Anda di halaman 1dari 15

PEMILIHAN DIKSI DAN PENULISANNYA

Disusun oleh :
Rei Remanso

(135100600111015)

Hesty Marsha Labora

(135100600111017)

Jaka Mahadika Permana Putra

(135100600111019)

Astriviana Santiari

(135100600111021)

Rochima Nisaa Il Firdaus

(135100600111023)

Eliza Fazira

(135100600111025)

Tsalis Wahyu Fiqri Najmiyah

(135100600111027)

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Bahasa terbentuk dari beberapa tataran gramatikal, yaitu dari tataran terendah sampai

tertinggi adalah kata, frase, klausa, kalimat. Ketika anda menulis dan berbicara, kata adalah
kunci pokok dalam membentuk tulisan dan ucapan. Maka dari itu kata-kata dalam bahasa
Indonesia harus dipahami dengan baik, supaya ide dan pesan seseorang dapat dimengerti
dengan baik. Kata-kata yang digunakan dalam komunikasi harus dipahami dalam konteks
alinea dan wacana. Tidak dibenarkan menggunakan kata-kata sesuka hati, tetapi yang harus
mengikuti kaidah-kaidah yang benar.
Memang

harus

diakui,

kecenderungan

orang

semakin

mengesampingkan

pentingnya penggunaan bahasa, terutama dalam tata cara pemilihan kata atau diksi. Terkadang
kita pun tidak mengetahui pentingnya penguasaan bahasa Indonesia yang baik dan yang
benar,

sehingga

ketika

kita

berbahasa,

baik

lisan

maupun

tulisan,

sering mengalami kesalahan dalam penggunaan kata, frasa, paragraf, dan wacana. Pemilihan
kata yang tepat merupakan sarana pendukung dan penentu keberhasilan dalam berkomunikasi.
Tidak dapat disangkal bahwa dalam penggunaan kosa kata adalah bagian yang sangat
penting dalam dunia perguruan tinggi. Prosesnya mungkin lamban dan sukar, tapi orang akan
merasa lega dan puas sebab tidak akan sia-sia semua jerih payah yang telah diberikan.
Manfaat dari kemampuan yang diperolehnya itu akan lahir dalam bentuk penguasaan terhadap
pengertian-pengertian yang tepat bukan sekedar mempergunakan kata-kata yang hebat tanpa
isi. Dengan pengertian-pengertian yang tepat itu, kita dapat pula menyampaikan pikiran kita
secara sederhana dan langsung.
Agar tercipta suatu komunikasi yang efektif dan efisien, pemahaman yang baik dalam
penggunaan diksi atau pemilihan kata dirasakan sangat penting, bahkan mungkin vital,
terutama untuk menghindari kesalahpahaman dalam berkomunikasi. Diksi atau pilihan kata
dalam praktik berbahasa sesungguhnya mempersoalkan kesanggupan sebuah kata dapat juga
frasa atau kelompok kata untuk menimbulkan gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca
atau pendengarnya.

1.2.

Rumusan Masalah
Adapun perumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.

1.3.

Apa yang dimaksud dengan diksi?


Apa saja macam-macam diksi?
Bagaimana pembagian makna kata?
Apa penyebab kesalahan pemakaian gabungan kata dan kata?

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mahasiswa mampu mengetahui pengertian diksi.
2. Mahasiswa mampu mengetahui bagaimana pembagian makna kata.
3. Mahasiswa mampu mengetahui penyebab kesalahan pemakaian gabungan kata dan
kata.
4. Mampu menggunakan bahasa yang tepat dalam berkomunikasi

1.4.

Ruang Lingkup
Adapun ruang lingkup dalam pembahasan makalah ini meliputi pengertian diksi atau

pilihan kata, syarat-syarat ketepatan diksi, gaya bahasa dan idiom. Pemilihan kata yang tepat
merupakan sarana pendukung dan penentu keberhasilan dalam berkomunikasi.
1.5.

