Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
Pneumonia adalah Inflamasi pada parenkim paru dengan konsolidasi ruang
alveolar.1 Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari
bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus terminalis dan alveoli, serta
menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat.2
Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme, yaitu
bakteri, virus, jamur dan protozoa. Dari kepustakaan pneumonia komuniti yang diderita
oleh masyarakat luar negeri banyak disebabkan bakteri Gram positif, sedangkan
pneumonia di rumah sakit banyak disebabkan bakteri Gram negatif sedangkan
pneumonia aspirasi banyak disebabkan oleh bakteri anaerob.3
Penyakit saluran nafas menjadi penyebab angka kematian dan kecacatan
tertinggi diseluruh dunia. Sekitar 80% dari seluruh kasus baru praktek umum
berhubungan dengan infeksi saluran pernafasan yang terjadi dimasyarakat. Pneumonia
merupakan bentuk infeksi saluran pernapasan akut di parenkim paru yang serius
dijumpai sekitar 15-20% kejadian infeksi saluran pernapasan.2
Pada laporan kasus ini dilaporkan kasus pneumonia agar dapat menjadi
pembelajaran dalam manajemen tatalaksana holistik pada pasien ini, yang dilakukan
oleh dokter layanan primer di puskesmas.

Selain itu, laporan ini juga dapat

memberikan informasi mengenai perilaku masyarakat setempat dalam menghadapi


penyakit pneumonia.

BAB II
LAPORAN KASUS
I. IDENTITAS PASIEN
Nama

: An. MAR

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Usia

: 2 tahun

Agama

: Islam

Alamat

: Jl. Rumah Susun No.9 Blok 46 Lt.2 26 ilir

Pekerjaan

: Belum bekerja

Pendidikan

: Belum sekolah

Tanggal kunjungan ke Puskesman : 23 Februari 2016


Dokter muda Pembina

: Adiguna Darmanto, S.Ked

II. ANAMNESIS (Autoanamnesis tanggal 28 September 2015 pukul 10.00 WIB)


Keluhan Utama:
Batuk-pilek sejak 2 hari yang lalu
Keluhan Tambahan:
Demam
Riwayat Perjalanan Penyakit:
Kisaran 2 hari yang lalu pasien mengeluh batuk dan pilek. Batuk berdahak
terutama saat malam hari, darah (-), nafsu makan menurun (+). BAB dan BAK
normal seperti biasa Pasien belum berobat.
Kisaran 1 hari yang lalu, pasien mengeluh sesak, sesak dirasa terus
menerus, mengi (-). Pasien juga mengeluh demam tinggi terus menerus, batuk (+)
dahak (+), darah (-) dan pilek masih ada.

Riwayat Penyakit Dahulu :


Riwayat alergi disangkal
Riwayat Imunisasi:
Imunisasi dasar lengkap. (Terakhir Imunisasi Campak)
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat keluarga pasien menderita penyakit dengan keluhan yang sama disangkal.
Riwayat Sosial Ekonomi :
Pasien tinggal dengan kedua orangtua, ayah pasien bekerja sebagai pegawai swasta,
Ibu sebagai ibu rumah tangga. Pasien mempunyai satu kakak yang sekolah kelas 2
SD.
Kesan: Sosial ekonomi menengah ke bawah.
Riwayat Higienitas :
Pasien mandi 2 kali sehari, menggunakan sabun cair, dan air berasal dari PDAM,
handuk dipakai sendiri.
Kesan: Higienitas pasien baik.

