Anda di halaman 1dari 25

1

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Bank Perkreditan Rakyat (BPR) adalah bank yang melaksanakan

Dikomentari [TW1]: Peraturan perbankan

kegiatan usaha secara konvensional yang dalam kegiatannya tidak


memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang mengenai perbankan. Jika dibandingkan dengan
proses bisnis Bank Konvensional, BPR memiliki proses bisnis yang lebih
sederhana. Kesederhanaan proses bisnis ini dikarenakan tujuan dari
pembentukan BPR sendiri dikarenakan tujuannya yang lebih berfokus
kepada pembiayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), serta
pemberian akses perbankan kepada masyarakat kelas menengah dan
kebawah. Walaupun Bank Konvensional juga berpartisipasi dalam pasar
pembiayaan mikro, jangkauan mereka terhadap masyarakat menengah
dan ke bawah serta UMKM tetap terbatas (Hamada, 2009). BPR mengambil
peran penting dalam pemenuhan kebutuhan pembiayaan UMKM (Nasution,
Dikomentari [TW2]: Pedoman Akuntansi BPR, hal iii

2010).
Gubernur Bank Indonesia (BI) menyebutkan bahwa BPR, sesuai
dengan Undang-Undang Perbankan, adalah bank yang memiliki kegiatan
usaha terbatas dengan transaksi yang sederhana, meliputi penghimpunan
dana dalam bentuk tabungan dan deposito serta penyaluran kredit.
Keterbatasan ini diberikan kepada BPR terkait dengan tujuan pelayanan
utama BPR kepada usaha mikro kecil dan menengah serta masyarakat

sekitar (Bank Indonesia, 2010). Keterbatasan proses bisnis BPR ini justru

Dikomentari [TW3]: Peraturan Akuntansi BPR

dapat menjadi sebuah kelebihan BPR itu sendiri, yaitu:


-

cakupan usaha

yang lebih sempit memungkinkan BPR

mengenali usahanya dengan lebih baik,


-

kegiatan yang terbatas menjadikan BPR lebih fokus dengan


kegiatan yang lebih sempit dan membangun suatu keahlian pada
bidang usaha tertentu,

bentuk yang lebih kecil memungkinkan lebih uggul dalam


segmen pemberian kredit kecil atau kredit UMKM (Njotoprajitno,
2012).

Dikomentari [TW4]: Pengembangan dan Pemberdayaan


BPR

Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia yang dikeluarkan


oleh Bank Indonesia (BI, 2016), jumlah BPR pada tahun 2015 adalah 1.669
(seribu enam ratus enam puluh sembilan) atau bertambah 32 (tiga puluh
dua) BPR dalam jangka waktu lima tahun dihitung dari tahun 2011.
Pertumbuhan jumlah BPR ini melebihi pertumbuhan dari jumlah Bank
Umum yang hanya bertambah 2 (dua) bank dalam jangka yang sama. Aset
BPR tumbuh menjadi Rp 101.713 Milyar pada tahun 2015 dari Rp 55.799
Milyar pada tahun 2011. Penyaluran dana BPR juga naik dari Rp 53.534
Milyar pada tahun 2011 menjadi Rp 98.289 Milyar pada tahun 2015.
Perkembangan BPR, yang lebih ke pembiayaan UMKM, tentunya
tentunya akan sejajar dengan perkembangan UMKM itu sendiri.
Pembentukan pembiayaan mikro diharapkan dapat memperluas ekspansi
kredit dan mempercepat pembiayaan mikro karena yang paling penting

Dikomentari [TW5]: Statistik Perbankan Indonesia,

dalam pembiayaan mikro adalah kemudahan pembiayaan dan mobilisasi


dana (Hamada, 2009).
Usaha

Mikro,

Kecil

dan

Menenganah

(UMKM)

mengalami

perkembangan yang begitu pesat. UMKM sangat berperan dalam


pertumbuhan perekonomian Indonesia. UMKM menjadi sektor yang begitu
kuat disaat perekonomian secara makro memburuk bahkan di saat krisis.
Pada saat itu, usaha-usaha skala besar berjatuhan dan bangkrut karena
meningkatnya harga bahan baku yang sebagian besar adalah berasal dari
impor sehingga tidak dapat berproduksi. Hutang-hutang perusahaanperusahaan besar meningkat dikarenakan menurunnya nilai tukar rupiah
(Widyanto, 2015). UMKM terbukti menjadi sektor yang bertahan pada saat
terjadinya krisis pada tahun 1998 (Brodjonegoro, 2015). Bahkan jumlah
UMKM kian bertambah. Pertumbuhan UMKM ini meningkatkan kebutuhan

