Anda di halaman 1dari 24

Makalah

Disusun untuk memenuhi tugas PKPA


Di RSUD Tugurejo Semarang

FEBRIS THYPOID (DEMAM TIFOID)

Disusun oleh :
Ervia, S.Farm.

1220242081

FAKULTAS FARMASI
PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2013
PENDAHULUAN

Febris typhoid adalah penyakit yang disebabkan oleh Salmonella typhi


yang sering ditularkan pada manusia oleh basil ternak (telur itik). Typhoid
sebetulnya termasuk dalam golongan penyakit demam berhubung adanya
beberapa gejala seperti demam tinggi dan kepala sangat nyeri. Gejalanya dapat
bervariasi. Semula terjadi demam dengan kenaikan suhu secara bertahap dalam 3
hari pertama, nyeri kepala terus-menerus, perut kembung, nyeri. Kemudian
seringkali disusul dengan diare yang sangat cair.
Demam tifoid masih merupakan penyakit endemik di Indonesia. Penyakit
ini termasuk penyakit menular yang tercantum dalam undang-undang nomor 6
tahun 1962 tentang wabah. Kelompok penyakit menular ini merupakan penyakit
yang mudah menular dan dapat menyerang banyak orang sehingga dapat
menimbulkan wabah.

TINJAUAN PUSTAKA
1. Definisi
Febris typhoid (demam tifoid/tifus abdominalis/enteric fever)
adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran
pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari 7 hari, gangguan pada
saluran pencernaan dengan atau tanpa gangguan kesadaran.
2. Etiologi
Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi atau
Salmonella paratyphi dari Genus Salmonella. Bakteri ini berbentuk
batang, gram negatif, tidak membentuk spora, motil, berkapsul dan
mempunyai flagella (bergerak dengan rambut getar). Bakteri ini dapat
hidup sampai beberapa minggu di alam bebas seperti di dalam air, es,
sampah dan debu. Bakteri ini dapat mati dengan pemanasan ( suhu 600C )
selama 15 20 menit, pasteurisasi, pendidihan dan khlorinisasi.
Salmonella typhi mempunyai 3 macam antigen, yaitu :
a.

Antigen O (Antigen somatik), yaitu terletak pada lapisan luar dari tubuh kuman.
Bagian ini mempunyai struktur kimia lipopolisakarida atau disebut juga
endotoksin. Antigen ini tahan terhadap panas dan alkohol tetapi tidak tahan
terhadap formaldehid.

b.

Antigen H (Antigen Flagella), yang terletak pada flagella, fimbriae atau pili dari
kuman. Antigen ini mempunyai struktur kimia suatu protein dan tahan terhadap
formaldehid tetapi tidak tahan terhadap panas dan alkohol.

c.

Antigen Vi yang terletak pada kapsul (envelope) dari kuman yang dapat
melindungi kuman terhadap fagositosis.

Ketiga macam antigen tersebut di atas di dalam tubuh penderita


akan menimbulkan pula pembentukan 3 macam antibodi yang lazim
disebut aglutinin.
3. Patogenesis
Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi masuk kedalam tubuh
manusia melalui makanan yang terkontaminasi kuman. Sebagian kuman
dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus
dan berkembang biak. Bila respon imunitas humoral mukosa IgA usus
kurang baik maka kuman akan menembus sel-sel epitel terutama sel M dan
selanjutnya ke lamina propia. Di lamina propia kuman berkembang biak
dan difagosit oleh sel-sel fagosit terutama oleh makrofag. Kuman dapat
hidup dan berkembang biak di dalam makrofag dan selanjutnya dibawa ke
plaque Peyeri ileum distal dan kemudian ke kelenjar getah bening
mesenterika.
Selanjutnya melalui duktus torasikus kuman yang terdapat di
dalam makrofag ini masuk ke dalam sirkulasi darah (mengakibatkan
bakterimia pertama yang asimtomatik) dan menyebar ke seluruh organ
retikuloendotelial tubuh terutama hati dan limpa. Kemudian di organorgan ini kuman meninggalkan sel-sel fagosit dan kemudian berkembang
biak di luar sel atau ruang sinusoid dan selanjutnya masuk ke dalam
sirkulasi darah lagi yang mengakibatkan bakterimia yang kedua kalinya
dan menyebar ke seluruh tubuh terutama ke dalam kelenjar limfoid usus
halus, menimbulkan tukak pada mukosa diatas plaque peyeri. Tukak