Metode Penulisan
Metode penulisan makalah ini adalah kajian pustaka, yakni dengan mengkaji buku-buku

yang sesuai dengan topik.

BAB II
PEMBAHASAN
Diksi : Pengertian dan Macam-Macamnya
Diksi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Departemen Pendidikan
Indonesia adalah pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk
mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan). Fungsi
dari diksi antara lain :

Membuat pembaca atau pendengar mengerti secara benar dan tidak salah paham

terhadap apa yang disampaikan oleh pembicara atau penulis.


Untuk mencapai target komunikasi yang efektif.
Melambangkan gagasan yang di ekspresikan secara verbal.
Membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat (sangat resmi, resmi, tidak resmi)

sehingga menyenangkan pendengar atau pembaca.


Mencegah perbedaan penafsiran dan salah pemahaman.

Syarat- syarat ketetapan pilihan kata:


1. Membedakan makna denotasi dan konotasi yang cermat.
2. Membedakan secara cermat makna kata yang hampir bersinonim, misalnya:
adalah, ialah, merupakan, yaiu, dalam pemakaiannya berbeda-beda.
3. Membedakan makna kata secara cermat kata yang mirip ejaannya, misalnya:
inferensi (kesimpulan), dan interferensi (saling mempengaruhi), sarat (penuh,
bunting) dan syarat (ketentuan).
4. Tidak menafsirkan makna kata secara subjektif berdasarkan pendapat sendiri, jika
pemahaman belum dapat dipastikan, pemakaian kata harus menemukan makna
yang tepat dalam kamus, misalnya: modern sering diartikan secara subjektif
canggih menurut kamus modern berarti terbaru atau mutakhir, canggih berarti
banyak cakap, suka menggangu, banyak mengetahui, bergaya intelektual.
5. Menggunakan imbuhan asing (jika diperlukan) harus memahami maknanya secara
tepat, misalnya: dilegalisir seharusnya dilegalisasi, koordinir seharusnya
6.

koordinasi.
Menggunakan kata-kata idomatik berdasarkan susunan (pasangan) yang benar,

misalnya: sesuai bagi seharusnya sesuai dengan.


7. Menggunakan kata umum dan khusus secara cermat. Untuk mendapatkan
pemahaman yang spesifik karangan ilmiah sebaiknya menggunakan kata khusus
ke umum misalnya mobil ( kata umum) , corolla (sedan buatan Toyota).
8. Menggunakan kata yang berubah makna dengan cermat, misalnya : issu (berasal
dari

issue

berarti

publikasi,

kesudahan,

perkara)

isu

(dalam

bahasa

Indonesia berarti kabar yang tidak jelas asal-usulnya, kabarangin, desas-desus).


9. Menggunakan dengan cermat kata bersinonim (pria dan laki-laki, saya dan aku,
serta buku dan kitab), berhomofoni (misalnya : bang dan bank) dan berhomografi
(misalnya : apel buah, apel upacara, buku ruas, buku kitab).
10. Menggunakan kata abstrak (konseptual misalnya : pendidikan, wirausaha dan
pengobatan modern dan kata konkret (kata khus misalnya: mangga, sarapan, dan
berenang).
Selain ketepatan pilihan kata itu, pengguna bahasa harus pula memperhatikan kesesuaian
kata agar tidak merusak makna, suasana, dan situasi yang hendak ditimbulkan, atau suasana
yang sedang berlangsung. Syarat kesesuaian kata:

