Anda di halaman 1dari 25

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN

HIPERTIROIDISME & HIPOTIROIDISME

Disusun Oleh :
1.
2.
3.
4.
5.

Devi Riana Rahmawati


Nelly Khasanah
Noby Prastyo
Yustin Dwi Rahayu
Werdha Sandi U.

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
INSAN CENDEKIA MEDIKA
JOMBANG
2011
KATA PENGANTAR
1

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya makalah
yang berjudul Asuhan Keperawatan Klien Dengan Hipertiroidisme & Hipotiroidisme ini
dapat terselesaikan dengan tepat waktu. Makalah ini di susun oleh penulis guna memenuhi
tugas mata kuliah Sistem Endokrin II pada semester V.
Penulis berharap dengan di susunnya makalah ini dapat menambah pengetahuan para
pembaca, terkhusus untuk mahasiswa program studi

S1 Keperawtan STIKES ICME

JOMBANG mengenai kelainan pada system endokrin seperti hipertiroidisme dan


hipotiroidisme. Tak ada gading yang tak retak penulis menyadari bahwa dalam penulisan
makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu penulis
mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi penyempurnaan makalah ini.
Terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.

Jombang, 9 Oktober 2011

Penulis

Daftar Isi

Halaman judul.............................................................................................................i
Kata pengantar............................................................................................................ii
Daftar isi......................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................1
1.1.........................................................................................................................Latar
belakang masalah...........................................................................................1
1.2.........................................................................................................................Masala
h .....................................................................................................................2
1.3.........................................................................................................................Tujuan
........................................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................3
2.1.Definisi Hipertiroidisme Hipotiroidisme.......................................................3
2.2.Klasifikasi......................................................................................................4
2.2.1.Klasifikasi Hipertiroidisme.........................................................................4
2.2.2.Klasifikasi Hipotiroidisme..........................................................................4
2.3.Etiologi...........................................................................................................5
2.3.1.Etiologi Hipertiroidisme.............................................................................5
2.3.2.Etiologi Hipotiroidisme..............................................................................5
2.4.Manifestasi Klinis..........................................................................................6
2.4.1.Manifestasi Klinis Hipertiroidisme.............................................................6
2.4.2.Manifestasi Klinis Hipotiroidisme..............................................................6
2.5.Patofisiologi Hipertiroidisme Hipotiroidisme................................................7
2.6.Komplikasi.....................................................................................................10
2.7.Pemeriksaan Penunjang.................................................................................10
2.8.Penatalaksanaan.............................................................................................12
BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN......................................................15
3.1.Pengkajian Keperawatan................................................................................15
3.1.1Pengkajian Keperawatan Hipertiroidisme...................................................15
3.1.2.Pengkajian Keperawatan Hipotiroidisme...................................................16
3.2.Diagnosa Keperawatan..................................................................................17
3.3.Intervensi Keperawatan.................................................................................17
3.3.1.Intervensi Keperawatan Hipertiroidisme....................................................17
3.3.2.Intervensi Keperawatan Hipotiroidisme.....................................................19
BAB IV PENUTUP.....................................................................................................22
4.1.Kesimpulan....................................................................................................22
4.2.Saran..............................................................................................................22
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................23

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang masalah


Kelenjar tiroid terletak di leher, antara fasia koli media dan fasia prevertebralis. Di
dalam ruang yang sama terletak trakea, esofagus, pembuluh darah besar, dan saraf. Kelenjar
tiroid melekat pada trakea sambil melingkarinya dua pertiga sampai tiga perempat
lingkaran. Arteri karotis komunis, arteri jugularis interna, dan nervus vagus terletak
bersama di dalam sarung tertutup do laterodorsal tiroid. Nervus rekurens terletak di dorsal
tiroid sebelum masuk laring. Nervus frenikus dan trunkus simpatikus tidak masuk ke dalam
ruang antara fasia media dan prevertebralis.

Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroid utama yaitu tiroksin. Bentuk aktif hormon
ini adalah triiodotironin yang sebagian besar berasal dari konversi hormon tiroksin di
perifer, dan sebagian kecil langsung dibentuk oleh kelenjar tiroid. Sekresi hormon tiroid
dikendalikan oleh kadar hormon perangsang tiroid (Thyroid Stimulating Hormon) yang
dihasilkan oleh lobus anterior kelenjar hipofisis. Kelenjar ini secara langsung dipengaruhi
dan diatur aktivitasnya oleh kadar hormon tiroid dalam sirkulasi, yang bertindak sebagai
umpan balik negatif terhadap lobus anterior hipofisis dan terhadap sekresi hormon pelepas
tirotropin dari hipothalamus. Hormon tiroid mempunyai pangaruh yang bermacam-macam
terhadap jaringan tubuh yang berhubungan dengan metabolisme sel.
Kelenjar tiroid juga mengeluarkan kalsitonin dari sel parafolikuler. Kalsitonin adalah
polipeptida yang menurunkan kadar kalsium serum, mungkin melalui pengaruhnya
terhadap tulang.
Hormon tiroid memang suatu hormon yang dibutuhkan oleh hampir semua proses
tubuh termasuk proses metabolisme, sehingga perubahan hiper atau hipotiroidisme
berpengaruh atas berbagai peristiwa. Efek metaboliknya antara lain adalah termoregulasi,
1

metabolisme protein, metabolisme karbohidrat, metabolisme lemak, dan vitamin A. Oleh


