Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Herpes simpleks adalah infeksi yang disebabkan Herpes simplex virus (HSV)
tipe 1 dan 2, meliputi herpes orolabialis dan herpes genitalis. Penularan virus paling
sering terjadi melalui kontak langsung dengan lesi atau sekret genital/oral dari
individu yang terinfeksi.
Di antara kedua tipe herpes simpleks, herpes genitalis merupakan salah satu
infeksi menular seksual yang perlu mendapat perhatian karena sifat penyakitnya
yang sukar disembuhkan dan sering rekuren, transmisi virus dari pasien
asimtomatik, pengaruhnya terhadap kehamilan/janin dalam kandungan dan pasien
imunokompromais, dampak psikologis, serta kemungkinan timbulnya resistensi
virus.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka didapatkan rumusan masalah
sebagai berikut:
1. Bagaimana cara penyebaran vius herpes simplex?
2. Apa saja penyakit yang ditimbulkan oleh virus herpes simplex?
3. Bagaimana asuhan keperawatan pada penderita virus herpes simplex?
1.3 Tujuan
1

Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami asuhan keperawatan pada klien dengan Herpes
Simplex.

Tujuan Khusus
a) Mahasiswa mampu mengetahui definisi Herpes Simplex.
b) Mahasiswa mampu menjelaskan patofisiologi dari Herpes Simplex.
c) Mahasiswa mampu menjelaskan pohon masalah dari Herpes Simplex.

d) Mahasiswa mampu memahami penatalaksanaan dari Herpes Simplex..


e) Mahasiswa mampu menjelaskan Konsep Asuhan Keperawatan pada Klien
dengan Herpes Simplex.

1.4 Manfaat
1

Mahasiswa dapat lebih mengerti tentang penyakit dan konsep asuhan


keperawatan pada klien dengan Herpes Simplex.

Mahasiswa dapat mengetahui seberapa penting informasi tentang Herpes


Simplex pada anak-anak, orang dewasa dan lansia untuk mahasiswa secara
khususnya maupun masyarakat pada umumnya.

BAB II
KONSEP PENYAKIT
2.1 Defenisi
Herpes simpleks adalah infeksi akut yang disebabkan oleh herpes simpleks virus
(HSV) tipe I atau tipe II yang ditandai dengan adanya vesikel yang berkelompok di
atas kulit yang sembab dan eritematosa pada daerah dekat mukokutan (Handoko,
2010).
Penyakit herpes simpleks tersebar kosmopolit dan menyerang baik pria maupun
wanita dengan frekuensi yang tidak berbeda. Infeksi primer oleh herpessimpleks
virus (HSV) tipe I biasa pada usia anak-anak, sedangkan infeksi HSV tipe II biasa
terjadi pada dekade II atau III dan berhubungan dengan peningkatan aktivitas seksual
(Handoko, 2010).
Infeksi genital yang berulang 6 kali lebih sering daripada infeksi berulang pada
oral-labial; infeksi HSV tipe II pada daerah genital lebih sering kambuh daripada
infeksi HSV tipe I di daerah genital; dan infeksi HSV tipe I pada oral-labial lebih
sering kambuh daripada infeksi HSV tipe II di daerah oral.Walaupun begitu infeksi
dapat terjadi di mana saja pada kulit dan infeksi pada satu area tidak menutup
kemungkinan bahwa infeksi dapat menyebar ke bagian lain (Habif, 2004).
2.2 Klasifikasi
1. HSV-1
a. Gingivostomatitis herpetik akut
Penyakit ini sering terjadi pada anak-anak kecil (usia 1-3 tahun) dan
terdiri atas lesi-lesi vesikuloulseratif yang luas dari selaput lendir mulut,
demam, cepat marah dan limfadenopati lokal. Masa inkubasi pendek
b.

(sekitar 3-5 hari) dan lesi-lesi menyembuh dalam 2-3 minggu.


