Anda di halaman 1dari 21

Kombinasi Bisnis dan Konsolidasi

1. Investasi pada Entitas Lain (Aset Keuangan, Entitas Asosiasi, Ventura Bersama,

dan Entitas Anak)


Investasi Aset Keuangan
Investasi pada Aset riil adalah investasi pada aset yang memiliki wujud. Contohnya

aset riil ini adalah properti (tanah & rumah), emas, dan logam mulia lainnya. Berinvestasi
pada aset riil merupakan hal yang umum dilakukan. Contohnya, kita membeli properti dan
kemudian menyewakannya sehingga mendapatkan pendapatan bulanan. Ketika properti itu
selesai disewa umumnya harganya akan naik, Kita dapat menjualnya dan mendapatkan
keuntungan. Kita umumnya akan mendapatkan banyak keuntungan dari berinvestasi di aset
riil ini, karena meskipun harganya bisa naik-turun, tetapi dalam jangka panjang nilainya
cenderung meningkat. Investasi pada Aset Finansial merupakan aset yang wujudnya tidak
terlihat, tetapi tetap memiliki nilai yang tinggi. Umumnya aset finansial ini terdapat di
dunia perbankan dan juga di pasar modal, yang di Indonesia dikenal dengan Bursa Efek
Indonesia. Beberapa contoh dari aset finansial adalah instrumen pasar uang, obligasi,
saham, dan reksa dana.
Investasi pada aset riil sifatnya lebih ke arah jangka panjang, salah satunya karena
sifatnya yang tidak likuid contohnya properti. Maksudnya likuid disini adalah instrumen
investasi yang dapat segera diubah menjadi uang kas (cash) misalnya untuk memenuhi
kewajiban. Tentunya dibutuhkan waktu agar sebuah properti bisa terjual. Sedangkan aset
finansial sifatnya jauh lebih likuid, dalam artian relatif cepat dicairkan dananya. Jadi lebih
cocok digunakan untuk jangka pendek / untuk berjaga-jaga. Misalkan memiliki deposito
dan kita sedang membutuhkan uang maka deposito tersebut dapat kita cairkan segera
meskipun ada penalty yang harus dibayar. Begitu pula dengan saham, tabungan, reksadana
dan aset finansial lainnya.
Investasi pada Entitas Asosiasi
Investasi pada Entitas Asosiasi Berdasarkan PSAK 15 pengertian dari entitas
asosiasi ialah suatu entitas, termasuk entitas nonkorporasi seperti persekutuan, dimana
investor mempunyai pengaruh signifikan dan bukan merupakan entitas anak ataupun

bagian partisipasi dalam ventura bersama. Investasi adalah penanaman modal untuk satu
atau lebih aktiva yang dimiliki dan biasanya berjangka waktu lama dengan harapan
mendapatkan keuntungan di masa-masa yang akan datang. Pengaruh signifikan adalah
kekuasaan untuk berpartisipasi dalam keputusan kebijakan keuangan dan operasional suatu
aktivitas ekonomi, tetapi tidak mengendalikan atau mengendalikan bersama atas kebijakan
tersebut.
Metode Ekuitas pada Entitas Asosiasi :
Metode ekuitas adalah metode akuntansi dimana investasi pada awalnya diakui
sebesar biaya perolehan kemudian ditambah atau dikurangi untuk mengakui laba atau rugi
investee setelah tanggal perolehan. Penerapan Metode Ekuitas Investasi dalam entitas
asosiasi dicatat dengan menggunakan metode ekuitas, kecuali ketika: investasi
diklasikasikan sebagai dimiliki untuk dijual sesuai dengan PSAK 58: Aset Tidak Lancar
yang Dimiliki untuk Dijual dan Operasi Dihentikan; pengecualian dalam paragraf 10
PSAK 4, yang mengijinkan entitas induk yang juga memiliki investasi dalam entitas
asosiasi untuk tidak menyajikan laporan keuangan konsolidasian memenuhi semua
persyaratan berikut ini:
a) investor adalah entitas anak yang dimiliki seluruhnya. Instrumen utang dan instrumen
ekuitas investor tidak diperdagangkan di pasar publik.
b) investor tidak menyampaikan, atau dalam proses menyampaikan, laporan keuangannya
pada badan pengawas atau organisasi regulator lain, untuk tujuan penerbitan setiap
jenis instrumen di pasar publik; dan
c) entitas induk akhir atau entitas induk antara dari investor menerbitkan laporan
keuangan konsolidasian yang tersedia untuk pemakaian publik yang sesuai Standar
Akuntansi Keuangan.

Investasi pada Entitas Ventura Bersama


Berdasarkan PSAK 12 ventura bersama adalah adalah perjanjian kontraktual

dimana dua atau lebih pihak menjalankan aktivitas ekonomi yang tunduk pada
pengendalian bersama. Karakteristik umum seluruh ventura bersama adalah :
a) Dua atau lebih venturer terikat oleh suatu perjanjian kontraktual.
1

b) Perjanjian kontraktual tersebut membentuk pengendalian bersama.


