Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia langganan bencana, sejak bencana Tsunami yang
melanda Asia Tenggara, khususnya Aceh dan P.Nias pada 2004 lalu. Mulai
dari banjir bandang di Jember, gempa Jogja dan ancaman merapinya,
banjir lagi di Banjarmasin gempa danTsunami di Pangandaran, Jabar,
gempa Maluku walaupun berskala kecil, kebakaran hutan di Sumatera &
Kalimantan, runtuhnya timbunan sampah di Bekasi yang memakan korban
sampailah bencana teranyar plus terlama. Lumpur panas PT. Lapindo
Brantas di Porong, Sidoarjo yang berhasil pecahkan rekor lebih dari 115
hari.
Melihat fenomena itu tentu banyak yang jadi korban baik nyawa,
materi, dan masa depan. Sayangnya seperti yang selalu kita ketahui bahwa
kita semua selalu menyiapkan penanggulangan emergency saat bahaya
sudah datang.
Pada fase awal bencana,akan membuat para korban menjadi
khawatirdan

bahkan

mungkin

menjadi

panik.Kepanikan

itu

berupa,seseorang akan merasa sangat down,shock,karena kehilangan harta


benda dan sanak saudara.Demikian pula,mereka akan merasakan berbagai
macam emosi seperti ketakutan,kehilangan orang dan benda yang
dicintainya,serta membandingkan keadaan tersebut dengan kondisi
sebelum bencana,mereka kembali mengingat harta benda yang telah hilang
atau rusak sekaligus merasakan kesedihan yang mendalam.Hingga pada
akhirnya merasa kecewa,frustasi,marah,dan merasakan pahitnya hidup.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah definisi bencana!
2. Apakah Jenis-jenis Bencana!
3. Apakah Fase-fase Bencana!
4. Apakah volusi Pandangan Terhadap Bencana!
5. Apa saja Hal-hal yang Mendorong Pergeseran Paradigmatik!
6. Bagaimana paradigma Penanggulangan Bencana ?
7. Bagaimana Kelompok Rentan Bencana?
8. Bagaimana Pengurangan Resiko Bencana?
9. Bagaimana Trauma Pasca Bencana?
10. Apakah Definisi Manajemen Bencana !
11. Apakah Tujuan Manajemen bencana!
12. Bagaimana Fase Pada Manajemen Bencana?
13. Bagaimana Komunitas Dalam Manajemen Kejadian Bencana?
14. Bagaimana Peran Perawat dalam manajemen kejadian bencana?
C. Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengetahui definisi bencana!
2. Mahasiswa dapat mengetahui Jenis-jenis Bencana!
3. Mahasiswa dapat mengetahui Fase-fase Bencana!
4. Mahasiswa dapat mengetahui volusi Pandangan Terhadap Bencana !
5. Mahasiswa dapat mengetahui Hal-hal yang Mendorong Pergeseran
Paradigmatik !
6. Mahasiswa dapat mengetahui paradigma Penanggulangan Bencana ?
7. Mahasiswa dapat mengetahui Kelompok Rentan Bencana?
8. Mahasiswa dapat mengetahui Pengurangan Resiko Bencana
9. Mahasiswa dapat mengetahui Trauma Pasca Bencana?
10. Mahasiswa dapat mengetahui Definisi Manajemen Bencana !
11. Mahasiswa dapat mengetahui Tujuan Manajemen bencana!
12. Mahasiswa dapat mengetahui Fase Pada Manajemen Bencana?
13. Mahasiswa dapat mengetahui Komunitas Dalam Manajemen Kejadian
Bencana?
14. Mahasiswa dapat mengetahui Peran Perawat dalam manajemen
kejadian bencana?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Bencana
Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia definisi
bencana adalah peristiwa/kejadian pada suatu daerah yang mengakibatkan
kerusakan ekologi, kerugian kehidupan manusia serta memburuknya
kesehatan dan pelayanan kesehatan yang bermakna sehingga memerlukan
bantuan luar biasa dari pihak luar.
Pengertian bencana atau disaster menurt Wikipedia: disaster is the
impact of a natural or man-made hazards that negatively effects society or
environment (bencana adalah pengaruh alam atau ancaman yang dibuat
manusia yang berdampak negatif terhadap masyarakat dan lingkungan).
Dalam Undang-Undang No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana, dikenal pengertian dan beberapa istilah terkait dengan bencana.
Bencana adalah peristiwa atau masyarakat rangkaian peristiwa
yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan yang
disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor
manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia,
kerusakanlingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis
Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang disebabkan olehalam antara lain berupa gempa
bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan
tanahlongsor.
Bencana nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa
atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi,
gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.
Bencana adalah situasi dan kondisi yang terjadi dalam kehidupan
masyarakat. Tergantung pada cakupannya, bencana ini bisa merubah pola
kehidupan dari kondisi kehidupan masyarakat yang normal menjadi rusak,
menghilangkan harta benda dan jiwa manusia, merusak struktur sosial
masyarakat, serta menimbulkan lonjakan kebutuhan dasar (BAKORNAS
PBP).

Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa


atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi
konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror.
Sedangkan definisi bencana (disaster) menurut WHO adalah setiap
kejadian yang menyebabkan kerusakan, gangguan ekologis, hilangnya
nyawa manusia atau memburuknya derajat kesehatan atau pelayanan
kesehatan pada skala tertentu yang memerlukan respon dari luar
masyarakat atau wilayah yang terkena.
B. Jenis Bencana
Usep Solehudin (2005) mengelompokkan bencana menjadi 2 jenis yaitu:
1. Bencana alam (natural disaster) yaitu kejadian-kejadian alami
seperti kejadian-kejadian alami seperti banjir, genangan, gempa
bumi, gunung meletus, badai, kekeringan, wabah, serangga dan
lainnya.
2. Bencana ulah manusia (man made disaster) yaitu kejadiankejadian karena perbuatan manusia seperti tabrakan pesawat
udara atau kendaraan, kebakaran, huru-hara, sabotase, ledakan,
gangguan listrik, ganguan komunikasi, gangguan transportasi dan
lainnya.
Sedangkan berdasarkan cakupan wilayah, bencana terdiri dari:
1. Bencana Lokal
Bencana ini biasanya memberikan dampak pada wilayah
sekitarnya yang berdekatan. Bencana terjadi pada sebuah gedung
atau bangunan-bangunan disekitarnya. Biasanya adalah karena
akibat faktor manusia seperti kebakaran, ledakan, terorisme,
kebocoran bahan kimia dan lainnya.
2. Bencana Regional

Jenis bencana ini memberikan dampak atau pengaruh pada area


geografis yang cukup luas, dan biasanya disebabkan oleh faktor
alam, seperti badai, banjir, letusan gunung, tornado dan lainnya.
C. Fase-fase Bencana
Menurut Barbara Santamaria (1995), ada 3 fase dalam terjadinya suatu
bencana, yaitu fase preimpact, fase impact dan fase postimpact.
1. Fase preimpact merupakan warning phase, tahap awal dari
bencana. Informasi didapat dari badan satelit dan meteorologi
cuaca. Seharusnya pada fase inilah segala persiapan dilakukan baik
oleh pemerintah, lembaga, dan warga masyarakat.
2. Fase impact merupakan fase terjadinya klimaks dari bencana.
Inilah saat-saat dimana manusia sekuat tenaga mencoba untuk
bertahan hidup (survive). Fase impact ini terus berlanjut hingga
terjadi kerusakan dan bantuan-bantuan darurat dilakukan.
3. Fase

postimpact

adalah

saat

dimulainya

perbaikan

dan

penyembuhan dari fase darurat, juga tahap dimana masyarakat


mulai berusaha kembali pada fungsi komunitas normal. Secara
umum dalam fase postimpact ini para korban akan mengalami
tahap respon psikologis mulai penolakan, marah, tawar-menawar,
depresi hingga penerimaan.
D. Evolusi Pandangan Terhadap Bencana
1. Pandangan Konvensional
Bencana merupakan sifat alam
Terjadinya bencana:

kecelakaan (accident);

tidak dapat diprediksi;

tidak menentu;

tidak terhindarkan;

tidak terkendali.

