Anda di halaman 1dari 26

Bab 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tetanus mungkin merupakan salah satu nama penyakit yang sering didengar. Tetanus
biasa dihubungkan dengan benda tajam yang berkarat. Tidak hanya orang dewasa, tetapi
bayi juga mempunyai resiko yang cukup tinggi, terkena tetanus, terutama saat proses
persalinan. Karena tetanus merupakan penyakit yang cepat berkembang menjadi fatal
maka kita perlu mengetahui sumber penularannya, pencegahan yang dapat dilakukan,
pengobatan, serta komplikasi yang dapat timbul.1
Kata tetanus diambil dari bahasa Yunani yaitu tetanos dari teinein yang berarti
menegang. 2 Tetanus yang juga dikenal dengan lockjaw adalah gangguan neurologis yang
ditandai dengan meningkatnya tonus otot dan spasme yang disebabkan oleh tetanospasmin,
suatu toksin protein yang kuat dan dihasilkan oleh Clostridium tetani yang
menginfeksi sistem urat saraf dan otot sehingga saraf dan otot menjadi kaku (rigid).
Spora Clostridium tetani biasanya masuk kedalam tubuh melalui luka pada kulit oleh
karena terpotong , tertusuk ataupun luka bakar serta pada infeksi tali pusat.3 Tetanus
dikarakteristikan dengan kekakuan umum dan kejang kompulsif pada otot-otot rangka.
Kekakuan otot biasanya dimulai pada rahang ( lockjaw ) dan leher dan kemudian menjadi
umum. Tetanus merupakan salah satu penyakit yang jika tidak segera diobati akan
menyebabkan kematian. Luka dapat berukuran besar atau kecil. Pada tahun-tahun terakhir
ini, tetanus sering terjadi melalui luka- luka yang kecil.
Penyakit ini merupakan penyakit yang serius namun dapat dicegah kejadiannya pada
manusia. Walaupun tetanus dapat dicegah dengan imunisasi, tetanus masih merupakan
penyakit yang membebani di seluruh dunia terutama di Negara beriklim tropis dan negara
negara sedang berkembang, sering terjadi di brasil, Filipina, Vietnam, Indonesia, dan
Negara lain di benua Asia.
Karena tetanus merupakan penyakit yang cepat berkembang menjadi fatal, maka kita
perlu mengetahui sumber penularannya, pencegahan yang dapat dilakukan, pengobatan
dan komplikasi yang dapat timbul.

1.2

Tujuan

Dengan makalah ini, penulis berharap agar pembaca dapat mengetahui:


Pemeriksaan apa saja yang berhubungan dengan tetanus,
Mampu mengetahui diagnosis kerja tetanus dan diagnosis bandingnya.
Mampu mengetahui etiologi tetanus.
Mampu mengetahui epidemiologi tetanus.
Mampu mengetahui gejala klinis tetanus.
Mampu mengetahui faktor resiko tetanus.
Mampu mengetahui patofisiologi tetanus.
Mampu mengetahui komplikasi tetanus.
Mampu mengetahui penatalaksanaan tetanus.
Mampu mengetahui pencegahan tetanus.
Mampu mengetahui prognosis tetanus.

Bab 2

Identifikasi Istilah
Setelah membaca skenario yang diberikan tutor, ternyata di dalamnya ada istilah
yang tidak diketahui, yaitu:

Kejang Opistotonus : dimana terdapat kejang pada tubuh atau punggung (posisi

tubuh melengkung kedepan).4


Alloanamnesis : suatu data subyektif sekunder yang merupakan data dari keluarga
atau orang yang menyaksikan atau mengetahui keadaan pasien.4

BAB 3
Rumusan Masalah
Dalam skenario tersebut juga di dapat rumusan masalah, yaitu:

Pasien tertusuk paku ditelapak kaki kanan 12 hari yang lalu dan tidak diobati.
Didapat pemeriksaan fisik :
1. Kejang opistotonus, kaku pada wajah, perut, leher dan anggota gerak, mulut
hanya dapat dibuka maksimal 2 jari.
2. Telapak kaki kanan bengkak dan kulit tegang kemerahan, luka dalam dan
bernanah pada pada telapak kaki kanan.
3. Suhu badan 38,80C, frekuensi nafas 28x/m.

BAB 4
Analisis Masalah
4.1 Mind map

Etiologi

Fakto
r
Resik

Epidemiolo
3

Prognos
is

komplik
asi

Kejang opistotonus, kaku pada wajah, leher, perut


dan anggota gerak, mulut hanya dapat dibuka
maksimal 2 jari, telapak kaki kanan bengkak dengan
kulit tegang kemerahan, disertai luka tusuk yang
dalam dan bernanah, demam dan takipnea akibat
tertusuk paku 12 hari yang lalu pada telapak kaki

Patofisiolo
gi

Pemeriksa

Anamne
sis

Pencegah
an

Penatalaksana
an

Fisi

Diagno
sis

Differenti
al

Penunjan
g

Kerj
a

1. Epilepsi
2.
Meningitis
3. Histeria
4. Trismus

4.2 Pembahasan
A. Pemeriksaan
Untuk dapat menegakan diagnosis suatu penyakit diperlukan kemampuan dan
keterampilan dalam melakukan anamnesis dan pemeriksaan pada organ-organ
dengan gangguan/kelainan yang diderita atau yang sedang dialami oleh pasien.
Pemeriksaan tersebut meliputi pemeriksaan fisik dan penunjang.
4

