Anda di halaman 1dari 4

IMPLEMENTASI MARHAENISME

(MANIFESTO GERAKAN MAHASISWA NASIONAL INDONESIA) 1


(Oleh : Rangga Bisma Aditya, S.Sosio) 2

Dalam dunia Gerakan Mahasiswa, utamanya GMNI, pentingnya sebuah langkah


gerak dalam mengimplementasikan ideologi harus menjadi prioritas utama seorang Kader.
Langkah konkret dalam mengimplementasikan Azas Marhaenisme tersebut tidak lepas dari
Kader GMNI yang mempunyai motto Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang, serta memikul
tanggung jawab sebagai seorang Marhaenis yang tidak boleh lepas dari Amanat Penderitaan
Rakyat.3
GMNI lahir dengan cita-cita besar terbentuknya bangsa dengan Konteks melawan
Kolonialisme, Kapitalisme, dan Imperialisme yang tertuang pada Pembukaan UUD 1945.
Kini 59 Tahun sudah GMNI telah menjadi Organisasi yang wajib membela dan mengamalkan
Pancasila 1 Juni 1945 serta senantiasa menjunjung tinggi Kedaulatan Negara dibidang
ekonomi, politik, budaya, pertahanan, dan keamanan. Wajar saja jika Kader GMNI harus
memiliki karakter Gotong Royong, Independen, bersifat bebas aktif, dan berwatak
kerakyatan.4
Dalam melaksanakan perjuangan ideologinya, Kader GMNI harus memahami jika
GMNI adalah Organisasi yang memadukan Marhaenisme sebagai Ideologi dan Azas
Perjuangan serta pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi. 5 Untuk itulah kader dituntut
untuk berjuang dan bergerak bersama rakyat dengan menggunakan pisau analisis Sosio
Nasionalis, merupakan faham nasionalisme Indonesia yang bersifat kemanisuaan dan
internasionalisme, Sosio Demokrasi, yang merupakan fungsi kekuasaan dalam membangun
kesejahteraan rakyat, dan Ketuhanan Yang Maha Esa, yang merupakan cerminan dari nilainilai kearifan lokal yang menjadi budaya atau karakter dari Bangsa Indonesia.
Pemahaman Pisau Analisis tersebut harus disertai oleh azas perjuangan marhaenisme
sendiri. Machtvorming (menggalang atau menyusun kekuatan di segala lapisan masyarakat)
dan Macht-anwending (menggunakan kekuatan sebagai palu godam penghancur sistem
penindas). Non-Kooperasi (tidak memihak salah satu kepentingan politik), Gerakan
Revolusioner (selalu melihat perubahan secara total dan menjadi kesatuan, baik sejarah
hingga masa depan), Massa Aksi (memberikan pemahaman dalam melakukan proses
1

Disampaikan pada Kursus Kader DPC GMNI Kota Surabaya, 28 September 2013.
Penulis adalah Ketua Korda GMNI Jawa Timur 2011-2013 serta Mahasiswa Magister
Sosiologi, FISIP Universitas Airlangga Surabaya.
3
Soekarno, Hilangkan Streliteit Dalam Gerakan Mahasiswa (Konfrensi Besar GMNI,
Kaliurang : 1959).
4
Nilai Dasar Perjuangan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, Pedoman Kaderisasi
DPC GMNI Surabaya 2010-2012.
5
Pengertian Logo GMNI, Silabus Kaderisasi GMNI, 2012.
2

