Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT sebagai
makhluk yang sempurna, keharusan manusia sebagai makluk sempurna diantara
ciptaan-ciptaan lainya adalah bersyukur kepada-Nya, salah satu wujud kesyukuran
yang dilimpahkan manusia sebagai ciptaan kepada penciptanya yaitu Allah SWT
adalah dengan mengakhlakinya. Akhlak adalah budi pekerti atau tingkah laku dan
perilaku sesorang yang didorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk
melakukan suatu perbuatan yang baik.
Kewajiban manusia mengakhlaki Allah SWT adalah dengan wujud taqwa
kepadanya, definisi taqwa secara harfiyah adalah memelihara diri dari siksaan
Allah SWT dengan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala laranganNya, budi pekerti atau akhlaq merupakan perilaku keseharian manusia yang tidak
bisa diragukan lagi rutinitasnya, untuk menjaga budi pekerti manusia dari
akhlaqsuulkarimah terutama mengakhlaki Allah SWT, maka Allah SWT
mewajibkan kepada seluruh ciptaannya khususnya manusia sebagai makhluk
sempurna dan hayawanu natiq (hewan yang berfikir) untuk mengaklaqi Allah
SWT dengan bertaqwa kepadanya.
Selain Bertaqwa manusia juga harus senantiasa cinta dan ridho kepada
Allah SWT, untuk mendefinisikan cinta sangat luas sekali maknanya, menurut
wikipedia Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan
pribadi, cinta juga dapat diartikan take and Give (saling memberi dan menerima)
sedangkan dalam konsep filosofi cinta adalah sifat baik yang mewarisi semua
kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang.
Berbeda dengan cinta, kalaulah cinta definisinya sangat luas, sedangkan
ridho pengertiannya lebih luas dibandingkan dengan cinta. Ridho secara harfiyah
diartikan rela atau perkenan, bisa juga diartikan puas. Oleh karena pengertian
ridho sendiri lebih luas daripada cinta maka hal ini menunjukan bahwa hirarki
tuhan yang lebih tinggi daripada manusia. Adapun makna Ridho terhadap Allah
SWT berarti Allah SWT puas akan ibadah yang kita lakukan, berbeda dengan
cinta yang berarti take and Give, ridho senantiasa melakukan ibadah terhadap

Allah SWT sedangkan Allah SWT senantiasa tidak membutuhkan pemberian


manusia atau tidak perlu menerima persembahan apapun.
Dalam cinta dan Ridho terhadap Allah SWT manusia juga harus senantiasa
mengakhlaki Allah SWT dengan sikap Ikhlas atas segala kehendak-Nya, karena
ridho kepada Allah SWT harus didasari dengan sikap ikhlas. Ikhlas adalah salah
satu hal yang bisa menyebabkan suatu amalan ibadah kita diterima Allah SWT.
Sedangkan Pengertian Ikhlas dalam islam adalah memurnikan ibadah atau amalan
shalih hanya untuk Allah SWT dengan mengharap pahala dari-Nya semata. Oleh
karenanya sebagai manusia haruslah bersikap ikhlas dan tidak mengharapkan
imbalan terhadap perbuatan yang telak dilakukan baik untuk diri sendiri maupun
orang lain selain kepada-Nya.
1.2 Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Akhlaq?
2.

Apa yang dimaksud dengan taqwa terhadap Allah SWT?

3.

Apa yang dimaksud dengan Cinta dan ridho terhadap Allah SWT?

4.

Apa yang dimaksud dengan Ikhlas atas kehendak Allah?

