Anda di halaman 1dari 17

Laporan Skill Lab Family Folder Blok 26

Apriani Kuddi
1020111224
kelompok A9
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Email: Apriani.april44@yahoo.com

Pendahuluan
Rabu, 22 Juli 2015, saya berserta kelompok Family Folder 9 diberi tugas melakukan
kunjungan rumah pasien kelurahan wilayah Puskesmas Grogol 1 didampingi dosen pembimbing
kami dr. Linny. Family Folder merupakan document lengkap suatu keluarga terutama dalam
hubungannya dengan derajat kesehatan. Derajat kesehatan dipengaruhi oleh empat faktor utama
menurut Blum, keempat faktor tersebut adalah genetik, pelayanan kesehatan, perilaku manusia,
dan lingkungan. a) Factor genetik: Paling kecil pengaruhnya terhadap kesehatan perorangan atau
masyarakat dibanding ketiga faktor yang lainnya. b) Faktor pelayanan kesehatan: Ketersediaan
sarana pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan, pelayanan kesehatan yang berkualitas akan
berpengaruh pada derajat kesehatan masyarakat. c) faktor perilaku: di negara berkembang faktor
ini paling besar pengaruhnya terhadap gangguan kesehatan atau masalah kesehatan masyarakat.
Perilaku individu / kelompok masyarakat yang kurang sehat juga akan berpengaruh pada faktor
lingkungan yang memudahkan timbulnya suatu penyakit. d) faktor lingkungan: lingkungan yang
terkendali akibat sikap hidup dan perilaku masyarakat yang baik akan menekan berkembangnya
masalah kesehatan.
Makalah ini dibuat dengan tujuan mengkaji dan membahas penyakit infeksi saluran
pernapasan akut pada masyarakat dan kaedah tatalaksana terhadap penyakit tersebut dengan
berbasiskan pendekatan kedokteran keluarga. Kedokteran keluarga adalah dokter praktek umum
yang dalam prakteknya melayani pasien menerapkan prinsip-prinsip kedokteran keluarga.
Kompetensi dokter keluarga tercermin dalam profile the five stars doctor. Pelayanan kedokteran
yang menerapkan prinsip-prinsip kedokteran keluarga meliputi: komprehensif (pelayanan
kedokteran yang menyeluruh/integral yaitu meliputi usaha promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif) dengan mengutamakan pencegahan, kontinyu (dalam proses dan waktu), kolaboratif
dan koordinatif dengan pasien dalam menentukan keputusan untuk kepentingan pasien,
berdasarkan evidence based medicine misalnya dengan cara mengikuti seminar/pendidikan
1

kedokteran berkelanjutan. Pasien yang dilayani adalah peribadi/perorangan seutuhnya (bio-psikososial) yang unik (berbeda satu dengan lainnya) serta harus dipandang sebagai satu kesatuan
dengan keluarganya dalam segala aspek (keturunan, ideology, politik, ekonomi, social, budaya,
agama, keamanan dan lingkungannya). Pelayanan dokter keluarga menunjang setiap orang sadar,
mau dan mampu hidup sehat dalam arti sejahtera jasmani, rohani dan sosial yang memungkinkan
setiap orang bekerja produktif secara sosial dan ekonomi (UU no. 23/92 tentang kesehatan).
Seorang dokter berkompetensi dengan profil yang direkomendasikan WHO yaitu five stars
doctor yang dijabarkan sebagai berikut:
Health provider: Memberikan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan pasien sebagai

manusia yang utuh (holistic) baik individu, maupun sebagai bagian integral keluarga dan
masyaarakat, layanan berkualitas, menyeluruh, berkesinambungan dan layanan secara
perseorangan jangka panjang dan hubungan saling percaya.
Decision maker: Mampu membuat keputusan secara ilmiah berkaitan dengan pemeriksaan,

pengobatan, dan penggunaan teknologi tepat guna sesuai dengan harapan pasien, etis,
pertimbangan cost effective dan adanya kemungkinan layanan yang terbaik.
Communicator: Mampu menjelaskan dan memberikan nasehat untuk berperilaku sehat

