Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH

PEMIKIRAN DAN PERADABAN


ISLAM

Oleh :

Cintya

Maharani
SMT :

III.I

FAK U LTAS

HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM RIAU


T.A 2 0 1 5 / 2 0 1 6
PEMIKIRAN BUYA HAMKA DALAM
BIDANG POLITIK

KATA

PENGANTAR

Bismillahirrahmannirrahim,
Segala puji bagi Allah SWT atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik
dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam
bentuk maupun isinya yang sangat sederhana..

Agama sebagai sistem kepercayaan dalam kehidupan umat manusia


dapat dikaji melalui berbagai sudut pandang. Islam sebagai agama yang
telah

berkembang

selama

empat

belas

abad

lebih

menyimpan

banyak

masalah yang perlu diteliti, baik itu menyangkut ajaran dan pemikiran
keagamaan maupun realitas sosial, politik, ekonomi dan budaya.

Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang
saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca
untuk

memberikan

masukan-masukan

yang

bersifat

membangun

untuk

kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat diterima oleh bapak.

Akhirul Kalam semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi penyusunan


dan umumnya bagi kita semua.

Terima kasih

Daftar Isi

Kata pengantar................................................................................................................. i
Daftar isi........................................................................................................................... ii
Bab 1................................................................................................................................... 1
Pendahuluan....................................................................................................................... 1
Biografi.............................................................................................................................. 1
Bab 2 (Pembahasan)........................................................................................................ 20
1.1
1.2
1.3

Metode dan corak tafsir Al-azhar Hamka.......................................................20


Politik dalam tafsir Al-Ahzar..............................................................................20
Analisi....................................................................................................................... 23

Penutup............................................................................................................................... 26
Daftar Pustaka................................................................................................................. 27

BAB I
Pendahuluan

Al-Quran adalah sumber utama dan fundamental bagi agama Islam, ia di samping
berfungsi sebagai petunjuk (hudan) antara lain dalam persoalan-persoalan
akidah, Syari'ah, moral dan lain-lain juga berfungsi sebagai pembeda (furqn).
Sadar bahwa al-Quran menempati posisi sentral dalam studi keislaman, maka
lahirlah niatan di kalangan pemikir Islam untuk mencoba memahami isi kandungan
al-Quran yang dikenal dengan aktivitas penafsiran (al-tafsir).
Dalam kaitanya dengan penafsiran al-Qur'an, manusia memiliki kemampuan
membuka cakrawala atau perspektif, terutama dalam memberikan penafsiran
terhadap ayat-ayat yang mengandung zanni al-dilalah (unclear ststement). Dari
sini tidak dapat disangsikan terdapat penafsiran yang beragam terkait dengan
masalah politik antara lain: pertama, yang menyatakan bahwa al-Qur'an memuat
ayat-ayat yang menjadi landasan etik moral dalam membangun sistem sosial
politik. Kedua, al-Qur'an sebagai sumber paling otoritatif bagi ajaran Islam,
sepanjang terkait dengan masalah politik tidak menyediakan prinsip-prinsip yang
jelas, demikian pula dengan as-sunnah. Ketiga, terdapat penafsiran yang
menyatakan al-Qur'an mengandung aturan berbagai dimensi kehidupan umat
manusia di dalamnya termasuk mengatur sistem pemerintahan dan pembentukan
negara Islam.
Salah satu dari sekian banyak penafsir yang ada ialah Hamka, dengan karyanya
Tafsir al-Azhar. Bagaimana epistemologi Hamka dalam usahanya menemukan,
mengidentifikasi, dan menafsirkan prinsip-prinsip fundamental dari politik Islam
sebagaimana yang terkandung di dalam al-Qur'an adalah pertanyaan yang akan
dikaji disini.
Biografi Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah,

Pemilik nama
Raya, Kabupaten

pena Hamka (lahir


Agam, Sumatera

di Nagari
Barat,17

Sungai

Batang, Tanjung

Februari 1908 meninggal

di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun) adalah seorang ulama dan
sastrawan Indonesia. Ia melewatkan waktunya sebagai wartawan, penulis, dan
pengajar. Ia terjun dalam politik melalui Masyumi sampai partai tersebut
dibubarkan, menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, dan aktif
dalam Muhammadiyah sampai
Azhar dan Universitas

Nasional

akhir

hayatnya. Universitas

Malaysiamenganugerahkannya

gelar

aldoktor

kehormatan, sementara Universitas Moestopo, Jakarta mengukuhkan Hamka


sebagai

guru

besar.

Namanya

disematkan

untuk Universitas

Hamka milik

Muhammadiyah dan masuk dalamdaftar Pahlawan Nasional Indonesia.


Dibayangi nama besar ayahnya Abdul Karim Amrullah, Hamka sering
melakukan perjalanan jauh sendirian. Ia meninggalkan pendidikannya diThawalib,
menempuh perjalanan ke Jawa dalam usia 16 tahun. Setelah setahun melewatkan
perantauannya, Hamka kembali ke Padangpanjang membesarkan Muhammadiyah.
Pengalamannya ditolak sebagai guru di sekolah milik Muhammadiyah karena tak
memiliki diploma dan kritik atas kemampuannya berbahasa Arab melecut
keinginan Hamka pergi ke Mekkah. Dengan bahasa Arab yang dipelajarinya,
Hamka mendalami sejarah Islam dan sastra secara otodidak. Kembali ke Tanah
Air, Hamka merintis karier sebagai wartawan sambil bekerja sebagai guru agama
sementara waktu di Medan. Dalam pertemuan memenuhi kerinduan ayahnya,
Hamka mengukuhkan tekadnya untuk meneruskan cita-cita ayahnya dan dirinya
sebagai

ulama

dan

sastrawan.

Kembali

ke

Medan

pada

1936

setelah

pernikahannya, ia menerbitkan majalah Pedoman Masyarakat. Lewat karyanya Di

Bawah Lindungan Ka'bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck , nama Hamka
melambung sebagai sastrawan.
Selama revolusi fisik, Hamka bergerilya dalam Barisan Pengawal Nagari
dan Kota (BPNK) menyusuri hutan pengunungan di Sumatera Barat untuk
2

menggalang persatuan menentang kembalinya Belanda. Pada 1950, Hamka


membawa

keluarga

kecilnya

ke

Jakarta.

Meski

mendapat

pekerjaan

diDepartemen Agama, Hamka mengundurkan diri karena terjun di jalur politik.


Dalam pemilihan

umum

1955,

Hamka

dicalonkan

Masyumi

sebagai

wakil

Muhammadiyah dan terpilih duduk di Konstituante. Ia terlibat dalam perumusan


kembali dasar negara. Sikap politik Maysumi menentang komunisme dan
gagasan Demokrasi Terpimpin memengaruhi hubungannya dengan Sukarno. Usai
Masyumi dibubarkan sesuai Dekret Presiden 5 Juli 1959, Hamka menerbitkan
malalah Panji Masyarakat tetapi berumur pendek, dibredel oleh Sukarno setelah
menurunkan tulisan Hattayang telah mengundurkan diri sebagai wakil presiden
berjudul "Demokrasi Kita". Seiring meluasnya pengaruh komunis, Hamka dan
karya-karyanya diserang oleh organisasi kebudayaan Lekra. Tuduhan melakukan
gerakan subversif membuat Hamka diciduk dari rumahnya ke tahanan Sukabumi
pada 1964. Dalam keadaan sakit sebagai tahanan, ia merampungkan Tafsir Al-

Azhar.
Seiring peralihan kekuasaan ke Suharto, Hamka dibebaskan pada Januari
1966.

