Anda di halaman 1dari 18

AKHLAK KERJA DAN PROFESI

A. Pembahasan

B.1 kerja dalam Islam


Apa yang dimaksud dengan kerja dalam islam ?
Bekarja adalah segala aktivitas dinamis dan mempunyai tujuan untuk memenuhi kebutuhan
tertentu (jasmani dan rohani), dan di dalamnya tersebut dia berupaya dengan penuh kesungguhan
untuk mewujudkan prestasi yang optimal sebagai bukti pengabdian dirinya kepada Allah SWT.
Namun, tidak semua aktifitas manusia bisa disebut dengan bekerja karena dalam bekerja
terkandung aspek yang harus dipenuhinya secara nalar, yaitu sebagai berikut :
1. Aktivitasnya dilakukan karena ada dorongan untuk mewujudkan sesuatu sehingga
tumbuh rasa tanggung jawab yang besar untuk mewujudkan sesuatu untuk menghasilkan
karya atau produk yang berkualitas. Bekerja bukan hanya sekedar mencari uang, tetapi
ingin mengaktualisasikannya secara optimal dan memilih nilai transdental yang luhur.
2. Apa yang ia lakukan itu karena kesengajaan , sesuatu yang direncanakan . karenanya,
terkandung di dalamnya satu gairah semangat untuk mengerahkan seluruh potensi yang
dimilikinya sehingga apa yang dikerjakannya benar-benar memberikan kepuasan dan
manfaat..
makna bekerja bagi seorang muslim adalah suatu upaya yang sungguh-sungguh, dengan
mengerahkan seluruh aset, pikiran, dan dzikirnya untuk mengaktualisasikan atau benampakkan
arti dirinya sebagi hamba Allah yang harus menundukan dunia dan menempatkan dirinya sebagai
bagian dari masyarakat yang terbaik (khairuummah) atau dengan kata lain dapat Juga kita
katakan bahwa hanya dengan bekerja manusia itu memanusiakan dirinya.
B.Akhlak sebagai teras pembentukan Etika kerja
Akhlak (etika) kerja dalam Islam sebenarnya bermula dengan konsep dan pandangan Islam
terhadap kerja itu sendiri. Apabila kita berakhlak ini bermakna kita faham akan konsep kerja

dalam Islam sebagai jambatan menuju ke akhirat. Bekerja untuk mendapat pahala di sisi Allah
SWT. Bahkan kepentingannya dilihat dapat membimbing para pekerja ke arah

melakukan

kebaikan dan menjauhi daripada segala kemungkaran. Namun begitu, berapa ramai di antara kita
memilih untuk melakukan pekerjaan mengikut pandangan hidup Islam? Di kala itulah perlunya
seseorang memiliki kefahaman dan kesadaran keagamaan terutama di dalam konsep kerja bagi
membimbing mereka menjauhi pekerjaan yang dilarang oleh Allah SWT.
Kita bimbang jika wujudnya kejahilan umat Islam tentang peri pentingnya akhlak yang mulia
sebagai matlamat beragama, ini akan membuka jalan bagi mereka untuk melakukan perkaraperkara yang bertentangan dengan ajaran murni yang terkandung dalam al-Quran dan sunnah
Nabi Muhammad SAW.
Akhlak merupakan teras kepada pembentukan etika kerja seseorang. Akhlak mulia yang dimiliki
oleh seseorang pekerja maupun ketua menjadi lambang ketinggian pribadi dan kualitas individu
terbaik. Ini bermakna apabila seseorang itu mempunyai akhlak yang baik maka, mereka akan
melakukan pekerjaan dengan mengikut tuntutan Islam.

Salah satunya berakhlak dalam

melakukan kerja dengan bersungguh-sungguh (itqan). Pekerjaan yang dilakukan dengan


bersungguh-sungguh akan tergolong dalam amalan kebajikan. Sesungguhnya Allah suka apabila
seseorang itu melakukan sesuatu kerja itu dengan tekun ( Riwayat Al-Baihaqi)
Dalam hadis ini, menekankan supaya seseorang yang mempunyai akhlak yang baik perlu
melakukan sesuatu pekerjaan dengan kemahiran dan ketekunan yang tinggi. Seseorang yang
mempunyai akhlak (etika) tidak akan bekerja sambil lewat atau bertanguh-tangguh dalam
menyiapkan tugasannya. Meskipun kerja itu dianggap membosankan tetapi apabila pekerja itu
mempunyai akhlak dan anggapan yang baik terhadap kerja yang dilakukan maka kerja tersebut
tidak dianggap sebagai beban.