1. Menggunakan ragam baku dengan cermat dan tidak mencampuradukan


penggunakannya dengan kata tidak baku yang hanya digunakan dalam pergaulan,
misalnya: hakikat (baku), hakekat (tidak baku), konduite (baku), kondite (tidak
baku),
2. Menggunakan kata yang berhubungan dengan nilai sosial dengan cermat,
misalnya: kencing (kurang sopan), buang air kecil (lebih sopan), pelacur (kasar),
tunasusila (lebih halus),
3. Menggunakan kata berpasangan (idiomatuik), dan berlawanan makna dengan
cermat, misalnya: sesuai bagi (salah), sesuai dengan (benar), bukan hanya
melainkan juga (benar), bukan hanya tetapi juga (salah), tidak hanya tetapi juga
(benar),
4. Menggunakan kata dengan nuansa tertentu, misalnya: berjalan lambat, mengesot,
dan merangkak, merah darah; merah hati. Menggukan kata ilmiah untuk karangan
ilmiah, dan komunikasi non ilmiah (surat-meyurat, diskusi umum),
5. Menggunakan kata popular, misalnya: argumentasi (ilmiah), pembuktian
(popular), psikologi (ilmiah), ilmu jiwa (popular).Menghindarkan penggunaan
ragam lisan (pergaulan dalam bahasa tulis), misalnya: tulis, baca, kerja
(bahasalisan),

menulis,

menuliskan,

membaca,

membacakan,

bekerja,

mengerjakan, dikejakan, (bahasa tulis).


Diksi terdiri dari delapan elemen yaitu : fonem, silabel, konjungsi, hubungan, kata benda, kata
kerja, infleksi, dan uterans.

1. Fonem
Sebuah istilah linguistik dan merupakan satuan terkecil dalam sebuah bahasa yang
masih bisa menunjukkan perbedaan makna. Fonem berbentuk bunyi.
2. Silabel
Merupakan sebuah bentuk dari suku kata, dimana merupakan sub fonem yang
ditandai oleh satu puncak kenyaringan bunyi fonem yang terletak pada vokal. Atau satuan
ritmis terkecil dalam suatu arus ujaran atau runtutan dari bunyi ujaran. Satu Silabel
biasanya meliputi satu vokal dan satu konsonan atau lebih. Silabel mempunyai puncak
kenyaringan (Sonoritas) yang utuh pada vokal.
3. Konjungsi

Lebih dikenal sebagai kata sambung, definisinya adalah kata tugas yang
menghubungi dua klausa atau lebih. Jenis-jenis Konjungsi diantaranya adalah:

Konjungsi Antar Klausa yaitu: Konjungsi Koordinatif, Konjungis Subordinatif

dan Konjungsi Korelatif.


Konjungsi Antar kalimat.

4. Infleksi
Pengertiannya adalah suatu proses penambahan Morpheme Infleksional kedalam
sebuah kata yang mengandung indikasi gramatikal seperti jumlah, orang, gender, tenses,
atau aspek, dibandingkan dengan Derivasi menghasilkan kata baru yang diambil dari kata
dasar.
5. Uterans
Merupakan sub elemen dari fungsionalitas Diksi, dan mempengaruhi Diksi
berdasarkan kemampuan bahasa dengan kriteria penggunaan dan pemahaman yang jelas
dan efektif.
Macam macam hubungan makna :
1. Sinonim
Merupakan kata-kata yang memiliki persamaan / kemiripan makna. Sinonim sebagai
ungkapan (bisa berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama
dengan makna ungkapan lain. Contoh: Kata buruk dan jelek, mati dan wafat.
2. Antonim
Merupakan ungkapan (berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya dianggap
kebalikan dari makna /ungkapan lain. Contoh: Kata bagus berantonim dengan kata
buruk; kata besar berantonim dengan kata kecil.
3. Polisemi
Adalah sebagai satuan bahasa (terutama kata atau frase) yang memiliki makna lebih
dari satu. Contoh: Kata kepala bermakna ; bagian tubuh dari leher ke atas, seperti
terdapat pada manusia dan hewan, bagian dari suatu yang terletak di sebelah atas atau
depan, seperti kepala susu, kepala meja,dan kepala kereta api, bagian darberbentuk
bulat seperti kepala, kepala paku dan kepala jarum dan Iain-lain.
4. Hiponim
Adalah suatu kata yang yang maknanya telah tercakup oleh kata yang lain, sebagai
ungkapan (berupa kata, frase atau kalimat) yang maknanya dianggap merupakan
bagian dari makna suatu ungkapan. Contoh : kata tongkol adalah hiponim terhadap
kata ikan, sebab makna tongkol termasuk makna ikan.

