Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bedah jantung dilakukan untuk menangani berbagai masalah jantung.Prosedur
yang sering mencakup angioplasti koroner perkutan, revaskularisasi arteri
koroner dan perbaikan penggantian katup jantung yang rusak.
Di masa kini, pasien dengan penyakit jantung dan komplikasi yang menyertainya
dapat dibantu untuk mencapai kualitas hidup yang lebih besar dan yang
diperkirakan sepuluh tahun silam.Dengan prosedur diagnostik yang canggih
yang memungkinkan diagnostik dimulai lebih awal dan lebih akurat,
menyebabkan penanganan dapat dilakukan jauh sebelum terjadi kelemahan
yang berarti.Penanganan dengan teknologi dan farmakoterapi yang baru terus
dikembangkan dengan cepat dan dengan keamanan yang semakin
meningkat.Mungkin tak ada intervensi terapi yang begitu berarti seperti
pembedahan jantung yang dapat memperbaiki kualitas hidup pasien dengan
penyakit jantung.
Pembedahan jantung pertama yang berhasil, penutupan luka tusuk ventrikel
kanan, telah dilakukan di tahun 1895 oleh ahli bedah halls de Vechi.Di Amerika
Serikat pembedahan serupa yang sukses, juga penutupan luka tusuk, dilakukan
di tahun 1902. Diikuti oleh pembedahan katup di tahun 1923 dan 1925,
penutupan duktus paten di tahun 1937 dan 1938, dan reseksi koarktasi aorta
pada tahun 1944. Era baru tandur pintasan arteri koroner bermula di tahun
1954.
Perkembangan yang paling revolusioner dalam perkembangan pembedahan
jantung adalah teknik pintasan jantung-paru.Pertama kali digunakan dengan
berhasil pada manusia di tahun 1951.Di masa kini lebih dari 250.000 prosedur
yang dilakukan dengan menggunakan pintasan jantung paru.Terbanyak (lebih
dari 200.000) dilakukan di Amerika Utara. Kebanyakan prosedur adalah graft
pintasan arteri koroner (CABG = coronary artery bypass graft) dan perbaikan
atau penggantian katup.
Kemajuan dalam diagnostik, penatalaksanaan medis, teknik bedah dan
anestesia, dan pintasan jantung paru, dan juga perawatan yang diberikan di unit
perawatan kritis serta program rehabilitasi telah banyak membantu pembedahan
menjadi pilihan penanganan yang aman untuk pasien dengan penyakit jantung.

1.2 Rumusan Masalah

1.

Apa Definisi Bedah Jantung ?

2.

Apa saja Klasifikasi Bedah Jantung ?

3.

Apa Tujuan Operasi Bedah Jantung ?

4.

Apa saja Toleransi dan Perkiraan Resiko Operasi ?

5.

Apa saja Diagnosis Penderita Penyakit Jantung ?

6.

Bagaimana Perawatan Perioperative Dikamar Operasi ?

7.

Bagaimana Perawatan Pasca Bedah?

1.3Tujuan
Tujuan Instuksional Umum
Mahasiswa mampu memahami asuhan keperawatan pada pasien intra bedah
jantung.
Tujuan Instuksional Khusus
1)

Mengetahui pengertian dari bedah jantung

2)

Mengetahui klasifikasi bedah jantung

3)

Mengetahui Tujuan operasi bedah jantung

4)

Mengetahui toleransi dan perkiraan resiko operasi

5)

Mengetahui diagnose penderita penyakit jantung

6)

Mengetahui perawatan perioperative dikamar operasi

7)

Mengetahui perawatan pasca bedah

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Bedah jantung adalahUsaha atau operasi yang dikerjakan untuk melakukan
koreksi kelainan anatomi atau fungsi jantung.

2.2 Klasifikasi

1. Operasi jantung terbuka, yaitu operasi yang dijalankan dengan membuka


rongga jantung dengan memakai bantuan mesin jantung paru (mesin
extra corporal).
2. Operasi jantung tertutup, yaitu setiap operasi yang dijalankan tanpa
membuka rongga jantung misalnya ligasi PDA, Shunting aortopulmonal.
2.3Tujuan Operasi Bedah Jantung
Operasi jantung dikerjakan dengan tujuan bermacam-macam antara lain :
1. Koreksi total dari kelainan anatomi yang ada, misalnya penutupan
ASD, Pateh VSD, Koreksi Tetralogi Fallot.
2. Transposition Of Great Arteri (TGA). Umumnya tindakan ini dikerjakan
terutama pada anak-anak (pediatrik) yang mempunyai kelainan bawaan.
3. Operasi paliatif, yaitu melakukan operasi sementara untuk tujuan
mempersiapkan operasi yang definitive atau total koreksi karena operasi
total belum dapat dikerjakan saat itu, misalnya shunt aortopulmonal pada
TOF, Pulmonal atresia.
4. Repair yaitu operasi yang dikerjakan pada katub jantung yang mengalami
insufisiensi.
5. Replacement katup yaitu operasi penggantian katup yang mengalami
kerusakan.
6. Bypass koroner yaitu operasi yang dikerjakan untuk mengatasi
stenosis/sumbatan arteri koroner.
7. Pemasangan inplant seperti kawat pace maker permanen pada anakanak dengan blok total atrioventrikel.
8. Transplantasi jantung yaitu mengganti jantung seseorang yang tidak
mungkin diperbaiki lagi dengan jantung donor dari penderita yang
meninggal karena sebab lain.
2.4 Toleransi dan Perkiraan Resiko Operasi
Toleransi terhadap operasi diperkirakan berdasarkan keadaan umum penderita
yang biasanya ditentukan dengan klasifikasi fungsional dari New York
Heart Association.
Klas I

: Keluhan dirasakan bila bekerja sangat berat misalnya berlari

Klas II

: Keluhan dirasakan bila aktifitas cukup berat misalnya berjalan cepat.

Klas III : Keluhan dirasakan bila aktifitas lebih berat dari pekerjaan sehari-hari.
Klas IV : Keluhan sudah dirasakan pada aktifitas primer seperti untuk makan
dan lain-lain sehingga penderita harus tetap berbaring ditempat tidur.

Waktu terbaik (Timing) untuk melakukan operasi hal ini ditentukan berdasarkan
resiko yang paling kecil.Misalnya umur yang tepat untuk melakukan total koreksi
Tetralogi Fallot adalah pada umur 3 4 tahun.
Hal ini yaitu berdasarkan klasifikasi fungsional di mana operasi katub aorta
karena suatu insufisiensi pada klas IV adalah lebih tinggi dibandingkan pada klas
III.Hal ini adalah saat operasi dilakukan.Operasi pintas koroner misalnya bila
dilakukan secara darurat resikonya 2x lebih tinggi bila dilakukan elektif.
2.5Diagnosis Penderita Penyakit Jantung
Untuk menetapkan suatu penyakit jantung sampai kepada suatu diagnosis maka
diperlukan tindakan investigasi yang cukup. Mulai dari anamnesa, pemeriksaan
fisik/jasmani, laboratorium, maka untuk jantung diperlukan pemeriksaan
tambahan sebagai berikut :
1. Elektrokardiografi (EKG) yaitu penyadapan hantaran listrik dari jantung
memakai alat elektrokardiografi.
2. Foto polos thorak PA dan kadang-kadang perlu foto oesophagogram untuk
melihat pembesaran atrium kiri (foto lateral).
3. Fonokardiografi
4. Ekhocardiografi yaitu pemeriksaan jantung dengan memakai gelombang
pendek dan pantulan dari bermacam-macam lapisan di tangkap kembali.
Sehingga terlihat gambaran rongga jantung dan pergerakan katup
jantung. Selain itu sekarang ada lagi Dopler Echocardiografi dengan
warna, dimana dari gambaran warna yang terlihat bisa dilihat shunt,
kebocoran katup atau kolateral.
5. Nuklir kardiologi yaitu pemeriksaan jantung dengan memakai isotop
intra vena kemudian dengan scanner ditangkap pengumpulan isotop
pada jantung.
6. Kateterisasi jantung yaitu pemeriksaan jantung dengan memakai
kateter yang dimasukan ke pembuluh darah dan didorong ke rongga
jantung. Kateterisasi jantung kanan melalui vena femoralis, kateterisasi
jantung kiri melalui arteri femoralis.
Pemeriksaan kateterisasi bertujuan :

Pemeriksaan tekanan dan saturasi oksigen rongga jantung, sehingga


diketahui adanya peningkatan saturasi pada rongga jantung kanan akibat suatu
shunt dan adanya hypoxamia pada jantung bagian kiri.