Pengendalian Bersama Entitas Pengendalian bersama entitas adalah ventura bersama yang
melibatkan pendirian suatu perseoran terbatas, persekutuan atau entitas lainnya yang mana
setiap venturer mempunyai bagaian partisipasi.
Namun untuk saat ini adanya berlaku PSAK 66 yang menggantikan PSAK 12 dan PSAK
66 ini berlaku aktif pada tanggal 1 Januari 2015.
Pengendalian Bersama Operasi
Sehubungan dengan bagian partisipasi dalam pengendalian bersama operasi
venturer mengakui dalam laporan keuangannya:
a) Aset yang dikendalikan dan liabilitas yang ditanggung
b) Beban yang ditanggung dan bagian pendapatan yang diperoleh dari penjualan barang
dan jasa ventura bersama.

Pengendalian Bersama Aset


Sehubungan dengan bagian partisipasinya dalam pengendalian bersama aset,
venturer mengakui dalam laporan keuangannya :
a) Bagiannya diklasifikasikan sesuai dengan sifat aset
b) Setiap liabilitas yang telah terjadi
c) Bagiannya atas liabilitas yang terjadi bersama dengan venturer lain yang berkaitan
dengan ventura bersama
d) Setiap penghasilan dari penjualan atau penggunaan bagiannya atas output ventura
bersama
e) Setiap beban yang telah terjadi sehubungan dengan bagian partisipasinya dalam
ventura bersama
Pengendalian Bersama Entitas
Pengendalian bersama entitas adalah ventura bersama yang melibatkan pendirian
suatu perseoran terbatas, persekutuan atau entitas lainnya yang mana setiap venturer
mempunyai bagaian partisipasi. Pengendalian ini mengendalikan aset ventura bersama,
menanggung liabilitas dan beban, dan memperoleh penghasilan.
Penerapan Metode Ekuitas pada Entitas Ventura Bersama
Entitas dengan pengendalian bersama atau pengaruh signifikan atas investee
mencatat investasi pada entitas asosiasi atau ventura bersama dengan menggunakan
2

metode ekuitas, kecuali ketika investasi tersebut memenuhi syarat pengecualian penerapan
metode ekuitas.

Investasi pada Entitas Anak


SAK ETAP mendefinisikan entitas anak sebagai suatu entitas yang dikendalikan

oleh entitas induk. Pengendalian adalah kemampuan untuk mengatur kebijakan keuangan
dan operasional dari suatu entitas sehingga mendapatkan manfaat dari aktivitas tersebut.
Pengendalian dianggap ada jika entitas induk memiliki baik secara langsung atau tidak
langsung melalui entitas anak lebih dari setengah hak suara dari suatu entitas, kecuali dapat
ditunjukkan secara jelas bahwa kepemilikan tersebut tidak menunjukkan adanya
pengendalian.
Pengendalian dapat juga muncul ketika entitas induk memiliki setengah atau
kurang hak suara suatu entitas tetapi memiliki:
a) mempunyai hak suara lebih dari setengah berdasarkan suatu perjanjian dengan
pemegang saham lain.
b) mempunyai hak untuk mengatur kebijakan keuangan dan operasional berdasarkan
anggaran dasar atau perjanjian.
c) mempunyai hak untuk menunjuk atau memberhentikan mayoritas anggota dewan
direksi atau badan yang setara dan pengendalian entitas dilakukan oleh oleh dewan atau
badan tersebut.
d) mempunyai hak untuk bertindak sebagai suara mayoritas dalam rapat dewan direksi
atau badan yang setara dan pengendalian entitas dilakukan oleh dewan atau badan
tersebut.
Investasi pada entitas anak dicatat dengan menggunakan metode ekuitas. SAK
ETAP tidak menganjurkan dilakukannya konsolidasi laporan keuangan. Investasi pada
entitas anak awalnya diakui pada biaya perolehan (termasuk biaya transaksi) dan
selanjutnya disesuaikan untuk mencerminkan bagian investor atas laba atau rugi dan
pendapatan dan beban dari entitas anak.
Penerapan

