Anda di halaman 1dari 12

UJI PEMISAHAN GOLONGAN V

(Ba2+, Ca2+, Sr2+)

I.

MAKSUD DAN TUJUAN


a. Maksud
Adapun maksud dilakukannya percobaan uji golongan V yaitu agar praktikan
mengetahui,memahami dan mengenal jenis jenis golongan V yang terdapat dalam

larutan sampel. Dan dapat mengetahui anion anion yang terdapat pada larutan
sampel.
b. Tujuan
Adapun tujuan dilakukan percobaan uji preaksi golongan V yaitu untuk
mengetahui sifat dari senyawa kimia golongan V dalam larutan sampel yang diuji.
Selain itu juga untuk mengidentifikasi jenis jenis senyawa kimia golongan V
yang terdapat dalam larutan sampel dengan terlihatnya perubahan warna, endapan
dan penampakan lainnya.
II.

TEORI DASAR
A. Golongan V
Golongan V (Ba2+, Ca2+, Sr2+)disebut juga golongan sisa karena tidak bereaksi
dengan reagensia-reagensia golongan sebelumnya. Ion kation yang termasuk dalam
golongan ini antara lain magnesium, natrium, kalium. Ammonium, litium, dan
hydrogen.
Secara umum ion adalah atom atau sekumpulan atom yang bermuatan listrik.Ion
bermuatan negatif yang menangkap satu atau lebih elektron, disebut anion, karena dia
tertarik menuju anoda. Ion bermuatan positif yang kehilangan satu atau lebih elektron,
disebut kation, karena dia tertarik menuju anoda
Suatu pereaksi menyebabkan sebagian kation mengendap dan sebagian larut,
maka setelah dilakukan penyaringan terhadap endapan tebentuk dua kelompok
campuran yang massa masing-masingnya kurang dari campuran sebelumnya. Reaksi
yang terjadi saat pengidentfikasian menyebabkan terbentuknya zat-zat baru yang
berbeda dari zat semula dan berbeda sifat fisiknya (Harjadi, 1993).

B. Identifikasi Anion
Analisa anion adalah analisa yang bertujuan untuk menganalisa adanya ion
dalam sampel. Sedangkan analisa kualitatif dilakukan untuk mengetahui jenis unsur

atau ion yang terdapat dalam suatu sampel. Jadi, analisa anion secara kualitatif
merupakan analisa yang dilakukan untuk mengetahui adanya anion serta jenis anion
apa saja yang terdapat dalam suatu sampel.
Cara identifikasi anion tidak begitu sistematik seperti pada identifikasi kation.
Salah satu cara penggolongan anion adalah pemisahan anion berdasarkan kelarutan
garam-garam perak, garam-garam kalsium, barium dan seng. Selain itu ada cara
penggolongan anion menurut Bunsen, Gilreath dan Vogel.
Bunsen menggolongkan anion dari sifat kelarutan garam perak dan garam
bariumnya, warna, kalarutan garam alkali dan kemudahan menguapnya. Gilreath
menggolongkan anion berdasarkan pada kelarutan garam-garam Ca, Ba, Cd dan
garam peraknya. Sedangkan Vogel menggolongkan anion berdasarkan pada proses
yang digunakan dalam identifikasi anion yang menguap bila diolah dengan asam dan
identifikasi anion berdasarkan reaksinya dalam larutan. Identifikasi anion yang
menguap bila diolah dengan asam dibagi dua lagi yaitu anion membentuk gas bila
diolah dengan HCl encer atau H2SO4 encer, dan anion yang membentuk gas atau uap
bila diolah dengan H2SO4 pekat. Demikian pula identifikasi anion berdasarkan reaksi
dalam larutan dibagi dua yaitu anion yang diidentifikasi dengan reaksi pengendapan
dan dengan reaksi redoks.
Identifikasi anion meliputi analisis pendahuluan, analisis anion dari zat asal
dan analisis anion dengan menggunakan larutan ekstra soda. Dari hasil analisis
sebelumnya (data kelarutan) dan pengetahuan tentang kation yang ada, dapat
memberikan petunjuk tentang anion yang mungkin ada atau tak ada dalam larutan
sampel. Sebagai contoh, zat asal larut dalam air panas, kation yang ditemukan Pb 2+,
anion yang mungkin ada adalah klorida karena PbCl 2 larut dalam air panas. Tidak
mungkin nitrat karena timbal nitrat mudah larut dalam air dingin. Untuk anion
dikelompokkan kedalam beberapa kelas diantaranya :
Analisis kualitatif menggunakan dua macam uji, yaitu reaksi kering dan
reaksi basah. Reaksi kering dapat digunakan pada zat padat dan reaksi basah untuk
zat dalam larutan. Kebanyakan reaksi kering yang diuraikan digunakan untuk
analisis semimikro dengan hanya modifikasi kecil.
Reaksi ini terdapat beberapa macam jenis, diantaraknya :

