Anda di halaman 1dari 31

III.

HASIL KEGIATAN PRAKTIK KERJA

A. ANALISIS SISTEM AKUNTANSI PENDAPATAN BADAN


LAYANAN UMUM (BLU) UNSOED
Sistem Akuntansi Pendapatan BLU Unsoed berdasarkan Permendikbud nomor
10 tahun 2013 (Lampiran 1) terdiri dari 2 (dua) subsistem yaitu Subsistem
Pendapatan Jasa Layanan Pendidikan dan Subsistem Pendapatan Jasa Lainnya.
1.

Subsistem Pendapatan Jasa Layanan Pendidikan


Pendapatan Jasa Layanan Pendidikan merupakan pendapatan yang bersumber

dan disetorkan langsung oleh mahasiswa melalui bank yang ditunjuk. Pendapatan
Jasa Layanan Pendidikan terdiri dari:
1) Biaya pendaftaran calon mahasiswa baru,
2) Biaya pendidikan mahasiswa,
3) Biaya layanan administrasi pendidikan,
4) Biaya Kuliah Kerja Nyata (KKN),
5) Biaya wisuda, dan
6) Biaya pendidikan lain yang ditetapkan dalam peraturan Rektor atau
peraturan lain yang lebih tinggi.
Pihak-pihak yang terkait dalam Subsistem Pendapatan Jasa Layanan
Pendidikan adalah:
1) Mahasiswa,
2) Bank,
3) Bendahara Penerimaan,

4) Otorisator Kegiatan dan Anggaran (OKA),


5) Penguji Tagihan Unit (PTU), dan
6) Bendahara Unit BLU (BUB).
Proses dari Pendapatan Jasa Layanan Pendidikan dijelaskan dalam bagan alir
sebagai berikut:

Gambar 3.1 Bagan Alir Subsistem Pendapatan Jasa Layanan Pendidikan

Flowchart dari Pendapatan Jasa Layanan Pendidikan dicantumkan pada


Lampiran 2.
Penjelasan dari bagan alir Pendapatan Jasa Layanan Pendidikan adalah
sebagai berikut:
1. Mahasiswa/calon mahasiswa melakukan pembayaran menggunakan slip
pembayaran/slip transfer ke rekening rektor.

10

2. Bank mengirimkan arsip data komputer (ADK) pembayaran biaya


pendidikan mahasiswa, baik secara offline maupun online (host to host) ke
sistem akademik (e-SIA) secara periodik
3. Bank mengirimkan rekening koran secara periodik kepada Bendahara
Penerimaan. Dalam hal Bendahara Penerimaan telah memiliki akses ke
dalam sistem internet banking, maka Bendahara Penerimaan dapat
mengunduh rekening koran secara periodik
4. Bendahara Penerimaan mengunduh (download) data penerimaan dari
sistem akademik, kemudian mencocokan data penerimaan dengan rekening
koran
5. Bendahara Penerimaan membuat Laporan Penerimaan Dana Pendidikan
(LPDP) untuk setiap unit BLU dan mengirimkannya setiap bulan kepada
OKA masing-masing unit BLU
6. OKA menyampaikan LPDP kepada BUB melalui PTU, untuk dilakukan
pencatatan akuntansi pendapatan
7. BUB membuat Bukti Memorial yang ditandatangani oleh OKA sebagai
dasar pencatatan akuntansi
8. BUB dapat mengunduh (download) data registrasi mahasiswa sebagai data
pendukung atau untuk melakukan verifikasi perhitungan penerimaan
sharing dana dalam LPDP yang disusun oleh Bendahara Penerimaan.
Jurnal Standar BUB untuk mencatat transaksi Jasa Layanan Pendidikan
adalah sebagai berikut:
Dr. 11020 Bank
Cr.

411xx Pendapatan Unit BLU

xxx
xxx

11

Dokumen sumber untuk pencatatan ini adalah Bukti Memorial dengan dokumen
pendukung slip setoran, rekening koran atau daftar pembayaran dana pendidikan.
2. Hasil Analisis Subsistem Pendapatan Jasa Layanan Pendidikan
Berdasarkan alur Subsitem Pendapatan Jasa Layanan Pendidikan, terdapat
beberapa poin analisis sebagai berikut:
a. Analisis proses penyerahan LPDP dari OKA kepada BUB
Pada proses Pendapatan Jasa Layanan Pendidikan, Laporan Penerimaan Dana
Pendidikan (LPDP) diserahkan oleh Bendahara Penerimaan kepada Otorisator
Kegiatan dan Anggaran (OKA) untuk selanjutnya OKA menyerahkan LPDP
kepada BUB melalui PTU. Secara struktural PTU dan BUB merupakan bagian yang
terpisah jika dilihat dari struktur organisasi unit yang digambarkan sebagai berikut:

Gambar 3.2 Struktur Organisasi Unit berdasarkan Permendikbud 10 tahun 2013

12

Yang menjadi perhatian adalah kenapa penyampaian LPDP melalui PTU, karena
secara struktural tidak ada keterkaitan PTU terhadap BUB jika dilihat dari struktur
organisasi unit, yaitu:
1. Jika alasan penyampaian LPDP melalui PTU adalah dalam kapasitasnya
membantu OKA dalam mengelola anggaran untuk pelaksanaan kegiatan
(karena PTU adalah penguji tagihan atas pengeluaran bukan pendapatan),
hal ini menjadi kurang tepat karena LPDP digunakan oleh BUB, bukan
PTU, sebagai data pendukung atau untuk melakukan verifikasi perhitungan
penerimaan sharing dana dalam LPDP yang disusun oleh Bendahara
Penerimaan.
2. Jika alasan penyampaian LPDP melalui PTU adalah agar PTU hanya
sebatas mengetahui kemudian men-disposisi LPDP kepada BUB, maka hal
ini kurang tepat karena posisi PTU dan BUB berkedudukan sama dalam
struktur organisasi unit.
Berdasarkan analisis di atas maka saran untuk perbaikan Subsistem Pendapatan
Jasa Layanan Pendidikan adalah sebagai berikut:
1. Jika tetap mempertahankan struktur tersebut, seharusnya dicantumkan tugas
PTU dalam kaitannya dengan penyerahan LPDP dari OKA kepada BUB
melalui PTU. Jika penyerahan tersebut terkait tupoksi PTU dalam
kapasitasnya membantu

OKA dalam mengelola

anggaran untuk

pelaksanaan kegiatan, minimal dijelaskan bahwa PTU menyimpan copy


LPDP sebagai arsip. Dalam subsistem yang sekarang, dokumen LPDP
hanya ada pada BUB.

13

2. Jika akan merubah struktur tersebut, PTU dalam kapasitasnya membantu


OKA dalam mengelola anggaran untuk pelaksanaan kegiatan, strukturnya
menjadi sebagai berikut:

Gambar 3.3 Bagan Alir Usulan Perbaikan Penyerahan LPDP dari OKA ke BUB

Flowchart saran perbaikan berdasarkan Gambar 3.3 dilampirkan pada


Lampiran 3.
Perubahan dalam bagan alir ini dibandingkan dengan subsistem yang
sekarang adalah:
1) PTU menerima LPDP (dalam bentuk copy) sebagai arsip dalam
kapasitasnya membantu OKA (jika sewaktu-waktu diperlukan) dalam
mengelola anggaran untuk pelaksanaan kegiatan.

14

2) BUB menerima LPDP secara langsung dari OKA (tidak melalui PTU)
karena pemisahan tugas yang jelas, setelah sebelumnya alasan melalui
PTU tidak dijelaskan. Penggunaan LPDP oleh BUB adalah sebagai data
pendukung atau untuk melakukan verifikasi perhitungan penerimaan
sharing dana dalam LPDP yang disusun oleh Bendahara Penerimaan
sedangkan LPDP digunakan oleh PTU sebagaimana disebutkan dalam
poin sebelumnya.
b. Analisis Pencatatan Pendapatan Jasa Layanan Pendidikan oleh BUB
Pada Subsistem Pendapatan Jasa Layanan Pendidikan, OKA menyerahkan
LPDP kepada BUB melalui PTU, BUB ketika akan mencatat Pendapatan Unit BLU
harus membuat Bukti Memorial yang ditandatangani oleh OKA. Sehingga proses
pencatatan Pendapatan Unit BLU tentang Pendapatan Jasa Layanan Pendidikan jika
digambarkan dalam bagan alir adalah sebagai berikut:

Gambar 3.4 Bagan Alir Pencatatan LPDP oleh BUB

15

Flowchart bagan alir Gambar 3.4 dilampirkan dalam Lampiran 4.


Penjelasan dari diagram alir diatas adalah:
1) LPDP diserahkan dari OKA kepada PTU untuk kemudian diserahkan ke
BUB,
2) BUB menerima LPDP dari PTU,
3) BUB berdasarkan LPDP membuat Bukti Memorial sebagai dasar
pencatatan Pendapatan Unit BLU yang diserahkan kepada OKA untuk
ditandatangani.
4) OKA menandatangani Bukti Memorial kepada BUB, selanjutnya BUB
mencatat Pendapatan Unit BLU.
Dilihat dari proses di atas, pencatatan dari disampaikannya LPDP dari OKA
hingga BUB mencatat Pendapatan Unit BLU termasuk panjang. Ada proses bolakbalik dari OKA dan BUB. Proses ini dapat dipersingkat, jika digabungkan dengan
analisis tentang penyerahan LPDP dari OKA kepada BUB, maka LPDP diserahkan
oleh OKA kepada BUB (yang secara paralel LPDP juga diserahkan kepada PTU)
disertai dengan Bukti Memorial yang sudah ditandatangani oleh OKA sebagai dasar
pencatatan oleh BUB. Sehingga jika digambarkan dengan bagan alir menjadi
sebagai berikut:

16

Gambar 3.5 Bagan Alir Usulan Perbaikan Pencatatan LPDP oleh BUB

Flowchart bagan alir sebagaimana Gambar 3.5 dilampirkan dalam Lampiran 5.


Hasil analisis subsistem Pendapatan Jasa Layanan Pendidikan, jika digabungkan
antara kedua analisis di atas akan menjadi proses seperti di bawah ini:

Gambar 3.6 Bagan Alir Usulan Perbaikan Subsistem Pendapatan Jasa Layanan
Pendidikan

17

Flowchart bagan alir sebagaimana Gambar 3.6 dilampirkan pada Lampiran 6.