Dalam hal ini, kerja yang dilakukan akan dibuat secara

bersungguh-sungguh tanpa rasa jemu. Kerja yang bersungguhsungguh ini akan dilakukan
untuk mendapatkan hasil yang berkualitas. Bahkan ia juga dilakukan dengan sebaik yang
mungkin bukan sekadar melepas batuk ditangga. Jika terdapat kesulitan semasa melaksanakan
tugasnya, pekerja itu akan terus berusaha mencari jalan penyelesaian dan tidak mudah putus asa
atau mengaku kalah.
Begitu juga dengan amanah diri pekerja. Amanah merupakan akhlak yang perlu dipelihara oleh
setiap pekerja sebagai teras keharmonian dan kejayaan sebuah organisasi. Amanah sangat berat

dan ia perlu disampaikan dengan benar dan jujur. Kejujuran dapat dilihat apabila seseorang
pekerja itu melakukan tugas sepertimana yang diarahkan oleh ketua atau majikannya mengikut
garis panduan yang ditetapkan dan tidak sama sekali melanggar batas syarak. Sekiranya amanah
dilakukan di luar batas syarak maka pekerja itu boleh dianggap sebagai khianat serta tidak
berakhlak. Oleh sebab itu, amanah itu perlu dipikul dan dijaga dengan baik. Begitu juga amanah
dalam menjaga peralatan dan kemudahan milik pejabat atau organisasi. Sebagai contoh peralatan
seperti telepon, mesin fotokopi, kereta pejabat, pencetak dan lain-lain untuk keperluan pejabat
perlu dimanfaatkan dan digunakan untuk tujuan penyempurnaan tugas semata-mata; bukan
sebaliknya.
Selain itu, akhlak (etika ) kerja ini juga mempunyai hubungan rapat dengan faktor masa atau
bijak mengurus masa. Di jelaskan dalam Q.SAl-Asr Ayat 1-3

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu senantiasa dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang
beriman dan beramal shaleh dan berwasiat (nasihat-menasihati) dengan kebenaran dan berwasiat
dengan kesabaran." (Surah Al-Asr Ayat 1-3).
Imam Hassan Al-Banna menyatakan masa ibarat nyawa. Bagaimana seseorang
menghargai nyawa yang ada padanya maka begitulah dia menghargai masa.
Begitu juga bagi seseorang pekerja amat perlu dititikberatkan soal menjaga masa karena salah
satu faktor kejayaan dalam pekerjaan adalah pengurusan masa yang berkesan dan cukup.
Pengurusan masa yang cukup dapat membantu meringankan beban tugas di samping
memudahkan segala urusan kerja.
Akhir sekali, akhlak (etika) kerja juga perlu ditekankan dalam aspek menjaga hubungan sesama
teman sekerja. Hubungan ini penting dalam mewujudkan perserikatan kerja yang baik dan
menyenangkan bukan membina permusuhan. Apabila hak sesama teman dijaga dengan baik
maka ia akan dapat mewujudkan perserikatan kerja yang baik. Perserikatan kerja yang baik
dapat dilihat apabila pekerja saling tegur menegur, memberi senyuman dan bertanya akan khabar.

Hubungan yang baik ini juga akan mewujudkan semangat bekerjasama, saling bantu-membantu,
bertukar-tukar fikiran, bersangka baik, nasihat menasihati dan sebagainya. Sebaliknya, sikap dan
nilai buruk seperti iri hati, hasut-menghasut dan berprasangka buruk perlu dijauhi serta
dihapuskan bagi seseorang agar tidak terjadi ketidaksefahaman di tempat kerja.
Allah telah menanggung rezeki bagi setiap makhluk yang ada di muka bumi ini , sebagaimana
firmannya :

