Anda di halaman 1dari 40

Laporan Praktikum

Laboratorium Teknik Kimia II

PENGERINGAN

Oleh :
Kelompok 2
Kelas C
Fadli Risfiandi

(1107114266)

Fakhri Saputra

(1107120651)

Luci Octaria Sitorus

(1107135614)

Wan Elsa Novtari

(1107124260)

PROGRAM SARJANA TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2014
ABSTRAK

Pengeringan zat padat adalah pemisahan sejumlah kecil air atau zat cair
dari bahan sehingga mengurangi kandungan sisa zat cair di dalam zat padat itu
sampai suatu nilai rendah yang dapat diterima. Tujuan dari praktikum ini adalah
untuk menentukan kadar air, mengukur laju alir udara, mengukur dry bulb dan
wet bulb temperature, menentukan kelembaban udara, mempelajari mekanisme
pengeringan pada kondisi operasi pengeringan tertentu, menentukan pengaruh
variabel pengeringan terhadap laju pengeringan, membandingkan laju
pengeringan hasil percobaaan dan teoritis. Pengujian persen berat air di pasir
mula-mula dilakukan dengan mengoven pasir basah sampai beratnya konstan
sedangkan proses pengeringan untuk mengurangi kadar air di dalam pasir basah
dilakukan dengan memasukkan pasir basah ke dalam tray dryer. Setiap 10 menit
pasir basah dikeluarkan dari tray dryer kemudian ditimbang beratnya, setelah
ditimbang pasir dimasukkan kembali ke dalam tray dryer dan diukur suhu bola
basah udara pengering, suhu udara pengering, dan laju udara pengering, begitu
seterusnya. Dari praktikum yang telah dilakukan didapatkan kesimpulan pada
kondisi operasi V=5 dan T=8 mekanisme laju pengeringan pada percobaan adalah
penyesuaian awal, periode laju pengeringan konstan, periode penurunan pertama
dan periode penurunan kedua dengan kadar air kritis 0,06654 Kg air/(m2/jam) dan
kadar air kesetimbangan adalah -0,0219 Kg air/(m2/jam), semakin besar laju udara
pengering maka semakin meningkat laju pengeringan, pada praktikum dengan
kondisi operasi T=8 laju pengeringan pada V=7 lebih besar dibandingkan dengan
laju pengeringan pada V=5, semakin besar temperatur udara pengering maka
semakin meningkat laju pengeringan, pada praktikum dengan kondisi operasi V=8
temperatur pengeringan pada T=7 lebih besar dibandingkan dengan laju
pengeringan pada T=5.
Kata kunci : laju pengeringan, pengeringan, temperatur pengeringan, tray dryer

BAB I

LANDASAN TEORI
1.1.

Peralatan Pengeringan
Di antara berbagai macam pengering komersial yang ada, hanya beberapa

yang pemanfaatannya dalam skala industri sangat luas. Kelompok yang paling
banyak penggunaannya adalah pengering untuk zat padat tak terdeformasi atau
bijian. Contoh pengering untuk keperluan tersebut adalah tray dryer, screen
conveyor dryer, tower dryer, rotary dryer, screw conveyor dryer, fluid-bed dryer,
dan flash dryer.
1.1.1

Tray Dryer
Salah satu alat pengering yang ada adalah tray dryer yang beroperasi

sacara batch, dimana bahan yang dikeringkan berada di suatu tempat tertentu (di
tray) sedang gas (biasanya digunakan udara) mengalir secara terus-menerus
melalui bahan yang dikeringkan dan menguapkan airnya. Operasi secara batch ini
di industri merupakan proses yang relatif mahal dan hanya sesuai dengan bahan
tertentu saja. Tetapi untuk skala laboratorium alat ini sangat bermanfaat untuk
mempelajari pengetahuan fundamental tentang pengeringan seperti misalnya
mekanika fluida, kimia permukaan, struktur padatan, perpindahan massa dan
panas yang kesemuanya itu sangat berpengaruh terhadap proses pengeringan.
Contoh tray dryer ditunjukkan pada Gambar 1.1 Pengering ini terdiri dari
sebuah ruang dari logam lembaran yang berisi dua buah truk yang mengandung
rak-rak H. Setiap rak mempunyai sejumlah piringan sebagai penapis tempat bahan
yang akan dikeringkan diletakkan. Piringan ini umumnya berukuran 30 in2,
dengan ketebalan 2 sampai 6 in. Udara panas disirkulasikan pada kecepatan 7
sampai 15 ft/detik di antara piringan dengan bantuan kipas C dan motor D,
mengalir melalui pemanas E. Sekat-sekat G membagi udara tersebut secara
seragam di atas susunan talam tadi. Sebagian udara basah diventilasikan keluar
melalui talang pembuang B; sedangkan udara segar masuk melalui pemasuk A.
Rak-rak itu disusun di atas roda truk I sehingga pada akhir siklus pengeringan truk

itu dapat ditarik keluar dari ruang pengering dan dibawa ke bagian akhir untuk off
loading bahan yang selesai dikeringkan.

Gambar 1.1. Skema Tray Dryer


Tray dryer dapat beroperasi dalam vakum, terkadang dengan pemanasan
tidak langsung. Masing-masing tray terdiri atas pelat-pelat logam bolong yang
dilalui uap atau air panas atau terkadang dilengkapi ruang khusus untuk fluida
pemanas. Uap dari zat padat dikeluarkan dengan ejektor atau pun pompa vakum.
Pengering beku (freeze drying) terdiri dari sublimasi es dari es pada tekanan
vakum dan pada temperatur di bawah 0oC. Freeze drying dilakukan khusus untuk
mengeringkan vitamin dan berbagai bahan yang peka terhadap panas.
1.1.2

Screen Conveyor Dryer


Contoh umum Screen Conveyor Dryer dengan sirkulasi tembus

ditunjukkan pada Gambar 1.2. Lapisan bahan yang akan dikeringkan setebal 1
sampai 6 in diangkut perlahan di atas lapisan screen logam melalui ruang lurus
seperti pengering. Selama pergerakan itu bahan dikeringkan. Ruang/ terowongan
tersebut terdiri dari sederetan bagian terpisah, yang masing-masing mempunyai
kipas dan pemanas udaranya sendiri. Pada ujung masuk ke perngering itu, udara
biasanya mengalir ke atas melalui lapisan screen dan zat padat. Di dekat ujung

keluar dimana bahan sudah kering dan umumnya jadi berdebu, udara dialirkan ke
bawah melalui screen tersebut.