Dikomentari [TW6]: Peran UMKM dlm perekonomian


Indonesia
https://unitafisip.files.wordpress.com/2015/09/p-ishworo1.pdf
Dikomentari [TW7]: http://www.kemenkeu.go.id/Berita/
peran-penting-ukm-dorong-perekonomian-indonesia

akan pembiayaan terhadap UMKM tersebut untuk mengembangkan


usahanya. Seiring dengan berkembangnya usaha mikro, pembiayaan untuk
pengembangan usaha menjadi penting (Hamada, 2009).
BPR juga memilik keunggulan-keunggulan yang memberikan daya
saing tersendiri dibandingkan dengan Bank Konvensional. BPR mempunyai
kelebihan dengan kemudahan dalam memperoleh pinjaman/kredit. Herli
(2013:4) menyatakan bahwa prinsip kerja BPR sangat mengandalkan
kecepatan dan kemudahan, bahkan debitur bank umum sering menutup
kebutuhan kas yang bersifat mendadak dengan datang ke BPR. Prosedur
BPR dapat lebih cepat dan mudah karena struktur BPR jauh lebih ramping

Dikomentari [TW8]: commercialization of microfinance


in indonesia

dan pendek daripada bank umum. Persetujuan permohonan kas dapat


dipenuhi dalam satu hari karena tidak terdapat layer yang berlapis-lapis
sebagaimana bank umum. Kecepatan dalam memutuskan permohonan
kredit menjadi daya saing utama usaha BPR. Pelayanan langsung
menjemput pelanggan juga menjadi salah satu keunggulan dari BPR
(Njotoprajitno, 2012). Dana masyarakat yang tersimpan di BPR juga sudah
dijamin oleh LPS.
Sebagaimana Bank Konvensional, modal (capital) mempunyai peran
penting untuk menjalankan proses bisnis BPR. Dengan memiliki modal
yang cukup, dapat memberi kesempatan bagi BPR, antara lain:
1. memberikan sumber daya pertumbuhan perusahaan,
2. sebagai dasar pertimbangan ekspansi bisnis,
3. cadangan jika terjadi kerugian yang tidak terduga yang mungkin
dihadapi serta menutupi kerugian-kerugian yang terjadi dari
Dikomentari [TW9]: determinant of capital ratio using
panel data analysis on state owned bank in indonesia

berbagai resiko bisnis BPR.


4. Menaikkan kepercayaan publik terhadap manajemen bank
Sedikitnya kenaikan modal bank, menimbulkan pertanyaan tentang
ketidakpastian di mata para depositor (Al-Mamun, 2013:15).
Kecukupan

modal

(capital

adequacy)

telah

menjadi

topik

perbincangan pada tahun 1974. Dengan modal yang cukup, diharapkan


bank dapat mempertahankan modal untuk proses bisnis sehari-hari dari
langkah-langkah operasional bank yang beresiko. Pada krisis keuangan
tahun 2007, bank-bank di dunia tetap bermasalah dengan permodalan. Hal

Dikomentari [TW10]: capital adequacy and the valuation


of large commercial banking organization

ini mengingatkan kembali akan pentingnya pembahasan yang tepat tentang


kecukupan modal bagi bank. Standar internasional menyarankan agar
terdapat sebuah regulasi untuk mengatur rasio kecukupan modal minimum
untuk memastikan bahwa bank dapat bertahan pada tingkat kerugian
tertentu sebelum benar-benar tidak dapat melakukan proses bisnisnya lagi
(Al-Mamun, 2013:15).
Institusi penerbit regulasi-regulasi perbankan, BI sebagai bank
sentral Indoensia, menerbitkan peraturan-peraturan terkait permodalan
meningkatkan kualitas dan kuantitas modal bank, termasuk BPR.
Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor: 8/18/PBI/2006 tentang
Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) Bank Perkreditan Rakyat
(BPR), BPR wajib menyediakan modal minimum sebesar 8% (delapan
perseratus) dari Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR). Regulasi
mengenai KPMM adalah dalam rangka mewujudkan Bank Perkreditan
Rakyat yang sehat, kuat, produktif dan berdaya saing, diperlukan
penguatan terhadap permodalan. Penguatan permodalan BPR dilakukan
antara lain melalui penyesuaian terhadap komponen modal dan bobot
risiko, sesuai dengan praktik dan perkembangan kegiatan perbankan. Bagi
BPR yang tidak memenuhi ketentuan KPMM ini, atau disebut juga Rasio
Kecukupan Modal - Capital Adequacy Ratio (CAR), tentunya akan
mendapat sanksi, karena selain menyalahi peraturan dari regulator bank,
hal ini juga menandakan bahwa BPR mengalami suatu keadaan dibawah