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya,
dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis
dalam Kitab yang nyata (Lauhmahfuzh). (Q.S Hud ayat: 6)
Namun disisi lain , Allah menyatakan bahwa Allah tidak akan mengubah kondisi seseorang
selama orang (umat) tersebut tidak merubahnya sendiri ( Q.S Al-Raad : 11) hal itu bisa diartikan
bahwa walaupun Allah telah menyediakan rezeki bagi manusia dan segenap makhluk yang ada di
dunia ini, namun rezeki yang telah tersedia itu akan didapatkan lewat jalan bekerja dan berdoa.
Dari pernyataan itulh , secara implisit Allah menyatakan bahwa setiap manusia harus mencari
rezeki dengan jalan bekerja dan beraktivitas. Islam memberikan apresiasi yang tinggi terhadap
seorang muslim yang gigih bekerja, dan sebaliknya, akan membenci setiap muslim yang
bermalas-malasan. Apresiasi dan penghargaan yang tinggi kepada orang / muslim yang bekerja
itu ditunjukkan dengan prinsip-prinsip sebagai berikut :
1. Perintah untuk giat bekerja setelah selesainya ibadah. Allah berfirman :

apabila telah ditunaikan salat , maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia
Allah dan ingatlah banyak-banyak supaya kamu beruntung ( Q.S Al-jumuah :10 )

Perintah Allah itu memberikan 2 pelajaran penting : pertama , setiap selesai ibadah harus
bekerja mencari apa yang dianugerahkan Allah. Ibadah saja tidak cukup, hanya berdoa dan
meminta kepada Allah tidak cukup, meminta rezeki tetapi tidak berbuat dan bekerja untuk
mencarinya adalah suatu sikap yang tidak ada tuntunannya. Kedua, dalam bekerja haruslah
didasari dengan ibadah dan dan ingat kepada Allah, sehingga banyaknya rezeki dan kesibukan
yang tinggi tidak akan menggoyahkan iman dan menjadi seseorang berfikiran materialistis.
2. Perintah untuk selalu beraktivitas, dan dilarang kosong (menganggur) . Allah berfirman
dalam AL-Quran :

maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh
(urusan) yang lain. (Q.S Alam Nasyrah (94) : 7 )
Ayat ini menunjukkan bahwa waktu kosong itu tidak baik. Dalam sebuiah pepatah bahas Arab
dikatakan : Al-faraghmafsadah ( kekosongan itu adalah kerusakan ). Di lain kesempatan Allah
juga memerintahkan Nabi Muhammad Saw agar menyuruh kaumnya beraktivitas ( bekerja )
sesuai dengan keadaanyaasing-masing , yakni dalam Q.SAz-zumar [39]:39

Katakanlah: "Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan bekerja
(pula), maka kelak kamu akan mengetahui, Q.SAz-zumar [39]:39

3. Larangan meminta-minta
Dalam sebuah hadis dikatakan bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.
Lebih baik bekerja, meskipun pekerjaan itu oleh orang orang dinilai sebagai pekerjaan
kasar. Dan sebaik baiknya hasil adalah yang diperoleh dengan karyanya sendiri.
Sebagaimana dalam sebuah hadis.

Yang artinya abu hurairahr.a berkata : Rasulullah SAW bersabda : demi sekiranya salah
seorang dari kamu itu pergi mencari kayu bakar dan dipikul di atas punggungnya, lebih
baik daripada meminta minta kepada orang orang , baik diberi atau ditolak. ( HR.
Bukhari muslim ). ( Yahya bin Syaraf An-Nawawiy 1987 : 454 ).
4. Di dalam berusaha seorang muslim tidak boleh berputus asa bila menemui kegagalan dan
kesulitan.
Berputus asa adalah tindakan yang biasa dilakukan oleh orang-orang kafir . budaya kerja
bukan hanya sekedar sisipan atau perintah sambil lalu, tetapi menempatkannya sebagai
tema sentral dalam pembangunan umat, karena untuk mewujudkan suatu pribadi dan
masyarakat yang tangguh hanya dimungkinkan apabila penghayatan terhadap esensi
bekerja dengan segala kemuliaannya dikajikan sebagai pokok kajian bagi setiap muslim,
sehingga akan tercipta budaya yang khas ini dalam setia kehidupan muslim 1.
Hanya pribadi-pribadi yang menghargai nilai kerja yang kelak akan mampu menjadikan
masyarakatnya sebagai masyarakat yang tangguh, dan sebaliknya, pribadi yang malas dan
bermental pengemis hanyalah akan mengorbankan masyarakat dan bahkan generasinya
sebagai umat yang terbelakang, terjajah, dan terbelenggu dalam kategori bangsa yang
memiliki nilai kerja kelas teri, tidak mempunyai wibawa, , Seorang insan minimal sekali
diharuskan untuk dapat memberikan nafkah kepada dirinya sendiri, dan juga kepada
keluarganya.

