Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama
dengan keterikatan emosional dan setiap individu mempunyai peran masingmasing yang merupakan bagian dari keluarga (Friedman, 2010). Keluarga
dihubungkan dengan hubungan darah, perkawinan, adopsi, dan hidup dalam
satu rumah tangga, saling berinteraksi serta mempertahankan budaya dalam
keluarga (Bailon, 2012). Keluarga merupakan unit dasar dalam masyarakat
yang dapat menimbulkan, mencegah, mengabaikan, memperbaiki, dan
mempengaruhi anggota keluarga untuk meningkatkan kualitas kesehatan
anggota keluarga (Zaidin, 2004).
Keluarga memiliki fungsi untuk mencapai tujuan bersama anggota
keluarganya. Menjelaskan ada beberapa fungsi keluarga, yaitu: fungsi
afektif, sosialisasi, reproduksi, ekonomi, dan perawatan kesehatan. Fungsi
afektif didefinisikan sebagai salah satu dari fungsi keluarga yang menitikberatkan pada faktor internal keluarga dalam pemenuhan kebutuhan
psikososial, saling mengasihi dan memberikan cinta kasih, serta saling
menerima

dan

mendukung.

Fungsi

afektif

ini

merupakan

sumber

kebahagiaan dalam keluarga. Keluarga memberikan kasih sayang dan rasa


aman. Komponen fungsi afektif adalah saling mengasuh, menghargai,
adanya ikatan, dan identifikasi ikatan keluarga yang dimulai pasangan sejak
memulai hidup baru. Fungsi afektif yang dilaksanakan dengan baik dapat
menciptakan konsep diri positif pada keluarga (Friedman, 2010).

Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas pelaksanaan fungsi


afektif keluarga terbagi menjadi faktor internal dan faktor ekternal. Faktor
internal meliputi: 1) kualitas hubungan, 2) interaksi antar anggota keluarga,
3) proses keluarga, dan 4) pola asuh orang tua. Sedangkan faktor ekternal
meliputi

1)

lingkungan

pergaulan

dan

2)

lingkungan

masyarakat

(Setyaningrum, dkk, 2012).


Keluarga menjadi faktor internal utama dalam pemenuhan kebutuhan
psikososial dan mendukung perkembangan anak. Perhatian diantara
anggota keluarga berfungsi membina kedewasaan kepribadian anggota
keluarga khususnya pada anak usia pra sekolah yang sedang mengalami
proses tumbuh kembang yang pesat (Wong, 2009).
Anak pra sekolah adalah anak dengan kelompok usia antara tiga
sampai enam tahun (Wong, 2009). Menurut Hurlock (2009) tugas-tugas
perkembangan anak usia pra sekolah diantaranya adalah membangun sikap
yang sehat mengenal diri sendiri sebagai mahluk yang sedang tumbuh,
belajar menyesuaikan diri dengan teman seusianya,

mengembangkan

peran sosial pria atau wanita yang tepat, dan mengembangkan ketrampilanketrampilan dasar untuk membaca, menulis dan berhitung.
Menurut Erickson (2009) jika periode perkembangan anak usia pra
sekolah mengalami kegagalan, anak akan cenderung merasa bersalah.
Terlebih lagi jika orang tua tidak memberikan dorongan atau tidak membantu
anak untuk menyelesaikan tugas-tugasnya ataupun orang tua terlalu keras
mendidik

dengan

banyak

hukuman

saat

anak

sedang

berusaha

menunjukkan dirinya, maka anak akan tumbuh sebagai pribadi yang selalu
takut salah dan tidak ingin mencoba sesuatu yang baru.

Peran keluarga yang seharusnya dilakukan untuk mengoptimalkan


perkembangan anak usia pra sekolah diantaranya adalah membantu anak
untuk bersosialisasi, mempertahankan hubungan yang sehat baik didalam
dan diluar keluarga, dan melakukan kegiatan untuk stimulasi tumbuh
kembang anak. Pemenuhan fungsi afektif keluarga yang baik, berpotensi
memberikan keamanan dan dukungan dalam menciptakan lingkungan
pengasuhan yang optimal bagi perkembangan anak (Hidayat, 2005).
Pemenuhan