tersebut dapat mengakibatkan perdarahan dan perforasi usus, dengan


disertai tanda-tanda dan gejala penyakit infeksi sistemik, seperti demam,
malaise, mialgia, sakit kepala dan sakit perut.
Gejala demam disebabkan oleh endotoksin yang dieksresikan oleh
basil Salmonella typhi sedangkan gejala pada saluran pencernaan
disebabkan oleh kelainan pada usus.
4. Gejala Klinis
Gejala klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan jika
dibanding dengan penderita dewasa. Masa inkubasi rata-rata 10 20 hari.
Setelah masa inkubasi maka ditemukan gejala prodromal, yaitu perasaan
tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan tidak bersemangat.
Kemudian menyusul gejala klinis yang biasa ditemukan, yaitu :
a. Demam
Pada kasus-kasus yang khas, demam berlangsung 3 minggu. Bersifat
febris remiten dan suhu tidak berapa tinggi. Selama minggu pertama,
suhu tubuh berangsur-angsur meningkat setiap hari, biasanya menurun
pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari. Dalam
minggu kedua, penderita terus berada dalam keadaan demam. Dalam
minggu ketiga suhu tubuh beraangsur-angsur turun dan normal
kembali pada akhir minggu ketiga.

b. Ganguan pada saluran pencernaan


Pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap. Bibir kering dan pecahpecah (ragaden) . Lidah ditutupi selaput putih kotor (coated tongue),

ujung dan tepinya kemerahan, jarang disertai tremor. Pada abdomen


mungkin ditemukan keadaan perut kembung (meteorismus). Hati dan
limpa membesar disertai nyeri pada perabaan. Biasanya didapatkan
konstipasi, akan tetapi mungkin pula normal bahkan dapat terjadi
diare.
c. Gangguan kesadaran
Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak berapa dalam,
yaitu apatis sampai somnolen. Jarang terjadi sopor, koma atau gelisah.
5. Epidemiologi Demam Tifoid
A. Distribusi dan frekuensi
a. Orang
Demam tifoid dapat menginfeksi semua orang dan tidak ada
perbedaan yang nyata antara insiden pada laki-laki dan perempuan.
Insiden pasien demam tifoid dengan usia 12 30 tahun 70 80 %,
usia 31 40 tahun 10 20 %, usia > 40 tahun 5 10 %
Menurut penelitian Simanjuntak, C.H, dkk (1989) di Paseh, Jawa
Barat terdapat 77 % penderita demam tifoid pada umur 3 19
tahun dan tertinggi pada umur 10 -15 tahun dengan insiden rate
687,9 per 100.000 penduduk. Insiden rate pada umur 0 3 tahun
sebesar 263 per 100.000 penduduk.16
b. Tempat dan waktu
Demam tifoid tersebar di seluruh dunia. Pada tahun 2000, insiden
rate demam tifoid di Amerika Latin 53 per 100.000 penduduk dan

di Asia Tenggara 110 per 100.000 penduduk. Di Indonesia demam


tifoid dapat ditemukan sepanjang tahun, di Jakarta Utara pada
tahun 2001, insiden rate demam tifoid 680 per 100.000 penduduk
dan pada tahun 2002 meningkat menjadi 1.426 per 100.000
penduduk.
B. Faktor-faktor yang mempengaruhi (determinan)
a. Faktor host
Manusia adalah sebagai reservoir bagi kuman Salmonella thypi.
Terjadinya penularan Salmonella thypi sebagian besar melalui
makanan/minuman yang tercemar oleh kuman yang berasal dari
penderita atau carrier yang biasanya keluar bersama dengan tinja
atau urine. Dapat juga terjadi transmisi transplasental dari seorang
ibu hamil yang berada dalam bakterimia kepada bayinya.
Penelitian yang dilakukan oleh Heru Laksono (2009) dengan
desain case control , mengatakan bahwa kebiasaan jajan di luar
mempunyai resiko terkena penyakit demam tifoid pada anak 3,6
kali lebih besar dibandingkan dengan kebiasaan tidak jajan diluar
(OR=3,65) dan anak yang mempunyai kebiasaan tidak mencuci
tangan sebelum makan beresiko terkena penyakit demam tifoid 2,7
lebih besar dibandingkan dengan kebiasaan mencuci tangan
sebelum makan (OR=2,7).
b. Faktor agent

Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella thypi. Jumlah


kuman yang dapat menimbulkan infeksi adalah sebanyak 105
109 kuman yang tertelan melalui makanan dan minuman yang
terkontaminasi. Semakin besar jumlah Salmonella thypi yang
tertelan, maka semakin pendek masa inkubasi penyakit demam
tifoid.
c. Faktor environment

Demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang dijumpai secara


luas di daerah tropis terutama di daerah dengan kualitas sumber air
yang tidak memadai dengan standar hygiene dan sanitasi yang
rendah. Beberapa hal yang mempercepat terjadinya penyebaran
demam tifoid adalah urbanisasi, kepadatan penduduk, sumber air
minum dan standart hygiene industri pengolahan makanan yang
masih rendah.
C. Sumber penularan (reservoir)
Penularan penyakit demam tifoid oleh basil Salmonella typhi ke
manusia melalui makanan dan minuman yang telah tercemar oleh feses
atau urin dari penderita tifoid. Ada dua sumber penularan Salmonella
typhi, yaitu :

a. Penderita demam tifoid


Manusia menjadi sumber utama infeksi yang selalu mengeluarkan
mikroorganisme penyebab penyakit, baik ketika ia sedang

menderita sakit maupun yang sedang dalam penyembuhan. Pada


masa penyembuhan penderita pada umumnya masih mengandung
bibit penyakit di dalam kandung empedu dan ginjalnya.
b. Karier demam tifoid.
Penderita tifoid karier adalah seseorang yang kotorannya (feses
atau urin) mengandung Salmonella typhi setelah satu tahun pasca
demam tifoid, tanpa disertai gejala klinis. Pada penderita demam
tifoid yang telah sembuh setelah 2 3 bulan masih dapat
ditemukan kuman Salmonella typhi di feces atau urin. Penderita ini
disebut karier pasca penyembuhan.
Pada demam tifoid sumber infeksi dari karier kronis adalah
kandung empedu dan ginjal (infeksi kronis, batu atau kelainan
anatomi). Oleh karena itu apabila terapi medika-mentosa dengan
obat anti tifoid gagal, harus dilakukan operasi untuk menghilangkan
batu atau memperbaiki kelainan anatominya.

6. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium meliputi pemeriksaan hematologi, urinalis,
kimia

klinik,

imunoserologi,

mikrobiologi, dan

biologi

molekular.

Pemeriksaan ini ditujukan untuk membantu menegakkan diagnosis


(adakalanya bahkan menjadi penentu diagnosis), menetapkan prognosis,
memantau perjalanan penyakit dan hasil pengobatan serta timbulnya
penyulit.
a. Hematologi

Kadar hemoglobin dapat normal atau menurun bila terjadi penyulit


perdarahan usus atau perforasi.
Hitung leukosit sering rendah (leukopenia), tetapi dapat pula normal
atau tinggi.
Hitung jenis leukosit: sering neutropenia dengan limfositosis
relatif.
LED ( Laju Endap Darah ) : Meningkat
Jumlah trombosit normal atau menurun (trombositopenia).
b. Urinalis
Protein: bervariasi dari negatif sampai positif (akibat demam)
Leukosit dan eritrosit normal; bila meningkat kemungkinan terjadi
penyulit.
c. Kimia Klinik
Enzim hati (SGOT, SGPT) sering meningkat dengan gambaran
peradangan sampai hepatitis Akut.
d. Imunologi
Widal Pemeriksaan serologi ini ditujukan untuk mendeteksi adanya
antibodi (didalam darah) terhadap antigen kuman Salmonella typhi /
paratyphi (reagen).
7. Diagnosis
Diagnosis pasti ditegakkan dengan cara menguji sampel feses atau
darah untuk mendeteksi adanya bakteri Salmonella spp dalam darah
penderita, dengan membiakkan darah pada 14 hari pertama setelah
terinfeksi. Selain itu tes widal (O dah H aglutinin) mulai positif pada hari
kesepuluh dan titer akan semakin meningkat sampai berakhirnya penyakit.
Pengulangan tes widal selang 2 hari menunjukkan peningkatan progresif dari
titer aglutinin (diatas 1:200) menunjukkkan diagnosis positif dari infeksi
aktif demam tifoid. Biakan tinja dilakukan pada minggu kedua dan ketiga