Dalam Islam terdapat banyak sekali ibadah yang tidak mungkin dilakukan tanpa biaya &
harta, seperti zakat, infak, shadaqah, wakaf, haji dan umrah. Sedangkan biaya/ harta tidak
mungkin diperoleh tanpa proses kerja. Maka bekerja untuk memperoleh harta dalam
rangka ibadah kepada Allah menjadi wajib. Kaidah fiqhiyah mengatakan :

Suatu kewajiban yang tidak bisa dilakukan

melainkan dengan pelaksanaan sesuatu, maka

sesuatu itu hukumnya wajib.

1. Niat Ikhlas Karena Allah SWT



1

Artinya ketika bekerja, niatan utamanya adalah karena Allah SWT sebagai kewajiban dari Allah
yang harus dilakukan oleh setiap hamba. Dan konsekwensinya adalah ia selalu memulai aktivitas
pekerjaannya dengan dzikir kepada Allah. Ketika berangkat dari rumah, lisannya basah dengan
doa bismillahitawakkaltualallah.. la haulawalaquwwataillabillah.. Dan ketika pulang ke
rumahpun, kalimat tahmid menggema dalam dirinya yang keluar melalui lisannya.

2 iqtan,

sungguh-sungguh dan profesional dalam bekerja


Syarat kedua agar pekerjaan dijadikan sarana mendapatkan surga dari Allah SWT adalah
profesional, sungguh-sungguh dan tekun dalam bekerja.
Diantara bentuknya adalah, tuntas melaksanakan pekerjaan yang diamanahkan kepadanya,
memiliki keahlian di bidangnya dsb.
Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda


( )
Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang apabila ia bekerja, ia menyempurnakan
pekerjaannya. (HR. Tabrani )

2. sikap Jujur & Amanah



Karena pada hakekatnya pekerjaan yang dilakukannya tersebut merupakan amanah, baik secara
duniawi dari atasannya atau pemilik usaha, maupun secara duniawi dari Allah SWT yang akan
dimintai pertanggung jawaban atas pekerjaan yang dilakukannya. jujur dan amanah dalam
bekerja diantaranya adalah dengan tidak mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya, tidak
curang, obyektif dalam menilai, dan sebagainya. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda:


( )

Seorang pebisnis yang jujur lagi dapat dipercaya, (kelak akan dikumpulkan) bersama para nabi,
shiddiqin dan syuhada. (HR. Turmudzi)

3. Menjaga Etika Sebagai Seorang Muslim



Bekerja juga harus memperhatikan adab dan etika sebagai seroang muslim, seperti etika dalam
berbicara, menegur, berpakaian, bergaul, makan, minum, berhadapan dengan customer, rapat,
dan sebagainya. Bahkan akhlak atau etika ini merupakan ciri kesempurnaan iman seorang
mumin.
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda :

)
Sesempurna-sempurnanya keimanan seorang mumin adalah yang paling baik akhlaknya (HR.
Turmudzi)

4. Tidak Melanggar Prinsip-Prinsip Syariah



Aspek lain dalam etika bekerja dalam Islam adalah tidak boleh melanggar prinsip-prinsip syariah
dalam pekerjaan yang dilakukannya.
Tidak melanggar prinsip syariah ini dapat dibagi menjadi beberapa hal :
Pertama dari sisi dzat atau substansi dari pekerjaannya, seperti memporduksi tidak boleh barang
yang haram, menyebarluaskan kefasadan (seperti pornografi), mengandung unsur riba, maysir,
gharar dsb.

Kedua dari sisi penunjang yang tidak terkait langsung dengan pekerjaan, seperti risywah,
membuat fitnah dalam persaingan, tidak menutup aurat, ikhtilat antara laki-laki dengan
perempuan, dsb.



