Anda di halaman 1dari 15

ANTIBIOTIK

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu

sumbangan

nyata

ilmu

kimia

kepada

ilmu

kedokteran ialah bidang pengobatan. Obat adalah senyawa kimia


yang dapat mempengaruhi organisme hidup serta digunakan untuk
diagnosis, pencegahan dan pengobatan suatu penyakit.
Sintesis obat sangat memerlukan peranan ilmu kimia. Kini telah
banyak obat-obat yang dibuat secara sintesis., baik berupa senyawa
organik ataupun senyawa anorganik. Diantara banyak obat yang kini
telah dikenal, ada beberapa obat yang mempunyai fungsi sama, tetapi
ada pula yang mempunyai fungsi berbeda.demikian pula dengan efek
samping atau pengaruuh samping obat yang merugikan kesehatan.
Antibiotic merupakan obat yang sangat penting dan digunakan
untuk memberantas berbagai penyakit infeksi. Zat kimia ini dihasilkan
oleh mikroorganisme, terutama jamur dan bakteri tanah, dan
mempunyai antibiotic. Selain antibiotic, untuk memberantas penyakit
infeksi, obat sintesis juga digunakan.
Meskipun, istilah-istilah, antibacterial,

antimikroba

dan

antibiotic, seringkali ditukar-tukar pemakaiannya, tetapu sebenarnya


memiliki arti yang berbeda-beda.
Seorang farmasi perlu melakukan identifikasi terhadap bahan
obat untuk mengetahui sifat fisika maupun kimia dari bahan obat yang
akan digunakan dengan melibatkan penggunaan sejumlah teknik dan
metode

analisis

(proses

kualitatif,kuantitatif

dan

analisis)

informasi

untuk
suatu

khususnya, dan bahan kimia pada umumnya.


Dilakukannya praktikum ini untuk

memperoleh
senyawa

obat

mengidentifikasi

aspek
pada
dan

mengetahui nama dan golongan apa pada sampel antibiotik yang


diberikan.

dengan

beberapa

metode,

seperti

pemeriksaan

organoleptik, maupun menggunakan pereaksi-pereaksi yang ada.


Dimana praktikan melakukan pengidentifikasian terhadap satu
sampel senyawa obat golongan antibiotik yang tidak diketahui.

RIA FITRIANI UMASANGAJI

150 2013 0162

NURASMA

ANTIBIOTIK
Dengan

dilakukan

reaksi

pendahuluan

dan

reaksi

spesifik

berdasarkan acuan (literatur) yang ada.


1.2 Maksud Praktikum
Adapun maksud dari praktikum ini adalah untuk mengetahui
senyawa yang terkandung dalam suatu sampel apakah termasuk
senyawa obat golongan antibiotik yang diuji dengan beberapa
pengujian.
1.3 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah Untuk menentukan
senyawa yang terkandung dalam suatu sampel apakah termasuk
senyawa obat golongan antibiotik yang diuji dengan beberapa
pengujian.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Tinjauan Umum
Analisis kimia merupakan penggunaan sejumlah teknik dan
metode untuk memperoleh aspek kualitatif, kuantitatif, dan informasi
struktur dari suatu senyawa obat pada khususnya dan bahan kimia
pada umumnya. Dalam analisis kimia yang paling sering digunakan
adalah analisis kimia secara kualitatif, kuantitatif, dan informasi
struktur. Analisis kualitatif merupakan analisis untuk melkukan