10

serta biakan urin pada minggu ketiga dan keempat dapat mendukung
diagnosis dengan ditemukannya Salmonella.
Gambaran darah juga dapat membantu menentukan diagnosis. Jika
terdapat leukopeni polimorfonuklear dengan limfositosis yang relatif pada
hari kesepuluh dari demam, maka arah demam tifoid menjadi jelas.
Sebaliknya jika terjadi lekositosis polimorfonuklear, maka berarti terdapat
infeksi sekunder bakteri di dalam lesi usus. Peningkatan yang cepat dari
lekositosis polimorfonuklear ini mengharuskan kita waspada akan terjadinya
perforasi dari usus penderita.
Tidak selalu mudah mendiagnosis karena gejala yang ditimbulkan
oleh penyakit ini tidak selalu khas seperti di atas. Bisa ditemukan gejalagejala yang tidak khas. Ada orang yang setelah terpapar dengan kuman
S.typhi, hanya mengalami demam sedikit kemudian sembuh tanpa diberi
obat. Hal itu bisa terjadi karena tidak semua penderita yang secara tidak
sengaja menelan kuman ini langsung menjadi sakit. Tergantung banyaknya
jumlah kuman dan tingkat kekebalan seseorang dan daya tahannya, termasuk
apakah sudah imun atau kebal. Bila jumlah kuman hanya sedikit yang masuk
ke saluran cerna, bisa saja langsung dimatikan oleh sistem pelindung tubuh
manusia. Namun demikian, penyakit ini tidak bisa dianggap enteng,
misalnya nanti juga sembuh sendiri.
8. Penatalaksanaan
Management

atau

penatalaksanaan

secara

umum,

asuhan

keperawatan yang baik serta asupan gizi yang baik merupakan aspek penting
dalam pengobatan demam tifoid selain pemberian antibiotik. Sampai saat ini
masih dianut trilogi penatalaksanaan demam tifoid, yaitu:
11

a. Istirahat dan perawatan, dengan tujuan mencegah komplikasi dan


mempercepat penyembuhan.
b. Diet dan terapi penunjang (simptomatik dan supportif), dengan
tujuan mengembalikan rasa nyaman dan kesehatan pasien secara
optimal.
c. Pemberian antimikroba
obat-obat antimikroba yang sering digunakan untuk mengobati demam
tifoid adalah sebagai berikut:
Kloramfenikol. Dosis yang diberikan adalah 4 x 500 mg per hari
dapat diberikan secara per oral atau intravena. Diberikan sampai
dengan 7 hari bebas panas. Dari pengalaman penggunaan obat ini
dapat menurunkan demam rata-rata 7,2 hari.
Tiamfenikol. Dosis dan efektivitas tiamfenikol pada demam tifoid
hampir sama dengan kloramfenikol, akan tetapi komplikasi
hematologi seperti kemungkinan terjadinya anemia aplastik lebih
rendah dibandingkan dengan kloramfenikol. Dosis tiamfenikol
adalah 4 x 500 mg, demam rata- rata menurun pada hari ke-5 sampai
ke-6.
Kotrimoksazol
Efektivitas obat ini dilaporkan hampir sama dengan kloramfenikol.
Dosis untuk orang dewasa adalah 2 x 2 tablet diberikan selama 2
minggu.
Ampisilin dan amoksisilin
Kemampuan obat ini menurunkan demam lebih rendah dibandingkan
dengan kloramfenikol. Dosis yang dianjurkan berkisar antara 50-150
mg/kg BB selama 2 minggu.
Sefalosporin generasi ketiga
Hingga saat ini sefalosporin generasi ke-3 yang terbukti efektif untuk
demam tifoid adalah seftriakson. Dosis yang dianjurkan 3-4 gram
12

dalam dextrosa 100 cc diberikan selama setengah jam per infus sekali
sehari selama 3-5 hari.
Kostikosteroid
Penggunaan steroid hanya diindikasikan pada toksik tifoid atau
demam tifoid yang mengalami syok septik dengan dosis 3 x 5 mg.

