Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kekerasan dengan menggunakan senjata api meningkat dalam
dekade

terakhir

ini.

Dalam

konteks

kesehatan

masyarakat,

diperkirakan terdapat lebih dari 500.000 luka pertahunnya yang


merupakan

luka

akibat

senjata

api.

Menurut

laporan

dari

Organisasi Kesehatan Dunia pada tahun 2001, jumlah tersebut


mewakili seperempat dari total perkiraan 2,3 juta kematian akibat
kekerasan. Dari jumlah 500.000 tersebut 42%nya merupaka kasus
bunuh diri, 38% merupakan kasus pembunuhan, 26% merupakan
perang dan konflik persenjataan. 1 , 2
Luka tembak merupakan penyebab kematian akibat pembunuhan
di Amerika Serikat dan pada banyak yuridiksi, paling sering
dipakai untuk bunuh diri. Di perkirakan bahwa tiap tahun di
Amerika Serikat terdapat 70.000 korban luka tembak dengan
30.000 kematian. Pemeriksaan terhadap luka ini memerlukan
latihan khusus dan spesialis, baik olehdokter gawat darurat
terhadap korban luka tembak hidup atau ahli patologi forensik
pada korban yang meninggal.3
Laporan dari negara lain seperti Inggris dan Wales pada tahun
2001 angka kejadian luka tembak adalah 0,4/100 ribu (bunuh diri
65%, homicide 7%, dan kecelakaan 28%), dan angka kejadian di
Kanada pada tahun 2002 adalah 2,6 per 100.000 (bunh diri 80%,
homicide 15%, dan kecelakaan 5%). 4
Sedangkan di Indonesia, menurut laporan hak asasi manusia
triwulan ke dua tahun 1998 yang dikkeluarkan oleh ELSAM
(Lembga Studi dan Avokasi Masyarakat) pada triwulan ke II
tercatat ada 102 warga negara yang menjadi korban kekerasan
akibat senjata api. Untuk menjelaskan tugas dan fungsi sebagai pemeriksa,
maka dokter harus menjalankan berbagai hal, diantaranya: apakah luka
tersebut memang luka tembak, yang mana luka tembak masuk dan mana luka
tembak keluar, jenis senjata yang dipakai, jarak tembak, arah tembakan,
perkiraan posisi korban sewaktu di tembak, berapa kali korban di tembak dan
1

luka tembak mana yang menyebabkan kematian. Interpretasi yang benar


mengenai luka tembak mengenai ahli patologi tidak hanya memberikan
informasi berharga yang dapat menunjang pelaksanaan hukum selama
investigasi, tetapi juga penting untuk penentuan akhir jenis kematian. 6 Biaya
medis, legal, dan emosional akibat kejahatan tersebut menjadi suatu kerja
berat bagi rumah sakit, sistem peradilan, keluarga, dan masyarakat pada
umumnya.
Evaluasi mengenai luka tersebut memerlukan latihan khusus dan keahlian
baik oleh seorang dokter yang menangani kegawatdaruratan bagian luka
tembak maupun para ahli patologi dan forensik.7

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Luka tembak adalah luka yang disebabkan oleh penetrasi anak peluru
kedalam

tubuh

yang

diproyeksikan

lewat

senjata

api

atau

persentuhan peluru dengan tubuh. Yang termasuk dalam luka


tembak adalah luka tembak masuk maupun luka tembak keluar.
Luka tembak masuk terjadi apabila anak peluru memasuki suatu
objek dan tidak keluar lagi, sedangkan pada luka tembak keluar, anak
peluru menembus objek secara keseluruhan. Umumnya luka tembak
ditandai dengan luka masuk yang kecil dan luka keluar yang lebih
2

