Anda di halaman 1dari 6

KONSUMSI PERIKANAN DI INDONESIA

Reski Apriandy, Paraswatih


Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Sains dan
Teknologi, UIN Alauddin Makassar
Email: faraswati21@gmail.com

ABSTRAK
Indonesia memiliki potensi ikan yang diperkirakan terdapat sebanyak 6,26
juta ton per tahun yang dapat dikelola secara lestari dengan rincian sebanyak 4,4
juta ton dapat ditangkap di perairan Indonesia. Potensi tersebut menempatkan
Indonesia sebagai negara yang dikaruniai sumber daya kelautan yang besar
termasuk kekayaan keanekaragaman hayati dan non hayati kelautan terbesar.
Namun dalam hal konsumsi ikan, Indonesia masih rendah jika dibandingkan
dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Rendahnya konsumsi
ikan di dalam negeri karena kurangnya informasi mengenai pentingnya konsumsi
ikan.
Kata Kunci : konsumsi perikanan di indonesia

A. PENDAHULUAN
Kesadaran masyarakat akan pentingnya makanan sehat semakin
terlihat seiring dengan peningkatan konsumsi ikan (white meat) dibanding
konsumsi daging (red meat) di Indonesia. Keadaan terbukti dengan
perkembangan peningkatan konsumsi ikan dari tahun 2013-2014.
Konsumsi ikan di perkotaan lebih rendah dibandingkan di perdesaan, baik
dilihat dari konsumsi kalori maupun protein per kapita per hari.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan peningkatan
produksi ikan tangkap maupun budidaya sebesar 353 persen hingga 2014
dari rata-rata produksi sekitar delapan juta per tahun. Produksi ikan
tersebut masih kurang untuk memenuhi kebutuhan konsumsi ikan
nasional yang masih sekitar 31 kg per kapita per tahun. Konsumsi ikan
rata-rata nasional juga ditargetkan naik menjadi 38 kg per kapita per tahun
hingga 2014 (Martani, 2010)
Selama tahun 2012-2013 rata-rata konsumsi kalori yang berasal dari
ikan mengalami penurunan baik di daerah perkotaan maupun di daerah
perdesaan. Begitu pula dengan rata-rata konsumsi protein yang berasal
dari ikan, baik di daerah perkotaan maupun perdesaan juga mengalami
penurunan. Rata-rata konsumsi kalori dari ikan oleh penduduk perkotaan
pada tahun 2013 mengalami penurunan sebesar 6,41 persen, sedangkan
untuk perdesaan mengalami penurunan sebesar 1,42 persen. Sementara
untuk konsumsi protein dari ikan oleh penduduk perkotaan dan perdesaan
secara berurutan turun sebesar 5,39 persen dan 1,85 persen.
Tingkat konsumsi ikan di Indonesia masih rendah jika dibandingkan
dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Rendahnya

konsumsi ikan di dalam negeri karena kurangnya informasi mengenai


pentingnya konsumsi ikan. Untuk
B. HASIL DAN PEMAHASAN
1. Gambaran Umum Pesisir Indonesia
Secara geografis Indonesia mem-bentang dari 60 LU sampai 110 LS
dan 920 sampai 1420 BT, terdiri dari pulau-pulau besar dan kecil yang
jumlahnya kurang lebih 17.504 pulau. Tiga per-empat wilayahnya adalah
laut (5,9 juta km2), dengan panjang garis pantai 95.161 km, terpanjang
kedua setelah Kanada.
Melalui Deklarasi Djuanda, 13 Desember 1957, Indonesia menyatakan kepada dunia bahwa laut Indonesia (laut sekitar, di antara, dan di
dalam kepulauan Indonesia) menjadi satu kesatuan wilayah NKRI. Dan
Indonesia sebagai negara kepulauan, telah diakui dunia internasional
melalui konvensi hukum laut PBB ke tiga, United Nation Convention on
the Law of the Sea 1982 (UNCLOS 1982), kemudian diratifikasi oleh
Indonesia dengan Undang-Undang No.17 Tahun 1985. Berdasar-kan
UNCLOS 1982, total luas wilayah laut Indonesia menjadi 5,9 juta km2,
terdiri atas 3,2 juta km2 perairan terito-rial dan 2,7 km2 perairan Zona
Ekonomi Eksklusif, luas perairan ini belum termasuk landas kontinen
(continental shelf). Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara
kepulauan terbesar di dunia (the biggest Archipelago in the World).
Pasal 25A UUD 1945 (hasil amandemen kedua UUD 1945),
menyebutkan bahwa NKRI adalah negara kepulauan yang berciri nusantara dengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan
Undang-undang. Ini semakin mengu-kuhkan eksistensi Indonesia
sebagai negara maritim. Apalagi dengan lahir-nya UU N0.27 Tahun 2007
tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, lebih jelas
mengakui eksistensi sektor kelautan dan peri-kanan serta pengelolaan
wilayah pesi-sir dan pulau-pulau kecil sebagai salah satu agenda
pembangunan nasional. Namun faktanya, pembangunan bidang kelautan
dan perikanan hingga saat belum dimanfaatkan secara optimal, padahal
tersimpan potensi SDA dan jasa-jasa lingkungan yang sangat besar.
Sehingga untuk menjadikan sektor kelautan dan perikanan sebagai arus
utama pembangunan nasional dibutuhkan kebijakan pembangunan yang
terpadu dan berbasiskan ekosistem.
Wilayah pesisir dan lautan Indonesia terkenal dengan kekayaan dan
keanekaragaman sumberdaya alamnya, baik sumberdaya yang dapat
pulih (seperti perikanan, hutan mangrove, dan terumbu karang) maupun
sumberdaya yang tidak dapat pulih (seperti minyak dan gas bumi serta
mineral atau bahan tambang lainnya). Indonesia dikenal sebagai negara
dengan kekayaan keanaekaragaman hayati (biodiversity) laut terbesar
didunia, karena memiliki ekosistem pesisir seperti hutan mangrove,
terumbu karang, dan padang lamun (sea grass) yang sangat luas dan
beragam. Potensi lestari sumberdaya perikanan laut sebesar 6,7 juta ton
per tahun dan yang telah dimanfaatkan 48 %. Namun demikian