Penjelasan dari bagan alir hasil analisis Pendapatan Jasa Layanan Pendidikan
adalah sebagai berikut:
1. Mahasiswa/calon mahasiswa melakukan pembayaran menggunakan slip
pembayaran/slip transfer ke rekening rektor.
2. Bank mengirimkan arsip data komputer (ADK) pembayaran biaya
pendidikan mahasiswa, baik secara offline maupun online (host to host) ke
sistem akademik (e-SIA) secara periodik
3. Bank mengirimkan rekening koran secara periodik kepada Bendahara
Penerimaan. Dalam hal Bendahara Penerimaan telah memiliki akses ke
dalam sistem internet banking, maka Bendahara Penerimaan dapat
mengunduh rekening koran secara periodik
4. Bendahara Penerimaan mengunduh (download) data penerimaan dari
sistem akademik, kemudian mencocokan data penerimaan dengan rekening
koran
5. Bendahara Penerimaan membuat Laporan Penerimaan Dana Pendidikan
(LPDP) untuk setiap unit BLU dan mengirimkannya setiap bulan kepada
OKA masing-masing unit BLU
6. OKA menyampaikan LPDP kepada PTU dalam bentuk copy sebagai arsip
7. OKA menyampaikan LPDP asli kepada BUB beserta Bukti Memorial yang
sudah ditandatangani oleh OKA sebagai dasar pencatatan akuntansi

18

8. BUB dapat mengunduh (download) data registrasi mahasiswa sebagai data


pendukung atau untuk melakukan verifikasi perhitungan penerimaan
sharing dana dalam LPDP yang disusun oleh Bendahara Penerimaan.
3.

Subsistem Pendapatan Jasa Lainnya


Pendapatan Jasa Lainnya merupakan pendapatan yang bersumber selain dari

dana pendidikan yang terdiri dari:


1) Pendapatan kerjasama dengan pihak ketiga,
2) Pendapatan dari unit usaha BLU,
3) Penerimaan dana hibah,
4) Pendapatan jasa perbankan,
5) Pendapatan hasil investasi, dan
6) Pendapatan lain-lain.
Pihak-pihak yang terkait dengan Subsistem Pendapatan Jasa Lainnya adalah:
1) Penanggung jawab Teknis Kegiatan (PTK),
2) Bank,
3) Bendahara Penerimaan,
4) OKA,
5) PTU, dan
6) BUB.
Proses dari Subsistem Pendapatan Jasa Lainnya digambarkan dalam bagan alir
sebagai berikut:

19

Gambar 3.7 Bagan Alir Subsistem Pendapatan Jasa Lainnya

Flowchart sebagaimana Gambar 3.7 dilampirkan pada Lampiran 7.


Penjelasan bagan alir Subsistem Pendapatan Jasa Lainnya adalah sebagai berikut:
1) Penanggung jawab Teknis Kegiatan (PTK) melakukan setoran pendapatan
menggunakan slip setoran/slip transfer ke rekening rektor, PTK
menyerahkan copy slip setoran/slip transfer kepada Bendahara Penerimaan,
2) Jika setoran dilakukan oleh pihak ketiga, maka PTK menyerahkan copy
dokumen pendukung seperti surat perjanjian/ kontrak, bukti transfer/bukti
pembayaran dan sejenisnya kepada Bendahara Penerimaan,
3) Bank mengirimkan rekening koran secara periodik kepada Bendahara
Penerimaan, Dalam hal Bendahara Penerimaan telah memiliki akses ke
dalam sistem internet banking, maka Bendahara Penerimaan dapat
mengunduh rekening koran secara periodik.
4) Bendahara Penerimaan membuat Laporan Penerimaan Pendapatan Lain
(LPPL) setiap unit BLU atau pelaksana kegiatan dan mengirimkannya

20

secara periodik kepada Otorisator Kegiatan dan Anggaran (OKA) masingmasing unit BLU atau PTK.
5) OKA menyampaikan LPPL kepada BUB melalui PTU, untuk dilakukan
pencatatan akuntansi pendapatan.
6) BUB membuat Bukti Memorial yang ditandatangani oleh OKA sebagai
dasar pencatatan akuntansi.
Jurnal standar BUB untuk mencatat transaksi pendapatan jasa layanan lainnya
sebagai berikut:
Dr. 11110 Piutang Kepada Bendahara Penerimaan
Cr.

41xxx Pendapatan Unit BLU ...

xxx
xxx

Dokumen sumber untuk pencatatan BUB adalah Bukti Memorial dengan dokumen
pendukung LPPL.
4.

Hasil Analisis Subsistem Pendapatan Jasa Lainnya


Berdasarkan alur Subsitem Pendapatan Jasa Lainnya, terdapat beberapa poin

analisis sebagai berikut:


a. Penyetoran Bukti Setoran

Pendapatan PTK kepada Bendahara

Penerimaan
Berdasarkan prosedur Subsistem Pendapatan Jasa Lainnya, PTK secara
langsung meyampaikan bukti Setoran Pendapatan kepada Bendahara Penerimaan,
baik Setoran Pendapatan yang dilakukan oleh PTK maupun oleh Pihak Ketiga tanpa
adanya pemberitahuan ataupun laporan kepada OKA.
Dilihat dari prosedur Subsistem Pendapatan Jasa Lainnya ini, PTK melakukan
salah satu tupoksinya dalam penyetoran Pendapatan Jasa Lainnya tanpa

21

sepengetahuan ataupun pengawasan OKA. Secara struktural, PTK berada di bawah


OKA, sehingga PTK bertanggung jawab kepada OKA. Segala hal yang berkaitan
dengan pelaksanaan tupoksi PTK di unit BLU seharusnya dalam sepengetahuan dan
pengawasan OKA. Oleh karena itu, PTK dalam menyampaikan bukti Setoran
Pendapatan

kepada

Bendahara

Penerimaan,

secara

paralel

juga

melaporkan/menyampaikan kegiatan tersebut kepada OKA. Jika dibuat bagan alir


maka akan menjadi sebagai berikut:

Gambar 3.8 Bagan Alir Usulan Pelaporan Pendapatan Jasa Lainnya oleh PTK ke OKA

Flowchart bagan alir sebagaimana Gambar 3.8 dilampirkan pada Lampiran 8.