Hai orang-orang yang beriman, ta`atlah kepada Allah dan ta`atlah kepada rasul dan janganlah
kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu. (QS. Muhammad, 47 : 33)

5. Menghindari Syubhat

Dalam bekerja terkadang seseorang dihadapkan dengan adanya syubhat atau sesuatu yang
meragukan dan samar antara kehalalan dengan keharamannya. Seperti unsur-unsur pemberian
dari pihak luar, yang terdapat indikasi adanya satu kepentingan terntentu. Atau seperti bekerja
sama dengan pihak-pihak yang secara umum diketahui kedzliman atau pelanggarannya terhadap
syariah. Dan syubhat semacam ini dapat berasal dari internal maupun eksternal.
Oleh karena itulah, kita diminta hati-hati dalam kesyubhatan ini. Dalam sebuah hadits Rasulullah
SAW bersabda, Halal itu jelas dan haram itu jelas, dan diantara keduanya ada perkaraperkara yang syubhat. Maka barang siapa yang terjerumus dalam perkara yang syubhat, maka
ia terjerumus pada yang diharamkan (HR. Muslim)
.
1. Hasad (Dengki)
Hasad atau dengki adalah suatu sifat, yang sering digambarkan oleh para ulama dengan
ungkapan "senang melihat orang susah, dan susah melihat orang senang." Sifat ini sangat
berbahaya, karena akan "menghilangkan" pahala amal shaleh kita dalam bekerja.Dalam sebuah
hadits Rasulullah SAW bersabda :

Dari Abu Hurairahra berkata, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, Jauhilah oleh kalian
sifat hasad (iri hati), karena sesungguhnya hasad itu dapat memakan kebaikan sebagaimana api
melalap kayu bakar. (HR. Abu Daud)
2. Saling bermusuhan
Tidak jarang, ketika orang yang sama-sama memiliki ambisi dunia berkompetisi untuk
mendapatkan satu jabatan tertentu, atau ingin mendapatkan "kesan baik" di mata atasan, atau
sama-sama ingin mendapatkan proyek tertentu, kemudian saling fitnah, saling tuduh, lalu saling
bermusuhan. Jika sifat permusuhan merasuk dalam jiwa kita, dan tidak berusaha kita hilangkan,
maka akibatnya juga sangat fatal, yaitu bahwa amal shalehnya akan "dipending" oleh Allah
SWT, hingga mereka berbaikan.Dalamhadits lain Rasulullah SAW bersabda :
Dari Abu Hurairahra berkata,bahwa Rasulullah SAW bersabda, Pintu-pintu surga dibuka pada
hari senin dan kamis, maka pada hari itu akan diampuni dosa setiap hamba yang tidak
menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, kecuali seseorang yang sedang bermusuhan dengan
saudaranya sesama muslim, maka dikatakan kepada para malaikat, Tangguhkan dua orang ini
sampai mereka berbaikan. (HR. Muslim).
3. Berprasangka Buruk
Sifat inipun tidak kalah negatifnya. Karena ambisi tertentu atau hal tertentu, kemudian
menjadikan kita bersu'udzon atau berprasangka buruk kepada saudara kita sesama muslim, yang
bekerja dalam satu atap bersama kita, khususnya ketika ia mendapatkan reward yang lebih baik
dari kita. Sifat ini perlu dihindari karena merupakan sifat yang dilarang oleh Allah & Rasulullah

SAW, di samping juga bahwa sifat ini merupakan pintu gerbang ke sifat negatif lainnya. Dalam
sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda :
Dari Abu Hurairahra berkata, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, Jauhilah oleh kalian
prasangka buruk, karena sesungguhnya prasangka buruk itu adalah sedusta-dustanyaperkataan.
Dan janganlah kalian mencari-cari berita kesalahan orang lain, dan janganlah kalian mencari-cari
kesalahan orang lain, dan janganlah kalian saling mementingkan diri sendiri, dan janganlah
kalian saling dengki, dan janganlah kalian saling marah, dan jangan lah kalian saling memusuhi
dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersudara. (HR. Muslim)
4. Sombong
Di sisi lain, terkadang kita yang mendapatkan presetasi sering terjebak pada satu bentuk
kearogansian yang mengakibatkan pada sifat kesombongan. Merasa paling pintar, paling
profesional, paling penting kedudukan dan posisinya di kantor, dsb. Kita harus mewaspadai sifat
ini, karena ini merupakan sifatnya syaitan yang kemudian menjadikan mereka dilaknat oleh
Allah SWT serta dijadikan makhluk paling hina diseluruhjagad raya ini. Sifat ini pun sangat
berbahaya, karena dapat menjadikan pelakunya diharamkan masuk ke dalam surga
(na'udzubillah min dzalik). Dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW bersabda :