Anamnesis
Anamnesis adalah suatu wawancara medis yang merupakan tahap awal dari

suatu rangkaian pemeriksaan terhadap pasien. Baik bersangkutan dengan pasien


maupun dengan relasi terdekatnya.
Tujuan utama wawancara

praktisi-pasien

adalah

meningkatkan

kesejahteraan pasien.5 Selain itu, anamnesis bertujuan ntuk mendapatkan fakta


tentang

keadaan

penyakit

si

pasien

dengan

faktor-faktor

yang

mempengaruhinya.6
Ada dua jenis anamnesis, yang pertama adalah Autoanamnesis merupakan
anamnesis terhadap pasien itu sendiri. Sedangkan yang kedua adalah
aloanamnesis yang merupakan anamnesis terhadap keluarga atau relasi terdekat
atau yang membawa pasien tersebut ke rumah sakit atau tempat praktek.
Aloanamnesis dilakukan bila kita tidak dapat melakukan anamnesis terhadap
pasien itu sendiri.
Bagan anamnesis terdiri atas:
a. Menanyakan identitas pasien : nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, jenis
kelamin, umur, suku agama, alamat lengkap, pendidikan, pekerjaan dan status
perkawinan.
b. Menanyakan keluhan utama : keluhan utama pasien datang untuk berobat :
demam tinggi, kejang, dapat juga keluhan penurunan kesadaran sangat
jarang, sakit menelan, kekakuan.
c. Menanyakan riwayat penyakit sekarang : apakah panasnya naik turun atau
panasnya tidak pernah turun, sudah berapa lama demam, bila ada keluhan
kejang pada punggung, kapan kejang terjadi, sudah berapakali mengalami
kejang, menggunakan apa untuk mengatasi kejangnya, apakah ada obat-obat
yang pernah diminum apakah serangan berupa kontraksi sejenak tanpa hilang
kesadaran, berapa lama kejang terjadi. Apakah sebelumnya pasien pernah
terluka atau tertusuk, atau terjatuh dan ada luka ditempat yang kotor.
Keluhan-keluhan penyerta : kaku pada wajah, leher, perut dan anggota gerak,
bengkak pada daerah yang terluka dan bernanah, mulut hanya bisa dibuka
maksimal 2 jari. Informasi bisa didapat dari keluarga pasien, contohnya pada
kasus yaitu keluarga pasien mengatakan bahwa pasien pernah tertusuk paku
ditelapak kaki kanan dan tidak pernah diobati.
5

d. Riwayat penyakit dahulu : apakah pernah mengalami demam atau kejang


sebelumnya, mengalami kecelakaan dijalan yg kotor dan terdapat luka yang
penuh dengan debu dan kotoran, riwayat pemberian ATS (anti tetanus
toxoid), apakah pernah menderita riwayat penyakit yang lain dan pernahkah
dirawat dirumah sakit. Tanyakan adakah riwayat alergi, riwayat penyakit
jantung, ginjal, hati, DM dan penyakit infeksi lain. Riwayat pemberian ulang
vaksin DT (dipteri dan tetanus) pada saat dewasa umur 19 tahun. Adakah
riwayat penyakit keluarga seperti epilepsi, jantung, ginjal, hepatitis, TBC,
alergi. Apakah penderita pernah mengalami riwayat kejang sebelumnya.
e. Menanyakan riwayat sosial : lingkungan tempat tinggal contohnya tinggal
dekat pembuangan sampah atau didaerah yang tidak bersih. Hygiene
contohnya pasien tidak pernah bersihkan badannya, saat ada luka pasien tidak
pernah merawatnya, apakah perawatan luka menggunakan bahan yang
kurang aseptic, sosial ekonomi : bekerja sebagai pemulung, tukang bangunan,
rumah didaerah pertenakan.
Dari anamnesis, diketahui pasien seorang laki-laki berusia 20 tahun dibawa
ke UGD karena kejang opistotonus. Karena pasien mengalami kekejangan
pada otot wajahnya juga, alloanamnesis dilakukan untuk mendapatkan
informasi tentang riwayat penyakitnya. Dari hasil alloanamnesis, pasien
pernah tertusuk paku pada kaki kanannya 12 hari yang lalu namun tidak
diobati. Tempat masuknya kuman adalah pada kaki kanannya yang tertusuk
paku. Tekanan darah 130/80 dengan frekuensi nafas 28x/menit.

Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dapat kita lihat dengan adanya luka dan gejala-gejala

yang khas pada penyakit. Pada kasus ini, pasien terlihat sakit sedang, mulut
hanya bisa dibuka maksimal 2 jari, serta terdapat kekakuan pada wajah (Rhisus
sardonikus), leher dan anggota gerak. Perutnya juga kaku seperti papan dan
telapak kaki kanan bengkak dengan kulit tegang kemerahan. Telapak kakinya
yang tertusuk paku juga ditemukan luka tusuk yang dalam dan bernanah.
Dilakukan pemeriksaan tekanan darah, nadi, frekuensi nafas dan suhu badan,
lalu didapatkan frekuensi nafasnya lebih dari normal dan pasien demam
(38,3oC).
Pemeriksaan penunjang
6

Pemeriksaan penunjang terdiri atas pemeriksaan radiologi dan pemeriksaan


laboratorium. Pada kasus ini, tidak diperlukan atau tidak adanya pemeriksaan
penunjang.
Diagnosis tetanus mutlak didasarkan pada gejala klinis dan anamnesis. 7 Tidak
ada pemeriksaan penunjang khusus yang dibutuhkan untuk mendiagnosa
tetanus karena gejala klinisnya cukup khas. Namun beberapa pemeriksaan
dapat menunjang diagnosa tetanus.8

B. Diagnosis

Worker diagnosis
Dari skenario yang diperoleh, anamnesis dan pemeriksaan fisik yang

dilakukan, diagnosis kerja yang didapatkan adalah tetanus.