Dengan adanya pelaporan PTK kepada OKA perihal setoran Pendapatan
Jasa Lainnya, maka:
1) PTK menjalankan salah satu tupoksinya, yaitu penyetoran Pendapatan Jasa
Lainnya dari Unit BLU, adalah dengan sepengetahuan atau dalam
pengawasan OKA sebagai atasan langsung;

22

2) Penyampaian Laporan PTK kepada OKA tentang Pendapatan Jasa Lainnya


juga dapat menjadi bahan rekonsiliasi. OKA dapat mengontrol kesesuaian
antara Pendapatan Jasa Lainnya yang disetorkan oleh PTK ke rekening
Rektor yang dicatat oleh Bendahara Penerimaan (melalui Laporan PTK
terhadap OKA) dengan data LPPL yang dikirim oleh Bendahara
Penerimaan kepada OKA.
b. Penyampaian LPPL dari OKA kepada BUB dan Pencatatan Pendapatan
Jasa Lainnya oleh BUB
Dalam Subsistem Pendapatan Jasa Lainnya, penyampaian LPPL dari OKA
kepada BUB melalui PTU, BUB ketika akan mencatat Pendapatan Unit BLU dari
Pendapatan Jasa Lainnya harus membuat Bukti Memorial yang ditandatangani oleh
OKA. Proses tersebut jika digambarkan dengan bagan alir adalah sebagai berikut:

Gambar 3.9 Bagan Alir Penyerahan LPPL dari OKA dan Pencatatan LPPL oleh BUB

23

Flowchart bagan alir sebagaimana Gambar 3.9 dilampirkan pada Lampiran 9.


Penjelasan bagan alir Gambar 3.9 adalah:
1) LPPL diserahkan dari OKA kepada PTU untuk kemudian diserahkan ke
BUB,
2) BUB menerima LPPL dari PTU,
3) BUB berdasarkan LPPL membuat Bukti Memorial sebagai dasar pencatatan
Pendapatan Unit BLU yang diserahkan kepada OKA untuk ditandatangani.
4) OKA menandatangani Bukti Memorial kepada BUB, selanjutnya BUB
mencatat Pendapatan Unit BLU.
Hasil analisis Penyampaian LPPL dari OKA kepada BUB dan Pencatatan
Pendapatan Jasa Lainnya oleh BUB adalah:
1) Proses penyerahan LPPL dari OKA kepada BUB melalui PTU.
Sebagaimana dalam subsistem Pendapatan Jasa Layanan Pendidikan
dimana penyerahan LPDP dari OKA kepada BUB harus melalui PTU, proses
dalam penyerahan LPPL kepada BUB juga harus melalui PTU. Karena
kesamaan hal tersebut, maka saran perbaikan terhadap proses penyerahan LPPL
kepada BUB adalah sama dengan proses penyerahan LPDP kepada BUB yaitu
PTU dalam kapasitasnya membantu OKA dalam mengelola anggaran untuk
pelaksanaan kegiatan, penerahan LPPL secara paralel diserahkan kepada PTU
(copy) dan BUB (asli), strukturnya menjadi sebagai berikut:

24

Gambar 3.10 Bagan Alir Usulan Perbaikan Penyerahan LPPL dari Oka kepada BUB

Flowchart bagan alir sebagaimana Gambar 3.10 dilampirkan dalam


Lampiran 10.
2) Proses pencatatan Pendapatan Jasa Lainnya oleh BUB dengan dasar Bukti
Memorial yang dibuat BUB dan ditandatangani oleh OKA
Proses pencatatan Pencatatan Jasa Lainnya oleh BUB dengan dasar Bukti
Memorial yang dibuat oleh BUB dan ditandatangani oleh OKA, berarti ada
proses bolak-balik antara BUB yang sudah menerima LPPL dari OKA. Setelah
menerima LPPL dari OKA, BUB membuat Bukti Memorial berdasarkan LPPL
yang diserahkan kembali ke OKA untuk ditandatangani dan setelah
ditandatangani OKA diserahkan kepada BUB, untuk selanjutnya BUB mencatat
Pendapatan Jasa Lainnya.