A. Pemeriksaan Fisik (Dilakukan pada 23 Februari 2016, Pukul 09.00 WIB)


Status Generalis
Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos Mentis

Tekanan darah

: -

Nadi

: 135 x/menit

Pernapasan

: 58 x/menit

Suhu

: 38.5 0C

Berat badan

: 12 kg

Tinggi Badan: 91 cm

Status Gizi

: Status gizi baik

Keadaan spesifik
Kepala
Mata

: Konjungtiva palpebra tidak pucat,


Sklera tidak ikterik

Hidung
Telinga

: Tidak ada kelainan


: Tidak ada kelainan

Tenggorokan

: Faring tidak hiperemis, tonsil T1-T1 tenang

Mulut

: Mukosa mulut dalam batas normal

Leher

: Pembesaran KGB (-)

Thorax
Cor

: HR : 135 x/menit, reguler, bunyi jantung I dan II


normal, murmur tidak ada, gallop tidak ada

Pulmo

: Vesikuler (+) normal, wheezing (+), ronki kasar


(+)

Abdomen

: Datar, lemas, hepar dan lien tidak teraba, nyeri


tekan abdomen tidak ada, bising usus (+) normal

Ekstremitas atas

: Tidak ada kelainan

Ekstremitas bawah

: Tidak ada kelainan

KGB

: Tidak ada pembesaran pada KGB regio


coli, aksila dan inguinal.

B. Diagnosis Banding
Pneumonia
Bronkiolitis
C. Diagnosis Kerja
Pneumonia
D. Pemeriksaan Penunjang
Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang.
E. Pemeriksaan Anjuran
1. Rontgen Thorax AP

F. Terapi
Nonmedikamentosa
o Memberikan informasi kepada pasien bahwa penyakitnya adalah
Pneumonia yang disebabkan oleh virus, bakteri, dan jamur. Gejala
berupa batuk, pilek, demam disertai dengan sesak nafas atau nafas cepat.
o Menjelaskan mengenai pengobatan yang akan dilakukan pada pasien.
o Menjelaskan kepada pasien tentang dampak yang akan ditimbulkan jika
pasien tidak segera diobati.
o Menjelaskan untuk tetap melanjutkan konsumsi makanan seperti biasa
dan istirahat.
Medikamentosa
Sistemik:
1. Parasetamol 3 x 1 cth
2. Amoxicillin 3x 1 cth
3. Multi Vitamin 1 x 1 tab
G. Komplikasi
Efusi Pleura
Respiratory Failure
ARDs
H. Prognosis
Quo ad Vitam
Quo ad Functionam
Quo ad Sanationam

: bonam
: bonam
: bonam

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Pneumonia adalah Inflamasi pada parenkim paru dengan konsolidasi
ruang alveolar.1 Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru,
distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus terminalis dan
alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan
pertukaran gas setempat.2
Pneumonia komunitas adalah pneumonia yang terjadi akibat infeksi
diluar rumah sakit, sedangkan pneumonia nosokomial adalah pneumonia
yang terjadi > 48 jam setelah dirawat dirumah sakit, baik di ruang rawat
umum, maupun diruang ICU yang tidak menggunakan ventilator.2
Pneumonia lobaris menggambarkan pneumonia yang terlokalisir pada
satu atau lebih lobus paru. Pneumonia atipikal mendeskripsikan pola selain
dari pneumonia lobaris. Bronkopneumonia mengacu pada inflamasi paru
yang terfokus pada area bronkiolus dan memicu produksi eksudat purulen
yang dapat mengakibatkan obstruksi saluran respirasi berkaliber kecil dan
menyebabkan konsolidasi merata ke lobules yang berdekatan. Pneumonitis
interstitial mengacu pada proses inflamasi pada interstisium yang terdiri dari
dinding alveolus, kantung dan duktus alveolar serta bronkiolus.1
B. Etiologi
Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme,
yaitu bakteri, virus, jamur dan protozoa. Dari kepustakaan pneumonia
komuniti yang diderita oleh masyarakat luar negeri banyak disebabkan
bakteri Gram positif, sedangkan pneumonia di rumah sakit banyak
disebabkan bakteri Gram negatif sedangkan pneumonia aspirasi banyak
disebabkan oleh bakteri anaerob. Akhir-akhir ini laporan dari beberapa kota di
Indonesia menunjukkan bahwa bakteri yang ditemukan dari pemeriksaan
dahak penderita pneumonia komuniti adalah bakteri Gram negatif.3