Ia

mendapat

ruang

pemerintah,

mengisi

jadwal

tetap

ceramah

di RRI dan TVRI. Ia mencurahkan waktunya membangun kegiatan dakwah


di Masjid Al-Azhar. Ketika pemerintah menjajaki pembentukan MUI pada 1975,
peserta musyawarah memilih dirinya sebagai ketua. Namun, Hamka memilih
meletakkan jabatannya pada 19 Mei 1981, menanggapi tekanan Menteri Agama
untuk menarik fatwa haram MUI atas perayaan Natal bersama bagi umat Muslim.
Ia meninggal pada 24 Juli 1981 dan jenazahnya dimakamkan di TPU Tanah Kusir,
Jakarta.

1.1Masa kecil

Museum Rumah Kelahiran Buya Hamkayang dijadikan museum sejak 2001, tempat
Hamka lahir, diasuh dan tinggal bersamaanduangnya selama di Maninjau
Abdul Malik, nama kecil Hamka lahir pada 17 Februari 1908 [Kalender Hijriyah:
13 Muharram 1362] di sebuah dusun Nagari Sungai Batang yang berada di
tepian Danau Maninjau, Sumatera Barat. Hamka adalah anak sulung dari empat
bersaudara dalam keluarga ulama Abdul Karim Amrullah dari istri keduanya Siti
Shafiah. Keluarga ayahnya adalah penganut agama yang taat. Abdul Karim
Amrullah yang berjulukan Haji Rasul dikenang sebagai ulama pembaru Islam di
Minangkabau, putra dari Muhammad Amrullah. Adapun keluarga ibunya lebih
terbuka kepada adat. Pandangan ayah Hamka yang berbenturan dengan tradisi
adat dan amalan tarekat mendapat penolakan masyarakattetapi tidak
melakukan pertentangan terbuka karena menaruh hormat kepada Muhammad
Amrullah yang disegani sebagai pemimpinTarekat Naqsyabandiyah. Setelah
Muhammad Amrullah meninggal, ayah Hamka pindah ke Padangpanjang.
Malik masih berusia empat tahun ketika orangtuanya pindah ke Padang. Ia
melewati masa kecil di rumah anduangnya, nenek dari garis ibu. Bersama temanteman sebaya, Hamka kecil menghabiskan waktu bermain di Danau Maninjau.
Mengikuti tradisi anak-anak laki-laki di Minangkabau, Malik belajar mengaji
di surau yang berada di sekitar tempat ia tinggal. [1] Pada usia enam tahun, Malik
diajak pindah ayahnya ke Padang Panjang, belajar mengaji pada ayahnya sendiri.
Malik sempat mendapatkan pengetahuan umum seperti berhitung dan membaca
4

saat masuk ke Sekolah Desa pada tahun 1915, tetapi berhenti setelah tamat
kelas dua. Lokasi Sekolah Desa berada di Guguk Malintang, menempati kawasan
tangsi militer sehingga memengaruhi pergaulan Malik. Hajir Rasul berencana
menyekolahkan Malik di Sekolah Gubernemen tetapi kelas telanjur penuh. Malik
kecil membawa perangai nakal karena sering menyaksikan perkelahian antara
murid kedua sekolahkarena murid Sekolah Gubernemen memandang rendah
murid Sekolah Desa.
Pada

1916, Zainuddin

Labay

El

Yunusy membuka

sekolah

agama Diniyah

School yang menerapkan sistem kelas di Pasar Usang. Sambil tetap belajar
setiap pagi di Sekolah Desa, ia belajar setiap sore di Diniyah School. Diniyah
School mengajarkan bahasa Arab dan materi yang diadaptasi dari buku-buku
sekolah rendah Mesir. Namun sejak dimasukkan keThawalib oleh ayahnya pada
tahun 1918, ia tidak dapat lagi mengikuti pelajaran di Sekolah Desa. Ia belajar di
Diniyah School setiap pagi, sementara sorenya belajar di Thawalib dan malamnya
kembali ke surau. Kebanyakan murid Thawalib adalah remaja yang lebih tua dari
Malik karena beratnya materi yang dihafalkan. Kegiatan Hamka kecil setiap hari
yang demikian diakuinya membosankan dan mengekang kebebasan masa kanakkanaknya.
Saat berusia 12 tahun, Malik menyaksikan perceraian orangtuanya. Haji Rasul
menceraikan Siti Shafiah dan membawa Malik tinggal di Padangpanjang. Harihari pertama setelah perceraian, Malik tak masuk sekolah, menghabiskan waktu
berpergian berkeliling kampung. Ketika berjalan di pasar, ia menyaksikan seorang
buta yang sedang meminta sedekah. Malik yang iba menuntun dan membimbing
peminta itu berjalan ke tempat keramaian untuk mendapatkan sedekah sampai
mengantarkannya pulang. Namun, ibu tirinya memarahinya saat mendapati Malik
di pasar hari berikutnya, "Apa yang awak lakukan itu memalukan ayahmu." Malik
pernah

pula

berjalan

kaki

menuju Maninjau yang

jauhnya

40

km

dari

Padangpanjang untuk memenuhi kerinduan terhadap ibunya. Setelah lima belas


5

hari Malik meninggalkan sekolah, seorang guru dari Thawalib yang menyangka
Malik sakit datang ke rumah, menyampaikan ketidakhadiran Malik. Mengetahui
anaknya membolos, Abdul Karim Amrullah marah dan menampar anaknya; tetapi
segera memeluk Malik dan meminta maaf.
1.2Perceraian orangtua
Dibayang-bayangi ketakutan terhadap ayahnya, Malik kembali memasuki kelas
belajar seperti biasa. Pagi belajar di Sekolah Diniyah, pulang sebentar,
berangkat ke Thawalib dan kembali ke rumah menjelang Magrib untuk bersiap
pergi mengaji. Ketika ia menemukan bahwa gurunya Zainuddin Labay El
Yunusy baru saja membuka bibilotek, tempat penyewaan buku, Malik pergi
menyewa buku setiap hari. Setelah rampung membaca, biasanya Malik akan
menyalin versinya sendiri. Kadang Malik remaja mengirim surat cinta yang
disadurnya dari buku-buku kepada teman perempuan sebayanya. Karena
kehabisan uang untuk menyewa, Malik menawarkan diri kepada percetakan milik
Bagindo Sinaro tempat koleksi buku diberi lapisan karton sebagai pelindung untuk
mempekerjakannya. Ia membantu memotong karton, membuat adonan lem
sebagai perakat buku, sampai membuatkan kopi, tetapi sebagai upahnya, ia
meminta agar diperbolehkan membaca koleksi buku yang akan disewakan
tersebut. Dalam waktu tiga jam sepulang dari Diniyah sebelum berangkat ke
Thawalib, Malik mengatur waktunya agar punya waktu membaca. Karena hasil
kerjanya yang rapi, ia diperbolehkan membawa buku baru yang belum diberi
karton untuk dikerjakan di rumah. Ayahnya yang sering mendapati Malik
membaca buku cerita sempat memberi pilihan, "Apakah engkau akan menjadi
orang alim nanti atau menjadi orang tukang cerita?" Setiap mengetahui ayahnya
memperhatikan, Malik meletakkan buku cerita yang dibacanya, mengambil buku
agama dan berupra-pura membaca.

Masjid Jamik Parabek


Permasalahan keluarga membuat Malik sering berpergian jauh seorang diri. Ia
meninggalkan kelasnya di Diniyah dan Thawalib, menempuh perjalanan ke
Maninjau mengunjungi ibunya. Namun, ia merasa tidak mendapat perhatian sejak
ibunya telah menikah lagi dengan seorang saudagar Aceh. Malik didera
kebingungan untuk memilih tinggal dengan ibunya atau ayahnya. "Pergi ke rumah
ayah bertemu ibu tiri, ke rumah ibu, ada ayah tiri." Mengobati hatinya, Malik
mencari pergaulan dengan anak-anak muda Maninjau. Ia turut berlajar silat dan
randai, tetapi yang disenanginya adalah mendengar kaba, kisah-kisah yang
dinyanyikan bersama alat-alat musik tradisional Minangkabau. Ia berjalan lebih
jauh sampai ke Bukittinggi danPayakumbuh, sempat bergaul dengan penyabung
ayam dan joki pacuan kuda. Seorang pamannya, Engku Muaro yang risau melihat
sang kemenakan mengantar Malik mengaji dengan seorang ulama Syekh Ibrahim
Musa di Parabek, sekitar 5 km dari Bukittinggi saat Malik berusia 14 tahun.
[5]

Untuk pertama kalinya, Hamka hidup mandiri di Parabek.