Gambar 1.2. Screen Conveyor Dryer


Pengering screen conveyor biasanya mempunyai lebar 6 ft dan panjang 12
sampai 150 ft dan waktu pengeringannya 5 sampai 120 menit. Ukuran anyaman
pada lapisan screenkira-kira 30 mesh. Bahan-bahan bijian kasar, serpih, atau
bahan berserat dapat dikeringkan dengan sirkulasi tembus tanpa sesuatu proses
pretreatment dan tanpa ada bahan yang lolos dari lapisan screen. Akan tetapi
bahan saring yang halus harus dicetak terlebih dahulu untuk dapat dikeringakan
dengan screen conveyor drier. Agregat tersebut biasanya tidak kehilangan
bentuknya pada waktu dikeringkan dan sangat sedikit yang tiris menjadi debu
melalui lapisan screen tersebut. Terkadang screenconveyor dryer juga dilengkapi
fasilitas untuk mengambil dan mencetak kembali partikel-partikel halus yang
tertapis oleh lapisan screen tersebut.
1.1.3

Tower Dryer
Tower Dryer terdiri dari sederetan piringan bundar yang dipasang bersusun

ke atas pada suatu poros tengah yang berputar. Umpan padat dijatuhkan pada
piringan teratas dan dikenakan pada arus udara panas atau gas yang mengalir
melintasi setiap piringan. Zat padat tersebut lalu didorong keluar dan dijatuhkan
pada piringan berikut di bawahnya. Proses tersebut terus dialami zat padat yang

dikeringkan sampai keluar dari piringan terbawah sebagai hasil yang kering pada
dasar menara. Aliran zat padat dan gas pengering tersebut dapatsearah dan dapat
pula berlawanan arah. Turbo dryer pada Gambar 1.3 adalah salah satu contoh
tower dryer dengan resirkulasi-dalam pada gas pemanas. Kipas-kipas turbin
digunakan untuk mensirkulasikan udara atau gas ke arah luar di antara beberapa
piringan, di atas elemen pemanas, dan ke arah dalam di antara piringan-piringan
lain. Kecepatan gas biasanya 2 sampai 8 ft/detik. Dua piringan terbawah pada
pengering merupakan bagian pendinginan untuk zat padat kering. Udara yang
dipanaskan terlebih dahulu biasanya masuk dari bawah menara dan keluar dari
atas sehingga terdapat aliran berlawanan arah. Turbo dryer berfungsi sebagian
dengan pengeringan sirkulasi silang, seperti pada traydryer dan sebagian dengan
mengontakkan partikel-partikel melalui gas panas pada waktu partikel itu jatuh
dari piringan yang satu ke piringan berikutnya.

Gambar 1.3. Tower Dryer

1.1.4

Rotary Dryer
Rotary Dryer terdiri dari sebuah selongsong berbentuk silinder yang

berputar, horisontal, atau agak miring ke bawah ke arah luar. Umpan basah masuk
dari satu ujung silinder sedangkan bahan kering keluar dari ujung yang satu lagi.
Pada waktu selongsong berputar, sayap-sayap yang terdapat di dalam mengangkat
zat padat tersebut dan mendorong padatan jatuh melalui bagian dalam selongsong.
Rotary dryer ada yang dipanaskan dengan kontak langsung gas dengan zat padat,
dengan gas panas yang mengalir melalui mantel luar, atau dengan uap yang
kondensasi di dalam seperangkat tabung longitudinal yang dipasangkan pada
permukaan dalam selongsong. Jenis yang dirancang sedemikian rupa dinamakan
rotary dryer dengan tabung uap. Dalam rotarydryer tipe direct-indirect gas panas
terlebih dahulu dilewatkan melalui mantel dan kemudian masuk ke dalam
selongsong, dimana gas tersebut berada pada kontak dengan zat padat yang
dikeringkan.

Gambar 1.4. Rotary Dryer Arus Counter Current


Keterangan Alat:
A: selongsong pengering
B: selongsong bantalan rol
C: roda gigi penggerak
D: tudung pembuang udara
E: kipas pembuang
F: peluncur umpan

G: sayap-sayap pengangkut
H: pengeluaran produk
I : pemanas udara
1.1.5

Screw Conveyor Dryer


Screw conveyor Dryer adalah pengering kontinu dengan sistem kontak

tidak langsung. Pada pokoknya pengering ini terdiri dari sebuah screw conveyor
horizontal yang terletak di dalam selongsong bermantel berbentuk silinder. Zat
padat yang diumpankan di satu ujung diangkut perlahan melalui zona panas dan
dikeluarkan dari ujung yang satu lagi. Uap yang keluardisedot melalui pipa yang
dipasang pada atap selongsong. Selongsong umumnya berdiameter 75 sampai 600
mm dan panjangnya dapat sampai 20 ft. Bila diperlukan selongsong panjang,
digunakan beberapa selongsong yang dipasang bersusun satu di atas yang lain.
Sering pula unit paling bawah dalam susunan itu merupakan pendingin
dimana air atau bahan pendingin lain yang dialirkan dalam mantel itu untuk
menurunkan temperatur zat padat yang telah dikeringkan tersebut sebelum keluar
dari pengering.
Laju putar selongsong umumnya rendah, antara 2 sampai 30 putaran per
menit. Koefisien perpindahan kalor didasarkan atas keseluruhan permukaan dalam
selongsong, biarpun selongsong tersebut hanya 10 sampai 60 persen terisi.
Koefisien itu bergantung pada pembebanan di dalam selongsong dan kecepatan
conveyor. Nilainya untuk kebanyakan zat padat berkisar antara 17 sampai 57
W/m2.0C. Screw conveyor dryer dapat menangani zat padat yang terlalu halus atau
terlalu lengket bila dikeringkan pada rotary dryer. Pengering ini tertutup
seluruhnya, dan memungkinkan recovery uap zat pelarut tanpa terlalu banyak
pengenceran oleh udara atau bahkan tanpa pengenceran sama sekali. Bila
dilengkapi dengan pengumpan yang sesuai, pengering ini dapat dioperasikan
dalam vakum. Jadi sangat sesuai untuk mengeluarkan zat pelarut yang mudah

menguap dari zat padat yang basah dengn pelarut, seperti sisa dari operasi
pengurasan.
1.2.

Kelembaban
Pada proses pengeringan biasanya cairan yang diuapkan adalah air dan gas

yang digunakan adalah udara. Kelembaban untuk sistem udara air dibedakan
menjadi dua yaitu:

Y '

W A kg air
W B kg udara

1. Kelembaban absolut massa :

.............................. (1)

n A mol air
n B mol udara

2. Kelembaban absolut molar :

............................. (2)

Untuk mengetahui harga kelembaban udara, dapat diukur dengan


menggunakan psikrometer. Dimana akan didapatkan temperatur bola basah (tw)
dan temperatur bola kering (tg).
tg tw

w
(Y ' w Y ' )
0,236
........................................................... (3)

Dimana;
tg = suhu udara (oF)
tw = suhu bola basah (oF)
w = entalpi penguapan air pada tw
Y = kelembaban jenuh udara pada tw

PH 2O
Y ' w 0.622
760 PH 2O
Dimana;

kg air
kg udara

.......................................... (4)

PH2O = tekanan uap jenuh air pada suhu tw, dapat didekati dengan
persamaan Antoine sebagai berikut:
ln PH 2O 18,3036

3816,44
T 46,13
..................................................... (5)

PH2O dalam mmHg, dan T dalam derajat Kelvin.