Keratojungtivitis
Suatu infeksi awal HSV-1 yang menyerang kornea mata dan dapat
mengakibatkan kebutaan.

c. Herpes Labialis
Terjadi pengelompokan vesikel-vesikel lokal, biasanya pada perbatasan
mukokutan bibir. Vesikel pecah, meninggalkan tukak yang rasanya sakit dan
menyembuh tanpa jaringan parut. Lesi-lesi dapat kambuh kembali secara
berulang pada berbagai interval waktu
2. HSV-2
a. Herpes Genetalis
Herpes genetalis ditandai oleh lesi-lesi vesikuloulseratif pada penis pria
atau serviks, vulva, vagina, dan perineum wanita. Lesi terasa sangat
nyeri dan diikuti dengan demam, malaise, disuria, dan limfadenopati
inguinal. Infeksi herpes genetalis dapat mengalami kekambuhan dan
beberapa kasus kekambuhan bersifat asimtomatik. Bersifat simtomatik
ataupun asimtomatik, virus yang dikeluarkan dapat menularkan infeksi
pada pasangan seksual seseorang yang telah terinfeksi.
b. Herpes neonatal
Herpes neonatal merupakan infeksi HSV-2 pada bayi yang baru lahir. Virus
HSV-2 ini ditularkan ke bayi baru lahir pada waktu kelahiran melalui kontak
dengan lesi lesi herpetik pada jalan lahir. Untuk menghindari infeksi,
dilakukan persalinan melalui bedah caesar terhadap wanita hamil dengan
lesi-lesi

herpes

genetalis Infeksi

herpes

neonatal

hampir

selalu

simtomatik. Dari kasus yang tidak diobati, angka kematian seluruhnya


sebesar 50%.
2.3 Etiolgi
Herpes simpleks virus (HSV) tipe I dan II merupakan virus herpeshominis
yang merupakan virus DNA. Pembagian tipe I dan II berdasarkan karakteristik
pertumbuhan pada media kultur, antigenic marker dan lokasi klinis tempat
predileksi (Handoko, 2010). HSV tipe I sering dihubungkan dengan infeksi oral
sedangkan HSV tipe II dihubungkan dengan infeksi genital. Semakin seringnya
infeksi HSV tipe I di daerah genital dan infeksi HSV tipe II di daerah oral
kemungkinan disebabkan oleh kontak seksual dengan cara oral-genital (Habif,
2004).
Menurut Wolff (2007) infeksi HSV tipe I pada daerah labialis 80-90%,
urogenital 10-30%, herpetic whitlow pada usia< 20 tahun, dan neonatal 30%.
4

Sedangkan HSV tipe II di daerah labialis 10-20%, urogenital 70-90%,


herpeticwhitlow pada usia> 20 tahun, dan neonatal 70%.
2.4 Manifestasi Klinis
Infeksi herpes simpleks virus berlangsung dalam tiga tahap: infeksiprimer, fase
laten dan infeksi rekuren. Pada infeksi primer herpes simpleks tipe I tempat
predileksinya pada daerah mulut dan hidung pada usia anak-anak. Sedangkan
infeksi primer herpes simpleks virus tipe II tempat prediksinya daerah pinggang
ke bawah terutama daerah genital. Infeksi primer berlangsung lebih lama dan
lebih berat sekitar tiga minggu dan sering disertai gejala sistemik, misalnya
demam, malaise dan anoreksia. Kelainan klinis yang dijumpai berupa vesikel
berkelompok di atas kulit yang sembab dan eritematosa, berisi cairan jernih dan
menjadi seropurulen, dapat menjadi krusta dan dapat mengalami ulserasi
(Handoko, 2010).
Pada

fase

laten

penderita

tidak

ditemukan

kelainan

klinis,

tetapi

herpessimpleks virus dapat ditemukan dalam keadaan tidak aktif pada ganglion
dorsalis (Handoko, 2010). Pada tahap infeksi rekuren herpes simpleks virus yang
semula tidak aktif di ganglion dorsalis menjadi aktif oleh mekanisme pacu
(misalnya: demam, infeksi, hubungan seksual) lalu mencapai kulit sehingga
menimbulkan gejala klinis yang lebih ringan dan berlangsung sekitar tujuh sampai
sepuluh hari disertai gejala prodormal lokal berupa rasa panas, gatal dan nyeri.
Infeksi rekuren dapat timbulpada tempat yang sama atau tempat lain di sekitarnya
(Handoko, 2010).
Gejala umum Herpes simplek adalah bentol berisi cairan yang terasa perih dan
panas. Bentolan ini akan berlangsung beberapa hari. Bintil kecil ini bisa
meluas tidak hanya di wajah tapi bisa di seluruh tubuh. Bisa juga terlihat
seperti jerawat, dan pada wanita timbul keputihan. Rasa sakit dan panas di
seluruh

tubuh

yang

membuat

tidak nyaman ini bisa berlangsung sampai

beberapa hari disertai sakit saat menelan makanan, karena kelenjar getah bening
sudah terganggu. Gejala ini datang dan pergi untuk beberapa waktu. Bisa
saja setelah sembuh, gejala ini tidur untuk sementara waktu sampai satu

tahun lamanya. Namun akan tiba-tiba kambuh dalam beberapa minggu.