25

Hal ini dapat dipersingkat dengan cara saat penyerahan LPPL kepada BUB
oleh OKA sudah disertai dengan Bukti Memorial agar BUB mencatat
Pendapatan Jasa Lainnya sesuai LPPL. Hal tersebut digambarkan dengan bagan
alir sebagai berikut:

Gambar 3.11 Bagan Alir Usulan Perbaikan Pencatatan LPPL oleh BUB

Flowchart bagan alir sebagaimana Gambar 3.11 dilampirkan dalam


Lampiran 11.
Hasil Analisis Subsistem Pendapatan Jasa Lainnya, jika digabungkan akan
menjadi sebagai berikut:

26

Gambar 3.12 Bagan Alir Usulan Perbaikan Subsistem Pendapatan Jasa Lainnya

Flowchart bagan alir sebagaimana Gambar 3.12 dilampirkan pada Lampiran 12.
Penjelasan bagan alir hasil analisis Subsistem Pendapatan Jasa Lainnya adalah
sebagai berikut:
1) Penanggung jawab Teknis Kegiatan (PTK) melakukan setoran pendapatan
menggunakan slip setoran/slip transfer ke rekening rektor, PTK
menyerahkan copy slip setoran/slip transfer kepada Bendahara Penerimaan,
dan melaporkan kepada OKA perihal setoran pendapatan tersebut.
2) Jika setoran dilakukan oleh pihak ketiga, maka PTK menyerahkan copy
dokumen pendukung seperti surat perjanjian/ kontrak, bukti transfer/bukti
pembayaran dan sejenisnya kepada Bendahara Penerimaan, dan melaporkan
kepada OKA perihal setoran pendapatan tersebut.
3) Bank mengirimkan rekening koran secara periodik kepada Bendahara
Penerimaan, Dalam hal Bendahara Penerimaan telah memiliki akses ke

27

dalam sistem internet banking, maka Bendahara Penerimaan dapat


mengunduh rekening koran secara periodik.
4) Bendahara Penerimaan membuat Laporan Penerimaan Pendapatan Lain
(LPPL) setiap unit BLU atau pelaksana kegiatan dan mengirimkannya
secara periodik kepada Otorisator Kegiatan dan Anggaran (OKA) masingmasing unit BLU atau PTK.
5) OKA melakukan cross check kesesuaian antara LPPL dengan laporan PTU
tentang Pendapatan Jasa Lainnya untuk kemudian diserahkan kepada PTU
(copy) sebagai arsip.
6) OKA menyerahkan LPPL kepada BUB disertai Bukti Memorial yang
ditandatangani oleh OKA sebagai dasar pencatatan akuntansi.

B. ANALISIS PENERAPAN SISTEM AKUNTANSI PENDAPATAN UNIT


BLU FISIP
Sistem Akuntansi BLU Unsoed yang berlaku saat ini adalah Peraturan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Republik Indonesia Nomor 10 tahun
2013 tentang Sistem Akuntansi Universitas Jenderal Soedirman. Sistem Akuntansi
BLU Unsoed tersebut merupakan Pelaksanaan dari Peraturan Menteri Keuangan
(PMK) Nomor 76/PMK.05/2008 tentang Pedoman Akuntansi dan Pelaporan
Keuangan Badan Layanan Umum. Latar belakang Peraturan Menteri Keuangan
tersebut adalah untuk menjamin Akuntabilitas, Pelaporan dan Pertanggungjawaban
Keuangan BLU sebagaimana tercantum dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor
23/2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PK BLU). Sistem

28

Akuntansi BLU Unsoed merupakan pengembangan sistem akuntansi di bidang


pendidikan tinggi yang digunakan untuk menjamin terwujudnya Akuntabilitas,
Pelaporan dan Pertanggungjawaban Keuangan BLU Unsoed.
Analisis penerapan Sistem Akuntansi BLU Unsoed adalah hal yang sangat
penting karena standar untuk terwujudnya Akuntabilitas, Pelaporan dan
Pertanggungjawaban Keuangan BLU Unsoed adalah dengan diterapkannya Sistem
Akuntansi BLU Unsoed ini. Dengan kata lain, dengan tidak diterapkannya
komponen-komponen dalam Sistem Akuntansi BLU Unsoed ini, maka tingkat
Akuntabilitas, Pelaporan dan Pertanggungjawaban Keuangan BLU Unsoed
menjadi kurang. Hasil analisis terhadap penerapan Sistem Akuntansi BLU Unsoed
adalah sebagai berikut:
1. Analisis Dasar Sistem Akuntansi pada Laporan Keuangan FISIP Semester
I tahun 2015
Sistem Akuntansi BLU Unsoed digunakan sebagai pedoman bagi para
pengelola keuangan dan pelaksana anggaran pada seluruh unit kerja di lingkungan
UNSOED, agar pengelolaan keuangan dilakukan secara transparan, akuntabel,
tertib administrasi, efisien, dan efektif. Unit FISIP Unsoed, sebagai salah satu dari
unit pengelola keuangan dan pelaksana anggaran di lingkungan Unsoed, harus
melaksanakan Sistem Akuntansi BLU Unsoed.
Pada Laporan Keuangan FISIP Semester I tahun 2015, disitu masih tertulis
Peraturan Rektor UNSOED Nomor 037/H23/KU.00.00/2010 tanggal 27 Januari
2010 tentang Pengelolaan Keuangan BLU (PK BLU) Unsoed sebagai acuan sistem
akuntansi BLU Unsoed.

29

Dalam Salinan Lampiran Permendikbud Nomor 10 tahun 2013 BAB I. A.