Diferential diagnosis
Beberapa penyakit juga mempunyai gejala yang mirip dengan tetanus.
Berikut beberapa differential diagnosis dari tetanus dan mengapa penyakit itu
berbeda dari tetanus.
Keracunan striknin
Gejalan klinis keracunan sriknin akut sangat mirip dengan tetanus.
Striknin adalah suatu inhibitor neurotransmitter. Pada kondisi ini
terdapat kejang pada wajah yang diikuti oleh hiperflexi lengan dan
tungkai. Sesaat kemudian kejang menyebar ke seluruh tubuh disertai
rasa nyeri hebat yang distimulasi oleh sentuhan atau suara yang tibatiba. Pasien mungkin ditemukan dalam keadaan sadar. Kondisi ini dapat
berlanjut ke kesulitan bernafas dan koma.
Jika pasien tidak dapat diselamatkan, rigor mortis muncul dengan
cepat. Jika pasien bertahan hidup, pemulihan berlangsung cepat, tidak
seperti tetanus yang membutuhkan waktu lama.8 Kejang pada
keracunan striknin dapat dibedakan dengan tetanus. Pada keracunan
striknin dijumpai relaksasi komplit diantara kejang, sementara tetanus
tidak.9
Tetanus hipokalemik
Pada tetanus hipokalemik muncul kejang pada kaki dan tangan
(carpopedal)9, rasa perih di sekitar mulut. Trismus jarang ditemukan.
Chvosteks dan Trousseaus sign mungkin ditemukan.8

Pada Chvosteks sign ditemukan kedutan pada sisi ipsilateral dari


otot wajah jika wajah diketuk di anterior telinga dan di bawah tulang
zygomaticus. Pada Trousseaus sign ditemukan kontraksi otot berupa
fleksi pada pergelangan dan metacarpophalangeal, hiperekstensi dari
jari-jari, dan flexi pada ibu jari ke telapak tangan jika lengan dioklusi
selama beberapa menit.
Pada tetanus tidak muncul kejang pada carpopedal serta Chvosteks
dan Trousseaus sign.
Meningoencephalitis
Pada meningoencephalitis dapat ditemukan dysphagia dan kaku pada
leher.8 Juga ditemukan demam dan cairan cerebrospinal yang tidak
normal,

ditambah

dengan

tidak

adanya

trismus

merupakan

perbedaannya dengan tetanus.9


Rabies8-9
Pada rabies ditemukan kejang pada oropharing. Khas dari rabies adalah
hidrofobik yang dialami pasien. Pada rabies tidak ditemukan trismus

dan terdapat riwayat gigitan binatang.


Proses intraabdominal akut7-8
Proses intraabdominal akut dapat menyebabkan kaku pada otot perut
seperti yang ditemukan juga pada tetanus. Namun pada proses
intraabdominal akut ini tidak ditemukan kejang khas tetanus lainya.
Epilepsi
Epilepsis dapat menyebabkan kejang. Namun tidak ditemukan
kekakuan otot di antara kejang. Bisanya sudah ada riwayat serangan
epilepsi sebelumnya.9
Histeria
Histeria merupakan masalah psikiatri. Dapat terjadi kejang dan trismus.
Namun trismus inkomplit dan terdapat relaksasi komplit di antara
kejang.9
C.

Epidemiologi
Tetanus terjadi secara sporadis dan hampir selalu menimpa individu non imun,

individu dengan imunitas parsial dan individu dengan imunitas penuh yang
kemudian tidak mempertahankan imunitas secara adekuat dengan vaksinasi
ulangan.7
Tetanus masih merupakan penyakit yang membebani di seluruh dunia terutama
di negara beriklim tropis dan negara-negara sedang berkembang, sering terjadi di
8

Brazil, Filipina, Vietnam, Indonesia, dan negara lain di benua Asia. Di negara yang
telah maju seperti Amerika Serikat, tetanus sudah sangat jarang dijumpai, karena
imunisasi aktif telah dilaksanakan dengan baik di samping sanitasi lingkungan
yang bersih, akan tetapi di negara sedang berkembang termasuk Indonesia penyakit
ini masih banyak dijumpai, hal ini disebabkan karena tingkat kebersihan masih
sangat kurang, mudah terjadi kontaminasi, perawatan luka kurang diperhatikan,
kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan dan kekebalan
terhadap tetanus.9 Resiko terjadinya tetanus paling tinggi pada populasi usia tua.6
Tetanus dapat merupakan komplikasi penyakit kronis, seperti ulkus, abses dan
gangren. Tetanus dapat pula berkaitan dengan luka bakar, infeksi telinga tengah,
pembedahan, absorsi dan adanya porte dentre.

Port of entry tidak selalu dapat diketahui dengan pasti, namun dapat diduga
melalui:
1. Luka tusuk, gigitan binatang, luka bakar.
2. Luka operasi yang tidak dirawat dan dibersihkan dengan baik.
3. OMP, caries gigi.
4. Pemotongan tali pusat yang tidak steril.
5. Penjahitan luk robek yang tidak steril.

