Anda di halaman 1dari 15

LTM BIOKIMIA

Nama

: Nadina Sabila Amany

Kelompok/Program Studi

: 10 / Teknologi Bioproses

Materi

: Kinetika Pertumbuhan Sel

Outline

o
o
o

Siklus Sel
Parameter Pertumbuhan Sel
Teknik Analisis Sel

PENGERTIAN DAN TAHAPAN SIKLUS SEL


Siklus sel adalah serangkaian peristiwa berulang yang dilalui sel. siklus sel termasuk pertumbuhan,
sintesis DNA, dan pembelahan sel. Dalam sel eukariotik, ada dua fase pertumbuhan, dan pembelahan sel
termasuk mitosis. Siklus sel dikendalikan oleh protein regulator pada tiga pos pemeriksaan utama dalam
siklus. Protein memberi sinyal sel untuk memulai atau menunda fase berikutnya dari siklus.
Sel eukariotik menghabiskan sebagian dari kehidupan pada tahap interfase dari siklus sel, yang dapat
dibagi ke dalam tiga fase, G1, S dan G2. Selama interfase, sel melakukan apa yang seharusnya dilakukan.
Meskipun sel memiliki banyak fungsi umum, seperti replikasi DNA, mereka juga memiliki fungsi
spesifik tertentu. Artinya, selama kehidupan sel jantung, sel jelas akan melakukan kegiatan tertentu yang
berbeda dari sel ginjal atau sel hati.
Pada sel prokariot yang tidak memiliki inti sel, siklus sel terjadi melalui suatu proses yang disebut
pembelahan biner, sedang pada sel eukariot yang memiliki inti sel, siklus sel terbagi menjadi dua fase
fungsional, fase S dan M, dan fase persiapan, G1 dan G2:
1. Fasa S (sintesis)
Merupakan tahap terjadinya replikasi DNA. Pada umumnya, sel tubuh manusia membutuhkan waktu
sekitar 8 jam untuk menyelesaikan tahap ini. Hasil replikasi kromosom yang telah utuh, segera dipilah
bersama dengan dua nuklei masing-masing guna proses mitosis pada fase M.
2. Fasa M (mitosis)
Interval waktu fase M kurang lebih 1 jam. Tahap di mana terjadi pembelahan sel (baik pembelahan biner
atau pembentukan tunas). Pada mitosis, sel membelah dirinya membentuk dua sel anak yang terpisah.
3. Fasa G (gap)

Fasa G yang terdiri dari G1 dan G2 adalah fase sintesis zat yang diperlukan pada fase berikutnya. Pada sel
mamalia, interval fase G2 sekitar 2 jam, sedangkan interval fase G 1 sangat bervariasi antara 6 jam hingga
beberapa hari. Sel yang berada pada fase G 1 terlalu lama, dikatakan berada pada fase G 0 atau quiescent.
Pada fase ini, sel tetap menjalankan fungsi metabolisnya dengan aktif, tetapi tidak lagi melakukan
proliferasi secara aktif. Sebuah sel yang berada pada fase G 0 dapat memasuki siklus sel kembali, atau
tetap pada fase tersebut hingga terjadi apoptosis.
Pada umumnya, sel pada orang dewasa berada pada fase G 0. Sel tersebut dapat masuk kembali ke fase G 1
oleh stimulasi antara lain berupa: perubahan kepadatan sel, mitogen atau faktor pertumbuhan, atau asupan
nutrisi.
4. Interfase
Merupakan sebuah jedah panjang antara satu mitosis dengan yang lain. Jedah tersebut termasuk fase G 1,
S, G2.
PEMBELAHAN SEL
Reproduksi sel dapatterjadi karena peristiwa pembelahan sel. Pembelahan sel ini diawali
dengan adanya pembelahan kromosom dalam beberapa tahap pembelahan. Pada setiap tahap
pembelahan mempunyai ciri-ciri tertentu yang dapat diamati proses-prosesnya melalui teknik atau
perlakuan tertentu yang diberikan pada kromosom dalam sel tersebut.
Adapun pembelahan sel dibedakan menjadi dua macam, yaitu Pembelahan Mitosis dan
Pembelahan Meiosis. Pembelahan Mitosis adalah peristiwa pembelahan sel yang terjadi pada selsel somatis (sangat aktif pada jaringan meristem) yang mengha silkan dua sel anak yang memiliki
genotip sama dan identik dengan sel induknya. Sedangkan Pembelahan Meiosis, terjadi pada sel-sel
germinal (gamet) dengan hasil akhir empat buah sel anak yang haploid dengan komposisi genotip yang
mungkin berbeda dengan sel induknya.
Sebelum terjadinya peristiwa pembelahan sel, terdapat beberapa peristiwa penting seperti
pembelahan kromosom. Dalam inti sel terdapat kromosom yaitu bendabenda halus berbentuk
batang panjang atau pendek dan lurus atau bengkok. Kromosom merupakan pembawa bahan
keturunan. Kromosom dapat terlihat pada tahap-tahap tertentu pada pembelahan inti. Biasanya
kromosom digambarkan pada tahap metafase.
MITOSIS
MITOSIS adalah cara reproduksi sel dimana sel membelah melalui tahap-tahap yang teratur,
yaitu Profase Metafase-Anafase-Telofase. Antara tahap telofase ke tahap profase berikutnya terdapat masa
istirahat sel yang dinarnakan Interfase (tahap ini tidak termasuk tahap pembelahan sel). Pada tahap
interfase inti sel melakukan sintesis bahan-bahan inti
Secara garis besar ciri dari setiap tahap pembelahan pada mitosis adalah sebagai berikut:
a.
Interfase
Ciri-ciri fase interfase sebagai berikut :

