Anda di halaman 1dari 55

QBD 2: PENGELOLAAN BENCANA

PB - 27

OUTLINE
1. Jelaskan pengelolaan bencana pada skala lokal, nasional, dan
internasional
2. Jelaskan mengenai triase pada bencana
3. Jelaskan mengenairapid need assessment
4. Jelaskan masalah yang dapat terjadi dalam pengelolaan
bencana (permasalahan kesehatan, lingkungan, K3, gizi,
pelayanan kesehatan, koordinasi, pengungsian, logistik dan
surveilans) di skala lokal, nasional, dan internasional
5. Jelaskan kesiapan (mitigasi dan kesiapsiagaan) menghadapi
bencana pada skala lokal, nasional, dan internasional

PENGELOLAAN BENCANA PADA


SKALA LOKAL, NASIONAL, DAN
INTERNASIONAL

PENGELOLAAN BENCANA
Menurut John Hopkins
Manajemen bencana adalah kegiatan
melindungi populasi dan properti yang
juga meliputi estimasi risiko dan
persiapan (aktivitas mitigasi
konsekuensi) bencana dan
rekonstruksi yang akan mengurangi
kerentanan

Tahapan pengelolaan bencana


Terdapat tiga aspek dasar dari pengelolaan bencana
Respon bencana
Kesiapan bencana
Mitigasi bencana

Ketiga aspek ini biasanya disebut siklus bencana

Pengelolaan Bencana
Lokal

Masyarakat
Pemda
BNPB
BPBD

Nasional
BNPB
NGO (Palang
Merah
Indonesia)

Internasional
NGO (e.g.
Medical
Emergency
Relief
International)
Lembaga
Internasional
Lembaga
Internasional
Non
Pemerintah

Pengelolaan bencana tingkat


lokal
Memiliki sifat
Spesifik terhadap keadaan daerah tersebut
Dimulai dari tahap prabencana, lalu bencana, dan terakhir pascabencana
Tindakan cepat dalam evakuasi dan memberi peringatan
Badan-badan yang bekerja1
Dinas pemadam kebakaran
Kepolisian (Polda, polsek)
Layanan medis
BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) sebagai pusat
pengelolaan bencana skala lokal dan BPBD (Badan Penanggulanagan
Bencana Daera untuk tingkat provinsi dan kabupaten/kota

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)


Melindungi masyarakat daerah
setempat

Meningkatkan kesiapsiagaan
masyarakat setempat

Meningkatkan kapasitas
penanggulangan bencana

Peran Pemda pada pengelolaan bencana lokal


dalam UU No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dan Perka BNPB no. 3
tahun 2008, Pemda memiliki tanggung jawab yaitu:
1. Menyelenggarakan upaya penanggulangan bencana di wilayahnya, dengan bupati/walikota sebagai
penanggungjawab utama dan gubernur sebagai penguat. 2,3
2. Mengalokasikan dana yang memadai untuk penyelenggaraan penanggulangan bencana dapa setiap
tahapannya.2,3
3. Memadukan penanggulangan bencana dalam rencana pembangunan daerah, diantaranya RPJPD
(Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah), RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah), dan RKPD (Rencana Kerja Pemerintah Daerah) . 2,3
4. Melindungi masyarakat dari ancaman dan dampak bencana melalui pemberian informasi, pendidikan
dan pelatihan, perlindungan sosial, dan bentuk-bentuk mitigasi lainnya. 2,3
5. Melaksanakan tanggap darurat NHA (need rapid health assessment).2,3
6. Memulihkan dan meningkatkan kehidupan sosial ekonomi serta infrastruktur yang rusak akibat
bencana.2,3
7. Meminta bantuan pemerintah pusat apabila kemampuan sumberdaya yang dimiliki kurang. 2,3

