Anda di halaman 1dari 13

Daya Kecambah dan Indeks Vigor

Proses perkecambahan benih merupakan suatu rangkaian kompleks dari perubahan-perubahan


morfologi, fisiologi dan biokimia. Daya kecambah biji erat hubungannya dengan pemasakan biji, dalam
kehidupan seari-hari sering dibayangkan bahwa perkecambahan biji adalah suatu peristiwa atau proses pada
biji yang terjadi sesudah panen atau biji berkecambah setelah biji tersebut masak. Akan tetapi biji bisa
berkecambah jauh sebelum tercapai kemasakan fisiologis atau sebelum tercapai berat kering maksimum.
Daya kecambah ( viability ) akan menimgkat dengan bertambah tuanya biji dan mencapai maximum
germination, tetapi sesudah itu akan menurun dengan kecapatan yang sesuai dengan keadaan lapangan.
Makin jelek keadaan lapangan maka makin cepat turunnya viability.
Biji merupakan suatu organisasi yang teratur rapi, mempunyai persediaan bahan makanan yang
cukup untuk melindungi serta memperpanjang kehidupannya. Walaupun banyak hal yang terdapat pada biji,
tetapi baik mengenai jumlah, bentuk maupun strukturnya, mempunyai satu fungsi dan tujuan yang sama
yaitu menjamin kelansungan hidupnya(Anonim,2009).
Pengertian benih dalam ilmu tumbuhan(botany) ialah biji yang berasal dari ovule. Dan ada yang
mendefinisikan benih yaitu dengan dimana terdapoat fase generatif dari siklus kehidupan tumbuhan yang
dipakai untuk memperbanyak dirinya secara generatif (Jurnalis Kamil, 1982).
Proses perkecambahan benih merupakan kompleks dari perubahan-perubahan morfologi, fisiologi
dan biokimia. Dan yang menjadi factor-faktornya ialah : tingkat kemasakan benih, ukuran benih,
dormansai,dan penghambat perkecambahan. Benih dapat berkecambah apabila dalam keadaan sehat atau
terbebas dari pathogen yang berupa bakteri , virus, kotoran dll atau dengan kata lain benih tersebut dalam
kondisi optimum. Informasi tetang daya kecambah benih itu sendiri yang ditentukan di Laboratorium adalah
kondisi yang optimum karena keadaan yang suboptimum dapat mengakibatkan turunnya persentase
perkecambahan serta lemahnya pertumbuhan selanjutnya. Secara ideal, semua benih harus memiliki
kekuatan tumbuh yang tinggi, sehingga apabila ditanam pada kondisi lapangan yang beraneka ragam akan
tetap tumbuh sehat dan kuat serta dapat berproduksi tinggi dengan kualitas baik, diaman vigor benih
dicerminkan oleh dua informasi tetang viabilitas. Masing-masing berisi tentang kekuatan tumbuh dan daya

simpan. Kedua nilai fisiologis ini menempatkan benih pada kemungkinan kemampuannya untuk tumbuuh
menjadi tanaman normal meskipun keadaan biofisik lapangan produksi suboptimum / sesudah benih
melapaui suatu periode simpan yang lama( Lita Sutopo,1988 ).
Vigor dipisahkan antara vigor genetik dan vigor fisiologi. Vigor genetik adalah vigor benih dari galur
genetik yang berbeda-beda sedang vigor fisiologi adalah vigor yang dapat dibedakan dalam galur genetik
yang sama. Vigor fisiologi dapat dilihat antara lain dari indikasi tumbuh akar dari plumula atau koleptilnya,
ketahanan terhadap serangan penyakit dan warna kotiledon dalam efeknya terhadap Tetrazolium Test.
(Kartasapoetra,1986).
Pada hakekatnya vigor benih harus relevan dengan tingkat produksi, artinya dari benih yang
bervigor tinggi akan dapat dicapai tingkat produksi yang tinggi. Vigor benih yang tinggi dicirikan antara lain
tahan disimpan lama, tahan terhadap serangan hama penyakit, cepat dan merata tumbuhnya serta mampu
menghasilkan tanaman dewasa yang normal dan berproduksi baik dalam keadaan lingkungan tumbuh yang
sub optimal. Pada umumnya uji vigor benih hanya sampai pada tahapan bibit. Karena terlalu sulit dan mahal
untuk mengamati seluruh lingkaran hidup tanaman. Oleh karena itu digunakan kaidah korelasi misal dengan
mengukur kecepatan berkecambah sebagai parameter vigor, karena diketahui ada korelasi antara kecepatan
berkecambah dengan tinggi rendahnya produksi tanaman. Rendahnya vigor pada benih dapat disebabkan
oleh beberapa hal antara lain faktor genetis, fisiologis, morfologis, sitologis, mekanis dan mikrobia
( Lita Sutopo,1988 ).
Hasil pengamatan