Selaput nukleus membatasi nukleus

Nukleus mengandung satu atau lebih nukleolus

Dua sentrosom telah terbentuk memlalaui replikasi sentrosom


tunggal

Pada sel hewan, setiap sentrosom memiliki dua sentrosom

Kromosom yang diduplikasikan selama fase S, tidak bisa dilihat secara individual karena belum
terkondensasi.

b. Profase
Ciri-ciri fase profase sebagai berikut :

Serat-serat kromatin menjadi terkumpar lebih rapat,


terkondensasi menjadi kromosom diskret yang dapat diamati
dengan mikroskop cahaya.

Nukleolus lenyap

Gelendong mitotik mulai terbentuk. Gelendong ini terdiri


atas sentrsom dan mikrotubulus yang menjulur dari sentrosom.

Sentrosom-sentrosom bergerak saling menjauhi, tampaknya didorong oleh mikrotubulus yang


memanjang di antaranya.

c.
Prometafase
Ciri-ciri fase prometafase sebagai berikut :

Selaput nukleus terfragmentasi

Mikrotubulus yang menjulur dari masing-masing


sentrosom kini dapat memasuki wilayah nukleus.

Kromosom menjadi semakin terkondensasi

Masing-masing dari kedua kromatid pada setiap


kromosom kini memiliki kinetokor, struktur protein
terspesialisasi yang terletak pada sentromer.

Beberapa mikrotubulus melekat pada kinetokor menjadi mikrotubulus kinetokor.

Mikrotubulus nonkinetokor berinteraksi dengan sejenisnya yang berasal dari kutub gelendong
yang bersebrangan

d. Metafase
Ciri-ciri fase metafase sebagai berikut :

Merupakan tahap mitosis yang paling lama, seringkali berlangsung


sekitar 20 menit.

Sentrosom kini berada pada kutub-kutub sel yang bersebrangan.

Kromosom berjejer pada lempeng metafase, bidang khayal yang


berada di pertengahan jarak antara kedua kutub gelendong. Sentromersentromer kromosom berada di lempeng metafase.

Untuk setiap kromosom, kinetokor kromatid saudara melekat ke mikrotubulus kinetokor yang
berasal dari kutub yang bersebrangan.

e. Anafase
Ciri-ciri fase anafase sebagai berikut :

Merupakan tahap mitosis yang paling pendek, seringkali berlangsung hanya beberapa menit.

Anafase di mulai ketika protein kohesin terbelah. Ini


memungkinkan kedua kromatid saudara dari setiap pasangan
memisah secara tiba-tiba. Setiap kromatid pun menjadi satu
kromosom utuh.

