Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH

PRAKTIKUM FARMASI KLINIS & RUMAH SAKIT

OSTEOPOROSIS

Disusun Oleh:
Kelompok B1/ Sub Kelompok 2
Jewelry Natalia Raya

(1620313320)

Jimmy Triputra

(1620313321)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. Defenisi
Osteoporosis adalah gangguan tulang yang ditandai oleh kepadatan
tulang yang rendah, bentuk tulang terganggu, dan risiko kekuatan tulang
menuju fraktur. (Dipiro IX 2014)
Osteoporosis didefinisikan sebagai gangguan tulang yang ditandai
dengan kekuatan tulang yang meningkatkan risiko patah tulang pada sesorang.
Kekuatan tulang mencerminkan integrasi kepadatan tulang dan kualitas tulang.
Kepadatan tulang (g/cm2 atau g/cm3) ditentukan oleh puncak massa tulang dan
jumlah kehilangan tulang. Kualitas tulang mengacu pada arsitektur (bentuk),
omset, akumulasi kerusakan dan mineralisasi. (Malaysian Osteporosis Society
2012)

B. Etiologi
Osteoporosis postmenopausal terjadi karena kekurangan estrogen
(hormon utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan
kalsium ke dalam tulang pada wanita. Biasanya gejala timbul pada wanita
yang berusia diantara 51-75 tahun, tetapi bisa mulai muncul lebih cepat
ataupun lebih lambat. Tidak semua wanita memiliki risiko yang sama untuk
menderita osteoporosis postmenopausal, wanita kulit putih dan daerah timur
lebih mudah menderita penyakit ini daripada wanita kulit hitam.
Kurang dari 5% penderita osteoporosis juga mengalami osteoporosis
sekunder, yang disebabkan oleh keadaan medis lainnya atau oleh obat-obatan.
Penyakit ini bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal
(terutama tiroid, paratiroid dan adrenal) dan obat-obatan (misalnya
kortikosteroid, barbiturat, anti-kejang dan hormon tiroid yang berlebihan).
Pemakaian alkohol yang berlebihan dan merokok bisa memperburuk keadaan
ini.

C. Patofisiologi
(Clinicians Guide to Prevention and Treatment of Osteoporosis, 2014)
Massa tulang pada orang dewasa sama dengan massa tulang puncak pada
usia 18-25 dikurangi jumlah tulang yang hilang. Puncak massa tulang ditentukan
terutama oleh faktor genetik, dengan kontribusi dari gizi, status endokrin, aktivitas
fisik dan kesehatan selama pertumbuhan.
Proses remodeling tulang yang mempertahankan kerangka yang sehat
dapat dianggap sebagai program pemeliharaan preventif, penghapusan tulang
yang lebih tua dan menggantinya dengan tulang baru. Kehilangan tulang terjadi
ketika keseimbangan ini diubah, sehingga penghapusan tulang lebih besar
daripada pembentukan. Ketidakseimbangan terjadi saat menopause dan usia
lanjut. Dengan terjadinya menopause, tingkat remodeling tulang meningkat,
memperbesar dampak dari ketidakseimbangan remodeling. Hilangnya jaringan
tulang menyebabkan kelainan arsitektur tulang dan peningkatan risiko patah
tulang.
Gambar 1 menunjukkan perubahan dalam tulang cancellous sebagai
konsekuensi dari kehilangan tulang. Tulang plate trabecular hilang, meninggalkan
struktur tulang yang lemah dengan massa berkurang secara signifikan. Semakin
banyak bukti menunjukkan bahwa renovasi tulang yang cepat (yang diukur
dengan penanda biokimia dari resorpsi tulang dan pembentukan) meningkatkan
kerapuhan tulang dan risiko patah tulang.