besar. Luka ini biasanya juga disertai dengan kerusakan pada pembuluh
darah, tulang, dan jaringan sekitar.Luka tembak terjadi karena energi
dari peluru saat menembus tubuh. Semakin besar energi yang
dihasilkan peluru, semakin parah luka yang dapat terjadi. Energi akan
meningkat seiring besar, berat dan kecepatan pelurunya. Secara
umum, peluru berukuran besar yang ditembakkan dari senapaan
menyebabkan luka yang lebih besar dibandingkan dengan peluru berukuran
kecil yang ditembakkan dari pistol.8
B. Jenis Senjata Api 8,9
Senjata api adalah suatu senjata yang menggunakan tenaga hasil
peledakan mesiu, dapatmelontarkan proyektil (anak peluru) yang
berkecepatan tinggi melalui larasnya. Berikut adalah jenis-jenis
senjata api:
1. Berdasarkan panjang larasnya:
a. Laras pendek
- Revolver: mempunyai metal drum (tempat penyimpanan 6 peluru)
yang berputar (revolve) setiap kali trigger ditarik dan menempatkan
peluru baru pada posisi siap untuk ditembakkan. Revolver terdapat
dua jenis, single action dan double action. Pada tipe single action
pelatuk harus dikokang setiap kali akan menembak. Sedangkan pada
double action revolver penekanan picu secara berulang untuk
langsung memutar silinder, mensejajarkan laras dan tempat eluru,
-

mengokang dan selanjutnya melepaskan pelatuk untuk menembak.


Pistol : peluru disimpan dalam sebuah silinder yang diputar dengan
manarik picunya. Pistol otomatis dan semi otomatis, peluru disimpan
dalam sebuah magasin, putaran pertama harus dimasukkan secara
manual ke dalam ruang ledaknya.

Gambar 1. Senjata api laras pendek

b. Laras panjang
Senjata ini berkekuatan tinggi dengan daya tembak sampai 3000m,
mempergunakan peluru yang lebih panjang. Senjata laras panjang
dibagi menjadi dua yaitu:
- Senapan tabur. Senapan tabur dirancang untuk dapat memuntahkan butirbutir tabur ganda lewat larasnya, sedangkan senapan dirancang untuk
memuntahka peluru tunggal lewat larasnya, moncong senapan halus dan
tidak terdapat rifling.
- Senapan untuk menyerang. Senapan ini mengisi pelurunya sendiri, mampu
melakukan tembakan otomatissepenuhnya, mempunyai kapasitas magasin

yang besar dan dilengkapi ruang ledak untuk peluru senapan dengan
kekuatan sedang (peluru dengan kekuatan sedang antara peluru senapan
standard an peluru pistol)

Gambar 2. Laras panjang


C. Identifikasi Luka Tembak6
Berdasarkan ciri-ciri yang khas pada setiap tembakan yang
dilepaskan dari berbagai jarak, maka perkiraan jarak tembak dapat
diketahui, dengan demikian dapat dibuat klasifikasinya.

Gambar 3. Gambaran luka tembak

Klasifikasi yang dimaksud antara lain :


1. Luka Tembak Masuk1,3
Ciri luka tembak masuk biasanya dalam bentuk yang berentetan
dengan abrasi tepi yang melingkar di sekeliling defek yang dihasilkan
oleh peluru. Abrasi tepi tersebut berupa goresan atau lecet pada kulit
yang disebabkan oleh peluru ketika menekan masuk ke dalam tubuh.
Ketika ujung peluru melakukan penetrasi ke dalam kulit,
maka hal tersebut akan menghasilkan abrasi tepi yang konsentris, yaitu
goresan pada kulit berbentuk cincin dengan ketebalan yang sama, oleh
karena peluru masuk secara tegak lurus terhadap kulit. Ketika ujung
peluru melakukan penetrasi pada kulit dengan membentuk sudut, maka
hal ini akan menghasilkan tepi yang eksentris, yaitu bentuk cincin