1.3 Kadar Air Kesetimbangan
Zat padat basah jika dikontakkan dengan udara yang mempunyai
kelembaban dan suhu tertentu dengan dalam waktu cukup lama, maka akan
dicapai keadaan kesetimbangan dimana kandungan air pada zat padat tidak
berubah. Kandungan air pada kondisi ini disebut kadar air kesetimbangan.
Pada prinsipnya, air dalam bahan padat berada dalam dua keadaan.
Sejumlah air berada dalam pori-pori padatan karena adanya tegangan permukaan
dan disebut unbounded water atau air bebas. Air ini mempunyei tekanan uap dan
panas laten penguapan sama dengan air murni. Sedang air yang berada dalam
bahan padat dan mempunyai interaksi dengan bahan padat misalnya, air kristal
atau air yang ada pada permukaan zat padat misalnya air teradsorpsi disebut air
terikat atau bounded water. Air terikat ini akan mempunyai tekanan uap yang
lebih kecil dari air murni.
1.4 Kurva Kecepatan Pengeringan
Dari data percobaan pengeringan akan dapat dibuat kurva yang
menyatakan hubungan antara kadar air dan waktu pengeringan, seperti terlihat
pada gambar.

Gambar 1.5. Kurva Hubungan Kadar Air dengan Waktu Pengeringan.


Dari data tersebut dapat diubah ke kecepatan pengeringan, N kg air/jam m2
sebagai fungsi dari kandungan air (X) seperti Gambar 1.5 dengan menentukan
perubahan X dalam waktu t.

L s X
At

Dimana;
Ls = berat padatan kering (kg)
A

= luas padatan (m2).

= kadar air bahan (kg air/kg padatan kering)

= waktu (menit)

............................. (6)

Gambar 1.6. Kurva Hubungan Kadar Air Padatan dengan Kecepatan


Pengeringan.
Pada permulaan operasi, biasanya temperatur padatan lebih rendah
dibanding temperatur kesetimbangan, sehingga kecepatan pengeringan akan naik
dengan kenaikan temperatur bahan. Periode ini (AB) disebut periode penyesuaian
awal dan biasanya sangat pendek dibanding keseluruhan operasi.
Setelah temperatur kesetimbangan tercapai, maka periode kecepatan
pengeringan tetap dimulai (BC). Pada periode ini akan terjadi penguapan cairan
dari permukaan padatan, kecepatan penguapan di permukaan tersebut masih bisa
diimbangi oleh difusi maupun efek kapiler air dari dalam padatan ke permukaan
padatan. Dengan demikian permukaan padatan akan tetap basah.
Setelah mencapai kadar air kritis Xc, kecepatan difusi air dari dalam
padatan tidak bisa mengimbangi kecepatan penguapan di permukaan padatan.
Dengan demikian akan terjadi tempat-tempat kering (dry spot). Ini akan
mengurangi kecepatan pengeringan dan disebut periode kecepatan menurun yang
pertama (CD).

Pada periode (DE), kecepatan pengeringan ditentukan oleh

kecepatan difusi dari dalam permukaan padatan. Ini akan terus berlangsung
sampai tercapai kadar air kesetimbangan X*.

1.5

Mekanisme Pengeringan
Dalam proses pengeringan, proses perpindahan massa dan perpindahan

panas merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Pada permukaan
bahan akan terbentuk lapisan tipis air dan juga terbentuk lapisan tipis udara, yang
sering disebut lapisan film. Dengan adanya beda konsentrasi air di permukaan
padatan dan di udara pengering maka air akan menguap dan berpindah dari bahan
ke udara pengering.

Gambar 1.7. Perpindahan Massa dari Fasa Padatan ke Fasa Gas.


Persamaan perpindahan massa dari fasa padat ke fasa gas dapat dituliskan
sebagai berikut:
N = Ky (Y*-Y)

............................(7)

Dimana;
Ky

= koefisien perpindahan massa

Y* = kelembaban udara pada permukaan padatan, pada keadaan relatif


basah didekati dengan Y (kelembaban jenuh pada suhu padatan).
Ditinjau dari perpindahan panasnya, maka panas yang diterima padatan
akan digunakan untuk menguapkan air. Untuk kasus pengeringan pada suhu relatif
rendah maka perpindahan panas yang terjadi dianggap hanya melalui mekanisme
konveksi. Sehingga dapat dituliskan persamaan:

h
(Tg Ts )
w

............................
(8)
h = 0,01 G0,8

......................(9)

Dimana;

Btu

2 o
jam. ft . F

= koefisien transfer panas konveksi

lb
2
jam. ft

G = kecepatan massa udara pengering

untuk kecepatan

udara 2-25 ft/det.

w = panas laten penguapan

Btu

lb

pada suhu padatan.

Tg = suhu udara pengering (oF)


Ts = suhu padatan (oF) untuk keadaan relatif basah dapat didekati
dengan suhu bola basah udara pengering.

BAB II
METODOLOGI PERCOBAAN

2.1 Alat dan Bahan


2.1.1 Alat
1. Tray Dryer
2. Oven
3. Tray
4. Neraca Digital
5. Anemometer
6. Penggaris
7. Psychrometer
8. Stopwatch
9. Cawan pengering
10. Pipet Tetes
11. Gelas Ukur
12. Baskom Plastik
2.1.2
Bahan
1. Pasir
2. Air
2.2 Prosedur Percobaan
2.2.1
Percobaan 1
1. Disiapkan pasir kurang lebih 1,5 kg dan diberikan air sekitar 600 ml
dicampur sampai rata dalam baskom plastik dan ditutup rapat dengan
plastik.
2. Sampel diambil kurang lebih 50 gram kemudian ditimbang dan dicatat
sebagai berat sampel basah (Wb) lalu dioven pada suhu 110 oC sampai
didapatkan berat konstan (Wc).
3. Disiapkan tray dryer, dan dihidupkan MCB nya. Lalu dinyalakan
pengatur laju alir udara selanjutnya dinyalakan pengatur suhu udara
pengering.
4. Diukur luas penampang dryer di ujung (A1) m2 dan di bagian tengah (A2)
m2.

5. Kemudian dibasahi kain di psychrometer dengan menggunakan pipet


tetes, dilakukan disetiap kali mengukur kelembaban udara.
6. Diatur laju alir udara dan suhu pengering sesuai dengan lembar
penugasan yang diberikan, ditunggu sampai keadaan steady tercapai.
Lalu diukur

laju,

suhu

dan

suhu

bola basah udara pengering,

dipastikan sesuai dengan yang ditugaskan.