fungsi

afektif

keluarga

yang

baik,

berpotensi

memberikan keamanan dan dukungan dalam menciptakan lingkungan


pengasuhan yang optimal bagi perkembangan anak. Fungsi afektif yang
diterapkan dalam lingkungan keluarga akan meningkatkan kepedulian orang
tua untuk menstimulasi perkembangan anak. Misalnya orang tua yang
menstimulasi anaknya untuk menulis dan menggambar akan merangsang
perkembangan motorik halusnya. Sedangkan orang tua yang menstimulasi
anaknya dengan membaca dan berhitung akan merangsang perkembangan
bahasa dan kognitifnya (Hidayat, 2005).
Dampak yang terjadi apabila orang tua tidak menjalankan perannya
dengan baik adalah terganggunya tugas-tugas perkembangan anak, karena
stimulasi perkembangan yang seharusnya diberikan pada anak tidak
dilakukan oleh orang tua (Hidayat, 2005).
Jumlah keluarga di Indonesia berdasarkan hasil pendataan Badan
Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada tahun 2011
mencapai 64.531.336 keluarga, dengan jumlah keluarga di Provinsi Jawa
Barat sebanyak 13.452.082 keluarga, dan di Kota Cimahi sebanyak 170.000
keluarga. Jawa Barat sebagai provinsi yang memiliki jumlah kepala keluarga

(KK) terbesar di Indonesia mempunyai potensi untuk melakukan fungsinya


guna meningkatkan kualitas status kesehatan keluarga (Profil Penduduk
Jawa Barat Tahun 2011, 1, http://www.jabarprov.go.id, diakses 15 Februari
2015).
Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2007) menjelaskan
masih banyak keluarga di Indonesia yang belum melaksanakan fungsi afektif
dengan baik, dan perlahan-lahan telah terjadi penurunan pelaksanaan fungsi
keluarga. Beberapa fenomena yang terjadi saat ini adalah peran orang tua
khususnya ibu semakin berkurang intensitasnya karena sibuk bekerja
seharian, sehingga kurang memiliki waktu untuk berinteraksi dengan anakanaknya. Kesibukan orang tua bekerja dan keterbatasan waktu dalam
membimbing dan mendidik anak menjadi salah satu hambatan untuk
mengembangkan fungsi afektif dalam keluarga, sehingga salah satu
keputusan terbaik orang tua untuk mengoptimalkan perkembangan anaknya
adalah menitipkan anaknya ke TPA (Taman Penitipan Anak), orang tua,
saudara ataupun tetangganya yang berdekatan dengan tempat tinggalnya.
Hal tersebut membuat anak kehilangan sebagian fungsi afektif yang
diberikan orang tuanya seperti kebutuhan saling asuh karena keterpisahan
sementara waktu saat orang tua bekerja. Jika keadaan ini terjadi selama
dalam waktu yang lama, maka akan berpengaruh pada pola komunikasi
keluarga yang tidak efektif untuk mengenali dan berespon terhadap
kebutuhan psikologis terhadap anggota keluarga yang lain (Friedman, 2010).
Keputusan Menteri Kesehatan RI tentang Standar Pelayanan Minimal
Bidang Kesehatan Kabupaten/Kota (2010) menjelaskan bahwa terdapat
beberapa aspek yang harus diperhatikan terkait perkembangan anak

diantaranya adalah mendorong anak untuk berkembang, baik dari aspek


sosial, emosi, fisik dan intelektualnya, anak belajar tentang bagaimana
berprilaku, anak memasuki sekolah dasar pada waktunya, dan semua anak
tumbuh dan berkembang dalam pola yang sama, tetapi setiap anak
berkembang sesuai dengan kemampuannya.
Tercapainya perkembangan anak pra sekolah secara optimal
merupakan hal yang diinginkan setiap orang tua. Beberapa faktor yang
berpengaruh terhadap proses perkembangan anak pra sekolah adalah faktor
lingkungan, yaitu faktor keluarga dan status kesehatan (Hidayat, 2005).
Gangguan perkembangan pada anak pra sekolah merupakan salah satu
faktor yang menyebabkan menurunnya kualitas sumber daya manusia.
Pembentukan kualitas sumber daya manusia yang optimal, baik sehat
secara fisik maupun psikologis sangat bergantung dari proses tumbuh
kembang anak pada usia dini (Wulandari, 2010).
Berbagai studi penelitian yang dilakukan untuk melihat gangguan
tumbuh-kembang

