai
dengan selang pembuangan air dan pipa ac yang keluar dari indoor unit. bila anda
tidak ingin membobok tembok anda dapat mengeluarkan drat nepel yang keluar dari
indoor melalui sisi kanan atau kiri
dari indoor yang sudah disediakan.

Setelah bracket indoor terpasang dan bobokannya sudah siap, pasang indoor unit
pada bracket dan posisikan drat nepel keluar dari indoor unit pada lubang
bobokan tembok. Setelah indoor terpasang pada bracket, dorong keatas dan tarik
kebawah agar indoor terkunci dengan bracket.
Setelah pemasangan indoor telah selesai dilakukan, beralih ketahap
pemasangan pipa instalasi ac split. Pipa instalasi ac split ini terbuat dari tembaga
yang
lentur dan
mudah dibentuk dalam
pelaksanaan

pemasangannya. Tapi hati-hati jangan sampai ada instalasi pipa ac split yang
tertekuk atau penyok, karena dapat menghambat sirkulasi freon yang dapat
menyebabkan ac split tidak mau dingin atau bekerja dengan normal.

Instalasi pipa ac split harus disesuaikan dengan kapasitas ac/pk nya, bila ac
split anda 1 pk 0,75 pk atau 0,50 pk berarti harus menggunakan pipa instalasi
ac split yang berukuran 1/4 dan 3/8. Semakin besar kapasitas ac split,
semakin besar pula ukuran instalasi pipa ac split yang digunakan.
Buka 2 buah mur nepel yang berada pada pipa di indoor unit dengan
menggunakan 2 buah kunci inggris. Jangan
kaget bila ada angin yang keluar saat anda
melepaskan 2 buah nepel tersebut, yang keluar
itu bukan freon tapi halnya angin. Setelah 2
buah nepel pada indoor unit anda lepaskan,
masukan nepel 3/8 pada pipa instalasi ac split
yang berukuran 3/8 lalu lihat pada ujung pipa
instalasi ac split, apakah pada diameter
pipanya terpotong dengan rata? bila tidak rata lakukan pemotongan dengan
pemotong
pipa.
Setelah pipa ac split terpotong dengan rata, masukan pipa instalasi ac split
pada lubang penjepit flare nut yang berukuran
sama dengan pipa ac split yang akan kita
flareng, ketinggian pipa yang keluar pada
ujung bibir flareng kira-kita 0.2 cm.
setelah pipa instalasi ac berada tepat pada
lubang penjepit flareng, pasang pemutar
flareng dengan mata flareng yang berbentuk
kerucut pada penjepit flareng, lalu putar
sampai mengenai pipa instalasi ac split agar bisa mengembang.
Lakukan hal yang sama pada pipa instalasi ac split yang berukuran 1/4.
Setelah selesai melakukan pengembangan pada pipa instalasi ac split dengan
flareng, pasang pipa instalasi ac split yang sudah dipasang nepel ke drat nepel
pipa ac split yang keluar dari indoor unit dan sesuaikan.
Ukuran pipa instalasi ac split 3/8 ke 3/8 pada
drat nepel indoor unit dan ukuran pipa
instalasi ac split 1/4 ke 1/4 pada drat nepel
indoor unit.
Kencangkan mur nepel kedua-duanya dengan
menggunakan 2 buah kunci inggris agar tidak
terjadi ruang kebocoran freon.

Setelah dikencangkan mur nepelnya tutup dengan pembungkus


pipa/hamaflex, kemudian lilitkan solasi untuk merapatkan pembungkus pipa
agar tidak terjadi kondensasi. Setelah selesai melakukan pemasangan nepel
pipa instalasi ac split pada drat nepel indoor unit, atur posisi instalasi pipa ac
split agar kelihatan rapih.
Selanjutnya pemasangan kabel power untuk supply listrik kebagian outdoor
unit. Buka tutup indoor unit, kemudian lihat pada bagian komponen pcb yang
terdapat terminal untuk pemasangan kabel power ke bagian outdoor unit
biasanya disitu tertulis 1 dan 2 dan N L.
Untuk kabelnya pergunakan sesuai ukuran pk ac split nya biasanya standart
dari pabrik adalah ukuran 3 x 2.5 untuk ukuran ac split 1 pk.
masukan kabel untuk power outdoor unit melalui lubang bobokan pipa ac dan
pasang kabel pada terminal yg berada dibagian bawah komponen pcb, kabel
warna hitam pada terminal no 1, kabel warna biru pada terminal no 2, dan
kabel warna kuning pada ground, kencangkan dengan menggunakan obeng
kembang.
setelah selesai melakukan pemasangan kabel power untuk outdoor unit, kita
ketahap pemasangan instalasi pipa ac split pada outdoor unit.
yang harus dilakukan pada tahap ini sama dengan apa yang dilakukan pada
tahap pemasangan instalasi pipa ac split pada indoor unit.
Untuk pemasangan kabel power outdoor unit, buka tutup power suplly
outdoor unit yang berada diatas kran valve. Setelah selesai melakukan
pemasangan instalasi pipa ac split dan
pemasangan kabel power supply untuk
outdoor unit, tahap berikutnya adalah
pengecekan kebocoran diantara 4 buah
kembang nepel yang baru kita buat, yaitu 2
kembang nepel pada indoor dan 2 kembang
nepel pada outdoor.
Caranya adalah sebagai berikut :
i. Pasang selang manifold berwarna biru pada pentil pengisian freon, lalu
pasang selang berwarna kuning pada mesin vakum. Lalu lakukan
pemakuman agar tidak terdapat udara didalam evaporator dan pipa
instalasi ac split.
ii. Vakum yang baik harus mencapai 30', bila telah selesai divakum jarum
pada manifold bergerak keatas, berarti ada ruang kebocoran freon.
Lakukan pemeriksaan kebocoran dengan kuas yang diberi air sabun pada
kembang nepel yang berada pada indoor unit dan outdoor unit.

Biasanya ruang kebocoran terjadi karena


kembang nepel pecah dan mur nepel
kendor/tidak dikencangkan, lakukan
flereng ulang pada kembang nepel yang
pecah atau kencangkan kembali mur nepel
yang kendor. Bila jarum pada manifold
tidak bergerak atau tetap pada angka 30'
berarti tidak terdapat ruang kebocoran,
lalu buka mur penutup kran nepel 1/4
dan yg 3/8 dengan menggunakan kunci L ,
buka sampai kedua kran nepel terbuka
penuh.
b ila sudah membuka kran nepel tahap
selanjutnya adalah menyambungkan
aliran listrik pada kabel power supply
yang berada pada indoor unit

