Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salah satu hewan yang termasuk hewan tidak bertulang belakang adalah Filum Porifera. Filum
Porifera merupakan hewan bersel banyak (metazoan) paling sederhana atau primitive. Dikatakan
demikian karena kumpulan organ maupun kemampuan geraknya sangat kecil dan akhirnya bersifat
sessile.
Pada awalnya Porifera dianggap sebagai tumbuhan, baru pada tahun 1765 dinyatakan sebagai
hewan setelah ditemukan adanya aliran air yang terjadi di dalam tubuh porifera dari 10.000 spesies
porifera yang sudah diidentifikasi, sebagian hidup di laut dan hanya 159 spesies hidup di air tawar,
semuanya family spongilidae. Umumnya terdapat di perairan jernih dangkal dan menempel di substrat,
sebagian menetap di dasar perairan.
Tubuh porifera masih diorganisasi pada tingkat seluler, artinya terdiri atas sel-sel yang cenderung
bekerja secara mandiri. Porifera dikenal juga sebagai hewan berpori. Dibandingkan dengan protozoa
maka susunan tubuh porifera lebih komplek. Tubuh porifera tidak lagi terdiri atas satu sel melainkan telah
terdiri atas banyak sel. Berdasarkan sejarah embrionalnya dan ciri-ciri khusus dimiliki oleh porifera
beberapa ahli memasukkan porifera ke dalam kelompok parazoa atau hewan sampingan.
1.2 Rumusan Masalah
a. Apakah definisi dari porifera ?
b. Bagaimana klasifikasi dari porifera ?
c. Bagaimana karakteristik dari porifera ?
1.3 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu untuk mengetahui tentang definisi, klasifikasi, serta
karakteristik dari porifera secara lebih mendalam.

BAB II
1

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Porifera


Porifera merupakan salah satu kelas dari invertebrata atau hewan tidak bertulang
belakang. Porifera adalah hewan yang pada permukaan tubuhnya berpori. Pori-pori ditubuhnya
dihubungkan oleh saluran kecil menuju rongga yang dindingnya mempunyai rambut getar. Fungsi
pori sebagai saluran keluar masuknya air yang mengandung bahan makanan ke dalam rongga
tubuh.
Poriferra

merupakan hewan bersel banyak (metazoa) yang paling sederhana atau

primitive, karena sel-sel cenderung bekerja sendiri-sendiri dan belum terorganisi dengan baik
serta belum mempunyai organ atau jaringan sejati, merupakan hewan multiseluler, tapi belum
mempunyai jaringan, organ dan sistem organ. Gerakanya sangat kecil dan hidupnya bersifat
menetap. Biasanya porifera terdapat pada perairan jernih, dangkal dan menempel pada substrat.
Beberapa menetap di dasar perairan berpasir atau berlumpur. Ukuran tubuh porifera
sangat berfariasi, dari sebesar kacang polong sampai setinggi 90 cm dengan lebar 1 meter. Bentuk
spons juga bermacam-macam, beberapa simetri radial, tetapi kebanyakan berbentuk tidak
beraturan dan dengan pola bervariasi, seperti : massif, tegak, merayap (encrusting) atau tumbuh
bercabang.
2.2 Klasifikasi Porifera
Menurut suwarni (2008), berdasarkan jenis spikulanya, sponge terbagi atas 3 klas, yaitu :
1. Klas Calcarea
Sponge ini memiliki tubuh yang disusun oleh spikula kalsium karbonat. Bentuk saluran air beragam
termasuk asconoid, sycanoid dan leuconoid. Spikulanya ada yang lurus tapi ada juga yang terdiri dari 3-4
kaitan (ray). Umumnya calcareous lebih kecil dengan choanocytes yang besar.
Contoh : Leucosolenia, Clathrina, Scypha, Leucandra.