Masyarakat dipandang sebagai korban dan penerima bantuan dari


pihak luar.
2. Pandangan Ilmu Pengetahuan Alam
Bencana merupakan unsur lingkungan fisik yang membahayakan
kehidupan manusia. Karena kekuatan alam yang luar biasa. Proses
geofisik, geologi dan hidrometeorologi. Tidak memperhitungkan
manusia sebagai penyebab bencana.
3. Pandangan Ilmu Terapan
Besaran (magnitude) bencana tergantung besarnya ketahanan atau
kerusakan akibat bencana. Pengkajian bencana ditujukan pada upaya
meningkatkan kekuatan fisik struktur bangunan untuk memperkecil
kerusakan.
4. Pandangan Progresif
Menganggap bencana sebagai bagian dari pembangunan masyarakat
yang normal. Bencana adalah masalah yang tidak pernah berhenti.
Peran sentral dari masyarakat adalah mengenali bencana itu sendiri.
5. Pandangan Ilmu Sosial
Fokus

pada

bagaimana

tanggapan

dan

kesiapan

masyarakat

menghadapi bahaya. Ancaman adalah alami, tetapi bencana bukan


alami. Besaran bencana tergantung perbedaan tingkat kerawanan
masyarak
6. Pandangan Holistik
Menekankan pada ancaman (threat) dan kerentanan (vulnerability),
serta kemampuan masyarakat dalam menghadapi risiko. Gejala alam
menjadi ancaman jika mengancam hidup dan harta-benda. Ancaman
akan berubah menjadi bencana jika bertemu dengan kerentanan.
E. Hal-hal yang Mendorong Pergeseran Paradigmatik
Kesadaran akan beragamnya postur bencana

Ukuran spektakular atau kecil


6

Meluas atau lokal

Homogen atau kompleks

Pendekatan konvensional tidak lagi mampu menjelaskan fenomena


bencana
Infus pelajaran dari berbagai lapangan termasuk dari disiplin studi
pembangunan
F. Paradigma-paradigma Penanggulangan Bencana
1. Daur Penanggulangan Bencana
Memandang bencana sebagai rentetan kejadian dengan fokus ketika,
sebelumdan sesudah bencana.
2. Model Kue-marmer
Upaya penanggulangan bencana dapat dilaksanakan setiap saat,
masing-masing meluas atau menyempit, tergantung pada risiko yang
dihadapi.
3. Tabrakan Unsur Ancaman-Kerentanan
Upaya mengatasi (melepaskan tekanan) kerentanan (tekanan) yang
berakar pada proses proses sosial ke arah masyarakat yang aman,
berdaya tahan, dan berkesinambungan.
4. Pengurangan Risiko
Upaya-upaya untuk mengatasi secara komprehensif dan terpadu
untuk mengurangi risiko bencana.
G. Kelompok Rentan Bencana
Kerentanan adalah keadaan atau sifat (perilaku) manusia atau
masyarakatyang menyebabkan ketidakmampuan menghadapi bahaya atau
ancamandari potensi bencana untuk mencegah, menjinakkan, mencapai ke
siapan danmenanggapi dampak bahaya tertentu. Kerentanan terbagi atas:

1. Kerentanan fisik, kerentanan yang dihadapi masyarakat


dalammenghadapi ancaman bahaya tertentu, misalnya kekuatan rumah
bagimasyarakat yang tinggal di daerah rawan gempa.
2. Kerentanan ekonomi, kemampuan ekonomi individu atau
masyarakatdalam pengalokasian sumber daya untuk pencegahan
serta penanggulangan bencana.
3. Kerentanan social, kondisi social masyarakat dilihat dari
aspek pendidikan, pengetahuan tentang ancaman bahaya dan rsiko
bencana.
4. Kerentanan lingkungan, keadaan disekitar masyarakat tinggal.
Misalnyamasyarakat yang tinggal di lereng bukit atau pegunungan
rentan terhadapancaman bencana tanah longsor.
H. Pengurangan Resiko Bencana Tahapan penyelenggaraan
penanggulangan bencana meliputi:
1. Pra

