Anda di halaman 1dari 18

PRESENTASI KASUS

BNO IVP PADA HIDRONEFROSIS


Disusun untuk Memenuhi Sebagian Syarat dalam Mengikuti Kepaniteraan Klinik
Bagian Radiologi
RSUD Jogjakarta

Diajukan kepada:
dr. M.A. Budi Prawati, Sp.Rad
Disusun oleh:
Nungky Kescandra
20100310122

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
BAGIAN RADIOLOGI RSUD JOGJA
2016

A. IDENTITAS
Nama

: Ny. P

Usia

: 44 tahun

No RM

: 676768

Alamat

: Banguntapan, Yogyakarta

Pekerjaan

: IRT

Pendidikan

: SMA

Status

: Menikah

Pemeriksaan

: 30 Maret 2016

SUBYEKTIF AUTOANAMNESA
Keluhan utama

: BAK berdarah

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien wanita usia 53 tahun datang ke poliklinik penyakit dalam dengan keluhan
BAK berdarah. Keluhan dirasa sejak 3 minggu yang lalu. Disertai batu/pasir (-),
panas (-). Nyeri sewaktu pipis disangkal. Keluhan tambahan berupa nyeri dirasa
pasien pada perut bawah, nyeri hilang timbul, pegal-pegal pada pinggang belakang
(+). Pasien merasa sulit menahan kencing namun tidak sampai mengompol, volume
kencing biasa, anyang-anyang (-), darah (-), demam (-). Pasien sebelumnya
mempunyai kebiasaan menahan kencing (+). Sebelumnya sudah pernah berobat ke
puskesmas namun keluhan belum berkurang.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat keluhan serupa sebelumnya (-), Riwayat darah tinggi sebelumnya (-),
diabetes melitus (-), batu ginjal (-), infeksi saluran kencing (-), riwayat operasi (-).
Riwayat Penyakit Keluarga :
Pasien mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit keluarga seperti darah tinggi,
DM, asma dan batu ginjal, dan dikeluarga pasien tidak ada yang memiliki gejala
sama seperti pasien.
Anamnesis system
Sistem saraf pusat

: penurunan kesadaran (-), kejang (-), pusing (-),demam (-),


menggigil (-), nyeri kepala (-)

Sistem kardiovaskuler

: nyeri dada (-), berdebar-debar (-), mimisan (-), gusi


berdarah(-)

Sistem respirasi

: sesak nafas (-), batuk (-), pilek (-)

Sistem pencernaan

: mual (-), muntah (-), diare (-), nyeri ulu hati (-), sulit BAB
(-), BAB disertai darah (-)

Sistem urogenital

: hematuria (+), sulit BAK(-), berwarna keruh(-), nyeri


kemih(-), anyang-anyangan(-), sering berkemih(-), terasa
panas saat berkemih (-), susah menahan kencing (+), pegalpegal pada pinggang (+).

Sistem muskuloskletal

: gerakan terbatas (-), nyeri otot (-), nyeri sendi (-), nyeri
tulang (-), bengkak sendi (-)

Obyektif
KU= CM, tampak kurus, tak tampak sesak, GCS E4V5M6.
Vital sign:

TD: 110/70 mmHg


N: 100 x/menit
T: 36,8C
R : 24 x/menit

Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan kulit
Kepala

: persebaran warna kulit merata

Mata : konjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), mata cowong (-/-)
Hidung: bentuk hidung tidak ada kelainan, septum nasi di tengah, lendir (-),
sumbatan (-)
Mulut : mukosa lembab, sianosis (-), faring hiperemi (-)

Leher
Tampak simetris, limfonodi tidak teraba, JVP tidak meningkat, massa (-)

Thorak
- Inspeksi

: bentuk dada simetris, gerak dada simetris, tidak terdapat

- Palpasi

retraksi intercostal.
: fremitus fokal paru simetris, nyeri tekan (-), massa (-),

- Perkusi
- Auskultasi

pembesaran kelenjar getah bening (-).


: sonor
: suara nafas vesikuler (+/+), ronkhi basah kasar (-/-) di
kedua lapang paru, wheezing (-/-).

