Anda di halaman 1dari 5

UNIVERSITAS GADJAH MADA

FAKULTAS HUKUM

SIKAP MENTAL & ETIKA PROFESI


( K.16 )
( KURATOR )
NAMA : PANDU WISNUMURTI
NIM
: 2013/348930/hk/19605

LAPORAN SIKAP MENTAL DAN ETIKA PROFESI HUKUM

SKENARIO: KURATOR
Kembalikan Uang Kami!
Sebuah perusahaan yang memiliki banyak hutang pada beberapa kreditur, akhirnya
dipailitkan oleh penetapan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dua kreditur dari perusahaan itupun
menuntut pembayaran utang mereka sesuai dengan nominal utang dan dengan segera. Selain
memiliki utang pada kreditur-kreditur tersebut, perusahaan juga masih memiliki tunggakan
kewajiban pembayaran pajak pada negara sebagai kreditur preferen. Untuk mengatasi
pemberesan utang-utang tersebut ditunjuklah seorang kurator untuk menyelesaikan masalah
tersebut. Kurator tersebut adalah seorang kurator yang memiliki reputasi yang cukup baik dan
terkenal mampu menyelesaikan permasalahan secara adil. Secara kebetulan, Kurator tersebut
adalah keponakan dari salah satu direktur perusahaan yang pailit.
TAHAP 1 : KLARIFIKASI TERMINOLOGI
1. Kurator
: Balai Harta Peninggalan atau orang perseorangan yang diangkat
oleh Pengadilan untuk mengurus dan membereskan harta Debitor
Pailit di bawah pengawasan Hakim Pengawas sesuai dengan
Undang-Undang ini. (pasal 1 UU No. 37 Tahun 2004).
2. Kreditur Preferen
: Kreditur yang diutamakan dalam pelunasan utang.
3. Reputasi
: Perbuatan yang bertujuan/ menimbulkan nama baik.
4. Pailit
: - Jatuh bangkrut atau jatuh miskin.
- Aset debitur tidak cukup untuk melunasi tanggungan utang
kepada kreditur.
- Status hukum di mana debitur tidak dapat bayar utang bila jatuh
tempo.
TAHAP 2 : PENETAPAN MASALAH
- Penunjukkan kemenakan direktur sebagai kurator.
TAHAP 3&4 : CURAH PENDAPAT PENGEMBANGAN HIPOTESIS
- Kekhawatiran terhadap subjektivitas kurator
- Kurator menyelesaikan masalah di luar pengadilan atau sebagai arbitrator.
- Pro kontra keetisan kurator dari kalangan kerabat sendiri.
TAHAP 5 : PENETAPAN TUJUAN PEMBELAJARAN
- Etiskah keponakan direktur ditunjuk sebagai kurator.

TAHAP 6: HASIL INDIVIDU


Etiskah keponakan direktur ditunjuk sebagai kurator.
Kalau ditinjau berdasarkan Undang-undang No. 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan
Penundaan kewajiban Pembayaran Utang pada pasal 15 ayat 3 yang berisi :
Kurator yang diangkat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus independen, tidak
mempunyai
benturan kepentingan dengan Debitor atau Kreditor, dan tidak sedang menangani perkara
kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran utang lebih dari 3 (tiga) perkara.
Maka bisa dikatakan kurator tersebut tidak etis jika menangani kasus pada scenario diatas karena
diduga bisa terjadi benturan kepentingan karena direktur perusahaan dari debitur tersebut adalah
keponakan dari kurator.
Kurator dan pengurus harus independen, tidak memiliki benturan kepentingan dengan debitur
atau kreditur dan bertindak obyektif.
01 Keberadaan dan kelangsungan profesi kurator atau pengurus bergantung sepenuhnya pada
kepercayaan masyarakat pada obyektifitas dan independensi profesi kurator atau pengurus.
Kepercayaan masyarakat atas kredibilitas profesi kurator atau pengurus akan menurun, atau
bahkan hilang, jika terbukti atau secara wajar patut diduga bahwa kurator atau pengurus telah
kehilangan obyektifitasnya serta independensinya.
02 Untuk memelihara obyektifitas dan independennya, dalam bertindak kurator atau pengurus
harus bebas dari pengaruh siapapun dan apapun serta tidak memiliki benturan kepentingan
dengan pihak manapun yang terlibat dalam kepailitan atau penundaan pembayaran.
03 Kurator atau pengurus dilarang untuk menggunakan atau memanfaatkan penugasannya untuk
kepentingan ekonomis atau keuntungan lainnya bagi pribadinya (atau imbalan jasanya sebagai
kurator dan pengurus) atau pihak Terafiliasi.
Kurator atau pengurus hanya dapat menjalankan tugasnya jika pada setiap waktu ia tidak
memiliki benturan kepentingan dalam penugasan tersebut.