Angiografi untuk melihat rongga jantung atau pembuluh darah tertentu


misalnya LV grafi, aortografi, angiografi koroner dll.

Pemeriksaan curah jantung pada keadaan tertentu.


Pemeriksaan enzym khusus, yaitu pemeriksaan enzym creati kinase dan
fraksi CKMB untuk penentuan adanya infark pada keadaan unstable angin
pectoris.
2.6Perawatan Perioperatif Dikamar Operasi
Setelah pesien diputuskan operasi, maka persiapan harus dilakukan, yaitu
persiapan fisik maupun persiapan mental.
Untuk persiapan fisik, hal-hal yang harus diperhatikan ialah persiapan
kulit,gastrointestinal,persiapan untuk anastesi, kenyamanan dan istirahat
pasien, serta obat-obatan yang digunakan. Sedangkan persiapan mental,sangat
tergantung pada dukungan dari keluarga. Tugas perawat bedah disini adalah
dapat memberikan informasi yang jelas pada pasien.Meliputi anatomi dasar dan
kondisi penyakit pasien. Prosedur operasi sebatas kopetensi yang diberikan,
pemeriksaan diagnostic penunjang, peraturan-peraturan dari tim bedah,
keadaan di ruang operasi, jenis syarat operasi dan ruang tunggu bagi keluarga
pasien. Hal ini dilakukan pada saat perawat bedah melakukan kunjungan
sebelum pasien dioperasi.
PengkajianPasien Pada Saat Di Kamar Operasi

Observasi tingkat kesadaran pasien

Observasi emosi pasien

Observasi aktivitas

Cek obat yang digunakan

Observasi pernafasan pasien

Riwayat penyakit, keluarga, kebiasaan hidup

Cek obat yang digunakan

Observasi tanda-tanda vital: tekanan darah, nadi, pernafasan, suhu

Observasi kulit: warna, turgor, suhu, keutuhan

Pemeriksaan Diagnose

EKG: untuk mengetahui disaritmia

Chest x-ray

Hasil laboratarium: darah lengkap, koagulasi, elektrolit, urium, kreatinin,


BUN, Hb.

Kateterisasi

Ekhocardiografi

Tindakan Perawatan Saat Menerima Pasien di Ruang Persiapan

Melakukan serah terima dengan perawat ruangan

Memperkenalkan diri dan anggota tim kepada pasien

Mengecek identitas pasien dengan memanggil namanya

Memberikan surport kepada pasien

Informasikan kepada pasien tentang tindakan yang akan dilakukan seperti


ganti baju, pemasangan infuse, kanulasi arteri dan pemasangan lead EKG

Mendampingi pasien saat memberikan premedikasi

Menciptakan situasi yang tenang

Yakinkan pasien tidak menggunakan gigi palsu, perhiasan, kontak lensa


dan alat bantu dengar

Membawa pasien keruang operasi

Perawatan Intra Operasi


1.
Airway (jalan nafas) Persiapkan alat untuk mempertahankan Airway antara
lain: guedel, laringoskop, ETT berbagai ukuran, system hisab lendir
2.
Breathing (pernafasan) persiapan alat untuk terapi O2 antara lain: kanula,
sungkup, bagging dan ventilator
3.

Circulation (sirkulasi):

a.
Pemasangan EKG, sering digunakan lead II untuk memantau
dinding miokard bagian inferior dan V5 untuk antero lateral
b.
Kanulasi arteri dipasang untuk memantau tekanan arteri dan analisa gas
darah
c.
Pemasangan CVP untuk pemberian darah autologus dan infuse kontinu
serta obat-obatan yang perlu diberikan
d.
Temperature: sering digunakan nasofaringeal atau rektal untuk
mengevaluasi status pasien dari cooling dan rewarning, tingkat proteksi miokard,
adekuatnya perfusi perifer dan hipertermi maligna
e.
Pada beberapa sentra sering dipasang elektro encephalogram untuk
memantau kejadian akut seperti iskemia atau injuri otak
f.
Pemberian obat-obatan: untuk anastesi dengan tujuan tidak sadar,
amnesia, analgesia, relaksasi otak dan menurunkan respons stress, sedang obat

lain seperti inotropik, kronotropik, antiaritmia, diuretic, anti hipertensi, anti


kuagulan dan kuagulan juga perlu
4. Defibrillator : Alat ini disiapkan untuk mengantisipasi aritmia yang
mengancam jiwa
5. Deathermi : Melakukan pemasangan ground pad harus disesuaikan
dengan ukuran untuk mencegah panas yang terlalu tinggi pada tempat
pemasangan
6. Posisi pasien dimeja operasi
Mengatur pasien tergantung dari prosedur operasi yang akan dilakukan. Hal
yang perlu diperhatikan: posisi harus fisiologis, system muskuloskeletal harus
terlindung, lokasi operasi mudah terjangkau, mudah dikaji oleh anastesi,beri
perlindungan pada bagian yang tertekan (kepala, sacrum, scapula, siku, dan
tumit)
8. Menjaga tindakan asepsis
Kondisi asepsis dicapai dengan: cuci tangan, melakukan proparasi kulit dan
drapping. Menggunakan gaun dan sarung tangan yang steril.

2.7Perawatan Pasca-bedah
Perawatan pasca bedah dimulai sejak penderita masuk ke ICU.Untuk mengetahui
problem pasca bedah dianjurkan untuk mengetahui problem penderita pra bedah
sehingga dapat diantisipasi dengan baik.Misalnya problem pernapasan, diabetes
dan lain-lain.

v Perawatan Pasca Bedah Dibagi Atas


1.
a.

Perawatan di ICU.
Monitoring Hemodinamik.

Setelah penderita pindah di ICU maka serah terima antara perawat yang
mengantar ke ICU dan petugas/perawat ICU yang bertanggung jawab terhadap
penderita tersebut : Dianjurkan setiap penderita satu perawat yang bertanggung
jawab menanganinya selama 24 jam.
Pemantauan yang dikerjakan harus secara sistematis dan mudah :

CVP, RAP, LAP.

Denyut jantung.

Wedge presure dan PAP.

Tekanan darah.

Curah jantung.


Obat-obat inotropik yang digunakan untuk support fungsi jantung
dosisnya, rutenya dan lain-lain.

b.