Jantung
- Inpeksi : iktus kordis tampak di SIC V LMC sinistra
- Palpasi : iktus kordis teraba pada SIC V LMC sinistra

- Perkusi :
batas kanan atas jantung
: SIC II LPS dextra
batas kiri atas jantung
: SIC II LPS sinistra
batas kanan bawah jantung : SIC IV LPS dextra
batas kiri bawah jantung
: SIC V LPS sinistra
- Auskultasi : bunyi jantung I dan II reguler, murmur (-), gallop (-)
- Kesan jantung: tidak terdapat pembesaran jantung.

Abdomen
- Inspeksi

: dinding perut = dinding dada, massa (-), bekas luka

- Auskultasi
- Perkusi
- Palpasi

(-), peradangan (-).


: peristaltik usus (+) dalam batas normal.
: timpani pada semua lapang abdomen (+).
:nyeri tekan suprapubik (+), hepatomegali (-),
splenomegali (-). Nyeri ketok ginjal (-).

Ekstremitas
Superior

: sianosis (-/-), udem (-/-), akral hangat, perfusi baik, CRT

Inferior

<2
: sianosis (-/-), udem (-/-), akral hangat, perfusi baik, CRT
<2.

Radiologi BNO-IVP

BNO-IVP :
BNO: Tampak lesi opaque di pars vertebra dextra proyeksi setinggi VL3-VL4 ukuran
sebesar kacang tanah.
IVP: Nefrogram serentak pada menit ke 5, tampak pelebaran SPC ren dextra, calyses
balloning, ureter proximal melebar, lesi terlumur kontras pada posisi erect letak ren
dextra turun dengan bagian terdistal setinggi VL5. SPC ren sinistra tidak melebar.
Ureter sinistra kaliber normal. VU dinding licin. Post miksi: residu urin minimal.
Kesan: Hidronefrosis dextra grade IV ec ureterolithiasis dextra proximal dengan ren
mobilis. Fungsi ren, VU dalam batas normal. Ren sinistra normal.

DASAR TEORI
A. VESICOLITHIASIS
1. Definisi
Hidronefrosis adalah dilatasi piala dan kaliks ginjal pada salah satu atau kedua ginjal
akibat tekanan balik terhadap ginjal karena aliran air kemih tersumbat. Dalam
keadaan normal, air kemih mengalir dari ginjal dengan tekanan yang sangat rendah.
Jika aliran air kemih tersumbat, air kemih akan mengalir kembali ke dalam tabungtabung kecil di dalam ginjal (tubulus renalis) dan ke dalam daerah pusat
pengumpulan air kemih (pelvis renalis). Hal ini akan menyebabkan ginjal
menggelembung dan menekan jaringan ginjal yang rapuh. Pada akhinya, tekanan
hidronefrosis yang menetap dan berat akan merusak jaringan ginjal sehingga secara
perlahan ginjal akan kehilangan fungsinya.
2. Penyebab
Hidronefrosis biasanya terjadi akibat adanya sumbatan pada sambungan
ureteropelvik (sambungan antara ureter dan pelvis renalis):

Kelainan struktural, misalnya jika masuknya ureter ke dalam pelvis renalis


terlalu tinggi

Lilitan pada sambungan ureteropelvik akibat ginjal bergeser ke bawah

Batu di dalam pelvis renalis

Penekanan pada ureter oleh:


- jaringan fibrosa
- arteri atau vena yang letaknya abnormal
- tumor.

Hidronefrosis juga bisa terjadi akibat adanya penyumbatan di bawah sambungan


ureteropelvik atau karena arus balik air kemih dari kandung kemih:
o Batu di dalam ureter
o Tumor di dalam atau di dekat ureter
o Penyempitan ureter akibat cacat bawaan, cedera, infeksi, terapi penyinaran
atau pembedahan
o Kelainan pada otot atau saraf di kandung kemih atau ureter
o Pembentukan jaringan fibrosa di dalam atau di sekeliling ureter akibat
pembedahan, rontgen atau obat-obatan (terutama metisergid)

o Ureterokel (penonjolan ujung bawah ureter ke dalam kandung kemih)