Latar Belakang, tertulis:
UNSOED sebagai salah satu satuan kerja di bawah Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan pada tanggal 17 Desember 2009 telah ditetapkan sebagai
satuan kerja yang menerapkan pola pengelolaan keuangan BLU (PK-BLU),
berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 502/KMK.05/2009 tentang
Penetapan Universitas Jenderal Soedirman pada Departemen Pendidikan
Nasional sebagai Instansi Pemerintah Yang Menerapkan Pola Keuangan Badan
Layanan Umum. Terkait dengan hal tersebut, pada tahun 2010 UNSOED
telah menyusun sistem dan prosedur PK-BLU UNSOED yang tertuang
dalam Peraturan Rektor UNSOED Nomor 037/H23/KU.00.00/2010
tanggal 27 Januari 2010. Namun seiring dengan perkembangan
kebutuhan, untuk efektivitas dan efisiensi serta meningkatnya struktur
pengendalian internal maka pada tahun 2011 dilakukan perubahan
terhadap sistem dan prosedur PK-BLU tersebut dengan Sistem Akuntansi
BLU UNSOED.
Oleh

karena

itu,

pencatuman

Peraturan

Rektor

UNSOED

Nomor

037/H23/KU.00.00/2010 tanggal 27 Januari 2010 tentang Pengelolaan Keuangan


BLU (PK BLU) Unsoed sebagai acuan sistem akuntansi BLU Unsoed pada Laporan
Keuangan FISIP Semester I tahun 2015 merupakan hal yang tidak tepat. Peraturan
Rektor tersebut telah dihapus dengan adanya Sistem Akuntansi BLU Unsoed yang
dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan Permendikbud

30

Nomor 10 tahun 2013 tentang Sistem Akuntansi Universitas Jenderal Soedirman


(Unsoed). Kesalahan tersebut terjadi disebabkan oleh:
1) Bagian pencatatan/akuntansi Unit Fisip belum mengetahui adanya
perubahan Sistem Akuntansi Unsoed dari Peraturan Rektor UNSOED
Nomor 037/H23/KU.00.00/2010 tanggal 27 Januari 2010 menjadi
Permendikbud Nomor 10 tahun 2013 tentang Sistem Akuntansi Universitas
Jenderal Soedirman,
2) Bagian Akuntansi Pusat Unsoed, belum men-sosialisasikan perubahan
peraturan mengenai Sistem Akuntansi BLU Unsoed, padahal Permendikbud
Nomor 10 tahun 2013 sudah tersedia di Elfina Unsoed,
3) Pada saat briefing oleh Bagian Akuntansi Pusat Unsoed, belum pernah
dijelaskan mengenai dasar hukum dan peraturan-peraturan yang mengatur
tentang materi-materi yang disampaikan terkait pencatatan dan akuntansi.
Hal ini harus menjadi perhatian bagi Unit FISIP Unsoed karena dalam
pemeriksaan laporan keuangan baik oleh BPK maupun akuntan publik,
pencantuman dasar sistem akuntansi merupakan hal yang vital sebagai dasar acuan
dalam pencatatan dan pelaporan keuangan. Jika dasar pencatatan dan pelaporan
salah, maka dikhawatirkan dalam laporan keuangan FISIP tersebut terdapat
kesalahan-kesalahan yang tidak sesuai dengan dasar Sistem Akuntansi BLU
Unsoed yang berlaku seharusnya.
2. Analisis Penerapan Subsistem Pendapatan Jasa
Ada 2 (dua) Subsistem Pendapatan Jasa, yaitu Subsistem Pendapatan Jasa
Layanan Pendidikan dan Subsistem Pendapatan Jasa Lainnya. Pada kenyataannya,

31

Unit BLU FISIP Unsoed tidak sepenuhnya menerapkan Sistem Akuntansi BLU
Unsoed yang diatur dalam Permendikbud Nomor 10 Tahun 2013.
Perbedaan penerapan Sistem Akuntansi Unit BLU FISIP Unsoed Subsistem
Pendapatan dengan Sistem Akuntansi BLU Unsoed yang diatur dalam
Permendikbud Nomor 10 tahun 2013, dijelaskan sebagai berikut:
1) Analisis Penerapan Subsistem Pendapatan Jasa Layanan Pendidikan
Pada Subsistem Pendapatan Jasa Layanan Pendidikan, bagan alir yang
seharusnya sebagaimana dalam Permendikbud Nomor 10 tahun 2013 adalah
sebagaimana Gambar 3.1.
Pada tahap nomor 6 dan 7 dalam Gambar 3.1, OKA menyerahkan LPDP kepada
BUB melalui PTU. Setelah LPDP diterima oleh BUB maka BUB membuat Bukti
Memorial sebagai dasar pencatatan Pendapatan Jasa Layanan Pendidikan. Bukti
Memorial sah jika sudah ditandatangani oleh OKA. Setelah ditandatangani oleh
OKA, Bukti Memorial diserahkan kembali kepada BUB untuk selanjutnya
dilakukan pencatatan Pendapatan Jasa Layanan Pendidikan.
Hasil analisis terhadap Penerapan Subsitem Pendapatan Jasa Layanan
Pendidikan adalah sebagai berikut:
(1) Unit BLU FISIP tidak melakukan pencatatan Pendapatan Jasa Layanan
Pendidikan
Dalam penerapannya, saat ini Bendahara Unit BLU (BUB) FISIP tidak
melakukan pencatatan terhadap Pendapatan Jasa Layanan Pendidikan.
Pencatatan Jasa Layanan Pendidikan hanya dilakukan oleh Unit BLU Unsoed
Pusat. Hal ini dilakukan berdasarkan arahan BLU Unsoed Pusat pada saat

32

sosialisasi pencatatan dan pelaporan keuangan. Hal ini juga menurut Unit BLU
FISIP lebih sederhana dalam aplikasinya.
Dengan tidak adanya pencatatan terhadap Pendapatan Jasa Layanan
Pendidikan oleh Unit BLU FISIP, maka hal ini tidak sesuai dengan salah satu
tupoksi BUB FISIP dalam Permendikbud Nomor 10 tahun 2013, yaitu
menerima, mencatat dan mempertanggungjawabkan pendapatan dan biaya
unit BLU yang ada dalam penguasaannya. Walaupun tidak sesuai, tetapi dalam
penerapannya hal ini menjadi lebih sederhana mudah diterapkan, maka
seharusnya dapat menjadi bahan pertimbangan perbaikan Subsistem
Pendapatan Jasa Layanan Pendidikan dengan dipayungi peraturan yang sah.