dengan cara yang efektif sehingga kelompok atau individu dapat meningkatkan dan
melindungi kesehatan mereka.
Community leader: Sebagai orang yang dipercaya oleh masyarakat ditempat bekerjanya, dan

dapat mempersatukan kebutuhan-kebutuhan akan kesehatan baik pada perseorangan maupun


kelompok, melakukan sesuatu dengan mengatasnamakan masyarakat.
Manager: Dapat bekerja sacara harmonis dengan individu dan organisasi baik di dalam

maupun diluar system kesehatan untuk mempertemukan kebutuhan pasien secara individu
dan masyarakat, menggunakan data-data kesehatan secara tepat.
Prinsip pokok dari dokter keluarga adalah untuk dapat menyelenggarakan pelayanan
kedokteran menyeluruh. Oleh karena itu perlu diketahui berbagai latar belakang pasien yang
menjadi tanggungannya. Untuk dapat mewujudkan pelayanan kesehatan seperti itu diperlukan
adanya kunjungan rumah (home visit). Manfaat yang didapatkan dari kunjungan ke rumah pasien
antara lain:
1. Meningkatkan pemahaman dokter tentang pasien
2. Meningkatkan hubungan dokter pasien
3. Menjamin terpenuhinya kebutuhan dan tuntutan kesehatan pasien
Manfaat kunjungan ke puskesmas dan bertemu sendiri dengan pasien adalah agar mahasiswa
dapat menerapkan atau mengaplikasikan sendiri praktek pendekatan kedokteran keluarga.

Latar Belakang Masalah


Secara klinis Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah suatu tanda dan gejala akut
akibat infeksi yang terjadi di setiap bagian saluran pernafasan dan berlangsung tidak lebih dari 14
hari. Adapun yang termasuk ISPA adalah influenza, faringitis, bronkhitis akut, brokhiolitis, dan
pneumonia. Infeksi Saluran Pernapsan Akut masih merupakan masalah kesehatan yang penting
karena menyebabkan kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4 kematian
yang terjadi. Setiap anak diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya. Dari seluruh
kematian yang disebabkan oleh ISPA mencakup 20 % -30 %. Kematian yang terbesar umumnya
adalah karena pneumonia dan pada bayi berumur kurang dari 2 bulan. Hingga saat ini angka
mortalitas ISPA yang berat masih sangat tinggi. Kematian seringkali disebabkan karena penderita
datang untuk berobat dalam keadaan berat dan sering disertai penyulit-penyulit dan kurang gizi.
Metode yang dipakai untuk meninjau kasus ISPA ini adalah dengan observasi kerumah-rumah
pasien yang terdaftar dalam data Puskesmas Jelambar baru Jakarta barat.
Definisi Infeksi Saluran Pernapasan Akut
ISPA merupakan singkatan dari infeksi saluran pernafasan akut, istilah ini diadaptasi dari
istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI). Infeksi akut adalah infeksi yang
berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut
meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan ke dalam ISPA proses ini berlangsung
lebih dari 14 hari. ISPA terbagi menjadi dua, yaitu infeksi saluran pernafasan atas dan infeksi
saluran pernafasan bawah.

Infeksi saluran pernafasan atas adalah suatu istilah yang digunakan

untuk menyatakan suatu penyakit yang sering terjadi di saluran pernafasan atas, nasal mucosa
oropharynx. Penyakit ini juga biasa disebut pilek, acute rhinitis, acute nasopharyngitis, acute
rhinosinusitis.1
Klasifikasi ISPA
Klasifikasi ISPA dapat dikelompokkan berdasarkan golongannya dan golongannya umur yaitu :
a. Menurut Anonim (2008) ISPA berdasarkan golongannya :
1) Pneumonia yaitu proses infeksi akut yang mengenai jaringan paruparu (alveoli).
2) Bukan pneumonia meliputi batuk pilek biasa (common cold), radang tenggorokan
(pharyngitis), tonsilitis dan infeksi telinga (otitis media).
b. Menurut Khaidirmuhaj (2008), ISPA dapat dikelompokkan berdasarkan golongan umur
yaitu:

1) Untuk anak usia 2-59 bulan :


a) Bukan pneumonia bila frekuensi pernafasan kurang dari 50 kali permenit untuk
usia 2-11 bulan dan kurang dari 40 kali permenit untuk usia 12-59 bulan, serta
tidak ada tarikan pada dinding dada.
b) Pneumonia yaitu ditandai dengan nafas cepat (frekuensi pernafasan sama atau lebih
dari 50 kali permenit untuk usia 2-11 bulan dan frekuensi pernafasan sama atau
lebih dari 40 kali permenit untuk usia 12-59 bulan), serta tidak ada tarikan pada
dinding dada.
c) Pneumonia berat yaitu adanya batuk dan nafas cepat (fastbreathing) dan tarikan
dinding pada bagian bawah ke arah dalam (servere chest indrawing).
2) Untuk anak usia kurang dari dua bulan :
a) Bukan pneumonia yaitu frekuensi pernafasan kurang dari 60 kali permenit dan
tidak ada tarikan dinding dada.
b) Pneumonia berat yaitu frekuensi pernafasan sama atau lebih dari 60 kali permenit
(fast breathing) atau adanya tarikan dinding dada tanpa nafas cepat.
Pneumonia merupakan infeksi di ujung bronkhiol dan alveoli yang dapat disebabkan oleh
berbagai patogen seperti bakteri, jamur, virus dan parasit. Pneumonia menjadi penyebab kematian
tertinggi pada balita dan bayi serta menjadi penyebab penyakit umum terbanyak. Tanda serta
gejala yang lazim dijumpai pada pneumonia adalah demam, tachypnea, takikardia, batuk yang
produktif, serta perubahan sputum baik dari jumlah maupun karakteristiknya. Selain itu pasien
akan merasa nyeri dada seperti ditusuk pisau, inspirasi yang tertinggal pada pengamatan naikturunnya dada sebelah kanan pada saat bernafas. Mikroorganisme penyebab pneumonia meliputi:
bakteri, virus, mycoplasma, chlamydia dan jamur. Pneumonia karena virus banyak dijumpai pada
pasien immunocompromised, bayi dan anak. Virus-virus yang menginfeksi adalah virus saluran
napas seperti RSV, Influenza type A, parainfluenza, adenovirus.
Etiologi
Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) merupakan kelompok penyakit yamg komplek dan
heterogen, yang disebabkan oleh berbagai etiologi. Etiologi ISPA terdiri dari 300 lebih jenis virus,
bakteri, dan riketsia. Virus penyebab ISPA antar lain golongan Miksovirus (termasuk di dalamnya
virus influensa, virus para-influensa), Adenovirus, Koronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma,
Herpesvirus. Bakteri penyebab ISPA antara lain Streptococcus hemoliticus, Staphylococcus,
Pneumococcus, Hemofilus influenza, Bordetella pertusis, dan Corynebacterium diffteria.
Ricketsia penyebab ISPA adalah Koksiela burnetti. Jamur penyebab ISPA adalah Kokiodoides

imitis, Histoplasma kapsulatum, Blastomises dermatidis, Aspergillus fikomycetes. Etiologi dari


sebagian besar penyakit jalan napas bagian atas ini ialah virus dan tidak dibutuhkan terapi
antibiotik. Faringitis oleh kuman Streptococcus jarang ditemukan pada balita. Bila ditemukan
harus diobati dengan antibiotik penisilin, semua radang telinga akut harus mendapat antibiotik.
Penularan
Salah satu penularan ISPA adalah melalui udara yang tercemar dan masuk ke dalam tubuh
melalui saluran pernapasan. selain itu ISPA dapat juga terjadi karena transmisi organisme melalui
AC (air conditioner). Adanya bibit penyakit di udara umumnya berbentuk aerosol yakni suatu
suspensi yang melayang di udara. Penyebaran infeksi melalui aerosol dapat terjadi pada waktu
batuk dan bersin-bersin. Penularan dapat juga melalui kontak langsung/ tidak langsung dari benda
yang telah tercemari jasad renik ( hand to hand transmition ), dan melalui droplet yang dapat
menjadi jalan masuk bagi virus. Penularan faringitis terjadi melalui droplet, kuman menginfiltrasi
lapisan epitel, jika epitel terkikis maka jaringan limfoid superficial bereaksi sehingga terjadi
pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit polimorfonuklear. Pada sinusitis, saat terjadi
ISPA melalui virus, hidung akan mengeluarkan ingus yang dapat menghasilkan superinfeksi
bakteri, sehingga dapat menyebabkan bakteri-bakteri patogen masuk ke dalam rongga-rongga
sinus.1
Pembahasan
Identitas Pasien:
Nama : aulia
Umur : 4 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Pendidikan