standar permodalan yang aman untuk mengantisipasi resiko-resiko bisnis


dalam menjalankan usahanya.
Mengingat pentingya kecukupan modal bagi BPR, perlu untuk
diketahui faktor-faktor yang mempengaruhinya. Telah banyak penelitian
yang membahas rasio kinerja yang mempengaruhi kecukupan modal bank
baik di tingkat nasional maupun internasional. Akan tetapi, sepanjang
pengetahuan penulis, masih sedikit sekali penelitian yang membahas rasio
kinerja yang mempengaruhi kecukupan modal pada BPR karena
kebanyakan yang diteliti adalah Bank Konvensional. Dalam penelitian yang
membahas faktor-faktor yang mempengaruhi kecukupan modal, masih
terdapat kontradiksi pengaruh dari faktor-faktor yang diteliti dari penelitian
yang satu dan penelitian lainnya.
Oleh karena pentingnya kecukupan modal bagi keberlangsungan
proses bisnis BPR, dan masih sedikitnya penelitian yang meneliti rasio
mempengaruhi kecukupan modal BPR serta kontradiksi pengaruh rasio
kinerja tersebut terhadap kecukupan modal, maka perlu dilakukan analisis
pengaruh rasio kinerja terhadap rasio kecukupan modal pada BPR.

B. Perumusan Masalah Penelitian


Kecukupan modal sangat penting bagi keberlangsungan proses
bisnis BPR. BI sebagai pengatur regulasi bank di Indonesia pun
mensyaratkan agar BPR mempunyai KPMM atau CAR sebanyak 8%
(delapan perseratus) dari ATMR. Oleh karena itu, perlu diteliti determinan
CAR terutama dari rasio-rasio kinerja BPR. Rasio kinerja yang dimaksud

adalah rasio kinerja yang tertera pada Statistik Perbankan Indonesia yang
dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yaitu Loan to Deposit Ratio
(LDR), Non Performing Loan (NPL), Return on Asset (ROA), dan Return on
Equity (ROE). Penelitian-penelitian terdahulu, menghasilkan pengaruh
rasio kinerja terhadap rasio kecukupan modal (CAR) yang berbeda-beda.
Sepanjang pengetahuan penulis, penelitian yang meneliti pengaruh
rasio kinerja terhadap rasio kecukupan modal BPR masih sedikit. Penelitanpenelitian lebih banyak meneliti pengaruh rasio-rasio kinerja terhadap rasio
kecukupan modal pada selain BPR, baik bank umum, bank pemerintah,
ataupun bank syariah.
Berdasarka latar belakang yang dikemukakan tersebut, penulis
merumuskan masalah sebagai dasar kajian penelitian yang akan dilakukan
sebagai berikut, yaitu:
1. Apakah terdapat pengaruh LDR secara parsial terhadap CAR?
2. Apakah terdapat pengaruh NPL secara parsial terhadap CAR?
3. Apakah terdapat pengaruh ROA secara parsial terhadap CAR?
4. Apakah terdapat pengaruh ROE secara parsial terhadap CAR?
5. Apakah terdapat pengaruh LDR, NPL, ROA dan ROE secara
simultan terhadap CAR?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan dan pertanyaan penelitian, maka tujuan
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk menganalisis pengaruh LDR secara parsial terhadap CAR.

2. Untuk menganalisis pengaruh NPL secara parsial terhadap CAR.


3. Untuk menganalisis pengaruh ROA secara parsial terhadap
CAR.
4. Untuk menganalisis pengaruh ROE secara parsial terhadap
CAR.
5. Untuk menganalisis pengaruh LDR, NPL, ROA, dan ROE secara
simultan terhadap CAR.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi terhadap
ilmu pengetahuan dalam bidang akuntansi tentang pengaruh rasio
kinerja yang didefinikan dalam LDR, NPL, ROA dan ROE terhadap
CAR pada BPR.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan
manajemen dalam pengambilan keputusan bisnis sehingga dapat
menjaga kecukupan modal dan memenuhi KPMM sebagaimana
disyaratkan oleh BI.

