Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH DASAR BUDIDAYA TANAMAN

APLIKASI MULSA PADA KOMODITAS BROKOLI

Disusun oleh:
NAMA

: NABILA ISLAMI

NIM

: 155040200111114

KELAS

:E

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salah satu produk pertanian yang prospektif untuk dikembangkan di Indonesia
adalah brokoli. Brokoli (Brassica oleracea) adalah sayuran oriental famili kubis-kubisan
yang memiliki kandungan vitamin A dan vitamin D tinggi. Bagian yang dikonsumsi dari
tanaman brokoli adalah berupa bongkahan bunga yang mirip bunga kol namun berwarna
hijau. Kepala dari brokoli ini merupakan kumpulan dari ratusan bunga-bunga kecil (beet)
yang membentuk rumpun yang rapat dan kompak.
Di Indonesia, pusat produksi brokoli masih terkonsentrasi di beberapa daerah,
seperti Lembang, Cisarua, dan Cibodas Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Saat ini, tanaman
tersebut kini mulai berkembang di daerah sentra sayuran lain seperti di Bukit tinggi,
Pangalengan, Majalengka, Garut, dan dataran rendah lain seperti Sleman dan Kulonprogo
(Rukmana, 1995).
Pemulsaan adalah suatu teknik untuk menjaga tetapnya suhu tanah di sekitar akar
tanaman, menahan uap air dalam tanah, mencegah erosi, dan menghilangkan tumbuhnya
gulma dan penyakit. Tetapi di Indonesia, banyak petani yang tidak tahu penggunaan mulsa
secara tepat berdasarkan jenis mulsa itu sendiri untuk komoditas tertentu serta fungsi dari
mulsa itu bagi tanaman. Penggunaan variasi mulsa diharapkan dapat memberikan pengaruh
positif terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman brokoli (Brassica oleracea).
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah dasar
budidaya tanaman tengah semester genap tentang materi pemulsaan. Dalam makalah ini
membahas salah satu jurnal tentang pengaruh macam pupuk organik dan mulsa pada
tanaman brokoli (brassica oleracea l. var. italica). (Moh. Ainun Multazam, Agus Suryanto
dan Ninuk Herlina. 2014. Pengaruh Macam Pupuk Organik dan Mulsa pada Tanaman
Brokoli (Brassica oleracea L. var. Italica). Jurnal Produksi Tanaman, Volume 2, Nomor 2,
hlm. 154-161.)

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Brassica oleracea
2.1.1 Penjabaran Umum
Brokoli (Brassica oleracea L. Kelompok Italica) adalah tanaman sayuran yang
termasuk dalam suku kubis-kubisan atau Brassicaceae. Brokoli berasal dari daerah Laut
Tengah dan sudah sejak masa Yunani Kuno dibudidayakan. Beberapa tahun terakhir banyak
terjadi perbaikan warna maupun ukuran bunga terutama di Denmark. Brokoli merupakan
tanaman yang hidup pada cuaca dingin. Di Indonesia brokoli dikenal dengan nama kubis
bunga hijau atau Sprouting broccoli. Broccoli dari bahasa Italia, dimana broco berarti tunas.
Sayuran ini masuk ke Indonesia belum lama (sekitar 1970-an) dan kini cukup populer
sebagai bahan pangan. Bagian brokoli yang dimakan adalah kepala bunga berwarna hijau
yang tersusun rapat seperti cabang pohon dengan batang tebal. Sebagian besar kepala bunga
tersebut dikelilingi dedaunan. Brokoli paling mirip dengan kembang kol, namun brokoli
berwarna hijau, sedangkan kembang kol putih.
Sebagai makanan, brokoli biasanya direbus atau dikukus, atau dapat pula dimakan
mentah. Cara terbaik dalam mengolah brokoli adalah dengan cara dikukus. Hal ini bertujuan
agar segala vitamin dan nutrisi penting di dalamnya tidak hilang selama proses pemasakan.
Merebus brokoli akan menghilangkan sekitar 50 % asam folat yang terkandung di dalamnya.
Oleh karena itu, jika ingin mengolah brokoli dengan cara direbus, sebaiknya brokoli tidak
direbus terlalu lama, kira-kira tidak lebih dari 5 menit. Brokoli mengandung vitamin C dan
serat makanan dalam jumlah banyak. Brokoli juga mengandung senyawa glukorafanin, yang
merupakan bentuk alami senyawa antikanker sulforafana (sulforaphane). Selain itu, brokoli
mengandung senyawaan isotiosianat yang, sebagaimana sulforafana, ditengarai memiliki
aktivitas antikanker. Manfaat brokoli terbukti sangat banyak diantaranya untuk kesehatan
mata dan syaraf dan ikut mengurangi tekanan darah. Disamping itu kandungan kalsium dan
vitamin K yang tinggi membuat sayur brokoli juga sangat baik untuk kesehatan tulang. Hal
menarik lain dari sayuran hijau ini adalah manfaatnya untuk kesehatan kulit juga cukup
besar.