o Kanker kandung kemih, leher rahim, rahim, prostat atau organ panggul
lainnya
o Sumbatan yang menghalangi aliran air kemih dari kandung kemih ke uretra
akibat pembesaran prostat, peradangan, atau kanker
o Arus balik air kemih dari kandung kemih akibat cacat bawaan atau cedera
o Infeksi saluran kemih yang berat, yang untuk sementara waktu menghalangi
kontraksi ureter.
Terkadang hidronefrosis terjadi selama kehamilan karena pembesaran rahim
menekan ureter. Perubahan hormonal akan memperburuk keadaan ini karena
mengurangi kontraksi ureter yang secara normal mengalirkan air kemih ke kandung
kemih. Hidronefrosis akan berakhir bila kehamilan berakhir, meskipun sesudahnya
pelvis renalis dan ureter mungkin tetap agak melebar.
Pelebaran pelvis renalis yang berlangsung lama dapat menghalangi kontraksi otot
ritmis yang secara normal mengalirkan air kemih ke kandung kemih. Jaringan fibrosa
lalu akan menggantikan kedudukan jaringan otot yang normal di dinding ureter
sehingga terjadi kerusakan yang menetap.
3. Patofisiologi
Obstruksi pada aliran normal urin menyebabkan urin mengalir balik, sehingga
tekanan di ginjal meningkat. Jika obstruksi terjadi di uretra atau kandung kemih,
tekanan balik akan mempengaruhi kedua ginjal, tetapi jika obstruksi terjadi di salah
satu ureter akibat adanya batu ataukekakuan maka hanya satu ginjal saja yang rusak.
Obstruksi parsial atau intermiten dapat disebabkan oleh batu renal yang terbentuk
di piala ginjal tetapi masuk ke ureter dan menghambatnya. Obstruksi dapat
diakibatkan oleh tumor yang menekan ureter atau berkas jaringan parut akibat abses
atau inflamasi dekat ureter dan menjepit saluran tersebut. Gangguan dapat sebagai
akibat dari bentuk abnormal di pangkal ureter atau posisi ginjal yang salah, yang
menyebabkan ureter berpilin atau kaku. Pada pria lansia , penyebab tersering adalah
obstruksi uretra pada pintu kandung kemih akibat pembesaran prostat. Hidronefrosis
juga dapat terjadi pada kehamilan akibat pembesaran uterus.
Apapun penyebabnya adanya akumulasi urin di piala ginjal akan menyebabkan
distensi piala dan kaliks ginjal. Pada saat ini atrofi ginjal terjadi. Ketika salah satu

ginjal sedang mengalami kerusakan bertahap, maka ginjal yang lain akan membesar
secara bertahap (hipertropi kompensatori), akhirnya fungsi renal terganggu.
4. Anatomi
a. Ginjal
Ginjal merupakan organ yang berbentuk seperti kacang, terdapat sepasang
(masing-masing satu di sebelah kanan dan kiri vertebra) dan posisinya
retroperitoneal. Ginjal kanan terletak sedikit lebih rendah (kuranglebih 1 cm)
dibanding ginjal kiri, hal ini disebabkan adanya hati yang mendesak ginjal sebelah
kanan. Kutub atas ginjal kiri adalah tepi atas iga 11 (vertebra T12), sedangkan
kutub atas ginjal kanan adalah tepi bawah iga 11atau iga 12. Adapun kutub bawah
ginjal kiri adalah processus transversusvertebra L2 (kira-kira 5 cm dari krista
iliaka) sedangkan kutub bawah ginjal kanan adalah pertengahan vertebra L3. Dari
batas-batas tersebut dapat terlihat bahwa ginjal kanan posisinya lebih rendah
dibandingkan ginjal kiri.Secara umum, ginjal terdiri dari beberapa bagian:

Korteks, yaitu bagian ginjal di mana di dalamnya terdapat/terdiri dari


korpusrenalis/Malpighi (glomerulus dan kapsul Bowman), tubulus kontortus

proksimal dan tubulus kontortus distalis.


Medula, yang terdiri dari 9-14 pyiramid. Di dalamnya terdiri dari tubulusrektus,

lengkung Henle dan tubukus pengumpul (ductus colligent).


Columna renalis, yaitu bagian korteks di antara pyramid ginjal
Processus renalis, yaitu bagian pyramid/medula yang menonjol ke arah korteks
Hilus renalis, yaitu suatu bagian/area di mana pembuluh darah, serabut saraf atau

duktus memasuki/meninggalkan ginjal.