BAB II. TELAAH PUSTAKA

II.1. KONSEP-KONSEP DASAR


Pengertian Bank
Pengertian Bank, menurut Undang-undang (UU) Nomor 7 tahun
1992 tentang Perbankan, adalah badan usaha yang menghimpun dana dari
masyarakat dalam bentuk simpanan, dan menyalurkannya kepada
masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.
Menurut jenisnya bank dapat dikategorikan menjadi dua yaitu Bank Umum
dan Bank Perkreditan Rakyat. Bank Umum adalah bank yang dapat
memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Kegiatan usaha Bank
Umum meliputi:
a. menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa
giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan, dan/atau
bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu;
b. memberikan kredit;
c. menerbitkan surat pengakuan hutang;
d. membeli, menjual atau menjamin atas risiko sendiri maupun untuk
kepentingan dan atas perintah nasabahnya :
1. surat-surat wesel termasuk wesel yang diakseptasi oleh bank
yang masa berlakunya tidak lebih lama daripada kebiasaan
dalam perdagangan suratsurat dimaksud;

10

2. surat pengakuan hutang dan kertas dagang lainnya yang masa


berlakunya tidak lebih lama dari kebiasaan dalam perdagangan
surat-surat dimaksud;
3. kertas perbendaharaaa negara dan surat jaminan pemerintah;
4. Sertifikat Bank Indonesia (SBI);
5. obligasi;
6. surat dagang berjangka waktu sampai dengan 1 (satu) tahun;
7. instrumen surat berharga lain yang berjangka waktu sampai
dengan 1 (satu) tahun;
e. memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk
kepentingan nasabah;
f. menempatkan dana pada, meminjam dana dari, atau meminjamkan
dana kepada bank lain, baik dengan menggunakan surat, sarana
telekomunikasi maupun dengan wesel unjuk, cek atau sarana
lainnya;
g. menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan
melakukan perhitungan dengan atau antar pihak ketiga;
h. menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga;
i.

melakukan kegiatan penitipan untuk kepentingan pihak lain


berdasarkan suatu kontrak; melakukan penempatan dana dari
nasabah kepada nasabah lainnya dalam bentuk surat berharga yang
tidak tercatat di bursa efek;

11

j.

membeli melalui pelelangan agunan baik semua maupun sebagian


dalam hal debitur tidak memenuhi kewajibannya kepada bank,
dengan ketentuan agunan yang dibeli tersebut wajib dicairkan
secepatnya;

k. melakukan kegiatan anjak piutang, usaha kartu kredit dan kegiatan


wali amanat;
l.

menyediakan pembiayaan bagi nasabah berdasarkan prinsip bagi


hasil sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam Peraturan
Pemerintah;

m. melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan oleh bank sepanjang


tidak bertentangan dengan Undang-undang ini dan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Selain hal tersebut di atas, Bank Umum juga dapat melakukan
kegiatan sebagai berikut:
a. melakukan kegiatan dalam valuta asing dengan memenuhi
ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia;
b. melakukan kegiatan penyertaan modal pada bank atau perusahaan
lain di bidang keuangan, seperti sewa guna usaha, modal ventura,
perusahaan efek, asuransi, serta lembaga kliring penyelesaian dan
penyimpanan, dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh
Bank Indonesia;
c. melakukan kegiatan penyertaan modal sementara untuk mengatasi
akibat kegagalan kredit, dengan syarat harus menarik kembali

12

penyertaannya, dengan memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh


Bank Indonesia; dan
d. bertindak sebagai pendiri dana pensiun dan pengurus dana pensiun
sesuai dengan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan
dana pensiun yang berlaku.
Bank Perkreditan Rakyat (BPR)
Pengertian BPR dalam Undang-undang Nomor 7 tahun 1992
tentang Perbankan yaitu:
Bank Perkreditan Rakyat adalah bank yang menerima simpanan
hanya dalam bentuk deposito berjangka, tabungan, dan/atau bentuk
lainnya yang dipersamakan dengan itu.
Pengertian BPR, dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
Nomor 20/POJK.03/2014 tentang Bank Perkreditan Rakyat, yaitu:
Bank Perkreditan Rakyat adalah bank yang melaksanakan kegiatan
usaha

secara

konvensional

yang

dalam

kegiatannya

tidak

memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran sebagaimana


dimaksud dalam Undang-Undang mengenai perbankan.
Usaha BPR, dalam Undang-undang Nomor 7 tahun 1992 tentang
Perbankan, yaitu:
a. menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa
deposito berjangka, tabungan, dan/atau bentuk lainnya yang
dipersamakan dengan itu;
b. memberikan kredit;

13

c. menyediakan pembiayaan bagi nasabah berdasarkan prinsip bagi


hasil sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam Peraturan
Pemerintah;
d. menempatkan dananya dalam bentuk Sertifikat Bank Indonesia (SBI
deposito berjangka, sertifikat deposito, dan/atau tabungan pada
bank lain.