1.3 Tujuan
1. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan akhlaq
2. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan Taqwa kepada Allah SWT
3. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan Cinta dan ridho terhadap Allah
SWT
4. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan Ikhlas atas kehendak Allah

BAB II
PEMBAHASAN
Pada hakikatnya manusia merupakan makhluk ciptaan, dimana konteks
ciptaan ialah hasil pencipta, maka dalam penciptaan pasti memiliki pencipta.
Kemudian siapakah yang menciptakan manusia?. Allah SWT adalah sang
pencipta, maha pencipta, tidak hanya manusia saja yang diciptakannya, namun
Malaikat, binatang, syaitan, bahkan alam semesta beserta isinya merupakan
ciptaan Allah SWT.
Maka hendaklah seorang manusia mensyukuri atas terciptanya kepada sang
pencipta, bagaimana kita mensyukurinya?. Salah satu wujud kesyukuran yang
harus diimplementasikan manusia kepada penciptanya adalah dengan cara
mengakhlakinya.
Sehingga munculah pertanyaan besar bagi kita Bagaimanakan kita mengakhlaki
pencipta kita?, untuk menjawab pertanyaan itu hendaklah kita mengetahui hakikat
kita yang sebenarnya, untuk itu kita harus Bertaqwa kepada-Nya, Cinta dan Ridho
atas kehendaknya, Ikhlas atas segalanya, Khauf dan raja kepada-Nya, Senantiasa
bertawakal kepadanya, selalu mensyukuri nikmatnya, senantiasa bermurakabah
dengan-Nya, dan selalu bertaubat atas segala kesalahan kita kepada-Nya.
2.1 Pengertian Akhlaq
Akhlaq adalah Budi Pekerti atau tingkah laku seseorang yang didorong
oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan suatu perbuatan yang baik.
Akhlak merupakan bentuk jamak dari kata Khuluq, berasal dari bahasa Arab yang
berarti perangi, tingkah laku atau tabiat.
Kata akhlaq diartikan sebagai tingkah laku, tetapi tingkahlaku tersebut
harus dilakukan secara berulang-ulang tidah cukup hanya sekali melakukan
perbuatan baik, atau hanya sewaktu-waktu saja. Seseorang dapat dikatan
berakhlak jika timbul dengan sendirinya, didorong oleh motivasi dari dalam diri
dan dilakukan tanpa banyak pertimbangan yang sering diulang-ilang sehingga
terkesan sebagai keterpaksaan untuk berbuat. Apabila perbuatan tersebut
dilakukan dengan terpaksa bukanlah pencerminan dari akhlaq.

Kriteria Akhlaq
Sesorang sering kali merasa bahwa dirinya sudah berakhlak, namun
sesorang dapat dikatakan berakhlak (baik atau buruk) apabila dia telah
memenuhi kriteria berikut ini :
a.

Melakukan Perbuatan yang baik atau Buruk.

b.

Kemampuan melakukan Perbuatan.

c.

Kesadaran akan perbuatan itu.

d.

Kondisi jiwa yang membuat cenderung melakukan perbuatan baik


atau buruk.

Pembagian Akhlaq
Dalam menilai sesorang berakhlak baik atau buruk, manusia
terkadang atas tindakan atau tingkah laku yang dia perbuat namun dia tidak
menyadari bahwa tindakannya adalah baik atau buruk menurut dia maupun
orang lain, adapun pembagian akhlaq Dibedakan Menjadi dua bagian.
1. Akhlaq Baik (Al-Hamidah)
Akhlaq Al-hamidah adalah suatu tingkah laku sesorang yang
didorong oleh keinginan yang baik dengan tujuan tidak
mendatangkan kerugian bagi dirinya dan orang lain. Adapun contoh
dari Akhlaq Baik adalah Jujur (As-Sidqu), Berperilaku Baik
(Khusnul khuluqi), Malu (Al-Haya), Rendah Hati (At-tawadlu),
Murah hati (Al-hilmu), Sabar (Ash-Shobru).
2. Akhlaq Buruk (Adz-Dzaminah)
Akhlaq buruk merupakan suatu tingkah laku sesorang yang
berdampak buruk bagi dirinya sendiri dan orang lain, adapun contoh
dari akhlaq Adz-Dzaminah adalah mengambil atau mencuri hak
orang lain, membicarakan kejelekan orang lain, membunuh, segala
bentuk tindakan tercela dan merugikan orang lain.
2.2 Taqwa Kepada Allah SWT
Taqwa berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang artinya
memelihara. Hujahnya adalah Al Quran At Tahrim ayat 6 yang bermaksud:
Wahai orang yang beriman, hendaklah kamu memelihara kamu dan