KASUS
I.

II.
III.

Data Pasien
a. Nama
: anak M.I
b. No. CM
: 406989
c. Usia
: 12 tahun
d. TB
: 156 cm
e. BB
: 80 kg
f. MRS
: 4 Februari 2013
g. KRS
: 8 Februari 2013
Diagnosa
Febris typhoid
Metode SOAP
a. Subyektif
Hari ke-1 (tgl. 4 Februari 2013) :
Keluhan utama: panas 1 hari, mual (+), muntah (+), BAB cair,
BAK, badan lemas.
Riwayat penyakit : asma alergi dan obesitas
Hari ke-2 (tgl. 5 Februari 2013) :
Keluhan utama : panas belum turun, BAB cair.
Hari ke-3 (tgl 6 Februari 2013) :
Keluhan utama : suhu badan masih tinggi, BAB cair, pusing.
Hari ke-4 (tgl 7 Februari 2013) :
Keluhan utama : BAB cair + ampas 6x dalam sehari ini, panas
sudah turun, pasien masih meras pusing, pasien mengalami batuk.
Hari ke-5 (tgl 8 Februari 2013) :
Keluhan utama :hasil lab S.typhi (-), suhu tubuh sudah mulai
normal, BAB masih cair, batuk masih.
b. Obyektif

13

Nadi : 88 x per menit


Suhu : 40C
Data lab
Pemeriksaan
Leukosit
Eritrosit
Hemoglobin
Hematokrit
MCV
MHC
MCHC
Trombosit
RDW
Eosinofil absolut
Basofil absolut
Netrofil absolut
Limfosit absolut
Monosit absolut
Eosinofil
Basofil
Neutrofil
Limfosit
Monosit

Hasil
Satuan
Darah rutin :
7,87
103/uL
4,83
106/uL
13,10
g/dL
L 39, 80
%
82,40
fL
27,10
Pg
32,90
g/dL
162
103/uL
13,80
%
Diff Count :
L 0,00
103/uL
0,00
103/uL
6,76
103/uL
L 0,42
103/uL
0,69
103/uL
L 0,00
%
0,00
%
H 85,90
%
L 5,30
%
H 8,80
%
Sero-imun (serum) B
Widal (serum/plasma)

S.typhi O
S.typhi H

Nilai normal
3,8-10,6
4,4-5,9
13,2-17,3
40-52
80-100
26-34
32-36
156-408
11,5-14,5
0,045-0,44
0-0,12
1,8-8
0,16-1
2-4
0-1
50-70
25-50
1-6
2-8

1/80
1/160

Negatif
Negatif

Data penggunaan obat


Tanggal

Obat
Parenteral :
Infus RL

Infus D5%

14

Injeksi Bioceft 1g/iv


Injeksi kalmox 3x1g
Injeksi ondansentron 1
ampul
Injeksi

cortidex

1ampul/iv
Injeksi kalfoxime 2x1g

Peroral:
Paracetamol 3x1 (jadi
4x1

berdasarkan

permintaan dokter pada


tgl 4.
Luminal 1x1
Dialac 3x1

Zinc 1x1
Dexamethason 3x1 tab

Obat obat yang masih dipakai / dibawa pulang :