Kegiatan usaha yang dilarang dilakukan oleh BPR meliputi:


a. menerima simpanan berupa giro dan ikut serta dalam lalu lintas
pembayaran;
b. melakukan kegiatan usaha dalam valuta asing;
c. melakukan penyertaan modal;
d. melakukan usaha perasuransian; melakukan usaha lain di luar
kegiatan usaha.
Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/20/PBI/2006
tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank Perkreditan Rakyat, BPR
wajib menyampaikan Laporan Tahunan kepada Bank Indonesia paling
lambat akhir bulan April tahun berikutnya.
Analisis Laporan Keuangan
Analisis laporan keuangan adalah proses menggali informasi dari
laporan keuangan agar lebih memahami kondisi keuangan saat ini dan
yang akan datang (Easton, 2015). Analisis laporan keuangan adalah bagian
integral dan penting yang merupakan pengembangan dari proses penilaian

Dikomentari [TW11]: Financial Statement Analysis n


Valuation hal 1-3

14

prospek ekonomi dan resiko suatu perusahaan dengan menggunakan


tehnik dan alat analisis (Subramanyam, 2009). Oleh karena itu, dapat

Dikomentari [TW12]: Financial Statement Analysis John


Wild 10th hal 3

disimpulkan bahwa analisis laporan keuangan adalah proses untuk


mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang kondisi suatu
perusahaan menggunakan tehnik dan alat analisis tertentu.
Porter et al., (2011:2) menyatakan tentang beberapa informasi
penting yang didapatkan dalam penilaian dan analisis laporan keuangan
yaitu:
1. untuk dapat memperlihatkan bagaimana menghubungkan tingkat
ekonomi suatu industri, strategi perusahaan, dan laporan keuangan
mereka, serta mendapatkan informasi penting secara lebih
mendalam tentang seberapa menguntungkan dan beresikonya
suatu perusahaan.
2. Untuk menambah pengetahuan tentang metode dan prinsip
akuntansi untuk mengukur dan melaporkan tentang pembiayaan,
investasi dan aktivitas operasi dalam suatu laporan keuangan dan
penyesuaiannya yang digunakan oleh para analis laporan keuangan
untuk menambah relevansi dan reliabilitas laporan keuangan
tersebut.
3. untuk dapat memperlihatkan tentang bagaimana data laporan
keuangan digunakan untuk memperkirakan laporan keuangan masa
datang.

Dikomentari [TW13]: Using Financial Information


porter hal 736

15

Tehnik dalam menganalisis laporan keuangan dapat dengan 2 (dua)


cara, yaitu analisis horizontal (comparatif) dan analisis vertical (commonsize) (Porter, 2011). Analsis horizontal adalah cara menganalisis dengan
cara membandingkan item-item pada laporan keuangan antar periode
laporan keuangan. Dengan memperhatikan item-item antar beberapa
periode laporan keuangan, hal ini yang disebut dengan analisis tren, yang
dapat sangat berguna dalam melakukan sebuah analsis.
Analisis Rasio Keuangan
Analisis vertical adalah cara menganalisis suatu laporan keuangan
dengan cara memperhatikan ukuran dan komposisi relatif dari berbagai
item pada suatu laporan keuangan dalam 1 (satu) periode akuntansi.
Analisis vertikal ini sering menggunakan rasio-rasio keuangan. Analisis

Dikomentari [TW14]: Using Financial Information


Porter hal 732

rasio merupakan salah satu jenis analisis yang digunakan untuk menggali
informasi lebih dalam suatu laporan keuangan (Porter, 2011). Rasio
keuangan dapat memberikan peringatan dini terhadap resiko potensial
yang dapat terjadi di masa mendatang yang dapat berujung kepada
kebangkrutan jika tidak ditangani dengan baik (Maricica dan Georgeta,
2012).
Fungsi, tugas dan wewenang pengaturan dan pengawasan kegiatan
jasa keuangan di sektor perbankan adalah Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
sejak tanggal 31 Desember 2013. OJK menerbitkan media publikasi setiap
bulan yang menyediakan data statistik perbankan di Indonesia dengan
nama Statistik Perbankan Indoensia (SPI) yang diterbitkan secara bulanan.