Gambar 1. Mikrograf antara tulang osteoporosis (Kanan) dan tulang normal (kiri)

Kehilangan tulang menyebabkan peningkatan risiko fraktur. Gambar 2


menunjukkan faktor yang terkait dengan peningkatan risiko patah tulang karena

osteoporosis. Ini termasuk faktor umum yang berhubungan dengan penuaan dan
defisiensi seks steroid, serta faktor risiko tertentu, seperti penggunaan
glukokortikoid, yang menyebabkan penurunan pembentukan tulang, penurunan
kualitas tulang dan gangguan integritas microarchitectural. Fraktur terjadi ketika
proses pelemahan tulang terlalu cepat, biasanya saat jatuh atau kegiatan tertentu.

(Dipiro IX, 2014)


Kehilangan tulang terjadi ketika penyerapan melebihi formasi, biasanya dari
pergantian tulang tinggi ketika jumlah dan / atau kedalaman situs resorpsi
tulang jauh melampaui kemampuan osteoblas untuk membentuk tulang baru.
Kepadatan tulang mineral (BMD) berkurang dan integritas struktural tulang
terganggu karena peningkatan tulang dewasa yang belum memadai
mineralisasi.
Pria dan wanita mulai kehilangan awal massa tulang pada dekade ketiga atau
keempat karena pembentukan tulang berkurang. Defisiensi estrogen selama
menopause meningkatkan aktifitas osteoklas, meningkatkan resorpsi tulang
lebih dari pembentukan. Pria tidak menjalani masa percepatan penyerapan
tulang yang mirip dengan menopause. penyebab sekunder dan penuaan adalah
faktor yang berkontribusi paling umum untuk osteoporosis laki-laki.

Berkaitan dengan usia hasil osteoporosis dari hormon, kalsium, dan vitamin D
kekurangan yang mengarah ke pergantian tulang dipercepat dan pembentukan
osteoblas berkurang.
Diinduksi obat osteoporosis dapat dihasilkan dari kortikosteroid sistemik,
penggantian hormon tiroid, obat antiepilepsi (misalnya, phenytoin dan
phenobarbital), depot medroxyprogesterone acetate, dan agen lainnya.
Tabel 1. Obat-obatan yang menyebabkan atau berkontribusi pada osteoporosis dan patah
tulang (Clinicians Guide to Prevention and Treatment of Osteoporosis, 2014)

Tabel 2. Faktor risiko (Clinicians Guide to Prevention and Treatment of Osteoporosis, 2014)

Gambar 2. Diambil dari http://www.shef.ac.uk/FRAX


Tabel 3. Klasifikasi osteoporosis berdasar BMD (Clinicians Guide to Prevention and
Treatment of Osteoporosis, 2014)

Tabel 4. Indikasi untuk pemeriksaan BMD (Clinicians Guide to Prevention and Treatment of
Osteoporosis, 2014)

D. Terapi
Tujuan utama dari perawatan osteoporosis adalah pencegahan.
Mengoptimalkan puncak massa tulang ketika muda mengurangi risiko
kemungkinan osteoporosis. Setelah osteoporosis berkembang, tujuannya
adalah untuk menstabilkan atau memperbaiki massa tulang dan kekuatan dan
mencegah patah tulang. Tujuan pada pasien dengan fraktur osteoporosis
termasuk mengurangi rasa sakit dan cacat, meningkatkan fungsi, mengurangi
jatuh dan patah tulang, dan meningkatkan kualitas hidup. (Dipiro 9, 2014)

Terapi non farmakologi


Semua individu diet seimbang dengan asupan kalsium dan vitamin D yang

cukup.
Tabel 5. Kalsium dan vitamin D yang direkomendasikan (Dipiro IX, 2014)

Tabel 6. Estimasi asupan diet kalsium harian (Clinicians Guide to Prevention and Treatment
of Osteoporosis, 2014)

Terapi Farmakologi (Malaysian Osteporosis Society 2012)

OBAT YANG DIGUNAKAN SAAT INI


No.

Nama obat

Indikasi

Asetaminofen

Menghilangkan nyeri

1.

Dosis

Rute
pemberian

Interaksi

oral

ringan sampai sedang;

pengobatan demam.

Penggunaan berlabel

(s): Nyeri dan


profilaksis demam
setelah vaksinasi.
2.