Selama belajar di Parabek, Malik remaja mulai berlajar memenuhi kebutuhan


harian sebagai santri. Meskipun belajar membawakan diri, kenakalannya masih
terbawa. Malik pernah jail menakuti penduduk sekitar asrama yang mengaitkan
wabah demam di Parabek dengan keberadaan hantu. Karena tak peraya dan ingin
membuktikan bahwa hal tersebut hanya tahayul, Malik menyamar menyerupai
ciri-ciri hantu yang berwujud seperti hariamau. Dengan mengenakan serban dan
mencoret-coret

mukanya

degan

kapur,
7

Malik

berjalan

keluar

asrama

menyembunyikan badannya dalam selimut yang tak terlihat karena malam. Orangorang yang melihat dan ketakutan keesokan hari berencana membuat perangkap,
tetapi Malik segera memberi tahu teman seasramanya tentang kejailannya,
meyakinkan bahwa hantu tersebut tidak ada.
Selama berasrama, Malik memanfaatkan hari Sabtu yang dibebaskan untuk
keluar ke pasar membeli barang keperluan, pergi berkeliling kampung sekitar
Parabek. Waktu yang dinantikannya adalah menyaksikan perlombaan burung
balam di Kampung Durian. Sebelum perlombaan dimulai, diadakan pidato
sambutan dari setiap penghulu. Malik mendapati dirinya tertarik mendengar
pidato-pidato tersebut dan berikutnya mencari waktu saat pelantikan penghulu,
saat para tetua adat yang mahir berpidato adat berkumpul. Dari sana, Malik
mulai mencatat sambil menghafal petikan-petikan pantun dan diksi dalam pidato
adat. Demi mendalami minatnya, ia mendatangi beberapa penghulu untuk berguru
pidato adat. Kecenderungannya ini kelak membuat keluarga ibunya mewariskan
gelar pusaka yang sudah lama tak dipakai, Datuk Indomo kepada Malik.
1.3Perantauan
Malik sering menempuh perjalanan jauh sendirian, berkelana ke sejumlah tempat
di Minangkabau sehingga ayahnya memberi julukan "Si Bujang Jauh". Dalam usia
baru menginjak 15 tahun, Malik telah berniat pergi ke pulau Jawa. Ia kabur dari
rumah, pergi tanpa meminta izin ayahnya. Ia hanya pamit kepada anduangnya di
Maninjau. Dari sana Malik memulai perjalanan dengan bekal ongkos yang
diberikan andungnya. Ia menempuh perjalanan melalui darat dengan singgah
terlebih dahulu di Bengkulu, berencana menemui kerabat satu suku dari ibunya
untuk meminta tambahan ongkos. Ketika sampai di pelabuhan dekat Bengkulu,
Malik yang merasakan tubuhnya panas sempat bermalam sampai dua hari. Ia
mendapat pertolongan dari seorang saudagar yang mengantarnya sampai ke
Ketahun. Dalam kondisi sakit, Malik meneruskan perjalan ke Napal Putih dan
setelah itu diantarkan ke kerabatnya, sementara tubuhnya mulai diserang cacar.
8

Setelah dua bulan meringkuk menunggu kesehatannya pulih, Malik dipulangkan ke


Maninjau. Ia menemui neneknya, sebelum pulang ke Padangpanjang. Bekas luka
cacar menyisakan bopeng di sekujur tubuhnya membuat Malik dihindari teman
dan kerabatnya.

Danau Maninjau, pemandangan sebelah barat Nagari Sungai Batang


Pada Juli 1924, Malik memulai perjalanannya ke Jawa. Malik mengungkapkan
keinginannya dan meminta restu kepada ayahnya untuk merantau, berjanji akan
belajar agama kepada Ahmad Rasyid Sutan Mansur. Dalam perhentian pertama
di Yogyakarta, Malik bertemu dengan pamannya Jafar Amrullah. Malik mengambil
waktu belajar kepada Bagoes Hadikoesoemo, mempelajari tafsir Baidhawi.
Setelah diperkenalkan dengan Sarekat Islam, ia bergabung menjadi anggota dan
mendapat

kelas

belajar

kepada HOS

Tjokroaminoto, Fakhruddin,

dan Suryopranoto. Malik mengikuti kelas dengan tekun, sering bertanya dan
menyalin pelajaran yang didapatnya. Dari keterlibatannya dengan perserikatan
Islam, Malik melihat perhatian umat Islam di Jawa terhadap pendidikan,
berbeda dengan di Minangkabaukarena telah seragam memeluk Islamyang
saat itu memperdebatkan penyimpangan praktik Islam. Setelah melewatkan
waktu enam bulan di Yogyakarta, Malik meneruskan perjalanan kePekalongan,
memenuhi janjinya untuk bertemu kakak iparnya Ahmad Rasyid Sutan Mansur.
Dari kakak iparnya, Malik mendapatkan kesempatan mengikuti berbagai
9

pertemuan Muhammadiyah dan berlatih berpidato di depan umum. Menyusul


ditundanya Kongres Kekhalifahan Internasional pada 1924, ayahnya yang urung
berangkat ke Mesir menyempatkan berkunjung ke Pekalongan, meninggalkan
pesan

kepada

Hamka

agar

kembali

ke

Padangpanjang

untuk

membantu

membendung penyebaran paham komunis. "Kamu harus terus berada di sini bagi
meneruskan tanggung jawab menjaga ummah," pesan ayahnya.
Saat kembali ke Padangpanjang, propoganda Partai Komunis Indonesia telah
memengaruhi murid-murid Thawalib. Malik menjalankan pesan ayahnya. Ia
menuangkan pengetahuannya ke dalam majalah Tabligh Muhammadiyah yang
dirintisnya. Gurunya Zainuddin dan pemilik percetakan Bagindo Sinaro ikut
membantu pembuatan dan distribusi majalah. Pada saat yang sama, Malik harus
membagi waktu untuk berpidato, bolak-balik dari Maninjau ke Padangpanjang.
Malik mengambil kesempatan untuk tampil berpidato setiap ayahnya usai
memberikan tausyiah. Malik rutin berpidato di Padangpanjang. Ia masih
menyempatkan waktunya untuk memberikan pelajaran berpidato. Beberapa orang
yang belajar kepada Malik, membuat materi pidato sendiri yang akan dikumpulkan
Malik

untuk

diterbitkan

dalam

sisipan

kumpulan

pidato

majalah Tabligh

Muhammadiyah. Malik melengkapi dan menyunting bagian pidato yang diterimanya


sebelum diterbitkan, tetapi tetap mencantumkan nama mereka sendiri. Dari
kesibukannya menulis dan menyunting naskah pidato, Malik mulai mengetahui dan
menuangkan kemampuannya dalam menulis.
Meskipun

mendapatkan

sambutan

baik

saat

kepulangannya,

penerimaan

masyarakat terhadap Malik adalah sebatas mubalig yang hanya berpidato. Dalam
membacakan ayat atau kalimat bahasa Arab, Malik tidak fasih karena tidak
memahami tata letak bahasa, ilmu nahu dan sharaf. Hal tersebut dikaitkan
karena Malik tidak pernah menyelesaikan pendidikannya di Thawalib. Ia pernah
dikatakan sebagai "tukang pidato yang tidak berijazah". Ayahnya mengakui
bahwa Malik masih belum cukup ilmu walaupun pandai berceramah dan berdebat
10

dalam hal agama. "Pidato-pidato saja adalah percuma, isi dahulu dengan
pengetahuan, barulah ada arti dan manfaatnya pidato-pidatomu itu." Malik
berasa kecil hati dengan sindiran ayahnya, merenung nasib dirinya yang tak
pernah

tamat

belajar

meski

telah

berpindah-pindah

sekolah.