bencana,

pada

tahapan

ini

dilakukan

kegiatan

perencanaan penanggulangan bencana, pengurangan risiko bencana, pe


ncegahan, pemaduan dalam perencanaan pembangunan, persyaratan an
alisis risiko bencana, penegakan rencana tata ruang, pendidikan dan
peletahihanserta penentuan persyaratan standar teknis penanggulangan
bencana(kesiapsiagaan, peringatan dini dan mitigasi bencana).
2. Tanggap darurat, tahapan ini mencakup pengkajian terhadap
loksi,kerusakan

dan

sumber

daya;

penentuan

status

keadan

darurat; penyelamatan dan evakuasi korban, pemenuhan kebutuhan das


ar; pelayanan psikososial dan kesehatan.
3. Paska

bencana,

tahapan

ini

mencakup

kegiatan

rehabilitasi

(pemulihandaerah bencana, prasaranan dan saran umum, bantuan


perbaikan rumah,social, psikologis, pelayanan kesehatan, keamanan
dan ketertiban) danrekonstruksi (pembangunan, pembangkitan dan
peningkatan sarana prasarana termasuk fungsi pelayanan kesehatan.

I.

Trauma Pasca Bencana


1. Stress secara sederhana, stres dapat didefinisikan sebagai suatu
keadaan dimanaindividu terganggu keseimbangannya. Stres terjadi
akibat adanya situasidari luar ataupun dari dalam diri yang
memunculkan gangguan, danmenuntut individu berespon secara
sesuai.
2. TraumaSecara sederhana, trauma berarti luka atau kekagetan
(syok/shock).Penyebab trauma adalah peristiwa yang sangat menekan,
terjadi secaratiba-tiba dan di luar kontrol/kendali seseorang, bahkan
seringkalimembahayakan kehidupan atau mengancam jiwa. Peristiwa
ini begitumengagetkan, menyakitkan dan melebihi situasi stres yang
kita alamisehari-hari. Peristiwa ini dinamakan sebagai peristiwa
traumatis.
Ciri-ciri peristiwa traumatis adalah :
a.Terjadi secara tiba-tiba.
b.Mengerikan, menimbulkan perasaan takut yang amat sangat.
c.Mengancam keutuhan fisik maupun mental.

J. Definisi Manajemen Bencana


Manajemen bencana adalah proses yang sistematis dimana
didalamnya termasuk berbagai macam kegiatan yang memanfaatkan
kemampuan dari kebijakan pemerintah, juga kemampuan komunitas dan
individu untuk menyeseuaikan diri dalam rangka meminamalisir kerugian.
Tindakan-tindakan tersebut pada umumnya meliputi kegiatankegiatan

perencanaan,

pengorganisasian,

pelaksanaan,

pengarahan,

pemantauan, evaluasi dan pengendalian yang dapat teraktualisasi dalam


bentuk sekumpulan kebijakan dan keputusan administratif maupun
aktivitas-aktivitas

yang

bersifat

operasional.

K. Tujuan Manajemen bencana


Tujuan manajemen bencana yang baik adalah:
1. Menghindari kerugian pada individu, masyarakat, dan Negara
melalui tindakan dini.
2. Meminimalisasi kerugian pada individu, masyarakat dan Negara
berupa kerugian yang berkaitan dengan orang, fisik, ekonomi, dan
lingkungan bila bencana tersebut terjadi, serta efektif bila bencana
itu telah terjadi.
3. Meminimalisasi penderitaan yang ditanggung oleh individu dan
masyarakat yang terkena bencana. Membantu individu dan
masyarakat yang terkena bencana supaya dapat bertahan hidup
dengan cara melepaskan penderitaan yang langsung dialami.
4. Memberi informasi masyarakat danpihak berwenang mengenai
resiko.
5. Memperbaiki kondisi sehingga indivudu dan masyarakat dapat
mengatasi permasalahan akibat bencana.
L. Fase Pada Manajemen Bencana
Manajemen

bencana

dapat

dibagi

menjadi

beberapa

fase:

1. Fase Mitigasi
Mitigasi merupakan kegiatan yang dirancang untuk mengurangi resiko
dan potensi kerusakan akibat keadaan darurat. Analisa demografi
populasi rentan dan kemampuan komunitas harus dianalisa. Mitigasi
mencakup pendidikan kepada publik tindakan untuk menyiapkan
bencana pada individu,keluarga,dan komunitas.
Dimulai

dengan

mengidentifikasi

hazard

potensial

yang

mempengaruhi operator organisasi.


Indonesia kini tengah menuju mitigasi/tindakan preventif. Mitigasi
yang dilakukan adalah dengan pembangunan struktural dan non
struktural di daerah rentan gempa dan bencana alam lainnya. Tindakan
mitigasi struktural contohnya dengan pemasangan sistem informasi

10

peringatan dini tsunami, yang bekerja setelah terjadi gempa. Mitigasi


non struktural adalah penataan ulang tata ruang area rentan bencana.
2. Fase kesiapsiagaan dan pencegahan (Prevention phase)
Fase kesiapsiagaan adalah fase dimana dilakukan persiapan yang baik
dengan berbagai tindakan untuk meminamalisir kerugian yang
ditimbulkan akibat terjadinya bencana dan menyusun perencanaan
agara dapat melakukan kegiatan pertolongan serta perawatan yang
efektif saat terjadi bencana. Tindakan terhadap bencana menurut PBB
ada

kerangka:

pengkajian

terhadap

kerentanan;

membuat

perencanaan; pengorganisasian; sistem informasi; pengumpulan


sumber daya; sistem alarm; mekanisme tindakan; pendidikan dan
pelatihan

penduduk;

gladi

resik.

Beberapa langkah yang dilakukan oleh Badan Nasional Penanganan


Bencana baik tingkat Nasional dan Daerah telah diusahakan sekeras
mungkin. Contohnya pemetaan daerah rawan bencana gempa,
regionalisasi daerah bencana gempa, penetapan daerah yang menjadi
wilayah basis pencapaian lokasi bencana gempa, serta penetapan
daerah lokasi evakuasi saat dilakukan penanganan korban gempa
bumi.
3. Fase tindakan (Respon phase)
Fase tindakan merupakan fase dimana dilakukan berbagai aksi darurat
yang nyata untuk menjaga diri sendiri atau harta kekayaan.
Tujuan dari fase tindakan adalah mengontrol dampak negatif dari
bencana. Aktivitas yang dilakukan: instruksi pengungsiaan;
pencarian dan penyelamatan korban; menjamin keamanan dilokasi
bencana; pengkajian terhadap kerugian akibat bencana; pembagian
dan penggunaan alat perlengkapan pada kondisi darurat; pengiriman
dan

penyerahan

barang

material;

dan

menyediakan

tempat

pengungsian. Fase tindakan dibagi menjadi fase akut dan fase sub

11

akut. Fase akut, 48 jam pertama sejak bencana terjadi disebut fase
penyelamatan dan pertolongan medis darurat sedangkan fase sub akut
terjadi sejak 2-3 minggu.
4. Fase pemulihan
Fase pemulihan merupakan fase dimana individu atau masyarakat
dengan kemampuannya sendiri dapat memulihkan fungsinya seperti
kondisi sebelumnnya. Pada fase ini orang-orang mulai melakukan
perbaikan darurat tempat tinggal, mulai sekolah atau bekerja,
memulihkan lingkungan tempat tinggalnya. Fase ini merupakan masa
peralihan dari kondisi darurat ke kondisi tenang.
5. Fase Rehabilitasi
Fase Rehabilitasi merupakan fase dimana individu atau masyarakat
berusaha mengembalikan fungsi fungsi-fungsinya seperti sebelum
bencana dan merencanakan rehabilitasi terhadap seluruh komunitas.
Keadaannya mengalami perubahan dari sebelum bencana.
M. Pelayanan Medis Bencana Berdasarkan Siklus Bencana
Pelayanan medis akan berubah dalam menanggulangi setiap siklusbencana
1. Fase Akut pada siklus bencana
Prioritas di lokasi bencana, pertolongan terhadap korban luka dan
evakuasi dari lokasi berbahaya ke tempat yang aman. 3 T (triage,
treatment, dan transportation) penting untuk menyelamatkan korban
luka sebanyak mungkin. Pada fase ini juga dilakukan perawatan
terhadap mayat.
2. Fase menengah dan panjang pada siklus bencana
Fase perubahan pada lingkungan tempat tinggal. Pada fase ini harus
memperhatikan segi keamanan, membantu terapi kejiwaan korban