Tabel 2.1: Daftar Mikroorganisme Penyebab Pneumonia4

C. Epidemiologi
Penyakit saluran nafas menjadi penyebab angka kematian dan
kecacatan tertinggi diseluruh dunia. Sekitar 80% dari seluruh kasus baru
praktek umum berhubungan dengan infeksi saluran pernafasan yang terjadi
dimasyarakat. Pneumonia merupakan bentuk infeksi saluran pernapasan akut
di parenkim paru yang serius dijumpai sekitar 15-20% kejadian infeksi
saluran pernapasan.2
Insidensi tahunan: 5-11 kasus per 1.000 orang dewasa; 15-45% perlu
di rawat dirumah sakit (1-4 kasus), dan 5-10% diobati di ICU. Insidensi
paling tinggi pada pasien yang sangat muda dan usia lanjut. Mortalitas: 512% pada pasien yang dirawat di rumah sakit; 25-50% pada pasien ICU.4
D. Patofisiologi
Proses pathogenesis pneumonia terkait dengan 3 faktor, yaitu keadaan
(imunitas), mikroorganisme yang menyerang pasien, dan lingkungan yang
berinteraksi satu sama lain. Interaksi ini akan menentukan klasifikasi dan
bentuk manifestasi dari pneumonia, berat ringannya penyakit, diagnosis
empiric, rencana terapi secara empiris serta prognosis dari pasien. 5

Cara terjadinya penularan berkaitan dengan jenis kuman, misalnya


infeksi melalui droplet sering disebabkan Streptokokkus pneumonia, melalui
selang infuse oleh Staphylococcus aureus, sedangkan infeksi pada pemakaian
ventilator oleh P. Aeroginosa dan Enterobacter. 5
Patogen yang sampai ke trakea berasal dari aspirasi bahan yang ada di
orofaring, kebocoran melalui mulut saluran endotrakeal, inhalasi dan sumber
patogen yang mengalami kolonisasi di pipa endotrakeal. Faktor risiko pada
inang dan terapi yaitu pemberian antibiotik, penyakit penyerta yang berat, dan
tindakan invansif pada saluran nafas.2 Faktor resiko kritis adalah ventilasi
mekanik >48jam, lama perawatan di ICU. Faktor predisposisi lain seperti
pada pasien dengan imunodefisien menyebabkan tidak adanya pertahanan
terhadap kuman patogen akibatnya terjadi kolonisasi di paru dan
menyebabkan infeksi.5
Proses infeksi dimana patogen tersebut masuk ke saluran nafas bagian
bawah setelah dapat melewati mekanisme pertahanan inang berupa daya
tahan mekanik ( epitel,cilia, dan mukosa), pertahanan humoral (antibodi dan
komplemen) dan seluler (leukosit, makrofag, limfosit dan sitokinin).2
Kemudian infeksi menyebabkan peradangan membran paru ( bagian dari
sawar-udara alveoli) sehingga cairan plasma dan sel darah merah dari kapiler
masuk. Hal ini menyebabkan rasio ventilasi perfusi menurun, saturasi oksigen
menurun.5 Pada pemeriksaan dapat diketahui bahwa paru-paru akan dipenuhi
sel radang dan cairan, dimana sebenarnya merupakan reaksi tubuh untuk
membunuh patogen, akan tetapi dengan adanya dahak dan fungsi paru
menurun akan mengakibatkan kesulitan bernafas, dapat terjadi sianosis,
asidosis respiratorik dan kematian.5
E. Manifestasi Klinis
Usia merupakan faktor penentu dalam manifestasi klinis pneumonia.
Neonatus dapat menunjukkan hanya gejala demam tanpa ditemukannya
gejala-gejala pneumonia. Pola klinis yang khas pada pasien pneumonia viral
dan bacterial umumnya berbeda antara bayi yang lebih tua dan anak, berupa