yang lebih tebal pada satu area. Area yang tebal dari abrasi tepi yang
eksentris mengindikasikan arah datangnya peluru. Sebagai
tambahan, semakin tebal abrasi tepi, semakin kecil sudut peluru
pada saat mengenai sudut kulit.
Luka tembak masuk yang tidak khas berbentuk ireguler dan
mungkin memiliki sobekan pada tepi luka. Jenis luka masuk seperti ini
biasanya terjadi ketika peluru kehilangan putaran oleh karena
menembak didalam laras senjata. Bahkan dalam perjalanannya dengan
terpilin, peluru bergerak secara terhuyung ketika menabrak kulit
sehingga sering memberikan gambaran bentuk D pada luka. Luka
tembak masuk yang tidak khas dapat disebabkan oleh senjata
yang tidak berfungsi baik atau oleh karena amunisis yang rusak,
tetapi lebih sering dihasilkan dari peluru jenis Ricochets atau peluru
yang mengenai benda lain terlebih dahulu, seperti jendela
yang bergerak otomatis, sebelum mengenai tubuh. Jenis lain dari
luka tembak masuk yang tidak khas terjadi ketika mulut senjata api
mengalami kontak langsung dengan kulit diatas permukaan tulang,
seperti pada tulang tengkorak atau sternum. Ketika senjata
ditembakkan, maka hal ini akan menghentikan gas secara langsung
dari mulut senjata ke dalam luka di sekitar peluru. Gas akan
mengalami penetrasi kedalam jaringan subkutan,
tersebut

meluas

sehingga

menyebabkan

dimana gas

kulit

disekitar

lukatembak masuk menjadi meregang dan robek. Luka robek atau


laserasi menyebar dari bagian tengah dengan memberikan defek
berbentuk stellata atau penampak seperti bintang.
Luka tembak masuk dapat dibedakan menjadi :
a. Luka tembak tempel (contact wounds)
Terjadi bila moncong senjata ditekan pada tubuh korban
dan ditembakkan.Bila tekanan pada tubuh erat disebut hard

contact, sedangkan yang tidak eratdisebut soft contact.


Umumnya luka berbentuk bundar yang dikelilingi kelim lecet

yang sama lebarnya pada setiap bagian.


Jaringan subkutan 5-7,5 cm di sekitar luka tembak masuk
mengalami laserasi.

Di sekeliling luka tampak daerah yang berwarna merah atau


merah coklat, yang menggambarkan bentuk dari moncong

senjata, ini disebut jejas laras.


Rambut dan kulit sekitar luka dapat hangus terbakar.
Saluran luka akan berwarna hitam yang disebabkan oleh

butir-butir mesiu, jelaga dan minyak pelumas.


Tepi luka dapat berwarna merah, oleh karena terbentuknya

COHb.
Bentuk

luka

tembak

tempel

sangat

dipengaruhi

oleh

keadaan/densitas jaringan yang berada dibawahnya, dengan


demikian dapat dibedakan :
1) Luka tembak temple di daerah dahi, mempunyai ciri:
Luka berbentuk bintang
Terdapat jejas laras
2 ) Luka tembak tempel di daerah pelipis, mempunyai ciri:
Luka berbentuk bendar
- Terdapat jejas laras
3 ) Luka tembak temple didaerah perut, mempunyai ciri:
Luka berbentuk bundar
Kemungkinan besar tidak terdapat jejas laras
b. Luka tembak jarak dekat (close range wounds)
Terjadi bila jarak antara moncong senjata dengan tubuh
korban masih dalam jangkauan butir-butir mesiu (luka
tembak jarak dekat) atau jangkauan jelaga dan api (luka tembak

jarak sangat dekat).


Luka berbentuk bundar atau oval tergantung sudut
masuknya peluru, dengan di sekitarnya terdapat bintik-

bintik hitam (kelin tato) dan atau jelaga (kelim jelaga).


Ukuran luka lebih kecil dibanding peluru.
Di sekitar luka dapat ditemukan daerah yang berwarna

merah atau hangus terbakar.


Bila terdapat kelim tato, berarti jarak antar moncong
senjata dengan korbansekitar 60 cm (50-60 cm), yaitu untuk

senjata genggam.
Bila terdapat pula kelim jelaga, jaraknya sekitar 30 cm (25-30

cm)
Bila terdapat juga kelim api, maka jarak antara moncong senjata
dengan korban sekitar 15 cm.
7

c. Luka temba jarak jauh (long range wound)


Terjadi bila jarak antara moncong senjata dengan tubuh korban
diluar jangkauan atau jarak tempuh butir-butir mesiu yang tidak

terbakar atau terbakar sebagian.