Papilla renalis, yaitu bagian yang menghubungkan antara duktus pengumpuldan

calix minor.
Calix minor, yaitu percabangan dari calix major.
Calix major, yaitu percabangan dari pelvis renalis.
Pelvisrenalis, disebut juga piala ginjal, yaitu bagian yang menghubungkan antara

calix major dan ureter.


Ureter, yaitu saluran yang membawa urine menuju vesica urinaria

Unit fungsional ginjal disebut nefron. Nefron terdiri dari korpusrenalis/ Malpighi
(yaitu glomerulus dan kapsul Bowman), tubulus kontortusproksimal, lengkung
Henle, tubulus kontortus distal yang bermuara pada tubulus pengumpul. Di
sekeliling tubulus ginjal tersebut terdapat pembuluh kapiler,yaitu arteriol (yang
membawa darah dari dan menuju glomerulus) serta kapiler peritubulus (yang
memperdarahi jaringan ginjal) Berdasarkan letakya nefron dapat dibagi menjadi:
(1) nefron kortikal, yaitu nefron dimana korpus renalisnya terletak di korteks yang
relatif jauh dari medula serta hanya sedikit saja bagian lengkung Henle yang
terbenam pada medula, dan (2)nefron juxta medula, yaitu nefron di mana korpus
renalisnya terletak di tepi medula, memiliki lengkung Henle yang terbenam jauh
ke dalam medula dan pembuluh-pembuluh darah panjang dan lurus yang disebut
sebagai vasa rekta.
Ginjal diperdarahi oleh a/v renalis. A. renalis merupakan percabangan dari aorta
abdominal, sedangkan v.renalis akan bermuara pada vena cavainferior. Setelah
memasuki ginjal melalui hilus, a.renalis akan bercabang menjadi arteri sublobaris
yang akan memperdarahi segmen-segmen tertentu pada ginjal, yaitu segmen
superior, anterior-superior, anterior-inferior, inferiorserta posterior.
Ginjal memiliki persarafan simpatis dan parasimpatis. Untuk persarafan simpatis
ginjal melalui segmen T10-L1 atau L2, melalui n.splanchnicus major,
n.splanchnicus imus dan n.lumbalis. Saraf ini berperan untuk vasomotorik dan
aferen viseral. Sedangkan persarafan simpatis melalui n.vagus.
b. Ureter
Ureter merupakan saluran sepanjang 25-30 cm yang membawa hasil penyaringan

ginjal (filtrasi, reabsorpsi, sekresi) dari pelvis renalis menuju vesica urinaria.
Terdapat sepasang ureter yang terletak retroperitoneal, masing-masing satu untuk
setiap ginjal. Ureter setelah keluar dari ginjal (melalui pelvis) akan turun di depan
m.psoas major, lalu menyilangi pintu atas panggul dengan a.iliaca communis.
Ureter berjalan secara postero-inferior di dinding lateral pelvis, lalu melengkung
secara ventro-medial untuk mencapai vesica urinaria. Adanya katup ureterovesical mencegah aliran balik urine setelah memasuki kandung kemih.Terdapat
beberapa tempat di mana ureter mengalami penyempitan yaitu peralihan pelvis
renalis-ureter, fleksura marginalis serta muara ureter kedalam vesica urinaria.
Tempat-tempat seperti ini sering terbentuk batu/kalkulus.
Ureter diperdarahi oleh cabang dari a.renalis, aorta abdominalis, a.iliaca
communis, a.testicularis/ovarica serta a.vesicalis inferior. Sedangkan persarafan
ureter melalui segmen T10-L1 atau L2 melalui pleksus renalis, pleksus aorticus,
serta pleksus hipogastricus superior dan inferior.