demam, menggigil, takipneu, batuk, malaise, nyeri dada akibat pleuritis,


retraksi dan iritabilitas akibat sesak respiratori.1
Pneumonia viral lebih sering berasosiasi dengan batuk, mengi, atau
stridor, dan gejala demam lebih tidak menonjol dibandingkan pneumonia
bacterial. Pneumonia bacterial secara tipikal berasosiasi dengan demam
tinggi, mengigil, batuk, dispneu, dan pada auskultasi ditemukan tanda-tanda
konsolidasi paru. Pneumonia atipikal pada bayi kecil ditandai oleh gejala
yang khas seperti takipneu, batuk, ronkhi kering, dan seringkali ditemukan
bersamaan dengan conjungtivitis chlamydial. Gejala klinis lainnya yang dapat
ditemukan adalah distress pernapasan termasuk napas cuping hidung, retraksi
interkosta dan subkosta, dan merintih.1
F. Tatalaksana
Tatalaksana Pneumonia menitikberatkan pada pemberian antibiotic
yang sesuai dengan pemberian obat-obat suportif
Tabel 2.2: Pemberian Antibiotik pada Penderita Pneumonia2,6
PEMBERIAN ANTIBIOTIK SECARA EMPIRIS
Pasien berobat jalan

Pasien yang sebelumnya sehat dan tidak menggunakan antibiotika pada

3 bulan terakhir
Macrolide [klaritromisin (500mg PO bid) atau azitromisisn (500mg PO

sekali, kemudian 250 mg od)]


Doksisiklin (100mg PO bid)

Pasien dirawat, non ICU

Fluorokuinolon respirasi [moksifloksasin (400 mg PO atau IV od),


Gemifloksasin (320mg PO od),
Levofloksasin (750 mg PO atau IV od)

Pasien dirawat , ICU


laktam (sefotaksim 1-2 g IV q8h),
Seftriakson (2 g IV od) + Azitromisisn atau fluoroquinolon
Pemberian Antibiotik Secara Empiris Pada Pneumonia Tanpa Faktor

Resiko Multidrug Resistant (MDR)


Seftriakson (2g IV q24h) atau
Moksifloksasin (400mg IV q24h), ciprofloksasin (400mg IV q8h), atau

levofloksasin (750 mg IV q24h)


Ampisilin/sulbaktam (3 g IV q6h) atau Ertapenem (1 g IV q24h
Pemberian antibiotik secara empiris pada pneumonia dengan faktor resiko
multidrug resistant (MDR)
1. -laktam : seftazidim (2 g IV q8h) atau sefepim (2 g IV q8-12h) atau
Pipersilin (4,5 g IV q6h), imipenem (500 mg IV q6h)
2. Obat kedua yang aktif terhadap patogen gram negative Gentamisin ( 7
mg/kg IV q24h) atau amikasin (20 mg/kg IV q24h) atau siprofloksasin
(400 mg IV q8h) atau levofloksasin (750 mg IV q24h)
3. Obat aktif terhadap bakteri patogen gram positif : Linezolid (600mg IV
q12h) atau Vankomisin (15 mg/kg, sampai 1 g IV, q12h)

G. Pencegahan
Pemberian imunisasi memberikan arti yang sangat penting dalam
pencegahan pneumonia. Pneumonia diketahui dapat sebagai komplikasi dari
campak, pertusis, dan varisela sehingga imunisasi dengan vaksin yang
berhubungan dengan penyakit tersebut akan membantu menurunkan insiden
pneumonia. Pneumonia yang disebabkan oleh Haemophillus influenza dapat
juga dicegah dengan pemberian imunisasi Hib.7
Pencegahan lain dapat dilakukan dengan menghindari factor paparan
asap rokok dan polusi udara, membatasi penularan terutama dirumah sakit
misalnya dengan membiasakan cuci tangan dan penggunaan sarung tangan
dan masker, isolasi penderita, menghindarkan bayi/anak kecil dari tempat
keramaian umum, pemberian ASI, menghindarkan bayi/anak kecil dari
kontak dengan penderita ISPA.7
H. Prognosis
Pada umumnya anak akan sembuh dari pneumonia dengan cepat dan
sembuh sempurna, walaupun kelainan radiologi dapat bertahan selama 6-8
minggu sebelum kembali ke kondisi normal. Pada beberapa anak, pneumonia