ingat...kabel power suply yang berwarna coklat harus diposisi - atau api,
agar sewaktu ac split tidak dioperasikan, dibagian outdoor unit tidak
tersambung langsung dengan aliran listrik.
Setelah penyambungan power suplly selesai, ac split siap untuk
dioperasikan.
Bila anda tidak mempunyai mesin vakum, pasang selang manifold
berwarna biru pada pentil pengisian freon dan pasang selang yang
berwarna kuning pada tabung freon.
Buka mur nepel ukuran 1/4 pada outdoor unit lalu masukan tekanan
freon agar freon dapat mendorong udara keluar melalui mur nepel
pada outdoor unit.
Pada saat freon keluar, kencangkan kembali mur nepel 1/4 dan masukan
tekanan
freon
kembali
sampai
mencapai
100
psi.
lihat dan perhatikan, bila jarum manifold turun dan tidak lagi menunjukan
angka 100 psi, berarti ada ruang kebocoran pada 4 buah kembang nepel
yang anda buat.
Cari ruang kebocoran dengan menggunakan kuas yang diberi air sabun
bila sudah menemukan ruang kebocoran segera diperbaiki.
tapi bila jarum pada manifold tetap menunjukan angka 100 psi, berarti
instalasi pipa ac split tidak terdapat
ruang kebocoran.
segera buang sisa tekanan freon yang berada pada instalasi pipa ac split,
tapi jangan buang
semuanya sisakan sampai
5-10 psi.
setelah itu buka mur penutup kran nepel 1/4 dan 3/8 lalu buka kedua
kran valve dengan menggunakan kunci L sampai terbuka penuh dan
pasang kembali mur penutup kran valve dengan kencang.
bila sudah membuka kran nepel, tahap selanjutnya adalah penyambungan
aliran listrik pada kabel power supply yang berada di indoor unit.
dan bila sudah melakukan penyambungan listrik pada kabel power supply
yang berada pada indoor unit barulah ac split anda telah siap untuk
dioperasikan.

C. KENDALA SOLUSI dan ANALISA KAPASITAS PRODUKSI


Analisa kapsitas produksi direncanakan untuk menanggulangi kendala kendala yang
akan dihadapi didalam proses konstruksi,maka dengan ini PT. CAHAYAMURNI ARTHA
LANGGENG akan menguraikan kendala dan solusi nya, serta menyantum kapasitas

produksi untuk pekerjaan pekerjaan mayor yang terlihat jalur kritis pada kurva s atau
barchart

C.1 KENDALA DAN SOLUSI


METODE KENDALA DAN SOLUSI
Berdasarkan tampilan gantt chart pada lembar berikutnya dapat dilihat bahwa kondisi
kritis Yang membutuhkan perhatian penuh saat pelaksanaan pekerjaan adalah pekerjaan
pekerjaan erection balok WF700 . Hal tersebut karena tidak ada lag time atau waktu jeda
antara pekerjaan yang satu dengan yang lainnya untuk diselesaikan tepat waktu sesuai
rencana. Pekerjaan pekerjaan tersebut dilaksanakan berkaitan dan berkesinambungan
terus menerus sehingga bila terjadi hal-hal diluar kendali seperti kondisi cuaca ekstrim
dan
hujan
terus
menerus
dan
sebagainya,
akan
direncakan
solusi
penanggulangannya(sehingga pelaksanaan pekerjaan dapat diselesaikan tepat waktu)
sebagai berikut :
1. KENDALA STOK MATRIAL
Kelangkaan stok matrial yang digunakan pada saat pelaksanaan,terutama material
dan komponen utama dalam jumlah besar seperti : semen,besi beton, keramik,
readymix akan menyebabkan keterlambatan dan ketidakpastian waktu dalam
penyelesaian pekerjaan.
SOLUSI :
Mengantisipasi hal tersebut, segera setelah mendapatkan persetujuan dari direksi
teknis lapangan akan dilakukan pemesanan kepada produsen/distributor terkait.
Namun dalam hal kelangkaans stok matrial kami sudah mengantisipasinya dalam
bentuk kesepakatan kerja sama dengan supplier, dan salah satu bentuk kerjasama
terlampir dalam dokumen penawaran berupa surat peranyataan supplier matrial.
Demikian juga halnya berkaitan dengan lokasi pekerjaan yang jauh dan terpencil
maka, pihak PT. CAHAYAMURNI ARTHA LANGGENG sudah mengantisipasi dengan
melakukan kunjungan langsung dari Pontianak ke lokasi ,untuk pengadaan semen,
besi beton, keramik dan readymix serta matrial pabrik lainnya tersebut sudah
mendapat dukungan penuh dari pihak supplier.
Dengan adanya kesepakatan kerjasama, maka PT. CAHAYAMURNI ARTHA
LANGGENG akan mendapatkan prioritas utama suplay matrial tersebut khususnya
dalam paket Pembuatan Gedung Operasional Ditjen Perhubungan Udara.

2. KONDISI HUJAN TERUS MENERUS


Kondisi hujan terus menerus pada saat akan dilaksanakannya pekerjaan
pembetonan, pekerjaan tanah akan menyebabkan penurunan kualitas hasil
pekerjaan dan keterlambatan penyelesaian.
SOLUSI :
Pada saat pelaksanaan pekerjaan pengecoran (terutama pada daerah terbuka), bila
diizinkan akan dipasang tenda/terpal dilokasi dimana pengecoran berlangsung.
Namun jika tidak mendapatkan persetujuan pengecoran oleh direksi teknis
lapangan maka, pengecoran akan dilakukan dalam kondisi cuaca normal, namun
pada waktu penambahan jam kerja diluar waktu normal (lembur/overtime)
sehingga wakt yang terbuang tidak mengganggu sisa waktu rencan semula. Untuk
pekerjaan tanah (terutama pekerjaan timbunan) akan tetap dilaksanakan pada
kondisi cuaca tidak hujajn. Hal ini berkaitan dengan kualitas yang harus dijaga.
Kehilangan waktu akibat hujan terus menerus akan digantikan dengan
penambagan waktu kerja (overtime) maupun menambah jumlah peralatan dari
rencana normal sampai kehilangan waktu dapat dikonversikan dengan sisa waktu
yang ada.
3. LOKASI PROYEK
Pekerjaan pada proyek ini adalah di ruang public yang aktifitas manusia dan
kendaraan padat dan sempitnya penyimpanan matrial serta semputnya area kerja.
SOLUSI :
- Metode yang kami pakai untuk proyek ini adalah membagi 2 tahap
bekerja,tahap 1 sebagian dan tahap selanjutnya bagian berikutnya.dengan
membagi area kerja seperti ini maka oprasional dan konstruksi akan tetap
berjalan seperti biasa dan tidak ada kendala
- Aktifitas proyek lebih banyak dilakukan di malam hari, hal ini bertujuan
untuk menghindari kecelakaan kerja dan mengurangi factor kebisingan
akibat aktifitas proyek

D. KENDALI MUTU (RENCANA MANAJEMEN MUTU)


KEBIJAKAN MUTU :

Manajemen dan Karyawan PT. Cahayamurni Artha Langgeng memberdayakan sistem


manajemen mutu dalam memenuhi tuntutan kontrak demi efisiensi dan efektivitas
pekerjaan.