: -

Alamat: Jelambar Ilir RT 12/RW10


Telepon

:-

Puskesmas

Aulia (4 tahun) datang ke Puskesmas Grogol 1 Baru pada tanggal 22 Juli 2015 dengan keluhan
batuk, pilek sejak 2 hari sebelumnya.
Anamnesis: (Auto-anamnesis)
1. Identitas pasien
2. Keluhan utama: batuk, pilek 2 hari sebelumnya
3. Riwayat penyakit sekarang

Pasien mengalami batuk pilek sepanjang hari. Pasien tidak mengonsumsi obat
sebelumnya. Batuk pilek baru dialami setelah tiba di jakarta ketika baru datang dari jawa.
Keluhan penyerta lain yang dirasakan pasien: Batuknya tidak berdahak, tanpa demam.
Keluhan nyeri saat menelan disangkal pasie, terasa lendir di tenggorok, dan hidung
tersumbat. Pasien belum pernah melakukan operasi amandel. Sesak napas pun disangkal
pasien.
4. Riwayat penyakit dahulu
Pasien mengatakan belum pernah mengalami sakit yang lain, sakit yang diderita pasien
biasanya hanya Batuk, pilek, demam saja. Dirawat dirumah sakit pun belum pernah.
Riwayat Biologis Keluarga:
a. Keadaan kesehatan sekarang: Baik
Pasien dapat dikatakan baik karena pasien dapat bercakap cakap dengan baik dan
kesadaran serta daya ingatnya baik. Pasien tidak terlihat kesakitan, terlihat sedikit lemas.
Anggota keluarga lain pun tidak menderita penyakit.
b. Kebersihan perorangan: kurang baik
Kebersihan pasien dapat dikatakan kurang baik karena yang terlihat dari kebersihan kulit,
tangan dan kaki tampak kurang bersih. tetapi pakaian yang digunakan tampak bersih.
Begitupun kebersihan anggota keluarga lainnya.
c. Penyakit yang sering diderita : Batuk, pilek, demam.
d. Penyakit keturunan

: Tidak ada

e. Penyakit kronis / menular

: Tidak ada

Di keluarga pasien tidak ditemukan adanya penyakit kronis / menular seperti tuberkulosis
dan lepra. Tapi nenek dari ibu dirumah tersebut mempunyai riwayat DM, kejang,
hipertensi.
f. Kecacatan anggota keluarga : Tidak ada
Dalam keluarga pasien tidak ada yang menderita cacat fisik dan mental.
g. Pola makan

: Baik

Pola makan pasien dapat dikatakan baik karena dari yang terlihat dari pola makan sehari
hari teratur yaitu 3 kali sehari dan pada jam jam makan. asupan gizi makan keluarga
baik yakni tersedia nasi, sayur, dan lauk.
6

h. Pola istirahat

: Baik

Pola istirahat pasien dikatakan baik karena pasien tidur cukup.


i. Jumlah anggota keluarga

: 5 orang

Di dalam rumah pasien ada 5 orang, yaitu Sarmin (suami), Rudiah (Pasien), M.
Sadih(putra 1), Ahmad Rasidi (putra 2), dan Aulia (putri 3).
Psikologis Keluarga:
a. Kebiasaan buruk

: kurang baik

Pasien tidak merokok, tetapi di keluarga ada yang merokok yaitu sang ayah. Kebiasaan
cuci tangan sebelum memasak, sebelum makan, setelah buang air kadang dilakukan.
b. Pengambilan keputusan