Perusahaan yang sudah menjalani PSAK 66 ini yang menjalani pengaturan bersama
yaitu PT.XL Axiata Tbk Di dalam laporan keuangan bagian kebijakan akuntansi penting
PT. XL Axiata Tbk menggunakan PSAK 66 Pengaturan Bersama. (Catatan atas Laporan
Keuangan No. 3a PT. XL Axiata Tbk dan Entitas Anak).
Penerapan investasi pada pengendalian bersama entitas dapat dilihat dalam laporan
keuangan PT XL Axiata Tbk 2014 pada laporan posisi keuangan, investasi pada
pengendalian bersama entitas dan mendapat hasil bersih dari pengendalian bersama entitas
yang tertera dalam Laporan Laba Rugi Komprehensif (Laporan Posisi Keuangan dan
Laporan Laba Rugi Komprehensif PT. XL Axiata Tbk dan Entitas Anak, Catatan atas
Laporan Keuangan No. 3. a. 10 dan 30. d PT XL Axiata Tbk dan Entitas Anak)
2. Kombinasi Bisnis
PSAK 22 Kombinasi bisnis mengatur perlakuan akuntansi untuk kombinasi bisnis
(business combination) dan isu-isu terkait seperti goodwill dan kepemilikan minoritas
(minority interest) dalam laporan keuangan konsolidasi. PSAK 22 harus diterapkan dalam
akuntansi kombinasi bisnis yang berlaku efektif pada atau setelah tanggal 1 Januari 2011.
Pengertian kombinasi bisnis dalam PSAK 22 adalah penyatuan dua atau lebih perusahaan
(entitas) yang terpisah menjadi satu entitas pelaporan. Kombinasi bisnis dapat dilakukan
dengan berbagai cara. Misalnya suatu entitas mengakuisisisaham atau bertukar saham
dengan entitas lain sehingga menyebabkan timbulnya hubungan induk dan anak
perusahaan, atau suatu entitas mengakuisisi aset dan liabilitas dari entitas lain.
PSAK 22 menentukan bahwa semua kombinasi bisnis harus diperhitungkan dengan
menerapkan metode pembelian (yang sering disebut juga sebagai akuisisi). PSAK 22
berlaku untuk semua kombinasi bisnis selain aktivitas kombinasi bisnis berikut ini :

Kombinasi bisnis yang bertujuan membentuk ventura bersama (joint venture)


Kombinasi bisnis antara entitas yang berada di bawah pengendalian yang sama
(restrukturisasi internal)
4

Kombinasi antara dua atau lebih entitas bersama (mutual entities)


Kombinasi bisnis hanya melalui kontrak dan tanpa pengakuan keemilikan (ownership
interest)

Identifikasi Kombinasi Bisnis


Pernyataan ini mendefinisikan kombinasi bisnis sebagai suatu transaksi atau
peristiwa lain yang pihak pengakuisisi memperoleh pengendalian atas satu atau lebih
bisnis. Pihak pengakuisisi mungkin memperoleh pengendalian atas pihak yang diakuisisi
dengan beberapa cara, misalnya:
a) dengan mengalihkan kas, setara kas atau aset lainnya (termasuk aset neto yang
b)
c)
d)
e)

merupakan suatu bisnis);


dengan menimbulkan liabilitas;
dengan menerbitkan kepentingan ekuitas;
dengan memberikan lebih dari satu jenis imbalan; atau
tanpa mengalihkan imbalan, termasuk yang hanya berdasarkan kontrak.
Suatu kombinasi bisnis mungkin dirancang dengan berbagai cara untuk alasan

hukum, perpajakan atau alas an lainnya termasuk tapi tidak terbatas pada:
a) satu atau lebih bisnis menjadi entitas anak dari pihak pengakuisisi atau aset neto dari
satu atau lebih bisnis secara hukum digabungkan ke pihak pengakuisisi;
b) satu entitas yang bergabung mengalihkan aset netonya, atau pemiliknya mengalihkan
kepentingan ekuitasnya, kepada entitas yang bergabung lainnya atau pemiliknya;
c) semua entitas yang bergabung mengalihkan aset netonya, atau pemiliknya mengalihkan
kepentingan ekuitasnya, kepada suatu entitas yang baru dibentuk (hal tersebut kadangkadang disebut juga sebagai transaksi roll-up atau put-together); atau sekelompok
pemilik sebelumnya dari salah satu entitas yang bergabung memperoleh pengendalian
atas entitas hasil penggabungan tersebut.

PENERAPAN
Penerapan SAK 22 Kombinasi Bisnis dapat dilihat pada Laporan Keuangan PT XL
AXIATA, Tbk. dan Entitas Anak per 31 Desember 2014 Audited. Beberapa hal penting
yang dapat diperhatikan adalah :

Laporan Auditor Independen pada paragraph opini menyatakan bahwa Laporan


Keuangan telah disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi
keuangan PT XL AXIATA, Tbk. dan Entitas Anaknya tanggal 31 Desember 2014, serta
Kinerja Keuangan dan Arus Kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut,
sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia. (Laporan Auditor

Independen)
Pada Ikhtisar Kebijakan Akuntansi Terpenting dalam Catatan Atas Laporan Keuangan
diungkapkan beberapa hal, diantaranya :
a) Laporan Keuangan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2014 dan
2013 disusun dan disajikan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di
Indonesia. (Catatan atas Laporan Keuangan No. 3. a. PT XL Axiata Tbk dan Entitas
Anak)
b) Laporan Keuangan disusun berdasarkan harga perolehan kecuali untuk beberapa
akun yang dinilai menggunakan dasar pengukuran lain sebagaimana dijelaskan
pada kebijakan akuntansi dari akun tersebut. (Catatan atas Laporan Keuangan No.
3. a. PT XL Axiata Tbk dan Entitas Anak)
c) Laporan Arus Kas disusun dengan menggunakan metode langsung pada Aktivitas
Operasi. (Catatan atas Laporan Keuangan No. 3. a. PT XL Axiata Tbk dan Entitas
Anak)