Saat

Muhammadiyah membuka sekolah di Padangpanjang, dibuka penerimaan guru.


Malik bersama banyak teman-temannya yang pulang dari Jawa ikut melamar. Para
pelamar diharuskan mengisi formulir yang menerangkan nama, alamat, dan
pendidikan disertai lampiran bukti kelulusan seperti diploma atau ijazah. Pada
hari pengumuman pelamar yang lolos sebagai guru, Malik tidak lolos karena tidak
memiliki diploma. Hal ini menambah kekecewaan Malik sejak kepulangannya,
berpikir untuk kembali pergi meninggalkan kampung halamannya.
1.4Menunaikan ibadah haji

Suasana pelaksanaan haji di Masjidil Haram, Mekkah. Perjalanan Hamka ke


Mekkah pada tahun 1927 meletupkan inspirasi baginya untuk menulis Di Bawah

Lindungan Ka'bah
Kepada andungnya, Malik sering menceritakan kesedihan dan perasaannya. Dari
andungnya, Malik teringat bahwa saat kelaharinnya ayahnya berjanji akan
mengirimnya belajar ke Mekkah, tetapi Malik tak mendapati persiapan ataupun
tanda-tanda dirinya akan diberangkatkan. Ketika itu, umur Malik menjelang 19
tahun, sedangkan ayahnya pergi ke Mekkah pada umur 16 tahun. Dari sana,
muncul keinginan Malik untuk pergi belajar ke Mekkah. Karena takut kepada
ayahnya, Malik menyampaikan niatnya kepada andungnya seorang. Dari hasil
11

menjual kapas milik andungnya, ia dapat berangkat menggunakan kapal laut.


Seorang pamannya, Engku Muaro dan beberapa temannya ikut membantu biaya
perjalanan. Pada Februari 1927 bertepatan dengan bulan Rajab, Malik memulai
perjalanan ke Mekkah. Ia memilih bulan Rajab karena bertepatan dengan
keberangkatan jemaah haji Indonesia. Dari Maninjau, ia menempuh perjalanan
darat sampai ke Padang karena keterbatasan ongkos.
Sampai di Mekkah, ia mendapat tumpangan di rumah Syekh Amin Idris. Untuk
memenuhi biaya hidup, ia mengambil pekerjaan sebagai pegawai percetakan.
Malik menyempatkan waktu istirahatnya untuk membaca buku-buku agama yang
terdapat di gudang percetakan. Selama di Mekkah, ia menjadi koresponden
Harian Pelita Andalas sekaligus bekerja di sebuah perusahaan percetakan milik
Tuan Hamid, putra Majid Kurdi, yang merupakan mertua dari Ahmad Khatib AlMinangkabawi. Di tempat ia bekerja itu, ia dapat membaca kitab-kitab klasik,
buku-buku, dan buletin Islam dalam bahasa Arab, satu-satunya bahasa asing yang
dikuasainya.
Menjelang pelaksanaan ibadah haji berlangsung, Hamka bersama beberapa calon
jemaah haji lainnya mendirikan organisasi Persatuan Hindia-Timur, sebuah
organisasi yang memberikan pelajaran manasik haji kepada calon jemaah haji asal
Indonesia. Setelah menunaikan haji, dan beberapa lama tinggal di Tanah Suci, ia
berjumpa dengan Agus Salim dan sempat menyampaikan hasratnya untuk
menetap di Mekkah, tetapi Agus Salim justru menasihatinya untuk segera
pulang. "Banyak pekerjaan yang jauh lebih penting menyangkut pergerakan, studi,
dan perjuangan yang dapat engkau lakukan. Karenanya, akan lebih baik
mengembangkan diri di tanah airmu sendiri", ujar Agus Salim. Ia pun segera
kembali ke tanah air setelah tujuh bulan bermukim di Mekkah. Namun, bukannya
pulang ke Padang Panjang, Hamka malah menetap di Medan, kota tempat
berlabuhnya kapal yang membawanya pulang.
1.5 Karier di Medan
12

Selama di Medan, ia banyak menulis artikel di berbagai majalah dan sempat


menjadi guru agama selama beberapa bulan di Tebing Tinggi.]Ia mengirimkan
tulisan-tulisannya

untuk

surat

kabar Pembela

Islam di Bandung dan Suara

Muhammadiyah yang dipimpin Abdul Rozak Fachruddin di Yogyakarta. Selain itu,


ia juga bekerja sebagai koresponden di Harian Pelita Andalas dan menuliskan
laporan-laporan perjalanan, terutama perjalanannya ke Mekkah pada tahun 1927.
Pada

tahun

1928,

ia

menulis

romannya

yang

pertama

dalam bahasa

Minangkabau berjudul Si Sabariyah. Pada tahun yang sama, ia diangkat sebagai


redaktur Majalah Kemajuan Zaman berdasarkan hasil konferensi Muhammadiyah
di Padang Panjang. Setahun berikutnya, ia menulis beberapa buku, antara
lain: Agama

dan

Perempuan, Pembela

Islam, Adat

Minangkabau, Agama

Islam, Kepentingan Tabligh, dan Ayat-ayat Miraj. Namun, beberapa di antara


kayanya tersebut disita karena dianggap berbahaya bagi pemerintah kolonial
yang sedang berkuasa ketika itu.
Pada 28 Juni 1926, gempa bumiberkekuatan 7,6 SR meluluhlantakkan sebagian
besar Padang Panjang, termasuk rumah ayah Hamka di Gatangan, Pasar Usang
Sewaktu di Medan, orang-orang di kampungnya sudah berkali-kali berkirim surat
memintanya pulang, tetapi selalu ditolak oleh Hamka. Oleh sebab itu, ayahnya
meminta Ahmad Rasyid Sutan Mansur untuk menjemput dan membujuk Hamka
pulang. Bujukan kakak iparnya itu akhirnya membuat Hamka luluh, dan kemudian
ia pulang ke kampung halamannya di Maninjau, sementara rumah ayahnya di
Padang Panjang luluh lantah akibat gempa bumi pada tahun 1926. Setiba di
kampung

halamannya,

ia

diterima

ayahnya

dengan

penuh

haru

hingga

menitikkan air mata. Ayahnya terkejut mengetahui Hamka telah berangkat haji
dan pergi dengan ongkos sendiri. Ayahnya bahkan berkata, "Mengapa tidak
engkau beri tahu bahwa begitu mulia dan suci maksudmu? Abuya (ayah) ketika itu
sedang susah dan miskin. Kalau itu maksudmu, tak kayu jenjang dikeping, tak
emas bungkal diasah." Mendapat sambutan sehangat itu, ia mulai sadar betapa
13

besar kasih ayahnya terhadap dirinya. Sejak saat itu, pandangan Hamka
terhadap ayahnya mulai berubah. Namun, setelah sekitar setahun menetap
diSungai Batang, ia kembali meninggalkan kampung halamannya.
Hamka pindah ke Medan pada tahun 1936. ] Di Medan, ia bekerja sebagai editor
sekaligus menjadi pemimpin redaksi sebuah majalah pengetahuan Islam yang
didirikannya

bersama M.