SASARAN MUTU :
1. Menyelesaikan pekerjaan tepat waktu dalam 80 hari kalender
2. Menyelesaikan setiap keluhan Pengguna Jasa tanpa mengganggu target waktu
3. Memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan dalam kontrak dan spesifikasi.
Profil Penyedia Jasa
Organisasi Kerja Penyedia Jasa
SATKER

PPK

KONTAKTOR
PELAKSANA

KONTAKTOR
PELAKSANA

SISTEM PERENCANAAN PROYEK

SURVEY
LAPANGAN
STANDART DAN SPESIFIKASI, GAMBAR
RENCANA

PEMAHAMAN
TANGGAPAN THD
PROYEK

TOR/DOK
TENDER

AANWJZYNG
+BA

ANALISIAWAL
- KETERSEDIAN MATERIAL CUKUP
- KETERSEDIAN TENAGA CUKUP
- KETERSEDIAN ALAT BANTU CUKUP
- KONDISI LAHAN CUKUP BAIK
- SISTEM PROTEKSI (KERUSAKAN DALAM
LINGKUNGAN SEKITAR)

SISTEM PENGENDALIANPROYEK

DO

RENCANA KERJA
- RMP
- STANDART MUTU
- TIME SCHEDULE
- NWP
- KESELAMATAN KERJA

CONTROL MONITOR

ACTION

MASA PEMELIHARAAN

FHO II

PHO 1

OUTPUT
- PROYEK TEPAT WAKTU,
TEPAT MUTU DAN TEPAT
BIAYA (KEPUASAN
PELANGGAN)

GENERAL FLOWCHART ASPEK RENCANA DAN PENGENDALIAN

Tugas, Tanggungjawab Dan Wewenang


1.

Project Manager

Memimpin dan mengendalikan kegiatan proyek agar efisien dan efektif


mencapai hasil optimal dari segi kualitas dan pencapaian laba

Memahami seluruh aspek teknik pekerjaan dan berperan aktif membina sumber
daya sesuai dengan kebutuhan proyek

Membina keamanan dan menciptakan ketenangan kerja di lingkungan proyek


dan masyarakat sekitarnya

Menganalisa kebutuhan material, tenaga kerja, peralatan dan overhead, serta


menyusun jadwal kebutuhannya

Membuat Rencan Mutu Kontrak

Bertanggungjawab atas kelancaran kegiatan proyek saejak masa persiapan


hingga penyerahan

Bertanggungjawab atas pelaksanaan tertib administrasi internal, data material,


data peralatan, data keuangan termasuk pengihan dan data pendukungnya

Bertanggungjawab atas pengendalian mutu hasil pekerjaan di proyek

Memutuskan strategi pelaksanaan proyek yang berkaitan dengan pengendalian


mutu proyek

Menyetujui pengeluara-pengeluaran langsung yang diperlukan kegiatan Proyek.

2.

Site Manager :

Memimpin dan mengendalikan kegiatan lapangan agar efisien dan efektif


mencapai hasil optimal dari segi kualitas dan kuantitas.

Memahami seluruh aspek teknik pekerjaan dan berperan aktif membina sumber
daya sesuai dengan kebutuhan proyek

Membina keamanan dan menciptakan ketenangan kerja di lingkungan proyek


dan masyarakat sekitarnya

Menganalisa kebutuhan material, tenaga kerja, peralatan dan overhead, serta


menyusun jadwal kebutuhannya

Bertanggungjawab atas pengendalian mutu hasil pekerjaan di proyek

Memutuskan strategi pelaksanaan proyek yang berkaitan dengan pengendalian


mutu proyek

Menyetujui pengeluara-pengeluaran langsung yang diperlukan kegiatan Proyek.

3.

Engineer

Mengatur dan mengawasi jadual kerja harian para pelaksana dan memonitor
jadwal kedatangan material, memeriksa volume dan kualitas serta mengatur
penempatannya

Memeriksa hasil pekerjaan para pelaksana agar dapat dimonitor bobot


kemajuan dalam kaitannya dengan opname kemajuan pekerjaan, laporan upah
dan mengesahkan kepada pengguna jasa

Mengawasi teknis pelaksanaan semua pekerjaan di lapangan agar supaya


memenuhi ketentuan-ketentuan teknis yang benar dan tidak menyimpang dari
anggaran yang ditetapkan

Menggunakan material dengan kualitas dan volume yang benar

Menggunakan peralatan dan tenaga kerja secara efisien

Memenuhi jadual waktu yang telah ditetapkan

Menyeleksi mandor yang direkomendasikan dapat bekerja dengan baik dan


menerbitkan surat perintah kerja kepada mandor yang dipilih

Memeriksa dan mensyahkan opname hasil pekerjaan yang diajukan oleh


mandor setelah diperiksa kesesuaiannya oleh pelaksana

Menyetujui pengeluaran-pengeluaran langsung yang diperlukan kegiatan


proyek sebatas anggaran yang ditetapkan.

4.

Pelaksana

Mengatur dan mengawasi jadual kerja harian dan memonitor jadwal kedatangan
material, memeriksa volume dan kualitas serta mengatur penempatannya

Memeriksa hasil pekerjaan para mandor agar dapat dimonitor bobot kemajuan
dalam kaitannya dengan opname kemajuan pekerjaan, laporan upah dan
mengesahkan kepada pengguna jasa

Membaca, memahami dan mengarahkan setiap kegiatan proyek yang


dilaksanakan oleh mandor, tukang, dan pekerjaan yang telibat dengan mutu

Mengawasi teknis pelaksanaan semua pekerjaan di lapangan agar supaya


memenuhi ketentuan-ketentuan teknis yang benar dan tidak menyimpang dari
anggaran yang ditetapkan

Menggunakan material dengan kualitas dan volume yang benar

Menggunakan peralatan dan tenaga kerja secara efisien

Memenuhi jadual waktu yang telah ditetapkan

Menyeleksi mandor yang direkomendasikan dapat bekerja dengan baik dan


menerbitkan surat perintah kerja kepada mandor yang dipilih

Memeriksa dan mensyahkan opname hasil pekerjaan yang diajukan oleh


mandor setelah diperiksa kesesuaiannya oleh pelaksana

Menyetujui pengeluaran-pengeluaran langsung yang diperlukan kegiatan


proyek sebatas anggaran yang ditetapkan.

5.

Administrasi

Mengatur dan mengawasi administasi kedatangan material, memeriksa volume


dan kualitas

Menyiapkan administrasi progress kemajuan pekerjaan dalam kaitannya dengan


opname kemajuan pekerjaan, laporan upah dan mengesahkan kepada pengguna
jasa

Membantu pelaksanaan adminitrasi pelaporan dan serah terima pekerjaan

6.

Logistik

memonitor jadwal kedatangan material, memeriksa volume dan kualitas serta


mengatur penempatannya

memonitor penggunaan material dengan kualitas dan volume yang benar

memonitor penggunaan peralatan dan tenaga kerja secara efisien

Memeriksa dan mensyahkan opname hasil pekerjaan yang diajukan oleh


mandor setelah diperiksa kesesuaiannya oleh pelaksana

7.

Drafter

Membantu engineer dalam penggambaran shop drawing dan as build drawing .