Kedua kromosom anakan yang terbebas mulai bergerak


menuju ujung-ujung sel yang berlawanan saat mikrotubulus
kinetokor memendek. Karena mikrotubulus ini melekat ke
wilayah sentromer terlebih dahulu.

Sel memanjang saat mikrotubulus nonkinetokor memanjang.

Pada akhir anafase, kedua ujung sel memilki koleksi kromosom yang sama dan lengkap.

f. Telofase
Ciri-ciri fase telofase sebagai berikut :

Dua nukleus anakan terbentuk dalam sel.

Selaput nukleus muncul dari fragmen-fragmen selaput nukleus sel


induk dan bagian-bagaian lain dari sistem endomembran.

Nukleolus muncul kembali.

Kromosom menjadi kurang terkondensasi

Mitosis, pembelahan satu nukleus menjadi nukleus yang identik


genetik, sekarang sudah selesai.

secara

GAMBARAN UMUM FASE MITOSIS

MEIOSIS
Meiosis yaitu tipe pembelahan sel yang mengurangi jumlah set kromosom dari dua menjadi satu
dalam gamet, mengimbangi penggandaan saat fertilisasi. Pada hewan meiosis hanya terjadi pada ovarium
atau testis. Akibatnya, setiap sperma dan sel telur manusia bersifat haploid (n=23). Fertilisasi
mengembalikan kondisi diploid dengan cara mengombinasikan dua set haploid kromosom, dan siklus
hidup manusia diulangi lagi, generasi demi generasi. Fertilisasi dan meiosis merupakan ciri khas dari
reproduksi seksual pada tumbuhan maupun hewan. Fertilisasi dan meiosis silih berganti dalam siklus
hidup seksual, mempertahankan jumlah kromosom yang konstan pada setiap spesies dari satu generasi ke
generasi berikutnya. Sel haploid atau diploid dapat membelah melalui mitosis, bergantung pada tipesiklus
hidup. Akan tetapi, hanya sel-sel diploid yang dapat mengalami meiosis, karena sel-sel haploid memiliki
satu set kromosom yang tidak dapat dikurangi lagi.
Tiga perisiwa yang hanya terjadi pada meiosis selama meiosis l:
1. Sinapsis dan pindah silang. Selama profase l, homolog tereplikasi berpasangan dan terhubung secara
fisik di sepanjang lengan oleh struktur protein serupa ritsleting, kompleks sinaptonemal. Proses ini
disebut sinapsis. Penataan ulang genetik antara-antara kromatid nonsaudara, dikenal sebagai pindah

silang (crossing over), diselesaikan pada tahap ini. Setelah penguraian kompleks sinaptonemal pada
profase akhir, kedua homolog sedikit memisah namun tetap terhubung, setidaknya pada satu daerah
yang berbentuk-X yang disebut kiasmata. Kiasmata merupakan perwujudan fisik dari pindah silang.
Kiasma tampak seperi palang karena kohesi kromatid saudara masih tetap menyambungkan kedua
kromatid saudara awal, bahkan di daerah-daerah yang salah satu kromatidnya kini menjadi bagian
dari homolog lain. Sinapsis dan pindah silang normalnya tidak terjadi saat mitosis.
2.

Homolog di lempeng metafase. Pada metafase l meiosis, kromosom berjejer sebagai pasangan
homolog di lempeng metafase, bukan sebagai kromosom individual, seperti pada metafase mitosis.

3. Pemisahan homolog. Pada anafase l meiosis, kromosom-kromosom tereplikasi pada setiap pasangan
homolog bergerak kearah kutub yang berlawanan, namun kromatid-kromatid saudara dari setiap
kromosom tereplikasi tetap melekat. Sebaliknya, pada anafase mitosis, kromatid-kromatid saudara
memisah.
GAMBARAN UMUM FASE MEIOSIS:

PERBANDINGAN MITOSIS DAN MEIOSIS


Pembanding

Mitosis

Meiosis

Replikasi

Terjadi saat interfase


mitosis dimulai

Jumlah pembelahan

Satu
kali
profase,metafase,
telofase

sebelum

Terjadi saat interfase sebelum


meiosis l dimulai

mencakup Dua
kali,
masing-masing
anafase
dan mencakup profase, metafase,
anafase dan telofase