Wewenang Pemda pada pengelolaan bencana lokal


dalam UU No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana dan Perka BNPB no. 3 tahun 2008, Pemda memiliki
wewenang yaitu:
1. Menetapan kebijakan penanggulangan bencana sesuai dengan
karakteristik wilayahnya.2,3
2. Menentukan status kedaruratan bencana.2,3
3. Mengerahkan seluruh potensi dan sumberdaya di wilayahnya
untuk menunjang pelaksanaan penanggulangan bencana. 2,3
4. Menjalin kerja sama dengan pihak lain.2,3
5. Mengawasi penggunaan teknologi yang berpotensi menjadi
ancaman bencana.2,3
6. Mengangkat komandan penanganan darurat bencana atas usul

Pengelolaan bencana tingkat


nasional
Upaya suatu negara untuk mengurangi kerentanannya terhadap
bencana
Dikelola oleh pemerintah pusat dan didasarkan pada UU dan
Peraturan Pemerintah
Program ini harus berperan dalam
Pencegahan
Mitigasi
Kesiapan
Respon
Rehabilitasi

Karakteristik bencana tingkat nasional

jumlah
korban jiwa
lebih dari
500 orang

kerugian
harta benda
lebih dari 1
triliun

kerusakan
sarana dan
cakupan
prasarana
wilayah
berat
sangat luas
menggangg
u kehidupan
masyarakat

B
E
N
C
A
N
A

Tanggung jawab pemerintah (UU No. 24


tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana)
Pengurangan risiko bencana dengan memadukan upaya
tersebut dengan program pembangunan. Hal ini bersifat
mitigasi struktural yang bisa dilakukan pada fase prabencana. 2
Perlindungan masyarakat dari dampak bencana dengan tetap
menjamin pemenuhan hak mereka jika harus mengungsi,
setidaknya sesuai dengan standar pelayanan minimum. 2
Pemulihan kondisi wilayah yang terkena bencana.2
Alokasi anggaran yang memadai dan siap pakai. 2
Pemeliharaan arsip bencana yang kredibel dan otentik. 2

Peran BNPB di tingkat nasional


Lembaga pemerintah
nondepartemen
setingkat menteri
Terdiri dari unsur
Pengarah pejabat
pemerintah terkait dan
anggota masyarakat
profesional yang dipilih
oleh DPR
Pelaksana tenaga
profesional dan ahli
yang berfungsi dalam
komando, koordinasi,
dan pelaksanaan

Pengelolaan Bencana tingkat


Internasional
Dimulai setelah deklarasi oleh PBB saat International Decade for Natural
Disaster Reduction pada 11 Desember 1987
Dilakukan untuk mengkoordinasikan upaya pengurangan dampak bencana
secara internasional

Sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku


dengan prinsip ketidakbergantungan, saling
melengkapi, dan kewewenangan pemerintah.
Bentuk bantuan:
dukungan pendanaan
dukungan teknis atau bantuan barang dan jasa untuk kegiatan rehabilitasi dan
rekonstruksi

Lembaga yang berperan pada


pengelolaan bencana skala internasional
Lembaga
Didirikan oleh perorangan atau sekelompok
masyarakat umum
Nonpemerinta Melayani
Nonprofit
h
Lembaga
Organisasi yang berada pada lingkup struktur
organisasi PBB
Internasional
Lembaga
Lembaga nonpemerintah yang berskala internasional
Asing
Dibentuk secara terpisah dari negera tempat
Nonpemerinta organisasi tersebut didirikan
h

Bilateral assistance1
Bantuan yang diberikan oleh
negara yang tidak terkena
bencana kepada negara yang
terkena bencana

Daftar pustaka
1.

Coppola DP. Introduction to International Disaster Management. Burlington; 2007.

2.

UU No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana

3.

Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana nomor 3 tahun 2008


tentang Pedoman Pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah

4.

https://www.usaid.gov/sites/default/files/documents/2155/USAID%20RNAG%20FINAL.pdf

5.

http://www.ifrc.org/en/what-we-do/disaster-management/responding/disaster-response
-system/emergency-needs-assessment/

6.

https://www.med.or.jp/english/journal/pdf/2013_01/019_024.pdf

7.

http://www.paho.org/disasters/index.php?option=com_content&view=article&id=744%
3Arapid-needs-assessment&Itemid=800&lang=en

8.

Federal Emergency Management Agency. Are You Ready. 2011. USA

9.