01 Untuk keperluan pemeriksaan kemungkinan benturan kepentingan, kurator dan pengurus


wajib membuat dan memelihara daftar nama klien dan jenis pekerjaan yang pernah dilakukan
dalam pekerjaannya baik di dalam maupun di luar kepailitan atau PKPU.

02 Sebelum menerima penugasan, kurator atau pengurus wajib, baik jika diminta maupun tidak
diminta oleh pihak manapun, memeriksa dan memastikan bahwa ia tidak memiliki benturan
kepentingan dengan debitur maupun kreditur yang saat itu diketahui berdasarkan daftar kreditur
yang tercantum dalam permohonan pailit maupun dokumen lain yang diajukan bersama
permohonan tersebut. Jika diminta, kurator dan pengurus membuat pernyataan penerimaan
penugasan yang menyatakan dan menegaskan bahwa ia tidak memiliki benturan kepentingan.

03 Jika sewaktu melaksanakan penugasan kurator atau pengurus mengetahui bahwa ia ternyata
memiliki benturan kepentingan dengan satu atau lebih kreditur, Hakim Pengawas atau dengan
anggota Majelis Hakim untuk penugasan tersebut, maka ia wajib:
memberitahukan secara tertulis adanya benturan tersebut kepada Hakim Pengawas, debitur, rapat
kreditur dan komite kreditur, jika ada, dengan tembusan pada Dewan Kehormatan AKPI, serta
wajib segera memanggil rapat kreditur untuk diselenggarakan secepatnya khusus untuk
memutuskan masalah bentuan tersebut; atau segera mengundurkan diri.

04 Jika kurator atau pengurus memberitahukan adanya benturan kepentingan tersebut pada
debitur atau rapat kreditur atau panitia kreditur (jika ada), maka debitur atau rapat kreditur
memutuskan untuk menerima atau menolak benturan kepentingan. Jika rapat kreditur menerima,
maka kurator dan pengurus dapat tetap menjalankan tugasnya. Jika rapat kreditur menolak, maka
rapat kreditur tersebut juga harus memutuskan untuk memberhentikan kurator atau pengurus
yang bersangkutan. dan segera menggantinya dengan menunjuk kurator atau pengurus baru. Jika
debitur menolak, maka debitur dapat meminta Pengadilan untuk mengganti kurator dan
menunjuk kurator atau pengurus baru.
05 Jika kurator atau pengurus mengundurkan diri, maka kurator atau pengurus wajib segera
memanggil rapat kreditur untuk menunjuk kurator atau pengurus baru.
06 Penggantian kurator atau pengurus karena adanya benturan kepentingan ini harus dilakukan
sesuai dengan ketentuan-ketentuan UU Kepailitan dan Standar ini.

Berdasarkan penjelasan diatas maka sudah bisa dikatakan kurator tersebut tidaklah etis jika
menangani kasus seperti scenario diatas karena salah satu direktur perusahaan debitur adalah
keponakan dari kurator dan ditakutkan bisa terjadi benturan kepentingan dan bisa mempengaruhi
objektifitas dari kurator

Sumber:
http://sidbers.wordpress.com/2011/09/27/standar-profesi-kurator-dan-pengurusindonesia/

Undang-undang No. 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan penundaan kewajiban pembayaran
utang