keluargamu dari api neraka. Dalam Al Quran, ALLAH sering menyeru


dengan kalimat ittaqu atau yattaqi.
Tambahan huruf pada asal kata waqa membawa perubahan makna.
Di sini ittaqullah mempunyai maksud hendaklah kamu mengambil
ALLAH sebagai pemelihara /benteng/pelindung. Yaitu hendaklah jadikan
Tuhan itu pelindung. Jadikan Tuhan itu benteng.
Bila sudah berada dalam perlindungan, kubu atau benteng Tuhan
maka perkara yang negatif dan berbahaya tidak akan masuk atau tembus.
Artinya jadikanlah Tuhan itu dinding dari segala kejahatan.
Taqwa merupakan perintah yang wajib atas setiap orang Islam.
Setiap orang beriman diperintahkan oleh Allah dengan benar2 bertaqwa
kepada Allah. Dalil2 Al-Qur'an dan Hadis Nabi berkenaan taqwa serta
kewajipan bertaqwa terlalu banyak , diantaranya :
Firman Allah :

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan


sebenar-benar taqwa kepada-Nya. [Al-Imran (3) : 102]

Firman Allah :


Katakanlah (wahai Muhammad): Tidak sama yang buruk dengan yang


baik, walaupun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu. Oleh itu
bertaqwalah kepada Allah wahai orang-orang yang berakal fikiran, supaya
kamu berjaya.
[Al-Maedah (5) : 100 ]

Sedangkan takwa secara lebih lengkapnya adalah, menjalankan


segala kewajiban, menjauhi semua larangan dan syubhat (perkara yang
samar), selanjutnya melaksanakan perkara-perkara sunnah (mandub), serta
menjauhi perkara-perkara yang makruh(dibenci).
Kata takwa juga sering digunakan untuk istilah menjaga diri atau
menjauhi hal-hal yang diharamkan, sebagaimana dikatakan oleh Abu
Hurairah Radhiallaahu anhu ketika ditanya tentang takwa, beliau mengatakan, Apakah kamu pernah melewati jalanan yang berduri? Si penanya
menjawab, Ya. Beliau balik bertanya, Lalu apa yang kamu lakukan?
Orang itu menjawab, Jika aku melihat duri, maka aku menyingkir
darinya, atau aku melompatinya atau aku tahan langkah. Maka berkata
Abu Hurairah, Seperti itulah takwa.
Pada prinsipnya ketakwaan seorang adalah apabila ia menjadikan
suatu pelindung antara dirinya dengan apa yang ia takuti. Maka ketakwaan
seorang hamba kepada Rabbnya adalah apabila ia menjadikan antara
dirinya dan apa yang ia takuti dari Rabb (berupa kemarahan, siksa, murka)
suatu penjagaan/pelindung darinya. Yaitu dengan menjalankan ketaatan
dan menjauhi kemaksiatan. Maka tampak jelas, bahwa hakikat takwa
adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Thalq bin Hubaib, Takwa
adalah engkau melakukan ketaatan kepada Allah berdasarkan nur
(petunjuk) dari Allah karena mengharapkan pahala dari-Nya. Dan engkau
meninggalkan maksiat kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah karena
takut akan siksa-Nya."
Ketaqwaan seorang muslim kepada Allah SWT. Taqwa bukan
sebatas melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan. Bukan
sebatas menunai ketaatan dan menjauhkan kemaksiatan. Bukan
sebatas membuat apa yang disuruh dan meninggalkan apa yang
dilarang. Bukan juga sebatas meninggalkan apa yang haram dan
menunaikan apa yang fardhu. Bukan sebatas menjauhkan yang
syirik dengan beramal dan taat kepada Allah. Bukan sebatas
menjauhkan diri dari segala apa yang akan menjauhkan diri kita
daripada Allah. Bukan sebatas membatasi diri kepada yang halal