5. Namimah (mengadu domba)


Indahnya dunia terkadang membutakan mata. Keingingan mencapai sesuatu, meraih kedudukan
tinggi, memiliki gaji yang besar, tidak jarang menjerumuskan manusia untuk saling fitnah dan
adu domba. Sifat ini teramat sangat berbahaya, karena akan merusak tatanan ukhuwah dalam
dunia kerja. Di samping itu, sifat sangat dimurkai oleh Allah serta dibenci Rasulullah
SAW.Dalam sebuah haditsrasulullah bersabda :
Dari Hudzaifahra berkata bahwa Rasulullah SAW bersbada, Tidak akan masuk surga sesroang
yang suka mengadu domba. HR Bukhari Muslim)
Masih banyak sesungguhnya sifat-sifat lain yang perlu dihindari. Namun setidaknya kelima
ranjau berbahaya tadi, dapat menggugah kita untuk menjauhi segala ranjau-ranjau berbahaya
lainnya khususnya dalam kehidupan dunia kerja. Jadi, sekarang bekerjalah dengan niat ikhlas,
hiasi dengan sifat-sifat positif dan songsonglah hari esok dengan penuh kegemilangan serta
keridhaan dari Allah SWT.2
B.4 Akhlak profesi

Setelah dibahas tentang bagaimana etos kerja itu mempunyai akar yang kuat dalam ajaran islam,
maka adanya akhlak yang harus ditegakkan dalam bekerja tersebut, atau yang sering disebut
dengan etika profesi(akhlak profesi).
Profesi merupakan pekerjaan yang bernilai positif, mendapatkan hasil dan sesuai dengan
keahliannya. Mengapa harus sesuai keahliannya? Karena Nabi Saw pernah bersabda, kira-kira
isinya begini : "Barangsiapa menyerahkan pekerjaan kepada seseorang yang bukan ahlinya,
maka tunggulah kehancurannya"
Dalam islam, diatur dengan jelas tentang bagaimana sebuah pekerjaan yang harus dijalani dan
dilakukan . islam mempunyai garis yang tegas dan jelas tentang akhlak produksi dan sekaligus
akhlak konsumsi.

1. Meletakkan kerja sebagai sebuah amalan soleh yang dilakukan dalam konteks dan tahap
yang runtut atas iman, ilmu dan amal. Karena itulah, maka kerja bernilai ibadah. Dari
sinilah , maka seorang muslim akan memandang kerja dengan dua pandangan.

Pertama, sebagai suatu aktivitas yang bernilaai ibadah

Kedua, sebagai sebuah aktivitas untuk memperoleh keuntungan finansial.


Karena itu, bagi seorang muslim, kegagalan dalam memperoleh finansial tidak boleh
menjadikan keputusasaan , karena itu hanyalah merupakan salah satu aspek dari kerja
tersebut.

2. menunaikan kerja sebagai suatu perintah amalan yang harus dilakukan secara
profesional . dikatakan sebagai amanah pada hakikatnya setiap waktu, kesempatan, dan
aktivitas, akan diminta pertanggung jawabannya oleh Allah. Dengan memahami hal ini,
dalam melakukan sebuah pekerjaan seseorang tidak boleh melakukan seenaknya ataupun
asal-asalan. Setiap kerja haruslah dilakukan dan dikelola dengan Management yang baik.
Islam sama sekali tidak menginginkan bahwa seorang muslim melakukan kerja hanya
sepenuhnya digantungkan kepada Allah dengan mengbaikan ikhtiar dan usaha.
Sebaliknya, ada kerinduan pada dirinya untuk mencapai hasil yang seoptimal mungkin
dan malu apabila pekerjaanya tidak dilaksanakan dengan baik karena itu merupakan salah
satu bentuk pengkhianatan kerja . karena itulah , profesionalisme dan kesempurnaan
adalah nilai yang dikehendaki oleh islam.
3. Melakukan kerja dengan wawasan masa depan dan wawasan ukhrawi. Artinya, dalam
melakukan kerja, seseorang harus mengingat kepentingan hari depannya. Sehingga,
dalam bekerja tidak hanya menggunakan kesempatan untuk mencari kepentingan pribadi
sebanyak mungkin dengan melakukan apa kelanjutannya dihari depan, kerugi Rugian
dan resikonya. Karena bisa jadi keuntungan akan banyak didapat, tetapi orang lain akan
merasakan akibatnya. Sikap biasa ini disebut dengan oportunistik
B.5 Ciri-ciri orang yang berakhlak pada pekerjaan maupun profesi