c. Vesica urinaria
Vesica urinaria, sering juga disebut kandung kemih atau buli-buli, merupakan
tempat untuk menampung urine yang berasal dari ginjal melalui ureter, untuk
selanjutnya diteruskan ke uretra dan lingkungan eksternal tubuh melalui
mekanisme relaksasi sphincter. Vesica urinaria terletak di lantai pelvis (pelvic
floor), bersama-sama dengan organ lain seperti rektum, organ reproduksi,bagian
usus halus, serta pembuluh-pembuluh darah, limfatik dan saraf.
Dalam keadaan kosong vesica urinaria berbentuk tetrahedral yang terdiri atastiga
bagian yaitu apex, fundus/basis dan collum. Serta mempunyai tiga permukaan
(superior dan inferolateral dextra dan sinistra) serta empat tepi(anterior, posterior,

dan lateral dextra dan sinistra). Dinding vesica urinaria terdiri dari otot m.detrusor
(otot spiral, longitudinal, sirkular). Terdapat trigonum vesicae pada bagian
posteroinferior dan collum vesicae. Trigonumvesicae merupakan suatu bagian
berbentuk mirip-segitiga yang terdiri dari orifisium kedua ureter dan collum
vesicae, bagian ini berwarna lebih pucat dan tidak memiliki rugae walaupun
dalam keadaan kosong.Vesicae urinaria diperdarahi oleh a.vesicalis superior dan
inferior. Namun pada perempuan, a.vesicalis inferior digantikan oleh a.vaginalis.
Sedangkan persarafan pada vesica urinaria terdiri atas persarafan simpatis dan
parasimpatis. Persarafan simpatis melalui n.splanchnicus minor, n.splanchnicus
imus, dan n.splanchnicus lumbalis L1-L2. Adapun persarafan parasimpatis
melalui n.splanchnicus pelvicus S2-S4, yang berperan sebagai sensorik dan
motorik.
d. Uretra
Uretra merupakan saluran yang membawa urine keluar dari vesica urinaria
menuju lingkungan luar. Terdapat beberapa perbedaan uretra pada pria dan wanita.
Uretra pada pria memiliki panjang sekitar 20 cm dan juga berfungsi sebagai organ
seksual (berhubungan dengan kelenjar prostat), sedangkan uretra pada wanita
panjangnya sekitar 3.5 cm. selain itu, Pria memiliki dua otot sphincter yaitu
m.sphincter interna (otot polos terusan dari m.detrusor dan bersifat involunter) dan
m.sphincter externa (di uretra pars membranosa, bersifat volunter), sedangkan
pada wanita hanya memiliki m.sphincter externa (distal inferior dari kandung
kemih dan bersifat volunter).
Pada pria, uretra dapat dibagi atas pars pre-prostatika, pars prostatika, pars
membranosa dan pars spongiosa.

Pars pre-prostatika (1-1.5 cm), merupakan bagian dari collum vesicae dan aspek
superior kelenjar prostat. Pars pre-prostatika dikelilingi otot m.sphincter urethrae
internal yang berlanjut dengan kapsul kelenjar prostat. Bagian ini disuplai oleh

persarafan simpatis.
Pars prostatika (3-4 cm), merupakan bagian yang melewati/menembus kelenjar

prostat. Bagian ini dapat lebih dapat berdilatasi/melebar disbanding bagian lainnya.
Pars membranosa (12-19 mm), merupakan bagian yang terpendek dan tersempit.
Bagian ini menghubungkan dari prostat menuju bulbus penis melintasi diafragma
urogenital. Diliputi otot polos dan di luarnya oleh m.sphincter urethrae eksternal
yang berada di bawah kendali volunter(somatis).

Pars spongiosa (15 cm), merupakan bagian uretra paling panjang, membentang dari
pars membranosa sampai orifisium di ujung kelenjar penis. Bagian ini dilapisi oleh
korpus spongiosum di bagian luarnya.