Uji Manik fosfat


Digunakan garam mikroskomik, natrium ammonium hidrogen fosfat tetrahidrat,
manik tembus cahaya tak berwarna mengandung natrium metafosfat.
Uji nyala
Bagian terpanas nyala adalah pada zona pelelhan yang terletak pada kira-kira
sepertiga ketinggian nyala, daerah ini dimanfaatkan untuk menguji kedapat
lelehan zat dan juga melengkapi dalam menguji keatsirian relative dari zat-zat

atau campuran zat.


Uji Spektroskopi
Untuk
memisahkan

cahaya

atau

rona-rona

komponennya

dan

mengidentifikasikan kation yang ada oleh perangkat rona yang khas itu.
Pemanasan
Yaitu teknik dengan cara zat disimpan dalam sebuah tabung pengapian yang
dibuat dari pipa kaca lunak, dan dipanasi dalam sebuah nyala Bunsen, mula-

mula dengan lembut dan kemudian dengan lebih kuat.


Uji Manik natrium karbonat
Manik natrium karbonat disiapkan dengan melelehkan natrium karbonat pada
lingkaran kawat Pt dalam nyala Bunsen, diperoleh pantulan kecil tak tembus
cahaya, jika dibasahi, maka akan dibenamkan dalam kalium nitrat dan sedikit

mangan, sehingga terbentuk manik hijau natrium manganat


Uji Pipa Tiup
Suatu nyala mengoksid diperoleh dengan memegang mulut pipa dengan pipa itu
kira-kira sepertiga kedalam nyala dan meniup dengan lebih kuat dalam arah

sejajar dengan puncak pembakar.


Uji Manik Borak
Manik dan zat yang menempel mula-mula dipanasi dalam nyala mereduksi
bawah, dibiarkan dingin dan warnanya diamati. Kemudian manik itu dipanasi
dalam nyala mengoksida bawah, biarkan dingin dan warnanya diamati lagi.
Reaksi-reaksi dalam anion ini akan dipelajari secara sistematis untuk

memudahkan reaksi dari asam-asam organik tertentu dikelompokkan bersama-sama,


ini meliputi asetat, format, oksalad, sitrat, salisilad, benzoad, dan saksinat.
Bila dalam pemeriksaan kation ditemukan kation-kation logam berat (kation
golongan I, II, III, IV dan Mg2+ pada golongan skema H2S) maka pemeriksaan anion
menggunakan larutan ekstrak soda. Larutan ekstrak soda dibuat dengan memasak
cuplikan dalam larutan jenuh natrium karbonat selama 10 menit, lalu disaring. Filtrat
yang diperoleh disebut ekstrak soda (ES). Karena ES suasana basa maka larutan ES

ini tidak dipergunakan tanpa pengaturan suasana yang tepat. Biasanya sebelum
digunakan ditabahkan dulu asam.

III.

ALAT DAN PREAKSI


a. Alat :
1. Tabung reaksi dan raknya
2. Pengaduk kaca
3. Pipet tetes
4. Tabung sentrifuge
5. Piala gelas
6. Sentrifuge
b. Preaksi :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

HCl panas
NH4OH 6N
NH4Cl 5%
CH3COOH 5% panas
BaCrO4
H2SO4
CaCrO4
SrCrO4

9. HNO3
10. H2O
11. SnCl2
12. Alcohol 96%
13. K2CrO4
14. NH4)2CO3 5%
15. NaRodizonat

16.
17.
18.
19.
IV.

REAKSI

20. Reaksi pada pemisahan anion


21.

Cl- + AgNO3 + HNO3 AgCl ( putih )


NO3- + H2SO4 + FeSO4 + H2SO4 pekat cicin coklat NO3-

22.

23.

CH3COO- + alcohol bau pisan ambon

24.

SO42- + BaCl2 BaSO4 ( putih ).