12

bencana, membantu kegiatan untuk memulihkan kesehatan hidup dan


membangun kembali komunitas social
3. Fase tenang pada siklus bencana
Fase tidak terjadi bencana, pada fase ini diperlukan pendidikan
penanggulangan bencana saat bencana terjadi, pelatihan pencegahan
bencana pada komunitas dengan melibatkan penduduk setempat,
pengecekan dan pemeliharaan fasilitas peralatan pencegahan bencana
baik di daerah maupun fasilitas medis, serta membangun sistem
jaringan bantuan
N. Peran Perawat Komunitas Dalam Manajemen Kejadian Bencana
Perawat komunitas dalam asuhan keperawatan komunitas memiliki
tanggung jawab peran dalam membantu mengatasi ancaman bencana baik
selama tahap preimpact, impact/emergency, dan postimpact
Peran perawat disini bisa dikatakan multiple;

sebagai bagian dari penyusun rencana,

pendidik,

pemberi asuhan keperawatan

bagian dari tim pengkajian kejadian bencana.

1. Tujuan utama
Tujuan tindakan asuhan keperawatan komunitas pada bencana ini
adalah untuk mencapai kemungkinan tingkat kesehatan terbaik masyarakat
yang terkena bencana tersebut
2. Peran Perawat
a. Peran dalam Pencegahan Primer
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan perawat dalam masa pra
bencana ini, antara lain:
mengenali instruksi ancaman bahaya;

13

mengidentifikasi

kebutuhan-kebutuhan

saat

fase

emergency

(makanan, air, obat-obatan, pakaian dan selimut, serta tenda)


melatih penanganan pertama korban bencana.
Berkoordinasi berbagai dinas pemerintahan, organisasi lingkungan,
palang merah nasional maupun lembaga-lembaga kemasyarakatan
dalam

memberikan

penyuluhan

dan

simulasi

persiapan

menghadapi ancaman bencana kepada masyarakat


Pendidikan kesehatan diarahkan kepada :
usaha pertolongan diri sendiri (pada masyarakat tersebut)
pelatihan pertolongan pertama dalam keluarga seperti menolong
anggota keluarga dengan kecurigaan fraktur tulang , perdarahan,
dan pertolongan pertama luka bakar
memberikan beberapa alamat dan nomor telepon darurat seperti
dinas kebakaran, RS dan ambulans.
Memberikan informasi tentang perlengkapan yang dapat dibawa
(misal pakaian seperlunya, portable radio, senter, baterai)
Memberikan informasi tempat-tempat alternatif penampungan atau
posko-posko bencana
b. Peran Perawat dalam Keadaan Darurat (Impact Phase)
Biasanya pertolongan pertama pada korban bencana dilakukan
tepat setelah keadaan stabil. Setelah bencana mulai stabil, masing-masing
bidang tim survey mulai melakukan pengkajian cepat terhadap kerusakankerusakan, begitu juga perawat sebagai bagian dari tim kesehatan.
Perawat harus melakukan pengkajian secara cepat untuk memutuskan
tindakan pertolongan pertama. Ada saat dimana seleksi pasien untuk
penanganan segera (emergency) akan lebih efektif. (Triase )
TRIASE :