karena itu, dalam kesempatan ini penulis membahas materi tentang asuhan keperawatan
pada klien dengan hipertiroidisme dan hipotiroidisme dengan harapan dapat menambah
pengetahuan para pembaca terkhusus untuk mahasiswa program studi S1 Keperawatan
STIKES ICME JOMBANG.
1.2.Masalah
1. Apakah yang di maksud dengan hipertiroidisme dan hipotiroidisme ?
2. Bagaimanakah tanda dan gejala pada klien dengan hipertiroidisme dan
hipotiroidisme ?
3. Bagaimanakah terapi yang diberikan pada klien dengan hipertiroidisme dan
hipotiroidisme ?
4. Bagaimanakah asuhan keperawatan yang bisa diberikan pada klien dengan
hipertiroidisme dan hipotiroidisme ?
1.3.Tujuan
Agar mahasiswa mampu memahami tentang hipertiroidisme dan hipotiroidisme
beserta cara penanganannya yang tepat sehingga kelak bias memberikan asuhan
keperawatan pada pasien dengan gangguan system endokrin seperti hipertiroidisme dan
hipotiroidisme secara efektif dan efisien.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Pengertian Hipertiroidisme Hipotiroidisme


a. Hipertiroidisme
Pengeluaran hormone tiroid yang berlebihan diperkirakan terjadi akibat stimulasi
abnormal kelenjar tiroid oleh immunoglobulin dalam darah
Hipertiroidisme ialah sekresi hormone tiroid yang berlebihan, dimanifestasikan
melalui peningkatan metabolisme.

b.Hipotiroidisme
Hipotiroidisme ialah sekresi tiroid yang tidak adekuat selama perkembangan janin dan
neonatus yang nantinya akan menghambat pertumbuhan fisik dan mental (kretinisme),
karena penekanan aktivitas metabolic tubuh secara umum.Pada orang dewasa
hipotiroidisme memiliki gambaran klinik berupa letargi,proses berfikir yang lambat dan
perlambatan fungsi yang menyeluruhKeadaan yang ditandai dengan terjadinya hipofungsi
tiroid yang berjalan lambat dan diikuti oleh tanda-tanda kegagalan tiroid.

2.2 Klasifikasi
2.2.1. Klasifikasi Hipertiroidisme
a. Goiter Toksik Difusa (Graves Disease)
Kondisi yang disebabkan, oleh adanya gangguan pada sistem kekebalan tubuh
dimana zat antibodi menyerang kelenjar tiroid, sehingga menstimulasi kelenjar tiroid untuk
memproduksi hormon tiroid terus menerus.Graves disease lebih banyak ditemukan pada
wanita daripada pria, gejalanya dapat timbul pada berbagai usia, terutama pada usia 20 40
tahun. Faktor keturunan juga dapat mempengaruhi terjadinya gangguan pada sistem
kekebalan tubuh, yaitu dimana zat antibodi menyerang sel dalam tubuh itu sendiri.
b. Nodular Thyroid Disease
Pada kondisi ini biasanya ditandai dengan kelenjar tiroid membesar dan tidak disertai
dengan rasa nyeri. Penyebabnya pasti belum diketahui. Tetapi umumnya timbul seiring
dengan bertambahnya usia.
c.

Subacute Thyroiditis
Ditandai dengan rasa nyeri, pembesaran kelenjar tiroid dan inflamasi, dan

mengakibatkan produksi hormon tiroid dalam jumlah besar ke dalam darah. Umumnya
gejala menghilang setelah beberapa bulan, tetapi bisa timbul lagi pada beberapa orang.
d. Postpartum Thyroiditis
Timbul pada 5 10% wanita pada 3 6 bulan pertama setelah melahirkan dan terjadi
selama 1 -2 bulan. Umumnya kelenjar akan kembali normal secara perlahan-lahan.

2.2.2. Klasifikasi Hipotiroidisme


Secara klinis dikenal 3 hipotiroidisme, yaitu :
1. Hipotiroidisme sentral, karena kerusakan hipofisis atau hypothalamus
2. Hipotiroidisme primer apabila yang rusak kelenjar tiroid
3.Karena sebab lain, seperti farmakologis, defisiensi yodium, kelebihan yodium, dan
resistensi perifer.
Yang paling banyak ditemukan adalah hipotiroidisme primer. Oleh karena itu,
umumnya diagnosis ditegakkan berdasar atas TSH meningkat dan fT4 turun. Manifestasi
klinis hipotiroidisme tidak tergantung pada sebabnya.
2.3. Etiologi
2.3.1.Etiologi Hipertiroidisme
Lebih dari 95% kasus hipertiroid disebabkan oleh penyakit graves, suatu penyakit
tiroid autoimun yang antibodinya merangsang sel-sel untuk menghasilkan hormon yang
berlebihan.
Penyebab hipertiroid lainnya yang jarang selain penyakit graves adalah:
1 Toksisitas pada strauma multinudular
2 Adenoma folikular fungsional atau karsinoma (jarang)
3 Edema hipofisis penyekresi-torotropin (hipertiroid hipofisis)
4 Tumor sel benih, misal karsinoma (yang kadang dapat menghasilkan bahan mirip-TSH) atau
teratoma (yang mengandung jarian tiroid fungsional)
5 Tiroiditis (baik tipe subkutan maupun hashimato) yang keduanya dapat berhubungan dengan
hipertiroid sementara pada fase awal.
2.3.2. Etiologi Hipotiroidisme
Pada Buku Ilmu Kesehatan Anak, hipotiroidisme terbagi atas 2 berdasarkan
penyebabnya, yaitu :
5