25. Reaksi pada pemisahan golongan V.


26. Larutan contoh + NH4OH + NH4Cl + (NH4)2CO3 BaCrO4+ CaCrO4+
SrCrO4 BaCrO4 + HCl BaCl2 ( kuning sindur ) + H2CrO4
27. BaCl2 + H2SO4 BaSO4 ( putih ) + HCl
28. BaCl2 + K2CrO4 BaCrO4 ( kuning ) + KCl
29. SrCrO4 + CH3COOH Sr(CH3COO)2 + H2CrO4
30. Sr(CH3COO)2 + (NH4)2CO3 SrCO4 + CH3COONH4
31. SrCO3 + K2CrO4 SrCrO4 ( kuning ) + K2CO3
32. CaCrO4 + CH3COOH Ca(CH3COO)2 + H2CrO4
33. Ca(CH3COO)2 + (NH4)2CO3 CaCO3+ CH3COONH4
34. Ca(CH3COO)2 + (NH4)2C2O4 CaC2O4 + CH3COONH4
35.
36.
37.
38.
39.

40.
41.
42.
V.

PROSEDUR
43.

44. Bagan reaksi dan prosedur pemisahan kation golongan V (Ba2+, Ca2+,
Sr2+)
45.
46.
Larutan
47.contoh + NH4OH 6N+ NH 4Cl 5%+( NH4)2CO3 10 %
Sentrifuge,
48. test endapan sempurna (putih)
Endapan
49. cuci 3x dengan H2O
Larutkan
50. dengan CH3OOH 5 % panas
+ CH3COONH4
5 % + K2CrO4
Kuning sindur
51.
sentrifuge
52.
53.
54.
55.
56.
57.
Saringan CaCrO4dan SrCrO4
Endapan Ba CrO
58.
+ NH4OH 6 N sampai warna kuning (a)
Larutkan dalam HCl panaslarut ( sindur)
59.
+ alkohol 96 % dengan volume yang sama dengan volume (
Test Ba
60.
biarkan 20kemudian sentrifuge
+ 5 tts H SO putih
61.
+ 3 tts CHCOOH 5 % + 6 tts CHCOONH 5 % + 6 tts K2CrO4 5 % kuning
62.
63.
64.
65.
66.
67.
68.
69.
Endapan 70.
SrCrO
Saringan Ca(CHCOO)
+ CHCOOH
Test Ca
71. 5 % ( panas)
Test Sr 72.
+ (NH4)2CO3 5 % putih
+ 5 tts (NH)4CO3
5 % + K2CrO4 5 % kuning sindur + (NH4)2C2O4 5 % putih
73.
+ Na Rodizonat
merah
coklat
74.
75.
76.
77.
78.
Catatan 79.
:
80.
Membedakan
Sr dan Ba
Teteskan larutan contoh pada kertas saring + Na Rodizonat
81.
Selanjutnya diteteskan HCl 2 N
Warna hilang menandakan Sr
Warna
82.menjadi merah terang menandakan Ba

merah coklat

83.
84.
85. Penjelasan bagan reaksi dan prosedur pemisahan kation golongan V
(Ba2+, Ca2+, Sr2+)
1 Larutan contoh ditambah NH4OH 6N, NH4Cl 5%, dan (NH4)2CO3 10%.
2 Kemudian sentrifuge dan test endapan sempurna (putih).
3 Cuci endapan tiga kali dengan 1 ml H2O.
4 Selanjutnya larutkan dengan CH3COOH 5% panas.
5 Lalu tambahkan CH3COONH4 5% dan K2CrO4 lalu dipanaskan sampai
6

terbentuk endapan kuning sindur.


Endapan tersebut kemudian dilarutkan dengan HCl panas sampai larut dan
bewarna sindur dan hasilnya lalu di test untuk menentukan kandungan Ba

7
8

yang terdapat dalam larutan contoh.


Sedangkan filtratnya ditambahkan NH4OH 6N sampai kuning.
Selanjutnya ditambahkan Alkohol 96% dengan volume yang sama dengan

volume filtrat.
9 Biarkan selama 20 menit selesainya lalu di sentrifuge.
10 Hasil sentrifuge, endapannya ditambahkan CH3COOH 5% panas lalu ditest
untuk menentukan kandungan Sr yang terdapat dalam larutan contoh.
Sedangkan filtratnya dipakai untuk ditest dalam menentukan kandungan Ca
yang terdapat dalam larutan contoh.
11 Adapun cara lain untuk membedakan kandungan Sr dan Ba dalam larutan
contoh yakni dengan meneteskan larutan contoh pada kertas saring yang
kemudian diteteskan NaRodizonat yang akan menghasilkan endapan merah
cokelat dan selanjutnya teteskan HCl 2N. Apabila warna hilang menandakan
adanya Sr dalam larutan contoh dan apabila warna merah terang menandakan
adanya Ba dalam larutan contoh.
86. Pengujian Anion :
87.