waktu pengamatan hari


ke1
2
3
4
5
6
7
Total

benih yang tumbuh


kacang
kangkun
panjang
g
0
38
0
0
5
0
2
4
7
42

Keterangan
:
Benih awal sebanyak 50
Daya kecambah;
kacang panjang = 7x 100 % = 14%
50
Kangkung

= 42 x 100% = 84%
50

Vigor indeks = G1 + G2 + + Gn
D1 D2
Dn
V. I kacang panjang

=0 +0+0+0+0+5+2
1 2 3 4 5 6 7
= 1,11

Koefisien Vigor

K.V kacang panjang =

Jumlah koefisien vigor untuk 50 benih = 15.91 x 100% =31.82%


50

V. I kangkung
1

= 0 + 0 + 0 + 38 + 0 + 0 + 4
3 4 5 6 7

= 10.07
K.V kangkung

Jumlah koefisien vigor untuk 50 benih = 23.33 x 100% = 46.66%


50

Hasil pengamatan, kelompok 3 rombongan I (benih kacang merah dan kangkung darat).

waktu pengamatan hari


ke1
2
3
4
5
6
Total
Keterangan

Kacang merah
-

= tidak tumbuh
Busuk = 3

benih yang tumbuh


kangkun
kacang merah
g
1
33
27
6
17
4
2
1
5
47
49

kangkung
-

= tidak tumbuh
Busuk = 1

Daya kecambah;

kacang merah = 47x 100 % = 94%


50
Kangkung

= 49 x 100% = 98%
50

Vigor indeks = G1 + G2 + + Gn
D1 D2
Dn
V. I kacang merah

= 1 + 27 + 17 + 2
2
3
4 5
= 14.15

Koefisien Vigor

K.V kacang merah

Jumlah koefisien vigor untuk 50 benih = 14.59 x 100% = 29.18%


50

V. I kangkung
2

= 33 + 6 + 4 + 1 + 5
3 4 5 5

= 20.7
K.V kangkung

Jumlah koefisien vigor untuk 50 benih = 18.85 x 100% = 87.7%

50

Hasil dari pengamatan yang telah dilakukan, diketahui bahwa Daya kecambah kacang panjang ialah
14% dan Kangkung ialah 84%. Jumlah koefisien vigor untuk kacang panjang = 31.82% dan Jumlah koefisien
vigor untuk kangkung = 46.66%. seta data yang diperoleh dari kelompok lain pada kacang merah dan
kangkung ialah untuk kacang merah ialah 94% dan untuk Kangkung ialah 98%. Dan untuk Jumlah koefisien
vigor untuk kacang merah = 29.18% dan kangkung == 87.7%. hal tersebut membuktikan bahwa benih
memiliki vigor benih. menurut Lita Sutopo(1988), vigor benih dicerminkan oleh dua informasi tetang
viabilitas. Masing-masing berisi tentang kekuatan tumbuh/ daya perkecambahan dan daya simpan. Menurut
Kuswanto (1997), Perkecambahan benih merupakan salah satu kriteria yang berkaitan dengan kualitas benih.
Perkecambahan benih juga merupakan salah satu tanda dari benih yang telah mengalami proses penuaan.
Pengertian dari berkecambah itu sendiri adalah jika dari benih tersebut telah muncul plumula dan radikula di
embrio. Plumula dan radikula yang tumbuh diharapkan dapat menghasilkan kecambah yang normal, jika
faktor lingkungan mendukung. Rendahnya vigor benih dapat disebabkan oleh:
-

Genetic
Ada kultivar-kultivar tertentu yang lebih peka terhadap keadaan lingkungan yang kurang menguntungkan.

Fisiologis
Kondisi fisiologis dari benih dapat menyebabkan kekurangmasakan benih pada saat panen dan kemunduran
benih selam penyimpanan.