2. Klas Hexactinellida (Hyalospongiae)


Kadang disebut sponge kaca, dengan spikula silika yang berujung (ray) 6, biasanya didapatkan pada
kedalaman yang tinggi. Beberapa diantaranya melekat pada substrat dengan bantuan batang semu (stalk).
Oskulum biasanya besar, ukuran panjang tubuh berkisar dari 7 cm hingga lebih 1 meter. Tipe saluran air
umumnya syconoid dan leuconoid.
Contoh : Euplectella

3. Klas Demospongiae
Klas ini merupakan klas terbesar yang meliputi hampir 95% dari seluruh jenis sponge. Tipe saluran air
umumnya leconoid dan hidup di laut, kecuali hanya 1 famili yang hidup di air tawar yaitu spongilidae.
Spikula tersusun dari unsur silika, tetapi berbeda dengan sponge kaca, klas ini tidak mempunyai 6 ray.
Skeleton dapat pula disusun dari silika dan sponging, atau hanya sponging saja. Rongga kanal internal
berukuran kecil, bulat dan diselimuti oleh sel choanocytes. Bentuk, ukuran dan warna tubuh lebih
bervariasi.
Contoh : Haliclona, Pterosia, Xestospongia.

2.3 Morfologi dan Anatomi Porifera


Porifera memiliki ukuran tubuh sangat bervariasi, ada yang sebesar kacang polong dan ada pula
yang setinggi 90 cm dan lebar 1 m. Bentuk tubuh spons juga bermacam-macam, kebanyakan berbentuk
tidak beraturan dengan pola bervariasi namun ada pula beberapa simetri radial. Bagian tubuh porifera
yang menghubungkan lingkungan luar dan dalam tubuh porifera yang terletak pada bagian distal
dinamakan osculum. Osculum berhubungan dengan spongcoel yang terletak ditengah-tengah tubuh dan
merupakan ruangan yang besar. Tubuh bagian luarnya terdiri atas pori-pori atau ousita. Membuka dan
menutupnya ostis diatur oleh sel porosity yang menghubungkan bagian luar dengan bagian dalam tubuh.
Sel-sel yang melapisi tubuh bagianluar ialah sel epitel berbentuk pipih atau disebut sel-sel leher atau
choanocyt. Ujung sel ini mempunyai flagellum (Hasanuddin, 2011).
Tubuh porifera belum membentuk jaringan dan organ sehingga porifera dikelompokkan dalam
protozoa.Tubuh memiliki banyak pori-pori (ostium) yang merupakan celah masuknya air ke rongga dalam
tubuh yang berukuran lebih lebar yang disebut spongocoel. Dari spongocoel, air kemudian keluar melalui
oskulum, yang terdapat dipermukaan oral (atas) tubuh.
Struktur anatomi porifera :
1.

Lapisan luar tubuh (epidermis) terdiri dari selapis sel yang membentuk celah-celah kecil yang disebut
ostium. Sel yang membentuk dan menggerakkan ostium disebut porosit.

2.

Lapisan dalam (endodermis) terdiri atas sel berbentuk leher yang disebut koanosit. Koanosit memiliki
inti, vakuola dan flagela yang berkaitan dengan fungsi sel ini sebagai alat pencernaan. Pencernaan
terjadi di dalam koanosit, oleh karena itu disebut memiliki pencernaan interseluler.
Antara tubuh bagian luar dan dalam terdapat lapisan tengah (mesoglea/mesenkim) yang terdiri
dari 3 model sel, yaitu amubosit dan skleroblast dan arkeosit. Dinamakan amubosit merujuk kepada
bentuk dan sifat selnya yang menyerupai bentuk dan sifat amuba, yang mudah berubah bentuk.
Skleroblast menghasilkan rangka yang disebut spikula. Spikula umumnya terbuat dari mineral kalsium
karbonat dan silika, sedangkan yang lain terbuat dari bahan organik spongin. Sedangkan arkeosit
berfungsi dalam reproduksi sel secara seksual.

Ostium : pori - pori di permukaan tubuh.