Alat lain yang dipakai untuk membantu seperti IABP, pacuh jantung dll.
EKG

Pemantauan EKG setiap saat harus dikerjakan dan dilihat irama dasar jantung
dan adanya kelainan irama jantung seperti AF, VES, blok atrioventrikel dll.
Rekording/pencatatan EKG lengkap minimal 1 kali dalam sehari dan tergantung
dari problem yang dihadapi terutama bila ada perubahan irama dasar jantung
yang membahayakan.
c.

Sistem pernapasan

Biasanya penderita dari kamar operasi masih belum sadar dan bahkan diberikan
sedasi sebelum ditransfer ke ICU. Sampai di ICU segera respirator dipasang dan
dilihat :

Tube dan ukuran yang diapakai, melalui mulut / hidung.

Tidalvolume dan minut volume, RR, FiO2, PEEP.

Dilihat aspirat yang keluar dari bronkhus / tube, apakah lendirnya normal,
kehijauan, kental atau berbusa kemerahan sebagai tanda edema paru ; bila perlu
dibuat kultur.
d.

Sistem neurologis

Kesadaran dilihat dari/waktu penderita mulai bangun atau masih diberikan obatobatan sedatif pelumpuh otot. Bila penderita mulai bangun maka disuruh
menggerakkan ke 4 ektremitasnya.
e.

Fungsi ginjal

Dilihat produksi urine tiap jam dan perubahan warna yang terjadi akibat
hemolisis dan lain-lain. Pemerikasaan ureum / kreatinin bila fasilitas
memungkinkan harus dikerjakan.
f.

Gula darah

Bila penderita adalah diabet maka kadar gula darah harus dikerjakan tiap 6 jam
dan bila tinggi mungkin memerlukan infus insulin.
g. Laboratorium
Setelah sampai di ICU perlu diperiksa :

HB,HT,trombosit.

ACT.

Analisa gas darah.

LFT / Albumin.

Ureum, kreatinin, gula darah.

Enzim CK dan CKMB untuk penderita bintas koroner.

h.

Drain

Drain yang dipasang harus diketahui sehingga perdarahan dari mana mungkin
bisa diketahui. Jumlah drain tiap satuan waktu biasanya tiap jam tetapi bila ada
perdarahan maka observasi di kerjakan tiap jam. Atau tiap jam. Perdarahan
yang terjadi lebih dari 200 cc untuk penderita dewasa tiap jam dianggap sebagai
perdarahan pasca bedah dan mungkin memerlukan retorakotomi untuk
menghentikan perdarahan.
i.

Foto thoraks

Pemerikasaan foto thoraks di ICU segera setelah sampai di ICU untuk melihat ke
CVP, Kateter Swan Ganz.Perawatan pasca bedah di ICU harus disesuaikan
dengan problem yang dihadapi seperti komplikasi yang dijumpai.Umumnya bila
fungsi jantung normal, penyapihan terhadap respirator segera dimulai dan begitu
juga ekstratubasi beberapa jam setelah pasca bedah.
j.

Fisioterapi.

Fisioterapi harus segera mungkin dikerjakan termasuk penderita dengan


ventilator.Bila sudah ekstubasi fisioterapi penting untuk mencegah retensi
sputum (napas dalam, vibrilasi, postural drinase).
2. Perawatan setelah di ICU / di Ruangan.
Setelah klien keluar dari ICU maka pemantauan terhadap fungsi semua
organ terus dilanjutkan. Biasanya pindah dari ICU adalah pada hari ke dua pasca
bedah.Umumnya pemeriksaan hematologi rutin dan thoraks foto telah dikerjakan
termasuk laboratorium LFT, Enzim CK dan CKMB.
Hari ke 3 lihat keadaan dan diperiksa antara lain :

Elektrolit thrombosis.

Ureum

Gula darah.

Thoraks foto

EKG 12 lead.

Hari ke 4

: lihat keadaan, pemeriksaan atas indikasi.

Hari ke 5
tegak.

: Hematologi, LFT, Ureum dan bila perlu elektrolit, foto thoraks

Hari ke 6 - 10 : pemerikasaan atas indikasi, misalnya thrombosis.

Obat obatan ini biasanya diberikan analgetik karena rasa sakit


daerah dada waktu batuk akan mengganggu pernapasan klien. Obat-obat lain
seperti anti hipertensi, anti diabet, dan vitamin harus sudah dimulai,
expectoransia, bronchodilator, juga diperlukan untuk mengeluarkan sputum yang
banyak sampai hari ke 7 atau sampai klien pulang.
Perawatan luka, dapat tertutup atau terbuka. Bila ada tanda-tanda
infeksi seperti kemerahan dan bengkak pada luka apalagi dengan tanda-tanda
panas, lekositosis, maka luka harus dibuka jahitannya sehingga nanah yang ada
bisa bebas keluar. Kadang-kadang perlu di kompres dengan antiseptik supaya
nanah cepat kering. Bila luka sembuh dengan baik jahitan sudah dapat di buka
pada hari ke delapan atau sembilan pasca bedah. Untuk klien yang gemuk,
diabet kadang-kadang jahitan dipertahankan lebih lama untuk mencegah luka
terbuka.
Fisioterapi, setelah klien exstubasi maka fisioterapi harus segera
dikerjakan untuk mencegah retensi sputum yang akan menyebabkan problem
pernapasan. Mobilisasi di ruangan mulai dengan duduk di tempat tidur, turun
dari tempat tidur, berjalan disekitar tempat tidur, berjalan ke kamar mandi, dan
keluar dari ruangan dengan dibimbing oleh fisioterapis atau oleh perawat.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
3.1.1 Identitas

Nama : tidak berpengaruh

Umur : kebanyakan disemua umur (pada anak-anak juga bisa


seperti pada kelainan jantung bawaan) (pada orang dewasa juga bisa dilakukan
dengan indikasi gagal jantung) tapi lebih sering pada anak-anak


Jenis kelamin : kebanyakan terjadi pada laki-laki tapi tidak menutup
kemungkinan terjadi juga pada perempuan
3.1.2 Riwayat Kesehatan

Keluhan Utama

Biasanya pasien-pasien yang akan dilaksanakan operasi bedah jantung


kebanyakan datang dengan keluhannya sesak nafas, nyeri dada, syanosis,
kelemahan, palpitasi dan nafas cepat

Riwayat Penyakit Sekarang

Sesak nafas, nyeri dada, syanosis, kelemahan, nafas cepat, palpitasi

Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien sebelumnya pernah merasa sesak dan nyeri pada dada tapi hilang
dengan obat warung

Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada anggota keluarga yang mengalami kelainan jantung


3.1.3Pemeriksaan Fisik

Kesadaran

: Composmentis

Keadaan umun: biasanya dalam keadaan lemas

TTV

Nadi

: 90-110 x/menit

TD

: 110/70-140/90 mmHg

RR

: 24-27 x/menit

Suhu

: 37,5-38.5 C

Kepala dan Leher

Rambut

: Keriting, ada lesi, distribusi merata.

Wajah

: Normal, konjungtiva pucat

Hidung

: Pernapasan cuping hidung,Tidak ada polip

Mulut

: Bersih

Leher

Thorax

Jantung

: Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tyroid

Inspeksi

: tampak ictus cordis

Palpasi

: ictus cordis kuat angkat

Perkusi

: batas jantung melebar

Auskultasi

: BJ 1 dan 2 melemah, BJ S3 dan S4, disritmia, gallop

Paru

Inspeksi

: pengembangan paru kanan-kiri simetris

Palpasi

: ada otot bantu pernafasan

Perkusi

: sonor

Auskultasi

: weezing

Abdomen

Inspeksi

: Bulat datar

Palpasi

: tidak ada nyeri tekan

Perkusi

:-

Auskultasi

: Bising usus (+)

Ekstremitas

Eks. Atas

: Ada clubbing fingers, terdapat oedema

Eks. Bawah

:Ada clubbing fingers, terdapat oedema

Sistem Integumen : kulit kering dan turgor kulit juga jelek

Genetalia
hemoroid

3.1.4
1.