3. Kombinasi Bisnis Entitas Sepengendali


Kombinasi bisnis yang melibatkan entitas atau bisnis sepengendali adalah
kombinasi bisnis yang semua entitas atau bisnis yang bergabung, pada akhirnya
dikendalikan oleh pihak yang sama (baik sebelum maupun sesudah kombinasi bisnis) dan
pengendaliannya tidak bersifat sementara. Sekelompok individu dianggap sebagai
pengendali suatu entitas jika, sebagai hasil dari suatu kesepakatan kontraktual, mereka
secara kolektif memiliki kekuasaan untuk mengatur kebijakan keuangan dan operasional
entitas tersebut sehingga mendapatkan manfaat dari aktivitas entitas tersebut. Oleh karena
6

itu, suatu kombinasi bisnis berada di luar ruang lingkup Pernyataan ini jika sekelompok
individu yang sama memiliki, sebagai hasil dari kesepakatan kontraktual, kekuasaan
kolektif akhir (ultimate collective power) untuk mengatur kebijakan keuangan dan
operasional dari setiap entitas yang bergabung sehingga mendapatkan manfaat dari
aktivitas entitas tersebut, dan kekuasaan kolektif akhir tersebut tidak bersifat sementara.
Suatu entitas mungkin dikendalikan oleh individu atau kelompok individu yang
bertindak bersama berdasarkan kesepakatan kontraktual, dan individu atau kelompok
individu tersebut mungkin tidak tunduk pada ketentuan pelaporan keuangan berdasarkan
SAK. Oleh karena itu, entitas yang bergabung tidak perlu dimasukkan sebagai bagian dari
laporan keuangan konsolidasian yang sama agar suatu kombinasi bisnis dianggap sebagai
kombinasi

bisnis

yang

melibatkan

entitas

sepengendali.

Besarnya

kepentingan

nonpengendali pada setiap entitas yang bergabung sebelum dan sesudah kombinasi bisnis
bukan hal yang relevan untuk menentukan apakah kombinasi tersebut melibatkan entitas
sepengendali. Demikian pula, fakta bahwa salah satu dari entitas yang bergabung adalah
entitas anak yang dikeluarkan dari laporan keuangan konsolidasian tidaklah relevan untuk
menentukan apakah kombinasi melibatkan entitas sepengendali.
PENERAPAN
Penerapan PSAK No. 38 Kombinasi Bisnis Entitas Sepengendali dapat dilihat
pada Laporan Keuangan Audit PT. BCA dan Entitas Anak untuk tahun buku 2013 (Catatan
atas Laporan Keuangan No. 2.d Perubahan Kebijakan Akuntansi). PT. BCA telah
menerapkan PSAK No.38 Kombinasi Bisnis Entitas Sepengendali yang diakui pada
jumlah tercatat berdasarkan metode penyatuan kepemilikan. Entitas yang menerima bisnis
mengakui selisih antara jumlah imbalan yang dialihkan/ diterima dan jumlah tercatat dari
transaksi kombinasi entitas sepengendali di ekuitas dalam akun tambahan modal disetor
(Catatan atas Laporan Keuangan N0. 21 Tambahan Modal Disetor dan Laporan
Perubahan Ekuitas PT Bank Central Asia Tbk dan Entitas Anak).

PT BCA Tbk Mengakuisisi 75% kepemilikan saham PT. Central Sejahtera


Insurance dari Dana Pensiun BCA (Catatan atas Laporan Keuangan No.1d Entitas Anak)
dimana transaksi ini merupakan transaksi dengan pihak berelasi (Catatan atas Laporan
Keuangan No.41 Transaksi dengan pihak berelasi PT Bank Central Asia dan Entitas
Anak).

4. Laporan Keuangan Konsolidasian dan Laporan Keuangan Tersendiri


1. Laporan Keuangan Konsolidasian
Laporan keuangan Konsolidasian adalah laporan yang menyajikan posisi keuangan
dan hasil operasi induk perusahaan (entitas pengendali) dan satu atau lebih anak
perusahaan (entitas yang dikendalikan) yang seakan akan merupakan satu entitas
perusahaan. Tujuan laporan keuangan konsolidasian umumnya memberikan gambaran
yang objektif atas keseluruhan posisi dan aktivitas dari satu entitas yang terdiri atas
beberapa entitas yang mempunyai hubungan istimewa. Laporan keuangan konsolidasian
tidak boleh menyesatkan pihak pihak yang berkepentingan dan harus didasarkan pada
substansi atas peristiwa ekonomi.
Manfaat laporan keuangan konsolidasian:
1. Memberikan gambaran total sumber daya perusahaan hasil gabungan yang berada di
bawah kendali entitas induk kepada para pemegang saham, kreditor, dan penyedia dana
lainnya.
2. Memberikan informasi update bagi manajemen entitas induk mengenai operasi
gabungan dari entitas konsolidasi dan entitas yang membentuk entitas konsolidasi.
Keterbatasan laporan konsolidasi diantaranya:
1. Dapat menutupi kinerja entitas yang tidak bagus,
2. Tidak semua saldo laba ditahan konsolidasi tersedia untuk dividen entitas induk,
3. Rasio keuangan berdasarkan laporan keuangan konsolidasi tidak mencerminkan
kondisi entitas induk maupun entitas yang membentuk konsolidasi,
4. Dibutuhkan beberapa informasi tambahan untuk memberikan penyajian yang wajar.
Prinsip Pengendalian
1. Kekuasaan yang melebihi setengah hak suara sesuai dengan perjanjian pada investor
lain,
8