Larutan contoh + KNa2CO3(serbuk)

sentrifuge, kemudian saringan/filtrat

dibagi menjadi empat bagian, uji terhadap :


1. Uji SO4288.

Saringan/filtrat + HCl 4 N +BaCl2 putih + HCl 6 N

Jika endapan tidak larut maka SO42- dikatakan +


Jika endapan larut maka SO42- dikatakan
2. Uji Cl89.

Saringan/filtrat + HNO3 +AgNO3 putih +NH OH ---

Jika endapan larut maka Cl- dikatakan +


Jika endapan tidak larut maka Cl- dikatakan
3. Uji NO3
90.

Saringan/filtrat + H2SO4 6 N + FeSO4 (padat) + H2SO4 pekat --- cincin

coklat
Jika terbentuk endapan cincin coklat maka NO3 dikatakan +
Jika tidak terbentuk endapan cincin coklat maka NO3 dikatakan 4. Uji CH3COOH
91.

92.
VI.

Saringan + filtrat +alkohol --- bau ester pisang

Jika tercium aroma ester pisang maka CH3COOH +


Jika tidak tercium aroma ester pisang maka CH3COOH -

DATA HASIL PERCOBAAN


93. Hasil uji kation golongan I larutan sampel positif mengandung :
Ba2+(+)
Ca2+(+)
Sr2+(+)
94.

Hasil uji anion larutan sampel positif mengandung :

VII.

Cl- (-)
NO3 (+)
SO42- (+)
CH3COO (+)
95.
DISKUSI
96. Pengujian pemisahan golongan V pada larutan sampel dilakukan dengan cara
memisahkan kation kation yang ada dalam larutan sempel berdasarkan sifat
dari kation kation tersebut yaitu dengan cara dilarutkan. Untuk
mengendapkan Ba2+,Ca2+ dan Sr2+ maka ditambahkan (NH4)2CO3 dan NH4Cl.
Golongan V akan

membentuk endapan dengan (NH 4)2CO3 pada larutan

NH4Cl dalam suasana netral atau sedikit asam. Jadi terdapatnya endapan putih
pada akhir reaksi menandakan adanya kation golongan V dalam larutan
sampel. Senyawa CaCrO4 dan SrCrO4 larut terhadap CH3COONH4 5% pada
mendium panas atau pada suhu tinggi, sedangkan Ba 2CrO4 tidak larut pada
suhu tinggi. Jika pada larutan terdapat kation golongan v maka saat larutan
ditambahkan CH3COONH4 5% + K2CrO4. Pada praktikum yang dilakuakan
kation golongan V yang terkandung dalam larutan sampel adalah

Ba2+,Ca2+,Sr2+. Hal ini ditunjukan dari reaksi yang timbul setelah di reaksi kan
dengan preaks preaksi tertentu.
97. a. Pada praktikum yang dikalukan telah diketahui bahwa dalam larutan sampel
terkandung kation golongan V Ba2+ .Pengujian Ba2+ dilakukan dengan cara endapan
yang terdapat pada larutan yang mengandung Ba2CrO4 direaksikan dengan asam
klorida yang akan menghasilkan reaksi. BaCrO4 + HCl BaCl2 ( kuning sindur ) +
H2CrO4. Tujuan dari penambahan HCl pada reaksi bertujuan untuk menlarutkan Ba2+
yang mungkin ada dalam endapan larutan sampel. Terlarutnya Ba 2+ pada reaksi
ditunjukan dari munculnya warna kuning sindur pada akhir reaksi. Untuk menentukan
adanya Ba2+ yang terkandung dalam endapan terebut maka dilakukan pengujian yaitu
dengan cara menambahkan preaksi preaksi yang dapat mengidentifikasi Ba 2+.
Preaksi pertama yang digunakan adalah senyawa H 2SO4. Barium direaksikan dengan
asam sulfat maka akan membentuk garam yaitu barium sulfat. Reaksi yang terjadi
adalah BaCl2 + H2SO4 BaSO4 ( putih ) + HCl dengan timbulnya endapan putih
pada akhir reaksi. timbunya endapan putih berlangsung lumayan lama, untuk
mendapatkan hasil yang akurat maka ditunggu sampai garam barium sulfat yang
terdapat pada hasil reaksi mengendap sempurna. Selain menggunakan HCl, pengujian
atau pengidentifikasian Ba2+