Jarak diatas 45 cm
Ukuran luka jauh lebih kecil dibandingkan peluru.
Warna kehitaman atau kelim tattoo tidak ada.
Luka berbentuk bundar atau oval dengan disertai adanya kelim

lecet.
Bila senjata sering dirawat (diberi minyak) maka pada kelim
lecet dapat dilihat pengotoran berwarna hitam berminyak, jadi

ada kelim kesat atau kelim lemak.


2. Luka Tembak Keluar
Jika peluru yang di tembakkan dari senjata api mengenai tubuh korban
dan kekuatannya masih cukup untuk menembus dan keluar pada
bagian tubuh lainnya, maka luka tembak dimana peluru meninggalkan
tubuh ini disebut luka tembak keluar.
Luka tembak keluar mempunyai cirri khusus yang sekaligus sebagai
perbedaan pokok dengan luka tembak masuk. Cirri tersebut adalah
tidak adanya kelim lecet pada luka tembak keluar, dengan tidak adanya
kelim lecet, kelim-kelim lainnya juga tertentu tidak ditemukan.
Disekitar luka tembak keluar mungkin pula dijumpai daerah lecet bila
pada tempat kaluar tersebut terdapat benda yang keras, misalnya ikat
pinggang atau korban sedang bersandar pada dinding.
Luka tembak keluar umumnya lebih besar dari luka tembak masuk
akibat terjadi deformitas anak peluru, bergoyangnya anak peluru dan
terikutnya jaringan tulang yang pecaheluar dari luka tembak keluar.
Pada anak peluru yang menembus tulang pipih, sepertu tulang atap
tengkorak, akan terbentuk corong yang membuka searah dengan
geraka anak peluru. Adapun factor-faktor yang menyebabkan luka
-

tembak keluar lebih besar dari luka tembak masuk yaitu:


Perubahan luas peluru, oleh karena terjadi deformitas sewaktu

peluru berada dalam tubuh dan membentur tulang.


Peluru sewaktu berada dalam tubuh mengalami perubahan gerak,
misalnya karena terbentur bagian tubuh yang keras, peluru bergerak

berputar dari ujung ke ujung (end to end), keadaan ini disebut


-

tumbling
Pergerakan peluru yang lurus menjadi tidak beraturan, disebut

yawning
Peluru pecah menjadi beberapa fragmen. Fragmen-fragmen ini

menyebabkan luka tembak keluar menjadi lebih besar


Bila peluru mengenai tulang dan fragmen tulang tersebut turt
terbawa keluar, maka fragmen tulang tersebut akan membuat
robekan tambahan sehingga akan memperbesar luka tembak
keluarny.
Luka tembak keluar mungkin lebih kecil dari luka tembak masuk bila
terjadi pada luka tembak temple/kontak, atau pada anak peluru yang
telah kehabisan tenaga pada saat keluar meninggalkan tubuh, bentuk
luka tembak keluar tidak khas dan sering tidak beraturan. Pada
beberapa keadaan luka tembak keluar lebih kecil dari luka tembak
masuk, hal ini disebabkan:
-

Kecepatan atau velocity peluru sewaktu akan menembus keluar


berkurang, sehingga kerusakannya (lubang luka tembak keluar)
akan lebih kecil, perlu diketahui bahwa kemampuan peluru untuk
dapat menimbulkan kerusakan berhubungan langsung dengan

akuran peluru dan velocity.


Adanya benda menahan atau menekan kulit pada daerah dimana
peluru akan keluar yang berarti menghambat kecepatan peluru,
luka tembak keluar akan lebih kecil bila dibandingkan dengan luka
tembak masuk

Bentuk dan jumlah luka tembak keluar tidak dapat di prediksi. Luka
tembak keluar sebagian (parsial exit wound) , hal ini dimunginkan
oleh karena tenaga peluru tersebut hampir habis atau ada penghalang
yang menekan pada tempat dimana peluru akan keluar, dengan
demikian luka dapat hanya berbentuk celah dan tidak jarang peluru
tampak menonjol sedikit pada celah tersebut. Jumlah luka tembak
keluar bisa lebih banyak dari pada luka tembak masuk, hal ini
dimungkinkan karena:

1. Peluruh pecah dan masing-masing membuat sendiri luka tembak


keluar
2. Peluru meyebabkan ada tulang yang patah dan tulang tersebut
terdorong keluar pada tempat yang berbeda dengan tempat
keluarnya peluru
3. Dua pelurunya masuk kedalam tubuh melalui satu luka tembak
masuk (tandem bullet injury) dan di dalam tubuh ke dua peluru
tersebut berpisah dan keluar melalui tempat yeng berbeda.
D. Efek luka tembak
Pada saat seseorang melepaskan tembakan dan kebetulan
mengenai sasaranyaitu tubuh korban, maka pada tubuh korban
tersebut

akan

didapatkan

perubahanyang

diakibatkan

oleh

berbagai unsur atau komponen yang keluar dari laras senjata api
tersebut.
Adapun komponen atau unsure-unsur yag keluar pada setiap
penembakan adalah:
- anak peluru
- butir-butir mesiu yang tidak terbakar atau sebagian terbakar
- asap atau jelaga
- api
- partikel logam
Bila senjata yang dipergunakan sering diberi inyak pelumas, maka
minyak yang melekat pada anak peluru dapat terbawa dan melekat
pada luka. Bila penembakan dilakukan dengan posisi moncong
senjata menempel dengan erat pada tubuh korban, maka akan
terdapat jejas laras. Selain itu bila senjata yang dipakai termasuk
senjata yang tidak beralur (smooth bore), maka komponen yang
keluar adalah anak peluru dalam satu kesatuan atau tersebar dalam
bentuk pellet, tutup dari peluru itu sendiri juga dapat menimbulkan
kelainan dalam bentuk luka.
Komponen atau unsur-unsur

yang

keluar

pada

setiap

peristiwa penembakan akan menimbulkan kelainan pada tubuh


korban sebagai berikut:
1) Akibat anak peluru (bullet effect): luka terbuka
Luka terbuka yang terjadi dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu:
Kecepatan
Posisi peluru pada saat masuk ke dalam tubu
Bentuk dan ukuran peluru

10

Densitas jaringan tubuh di mana peluru masuk


Peluru yang mempunyai kecepatan tinggi (high velocity), akan
menimbulkan

luka

yang

relatif

lebih

kecil

bila

dibandingkan dengan peluru yang kecepatannya lebih


rendah (low velocity). Kerusakan jaringan tubuh akan lebih berat
bila peluru mengenai bagian tubuh yang densitasnya lebih besar.
Pada organ tubuh yang berongga seperti jantung dan kandung
kencing, bila terkena tembakan dan kedua organ tersebut sedang
terisi penuh (jantung dalam fase diastole) maka kerusakan yang
terjadi akan lebih hebat bila dibandingkan dengan jantung dalam
fase

sistole

dan

tersebutdisebabkan

kandung
karena

kencing
adanya

yang

kosong;

penyebaran

hal

tekanan

hidrostatik ke seluruh bagian.


2) Akibat butir-butir mesiu (gunpowder effect): tattoo, stipling
a) Butir butir mesiu yang tidak terbakar atau
sebagian terbakar akan masuk ke dalam kulit
b) Daerah di mana butir-butir mesiu tersebut masuk akan
tampak

berbintik-bintik hitam

dan

bercampur

dengan

perdarahan
c) Oleh karena penetrasi butir mesiu tadi cukup dalam,
maka bintik-bintik hitam tersebut tidak dapat dihapus
dengan kain dari luar
d) Jangkauan butir-butir mesiu untuk senjata genggam
berkisar sekitar 60 cm
e) Black powder adalah butir mesiu yang komposisinya terdiri
dari nitrit, tiosianat,tiosulfat, kalium karbonat, kalium sulfat,
kalium sulfida, sedangkan smoke less powder terdiri dari
nitrit dan selulosa nitrat yang dicampur dengan karbon dan
gravid