D. Etiologi
Tetanus disebabkan oleh bakteri gram positif, Clostridium tetani. Bakteri ini
berspora dan bersifat obligat anaerob, bukan saja tidak bisa hidup dengan udara tapi
bakteri ini juga selalu mati dengan adanya O2, kecuali bila bakteri ini wujud dalam
bentuk endospore. Selalu dijumpai pada tinja binatang terutama kuda, juga bisa pada
manusia dan juga pada tanah yang terkontaminasi dengan tinja binatang tersebut. 11
9

Spora yang dihasilkan tidak berwarna, berbentuk oval, menyerupai drumstick. Spora
ini bisa tahan beberapa bulan bahkan beberapa tahun jika ia menginfeksi luka
seseorang atau bersamaan dengan benda daging atau bakteri lain, tahan terhadap
sinar matahari dan bersifat resisten terhadapa berbagai disinfektan dan pendidihan
selama 20 menit.
Clostridium tetani tidak bersifat invasif. Kumannya tetap berada di luka. Spora
akan menjadi bentuk vegetatif dan eksotoksin akan dibentuk apabila keadaannya
memungkinkan yaitu keadaan anaerob yang biasanya terjadi karena adanya jaringan
nekrotik, adanya garam kalsium, adanya kuman piogenik lainnya, vaskularisasi yang
tersumbat, dan bekas pemotongan tali pusat.8,12
Clostridium tetani menghasilkan neurotoxin, suatu eksotoksin, tetanospasmin
yang dilepaskan ketika sel lisis.7-8 Tetanospasmin bertanggung jawab untuk
menimbulkan manifestasi klinik dari tetanus yaitu kejang opistotonus dan kekakuan
pada wajah, leher, perut dan anggota gerak.
Pada negara belum berkembang, tetanus sering dijumpai pada neonatus, yaitu
bakteri masuk melalui tali pusat sewaktu persalinan yang tidak baik, tetanus ini
dikenal dengan nama tetanus neonatorum.11

Gbr Clostridium tetani


11

E. Faktor-faktor resiko8
Kemungkinan terserang tetanus semakin besar pada individu yang:

Tidak mendapat vaksinasi lengkap atau tidak melakukan pengulangan. Usia tua
juga memperbesar resiko terserang tetanus karena imunitas terhadap tetanus

sudah menurun.
Mengalami luka bakar
10

Mengalami injeksi intramuskuler


Bertato
Frosbite yang sering ditemukan pada pendaki gunung
Infeksi gigi seperti periodontal abscesses.
Mengalami luka tembus pada mata
Infeksi pada luka pemotongan tali pusar
Diabetes mellitus (mengalami gangren atau borok).
Mengalami luka kronik seperti borok, abses, gangren, dan operasi

Resiko tetanus pada neonatus membesar jika:

Ibu tidak divaksinasi, melahirkan di rumah, dan pemotongan tali pusar yang

tidak higienis.
Riwayat tetanus pada anak sebelumnya.
Luka pemotongan tali pusar terkena dengan bahan infeksius seperti kotoran
hewan, pupuk, atau lumpur.

F. Patofisiologi
Tetanus dapat terjadi apabila tubuh terkena luka dan luka tersebut kemudian
terkontaminasi oleh spora dari Clostridium tetani.9 Bentuk spora dari bakteri akan
berubah menjadi vegetatif bila lingkungannya memungkinkan untuk perubahan
bentuk tersebut (anaerobic) dan kemudian mengeluarkan eksotoksin yang menyebar
ke seluruh bagian tubuh melalui peredaran darah dan sistem limpa. Dua macam
eksotoksin yang dihasilkan, yaitu tetanolisin dan tetanospasmin. Kuman tetanusnya
sendiri akan tetap tinggal di daerah luka, sehingga tidak ada penyebaran kuman.
Gejala klinis timbul sebagai dampak eksotoksin pada sinaps ganglion spinal
dan neuromuscular junction serta syaraf otonom. Toksin dari tempat luka menyebar
ke motor end plate dan setelah masuk lewat ganglioside dijalarkan secara intraaxonal
kedalam sel saraf tepi, kemudian ke kornu anterior sumsum tulang belakang,
akhirnya menyebar ke SSP. Manifestasi klinis terutama disebabkan oleh pengaruh
eksotoksin terhadap susunan saraf tepi dan pusat. Pengaruh tersebut berupa
gangguan

terhadap

inhibisi

presinaptik
11

sehingga

mencegah

keluarnya

neurotransmiter inhibisi yaitu Gama Aminobutyric Acid (GABA) dan glisin,


sehingga terjadi eksitasi terus-menerus dan spasme. Kekakuan dimulai pada tempat
masuk kuman atau pada otot masseter (trismus), pada saat toxin masuk ke sumsum
belakang terjadi kekakuan yang makin berat, pada extremitas, otot-otot bergaris pada
dada, perut dan mulia timbul kejang. Bilamana toksin mencapai korteks cerebri,
penderita akan mulai mengalami kejang umum yang spontan.
Dengan penggunaan diazepam dosis tinggi dan pernafasan mekanik, kejang
dapat diatasi namun gangguan saraf otonom harus dikenali dan dikelola dengan
teliti.13

G. Gejala klinis
Masa inkubasi 5-14 hari, tetapi bisa lebih pendek (1 hari atau lebih lama 3 atau
beberapa minggu).
Ada empat bentuk tetanus yang dikenal secara klinis, yakni:9

Localized tetanus (Tetanus Lokal)


Pada lokal tetanus dijumpai adanya kontraksi otot yang persisten, pada daerah

tempat dimana luka terjadi (agonis, antagonis, dan fixator). Hal inilah merupakan
tanda dari tetanus lokal. Kontraksi otot tersebut biasanya ringan, bisa bertahan
dalam beberapa bulan tanpa progressif dan biasanya menghilang secara bertahap.
Lokal tetanus ini bisa berlanjut menjadi generalized tetanus, tetapi dalam bentuk
yang ringan dan jarang menimbulkan kematian. Bisa juga lokal tetanus ini dijumpai
sebagai prodromal dari klasik tetanus atau dijumpai secara terpisah. Hal ini
terutama dijumpai sesudah pemberian profilaksis antitoksin.