Paracetamol oral dosis 4 x sehari 1 tablet
Dialac dosis 3 x sehari 1 sachet
15

Zinc 1 x sehari 1 tablet


Ambroxol 3 x sehari 1 tablet
Cefspan 50 mg 2 x sehari 1 kapsul

Tinjauan obat
1. Infus RL
Kandungan :
Tiap 100 ml larutan mengandung
Sodium chloride
0,600g
Potassium chloride
0,040g
Calcium chloride.2.H2O
0,027g
Sodium lactate
0,312g
Water forinjections to 100m
Indikasi : menggantikan cairan extraseluler yang hilang dan
mengembalikan keseimbangan elektrolit
2. Infus D5%
Setiap 500 ml larutan mengandung
Glukosa, C6H12O6
25g
Air untuk injeksi ad
500ml
Osmolaritas : 280 mOsm/l
Setara dengan 800 kJ/L (190 kkal/L)
Indikasi : menggantikan cairan extraseluler yang hilang,
menambah kalori dan mengembalikan keseimbangan elektrolit.
3. Injeksi Bioceft
Tiap vial mengandung cefotaxim sodium setara dengan
cefotaxime 1 g.
Indikasi : terapi antibiotik terhadap infeksi berat yang
disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi.
4. Injeksi Kalmoxilin
Tiap 5 ml suspensi mengandung amoksisilin trihidrat setara
dengan amoksisilin 250 mg. Tiap vial mengandung amoksisilin
natrium setara dengan amoksisilin 1000 mg.
Indikasi : amoksisilin injeksi diberikan bila pemberian oral
tidak memungkinkan. Amoksisilin diindikasikan untuk terapi
infeksi yang disebabkan oleh bakteri Gram negatif, dalam
kasus ini sebagai terapi antibiotik terhadap Salmonella typhi.
5. Injeksi Ondansentron

16

Tiap ml injeksi mengandung ondansentron hydrocloride setara


dengan ondansen
tron 2 mg. Indikasi : penanggulangan mual dan muntah.
6. Injeksi Cortidex
Cortidex mengandung dexamethason yang merupakan
glukokotrikoid sintesis yang mempunyai daya antiinflamasi 25
kali lebih kuat daripada hidrokortison dan juga bersifat sebagai
antialergi. Indikasi : terapi antiinflamasi dan kostikosteroid
yang berfungsi untuk mengurangi rasa nyeri dan mencegah
kekambuhan asma akibat alergi pada pasien.
7. Injeksi Kalfoxime
Tiap vial mengandung cefotaxime sodium setara dengan
cefotaxime. Indikasi : terapi untuk infeksi yang disebabkan
oleh organisme Gram negatif seperti Salmonella typhi.
8. Paracetamol tablet
Komposisi : Tiap tablet mengandung parasetamol 500 mg
Indikasi : Sebagai antipiretik untuk menurunkan demam dan
sebagai analgesik untuk mengurangi rasa nyeri pada sakit
kepala.
9. Dialac
Komposisi
Tiap sachet mengandung :
Lactobacillus acidophilus dan Tyndallized luopilizate 340 mg.
Dextrose 322 mg
Vegetable cream powder 45,1 mg
Milk calcium 20 mg
Strawberry fragrance powder 200 mg
Strawberry flavour powder 40 mg
Niacin 1 mg
Zinc oxide 1,3 mg
Thiamin hydrocloride 3 mg
Riboflavin 0,3 mg
Pyridokxine hydrocloride 0,3 mg
Sucrose 1 mg
Stevioside 1 mg
Ascorbid acid 25 mg

17

Indikasi : untuk mengembalikan keseimbangan mikroflora


intestinal dan memperbaiki keadaan intestinal yang mengalami
gangguan khusus nya pada anak dan dewasa.
10. Zink
Komposisi : Tiap tablet dispersibel mengandung Zink sulfat 7
hidrat 88,0 mg seara dengan zink elemetal 20,0 mg
Indikasi : Zink dispersibel tablet mengandung tablet terapi
pelengkap diare pada anak-anak digunakan bersama dengan
Oral Rehydration Salts
11. Luminal tablet
Tiap tablet mengandung phenobarbital. Indikasi : digunakan
untuk mencegah kejang akibat suhu tubuh pasien yang tinggi
hingga 40C. Phenobarbital memiliki sifat yang dapat
memblokir pelepasan muatan listrik di otak.
12. Dexamethasone
Tiap tablet mengandung dexamethason 0,5 mg atau 0,75 mg.
Indikasi : sebagai anti alergi dan anti inflamasi, dan pengganti
Kalfoxime (dexamethason injeksi) yang sudah tidak diberikan,
maka diberikan dexamethason oral.