: bersih, normal, tidak ada penyakit kelamin, tidak ada

Pengkajian Fungsional Gordon


Persepsi dan pemeliharaan kesehatan

Pasien mengatakan kesehatan merupakan hal yang penting, jika ada keluarga
yang sakit maka akan segera dibawa ke pelayanan kesehatan terdekat.
2.

Pola nutrisi dan metabolik

Makan : Tidak nafsu makan disebabkan dipsnea


Minum : minum air putih tidak banyak sekitar 400-500cc
3.

Pola eliminasi

BAK : adanya retensi urin / inkonteninsia urine


BAB : adanya konstipasi
4.

Pola aktivitas dan latihan

Pasien tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasanya karena adanya sesak dan
nafas pendek.
5.

Pola istirahat tidur

Pasien tidak bisa istirahat total seperti biasanya karena ada nyeri di dada
6.

Pola persepsi sensori dan kognitif

Pasien sudah mengerti tentang keadaanya dan merasa harus segera berobat
7.

Pola hubungan dengan orang lain

Pasien dapat berhubungan dengan orang lain secara baik tetapi akibat
kondisinya pasien malas untuk keluar dan memilih untuk istirahat.
8.

Pola reproduksi / seksual

Pasien berjenis kelamin laki laki dan akibat penyakitnya pasien tidak bisa
berhubungan seksual .
9.

Pola persepsi diri dan konsep diri

Pasien ingin cepat sembuh dan tidak ingin mengalami penyakit seperti ini lagi
10. Pola mekanisme koping
Pasien apabila merasakan tidak nyaman sekali dan memegangi dadanya.
11. Pola nilai kepercayaan / keyakinan
Pasien beragama islam dan yakin akan cepat sembuh menganggap ini
merupakan cobaan dari Allah SWT.

3.1.5 Contoh Analisa Data


no

Data

Etiologi

Masalah

Ds : pasien
mengatakan
cepat lelah saat

Penurunan
kontraktilitas

Penurunan
cardiac

beraktifitas dan
nyeri pada
dadanya.

miokard

output

ketidakseimban
gan antara
suplai oksigen

Gangguan
intoleransi
aktivitas

menurunnya
filtrasi
glomelurus

Kelebihan
volume
cairan

Do :
- TTV (TD :
120/80-140/90
mmHg, N :
takikardi (lebih
dari
100x/menit),
RR : takipnea
(24-28x/menit),
S : 37,5038,50 C )
- Bunyi
Jantung S3 dan
S4
2

Ds: Pasien
mengatakan
dapat
beraktivitas
seperti biasa
dan tidak mudah
lelah.
Do:
- TTV (TD :
120/80-140/90
mmHg, N :
takikardi (lebih
dari
100x/menit),
RR : takipnea
(24-28x/menit),
S : 37,5038,50 C )

Ds: pasien
mengatakan air
kencingnya
sedikit
Do:
- TTV (TD :

120/80-140/90
mmHg, N :
takikardi (lebih
dari
100x/menit),
RR : takipnea
(24-28x/menit),
S : 37,5038,50 C )
- Oedema pada
kaki

3.1.6 Diagnosa Keperawatan


1. Penurunan cardiac output b.d penurunan kontraktilitas miokard.
2. Gangguan intoleransi aktifitas b.d adanya ketidakseimbangan antara
suplay oksigen
3. Kelebihan volume cairan b.d menurunnya filtrasi glomelurus
3.1.7 Proses Keperawatan
N
o

Diagnosa

Tujuan dan
KH

Intervensi

Rasional

Penurunan
cardiac output
berhubungan
dengan
penurunan
kontraktilitas
miokard.

Setelah
dilakukan
proses
keperawat
an selama
1x24 jam
diharapkan
keseimban
gan heart
rate dan
frekuensi
jantung
dapat
terjaga
dengan
KH :

1.
Obs
ervasi
TTV

1.
Mengetahui
keadaan umum pasien

K : pasien
dan
keluarga
pasien

2.
Aus
kultasi
bunyi
jantung,
catat
frekuensi,
irama.
Catat
adaya
denyut
jantung
ekstra,
penuruna
n nadi.

2.
disritmia khusus
lebih jelas terdeteksi
dengan pendengaran
dari pada dengan
palpasi.
Pendenganaran
terhadap bunyi
jantung ekstra atau
penurunan nadi
membantu
mengidentifikasi
disritmia pada pasien
tak terpantau
3.
Menurunnya
perfusi otak dapat
mengakibatkan
perubahan observasi/
pengenalan dalam

mengetahu
i apa yang
menyebab
kan dari
menurunny
a cardiac
output.
A : pasien
dan
keluarga
pasien bisa
menunjuka
n
bagaimana
cara untuk
menjaga
cardiac
output
tetap
stabil.
P : pasien
dan
keluarga
pasien bisa
memperta
hankan
cardiac
output
tetap stabil
P : - TTV
normal :
(TD : 110/7
0-120/80
mmHg,
Suhu: 36,537,50 C, RR:
16-24 x/m
nt, Nadi:
60-100
x/mnt
- Tidak ada
bunyi
jantung
tambahan

sensori.
4.
Sirkulasi
periferal turun ketika
Cardiac Output
menurun,
membuat/menjadikan
warna pucat/abu-abu
bagi kulit (tergantung
dari derajat hipoksia)
dan penurunan
kekuatan dari denyut
periferal.

3.
Obs
ervasi
status
mental,
catat
perkemba
ngan
kekacaua
n,
disorienta
si.

4.
Cat
at warna
kulit,
adanya
kuwalitas
pulse .

5.
untuk
mengevaluasi
efektifitas
pengobatan, banyak
parameter digunakan
untuk mengevaluasi
fungsi kardiovaskuler
6.
Meringankan
beban jantung

S3 (gallop)
dan S4
(murmur)
- keluaran
urin
adekuat
- tidak ada
edema
- Peralatan
pemantau
hemodina
mik
memperlih
atkan hasil
normal
( tekanan
vena
central
(CVP)
normal
antara 2-8
mmHg
atau 3-11
cm air,
curah
jantung
normal
antara 35L/menit,
tekanan
kapiler
pulmonal
(PCWP)
normal
yaitu 6-12
mmHg,
indeks
jantung
normal 2,53,5
L/mnt/mm2
, tekanan
vaskuler
sistemik
normal

5.
Pant
au status
kardivask
uler
setiap
jam
sampai
stabil
melalui
paramete
r
hemodina
mik

6.
Kola
borasi
obat anti
aritmia

antara
600-1400
dynes/sec,
rerata
tekanan
arteri
normal 70100mmHg)
2

Gangguan
intoleransi
aktifitas berhubu
ngan dengan
adanya
ketidakseimbang
an antara suplay
oksigen

Setelah
dilakukan
proses
keperawat
an selama
1x24 jam
pasien
dapat
melakukan
aktivitas
seperti
biasa dan
tidak
mudah
lelah
dengan
KH :
K : pasien
dan
keluarga
pasien
mengetahu
i penyebab
dari
gangguan
intoleransi
aktivitas
A : pasien
dan
keluarga
pasien
mampu
menunjuka
n
bagaimana
cara

1.
Obs
ervasi
TTV

2.
Cat
at respon
kardiopul
monal
terhadap
aktivitas,
catat
takikardi,
disritmia,
dispnea,
berkering
at, pucat.

1.
Mengetahui
keadaan umum pasien
2.
Penurunan/ketid
akmampuan
miokardium untuk
meningkatkan volume
sekuncup selama
aktivitas, dengan
menyebabkan
peningkatan segera
pada frekuensi
jantung dan
kebutuhan oksigen,
juga peningkatan
kelelahan dan
kelemahan.
3.
Sianosis kuku
menunjukkan
vasokontriksi respon
tubuh terhadap
demam/menggigil
namun sianosis pada
daun telinga,
membran mukosa dan
kulit sekitar mulut
menunjukkan
hipoksemia sistemik.
4.
Dapat
menunjukkan
peningkatkan
dekompensasi jantung
daripada kelebihan
aktivitas.