anak

pra

sekolah

dibeberapa

wilayah

Indonesia

menunjukan masih banyaknya kasus-kasus yang memerlukan intervensi


untuk menyelamatkan masa depan anak pra sekolah dari masalah
kesehatan yang lebih serius. Dinas Kesehatan Kabupaten Jember (2012)
menjelaskan dari 49 puskesmas selama bulan Januari hingga bulan Juli
tahun 2012 menunjukkan bahwa terdapat 17 anak pra sekolah yang
mengalami gangguan tumbuh kembang, yang terdiri dari 2 anak mengalami
gangguan lingkar kepala atas (LKA), 5 anak mengalami gangguan
perkembangan dengan menggunakan Kuesioner Pra Skrining (KPSP), 5
anak mengalami gangguan tes daya lihat (TDL), 4 anak mengalami

gangguan tes daya dengar (TDD), dan 1 anak mengalami gangguan mental
emosional

(MME).

Kondisi

tersebut

menunjukkan

masih

terdapat

permasalahan pada perkembangan anak pra sekolah yang belum


terselesaikan, dan kurangnya keterampilan keluarga dalam pemantauan
perkembangan anak pra sekolah serta belum menjalankan fungsi-fungsinya
secara proporsional.
Ikatan Dokter Anak Indonesia Jawa Timur (2010) menjelaskan
bahwa, dari 2.634 anak usia 0-72 bulan menunjukkan perkembangan anak
pra sekolah normal sesuai usia sebesar 53%, membutuhkan pemeriksaan
lebih lanjut sebesar 34%, dan penyimpangan perkembangan sebesar 10%.
Penelitian Agrina (2008) tentang

pengaruh karakteristik orang tua dan

lingkungan rumah terhadap perkembangan anak pra sekolah, menjelaskan


bahwa

lingkungan

fisik

yang

mendukung

akan

mempengaruhi

perkembangan anak pra sekolah sesuai umur sebesar 3 kali lebih besar
dibandingkan dengan lingkungan fisik yang tidak mendukung.
Beberapa penelitian di atas, terlihat bahwa lingkungan keluarga
mempunyai peran yang besar dalam mempengaruhi perkembangan anak.
Keluarga juga harus menjalankan fungsi-fungsinya secara proporsional
khususnya fungsi afektif karena melalui pemenuhan fungsi ini keluarga dapat
menjalankan tujuan-tujuan psikososial yang utama, yaitu membentuk sifatsifat kemanusiaan dalam diri mereka, stabilisasi kepribadian dan tingkah
laku, kemampuan menjalin hubungan yang lebih akrab dan harga diri.
Penelitian lain yang dilakukan Erawati (2014) mengenai pola hubungan
orang tua-anak dan keberfungsian keluarga dengan perkembangan anak
usia pra sekolah di Kota Jember terhadap 45 responden menunjukan bahwa

sebagian besar keluarga memiliki fungsi afektif keluarga dalam kategori baik
yaitu sebanyak 25 responden (55,6%), sedangkan sebanyak 20 keluarga
(44,4%) memiliki fungsi afektif keluarga dalam kategori buruk.
Studi pendahuluan yang dilakukan pada bulan Februari 2015 untuk
mengetahui fungsi afektif keluarga dengan teknik wawancara terhadap 10
orang tua yang mempunyai anak 4 sampai 6 tahun menunjukan bahwa ada
5 anak yang diasuh oleh orang lain (nenek, bibi) dengan alasan ibunya
bekerja maupun sudah bercerai dan 5 anak diasuh oleh orang tuanya. Ketika
ditanya apa yang dilakukan orang tua ketika perilaku anaknya tidak sesuai
dengan keinginan orang tua, 5 responden menjawab dibiarkan saja, 4
responden menjawab marah terhadap anaknya tanpa dipukul, dan 1
responden menjawab marah dan memukul anaknya bila perilakunya sudah
keterlaluan. Untuk mengeksperesikan kasih sayang, semua responden
cenderung menuruti kemauan anak, sedangkan hubungan anak dengan
saudara kandungnya 5 responden menjawab sering tidak akur, dan 5
responden menjawab anaknya bisa saling akur dan membantu saudaranya
bila dibutuhkan. Hanya ada 6 responden yang meluangkan waktunya untuk
berkumpul bersama, dan 4 responden tidak pernah acara kumpul bersama
meskipun punya waktu luang.
Pada pemeriksaan awal tumbuh kembang terhadap 10 anak dengan
KPSP menunjukan ada 6 anak dengan perkembangan sesuai dan 4 anak
dengan perkembangan meragukan, yaitu 2 anak belum bisa menggambar
lingkaran dan tidak bisa berdiri dengan 1 kaki, serta 2 anak tidak dapat
menyebutkan nama lengkapnya dan tidak bisa membedakan dua garis yang
berbeda panjangnya. Adapun anak yang dilakukan pemeriksaan terdiri dari 6