5. Hipernim
Merupakan suatu kata yang mencakup makna kata lain.
6. Homonim
Merupakan kata-kata yang memiliki kesamaan ejaan dan bunyi namun berbeda arti.
7. Homofon
Merupakan kata-kata yang memiliki bunyi sama tetapi ejaan dan artinya berbeda.
8. Homograf
Merupakan kata-kata yang memiliki tulisan yang sama tetapi bunyi dan artinya
berbeda.
Pembagian Makna Kata
1. Kata-kata denotatif dan konotatif
1) Makna denotasi adalah makna yang sebenarnya yang sama dengan makna lugas
untuk menyampaikan sesuatu yang bersifat faktual. Makna pada kalimat yang
denotatif tidak mengalami perubahan makna. Contoh kata denotatif :
- membicarakan
- memperlihatkan
- penonton
2) Makna konotasi adalah makna yang bukan sebenarnya yang umumnya bersifat
sindiran dan merupakan makna denotasi yang mengalami penambahan. Contoh
kata konotatif :
- Membahas, mengkaji
- Menelaah, meneliti, menyelidiki
- Pemirsa, pemerhati
2. Kata umum dan kata khusus
a. Makna umum adalah makna yang memiliki ruang lingkup cakupan yang luas dari
kata yang lain.
b. Makna khusus adalah makna yang memiliki ruang lingkup cakupan yang sempit
dari kata yang lain.
Contoh kata umum dan kata khusus
Kata umum

Kata khusus

- Ikan

- Gurame, lele, sepat, dll

- Bunga

- Mawar, ros, melati, dll.

3. Kata makna bersinonim


Kata bersinonim adalah kata yang bentuknya berbeda namun pada dasarnya
memiliki makna yang hampir mirip atau serupa. Dalam penggunaan kata besinonim harus
memilih kata yang tepat dalam kalimat ragam formal. Karena meskipun bersinonim pada
dasarnya memiliki perbedaan dalam konteks penggunaannya. Contoh kata bersinonim :

Cerdas

= cerdik, hebat, pintar.

Besar

= agung, raya

Mati

= mangkat,wafat,meninggal

Ilmu

= pengetahuan

Penelitian

= penyelidikan

4. Kata baku dan non-baku


Kata baku dan non-baku dapat dilihat berdasarkan beberapa ranah, seperti :
a. Ranah finologis
Kata baku yang memiliki kata non-baku karena :
penambahan fonem
Kata baku

Kata non baku

Imbau

Himbau

Andal

Handal

Utang

Hutang

pengurangan fonem
Kata baku

Kata non baku

Terap

Trap

Terampil

Trampil

Tetapi

Tapi

Tidak

Tak

pengubahan fonem
Kata baku

Kata non baku

Telur

Telor

Ubah

Obah

Tampak

nampak

b. Ranah morfologis
Kata baku yang memiliki kata nonbaku karena hasil proses morfologis.
pengurangan fonem
Kata baku

Kata non-baku

Memfokuskan

Memokukan

Memprotes

Memrotes

Memfitnah

Memitnah

pengubahan fonem
Kata baku

Kata non-baku

Mengubah

merubah

penggantian afiks
Kata baku

Kata non-baku

Menangkap

Nangkap

Menatap

Natap

Mengambil

Ngambil

Menahan

Nahan

kelebihan fonem
Kata baku

Kata non-baku

Beracun

Berracun

Beriak

Berriak

Beribu

Berribu

Becermin

Bercermin

c. Ranah leksikon
Kata (frasa) baku yang memiliki kata (frasa) non-baku yang terdapat
dalam ragam percakapan.
Contoh pasangan kata (frasa) baku dan kata (frasa) non-baku sebagai berikut :
Frasa baku