RIA FITRIANI UMASANGAJI

150 2013 0162

NURASMA

ANTIBIOTIK
identifikasi elemen, spesies, dan atau senyawa-senyawa yang ada di
dalam sampel (Gandjar, 2007).
Meskipun istilah-istilah, antibacterial, antimikroba, antibiotic
sering ditukar-tukar pemakaiannya, tetapi sebenarnya memiliki arti
yang berbeda-beda. Obat-obat antibakterial dan antimikroba adalah
substansi yang menghambat pertumbuhan atau membunuh bacteria
atau mikroorganisme lain (organism mikroskopik termasuk bacteria,
virus, jamur, protozoa dan riketsia. Untuk praktisnya, istilah-istilah ini
akan dipakai bergantian. Beberapa obat, termasuk agen-agen
antiinfeksi dan kemoterapi, mempunyai kerja serupa dengan agenagen antibacterial dan antimikroba (Joyce, 2001).
Antibiotik adalah senyawa organic yang dihasilkan oleh
berbagai spesies mikroorganisme dan bersifat toksik terhadap spesies
mikroorganisme lain. Sifat toksik senyawa-senyawa yang terbentuk
mempunyai kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri (efek
bakteriostatik) bahkan ada yang langsung membunuh bakteri (efek
bakterisid) yang kontak dengan antibiotik tersebut (Sumardjo,2008).
Struktur kimia antibiotik yang diketahui telah banyak, dengan
perkecualian yang termasuk antibiotik polipeptida. Strukturnya ada
yang kompleks dan ada yang sederhana. Banyak struktur sederhana
telah dapat dibuat secara sintesis. Secara semisintetik, turunan
antibiotik yang mempunyai struktur kimia kompleks juga telh banyak
diperoleh (Sumardjo, 2008).
Antibiotik khusus didapat dari macam cendawan dan bacteria
tertentu dan dan beberapa tumbuhan tingkat tinggi. Ada bebrapa yang
dibuat secara sintesis. Penisilin (1982) dipisahkan oleh Sir Alexander
Fleming dari lumut penicillium notatum (Pringgodigdo, 2003).
Lazimnya antibiotik dibuat secara mikrobiologi, yaitu fungi
dibiakkan dalam tangki-tangki besar bersama zat-zat gizi kusus
oksigen atau udara steril disalurkan kedalam cairan pembiakan guna
mempercepat

pertumbuhan

RIA FITRIANI UMASANGAJI

150 2013 0162

fungi

dan

meningkatkan

produksi

NURASMA

ANTIBIOTIK
antibiotikumnya. Setelah diisolasi dari cairan kultur, antibiotikum
dimurnikan dan aktivitasnya ditentukan (Hoan, 2007).
Aktivitas atau potensi antibiotik dapat ditunjukkan pada kondisi
yang sesuai dengan efek daya hambat terhadap mikroorganisme.
Suatu penurunan aktivitas antimikroba juga dapat menunjukkan
perubahan kecil yang tidak dapat ditunjukkan oleh metode kimia
sehingga

pengujian

secara

mikrobiologi

atau

biologi biasanya

merupakan standar untuk mengatasi keraguan tentang kemungkinan


hilangnya aktivitas (Harmita, 2008).
Antibiotik tidak aktif terhadap kebanyakan virus kecil, mungkin
karena virus tidak mamiliki proses metabolism sesungguhnya,
melainkan tergantung seluruhnya dari proses tuan rumah. Pada
umunya aktivitasnya dinyatakan dengan satuan berat (mg), kecuali
zat-zat yang belu dapat diperoleh 100 % dan terdiri dari campuran
beberapa zat, misalnya polimiksin B, basitrasin dan nistatin yang
aktivtasnya selalu dinyatakan

dengan satuan international. Begitu

pula senyawa kompleks dari penisilin (Hoan, 2007).


Obat antibiotic tidak selalu dalam keadaan bebas; ada yang
terdapat dalam bentuk garamnya ataupun dalam bentuk esternya.
Meskipun zat-zat kimia ini dapat memberikan hasil-hasil yang
memuaskan, penggunaannya harus dibatasi hanya untuk infeksi
bakteri-bakteri yang peka terhadapnya. Selain toksik, pemakaian yang
sembarangan dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan,
misalnya berkembangnya resistensi bakteri dan timbulnya superinfeksi
atau suprainfeksi (Sumardjo, 2008).
Pengobatan penyakit dengan antibiotik harus sangat berhatihati karena bakteri penyakit itu dapat itu menjadi kebal terhadapnya.
Antibiotika juga dipakai untuk memperbaiki pertumbuhan hewan ternak
dan

tanaman

hasil

bumi,

juga

untuk

pengawetan

makanan

(Pringgodigdo, 2003).