2. Kekuasaan untuk mengatur kebijakan keuangan dan operasional entitas berdasarkan


anggaran dasar atau perjanjian,
3. Kekuasaan mengganti dan menunjuk dewan komisaris atau direksi melalui dewan
entitas tersebut begitu pula untuk memberikan suara mayoritas pada rapat melalui
dewan direksi atau komisaris yang ditunjuk.
Prosedur Penyusunan Laporan Konsolidasi
1. Penyusunan jurnal eliminasi atas akun-akun entitas,
2. Penjumlahan akun-akun entitas induk dan anak yang sama, misalnya kas pada entitas
induk dan anak, utang pada entitas induk dan anak,dll,
3. Pengurangan prosedur no.2 dengan no.1 atas akun-akun yang sama,
4. Penyajian akun-akun hasil konsolidasi tersebut berdasarkan ketentuan yang berlaku.
2. Laporan Keuangan Tersendiri
Laporan keuangan tersendiri adalah laporan keuangan yang disajikan oleh entitas
induk yang mencatat investasi pada entitas anak, entitas asosiasi dan ventura bersama
berdasarkan biaya perolehan. Laporan Keuangan tersendiri hanya dapat disajikan sebagai
informasi tambahan dalam laporan keuangan konsolidasian. Entitas induk tidak dapat
menyajikan laporan keuangan tersendiri sebagai laporan keuangan bertujuan umum.
Laporan keuangan tersendiri terdiri dari laporan posisi keuangan, laporan laba rugi dan
penghasilan komprehensif lain, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas.
PENERAPAN
Laporan Keuangan Tersendiri PT Indosat Tbk periode 31 Desember 2013
Dasar Penyusunan Laporan Keuangan Tersendiri Entitas Induk
Laporan keuangan tersendiri entitas induk disusun berdasarkan PSAK 4 (revisi
2009) di mana laporan ini disajikan sebagai informasi tambahan dalam laporan keuangan
konsolidasian. Laporan keuangan tersendiri adalah laporan keuangan yang disajikan oleh
entitas induk yang mencatat investasi pada entitas anak, perusahaan asosiasi, dan entitas
pengendalian bersama berdasarkan kepemilikan ekuitas langsung bukan berdasarkan
pelaporan hasil dan aset neto investee (Laporan Keuangan Tersendiri PT. Indosat Tbk).
Penyertaan saham pada entitas anak dan entitas asosiasi dicatat pada biaya perolehan.
Entitas induk mengakui dividen dari entitas anak dan entitas asosiasi pada laporan laba

rugi komprehensif tersendiri. Bedanya Indosat mencatat investasi pada entitas anak dan
entitas asosiasi pada akun aset tidak lancar lainnya-bersih (Laporan Posisi Keuangan PT.
Indosat Tbk).

Laporan Keuangan Konsolidasi PT. XL Axiata Tbk

Sejarah
PT XL Axiata Tbk merupakan salah satu perusahaan telekomunikasi selular
terkemuka di Indonesia. Pertama kali didirikan dengan nama PT Grahametropolitan Lestari
pada tanggal 06 Oktober 1989, kemudian tahun 1996 XL memasuki sektor telekomunikasi
setelah mendapatkan izin operasi GSM 900 dan secara resmi meluncurkan layanan GSM.
Dengan demikian, XL menjadi perusahaan swasta pertama di Indonesia yang menyediakan
layanan telepon selular. Lalu bekerja sama dengan Grup Rajawali dan investor asing
(NYEX, AIF dan Mitsui) sehingga mengubah nama menjadi PT Excelcomindo Pratama
Tbk. Tahun 2005, XL melakukan penawaran saham perdana (IPO) dan mendaftarkan
sahamnya bursa efek.
Axiata Investments (Indonesia) Sdn. Bhd, pemegang saham mayoritas Perseroan
merupakan entitas anak yang dimiliki sepenuhnya oleh Axiata Investment Limited (entitas
anak Axiata Grup Berhad yang sebelumnya bernama TM International (L) Limited),
sehingga tahun 2009 seiring TMI berubah nama, maka PT Excelcomindo Pratama berubah
nama menjadi PT XL Axiata Tbk.
Pada tanggal 19 Maret 2014, PT XL Axiata Tbk mengakuisisi PT Axis Telekom
Indonesia. (Catatan atas Laporan Keuangan No. 1d dan 3a PT. XL Axiata Tbk dan Entitas
Anak) (Sekilas XL dan Tonggak Sejarah PT XL Axiata Tbk Laporan Tahunan 2013)