7. Tray disiapkan, dibersihkan dan dikeringkan. Diukur panjang dan
lebarnya, dicatat luas tray (A) m2 lalu ditimbang dan dicatat massanya
(WT) kg.
8. Kemudian dimasukkan pasir basah kurang lebih 600 gram (Wm)
dan diratakan di tray, diusahakan ketebalan pasir di tray seragam. Lalu
diukur ketebalan pasir catat (x).
9. Sesaat sebelum masuk ke dalam tray ditimbang pasir basah + tray
dicatat massanya sebagai WO, dimasukkan ke dalam tray. Pada setiap
10 menit dikeluarkan tray dari pengering, ditimbang

dan

dicatat

massanya. Diusahakan tray berisi pasir berada di luar sesingkat


mungkin.
10. Dilakukan pengecekan setiap saat laju dan suhu udara pengering, jika ada
perubahan diatur pengatur suhu dan laju udara.
11. Percobaan dihentikan jika selisih penimbangan setiap = 0,1 gram
2.2.2
Percobaan 2
1. Mempelajari pengaruh

laju

udara

pengering

terhadap

laju

pengeringan pada periode pengeringan konstan


2. Sama dengan percobaan 1, hanya laju udara pengering diubah
sesuai dengan penugasan. Percobaan dihentikan setelah 60 menit.
3. Kemudian tentukan NC hasil percobaan, dan dibandingkan dengan NC
teoritis.
2.2.3
Percobaan 3
1. Mempelajari pengaruh suhu udara pengering terhadap laju pengeringan
pada periode pengeringan konstan.
2. Sama dengan percobaan 1, hanya suhu udara pengering diubah
sesuai dengan penugasan . Percobaan dihentikan setelah 60 menit.
3. Kemudian ditentukan NC hasil percobaan, dibandingkan dengan NC
teoritis.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Kadar Air Kesetimbangan
Berdasarkan literatur (Tim Penyusun, 2014), jika suatu padatan basah
dikontakkan dengan arus udara dengan kelembaban tertentu dan jumlah yang
cukup maka pada waktu yang cukup lama kadar air di bahan akan mencapai kadar
tertentu dan konstan. Kadar air tersebut disebut kadar air kesetimbangan. Pada
percobaan ini kadar air kesetimbangan yang didapat adalah
3.2 Pengaruh Laju Udara Pengeringan
Pada percobaan untuk pengaturan tray dryer pada skala kecepatan udara 5
dan 7 dan skala temperatur tetap 8, didapat kurva hubungan antara waktu terhadap
kadar air seperti ditampilkan pada Gambar 3.1.
0.16
0.14
0.12
0.1
0.08
kadar air (x)

0.06

V=5

0.04

V=7

0.02
0
0
-0.02

20

40

60

80

100

120

-0.04
waktu (menit)

Gambar 3.1. Kurva Hubungan Waktu terhadap Kadar Air


pada V=5 dan V=7
Dari kurva diatas dapat disimpulkan bahwa semakin lama waktu pengeringan
maka jumlah kadar air yang terdapat didalam bahan tersebut semakin berkurang

dengan kecepatan pengering yang semakin lambat, hal ini sesuai dengan teori
yang didapat (Fadilah, 2010).
Selain itu juga dapat dilihat bahwa kadar air bernilai minus, hal ini
disebabkan oleh adanya kandungan uap air yang terdapat dalam udara pengering.

Kurva Hubungan Kadar Air terhadap Laju Pengeringan


2.5
2
1.5
Laju Pengeringan (kg air/m^2.jam)

V=5

V=7

0.5
-0.05

0
0

0.05

0.1

0.15

Kadar Air (X)

Gambar 3.2. Kurva Karakteristik Kesetimbangan pada V=5 dan V=7


Dari gambar 3.2 terlihat bahwa kecepatan pengeringan 7 lebih besar
daripada kecepatan pengeringan 5 pada kurva hubungan kadar air terhadap laju
pengeringan, hal ini dikarenakan semakin banyak energi panas yang diterima
padatan akan semakin banyak air yang bisa diuapkan sehingga semakin tinggi
kecepatan pengeringan maka semakin tinggi laju pengeringan (Tim Penyusun,
2014).

3.3 Pengaruh Suhu Udara Pengering


Pada percobaan untuk pengaturan tray dryer pada skala kecepatan udara 5
dan 7 dan skala temperatur tetap 8, didapat kurva hubungan antara waktu terhadap
kadar air seperti ditampilkan pada Gambar 3.3.
Kurva Hubungan Waktu terhadap Kadar Air
0.12
0.1
0.08
0.06
kadar air (x)

T=5

0.04

T=7

0.02
0
0
-0.02

20

40

60

80

100

120

-0.04
waktu (menit)

Gambar 3.3. Kurva Hubungan Waktu terhadap Kadar Air


pada T=5 dan T=7
Dari Gambar 3.3 terlihat bahwa untuk temperatur 7 terjadi penurunan kadar
air yang lebih cepat dibanding dengan temperatur 5. Sehingga dapat dikatakan
bahwa dengan adanya kenaikan temperatur maka kadar air lebih cepat mencapai
konstan. Hal ini dikarenakan semakin meningkatnya laju perpindahan panas
menyebabkan kadar air yang ada semakin cepat berkurang.

Kurva Hubungan Kadar Air terhadap Laju Pengeringan


1.4
1.2
1
0.8
Laju Pengeringan (kg air/m^2.jam)

T=5

0.6

T=7

0.4
0.2
-0.05

0
0

0.05

0.1

Kadar Air (X)

Gambar 3.4. Kurva Karakteristik Kesetimbangan pada T=5 dan T=7


Percobaan yang dilakukan dengan menggunakan kecepatan udaratray drier
yang sama yaitu 8 dan skala temperatur yang berbeda, masing masing adalah 5
dan 7. Dari gambar 3.4 terlihat bahwa laju pengeringan T=7 lebih besar daripada
laju pengeringan T=5, hal ini dikarenakan kecepatan udaraT=7 lebih besar
dibandingkan kecepatan udara T=5. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin
tinggi suhu udara pengering maka kecepatan pengeringan akan semakin cepat
(tinggi).