anak laki-laki dan 4 anak perempuan dengan usia 5 tahun. Dari hasil
wawancara

dengan

orang

tua,

mereka

mengatakan

masih

belum

mengetahui secara pasti apakah anak-anaknya sudah mencapai tugas


perkembangan yang optimal atau mengalami kegagalan.
Berdasarkan fenomena tersebut diketahui bahwa masih banyak
orang tua yang melakukan hal-hal yang kurang sesuai pada anaknya seperti
memukul, dan membiarkan anaknya bertengkar. Hal ini akan memberikan
dampak yang kurang baik terhadap perkembangan anaknya untuk jangka
panjang. Menurut teori Erickson (2009) dampak jangka panjangnya adalah
terganggunya tugas-tugas perkembangan anak seperti anak akan merasa
bersalah dan cenderung melakukan kekerasan terhadap orang lain karena
stimulasi yang diberikan orang tua tidak sesuai dengan tugas perkembangan
yang seharusnya diberikan pada anak.
Berdasarkan data-data tersebut diatas maka peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian mengenai Hubungan fungsi afektif keluarga dengan
perkembangan anak usia pra sekolah di RW 09 Desa Babakan Sari Cimahi
tahun 2015.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas yang telah diuraikan mengenai
pentingnya fungsi afektif terhadap stimulasi perkembangan anak, maka
rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu Apakah ada hubungan fungsi
afektif keluarga dengan perkembangan anak usia pra sekolah di RW 09 Desa
Babakan Sari Cimahi.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum Penelitian
Mengetahui hubungan fungsi afektif keluarga dengan perkembangan
anak usia pra sekolah di RW 09 Desa Babakan Sari Cimahi.
2. Tujuan Khusus Penelitian
a. Menganalisis gambaran fungsi afektif keluarga di RW 09 Desa
Babakan Sari Cimahi.
b. Menganalisis gambaran perkembangan anak usia pra sekolah di RW
09 Desa Babakan Sari Cimahi.
c. Menganalisis hubungan fungsi afektif keluarga dengan perkembangan
anak usia pra sekolah di RW 09 Desa Babakan Sari Cimahi.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan berguna bagi ilmu pengetahuan
terutama bidang ilmu keperawatan anak mengenai pentingnya fungsi
afektif keluarga terhadap perkembangan anak. Keluarga harus menjadi
pendukung utama dalam menentukan perkembangan anak. Komponenkomponen yang ada dalam keluarga harus selaras menjalankan fungsifungsinya agar tugas-tugas perkembangan anak dapat optimal.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Masyarakat
Hasil penelitian diharapkan dapat berguna untuk menambah
pengetahuan kepada masyarakat khususnya keluarga dengan anak

10

pra sekolah terkait fungsi afektif keluarga dan pencapaian tugas


perkembangan

anak

pra

sekolah

sehingga

keluarga

mampu

mengetahui fungsi afektif dengan baik, selain itu penelitian ini


diharapkan bisa dijadikan sebagai pengetahuan bagi keluarga
mengenai pentingnya menerapkan fungsi-fungsi afektif keluarga untuk
menstimulasi perkembangan anak usia pra sekolah.
b. Bagi Puskesmas
Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi masukan bagi
puskesmas agar meningkatkan promosi kesehatan khususnya
meningkatkan fungsi afektif dalam keluarga untuk mengoptimalkan
tumbuh kembang anak.