dapat dilakukan dengan cara mereaksikan larutan

(endapan + HCl) dengan K2CrO4 5%. Jika didalam larutan positif mengandung Ba 2+
maka larutan akan berubah warna menjadi kuning dengan disertai endapan kuning.
Pada praktikum yang dilakukan pada pengujian Ba2+ terindentifikasi keberadaannya
namun setelah di ketahui ternyata dalam larutan sampel tidak mengandung Ba 2+ . hal
ini terjadi dikarenakan adanya penyucian larutan tidak dilakukan secara sempurna
sehingga senyawa kimia CaCrO4 dan SrCrO4 masih terdapat pada endpan. Sifat kimia
yang sama dimiliki oleh (Ba2+, Ca2+, Sr2+) ,menyebabkan saat meraksikan larutan
dengan HCl hasil akhir reaksi adalah endapan putih sehingga tidak dapat dibedakan.
Untuk membendakan hasil akhir reaksi maka masing masing senyawa dipisahkan
dengan cara dilarutkan atau di endapkan sesuai dengan preaksi pelarut dan
pengendapnya masing masing. Berdasarkan data yang di ketahui ternyata dalam
larutan sampel idak mengadung Ba2+. Teridentifikasi adanya Ba2+ pada reaksi mungkin
disebabkan dari ikut terbawanya unsur Ca2+ atau Sr2- saat pemisahan antara endapan
dan filtrate.

98.

b. Berdasarkan praktikum yang dilakan dalam larutan sampel positif mengandung

Ca2+. Untuk mengidentifikasi adanya Ca2+ dalam larutan sampel dilakukan dengan cara
memisahkan senyawa CaCrO4 dan SrO4 pada larutan menurut sifat keterlarutannya.
Penambahan senyawa ammonium hidroksida (NH4OH 6N) dan penambahan alcohol
96% menyebakan terjadinya reaksi pengendapan pada SrO 4 sedangkan Ca2+ tetap larut
dalam bentuk Ca(CH3COO)2. Filtrate yang mungkin mengnadung Ca2+ digunakan
untuk pengujian indentifikasi Ca2+. Untuk mengidentifikaisi adanya Ca2+ maka
dilakukan pereaksian larutan dengan preaksi yaitu (NH4)2CO3 5%. Jika dalam larutan
positif terdapat adanya Ca2+ maka akan terdapat endapan putih pada hasil akhir reaksi.
Reaksi yang terjadi adalah Ca(CH3COO)2 + (NH4)2CO3

CaCO3 + CH3COONH4.

Selain menggunakan preaksi (NH4)2CO3 5% pengidentifikasian adanya Ca2+ pada


larutan sampel dapat dilakukan dengan menambahkan preaksi yaitu (NH4)2C2O4. Jika
dalam larutan positif terdapat Ca2+ maka larutan akan berubah warna dan terdapatnya
endapan putih pada akhir reaksi. reaksi yang terjadi adalah Ca(CH3COO)2 +
(NH4)2C2O4

CaC2O4 + CH3COONH4. Logam Alkali jika direaksikan dengan

(NH4)2C2O4 pada kahir reaksi akan membentuk endapan.


99. c. Dari praktikum yang telah dilakukan diketahui bahwa dalam larutan sampel positif
mengandung Sr2+. Untuk mengidentifikasi adanya Sr2+ maka endapan yang mungkin
mengandung SrCrO4 dilarutkan dengan larutan CH3COOH 5% (panas). dengan reaksi
yang terjadi adalah SrCrO4 + CH3COOH Sr(CH3COO)2 + H2CrO4. Keberadaan
senyawa SrO4 pada larutan diidentifkasi menggunakan 2 cara yaitu dengan
penambahan preaksi (NH4)2CO3 dan K2CrO4 jika positif terdapatnya Sr2+. reaksi yang
terjadi adalah Sr(CH3COO)2 + (NH4)2CO3 SrCO3 + CH3COONH4, SrCO3 + K2CrO4
SrCrO4 ( kuning ) + K2CO3 dengan hasil akhir reaksi timbulnya warna kuning
sindur. Preaksi yang mungkin digunakan dalam pengidentifikasian Sr 2+. Pada larutan
sampel dapat digunakan NaRodizonat yang akan menghasilkan endapan warna merah
coklat pada akhir reaksi yang menandakan didalam larutan positif terdapatnya Sr2+.
100.