Dasar Penyusunan Laporan Keuangan Konsolidasian

10

Laporan keuangan konsolidasian disusun dengan konsep harga perolehan dan dasar
akrual sedangkan instrumen derivatif diakui berdasarkan nilai wajar dan laporan arus kas
konsolidasian disusun dengan metode langsung (Catatan atas Laporan Keuangan No. 3c
PT. XL Axiata Tbk dan Entitas Anak) Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang dipakai
ISAK 27 revisi 2013 Pengalihan aset dari pelanggan dan ISAK 28 revisi 2013
Pengakhiran liabilitas keuangan dengan instrumen keuangan serta PSAK yang
digunakan terdiri dari (Catatan atas Laporan Keuangan No. 3a PT. XL Axiata Tbk dan
Entitas Anak):
1. PSAK 1 Penyajian laporan keuangan
2. PSAK 4 Laporan keuangan tersendiri dan laporan keuangan konsolidasian
3. PSAK 7 Pengungkapan pihak-pihak berelasi
4. PSAK 12 Bagian partisipasi ventura bersama
5. PSAK 15 Investasi pada entitas asosiasi
6. PSAK 22 Kombinasi bisnis
7. PSAK 24 Imbalan kerja
8. PSAK 46 Pajak penghasilan
9. PSAK 48 Penurunan nilai
10. PSAK 50 Instrumen keuangan: penyajian
11. PSAK 55 Instrumen keuangan: pengakuan dan pengukuran

LANDASAN TEORI
PSAK 4 Laporan Keuangan Tersendiri
PSAK 4 hanya mengijinkan induk menyusun laporan keuangan tersendiri sebagai
lampiran dalam laporan keuangan konsolidasian - tidak disyaratkan adanya pengungkapan.

11

Ruang lingkup berbeda, karena sebagai lampiran disesuaikan dengan konteks Indonesia
karena:

Laporan keuangan tersendiri merupakan pilihan bukan keharusan.


Suatu entitas sebagai investor dalam entitas asosiasi atau joint venture dianggap tidak

relevan menyajikan LK tersendiri.


Laporan keuangan tersendiri hanya untuk laporan bertujuan umum.
Standar diterapkan untuk entitas induk yang menyajikan LK tersendiri dalam

mencatat investasi anak, ventura bersama, dan entitas asosiasi. LK tersendiri adalah
laporan keuangan yang disajikan oleh entitas induk (investor yang memiliki pengendalian
atas entitas anak) yang mencatat investasi pada entitas anak, entitas asosiasi dan ventura
bersama berdasarkan biaya perolehan atau sesuai dengan PSAK 55: Instrumen keuangan:
Pengakuan dan Pengukuran. LK Tersendiri, minimal terdiri dari laporan posisi keuangan,
laporan laba rugi komprehensif, laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas (tidak
perlu catatan atas laporan keuangan).

Ketentuan LK Tersendiri

12

Inv
Inv
est
est
asi
asi
dic
dic
ata
ata
tt
de
de
ng
ng
an
an
me
me
ng
ng
gu
Seba
Hany
gu
Seba
Hany
Ketentuan
Penyajian
na
gai
aa
Ketentuan
Penyajian
Pengungkapan
naPengungkapan
gai
ka
bagia
untuk
ka
bagia
untuk
nn
nn dari
entita
dari
entita
me
infor
ss
me
infor
tod
masi
terko
tod
masi
terko
ee
tamb
nsolid
tamb
nsolid
bia
ahan
asi
bia
ahan
asi
ya
ya

Div
Div
ide
ide
nn
dia
dia
kui
kui
sa
sa
at
at
dit
dit
eta
eta
pk
pk
an
an

13

LK keuangan tersendiri disusun sesuai dengan SAK yang berlaku kecuali yang
diatur dalam ketentuan khusus. Jika entitas induk menyusun LK tersendiri, maka entitas
induk mencatat investasi pada entitas anak, ventura bersama dan entitas asosiasi pada (Par
10):

Biaya perolehan atau


Sesuai PSAK 55: Instrumen Keuangan Pengakuan dan Pengukuran
Entitas induk menerapkan akuntnasi yang sama untuk setiap kategori investasi. Jika

investasi akan dijual - PSAK 58: Aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual dan operasi
dihentikan. Pengukuran investasi yang dicatat sesuai PSAK 55 tidak berubah. Entitas
Induk mengakui dividen dari entitas anak, ventura bersama, atau entitas asosiasi pada laba
rugi dalam laporan keuangan tersendiri ketika hak menerima dividen ditetapkan.

