Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
A.

LATAR BELAKANG
Penyakit Akibat Kerja dan Kecelakaan Kerja di kalangan petugas kesehatan dan
non kesehatan di Indonesia belum terekam dengan baik. Jika kita pelajari angka
kecelakaan dan penyakit akibat kerja di beberapa negara maju (dari beberapa
pengamatan) menunjukan kecenderungan peningkatan prevalensi. Sebagai faktor
penyebab, sering terjadi karena kurangnya kesadaran pekerja dan kualitas serta
keterampilan pekerja yang kurang memadai. Banyak pekerja yang meremehkan risiko
kerja, sehingga tidak menggunakan alat-alat pengaman walaupun sudah tersedia. Dalam
penjelasan

undang-undang

nomor

23

tahun

1992

tentang

Kesehatan

telah

mengamanatkan antara lain, setiap tempat kerja harus melaksanakan upaya kesehatan
kerja, agar tidak terjadi gangguan kesehatan pada pekerja, keluarga, masyarakat dan
lingkungan disekitarnya
Perkembangan teknologi dan industri berdampak pula pada kesehatan. Industri
menimbulkan polusi udara baik di dalam maupun di luar lingkungan kerja sehingga
mempengaruhi sistem respirasi. Berbagai kelainan saluran napas dan paru pada pekerja
dapat terjadi akibat pengaruh debu, gas ataupun asap yang timbul dari proses industri.1
Pneumokoniosis merupakan salah satu penyakit utama akibat kerja, terjadi hampir di
seluruh dunia dan merupakan masalah yang mengancam para pekerja. Data World Health
Organization (WHO) tahun 1999 menunjukkan bahwa terdapat 1,1 juta kematian oleh
penyakit akibat kerja di seluruh dunia, 5% dari angka tersebut adalah pneumokoniosis.
Pada survei yang dilakukan di Inggris secara rutin yaitu surveillance of workrelated and
occupational respiratory disease (SWORD) menunjukkan pneumokoniosis hampir selalu
menduduki peringkat 3-4 setiap tahun. Pneumokoniosis sudah dikenal lama sejak
manusia mengenal proses penambangan mineral. Berbagai jenis debu mineral dapat
menimbulkan pneumokoniosis.3-5 Debu asbes dan silika serta batubara merupakan
penyebab utama pneumokoniosis. Debu mineral lainnya dapat juga menyebabkan
pneumokoniosis. Pneumokoniosis baru tampak secara klinis dan radiologis setelah
pajanan debu berlangsung 20-30 tahun.

Silikosis adalah salah satu dari pneumoconiosis yang dapat dijumpai di tempat kerja,
Penyakit silikosis terjadi karena inhalasi dan retensi debbu yang mengandung kritakin silicon
dioksida (Si2) atau silica bebas. Silika adalah unsure utama dari pasir sehingga pemaparan
biasanya terjadi pad apekerjaan yang menghasilkan debu silica yaitu konstruksi, industry semen,
dan tambang.
Studi surveilens yang dilakukan di Michigan, Maerika Serikat antara tahun 1987 hingga
1995 menunjukkan bahwa 60% lebih dari 577 pekerja pabrik/ pertambangan yang telah bekerja
selama minimal 20 tahun menderita silikosis. Penelitian OSH center tahun 2000 pada pekerja
keramik Indonesia, ditemukan kasus silikosis sebesar 1,5%.

B.

RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan penjelasan pada latar belakang di atas, maka permasalahan yang akan dibahas
dalam makalah ini adalah:
1.

Pengertian umum silikosis serta macam-macam silikosis

2.

Faktor penyebab silikosis dan tempat dimana penyakit ini biasa timbul

3.

Gejala yang ditimbulkan silikosis

4.

Cara mendiagnosa, mengobati dan mencegah silikosis

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
Silikosis (Silicosis) adalah suatu penyakit saluran pernafasan akibat menghirup debu
silika, yang menyebabkan peradangan dan pembentukan jaringan parut pada paru-paru.
Silikon dioksida (silika, SiO2) merupakan senyawa yang umum ditemui dalam kehidupan
sehari-hari dan banyak digunakan sebagai bahan baku industri elektronik. Silikon dioksida
kristalin dapat ditemukan dalam berbagai bentuk yaitu sebagai quarsa, kristobalit dan tridimit.
Pasir di pantai juga banyak mengandung silika. Silikon dioksida terbentuk melalui ikatan
kovalen yang kuat, serta memiliki struktur lokal yang jelas: empat atom oksigen terikat pada
posisi sudut tetrahedral di sekitar atom pusat yaitu atom silikon.
Terdapat 3 jenis silikosis:
1. Silikosis kronis simplek, terjadi akibat pemaparan sejumlah kecil debu silika dalam
jangka panjang (lebih dari 20 tahun). Nodul-nodul peradangan kronis dan jaringan parut
akibat silika terbentuk di paru-paru dan kelenjar getah bening dada.