2.1.2 Syarat Pertumbuhan


1. Iklim
a. Secara umum angin tidak berpengaruh karena tinggi tanaman yang relatif
rendah. Pengaruh hanya dirasakan pada evaporasi lahan dan evapotranspirasi
tanaman.
b. Tanaman brokoli memerlukan curah hujan yang cukup tinggi (1000-1500 cm
/tahun).
c. Tanaman ini tumbuh baik pada suhu udara antara 13-24 derajat C.
d. Kelembaban udara yang cocok untuk tanaman ini antara 80-90%.
e. Stadia pembibitan memerlukan intensitas cahaya lemah sehingga memerlukan
naungan untuk mencegah cahaya matahari langsung yang membahayakan
pertumbuhan bibit. Sedangkan pada stadia pertumbuhan diperlukan intensitas
cahaya yang kuat, sehingga tidak membutuhkan naungan.
2. Media Tanam
a. Tanah yang dibutuhkan adalah subur, gembur, kaya bahan organik dan tidak
mudah becek seperti pada tanah lempung berpasir tetapi dapat hidup dengan
baik pada tanah jenis Andosol, Latosol, Regosol, Mediteran dan Aluvial.
b. Kisaran keasaman (pH) yang cocok adalah 5,5-6,5, pH dibawah 5, pertumbuhan
tidak normal karena kekurangan unsur hara magnesium (Mg), Molybelium
(Mo) dan Boron (B). Kandungan air tanah yang baik adalah kandungan air
tersedia, yaitu pF antara 2,5-4, sehingga memerlukan pengairan yang cukup
baik (irigasi maupun drainase).
c. Kemiringan optimal 0-20%, lebih besar dari 20%, lahan harus dibuat dalam
bentuk terasering.

3. Ketinggian Tempat

Ketinggian yang cocok untuk bertanam brokoli adalah antara 1000-2000 m


dpl. Namun ada beberapa varietas dapat ditanam pada dataran rendah dengan
ketinggian kurang dari 1000 m dpl.

2.2 Pengertian dan Macam-Macam Mulsa


Mulsa adalah suatu bahan yang digunakan sebagai penutup tanah yang bertujuan untuk
menghalangi pertumbuhan gulma, menjaga suhu tanah agar tetap stabil, mencegah percikan air
langsung mengenai tanah (Wiharjo, 1997).

Pemulsaan (mulching) adalah menutupi permukaan tanah dengan sisa-sisa tanaman.


Sisa-sisa tanaman yang biasa digunakan untuk pemulsaan yaitu jerami. Menurut Dj.
Greenland dan R. Lal dalam Soil Conservation and Managment in the Humid Tropic, New
York 1977, dengan dilakukan pemulsaan konservasi air dalam tanah dapat diperbaiki,
jumlah pori-pori yang dapat menginfiltrasi air meningkat dan evaporasi yang berlebihan
dapat dikurangi. Namun, menurut Purwowidodo (1983), fungsi dari pemulsaan yaitu:
-

Melindungi agregat-agregat tanah dari daya rusak butir hujan


Meningkatkan penyerapan air oleh tanah
Mengurangi volume dan kecepatan aliran permukaan
Memelihara temperatur dan kelembaban tanah
Memelihara kandungan bahan organik tanah
Mengendalikan pertumbuhan tanaman pengganggu.

Adapun macam-macam mulsa sebagai berikut:


1. Mulsa Organik

Mulsa organik adalah bahan penutup tanah yang berasal dari sisa-sisa
tanaman atau bahan organik lainnya yang berguna untuk milindungi
permukaan tanah dari terpaan hujan, erosi, menjaga kelembaban, struktur,
kesuburan tanah dan menghambat pertumbuhan gulma (Lakitan, 1995). Jenis
mulsa organik antara lain adalah jerami, sekam padi dan ampas tebu. Selain
mudah didapat mulsa ini juga mampu meningkatkan kelembaban tanah,
mencegah erosi, mengurangi penguapan dan mudah terurai (Purwowidodo,
1983).
2. Mulsa Anorganik

Yaitu terbuat dari bahan-bahan sintetis yang sukar/tidak dapat terurai.


Contoh mulsa anorganik adalah mulsa plastik, plastik transparan, plastik hitam,
mulsa plastik hitam perak (MPHP) maupun karung.
Fungsi dari warna mulsa plastik:

Warna silver pada plastik mulsa silver hitam dapat membantu proses
fotosintesis pada tanaman dengan lebih cepat. Selain itu, dapat menekan
pertumbuhan kutu. Sedangkan warna hitamnya dapat menjaga suhu dalam
tanah agar tetap stabil walaupun sinar matahari sedang terik.