Dikomentari [TW15]: Business failure risk analysis using


financial ratio hal 5

16

SPI diterbitkan oleh Departemen Perizinan dan Informasi Perbankan


dengan tujuan memberikan gambaran perkembangan perbankan di
Indonesia. Data yang digunakan dalam publikasi SPI bersumber dari
Laporan Bulanan Bank Konvensional, dan Laporan Bulanan BPR. Salah
satu informasi mengenai BPR dalam SPI adalah data Kinerja BPR. Dalam
publikasi SPI, kinerja BPR dinyatakan dalam 4 (empat) rasio keuangan,
yaitu Loan to Deposit Ratio (LDR), Non-Performing Loan (NPL), Return on
Asset (ROA), dan Return on Equity (ROE).

17

BAB III. METODE PENELITIAN DAN TEHNIK ANALISIS DATA

A. Metode Penelitian
Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
deskriptif, menurut Uma Sekaran (Mastuti F., 2013) yaitu penelitian yang
dilakukan untuk mengetahui dan menjadi mampu untuk menjelaskan
karakteristik variabel yang diteliti dalam suatu situasi. Tujuan penelitian
deskriptif adalah memberikan kepada peneliti sebuah riwayat atau untuk
menggambarkan aspek-aspek yang relevan dengan fenomena perhatian
dari perspektif seseorang, organisasi, orientasi industri, atau lainnya yang
kemudian penelitian ini membantu peneliti untuk memberikan gagasan
untuk penyelidikan dan penelitian lebih lanjut atau membuat keputusan
tertentu yang sederhana (Uma Sekaran, 2009). Penulis memilih jenis
penelitian ini karena penulis ingin mendeskripsikan hasil analisis laporan
keuangan BPR di Wilayah Banyumas, Banjarnegara, Purbalingga, Cilacap
dan Kebumen (Masbarlingcakeb).
Obyek dari penelitian ini adalah BPR di wilayah Banyumas,
Banjarnegara, Purbalingga, Cilacap, dan Kebumen (Masbarlingcakeb).
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang
diperoleh dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berupa laporan neraca dan
laporan laba rugi tahun 2010 s.d. 2014.
Alat analisis yang digunakan adalah dengan menggunakan Modified
DuPont Model.

18

B. Tehnik Analisis Data


Tehnik analisis data yang digunakan adalah:
1. Mengumpulkan data BPR yang dinyatakan dilikuidasi pada tahun
2014.
2. Mengumpulkan data Laporan Keuangan BPR yang dinyatakan
dilikuidasi pada tahun 2014 untuk periode laporan keuangan
2010 s.d. 2014.
3. Melakukan analisis terhadap data Laporan Keuangan BPR yang
dinyatakan dilikuidasi tahun 2014 dari tahun 2010 s.d. 2014
menggunakan Modified Dupont Model. Analisis yang dilakukan
adalah dengan mengidentifikasi komponen-komponen rasio
keuangan yang digunakan dalam Modified Dupont Model.
4. Menganalisis tren yang terjadi dari komponen-komponen
Modified Dupont Model tersebut pada poin 3. Analisis tren disini
dimaksudkan untuk mengetahui tren apa yang terjadi pada 5
(lima) tahun terakhir sehingga menyebabkan BPR dinyatakan
dilikuidasi pada tahun 2014.
5. Mengumpulkan data Laporan Keuangan BPR di wilayah
Masbarlingcakeb untuk periode 2010-2014.
6. Melakukan analisis terhadap data Laporan Keuangan BPR di
wilayah Masbarlingcakeb tahun 2014 dari tahun 2010 s.d. 2014
menggunakan Modified Dupont Model.

19

7. Menganalisis tren yang terjadi dari komponen-komponen


Modified Dupont Model tersebut pada poin 6.
8. Menganalisis dan membandingkan tren Laporan Keuangan
periode tahun 2010 s.d. 2014 antara BPR yang dinyatakan
dilikuidasi tahun 2014.
9. Membuat simpulan tentang hasil analisis dan pembandingan
pada poin 8.
C. Jadwal dan Target Waktu Penelitian
No.