Frasa non-baku

Tidak terlalu

Tidak begitu

Belum masak

Belum matang

Tidak mau

Enggak mau

Hanya nasi

Nasi doang

Selain menggunakan kalimat ragam formal, juga menggunakan ragam


percakapan, contohnya :
Frasa baku

Frasa non-baku

waktu lain

lain waktu

amat besar

besar amat

amat mahal

mahal amat

pertama kali

kali pertama

Dalam kalimat ragam formal, kita sering membuat kata-kata yang maknanya
redundan. Artinya, kata-kata yang di gunakan sudah melebihi makna,
contohnya :
Frasa baku

Frasa non-baku

Sangat pedih

amat sangat pedih, amat pedih

Paling kaya

paling terkaya terkaya

Dalam bahasa indonesia, karena adanya penyerapan bahasa asing atau bahasa
daerah (sanskerta) terdapat pasangan kata baku dan non-baku. Maka harus
memilih dan menggunakan kata serapan yang sudah di bakukan.
Kata baku

Kata non-baku

Apotek

apotik

Asas

azas

Asasi

azasi

Analisis

analisa

5. Penggunaan kata secara tepat


Dalam kalimat ragam formal, kita perlu menggunakan kata-kata secara tepat dalam hal
penggunaan kata depan, seperti :
Kata di seharusnya di gunakan pada, contoh:
Penggunaan kata yang tepat

penggunaan kata yang tidak tepat

Pada siang hari

di siang hari

Pada kita

di kita

Kata ke yang seharusnya di gunakan kepada, contoh:


Penggunaan kata yang tepat

penggunaan kata yang tidak tepat

Kapada kami

ke kami

Kapada kita

ke kita

Kepada ibu

ke ibu

Dalam penggunaan kata depan dan kata penghubung harus digunakan secara tepat,
yang sesuai dengan jenis keterangan dalam jenis kalimat:

Untuk keterangan tempat di gunakan kata di, ke, dari, di dalam, pada.

Untuk keterangan waktu digunakan kata pada, dalam, setelah, sebelum,


sesudah, selama, sepanjang.

Untuk keterangan alat di gunakan kata dengan.

Untuk keterangan tujuan digunakan kata agar, supaya, untuk, bagi, demi.

Untuk keterangan cara digunakan kata dengan, secara, dengan cara, dengan
jalan.

Untuk keterangan penyerta di gunakan kata dengan, bersama, beserta.

Untuk keterangan perbandingan atau kemiripan digunakan kata seperti,


bagaikan,laksana.

Untuk keterangan sebab di gunakan kata karena, sebab.

6. Penulisan kata secara benar

Dalam kalimat ragam formal, harus menuliskan kata secara benar seperti :
- Penulisan kata depan di yang benar adalah di tulis secara terpisah dari kalimat
yang sesudahnya.
- Penulisan kata depan ke yang benar adalah di tulis secara terpisah dari kalimat
yang sesudahnya.
- Penulisan kata depan dari yang benar adalah di tulis secara terpisah dari
kalimat yang sesudahnya.
Selain kesalahan

penulisan

kata

depan

(preposisi),

sering

pula

kesalahan

sebagai berikut :
- penulisan partikel non seperti pada contoh :
penulisan yang benar

penulisan yang salah

Non-Indonesia

non Indonesia

Non-batak

non batak

Nonformal

non formal, non-formal

- penulisan partikel sub seperti pada contoh :


penulisan yang benar

penulisan yang salah

subbab

sub bab, sub-bab

subbagian

sub bagian, sub-bagian

- penulisan pertikel per seperti pada contoh :


penulisan yang benar

penulisan yang salah

per jam

perjam

per bulan

perbulan

per tahun

pertahun

- penulisan kata per


kata per yang memiliki arti menjadikan lebih atau memperlakukannya
sebagai
Penulisan yang benar

penulisan yang salah

Perbesar

per besar

Persingkat

per singkat

Dalam bahasa indonesia, kata pun yang mempunyai arti juga harus dituliskan
secara terpisah dengan kata yang diikutinya
Penulisan yang benar