Morfologis
Dalam suatu kultivar biasanya terjadi peristiwa benih-benih yang lebih kecil menghasilkan bibit yang kurang
memiliki kekuatan tumbuh dibandingkan dengan benih yang besar

Sitologis
Kemunduran benih disebabkan oleh aberasi chromosome.

Mekanis
Kerusakan mekanis dapat terjadi ketika prosesing/penyimpanan dimana akan membuat rendah vigor pada
benih

Mikroba
Mikroorganisme seperti cendawan/bakteri yang terbawa oleh benih pada kondisi penyimpanan yang tidak
memenuhi syarat atatupun pada kondisi lapangan yang memungkinkan berkembangnya pathogen/cendawan
tersebut,yang berakibat pada penurunan vigor benih( Heydecker,1972).

Kurva vigor dan size dari pada biji hampir bersamaan (parallel) , begitu pula terhadap kurva berat
kering. Maximum vigor, maximum size, dan maximum dry wiight tercapai pada waktu yang sama yaitu
pada saat tercapainya masak fisiologis. Dibandingkan dengan berat kering, viability dan vigor turun lebih
cepat setelah masak fisiologis disebut post manuturity period sampai pada saat panen. Pengaruh
lingkungan pada periode ini lebih nyata terhadap kualitasbiji dari pada kuantitas biji. Pada umumnya

pengaruh lingkungan tersebut dapat dibedakan atas:


Pengaruh lingkungan lebih besar terhadap produksi.

Pengaruh lingkungan lebih kecil terhadap viability, vigor dan size dari pada biji.

Pengaruh lingkungan lebih kecil terhadap kualitas biji (Jurnalis Kamil, 1979).

DAFTAR PUSTAKA
Anonym.2009.Struktur Biji.www.My Gardening Page.com.( diakses: 14 Juni 2009 ).
Heydecker,W.1972.Vigour In Viability of Seeds.Chpman and Hall,Ltd.210-246.
Kamil ,Jurnalis.1982.Teknologi Benih 1. Angkasa.Bandung.
Kartasapoetra, A. G. 1986. Teknologi Benih, Pengolahan Benih dan Tuntunan Praktikum. CV Bina Aksara, Jakarta.
Kuswanto, H., 1997. Analisis Benih. ANDI, Yogyakarta.
Sutopo, Lita.1988.Teknologi Benih.CV Rajawali.Jakarta.

LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR-DASAR TEKNOLOGI BENIH
ACARA IV
INDEKS VIGOR PERKECAMBAHAN

DISUSUN OLEH
NAMA

:RIZKY ADI PRATAMA

NIM

:12897

GOLONGAN
ASISTEN KOREKSI:MIRANDA FERWITA SARI

LABORATORIUM TEKNOLOGI BENIH


JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

ABSTRAKSI

:C3

Indeks vigor merupakan indikator untuk mengetahui kecepatan dan keseragaman


perkecambahan Vigor lebih memberatkan pada kekuatan benih, kemampuan benih untuk
menghasilkan perakaran dan pucuk yang kuat pada kondisi yang tidak menguntungkan
(suboptimum) serta bebas dari serangan mikroorganisme benih.Benih yang baik memiliki vigor
dan keseragaman yang tinggi.Indeks vigor dapat diuji menggunakan metode top paper dan
pasir.Pengujian indeks vigor menggunakan benih padi dan kedelai.Jenis benih dan metode untuk
perkecambahan memiliki pengaruh berbeda terhadap indeks vigor benih.
Kata Kunci:indeks vigor,perkecambahan,padi,kedelai,top paper,pasir.
I.PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tingkat vigor merupakan komponen penting dalam menguji kualitas suatu benih.Indeks vigor
merupakan keseragaman dan kecepatan benih dalam berkecambah pada saat tertentu. Vigor lebih
memberatkan pada kekuatan benih, kemampuan benih untuk menghasilkan perakaran dan pucuk
yang kuat pada kondisi yang tidak menguntungkan (suboptimum) serta bebas dari serangan
mikroorganisme.Benih yang baik memiliki keseragaman yang tinggi.Indeks vigor sangat
dipengaruhi oleh faktor luar dan dalam benih.Faktor luar meliputi kadar
air,kelembaban,cahaya,suhu,dan oksigen.Faktor dalam meliputi dormansi benih,ketebalan kulit
benih,dan ukuran benih.
Tujuan
1.Pengujian kecepatan perkecambahan benih.
2.Membiasakan dengan konsep indeks matematis vigor benih.
3.Pengujian keseragaman bibit.