The John Hopkins and Red Cross Red Crescent. Public health guide in emergencies 2 nd
ed. 2008.

TRIASE BENCANA

TRIASE
Triase dalam bahasa prancis berarti mengambil atau memilah, ini
merupakan proses pengelompokan penderita-penderita sakit dan cidera
pada kejadian masal atau bencana.
Triase adalah proses pemilahan penderita untuk menentukan penderita
mana yang harus menerima perawatan terlebih dahulu.
Tujuan Triase adalah menolong orang sebanyak mungkin untuk
mendapatkan kesempatan terbesar untuk tetap hidup.
Triage merupakan sistem peringatan dan pemprioritasan terhadap suatu
keadaan dengan penggunaan kode warna (merah, kuning, hijau, dan hitam)

Triase (Cont..)
Mera
h
Kunin
g

Pasien dengan gangguan


airway, breathing, dan
circulation

Hijau

Luka ringan atau histeris

Hita
m

Tanpa gangguan airway


tetapi dapat memburuk
perlahan

Pasien meninggal

RAPID NEED
ASSESSMENT

RAPID NEED ASSESSMENT


Assesment: serangkaian kegiatan dilakukan untuk medapatkan informasi
dan data yang berguna untuk melakukan tindakan intervensi.
Rapid Assessment: Assesment yang dilakukan secara cepat, kurang dari 1
pekan setelah kejadian, sehingga dapat digunakan untuk mengambil
keputusan segera.
Rapid Need Assestment merupakan sebuah kunci pengambilan keputusan
darurat yang didasari pada kebutuhan dan tipe penginterverensian yang
harus diambil secara cepat. Secara ideal diambil dalam tiga hari setelah
kejadian.

Rapid Need Assessment


RNA ditunjukan untuk menjelaskan keadaan:
Kondisi lingkungan
Ketersediaan kebutuhan
Kehadiran dan ketersediaan organisasi penolong
Perencanaan pemerintah
Kegawatdaruratan dan efeknya
Kelompok rentan dengan risiko tinggi
Ancaman yang akan datang

Rapid Needs Assessment


Checklists
Jumlah korban
Kebutuhan air
Kebutuhan tempat
berlindung
Kebutuhan gizi
Kebutuhan sanitasi
Kebutuhan bahan bakar
Kebutuhan pelayanan
kesehatan

Metode pengkajian
dan pengumpulan
data objektif
maupun subjektif
yang bertujuan
untuk mengukur
dampak bencana
dan memberikan
respon yang cepat
terhadap korban
jiwa
WHO, 1999

Persiapan Rapid Need


Assessment
Mengumpulkan informasi latar belakang daerah
Berkoordinasi dengan pihak pemerintah dan organisasi
Pembuatan tim penilai multidisiplin
Perencanaan pengambilan keputusan
Memastikan kontak bantuan
Mengumpulkan peralatan-peralatan penting
Memastikan keamanan lingkungan
Memastikan transportasi, komunikasi, akomodasi, dan makanan bagi tim
penolong
Berhati-hati dan teliti

REFERENSI
International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies. Public
health guide in emergencies 2nd edition. 2008. Geneva.
Coppola, DP. Introduction to international disaster management. United
States of America: Elsevier; 2007.
Koenig KL, Schultz CH. Disaster Medicine Comprehensive Principles and
Practices. New York; Cambridge University; 2009.
Republik Indonesia. (2007). Undang-undang No. 24 Tahun 2007 tentang
penanggulangan bencana. Sekretariat Negara: Jakarta.

MASALAH YANG DAPAT


TERJADI DALAM
PENGELOLAAN BENCANA

Pengelolaan Bencana

Masalah yang Dapat Terjadi Dalam Pengelolaan


Bencana di Skala Lokal, Nasional, dan Internasional
Permasalah
an
Kesehatan
Pelayanan
Kesehatan

Lingkungan

K3

Gizi

Koordinasi

Pengungsia
n

Logistik

Surveilans

. Berefek pada lingkungan fisik, sosial, dan biologis


yang dapat mengancam kehidupan manusia:
shelter, air, sanitasi, vektor penyakit, polusi, dll.
. Minimnya manajemen sampah dan kebersihan di
tempat pengungsian
. Semakin lama orang berada pada pengungsian yang
tidak higienis, semakin tinggi risiko terkena penyakit
menular yang dapat berujung pada epidemic
outbreaks thypoid, disentri, kolera, dan diare