3.4 Perbandingan Laju Pengeringan Hasil Percobaan dan Laju Pengeringan


Teoritis
Dari data percobaan pengeringan akan dapat dibuat kurva yang
menyatakan perbandingan laju pengeringan percobaan dan teoritis, seperti terlihat
pada gambar.
Kurva Perbandingan Laju Pengeringan Percobaan dan Teoritis
1.4
1.2
1
0.8
Laju Pengeringan (kg air/m^2.jam)

N percobaan

0.6

N teoritis

0.4
0.2
-0.1

0
0

0.1

0.2

Kadar Air (X)

Gambar3.5. Kurva Perbandingan Laju Pengeringan Teoritis


dengan Laju Pengeringan pada V=5 dan T=8
Dari Gambar 3.5. dapat dilihat kurva perbandingan laju pengeringan dari
teori dengan laju pengeringan dari hasil percobaan, dimana laju pengeringan hasil
percobaan lebih besar daripada laju pengeringan dari teori perhitungan. Misalnya
dapat kita lihat pada saat pengambilan menit ke-50, nilai laju pengeringan
percobaan adalah 1,63273kg/m2 menit sedangkan pada teori nilai laju
pengeringannya adalah 0,65184kg/m2 menit. Hal ini disebabkan laju pengeringan

hasil percobaan ditinjau dari perpindahan massanya dan bukan ditinjau dari
perpindahan panasnya, dimana panas laten penguapan pada suhu padatan tidak
diperhitungkan.
Kurva Perbandingan Laju Pengeringan Percobaan dan Teoritis
0.8
0.6
N percobaan

0.4

Laju Pengeringan (kg air/m^2.jam)

N teoritis
0.2

-0.1

0
0

0.1

0.2

Kadar Air (X)

Gambar3.6. Kurva Perbandingan Laju Pengeringan Teoritis


dengan Laju Pengeringan pada V=5 dan T=8
Dari Gambar 3.6. dapat dilihat kurva perbandingan laju pengeringan dari
teori dengan laju pengeringan dari hasil percobaan, dimana laju pengeringan hasil
percobaan lebih besar daripada laju pengeringan dari teori perhitungan. Misalnya
dapat kita lihat pada saat pengambilan menit ke-50, nilai laju pengeringan
percobaan adalah 1,53697kg/m2 menit sedangkan pada teori nilai laju
pengeringannya adalah 0,42891/m2 menit.

Kurva Perbandingan Laju Pengeringan Percobaan dan Teoritis


5
4
3
Laju Pengeringan (kg air/m^2.jam)

N percobaan
N teoritis

2
1
-0.1

0
0

0.1

0.2

Kadar Air (X)

Gambar3.7. Kurva Perbandingan Laju Pengeringan Teoritis


dengan Laju Pengeringan pada T=5 dan V=8
Dari Gambar 3.7. dapat dilihat kurva perbandingan laju pengeringan dari
teori dengan laju pengeringan dari hasil percobaan, dimana laju pengeringan hasil
percobaan lebih besar daripada laju pengeringan dari teori perhitungan. Misalnya
dapat kita lihat pada saat pengambilan menit ke-50, nilai laju pengeringan
percobaan adalah 1,01091 kg/m2 menit sedangkan pada teori nilai laju
pengeringannya adalah 0,74855/m2 menit.

Kurva Perbandingan Laju Pengeringan Percobaan dan Teoritis


1
0.8
0.6
Laju Pengeringan (kg air/m^2.jam)

N percobaan

0.4

N teoritis

0.2
-0.05

0
0

0.05

Kadar Air (X)

Gambar3.8. Kurva Perbandingan Laju Pengeringan Teoritis dengan Laju


Pengeringan Percobaan IV
Dari Gambar 3.8. dapat dilihat kurva perbandingan laju pengeringan dari
teori dengan laju pengeringan dari hasil percobaan, dimana laju pengeringan hasil
percobaan lebih besar daripada laju pengeringan dari teori perhitungan. Hal ini
disebabkan laju pengeringan hasil percobaan ditinjau dari perpindahan massanya
dan bukan ditinjau dari perpindahan panasnya, dimana panas laten penguapan
pada suhu padatan tidak diperhitungkan.

BAB IV
KESIMPULAN
1. Skala kecepatan udara dan temperatur yang digunakan berpengaruh
terhadap kecepatan pengeringan. Semakin tinggi kecepatan udara dan
temperatur maka kecepatan pengeringan akan semakin besar sehingga
operasi pengeringan berlangsung lebih cepat.
2. Laju pengeringan hasil percobaan lebih besar daripada laju pengeringan
dari teori perhitungan. Hal ini disebabkan laju pengeringan hasil
percobaan ditinjau dari perpindahan massanya dan bukan ditinjau dari
perpindahan panasnya, dimana panas laten penguapan pada suhu padatan
tidak diperhitungkan.
3. Kecepatan pengeringan dipengaruhi oleh:
a.
Kecepatan udara pengering
b. Temperatur udara pengering
c. Luas permukaan padatan
d. Kelembaban udara pengering

DAFTAR PUSTAKA

Fadilah, dkk. 2010. Pengaruh Metode Pengeringan Terhadap Kecepatan


Pengeringan Dan Kualitas Karagenan Dari Rumput Laut Eucheuma
Cottonii. Program Studi Teknik Kimia FT Universitas Sebelas Maret,
Surakarta.
Geankoplis, Christie J.1993. Transport Process and Unit Operations, third
edition. Allyn and Bacon Inc, Boston.
Hardjono. 1989. Operasi Teknik Kimia II, edisi pertama. Jurusan Teknik Kimia,
Fakultas Teknik, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Tim Penyusun. 2014. Penuntun Praktikum Laboratorium Teknik Kimia II.
Program Studi Teknik Kimia S1, Fakultas Teknik, Universitas Riau,
Pekanbaru.

LAMPIRAN A
PERHITUNGAN DATA HASIL PRAKTIKUM DAN TEORI
1. Pengaruh laju udara pengeringan
a. MekanismePengeringan : T= 8dan V=5
PersenBerat Air di PasirMula-Mula
Beratpasirbasah = 50,54 gram
Waktu
Beratpasir
(menit)
(gram)
0
50,54
10
48,20
20
46,35
30
44,07
40
43,06
50
43,06
Beratpasirkering = 43,06 gram
W W c
berat air di pasir mulamula= b
x 100
Wb
berat air di pasir mulamula=

50,5443,06
x 100 =14,80
50,54

Perhitungan Data HasilPraktikum


% berat air di pasirmula-mula = 14,80%
Pasirbasahmasuk tray (Wm) = 0,60004 Kg
Pasir Kering ( Ls ) =( 100%berat air di pasir mulamula ) x Wm
Pasir Kering ( Ls ) =( 10.1480 ) x 0.60004 Kg=0.5112 Kg
Luas tray (A) = 0.0495 m2
Waktu, = 10/60 = 0.16667 jam
Berat tray, WT = 0,34979 Kg

Kadar air , X=
X 1=

massa pasir basahmassa pasir kering


massa pasir kering

0.600040.5112
=0,1738
0.5112

X 2=

0.594040.5112
=0.1620
0.5112

X =X 2 X 1
X =0.16200.1738=0.0118
Laju pengeringan, N=

Ls . X
A .