RIA FITRIANI UMASANGAJI

150 2013 0162

NURASMA

ANTIBIOTIK
Antibiotic dibagi menjadi dua kelompok, yaitu berspektrum
sempit,

umpamanya

benzyl

penisilin

dan

streptomisin,

dan

berspektrum luas umpamanya tetrasiklin dan kloramfenikol. Batas


antara kedua jenis spectrum ini terkadang tidak jelas (Ganiswara,
2012).
Antimikroba

berspektrum

luas

cenderung

menimbulkan

superinfeksi oleh kuman atau jamur yang resisten. Dilain pihak pada
septicemia yang penyebabnya belum diketahui diperlukan antimikroba
yang berspektrum luas sementara menunggu hasil pemeriksaan
biologik (Ganiswara, 2012).
Penggunaan antibiotika di Indonesia yang cukup dominan
adalah turunan tetrasiklin, penisilin, kloramfenikol, eritromisin dan
streptomisin. Seperti juga dinegara lain, pola penggunaan antibiotika
tersebut telah mencapai tingkat yang telah berlebihan dab banyak
diantaranya digunakan secara tidak tepat. Perkembangan resistensi
kuman terhadap antibiotika sangat dipengaruhi oleh intenbsitas
pemaparan

antibiotika

di

suatu

wilayah,

tidak

terkendalinya

penggunaan antibiotika cenderung akan meningkatkan resistensi


kuman yang semula sensitive. Beberapa survai resep di dalam dan di
luar

negeri

menemukan

bahwa

antibiotika

betalaktam

masih

merupakan antibiotika yang paling banyak diresepkan sehingga


kuman-kuman telah resistensi terhadap antibiotika tersebut (Refdanita,
2004).
2.2. Uraian Bahan
a. Aquadest (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi
: AQUA DESTILLATA
Nama lain
: Air suling
BM / RM
: 18,02 / H2O
Pemerian
: Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau,
tidak mempunyai rasa
Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat

Kegunaan

: Sebagai pelarut

RIA FITRIANI UMASANGAJI

150 2013 0162

NURASMA

ANTIBIOTIK
b. Asam Sulfat (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi

: Acidum sulfuricum

Nama lain

: Asam sulfat

Rumus molekul

: H2SO4

Rumus bangun

O
H - O-S - O H
O

Berat molekul

: 98,07

Pemerian

:Cairan kental seperti minyak, korosif, tidak


berwarna, jika ditambahkan ke dalam air
menimbulkan panas.

Penyimpanan

:Dalam wadah tertutup rapat.

Kegunaan

: Sebagai katalisator

c. Asam Klorida (FI Edisi III, hal: 53)


Nama Resmi

ACIDUM HYDROCHLORIDUM

Nama Lain

Asam klorida

Rumus Molekul

HCl

Rumus struktur

Berat Molekul

Pemerian

Cairan tidak berwarna,

berwarna,

berasap, bau

36,46

merangsang. Jika
diencerkan dengan 2 bagian air,
asap dan bau hilang.
Penyimpanan

Dalam wadah tertutup rapat

Kegunaan

Zat tambahan

d. FeCl3 (Mulyono, hal 44)


FeCl3 (Farmakope Indonesia Edisi III, hal. 659)
Nama Resmi

FERRI CHLORIDUM

Nama Lain

Besi (III) klorida

RIA FITRIANI UMASANGAJI

150 2013 0162

NURASMA

ANTIBIOTIK
Rumus Molekul

FeCl3

Rumus struktur

Berat Molekul

: 162,2

Pemerian

: Hablur atau serbuk hablur, hitam kehijauan,


bebas berwarna jingga dari garam yang telah

terpengaruh oleh kelembapan


O2N

OHPenyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat

e. Cloramfenikol (Dirjen POM, 1979)