1. Bawaan (kretinisme)
a. Agenesis atau disgenesis kelenjar tiroidea.
b. Kelainan hormogonesis
~ Kelainan bawaan enzim (inborn error)
~ Defisiensi yodium (kretinisme endemik)
~ Pemakaian obat-obat anti tiroid oleh ibu hamil (maternal)
2. Didapat
Biasanya disebut hipotiroidisme juvenilis. Pada keadaan ini terjadi atrofi kelenjar
yang sebelumnya normal. Panyebabnya adalah
a. Idiopatik (autoimunisasi)
b. Tiroidektomi
c. Tiroiditis (Hashimoto, dan lain-lain)
d. Pemakaian obat anti-tiroid
e. Kelainan hipofisis.
f. Defisiensi spesifik TSH
2.4 Manifestasi Klinis
2.4.1. Manifestasi Klinis Hipertiroidisme
Manifestasi klinis pada hipertiroidisme meliputi Gelisah (peka rangsang berlebihan
dengan emosional), mudah marah, ketakutan, tidak dapat duduk dengan tenang, menderita
karena palpitasi, nadi cepat dalam istirahat dan latihan, Toleransi terhadap panas buruk dan
banyak berkeringat, kulit kemerahan dan mudah menjadi lunak,hangat dan lembab, Pasien
lansia mungkin mengeluhkan kulit kering gatal-gatal menyebar, Mungkin teramati tremor
halus tangan, Mungkin menunjukkan eksoftalmus.Gejala lain mencangkup peningkatan
nafsu makan dan masukan diet, penurunan berat badan progresif,otot secara abnormal
mudah letih, kelemahan,amenore, dan perubahan fungsi usus (diare), Kisaran nadi antara 90
dan 100 kali permenit, tekanan darah sistolik (bukan diastolic) meningkat. Mungkin terjadi
fibrilasi atrium dan dekompensasi jantung dalam bentuk gagal jantung kongestif, terutama
pada pasien lansia,Osteoporosis dan fraktur. Penyekit dapat ringan dengan eksaserbasi dan
remisi, berakhir dengan pemulihan spontan dalam beberapa bulan atau tahun.Mungkin
berkembang perilaku tidak mempunyai belas kasihan kelompok menyebabkan tubuh kurus,
sangat gelisah, delirium,disorientasi, akhirnya gagal jantung. Gelisah dapat disebabkan
oleh pemberian hormone tiroid yang berlebihan untuk mengobati hipertiroidisme
2.4.2. Manifestasi Klinik Hipotiroidisme

Gejala dini hipotiroid tidak spesifik, namun terdapat tanda-tanda dan gejala yang
meliputi: kelelahan yang ekstrim, kerontokan rambut, kuku rapuh, kulit kering,parestasia
pada jari-jari tangan,suara kasar atau parau, dan gangguan haid (menoragia atau menorrhea)
disamping hilangnya libido.
Pada hipotiroid berat mengakibatkan: suhu tubuh dan frekuensi nadi subnormal,
kenaikan berat badan, kulit menjadi tebal, rambut menipis dan rontok, wajah tampak tanpa
ekspresi dan mirip topeng, rasa dingin meski lingkungan hangat, apatis, konstipasi,
kenaikan kadar kolesterol serum, aterosklerosis, penyakit jantung koroner, fungsi ventrikel
kiri jelek. Pada hipotiroidisme lanjut dapat menyebabkan dimensia disertai perubahan
kognitif dan kepribadian yang khas.Respirasi dan apnea dapat terjadi.Serta efusi pleura dan
efusi pericardial.Koma miksedema menggambarkan stadium hipotiroidisme yang paling
ekstrim dan berat, dimana pasien mengalami hipotermi dan tak sadarkan diri.
2.5.Patofisiologi Hipertiroidisme Hipotiroidisme
Penyebab hipertiroidisme biasanya adalah penyakit graves, goiter toksika. Pada
kebanyakan penderita hipertiroidisme, kelenjar tiroid membesar dua sampai tiga kali dari
ukuran normalnya, disertai dengan banyak hiperplasia dan lipatan-lipatan sel-sel folikel ke
dalam folikel, sehingga jumlah sel-sel ini lebih meningkat beberapa kali dibandingkan
dengan pembesaran kelenjar. Juga, setiap sel meningkatkan kecepatan sekresinya beberapa
kali lipat dengan kecepatan 5-15 kali lebih besar daripada normal.
Pada hipertiroidisme, kosentrasi TSH plasma menurun, karena ada sesuatu yang
menyerupai TSH, Biasanya bahan bahan ini adalah antibodi immunoglobulin yang
disebut TSI (Thyroid Stimulating Immunoglobulin), yang berikatan dengan reseptor
membran yang sama dengan reseptor yang mengikat TSH. Bahan bahan tersebut
merangsang aktivasi cAMP dalam sel, dengan hasil akhirnya adalah hipertiroidisme.
Karena itu pada pasien hipertiroidisme kosentrasi TSH menurun, sedangkan konsentrasi
TSI meningkat. Bahan ini mempunyai efek perangsangan yang panjang pada kelenjar
tiroid, yakni selama 12 jam, berbeda dengan efek TSH yang hanya berlangsung satu jam.
Tingginya sekresi hormon tiroid yang disebabkan oleh TSI selanjutnya juga menekan
pembentukan TSH oleh kelenjar hipofisis anterior.