Laju pengeringan, N=

0,5112 Kg x (0.0118)
=0.73116 Kg air /(m2 . jam)
0.0495 m2 x 0.16667 jam

Tabel A.1 perhitungan data percobaan mekanisme pengeringan V = 5 dan T = 8


Waktu

(menit
)
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
110

Berat pasir
basah+tra
y
(gram)

Berat
pasir
basah
(gram)

Berat pasir
basah

Kadar air, X

(Kg)

949,83
943,83
921,47
908,17
895,04
881,57
869
859,02
852,69
850,45
849,86
849,83

600,04
594,04
571,68
558,38
545,25
531,78
519,21
509,23
502,9
500,66
500,07
500,04

0,60004
0,59404
0,57168
0,55838
0,54525
0,53178
0,51921
0,50923
0,5029
0,50066
0,50007
0,50004

(Kg air/Kg
pasir kering)
0,148
0,13939
0,10573
0,08443
0,06239
0,03864
0,01536
-0,0039
-0,0166
-0,0211
-0,0223
-0,0224

0
-0,00861
-0,03366
-0,0213
-0,02205
-0,02375
-0,02327
-0,0193
-0,01264
-0,00455
-0,0012
-6,1E-05

PerhitunganBerdasarkanTeori
Luaspenampang dryer di ujung, A1 = 0.0784 m2
Luaspenampang dryer di bagiantengah, A2 = 0.077841 m2
Luas tray (A) = 0.0495 m2
Panjang tray = 2,98 m
Konduktivitaspanaspasir, k = 0.25 W/m.K

Laju
Pengeringan
,N
(Kg air/
(m2.jam)
0,53326
2,08588
1,31994
1,36623
1,47172
1,44227
1,1958
0,78306
0,28184
0,07466
0,0038

Laju udara pengeringdi bagiantengah ,V 2

V 1 x A1
A2

Laju udara pengeringdi bagian tengah ,V 2

0.74 m/s x 0.0784 m 2


=0.745 m/s
0.077841 m 2

Suhu film ,T f =

T g +T w
2

Suhu film ,T f =

39 o C +31o C
=35 C
2

Ketebalan pasir , x=0,005 m

Denganinterpolasiuntuksuhu film, Tf = 35oC = 95 F, dapatdicarinilaidensitas


(), viskositas (), danNprudara di Appendix A.3-3 di bukuGeankoplis
=

9550
x 0,0778+(
x 0,0710=0,07168 lbm/ft 3
( 10095
)
10050
10050 )
= 1,148 Kg/m3

9550
x 0,0178+(
x 0,0190=0,01888 centipoise
( 10095
)
10050
10050 )
= 0,00001888Kg/m.s
9550
x 0,713+ (
x 0,705=0,706
( 10095
10050 )
10050 )

Npr=

Nilai panas laten penguapan air pada suhu Tw=31 dapat dilihat pada fig.12
proess heat transfer, yaitu 350 btu/lb = 814107,4539 J/Kg
N =

.V 2 . L

N =

1.148 Kg/m3 x 0.745 m/s x 2.98 m


=135074,54
1.888 x 105 Kg/m. s

N <300.000 maka alirannya adalah laminar

N
( Pr )1/ 3
N Nu =0.664 (N )0.5
0,706

0.5
N Nu =0.664 ( 135074,54 )
h=

N Nu . k
L

h=

217,278 x 0.25 W /m. K


=18,228W /m2 . K
2.98 m

q1 =h . A .(T gT w )
q1 =18,228W /m2 . K x 0.0495 m2 ( 321.15311.15 ) K =72,1829 W
U=

U=

1
1 x
+
h k
1
1
0,005 m
+
2
18,228W /m . K 0.25 W /m . K

13,358 W /m2 . K

q 2=U . A .(T g T w )
q 2=13,358W /m2 . K x 0.0495 m2 ( 321.15311.15 ) K =52,9 W
q total=q1 +q 2
q total =72,1829W + 52,9W =125,08 W
Jumlah air yang diuapkan=

qtotal
w

Jumlah air yang diuapkan, m=

125,08 W
=0,0001536 Kg /s
8141075 J / Kg

N c teoritis=3600

m
A

N c teoritis=3600

0,0001536 Kg/s
=1,1174 kg air/( m2 . jam)
2
0.0495 m

b. Mekanisme pengeringan : v = 7 dan T = 8


Perhitungan Data HasilPraktikum
% berat air di pasirmula-mula = 14,80%
Pasirbasahmasuk tray (Wm) = 0,60018 Kg
Pasir Kering ( Ls ) =( 100%berat air di pasir mulamula ) x Wm
Pasir Kering ( Ls ) =( 10.1756 ) x 0.38407 Kg=0.31663 Kg
Pasir Kering ( Ls ) =0.5112 Kg
Luas tray (A) = 0.0495 m2
Waktu, = 10/60 = 0.16667 jam
Berat tray, WT = 0.34977 Kg
Tabel A.2 perhitungan data percobaan mekanisme pengeringan V = 7 dan T = 8
Waktu

Berat pasir
basah+tray

Berat pasir
basah

(menit)

(gram)

(gram)

Berat
pasir
basah
(Kg)

0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
110

949,95
936,65
924,28
911,98
899,74
887,06
874,75
864,65
857,7
854,56
853,57
853,45

600,18
586,88
574,51
562,21
549,97
537,29
524,98
514,88
507,93
504,79
503,8
503,68

0,60018
0,58688
0,57451
0,56221
0,54997
0,53729
0,52498
0,51488
0,50793
0,50479
0,5038
0,50368

Perhitungan secara teotitis :


% berat air di pasirmula-mula = 14,80%
Pasirbasahmasuk tray (Wm) = 0,60018 Kg

Kadar air,
X
(Kg air/Kg
pasir
kering)
0,148
0,12869
0,10993
0,09046
0,07022
0,04827
0,02596
0,00685
-0,0067
-0,013
-0,015
-0,0152

0
-0,01931
-0,01876
-0,01947
-0,02024
-0,02194
-0,02232
-0,01911
-0,01359
-0,00626
-0,00199
-0,00024

Laju
Pengeringan
,N
(Kg air/
(m2.jam)

1,19677
1,16282
1,20697
1,25468
1,36007
1,38323
1,1843
0,84229
0,38815
0,12338
0,01499