Penulisan yang salah

aku pun

akupun

sedikit pun

sedikitpun

kata pun pada kata tertentu yakni ungkapan yang sudah padu harus dituliskan
serangkai dengan kata yang diikutinya.
Penulisan yang benar

Penulisan yang salah

meskipun

meski pun

bagaimanapun

bagaimana pun

Dalam kata pasca, bentuk terikat pasca di tulis serangkai dengan kata yang
mengikutinya.
Penulisan yang benar

Penulisan yang salah

pascasarjana

pasca sarjana, pasca-sarjana

pascapanen

pasca panen, pasca-panen

Selain itu dalam penulisan awalan tertentu, seperti :


Penulisan yang benar

Penulisan yang salah

betolak belakang

betolakbelakang

mendarah daging

mendarahdaging

7. Homonim, Homofon, Homograf


a.Homonim
Homo artinya sama, nym berarti nama, jdi homonim adalah sama nama, sama
bunyi tetapi beda makna, contoh : bandar sama dengan pelabuhan, dan dan
pemegang uang dalam perjudian.
b.Homofon
Bunyi atau suara yang mempunyai sama, berbeda tulisan dan berbeda makna
contoh :
Bank : tempat menyimpan uang
Bang : panggilan untuk kakak laki-laki
c.Homograf
Sama tulisan, berbeda bunyi dan berbeda makna, contoh :
Ular kobra itu bisanya mematikan
Aku bisa memastikan ayah tidak akan marah jika aku telat pulang karena
latihan
8. Kata abstrak dan kata konkrit
Kata abstrak berupa konsep
Contoh : kebenaran pendapat itu begitu meyakinkan
Kata konkrit berupa objek yang dapat diamati
Contoh : angka kelulusan SMA tingkat sumatera barat mengalami kenaikan hingga
sembilan persen. Membicarakan membahas, mengkaji

KESALAHAN PEMAKAIAN GABUNGAN KATA DAN KATA


A. Kesalahan Pemakaian Kata yang mana, di mana, daripada
Perhatikan contoh pemakaian di mana, yang mana, daripada yang salah dalam kalimat
ini:

Dalam rapat yang mana dihadiri oleh para ketua RT dan RW


Demikian tadi sambutan Pak Lurah di mana beliau telah menghimbau kita untuk lebih
tekun bekerja.
Kalimat1 (satu) kerap kita dengar dalam aktivitas bermasyarakat kalau kita amati.

Terdapat dua kesalahan dalam pemakaain bentuk gabungan itu, kesalahan pertama, dalam
sebagian kalimat itu terdapat kata yang berlebih atau mubazir yang mengakibatkan
terjadinya polusi bahasa. Kata mana dalam kalimat pertama tidak diperlukan, cobalah
baca kalimat pertama tanpa kata mana, jadi bunyinya berubah seperti ini. Dalam rapat
yang dihadiri oleh para ketua RT dan RW.
Kalimat 2 (dua), pada bagian besar kalimat ini terjadi salah pakai bentuk gabung di
mana tidak boleh dipakai dalam bentuk kalimat. Fungsi di mana dan yang mana bukan
sebagai penghubung klausa-klausa, baik dalam sebuah kalimat maupun penghubung antar
kalimat. Kalimat ini harus dipecah menjadi dua, yaitu :
Demikian tadi sambutan Pak Lurah dan Beliau telah menghimbau kita untuk lebih
tekun dan bekerja

B. Kesalahan Pemakaian Gabungan Kata dengan, di, dan ke


Pemakaian kata dengan dalam kalimat terutama ragam lisan, sering tidak tepat,
perhatikan contoh yang salah berikut ini.
(1) Sampaikan salam saya dengan Dona
(2)