3.
Obs
ervasi

5.
Membantu
menjaga jalan nafas
tetap paten,

mengatasi
gangguan
intoleransi
aktivitas
P : pasien
dan
keluarga
pasien
mampu
mengatasi
gangguan
intoleransi
aktivitas

warna
kulit,
membran
mukosa
dan kuku.
Catat
adanya
sianosis
perifer
(kuku)
atau
sianosis
sentral.

P : - TTV
normal :
(TD : 110/7
0-120/80
mmHg,
Suhu: 36,537,50 C, RR:
16-24 x/m
nt, Nadi:
60-100
x/mnt
- suara
nafas
vesikuler
- mukosa
dan dasar
kuku
berwarna
merah
muda

4.
Eva
luasi
peningkat
an
intolerans
i
aktivitas.

5.
Anju
rkan
untuk
menarik
nafas
dalam,
batuk

mencegah atelectasis
dan memungkinkan
pengembangan paru.

efektif,
berpindah
posisi,
memakai
spiromete
r dan
mematuhi
terapi
nafas.
3

Kelebihan
volume cairan
berhubungan
dengan
menurunnya
filtrasi
glomelurus.

Setelah
dilakukan
proses
keperawat
an selama
1x24 jam
diharapkan
keseimban
gan cairan
dalam
tubuh
dapat
tercapaide
ngan KH:
K : pasien
dan
keluraga
pasien
mengetahu
i penyebab
dari
kelebihan
volume
cairan
A : pasien
dan
keluarga
pasien
mampu
menunjuka
n
bagaimana
cara
menangani
kelebihan
volume

1.
Obs
ervasi
TTV.

2.
Obs
ervasi
output
urine,
catat
jumlah
dan
warnanya

3.
Atu
r posisi
semi
fowler
selama
fase akut

1.
Untuk
mengetahui keadaan
umum pasien.
2.
Output urine
mungkin sangat
sedikit dan pekat,
karena menurunnya
perfusi jaringan
3.
Dengan posisi
berbaring semi fowler
meningkatkan filtrasi
glomerulus dan
mengurangi produksi
ADH sehingga
menambah diuresis.
4.
Retensi cairan
yang berlebihan
dimanifestasikan
dengan adanya
edema. Meningkatnya
kongesti vaskuler
yang akhirnya
mengakibatkan
edema jaringan
sistemik.
5.
Bertambah
beratnya gagal
jantung menambah
kongesti vena ,
mengakibatkan
distensi perut dan
nyeri. Ini dapai
merubah fungsi hati
dan merugikan

cairan
P : pasien
dan
keluarga
pasien
mampu
mengatasi
kelebihan
volume
cairan
P : - TTV
normal :
(TD : 110/7
0-120/80
mmHg,
Suhu: 36,537,50 C, RR:
16-24 x/m
nt, Nadi:
60-100
x/mnt
- Gambara
n adanya
kestabilan
volume
cairan
dengan
seimbangn
ya intake
output.
- tidak ada
edema.

metabolisme obat.
4.
Peri
ksa tubuh
dari
edema
dengan/ta
npa
pitting,
catat
adanya
edema
seluruh
tubuh
(anasarka
)

5.
Palp
asi
adanya
hepatome
gali.
Catat
keluhan
nyeri
pada
kwadran
atas
bagian
kanan

6.
Diuretic
(Furosemic),
Meningkatkan aliran
urine dan
menghalangi
reabsorsi dari
sodium/klorida
didalam tubulus ginjal.
Thiazide
(Spironolactone),
Meningkatnya diuresis
tanpa kehilangan
potassium yang
berlebihan.

6.
Kola
borasi
dengan
tim
kesehata
n dengan
pemberia
n diuretic,
thiazide
dan
pengganti
potasium.

3.2 Pengkajian Pasien yang telah menjalani Operasi Jantung


3.2.1 Riwayat Kesehatan

Keluhan Utama

Biasanya pasien-pasien yang telah dilaksanakan operasi bedah jantung


kebanyakan keluhannya sesak nafas, nyeri dada, kelemahan, palpitasi dan nafas
cepat

Riwayat Penyakit Sekarang

Sesak nafas, nyeri dada, kelemahan, nafas cepat, palpitasi

Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien sebelumnya belum pernah menjalani bedah jantung

Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada anggota keluarga yang mengalami kelainan jantung hingga dilakukan
pembedahan

3.2.2Pemeriksaan Fisik

Kesadaran

Keadaan umun: biasanya dalam keadaan lemas

TTV

Nadi

: Apatis

: 55-80 x/menit

TD

: 90/65-120/85 mmHg

RR

: 22-27 x/menit

Suhu

: 37,5-38.5 C

Kepala dan Leher

Rambut

: Keriting, ada lesi, distribusi merata.

Wajah

: Normal, konjungtiva agak merah muda

Hidung

: Tidak ada polip

Mulut

: Bersih

Leher

Thorax

Jantung

: Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tyroid

Inspeksi

: terdapat bekas jahitan luka operasi

Palpasi

: adanya nyeri tekan

Perkusi

:-

Auskultasi

: terdengar BJ 1 dan 2

Paru

Inspeksi

: pengembangan paru kanan-kiri simetris

Palpasi

: tidak ada otot bantu pernafasan

Perkusi

:-

Auskultasi

: weezing

Abdomen

Inspeksi

: Bulat datar

Palpasi

: tidak ada nyeri tekan

Perkusi

:-

Auskultasi

: Bising usus (+)

Ekstremitas

Eks. Atas

: Ada clubbing fingers, terdapat oedema

Eks. Bawah

:Ada clubbing fingers, terdapat oedema

Sistem Integumen : turgor kulit kembali > 1 detik

Genetalia
: bersih, normal, tidak ada penyakit kelamin, tidak ada
hemoroid,dan terpasang kateter

Bila pasien telah dipindahkan ke unit perawatan kritis, 4-12 jam sesudahnya,
harus dilakukan pengkajian yang lengkap mengenai semua system untuk
menetukan status pascaoperasi pasien dibandingkan dengan garis dasar
perioperative dan mengetahui perubahan yang mungkin terjadi selama
pembedahan. Parameter yang dikaji adalah sebagai berikut :
1.
Status neurologis :tingkat responsivitas, ukuran pupil dan reaksi terhadap
cahaya, refleks, gerakan ekstremitas, dan kekuatan genggaman tangan.
2.
Status Jantung :frekuensi dan irama jantung, suara jantung, tekanan darah
arteri, tekanan vena sentral (CVP), tekanan arteri paru, tekanan baji arteri paru
(PAWP = pulmonary artery wedge pressure). tekanan atrium kiri (LAP), bentuk
gelombang dan pipa tekanan darah invasif, curah jantung atau indeks. tahanan
pembuluh darah sistemik dan paru, saturasi oksigen arteri paru bila ada,
drainase rongga dada, dan status serta fungsi pacemaker.
3.
Status respirasi : gerakan dada, suara napas, penentuan ventilator
(frekuensi, volume tidal, konsentrasi oksigen, mode [mis, SIMV], tekanan positif
akhir ekspirasi [PEEP], kecepatan napas, tekanan ventilator, saturasi oksigen
anteri (SaO2), CO2 akhir tidal, pipa drainase rongga dada, gas darah arteri.
4.
Status pembuluh darah perifer :denyut nadi perifer, warna kulit, dasar
kuku, mukosa, bibir dan cuping telinga, suhu kulit, edema, kondisi balutan dan
pipa invasif.
5.