Cephalic Tetanus
Cephalic tetanus adalah bentuk yang jarang dari tetanus. Masa inkubasi berkisar

1 2 hari, yang berasal dari otitis media kronik (seperti dilaporkan di India), luka
pada daerah muka dan kepala, termasuk adanya benda asing dalam rongga hidung.

Generalized tetanus (Tctanus umum)


Bentuk ini yang paling banyak dikenal. Sering menyebabkan komplikasi yang

tidak dikenal beberapa tetanus lokal oleh karena gejala timbul secara diam-diam.
12

Trismus merupakan gejala utama yang sering dijumpai (50%), yang disebabkan
oleh kekakuan otot-otot masseter, bersamaan dengan kekakuan otot leher yang
menyebabkan terjadinya kaku kuduk dan kesulitan menelan. Gejala lain berupa
Risus Sardonicus (Sardonic grin) yakni spasme otot-otot muka, opistotonus
(kekakuan otot punggung), kejang dinding perut. Spasme dari laring dan otot-otot
pernafasan bisa menimbulkan sumbatan saluran nafas, sianose asfiksia. Bisa terjadi
disuria dan retensi urine, kompressi fraktur dan pendarahan di dalam otot.
Kenaikan temperatur biasanya hanya sedikit, tetapi begitupun bisa mencapai 40 C.
Bila dijumpai hipertermi ataupun hipotermi, tekanan darah tidak stabil dan
dijumpai takhikardia, penderita biasanya meninggal. Diagnosa ditegakkan hanya
berdasarkan gejala klinis.
Neonatal tetanus
Biasanya disebabkan infeksi C. tetani, yang masuk melalui tali pusat sewaktu
proses pertolongan persalinan. Spora yang masuk disebabkan oleh proses
pertolongan persalinan yang tidak steril, baik oleh penggunaan alat yang telah
terkontaminasi spora C.tetani, maupun penggunaan obat-obatan untuk tali pusat
yang telah terkontaminasi. Kebiasaan menggunakan alat pertolongan persalinan
dan obat tradisional yang tidak steril, merupakan faktor yang utama dalam
terjadinya neonatal tetanus.
Klasifikasi tingkat keparahan tetanus9
Derajat I (ringan)
Trismus ringan sampai sedang, spastisitas generalisata, tanpa gangguan
pernapasan, tanpa spasme, sedikit atau tanpa disfagia.
Derajat II (sedang)
Trismus sedang, rigiditas yang Nampak jelas, spasme singkat ringan sampai
sedang, gangguan pernafasan sedang dengan frekuensi pernafasan lebih dari 30,
disfagia ringan.
Derajat III (berat)
Trismus berat, spastisitas generalisata, spasme reflex berkepanjangan, frekuensi
pernapasan lebih dari 40, serangan apnea, disfagia berat dan takikardia lebih dari
120.
Derajad (IV) sangat berat

13

Derajat 3 dengan gangguan otonomik berat melibatkan system kadiovaskular.


Hipertensi

berat

takikardia

terjadi

berselingan

dengan

hipotensi

dan

bradikardia,salah satunya dapat menetap.

Keempat tolak ukur dan besarnya nilai (Philips):


Tolah ukur

Masa inkubasi

Lokasi infeksi

Imunisasi

Faktor yang

Nilai

Kurang 48 jam

2-5 hari

6-10 hari

11-14 hari

lebih 14 hari

Internal/umbilikal

Leher, kepala, dinding tubuh

Ekstremitas proksimal

Ekstremitas distal

Tidak diketahui

Tidak ada

10

Mingkin ada/ibu mendapat

Lebih dari 10 tahun yang lalu

Kurang dari 10 tahun

Proteksi lengkap

Penyakit atau trauma yang membahayakan jiwa


Keadaan yang tidak langsung membahayakan

10

jiwa

memberatkan

Keadaan yang tidak membahayakan jiwa


Trauma atau penyakit ringan
A.S.A.** derajat
** Sistim penilaian untuk menentukan risiko penyulit
14

4
2
1

H. Komplikasi6-7
Komplikasi tetanus dapat terjadi akibat penyakitnya ataupun konsekuensi dari
terapinya (terjadi perubahan fisiologi kardiovaskular, ginjal dan respirasi).
Komplikasi pada jalan nafas:

Aspirasi* (Spasme otot faring yang menyebabkan terkumpulnya air didalam


rongga

mulut

karena

pasien

mengalami

disfagia,

dan

keadaan

ini

memungkinkan terjadinya aspirasi serta dapat menyebabkan pneumonia

aspirasi)
Laringospasme/ obstruksi* (karena efek toksin yang menggangu neuromuskular

mengakibatkan spasme otot, spasme dapat terjadi pada otot laring)


Obstruksi berkaitan dengan sedatif*

Komplikasi pada respirasi:

Apnea*
Hipoksia*
Gagal nafas tipe 1* (atelektasis, aspirasi, pneumonia)
Gagal nafas tipe 2* (spasme laringeal, spasme trunkal berkepanjangan, sedasi

berlebihan)
ARDS*
Komplikasi bantuan ventilasi berkepanjangan seprti pneumonia
Komplikasi trakeostomi seperti stenosis trakea

Komplikasi pada kardiovaskuler:

Takikardia*, hipertensi*, iskemia*


Brakikardia*, hipotensi*
Takiartitmia*, brakiaritmia*
15

Asistol*
Gagal jantung*

Komplikasi pada ginjal:

Gagal ginjal curah tinggi*


Gagal ginjal oligouria*
Stasis urin dan infeksi

Komplikasi pada gastrointestinal:

Stasis gastter
Ileus
Diare
Pendarahan*

Komplikasi lainnya:

Pernurunan berat badan*


Tromboembolus*
Sepsis dengan gagal organ multipel*
Decubitus
Fraktur vertebra selama spasme )dapat terjadi karena kontraksi otot yang sangat

kuat pada waktu sedang kejang)


Ruptur tendon akibat spasme

*Komplikasi yang mengancam jiwa.