Kegiatan

Bulan Ke1 2 3 4 5 6

Seminar proposal skripsi

Revisi proposal skripsi dan persetujuan skripsi

Pengumpulan dan pengolahan data

Proses bimbingan untuk menyelesaikan skripsi

Ujian skripsi dan pendadaran

Revisi Skripsi dan persetujuan skripsi

20

DAFTAR PUSTAKA
Aurelija Maintien, D. B. (2012). The Need of Bankruptcy Prediction in The
Company. 7th International Scientific Conference, Business and
Management 2012 May 10-11, 2012 (p. 138). Vilnius: Vilnius
Gediminas Technical University.
Bank-Indonesia, D. K. (2010). Pedoman Akuntansi Bank Perkreditan
Rakyat. Jakarta: Bank Indonesia.
Brojonegoro, B. (2015, Juli 1). Peran Penting UKM Dorong Perekonomian
Indonesia.
Retrieved
from
Kemenkeu
RI:
http://www.kemenkeu.go.id/Berita/peran-penting-ukm-dorongperekonomian-indonesia
Hamada, M. (2010). Commercialization of Microfinance in Indonesia: The
Shorage of Fund and Linkage Program. The Developing Economies
48, no. 1 (March 2010), 156.
Herli, A. S. (2013). Buku Pintar Pengelolaan BPR dan Lembaga Keuangan
Pembiayaan Mikro. Yogyakarta: Andi Offset.
K. R. Subramanyam, J. J. (2009). Financial Statement Analysis 10th ed.
New York: McGraw-Hill Companies Inc.
Kyriazopoulos Georgios, H. G. (2002). Du Pont Analysis of a Bank Merger
and Acquisition between Laiki Bank from Cyprus and Marfin
Investment Group from Greece. MIBES Transactions, Vol 5, Issue 2,
30-49.
LPS.

(2016). Lembaga Penjamin Simpanan. Retrieved from


http://www.lps.go.id/bank-yang-telah-selesai-proses-likuidasinya

LPS.

(2016). Lembaga Penjamin Simpanan. Retrieved from


http://www.lps.go.id/bank-yang-sedang-dalam-proses-likuidasi

Mastuti, F. (2013). ALTMAN Z-SCORE SEBAGAI SALAH SATU METODE


DALAM
MENGANALISIS
ESTIMASI
KEBANGKRUTAN
PERUSAHAAN (Studi Pada Perusahaan Plastik dan Kemasan yang
Terdaftar (Listing) di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2010
sampai dengan 2012). Jurnal Administrasi Bisnis.
Moscalu Maricica, V. G. (2012). Business failure risk analysis using financial
ratios. Social and Behavioral Sciences 62, 732.
Njotoprajitno, R. S. (2012). Pengembangan dan Pemberdayaan BPR dalam
Upaya Peningkatan Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia.
Retrieved
from
academia.edu:

21

https://www.academia.edu/11284887/PENGEMBANGAN_DAN_PE
MBERDAYAAN_BPR_DALAM_UPAYA_PENINGKATAN_USAHA_
KECIL_DAN_MENENGAH_DI_INDONESIA_BPR_Development_a
nd_Empowerment_to_Improve_Small_and_Medium_Businesses_i
n_Indonesia
OJK. (2014). Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 20/POJK.03/2014
tentang Bank Perkreditan Rakyat. Jakarta.
Otoritas Jasa Keuangan. (2015, Desember Vol. 14 No. 1). Otoritas Jasa
Keuangan.
Retrieved
from
http://www.ojk.go.id/id/kanal/perbankan/data-dan-statistik/statistikperbankan-indonesia/Documents/Pages/Statistik-PerbankanIndonesia---Desember-2015/SPI%20Des%202015.pdf
Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/20/PBI/2006 tentang Transparansi
Kondisi Keuangan Bank Perkreditan Rakyat. (2006, Oktober 5).
Jakarta.
Peter D. Easton, M. L.-J. (2015). Financial Statement Analysis and
Valuation. Cambridge: Cambridge Business Publishers.
Porter, G. A., & Norton, C. L. (2011). Using Financial Accounting
Information. Ohio: South-Western Cengage Learning.
Prendergast, P. (2006). How a "Modified DuPont Approach" to Ratio
Analysis Can be Used to Drill Down to The True Cause of Financial
Problems. Financial Manajement, 49.
Sekaran, U. (2009). Metode Penelitian untuk Bisnis. Jakarta: Bumi Aksara.
Soliman, M. T. (2008). The Use of DuPont Analysis by Market Participants.
THE ACCOUNTING REVIEW Vol. 83, No. 3, 823.
Stanley F. Slater, E. M. (September-October 2009). A Value Based
Management System. Business Horizons, 49.
Thomas J. Liesz, S. J. (2008). Ratio Analysis Featuring DuPont Method.
Small Business Institute Journal Volume I, 22-25.
TRICorporation. (2009). Key Financial Metrics - The Dupont Model. Critical
Equation for Business Leader.
UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. (1992). Jakarta: Republik
Indonesia.