Ramipril

Antihipertensi

10 mg
(po 2.d.d

oral

selama 2
tahun)

NSAIDs:

bioavailabilitas

Ramipril

mungkin akan

menurun.

Pisahkan kali

pemberian

dengan 1 - 2 jam.
OBAT YANG DIGUNAKAN SAAT INI
No.

Nama obat

Indikasi

Dosis

3.

Tiotropium

terapi pemeliharaan

18 mcg
(1.d.d.

obstruksi paru kronik


termasuk bronchitis
dan emfisema kronik

Rute
pemberian
Inhalasi

selama 9
bulan)

Interaksi

Antikolinergik

digunakan

bersamaan dalam

waktu lama, tidak

dan dispnea yang

direkomendasikan o

menyertainya.

k
4.

Advair

Pengobatan teratur
penyakit penyumbatan

250/50
1 puff

inhalasi

Alpha / BetaBlockers:

(Fluticasone

jalan nafas yang

(2.d.d.

Mengurangi efek

250 mcg /

bersifat reversibel

selama 9

salmeterol 50

termasuk asma,

bulan)

terapi dari
Beta2-Agonis.

mcg)

bronkitis, emfisema &

Risiko D:
Pertimbangkan

PPOK

modifikasi terapi
OBAT YANG DIGUNAKAN SAAT INI
No.

Nama obat

Indikasi

Dosis

5.

Albuterol MDI

Pencegahan dan

2 puffs

pengobatan
bronkospasme

Rute

Interaksi

Beta-Blockers:

(tiap 6 jam

bronchospasms

PRN)

berat dapat

reversibel terkait

diproduksi pada

dengan asma dan

pasien asma

penyakit paru

mengambil

obstruktif lainnya.

albuterol.

pemberian
inhalasi

d
6.

Synthroid

Penggantian atau

(levotyroxin

terapi tambahan pada

Sodium, USP)

hipotiroidisme ;
penekanan TSH

100 mcg
(po.1.d.d.

oral

selama 20
tahun)

Antikoagulan,

oral : Dapat

meningkatkan

efek antikoagulan

i
OBAT YANG DIGUNAKAN SAAT INI
No.

Nama obat

Indikasi

Dosis

Rute
pemberian

Interaksi

(pada kanker tiroid,

nodul , gondok dan

pembesaran pada

tiroiditis kronis )
7.

Atenolol

Antihipertensi

p
50 mg
(po 1.d.d.

oral

selama 10
tahun)

NSAID:

Beberapa agen

dapat

mengganggu efek

antihipertensi.
8.

Aspirin

Pengobatan nyeri
ringan sampai sedang;
demam;berbagai
Kondisi inflamasi;

81 mg
(po 1.d.d.

oral

selama 12
tahun)

NSAIDs,

alkalinizers

kemih, dan

kortikosteroid:

menurunkan

kadar aspirin.
OBAT YANG DIGUNAKAN SAAT INI
No.

Nama obat

Indikasi

Dosis

Rute
pemberian

Interaksi

Pengurangan risiko
kematian atau MI
pada pasien dengan
infark sebelumnya
9.

Omeprazole

Pengobatan jangka
pendek ulkus
duodenum aktif,
penyakit

20 mg
(po 1.d.d.
selama 1
tahun)

oral

gastroesophageal

reflux (GERD),

termasuk esofagitis

erosif dan gejala

GERD

A
P

(
OBAT YANG DIGUNAKAN SAAT INI
No.

Nama obat

Indikasi

Dosis

10.

Lipitor

Pelengkap diet untuk

10 mg
(po 1.d.d.

(Kalsium
Atorvastatin)

menurunkan
kolesterol total

Rute
pemberian

Interaksi

oral

selama 3

bulan)

m
11.

Os-Cal 500

Osteoporosis

po t.i.d.

(Kalsitrol)

postmenopouse.
Osteodistrofi ginjal
pada pasien dialisis.

oral

Kortikosteroid

selama 3

(sistemik):

bulan

mengurangi efek

terapi Calcitriol.