saja dan bukan sebatas beramal untuk menjuruskan ketaatan


kepada Allah semata-mata.
Usaha untuk menjadikan Allah sebagai pemelihara atau
pelindung atau pembenteng ialah dengan melaksanakan perkaraperkara yang disuruh oleh Allah lahir dan batin. Dengan kata-kata
yang lain, perkara yang disuruh itu ialah membina sifat-sifat
mahmudah. Mengumpulkan dan menyuburkan sifat-sifat
mahmudah itulah usaha bagi menjadikan Allah itu sebagai
pemelihara atau pelindung. Membina sifat-sifat mahmudah itulah
usaha ke arah taqwa
Definisi taqwa adalah memelihara diri dari siksaan Allah dengan
mengikuti segala Perintahnya dan menjauhi segala larangannya.
2. 3 Cinta kepada Allah SWT
Sebagai kaum muslimin, setiap kali sorang muslim melakukan rutinitas
dimasyarakat dalam kesehariannya yang terpenting dalam hidupnya adalah
Ridha Allah SWT. Maka dalam menjalankan segala aktivitasnya sesorang
muslim haruslah berpegang teguh kepada Ridha Ilahi, bukan selainnya.
Ada salah satu agama yang mengajarkan bahwa Cinta tuhanlah yang
dicari. Olehkarena itu, hendaklah seorang mengetahui makana dari cinta
dan Ridha
Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan
pribadi, cinta juga dapat diartikan take and Give (saling memberi dan menerima)
sedangkan dalam konsep filosofi cinta adalah sifat baik yang mewarisi semua
kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang.
Cinta adalah kesadaran diri, perasaan jiwa dan dorongan hati yang
menyebabkan seorang terpatut hatinya kepada apa yang dicintainya dengan penuh
semangat dan rasa kasih sayang.
Cinta kepada Allah -yang merupakan inti ajaran tasawuf- adalah kekuatan
yang bisa menyatukan perbedaan-perbedaan itu.

Katakanlah, Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah
mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. (Aali Imraan:31)
7

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa kalau kita mengaku cinta kepada Allah,
maka kita harus mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Yaitu
mengikuti sunnah-sunnah beliau. Tidak ada artinya sama sekali kalau seseorang
mengaku-aku cinta kepada Allah akan tetapi amalannya tidak mengikuti
Rasulullah bahkan dia beramal dengan berbagai kebidahan bahkan kesyirikan
dan kekufuran, nas`alullaahas salaamah (kita memohon kepada Allah
keselamatan).
Betapa banyak orang yang mengaku-aku cinta kepada Allah, akan tetapi Allah
tidak mencintainya. Orang-orang yahudi, nashara, orang-orang shufi, para
penyembah kuburan, para penyembah ilmu filsafat seperti JIL (Jaringan Iblis
Lanatullah alaihim) dan golongan-golongan sesat lainnya, apakah Allah
mencinta mereka. Sungguh indah perkataan sebagian ulama Salaf,
Sesungguhnya perkara itu bukan bagaimana engkau mencintai akan tetapi
bagaimana agar engkau dicintai.
Memang kita diperintahkan untuk mencintai Allah, akan tetapi jangan sampai
hanya sekedar pengakuan belaka tanpa bukti. Bahkan yang paling penting adalah
kita harus berusaha supaya Allah mencintai kita.
Untuk mendapatkan kecintaan Allah tentunya kita harus mengikuti Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam yakni mengikuti sunnah-sunnah beliau, sebagaimana
disebutkan dalam ayat di atas

Cintailah Allah dan berusahalah untuk menggapai


cintaNya.Tahapan-tahapan menuju wahana cinta kepada Allah adalah
sebagai berikut:
a. Membaca Al-Quran dengan tadabbur dan memahaminya dengan baik.
b. Mendekatkan diri kepada Allah Taala dengan shalat sunat setelah
mendahulukan shalat wajib.
c. Selalu dzikirullah (mengingat Allah) dalam segala kondisi dengan hati,
lisan dan perbuatan.