4

Mesoglea : lapisan gelatin di antara epidermis dan sel koanosit.


Pinakosit : sel epitel pipih.
Porosit : pengendali membuka atau menutupnya ostium.
Koanosit (sel leher): untuk mencernaan makanan.
Amoebosit : mengedarkan sari makanan dan sisa metabolisme.
Skleroblas : Membentuk spikula.
Spikula : untuk menghasilkan bahan penyusun rangka.
Spongocoel : rongga bagian tengah tubuh porifera.
Oskulum : muara keluarnya air.
Porifera adalah hewan multiseluler yang memiliki ciri khas yaitu setiap
selnya dapat bergerak dan memiliki kemampuan untuk berubah menjadi tipe sel yang lain. Jaringan pada
tubuh porifera atau sponge saling berhubungan (meshohyl) yang mengelilingi lapisan outer pinacoderm
dan inner choanoderm . Choanoderm tersusun atas sel sel kerah berflagella (choanocyte). Meshohyl
terdiri dari beberapa tipe sel dan unsur sketal dalam bentuk fiber protein dan spikula mineral (Suwarni,
2008). Sel pada porifera terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan pinacoderm (sel kulit) dan lapisan
choanocytes (sel pengumpul makanan dan pemompa air). Diantara keduanya terdapat lapisan gelatin
mesohyl atau mesenchyme yang terdiri atas sclerocytes dan spongocytes (sel yang mensekresi skeleton),
archeocytes yaitu sel yang mampu berubah menjadi bentuk sel lain pada sponge yang sama, dan
collenocytes yaitu sel yang membetuk massa konektif (Fox, 2001).
Menurut Suwarni (2008), struktur tubuh sponge ditompang oleh skeleton keras yang terdiri atas
berbagai jenis spikula. Spikula yaitu unsur keras yang tersusun dari kalsium karbonat, atau silika dan
kolagen. Spikula dan sel-sel sponge semuanya terdapat di dalam matriks jelly berprotein. Tidak semua
sponge mempunyai skeleton, skeleton tersusun dari jelly colloidal yang sederhana. Skeleton disekresi
oleh sel-sel sclerocyte dan spongocyte. Setiap spikula disekresi secara interselular di sekitar fiber
sponging. Unsur sketal dapat digunakan sebagai petunjuk penting dalam penamaan secara morfologi dan
taksonomi. Spikula dikelompokkan berdasarkan ukuran, jumlah axis, dan jumlah ray (pengait).
Berdasarkan ukuran, spikula dibagi menjadi 2 kelompok yaitu:
1. Megasclere, spikula besar dengan ukuran panjang 0,1 > 1,0 mm; dapat bergabung membentuk bagan
yang koheren.
2. Microsceler, spikula kecil berukuran panjang 0,01 0,1 mm; tersebar di seluruh tubuh.
Berdasarkan axis, spikula terdiri dari 3 macam yakni :

1). Monaxon, spikula dengan satu axis,


2). Triaxon, spikula dengan tiga axis,
3). Tetraxon, spikula dengan empat axis.
Berdasarkan jumlah ray, spikula dibagi menjadi 5 kelompok :
1). Monactine, spikula dengan satu ray,
2). Diactine, spikula dengan dua ray,
3). Traictine, spikula dengan tiga ray.
4). Hexactine, spikula dengan enam ray,

5). Polyactine, spikula dengan lebih dari enam ray.