Hipoparatiroidisme
dan rikets.

Tabel 7. Medikasi yang digunakan untuk mencegah dan terapi osteoporosis (Dipiro IX,
2014)

BAB II
STUDI KASUS
Ny. BJ berusia 75 tahun dengan riwayat hipertensi, hiperlipidemia, COPD,
hipotiroid dan osteoporosis. Ia datang ke klinik untuk kontrol hipertensi dan
osteoporosisnya. Pada saat kontrol sebelumnya ia mendapatkan suplemen
kalsium, dan mengeluh sembelit dan kembung setelah menkonsumsi suplemen
tersebut.
Riwayat penyakit :
Hipertensi, pertama didiagnosa usia 50 tahun.
Infark miokardial 12 tahun yll.
Hiperlipidemia

selama

13

tahun,

pasien

memodifikasi

diet

dan

menggunakan kolestiramin selama beberapa tahun terakhir.


Hipotiroidisme selama 27 tahun, diterapi dengan levothyroxine.
Osteoporosis didiagnose dengan scan DXA 2 tahun yll.
COPD didiagnosis beberapa tahun yang lalu. Ada riwayat eksaserbasi
hingga membutuhkan prednison, terjadi eksaserbasi terakhir 6 bulan yll. Saat
ini stabil dengan inhaler kombinasi.
Kanker payudara dengan masektomi pada payudara kiri dan terapi radiasi
pada usia 40 tahun.
Menopaus pada usia 39.
Carotid endarterectomy kanan 2 tahun yang lalu.
GERD.
Riwayat keluarga :
Ada riwayat penyakit jantung koroner dari keluarga pihak ayah. Ayah
meninggal pada usia 60 tahun karena masalah jantung. Ada riwayat stroke dan
vascular disorders dari keluarga pihak ibu. Ibu mengalami menopause pada usia
40 tahun.

Riwayat sosial:
Janda, G2P3, merokok 2,5 pak per hari, berhenti merokok setelah mengalami
infark miokardial, tidak minum alkohol.
Review of System:
Sakit kepala ringan dan baru saja mengalami nyeri punggung, diterapi dengan
asetaminofen.
Vagina kering. Tinggi badannya turun 5 cm sejak ia berusia 35 tahun. Ia tidak
mengalami nafas pendek atau nyeri dada.
Riwayat pengobatan:
Ramipril 10 mg po 2.d.d selama 2 tahun
Tiotropium 18 mcg inhalasi 1.d.d. selama 9 bulan
Advair 250/50 1 puff 2.d.d. selama 9 bulan
Albuterol MDI 2 puffs tiap 6 jam PRN
Synthroid 100 mcg po 1.d.d. selama 20 tahun
Atenolol 50 mg po 1.d.d. selama 10 tahun
Aspirin 81 mg po 1.d.d. selama 12 tahun
Omeprazole 20 mg po 1.d.d. selama 1 tahun
Lipitor 10 mg po 1.d.d. selama 3 bulan
Os-Cal 500 po t.i.d. selama 3 bulan
Tidak ada riwayat alergi
Pengujian fisik:
Tanda vital: Tekanan darah 150/94, Pulse 64, Respiratory Rate 17, suhu 37C; BB
53,5 kg, tinggi 158 cm.
Uji laboratorium:
Na 141 mEq/L (135-145 mEq/L)

TSH 3.492 mIU/L (0,5-4,7 mIU/L)

K 4.2 mEq/L (3,5-5 mEq/L)

AST 32 IU/L (5-35 IU/L)

Cl 104 mEq/L (95-105 mEq/L)

ALT 27 IU/L (5-35 IU/L)

CO 25 mEq/L

SCr 1.0 mg/dL

BUN 17 mg/dL (15-40 mg/dL)

Glu 98 mg/dL (<100 mg/dL)

Profil lipid puasa sekarang :

Profil lipid 3 bulan yll :

T. chol 177 mg/dL (<200 mg/dL)

T. chol 250 mg/dL

Trig 215 mg/dL (35-135 mg/dL)

Trig 265 mg/dL

HDL 32 mg/dL (30-70 mg/dL)

HDL 30 mg/dL

LDL 102 mg/dL (<130 mg/dL)

LDL 167 mg/dL


AST 20 IU/L
ALT 17 IU/L

Lainnya :
DXA scan lumbar spine L24 saat ini (T score: 3,2);
Panggul kanan (T score: 3,1)
X-ray pada tulang belakang saat ini menunjukkan adanya fraktur baru di L3.