Pada hipertiroidisme, kelenjar tiroid dipaksa mensekresikan hormon hingga diluar


batas, sehingga untuk memenuhi pesanan tersebut, sel-sel sekretori kelenjar tiroid
membesar. Gejala klinis pasien yang sering berkeringat dan suka hawa dingin termasuk
akibat dari sifat hormon tiroid yang kalorigenik, akibat peningkatan laju metabolisme tubuh
yang diatas normal. Bahkan akibat proses metabolisme yang menyimpang ini, terkadang
penderita hipertiroidisme mengalami kesulitan tidur. Efek pada kepekaan sinaps saraf yang
mengandung tonus otot sebagai akibat dari hipertiroidisme ini menyebabkan terjadinya
tremor otot yang halus dengan frekuensi 10-15 kali perdetik, sehingga penderita mengalami
gemetar tangan yang abnormal. Nadi yang takikardi atau diatas normal juga merupakan
salah satu efek hormon tiroid pada sistem kardiovaskuler. Eksopthalmus yang terjadi
merupakan reaksi inflamasi autoimun yang mengenai daerah jaringan periorbital dan otototot ekstraokuler, akibatnya bola mata terdesak keluar.
Sedangkan patofisiologi hipotiroidisme didasarkan atas masing-masing penyebab
yang dapat menyebabkan hipotiroidisme, yaitu :
a. Hipotiroidisme sentral (HS)
Apabila gangguan faal tiroid terjadi karena adanya kegagalan hipofisis, maka disebut
hipotiroidisme sekunder, sedangkan apabila kegagalan terletak di hipothalamus disebut
hipotiroidisme tertier. 50% HS terjadi karena tumor hipofisis. Keluhan klinis tidak hanya
karena desakan tumor, gangguan visus, sakit kepala, tetapi juga karena produksi hormon
yang berlebih (ACTH penyakit Cushing, hormon pertumbuhan akromegali, prolaktin
galaktorea pada wanita dan impotensi pada pria). Urutan kegagalan hormon akibat desakan
tumor hipofisis lobus anterior adalah gonadotropin, ACTH, hormon hipofisis lain, dan TSH.
b. Hipotiroidisme Primer (HP)
Hipogenesis atau agenesis kelenjar tiroid. Hormon berkurang akibat anatomi kelenjar.
Jarang ditemukan, tetapi merupakan etiologi terbanyak dari hipotiroidisme kongenital di
negara barat. Umumnya ditemukan pada program skrining massal. Kerusakan tiroid dapat
terjadi karena :
- Pascaoperasi.
Strumektomi dapat parsial (hemistrumektomi atau lebih kecil), subtotal atau total.
Tanpa kelainan lain, strumektomi parsial jarang menyebabkan hipotiroidisme. Strumektomi
subtotal M. Graves sering menjadi hipotiroidisme dan 40% mengalaminya dalam 10 tahun,

baik karena jumlah jaringan dibuang tetapi juga akibat proses autoimun yang
mendasarinya.
- Pascaradiasi.
Pemberian RAI (Radioactive iodine) pada hipertiroidisme menyebabkan lebih dari
40-50% pasien menjadi hipotiroidisme dalam 10 tahun. Tetapi pemberian RAI pada nodus
toksik hanya menyebabkan hipotiroidisme sebesar <5%. Juga dapat terjadi pada radiasi
eksternal di usia <20 tahun : 52% 20 tahun dan 67% 26 tahun pascaradiasi, namun
tergantung juga dari dosis radiasi.
- Tiroiditis autoimun.
Disini terjadi inflamasi akibat proses autoimun, di mana berperan antibodi antitiroid,
yaitu antibodi terhadap fraksi tiroglobulin (antibodi-antitiroglobulin, Atg-Ab). Kerusakan
yang luas dapat menyebabkan hipotiroidisme. Faktor predisposisi meliputi toksin, yodium,
hormon (estrogen meningkatkan respon imun, androgen dan supresi kortikosteroid), stres
mengubah interaksi sistem imun dengan neuroendokrin. Pada kasus tiroiditis-atrofis gejala
klinisnya mencolok. Hipotiroidisme yang terjadi akibat tiroiditis Hashimoto tidak
permanen.
-

Tiroiditis Subakut.
(De Quervain) Nyeri di kelenjar/sekitar, demam, menggigil. Etiologi yaitu virus.

Akibat nekrosis jaringan, hormon merembes masuk sirkulasi dan terjadi tirotoksikosis
(bukan hipertiroidisme). Penyembuhan didahului dengan hipotiroidisme sepintas.
-

Dishormogenesis.
Ada defek pada enzim yang berperan pada langkah-langkah proses hormogenesis.

Keadaan ini diturunkan, bersifat resesif. Apabila defek berat maka kasus sudah dapat
ditemukan pada skrining hipotiroidisme neonatal, namun pada defek ringan, baru pada usia
lanjut.
- Karsinoma.
Kerusakan

tiroid

karena

karsinoma

primer

atau

sekunder,

amat

jarang.

Hipotiroidisme sepintas. Hipotiroidisme sepintas (transient) adalah keadaan hipotiroidisme


yang cepat menghilang. Kasus ini sering dijumpai. Misalnya pasca pengobatan RAI, pasca
tiroidektomi subtotalis. Pada tahun pertama pasca operasi morbus Graves, 40% kasus
mengalami hipotiroidisme ringan dengan TSH naik sedikit. Sesudah setahun banyak kasus
pulih kembali, sehingga jangan tergesa-gesa memberi substitusi. Pada neonatus di daerah
dengan defisiensi yodium keadaan ini banyak ditemukan, dan mereka beresiko mengalami
gangguan perkembangan saraf.
9