Sinapsis
homolog

dan

kromosom Tidak terjadi

Terjadi saat profase l bersama


pindah silang antara kromatid
nonsaudara,
kiasmata
yang
dihasilkan menjaga pasangan
kromosom tetap bersama akibat
kohesi kromatid saudara

Jumlah
sel
anakan
komposisi genetik

dan Dua, masing-masing diploid (2n)


dan identik secara genetik dengan
sel induk

Empat, masing-masing haploid


(n), mengandung separuh jumlah
kromosom sel induk, berbeda
secara genetik dari sel induk dan
dari satu sama lain

Peran dalam tubuh hewan

Memungkinkan
dewasa
multiselular bertumbuh-kembang
dari zigot, menghasilkan sel-sel
untuk pertumbuhan, perbaikan dan
pada beberapa spesies, reproduksi
aseksual

Menghasilkan
gamet,
mengurangi jumlah kromosom
menjadi
separuh
dan
menyebabkan variabilitas genetik
di anatara gamet

PARAMETER PERTUMBUHAN SEL


Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya ukuran atau subtansi atau masa zat suatu organisme,
misalnya kita makhluk makro ini dikatakan tumbuh ketika bertambah tinggi, bertambah besar atau
bertambah berat. Pada organisme bersel satu pertumbuhan lebih diartikan sebagai pertumbuhan koloni,
yaitu pertambahan jumlah koloni, ukuran koloni yang semakin besar atau subtansi atau masssa mikroba
dalam koloni tersebut semakin banyak, pertumbuhan pada mikroba diartikan sebagai pertambahan jumlah
sel mikroba itu sendiri. Pertumbuhan merupakan suatu proses kehidupan yang irreversible artinya tidak
dapat dibalik kejadiannya. Pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan kuantitas konstituen seluler
dan struktur organisme yang dapat dinyatakan dengan ukuran, diikuti pertambahan jumlah, pertambahan
ukuran sel, pertambahan berat atau massa dan parameter lain. Sebagai hasil pertambahan ukuran dan
pembelahan sel atau pertambahan jumlah sel maka terjadi pertumbuhan populasi mikroba (Iqbalali,
2008).

Pertumbuhan SeL
Pertumbuhan dapat didefinisikan sebagai peningkatan komponen - komponen seluler. Terdapat dua
macam pertumbuhan sel, yaitu pertumbuhan yang berakibat peningkatan ukuran sel tetapi tidak jumlah
sel. Dan yang kedua adalah pertumbuhan yang diikuti dengan peningkatan jumlah sel. Dalam hal
yang pertama, inti sel membelah tetapi tidak diikuti oleh pembelahan sel.

Gambar 1 Kurva Pertumbuhan Sel


(Hamdiyati, 2011)
Tahap-tahap pertumbuhan sel yaitu:
1. Fase Lag
Pada saat pertama kali organisme ditumbuhkan pada media kultur yang baru biasanya tidak
segera didapati peningkatan jumlah atau massa sel. Walaupun demikian sel tetap mensintesis
komponen seluller. Fase lag dapat terjadi karena beberapa faktor antara lain karena sel yang sudah
tua dan kekurangan ATP, essential cofactors serta ribosom. Substansi substansi ini harus terlebih
dahulu disintesis sebelum pertumbuhan berlangsung. Kemungkinan yang lain adalah media
pertumbuhan yang berbeda dengan media pertumbuhan sebelumnya. Dalam hal ini enzim- enzim
baru akan diperlukan untuk penggunaan nutrisi yang berbeda. Selain itu lag fase dapat terjadi
apabila sel mengalami kerusakan sehingga membutuhkan waktu untuk perbaikan kembali. Lamanya lag
phase bervariasi tergantung pada kondisi sel dan sifat dari media. Sel yang sudah tua atau baru saja
dikeluarkan dan tempat penyimpanan (refrigerated) atau dikultur dalam suatu media dengan
kandungan nutrisi yang berbeda akan membutuhkan lag fase yang lebih panjang jika dibandingkan
dengan sel yang masih muda dan dikulturkan pada media baru yang sama.
2. Fase Eksponensial
Fase ini disebut juga dengan fase log. Organisme tumbuh dan membelah pada kecepatan
maksimum tergantung pada sifat genetik, medium dan kondisi pertumbuhan. kecepatan
pertumbuhan konstant, sel membelah dan meningkat jumlahnya (doubling) dalam interval yang
teratur. Pada fase ini sel mempunyai kesamaan sifat kimia dan fisiologi sehingga banyak digunakan
dalam studi - studi biokimia dan fisiologi.