Fungsi ginjal :haluaran urin, berat jenis urin, dan osmolaritas.

6.
Status cairan dan elektrolit asupan : haluaran dan semua pipa drainase.
semua parameter curah jantung, dan indikasi ketidakseimbangan elektrolit
berikut:
a.
Hipokalemia : intoksikasi digitalis, disritmia (gelombang U, AV blok,
gelombang T yang datar atau terbalik).
b.
Hiperkalemia : konfusi mental, tidak tenang, mual, kelemahan, parestesia
eksremitas, disrirmia (tinggi, gelombang T puncak, meningkatnya amplitudo,
pelebaran kompleks QRS; perpanjangan interval QT).
c.

Hiponatremia : kelemahan, kelelahan, kebingungan, kejang, koma.

d.

Hipokalsemia parestesia, spasme tangan dan kaki, kram otot, tetani.

e.

Hiperkalsemia intoksikasi digitalis, asistole.

7.
Nyeri :sifat, jenis, lokasi, durasi, (nyeri karena irisan harus dibedakan
dengan nyeri angina), aprehensi, respons terhadap analgetika.
Beberapa pasien yang telah menjalani CABG dengan arteri mamaria interna akan
mengalami parestesis nervus ulnaris pada sisi yang sama dengan graft yang
diambil. Parestesia tersebut bisa sementara atau permanen. Pasien yang
menjalani CABG dengan arteri gastroepiploika juga akan mengalami ileus selama
beberapa waktu pascaoperatif dan akan mengalami nyeri abdomen pada tempat
insisi selain nyeri dada.
Pengkajian juga mencakup observasi segala peralatan dan pipa untuk
menentukan apakah fungsinya baik: pipa endotrakheal, ventilator, monitor
CO2 akhir tidal, monitor SaO2, kateter arteri paru, monitor saturasi oksigen arteri
paru (SavO2), pipa arteri dan vena, alat infus intravena dan selang, monitor
jantung, pacemaker, pipa dada, dan sistem drainase urin.

3.2.3Contoh Analisa Data


N
o

Analisa data

Etiologi

Problem

1.

Ds: keluarga klien


mengatakan
bahwa pasien
mengalami
keletihan,
berdebar-debar,
nafas pendek,
bingung

Kehilangan
darah dan
gangguan
miokardium

Penurunan
curah jantung

Do:
- TTV (TD :
120/80-140/90
mmHg, N :
takikardi (lebih
dari 100x/menit),
RR : takipnea (2428x/menit), S :
37,50-38,50 C )
- Bunyi Jantung
S3 dan S4
- Keluaran urin
anadekuat
- Peralatan
pemantau

hemodinamik
memperlihatkan
hasil tidak normal
- Terdapat
edema
2.

Ds: keluarga klien


mengatakan
bahwa pasien
sesak, nafas
pendek,

Trauma
pembedahan
dada ekstensif

Gangguan
pertukaran
gas

Trauma operasi

Nyeri

Do:
- TTV (TD : 120/80140/90 mmHg, N :
takikardi (lebih
dari 100x/menit),
RR : takipnea (2428x/menit), S :
37,50-38,50 C )
- AGD tidak normal
(PO2 :dibawah 80
mmHg, PCO2 :
diatas 45 mmHg,
HCOO-3 : dibawah
21 mmHg,
PH :dibawah 7,35,
SO2 : dibawah
90 mmHg)
- Suara nafas
krekel
- Jalan nafas
terganggu
- Dasar kuku dan
membrane mukosa
pucat

Ds: keluarga klien


mengatakan
bahwa pasien
merasakan nyeri
pada daerah dada

Do:
- Dahi pasien
mengkerut,
merintih dan
melindungi tempat
rasa nyeri
- skala nyeri 5
- pasien
memegang dada
bagian atas
- menggosok
lengan kiri
- TTV :
TD: 120/80-140/90
mmHg, Nadi: 100110 x/menit, RR:
20-24x /menit,
Suhu : 370C-380C
- P : nyeri
bertambah jika
digunakan
bergerak dan
berkurang bila
digunakan istirahat
- Q : seperti
tertusuk
- R : didaerah
dada,
- S : 5,
- T : waktu
bergerak
4.

Ds: keluarga klien


mengatakan
bahwa pasien
demam
Do:
- Suhu : 38,50C
390C

Infeksi atau
sindroma pasca
perikardiotomo

Hipertermi

- Adanya
kemerahan
-Adanya bengkak
-Peningkatan rasa
nyeri

3.2.4 Diagnosa Keperawatan


1.
Menurunnya curah jantung berhubungan dengan kehilangan darah dan
fungsi jantung yang terganggu.
2.
Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan trauma akibat
pembedahan dada ekstensi.
3.

Nyeri berhubungan dengan trauma operasi.

4.
Terjadinya hipertermi berhubungan dengan terjadinya infeksi atau sindrom
pasca perikardiotomi.
3.2.5Proses Keperawatan
N
o

Diagnosa

Tujuan dan
KH

Intervensi

Rasional

Menurunnya
curah jantung
berhubungan
dengan
kehilangan
darah dan
fungsi jantung
yang
terganggu.

Setelah
dilakukan
proses
keperawatan
selama 2x24
jam
diharapkan
curah
jantung
pasien
normaluntuk
menjaga
gaya hidup
yang
diinginkan
dengan KH :

1. Observasi TTV

1. Mengetahu
i keadaan
umum pasien

K : pasien
dan keluarga
pasien

2. Raba nadi
(radial, carotid,
femoral, dorsalis
pedis) catat
frekuensi,
keteraturan,
amplitude
(penuh/kuat)
dan simetris.
Catat adanya
pulsus alternan,
nadi bigeminal,
atau deficit nadi.

2. perbedaan
frekuensi,
kesamaan
dan
keteraturan
nadi
menunjukkan
efek
gangguan
curah jantung
pada sirkulasi
sistemik/perif
er.

mengetahui
apa yang
menyebabka
n dari
menurunnya
curah
jantung.