Keterangan : (A) Calcarea; (B) Hexactinellida; (C) Demospongia dengan


berbagai jenis spikula penyusunnya; (1) monaxon; (2, 3, 7)
triaxon; (4, 5) tetraxon; (6) hexactine
Bagian dalam tubuh sponge terdapat sistem kanal atau saluran air. Air yang masuk melalui ostia,
akan melewati sejumlah saluran kanal tersebut sebelum masuk ke dalam rongga atau langsung menuju
atrium. Di dalam rongga dimana terdapat sel choanocytes yang merupakan elemen penting dalam
sirkulasi air. Sel berkerah dengan flagellum yang setiap saat aktif bergerak secara spiral membangkitkan
arus yang menghisap air dari ostia. Partikel makanan akan melengket pada permukaan luar sel dan
kemudian diserap ke dalam sel, selanjutnya air terbawa keluar menuju oskulum. Ada 3 tipe saluran air
sponge yakni tipe asconoid, syconoid dan leconoid gabungan dari permukaan choanoderm dan mesohyl.
Pada tipe asconoid, atriumnya besar dan tidak terpartisi, serta bagian tepi atrium terbagi menjadi sejumlah
rongga kecil dimana area permukaan choanocytes meningkat. Tipe leuconoid, atrium tereduksi menjadi
semacam lorong-lorong mesohyl dengan jaringan kanal air yang kompleks dan banyak rongga berflagella

(Fox, 2001). Contoh tipe saluran asconoid ditampilkan pada genus Leucosolenia, sedangkan tipe syconoid
dicontohkan pada genus scypha.

2.4 Sistem Syaraf Porifera


Tidak semua avertebrata memiliki sistem saraf. Hewan yang tergolong Protozoa dan Porifera
tidak memiliki sistem saraf. Setiap sel penyusun tubuh hewan tersebut mampu mengadakan reaksi
terhadap stimulus yang diterima tidak ada koordinasi antara satu sel dengan sel tubuh lainnya. Hewan
bersel satu seperti Amoeba dan Paramecium meskipun tidak memiliki urat saraf tapi protoplasmanya
dapat melakukan segala kegiatan sebagai makhluk hidup seperti iritabilitas, bergerak dan menyesuaikan
diri terhadap lingkungannya.
Kelompok Porifera ini belum mempunyai sistem saraf, tetapi apabila mendapatkan rangsang yang
berupa sentuhan, terutama pada daerah oskulum, maka rangsang tersebut akan diteruskan dari sel ke sel
secara lambat. Tetapi untuk sistem pencernaannya masih sangat sederhana dan berlangsung secara
intrasel, gerakannya seperti pada aliran air, air yang membawa makanan biasanya berupa plankton dan
oksigen yang terlarut. Makanan tersebut ditangkap oleh sel leher kemudian dicerna dalam vakuola dan
sari-sarinya akan diangkut oleh sel-sel amoebosit dan diedarkan ke seluruh tubuh, sedangkan sisa
makanannya dikeluarkan melalui sel leher ke dalam air melalui spongosol.
Porifera mempunyai ciri khusus berupa tubuh yang berpori-pori mikroskopis. Dalam fase
hidupnya, porifera mengalami 2 bentuk kehidupan, yaitu hidup berenang bebas (polip) dan hidup menetap
(sesil). Bentuk polip terjadi pada fase larva, sedangkan bentuk sesil terjadi pada fase dewasa. porifera
belum memiliki organ pencernaan, sistem saraf, dan sistem peredaran darah.
2.5 Sistem Pencernaan Makanan pada Porifera
Pencernaan makananan pada porifera adalah intraseluler, intraseluler merupakan pencernaan
makanan yang terjadi di tingkat sel / didalam sel. Proses tersebut diawali dari masuknya air melalui pori
pori tubuh porifera (ostium), selanjutnya air akan masuk kedalam tubuh bersamaan dengan plankton dan
bakteri yang menjadi sumber makanannya. Melalui mikrofili yang terdapat pada sel koanosit lapisan
endodermis porifera, plankton dan bakteri akan tersaring. Sel amoeboid memiliki tugas untuk
7

mengedarkan hasil tangkapan tersebut keseluruh tubuh porifera. Air air yang masuk bersamaan dengan
makanan akan kembali dibuang melalui lubang yang berada di pusat tubuhnya yaitu oskulum.