II.TINJAUAN PUSTAKA
Perkecambahan benih merupakan salah satu kriteria yang berkaitan dengan kualitas benih.
Perkecambahan benih juga merupakan salah satu tanda dari benih yang telah mengalami proses penuaan.
Pengertian dari berkecambah itu sendiri adalah jika dari benih tersebut telah muncul plumula dan radikula di
embrio. Plumula dan radikula yang tumbuh diharapkan dapat menghasilkan kecambah yang normal jika faktor
lingkungan mendukung. (Kuswanto, 1997)
Vigor dipisahkan antara vigor genetik dan vigor fisiologi. Vigor genetik adalah vigor benih dari galur genetik
yang berbeda-beda sedang vigor fisiologi adalah vigor yang dapat dibedakan dalam galur genetik yang sama.
Vigor fisiologi dapat dilihat antara lain dari indikasi tumbuh akar dari plumula atau koleptilnya, ketahanan
terhadap serangan penyakit dan warna kotiledon dalam efeknya terhadap Tetrazolium Test.
(Kartasapoetra,1986)
Perkecambahan dimulai saat air masuk ke dalam biji (imbibisi) dan berakhir dengan diawali
elongasi/perpanjangan sumbu embrionik, biasanya radikula. Perkecambahan diikuti oleh banyak peristiwa
yaitu hidrasi protein, perubahan struktur subseluler, respirasi, makromolekul sintesis, dan
pemanjangan/elongasi sel. Pada perkecambahan, tumbuhan meneruskan pertumbuhan dan perkembangan

yang terjadi saat embrio tidak aktif. Beberapa biji akan segera berkecambah pada lingkungan yang sesuai
(Bewley et al., 1994).
Ciri-ciri benih bervigor adalah tahan bila disimpan,dapat berkecambah dengan cepat dan seragam,bebas
dari penyakit benih,tahan terhadap gangguan mikroorganisme,bibit tumbuh kuat baik pada tanah basah
maupun kering,bibit mampu memanfaatkan bahan makanan yang ada di dalam benih dengan maksimal,
sehingga tumbbuh jaringan baru,laju pertumbuhan bibit tinggi, dan mampu berproduksi tinggi dalam waktu
tertentu (Heydecker, 1972).
Pengujian vigor tidak hanya mengukur persentase benih yang layak dalam sampel,selain itu juga
mencerminkan kemampuan benih untuk menghasilkan bibit normal dalam waktu kurang dari kondisi
pertumbuhan optimum atau merugikan.Benih layak digunakan jika benih tumbuh normal karena kondisi
lingkungan seperti suhu yang optimum,kelembaban dan kondisi cahaya sesuai.Benih memiliki kemungkinan
untuk melanjutkan pertumbuhan dan menyelesaikan siklus hidup di berbagai kondisi lingkungan.Pada
awalnya,benih mengalami perlambatan dalam berkecambah kemudian kehilangan kemampuan untuk
berkecambah.Pengujian vigor merupakan praktik penting dalam pengujian kualitas benih.Pengujian vigor
digunakan untuk indicator potensi penyimpanan benih(Anonim,2014).
Pengujian daya tumbuh benih merupakan proses yang penting.Hal tersebut dilakukan untuk memberi
jaminan kepada petani dan masyarakat untuk mendapatkan benih sesuai dengan Standar Nasional
Indonesia(SNI).Benih yang memiliki daya tumbuh yang baik memiliki indeks vigor yang besar.Selain itu,benih
yang diuji bertujuan agar mendapatkan benih yang berkualitas tinggi.Benih yang baik akan menguntungkan
bagi petani(Lesilolo dkk.,2013).

Kualitas benih yang baik memiliki daya tumbuh dan indeks vigor yang tinggi.Indeks vigor
merupakan keserampakan benih dalam berkecambah.Indeks vigor yang tinggi dapat diperoleh
dengan cara menjaga kondisi lingkungan saat penyimpanan.Perkecambahan dan pertumbuhan
embrio merupakan proses penting pada tanaman untuk pertanian dan ekosistem alami(Morla et
al.,2011).
III.METODOLOGI