Menyediakan gambar untuk perhitungan bobot lapangan

E. METODE KESELAMATAN K3
Kebijakan
Kontraktor berkomitmen untuk mencapai standar manajemen tertinggi termasuk dalam hal
keamanan konstruksi, tempat bekerja dan lingkungan lainnya dimana pekerjaan berlangsung.
Kontraktor akan memberikan dan menjaga lingkungan tempat bekerja dengan aman dan sehat
sesuai dengan praktek bisnis yang sesuai dengan ketentuan regulator.
Kontraktor akan berusaha untuk menghilangkan dan menekan apapun resiko yang terjadi akibat
kebakaran, keamanan, kerusakan terhadap properti dan kecelakaan personel atupun penyakit.
Kegaitan K3 selalu menjadi prioritas utama yang harus dijalankan setiap harinya dalam semua
aktifitas operasional dimanapun lokasi pekerjaan tersebut berada.
Kontraktor akan berusaha untuk selalu menjalankan aktifitas proteksi lingkungan hidup untuk
memastikan kesesuaiannya dengan ketentuan legislatif. Kontraktor berkomitmen untuk menjaga
komuniksi dengan semua pihak yang terkait; baik dengan badan pemerintahan, pihak keamanan,
komunitas sekitarnya, pelanggan ataupun vendor dan sub-kontraktor; untuk saling bertukar
informsi dan teknologi yang berhubugnan dengan proteksi lingkungan, seperti :
1.

untuk menjaga kesehatan, keamanan, keselamatan dan kesejahteraan dari


pekerja di lokasi tempat kerja dengan memberikan tempat kerja yang aman
dan sehat.

2.

Untuk mengadaptasi peraturan regulator yang terkait dengan K3

3.

Untuk meningkatkan aktifitas keamanan, kesehatan dan keselamatan kerja

4.

Untuk mempertahankan motivasi dan kemampuan kerja melalui training dan


peningkatan kualitas dan keahlian manajemen keamanan kerja.

5.

Untuk memastikan keamanan melalui penerapan sistem respon emergensi


terhadap semua resiko yang dapat diidentifikasi.

6.

Untuk menghilangkan resiko kecelakaan kerja, kehilangan jiwa selama


pekerjaan berlangsung

7.

Untuk memastikan setiap tanaga kerja menggunakan perlengkapan


keamanan kerja yang sesuai dan mencukupi seperti yang telah ditentukan
dalam peraturan dan ketentuan

Karyawan dari pihak kontraktor akan bertanggung jawab untuk memastikan keaman diri sendiri
dan pihak lain yang berada dilokasi kerja terhadap kesehatan, keamanan dan kelestarian
lingkungan hidup. Komitmen kontraktor untuk HSE/ K3 merupakan satu kesatuan dari solusi
bisnis jangka panjang.

Perencanaan K3
Preliminary rencana Safety, health and environmental disiapkan berdasarkan pada kebutuhan
Engineering dan konstruksi. Sistem manajemen akan meyakinkan pelaksanaan pekerjaan secara
aman dan sehat serta tidak menimbulkan pencemaran.

Konsep manajemen K3 yang akan diterapkan selama tahapan konstruksi untuk mencapai tujuan
berikut :

Mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan pencemaran lingkungan, untuk mencapai


zero accident & zero pollution.

Memaksimalkan kinerja aset yang ada (tenaga kerja/disiplin kerja, alat-alat berat,
kendaraan dll).

Melindungi asset perusahaan/ kontraktor (tenaga kerja dari kecelakaan, melindungi


material/ alat terpasang dari kerusakan dan bahaya kebakaran/ pekedakan).

Memelihara kesan yang baik (good public image) terhadap kontraktor (berdasarkan
pada high safety performance dan reputasi)

Penghematan biaya operasi Proyek.

Lima kondisi berikut adalah prioritas utama yang akan diterapkan :


a) Mengidentifikasi/mengenali bahaya dan resiko dari :

Lokasi dan kondisi proyek (tumbuh-tumbuhan, kondisi tanah, dan lain-lain)

Karakteristik dari aktivitas kegaitan (safety hazard)

Karakteristik pengoperasian perkakas kerja, kendaraan, peralatan-peralatan


(manual pengoperasian, perawatan rutin, pengujian peralatan)

Kondisi kesehatan buruh/tenaga kerja (mental, kejenuhan, jasmani & rohani)

Waktu lembur (mengikuti standar jam kerja, batasan-batasan lembur)

Hilangnya ketaatan/loyalitas
keselamatan.

terhadap

pekerjaan/tidak

adanya

peraturan

b) analisis Resiko, evaluasi dan pengawasan K3 dalam setiap tahapan pekerjaan selama
proyek berlangsung
c) Pembudayaan tentang keselamatan kerja dengan cara :

penyampaian tentang keselamatan kerja pada setiap pertemuan di lokasi proyek


(safety Talk)

Induction, tool Box and Management K3 meetings

Kebijakan manajemen ditunjukan dengan brosur, spanduk/poster K3, papan


pengumuman, selebaran, dan lain-lain.

Rencana penanggulangan & evakuasi terhadap keadaan darurat

Rencana keselamatan

d) mengacu pada prosedur dan peraturan pelaksanaan pekerjaan yang telah ditentukan
e) Inspeksi keselamatan dan audit pada tiap aktivitas

Kebijakan Keselamatan Perusahaan


Kebijakan keselamatan Perusahaan ditetapkan oleh pihak Manajemen Kontraktor dan
diimplementsikan pada seluruh proyek kontraktor. Kebijakan tersebut mencerminkan
kesungguhan kontraktor dalam menjalankan K3 management.
Seluruh karyawan dari kontraktor bertanggung jawab dalam menjamin terlaksananya kebiajkan
SH&E dengan baik.

Koordinasi
Koordinasi Internal
Kontraktor menugaskan seorang petugas K3 untuk membantu dan memandu manajemen dalam
pelaksanaan pekerjaan, perencanaan, implementasi, pengawasan berkelanjutan terhadap
penerapan K3&LL, waktu dan biaya yang efektif & efisien.
Tujuan dari hal tersebut adalah mencapai tingkat kinerja K3 yang konsisten dan optimal, yang
dapat meyakinkan Pemilik Proyek dan personil kontraktor. Keanggotaan Komite K3 akan
dipimpin oleh Koordinator Proyek. Komite ini harus mengadakan rapat komite setidaknya sebulan
sekali, atau jika terjadi kecelakaan.
Untuk mengefektifkan agenda rapat komite K3, patroli keselamatan akan diselenggarakan oleh
anggota komite sehari sebelum rapat.
Koordinasi Eksternal
Koordinasi eksternal akan dilakukan dengan instansi/lembaga Pemerintah, seperti kepolisian,
rumah sakit, pemerintahan daerah, dan lain-lain.