perjuangan kepada rakyat, bukan Aksi Massa), Self Reliance (kepercayaan diri, percaya pada
kekuatan diri sendiri) dan Self Help (memiliki jiwa berdikari).6
Sementara itu disisi yang lain kader harus mampu menunjukkan kelasnya sebagai
seorang intelektual muda yang Progresive Revolusioner. Sehingga sangat jelas jika Kader
GMNI wajib menunaikan Pancalogi GMNI yang berisi tentang Ideologi, Revolusi,
Organisasi, Studi, dan Integrasi7. Ideologi artinya, perjuangan setiap anggota GMNI harus
dilandaskan pada Ideologi yang menjadi Azas dan Doktrin Perjuangan GMNI, sebab ideologi
merupakan acuan pokok dalam penentuan format dan pola operasional pergerakan. Revolusi
artinya, perjuangan setiap anggota GMNI harus berorientasi pada perombakan susunan
masyarakat secara revolusioner. Revolusi bukan berarti pertumpahan darah, tetapi dalam
pengertian pemikiran.
Organisasi artinya, perjuangan GMNI adalah perjuangan yang terorganisir, sesuai
dengan azas dan doktrin perjuangan GMNI. Studi artinya, sebagai organisasi mahasiswa,
maka titik berat perjuangan GMNI adalah pada aspek studi. Amanat Penderitaan Rakyat
harus dijadikan titik sentral dalam pendorong upaya studi ini. Integrasi artinya, Perjuangan
GMNI senantiasa tidak terlepas dari Perjuangan Rakyat Semesta. Sehingga pada
kesimpulannya, setiap Kader GMNI harus selalu berada ditengah-tengah Rakyat yang
berjuang dan selalu mengamalkan ilmu pengetahuan yang dimiliki sebagai seorang
intelektual muda sesuai dengan Marhaenisme.
Implementasi Marhaenisme, Analisis Situasi Nasional
Menurut Sosiolog Christenson, fungsi sebuah ideologi adalah untuk menuntun,
mendukung, mendorong, dan membatasi tindakan-tindakan politik perseorangan, kelompok,
maupun negara.8 Begitupula dalam Marhaenisme, setiap tindakan dan perilaku kader GMNI
sudah seharusnya sesuai dengan nilai ideologi, baik dalam melakukan Analisis Sosial ataupun
dalam melihat Situasi Nasional. Hal inilah yang nantinya akan berguna sebagai inspirasi dari
perjuangan GMNI dalam membela kaum Marhaen yang sampai detik ini belum bisa
dikatakan Merdeka sepenuhnya.
Dalam menganalisis sebuah permasalahan sosial, Kader GMNI harus faham, apa
tujuan dari Marhaenisme itu sendiri. Ibarat teori, Marhaenisme mempunyai metodologi yang
secara kaedah dideskripsikan oleh Soekarno sebagai Materialisme Dialektik dan
Materialisme Historis. Pemikiran Soekarno ini muncul dari akulturasi pemikiran 4 tokoh
Filsafat Kontemporer, Ludwig Feuerbach, Georg Wilhelm Friedrich Hegel, Karl Marx, dan
Frederick Engels.9 Konsep Dialektik (Thesis-Antithesis-Synthesis) adalah yang menjadikan
pemikiran selalu berkembang dan ber-Revolusi. Thomas Kuhn mengatakan dalam konteks
penemuan perkembangan paradigma (cara pandang sebuah permasalahan), jika Paradigma
adalah sebuah ilmu normal, akan tetapi bila terjadi sebuah anomali (kekacauakn tak
6

Doktrin Revolusi Industri, Manipol Usdek. Ir. Soekarno. 1959


Pancalogi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, Pedoman Kaderisasi DPC GMNI
Surabaya 2010-2012.
8
Metodologi Penelitian Agama, M.Rusli Karim, 1990.
9
. Soekarno, Lahirnya Marhaenisme dalam Penyambung Lidah Rakyat, Cindy Adams,
1966.
7