22

Widyanto,
I.
(2015).
FISIP
Unita.
Retrieved
from
https://unitafisip.wordpress.com/:
https://unitafisip.files.wordpress.com/2015/09/p-ishworo-1.pdf
Wu, W.-W. (2009). Beyond Business Prediction Failure. Expert Systems
with Applications 37, 2375.

Lampiran 23
1

DAFTAR BPR DI WILAYAH BANYUMAS, BANJARNEGARA,


PURBALINGGA, CILACAP DAN KEBUMEN (MASBARLINGCAKEB)
BPR DI WILAYAH KABUPATEN BANYUMAS
1. PT. BPR Artha Mekar Sokaraja
2. PD BPR BKK Purwokerto
3. PT. BPR Gunung Simping Artha
4. PT. BPR Dana Mitra Sakti
5. PT. BPR Tirta Danarta
6. PT. BPR Mitra Gema Mandiri
7. PT. BPR Soka Panca Artha
BPR DI WILAYAH KABUPATEN BANJARNEGARA
1. PT. BPR Surya Y. Kencana
2. PD. BPR BKK Mandiraja
BPR DI WILAYAH KABUPATEN PURBALINGGA
1. PT. BPR Artha Perwira
2. PD. BPR BKK Purbalingga
BPR DI WILAYAH KABUPATEN CILACAP
1. PT. BPR Gunung Slamet
2. PT. BPR Citanduy Artha
3. PT. BPR Kroya Bangunartha
4. PD. BPR BKK Cilacap
5. PT. BPR Artha Rahayu
6. PT. BPR Banyu Arthacitra

24

7. PT. BPR Ukabima Sejahtera


BPR DI WILAYAH KABUPATEN KEBUMEN
1. PT. BPR Araya Arta d/h Gunung Merapi Kebumen
2. PD. BPR Kebumen
3. PD. BPR BKK Kebumen
4. PT. BPR Danamitra Sejahtera
5. PT. BPR Sinararta Sejahtera

25
Lampiran 2

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

Nama Bank Dalam Likuidasi


PT BPR Mutiara Artha Pratama (DL)
PT BPR Cahaya Nagari (DL)
PT BPR Cakra Dharma Artamandiri (DL)
PT BPR Kujang Artha Sembada (DL)
PT BPR Cinere Artha Raya (DL)
PT BPR Mitra Danagung (DL)
PT BPR Kapital Metropolitan (DL)
PT BPR Berok Gunung Pangilun (DL)
PT BPR Sukowati Jaya (DL)
BPR LPN Mudik Air (DL)
PT. BPR Artha Nagari Madani (DL)
PD. BPR LPK Bojongpicung (DL)
PT. BPR Sadayana Artha (DL)
PT BPR Dharma Bhakti SMAdang
PT. BPR Mustika Utama Raha (DL)
PT. BPR Iswara Artha (DL)
PT. BPR Syariah Syarif Hidayatullah (DL)
PT. BPR Dharma Bhakti SMAdang (DL)
PT. BPR Indomitra Mandiri Ciputat (DL)
PT. BPR Pundi Artha Sejahtera
PD. BPR LPK Sukamandi
PD. BPR LPK Pabuaran
PD. BPR LPK Talegong
PD. BPR LPK Samarang

Posisi
Proses Likuidasi
Proses Likuidasi
Proses Likuidasi
Proses Likuidasi
Proses Likuidasi
Proses Likuidasi
Selesai
Proses Likuidasi
selesai
Proses Likuidasi
Proses Likuidasi
Selesai Likuidasi
Selesai Likuidasi
Proses Likuidasi
Selesai Likuidasi
Selesai Likuidasi
Selesai Likudasi
Proses Likuidasi
Selesai Likuidasi
Selesai Likuidasi
Selesai Likuidasi
Selesai
Selesai Likuidasi
Selesai Likuidasi