dibeberapa kawasan terutama Indonesia barat telah mengalami tangkap


lebih (over fishing) (Dahuri, et al., 1996).
2. Konsumsi Perikanan

Ikan mengandung gizi tinggi, merupakan sumber protein hewani yang


baik dan renda kolesterol sehingga membuat ikan sebagai bahan
makanan yang sehat dan aman untuk mencegah penyakit arteriosklerosis
karena ikan mengandung asam lemak tak jenuh omega-3 dan taurin
dalam jumlah tinggi. Dewasa ini di negara maju maupun beberapa negara
berkembang, kesadaran untuk mengonsumsi ikan semakin meningkat dan
pola makan serta gaya hidup mereka beralih terutama untuk protein
intake, dari semula bersumber dari hasil peternakan sekarang beralih
pada hasil perikanan. Laju permintaan akan hasil perikanan semakin
bertambah sementara suplai hasil perikanan mengalami penurunan. Oleh
karena itu pemanfaatan hasil perikanan secara efisien dan terpadu sangat
diperlukan. (Tri Winarni Agustini, 2003).
Tingkat konsumsi ikan di Indonesia masih rendah jika dibandingkan
dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Rendahnya
konsumsi ikan di dalam negeri karena kurangnya informasi mengenai
pentingnya konsumsi ikan. Untuk meningkatkan konsumsi ikan nasional,
pemerintah melalui KKP melakukan beberapa upaya, antara lain
membentuk tim nasional untuk melaksanakan program percepatan
peningkatan konsumsi ikan dan membuka pasar di dalam negeri yang
mempunyai potensi yang sangat besar. Untuk meningkatkan produksi
perikanan nasional, dilakukan program restocking atau penebaran ikan.
Penebaran benih ini juga diperlukan untuk menjaga ketersediaan stok
ikan, pelestarian sumber daya ikan di perairan umum, dan untuk
meningkatkan keanekaragaman jenis ikan. Selain itu, peningkatan stok
diperlukan agar dapat menjaga populasi ikan di danau, sehingga
masyarakat yang tinggal di sekitar danau akan bisa selalu menangkap
ikan.
3. Potensi Konsumsi Perikanan

Lebih dari 80% potensi laut Indonesia belum dieksplorasi dan dikelola
dengan baik. Potensi perikanan laut di Indonesia sendiri tersebar pada
hampir semua bagian perairan laut Indonesia belum tergali secara
maksimal. Luas perairan laut Indonesia diperkirakan mencapai 5,8 juta
km2 yang terdiri dari 0,8 juta km laut territorial, 2,3 juta km laut
nusantara, dan 2,7 juta km Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Dengan
garis pantai terpanjang di dunia sebesar 81.000 km dan gugusan pulaupulau sebanyak 17.508, Indonesia memiliki potensi ikan yang diperkirakan
terdapat sebanyak 6,26 juta ton per tahun yang dapat dikelola secara
lestari dengan rincian sebanyak 4,4 juta ton dapat ditangkap di perairan
Indonesia (Adi, 2012).
Potensi tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara yang
dikaruniai sumber daya kelautan yang besar termasuk kekayaan