4. Masalah dalam
Pengelolaan Bencana

A. Environmental Health

4. Masalah dalam
Pengelolaan Bencana

1. Berusahalah untuk meminum air yang sudah


direbus atau didisinfektasi dan lindungi sumber
air dari kontaminasi
2. Buang faeces dengan aman (terutama faeces dari
bayi atau orang dengan diare) pada area khusus
sehingga tidak menimbulkan pajanan pada
masyarakat atau mengkontaminasi sumber air
3. Cuci tangan dengan sabun sesudah defekasi,
mengurusi faeces bayi, dan sebelum menyiapkan atau
memakan makanan

4. Masalah dalam
Pengelolaan Bencana

Perilaku penting untuk menjaga kesehatan saat


bencana:

Gangguan aksesibiltas
Gangguan keamanan
Pertimbangan politik
Keengganan untuk mengamati tujuan
Penundaan inisiatif
. Keikutsertaan pemerintah sangat minim dengan
pertimbangan: 1) tidak prioritas, 2) adanya konflik
pemerintah dengan pihak lain, c) badan internasional
tidak sepaham dengan pemerintah, d) perbedaan
tujuan karena adanya konflik internal
. Pembagian tugas tidak berjalan
. Pengalihan tugas
.
.
.
.
.

4. Masalah dalam
Pengelolaan Bencana

B. Permasalahan Teknis dan Koordinasi

masalah dalam pengelolaan bencana


Sistem informasi belum
berjalan baik
Mekanisme koordinasi
belum berfungsi baik
Mobilisasi bantuan ke
lokasi bencana
terhambat

Sistem pembiayaan
belum mendukung
Keterbatasan sumber
daya
Pengelolaan bantuan
lokal/internasional belum
baik

Source: Pedoman Teknis Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat

Pendirian institusi penanganan bencana merupakan


proses yang sangat kompleks dan memerlukan
waktu yang lama.
Dalam bencana besar, biasanya pemerintah suatu
negara tidak mau langsung meminta bantuan
kepada dunia internasional, melainkan mencoba
untuk menangani bencana tersebut dengan kekuatan
sendiri terlebih dahulu agar terlihat kuat. Baru
setelah benar-benar parah dan tidak dapat ditangani
pemerintah meminta bantuan
Source: PAN Health Organization

Organisasi internasional biasanya tidak dapat


membantu banyak dalam menambah jumlah
nyawa yang selamat, karena korban jiwa
terbanyak biasanya datang dalam beberapa jam

pertama

Source: PAN Health Organization

4. Masalah dalam
Pengelolaan Bencana

4. Masalah dalam
Pengelolaan Bencana

Referensi
1. Ifrc.org. About disaster management - IFRC [Internet]. 2016 [cited 23 February 2016]. Available from:
http://www.ifrc.org/en/what-we-do/disaster-management/about-disaster-management/
2. 2. Wcpt.org. What is disaster management? | World Confederation for Physical Therapy [Internet]. 2016
[cited 23 February 2016]. Available from:
http://www.wcpt.org/disaster-management/what-is-disaster-management
3. 3. Wyoming Homeland Security. Disaster Sequence of Events [Internet]. 2016 [cited 23 February 2016].
Available from:
http://hls.wyo.gov/Library/DisasterInformationReportsForms/DisasterDeclarationInformation/DisasterSe
quenceofEvents.pdf
4. Bnpb.go.id. sistem-penanggulangan-bencana [Internet]. 2016 [cited 23 February 2016]. Available from:
http://www.bnpb.go.id/pengetahuan-bencana/sistem-penanggulangan-bencana
5. Ifrc.org. Emergency needs assessment - IFRC [Internet]. 2016 [cited 23 February 2016]. Available from:
http://www.ifrc.org/en/what-we-do/disaster-management/responding/disaster-response-system/emerge
ncy-needs-assessment/
6. 6. Who.int. WHO | Environmental health in emergencies and disasters [Internet]. 2016 [cited 23
February 2016]. Available from: http://www.who.int/water_sanitation_health/emergencies/en/
7. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Inodnesia Nomor 12/MENKES/SK/I/2002.
8. Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 4 Tahun 2008 tentang Pedoman
Koordinasi Penanggulangan Bencana di Lapangan.