2.6. Komplikasi
a. Hipertiroid
Terjadi krisis tirotoksik (tyroid storm). Hal ini dapat berkembang secara spontan pada
pasien hipertiroid yang menjalani terapi, selama pembedahan kelenjar tiroid, atau terjadi
pada pasien hipertiroid yang tidak terdiagnosis. Akibatnya adalah

pelepasan

HT dalam jumlah yang sangat besar yang menyebabkan takikardia, agitasi, tremor,
hipertermia (sampai 1060F), dan apabila tidak diobati dapat menyebabkan kematian.
Komplikasi lainnya adalah penyakit jantung hipertiroid, oftalmopati Graves, dermopati
Graves, infeksi karena agranulositosis pada pengobatan dengan obat antitiroid. Hipertiroid
yang terjadi pada anak-anak juga dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan.
b. Hipotiroid
1. Meningkatkan kolesterol
2. Iskemia / infark miokard
2.7. Pemeriksaan Penunjang
10

a. Hipertiroidisme
T4 Serum
Ditemukan peningkatan T4 serum pada hipertiroid.T4 serum normal antara 4,5 dan 11,5
mg/dl (58,5 hingga 150 nmol/L).Kadar T4 serum merupakan tanda yang akurat untuk
menunjukkan adanya hipertiroid.
T3 Serum
Kadar T3 serum biasanya meningkat.Normal T3 serum adalah 70-220 mg/dl (1,15
hingga 3,10 nmol/L).
Tes T3 Ambilan Resin
Pada hipertiroid, ambilan T3 lebih besar dari 35% (meningkat).Normal ambilan t3
ialah 25% hingga 35% (fraksi ambilan relative: 0,25 hingga 0,35).
Tes TSH (Thyroid Stimulating Hormon)
Pada hipertiroid ditemukan kenaikan kadar TSH serum
Tes TRH (Thyrotropin Releasing Hormon)
Tes TRH akan sangat berguna bila Tes T3 dan T4 tidak dapat dianalisa.Pada
hipertiroidisme akan ditemukan penurunan kadar TRH serum.
Tiroslobulin
Pemeriksaan Tiroslobulin melalui pemeriksaan radio immunoassay.Kadar tiroslobulin
meningkat pada hipertiroid.
b. Hipotiroidisme
T4 Serum
Penentuan T4 serum dengan tekhnik radio immunoassay pada hipotiroid ditemukan
kadar T4 serum normal sampai rendah.Normal kadar T4 serum diantara 4,5 dan 11,5 mg/dl
(58,5 hinnga 150 nmol/L)
T3 Serum
Kadar T3 serum biasanya dalam keadaan normal-rendah.Normal kadar T3 serum
adalah 70 hingga 220 mg/dl (1,15 hingga 3,10 nmol/L)
Tes T3 Ambilan Resin
Pada hipotiroidisme, maka hasil tesnya kurang dari 25% (0,25)

11

Tes TRH (Thyrotropin Releasing Hormon)


Pada hipotiroid yang disebabkan oleh keadaan kelenjar tiroid maka akan ditemukan
peningkatan kadar TSH serum.
2.8. Penatalaksanaan
a.Hipertiroidisme
Tujuan terapi hipertiroidisme adalah mengurangi sekresi kelenjar tiroid. Sasaran terapi
dengan menekan produksi hormon tiroid atau merusak jaringan kelenjar (dengan yodium
radioaktif atau pengangkatan kelenjar) (Cooper, 2005).
1) Non Farmakologis
Adapun penatalaksanaan terapi hipertiroidisme meliputi terapi nonfarmakologi dan
terapi farmakologi. Terapi non farmakologi dapat dilakukan dengan:
- Diet yang diberikan harus tinggi kalori, yaitu memberikan kalori 2600-3000 kalori per
hari baik dari makanan maupun dari suplemen.
- Konsumsi protein harus tinggi yaitu 100-125 gr (2,5 gr/kg berat badan ) per hari untuk
mengatasi proses pemecahan protein jaringan seperti susu dan telur.
- Olah raga secara teratur.
- Mengurangi rokok, alkohol dan kafein yang dapat meningkatkan kadar metabolisme.
2) Farmakoterapi
a. Tujuan farmakoterapi untuk menghambat pelepasan atau sintetis hormone
b. Pengobatan yang paling umum digunakan adalah propitiourasil (propacil, PTU), atau
metimazol (tapazole)
c. Tetapkan dosis rumatan, diikuti dengan penghentian obatan secara bertyahap selama
beberapa bulan.
d. Obat anti tiroid merupakan kontraindikasi pada kehamilan akhir, resiko untuk gondokkan
dan kretinisme pada janin.
- Agen Beta-Adrenergik
1.

Mungkin digunakan untuk mengontrol efek saraf simpatis yang terjadi pada
hipertiroidisme.

2.

Propandol digunakan untuk kegelisahan, takikardi, tremor, ansietas, dan intoleransi


panas
12

- Radioaktif Iodin (I)


1.

I diberikan untuk menghancurkan sel-sel tiroid yang overaktif .

2.

I merupakan kontraindikasi dalam kehamilan dan ibu menyusui karena radio iodine
menembus plasenta dan sekresikan ke dalam ASI.
b. Hipotiroid
Tujuan primer penatalalaksanaan hipotiroidisme ialah memulihkan metabolisme
pasien kembali kepada keadaan metabolic normal, dengan cara mengganti hormone yang
hilang.Livotiroksin sintetik (Synthroid atau levothroid) merupakan preparat terpilih untuk
pengobatan hipotiroidisme dan supresi penyakit goiter nontoksik.Dosis terapi penggantian
hormonal berdasarkan pada konsentrasi TSH dalam serum pasien.Preparat tiroid yang
dikeringkan jarang digunakan karena sering menyebabkan kenaikan sementara konsentrasi
T3 dan kadang-kadang disertai dengan gejala hipertiroidisme. Hal-hal yang bisa dilakukan
pada pasien dengan hipotiroid antara lain: pemeliharaan fungsi vital, gas darah arteri,
pemberian cairan dilakukan dengan hati-hati karena bahaya intoksikasi air, infus larutan
glukosa pekat, terapi kortikosteroid.
Adapun penatalaksanaan nonfarmakologis hipotiroid adalah sebagai berikut :