Masyarakat. Melalui Pedoman

Yunan

Nasution,

Masyarakat,

ia

yaitu
untuk

Majalah Pedoman
pertama

kalinya

memperkenalkan nama pena "Hamka". Selama di Medan, ia menulis Di Bawah

Lindungan Ka'bah, yang terinspirasi dari perjalanannya ke Mekkah pada tahun


1927. Setelah Di Bawah Lindungan Ka'bah diterbitkan pada tahun 1938, ia
menulis Tenggelamnya Kapal Van der Wijck , yang pada awalnya ditulis sebagai
cerita bersambung dalam Pedoman Masyarakat. Selain itu, ia juga menerbitkan
beberapa roman dan buku-buku lainnya seperti: Merantau ke Deli, Keadilan

Ilahi, Tuan

Direktur, Angkatan

Baru, Terusir, Di

Dalam

Lembah

Kehidupan, Ayahku, Tasawuf Modern, dan Falsafah Hidup. Namun pada tahun
1943, Majalah Pedoman Masyarakatyang dipimpinnya dibredel oleh Jepang, yang
ketika itu berkuasa di Indonesia. Pada masa penjajahan Jepang, Hamka diangkat
menjadi penasihat Jepang dalam hal agama Islam. Ia juga diangkat sebagai
anggota Syu Sangi Kai (semacam DPR) untuk masalah pemerintahan dan keislaman
pada tahun 1944. Ia menerima jabatan ini karena ia percaya dengan janji Jepang
yang akan memberikan kemerdekaan bagi Indonesia. Namun setelah menduduki
jabatan ini, ia justru dianggap sebagai kaki tangan penjajah oleh temantemannya. Ketika Jepang kalah lalu menyerah pada sekutu, Hamka menjadi
sasaran kritik yang tak berkesudahan. Inilah yang menyebabkan Hamka keluar
dari Medan kembali ke Minangkabau setelah perang revolusi pecah pada tahun
1945. Hamka juga turut berjuang mengusir penjajah. Ia pernah ikut menentang
kembalinya Belanda ke Indonesia dengan bergerilya di dalam hutan di Medan.
Karier dan kehidupan selanjutnya
14

2.1Muhammadiyah
Setelah perkawinannya dengan Sitti Raham, Hamka aktif dalam kepengurusan
Muhammadiyah

cabang

Minangkabau,

yang

cikal

bakalnya

bermula

dari

perkumpulan Sendi Aman yang didirikan oleh ayahnya pada tahun 1925 di Sungai
Batang. Selain itu, ia sempat menjadi pimpinan Tabligh School, sebuah sekolah
agama yang didirikan Muhammadiyah pada 1 Januari 1930.
Sejak menghadiri Muktamar Muhammadiyah di Solo pada tahun 1928, Hamka
tidak pernah absen menghadiri kongres-kongres Muhammadiyah berikutnya.
Sekembalinya dari Solo, ia mulai memangku beberapa jabatan, sampai akhirnya ia
diangkat sebagai Ketua Muhammadiyah cabang Padang Panjang. Seusai Muktamar
Muhammadiyah ke-19 di Bukittinggipada tahun 1930, disusul dengan kongres
berikutnya di Yogyakarta, ia memenuhi undangan untuk mendirikan cabang
Muhammadiyah di Bengkalis. Selanjutnya pada tahun 1932, ia diutus oleh
Muhammadiyah ke Makassar dalam rangka mempersiapkan dan menggerakkan
semangat rakyat untuk menyambut Muktamar Muhammadiyah ke-21 di Makassar.
Selama di Makassar, ia sempat menerbitkan Al-Mahdi, majalah pengetahuan
Islam yang terbit sekali sebulan. Pada tahun 1934, setahun setelah menghadiri
Kongres Muhammadiyah di Semarang, ia diangkat menjadi anggota tetap Majelis
Konsul Muhammadiyah untuk wilayah Sumatera Tengah.
Kariernya di Muhammadiyah kian menanjak sewaktu ia pindah ke Medan. Pada
tahun 1942, bersamaan dengan jatuhnya Hindia Belanda ke dalam tampuk
kekuasaan penjajah Jepang, Hamka terpilih menjadi pimpinan Muhammadiyah
untuk wilayah Sumatera Timur menggantikan H. Mohammad Said. Namun pada
Desember 1945, ia memutuskan kembali ke Minangkabau dan melepaskan jabatan
tersebut. Pada tahun berikutnya, ia terpilih menjadi Ketua Majelis Pimpinan
Muhammadiyah Sumatera Barat menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto. Jabatan ini
ia rengkuh hingga tahun 1949.

15

Pada tahun 1953, ia terpilih sebagai pimpinan pusat Muhammadyiah dalam


Muktamar Muhammadiyah ke-32 diPurwokerto. Sejak saat itu, ia selalu terpilih
dalam Muktamar Muhammadiyah selanjutnya, sampai pada tahun 1971 ia
memohon agar tidak dipilih kembali karena merasa uzur. Akan tetapi, ia tetap
diangkat sebagai penasihat pimpinan pusat Muhammadiyah sampai akhir
hayatnya.
2.2Meninggal dunia
Setelah mengundurkan diri dari jabatan ketua MUI, kesehatannya menurun. Atas
anjuran dokter Karnen Bratawijaya, dokter keluarga itu, ia diopname di Rumah
Sakit Pusat Pertamina pada 18 Juli 1981, yang bertepatan dengan awal Ramadan.
Pada hari keenam dirawat, ia sempat menunaikan salat Duha dengan bantuan
putrinya, Azizah, untuk bertayamum. Siangnya, beberapa dokter datang
memeriksa kondisinya, dan kemudian menyatakan bahwa ia berada dalam keadaan
koma. Kondisi tersebut tetap berlangsung sampai malam harinya. Tim dokter
menyatakan bahwa ginjal, paru-paru dan saraf sentralnya sudah tidak berfungsi
lagi, dan kondisinya hanya bisa dipertahankan dengan alat pacu jantung. Pada
pukul 10 pagi keesokan harinya, anak-anaknya sepakat untuk mencabut alat pacu
jantung, dan Hamka menghembuskan napas terakhirnya tidak lama setelah itu.
Hamka meninggal dunia pada hari Jum'at, 24 Juli 1981 pukul 10 lewat 37 menit
dalam usia 73 tahun. Jenazahnya disemayamkan di rumahnya di Jalan Raden
Fatah III. Antara pelayat yang hadir untuk memberi penghormatan terakhir
dihadiri Presiden Soeharto dan Wakil
Lingkungan

Hidup Emil

Presiden Adam

Salim serta Menteri

Malik, Menteri

Perhubungan Azwar

Negara

Anas yang

menjadi imam salat jenazahnya. Jenazahnya dibawa ke Masjid Agung dan


disalatkan lagi, dan kemudian akhirnya dimakamkan di Taman Pemakaman Umum
Tanah

Kusir,

Jakarta

Selatan,

dipimpin Menteri

Perwiranegara.