keanekaragaman hayati dan non hayati kelautan terbesar. Di samping itu


terdapat potensi pengembangan untuk:
1. perikanan tangkap di perairan umum seluas 54 juta hektar dengan
potensi produksi 0,9 juta ton/tahun,
2. budidaya laut terdiri dari budidaya ikan (antara lain kakap, kerapu, dan
gobia), budidaya moluska (kekerangan, mutiara, dan teripang), dan
budidaya rumput laut,
3. budidaya air payau (tambak) yang potensi lahan pengembangannya
mencapai sekitar 913.000 ha,
4. budidaya air tawar terdiri dari perairan umum (danau, waduk, sungai,
dan rawa), kolam air tawar, dan mina padi di sawah, serta
5. bioteknologi kelautan untuk pengembangan industri bioteknologi
kelautan seperti industri bahan baku untuk makanan, industri bahan
pakan alami, benih ikan dan udang serta industri bahan pangan
(Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten, 2014).
Keadaan tersebut seharusnya meletakan sektor perikanan menjadi
salah satu sektor riil yang potensial di Indonesia. Potensi ekonomi sumber
daya pada sektor perikanan diperkirakan mencapai US$ 82 miliar per
tahun. Potensi tersebut meliputi: potensi perikanan tangkap sebesar US$
15,1 miliar per tahun, potensi budidaya laut sebesar US$ 46,7 miliar per
tahun, potensi peraian umum sebesar US$ 1,1 miliar per tahun, potensi
budidaya tambak sebesar US$ 10 miliar per tahun, potensi budidaya air
tawar sebesar US$ 5,2 miliar per tahun, dan potensi bioteknologi kelautan
sebesar US$ 4 miliar per tahun. Selain itu, potensi lainnya pun dapat
dikelola, seperti sumber daya yang tidak terbaharukan, sehingga dapat
memberikan kontribusi yang nyata bagi pembangunan Indonesia (Sarfin,
2012).
Namun pemanfaatan potensi perikanan laut Indonesia belum dapat
memberi kekuatan dan peran yang kuat terhadap pertumbuhan
perekonomian dan peningkatan pendapatan masyarakat nelayan
Indonesia. Minimnya pengembangan potensi kekayaan laut nusantara itu
membuat Indonesia kalah bersaing dibandingkan negeri jiran seperti
Malaysia, Thailand, bahkan Vietnam. Karena itulah konsep industri
perikanan terpadu merupakan salah satu solusi terhadap arahan
pengembangan kawasan pesisir di Indonesia (Adi, 2012).

4. Perubahan Konsumsi Ikan Tahun 2009-2013

Tingkat konsumsi ikan dan ketersediaan ikan untuk dikonsumsi


keduanya meningkat. Berdasarkan data dari Kementrian Kelautan dan
Perikanan 2014, penyediaan konsumsi ikan dari tahun 2009-2013 selalu
meningkat setiap tahunnya. Hal ini bisa diartikan bahwa tingkat konsumsi
ikan masih terpenuhi dengan ketersediaan ikan yang ada. Ketersediaan

dan konsumsi ikan setiap tahun meningkat sekitar 8-10 persen


pertahunnya.
Rata-rata konsumsi kalori dan protein yang berasal dari ikan oleh
penduduk Indonesia selama 2013-2014 mengalami peningkatan. Ratarata konsumsi kalori meningkat sebesar 3,59 persen, begitupula rata-rata
konsumsi protein juga meningkat sebesar 3,44 persen.
Selama tahun 2012-2013 rata-rata konsumsi kalori yang berasal dari
ikan mengalami penurunan baik di daerah perkotaan maupun di daerah
perdesaan. Begitu pula dengan rata-rata konsumsi protein yang berasal
dari ikan, baik di daerah perkotaan maupun perdesaan juga mengalami
penurunan. Rata-rata konsumsi kalori dari ikan oleh penduduk perkotaan
pada tahun 2013 mengalami penurunan sebesar 6,41 persen, sedangkan
untuk perdesaan mengalami penurunan sebesar 1,42 persen. Sementara
untuk konsumsi protein dari ikan oleh penduduk perkotaan dan perdesaan
secara berurutan turun sebesar 5,39 persen dan 1,85 persen.
Provinsi Maluku Utara merupakan provinsi yang memiliki rata-rata
konsumsi kalori dan protein perkapita per hari dari ikan tertinggi,
sedangkan Provinsi DI Yogyakarta merupakan provinsi yang memiliki ratarata konsumsi kalori dan protein per kapita per hari dari ikan terendah
dibandingkan provinsi lain di tahun 2013. Konsumsi kalori perkapita
perhari dari ikan di Provinsi DI Yogyakarta sebesar 16,68 KKal atau hanya
16,41 persen dari konsumsi kalori perkapita perhari di Provinsi Maluku
Utara. Sedangkan konsumsi protein yang berasal dari ikan perkapita
perhari di Provinsi DI Yogyakarta sebesar 2,56 gram atau hanya 15,36
persen dari konsumsi protein perkapita perhari di Provinsi Maluku Utara.

Gambar 1. Penyediaan Konsumsi Ikan dan Tingkat Konsumsi Ikan, 20092013

Daftar Pustaka
Tri Winarni Agustini, & Fronthea Swastawati, 2003. Pemanfaatan Hasil
Perikanan Sebagai Produk Bernilai Tambah (Value-Added)
Dalam Upaya Penganekaragaman Pangan. Jurnal Teknol. Dan
Industri Pangan, 14 (1), 74-81.
Martani. 2010. Banten Kurang Optimal Manfaatkan Potensi Perikanan.
Gambaran Umum Perikanan, 209.
(https://rizandamind.wordpress.com/2009/04/27/gambaranumum-perikanan/), diakses 30 Maret 2016.