11

Gambar 4. Powder tattoing


3) Akibat asap (smoke effect): jelaga
a) Oleh karena setiap proses pembakaran itu tidak
sempurna, maka terbentuk asapatau jelaga
b) Jelaga yang berasal dari black powder komposisinya CO2
(50%) nitrogen 35%, CO 10%, hydrogen sulfide 3%,
hydrogen 2%, serta sedikit oksigen dan methane
c) Smoke less powder akan menghasilkan asap yang
jauh lebih sedikit.
4) Akibat api (flame effect): luka bakar
a) Terbakarnya butir-butir mesiu akan menghasilkan api serta
gas panas yang akanmengakibatkan kulit akan tampak hangus
terbakar (scorching, charring)
b) Jika tembakan terjadi pada daerah yang berambut, maka
rambut akan terbakar.
c) Jarak tempuh api serta gas panas untuk senjata genggam
sekitar 15 cm, sedangkan untuk senjata yang kalibernya lebih
kecil, jaraknya sekitar 7,5 cm
5) Akibat partikel logam (metal effect): fouling
a) Oleh karena diameter peluru lebih besar dari diameter laras,
maka sewaktu peluru bergulir pada laras yang beralur akan
terjadi terjadi pelepasan partikel logamsebagai akibat
pergesekan tersebut
b) Partikel atau fragmen logam tersebut akan menimbulkan luka
lecet atau luka terbuka dangkal yang kecil-kecil pada tubuh
korban

12

c) Partikel tersebut dapat masuk ke dalam kulit atau tertahan


pada pakaian korban
6) Akibat moncong senjata (muzzle effect): jejas laras
a) Jejas laras dapat terjadi pada luka tembak tempel,
baik luka tembak tempelyang erat (hard contact) maupun
yang hanya sebagian menempel (soft contact)
b) Jejas laras dapat terjadi bila moncong senjata ditempelkan
pada bagian tubuh,dimana di bawahnya ada bagian yang
keras (tulang)
c) Jejas laras terjadi oleh karena adanya tenaga yang terpantul
oleh tulang dan mengangkat kulit sehingga terjadi benturan
yang cukup kuat antara kulit dan oncong senjata. Hal ini
jarang terjadi.
d) Jejas laras dapat pula terjadi jika si penembak memukulkan
moncong senjatanya dengan cukup keras pada tubuh korban,
akan tetapi
e) Pada hard contact, jejas laras tampak jelas mengelilingi
lubang luka, sedangkan pada soft contact, jejas laras
sebetulnya

luka

lecet

tekan

tersebut

akan

tampak sebagian sebagai garis lengkung


f) Bila pada hard contact tidak akan dijumpai kelim jelaga
atau kelim tato, oleh karena tertutup rapat oleh laras
senjata, maka pada soft contact jelaga dan butir mesiu ada
yang keluar melalui celah antara moncong senjata dan kulit,
sehingga terdapat adanya kelim jelaga dan kelim tato.

E. Cara pengukuran Jarak Tembak dala Visum Et Repertum


Bila pada korban terdapat luka tembak masuk dan tampak
jelas adanya jejaslaras, kelim api, kelim jelaga atau kelim tato, maka
perkiraan penentuan jarak tembak tidak sulit. Kesulitan timbul bila
tidak ada kelim-kelim tersebut selain kelim lecet. 1 Bila terdapat
kelim jelaga, berarti korban ditembak dari jarak dekat, maksimal 30

13

cm,kelim tato berarti korban ditembak dari jarak dekat, maksimal 60 cm


dan seterusnya.Sedangkan kelim api menunjukan bahwa korban
ditembak dari jarak yang sangat dekat sekali, yaitu maksimal 15cm.
F. Cara Pengiriman Barang Bukti
Anak peluru atau selongsong dibungkus dalam kapas,
ditaruh

dalam

kotak dan

dibungkus

lagi

dengan

kertas

pembungkus, diikat dengan tali tanpa sambungan,diberi label


yang berisi catatan tentang peluru dan lain-lain serta disegel.
Kemudian dibuat berita acara pembungkusan dengan penyegelan. Bila
ditemukan anak peluru lebih dari satu, harus dicatat di mana
ditemukan

dan

membungkusnya
G.
1.
2.
3.

dipisahkan
terpisah

satu

pula,

sama

karena

ada

lain

dengan

kemungkinan

penembakan dilakukan oleh lebih dari satu orang.1


Madikolegal
Luka tembak bisa terjadi karena:1,5
Pembunuhan
Bunuh diri
Kecelakaan
Dalam membuat kesimpulan luka, sebaiknya dokter menentukan
derajat keparahanluka yang dialami korban atau disebut juga
derajat kualifikasi luka. Penentuan luka berat harus disesuaikan
dengan ketentuan undang undang yaitu yang diatur dalam KUHP 90