16

Agama Alamsjah

Ratoe

2.3 Politik

Natsir, Hamka, dan Isa Anshary


Sejak masih muda, Hamka telah terlibat dalam aktivitas politik, yaitu ketika
menjadi anggota Sarekat Islam pada tahun 1925 dan, setelah kemerdekaan ia
aktif denganPartai Masyumi. Pada pemilihan umum 1955, ia terpilih menjadi
anggota Dewan Konstituante mewakili Jawa Tengah. Akan tetapi pengangkatan
tersebut ditolak karena merasa tempat tersebut tidak sesuai baginya. Atas
desakan kakak iparnya, Ahmad Rasyid Sutan Mansur, akhirnya Hamka menerima
pengangkatan tersebut.
Di Konstituante, ia bersama Mohammad Natsir, Mohammad Roem, dan Isa
Ansharimenjadi

pihak

yang

paling

konsisten

memperjuangkan syariat

Islam menjadi dasar negara Indonesia. Dalam pidatonya, Hamka mengusulkan


agar dalam sila pertama Pancasila dimasukkan kembali kalimat tentang
"kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya", sebagaimana yang
termaktub dalam Piagam Jakarta. Akan tetapi, pemikiran Hamka ditentang keras
oleh sebagian besar anggota Konstituante, yang umumnya berasal dari pihak
komunis. Selanjutnya, dalam sidang Konstituante diBandung pada tahun 1957, ia
menyampaikan pidato penolakannya atas gagasan Presiden Soekarno yang akan
menerapkan Demokrasi Terpimpin. Namun, segala usahanya itu kandas setelah
Soekarno membubarkan Dewan Konstituante melalui Dekrit Presiden pada 5 Juli
17

1959 dan, perjalanan politik Hamka dapat dikatakan berakhir setelah Masyumi
ikut dibubarkan oleh Presiden Soekarno.
Sikapnya yang konsisten terhadap agama, menyebabkannya acapkali berhadapan
dengan berbagai rintangan, terutama terhadap beberapa kebijakan pemerintah.
Keteguhan

sikapnya

ini

membuatnya

dipenjarakan

oleh Soekarno dari

tahun1964 sampai 1966. Pada awalnya, Hamka diasingkan ke Sukabumi, kemudian


ke Puncak, Megamendung, dan terakhir dirawat di rumah sakit Persahabatan
Rawamangun, sebagai tawanan. Di dalam penjara ia mulai menulis Tafsir al-

Azharyang merupakan karya ilmiah terbesarnya.


Pada

tahun

1977,

Hamka

dipilih

sebagai

ketua

umum Majelis

Ulama

Indonesia yang pertama. Semasa jabatannya, Hamka mengeluarkan fatwa yang


bersisi penolakan terhadap kebijakan pemerintah yang akan memberlakukan RUU
Perkawinantahun 1973, dan mengecam kebijakan diperbolehkannya merayakan
Natal bersama umat Nasrani. Meskipun pemerintah mendesaknya untuk menarik
kembali fatwanya tersebut dengan diiringi berbagai ancaman, Hamka tetap teguh
dengan pendiriannya.] Akan tetapi, pada tanggal 24 Juli 1981, Hamka memutuskan
untuk melepaskan jabatannya sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia,
karena fatwanya yang tidak kunjung dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.
2.4Sastra
Hamka juga merupakan seorang wartawan, penulis, editor, dan penerbit. Sejak
tahun 1920-an, Hamka menjadi wartawan beberapa buah surat kabar seperti
Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam, dan Seruan Muhammadiyah. Pada
tahun1928, ia menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, ia
menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makassar. Hamka juga
pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, dan
Gema Islam.
Hamka adalah seorang otodidak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti
filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan
18

kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, ia dapat menyelidiki karya ulama dan
pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas alAqqad, Mustafa al-Manfaluti, dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, ia
meneliti

karya

sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert

Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl
Marx, dan Pierre Loti.
Hamka

juga

banyak

menghasilkan

karya

ilmiah

Islam

dan

karya

lain

seperti novel dan cerpen. Pada tahun 1928, Hamka menulis buku romannya yang
pertama dalam bahasa Minang dengan judul Si Sabariah. Kemudian, ia juga
menulis

buku-buku

lain,

sejarah, biografi dan otobiografi,


pendidikan,teologi, tasawuf, tafsir,

baik
sosial

yang

berbentuk roman,

kemasyarakatan,

dan fiqih.

Karya

pemikiran

ilmiah

dan

terbesarnya

adalah Tafsir al-Azhar. Di antara novel-novelnya sepertiTenggelamnya Kapal Van

Der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka'bah, dan Merantau ke Deli juga menjadi
perhatian umum dan menjadi buku teks sastra di Malaysia dan Singapura.
Beberapa penghargaan dan anugerah juga ia terima, baik peringkat nasional
maupun internasional.
Pada

tahun 1959,

Hamka

mendapat

anugerah

gelar Doktor

Honoris

Causa dari Universitas al-Azhar, Kairo atas jasa-jasanya dalam penyiaran agama
Islam dengan menggunakan bahasa Melayu. Kemudian pada 6 Juni 1974, kembali
ia

memperoleh

gelar

kehormatan

tersebut

dari Universitas

Nasional

Malaysia pada bidang kesusasteraan, serta gelarProfesor dari Universitas Prof.


Dr. Moestopo

19

BAB 2
PEMBAHASAN

1.1 Metode dan corak tafsir Al-ahzar Hamka


Tiaptiap tafsir pasti memberikan suatu corak atau haluan dari penafsirnya,
seperti halnya dalam Tafsir al-Azhar ini. Dalam penafsirannya Buya Hamka
memelihara sebaik mungkin antara naql dan akal, dirayah dengan riwayah dan
tidak sematamata mengutip atau menukil pendapat orang terdahulu, tetapi
mempergunakan pula tujuan dan pengamalannya. Oleh sebab itu, Tafsir al-Azhar
ini ditulis dalam suasana baru di negara yang penduduk muslimnya lebih besar
jumlahnya daripada penduduk muslim di negara lain. Maka pertikaian madzhab
tidaklah dibawa, juga tidak taasub (fanatik) kepada suatu faham, melainkan
mencoba segala upaya mendekati maksud ayat, menguraikan makna lafadz bahasa
Arab ke dalam bahas Indonesia serta memberi kesempatan orang buat berfikir.
Tafsir al-Azhar adalah tafsir yang berkombinasi antara bil matsur dan bil rayi,
sebagaimana ia katakan bahwa dalam menafsirkan al-Quran ia menganut
madzhab salaf yaitu madzhab Rasulullah dan para sahabat serta ulama-ulama
yang mengikuti jejaknya. Dalam hal ibadah dan aqidah dia memakai pendekatan
taslim, artinya menyerahkan dengan tidak banyak bertanya, melainkan meninjau
mana yang lebih baik dan lebih dekat kepada kebenaran untuk diikuti dan
meninggalkan yang jauh menyimpang. Tidaklah nabi mengikat dengan satu cara
yang sudah nyata tidak akan sesuai dengan perkembangan zaman. Ijtihad dalam
hal ini adalah solusinya dengan jalan bermusyawarah, yakni memungut suara serta
mengambil keputusan atau dalam bahasa sekarang disebut prosedur sidang.
Sebab dalam masyarakat mesti ada syra.
1.2 POLITIK DALAM TAFSIR AL-AZHAR
a. Masalah Syra
Hamka dalam karyanya tidak memberikan definisi secara jelas tentang syra. Ia
20

menjelaskan bahwa al-Qur'an dan hadis tidak memberikan informasi detail


tentang bagaimana melakukan syra. Sebagai bahan pertimbangan Rasulullah
dalam hal ini memakai menteri-menteri utama seperti Abu Bakar, Umar, dan
menteri tingkat kedua yakni Usman dan Ali, kemudian terdapat enam menteri
lain, serta satu menteri ahli musyawarah dari kalangan Anshar. Islam menurut
Hamka telah mengajarkan pentingnya umat mempraktikkan sistem syra ini.
Sementara itu, teknik pelaksanaanya tergantung pada keadan tempat dan
keadaan zaman.
Sementara itu, menurut Hamka dalam Qs: as-Syura ayat 38 mengandung
penjelasan bahwa kemunculan musyawarah disebabkan karena adanya jamaah.
Dalam melakukan shalat diperlukan musyawarah untuk menentukan siapa yang
berhak untuk menjadi imam. Dengan demikian, menurut Hamka dasar dari
musyawarah telah ditanamkan sejak zaman Makah. Sebab, ayat ini (al-Qur'an
surah as-Syura) diturunkan di Makah. Lebih lanjut, dijelaskan bahwa dalam
menjalankan musyawarah harus didasarkan pada asas al-maslah{at. Nabi dalam
hal ini menegaskan segala urusan terkait dengan dunia, misal masalah perang,
ekonomi, hubungan antar sesama manusia dibangun atas dasar dibangun atas
dasar timbangan maslahat dan mafsadat-nya.
Hamka dalam hal ini mengkontekskan ayat al-Qur'an tentang syra dalam
konteks keindonesiaan. Menurutnya, bangsa Indonesia dapat memilih sistem
pemerintahan dalam bentuk apapun untuk menjalankan roda pemerintahan, tetapi
tidak boleh meninggalkan sistem sura yang di dasarkan atas maslahat. Sampai di
sini dapat dikatakan bahwa maslahat adalah prinsip dasar dalam melakukan syra
yang wajib dilakukan oleh setiap bangsa dan negara.
b. Masalah Negara dan Kepala Negara
Hamka menyatakan bahwa suatu umat adalah semua kaum yang telah terbentuk
menjadi suatu masyarakat atau kelompok, mereka menjadi satu atas dasar
persamaan keyakinan. Adapun tegak berdirinya suatu negara atau kekuasaan
21