KESIAPAN (MITIGASI DAN


KESIAPSIAGAAN) MENGHADAPI
BENCANA SKALA LOKAL,
NASIONAL, INTERNASIONAL

Mitigasi
UU RI No.24 Tahun 2007
Pasal 1 Ayat 9: Mitigasi adalah serangkaian
upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik
melalui pembangunan fisik maupun penyadaran
dan peningkatan kemampuan menghadapi
ancaman bencana.

Mitigasi
UU No.24 Tahun 2007
Pasal 47: Mitigasi dilakukan untuk mengurangi risiko
bencana bagi masyarakat yang berada pada kawasan
bencana. Kegiatan mitigasi dilakukan melalui:
Pelaksanaan penataan ruang
Pengaturan pembangunan, pembangunan
infrastruktur, tata bangunan
Penyelengaraan pendidikan, penyuluhan, dan
pelatihan baik secara konvensional maupun
modern

Kebijakan dan Strategi Mitigasi


Bencana
1. Kebijakan
a)

b)

c)
d)

Dalam setiap upaya mitigasi bencana perlu membangun persepsi


yang sama bagi semua pihak yang ketentuan langkahnya diatur
dalam pedoman umum.
Pelaksanaan mitigasi bencana dilaksanakan secara terpadu
terkoordinir yang melibatkan seluruh potensi pemerintah dan
masyarakat.
Upaya preventif harus diutamakan agar kerusakan dan korban jiwa
dapat diminimalkan.
Penggalangan kekuatan melalui kerjasama dengan semua pihak,
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI
melalui pemberdayaan masyarakat serta
kampanye.
DALAM NEGERI
NOMOR : 33 TAHUN 2006
TANGGAL : 18 OKTOBER 2006

2. STRATEGI
a)
b)
c)
d)
e)
f)

Pemetaan
Pemantauan
Penyebaran informasi
Sosialisasi dan Penyuluhan
Pelatihan dan Pendidikan
Peringatan dini, Peringatan dini dimaksudkan untuk memberitahukan
tingkat kegiatan hasil pengamatan secara kontinyu di suatu daerah
rawan dengan tujuan agar persiapan secara dini dapat dilakukan guna
mengantisipasi jika sewaktu--waktu terjadi
bencana.
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI
DALAM NEGERI
NOMOR : 33 TAHUN 2006
TANGGAL : 18 OKTOBER 2006

MANAJEMEN MITIGASI BENCANA


1. Penguatan Institusi Penanganan Bencana.
2. Meningkatkan Kemampuan Tanggap Darurat.
3. Meningkatkan Kepedulian Dan Kesiapan Masyarakat Pada
Masalah-masalah Yang Berhubungan Dengan Resiko Bencana.
4. Meningkatkan Keamanan Terhadap Bencana Pada Sistem
Infrastruktur Dan Utilitas.
5. Meningkatkan Keamanan Terhadap Bencana Pada Bangunan
Strategis Dan Penting.
6. Meningkatkan
Keamanan
Terhadap
Bencana
Daerah
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI
Perumahan Dan Fasilitas Umum.

DALAM NEGERI
NOMOR : 33 TAHUN 2006

7.

Meningkatkan Keamanan Terhadap Bencana Pada Bangunan Industri Dan Kawasan


Industri.

8.

Meningkatkan Keamanan Terhadap Bencana Pada Bangunan Sekolah Dan Anakanak Sekolah.

9.

Memperhatikan Keamanan Terhadap Bencana Dan Kaidah-kaidah Bangunan Tahan


Gempa Dan Tsunami Serta Banjir Dalam Proses Pembuatan Konstruksi Baru.