1. Diet
Makanan yang seimbang dianjurkan, antara lain memberi cukup yodium dalam setiap
makanan. Tetapi selama ini ternyata cara kita mengelola yodium masih cenderung salah.
Yodium mudah rusak pada suhu tingggi. Padahal kita selama ini memasak makanan pada
suhu yang panas saat menambah garam yang mengandung yodium, sehingga yodium yang
kita masak sudah tidak berfungsi lagi karena rusak oleh panas. Untuk itu, sebaiknya kita
menambahkan garam pada saat makanan sudah panas dan cukup dingin sehingga tidak
merusak kandungan yodium yang ada pada garam.
Defisiensi terjadi apabila suplai iodium kurang dari 50 mcg/d

13

Selain itu, makan-makanan yang tidak mengandung pengawet juga diperlukan. Asupan
kalori disesuaikan apabila BB perlu di kurangi. Apabila pasien mengalami letargi dan defisit
perawatan diri, perawat perlu memantau asupan makanan dan cairan.
2.Aktivitas
Kelelahan akan menyebabkan pasien tidak bisa melakukan aktivitas hidup sehari-hari
dan kegiatan lainnya. Kegiatan dan istirahat perlu diatur agar pasien tidak menjadi sangat
lelah. Kegiatan ditingkatkan secara bertahap.
3.Hindari mengkonsumsi secara berlebihan makanan-makanan yang mengandung
goitrogenik glikosida agent yang dapat menekan sekresi hormone tiroid seperti ubi kayu,
jagung, lobak, kangkung, dan kubis.

14

BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian Keperawatan


3.1.1. Pengkajian Keperawatan Hipertiroidisme
a. Aktivitas / istirahat
Gejala
berat.

: insomnia, sensitivitas meningkat,otot lemah,gangguan koordinasi,Kelelahan

Tanda

: atropi otot

b. Sirkulasi
Gejala

: palpitasi, nyeri dada (angina)

Tanda : disritmia (vibrilasi atrium), irama gallop, murmur, peningkatan tekanan darah,
takikardia, sirkulasi kolaps, syok.
c. Eliminasi
Gejala

: urin dalam jumlah banyak, diare.

d. Intregitas Ego
Gejala

: mengalami stress yang berat baik emosional maupun fisik.

Tanda

: emosi labil, depresi.

e. Makanan / Cairan
Gejala : kehilangan berat badan yang mendadak, nafsu makan meningkat, makan banyak,
kehausan, mual, dan muntah
Tanda

: pembesaran tiroid, edema non fitting

f. Pernapasan
Tanda

: frekuensi pernapasan meningkat, takipnea, dispnea

g. Seksualitas
Tanda : penurunan libido,hipomenorea,amenore, dan impotent
15

3.1.2. Pengkajian Keperawatan Hipotiroidisme


Dampak penurunan kadar hormon dalam tubuh sangat bervariasi, oleh karena itu
lakukanlah pengkajian terhadap ha1-ha1 penting yang dapat menggali sebanyak mungkin
informasi antara lain
1. Riwayat kesehatan klien dan keluarga. Sejak kapan klien menderita penyakit tersebut dan
apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama.
2. Kebiasaan hidup sehari-hari seperti
a. Pola makan
b. Pola tidur (klien menghabiskan banyak waktu untuk tidur).
c. Pola aktivitas.
3. Tempt tinggal klien sekarang dan pada waktu balita.
4. Keluhan utama klien, mencakup gangguan pada berbagai sistem tubuh;
a. Sistem pulmonari
b. Sistem pencernaan
c. Sistem kardiovaslkuler
d. Sistem muskuloskeletal
e. Sistem neurologik dan Emosi/psikologis
f. Sistem reproduksi
- Pemeriksaan fisik mencakup
a. Penampilan secara umum; amati wajah klien terhadap adanya edema sekitar mata, wajah
bulan dan ekspresi wajah kosong serta roman wajah kasar. Lidah tampak menebal dan
gerak-gerik klien sangat lamban. Postur tubuh keen dan pendek. Kulit kasar, tebal dan
berisik, dingin dan pucat.
b. Nadi lambat dan suhu tubuh menurun:
c. Perbesaran jantung
d. Disritmia dan hipotensi
e. Parastesia dan reflek tendon menurun
6. Pengkajian psikososial klien sangat sulit membina hubungan sasial dengan
lingkungannya, mengurung diri/bahkan mania. Keluarga mengeluh klien sangat malas
beraktivitas, dan ingin tidur sepanjang hari. Kajilah bagaimana konsep diri klien mencakup
kelima komponen konsep diri

16

7. Pemeriksaan penunjang mencakup; pemeriksaan kadar T3 dan T4 serum; pemeriksaan


TSH (pada klien dengan hipotiroidisme primer akan terjadi peningkatan TSH serum,
sedangkan pada yang sekunder kadar TSH dapat menurun atau normal).
3.2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada klien yang mengalami hipertiroidisme
adalah sebagai berikut :
1.Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan hipertiroid tidak
terkontrol,

keadaan

hipermetabolisme,

peningkatan

beban

kerja

jantung.