2.6 Sistem Ekskresi Porifera


Porifera adalah hewan multiseluler atau metazoa yang paling sederhana.Karena hewan ini
memiliki ciri yaitu tubuhnya berpori seperti busa atau spons.
system ekskresi Pada porifera, pengeluaran sisa metabolisma berlangsung secara difusi, dari sel tubuh
ke epidermis lalu dari epidermis ke lingkungan hidupnya yang berair.
Porifera mempunyai sistem saluran air yang berfungsi untuk memasukkan dan mengeluarkan air yang
mengandung zat makanan, oksigen, dan sisa metabolisme.
Menurut Saluran airnya Porifera dibedakan menjadi 3 tipe:
Acson, Sicon dan Leucon ( Rhagon )
A) Ascon
merupakan tipe saluran air paling sederhana. air masuk melalui ostium menuju ke spongocoel dan
kemudian keluar melalui oskulum.
B) Sicon
merupakan tipe saluran air yang terdiri dari dua saluran yaiu inkruen dan radial. air masuk melalui
ostium menuju ke saluran radial. Melalui porosity air dari saluran inkruen menuju ke saluran radial, baru
masuk ke spongocoel dan keluar melalui oskulum
C) Leucon (Rhagon)
merupakan tipe saluran air yang paling kompleks. air masuk melalui ostium menuju rongga-rongga
bulat yang saling berhubungan dan dibatasi oleh koanosit, kemudian menuju ke spongocoel dan keluar
melalui oskulum.

Keterangan.
oskulum
mesoglea
porosit
spongosol
ameboid
epidermis
spikula
flagel
koanosit

: tempat keluarnya air yang berasal dari spongosol


: lapisan pembatas antara lapisan dalam dan lapisan luar
: saluran penghubung antara pori-pori dan spongosol. tempat masuknya air.
: rongga di bagian dalam tubuh porifera
: sel yang berfungsi mengedarkan makanan.
: lapisan terluar
: pembentuk/penyusun tubuh
: alat gerak koanosit
: sel pelapis spongosol seta berfungsi sebagai pencerna makanan.
di bagian ujungnya terdapat flagel dan di pangkalnya terdapat vakuola.

2.7 Sistem Reproduksi Porifera


Porifera berkembang biak secara seksual maupun aseksual. Reproduksi seksual terjadi dengan cara
pembentukan tunas (budding) atau pembentukan sekelompok sel esensial terutama amoebocyte,
kemudian dilepaskan. Sepon air tawar dan air laut membentuk gemuk, yaitu tunas internal. Gemuk
terbentuk dari sekumpulan amoebocyte berisi cadangan makanan dikelilingi amoebocyte yang
membentuk lapisan luar yang keras dan acapkali terdapat spikula sehingga membentuk dinding yang
resisten.
Porifera mempunyai kemampuan melakukan regenerasi yang tinggi. Bagian tubuh sepon yang
terpotong atau rusak akan mengalami regenerasi yang utuh kembali. Kemampuan melakukan regenerasi
ada batasnya, misalnya potongan sepon leuconoid harus lebih besar dari 0,4 mm dan mempunyai
beberapa sel choanocyte supaya mampu melakukan regenerasi menjadi sepon baru yang kecil.
Reproduksi aseksual terjadi baik pada sepon yang hermaproduktif, namun sel telur dan sperma
diproduksi pada waktu yang berbeda sperma dan telur dihasilkan oleh amoebyte osculum bersama aliran
air dan masuk ke individu lain melalui ostium juga bersama aliran air. Dalam spongocoel atau feagelated
chamber, sperma akan masuk ke choanocyte atau amoebocyte. Sel amoebocyte berfungsi sebagai
pembawa sperma menuju sel telur, terjadilah pembuahan (fertilisasi), perkembangan embrio sampai
menjadi larva berflagella masih di dalam mesohyl. Larva berflagella disebut juga larva amphiblastula.
Keluar dari mesohyl dan bersama aliran air keluar dari tubuh induk melalui osculum. Larva amphiblastula
berenang bebas beberapa saat kemudian menempel pada substrat dan berkembang menjadi sepon muda
yang sessile dan akhirnya tumbuh menjadi besar dan dewasa.
2.8 Nilai Ekonomis Porifera
Beberapa jenis sepon air laut seperti sepon jari berwarna orange axinella conabina diperdagangkan untuk
menghias aquarium air laut, adakalanya di di ekspor ke Singapura dan Eropa. Jenis sepon dari Famili
Clionidae mampu mengebor dan menembus batu karang dan cangkang moluska, sehingga
membantu pelapukan pecahan batu karang dan cangkang moluska yang berserakan di tepi pantai. Ada
pula sepon yang tumbuh pada kerang-kerangan tertentu dan mengganggu peternakan tiram.
- Selain itu porefera yang dijadikan obat kontrasepsi (KB)
- Sebagai campuran bahan industri (kosmetik)
- Mempunyai nilai estetika yang tinggi
- Manfaat bagi sumber daya perairan sebagai tempat perlindungan dan sebagai makanan hewan lain.
9