Nama resmi

: Cloramphenicolum

Nama lain

: Kloramfenikol, ecloramyetin, kemicithine

RM/BM
C
H NHCOCHCl2
CH2OH

Rumus Struktur

Pemerian

: C11H12C12N2O5 / 323,13
:

: Hablur

harus

berbentuk

jarum

atau

lempeng memanjang, putih sampai kelabu


atau putih kekuningan, tidak berbau, rasa
sangat pahit. Dalam larutan asam lemah,
mantap.
Kelarutan

: Larut dalam lebih kurang 400 bagian air,


dalam 8,5 bagian etanol 95 % P dan dalam
7 bagian profilen girkol P, sukar larut dalam
kloroform dan dalam eter p.

Indikasi

: Antibiotikum

Farmakokinetik

: Setelah

Pemberian

oral,

Kloramfenikol

diserap dengan cepat, kadar puncak dalam

RIA FITRIANI UMASANGAJI

150 2013 0162

NURASMA

O
OH
CO

ANTIBIOTIK

CH3
O

OH
OH

C2HS

darah tercapai dalam 2 jam untuk anakanak biasanya di berikan bentuk ester

CH3

kloramfenikol palmitat, untuk stearat yang


rasanya tidak pahit (F & T : 657) 1 g 4
minggu oral, pada infeksi parah dianjurkan
injeksi (Gunawan, 2007)

f. OH3
Eritromisin (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi

: Erytrommicinum

Sinonim

: Eritromisina

RM/BM

: C37H67Cl3N / 733, 95
C

Rumus bangun

(CH3)N

Pemerian

: Serbuk

untuk

hablur,

putih

agak

kekuningan, tidak berbau atau hapit tidak


berbau, rasa pahit, agak hidroskopik
Kelarutan

: larut dalam lebih kurang 1000 bag. Air,


dalam etanol 95% P, dalam kloroform P,
dan CH3
dalam eter P.

Farmakoktinetik

: Basa eritromisin diserap untuk usus kecil


bagian atas, aktivitasnya hilang atau cairan
lambung dan absurpsi diperlambat adanya
makanan dalam lambung hanya 25 %

CH3

RIA FITRIANI UMASANGAJI

150 2013 0162

NURASMA

ANTIBIOTIK

OH

ertiromisin yang diekskresi dalam bentuk


aktif molekul urin (Gunawan, 2007)
Khasiat

: Antibiotikum

2.3 Prosedur kerja (Anonim, 2015)


1. Penisilin
2 ml larutan zat + 2 ml H2SO4 + resorcin padat

warna

kuning hijjau
2 ml larutan zat + 5 tetes Cu(NO3)2 amoniakal dibiarkan 5 menit
Hijau kuning tua
2ml larutan zat + 1 tetes NaOH 10 % dinetralkan dengan HCl +

1 tetes FeCl3 10 %
ungu
2 ml larutan zat + 5 tetes pereaksi weber

CH3

muda
Baunya spesifik
2. Streptomisin
2 ml larutan zat + 2 ml H2SO4 dikocok

jingga/merah

CH3

kuning, + resorcin

padat
kuning hijau
2 ml larutan zat + 5 tetes Cu(NO3)2 amoniakal dibiarkan 5 menit
Kuning muda
2 ml larutan zat
1 tetes NaOH 1 % dinetralkan dengan HCl