Penyelesaian Kasus:

FORM DATA BASE PASIEN


UNTUK ANALISIS PENGGUNAAN OBAT
IDENTITAS PASIEN
Nama

: Ny. BJ

No Rek Medik

: -

Umur

: 75 th

Dokter yg merawat

: -

Alamat

: -

Ras

: -

Pekerjaan

: -

Sosial

: -

Riwayat masuk RS
Beberapa kali masuk rumah sakit untuk kasus penyakit yang berbeda
Riwayat penyakit
1. Hipertensi infark miokardial
2. Hiperlipidemia
3. Hipotiroidisme
4. Osteoporosis
5. COPD
6. Kanker payudara
7. Menopause
8. Carotid endarterectomy
9. GERD.

Riwayat Sosial
Kegiatan

Pola makan/diet
-

Vegetarian

Merokok

Ya / tidak

Ya / tidak ... pak/hari

Meminum Alkohol

Ya / tidak

Meminum Obat herbal Ya / tidak

Riwayat Alergi :
Keluhan / Tanda Umum

Tanggal

Subyektif

Obyektif

Mengeluh

Tanda vital:

sembelit dan

TD = 150/94 mmHg (N = , Pulse 64,

kembung

Respiratory Rate 17, suhu 37C; BB

setelah

53,5 kg, tinggi 158 cm.

mengkonsum

Uji laboratorium :

si suplemen

Na 141 mEq/L

TSH3.492mIU/L

kalsium

K 4.2 mEq/L

AST 32 IU/L

Sakit kepala ringan

Cl 104 mEq/L

ALT 27 IU/L

dan baru saja

CO 25 mEq/L

SCr 1.0 mg/dL

mengalami nyeri

BUN 17 mg/dL

Glu 98 mg/Dl

punggung, diterapi
Tx: Suplemen kalsium

dengan
asetaminofen.

DXA scan lumbar spine L24 saat ini (T

Vagina kering. Tinggi score: 3,2);


badannya turun 5

Panggul kanan (T score: 3,1)

cm sejak ia berusia
35 tahun. Ia tidak
mengalami nafas

X-ray pada tulang belakang saat ini


menunjukkan adanya fraktur baru di L3.

pendek atau nyeri


dada.
RIWAYAT PENYAKIT DAN PENGOBATAN
No.
1.

NAMA PENYAKIT
Hipertensi

TANGGAL/TAHUN
diagnosa usia 50 tahun

NAMA OBAT

Ramipril dan
Atenolol

2.

Infark miokardial

12 tahun yang lalu

3.

Hiperlipidemia

selama 13 tahun

Memodifikasi diet
dan menggunakan
kolestiramin selama
beberapa tahun
terakhir.

4.

Hipotiroidisme

selama 27 tahun

Diterapi dengan
levothyroxine.

5.

Osteoporosis

didiagnose dengan scan


DXA 2 tahun yang lalu

6.

COPD

Di diagnosis beberapa
tahun yang lalu

Prednison, Saat ini


stabil dengan inhaler
kombinasi.

TANGGAL/TAHUN

NAMA OBAT

No.

NAMA PENYAKIT

Aspirin

Os-Cal 500

7.

Kanker payudara

Usia 40 tahun

Masektomi pada
payudara kiri dan
terapi radiasi

8.

Menopaus

usia 39 tahun

9.

Carotid

2 tahun yang lalu

endarterectomykanan
10.

GERD.