d. Mengutamakan kehendak Allah di saat berbenturan dengan kehendak


hawa nafsu.
e. Menanamkan dalam hati nama-nama dan sifat-sifat Allah Taala dan
memahami maknanya.
f. Memperhatikan karunia dan kebaikan Allah kepada kita.
g. Menundukkan hati dan diri ke haribaan Allah.
h. Menyendiri untuk beribadah kepada Allah, bermunajat dan membaca kitab
suciNya di waktu malam saat orang lelap tidur.
i. Bergaul dan berkumpul bersama orang-orang shaleh, mengambil hikmah
dan ilmu dari mereka.
j. Menjauhkan sebab-sebab yang dapat menjauhkan kita daripada Allah.

2.4 Ridha kepada Allah SWT


Ridha Secara harfiyah berarti rela atau perkenan. Bisa juga diartikan
sebagai puas. Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) Rida atau ridho
adalah rela, suka, senang hati. Ridha juga berarti memperkenankan atau
mengizinkan.
Devinisi Ridha kepada Allah berarti ALLAH SWT puas akan ibadah yang kita
lakukan. Karena kepuasan ALLAH SWT ini berarti tata cara, niat, dan rukun
ibadah kita sudah sesuai dengan kehendak-Nya. Dengan begitu, ALLAH SWT
rela dan memberikan izin kepada kita untuk berkarya di muka bumi-Nya.
Makna ridha kepada Allah Taala sebagai Rabb adalah ridha kepada
segala perintah dan larangan-Nya, kepada ketentuan dan pilihan-Nya, serta kepada
apa yang diberikan dan dicegah-Nya. Inilah syarat untuk mencapai tingkatan ridha
kepada-Nya sebagai Rabb secara utuh dan sepenuhnya
Makna ridha kepada Islam sebagai agama adalah merasa cukup dengan

mengamalkan syariat Islam dan tidak akan berpaling kapada selain Islam.
Demikian pula ridha kepada nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam
sebagai rasul artinya hanya mencukupkan diri dengan mengikuti petunjuk dan
sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam beribadah dan
mendekatkan diri kepada Allah, serta tidak menginginkan selain petunjuk dan
sunnah beliau shallallahu alaihi wa sallam [7].
Sifat yang mulia inilah dimiliki oleh para sahabat Rasulullah, generasi terbaik
umat ini, yang semua itu mereka capai dengan taufik dari Allah Taala, kemudian
karena ketekunan dan semangat mereka dalam menjalankan ibadah dan ketaatan
kepada Allah Taala. Sebagaimana dalam firman-Nya,
{

}
Tetapi Allah menjadikan kamu sekalian (wahai para sahabat) cinta kepada
keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu
benci kepada kekafiran, kefasikan dan perbuatan maksiat. Mereka itulah orangorang yang mengikuti jalan yang lurus (QS al-Hujuraat:7).
Juga yang disebutkan dalam hadits shahih: Memang demikian (keadaan) iman
ketika kemanisan/kelezatan iman itu telah masuk dan menyatu ke dalam hati
manusia (para sahabat radhiyallahu anhum)
2.5 Ikhlas Atas Kehendak Allah
Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu
bersih tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan
agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak
menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal.
Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam
beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Jadi segala apa yang kita
lakukan itu semata-mata hanya mengharap ridho Allah SWT. Memurnikan niatnya
dari kotoran yang merusak.
Dan apabila seseorang menghendaki sesuatu yang lain dengan ibadahnya ia
ingin mendekatkan diri kepada selain Allah S.W.T. dalam ibadah ini dan untuk
mendapatkan pujian makhluk (riya, pent.). Maka ini menggugurkan amal ibadah
dan ia termasuk syirik. Di dalam Shahih dari hadits Abu Hurairah t, sesungguhnya
Nabi S.A.W. bersabda, Allah S.W.T. berfirman (hadits qudsi):