I. Penatalaksanaan
Strategi terapi melibatkan tiga prinsip penatalaksanaan: organism yang terdapat
dalam tubuh hendaknya dihancurkan untuk mencegah pelepasan toksin lebih lanjut;
toksin yang terdapat dalam tubuh, di luar sistem saraf pusat hendaknya dinetralisir;
dan efek dari toksin yang telah terikat pada sistem saraf pusat diminimisasi.6
Penatalaksanaan umum:

16

Tujuan terapi ini berupa mengeliminasi kuman tetani, menetralisirkan peredaran


toksin, mencegah spasme otot dan memberikan bantuan pemafasan sampai pulih.6
Dan tujuan tersebut dapat diperinci seperti berikut:
1. Merawat dan membersihkan luka sebaik-baiknya, berupa:
membersihkan

luka,

irigasi

luka,

debridement

luka

(eksisi

jaringan

nekrotik),membuang benda asing dalam luka serta kompres dengan H 202 ,dalam
hal ini penatalaksanaan, terhadap luka tersebut dilakukan 1-2 jam setelah ATS
dan pemberian Antibiotika. Sekitar luka disuntik ATS.
1. Diet cukup kalori dan protein, bentuk makanan tergantung kemampuan
membuka mulut dan menelan. Bila ada trismus, makanan dapat diberikan
personde atau parenteral.
3. Isolasi untuk menghindari rangsang luar seperti suara dan tindakan terhadap
penderita
4. Oksigen, pernafasan buatan dan trachcostomi bila perlu.
5. Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit.6,9
Obat-obatan:9

Antibiotika
Diberikan parenteral Peniciline 1,2juta unit / hari selama 10 hari, IM. Sedangkan

Tetanus pada anak dapat diberikan Peniciline dosis 50.000 Unit / KgBB/12 jam
secafa IM diberikan selama 7-10 hari. Bila sensitif terhadap peniciline, obat dapat
diganti dengan preparat lain seperti tetrasiklin dosis 30-40 mg/kgBB/ 24 jam, tetapi
dosis tidak melebihi 2 gram dan diberikan dalam dosis terbagi ( 4 dosis ). Bila
tersedia Peniciline intravena, dapat digunakan dengan dosis 200.000 unit /kgBB/ 24
jam, dibagi 6 dosis selama 10 hari. Antibiotika ini hanya bertujuan membunuh
bentuk vegetatif dari C.tetani, bukan untuk toksin yang dihasilkannya. Bila
dijumpai adanya komplikasi pemberian antibiotika broad spektrum dapat dilakukan

Antitoksin
Antitoksin dapat digunakan Human Tetanus Immunoglobulin ( TIG) dengan

dosis 3000-6000 U,satu kali pemberian saja, secara IM tidak boleh diberikan secara
17

intravena karena TIG mengandung "anti complementary aggregates of globulin ",


yang mana ini dapat mencetuskan reaksi allergi yang serius. Bila TIG tidak ada,
dianjurkan untuk menggunakan Tetanus antitoksin, yang berawal dari hewan,
dengan dosis 40.000 U, dengan cara pemberiannya adalah : 20.000 U dari
antitoksin dimasukkan kedalam 200 cc cairan NaC1 fisiologis dan diberikan secara
intravena, pemberian harus sudah diselesaikan dalam waktu 30-45 menit. Setengah
dosis yang tersisa (20.000 U) diberikan secara IM pada daerah pada sebelah luar.

Tetanus Toksoid
Pemberian Tetanus Toksoid (TT) yang pertama,dilakukan bersamaan dengan

pemberian antitoksin tetapi pada sisi yang berbeda dengan alat suntik yang
berbeda. Pemberian dilakukan secara I.M. Pemberian TT harus dilanjutkan sampai
imunisasi dasar terhadap Tetanus selesai.
Tabel 2: PETUNJUK PENCEGAHAN TERHADAP TETANUS PADA KEADAAN
LUKA

RIWAYAT
IMUNISASI
(dosis)

Luka bersih, Kecil

Tet. Toksoid

Antitoksin

Luka Lainnya

Tet.Toksoid

(TT)
Tidak

Antitoksin

(TT)

ya

tidak

ya

ya

01

ya

tidak

ya

ya

ya

tidak

ya

tidak*

3 atau lebih

tidak**

tidak

tidak**

tidak

diketahui

Keterangan:
18

* : Kecuali luka > 24 jam


** : Kecuali bila imunisasi terakhir > 5 tahun (8, 16)
*** : Kecuali bila imunisasi terakhir >5 tahun (8,16)

Antikonvulsan
Penyebab utama kematian pada Tetanus Neonatorum adalah kejang klonik yang

hebat, muscular dan laryngeal spasm beserta komplikaisnya. Dengan penggunaan


obatobatan sedasi/muscle relaxans, diharapkan kejang dapat diatasi.
Tabel 3: JENIS ANTIKONVULSAN

Jenis Obat

Dosis

Efek Samping

Diazepam

0,5 1,0 mg/kg

Stupor, Koma

Meprobamat

Berat badan / 4 jam (IM)

Tidak Ada

Klorpromasin

300 400 mg/ 4 jam (IM)

Hipotensi

Fenobarbital

25 75 mg/ 4 jam (IM)

Depressi pernafasan

50 100 mg/ 4 jam (IM)


Pengobatan menurut Adam .R.D. (1): Pada saat onset

3000 - 6000 unit, Tetanus immune globulin satu kali saja.