dimulai sejak manusia mengenal bermusyawarah dan bernegara, di mana


kekuasaan dari segala bentuknya adalah milik Allah, yang telah menjadikan
manusia sebagai pemimpin atau khalifah dalam menjalankan kekeuasaan tersebut,
yang dibarengi dengan aturan-aturan yang telah ditentukan Allah dalam nas.
Dalam keyakinan Islam, manusia mengatur negara bersama-sama atas kehendak
Tuhan. Pengangkatan presiden, sultan, raja harus berada di bawah kekuasaan
Tuhan yang dijelaskan dalam nas, Hamka menyebutnya dengan Demokrasi
Taqwa. Majunya suatu kelompok masyarakat adalah manakala mereka memegang
teguh peraturan-peraturan Allah, dan runtuhnya masyarakat manakala mereka
meninggalkan-Nya. Tidak ada satupun yang dapat menghalangi keruntuhan itu.
Sementara itu, terkait dengan syarat bagi seorang pemimpin (kepala negara),
Hamka menyatakan ada dua hal yang harus dipenuhi seorang pemimpin. Pertama,
ilmu yakni ilmu tentang kepemimpinan. Kedua, badan, yakni sehat, dan tampan
sehingga memunculkan simpati. Ditambahkan pula bahwa pemimpin tersebut
haruslah orang Islam sendiri, agar tidak menimbulkan instabilitas dan keruntuhan
kaum muslim.
Lebih lanjut, Hamka menjelaskan bahwa tugas seorang pemimpin adalah
meramaikan bumi, memeras akal budi untuk mencipta, berusaha, mencari,
menambah ilmu, membangun kemajuan dan kebudayaan, mengatur siasat negeri,
bangsa dan benua.

c. Masalah Hubungan Agama dan Negara


Islam adalah suatu ajaran dari langit, mengandung syari@at dan ibadah,
muamalat (kemasyarakatan), dan kenegaraan. Semua datang dari satu sumber,
yakni tauhid. Tauhid tidak boleh dipisahkan, misal hanya melakukan shalat saja,
sementara kenegaran diambil dari ajaran lain. Jika ada keyakinan lain bahwa ada
ajaran lain untuk mengatur masyarakat yang lebih baik dari Islam, maka kafirlah
22

orang tersebut, meskipun orang itu masih melaksanakan shalat lima waktu. Hal ini
tidak aneh, sebab tauhid bagi Hamka adalah pembentuk bagi tegak dan teguhnya
suatu bangsa.
Hamka ketika menafsirkan Qs: al-Baqarah (2): 283 menyimpulkan bahwa antara
Islam dan negara adalah satu kesatuan, tidak ada yang dapat memisahkan urusan
dunia dan agama bahkan dalam kaitannya dengan masalah urusan muamalah,
hubungan manusia dengan manusia yang lain (hukum perdata). Sebab, Islam
menghendaki hubungan yang lancar dalam segala urusan. Pendapatnya ini juga
ditemukan dalam tulisannya yang lain bahwa dalam sejarah Islam tidak pernah
ditemukan pemisahan antara agama dan negara.

1.3. ANALISIS
a. Masalah Syra
Istilah Syra berasal dari kata -( sya@wara-yusywiru) yang berarti
menjelaskan, menyatakan atau mengajukan dan mengambil sesuatu.
(tasywara) berarti saling berunding, saling tukar pendapat. Secara Lugawi
Syra berarti permusyawaratan, hal bermusyawarah atau konsultasi. Sedang
menurut istilah berarti sarana dan cara memberi kesempatan pada anggota
komunitas yang mempunyai kemampuan membuat keputusan yang sifatnya
mengikat baik dalam bentuk peraturan hukum maupun kebijaksanaan politik.
Menurut Abu Faris syra adalah pemutarbalikan bernagai pendapat dan arah
pandangan yang terlempar tentang suatu masalah, termasuk pengujianya dari
kaum cendekiawan, sehingga mendapat gagasan yang benar, dan baik, sehingga
dapat mrncerminkan konklusi yang paling baik.
Konsep syra sendiri menurut Fazlur Rahman senyatanya merupakan suatu proses
di mana setiap orang harus saling berkonsultasi dan mendiskusikan persoalan
secara konstruktif dan kritis untuk mencapai tujuan bersama. Semua itu
diletakkan

dalam

kerangka

nilai
23

keadilan,

kesederajatan,

dan

pertanggungjawaban sehingga tujuan yang ingin dicapai benar-benar bersifat


objektif dan independen. Menurut Munawir Sjadzali, dalam bukunya Islam dan
Tata Negara menyebutkan musyawarah merupakan petunjuk umum dalam
menyelesaikan masalah bersama, soal teknisnya tidak ada pedoman baku, maka
ijtihad merupakan jalan keluarnya Qs: Ali Imran (3):159, Qs: as-Syra (42):38.
Islam dalam hal ini sangat menekankan kepada umatnya untuk mengembangkan
konsep syra dalam mengangkat dan menyelesaikan berbagai persoalan yang
bersentuhan dengan persoalan publik, terutama masalah politik yang dalam
realitasnya memiliki sisi-sisi yang sangat rentan konflik. Dengan demikian, konsep
syra ini adalah termasuk prinsip-prinsip dasar yang terkait erat dengan masalah
negara dan pemerintahan serta hubungan dengan kepentingan rakyat yang dalam
kacamata al-siyasah al-syariah meliputi tiga aspek utama. Pertama aldusturiyyah, meliputi aturan pemerintahan prinsip dasar yang berkaitan dengan
pendirian suatu pemerintahan, aturan-aturan yang terkait dengan hak-hak
pribadi, masyarakat dan negara. Kedua, kharijiyyah (luar negeri), meliputi
hubungan negara dengan negara yang lain, kaidah yang mendasari hubungan ini,
dan aturan yang berkenaan dengan perang dan perdamaian. Ketiga, maliyyah
(harta), meliputi sumber-sumber keuangan dan perbelanjaan negara.
Berdasarkan tiga teori ini, maka konsep Hamka tentang syra masuk dalam
kategori dusturiyyah. Sebab, ia berdasarkan Qs: as-Syra (42):38 memandang
syra sebagai pokok dan asas pemerintahan dalam pembangunan masyarakat dan
negara Islam. Ayat ini pada akhirnya menjadi refernsi yang urgen dalam teori
politik Islam, khususnya terkait dengan suksesi kepemimpinan dalam Islam,
seperti teori ahl al-hall wa al-aqd (anggota parlemen).
b. Masalah Negara dan Kepala Negara
Tauhid bagi Hamka adalah dasar bagi pembentukan dan persatuan suatu bangsa.
Pandangan