3. Auskultasi
bunyi jantung,
catat frekuensi,
irama. Catat
adaya denyut
jantung ekstra,
penurunan nadi.

A : pasien
dan keluarga
pasien bisa
menunjukan
bagaimana
cara untuk
menjaga
curah
jantung tetap
stabil.
P : pasien
dan keluarga
pasien bisa
mempertaha
nkan curah
jantung tetap
stabil
P : - TTV
normal :
(TD : 110/70120/80
mmHg, Suhu:
36,5-37,50 C,
RR: 1624 x/mnt,
Nadi: 60-100
x/mnt
- Tidak ada
bunyi jantung
tambahan S3
(gallop) dan
S4 (murmur)
- keluaran
urin adekuat
- tidak ada

4. Pantau
keluaran urin
5. Pantau status
kardivaskuler
setiap jam
sampai stabil
melalui
parameter
hemodinamik

6. Kolaborasi
obat anti aritmia

3. disritmia
khusus lebih
jelas
terdeteksi
dengan
pendengaran
dari pada
dengan
palpasi.
Pendenganar
an terhadap
bunyi jantung
ekstra atau
penurunan
nadi
membantu
mengidentifik
asi disritmia
pada pasien
tak terpantau
4. untuk
mengetahui
fungsi ginjal
5. untuk
mengevaluasi
efektifitas
pengobatan,
banyak
parameter
digunakan
untuk
mengevaluasi
fungsi
kardiovaskule
r
6. Meringank
an beban
jantung

edema
- Peralatan
pemantau
hemodinamik
memperlihat
kan hasil
normal
( tekanan
vena central
(CVP) normal
antara 2-8
mmHg atau
3-11 cm air,
curah
jantung
normal
antara 35L/menit,
tekanan
kapiler
pulmonal
(PCWP)
normal yaitu
6-12 mmHg,
indeks
jantung
normal 2,53,5
L/mnt/mm2,
tekanan
vaskuler
sistemik
normal
antara 6001400
dynes/sec,
rerata
tekanan
arteri normal
70100mmHg)
2

Gangguan
pertukaran gas
berhubungan
dengan trauma
akibat

Setelah
dilakukan
proses
keperawatan
selama 1x24

1. Observasi TTV

1. Mengetahu
i keadaan
umum pasien
2. AGD dan

pembedahan
dada ekstensi.

jam
pertukaran
gas adekuat
dengan KH :
K : pasien
dan keluarga
pasien
mengetahui
penyebab
dari
gangguan
pertukaran
gas
A : pasien
dan keluarga
pasien
mampu
menunjukan
bagaimana
cara
mengatasi
gangguan
pertukaran
gas
P : pasien
dan keluarga
pasien
mampu
mengatasi
gangguan
pertukaran
gas
P : - TTV
normal :
(TD : 110/70120/80
mmHg, Suhu:
36,5-37,50 C,
RR: 1624 x/mnt,
Nadi: 60-100
x/mnt
-AGD normal
: (PO2 : 80-95

2. Pantau gas
darah volume
tidal, tekanan
inspirasi puncak,
dan parameter
ektubasi

volume tidal
menunjukan
efektifitas
ventilator dan
perubahan
yang harus
dilakukan
untuk
memperbaiki
pertukaran
gas

3. Observasi
warna kulit,
membran
mukosa dan
kuku. Catat
adanya sianosis
perifer (kuku)
atau sianosis
sentral.

3. Sianosis
kuku
menunjukkan
vasokontriksi
respon tubuh
terhadap
demam/meng
gigil namun
sianosis pada
daun telinga,
membran
mukosa dan
kulit sekitar
mulut
menunjukkan
hipoksemia
sistemik.

4. Auskultasi
dada terhadap
suara nafas

5. Berikan
fisioterapi
dadasesuai
resep

4. Krekel
menunjukan
kongesti
paru,
penurunan
atau
hilangnya
suara nafas
menunjukan
pneumothora
ks
5. Membantu
mencegah
retensi
sekresi dan
athelektasis

mmHg,
PCO2 : 35-45
mmHg,
HCOO-3 : 2126 mmHg, PH
: 7,35- 7,45,
SO2: 90100 mmHg)
- suara nafas
vesikuler

6. Anjurkan
untuk menarik
nafas dalam,
batuk efektif,
berpindah
posisi, memakai
spirometer dan
mematuhi terapi
nafas.

6. Membantu
menjaga jalan
nafas tetap
paten,
mencegah
atelectasis
dan
memungkink
an
pengembang
an paru.

- jalan nafas
tidak
terganggu
- mukosa dan
dasar kuku
berwarna
merah muda
3

Nyeri
berhubungan
dengan trauma
operasi.

Setelah
dilakukan
proses
keperawatan
selama 1x24
jam
diharapkan
nyeri pasien
dapat
berkurang
dengan KH:

1. Observasi
TTV.

1. Untuk
mengetahui
keadaan
umum
pasien.

2. Tentukan
riwayat nyeri
misalnya lokasi,
frekuensi, durasi

2. Untuk
mengetahui
skala nyeri.

K : pasien
dan keluraga
pasien
mengetahui
penyebab
dari nyerinya

3. Berikan
tindakan
kenyamanan
dasar (reposisi,
gosok
punggung) dan
aktivitas hiburan

3. Meringank
an nyeri dan
memberikan
rasa nyaman.

A : pasien
dan keluarga
pasien
mampu
menunjukan
bagaimana
cara
menangani
nyerinya

4. penggunaan
ketrampilan
manajemen
nyeri (teknik
relaksasi,
visualisasi,
bimbingan
imajinasi) musik,
sentuhan

4. Memberika
n rasa
nyaman pada
saat nyeri.

P : pasien
dan keluarga
pasien
mampu
mengatasi
nyerinya
P : - TTV
normal :
(TD : 110/70120/80
mmHg, Suhu:
36,5-37,50 C,
RR: 1624 x/mnt,
Nadi: 60-100
x/mnt

terapeutik
5. kontrol Kolabo
rasi : berikan
analgesik sesuai
indikasi
misalnya Morfin
metadon atau
campuran
narkotik

5. Untuk
mempercepat
hilangnya
nyeri dan
untuk
penghilang
rasa nyeri.

Skala
nyeri normal
(1-3)

Waja
h tidak
meringai
kesakitan
4

Terjadinya
hipertermi
berhubungan
dengan
terjadinya
infeksi atau
sindrom
pascaperikardio
tomi.

Setelah
dilakukan
proses
keperawatan
selama x24
jam pasien
dapat
melakukan
aktifitas
seperti biasa
dengan KH :
K : pasien
dan keluarga
pasien
mengetahui
penyebab
hipertermi
atau demam
A : pasien
dan keluarga

1.
Observasi
TTV khususnya
suhu

1.
Untuk
mengetahui
keadaan
umum pasien

2.
Gunakan
teknik steril saat
mengganti
balutan

2.
Menuru
nkan
kemungkinan
terjadinya
infeksi

3.
Observasi
adanya gejala
sindrom pasca
perikardiotomi :
demam, malese,
efusi
pericardium,
nyeri sendi

3.
Terjadi
pada 10%
sampai 40%
pasien
setelah
bedah
jantung

4.
Ajarkan
teknik kompres
air hangat untuk

pasien
mampu
menunjukan
cara
mengurangi
demam

mengurangi
demam
5.
Kolaborasi
pemberian
antiradang
sesuai resep

P : pasien
dan keluarga
pasien
mampu
melakukan
pengurangan
demam

4.
Untuk
mengurangi
demam

5.
Untuk
menghilangka
n gejala
peradangan
(mis :
demam,
bengkak, rasa
penuh, kaku
atau gatal,
dan
kelelahan)

P : - TTV
normal :
(TD : 110/70120/80
mmHg, Suhu:
36,5-37,50 C,
RR: 1624 x/mnt,
Nadi: 60-100
x/mnt
- tidak ada
bengkak
- tidak ada
kemerahan
- tidak ada
rasa nyeri

3.3Contoh Implementasi
NO.
DX

1,2,3,
4

TGL/JAM
25-112012
08.00

IMPLEMENTASI

RESPON

1. Mengobservasi
TTV

1. DS : keluarga
pasien mengatakan
pasien agak
mendingan
DO : TTV normal :
(TD : 110/70-

TT
D

120/80 mmHg,
Suhu: 36,5-37,50C,
RR: 16-24 x/mnt,
Nadi: 60-100 x/mnt
2. DS : pasien bisa
diajak kerja sama
1

2.Meraba nadi
(radial, carotid,
femoral, dorsalis
pedis) catat
frekuensi,
keteraturan,
amplitude
(penuh/kuat) dan
simetris. Mencatat
adanya pulsus
alternan, nadi
bigeminal, atau
deficit nadi.