10

dapat berlangsung lebih lama dari 1 bulan atau dapat berulang. Pada kasus
seperti ini, kemungkinan adanya penyakit lain yang mendasari harus
diinvestigasi lebih lanjut, seperti dengan uji tuberculin, pemeriksaan
hidroklorida keringat untuk kistik fibrosis, dan bronkoskopi untuk identifikasi
kelainan anatamis atau mencari benda asing.1
I. Komplikasi1
1. Pneumonia ekstrapulmoner, pneumonia pneumokokus dengan bakteriemi.
2. Pneumonia ekstrapulmoner non infeksius gagal ginjal, gagal jantung,
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

emboli paru dan infark miokard akut.


ARDS ( Acute Respiratory Distress Syndrom)
Komplikasi lanjut berupa pneumonia nosokomial
Sepsis
Gagal pernafasan, syok, gagal multiorgan
Penjalaran infeksi (abses otak, endokarditis)
Abses paru
Efusi pleura

BAB IV
PEMBAHASAN DAN PENCEGAHAN/PEMBINAAN
A. Pembahasan
Dari anamnesis didapatkan bahwa pasien adalah seorang anak laki-laki
berumur 2 tahun. Berdasarkan tinjauan pustaka disebutkan bahwa pneumonia
dapat mengenai anak-anak maupun dewasa. Keluhan utama pada pasien ini adalah
11

batuk dan pilek sejak 1 hari yang lalu. Pada awalnya pasien mengeluh batuk
berdahak, tidak ada darah disertai dengan pilek. Pasien mengaku belum ada
demam. Sejak 1 hari sebelum rumah sakit pasien mengeluh sesak napas terus
menerus disertai dengan demam tinggi, batuk pilek masih ada. Hal ini sesuai
dengan teori dimana disebutkan bahwa gejala utama pneumonia adalah batuk
berdahak, pilek, disertai demam dan sesak napas atau napas cepat, terutama pada
anak-anak gejala yang lebih utama muncul adalah batuk dan pilek.
Pada pemeriksaan fisik didapati pada status generalis yang menunjukkan
bahwa pasien dalam keadaan febris kemudian dari pemeriksaan paru ditemukan
napas cepat (takipneu 58 x/menit), disertai wheezing dan ronkhi kasar, hal ini
sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa pada pasien pneumonia terjadi
inflamasi pada parenkim paru yang dapat menyebabkan terbentuknya konsolidasi,
sehingga pasien mengeluh sesak napas dan disertai adanya ronkhi. Untuk
wheezing bias muncul bila inflamasi juga mengenai bronkus terminalis.
Tujian pengobatan pada pasien ini adalah untuk memperpendek perjalanan
penyakit dan mengurangi gejala klinis yang ada, yaitu dengan pemberian
antibiotik, yaitu amoxicillin 3x 120 mg/hari selama 5-7 hari, hal ini dimaksudkan
untuk membunuh bakteri penyebab pneumonia, Roborantia berupa antipiretik
Paracetamol 3x125 mg/hari dan multivitamin diberikan dengan tujuan untuk
menurunkan gejala demam, dan meningkatkan daya tahan tubuh anak.
Pasien disarankan agar istirahat yang cukup, minum obat yang teratur,
makan makanan yang bergizi, Hal itu bertujuan untuk memperbaiki daya tahan
tubuh pasien, mencegah terjadinya infeksi sekunder dan mencegah terjadinya
komplikasi. Selain itu keluarga pasien diedukasi mengenai tanda bahaya
pneumonia agar segera dibawa ke unit kesehatan terdekat bila tanda bahaya
tersebut muncul.
Prognosis umumnya baik, bergantung pada kecepatan penanganan dan
kemungkinan komplikasi yang dapat terjadi. Pada pasien ini prognosis Quo ad
vitam adalah Bonam karena penyakit ini tidak mengancam jiwa, sebab dari
pemeriksaan tidak didapatkan tanda-tanda komplikasi. Prognosis Quo ad
Functionam adalah Bonam karena fungsi bagian tubuh yang terkena tidak