+ 1 tetes FeCl3 10 %
ungu
2 ml larutan zat + pereaksi webwer 5 tetes

muda
2 ml larutan zat + 1 tetes NaOH 40 % dipanaskan, dikocok

jingga/merah

dengan piridin
lapisan merah
3. Kloramfenikol
2 ml larutan zat + 2 ml H2SO4 dikocok + difenilalanin dalam

alcohol 1 %
biru
2 ml larutan zat + 5 tetes Cu(NO3)2 amoniakal dibiarkan 5 menit
Abu-abu coklat
Lar. Diasamkan dengan HCl + serbuk Zn
dizotasi dengan
CH2 CH3
2 tetes NaNO2 10 % dikocok, kelebihan
nitrit dihilangkan dengan

ureum padat + -naftol dalam NH4OH


merah
4. Eritromisin
2 ml larutan zat + 5 tetes Cu(NO3)2 amoniakal dibiarkan 5 menit
Abu-abu coklat
5. Chlortetrasiklin (Aureomysin)

RIA FITRIANI UMASANGAJI

150 2013 0162

NURASMA

ANTIBIOTIK

2 ml larutan zat + 10 tetes H2SO4 dikocok


kuning jingga
2 ml larutan zat + 5 tetes Cu(NO3)2 amoniakal
hijau jamrud
hijau
2 ml larutan zat + 1 tetes NaOH 40 % dipanaskan, dikocok

dengan piridin
lap.piridin merah, lap.air kuning
2 ml larutan zat + 10 tetes HNO3, dikocok
hijau sitrum
6. Oxytetrasiklin (Terramysin)
2 ml larutan zat + 10 tetes H2SO4 dikocok
kuning sitrum
2 ml larutan zat + 5 tetes Cu(NO3)2 amoniakal
hijau olif
coklat
2 ml larutan zat + 1 tetes NaOH 40 % dipanaskan, dikocok

dengan piridin
lap. Piridin kuning, lap. Air kuning
2 ml larutan zat + 10 tetes HNO3, dikocok
jingga
2 ml larutan zat + 2 FeCl3 10 % dalam alcohol
coklat
coklat merah

RIA FITRIANI UMASANGAJI

150 2013 0162

NURASMA

ANTIBIOTIK

BAB 3 METODE KERJA


3.1 Alat
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah botol
semprot, pipet tetes, rak tabung, sendok tanduk, tabung reaksi.
3.2 Bahan
Adapun bahan yang digunakan dalam prktikum ini adalah
aquades, alkohol, sampel kode SP,NaOH,H 2SO4 , HCl, NaOH, , FeCl3,
Cu(NO3)2,NH4OH, CuSO4 dan tissue.
3.3 Cara kerja
a.

Uji organoleptik
1. Diamati bau, warna dan bentuk dari sampel SP
b. Uji warna
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Dimasukkan sedikit sampel SP kedalam tabung reaksi
3. Ditambahkan H2SO4 P dilihat perubahan warna yang terjadi
pada sampel SP
c. Uji pendahuluan
1. Penisilin
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Dimasukkan sampel B13 kedalam tabung reaksi
3. Lalu ditambahkan H2SO4 P
4. Ditambahkan resorcin
5. Dipanaskan
6. Amati perubahan warna
2. Penisilin
1.
Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2.
Dimasukkan sampel B13 kedalam tabung reaksi
3.
Ditambahkan dengan 2 ml H2SO4 dikocok
4.
Ditambahkan dengan resorcin padat
5.
Amati perubahan warna yang terjadi

RIA FITRIANI UMASANGAJI

150 2013 0162

NURASMA

ANTIBIOTIK
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Uji organoleptik
-

Warna
Bau
Bentuk

: putih
: spesifik
: serbuk halus

Uji warna
Sampel SP + H2SO4 P

tidak berwarna

Uji pendahuluan
Sampel SP + H2SO4 + resorcin, kemudian dipanaskan
Sampel SP + 2 ml H2SO4 dikocok + resorcin padat