2. Silikosis akselerata, terjadi setelah terpapar oleh sejumlah silika yang lebih banyak
selama waktu yang lebih pendek (4-8 tahun). Peradangan, pembentukan jaringan parut
dan gejala-gejalanya terjadi lebih cepat.
3. Silikosis akut, terjadi akibat pemaparan silikosis dalam jumlah yang sangat besar, dalam
waktu yang lebih pendek. Paru-paru sangat meradang dan terisi oleh cairan, sehingga
timbul sesak nafas yang hebat dan kadar oksigen darah yang rendah.
Pada silikosis simplek dan akselerata bisa terjadi fibrosif masif progresif. Fibrosis ini terjadi
akibat pembentukan jaringan parut dan menyebabkan kerusakan pada struktur paru yang normal.
B. PENYEBAB
Silikosis terjadi pada orang-orang yang telah menghirup debu silika selama beberapa
tahun. Silika adalah unsur utama dari pasir, sehingga pemaparan biasanya terjadi pada
(Susanto,2009):
1.
2.
3.
4.
5.

Pekerja tambang logam dan batubara


Penggali terowongan untuk membuat jalan
Pekerja pemotong batu dan granit
Penungan besi dan baja
Industri yang memakai silica sebagai bahan baku, misalnya paprika amplas, gelas dan

tembikar.
6. Pembuat gigi enamel
7. Pekerja di pabrik semen
8. Pekerja pengecoran logam
Biasanya gejala timbul setelah pemaparan selama 20-30 tahun. Tetapi pada peledakan
pasir, pembuatan terowogan dan pembuatan alat pengampelas sabun, dimana kadar silika yang
dihasilkan sangat tinggi, gejala dapat timbul dalam waktu kurang dari 10 tahun (Susanto, 2009).
Bila terhirup, serbuk silika masuk ke paru-paru dan sel pembersih (misalnyamakrofag)
akan mencernanya. Enzim yang dihasilkan oleh sel pembersih menyebabkan terbentuknya
jaringan parut pada paru-paru. Pada awalnya, daerah parut ini hanya merupakan bungkahan bulat
yang tipis (silikosis noduler simplek). Akhirnya, mereka bergabung menjadi massa yang besar
(silikosis konglomerata).
Daerah parut ini tidak dapat mengalirkan oksigen ke dalam darah secara normal. Paruparu menjadi kurang lentur dan penderita mengalami gangguan pernafasan.
C. GEJALA

Penderita silikosis noduler simpel tidak memiliki masalah pernafasan, tetapi mereka bisa
menderita batuk berdahak karena saluran pernafasannya mengalami iritasi (bronkitis). Silikosis
konglomerata bisa menyebabkan batuk berdahak dan sesak nafas. Mula-mula sesak nafas hanya
terjadi pada saat melakukan aktivitas, tapi akhirnya sesak timbul bahkan pada saat beristirahat.
Keluhan pernafasan bisa memburuk dalam waktu 2-5 tahun setelah penderita berhenti
bekerja. Kerusakan di paru-paru bisa mengenai jantung dan menyebabkan gagal jantung yang
bisa berakibat fatal. Jika terpapar oleh organisme penyebab tuberkulosis (Mycobacterium
tuberculosis,

penderita

silikosis

mempunyai

resiko

kali

lebih

besar

untuk

menderita tuberkulosis.
Gejala tambahan yang mungkin ditemukan, terutama pada silikosis akut:
1.
2.
3.
4.

demam
batuk
penurunan berat badan
gangguan pernafasan yang berat.
D. DIAGNOSA
Pemeriksaan yang dilakukan:
1. Rontgen dada (terlihat gambaran pola nodul dan jaringan parut)
2. Tes fungsi paru
3. Tes PPD (untuk TBC).
E. Tindakan Kuratif
Tidak ada pengobatan khusus untuk silikosis. Untuk mencegah semakin memburuknya

penyakit, sangat penting untuk menghilangkan sumber pemaparan. Terapi suportif terdiri dari
obat penekan batuk, bronkodilator dan oksigen. Jika terjadi infeksi, bisa diberikan antibiotik.
F. Tindakan Preventif
Tindakan preventif lebih penting dan berarti dibandingkan dengan tindakan
pengobatannya. Penyakit silikosis akan lebih buruk kalau penderita sebelumnya juga sudah
menderita penyakit TBC paru-paru, bronchitis, astma broonchiale dan penyakit saluran
pernapasan lainnya. Pengawasan dan pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi pekerja akan
sangat membantu pencegahan dan penanggulangan penyakit-penyakit akibat kerja. Data