Mari

kita

tanyakan

langsung

dengan

dokter

ahlinya

Kata dengan pada kalimat diatas harus diganti dengan kepada, jika tidak kepada siapa
salam ditujukan. Kata dengan tidak cocok dipakai untuk kalimat diatas karena dengan
dapat berarti bersama. Senada dengan kekeliruan pemakaian kata sambung dengan,
pemakaian yang keliru juga sering terjadi untuk kata depan di dan ke yang seharusnya diisi
oleh kata pada dan kepada. Kata depan di dan ke harus diikuti oleh tempat, waktu,
sedangkan kepada harus diikuti nama/jabatan orang atau kata ganti orang. Contoh:
(1) Buku agendaku tertinggal di rumah Andi
(2) Jangan menoleh ke kiri

(3)

Permohonan

cuti

diajukan

kepada

direktur

C. Kesalahan Pemakaian Kata berbahagia


Dalam pertemuan formal ditengah masyarakat, kita sering mendengar kata berbahagia
dipakai secara keliru oleh pembawa acara dan juga oleh pembicara lain.
Umumnya kata berbahagia itu dimunculkan pada bagian awal suatu acara ketika
pembicara menyapa hadirin, seperti contoh yang keliru berikut ini.
(1) Selamat malam dan selamat dating ditempat yang berbahagia ini
(2) Pada kesempatan yang berbahagia ini, kami mengajak hadirin untuk.
Mengapa pemakaian dalam kalimat 1 dan 2 dikatakan keliru, karena berbahagia bukan
kata sifat. Jika pada kata berbahagia diganti kata sifat misalnya, aman ,indah, bersih, tentu
saja kalimatnya benar.

BAB III
PENUTUP
3.1.

KESIMPULAN
Diksi adalah ketepatan pilihan kata. Penggunaan ketepatan pilihan kata ini dipengaruhi

oleh kemampuan pengguna bahasa yang terkait dengan kemampuan mengetahui,


memahami, menguasai, dan menggunakan sejunlah kosakata secara aktif yang dapat
mengungkapkan gagasan secara tepat sehingga mampu mengkomunikasikannya secara
efektif kepada pembaca atau pendengarnya. Selain kata yang tepat, efektivitas,
komunikasi menuntut persyaratan yang harus dipenuhi oleh pengguna bahasa, yaitu
kemampuan memilih kata yang sesuai dengan tuntutan komunikasi.
Ada tiga hal yang yang dapat kita petik. Pertama, kemampuan memilih kata hanya
dimungkinkan bila seseorang menguasai kosakata yang cukup luas. Kedua, diksi atau

pilihan kata mengandung pengertian upaya atau kemampuan membedakan secara tepat
kata-kata yang memiliki nuansa makna serumpun. Ketiga, pilihan kata mengangkut
kemampuan untuk memilih kata-kata yang tepat dan cocok untuk situasi dan konteks
tertentu.
3.2.

SARAN
Sebagai mahasiswa, perlu sekali mempelajari dan memahami bagaimana penggunaan

diksi yang tepat dan cermat karena seorang mahasiswa itu selalu dibebankan dan berkelut
dengan karya-karya tulis dalam setiap tugas perkuliahannya.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, E. Zainal dan Amran Tasai. 2006. Cermat Berbahasa Indonesia Untuk Perguruan
Tinggi. Cetakan ke-6. Jakarta:Akademika Pressindo.
Daniel Parera, Jos. 1987. Belajar Mengemukakan Pendapat. Jakarta:Erlangga.
Hs, Widjono. 2007. Bahasa Indonesia Mata Kuliah Pengenmbangan Kepribadian di
Perguruan Tinggi. Jakarta:Grasindo.
Keraf, Gorys. 2006. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta:Gramedia.
Mila. 2010. Kaidah Bahasa Indonesia. Yogyakarta:Kanwa Publisher.
Muawanah Siti. 2012. Bahan Ajar Bahasa Indonesia. Palangkaraya:STAIN Palangkaraya.