Sering terasa gatal yang tidak jelas di sebelah mana, kulit seperti terbakar di
bagian tubuh tertentu disertai nyeri di daerah selangkangan atau sampai
menjalar ke kaki bagian bawah. Gejala herpes dapat melukai daerah penis,
buah pelir, anus, paha, pantat- vagina, dan saluran kandung kemih
2.5 Epidemiologi
Penyakit herpes simpleks tersebar kosmopolit dan menyerang baik pria
maupun wanita dengan frekuensi yang tidak berbeda. Infeksi primer oleh
herpessimpleks virus (HSV) tipe I biasa pada usia anak-anak, sedangkan infeksi
HSV tipe II biasa terjadi pada dekade II atau III dan berhubungan dengan
peningkatan aktivitas seksual (Handoko, 2010). Infeksi genital yang berulang 6
kali lebih sering daripada infeksi berulang pada oral-labial; infeksi HSV tipe II
pada daerah genital lebih sering kambuh daripada infeksi HSV tipe I di daerah
genital; dan infeksi HSV tipe I pada oral-labial lebih sering kambuh daripada
infeksi HSV tipe II di daerah oral.Walaupun begitu infeksi dapat terjadi di mana
saja pada kulit dan infeksi pada satu area tidak menutup kemungkinan bahwa
infeksi dapat menyebar ke bagian lain (Habif, 2004).
2.6 Patogenesis
a. Infeksi primer: HSV masuk melalui defek kecil pada kulit atau mukosa dan
bereplikasi lokal lalu menyebar melalui akson ke ganglion sensoris dan
terus bereplikasi. Dengan penyebaran sentrifugal oleh saraf-saraf lainnya
menginfeksi daerah yang lebih luas. Setelah infeksi primer HSV masuk
dalam masa laten diganglia sensoris (Sterry, 2006).
b. Infeksi rekuren: pengaktifan kembali HSV oleh berbagai macam rangsangan
(sinar UV, demam) sehingga menyebabkan gejala klinis (Sterry,2006).
Menurut Habif (2004) infeksi HSV ada dua tahap: infeksi primer, virus
menyerang ganglion saraf; dan tahap kedua, dengan karakteristik kambuhnya
penyakit di tempat yang sama. Pada infeksi primer kebanyakan tanpa gejala dan
hanya dapat dideteksi dengan kenanikan titer antibody IgG. Seperti kebanyakan
infeksi virus, keparahan penyakit meningkat seiring bertambahnya usia. Virus

dapat menyebar melalui udara via droplets, kontak langsung dengan lesi, atau
kontak dengan cairan yang mengandung virus seperti ludah. Gejala yang timbul
3 sampai 7 hari atau lebih setelah kontak yaitu: kulit yang lembek disertai nyeri,
parestesia ringan, atau rasa terbakar akan timbul sebelum terjadi lesi pada daerah
yang terinfeksi. Nyeri lokal, pusing, rasa gatal, dan demam adalah karakteristik
gejala prodormal. Vesikel pada infeksi primer HSV lebih banyak dan menyebar
dibandingkan infeksi yang rekuren. Setiap vesikel tersebut berukuran sama
besar, berlawanan dengan vesikel pada herpes zoster yang beragam ukurannya.
Mukosa membran pada daerah yang lesi mengeluarkan eksudat yang dapat
mengakibatkan terjadinya krusta. Lesi tersebut akan bertahan selama 2 sampai 4
minggu kecuali terjadi infeksi sekunder dan akan sembuh tanpa jaringan parut
(Habif, 2004).
Virus akan bereplikasi di tempat infeksi primer lalu viron akan
ditransportasikan oleh saraf via retrograde axonal flow ke ganglia dorsal dan
masuk masa laten di ganglion. Trauma kulit lokal (misalnya: paparan sinar
ultraviolet, abrasi) atau perubahan sistemik (misalnya: menstruasi, kelelahan,
demam) akan mengaktifasi kembali virus tersebut yang akan berjalan turun
melalui saraf perifer ke tempat yang telah terinfeksi sehingga terjadi infeksi
rekuren. Gejala berupa rasa gatal atau terbakar terjadi selama 2 sampai 24 jam
dan dalam 12 jam lesi tersebut berubah dari kulit yang eritem menjadi papula
hingga terbentuk vesikel berbentuk kubah yang kemudian akan ruptur menjadi
erosi pada daerah mulut dan vagina atau erosi yang ditutupi oleh krusta pada
bibir dan kulit. Krusta tersebut akan meluruh dalam waktu sekitar 8 hari lalu
kulit tersebut akan reepitelisasi dan berwarna merah muda (Habif, 2004).
Infeksi HSV dapat menyebar ke bagian kulit mana saja, misalnya: mengenai
jari-jari tangan (herpetic whitlow) terutama pada dokter gigi dan perawat yang
melakukan kontak kulit dengan penderita. Tenaga kesehatan yang sering
terpapar dengan sekresi oral merupakan orang yang paling sering terinfeksi
(Habif, 2004). Bisa juga mengenai para pegulat (herpes gladiatorum) maupun
olahraga lain yang melakukan kontak tubuh (misalnya rugby) yang dapat
menyebar ke seluruh anggota tim (Sterry, 2006).
2.7 Patofisiologi
7