(2) Menegaskan ketidakjelasan fungsi PTU dalam Subsistem Pendapatan Jasa


Layanan Pendidikan
Walaupun BUB FISIP tidak melakukan pencatatan Pendapatan Jasa
Layanan Pendidikan, dokumen LPDP tetap diserahkan oleh OKA melalui PTU
kepada BUB FISIP. Dokumen LPDP tetap diperlukan oleh BUB untuk
melakukan verifikasi perhitungan penerimaan sharing dana dalam LPDP yang
disusun oleh Bendahara Penerimaan.
Dilihat dari penerapan Subsistem Pendapatan Jasa Layanan Pendidikan ini,
menguatkan ketidakjelasan kenapa penyerahan LPDP oleh OKA kepada BUB
harus melalui PTU, sebagaimana hasil analsis terhadap Permendikbud Nomor
10 tahun 2013 bagian yang telah lalu. Tugas PTU dalam subsistem ini tidak
dijelaskan. Peran PTU hanya meneruskan dokumen LPDP kepada BUB begitu

33

saja tanpa adanya penyimpanan arsip oleh PTU, atau dengan kata lain PTU
hanya mendisposisi LPDP dari OKA kepada BUB tanpa ada analisis atau arsip.
LPDP digunakan oleh BUB bukan oleh PTU. Jika memang PTU dalam
subsistem ini adalah dalam rangka tupoksinya membantu OKA dalam
mengelola anggaran untuk pelaksanaan kegiatan maka seharusnya dijelaskan
paling tidak PTU menyimpan copy LPDP dalam proses ini.

Secara keseluruhan analisis terhadap Subsistem Pendapatan Jasa Layanan


Pendidikan yang paling menonjol adalah tidak adanya pencatatan Pendapatan Jasa
Layanan Pendidikan pada Unit BLU FISIP. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal,
yaitu:
1) Unit BLU Fisip dalam melakukan pencatatan dan pelaporan hanya
berpedoman pada materi hasil sosialisasi dan pelatihan pencatatan dan
pelaporan oleh Unit BLU Unsoed Pusat,
2) Pada saat sosialisasi dan pelatihan pencatatan dan pelaporan oleh Unit BLU
Unsoed Pusat, materinya tidak sesuai dengan Permendikbud Nomor 10
tahun 2013,
3) Pada saat sosialisasi dan pelatihan pencatatan dan pelaporan, Unit BLU
Unsoed Pusat belum pernah menyampaikan dasar hukum dan peraturan
yang mendasari materi sosialisasi dan pelatihan.
Karena tidak adanya pencatatan terhadap Pendapatan Jasa Layanan Pendidikan
oleh Unit BLU merupakan hasil sosialisasi dan pelatihan pencatatan dan pelaporan
keuangan yang diselenggarakan oleh Unit Unsoed Pusat, maka hal ini adalah

34

keputusan dari Unsoed dan berlaku pada semua Unit BLU Unsoed. Keputusan BLU
Unsoed untuk merubah Sistem Akuntansi BLU Unsoed sehingga tidak lagi
berpedoman pada Permendikbud Nomor 10 tahun 2013 hingga saat ini belum
mempunyai payung hukum baik berupa keputusan rektor ataupun yang lainnya.
Oleh karena itu, Permendikbud Nomor 10 tahun 2013 seharusnya masih berlaku
dan diterapkan secara konsekuen oleh BLU Unsoed.
Hal ini sangat penting mengingat Sistem Akuntansi BLU Unsoed adalah untuk
menjamin Akuntabilitas, Pelaporan dan Pertanggungjawaban Keuangan BLU
Unsoed sebagaimana diatur dalam Permendikbud Nomor 10 tahun 2013. Apalagi
tidak diterapkannya Sistem Akuntansi BLU Unsoed Subsistem Pendapatan Jasa
Layanan Pendidikan merupakan keputusan BLU Unsoed yang tidak dipayungi oleh
peraturan yang resmi, sehingga hanya dianggap sebagai improvisasi yang
disepakati bersama. Akan menjadi fatal akibatnya jika ada pemeriksaan oleh pihak
eksternal baik dari Auditor Intern Pemerintah, Auditor Eksternal Pemerintah yaitu
BPK, maupun oleh Akuntan Publik, karena tentunya hal yang pertama kali
ditanyakan adalah peraturan mengenai Sistem Akuntansi. Selama peraturan
mengenai Sistem Akuntansi BLU Unsoed belum dicabut atau dirubah secara resmi
maka pemeriksa eksternal akan tetap berpatokan pada Permendikbud Nomor 10
tahun 2013.