3. Fase Stationer
Pada fase ini kurva
pertumbuhan
berhenti dan kurva horisontal. Hal ini
disebabkan
ketidakseimbagan nutrient dan O 2, keseimbangan jumlah sel yang membelah dan yang mati, tipe
organisme serta akumulasi limbah toksik seperti asam laktat. Bakteri mampu tumbuh pada
maksimum populasi sel (cell density) 1 x sel/ml sedangkan protozoa dan alga hanya mampu
tumbuh pada tingkat populasi 1 x 106 sel/ml.
4. Fase Kematian
Pada fase kematian adanya perubahan lingkungan tumbuh seperti kehabisan nutrisi dan
akumulasi limbah toksik menjadi faktor penyebab menurunnya jumlah sel hidup. Sel mengalami
kernatian dalam pola logaritmik (Biyobe, 2012)

Kinetika Pertumbuhan Sel


Kinetika pertumbuhan sel digunakan untuk menyatakan bagaimana suatu sel tumbuh.
Pertumbuhan sel, dalam hal ini mikroba, umumnya mengikuti suatu pola pertumbuhan berupa kurva
pertumbuhan sigmoid (model Monod). Kurva pertumbuhan sel menyatakan besarnya atau banyaknya
konsentrasi sel yang hidup pada berbagai fase pertumbuhan selama waktu tertentu. Terkait dengan laju
pertumbuhannya, hal ini bervariasi bergantung pada fase pertumbuhannya.

Gambar 7. Kurva pertumbuhan sel


(Sumber: Pauline M. Doran, 2002)
Kurva pertumbuhan sel diawali dengan fase yang bernama Fase Lag. Pada fase atau tahap ini, sel
mangalami adaptasi terhadap lingkungannya. Pada fase ini, sel akan mensistesis berbagai enzim-enzim
baru serta komponen struktural yang ia butuhkan. Setelah tahap ini, sel akan mengalami fase
pertumbuhan dan diawali pada titik yang bernama Fase Akselerasi (Acceleration Phase). Pertumbuhan sel
terus dilanjutkan hingga mencapai titik yang bernama Fase Penurunan (Decline Phase). Jika
pertumbuhannya eksponensial, maka pada grafik semi-logaritmik fase pertumbuhan (Growth Phase) akan
terlihat sebagai suatu garis lurus.

Selama proses pertumbuhan terus berlanjut, akan terjadi kondisi dimana nutrisi dalam medium
habis atau terjadinya akumulasi suatu produk inhibitor. Kondisi ini yang kemudian menyebabkan
pertumbuhan menurun dan sel memasuki fase penurunan. Setelah masa transisi ini, sel akan memasuki
fase stasioner dimana tidak lagi terjadi pertumbuhan sel yang berarti. Selanjutnya kultur perlahan-lahan
memasuki masa kematian sel (Death Phase) atau penghancuran sel seperti lisis.
Laju pertumbuhan sel dapat dinyatakan dalam persamaan berikut:
rX = x

(1)

dimana rX adalah laju volumetrik dari produksi biomassa (kgm -3s-1). Nilai x menyatakan konsentrasi sel
yang hidup (kgm-3). Sedangkan menyatakan laju pertumbuhan spesifik (specific growth rate). Laju
pertumbuhan spesifik menyatakan besarnya peningkatan massa sel per satuan waktu. Laju pertumbuhan
spesifik memiliki dimensi T-1.