2. Kelelahan berhubungan dengan hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan energi


3. Risiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
peningkatan metabolisme (peningkatan nafsu makan/pemasukan dengan penurunan berat
badan)
4. Ansietas berhubungan dengan faktor fisiologis; status hipermetabolik.
Diagnosa Keperawatan pada Hipotiroidisme
1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan depresi ventilasi
2. Perubahan suhu tubuh, hipotermi berhubungan dengan penurunan status metabolic
sekunder
3. konstipasi berhubungan dengan penurunan fungsi gastrointestinal
4. intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan dan penurunan kognitif
3.3. Intervensi Keperawatan
3.3.1.Intervensi Keperawatan Hipertiroid
1 Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan hipertiroid tidak
terkontrol,

keadaan

hipermetabolisme,

peningkatan

beban

kerja

jantung

Tujuan :Klien akan mempertahankan curah jantung yang adekuat sesuai dengan kebutuhan
tubuh, dengan kriteria : 1) Nadi perifer dapat teraba normal. 2) Vital sign dalam batas
normal. 3) Pengisian kapiler normal 4) Status mental baik 5) Tidak ada disritmia
Intervensi :
a. Pantau tekanan darah pada posisi baring, duduk dan berdiri jika memungkinkan.
Perhatikan besarnya tekanan nadi
R/Hipotensi umum atau ortostatik dapat terjadi sebagai akibat dari vasodilatasi perifer yang
berlebihan dan penurunan volume sirkulasi
b. Periksa kemungkinan adanya nyeri dada atau angina yang dikeluhkan pasien.
R/Merupakan tanda adanya peningkatan kebutuhan oksigen oleh otot jantung atau iskemia
17

c. Auskultasi suara nafas. Perhatikan adanya suara yang tidak normal (seperti krekels)
R/ S1 dan murmur yang menonjol berhubungan dengan curah jantung meningkat pada
keadaan hipermetabolik
d. Observasi tanda dan gejala haus yang hebat, mukosa membran kering, nadi lemah,
penurunan produksi urine dan hipotensi
R/Dehidrasi yang cepat dapat terjadi yang akan menurunkan volume sirkulasi dan
menurunkan curah jantung
e. Catat masukan dan haluaran
R/Kehilangan cairan yang terlalu

banyak

dapat

menimbulkan

dehidrasi

berat

2. Kelelahan berhubungan dengan hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan energi


Tujuan : Klien akan mengungkapkan secara verbal tentang peningkatan tingkat energi
Intervensi
a.

Pantau

:
tanda

vital

dan

catat

nadi

baik

istirahat

maupun

saat

aktivitas.

R/Nadi secara luas meningkat dan bahkan istirahat , takikardia mungkin ditemukan
b. Ciptakan lingkungan yang tenang
R/Menurunkan stimulasi yang kemungkinan besar dapat menimbulkan agitasi, hiperaktif,
dan imsomnia
c.Sarankan pasien untuk mengurangi aktivitas
R/Membantu melawan pengaruh dari peningkatan metabolism
d. Berikan tindakan yang membuat pasien merasa nyaman seperti massage
R/Meningkatkan relaksasi
3. Risiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
peningkatan metabolisme (peningkatan nafsu makan/pemasukan dengan penurunan berat
badan)
Tujuan : Klien akan menunjukkan berat badan stabil dengan kriteria : Nafsu makan baik,
Berat badan normal, Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
Intervensi :
a.
Catat
adanya
anoreksia,

mual

dan

muntah

R/Peningkatan aktivitas adrenergic dapat menyebabkan gangguan sekresi insulin/terjadi


resisten yang mengakibatkan hiperglikemia
b. Pantau masukan makanan setiap hari,

timbang

berat

badan

setiap

hari

R/Penurunan berat badan terus menerus dalam keadaan masukan kalori yang cukup
merupakan

indikasi

kegagalan

terhadap

terapi

antitiroid

c. Kolaborasi untuk pemberian diet tinggi kalori, protein, karbohidrat dan vitamin
R/Mungkin memerlukan bantuan untuk menjamin pemasukan zat-zat makanan yang
18

adekuat
4.

dan

Ansietas

mengidentifikasi
berhubungan

makanan

dengan

faktor

pengganti

fisiologis;

yang

status

sesuai

hipermetabolik

Tujuan : Klien akan melaporkan ansietas berkurang sampai tingkat dapat diatasi dengan
kriteria : Pasien tampak rileks
Intervensi
a.Observasi
R/Ansietas

tingkah
ringan

dapat

:
laku

yang

ditunjukkan

menunjukkan
dengan

peka

tingkat

rangsang

dan

ansietas
imsomnis

b. Bicara singkat dengan kata yang sederhana


R/Rentang perhatian mungkin menjadi pendek , konsentrasi berkurang, yang membatasi
kemampuan untuk mengasimilasi informasi
c.Jelaskan prosedur tindakan
R/Memberikan informasi yang akurat yang dapat menurunkan kesalahan interpretasi
d. Kurangi stimulasi dari luar
R/Menciptakan lingkungan yang terapeutik.
3.3.2. Intervensi Keperawatan Hipotiroidisme
1.Pola napas tidak efektif berhubungan dengan depresi ventilasi
Tujuan :Perbaikan status respiratorius dan pemeliharaan pola napas yang normal.
Intervensi:
a.Pantau frekuensi; kedalaman, pola pernapasan; oksimetri denyut nadi dan gas darah arterial
R/ Mengidentifikasi hasil pemeriksaan dasar untuk memantau perubahan selanjutnya dan
mengevaluasi efektifitas intervensi.
b. Dorong pasien untuk napas dalam dan batuk
R/Mencegah aktifitas dan meningkatkan pernapasan yang adekuat.
c.Berikan obat (hipnotik dan sedatip) dengan hati-hati
R/Pasien hipotiroidisme sangat rentan terhadap gangguan pernapasan akibat gangguan obat
golongan hipnotik-sedatif.
d. Pelihara saluran napas pasien dengan melakukan pengisapan dan dukungan ventilasi jika
diperlukan.
R/Penggunaan saluran napas artifisial dan dukungan ventilasi mungkin diperlukan jika
terjadi depresi pernapasan
2. Perubahan suhu tubuh, hipotermi berhubungan dengan penurunan status metabolic
sekunder
Tujuan : Pemeliharaan suhu tubuh yang normal
Intervensi:
a.Berikan tambahan lapisan pakaian atau tambahan selimut.
R/Meminimalkan kehilangan panas
b. Hndari dan cegah penggunaan sumber panas dari luar (misalnya, bantal pemanas, selimut
listrik atau penghangat).
19