Omeprazole

ASSESSMENT
Problem
Medik
Osteoporosis

Terapi

Analisis

DRP

Os-Cal 500

Nilai T score sudah

Obat kurang

didiagnose dengan

menunjukkan

tepat

scan DXA 2 tahun

<-2.5, sehingga

yll.

pemberian obat lini

Subyektif, Obyektif
Osteoporosis

Tinggi badannya

pertama golongan

turun 5 cm sejak

Bifosfonat

ia berusia 35 tahun

direkomendasikan

Pasien mengalami
konstipasi dan
kembung

DXA scan lumbar


spine L24 saat ini
(T score: 3,2);
Panggul kanan (T
score: 3,1)

X-ray pada tulang


belakang saat ini
menunjukkan adanya
fraktur baru di L3.
Hipertensi

150/94 mmHg

Ramipril
Atenolol

Termasuk

hipertensi
Compelling
Indication
(postmyocardial
infarction &
recurrent stroke
prevention)

Nyeri Kepala

Sakit kepala ringan

Paracetamol

Nyeri punggung

dan baru saja

dikarenakan

mengalami nyeri

penyakit

punggung

oseoporosis dan
sakit kepala ringan
tidak perlu
diberikan
paracetamol

Rencana terapi

Untuk osteoporosis pasien pada tahap Osteoporosis atau risiko fraktur tinggi
diberikan terapi dilihat dari algoritma terapi pasien diberikan :
- Kalcium 1.200 mg/hari p.o, a.c
- Vitamin D tetap gunakan Os-Cal 500 p.o, a.c, b.i.d
- Alendronate 70 mg /minggu p.o, a.c

Untuk hipertensinya, tetap diberikan Ramipril dan Atenolol

Untuk Nyeri kepalanya, tetap diberikan Asetaminofen s.o.s

Saran ke dokter

Menyarankan ke dokter untuk menurunkan dosis obat Synthroid karena


terkait efek penurunan kepadatan tulang untuk penggunaan jangka panjang,
mengingat kadar tiroid dari pasien sudah normal. Dosis yang semula 100 mcg

diturunkan menjadi 75 mcg dengan tetap memantau nilai TSH.(jika lanjut).


Untuk terapi PPOK tetap disarankan hanya menggunakan albuterol untuk
pasien.

Pengatasan GERD menggunakan omeprazole dapat memperburuk keadaaan

osteoporosis pasien atau sehingga menyarankan ke dokter dengan mengganti


dengan golongan H2 bloker seperti Ranitidine 150 mg p.o 2x1

KIE

Perlu

diberitahukan

kepada

pasien

untuk

cara

penggunaan

obat

Bisphosphonate yaitu setiap dikonsumsi pasien harus dalam posisi tegak


(duduk atau berdiri) selama minimal 30 menit pada 2 jam sebelum makan dan

minum bersama air putih


Menginformasikan ke pasien bahwa suplemen kalsium menimbulkan sembelit
dan kembung, menyarankan ke pasien untuk rajin minum air putih dan makan

makanan yang berserat seperti buah-buahan


Menambah olah raga ringan, diet yang seimbang , berjemur pada pagi hari
karena konsumsi vitamin D (mengubah provitamin D menjadi vitamin D)

Monitoring
Evaluasi BMD dalam 1-2 tahun
Monitoring RR, TD, dan kolesterol pasien.
Monitoring kadar TSH pasien
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Pedoman Interpretasi Data Klinik. Kemenkes RI


Anonim. 2012. Clinical Guidance on Management of Osteoporosis. Malaysian
Osteoporosis Society.
Anonim. 2014. Clinicians Guide to Prevention and Treatment of Osteoporosis.
National Osteoporosis Foundation
Dipiro et al (2014). Pharmoceterapy a Phatofisiology Aproach 9th editon,
McGraw Hill Companies, Manufactured in the United States of America.
Drug Information Handbook 17th Edition. 2009. Apha: Amerika.
JNC 7
Panday K, Gona A, Humphrey M,B,. 2014. Medication-induced osteoporosis:
screening and treatment stategies. Ther Adv Musculoskel Dis. Vol 6(5). 185202