12

terganggu. Prognosis Quo ad Sanationam adalah Bonam karena tidak


mengganggu kehidupan sosial penderita, sebab penanganan yang cepat maka
perjalanan penyakit dapat diperpendek.
B. Genogram Keluarga
Tn. N / 35 tahun

Ny. R / 26 tahun

An. D / 7 tahun

An. MAR / 2 tahun

C. Home Visite (9 Fungsi Keluarga)


1. Fungsi Holistik
Fungsi ini merupakan fungsi keluarga yang meliputi fungsi biologis, fungsi
psikologis, dan fungsi sosial ekonomi.
Fungsi biologis : Di dalam kelurga ini tidak terdapat penyakit yang
menurun (herediter), seperti thalasemia, hemophilia, dan sebagainya.
Fungsi psikologis : Keluarga ini memiliki fungsi psikologis yang
cukup baik. Keluarga ini memiliki hubungan antara anggota keluarga
yang cukup harmonis dan sehingga jarang terjadi kesulitan dalam
memecahkan setiap masalah yang ada pada keluarga.
Fungsi sosial ekonomi; Kondisi ekonomi keluarga ini tergolong
menengah, ayah pasien yang sejatinya sebagai kepala keluarga bekerja
sebagai pegawai swasta dan ibu pasien merupakan seorang ibu rumah
tangga. Keluarga ini juga kurang berperan aktif dalam setiap kegiatan
dan kehidupan sosial di masyarakat.
2. Fungsi Fisiologis

13

Fungsi fisiologis keluarga diukur dengan APGAR score. APGAR score


adalah skor yang digunakan untuk menilai fungsi keluarga ditinjau dari
sudut pandang setiap anggota keluarga terhadap hubungannya dengan
anggota keluarga yang lain. APGAR score meliputi:
Adaptation : keluarga ini sudah mampu beradaptasi antar sesama
anggota keluarga, saling mendukung, saling menerima dan
memberikan saran satu dengan yang lainnya walau tidak intensif.
Partnership : Komunikasi dalam keluarga ini cukup baik, mereka
saling membagi, saling mengisi antar anggota keluarga dalam setiap
masalah yang dialami oleh keluarga tersebut.
Growth : Keluarga ini juga saling memberikan dukungan antar
anggota keluarga akan hal-hal yang baru yang dilakukan anggota
keluarga tersebut.
Affection : Interaksi dan hubungan kasih sayang antar anggota
keluarga ini sudah terjalin dengan cukup baik.
Resolve : Keluarga ini memiliki rasa kebersamaan yang cukup dan
kadang-kadang menghabiskan waktu bersama dengan anggota
keluarga lainnya.
Adapun skor APGAR keluarga ini adalah 9 dengan interpretasi baik (data
terlampir)
3. Fungsi Patologis dinilai dengan SCREEM score.
Social, interaksi keluarga ini dengan tetangga sekitar sudah cukup
baik.
Culture, keluarga ini cukup memberikan apresiasi dan kepuasan
yang cukup terhadap budaya, tata karma, dan perhatian terhadap
sopan santun.
Religious, keluarga ini taat menjalankan ibadah sesuai dengan
ajaran agama yang dianutnya.
Economic, status ekonomi keluarga ini tergolong menengah.
Educational, Tingkat pendidikan keluarga ini tergolong cukup. Tn.
N dan Ny. R adalah tamatan SLTA, An. D merupakan anak pertama
sekolah kelas 2 SD dan An. MAR merupakan anak kedua..