Praktikum Dasar-Dasar Teknologi Benih yang berjudul Indeks Vigor Perkecambahan


dilaksanakan pada hari Rabu,2 April 2014 pukul 13.30 WIB di Laboratorium Teknologi Benih
dan di dekat luar rumah kaca,Fakultas Pertanian,Yogyakarta.Peralatan yang digunakan,yaitu
petridish,pinset,dan bak perkecambahan plastic.Bahan yang digunakan,yaitu kertas
filter,kapas,pasir,aquades,air,benih padi,dan benih kedelai.
Pada metode top paper,benih diambil 200 benih padi dan 200 benih kedelai masing-masing
empat ulangan setiap ulangan terdapat 50 benih.Petridish disiapkan kemudian diberi alas kapas
dan kertas filter.Air dibasahkan pada alas yang sudah terletak di dalam petridish.Benih ditata di
atas alas pada petridish satu petridish dianggap 1 ulangan.Benih dikecambahkan selama 7 hari
dan dihitung jumlah kecambahnya setiap hari.Pada metode pasir,benih diambil 200 benih padi
dan 200 benih kedelai.Satu ulangan 50 benih.Bak perkecambahan plastik diisi pasir
secukupnya.Benih ditata pada pasir di bak perkecambahan plastik kemudian benih ditutup
dengan pasir dengan ketebalan 1-2 cm.Setelah itu,benih disiram dengan air.Keadaan pada pasir
diusahakan selalu lembab.Benih dikecambahkan selama seminggu.Benih disiram setiap hari
dengan air secukupnya.Benih yang berkecambah setiap harinya dihitung.Indeks vigor masingmasing benih pada perlakuan dihitung dan dibuat grafik.
IV.HASIL DAN PEMBAHASAN

Indeks vigor merupakan indikator untuk mengetahui kecepatan dan keseragaman


perkecambahan Vigor lebih memberatkan pada kekuatan benih, kemampuan benih untuk
menghasilkan perakaran dan pucuk yang kuat pada kondisi yang tidak menguntungkan
(suboptimum) serta bebas dari serangan mikroorganisme benih. Perkecambahan adalah proses
pertumbuhan embrio dan komponen-komponen biji yang memiliki kemampuan untuk tumbuh
secara normal menjadi tumbuhan baru. Komponen biji tersebut adalah bagian kecambah yang
terdapat di dalam biji, misalnya radikula dan plumula(Sudjadi,2006 cit. Anonim,2013).

Pada padi,indeks vigornya lebih baik pada metode top paper daripada metode pasir.Hal
tersebut dapat disebabkan karena pada metode pasir air lebih mudah hilang sehingga proses
perkecambahan menjadi lambat.Air yang kurang tersebut membuat kerja enzim menjadi
lambat.Selain itu,dormansi benih yang berbeda pada setiap benih membuat kecepatan
berkecambahnya juga berbeda.Pada faktor lain,indeks vigor benih juga dapat dipengaruhi oleh
ukuran benih.Semakin seragam ukuran benih maka proses perkecambahan menjadi serempak.

Pada benih kedelai,metode dalam pasir memiliki kecepatan berkecambah yang lebih baik
daripada benih padi.Hal tersebut dapat disebabkan oleh faktor yang berada pada benih seperti
kandungan cadangan makanan yang banyak pada benih yang ada pada metode dalam pasir.Selain
itu,proses pemasakan di dalam benih pada metode dalam pasir lebih cepat daripada metode top
paper.Pada faktor lain,ukuran benih pada metode dalam pasir lebih seragam sehingga proses
perkecambahan cenderung terjadi bersamaan.