Transmisi HSV kepada individu yang belum pernah terinfeksi sebelumnya terjadi
ketika virus mengalami multiplikasi di dalam tubuh host (viral shedding). Lama
waktu viral shedding pada tiap episode serangan HSV berbeda-beda. Pada
infeksi primer dimana dalam tubuh host belum terdapat antibodi terhadap
HSV, maka viral shedding cenderung lebih lama yaitu sekitar 12 hari
dengan puncaknya ketika muncul gejala prodormal (demam,lemah, penurunan
nafsu makan, dan nyeri sendi) dan pada saat separuh serangan awal infeksi
primer, walaupun > 75 % penderita dengan infeksi primer tersebut tanpa gejala.
Viral shedding pada episode I non primer lebih singkat yaitu sekitar 7 hari dan
karena pada tahap ini telah terbentuk antibodi terhadap HSV maka gejala yang
ditimbulkan lebih ringan dan kadang hanya berupa demam maupun gejala
sistemik singkat. Pada tahap infeksi rekuren yang biasa terjadi dalam waktu 3
bulan setelah infeksi primer, viral shedding berlangsung selama 4 hari dengan
puncaknya pada saat timbul gejala prodormal dan pada tahap awal serangan.
Viral shedding pada tahap asimptomatik berlangsung episodik dan singkat yaitu
sekitar 24-48 jam dan sekitar 1-2 % wanita hamil dengan riwayat HSV rekuren
akan mengalami periode ini selama proses persalinan. Seorang individu
dapat terkena infeksi HSV karena adanya transmisi dari seorang individu
yang seropositif, dimana transmisi tersebut dapat berlangsung secara horisontal
dan vertikal. Perbedaan dari ke-dua metode transmisi tersebut adalah sebagai
berikut :
1. Horisontal
Transmisi secara

horisontal

terjadi

ketika

seorang

individu

yang

seronegatif berkontak dengan individu yang seropositif melalui vesikel


yang berisi virus aktif (81-88%), ulkus atau lesi HSV yang telah mengering
(36%) dan dari sekresi cairan tubuh yang lain seperti salivi, semen, dan cairan
genital (3,6 -25%). Adanya kontak bahan-bahan tersebut dengan kulit atau
mukosa yang luka atau pada beberapa kasus kulit atau mukosa tersebut maka
virus dapat masuk ke

dalam tubuh host yang baru dan

mengadakan

multiplikasi pada inti sel yang baru saja dimasukinya untuk selanjutnya
menetap seumur hidup dan sewaktu-waktu dapat menimbulkan gejala khas
yaitu timbulnya vesikel kecil berkelompok dengan dasar eritem.
2. Vertikal