Warna hitam pada mulsa digunakan untuk menekan pertumbuhan gulma atau
rumput liar.

Plastik mulsa transparan digunakan pada tanah untuk mengurangi gulma


melalui solarisation. Cocok digunakan pada tanaman yang ditanam pada
dataran rendah.

Plastik mulsa yang berwarna hitam dapat menyimpan banyak garam di


tanah, sedangkan plastik mulsa yang tebal dapat mengurangi perpindahan air
dan garam. Bisa diterapkan untuk budidaya bawang dan asparagus di dataran
tinggi. Cocok untuk budidaya semangka hibrida, cabai hibrida, dan terungterungan.

Plastik mulsa putih dapat menurunkan suhu tanah dan dapat menambah
jumlah sinar matahari yang diterima oleh tanaman sehingga dapat membantu
proses fotosintesis. Sangat cocok bila digunakan untuk penanaman semangka,
melom, cabai hibrida juga terung-terungan.

2.3 PEMBAHASAN JURNAL


Disini akan dibahas jurnal berjudul Pengaruh Macam Pupuk Organik dan Mulsa
Pada Tanaman Brokoli (Brassica Oleracea L. Var. Italica). Penelitian dilaksanakan di kebun
percobaan Universitas Brawijaya yang terletak di Dusun Cangar, Kecamatan Bumi-aji, Kota
Batu, Malang pada bulan Maret sampai Juni 2013. Bahan yang digunakan ialah: benih
brokoli varietas Royal green, pupuk Urea ( 46% N), pupuk kandang ayam, pupuk kompos
tanaman, pupuk petroganik, mulsa plastik hitam perak, mulsa jerami dan insektisida Regent
50 EC.
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, penggunaan mulsa bisa menjadi salah
satu cara yang dapat dilakukan. Penggunaan mulsa dapat mengurangi pertumbuhan gulma
yang ada di lahan, sehingga dapat mencegah persaingan antara tanaman budidaya dengan
gulma. Penggunaan mulsa juga dapat memaksimalkan penerimaan cahaya yang dapat
diserap oleh tanaman sehingga pertumbuhan tanaman akan optimal. Salah satu mulsa yang
sering digunakan oleh petani adalah mulsa plastik hitam perak (MPHP) dan mulsa jerami,
dimana salah satu manfaat pemberian mulsa yaitu mampu meningkatkan pertumbuhan dan
hasil suatu tanaman.
Salah satu cara untuk mengurangi penguapan sehingga air dalam tanah lebih efisien
yaitu dengan mengaplikasikan mulsa (Sudjianto dan Krestiani, 2009). Hal ini sesuai dengan
pendapat Umboh (2002) yang menyatakan bahwa tanah yang tidak diberi mulsa dapat
mengurangi penguapan dalam kurun waktu yang lama. Dengan keadaan tersebut akan
menciptakan kondisi yang lebih menguntungkan untuk partumbuhan, perkembangan dan
peningkatan hasil tanaman (Kadarso, 2008). Penggunaan mulsa dalam budidaya tanaman
dimaksudkan untuk menjaga iklim mikro di sekitar tanaman seperti suhu dan kelembaban
agar tanaman mampu tumbuh optimal. Pada parameter pengamatan lingkungan juga
menunjukkan bahwa perlakuan mulsa plastik hitam perak mampu menjaga kelembaban
tanah (Gambar 1), Dengan keadaan yang lembab menandakan bahwa ketersediaan air bagi
tanaman dapat tercukupi, sehingga air yang merupakan pelarut bagi unsur yang dibutuhkan
oleh tanaman mampu meningkatkan hasil tanaman brokoli.

Faktor kelembaban memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap hasil bobot
konsumsi tanaman brokoli dikarenakan nilai R yang dihasilkan lebih dari 0,7 yang
menandakan faktor kelembaban memiliki pengaruh nyata terhadap hasil bobot konsumsi
tanaman. Semakin tinggi kelembaban tanah maka akan meningkatkan bobot konsumsi
tanaman brokoli. Pemberian mulsa yang paling efektif adalah penggunaan MPHP karena
pada pengamatan suhu tanah perlakuan MPHP mampu meningkatkan suhu tanah baik pada
pagi, siang maupun sore hari daripada perlakuan tanpa mulsa maupun mulsa jerami,
dikarenakan MPHP mampu menerima dan menyerap panas sehingga suhu tanah meningkat.
Menurut Fahrurrozi, Stewart dan Jenni (2001), secara umum penggunaan mulsa plastik
hitam perak meningkatkan suhu rizosfir yang ditutupi mulsa dibanding tanpa mulsa.
Peningkatan suhu tanah di bawah mulsa plastik hitam perak lebih rendah dibanding dengan
suhu tanah di bawah mulsa plastik hitam.
Penggunaan MPHP juga dapat memaksimalkan penerimaan cahaya karena fungsi
warna perak pada MPHP dapat memantulkan cahaya sehingga cahaya yang didapat oleh
tanaman lebih maksimal. Hal tersebut sesuai dengan Sudjianto dan Krestiani (2009) tentang
pemulsaan dan dosis NPK yang menyatakan bahwa pemakaian plastik hitam perak sebagai