c. Assesment
Drug Related Problem (DRP)
Drug

Related Pertanyaan
Problem

Jawaban
Ya

Korelasi
obat Adakah obat
dengan masalah tanpa indikasi
medis
medis
Adakah
(correlation

Tidak

Komentar

Semua obat yang diberikan


sudah sesuai dengan indikasi
Batuk pasien sudah diobati

18

between drug
therapy
&
medical
problem )

masalah medis
yang
tidak
diobati
Apakah obat
yang
digunakan
terbukti efektif

dengan diberikan ambroxol


pada saat pasien pulang

Suhu badan pasien sudah


turun

pada

pusing

saat

pulang,

sudah

berkurang,

hasil

mulai
lab

menunjukkan bahwa bakteri


Salmonella typhi antigen O
Apakah obat
yang
digunakan
aman

Ketepatan

Apakah terapi
non
obat
diperlukan

dan antigen H sudah negatif.


Pasien tidak mengalami
keluhan akibat efek samping
dari

obat-obat

yang

digunakan.
pasien perlu istirahat total
ninimal 7 hari setelah bebas
demam; pasien perlu banyak

pengobatan

minum

(Appropriate

air

putih

dan

makanan yang lunak serta

therapy)

banyak mengandung kalori,


vitamin dan protein; pasien

Drug regimen

Apakah obat
yang
digunakan
dapat
mencapai hasil
yang
diinginkan
Apakah obat
yang
digunakan
sesuai untuk
pasien
Apakah

perlu menjaga kebersihan .


Penurunan
suhu
badan,
penurunan rasa pusing dan
bakteri penyebab tifoid sudah
negatif.

Obat yang digunakan sudah


sesuai

berdasarkan

terapi

demam tifoid dan gejala

19

gejala yang dialami pasien.


Dosis yang diberikan sudah

besaran dosis
sudah
tepat
untuk pasien
Apakah
frekwensi
pemberian
sudah tepat
Apakah lama
pemberian
obat
sudah
tepat

sesuai dengan usia dan berat


badan pasien.

Frekwensi

pemberian

masing-masing obat sudah


tepat.

Hanya perlu diberitahukan


kepada pasien agar antibiotik
nya

yaitu

dibawa

cepsfan
pulang

yang
harus

dihabiskan, dan paracetamol


hanya diminum jika terjadi
demam.
Duplikasi
terapi/
Polifarmasi

Adakah terjadi
duplikasi
terapi

Untuk

penggunaan injeksi

Bioceftdan
yang

isi

kalfoxime

nya

cefotaxime,

sama-sama

tidak

terjadi

duplikasi terapi karena obat


tersebut diberikan pada hari
drug Adakah gejala/
masalah medis
reaction
yang
disebabkan
oleh obat
Adakah
Interaksi obat

yang berbeda.
Tidak ada gejala /masalah

Adverse

medis yang dialami pasien


akibat penggunaan obat.

Interaksi

potensial

bisa

interaksi

obat-

terjadi antara Dialac dan

obat

yang

antibiotik

berdampak

seperti

kalfoxime, bioceft dan

klinis

kalmoxilin,

dimana

Dialac

berfungsi

mengembalikan flora normal


pada

usus,

sementara

antibiotik-antibiotik
20

tsb

berfungsi membunuh bakteribakteri termasuk juga bakteri


baik / flora normal pada usus.
Luminal

dan

paracetamol

jika diberikan dalam jangka


waktu

yang

lama

meningkatkan
Adakah

interaksi obat-

akan
efek

hepatotoksik.
Tidak ada interaksi antara
obat dan makanan

makanan yang
berdampak
klinis
Adakah
interaksi

obat-

Tidak ada interaksi antara


obat

pemeriksaan

dan

pemeriksaan

laboratorium.

laboratorium
yang berdampak
klinis

Apakah terjadi
Alergi

obat

Intoleransi

Tidak terjadi alergi atau

alergi/

intoleransi

intoleransi

terhadap obat

pada

pasien

terhadap obat

d. Plan
Pasien harus istirahat total sampai minimal 7 hari bebas
demam atau kurang lebih selama 14 hari.
Perlu sekali dijaga higiene perseorangan, kebersihan tempat
tidur, pakaian, dan peralatan yang dipakai oleh pasien.