BAB III
PENUTUP
2.9 Kesimpulan
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :
Kata Porifera berasal dari bahasa Latin, porus yang berarti lubang kecil atau pori dan
ferre yang berarti mempunyai. Jadi, Porifera dapat diartikan hewan yang memiliki pori

pada struktur tubuhnya.


Porifera merupakan salah satu kelas dari invertebrata atau hewan tidak bertulang

belakang. Porifera adalah hewan yang pada permukaan tubuhnya berpori.


Phylum Porifera dibagi menjadi empat classis, yaitu: (1) classis Calcarea, (2) classis

Demospongiae, (3) classis Hexactinellida, dan (4) Sclerospongiae.


Porifera memiliki ukuran tubuh sangat bervariasi, ada yang sebesar kacang polong dan
ada pula yang setinggi 90 cm dan lebar 1 m. Bentuk tubuh spons juga bermacam-macam,
kebanyakan berbentuk tidak beraturan dengan pola bervariasi namun ada pula beberapa

simetri radial.
Porifera adalah hewan multiseluler yang memiliki ciri khas yaitu setiap selnya dapat

bergerak dan memiliki kemampuan untuk berubah menjadi tipe sel yang lain.
Kelompok Porifera ini belum mempunyai sistem saraf, tetapi apabila mendapatkan
rangsang yang berupa sentuhan, terutama pada daerah oskulum, maka rangsang tersebut

akan diteruskan dari sel ke sel secara lambat.


Pencernaan makananan pada porifera adalah intraseluler, intraseluler merupakan

pencernaan makanan yang terjadi di tingkat sel / didalam sel.


Porifera adalah hewan multiseluler atau metazoa yang paling sederhana.Karena hewan ini
memiliki ciri yaitu tubuhnya berpori seperti busa atau spons.

3.2 Saran
Semoga dengan dibuatnya makalah ini bisa menambah wawasan dan pengetahuan pembaca dalam
pengetahuan tentang protozoa.

DAFTAR PUSTAKA

10

Amylin, Mabrur. 2013. Porifera. http://makalahporifera.blogspot.com/2013/04/porifera.html.


Diakses pada tanggal 13 September 2014, pukul 20.48 WIB
Effendi , Irsal. 2013. Sistem Pencernaan Pada Porifera .
http://pakirsalbiologi.blogspot.com/2013/02/sistem-pencernaan-makanan-padaporifera.html. Diakses pada tanggal 14 September 2014, pukul 09.34 WIB.
Google, image. 2014. Gambar Porifera. Diakses pada tanggal 14 September 09.14 WIB.
Suwarni.2008. Optimalisasi Proses Belajar Mengajar Mata Kuliah Avertebrata Air yang
Berbasis SCL. Fakultas Perikanan, Universitas Hasanuddin. Makasar. Hal 2-9.

11