10

))
Artinya :

,
((

'Aku adalah orang yang paling tidak membutuhkan sekutu, barangsiapa


yang melakukan suatu amal ibadah yang ia menyekutukan selain-ku
bersama-Ku, niscaya Aku meninggalkannya dan sekutunya.
Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengetahui hal-hal apa
sajakah yang dapat membantu kita agar dapat mengikhlaskan seluruh amal
perbuatan kita kepada Allah semata, dan di antara hal-hal tersebut adalah :
a.
Banyak Berdoa
b.
Menyembunyikan Amal Kebaikan
c.
Memandang Rendah Amal Kebaikan
d.
Takut Akan Tidak Diterimanya Amal
e.
Menyadari Bahwa Manusia Bukanlah Pemilik Surga dan Neraka
Dalam melakukan dan mengakhlaki seseorang terkadang seorang masih
bingung apakah perbuatan yang dilakukannya dengan tulus ataukan berniat untuk
minta jasa, riya, ingin mendapatkan sesuatu, atau untuk dikenal (populer).
Hal tersebutlah yang menjadi pertanyaan besar bagi seorang muslim,
bagaimanakah bisa seorang muslim berusa baik dan tulus kepada seseorang yang
lain tetapi dengan tujuan imbal jasa atau minta jasa, inikah muslim yang
sebenarnya?. Oleh sebab itu hendaklah seorang itu mengetahui kata ikhlas dan
maknanya yang sesunguhnya agar seorang muslim tidak terjerumus oleh kata
ikhlas tapi minta jasa.
Ikhlas adalah salah satu hal yang bisa menyebabkan suatu amalan ibadah
kita diterima Allah Ta'ala. Adapun makna Ikhlasa dalam Islam adalah memurnikan
ibadah atau amal shalih hanya untuk Allah dengan mengharap pahala dari Nya
semata. Jadi dalam beramal kita hanya mengharap balasan dari Allah, tidak dari
manusia atau makhluk-makhluk yang lain.
Seorang ulama muslim, Imam Ibnul Qayyim menjelaskan arti ikhlas yaitu
mengesakan Allah di dalam tujuan atau keinginan ketika melakukan ketaatan,
beliau juga menjelaskan bahwa makna ikhlas adalah memurnikan amalan dari
segala yang mengotorinya. Inilah bentuk pengamalan dari firman Allah dalam

11

surat Al-Fatihah ayat 5 yang artinya: "Hanya kepadaMu kami menyembah dan
hanya kepadaMu kami memohon pertolongan."
Waspadalah atas segala apa yang kita perbuat, apakah perbuatan kita
hanya mengejar duniawi saja ataukah ingin terkenal olehnya, berhati-hatilah
dalam bertintak sesuatu karena tatkala kita berniat salah apalagi berniat buruk itu
akan mengurangi keikhlasan dalam diri kita, Allah tidak akan menerima amal
tersebut dan hanya menjadikannya seperti debu yang berterbangan sebagaimana
firman Allah yang tercantum dalam QS Al-Furqan: 23 yang artinya: "Dan kami
perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan lalu kami jadikan amal itu seperti
debu yang berterbangan.
Memiliki rasa ikhlas yang sesungguhnya memanglah tidak mudah, akan
tetapi kita harus belajar dan mempraktekkan keikhlasan itu sendiri.
2.5.1 Cedera Ikhlas
Sering kali manusia tergoda oleh keindahan duniawi, seperti harta, tahta,
wanita/pria. Ketiga hal inilah yang terkadang menyebabkan terkurangnya
keikhlasan dalam diri seseorang, olehkarenya ada beberapa hal yang
merusak keikhlasan seseorang yaitu :
1. Riya
Pengertian riya adalah seseorang menampakan amalnya dengan
tujuan orang lain melihatnya dan memujinya. Dan hal inilah yang termasuk
pembatal ikhlas dalam islam. Sehingga kita harus berhati-hati terhadap
ikhlas dan menanyakan pada diri kita sendiri bahwa kita sudah ikhlas. Dan
ini adalah termasuk perbuatan syirik dan dikategorikan srikrik kecik Sirkul
Asghor,
2. Ujub
Ujub adalah seseorang berbangga diri dengan amal-amalnya. Para
ulama menerangkan bahwa ujub merupakan sebab terhapusnya pahala
seseorang, karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan
bahwa ujub sebagai hal-hal yang membinasakan. Beliau bersabda yang
artinya: "Hal-hal yang membinasakan ada tiga yaitu: berbangganya