Implementasi Program K3 Di Lapangan


Petugas yang kompeten di bidangnya akan digunakan untuk mengidentifikasi masalah/bahaya
yang potensial sebelum dimulainya pekerjaan. Instruksi tertulis untuk pekerjaan-pekerjaan yang
mengandung resiko tinggi akan disiapkan.
Peralatan pengamanan/alat pelindung diri akan disediakan/dipakai dan dirawat dengan baik
selama pelaksanaan pekerjaan.
Papan peringatan/poster K3 akan ditempatkan di tempat-tempat yang potensial terhadap bahaya
dan harus mudah dilihat oleh seluruh personil di lapangan.
Program K3 lapangan akan memperhitungkan unsur-unsur berikut:
1. Peraturan Dasar K3 Pemilik Proyek dan Pemerintah
2. Rencana Pencegahan terhadap kehilangan
3. Pertolongan Pertama / Prosedur Medis

4. Pelatihan Personil terhadap aspek-aspek K3


5. Ijin Kerja
6. Pencegahan / perlindungan terhadap Kebakaran
7. Emergency Response Plan
8. House Keeping
9. Environmental Hazard
10. Inspeksi dan audit terhadap Pencegahan Kehilangan dan Audit
11. Penyelidikan terhadap kecelakaan
12. Peraturan K3
Peraturan Dasar K3
Berdasarkan analisis bahaya konstruksi, dasar-dasar dari ketentuan K3, dikembangkan dan
disiapkan untuk menjamin keselamatan seluruh pekerjaan yang direncanakan dan menghindari
kemungkinan terjadinya pencemaran.
Ketentuan-ketentuan utama berikut ini didokumensikan secara spesifik pada pelaksanaan
keselamatan kerja di lapangan :
a) Pencegahan terhadap kecelakaan kerja, seperti :

Pekerjaan elektrikal

Pekerjaan di tempat tinggi

Mesin Gerinda

Pengelasan dan pemotongan

Cartridge hammers

Hazardous material and products

Mesin-mesin penggali, alat-alat angkat, pemindahan tanah dan pekerjaan


sipil lainnya.

b) Pekerjaan Pemasangan (Erection)


c) Pekerjaan Insulasi (Insulation)
d) Internal Work
e) Transportasi personil
f) Material Handling
g) Kebakaran dan keadaan darurat lain

h) Rencana penanggulangan keadaan darurat dan evaluasi


i) Investigasi Kecelakaan

mesin-mesin penggali, alat-alat angkat, pemindahan tanah dan pekerjaan


sipil lainnya

investigasi kecelakaan dan laporannya

kecelakaan serius

Ketentuan-ketentuan lain

Rencana Pencegahan terhadap Kehilangan


Tim pekerja lapangan mulai dari tingkat Foreman sampai Site Engineer secara terus menerus akan
meninjau kondisi lapangan, rencana kerja konstruksi dan kegiatan lapangan lainnya untuk
meminimalisasi safety hazards dan tindakan yang mengabaikan keselamatan personil
Pertolongan Pertama / Prosedur Medis
Kontraktor akan menyediakan sarana P3K/ First Aid selama pelaksanaan pekerjaan.
Briefing Personil
Bagian ini menggarisbawahi pada jenis-jenis informasi yang dibutuhkan untuk semua personil dan
supervisor sebelum memulai dan selama pekerjaan berlangsung terutama untuk pekerja lokal.
Ijin Kerja
Dalam rangka memonitor dan mengontrol resiko kerja yang potensial di lapangan, ijin kerja
diperlukan untuk melakukan pekerjaan pada segala kondisi dimana batas dari unit proses atau
dalam konstruksi baru dimana bahaya mungkin terjadi. Ijin kerja dikeluarkan oleh Pemilik Proyek,
setelah sesuai dengan prosedur keselamatan sudah diverifikasi.
Beberapa kondisi signifikan yang harus dipenuhi adalah :

Mengidentifikasi semua material terkubur sebelum penggalian, Menyediakan


fire protection dan memberlakukan peraturan dilarang merokok ditempattempat tertentu / terlarang

Menyediakan PPE (Personal Protective Equipment)

Pencegahan/Perlindungan terhadap kebakaran


Untuk mencegah kebakaran, perlu diberikan perhatian khusus pada area preplanning, hot-work
permit controls, area dimana terdapat material yang mudah terbakar, area pengendalian cairan
dan material, area pengendalian asap, pelatihan dan penggunaan tanda bahaya, pemasangan kabel
elektrik yang tepat, dan pembuangan sampah pada tempatnya. Prosedur yang spesifik ditekankan
pada rencana keselamatan konstruksi lapangan untuk masing-masing proyek.

Emergency Response Plan


Prosedur emergency response plan dikembangkan untuk semua insiden yang potensial termasuk
api, ledakan, bencana alam, dan lain-lain. Prosedur ini meliputi sarana berkomunikasi, fire fighting,
sarana medis, keselamatan, evakuasi, dan sarana-sarana lain yang mungkin diperlukan.
Para personil pada suatu periode berkala dibimbing melalui pertemuan-pertemuan K3, pelatihan
penanggulangan keadaan darurat (Emergency Drill), dan lain-lain.
.
Pra-Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Kontrak (pra-RK3K)

PRA RENCANA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA KONTRAK


KEBIJAKAN
1.
2.

3.

4.
5.

6.

Kontraktor berkomitmen untuk memenuhi kebijakan K3 konstruksi yang ditetapkan oleh


Departemen Pekerjaan Umum, Peraturan dan Standar yang telah ditetapkan.
Kontraktor berkomitmen untuk mencapai standar manajemen tertinggi termasuk dalam hal
keamanan konstruksi, tempat bekerja dan lingkungan lainnya dimana pekerjaan berlangsung.
Kontraktor akan memberikan dan menjaga lingkungan tempat bekerja dengan aman dan sehat
sesuai dengan praktek bisnis yang sesuai dengan ketentuan regulator.
Kontraktor akan berusaha untuk menghilangkan dan menekan apapun resiko yang terjadi
akibat kebakaran, keamanan, kerusakan terhadap properti dan kecelakaan personel atupun
penyakit. Kegaitan K3 selalu menjadi prioritas utama yang harus dijalankan setiap harinya
dalam semua aktifitas operasional dimanapun lokasi pekerjaan tersebut berada.
Kontraktor akan berusaha untuk selalu menjalankan aktifitas proteksi lingkungan hidup untuk
memastikan kesesuaiannya dengan ketentuan legislatif.
Kontraktor berkomitmen untuk menjaga komunikasi dengan semua pihak yang terkait; baik
dengan badan pemerintahan, pihak keamanan, komunitas sekitarnya, pelanggan ataupun
vendor dan sub-kontraktor; untuk saling bertukar informsi dan teknologi yang berhubugnan
dengan proteksi lingkungan.
Karyawan dari pihak Kontraktor akan bertanggung jawab untuk memastikan keamanan diri
sendiri dan pihak lain yang berada dilokasi kerja terhadap kesehatan, keamanan dan kelestarian
lingkungan hidup.