Cara identifikasi anion tidak begitu sistematik seperti pada identifikasi kation.

Salah satu cara penggolongan anion adalah pemisahan anion berdasarkan kelarutan
garam-garam perak, garam-garam kalsium, barium dan seng. Selain itu ada cara
penggolongan anion menurut Bunsen, Gilreath dan Vogel. Test anion dilakukan dengan
cara analisa anion secara kualitatif. Analisa anion adalah analisa yang bertujuan untuk

menganalisa adanya ion dalam sampel. Sedangkan analisa kualitatif dilakukan untuk
mengetahui jenis unsur atau ion yang terdapat dalam suatu sampel. Jadi, analisa anion
secara kualitatif merupakan analisa yang dilakukan untuk mengetahui adanya anion
serta jenis anion apa saja yang terdapat dalam suatu sampel. Uji anion dilakukan
dengan cara larutan sampel direaksikan dengan senyawa KNO 2CO3 serbuk kemudian
dipanaskan lalu di sentrifuge. Penambahan senyawa KNO 2CO3 bertujuan untuk
melarutkan anion yang mungkin terdapat pada larutan sampel. Filtrate yang timpul
pada akhir reaksi adalah filtrate yang akan digunakan untuk menguji adanya anion
dalam larutan sampel. Adapun anion yang diuji keberadaannya dalam praktikum ini
adalah Uji Cl- , Uji NO3-, Uji CH3COOH.Untuk mengidentifikasi adanya Cl- pada
larutan sampel dilakukan dengan menambahkan asam nitrat dan perak nitrat dengan
reaksi yang mungkin terjadi jika terdapatnya Cl - pada larutan sampel yaitu, filtrate
larutan + HNO3 + AgNO3 AgCl ( putih ). larutan lalu ditambahkan NH4OH 6N.
jika endapan putih tidak larut maka Cl- dikatakan (-) sedangkan jika endapan larut
maka Cl- dikatakan positif (+) terdapatnya Cl- pada larutan contoh. Sedangkan Untuk
mengidentifikasi adanya NO3- yang mungkin terdapat pada larutan sampel dilakukan
dengan cara mereaksikan larutan sampel dengan preaksi yaitu H2SO4 6N + FeSO4
padat + H2SO4 pekat. Jika dalam larutan sampel positif mengandung senyawa NO 3maka akan timbul atau terbentuk cincin coklat pada akhir reaksi. Dan untuk pengujian
adanya senyawa CH3COOH pada larutan sampel dilakukan dengan cara mereaksikan
larutan sampel dengan alcohol. Untuk mempercepat reaksi maka dilakukan proses
pemanasan. Jika larutan sampel positif mengandung senyawa CH 3COOH maka pada
akhir reaksi akan timbul bau seperti pisang ambon saat di hirup. Penambahan preaksi
dalam test anion sangat diperhatikan contohnya adalah memperhatikan konsentrasi dan
jumlah larutan yang pelu ditambahkan. Pada praktikum yang dilakukan penambahan
FeSO4 padat terlalu banyak akan menyebabkan timbulnya endapan FeSO 4 padat pada
dasar larutan yang menyebabkan hasil reaksi yang timbul adalah warna coklat bukan
berbentuk cincin. Sedangkan penambahan terlalu banyak alcohol pada uji senyawa
CH3COOH akan menyebabkan reaksi tidak berjalan sempurana dengan bau dominan
yang muncul adalah bau alcohol.
101.
102.

VIII.

KESIMPULAN
103.
Dari percobaan yang telah dilakukan maka didapat hasil yaitu larutan
sampel mengandung kation golongan I yaitu Ba2+, Ca2+, Sr2+.Dan positif
mengandung anion SO42-, NO3-, CH3COO-.
104.
105.
106.
107.
108.
109.
110.
111.
112.
113.
114.
115.
116.
117.
118.
119.
120.
121.
122.
123.
124.
125.
126.
127.
128.
129.
130.
131.
132.
133.
134.
135.
DAFTAR PUSTAKA
136.
137.

Anonim, 2003, Pedoman praktikum kimia analisa, Bandung : Sekolah Tinggi

138.

Teknologi Tekstil.
http://info.fuadshifu.com/identifikasi-kation/

139.
140.

diakses

pada

tanggal

16

November 2015
Shvehla, G. 1995. Vogel Buku Teks Analisis Makro dan Semimikro I. PT.
Kalman Media Pustaka: Jakarta.
Haryadi. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. PT. Gramedia: Jakarta.
141.