1,2 juta unit Procaine penicilin sehari selama 10 hari, Intramuscular. Jika alergi
beri tetracycline 2 gram sehari.

19

Perawatan luka, dibersihkan, sekitar luka beri ATS (infiltrasi)

Semua penderita kejang tonik berulang, lakukan trachcostomi, ini harus


dilakukan tuk mencegah cyanosis dan apnoe.

Paraldehyde baik diberikan melalui mulut.

Jika cara diatas gagal, dapat diberi d-Lubocurarine IM dengan dosis 15 mg


setiap jam sepanjang diperlukan, begitu juga pernafasan dipertahankan dengan
respirator.

Pengobatan menurut Gilroy:

Kasus ringan : Penderita tanpa cyanose : 90 - 180 begitu juga promazine 6 jam
dan barbiturat secukupnyanya untuk mengurangi spasme.

Kasus berat :
1. Semua penderita dirawat di ICU (satu team )
2. Dilakukan tracheostomi segera. Endotracheal tube minimal harus dibersihkan
setiap satu jam dan setiap 3 hari ETT harus diganti dengan yang baru.
3. Curare diberi secukupnya mencegah spasme sampai 2 jam. Pernafasan dijaga
dengan respirator oleh tenaga yang berpengalaman
4. Penderita rubah posisi/ miringkan setiap 2 jam. Mata dibersihkan tiap 2 jam
mencegah conjunctivitis
5. Pasang NGT, diet tinggi, cairan cukup tinggi, jika perlu 6 1./hari
6. Urine pasang kateter, beri antibiotika.
7. Kontrol serum elektrolit, ureum dan AGDA
8. Rontgen foto thorax
20

9. Pemakaian curare yang terlalu lama, pada saatnya obat dapat dihentikan
pemakaiannya. Jika KU
dipertahankan beberapa

membaik, NGT dihentikan. Tracheostomy


hari, kemudian dicabut/dibuka dan bekas luka

dirawat dengan baik.

J. Pencegahan
Imunisasi aktif

Imunisasi dasar DPT diberikan tiga kali sejak usia 2 bulan dengan interval 4-6
minggu, ulangan pada umur 18 bulan dan 5 tahun (lihat Bab Jadwal

Imunisasi).
Eliminasi tetanus neonatorum dilakukan dengan imunisasi TT pada ibu hamil,
wanita usia subur, minimal 5 x suntikan toksoid. (untuk mencapai tingkat TT
lifelong-card).

Pencegahan pada luka


Luka dibersihkan, jaringan nekrotik dan benda asing dibuang
Luka ringan dan bersih
Imunisasi lengkap : tidak perlu ATS atau tetanus imunoglobulin
Imunisasi tidak lengkap : imunisasi aktif DPT/DT.
Luka sedang/berat dan kotor
Imunisasi (-)/tidak jelas : ATS 3000-5000 U, atautetanus
immunoglobulin 250-500 U. Toksoid tetanus pada sisi lain.
Imunisasi (+), lamanya sudah > 5 tahun : ulangan toksoid, ATS 30005000 U, tetanus imunoglobulin 250-500 U(3).

K. Prognosis
Tetanus dengan masa inkubasi kurang dari 7 hari selalu merupakan tetanus berat
dimana interval antara gejala pertama dan spasme generalisata adalah 3 hari atau
kurang. Angka kematian pada kasus ini adalah 80%. Sementara tetanus dengan masa
inkubasi 7-10 hari dapat berupaa tetanus sedang yang angka kematiannya bervariasi.
Tetanus dengan masa inkubasi lebih dari 10 hari biasanya merupakan tetanus ringan,
terkadang tidak terjadi spasme generalisata, prognosisnya baik.9
Prognosis tetanus diklasifikasikan dari tingkat keganasannya, dimana : 8

21

1. Ringan; bila tidak adanya kejang umum ( generalized spsm )


2. Sedang; bila sekali muncul kejang umum
3. Berat ; bila kejang umum yang berat sering terjadi.
Prognosis tetanus neonatus jelek apabila:8-9

Umur bayi kurang dari 7 hari.


Masa inkubasi 7 hari atau kurang.
Periode timbulnya gejala kurang dari 18 jam.
Dijumpai kejang otot.

Jika bayi selamat dari tetanus neonatus, terdapat resiko yang meningkat untuk
kerusakan otak permanen dengan perkembangan yang terganggu dan kesulitan
gerakan motorik.8

BAB 5
Hipotesis
Berdasarkan pemeriksaan fisik yang menunjukan kejang opistosis, kaku pada wajah,
leher, perut dan anggota gerak, mulut hanya bisa membuka maksimal 2 jari, pada telapak
kaki kanan terdapat lika tusuk yang dalam dan bernanah disertai bengkak dan dengan kulit
tegang kemerahan, maka disimpulkan pasien menderita tetanus.