2) Analisis Subsistem Pendapatan Jasa Lainnya


Proses pada Subsistem Pendapatan Jasa Lainnya yang seharusnya, jika
digambarkan dalam diagram alir adalah sebagaimana Gambar 3.7. Hal-hal

35

mengenai analisis terhadap penerapan Subsitem Pendapatan Jasa Lainnya di Unit


BLU FISIP akan diuraikan sebagai berikut:
(1) Pendapatan Jasa Lainnya yang ada di Unit BLU FISIP
Pendapatan Jasa Lainnya yang ada di Unit BLU FISIP adalah Jasa Giro. Jasa
Giro ini merupakan pendapatan bunga dari rekening BNI 46 nomor 0187475936.
Pendapatan Jasa Giro ini tidak langsung disetorkan setiap saat diterima. Hal ini
dikarenakan nominal dari Jasa Giro yang kecil. Jasa Giro dikumpulkan hingga
beberapa bulan sekali jika sudah cukup material. Pada saat PTK menyerahkan bukti
setor kepada Bendahara Penerimaan, Dokumen Pendukung (DP) adalah foto copy
rekening koran per diterimanya Pendapatan Jasa Lainnya. Sebagai contoh adalah
sebagai berikut:

Gambar 3.13 Rekening Koran per diterimanya Pendapatan Jasa Giro

Bukti asli setoran PTK ke rekening rektor tetap dipegang oleh Unit BLU FISIP.
Bukti setoran PTK ke rekening rektor adalah sebagai berikut:

36

Gambar 3.14 Bukti Setoran Pendapatan Jasa Giro ke Rekening Rektor

(2) Adanya Pelaporan Setoran Pendapatan Jasa Lainnya oleh PTK ke OKA
Dalam Subsistem Pendapatan Jasa Lainnya pada Sistem Akuntansi BLU
Unsoed, PTK tidak berkewajiban untuk melaporkan penyetoran Pendapatan Jasa
Lainnya kepada OKA. Dalam penerapannya, PTK saat menyetorkan Pendapatan
Jasa Lainnya tetap melaporkan kegiatannya kepada OKA, walau hanya sekedar
laporan secara lisan. Jika nominal Pendapatan Jasa Lainnya material maka lebih
baik dibuatkan format khusus untuk pelaporan Pendapatan Jasa Lainnya oleh PTK
kepada OKA. Kegunaan laporan Pendapatan Jasa Lainnya oleh PTK kepada OKA
sebagaimana disebutkan pada Analisis Sistem Akuntansi BLU Unsoed: Hasil
Analisis Subsistem Pendapatan Jasa Lainnya.
(3) OKA menyerahkan LPPL kepada BUB melalui PTU
Dokumen LPPL diserahkan kepada OKA oleh Bendahara Penerimaan,
kemudian oleh OKA diserahkan kepada BUB melalui PTU. Sebagaimana hasil
analisis

Subsistem

Pendapatan

Jasa

Layanan

Pendidikan

dan

analisis

penerapannya, proses penyerapahan LPPL melalui PTU hanya memperpanjang

37

proses dan tidak dijelaskan peranan PTU dalam proses ini. Oleh karena itu, lebih
baik dokumen diserahkan secara paralel kepada PTU dan BUB. PTU menyimpan
arsip dalam bentuk copy LPPL sebagai pelaksanaan tupoksi PTU dalam rangka
membantu OKA mengelola anggaran dan BUB menyimpan dokumen LPPL dalam
rangka sebagai dokumen pendukung pencatatan Pendapatan Jasa Lainnya.
(4) Pencatatan BUB atas Pendapatan Jasa Lainnya hanya dengan dasar bukti
penyetoran ke rekening Rektor
Pada pedoman Permendikbud Nomor 10 tahun 2013, prosedur pencatatan
Pendapatan Jasa Lainnya adalah saat BUB mendapatkan dokumen LPPL dari OKA
melalui PTU, BUB membuat Bukti Memorial sebagai dasar pencatatan Pendapatan
Jasa Lainnya yang ditandatangani oleh OKA. Dalam proses ini berarti ada proses
yang panjang dan bolak-balik antara OKA dengan BUB sebelum pencatatan
Pendapatan Jasa Lainnya benar-benar dilakukan.
Pada penerapannya, BUB mencatat Pendapatan Jasa Lainnya hanya
menggunakan bukti setor Pendapatan Jasa Lainnya ke rekening rektor. Setelah
penyetoran Pendapatan Jasa Lainnya ke rekening rektor, bukti asli setoran ke
rekening rektor diserahkan ke bagian keuangan FISIP untuk dilakukan pencatatan
dan kemudian bukti setor asli tersebut diarsipkan oleh bagian keuangan FISIP. BUB
tidak menunggu adanya dokumen LPPL dari Bendahara Penerimaan dan tidak
menggunakan Bukti Memorial yang ditandatangani OKA dalam mencatat
Pendapatan Jasa Lainnya.
Proses ini memang tidak sesuai dengan Sistem Akuntansi BLU Unsoed yang
diatur dalam Permendikbud Nomor 10 tahun 2013. Akan tetapi proses ini lebih

38

sederhana dan efisien dibadingkan dengan yang diatur dalam Sistem Akuntansi
BLU Unsoed. Tidak ada proses yang panjang dan bolak-balik dari OKA ke BUB
hanya untuk mencatat Pendapatan Jasa Lainnya. Dokumen LPPL yang nantinya
didapat dari Bendahara Penerimaan dapat sebagai bahan rekonsiliasi terhadap
pencatatan Pendapatan Jasa Lainnya oleh Unit BLU FISIP. Hal ini seharusnya
dapat menjadi saran perbaikan kedepan terhadap Sistem Akuntansi BLU Unsoed.