Anda di halaman 1dari 4

Kecelakaan Kerja di PT LSI, 1 Tewas, Tiga Luka Bakar

Minggu, 19 Mei 2013 Kabupaten Tanggerang


Dua kecelakaan kerja terjadi di PT Lautan Steel Indonesia (LSI). Andi Aryana
Sofiat (25) tewas tertimpa besi saat tali crane pengangkut besi dan baja jadi putus,
Jumat (17/5). Sebelumnya, Kamis (16/5) malam tungku pembakaran di pabrik
peleburan baja tersebut meledak dan melukai tiga pekerjanya. Di antaranya Triyanto
(35) yang mengalami luka bakar di muka, Maman (29) dan Ade (29) mengalami luka
bakar hampir di seluruh tubuhnya.
Ketua DPC Konferderasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (K-SPSI)
Kabupaten Tangerang, Imam Sukarsa mengungkapkan, awalnya sekitar pukul 09.30,
Irawan (26) operator crane tengah melakukan pengangkutan baja dan sejumlah
produk jadi pabrik. Naas, tali crane tiba-tiba putus dan sejumlah potongan baja dan
besi dari ketinggian sekitar 10 meter menimpa Andi Aryan yang berada di bawahnya.
Meski sudah sudah menggunakan helm pengaman, tapi korban tidak bisa
diselamatkan, kata Imam saat dihubungi wartawan, kemarin.
Pada Kamis malamnya sekitar pukul 21.00 Wib, kata Imam, tungku
peleburan besi di PT LSI meledak. Kejadian ini melukai tiga pekerjanya yakni
Triyanto Maman dan Ade. Korban luka bakar ini juga dilarikan ke RS Mulia Insani
untuk mendapat perawatan medis, tukas Imam.
Atas kejadian ini, pihak perusahaan dinilai tidak mampu memenuhi standar
Keamanan Keselamatan Kerja (K3). Kecelakaan kerja di pabrik peleburan besi ini,
sudah yang kesekian kalinya. Sejak 8 bulan lalu, sudah tiga jiwa melayang. Dan
perusahaan tidak memberikan jaminan kesehatan sesuai dengan UU Nomor 3 Tahun
1992 tentang Jamsostek.

Kami Bekerja Bukan untuk Menyerahkan Nyawa


20 December 2013
Ledakan ketel mesin, tangan kakai sering terjepit mesin, terkena lemparan besi
bekas potongan, kulit melepuh kena besi panah, pinggang terkena jatuhan besi
sampai lumpuh sudah terbiasa terjadi di sini fenomena bekerja di pabrik peleburan
besi
Bagaimana rasanya jika kita bekerja minimal 12 jam sehari, tanpa istirahat
dan tanpa mempunyai waktu libur satu minggu sekali? mungkin saya akan stress,
tidak sanggup bekerja lalu berhenti bekerja. Itulah kondisi pekeja PT Shun Fang
Langgeng Jaya Stell (PTSFT). Sejak perusahaan mulai berproduksi, para pekerja di
sana setiap hari bekerja dari jam 7 pagi sampai 7 malam terkadang bahkan sampai
jam 9 malam, tiada disediakan waktu istirahat walaupun di UU ketenagakerjaan di
negeri ini mengatur. Sehari bekerja lebih dari 12 jam, tanpa libur resmi yang sudah
menjadi haknya upah yang mereka dapatkan masih di bawah 1,2 juta.
Tiada pelatihan yang harus mereka dapatkan ketika pertama menginjak pabrik
peleburan besi, tiada informasi apa yang harus di hindari, tiada teori bagaimana
menjalankan mesin produksi, semuanya dilakukan dengan melihat langsung cara
kerja pekerja yang sudah bergabung di pabrik tersebut dan anak baru mengikuti pola
kerja mereka. tangan kaki terjepit mesin, kulit kami terkena cipratan peleburan
besi sudah biasa terjadi di sini ujar hendra sambil menunjukkan bekas luka bakar
yang dia dapatkan, dan temannya yang lain dengan senang hati juga menunjukkan
kepadaku, ini masih beruntung lukanya sedikit, teman saya yang sudah keluar
kerja paha atas kakinya terkena siraman besi panas sampai celana jeans yang
digunakan menempel dengan kulitnya, kan panas besi sampai lebih 700 Ocelcius.
Bagi mereka luka-luka bakar tersebut adalah resiko kerja yang harus mereka hadapi
dan tidak bisa dihindari, tapi cerita kecelakaan kerja yang harus di hadapi bukan itu
saja, contoh-contoh kecelakan kerja yang pernah terjadi di PT SFT sebagai berikut
1. Pekerja tertimpa besi seberat 500 Kg, ketika bongkahan besi mau dimasukkan
ke tungku peleburan, namun lepas dari kait penyangga dan menimpa pekerja
di bawahnya, dari pinggang sampi ke kaki kiri lumpuh tidak bisa digerakkan
lagi
2. Terkena siraman leburan api, dari tangan sampai kaki
3. Jatuh dari lantai dua