bening
putih

Jadi, dapat disimpulkan sampel kode SP senyawa obat antibiotik


golongan penisilin.
4.2 Pembahasan
Antibiotik adalah senyawa organic yang dihasilkan oleh
berbagai spesies mikroorganisme dan bersifat toksik terhadap spesies
mikroorganisme lain. Sifat toksik senyawa-senyawa yang terbentuk
mempunyai kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri (efek
bakteriostatik) bahkan ada yang langsung membunuh bakteri (efek
bakterisid) yang kontak dengan antibiotik tersebut.
Aktivitas atau potensi antibiotik dapat ditunjukkan pada kondisi
yang sesuai dengan efek daya hambat terhadap mikroorganisme.
Suatu penurunan aktivitas antimikroba juga dapat menunjukkan
perubahan kecil yang tidak dapat ditunjukkan oleh metode kimia
sehingga pengujian secara mikrobiologi atau biologi biasanya
merupakan standar untuk mengatasi keraguan tentang kemungkinan
hilangnya aktivitas.
Adapun maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui
dan memahami cara pengidentifikasian pada sampel golongan
antibiotik

dengan cara uji organoleptik dan uji pereaksi spesifik

terhadap sampel.

RIA FITRIANI UMASANGAJI

150 2013 0162

NURASMA

ANTIBIOTIK
Untuk mengidentifikasi suatu senyawa pada saat praktikum
dilakukan beberapa pengujian. Pertama, uji organoleptik meliputi bau,
warna dan bentuk. Sampel SP berwana putih, berbau khas dan
berbentuk serbuk halus. Setelah itu dilakukan uji warna, sampel SP
ditambahkan dengan H2SO4 P didapatkan hasil sampel tidak
berwarna. Kemudian dilakukan reaksi pendahuluan,sampel SP +
H2SO4 lalu ditambahkan dengan resorcin, kemudian dipanaskan
menghasilkan warna bening. Dilakukan uji endahuluan dengan
pereaksi lain, sampel B13 + 2 ml H2SO4 dikocok + resorcin padat
menghasilkan warna putih.
Jadi, dapat disimpulkan sampel kode SP senyawa obat antibiotik
golongan penisilin.

BAB 5 PENUTUP
5.1 Kesimpulan

RIA FITRIANI UMASANGAJI

150 2013 0162

NURASMA

ANTIBIOTIK
Setelah dilakukan praktikum dapat disimpulkan pada percobaan
analisis dengan melakukan uji organoleptik, uji warna dan uji
pendahuluan, sampel SP merupakan penisilin.
5.2 Saran
Saran saya diharapkan kepada praktikan untuk berhati-hati saat
praktikum berlangsung agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.

DAFTAR PUSTAKA

RIA FITRIANI UMASANGAJI

150 2013 0162

NURASMA

ANTIBIOTIK
Anonim., 2015, Penuntun Praktikum Analisis Farmasi, Fakultas Farmasi
Universitas Muslim Indonesia
Dirjen POM., 1979, Farmakope Indonesia Edisi III ,Depkes RI, Jakarta
Ganiswara., 2012, Farmakologi dan
Universitas Indonesia, Jakarta

Terapi,

Fakultas

Kedokteran

Gandjar,Ibnu G., dan Rohman,Abdul, 2012, Kimia Farmasi Analisis,


Pustaka Pelajar, Jakarta
Harmita, Maksum Radji, 2008, Analisis Hayati, Penerbit EGC, Jakarta
Tjay,Tan Hoan, 2007, Obat-obat Penting,Penerbit Elex Media Komputindo,
Jakarta
Joyce, Lefever, 2001, Farmakologi, PT. Gelora Aksara Pratama, Jakarta
Pringgodigdo., 2003, Ensiklopedi Umum ,Penerbit Kanisius, Jakarta
Refdanita, Endang P.,2004, Pola Kepekaan Kuman Terhadap Antibiotika
di Ruang Rawat Intensif Rumah sakit, Penerbit Makara Kesehatan,
Jakarta
Sumardjo,D., 2008, Pengantar Kimia, Penerbit EGC,Jakarta

RIA FITRIANI UMASANGAJI

150 2013 0162

NURASMA

Anda mungkin juga menyukai