Transmisi HSV secara vertikal terjadi pada neonatus baik itu pada periode
antenatal, intrapartum dan postnatal. Periode antenatal bertanggung jawab
terhadap 5 % dari kasus HSV pada neonatal. Transmisi ini terutama terjadi
pada saat ibu mengalami infeksi primer dan virus berada dalam fase
viremia (virus berada dalam darah) sehingga secara hematogen virus tersebut
dalam masuk ke dalam plasenta mengikuti sirkulasi uteroplasenter akhirnya
menginfeksi fetus. Periode infeksi primer ibu juga berpengaruh

terhadap

prognosis si bayi, apabila infeksi terjadi pada trimester I biasanya akan


terjadi abortus dan pada trimester

II akan terjadi kelahiran prematur. Bayi

dengan infeksi HSV antenatal mempunyai angka mortalitas 60 % dan separuh


dari yang hidup tersebut akan mengalami gangguan syaraf pusat dan mata.
Infeksi primer
memberikan

yang

terjadi

pada

masa-masa

akhir

prognosis yang lebih buruk karena tubuh

kehamilan

akan

ibu belum sempat

membentuk antibodi (terbentuk 3-4 minggu setelah virus masuk tubuh host)
untuk selanjutnya disalurkan kepada fetus sebagai suatu antibodi neutralisasi
transplasental dan hal ini akan mengakibatkan 30-57% bayi yang dilahirkan
terinfeksi HSV dengan berbagai komplikasinya (mikrosefali, hidrosefalus,
calsifikasi intracranial, chorioretinitis dan ensefalitis).Sembilan puluh persen
infeksi HSV neonatal terjadi saat intrapartum yaitu ketika bayi melalui jalan
lahir dan berkontak dengan lesi maupun cairan genital ibu. Ibu dengan infeksi
primer mampu menularkan HSV pada neonatus 50 %, episode I non primer 35%
, infeksi rekuren dan asimptomatik 0-4%
2.8 Pathway
Terlampir
2.9 Pemeriksaan Penunjang
Herpes

simpleks

virus

(HSV)

dapat

ditemukan

pada

vesikel

dan

dapatdibiakkan.Pada keadaan tidak ada lesi dapat diperiksa antibodi HSV.Dengan


tes Tzanck dengan pewarnaan Giemsa dapat ditemukan sel datia berinti banyak
dan badan inklusi intranuklear (Handoko, 2010). Tes Tzanck dapat diselesaikan
dalam waktu 30 menit atau kurang.Caranya dengan membuka vesikel dan korek
dengan lembut pada dasar vesikel tersebut lalu letakkan pada gelas obyek
kemudian

biarkan

mongering

sambil

difiksasi

dengan

alkohol

atau

dipanaskan.Selanjutnya beri pewarnaan (5% methylene blue, Wright, Giemsa)


selama beberapa detik, cuci dan keringkan, beri minyak emersi dan tutupi dengan
gelas penutup. Jika positif terinfeksi hasilnya berupa keratinosit yang multinuklear
dan berukuran besar berwarna biru (Frankel, 2006).
Identifikasi virus dengan PCR, mikroskop elektron, atau kultur (Sterry, 2006).
Tes serologi menggunakan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) spesifik
HSV tipe II dapat membedakan siapa yang telah terinfeksi dan siapa yang
berpotensi besar menularkan infeksi (McPhee, 2007).
2.10 Penatalaksanaan
Pada lesi yang dini dapat digunakan obat topikal berupa salap/krim yang
mengandung preparat idoksuridin (stoxil, viruguent, virunguent-P) atau preparat
asiklovir (zovirax). Pengobatan oral preparat asiklovir dengan dosis 5x200mg
per

hari

selama

hari

mempersingkat

kelangsungan

penyakit

dan

memperpanjang masa rekuren. Pemberian parenteral asiklovir atau preparat


adenine arabinosid (vitarabin) dengan tujuan penyakit yang lebih berat atau
terjadi komplikasi pada organ dalam (Handoko, 2010).
Untuk terapi sistemik digunakan asiklovir, valasiklovir, atau famsiklovir.Jika
pasien mengalami rekuren enam kali dalam setahun, pertimbangkan untuk
menggunakan asiklovir 400 mg atau valasiklovir 1000 mg oral setiap hari
selama satu tahun. Untuk obat oles digunakan lotion zinc oxide atau calamine.
Pada wanita hamil diberi vaksin HSV sedangkan pada bayi yang terinfeksi HSV
disuntikkan asiklovir intra vena (Sterry, 2006).
2.11 Komplikasi
Komplikasinya yaitu: pioderma, ekzema herpetikum, herpetic whithlow,
herpes gladiatorum (pada pegulat yang menular melalui kontak), esophagitis,
infeksi neonatus, keratitis, dan ensefalitis (McPhee, 2007).
Menurut Hunter (2003) komplikasi herpes simpleks adalah herpesensefalitis
atau meningitis tanpa ada kelainan kulit dahulu, vesikel yang menyebar luas ke
seluruh tubuh, ekzema herpeticum, jaringan parut, dan eritema multiforme.