4. Terkena lemparan potongan besi yang mengenai tubuh mereka bahkan bisa ke
wajah pekerja
5. Potongan besi yang terlempar di atap pabrik, sampai sekarang masih
menempel di atap pabrik dan sudah lama tidak di ambil, resiko yang dihadapi
potongan besi yang beratnya puluhan Kg bisa jatuh sewaktu-waktu menimpa
pekerja yang ada di bawahnya.
Lalu bagaimana mereka menghadapinya, untuk contoh kasus pertama pekerja
hanya diberikan kompensasi 50 juta lalu diberhentikan bekerja karena sudah
tidak bisa bekerja kembali, dan uang tersebut habis untuk biaya pengobatan, lalu
bagaimana dengan kasus jatuh dari lantai dua, cukup dibawa korban di bawa ke
kantin di suruh istirahat menunggu pihak HRD datang untuk memberikan
persetujuan harus di bawa ke dokter atau tidak, namun akhirnya cukup di bawa
ke tukang pijat dan persoalan selesai. Biaya pengobatan menjadi tanggung jawab
pekerja, perusahaan tidak mau menanggung biaya pengobatan, bagi perusahaan
kecelakaan kerja yang terjadi adalah kesalahan pekerja karena tidak mau berhatihati. Baru di bulan Agustus 2013, pekerja di sana di daftarkan sebagai anggota
Jamsostek namun tidak di ikutkan di Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JKP) dan
para pekerja harus menanggung biaya pengobatan baik karena sakit ataupun
disebabkan kecelakaan kerja.
Panas, berdebu, asap, bising adalah kondisi real yang harus di hadapi pekerja
disana, jangankan mendapatkan Asuransi kesehatan, Alat Pelindung Diri (APD)
sulit untuk mendapatkannya, Helm/pelindung kepala tanpa penutup wajah
memang diberikan, namun bagaimana dengan masker, pelindung telinga, sepatu,
baju keselamatan kerja?, adalah sebuah kemewahan yang sulit di capai pekerja
PT SFT, baju kerja cukup menggunakan kaos sehari hari yang dibeli dari gaji
mereka dapatkan, meminta sepatu kerja standar keselamatan kerja perusahaan
cukup memberikan uang Rp 20.000,- ke pekerja agar membeli sendiri.
Mereka butuhkan di sela-sela bekerja adalah istirahat walaupun itu hanya 30
menit, namun resiko yang harus mereka hadapi mendapatkan teguran dari tenaga
kerja asing/pengawas dilarang meninggalkan pos-pos kerjanya, bagi mereka
meninggalkan pos-pos kerja selama 10-15 menit beresiko gagalnya proses
produksi, maka yang bisa mereka lakukan untuk makan mengisi perut kosong
adalah makan berdiri di dekat pos-pos kerja yang panas, kotor berdebu dan
berasap, tanpa bisa membersihkan tangan mereka untuk cuci tangan, bukan saja
hanya sulit meninggalkan tempat untuk makan, para pekerja di sana yang
mayoritas muslim kesulitan melakukan ibadah sholatnya bukan aja makan di
tempat kerja tanpa bisa membersihkan badan, kita tidak bisa sholat, mungkin
kita sudah di anggap kafir karena sejak kerja di sini tidak pernah sholat
Jumat, dan kalau kita sholat TKA pasti melarang dan marah-marah ke kita,

dan bahkan ada yang pecat langsung karena TKA nya melihatnya sholat jika
beribadah mereka di larang, maka tempat ibadah juga tidak ada.
Sebuah potret kehidupan tenaga kerja di salah ujung barat Ibu Kota negeri ini,
dan di kawasan industry Serang timur ada sekitar 5 pabrik yang beroperasi di
peleburan besi, dan kondisinya hampir sama, upah di bawah UMK yang sudah di
tentukan, kesehatan dan keselamatan yang terancam namun walaupun kondisi
tersebut sudah dilaporkan ke pemerintah dalam hal ini Dinas Tenaga kerja, tidak
ada tindakan sanksi yang diberikan ke pengusahan tersebut.
http://regional.kompasiana.com/2013/12/20/kami-bekerja-bukan-untukmenyerahkan-nyawa--620122.html