PERENCANAAN
Identifikasi Bahaya dan Pengendalian Resiko Bahaya
NO

JENIS/ TIPE PEKERJAAN

IDENTIFIKASI JENIS BAHAYA &


RESIKO K3
JENIS BAHAYA

RESIKO K3

PENGENDALIAN RESIKO K3

Luka ringan

Kematian

Tanggap terhadap kondisi


kendaraan jika merasakan ada
kerusakan

Kendaraan
rusak

Pengecekan dan penggantian


ban secara berkala

Kerugian
materiil

Pengemudi kendaraan harus


memiliki Surat Ijin Mengemudi

Luka Berat
1

Mengemudikan Kendaraan Selip


Proyek
Tabrakan

Perawatan mesin kendaraan


secara berkala

Mematuhi rambu-rambu
Tersandung besi
2.

Pekerjaan
Besi

Pengangkutan

Tangan terjepit
Kejatuhan besi

Luka ringan

Mengatur perletakan material


tidak menghalangi akses keluar
masuk

Luka Berat

Memakai sarung tangan


Memakai sepatu safety
Memakai sarung tangan
Memastikan pekerja
bercanda saat bekerja
Memastikan
alat
keadaan laik pakai

3.

Kesetrum

dalam

Memastikan
posisi
alat
sehingga pemotongan dengan
blander
dapat
dilakukan
dengan aman

Tangan lecet
Pekerjaan
Pemotongan Tangan terjepit
Besi dengan blander atau
Tangan terpotong
mesin potong beraliran
listrik
Kejatuhan besi

tidak

Luka ringan

Mengatur perletakan material

Luka Berat

Memastikan
tertutup

Panel

listrik

Memastikan Jalur kabel berada


di atas
Memastikan Stop kontak tidak
berada di bawah
Memastikan Sambungan kabel
diisolasi dengan benar
Memastikan
Kabel
banyak sambungan

tidak

Memastikan jalan akses layak


untuk mobil;isasi truck

Tertabrak truck
mixer atau CP

4.

Pekerjaan Pengecoran

Anggota
terkena
beton

badan Luka sedang


adukan
Luka Berat

Suara
mesin
merusak
pendengaran

Kematian

Memastikan
kontraktor
menyediakan rambu kecepatan
maksimal truck
Memastikan
kontraktor
menyediakan
pemandu/
security
untuk
mengatur
mobilitas truck mixer
Memastikan
pengemudi
memiliki SIM dan Surat Jalan

Jatuh
Tangan tergores
Menghirup udara
kotor
Luka sedang
5.

Pekerjaan Instalasi Pipa

Terkena percikan Luka Berat


api las
Kematian
Tersandung kabel

Jatuh
Pekerjaan wiring

Kulit
tangan Luka ringan
terkelupas
Luka sedang
Mata
terkena
debu

Jatuh
7.

Menjaga jarak dengan lokasi


pekerjaan
Memakai earplug
Memakai helm safety

Suara
mesin
merusak
pendengaran

6.

Memastikan catwalk untuk


pijakan kuat dan tidak sempit

Pekerjaan penyambungan Kulit


tangan Luka ringan
dan instalasi alat listrik
terkelupas
Luka sedang

Memastikan
scaffolding
terpasangn dengan kuat dan
rapi
Memastikan Catwalk untuk
pijakan kuat dan tidak sempit
Menjaga jarak dengan lokasi
pekerjaan
Memastikan
scaffolding
terpasangn dengan kuat dan
rapi
Memastikan Catwalk untuk
pijakan kuat dan tidak sempit
Menjaga jarak dengan lokasi
pekerjaan

8.

Pekerjaan

pengangkatan Cedera badan

Keseleo

Memastikan material tertata

material

Tersandung

Tangan
terjepit

pada saat pengangkatan


Memakai helm safety

Pinggang dan
Memakai sepatu safety
bahu sakit
Menjaga jarak dengan lokasi
pekerjaan
Tertimpa
longsoran tanah

9.

Pekerjaan galian Pondasi

Terjatuh ke dalam Luka ringan


lubang galian
Luka sedang
Terkena
nyamuk

gigitan Luka berat

Memastikan
tersedia
semprot nyamuk

alat

Memakai helm safety


Memakai sepatu safety
Menjaga jarak dengan lokasi
pekerjaan
Memakai helm safety

10.

11.

12.

Pekerjaan
Pemotongan Terkena pecahan Luka ringan
tiang pancang
beton

Pekerjaan
Pemasangan Tertimpa gelagar
Struktur Balok

Pemancangan
pancang

tiang

Terkena pecahan
beton

Luka berat
kematian

Memakai sepatu safety


Menjaga jarak dengan lokasi
pekerjaan
Memakai helm safety
Memakai sepatu safety
Menjaga jarak dengan lokasi
pekerjaan
Memakai sepatu safety

Luka ringan

Suara
mesin
merusak
pendengaran

Memakai earplug
Memakai helm safety
Menjaga jarak dengan lokasi
pekerjaan

2). Pemenuhan Perundang-undangan dan persyaratan lainnya


1. Kesehatan, Higiene Kantor & Asuransi Tenaga Kerja
Undang Undang / Peraturan

Tentang :

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor:


23 Tahun 1992

Kesehatan

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia

Penyelenggaraan Program Jaminan

Nomor 14 Tahun 1993

Sosial Tenaga Kerja

Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan


Transmigrasi No. Per.02/Men/1980
Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan
Transmigrasi No. 03/MEN/1982,

Pemeriksaan
Kerja
Dalam
Keselamatan

Kesehatan

Tenaga

Penyelenggaraan

Pelayanan Kesehatan Kerja


Kerja
Penyelenggaraan Pemeliharaan

Surat Keputusan Bersama Menteri Tenaga

Kesehatan Bagi Tenaga Kerja

Kerja Dan Menteri Kesehatan Nomor: Kep PerMenkes


Nomor
718/1987
235/MEN/1985
dan
14/MENKES/SKB/III/1985

Batas Syarat Kebisingan

PerMenkes Nomor
472/MENKES/PER/VI/1996

Pengamanan Bahan Berbahaya Bagi


Kesehatan

SE Menteri tenaga Kerja No. 01/MEN/1997

Nilai Ambang Batas ( NAB ) Faktor


Kimia di Udara Lingkungan kerja

KepMen tenaga kerja Nomor 51/MEN/1999

Nilai Ambang Batas ( NAB ) Faktor


Fisik di Tempat Kerja ( Debu )

Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan


Transmigrasi Nomor: Per-01/MEN/1979,
Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan
Transmigrasi Nomor: Per- 01/MEN/1981,

Kewajiban
Latihan
Hygiene
Perusahaan,
Kesehatan
Dan
Keselamatan Kerja Bagi Tenaga Para
Medis Perusahaan
Kewajiban Melapor Penyakit Akibat
Kerja

2. Jasa Konstruksi
Undang Undang / Peraturan

Tentang :

Peraturan Khusus Direktur Pekerjaan Umum Nomor 119966/Stw


Tanggal 19 Agustus 1910 (Bijbl No. 8600 Sebagai Telah Dirobah
Dengan Surat Keputusan Kepala Keselamatan Kerja No. S. 60/1/2 Instalasi Mesin mesin dan sarananya
Tanggal 9
Maret 1929),
Undang-Undang 18 Tahun 1999

Jasa Konstruksi

Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 2000

Penyelenggaraan Jasa Konstruksi

Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan

Keselamatan Dan Kesehatan Kerja

Transmigrasi No. Per 01/MEN/1980,


Keputusan Bersama Menteri Tenaga Kerja

Pada Konstruksi Bangunan

Dan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: Kep.