KUHP Pasal 90
Luka berat berarti:
1. Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak member harapan akan
sembuh sama sekali atau yang dapat menimbulkan bahaya maut.
2. Tidak mampu terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau
3.
4.
5.
6.
7.

pekerjaan pencaharian
Kehilangan salah satu panca indera
Mendapat cacat berat
Menderita sakit lumpuh
Terganggu daya piker selama 4 minggu atau lebih
Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan

14

KUHP Pasal 351


1. Penganiayaan dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya dua
tahundelapan bulan atau denda paling banyak empat ribu lima ratus
rupiah.
2. Jika perbuatan itu menjadikan luka berat yang bersalah diancam pidana
penjara paling lama lima tahun.
3. Jika mengakibatkan mati diancam dengan pidana penjara paling lama
tujuh tahun
4. Dengan penganiayaan disamakan sengaja mesrusak kesehatan
Yang dimaksudkan dengan penganiyaan ringan diatur dalam :
KUHP pasal 352 :
1) Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356 maka
penganiyaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan
untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian diancam
sebagai penganiyaaan ringan dengan pidana penjara paling lama 3 bulan
atau pidana denda empat ribu lima ratus rupiah.

Penganiyaan sedang diatur dalam pasal 351 ayat 1 juga pada:


KUHP pasal 353:
1) Penganiayaan yang dilakukan dengan direncanakan terlebih dahuli
dihukum penjara selama-lamanya empat tahun.
Penganiyaan berat terdapat dalam KUHP pasal 351 ayat 2, pasal 354 ayat
satu, pasal355 ayat 1.

15

BAB III
KESIMPULAN
Luka tembak ialah luka yang disebabkan adanya penetrasi anak peluru
atau persentuhan peluru pada tubuh. Terdapat dua jenis luka tembak yaitu luka
tembak masuk dan luka tembak keluar. Luka tembak masuk terbagi pula
berdasarkan jarak tembakan yaitu luka tembak tempel: luka tembak sangat
dekat, luka tembak dekat, dan luka tembak jauh.Luka tembak ini dapat
dibedakan antara lain dengan ciri-ciri khas seperti stellate yang dijumpai
pada luka tembak tempel. Pada luka tembak sangat dekat bisa dijumpai luka bakar
disekitar sasaran akibat dari letusan senjata api, bisa juga dijumpai jelaga, kelim
tatto dan memar cincin pada jaringan. Luka tembak dekat akan m e n i n g g a l k a n
lubang luka, cincin memar dan tatto di sekitar luka masuk.

16

L u k a tembak jauh tidak mempunyai kelim tatto. Pada luka tembak


keluar tidak dijumpai cincin memar. Identifikasi senjata api dapat
dilakukan dengan memeriksa selongsong dan a n a k p e l u r u . P e t u g a s
harus mengirim bahan bukti kepada penyidik dengan cara
membungkus dan memberi segel pada bahan bukti tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
1. Prof. Dr. Amri Amir Sp.F(K)., 2011. Ilmu Kedokteran Forensik
Edisi 2. Ms:91-1032.Prof Dr. Amri Amir Sp.F(K)., 2011. Autopsi
Medikolegal Edisi 2. Ms: 40-2
2. Idries AM. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Jakarta:
Binarupa Aksara; p.131-168.
3. D o n o g h u e E R , K a l e l k a r M B , R i c h m o n d J M , T e a s
SS.

Atypical

gunshot

wounds

o f entrance:an empirical

study. J Forensic Sci1984;29:379388


4. Hueske E. 2006. Firearms and Tool Mark The Forensic Laboratory
Handbooks, Practiceand Resource

17

5. Di Maio, V.J.M. 1999. Gunshot Wounds Practical Aspects of


Firearms, Ballistics, and Forensic Techniques. Second Edition. New
York : CRC Press.
6. Knight, Bernard.

1996.

Forensic

pathology.

Second

Edition.

London;Arnold:231-241

18