mulsa memberikan dampak yang paling baik pada semua parameter yang diamati karena
warna perak pada mulsa dapat memantulkan cahaya yang dapat bermanfaat dalam proses
fotosintesis sehingga karbohidrat yang terbentuk lebih banyak.
KESIMPULAN
Pemulsaan adalah suatu teknik untuk menjaga tetapnya suhu tanah di sekitar akar
tanaman, menahan uap air dalam tanah, mencegah erosi, dan menghilangkan tumbuhnya
gulma dan penyakit. Penggunaan berbagai jenis mulsa dapat mempengaruhi pertumbuhan
dan hasil pada suatu komoditas. Pada jurnal ini, perlakuan MPHP + pupuk kandang ayam
menghasilkan hasil panen yang lebih baik daripada perlakuan tanpa mulsa maupun mulsa
jerami pada semua jenis pupuk. Penggunaan MPHP mampu menjaga kelembaban tanah dan
suhu tanah serta mampu meningkatkan penerimaan cahaya matahari 27% lebih tinggi
daripada tanpa mulsa dan 34% lebih tinggi daripada perlakuan mulsa jerami. Perlakuan
MPHP + pupuk kandang ayam menghasilkan 9,8 ton ha-1. Perlakuan MPHP + pupuk
kandang ayam mampu meningkatkan bobot konsumsi 159-165% lebih tinggi daripada
perlakuan tanpa mulsa pada semua jenis pupuk dan meningkatkan bobot konsumsi 144206% lebih tinggi daripada perlakuan mulsa jerami pada semua jenis pupuk. Sehingga
penggunaan mulsa plastik hitam perak lebih baik diaplikasikan pada komoditas brokoli
untuk menghasilkan pertumbuhan dan hasil produksi yang lebih optimal.

DAFTAR PUSTAKA
Arief, Arifin. 1990. Hortikultura. Andy Offset. Yogyakarta.
Arifin. 2003. Konsep Manipulasi Iklim Mikro Tanaman dalam Mendukung Peningkatan
Pendapatan Petani. Pidato Pengukuhan Guru Besar Bidang Ilmu Agroklimatologi
Pada Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang.
Dj. Greenland dan R. Lal. 1977. Soil Conservation and Managment in the Humid Tropic. New
York.
Fahrurrozi, K. A. Stewart and S. jenni. 2001. The Early Growth of Muskmelon in Mulched Minitunnel Containing a Thermal-water Tube. I. The Carbon Dioxide Concentration in The
Tunnel. J. Amer. Soc. For Hort. Sci.. 126:757-763.
Kadarso. 2008. Kajian Penggunaan Jenis Mulsa terhadap Hasil Tanaman Cabai Merah Varietas
Red Charm. Jurnal Agros. 10 (2) : 134-139.
Lakitan, B. 1995. Hortikultura I, Teory, Budidaya dan Pasca Panen. Raja Grafindo Persada.
Jakarta.
Moh. Ainun Multazam, Agus Suryanto dan Ninuk Herlina. 2014. Pengaruh Macam Pupuk Organik dan
Mulsa pada Tanaman Brokoli (Brassica oleracea L. var. Italica). Jurnal Produksi

Tanaman, Volume 2, Nomor 2, hlm. 154-161.


Nathoo, M., R. Nowbuth, C.L. Cangy. 1998. Brassica Production Introduction and Evaluation
Of Varieties. Amas. Food Agriculture Research Council, Reduit, Mauritius. h. 167-173.
Purwowidodo, 1983. Tehnologi mulsa. Dewaruci Press. Jakarta.
Royal Horticultural Society, 2014, Mulches and Mulching, 13 Maret 2014.
Rukmana, Rahmat. 1995. Budidaya Kubis Bunga dan Broccoli. Kanisius. Yogyakarta.
Sudjianto, U. dan V. Kristiani. 2009. Studi Pemulsaan dan Dosis NPK Pada Hasil Buah Melon.
Jurnal Sains dan Teknologi. 2 (2) : 1-7.
Umboh, H. A. 2002. Petunjuk Penggunaan Mulsa. PT. Penebar Swadaya. Jakarta.
Wiharjo, 1997. Bertanam Semangka. Kanisius, Yokyakarta.