Orang yang mempunyai dan menghayati akhlak Kerja akan tampak dalam kehidupannya
yang dilandaskan pada suatu keyakinan yang sangat mendalam bahwa pekerja itu ibadah
dan berprestasi itu indah. Ciri-ciri itu diantaranya :
1. Mereka kecanduan terhadap waktu
Salah satu esensi dan hakikat, dari akhlak bekerja adalah cara seseorang menghayati,
memahami, dan merasakan betapa berharganya waktu, satu detik berlalu waktu tidak
mungkin akan kembali. Waktu merupakan deposito yang berharga yang
dianugerahkan Allah secara gratis dan merata kepada setiap orang baik kaya maupun
miskin. Yaitu, 24jam atau 1.440menit atau 86.400detik setiap hari. Pada waktu ini
merupakan sehelai kertas kehidupan yang harus ditulis dengan deretan kalimat kerja
dan prestasi. Dia akan merasakan kehampaan yang luar biasa apabila waktu yang
dilaluinya tidak diisi dengan kreasi, kalimat kerjanya terputus, atau bahkan dia akan
kekosongan jiwa apabila ada waktu yang kosong serta tidak ada nilai apapun.
Baginya waktu adalah aset ilahiah yang sangat berharga, yang merupakan ladang
subur yang membutuhkan ilmu dan amal untuk diolah serta dipetik hasilnya pada
waktu yang lain. Ada peerumpamaan alwaktukassaifinlamtaqhahuqhataa yang
artinya waktu bagaikan pedang, apabila tidak waspada, padahal itu akan memotong
kita sendiri. Maka waktu sangatlah penting dalam kehidupan.
2. Mereka memiliki moralitas yang bersih (ikhlas)
Ikhlas dalam artisan di sini yaitu bersih, murni (tidak terkontaminasi). Dan ikhlas
merupakan bentuk dari cinta, bentuk kasih sayang dan pelayanan tanpa ikatan. Cinta
yang putih terbentuk karena keikhlasan yang tidak ingin menjadi rusak karena
tercampur hal lain selain terpenuhinya dahaga cinta. Mereka takut bahwa suatu
pekerjaan yang dilatarbelakangi motivasi atau pamrih selain melaksanakan amanah
walaupun atas namakan ikhlas dan cinta akan menjadi komoditas semata-mata.
Keikhlasan hanya akan menjadi label atau simbol dari pengesahana dirinya untuk
berbuat munafik. Sikap ikhlas bukan hanya output dari cara dia melayani, melainkan

juga input atau masukan yang membentuk kepribadiannya didasarkan pada sikap
yang bersih. Bahkan, cara dirinya mencari rizqi makanan dan minuman yang masuk
ke dalam tubuhnya adalah bersih semata-mata.
3. Mereka kecanduan kejujuran
Di dalam jiwa orang yang jujur terdapat nilai ruhani yang memantulkan berbagai
sikap yang berpihak kepada kebenaran dan sikap moral yang terpuji (morallyupright).
Dirinya telah dibelenggu, dikuasai, dan diperbudak oleh kejujuran, dia merasa bangga
karena menjadi budak Allah karena memang pada dasarnya merupakan hamba Allah.
Maka apabila ada tindakan yang menyimpang dari nilai rohani kejujurannya, tipu
berarti dia telah menghianati diri dan keyakinannya sendiri dan telah menipu dirinya
sendiri dihadapan Allah. Dan dalam kejujuran dan keikhlasan itu tidak cukup, perlu
adanya faktor dorongan lain yaitu berupa integritas karena kejujurna dan integritas
merupakan dua sisi mata uang dan dengan adanya integritas ini mereka siapa
menghadapi risiko dan seluruh akibatnya dihadapi dengan gagah berani, kebanggaan,
dan penuh suka cita, dan tidak pernah terfikirkan untuk melemparkan tanggung
jawabnya kepada orang lain.
4. Mereka memiliki komitmen (aqidah, abad, itikad).
Yaitu keyakinan yang mengikat (abad) sedemikian kukuhnya sehingga membelenggu
seluruh hati nuraninya dan kemudian menggerakkan perilaku menuju arah tertentu
yang diyakininya (itikad).
5. Istiqamah, kuat pendirian
Yaitu kemampuan untuk bersikap secara taat asas, pantang menyerah, dan ampu
mempertahankan prinsip serta komitmennya walau harus berhadapan dengan risiko
yang membahayakan dirinya. Mereka mampu mengendalikan diri dan mengelola
emosinya secara efektif. Tetap teguh terhadap komitmen, positif, dan tidak rapuh
kendati berhadapan dengan situasi yang menekan.