Sedangkan uretra pada wanita berukuran lebih pendek (3.5 cm) dibanding uretra
pada pria. Setelah melewati diafragma urogenital, uretra akan bermuara pada
orifisiumnya di antara klitoris dan vagina (vagina opening). Terdapat m.spchinter
urethrae yang bersifat volunter di bawah kendali somatis, namun tidak seperti
uretra pria, uretra pada wanita tidak memiliki fungsi reproduktif.
1. Definisi Pemeriksaan BNO-IVP
Pemeriksaan diagnostik kontras radiologi BNO-IVP adalah ilmu yang
mempelajari prosedur atau tata cara pemeriksaan ginjal, ureter, dan buli-buli
menggunakan sinar-x dengan melakukan injeksi media kontras melalui vena.
Pada saat media kontras diinjeksikan melalui pembuluh darah dan dikumpulkan
dalam ginjal dan saluran kemih, sehingga ginjal dan saluran kemih menjadi
berwarna putih. Dengan IVP, dokter ahli radiologi dapat melihat dan mengetahui
anatomi serta fungsi ginjal ureter dan buli-buli. Pada pemeriksaan khusus BNO
ditemukan adanya cacat pengisian dan pada IVP batu ginjal atau buli-buli serta
hidronefrosis pada pemeriksaan sonografi.
2. Persiapan Pemeriksaan BNO-IVP

Pemeriksaan BNO-IVP memerlukan persiapan, yaitu malam sebelum


pemeriksaan diberikan kastor oli (catharsis) atau laksansia untuk membersihkan
kolon dari feses yang menutupi daerah ginjal (Nurlela Budjang, 2010). Berikut
adalah tahap persiapan pemeriksaan radiologi BNO-IVP :

Pemeriksaan ureum kreatinin (Kreatinin maksimum 2)

Malam sebelum pemeriksaan pasien diberi laksansia untuk membersihkan


kolon dari feses yang menutupi daerah ginjal

Pasien tidak diberi minum mulai jam 22.00 malam sebelum pemeriksaan untuk
mendapatkan keadaan dehidrasi ringan

Keesokan harinya pasien harus puasa, mengurangi bicara dan merokok untuk
menghindari gangguan udara usus saat pemeriksaan

Pada bayi dan anak diberi minum yang mengandung karbonat untuk
mendistensikan lambung dan gas

Pada pasien rawat inap dapat dilakukan lavement(klisma)

Skin test subkutan untuk memastikan bahwa penderita tidak alergi terhadap
penggunaan kontras

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS
3. Prosedur Pemeriksaan BNO-IVP
Setiap pemeriksaan saluran kemih sebaiknya dibuat terlebih dahulu foto polos
abdomen. Yang harus diperhatikan pada foto polos abdomen ini adalah bayangan, besar
(ukuran), dan posisi kedua ginjal. Dapat pula dilihat kalsifikasi dalam kista dan tumor, batu
radioopak dan perkapuran dalam ginjal. Harus diperhatikan batas otot Psoas kanan dan kiri.

Gambar 2. Foto BNO-IVP polos

Menurut

Meschan,digunakan

film

bucky

antero-posterior

abdomen

setelah

penyuntikan, ulangi pemotretan film antero-posterior abdomen dengan jarak waktu setelah
disuntik kontras intravena,masing-masing adalah :
1. Empat sampai 5 menit :
Dilakukan foto pada 5 menit pertama dengan area jangkauan pada pertengahan
proccecus xyphoideus dan pusat. Foto ini untuk melihat perjalanan kontras mengisi
sistem kalises pada ginjal. Memakai ukuran kaset 24 x 30 cm dengan posisi anteroposterior sama seperti foto abdomen. Penekanan ureter dilakukan dengan tujuan untuk
menahan kontras media tetap berada pada sistem pelvikalises dan bagian ureter
proksimal.Penekanan ureter diketatkan setelah dilakukan pengambilan foto menit
kelima.

Gambar 3. Foto menit ke-5

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS
2. Delapan sampai 15 menit
Bila pengambilan gambar pada pelvikalises di menit ke lima kurang baik, maka foto
diambil kembali pada menit ke 10 dengan tomografi untuk memperjelas bayangan.
Menggunakan kaset 24 x 30 cm mencakup gambaran pelviokaliseal, ureter dan bulibuli mulai terisi media kontras dengan posisi antero-posterior sama seperti foto
abdomen, pertengahan di antara proccesus xyphoideus dengan umbilicus.

3.

Duapuluh lima sampai 30 menit


Setelah menit ke- 30 kompresi dibuka dan diambil gambar dengan menggunakkan
kaset ukuran 30 x 40 cm. Di beberapa Rumah Sakit setelah menit ke -30 diharuskan
meminum air yang banyak. Foto ini digunakan untuk mengevaluasi kemampuan
ginjal mensekresikan bahan kontras, tapi di beberapa Rumah Sakit tidak dengan
posisi antero-posterior sama seperti foto abdomen.