21

Berikan

cairan

dan

karbohidrat

yang

cukup

untuk

mengimbangi hipermetabolisme akibat peningkatan suhu


Makanan yang cukup cairan, kalori, vitamin & protein,
makanan lunak, mengurangi konsumsi makanan asam dan
pedas.
Mengontrol suhu badan
Monitoring penggunaan antibiotik

PEMBAHASAN
Anak MI 12 tahun masuk rumah sakit Tugurejo pada tanggal 4
Pebruari 2013 dengan riwayat febris typhoid, diare, mual, muntah, dan
lemas. Diagnosis dokter adalah febris typhoid.
Demam tifoid (tifus abdomial, enteric fever) adalah penyakit
infeksi akut yang biasa terdapat pada saluran pencernaan dengan gejala
demam yang lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran pencernaan dengan
atau tanpa gangguan kesadaran.
Terapi yang digunakan adalah infus RL (ringer lactat) yaitu untuk
mengembalikan keseimbangan air dan elektrolit yang kemudian

22

digantikan dengan infus D5% yang mengandung glukosa yang berfungsi


untuk menambah kalori dan mengembalikan keseimbangan elektrolit.
Injeksi Bioceft mengandung cefotaxime ( golongan sefalosporin) yang
berfungsi sebagai antibakteri. Injeksi ondansentron berfungsi sebagai
penanggulangan mual dan muntah. Cortidex mengandung dexamethason
yang

merupakan

glukokotrikoid

sintesis

yang

mempunyai

daya

antiinflamasi 25 kali lebih kuat daripada hidrokortison dan juga bersifat


sebagai antialergi. Amoksisilin diberikan sebagai antibakteri dan sekaligus
untuk membantu menurunkan demam dengan cara membunuh bakteri
Salmonella typhi yang mengandung endotoksin yang menyebabkan
peningkatan suhu tubuh pada pasien.
Paracetamol digunakan sebagai

antipiretik

atau

analgetik.

Kalfoxime juga sebagai antimikroba. Zinc dan dialac digunakan sebagai


kombinasi untuk mengatasi keluhan diare dan mengembalikan keadaan
normal intestinal. Zinc merupakan mikronutrien yang mempunyai banyak
fungsi antara lain berperan penting dalam proses pertumbuhan dan
diferensiasi sel, sintesis DNA serta menjaga stabilitas dinding sel. Zinc
berfungsi berperan menjaga integritas mukosa usus melalui fungsinya
dalam regenerasi sel dan stabilitas membran sel. Pada saat diare terjadi
defisiensi Zinc sehingga dibutuhkan terapi tambahan zinc peroral.
Penelitian

menunjukkan

dampak

positif

pemberian

zinc

dalam

memperpendek durasi diare dan mengurangi proporsi diare menjadi kronik


serta mengurangi resiko kekambuhan diare. Probiotik merupakan bakteri

23

normal yang terdapat pada usus, membantu dalam hal proteksi usus
terhadap serangan bakteri patogen.
Pemberian luminal dan paracetamol sebenarnya memberikan
interaksi obat dimana kadar paracetamol akan meningkat akibat pemberian
bersamaan dengan luminal, tetapi karena pemberian luminal hanya pada
hari pertama MRS, mungkin pemberian ini dimaksudkan untuk mencegah
terjadinya kejang akibat suhu badan yang meningkat (demam) hingga
40C.

KESIMPULAN
Pada kasus ini pasien mengalami demam tifoid, dengan riwayat
asma, keluhan batuk, mual, muntah, lemas, dan demam tinggi. Terapi yang
diberikan sudah tepat, hanya keluhan untuk batuk baru diberikan pada saat
pulang, seharusnya pada saat pasien mengalami keluhan sudah diberikan.

DAFTAR PUSTAKA
Sudoyo A.W. 2009. Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Edisi V. Jakarta :
Interna Publishing. Hal. 2797-2806
Tjay T.H. 2006. Obat-Obat Penting. Edisi VI. Jakarta : PT.Elex Media
Komputindo
Utami T.N. 2010. Demam Tifoid. Universitas Riau.

24