14

Medical, keluarga ini sudah dekat dan tersedia pelayanan kesehatan


yang memadai, misalnya akses ke Puskesmas mudah dan sudah
banyak praktek dokter umum dan bidan swasta disekitar lingkungan
rumah pasien, tetapi kemauan dan kesadaran keluarga ini untuk
berobat masih kurang.
4. Fungsi Hubungan Antar Manusia
Hubungan interaksi antar anggota keluarga sudah terjalin dengan baik.
5. Fungsi Keturunan (genogram)
Fungsi genogram dalam keadaaan baik.
6. Fungsi Perilaku (Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan)
Pengetahuan tentang kesehatan keluarga ini masih kurang, sikap sadar akan
kesehatan dan beberapa tindakan yang mencerminan pola hidup sehat
belum dilakukan dengan baik.
7. Fungsi Nonperilaku (Lingkungan, Pelayanan Kesehatan, Keturunan)
Lingkungan kurang sehat sehat namun para tetangga juga menjalin
kerjasama dengan baik, keluarga ini juga tidak aktif memeriksakan diri ke
tempat

pelayanan

kesehatan,

padahal

jarak

rumah

dengan

puskesmas/rumah sakit tidak terlalu jauh.


8. Fungsi Indoor
Gambaran lingkungan dalam rumah sudah memenuhi syarat-syarat
kesehatan sepenuhnya. Lantai dan dinding terbuat dari semen, serta
pengelolaan sampah dan limbah yang cukup baik. Ventilasi, sirkulasi udara
cukup baik, tetapi pencahayaan kurang. Selain itu, sumber air bersih pun
telah terjamin.
9. Fungsi Outdoor

15

Gambaran lingkungan luar rumah sudah kurang baik, jarak rumah dengan
jalan raya sekat, tidak ada kebisingan disekitar rumah, jarak rumah dengan
kali cukup dekat, dan tempat pembuangan umum jauh dari lokasi rumah.

DAFTAR PUSTAKA
1. J. Marcdante Karen, et al. Nelson Ilmu Kesehatan Anak Essensial Edisi ke
6. Saunders Elsevier: Singapore. 2011.
2. Sudoyo, Aru W. dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II Edisi
V.Jakarta: Interna Publishing Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam. 2007.
3. PDPI. Pneumonia Komuniti Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan Di
Indonesia. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2003. Akses pada:
http://www.klikpdpi.com/konsensus/konsensuspneumoniakom/pnkomuniti.pdf

16

4. Jeremy, P.T. (2007). At Glance Sistem Respirasi. Edisi Kedua. Jakarta:


Erlangga Medical Series. Hal. 76-77.
5. Alwi. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Interna Publishing.2010
6. Fauci, Braunwald, Kasper et al. Harrison : Manual Kedokteran. Jilid 2.
Tanggerang : 2012
7. Asih S. Retno, et al. Pneumonia. Surabaya: Ilmu Kesehatan Anak FK
UNAIR. 2006

LAMPIRAN 1
DENAH RUMAH
Pintu Masuk
WC

Ruang Tamu

Dapur
Tempat Tidur

Tempat Tidur

17

LAMPIRAN 2
APGAR SCORE
Skor untuk masing-masing kategori adalah :
0 = Jarang/tidak sama sekali
1 = Kadang-kadang
2 = Sering/selalu
Tiga kategori penilaian yaitu :
5 = Kurang
6-7 =

Variabel

APGAR

APGAR

APGAR

Cukup

8-10 =

Penilaian
Adaptation

Ayah
2

Ibu
2

Anak I
1

Baik

Partnership

Growth

18 2

Affection
Resolve

2
2

2
2

2
1

Total

10

10

Rata-rata APGAR score pada keluarga ini = 9 (Baik)

LAMPIRAN 3
SCREEM SCORE
Variabel Penilaian
Social

Penilaian
Interaksi keluarga ini dengan tetangga sekitar cukup
baik.

Culture

Keluarga ini memberikan apresiasi dan kepuasan yang


baik terhadap budaya, tata karma, dan perhatian

Religious

terhadap sopan santun.


Keluarga ini cukup taat menjalankan ibadah sesuai

Economic

dengan ajaran agama yang dianutnya.


Status ekonomi keluarga ini cukup.

19

Educational

Tingkat pendidikan keluarga ini tergolong cukup. Tn.


N dan Ny. R adalah tamatan SLTA, An. D adalah
pelajar Sd kelas 2, An, MAR belum sekolah

Medical

Keluarga ini tergolong cukup mendapat pelayanan


kesehatan yang memadai.

20