Gambar 5. Foto menit ke-20 30

4.

Foto terlambat, jika konsentrasi dan ekskresi sangat kurang pada 1-8 jam Setelah
2

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS
masuk ke menit 60 dibuat foto BNO lagi dengan kaset 30 x 40 cm. Setelah hasil
rontgen dikonsultasikan pada dokter ahli radiologi dan dinyatakan normal maka
pasien diharuskkan berkemih kemudian di foto kembali. Jika dokter ahli radiologi
menyatakan ada gangguan biasanya dilakukan foto 2 jam. Dengan posisi anteroposterior sama seperti foto abdomen.

Gambar 6. Foto menit ke 60 atau lebih

5.

Foto terakhir biasanya film berdiri atau foto setelah berkemih / Post Void. Yang
terakhir lakukan foto post void dengan posisi AP supine atau erect untuk melihat
kelainan kecil yang mungkin terjadi di daerah buli-buli. Dengan posisi erect dapat
menunjukan adanya ren mobile (perpindahan posisi ginjal yang tidak normal) pada
kasus posthematuri.

Gambar 7. Foto Post Void

6. Hidronefrosis
Hidronefrosis adalah obstruksi aliran kemih proksimal terhadap kandung

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS
kemih yang dapat mengakibatkan penimbunan cairan bertekanan dalam pelviks
ginjal dan ureter yang dapat mengakibatkan absorbsi hebat pada parenkim ginjal.
Dalam keadaan normal, air kemih mengalir dari ginjal dengan tekanan yang sangat
rendah. Jika aliran air kemih tersumbat, air kemih akan mengalir kembali ke dalam
tabung-tabung kecil di dalam ginjal (tubulus renalis) dan ke dalam daerah pusat
pengumpulan air kemih (pelvis renalis). Hal ini akan menyebabkan ginjal
menggembung dan menekan jaringan ginjal yang rapuh. Pada akhirnya, tekanan
hidronefrosis yang menetap dan berat akan merusak jaringan ginjal sehingga secara
perlahan ginjal akan kehilangan fungsinya.
Pemeriksaan UIV akan menghasilkan sebuah gambaran yang disebut dengan
pielogram. Pada pielogram normal, akan didapatkan gambaran bentuk kedua ginjal
seperti kacang. Kutub atas ginjal kiri setinggi vertebra Th11, batas bawahnya
setinggi korpus vertebra L3. Ginjal kanan letaknya kira kira 2 cm lebih rendah
daripada yang kiri. Pada pernafasan, kedua ginjal bergerak, dan pergerakan ini dapat
dilihat dengan fluoroskopi. Arah sumbu ke bawah dan lateral sejajar dengan muskuli
psoas kanan dan kiri. Dengan adanya lemak perirenal, ginjal menjadi lebih jelas
terlihat.
Hal ini terutama dapat dilihat pada orang gemuk. Pelvis renis lalu dilanjutkan
dengan kalik mayor, biasanya berjumlah 2 buah. Dari kalik mayor dilanjutkan
dengan kalik minor yang jumlahnya antara 6 14 buah. Kedua ureter berjalan lurus
dari pelvis renis ke daerah pertengahan sakrum dan berputar ke belakang lateral
dalam suatu arkus, turun ke bawah dan masuk ke dalam dan depan untuk memasuki
trigonum vesika urinaria. Tiga tempat penyempitan ureter normal adalah pada
ureteropelvical junction, ureterovesical junction, dan persilangan pembuluh darah
iliaka.

DAFTAR PUSTAKA

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

PRESENTASI KASUS
Basler,

J.

2007.

Bladder

Stones.

Emedicine

Journal.

Sited

by

http://www.emedicine.com.
de Jong, W. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta:EGC
Purnomo, B. B. 2007. Dasar-dasar Urologi. Malang: Fakultas Kedokteran Universitas
Brawijaya.
Reksoprojo, S. 1995. Ilmu Bedah. Jakarta: Binarupa Aksara
Sudoyo, A. W., Setiyohadi, B., Alwi, I., dan Setiati, S. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.