6. Mereka kecanduan disiplin


Yaitu kemampuan untuk mengendalikan diri dengan tenang dan tetap taat walaupun
dalam situasi yang sangat menekan (cam controlledbehavior: The ability do behavein
a controlledandcalmwayevenin a difficult bor stressfulsituation).
Pribadi yang disiplin sangat berhati-hati dalam mengelola pekerjaan, serta penuh
tanggung jawab memenhi kewajibannya.
7. Mereka tipe orang yang bertanggung jawab
Sikap dan tindakan seseorang di dalam menerima sesuatu sebagai amanah, dengan
penuh rasa cinta ia ingin menunaikannya dalam bentuk pilihan-pilihan yang
melahirkan amal prestatif.

B.6 Keutamaan (Fadhilah) Bekerja Dalam Islam


1. Orang yang ikhlas bekerja akan mendapatkan ampunan dosa dari Allah SWT. Dalam
sebuah hadits diriwayatkan :


( )
Barang siapa yang sore hari duduk kelelahan lantaran pekerjaan yang telah dilakukannya, maka
ia dapatkan sore hari tersebut dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT. (HR. Thabrani)
2. Akan diampuninya suatu dosa yang tidak dapat diampuni dengan shalat, puasa, zakat,
haji & umrah. Dalam sebuah riwayat dikatakan :


( )

Sesungguhnya diantara dosa-dosa itu, terdapat satu dosa yang tidak dapat dihapuskan dengan
shalat, puasa, haji dan umrah. Sahabat bertanya, Apa yang dapat menghapuskannya wahai
Rasulullah? Beliau menjawab, Semangat dalam mencari rizki. (HR. Thabrani)

3.

Mendapatkan Cinta Allah SWT. Dalam sebuah riwayat digambarkan :

( )
Sesungguhnya Allah SWT mencintai seorang mumin yang giat bekerja. (HR. Thabrani)
4. Terhindar dari azab neraka
Dalam sebuah riwayat dikemukakan, Padasuatusaat, Saad bin Muadz Al-Anshari berkisah
bahwa ketika Nabi Muhammad SAW baru kembali dari Perang Tabuk, beliau melihat tangan
Saad yang melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman karena diterpa sengatan matahari.
Rasulullah bertanya, Kenapa tanganmu? Saad menjawab, Karena aku mengolah tanah
dengan cangkul ini untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku. Kemudian
Rasulullah SAW mengambi ltangan Saad dan menciumnya seraya berkata, Inilah tangan
yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka (HR. Tabrani)
5. Bekerja mencari nafkah digolongkan dalam fisabililah
Dari Ka'ab bin Umrah berkata, "Ada seseorang yang berjalan melalui tempat Rasulullah SAW.
Orang itu sedang bekerja dengan sangat giat dan tangkas. Para sahabat lalu berkata, 'Ya
Rasulullah, andaikata bekerja seperti dia dapat digolongkan fi sabilillah, alangkah baiknya.'
Lalu Rasulullah bersabda, 'Jika ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil,
itu adalah fi sabilillah; Jika ia bekerja untuk membela kedua orang tuanya yang sudah lanjut
usia, itu adalah fi sabilillah; dan jika ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak
meminta-minta, maka itu adalah fi sabilillah... (HR. Thabrani)
B.7 Perbedaan Profesi dan Pekerjaan Profesi:
a.Mengandalkan suatu keterampilan atau keahlian khusus.
b.Dilaksanakan sebagai suatu pekerjaan atau kegiatan utama (purna waktu).
c.Dilaksanakan sebagai sumber utama nafkah hidup.

d.Dilaksanakan dengan keterlibatan pribadi yang mendalam.


Pekerjaan:
a.Tidak membutuhkan latar belakang pendidikan.
b.Tidak membutuhkan pengetahuan dan pengalaman yang mendalam
persamaan profesi dan pekerjaan
a. Sama sama dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup (nafkah hidup )
b. Membutuhkan tenaga serta upaya untuk menyelesaikannya
Sama sama dapat menghasi