1,2

3.Mengauskultasi
bunyi jantung, dan
suara nafas

DO : frekuensi nadi
seimbang, teratur,
tidak ada defisit
nadi

3. DS : pasien bisa
diajak kerja sama
DO : tidak ada
bunyi jantung
tambahan S3
(gallop) dan S4
(murmur)
- suara nafas
vesikuler tidak ada
krekel

1,3,4

09.00 wib

10.00 wib

4. DS : pasien
mengatakan akan
segera minum obat
4.Kolaborasi :
memberikan obat
anti aritmia, anti
radang dan
anlgesik.

DO : pasien
kooperatif

5.memantau status
kardivaskuler
melalui parameter
hemodinamik

DO : Peralatan
pemantau
hemodinamik
memperlihatkan
hasil normal
( tekanan vena
central (CVP)
normal antara 2-8
mmHg atau 3-11

5. DS : pasien
sudah enakan

cm air, curah
jantung normal
antara 3-5L/menit,
tekanan kapiler
pulmonal (PCWP)
normal yaitu 6-12
mmHg, indeks
jantung normal 2,53,5 L/mnt/mm2,
tekanan vaskuler
sistemik normal
antara 600-1400
dynes/sec, rerata
tekanan arteri
normal 70100mmHg)

6. DS : pasien
sudah merasa enak

11.00 wib
6. Memantau gas
darah, volume tidal,
tekanan inspirasi
puncak, dan
parameter ektubasi

DO :
AGD normal :
(PO2 : 80-95 mmHg,
PCO2 : 35-45
mmHg, HCOO-3 : 2126 mmHg, PH :
7,35- 7,45, SO2 : 90100 mmHg)
7. DS : pasien bisa
diajak kerjasama

2,3,4

12.00 wib

7. Mengganti
balutan dengan
teknik steril

13.00 wib
8. mengajarkan
teknik relaksasi,
kompres air hangat
dan fisioterapi dada

3.4 Evaluasi

DO : tidak ada
tanda-tanda infeksi
8. DS : pasien bisa
menerima apa yang
diajarkan
DO : skala nyeri
berkurang, demam
menurun, tidak ada
sesak dan krekel.

NO
.
DX
1

TGL/JAM

EVALUASI

25-112012

S:O : TTV normal : (TD : 110/70-120/80


mmHg, Suhu: 36,5-37,50 C, RR: 1624 x/mnt, Nadi: 60-100 x/mnt, Peralatan
pemantau hemodinamik memperlihatkan
hasil normal ( tekanan vena central (CVP)
normal antara 2-8 mmHg atau 3-11 cm
air, curah jantung normal antara 35L/menit, tekanan kapiler pulmonal
(PCWP) normal yaitu 6-12 mmHg, indeks
jantung normal 2,5-3,5 L/mnt/mm2,
tekanan vaskuler sistemik normal antara
600-1400 dynes/sec, rerata tekanan
arteri normal 70-100mmHg)
tidak ada bunyi jantung tambahan baik
S3 maupun S4
A : masalah teratasi
P : intervensi dihentikan

25-112012

S : pasien mengatakan tidak sesak nafas


O : TTV normal : (TD : 110/70-120/80
mmHg, Suhu: 36,5-37,50 C, RR: 1624 x/mnt, Nadi: 60-100
x/mnt,AGD normal : (PO2 : 80-95 mmHg,
PCO2 : 35-45 mmHg, HCOO-3 : 21-26
mmHg, PH : 7,35- 7,45, SO2 : 90100 mmHg)
- suara nafas vesikuler
- jalan nafas tidak terganggu
- mukosa dan dasar kuku berwarna
merah muda
tidak ada sianosis, tidak ada oedema,
ekstremitas hangat
A : masalah teratasi
P : intervensi dihentikan

TT
D

25-112012

S : pasien mengatakan nyeri berkurang


O : TTV normal : (TD : 110/70-120/80
mmHg, Suhu: 36,5-37,50 C, RR: 1624 x/mnt, Nadi: 60-100 x/mnt
, skala nyeri 1-3
A : masalah teratasi
P : intervensi dihentikan

25-112012

S : pasien mengatakan demamnya


berkurang
O : TTV normal : (TD : 110/70-120/80
mmHg, Suhu: 36,5-37,50 C, RR: 1624 x/mnt, Nadi: 60-100 x/mnt, tidak ada
bengkak, tidak ada kemerahan, tidak ada
rasa nyeri
A : masalah teratasi
P : intervensi dihentikan

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Bedah jantung adalahUsaha atau operasi yang dikerjakan untuk melakukan
koreksi kelainan anatomi atau fungsi jantung.

Operasi Jantung Dibagi Atas :

Operasi jantung terbuka, yaitu operasi yang dijalankan dengan membuka


rongga jantung dengan memakai bantuan mesin jantung paru (mesin extra
corporal).

Operasi jantung tertutup, yaitu setiap operasi yang dijalankan tanpa


membuka rongga jantung misalnya ligasi PDA, Shunting aortopulmonal.
Peran perawat pada fase intra operatif ini meliputi yaitu, :
1. Pemeliharaan keselamatan
2. Pematauan fisiologis
3. Dukungan psikologis
4. Penatalaksanaan keperawatan

4.2 Saran

Menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit

Mengurangi nyeri pada pasien

Meningkatkan istirahat yang cukup

Mencegah suhu tubuh agar tetap normal

Jaga pola makan dan gaya hidup

DAFTAR PUSTAKA

Boedihartono. 1994. Proses Keperawatan di Rumah Sakit. Jakarta.


Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan. EGC : Jakarta.
Effendy, Christantie dan Ag. Sri Oktri Hastuti. 2005. Kiat Sukses menghadapi
Operasi. Sahabat Setia : Yogyakarta.
Effendy, Christantie. 2002. Handout Kuliah Keperawatan Medikal Bedah :
Preoperatif Nursing, Tidak dipublikasikan : Yogyakarta.
Marilynn E. Doenges. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk
perencanaan dan pendokumentasian pasien, ed.3. EGC, Jakarta.
Nasrul Effendi. 1995. Pengantar Proses Keperawatan.EGC : Jakarta.
Shodiq, Abror. 2004. Operating Room, Instalasi Bedah Sentral RS dr. Sardjito
Yogyakarta, Tidak dipublikasikan : Yogyakarta.
Sjamsulhidayat, R. dan Wim de Jong. 1998. Buku Ajar Imu Bedah, Edisi revisi.
EGC : Jakarta.
Smeltzer, Suzanne C. and Brenda G. Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah : Brunner Suddarth, Vol. 1. EGC : Jakarta.
Wibowo, Soetamto, dkk. 2001. Pedoman Teknik Operasi OPTEK, Airlangga
University Press : Surabaya.
Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, edisi 7. EGC :
Jakarta.
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke Twitter