Tabel 1. Pertumbuhan sel

Fase

Lag
Akselerasi (Acceleration)
Pertumbuhan (Growth)

Penurunan (Decline)

Stasioner
Kematian (Death)

Deskripsi

Laju Pertumbuhan Spesifik

Sel
beradaptasi
dengan
lingkungan; pertumbuhan sel 0
tidak ada atau sangat kecil
Pertumbuhan dimulai
< max
Pertumbuhan mencapai laju max
maksimum
Pertumbuhan
melambat
dikarenakan nutrisi berkurang < max
atau
akumulasi
produk
inhibitor
Pertumbuhan berhenti
=0
Sel tidak mampu lagi bertahan
hidup dan lisis

<0

(Sumber: Pauline M. Doran,2002)


TEKNIK ANALISIS SEL
Klasifikasi cara memempelajari sel dapat dipandang dari sifat selnya, missalnya adalah car mempelajari
sel hidup dan car mempelajari sel yang mati. Bisa juga dipandang dari teknik bagaimana sel itu dipelajari.

Dalam uraian ini dipilih alternatif terakhir, yaitu mempelajari macam-macam teknik mempelajari sel.
Pada prinsipnya, ada dua teknik umum mempelajari sel; yaitu:
1. Teknik Analisis Instrumental
Dua sifat sel yang menjadi dasar pengembangan teknik analisis instrumental pada sel, ialah ukuran
sel dan sifat sel yang tembus cahaya. Sel mempunyai ukuran yang sangat kecil yang dinyatakan dalam
micron (1 mikron =1/1000 mm = 1/25.400 inci). Sel hewan terkecil mencapai 4 mu (milimikron).
Meskipun demikian, ada beberapa sel protozoayang mempunyai ukuran mencapai beberapa mm,
misalnya spirostomum dari golongan ciliata mencapai ukuran 3 mm (Storer dan Usinger, 1957:247). Pada
hal daya mata manusia untuk membedakan antara objek tidak mampu melebihi jara 0,1 mm (100u).
Oleh karena itu, diperlukan teknik instrumental yang mampu membesarkan obyek mampu
membesarkan obyek untuk mempelajari sel, berupa mikroskop, yang macam-macamnya telah disebutkan.
Setiap jenis mikroskop mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Misalnya electron
mikroskop mampu untuk mengenal bagian sel sampai pada tingkatan molekul, tetapi tidak dapat
digunakan untuk mempelajari sel hidup karena terlalu tebal. Untuk mengatasi sifat kedua dari sel, yaitu
sifatnya yang tembus cahaya, dibutuhkan alat yang dapat meningkatkan kontras. Sel memiliki sifat
tembus cahaya, menurut De Reberties (1975 : 82) Karena sel mengandung banyak air, bila telah kering
sifat kontrasnya meningkat. Teknik lain untuk meningkatkan kontras sel adalah dengan teknik pewarnaan.
Masalahnya teknik peWarnaan ini tidak dapat digunakan untuk meningkatkan kontras pada sel hidup.
Karena mewarnai sel memerlukan serangkaian teknik, mulai dari fiksasi, dehidrasi embedding, dan
pemotongan atau seksi serta pewarnaan. Unutk meningkatkan sifat kontras pada sel hidup dapat
digunakan mikroskop fase kontras dan mikroskop interferensi (De Reberties, dkk. 1975 :82). Terdapat
beberapa macam mikroskop diantaranya yaitu :
1.

Mikroskop cahaya
Mikroskop cahaya adalah mikroskop yang tersusun atas tiga macam lensa. Pertama adalah lensa
pengumpul cahaya (lensa kondenser) dan dua macam lensa cembung (lensa pembesar) yang
diletakkan di masing-masing ujung pada suatu tabung. Lensa pembesar yang terletak pada depan
titik pandang mata disebut lensa okuler dan lensa yang terletak dekat objek (terletak pada ujung
tabung proksimal) disebut lensa objektif. Mekanisme terbentuknya perbesaran gambar yaitu :
Mula-mula beberapa berkas cahaya yang melewati lensa kondenser akan terfokus sebagai suatu
sekumpulan cahaya yang menembus objek mikroskopis menuju kedua lensa pembesar sampai
pada titik pandang mata. Preparat mikroskop dapat digeser-geser mendekati atau menjauhi lensa
objektif untuk mendapatkan gambar yang memiliki fokus terbaik. Posisi lensa kondenser juga
dapat digerakkan ke posisi yang tepat sehingga cahaya mengumpul pada preparat mikroskop dan
menyebar kembali ke lensa objektif. Hasilnya adalah bayangan gambar objek mikroskopis akan