Pasir Kering ( Ls ) =( 100%berat air di pasir mulamula ) x Wm


Pasir Kering ( Ls ) =( 10.1756 ) x 0.38407 Kg =0.31663 Kg
Pasir Kering ( Ls ) =0.5112 Kg
Luas tray (A) = 0.0495 m2
Waktu, = 10/60 = 0.16667 jam
Berat tray, WT = 0.34977 Kg
2. pengaruh suhu udara pengeringan
a. Mekanisme pengeringan adalah v = 8 dan T = 5
Perhitungan Data HasilPraktikum
% berat air di pasirmula-mula = 14,80%
Pasirbasahmasuk tray (Wm) = 0,6 Kg
Pasir Kering ( Ls ) =( 100%berat air di pasir mulamula ) x Wm
Pasir Kering ( Ls ) =( 10.1756 ) x 0.38407 Kg =0.31663 Kg
Pasir Kering ( Ls ) =0.5112 Kg
Luas tray (A) = 0.0495 m2
Waktu, = 10/60 = 0.16667 jam
Berat tray, WT = 0.34156 Kg
Tabel A.3 perhitungan data percobaan mekanisme pengeringan V = 8 dan T = 5
Waktu

Berat pasir
basah+tra
y
(gram)

Berat
pasir
basah
(gram)

Berat
pasir
basah
(Kg)

912,78

571,22

10

902,88

561,32

20

893,13

551,57

30

883,49

541,93

0,5712
2
0,5613
2
0,5515
7
0,5419

(menit
)
0

Kadar air, X

Laju
Pengeringan
,N
(Kg air/
(m2.jam)

(Kg air/Kg pasir


kering)
0,10507

0,08929

-0,01578

0,97802

0,07319

-0,0161

0,99752

0,0567

-0,01649

1,02155

40

872,84

531,28

50

864,5

522,94

60

857,48

515,92

70

852,35

510,79

80

848,93

507,37

90

846,61

505,05

100

845,67

504,11

3
0,5312
8
0,5229
4
0,5159
2
0,5107
9
0,5073
7
0,5050
5
0,50411

0,0378

-0,01891

1,17168

0,02245

-0,01535

0,95086

0,00915

-0,0133

0,8242

-0,0008

-0,00995

0,61662

-0,0075

-0,00675

0,41801

-0,0122

-0,00463

0,28679

-0,0141

-0,00189

0,11695

perhitungan secara teoritis


% berat air di pasirmula-mula = 14,80%
Pasirbasahmasuk tray (Wm) = 0,6 Kg
Pasir Kering ( Ls ) =( 100%berat air di pasir mulamula ) x Wm
Pasir Kering ( Ls ) =( 10.1756 ) x 0.38407 Kg =0.31663 Kg
Pasir Kering ( Ls ) =0.5112 Kg
Luas tray (A) = 0.0495 m2
Waktu, = 10/60 = 0.16667 jam
Berat tray, WT = 0.34156 Kg
w = 837367,7 J/Kg

b. Mekanisme pengeringan adalah v = 8 dan T= 5


Perhitungan Data HasilPraktikum
% berat air di pasirmula-mula = 14,80%
Pasirbasahmasuk tray (Wm) = 0,6 Kg

Pasir Kering ( Ls ) =( 100%berat air di pasir mulamula ) x Wm


Pasir Kering ( Ls ) =( 10.1756 ) x 0.38407 Kg =0.31663 Kg
Pasir Kering ( Ls ) =0.5112 Kg
Luas tray (A) = 0.0495 m2
Waktu, = 10/60 = 0.16667 jam
Berat tray, WT = 0.34979 Kg
Tabel A.4 perhitungan data percobaan mekanisme pengeringan V = 8 dan T =7
Waktu

Berat pasir
basah+tray

(menit)
0
10
20
30
40
50
60

(gram)

Berat
pasir
basah
(gram)

Berat
pasir
basah
(Kg)

883,42
873,65
863,02
854,63
850,82
849,18
848,74

533,63
523,86
513,23
504,84
501,03
499,39
498,95

0,53363
0,52386
0,51323
0,50484
0,50103
0,49939
0,49895

Kadar air, X

(Kg air/Kg pasir


kering)
0,04203
0,02417
0,00396
-0,0126
-0,0203
-0,0236
-0,0246

0
-0,01787
-0,02021
-0,01655
-0,0077
-0,00335
-0,0009

Perhitungansecara teoritis
% berat air di pasirmula-mula = 14,80%
Pasirbasahmasuk tray (Wm) = 0,6 Kg
Pasir Kering ( Ls ) =( 100%berat air di pasir mulamula ) x Wm
Pasir Kering ( Ls ) =( 10.1756 ) x 0.38407 Kg =0.31663 Kg
Pasir Kering ( Ls ) =0.5112 Kg
Luas tray (A) = 0.0495 m2
Waktu, = 10/60 = 0.16667 jam
Berat tray, WT = 0.34979 Kg
w = 860627,9 J/Kg

Laju
Pengeringan
,N
(Kg air/
(m2.jam)
1,10705
1,25237
1,02571
0,47713
0,20762
0,05593

Tabel A.5Perhitungan teoritis mekanisme pengeringan V = 5 dan T= 8


Waktu
(menit
)

V1
m/s

V2
m/s

T
g
o
C

Tw
o
C

Tf
o
C

X
m

Kg/m
3

Kg/m.s

Npr

w
J/Kg

Nre

NNU

H
W/m2.
K

q1
W

U
W/m2.
K

q2
W

q
tota
l
W

m
Kg/s

(K
(m

0,00
5

10

0,7
4

0,74
5

39

31

35

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

814107,
5

135074,53
8

217,27
8

18,228

72,182
9

13,358

52,9

125,08

0,000153
6

1,117

20

0,8
1

0,81
6

39

31

35

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

814107,
5

147851,86

227,32
2

19,071

75,519
8

13,805

54,6
7

130,19

0,000159
9

1,163

30

0,9
8

0,98
7

39

31

35

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

814107,
5

178882,49
7

250,04
2

20,977

83,067
6

14,777

58,5
2

141,59

0,000173
9

1,264

40

1,1

1,10
8

35

31

33

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

814107,
5

200786,47
6

264,90
8

22,224

44,003
3

15,385

30,4
6

74,466

9,147E-05

0,665

50

1,0
5

1,05
8

35

31

33

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

814107,
5

191659,81
8

258,81
8

21,713

42,991
5

15,139

29,9
7

72,966

8,963E-05

0,651

60

0,6
3

0,63
5

36

31

33,
5

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

814107,
5

114995,89
1

200,47
9

16,819

41,626
4

12,585

31,1
5

72,775

8,939E-05

0,650

70

0,9
1

0,91
7

36

31

33,
5

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

814107,
5

166105,17
6

240,94
6

20,214

50,028
7

14,394

35,6
3

85,655

0,000105
2

0,765

80

1,0
3

1,03
7

35

31

33

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

814107,
5

188009,15
5

256,34
1

21,505

42,580
1

15,037

29,7
7

72,354

8,888E-05

0,646

90

1,00
7

33

29

31

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

814107,
5

182533,16

252,58

21,19

41,955
5

14,883

29,4
7

71,423

8,773E-05

0,638

100

0,7
1

0,71
5

32

29

30,
5

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

814107,
5

129598,54
4

212,82
8

17,855

26,514
2

13,157

19,5
4

46,052

5,657E-05

0,411

110

0,8
2

0,82
6

33

28

30,
5

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

814107,
5

149677,19
1

228,72
1

19,188

47,490
4

13,867

34,3
2

81,81

0,000100
5

0,730

Tabel A.6Perhitungan teoritis mekanisme pengeringan V = 7 dan T= 8


Waktu
(menit
)

V1
m/s

V2
m/s

Tg
o
C

T
w
o
C

Tf
o
C

X
m

Kg/m
3

Kg/m.s

Npr

w
J/Kg

Nre

NNU

H
W/m2.
K

q1
W

U
W/m2.
K

q2
W

q total
W

m
Kg/s

NC
(Kg
(m2.