Indeks vigor yang rendah akan menghasilkan benih yang tidak mempunyai kualitas baik. Pada
hakekatnya vigor benih harus relevan dengan tingkat produksi, artinya dari benih yang bervigor
tinggi akan dapat dicapai tingkat produksi yang tinggi. Vigor benih yang tinggi dicirikan antara
lain tahan disimpan lama, tahan terhadap serangan hama penyakit, cepat dan merata tumbuhnya
serta mampu menghasilkan tanaman dewasa yang normal dan berproduksi baik dalam keadaan
lingkungan tumbuh yang sub optimal.Benih yang mempunyai indeks vigor rendah menghasilkan
tanaman yang kurang tahan terhadap gangguan lingkungan yang dapat mengancam hasil
produksi tanaman tersebut.
V.KESIMPULAN
1. Padi memiliki kecepatan perkecambahan yang lebih baik daripada kedelai.Padi dan kedelai
memiliki respon kecepatan dalam berkecambah yang berbeda pada metode top paper dan dalam
pasir.
2.Indeks vigor dapat dihitung dengan cara menghitung jumlah benih yang berkecambah pada
hari per waktu yang berkorespodensi dengan jumlah benih.
3.Padi dan kedelai memiliki keseragaman bibit yang berbeda sehingga memiliki indeks vigor
yang juga berbeda.Metode top paper dan dalam pasir dapat menghasilkan pertumbuhan
keseragaman benih yang berbeda.
VI.DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2013.Fisiologi Proses Perkecambahan
Biji.<http://www.pusatbiologi.com/2013/10/fisiologi-proses-perkecambahan-biji.html>.Diakses
tanggal 17 April 2014.
Anonim.2014.Importance of Seed Vigor Testing.<http://seedlab.oregonstate.edu/importance-seed-vigortesting>.Diakses tanggal 13 April 2014.
Bewley, J. Derek and Michael Black. 1994. Seed Physicology of Development and Germination. Plenum
Press, New York.
Heydecker, W. 1972. In Viability of Seeds. E. H. Roberts ed.Syracuse University Press, USA.
Kartasapoetra, dkk., 1992. Teknologi Benih, Pengolahan Benih dan Tuntunan Praktikum. Rineka Cipta,
Jakarta.
Kuswanto, H., 1997. Analisis Benih. ANDI, Yogyakarta.

Lesilolo,M.K.,J.Riry,dan E.A.Matatula.2013.Pengujian viabilitas dan vigor benih beberapa


jenis tanaman di Pasaran Kota Ambon.Agrologia 2: 1-9.
Morla,S.,C.S.V.Ramachandra Rao,R.Chakrapani.2011.Factors affecting seed germination and
seedling growth of tomato plants cultured in vitro conditions.Journal of Chemical,Biological and
Physical Sciences 1: 328-334.

VII.LAMPIRAN
Pengamatan Top
Paper

Total
biji

Padi
ul.1
ul.2
ul.3
ul.4
Rerata
IV

Kedel
ai
ul.1
ul.2
ul.3
ul.4
Rerat
a
IV

50
Jumlah biji yang berkecambah sampai hari keKami Juma
Mingg
Selas
s
t
Sabtu
u
Senin a
Rabu
0
12
33
42
45
48
48
0
15
37
48
50
50
50
0
13
38
46
48
48
48
0
18
44
48
49
49
50
0 14.5
38
46
48 48.75
49
7.833
0.035
0 7.25
333
2
0.4 0.125
7
Jumlah biji yang berkecambah sampai hari keKam Jum
Mingg Seni Sela
is
at
Sabtu
u
n
sa
Rabu
0
0
18
21
29
32
32
0
0
6
20
26
34
36
0
0
0
0
18
27
28
0
0
20
32
35
36
36
32.2
0
0
11 18.25
27
5
33
3.66666 1.812
1.7 0.87 0.10714
0
0
7
5
5
5
3

Pengamatan Dalam
Pasir

Padi
ul.1
ul.2
ul.3
ul.4
Rerata
IV

Jumlah biji yang berkecambah sampai hari keKami


Mingg
Selas
s
Jumat Sabtu
u
Senin a
Rabu
0
0
13
39
42
46
46
0
0
21
40
46
48
49
0
2
14
42
46
48
48
0
0
15
31
35
39
45
0
0.5
15.75
38 42.25 45.25
47
5.083 5.562
0
0.25
333
5
0.85
0.5
0.25

Kedel
ai
ul.1
ul.2
ul.3
ul.4
Rerat
a
IV

Jumlah biji yang berkecambah sampai hari keKam Juma Sabt Mingg Seni
is
t
u
u
n
Selasa
Rabu
0
8
13
15
19
23
26
0
0
8
17
18
21
25
0
6
9
11
12
14
15
0
16
18
24
26
30
32
18.7
0
7.5
12
16.75
5
22
24.5
1.187
0.54166 0.35714
0 3.75
1.5
5
0.4
7
3

Padi
Hari
Pengamatan

Top Paper

7.25

Dalam Pasir

0.25

Hari
Pengamata
n

Top Paper

3
3.666
667

Dalam Pasir

3.75

1.5

3
7.833
333
5.083
333

2
5.562
5

0.4

0.125

7
0.035
714

0.85

0.5

0.25

1.75

0.875
0.541
667

7
0.107
143
0.357
143

Kedelai

4
1.812
5
1.187
5

0.4