diperbesar sesuai dengan kemampuan perbesaran masing-masing lensa pembesarnya. Nilai


perbesaran ini dapat diperoleh dari kombinasi kemampuan perbesaran lensa okuler dengan lensa
objektif.
Dengan mikroskop cahaya maka suatu objek mikroskopis dapat diperbesar dari 10 x ke
perbesaran 1000 x. Lebih dari itu, mikroskop cahaya akan mengalami kesulitan daya pisah atau
resolusi. Nilai resolusi adalah kemampuan titik bayangan dapat dipisahkan di bawah mikroskop
cahaya. Kemampuan pemisahan atau nilai resolusi gambar dituliskan dalam persamaan berikut :
D= (0,61 ) / (n sin )
Keterangan :

D= kemampuan atau daya pisah bayangan benda terkecil yang dapat dicapai oleh mikroskop
cahaya.

0,61= besaran tetap yamg merupakan derajat titik bayangn yang tumpang tindih tetapi masih
dapat dilihat terpisah oleh mata pengamat.

= panjang gelombang cahaya yang digunakan pada mikroskop cahaya. Panjang gelombang
minimum cahaya yang tampak adalah 450 nm. Untuk memaksimalkan resolusi gambar cahaya
ultraviolet dipilih karena memiliki panjang gelombang terkecil.

n= indeks refraksi cahaya yang merupakan besaran kecepatan cahaya di dalam ruang hampa
dibagi dengan bilangan kecepatan cahaya pada medium transmisi (udara). Nilai n dapat
dimaksimalkan dengan pemberian minyak imersi.

=setengah sudut kerucut cahaya yang memasuki lensa objektif. Sudut ini dapat dimaksimalkan
pada 700 sehingga nilai sinus 700 = 0,91.
Untuk memperoleh gambar bayangan benda mikroskopis yang sesuai dengan tujuannya,
mikroskop cahaya dimodifikasi menjadi beberapa macam diantaranya:
a.

Mikroskop cahaya dengan latar gelap.


Mikroskop ini bertujuan untuk memperbaiki penglihatan mata pada daya resolusi yang
terbatas. Diantara sumber cahaya dengan lensa diletakkan sebuah lempengan opak sehingga
hanya cahaya pinggir saja yang masuk ke lensa objektif. Ini bertujuan untuk memperoleh
gambar yang cerah dengan latar belakang yang gelap

b.

Mikroskop fase kontras


Mikroskop ini memanfaatkan perbedaan indeks refraksi bayangan benda yang menunjukkan
perbedaan tingkat kecerahan sehinnga memperbaiki daya penglihatan terhadap struktur
mikroskopis yang diamati. Interferensi cahaya dapat ditingkatkan dengan menempatkan

lembaran phase plate pada jalannya cahaya. Bayangan fase kontras dapat memperbaiki daya
pandang tanpa pewarnaan.
c.

Mikroskop cahaya terpolarisasi.


Mikroskop ini dilengkapi dengan filter polarisasi sekunder yang diletakkan pada sisi antara
preparat dengan lensa objektif atau pada sisi sebelum lensa kondenser. Ini bertujuan untuk
memperoleh bayangan benda dengan pola susunan molekul yang teratur terfibrasi cahaya pada
satu sisi saja.

d.

Mikroskop floresen
Mikroskop

ini dirancang untuk melihat cahaya yang dipancarkan dari benda-benda

mikroskopis berpendar (floresen). Benda pada preparat diberi penanda molekul yang
berpendar pada struktur tertentu misalnya mikrotubul atau mikrofilamen.
2.