174/MEN/86 Nomor: 104/Kpts/1986
Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. : Per.01/MEN/1989,

Keselamatan Dan Kesehatan Kerja


Pada Tempat Kegiatan Konstruksi
Kwalifikasi Syarat-Syarat
Keran Angkat

Operator

3. Khusus Pekerjaan Jalan & Jembatan


Undang Undang / Peraturan
Undang-Undang No.38 Tahun 2004
Jalan
Undang-Undang No.8 Tahun 1990
Jalan Tol
Peraturan
Pemerintah
Republik
Jalan
Indonesia No.

Tentang :

Pembahasan dari buku petunjuk ini mencakup masalah-masalah


: - pembahasan teknis seperti : fungsi, struktur dan dimensi
kereb, - penempatan kereb

26 Tahun
1985
Standar
spesifikasi
kereb No.
011/S/BNKT/1990, Dept. PU

Manual pengaturan lalu lintas adalah meliputi perambuan


sementara (peringatan, larangan, perintah dan atau petunjuk)
yang antara lain mencakup penggunaan jenis rambu,
Keselamatan
Selama
Pekerjaan ukuran/design,teknik penempatan,serta pembuatan tata letak
Pemeliharaan
perambuan. Pekerjaan pemeliharaan jalan yang dimaksudkan
dalam manual ini mencakup pekerjaan pemeliharaan jalan
Jalan No. 015/T/BM/1999, Dept PU
termasuk pekerjaan pemasangan utilitas jalan
Manual Pengaturan
untuk

Lalu

Lintas

Pedoman Pemeliharaan Perlengkapan Pedoman teknis ini menjelaskan tentang hal yang berkaitan
dengan jenis perlengkapan jalan, peralatan yang
digunakan
Jalan
untuk pemeliharaan dan cara pemeliharaan, yang meliputi
No. 016/T/BM/1999, Dept. PU
pembersihan, perbaikan
serta mengecat ulang.
Masalah yang akan dibahas pada buku ini meliputi ketentuanPetunjuk pelaksanaan pemasangan ketentuan tentang pelaksanaan pemasangan utilitas baik pada
badan jalan maupun pada jembatan- jembatan yang dikaitkan
utilitas No.
dengan ketentuan- ketentuan yang ada dan berlaku antara lain
002/T/BNKT/1990 Dept PU
undang-undang jalan no. 13 th.1980 tentang jalan dan PP No. 26
th 1985 tentang jalan.

Pedoman teknis perencanaan perambuan semntara bagi


pekerjaan jalan, jembatan dan fasilitas prasarana perkotaan
Perambuan Sementara untuk Pekerjaan merupakan acuan atau tata cara untuk penempatan rambu
sementara
meliputi deskripsi, ketentuan umum, ketentuan
Jalan
teknis, dan tata cara perencanaan bagi pihak yang terkait dengan
No. Pd T-12-2003, PU
pekerjaan jalan. Pekerjaan jalan tersebut mengambil sebagian
atau seluruh dari DAMIJA yang diperkirakan bisa
menggangu
arus lalu lintas dan keselamatan keselamatan pemakai jalan.

Penanganan
lokasi
rawan
kecelakaan
lalu lintas ini
menguraikan metode penanganan lokasi rawan kecelakaan lalu
Penanganan lokasi rawan kecelakaan lintas yang terbagi kedalam empat tahapan penyelidikan, yaitu
tahap identifikasi lokasi rawan kecelakaan, tahap analisis
lalu
data, tahap pemilihan teknik penanganan serta tahap monitoring
lintas No. Pd T-09-2004-B, Dept PU
dan evaluasi. Pedoman ini disusun terdiri atas Ruang Lingkup,
Acuan Normatif, Definisi dan istilah, Ketentuan umum, Ketentuan
teknis, dan Prosedur Penanganan.
Tata cara pemasangan rambu dan marka Tata cara ini membahas ketentuan-ketentuan pemasangan
jalan
rambu dan marka jalan perkotaan
perkotaan
No. Pd-NN32
Dept PUSafety)
4. Keselamatan
Umum (Public
Undang Undang / Peraturan

Tentang :

Undang-Undang No. 1 Tahun 1970

Keselamatan kerja

Keputusan Menteri Tenaga Kerja R.I. Pembentukan Panitia Pembina Keselamatan Dan Kesehatan
Nomor: 2 Tahun 1970,
Kerja Di Tempat Kerja (di Perusahaan)
Peraturan
Pemerintah
Republik Keselamatan Kerja Terhadap Radiasi (Lembaran Negara No. 15
Indonesia Nomor 11 Tahun 1975,
Tahun 1975)
Peraturan Menteri Tenaga Kerja, Persyaratan Penunjukan Dan Wewenang Serta Kewajiban
Transmigrasi Dan Koperasi R.I No: Per- Pegawai Pengawas Keselamatan Kerja Dan Ahli Keselamatan
03/MEN/Tahun 1978
Kerja
Pemasangan Instalasi Di Tempat Kerja ( listrik, lif, ketel/pesawat
Surat Keputusan Direktur Jenderal
uap, gas, debu, penyalur petir, X-Ray, pesawat tenaga, mesin,
Perlindungan Dan Perawatan Tenaga
cairan air, pemadam/pencegah kebakaran, pencegahan
Kerja No. Kpts 40/DP/1978
pencemaran lingkungan bangunan konstruksi).
Keputusan Menteri Tenaga Kerja Dan Penunjukan Pegawai-Pegawai Pengawas Yang Diberi
Transmigrasi
Nomor:
Kep- Kewajiban Menjalankan Pengawasan Keselamatan Dan
33/MEN/Dp/79,
Keselamatan Kerja
Peraturan Menteri Tenaga
Transmigrasi
Nomor:
04/MEN/1980,

Kerja,
Syarat-Syarat Pemasangan Dan Pemeliharaan Alat Pemadam
PerApi Ringan

Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. :


Instalasi Alarm Kebakaran Otomatik
Per.02/MEN/1983
Keputusan Menteri Tenaga Kerja R.I. Penyediaan Data Bahan Berbahaya Terhadap Keselamatan Dan
Nomor: Kep-612/MEN/1989,
Kesehatan Kerja

Peraturan Menteri Tenaga Kerja


Tata Cara Penunjukan Kewajiban Dan Wewenang Ahli
Republik
Indonesia
No.
:
Keselamatan Dan Kesehatan Kerja
Per.02/MEN/1992
Peraturan Menteri Tenaga Kerja R.I Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja
Nomor : Per.05/MEN/1996
Peraturan Menteri Tenaga
Nomor : 03/MEN/98,