0,00
5

10

0,5
9

0,59
4

33

29

31

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

814107,
5

107694,56
4

194,01
1

16,276

32,226
6

12,279

24,3
1

56,53
9

6,945E05

0,50

20

1,0
8

1,08
8

33

30

31,
5

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

814107,
5

197135,81
3

262,48
9

22,021

32,701

15,288

22,7

55,40
4

6,805E05

0,49

30

1,3
5

1,36

33

30

31,
5

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

814107,
5

246419,76
6

293,47
2

24,62

36,560
9

16,497

24,5

61,05
9

7,5E-05

0,54

40

1,0
6

1,06
8

34

30

32

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

814107,
5

193485,15

260,04
7

21,816

43,195
8

15,189

30,0
7

73,27

9E-05

0,65

50

0,7
8

0,78
6

33

30

31,
5

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

814107,
5

142375,86
5

223,07
3

18,714

27,790
5

13,617

20,2
2

48,01
2

5,898E05

0,42

60

0,5
7

0,57
4

33

30

31,
5

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

814107,
5

104043,90
1

190,69
4

15,998

23,756
8

12,12

18

41,75
5

5,129E05

0,37

70

0,6
9

0,69
5

33

30

31,
5

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

814107,
5

125947,88

209,80
9

17,601

26,138
1

13,019

19,3
3

45,47
1

5,585E05

0,40

80

1,1
3

1,13
8

34

30

32

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

814107,
5

206262,47
1

268,49
7

22,525

44,599
3

15,529

30,7
5

75,34
7

9,255E05

0,67

90

0,6
4

0,64
5

33

30

31,
5

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

814107,
5

116821,22
2

202,06
4

16,952

25,173
3

12,66

18,8

43,97
3

5,401E05

0,39

100

0,9
4

0,94
7

33

31

32

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

814107,
5

171581,17

244,88
6

20,544

20,338
7

14,561

14,4
2

34,75
4

4,269E05

0,31

110

0,7
3

0,73
5

34

32,
5

31

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

814107,
5

133249,20
7

215,80
5

26,885
1

18,104

13,292

19,7
4

46,62
3

5,727E05

Tabel A.7Perhitungan teoritis mekanisme pengeringan T = 5 dan V= 8


Waktu
(menit
)

V1
m/s

V2
m/s

T
g
o
C

Tw
o
C

Tf
o
C

X
m

Kg/m
3

Kg/m.s

Npr

w
J/Kg

Nre

NNU

H
W/m2.
K

q1
W

U
W/m2.
K

q2
W

q total
W

m
Kg/s

0,00
5

10

1,2
9

1,29
9

35

31

33

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

837367,
7

235467,77
6

286,87
6

24,067

47,6522

16,247

32,1
7

79,82
1

9,532E05

20

1,0
8

1,08
8

34

30

32

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

837367,
7

197135,81
3

262,48
9

22,021

43,6014

15,288

30,2
7

73,87
1

8,822E05

30

1,1
4

1,14
8

35

30

32,
5

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

837367,
7

208087,80
2

269,68
2

22,624

55,9952

15,576

38,5
5

94,54
6

0,000112
9

40

1,4
6

1,47

34

30

32

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

837367,
7

266498,41
4

305,19
4

25,604

50,695

16,933

33,5
3

84,22
2

0,000100
6

50

1,5
4

1,55
1

34

30

32

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

837367,
7

281101,06
6

313,44
4

26,296

52,0654

17,233

34,1
2

86,18
6

0,000102
9

60

1,4
2

1,43

33

30

31,
5

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

837367,
7

259197,08
7

300,98
4

25,25

37,4968

16,778

24,9
1

62,41
1

7,453E05

70

1,4
4

1,45

44

32

38

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

837367,
7

262847,75

303,09
6

25,428

151,04

16,856

100,
1

251,1
6

0,000299
9

80

1,4
3

1,44

52

32

42

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

837367,
7

261022,41
9

302,04
2

25,339

250,857

16,817

166,
5

417,3
4

0,000498
4

90

1,4
5

1,46

55

33

44

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

837367,
7

264673,08
2

304,14
7

25,516

277,866

16,894

184

461,8
4

0,000551
5

100

1,4
3

1,44

58

33

45,
5

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

837367,
7

261022,41
9

302,04
2

25,339

313,571

16,817

208,
1

521,6
8

0,000623

110

1,2
7

1,27
9

58

33

45,
5

0,00
5

1,148

1,888E05

0,70
6

837367,
7

231817,11
3

284,64
4

23,879

295,509

16,161

200

495,5

0,000591
7

Tabel A.8 Perhitungan teoritis mekanisme pengeringan T = 7 dan V= 8


Waktu
(menit)

V1
m/s

V2
m/s

Tg
o
C

Tw
o
C

Tf
o
C

X
m

Kg/m3

Kg/m.s

Npr

w
J/Kg

Nre

NNU

H
W/m2.K

q1
W

0,005

10

0,9

0,906

35

31

33

0,005

1,148

1,888E-05

0,706

860627,9

164279,844

239,619

20,102

39,802

20

1,37

1,38

34

30

32

0,005

1,148

1,888E-05

0,706

860627,9

250070,429

295,638

24,802

49,107

30

1,42

1,43

35

30

32,5

0,005

1,148

1,888E-05

0,706

860627,9

259197,087

300,984

25,25

62,494

40

1,14

1,148

34

30

32

0,005

1,148

1,888E-05

0,706

860627,9

208087,802

269,682

22,624

44,796

50

0,85

0,856

34

30

32

0,005

1,148

1,888E-05

0,706

860627,9

155153,186

232,868

19,536

38,681

60

0,97

0,977

33

30

31,5

0,005

1,148

1,888E-05

0,706

860627,9

177057,165

248,763

20,869

30,991

70

1,01

1,017

44

32

38

0,005

1,148

1,888E-05

0,706

860627,9

184358,492

253,84

21,295

126,49