Mikroskop elektron.
Mikroskop ini menggunakan tembakan gelombang elektron sebagai sumber iluminasi untuk
mendapatkan manfaat besarnya daya pisah atau daya resolusi bayangan benda yang sangat kecil
dengam memperkecil panjang gelombang yang sangat pendek. Guna mendapatkan bayangan,
maka gelombang elektron difokuskan tidak dengan lensa kondenser melainkan dengan magnet
atau medan listrik elektrostatik. Perbesaran bayangan benda dicapai dengan mengatur lensa.
Ruang di dalam mikroskop yang menjadi tempat lewatnya gelombang elektron harus tanpa udara
untuk menghindari kekaburan gambar akibat penyebaran absorbsi gelombang elektron oleh
molekul gas pada ruang udara. Hal lain yang penting adalah preparat mikroskopis harus disiapkan
dalam keadaan kering dan bebas dari gas volatil. Keuntungan mikroskop elektron adalah
memperoleh gambar bayangan yang perbesarannya sampai 10.000-300.000 x sehingga sekaligus
memiliki daya pisah bayangan benda yang kecil.
Beberapa macam mikroskop elektron sebagai berikut :
a.

Mikroskop TEM (Transmission Electron Microscope).


Mikroskop elektron dimana gelombang elektron ditransmisikan melalui preparat. Mekanisme
kerjanya yaitu pada puncak tabung pokok diletakkan pistol elektron yang terdiri dari filamen
dan anoda. Pada saat bekerja, filamen berada pada tegangan listrik yang tinggi (50-10 ribu
Volt). Elektron yang terlepas dari filamen tertangkap oleh anoda dengan kecepatan elektraon
0,005-0,003 nm bergantung pada perbedaan tegangan di kedua lokasi tersebut. Di bawah
pistol elektron terdapat serangkaian lensa kondensor yang memfokuskan titik spot elektron
yang intens pada preparat. Di bawah lensa proyektor dan layar berpendar, lembaran
fotografik dapat dibuat sehinga akhirnya didapatkan ultra mikroskopis dari preparat tersebut.

b. Mikroskop SEM (Scanning Electron Microscope).


Mikroskop elektron yang ditujukan untuk melihat permukaaan tiga dimensi benda yang kecil
(permukaan tiga dimensi sel atau permukaan subseluler). Cara kerja mikroskop elektron yaitu
sumber elektron dipancarkan dan elektron difokuskan secara intens pada permukaan preparat
dengan bantuan sistem lensa magnetik yang menyerupai lensa kondenser pada TEM. Spot
elektron yang terfokus bergerak bolak-balik ke preparat. Dibandingkan dengan mikroskop
SEM, daya resolusi mikroskop SEM kurang tinggi.
2.

Teknik Analisis Sitologi dan Sitokimia


Tujuan utama mempelajari sitokimia adalah untuk identifikasi dan lokalisasi komponen kimiawi sel,

baik yang sifatnya kualitatif maupun kuantitatif. Selain itu juga adalah untuk mempelajari dinamika
perubahan dinamika organisasi sitokimianya yang terjadi atas perbedaan fungsinya. Dengan demikian,
dapat diharapkan ditemukan peran perbedaan komponen selular dalam proses metabolik sel. Sitokimia
modern, mengikuti tiga metode pendekatan utama, yaitu :
a.

Metode fraksionasi
Cara ini meliputi homogenasi dan dekstruksi sel, melalui prosedur kimiawi maupun mekanik, diikuti
pemisahan fraksi selular tergantung pada massa, permukaan, gravitasispesifik.

b.

Mikrokimia dan Ultramikrokimia


Banyak cara untuk menganalisis mikro dan ultramikrokimia, antaralain dengan mikrokolorimeter,
mikrospetrometrik, dll. Cara-cara tersebut memiliki sensitifitas tinggi sehinnga dapat digunakan
untuk membedakan enzim dan koenzim.

c.

Pewarnaan Sitokimia dan Histokimia


Syarat yang perlu dipenuhi untuk keperluan determinasi adalah sitokimia dan histokimia adalah :
i.
ii.

Substansi tidak boleh bergerak dari lokasi semula


Substansi harus diidentifikasi dengan prosedur yang spesifik untuk zat itu

DAFTAR PUSTAKA
Campbell and Reece. 2002. Biologi Jilid I. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Muslim, Chorul. 2003. Biologi Molekuler Sel. Bengkulu: Dikti Bengkulu.
Wolfe, Stephen L., 1983. Introduction To Cell Biology. California: Wadsworth Publishing Company.
oryza-sativa, 2010. Perkembangan Konsep, Teori Sel, dan Cara Analisis Mempelajari Sel. Jakarta