Kerja

Tata Cara Pelaporan Dan Pemeriksaan Kecelakaan

6. Environmental
Undang Undang / Peraturan

Tentang :

Undang-Undang No. 6/1994

Pengesahan United Nations Framework Convention on Climate


Change ( Konvensi Kerangka Kerja PBB Mengenai Perubahan
Iklim)

Undang-Undang No. 23 Tahun 1997

Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pengelolaan Lingkungan Hidup


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699)

Peraturan
Pemerintah
Indonesia No. 11/1975

Republik

Keselamatan Kerja Terhadap Radiasi

Peraturan
Pemerintah
Indonesia No. 22/1982

Republik

Tata Pengaturan Air

Peraturan
Pemerintah
Republik
Pengendalian Pencemaran Air
Indonesia Nomor 20 Tahun 1990,
Peraturan
Pemerintah
Republik
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
Indonesia Nomor 27 Tahun 1999,
Peraturan Pemerintah PU Nomor
49/PRT/1997

Tata Cara dan persyaratan Ijin Penggunaan dan atau Sumber


sumber Air

Peraturan
Pemerintah
Republik
Pengendalian Pencemaran Udara
Indonesia Nomor 41 Tahun 1999,
Peraturan
Pemerintah
Indonesia No. 18/1999

Republik

Pengelolaan Limbah bahan Berbahaya dan Beracun

Peraturan
Pemerintah
Republik Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999
Indonesia Nomor 85 Tahun 1999,
Tentang Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
Peraturan
Pemerintah
Indonesia No. 19/1999

Republik

Pengendalian Pencemaran dan atau Perusakan Laut

Surat Edaran No. SE.01/MEN/1978,

Nilai Ambang Batas (N.A.B) Untuk Iklim Kerja Dan Nilai Ambang
Batas (NAB) Untuk Kebisingan Di Tempat Kerja

Keputusan Menteri Perhubungan Nomor


Pengadaan Fasilitas Penampungan Limbah di Pelabuhan
KM.215/HK.602/Phb.87
Pedoman Umum Bina Lingkungan Industri (BILIK), Form
Komunikasi Pembinaan Lingkungan

Keputusan Menteri Tenaga Kerja


Nomor:
Kep No. Se. 11/MEN/1989
Surat Edaran
Pembuangan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun (B3)
- 1056/MEN/1988,
Keputusan
Menteri Perhubungan Nomor
Pencegahan Pencemaran oleh Minyak dari kapal kapal
KM.86 tahun 1990
PerMenkes
416/Menkes/Per/IX/90
Peraturan
Menteri
49/PRT/1990

Nomor

PU

Syarat-syarat Pengawasan Kualitas Air

Nomor Tata Cara dan Persyaratan Izin Penggunaan dan atau Sumber
sumber Air

Keputusan Presiden Nomor 65 tahun


Pengesahan Internasional for the Safety of Life at The Sea 1974
1990
Keputusan Presiden No. 61/1993

Pengesahan Basel Convention of the Control of Tranboandary


Movements of Hazardous Wastes and Their Disposal

Keputusan Presiden No. 55/1993

Tata Cara Pembebasan Lahan

Keputusan Menteri Perhubungan Nomor Pedoman teknis Penyusunan Analisis


KM. 75 tahun 1994
Mengenai
Dampak Lingkungan
Kepelabuhan
Tata
Cara Memperoleh
Izin Penyimpanan,
KepKa
Bapedal
No.
68/Bapedal/05/1994
Pengumpulan, Pengoperasian Alat Pengelolaan, Pengelolaan dan
Penimbunan Akhir Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak
Hidup Nomor : KEP-13/MENLH/3/1995
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Program Penilaian Kinerja Perusahaan /
Hidup
Nomor
:
KEPKegiatan Usaha Dalam Pengendalian Pencemaran Dari Lingkup
35A/MENLH/7/1995
Kegiatan Prokasih (PROPER PROKASIH)
Pedoman Teknis Penyusunan Upaya Pengelolaan Lingkungan
Keputusan Menteri Pertambangan dan dan Upaya Pemantauan Lingkungan untuk Kegiatan
Energi Nomor 289.K/008/MPE/1995 Pertambangan Umum, Minyak dan Gas Bumi serta Listrik dan
Pengembangan Energi
Pedoman Teknis Penyusunan Upaya Pengelolaan Lingkungan
Keputusan Menteri Pertambangan dan
dan Upaya Pemantauan Lingkungan Untuk Kegiatan
Energi Nomor 388.K/008/MPE/1995
Pertambangan Bahan Galian Golongan C

Pedoman Teknis Penyusunan Upaya Pengelolaan Lingkungan


Keputusan Menteri Pertambangan dan
dan Upaya Pemantauan Lingkungan Untuk Kegiatan
Energi Nomor 390.K/008/MPE/1995
Pengambilan Air Bawah Tanah
Pedoman Teknis Penyusunan Upaya Pengelolaan Lingkungan
Keputusan Dirjen Pertambangan Umum (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) Untuk Kegiatan
Usaha Pertambangan Umum yang Tidak Wajib AMDAL
Nomor 514.K/20/DDJP /95
Keputusan Dijen Geologi dan
Sumberdaya Mineral Nomor
048.K/10l/DDJG/1995

Pedoman Teknis Penyusunan Upaya Pengelolaan Lingkungan


dan Upaya Pemantauan Lingkungan Untuk Rencana Kegiatan
Pengambilan Air Bawah Tanah

KepKa Bapedal No.


01/Bapedal/09/1995
KepKa Bapedal No.
02/Bapedal/09/1995
KepKa Bapedal No.
03/Bapedal/09/1995

Tata Cara Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan


Limbah B3
Dokumen Limbah B3

KepKa Bapedal No.


04/Bapedal/09/1995

Persyaratan Teknis dan Pengelolahan Limbah


B3
Tata Cara Persyaratan Penimbunan Hasil Pengelolahan,
Persyaratan Lokasi Bekas Pengelolaan, dan Lokasi Bekas
Penimbunan Limbah B3

KepKa Bapedal No.


Simbol dan Label Limbah B3
05/Bapedal/09/1995
KepKa Bapedal No.
Baku Tingkat Kebisingan
205/Bapedal/07/1996
Keputusan Menteri Negara Lingkungan
Baku Tingkat Kebisingan
Hidup
Nomor : KEP-48/MENLH/11/1996
Keputusan
Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor : KEP49/MENLH/11/1996
Keputusan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor : KEP50/MENLH/11/1996
Keputusan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor : KEP45/MENLH/10/1997
Keputusan Kepala Badan Pengendalian
Dampak Lingkungan Nomor : KEP-105
Tahun 1997
KepKa Bapedal No. Kep107/Bapedal/11/1997

Baku Tingkat Getaran


Baku Tingkat Kebauan
Indeks Standar Pencemaran Udara
Panduan Pemantauan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan
Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL)
Pedoman Teknis Perhitungan dan Pelaporan Serta Informasi
Indeks Standar Pencemar Udara

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan
Hidup Nomor 3 Tahun 2000
Analisis Dampak Lingkungan Hidup