berstruktur), maka muncul-lah sebuah kondisi krisis. Kondisi krisis inilah yang memacu
perkembangan manusia untuk melakukan Revolusi (lihat Revolusi Perancis dan Revolusi
Industri Inggris) dan nantinya akan membentuk sebuah paradigma baru.10 Dalam pemikiran
tersebut, analisis harus didasarkan pada kemampuan Kader, hal ini bisa dimulai dengan
konsep 5W 1H (What, Who, Why, Where, When, dan How).
Konsep Dialetika ini akhirnya disempurnakan oleh Karl Marx melalui pemikiran
Materialisme Dialektiknya. Materialisme diperkenalkan oleh Ludwig Feuerbach pada tahun
1830, dengan penjelasannya bahwa segala sesuatu harus dipandang melalui realitas absolut,
bukan dialektika seperti yang diutarakan oleh Hegel.11 Pertentangan antara pemikiran
Feuerbach dan Hegel yang bertentangan ini kemudian mencoba untuk digabungkan oleh Karl
Marx, hingga terbentuklah Materialisme Dialektik. Materialisme dialektik sendiri adalah
Pemikiran dialektika yang mencoba direalisasikan melalui kondisi nilai dalam masyarakat. 12
Pemikiran yang lain muncul adalah pemikiran Frederick Engels mengenai pemaknaan
Faktor Materialisme Historis. Materialisme Historis sendiri merupakan jawaban untuk
merangkum masa lalu (sejarah), dan membaca atau memprediksi di masa depan. Sehingga
dapat disimpulkan jika dalam perjuangan membela kaum marhaen, kader GMNI senantiasa
melihat Gerakan Masa Lampau untuk dijadikan pedoman dalam menentukan gerakan di masa
kini, dan tentunya masa depan. Sehingga kelak, Metodologi ini disebut dengan Materialisme
Dialektik Historis (MDH).
Albert Humphrey, Sosiolog Australia pada tahun 1970-an menjelaskan, untuk
menjalankan hasil analisis sebuah situasi dan kondisi sosial masyarakat, dapat menggunakan
analisis SWOT, Strengths (Kekuatan), Weaknesses (Kelemahan), Opportunities (Peluang),
Threats (Ancaman).13 Tentunya analisis ini harus dibarengi dengan pembacaan situasi, baik
situasi nasonal maupun internasional, yang didapat analisator dari berbagai referensi sehingga
langkah gerak dapat dikonstruksikan sebagai sebuah perjuangan ideologi.
Baik 5W 1H, MDH, dan SWOT sangat berfungsi untuk menganalisis perkembangan
situasi nasional, misalkan saja pada kasus Pengelolaan Konflik Pertambangan. Kader GMNI
harus tahu apa penyebab konflik, siapa yang terlibat konflik, kapan konflik itu terjadi, dimana
konflik itu terjadi, mengapa konflik itu terjadi, dan bagaimana proses konflik akan berjalan.
Hal ini akan berguna untuk membuat peta sementara mengenai Gerakan apa yang harus
dilakukan oleh para Kader GMNI.
Setalah para kader GMNI tuntas membaca situasi tersebut, Materialisme Dialektik
Historis digunakan. Perubahan sosial tidak pernal berjalan statis, tapi berjalan secara dinamis,
termasuk pada pengelolaan konflik. Disinilah kader GMNI harus memahami data-data mulai
dari Situasi Nasional, Konstelasi Poltik, Resource Ekonomi dan Budaya, serta Produk Hukum
yang berlaku. Selain itu Kader GMNI harus memahami jika Manusia adalah Makhluk Homo
10

Sosiologi Ilmu Berparadigma Ganda, George Rietzer. 1985.


Van A. Harvey. et.al.. Ludwig Feuerbach and the Interpretation of Religion. 1997.
12
Pemikiran Karl Marx : Dari Utopis ke Perselisihan Revisionisme, Franz Magnis-Susesno,
Gramedia, 1999.
13
History of SWOT Analysis, Tim Fiesner, 2000.
11

Conflictus, artinya manusia akan terus menerus berkonflik dalam segala situasi utamanya
dalam memperebutkan segala potensi sumber daya yang ada.14 Dalam situasi ini kita harus
melihat beberapa resolusi penanganan konflik dan mempunyai sejarah referensi konflik
kontemporer. Sehingga pada garis perjuangan, Kekuatan GMNI, Kelemahan GMNI,
Kesempatan GMNI, dan Ancaman GMNI dapat dipetakan dalam memperjuangkan
masyarakat pada studi kasus pengelolaan konflik pertambangan tersebut.
Di era Globalisasi, kader GMNI senantiasa harus menjaga eksistensi gerakan.
Eksistensi inilah yang nantinya menjelaskan jika Manusia itu ada karena perjuangan, tanpa
perjuangan Manusia akan tenggelam dan digilas oleh jalannya sejarah. Dalam Filsafat Jawa
disebutkan, Ngelmu Iku Kelakone Kanthi Laku. Apa arti sebuah ideologi tanpa implementasi,
apa fungsi ilmu tanpa perilaku, dan apa guna pengetahuan tanpa tindakan. 15 Sama halnya
dengan Marhaenisme, apa guna gerakan tanpa perbuatan, apa guna perbuatan tanpa
pemikiran, dan apa guna pemikiran tanpa implementasi. Niscaya tanpa adanya implementasi,
marhaenisme hanyalah ideologi yang hanya digunakan untuk mengecat langit, begitupula
gerakan akan percuma bila tidak memiliki pisau analisis ideologi (Marhaenisme).

===========================================

SAMENBUNDELING VAN ALLE REVOLUTIONAIRE KRACHTEN


(KESATUAN DARI KEKUATAN REVOLUSI)

14
15

Sosiologi Konflik dan Isu-Isu Konflik Kontemporer, Novri Susan, 2008.


Filsafat Jawa, Menggali Butir-Butir Kearifan Lokal, Heniy Astitanto, 2012.