12

seseorang dengan dirinya, kikir yang dituruti, dan hawa nafsu yang
diikuti"(HR. Al-Bazzar)
3. Sumah
Sumah adalah seseorang beramal dengan tujuan agar orang lain
mendengar amalnya tersebut lalu memujinya. Maka bahaya sumah sama
dengan bahaya riya dan pelakunya terancam tidak akan mendapatkan
balasan dari Allah, bahkan Allah akan membuka semua keburukannya di
hadapan manusia. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda
yang artinya : "Barangsiapa yang memperdengarkan amalannya maka Allah
akan memperdengarkan kejelekan niatnya dan barang siapa yang beramal
karena riya maka Allah akan membuka niatnya di hadapan manusia"(HR.
Bukhari dan Muslim).

13

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kewajiban manusia sebagai ciptaan kepada penciptanya yaitu Allah SWT
salahsatunya adalah dengan mengakhlakinya, akhlaq terhadap Allah SWT harus
senantiasa kita lakukan dan mengaplikasikannya, mengakhlaki Allah tidaklah
seperti berakhlak kepada sesama manusia yang senantiasa saling memberi dan
menerima. Untuk mewujudkan akhlaq yang sebenar-benarnya alangkah baiknya
kita harus mengakhlaki sesama manusia dengan sebenar-benarnya, yaitu
melakukan runutinas didunia dengan tidak bertujuan menikmati keindahan
duniawi semata, dalam membantu sesama haruslah diliputi dengan rasa ikhlas dan
tulus bukan semata-mata ingin minta jasa.
Seorang muslim itu harus berahlak baik kepada Allah SWT. Karena kita
sebagai manusia yang di ciptakan oleh Allah dan untuk menyembah kepada Allah,
sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya dan tidaklah Kami (Allah) ciptakan
jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.
Dari uraian-uraian diatas dapat dipahami bahwa akhlak terhadap Allah SWT,
manusia seharusnya selalu mengabdikan diri hanya kepada-Nya semata dengan
penuh keikhlasan dan bersyukur kepada-Nya, sehingga ibadah yang dilakukan
ditujukan untuk memperoleh keridhaan-Nya.
Adapun macam-macam akhlak kepada Allah SWT adalah,Taqwa kepada Allah
SWT, cinta kepada Allah SWT, ikhlas kepada Allah SWT serta Khauf dan raja
terhadap Allah SWT

14

3.2 Saran
Demi perbaikan mutu pembuatan makalah dikemudian hari maka kami
sebagai penulis berharap berbagai kritik serta saran dari seluruh pembaca yang
bersifat membangun dan bisa memotivasi supaya mengetahui cara berakhlak
kepada Allah dengan cara bertaqwa dan menerapkan sifat iklas dalam kehidupan
sehari-hari.

15

DAFTAR PUSTAKA
Kementrian Agama Republik Indonesia, Al-quran dan Terjemahannya, Jakarta:
Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur;An, 1983
Ilyas,Yunahar, Dr.H,Lc,MA, Kuliah Akhlak, Yogyakarta: Lembaga Pengkajian
dan Pengamalan Islam. 2007
http://hisbulah.blogspot.com/2011/03/akhlak-seorang-muslim-kepada-allahswt.html
rs. H. Ambo Asse, M.Ag. 2003. Al-Akhlak al-Karimah Dar al-Hikmah wa alUlum. Makassar: Berkah Utami.
http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/self-publishing/2097837-khauf-danraja/

16