10

BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 PENGKAJIAN
1. Anamnesis
a. Identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, suku/bangsa, agama,
status perkawinan, tanggal masuk rumah sakit, nomor register dan diagnosa
medik.
b. Keluhan utama
Gejala yang sering menyebabkan penderita datang ketempat pelayanan
kesehatan adalah nyeri pada lesi yang timbul.
c. Riwayat penyakit sekarang
Kembangkan pola PQRST pada setiap keluhan klien.

11

Pada beberapa kasus, timbul lesi/vesikel perkelompok pada penderita yang


mengalami demam atau penyakit yang disertai peningkatan suhu tubuh

atau pada penderita yang mengalami trauma fisik maupun psikis.


Penderita merasakan nyeri yang hebat, terutama pada area kulit yang

mengalami peradangan berat dan vesikulasi hebat.


d. Riwayat penyakit dahulu
Sering diderita oleh klien yang pernah mengalami penyakit herpes simplex
atau memiliki penyakit seperti ini.
e. Riwayat penyakit keluarga
Ada anggota keluarga atau teman dekat yang terinfeksi virus ini.
f. Riwayat psikososial
Klien dengan penyakit kulit, terutama yan lesinya berada pada bagian muka
atau yang dapat dilihat orang, biasanya mengalami gangguan konsep diri. Hal
itu meliputi perubahan citra tubuh, ideal diri, harga diri penampilan peran,
atau identitas diri. Reaksi yang mungkin timbul adalah:
a. Menolak untuk menyentuh atau melihat salah satu bagian tubuh.
b. Menarik diri dari kontak social.
c. Kemampuan untuk mengurus diri berkurang
2. Pola fungsi kesehatan
Adapun yang harus dikaji antara lain:
a. Aktivitas/Istirahat
Tanda : Kurang tidur/gangguan tidur; gangguan hubungan seksual,
emosional dan menstruasi pada wanita; sering berganti-ganti pasangan;
hubungan seksual yang tidak aman; malaise
b. Sirkulasi
Tanda : Kulit hangat, demam; peningkatan TD/nadi akibat demam, nyeri,
ansietas; kemerahan di sekitar vulva; sakit kepala.
c. Eliminasi
Tanda : rabas purulent pada wanita; disuria (nyeri saat berkemih); rasa
terbakar/melepuh
d. Makanan/Cairan
Tanda : anoreksia, penurunan BB akibat ansietas
e. Nyeri/
Kenyamanan
Tanda : nyeri pada area vulva/genitalia; nyeri pada otot (mialgia); radang
papula dan vesikel yang berkelompok di permukaan genital; gatal
3. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum klien bergantung pada luas, lokasi timbulnya
lesi, dan daya tahan tubuh klien. Pada kondisi awal/pada proses

12

peradangan, dapat terjadi peningkatan suhu tubuh atau demam


dan perubahan tanda-tanda vital yang lain. Pada pengkajian
kulit, ditemukan adanya vesikel-vesikel berkelompok yang nyeri,
dan penglihatan klien.
Untuk mengetahui adanya nyeri, kita dapat mengkaji respon
klien terhadap nyeri akut secara fisiologis atau melalui respon
perilaku. Secara fisiologis, terjadi diaphoresis, peningkatan
denyut jantung, peningkatan pernapasan, dan peningkatan
tekanan dara.h; pada perilaku, dapat juga dijumpai menangis,
merintih, atau marah. Lakukan pengukuran nyeri dengan
menggunakan skala nyeri 0-10 untuk orang dewasa. Untuk
anak-anak,

pilih

perkembangannya,

skala
bisa

yang

sesuai

menggunakan

skala

dengan

usia

wajah

untuk

mengkaji nyeri sesuai usia; libatkan anak dalam pemilihan


3.2 Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan Rasa Nyaman (Nyeri dan Gatal) berhubungan dengan, respon
peradangan
2. Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan perlindungan kulit, penurunan
imunitas.
3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak baik
4. Gangguan persepsi sensori:penglihatan b/d gangguan penerimaan;

13

Anda mungkin juga menyukai