PSAK 22 KOMBINASI BISNIS


Berdasarkan PSAK No. 22, terdapat dua jenis penggabungan usaha yaitu:
1. Akuisisi (acquisition) adalah suatu penggabungan usaha dimana salah satu perusahaan,
yaitu pengakuisisi (acquirer) memperoleh kendalai atas aktiva netto dan operasi
perusahaan yang diakuisisi (acquiree), dengan memberikan aktiva tertentu, mengakui
suatu kewajiban, atau mengeluarkan saham.
2. Penyatuan Kepemilikan (uniting of interest/pooling of interest) adalah suatu
penggabungan usaha dimana para pemegang saham perusahaan yang bergabung
bersama-sama menyatukan kendali atas seluruh, atau secara efektif seluruh aktiva neto
dan operasi kendali perusahaan yang bergabung tersebut dan selanjutnya memikul
bersama segala resiko dan manfaat yang melekat pada entitas gabungan, sehingga tidak
ada pihak yang dapat diidentifikasi sebagai perusahaan pengakuisisi (acquirer).

Pada PSAK No. 22 (2010) penerapan metode akuisisi mensyaratkan:


14

a) Pengidentikasian pihak pengakuisisi;


b) Penentuan tanggal akuisisi;
c) Pengakuan dan pengukuran aset teridentikasi yang diperoleh, liabilitas yang diambilalih, dan kepentingan nonpengendali pihak yang diakuisisi; dan
d) Pengakuan dan pengukuran goodwill atau keuntungan dari pembelian dengan diskon.

PSAK 15 - INVESTASI PADA ENTITAS ASOSIASI


PSAK 15 diterapkan oleh seluruh entitas yang merupakan investor dengan
pengendalian bersama atau pengaruh signifikan atas investee.
Mendeterminasi Nilai Beli dalam Purchased Methode Merger dan Akuisisi
Dalam

mendeterminasi

Nilai

Beli

dalam

Purchased

Methode

pembeli

memperhitungkan seluruh biaya perolehan sehubungan dengan akuisisi aktiva bersih atau
saham perusahaan lain sebagai bagian dari harga beli.
Ada beberapa expenditure yang mungkin timbul dari merger dan akuisisi:
1. Direct Expenditure: imbal jasa bagi penemu (finders fee), Accountan fee, Lawyer Fee
dan Appraisal fee
2. Expenditure pengeluaran efek: biaya pendaftaran efek, audit, dan hukum sehubungan
pendaftaran saham dan komisi pialang.
3. Indirect & General Expenditure: biaya gaji accountant yang merupakan pegawai
perusahaan pengakuisisi dalam merger dan akuisisi.
Contoh Kasus:
Pada tanggal 1 Januari 2008, Royal Bali Inc. (RBC) membeli semua aktiva dan kewajiban
PT. Baik Baik Saja (BBS) dalam satu merger dengan mengeluarkan 10,000 lembar saham
PT. Baik Baik Saja dengan nilai nominal $ 10. Saham yang dikeluaran tersebut mempunyai
nilai pasar $ 600,000. Royal Bali Inc mengeluarkan Legal expense dan Appraisal expense
sebesar $40,000 sehubungan dengan M&As dan biaya pengeluaran saham sebesar
$25,000. Total harga beli saham, sama dengan nilai saham yang dikeluarkan Royal Bali Inc
ditambah biaya tambahan yang terjadi sehubungan dengan akuisisi aktiva.
15

Total Harga Beli dapat dihitung:


Nilai Wajar Saham yang dikeluarkan = $ 600,000
Other Acquisition Cost

= $ 40,000

Total Harga Beli

= $ 640,000

Saham yang dikeluarkan oleh Royal Bali Inc untuk melakukan M&As dinilai pada nilai
wajar dikurangi dengan biaya pengeluaran saham.
Nilai tercatat sahamnya dihitung dengan:
Nilai Wajar Saham yang dikeluarkan = $ 600,000
Biaya Pengeluaran Saham

= ($ 25,000)

Nilai tercatat saham

= $ 575,000

Perbandingan Nilai Buku dengan Nilai Wajar M&As melalui pembelian aktiva bersih PT.
Baik Baik Saja menjadi sebagai berikut:

Maka, pencatatan jurnal merger dan akuisisi sebagain berikut:


[Debit]. Kas dan Piutang = $ 45,000
[Debit]. Persediaan = $ 75,000
16

[Debit]. Tanah = $ 70,000


[Debit]. Bangunan & Peralatan = $ 350,000
[Debit]. Paten = $ 80,000
[Debit]. Goodwill = $ 130,000
[Credit]. Kewajiban lancar = $ 110,000
[Credit]. Saham biasa = $ 100,000
[Credit]. Tambahan modal disetor = $ 475,000
[Credit]. Biaya merger tangguhan = $ 40.000
[Credit]. Biaya pengeluaran Saham tangguhan = $ 25.000

Goodwill sebesar $ 130,000 berasal dari total harga beli aktiva bersih dikurangi dengan

nilai wajar dari aktiva bersih; $640,000 $510,000 = $130,000


Nilai Saham Biasa = $10 x $ 10,000 = $ 100,000
Tambahan Modal disetor = Nilai tercatat saham Saham biasa= 575,000-100,000 =
$475,000

Merger dan Akuisisi Melalui Pembelian Saham (Share Acquisition)