Merah---paling penting, prioritas utama. keadaan yang mengancam


kehidupan sebagian besar pasien mengalami hipoksia, syok,

14

trauma dada, perdarahan internal, trauma kepala dengan kehilangan


kesadaran, luka bakar derajat I-II

Kuning --- penting, prioritas kedua. Prioritas kedua meliputi injury


dengan efek sistemik namun belum jatuh ke keadaan syok karena
dalam keadaan ini sebenarnya pasien masih dapat bertahan selama
30-60 menit. Injury tersebut antara lain fraktur tulang multipel,
fraktur terbuka, cedera medulla spinalis, laserasi, luka bakar derajat
II

Hijau --- prioritas ketiga. Yang termasuk kategori ini adalah fraktur
tertutup, luka bakar minor, minor laserasi, kontusio, abrasio, dan
dislokasi

Hitam --- meninggal. Ini adalah korban bencana yang tidak dapat
selamat dari bencana, ditemukan sudah dalam keadaan meninggal

c. Peran perawat di dalam posko pengungsian dan posko bencana


Memfasilitasi jadwal kunjungan konsultasi medis dan cek kesehatan
sehari-hari
Tetap menyusun rencana prioritas asuhan keperawatan harian
Merencanakan dan memfasilitasi transfer pasien yang memerlukan
penanganan kesehatan di RS
Mengevaluasi kebutuhan kesehatan harian
Memeriksa dan mengatur persediaan obat, makanan, makanan khusus
bayi, peralatan kesehatan
Membantu penanganan dan penempatan pasien dengan penyakit
menular maupun kondisi kejiwaan labil hingga membahayakan diri
dan lingkungannya berkoordinasi dengan perawat jiwa
Mengidentifikasi reaksi psikologis yang muncul pada korban
(ansietas, depresi yang ditunjukkan dengan seringnya menangis dan
mengisolasi diri) maupun reaksi psikosomatik (hilang nafsu makan,
insomnia, fatigue, mual muntah, dan kelemahan otot)

15

Membantu terapi kejiwaan korban khususnya anak-anak, dapat


dilakukan dengan memodifikasi lingkungan misal dengan terapi
bermain.
Memfasilitasi konseling dan terapi kejiwaan lainnya oleh para
psikolog dan psikiater
Konsultasikan bersama supervisi setempat mengenai pemeriksaan
kesehatan dan kebutuhan masyarakat yang tidak mengungsi
d. Peran perawat dalam fase postimpact
Bencana tentu memberikan bekas khusus bagi keadaan fisik, sosial,
dan psikologis korban.
Selama masa perbaikan perawat membantu masyarakat untuk kembali
pada kehidupan normal.
Beberapa penyakit dan kondisi fisik mungkin memerlukan jangka
waktu yang lama untuk normal kembali bahkan terdapat keadaan
dimana kecacatan terjadi

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
16

Bencana adalah peristiwa atau masyarakat rangkaian peristiwa


yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan yang
disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor
manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia,
kerusakanlingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Bencana adalah situasi dan kondisi yang terjadi dalam kehidupan
masyarakat. Tergantung pada cakupannya, bencana ini bisa merubah pola
kehidupan dari kondisi kehidupan masyarakat yang normal menjadi rusak,
menghilangkan harta benda dan jiwa manusia, merusak struktur sosial
masyarakat, serta menimbulkan lonjakan kebutuhan dasar (BAKORNAS
PBP).
B.SARAN
Sebagai seorang perawat diharapkan bisa turut andil dalam
melakukan kegiatan tanggap bencana.Sekarang tidak hanya dituntut
mampu memiliki kemampuan intelektual namunharus memiliki jiwa
kemanusiaan melalui aksi siaga bencana.

DAFTAR PUSTAKA
Efendi, F & Makfudli. 2009. Keperawatan kesehatan komunitas: Teori
dan praktik dalam keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

17

Turkanto.2006. Splinting & Bandaging. Kuliah Keperawatan Kritis.


Surabaya: PSIK Universitas Airlangga.
www.ferryefendi.blogspot.com/2007/12/konsep-bencana-disaster.html
www.kangmunawar.com/bencana/pengertian-dan-istilah-istilah-bencana
www.id.wikipedia.org/wiki/bencana

18