10. Meningkatkan Pengetahuan Para Ahli Mengenai Fenomena Bencana, Kerentanan


Terhadap Bencana Dan Teknik-teknik Mitigasi.
11. Memasukan Prosedur Kajian Resiko Bencana Kedalam Perencanan Tata Ruang/Tata
Guna Lahan.
12. Meningkatkan Kemampuan Pemulihan Masyarakat Dalam Jangka Panjang Setelah
Terjadi Bencana.
LAMPIRAN PERATURAN MENTERI DALAM
NEGERI
NOMOR : 33 TAHUN 2006
TANGGAL : 18 OKTOBER 2006

Kesiapsiagaan
UU RI No.24 Tahun 2007:
Pasal 1 Ayat 7: Kesiapsiagaan adalah
serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk
mengantisipasi bencana melalui
pengorganisasian serta melalui langkah yang
tepat guna dan berdaya guna.

Kesiapsiagaan
Pasal 45: Kesiapsiagaan dilakukan untuk
memastikan upaya yang cepat dan tepat dalam
menghadapi kejadian bencana. Kesiapsiagaan
dilakukan melalui:
Penyusunan dan uji coba rencana
penanggulangan kedaruratan bencana
Pengorganisasian, pemasangan, dan
pengujian sistem peringatan dini
Penyediaan barang pasokan
pemenuhan kebutuhan dasar
Pelatihan mekanisme tanggap darurat
Penyiapan lokasi evakuasi

Kesiapsiagaan pada Skala Lokal


Contoh dalam skala lokal terdapat dalam instruksi gubernur DKI Jakarta
No.153 Tahun 2014, bahwa dalam meningkatkan kesiapan dalam
kesiapsiagaan harus melaksanakan beberapa hal sebgai berikut:
Meningkatkan kesiapsiagaan personil, peralatan logistik yang ada dalam
lingkup tanggung jawab SKPD-nya.
Mendekatkan posisi personil, peralatan, dan logistik ke lokasi rawan bencana
banjir dan angin puting beliung
Mengaktifkan Posko Siaga Bencana di lingkungan SKPN
Melakukan Apel Siaga, Geladi Posko, dan Geladi Lapang di lingkungan SKPD
dan Pemerintah Provinsi

Kesiapsiagaan pada Skala Nasional


Kementrian
Lingkungan
Hidup dan
Kehutanan

Kementrian
Kesehatan

Badan
Nasional
Penanggulang
an Bencana

Internasional
pelayanan instalasi gawat darurat oleh medical first
responder

mempersiapkan evakuasi & transportasi korban


Bulan Sabit
Merah

pelatihan berkelanjutan untuk tim gawat darurat baik


medis dan paramedis

BSMI memiliki Unggulan yaitu Rumah Sakit Lapangan (RSL)


yang merupakan inovasi pertama di Indonesia oleh sebuah
Lembaga Kemanusiaan.

Referensi
Badan Nasional Penanggulanan Bencana (BNPB). 2011. Guideline on The Role of The
International Organization and Foreign Non-Government Organization During
Emergency Response. Available at: http://www.ifrc.org/docs/idrl/877EN.pdf [cited 23
Feb 2016]
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). 2010. Modul dasar relawan
penanggulangan bencana. Available at:
http://pusdiklat.bnpb.go.id/home/Downloads/modul/Modul%20Relawan%20Baru.pdf
[cited 23 Feb 2016]
Bappenas. 2009. Ringkasan telaah sistem terpadu penanggulangan bencana di
Indonesia (Kebijakan, Strategi, dan Operasi). Available at:
http://bappenas.go.id/unit-kerja/staf-ahli/bidang-sumber-daya-alam-lingkunganhidup-dan-perubahan-iklim/contents-bidang-sumber-daya-alam-lingkungan-hidup-da
n-perubahan-iklim/2473-telaah-sistem-terpadu-penanggulangan-bencana-di-indones
ia-kebijakan-strategi-dan-operasi/&ved=0CBwQFjAA&usg=AFQjCNFYb3eQhxmuvkwNXw0OU
pdMMHRN29g
[cited 23 Feb 2016]
UU RI No.24 Tahun 2007

TERIMA KASIH
PB - 27