Merger dan Akuisisi yang dilakukan melalui pembelian saham dari perusahaan lain
bukan melalui akuisisi aktiva bersih disebut dengan Share Acquisition.
Contoh Kasus:
Royal Bali Inc menukarkan 10,000 lembar sahamnya dengan total nilai pasar $ 600,000
untuk semua saham PT. Baik Baik Saja dalam transaksi pembelian, timbul biaya merger

17

sebesar $40,000 dan biaya pengeluaran saham $ 25,000 yang sebelumnya dicatat dalam
Account tangguhan.
Untuk mencatat pembelian saham PT Baik Baik Saja, maka di jurnal:
[Debit]. Investasi pada saham PT. Baik Baik Saja = $640,000
[Credit]. Saham biasa = $100,000
[Credit]. Tambahan Modal disetor = $475,000
[Credit]. Biaya merger tangguhan = $40,000
[Credit]. Biaya pengeluaran saham tangguhan = $25,000

Untuk investasi pada saham biasa, pelaporan kepemilikan antar-perusahaan dapat


menggunakan 3 (tiga) method, yaitu:
1. Laporan Keuangan Konsolidasi
2. Expense Method
3. Equity Method
Penerapan metode tergantung pada Control Level Factor yang dimiliki investor pada
investee. Berikut indikator level kontrol:
1. Expense Method: untuk tingkat kepemilikan 0% - 20 % memiliki Control Level yang
tidak signifikan.
Dicatat oleh investor berdasarkan biaya historisnya.
Pendapatan diakui oleh investor jika deviden diumumkan oleh invstee
Expense Method digunakan ketika investor tidak memiliki kemampuan untuk
mengendalikan atau tidak mempunyai pengaruh yang signifikan atas investee, yang
disebabkaan besarnya investasi investor ke investee (kurang dari 20%)
Contoh Kasus:
PT. Royal Bali Cemerlang (RBC) membeli 20% Saham biasa PT. Baik Baik Saja (BBS)
senilai $100,000 pada awal tahun tetapi tidak memiliki pengaruh sigifikan kepada BBS.
Selama tahun berjalan BBS memiliki laba bersih $50,000 dan membayar dividen
$20,000.
18

PT. Royal Bali Cemerlang mencatatnya dengan jurnal:


Untuk mencatat pembelian pada saham biaya PT. Baik Baik Saja:
[Debit]. Investasi pada saham biasa BBS = $100,000
[Credit]. Kas = $100,000
Untuk mencatat pendapatan dividen dari PT. Baik Baik Saja=$20.000 x 20%:
[Debit]. Kas = $4,000
[Credit]. Pendapatan Dividen = $ 4,000
2. Equity Method: untuk tingkat kepemilikan > 20% - 50 % memiliki Control Level yang
signifikan.
Ditujukan untuk mencerminkan perubahan Equity atau kepemilikan investor dalam

investee.
Investasi dicatat sebesar biaya atau harga perolehan awal dan disesuaikan tiap
periode untuk bagian investor atas laba atau rugi investee dan dividen yang
diumumkan oleh investee.

Equity Method diharuskan penggunaannya untuk pelaporan investasi dalam saham


perusahaan jenis berikut ini:

Corporate Joint Venture: Perusahaan dimiliki dan dioperasikan oleh kelompok usaha
kecil, dimana tidak satu pun yang memiliki kepemilikan mayoritas dalam saham

biasa joint venture tsb.


Perusahaan dengan kepemilikan investor atas saham, memberikan investor
kemampuan untuk mempunyai pengaruh signifikan atas kebijakan operasi dan
keuangan perusahaan.
Laba bersih yang dicantumkan oleh perusahaan investee akan dicatat sebagai

pendapatan dari investasi serta penginkatan akun investasi. Jika Rugi Bersih diumumkan
oleh perusahaan investee maka akan dicatat berlawanan dari Laba Bersih. Pembagian
deviden yang diumumkan oleh perusahaan investee akan dicatat sebagai Kas/Piutang
serta mencatat penurunan akun investasi.
Contoh Kasus:

19

PT. Royal Bali Cemerlang (RBC) mengakuisisi pengaruh signifikan atas BBS dengan
membeli 20% Saham biasa PT. Baik Baik Saja pada awal tahun. BBS melaporkan laba
sebesar $60,000 untuk tahun berjalan.

RBC mencatat bagiannya atas laba BBS sebesar $ 12,000 dengan jurnal:
Pendapatan dari investasi pada PT. Baik Baik Saja $60,000 x 20% = $12,000
[Debit]. Investasi pada saham BBS = $12,000
[Credit]. Pendapatan dari Investee = $12,000
Jurnal ini disebut sebagai Accrual Equity yang biasanya dibuat sebagai
Adjustment jurnal pada akhir periode. Apabila investee melaporkan kerugian
untuk periode tersebut, investor mengakui bagiannya atas rugi tersebut dan
mengurangi nilai tercatat investasi sebesar jumlah porsi kerugian.

3. Laporan Keuangan Konsolidasi: Tingkat kepemilikan > 50 % memiliki Control Level

yang dominant.

20