R/Mengurangi risiko vasodilatasi perifer dan kolaps vaskuler.


c.Pantau suhu tubuh pasien dan melaporkan penurunannya dari nilai dasar suhu normal pasien.
R/ Mendeteksi penurunan suhu tubuh dan dimulainya koma miksedema
d. Lindungi terhadap pajanan hawa. dingin dan hembusan angin.
R/ Meningkatkan tingkat kenyamanan pasien dan menurunkan lebih lanjut kehilangan
panas.
3. Konstipasi berhubungan dengan penurunan gastrointestinal
Tujuan :Pemulihan fungsi usus yang normal.
Intervensi:
a.Dorong peningkatan asupan cairan
R/Meminimalkan kehilangan panas
b.Berikan makanan yang kaya akan serat
R/Meningkatkan massa feses dan frekuensi buang air besar
c.Ajarkan kepada klien, tentang jenis -jenis makanan yang banyak mengandung air
R/Untuk peningkatan asupan cairan kepada pasien agar . feses tidak keras
d.Dorong klien untuk meningkatkan mobilisasi dalam batas-batas toleransi latihan.
R/ Meningkatkan evakuasi feses
e.Kolaborasi : untuk pemberian obat pecahar dan enema bila diperlukan.
R/Untuk mengencerkan fees.

4. Intoleran aktivitas berhubungan dengan. kelelahan dan penurunan proses kognitif.


Tujuan : Meningkatkan partisipasi dalam aktivitas dan kemandirian
Intervensi
a.Atur interval waktu antar aktivitas untuk meningkatkan istirahat dan latihan yang dapat
ditolerir.
R/Mendorong aktivitas sambil memberikan kesempatan untuk mendapatkan istirahat yang
adekuat.
b.Bantu aktivitas perawatan mandiri ketika pasien berada dalam keadaan lelah.
R/Memberi kesempatan pada pasien untuk berpartisipasi dalam aktivitas perawatan
mandiri.
c.Berikan stimulasi melalui percakapan dan aktifitas yang tidak menimbulkan stress.
R/Meningkatkan perhatian tanpa terlalu menimbulkan stress pada pasien.
d.Pantau respons pasien terhadap peningkatan aktititas
R/Menjaga pasien agar tidak melakukan aktivitas yang berlebihan atau kurang.
20

BAB IV
PENUTUP

4.1.
Kesimpulan
Hipertiroidisme ialah sekresi hormone tiroid yang berlebihan, dimanifestasikan
melalui peningkatan metabolisme. Hipotiroidisme ialah sekresi tiroid yang tidak adekuat
selama perkembangan janin dan neonatus yang nantinya akan menghambat pertumbuhan
fisik dan mental (kretinisme), karena penekanan aktivitas metabolic tubuh secara
umum.Pada orang dewasa hipotiroidisme memiliki gambaran klinik berupa letargi,proses
berfikir yang lambat dan perlambatan fungsi yang menyeluruh.

21

Lebih dari 95% kasus hipertiroid disebabkan oleh penyakit graves, suatu penyakit
tiroid autoimun yang antibodinya merangsang sel-sel untuk menghasilkan hormon yang
berlebihan. Pada hipotiroid berat mengakibatkan: suhu tubuh dan frekuensi nadi subnormal,
kenaikan berat badan, kulit menjadi tebal, rambut menipis dan rontok, wajah tampak tanpa
ekspresi dan mirip topeng, rasa dingin meski lingkungan hangat, apatis, konstipasi,
kenaikan kadar kolesterol serum, aterosklerosis, penyakit jantung koroner, fungsi ventrikel
kiri jelek. Pada hipotiroidisme lanjut dapat menyebabkan dimensia disertai perubahan
kognitif dan kepribadian yang khas.Respirasi dan apnea dapat terjadi.Serta efusi pleura dan
efusi pericardial.Koma miksedema menggambarkan stadium hipotiroidisme yang paling
ekstrim dan berat, dimana pasien mengalami hipotermi dan tak sadarkan diri.
4.2.

Saran
Sebagai Mahasiswa S1 Keperawatan yang di cetak menjadi perawat professional
harus mampu memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif. Peran perawat dalam
penanganan hipertiroidisme dan hipotiroidisme dan mencegah terjadinya hipertiroidisme
dan hipotiroidisme adalah dengan memberikan asuhan keperawatan yang tepat. Asuhan
keperawatan yang tepat untuk klien harus dilakukan untuk meminimalisir terjadinya
komplikasi serius yang dapat terjadi seiring dengan kejadian hipertiroidisme dan
hipotiroidisme.

DAFTAR PUSTAKA
-

C, Barbara.1996.Perawatan Medikal Bedah, Jilid 3.Bandung: Yayasan Ikatan Alumni

Pendidikan Keperawatan Pajajaran.


Marilynn E, Doengoes.2000.Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3. Jakarta :EGC.
Price A, Sylvia dan Wilson M, Lorraine.2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-

Proses Penyakit, Edisi 6, Buku II, Jakarta: EGC.


Smeltzer C. Suzanne, Brunner & Suddarth.2002.Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah, Jilid 3.Jakarta: EGC

22

Anda mungkin juga menyukai