kesehatan pekerja sebelum masuk kerja, selama bekerja dan sesudah bekerja perlu dicatat untuk
pemantauan riwayat penyakit pekerja kalau sewaktu waktu diperlukan.
Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah:
1. Membatasi pemaparan terhadap silika
2. Berhenti merokok
3. Menjalani tes kulit untuk TBC secara rutin.
Penderita silikosis memiliki resiko tinggi menderita tuberkulosis (TBC), sehingga dianjurkan
untuk menjalani tes kulit secara rutin setiap tahun. . Silika diduga mempengaruhi sistem
kekebalan tubuh terhadap bakteri penyebab TBC.Jika hasilnya positif, diberikan obat anti TBC.
Pencegahan Berbagai tindakan pencegahan dilakukan untuk mencegah timbulnya
penyakit atau mengurangi perkembangan penyakit-penyakit yang Pada tingkat perusahaan
tertentu,
Tindakan-tindakan tersebut dapat dilakukan dengan cara antara lain :
1. Substitusi, yaitu mengganti bahan yang lebih berbahaya dengan bahan yang kurang
berbahaya.
Ventilasi umum, yaitu mengalirkan udara ke ruang kerja untuk menurunkan kadar lebih

2.

rendah dari nilai batas ambang .


3. Ventilasi keluar setempat, untuk mengalirkan keluar bahan berbahaya dari ruang kerja.
4. Isolasi salah satu proses produksi yang berbahaya.
5. Pemakaian alat pelindung diri. Pekerja harus memakai masker dan tutup kepala
bertekanan.Selama kerusakan alat-alat pengendalian debu teknis atau pada keadaan darurat.
Kabin dengan pengatur udara (ber-AC) hendaknya disediakan untuk para pengemudi truk
dan operator alat berat pada operasi terbuka di cuaca panas di mana penyemprotan dengan
air tidak dimungkinkan.
6. Penyuluhan sebelum bekerja, agar pekerja mengetahui dan mematuhi segala peraturan,
serta agar mereka lebih hati-hati.
7. Penyuluhan tentang kesehatan dan keselamatan kepada para pekerja secara terusmenerus, agar mereka tetap waspada dalam menjalankan tugasnya.telah terjadi.
8. Pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja dan secara berkala. Pekerja yang terpapar silika,
harus menjalani foto rontgen dada secara rutin.Untuk pekerja peledak pasir setiap 6 bulan

dan untuk pekerja lainnya setiap 2-5 tahun, sehingga penyakit ini dapat diketahui secara
dini.
9. Jika foto rontgen menunjukkan silikosis, dianjurkan untuk menghindari pemaparan
terhadap silika.
10. Pengawasan terhadap di lingkungan kerja dapat membantu mencegah terjadinya silikosis.
Penekanan debu dengan pengendalian teknis(pembasahan sebelumnya,pengeboran basah)
perlu dilaksanakan dengan ketat dan debu residu hendaknya dikontrol dengan ventilasi
yang sesuai.
Kadar debu dan kandungan silika dalam debu yang masuk pernapasan hendaknya dipantau
secara teratur. Jika menggunakan bahan peledak,para pekerja seharusnya dicegah masuk ke
daerah berdebu sampai debu dibersihkan melalui ventilasi. Debu hendaknya disaring dari dari
udara yang dikeluarkan .
http://catatanrifki.blogspot.co.id/2013/03/penyakit-pernapsan-akibat-kerja.html

Surveilens
surveilens kesehatan paru pekerja dilakukan dengan mengumpulkan secara terus menerus,
menganalisis dan mengkomunikasikan hasil analisi untuk rekomendasi perbaikan yang
berkelanjutan. Data surveilens didapat dari pemeriksaan kesehatan, data kunjungan poliklinik,
data pola penyakit, data absensi, dan data keluhan gangguan kesehatan dana data panitia
Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja, berupa:
1. Deteksi gangguan respirasi berupa batuk, berdahak, sesak menggunakan kuesioner
standard an pemeriksaan fisik, baik akut maupun kronik.
2. Deteksi gangguan fungsi paru menggunakan tes spirometri
3. Deteksi kelainan anatomi termasuk fibrosis jaringan paru menggunakan foto toraks.
Subyek dari surveilens ini adalah pekerja baru, pekerja yang akan bekerja di lingkungan
kerja yang mengandyng hazard silica.
Pencegahan dan Penanggulangan
1. Promotif