Hamka

ini

menurut

penulis
24

dipengaruhi

oleh

teori

Theo-

Demokrasinya al-Maududi. Kepala negara atau masalah kepemimpinan adalah


masalah yang rentan dengan konflik. Kepemimpinan dalam bahasa Arab disebut
dengan al-khilfah, sedangkan pemimpin disebut dengan al-khalifah. Arti primer
kata khalifah, yang bentuk pluralnya khulaf dan khalif berasal dari kata
khalafa, adalah pengganti, yakni seseorang yang mengantikan tempat tempat
orang lain dalam beberapa persoalan. Menurut Al-Raghib khilfah adalah
mengantikan yang lain, ada kalanya karena absennya yang digantikan, mati, atau
karena ketidakmampuan yang digantikan.
Dalam kamus dan ensiklopedi berbahasa Inggris khalifah berarti wakil (deputy),
penggantian (successor), penguasa (vicegerent), titel bagi pemimpin tertinggi
komunitas muslim sebagai pengganti nabi. Dalam Ensiklopedi Indonesia diartikan
sebagai istilah ketatanegaraan Islam, dan berarti kepala negara atau pemimpin
tertinggi umat Islam. Istilah khalifah pertama kali muncul di Arab pra-Islam
dalam suatu prasasti Arab abad ke-6 M. Kata khalifah dalam prasasti ini
menunjuk kepada semacam raja atau letnan yang bertindak sebagai wakil pemilik
kedaulatan yang berada di tempat lain. Istilah ini dalam kesejarahan Islam
digunakan dalam bentuk khalifah ar-Rasul.
Dalam hal ini, pandangan Hamka tentang khalifah sebagai penerus risalah
kenabian baik dalam urusan agama dan dunia juga dipengaruhi atas pembacaannya
terhadap berbagai turas Islam
c. Masalah Hubungan Agama dan Negara
Para sosiolog teoritisi politik Islam merumuskan tiga teori hubungan antara
agama dan negara. Pertama, paradigma integralistik, yakni agama dan negara
menyatu (integrated). Pemerintahan diselenggarakan atas dasar kedaulatan
Illahi (divine soveregnity). Kedua, paradigma simbiotik, yakni agama dan negara
berhubungan secara simbiotik atau timbal balik. Ketiga, paradigma sekularestik
dengan mengajukan konsep pemisahan (disparitas) agama dan negara. Paradigma
ini

memisahkan

urusan

agama

dan
25

urusan

negara

secara

diametral.

Berangkat dari teori ini, maka pandangan Hamka masuk dalam kategori paradigma
integralistik. Sebab, ia memiliki pandangan bahwa hubungan antara Islam dan
negara adalah satu kesatuan.
1.4 KESIMPULAN
Teori sosiologi menyebutkan, bahwa terdapat pengaruh nilai-nilai sosial terhadap
semua persepsi tentang realitas, teori ini juga menyatakan, bahwa tidak ada
praktik penafsiran (act of commong to understanding) dapat terhindar dari
kekuatan formatif latar belakang (background) dan komunitas paradigma yang
dianut oleh seorang penafsir.
Buya Hamka adalah seorang pujangga, ulama, pengarang, dia juga dikenal sebagai
politikus yang berseberangan dengan politik pemerintah waktu itu. Oleh karena
itu, Hamka ketika ia menziarahi ayat-ayat politik, ia berusaha menemukan,
mengidentifikasi, dan menafsirkan prinsip-prinsip fundamental dari al-Qur'an
dalam kaca mata politik Islam yang dianutnya, tentunya politik yang berbeda
dengan kebijakan politik pemerintah. Hal ini tampak dari pemikirannya tentang
Demokrasi Taqwa, dan hubungan antara agama dan negara yang menyatu.

26

DAFTAR PUSATAKA

Ali as-S}bu@n@i, Al-Tibyn fi Ulm al-Qurn, Beiru@t: Dr al-Iftikr, 1990.


A. Maftuh Abegebriel N.A. Abafaz dan, Fundamentalisme Hadis, dalam A. Agus
Maftuh Abegebriel dan A. Yani Abeveiro, Negara Tuhan; The Thematic
Encyclopaedia, Yogyakarta: SR-Ins Publishing, 2004.
Abdullah Hasan, Ummah or Nation?,Identity Crisis in Contemporary Muslim
Society, Leicester: The Islamic Foundation, 1992.
Ahmad Syafii Maarif, Posisi Sentral al-Qur'an dalam Studi Islam, dalam
Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim, Metodologi Penelitian agama; Sebuah
pengantar, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991.
Al-Ah}m al-Sult}niyyah (Beiru@t: Dr al-Fikr, t.t.), hlm. 3.
Ali Abd al-Raziq, Al-Isla@m wa Us}u@l al-H}ukm: Bah}s al-Khila@fah alH}uku@mah fi@ al-Isla@m (Kairo: Mat}baah al-Musya@rakah, 1925.
Al-Maududi, Al-Islm wa al-Madaniyah al-H}adi@sah, al-Qahirah: Dr alAnsa@r, 1978.
Al-Rghib al-As}faha@ni, Mu'jam Mufradt li al-Fz} al-Qurn, Mesir: Must}afa
al-Bb al-Halabi, 1961.
Al-Zarqni, Manhil al-Irfn fi@ Ulu@m al-Qur'n, Beiru@t: Dr al-Ikhy alKutu@b al-Arbiyyah, t.t.
Bernad Lewis, The Political Language of Islam, Chicago: University of Chicago,
1988.
Departemen Agama RI, Ensiklopedi Islam Di Indonesia, Jakarta: Proyek
Peningkatan Sarana dan Prasarana, 1993.
Fazlur Rahman dalam Islamic Studies Vol. VI, No. 2, 1967.
Grant S. Osborne, The Hermeneutical Spiral, Downers Grore-Illionis: University
Press, 1991.
Hamka, Islam Revolusi Ideologi dan Keadilan Sosial, Jakarta: Pustaka panjimas,
27

1984.
Hamka, Tafsir al-Azha, Jakarta: Pembimbing Masa, 1973.
Harun Nasution (ed.), Ensiklopedi Islam, Jakarta: Depag, 1993.
Ibn Manz}ur, Lisn al-Arab, Beiru@t: Dr S}adhr. Vol.V .t.t.
M. Abdul al-Manar, Pemikiran Hamka, Kajian Filsafat dan Tasawuf, Jakarta:
Prima Aksara, 1993.
M. Abdul al-Manar, Pemikiran Hamka, Kajian Filsafat dan Tasawuf, Jakarta:
Prima Aksara, 1993.
M. Quraish Shihab, Membumikan al-Quran; Fungsi dan Peran Wahyu dalam
Kehidupan Masyarakat, Bandung: Mizan, 1994.

Mohammed Arkoun, Rethinking Islam, terj. Yudian W. Asmin dan Lathiful Khuluq,
Yogyakarta: 1996.
Muhammad Abdul Qadir Abu Faris, Hakikat Sistem Politik Islam, Yogyakarta:
PLP2M, 1987.
Muhammad Ibn Jari@r at-T{abri, Jmi al-Bayn an Tawi@l ayi al-Qur'n,
Beiru@t: Dr al-Fikr, 1984.
Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara Ajaran Sejarah dan Pemikiran,
Jakarta : UI Press, 1993.
Qamaruddin Khan, Al-Mawardi's Theory of the State, Delhi: Muhammad Ahmad
for Idarah Adabiyah, 2009, 1979.
Qamaruddin Khan, The Political Thought of Ibn Taymiyah, Delhi: Adam Publisher
& Distributions, 1992.
T.W. Arnold, Khalifa dalam M.TH. Houstma, (ed.), First Encyclopedia of Islam,
Leiden: E.J. Brill, 1987.
Tim, Ensiklopedi Indonesia, Jakarta: Ichiar baru Van Hoeve, 1982.
Tim, Ensiklopedi Indonesia, Jakarta: Ichiar baru Van Hoeve, 1982.

28

Anda mungkin juga menyukai