BAB 6
Sasaran Pembelajaran
Setelah membaca skenario dan menganalisis masalah yang ada, yang menjadi sasaran
pembelajaran penulis, yaitu: Mengetahui dan memahami apa itu tetanus baik dari:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pemeriksaan
Diagnosis
Epidemiologi
Etiologi
Faktor resiko
Patofisiologi
22

7. Gejala klinis
8. Komplikasi
9. Penatalaksanaan
10. Pencegahan
11. Prognosis

BAB 7
Belajar Mandiri (self learning)
Hasil penelusuran yang di dapat adalah :

NO

Judul Referensi

Jenis Referensi (textbook,

Tahun

journal, website, dll)

Publikasi

Sasaran
pembelajaran yang
terpenuhi (nomor)

Buku ajar IPD

Textbook

2007

1,3, 8, dan 9

Tetanus

Jurnal

2010

2,3,6,7,9, dan 11

23

Bab 8
PENUTUP
8.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dan penunjang, disimpulkan pasien menderita
tetanus. Tetanus merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri anaerob Clostridium
tetani. Penyakit ini berasal dari luka tusukan ysng berasal dari benda kotor seperti paku,
injeksi yang tidak steril, pascapartus, serta keadaan yang tidak lazim yang dapat
menimbulkan tetanus seperti gigitan binatang, abses, luka bakar, fraktur, gangren, dan
sirkumsisi wanita. Secara etiologi, Clostrisium tetani memiliki spora yang dapat bertahan
dalam air mendidih tetapi tidak dalam autoklaf. Clostridium tetani memiliki toksin tetanus
yang merupakan bahan kedua yang paling beracun setelah toksin botulinum.
Tetanus memiliki gejala awal seperti nyeri kepala, gelisah, dan iritabilitas yang
sering disertai kekakuan, sukar mengunyah, dan spasme otot leher. Pada keadaan yang
lebih lanjut terdapat gejala seperti trismus, kejang opistotonus, penderita berpostur
lengkung, dan sampai menimbulkan kematian. Tetanus tidak menyerang saraf sensorik
atau fungsi korteks. Hal ini menyebabkan penderita sadar dan harus menahan rasa yang
sangat nyeri.
Pemeriksaan tetanus dapat dilakukan dengan cara anamnesis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan darah, dan diagnosis. Setelah melakukan pemeriksaan barulah dilakukan
24

tindakan pengobatan seperti pemberian globulin anti tetanus, debridemen luka, dan
antitoksin tetanus. Jika pasien telah mengalami kejang, maka pasien diberikan obat yang
bersifat melemaskan otot dan untuk sedasi digunakan fenobarbital, klorpromazin, atau
diazepam. Pada tetanus berat kadang diperlukan paralisis total otot (kurarisasi) dengan
mengambil alih pernapasan memakai respirator.
Pencegahan dapat dilakukan dengan 4 cara yaitu perawatan luka yang adekuat dan
imunisasi aktif, penggunaan profilaksis antitoksin dan pemberian penisilin.
Masa inkubasi dan periode onset (periode awal yaitu masa dari timbulnya gejala
klinis pertama sampai timbul kejang) merupakan faktor yang menentukan prognosis.
Kematian tertinggi yang diakibatkan oleh tetanus yaitu anak-anak ( balita dan bayi) dan
lansia.

DAFTAR PUSTAKA
1. Yulianto Arie. Luka terkena benda tajam, hati-hati tetanus. Diunduh dari:
http://www.tanyadokteranda.com/artikel/2007/07/luka-terkena-benda-tajam-hati-hatitetanus. 29 November 2010.
2. Batticaca F.B. Bab 8: Asuhan keprawatan klien dengan tetanus. Jakarta. 2008. P126127.
3. Brooks

A.G, Buthel S.J, Morse A.S. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: Buku

Kedokteran EGC; 2007


4. Lumbantobing SM. Neurologi klinik : pemeriksaan fisik dan mental. Jakarta: FKUI ;
2008. h. 2, 7-9, 17.
5. Bickley S. Lynn. Buku saku pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan bates. Edisi 5.
Jakarta: EGC; 2008. Hal 15.
6. Sudoyo Aru, Setiyohadi Bambang, Alwi Idrus, Simadibrata Marcellus, Setiati Siti.
Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi 5. Jilid III. Jakarta: EGC; 2007. Hal 1777-1785.
7. Ismanoe G. Tetanus. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi V, Jilid III. Jakarta:
Interna Publishing; 2009: Bab 445.
8. Dire DJ. Tetanus [jurnal]: Deparment of emergency medicine. University of TexasHouston. Diunduh dari: http://emedicine.medscape.com/article/786414-diagnosis. 16
September 2010.
9. Ritarwan K. Tetanus [jurnal]. Bagian Neurologi FK USU/ RSU H. Adam Malik.
Diunduh

dari:

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3456/1/penysaraf-

kiking2.pdf. 29 November 2010.


25

10. Todar K. Pathogenic clostridia, including botulism and tetanus. Diunduh dari:
http://www.textbookofbacteriology.net/clostridia_3.html. 27 November 2010.
11. Adams. R.D. Tetanus: Principles of New'ology. New York: McGraw-Hill; 2007.
H.1205-1207.
12. Rahim A, Lintong M, Suharto, Jasodiwondo S. Buku Ajar Mikrobiologi kedokteran:
Batang positif gram. Edisi revisi. Jakarta: Binarupa Aksara Publishing. Bab 19.
13. Sjamsuhidajat R, Jong WD. Buku Ajar Ilmu Bedah Ed. 2. 2004;Jakarta: EGC hlm.2124.

26