Pada promotif dapat dilakukan penyuluhan kepada tenaga kerja seperti penggunaan Alat
pelindung Diri (APD) saat bekerja, penyuluhan mengenai kesehatan para tenaga kerja
berdasarkan pekerjaan yang dilakukannya. Kepada pekerja perlu diberi penyuluhan
mengenai kebersihan perorangan, makanan yang nilai gizinya sesuai dengan jenis
pekerjaan, gerak badan untuk kesehatan (olahraga), pertolongan pertama pada
kecelakaan, dan perilaku dalam Keselamatan dan Kesehatan kerja.
2. Preventif
Pengawasan terhadap di lingungan kerja dapat membantu mencegah terjadinya silikosis
tindakan preventif dapat dilakukan dengancara memperhatikan ventilasi baik local
maupun umum. Ventilasi umum anatara lain dengan mengalirkan udara ke ruang kerja
melalui pintu dan jendela dan ventilasi local berupa pipa keluar setempat. Pengendalian
debu silica dapat menjadi hal yang penting dalam usaha mencegah terjadinya silikosis.
Pastikan kadar silica selau di bawah ambang batas dengan cara dust sampling (uji debu)
perlu dilakukan berkala untuk memantau kadar silica pada suatu area kerja. Jika kadar
silica diambang batas, tindakan perbaikan mesti dilakukan. Tindakan pencegahan paling
umum adalah dengan membasahi permukaan tanah dan bijih. Mesin-mesin yang
berpotensi menimbulkan debu (misalnya, Belt Conveyor) juga mesti di beri pelidung agar
sebu tidak tersebar. Sedang di tambang bawah tanah, ventilasi yang cukup merupakan
prasyarat yang penting untuk mengurangi kadar debu.
Agar perlindungan menjadi maksimal, pekerja mesti dibkali dengan respirator (masker
anti debu). Respirator dilengkapi dengan filter hingga mampu mencegah partikel debu
terhirup ke dalam paru-paru.
Pengendalian debu di lingkungan kerja dapat dilakukan terhadap 3 hal yaitu pencegahan
terhadap sumbernya, media pengantar (tranmisi) dan terhadap mamnusia yang terkena
dampak.
a. Penceghan terhadap sumber
a) Isolasi sumber agar tidak mengeluarkan debu di ruang kerja dengan Local
Exhauster atau dengan melengkapi water sprayer pada cerobong asap.
b) Subtitusi alat yang mengeluarkan debu dengan yang tidak mengeluarkan
debu.
b. Pencegahan terhadap transmisi
Upaya paling praktis dalam pemcegahan sebu adaah menggunakan air. Air dapat
di gunakan untuk menyemprot Coal Face dan Loose rock, dan pada permukaan
setelah blasting, dumping, atau berbagai rock handling process cukup.

a) Memakai metode basah yaitu penyirami lantai dan pengeboran basah (wet
Drilling).
b) Dengan alat berupa Scrubber, Elektropresipitator, dan ventilasi umum. Ventilasi
yang baik penting untuk mengeliminasi debu. Setiap tempat kerja seharusnya
memiliki supply udara bersih untuk mengencerkan atau menganggkut Airbone
dus
c. Pencegahan terhadap tenaga kerja
d. Perlengkapan yang dipakai untuk melindungi pekerja terhdapa bahaya kesehatan
yag ada di lingkungan kerja. Antara lain dengan menggunkanan ALat pelindung
Diri berupa masker. Penggunaan APD merupakan alternative lain untuk
melindungi pekerja dari bahaya kesehatan, APD juga harus sesuai dan adekuat.
Pre-worker Check up
semua pekerja harus menjalani pemeriksaan medis sebelum bekerja dan berkala
dengan mengutamakan upaya untuk mendeteksi pre eksisting lung disease dan
perkembangan silikosis
Penerapan sebelum kerja
Suatu penjelasan agar pekerja mematuhi dan metaati peraturan dan undangundang yang berlaku serta tahu adanya bahaya kesehatan di lingkungan kerja,
sehingga dapat bekerja lebih berhati-hati. Pembatasan waktu selama pekerja
terpajan terhadap zat tertentu yang berbahaya dapat menurunkan risiko
terkenanya bahaya kesehatan di lingkungan kerja. Kebersihan perorangan dan
pakainnya, merupakan hal yang penting terutama untuk para pekerja yang dlaam
pekerjaannya berhubungan dengan bahan kimia srta partikel lain.
Pemeriksaan Berkala
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menemukan dan mencegah penyakit. Untuk
penambang pasir lakukan pemeriksaan setiap 6 bulan sekali dan untuk pekerja
lain dapat dilakukan selama 2-5 tahun sekali. Jika foto rontge terdapat silica di
dalam paru-paru maka hidnari pemaparan terhadap silica.
Prioritaskan diberikan kepada pekerja yang:
Bekerja di lingkungan berbahaya
Dipindahkan dari suatu pekerjaan ke perkerjaan lain
Menderita penyakit menahun
Perlu diperiksa atas permintaan dokter keluarganya atau keinginan sendiri
Bekerja lagi setelah penayakitnya sembuh
3. Kuratif