: Bersama-sama

c. Ketergantungan obat : Tidak ada


d. Tempat mencari pelayanan kesehatan : Puskesmas Grogol 1
e. Pola rekreasi

: Kurang

Keterbatasan dana membuat keluarga pasien hanya 1 kali dalam setahun pergi rekreasi
bersama.
Keadaan Rumah / Lingkungan:
a. Jenis bangunan

: kayu triplek

b. Lantai rumah

: semen

c. Luas rumah

: 3 x 2 m2

d. Penerangan

: sangat kurang

Karena rumah pasien tidak memiliki ventilasi sama sekali , dan letak kontrakannya yang
masuk ke gang kecil tidak memungkinakan mendapat penyinaran matahari yang cukup.
Dan dirumah pasien penerangan hanya dari sebuah lampu saja.
e. Kebersihan

: Kurang

Tampak banyak sampah-sampah tergeletak di lantai.


f. Ventilasi

: Kurang

Ventilasi untuk keluar masuk cahaya dan udara sangat kurang. Dikarenakan rumah pasien
letaknya berada masuk ke gang kecil dan sempit yang tidak memungkinkan untuk adanya
sirkulasi udara dan pencahayaan yang baik.

g. Dapur

: tidak ada

h. Jamban keluarga

: Tidak Ada kamar mandi dan toilet khusus untuk keluarga pasien.

i. Sumber Air minum

: PDAM / Ledeng

j. Sumber Pencemaran air: Tidak ada


k. Pemanfaatan pekarangan : Tidak ada
Karena rumah pasien letaknya masuk dalam gang kecil sehingga tidak ada lahan untuk
pemanfaatan pekarangan.
l. Sistem pembuangan air limbah : Ada
m. Tempat pembuangan sampah : Ada
n. Sanitasi lingkungan

: kurang Baik

Spiritual Keluarga :
a. Ketaatan beribadah

: Baik

b. Keyakinan tentang kesehatan : Baik


Keadaan Sosial Keluarga :
a. Tingkat pendidikan

:-

Pasien masih belum bersekolah, ayah tamatan SD, anak anak pasien tamatan SMA.
b. Hubungan anggota keluarga : Baik
c. Hubungan dengan orang lain : Baik
Keluarga pasien bersosialisasi baik dengan tetangga
d. Kegiatan organisasi sosial

: baik

Keluarga pasien ikut kegiatan organisasi di lingkungannya


e. Keadaan ekonomi

: Sedang

Suami bekerja hanya sebagai pekerja konveksi, Ibu Mubariyah hanya seorang tukang cuci,
yang tentunya penghasilannya kurang. Namun meskipun begitu, kebutuhan makan seharihari selalu tercukupi.
Kultural Keluarga:
a. Adat yang berpengaruh

: Tidak ada

b. Lain lain

: Tidak ada
8

Daftar Anggota Keluarga:


No

1.

Nama

Hub
dgn KK

Umur
(tahun)

Sarmin

Kepala
keluarg
a

43
tahun

Pendidika Pekerjaa Agam


n
n
a

SD

pekerja
konveksi

Islam

Keadaan
kesehata
n
Baik

Keada
Imunisa
an
si
gizi
Baik

Lengkap
l

P
2.

Istri

Rudiah

48
tahun

SD

tukang
cuci

Islam

baik

Baik

lengkap

ta
d
Im

ta
3.

M. sadih

Putria
pertam
a

22
tahun

SMA

Tidak
bekerja

Islam

Baik

Baik

Lengkap

4.

Ah.
Rasidi

Putra
kedua

17 tahun

SMA

tidak
bekerja

Islam

Baik

Baik

Lengkap

5.

Aulia

Putri
Ketiga`

4 tahun

Islam

Baik

Baik

lengkap

Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum: Pasien tampak compos mentis
Tanda-tanda vital:
1. Tekanan Darah: 120/80 mmHg
2. Frekuensi Nadi: 72x/menit
3. Frekuensi Napas: 24x/menit
4. Suhu badan: 36,6oC
Hasil Pemeriksaan Faring:
1. Tonsil
-

Besarnya T1-T1 Normal, tidak membesar

Kripta (-), detritus (-)

2. Uvula
-

Posisi di tengah

Hiperemis (-)

Edema (-)

Memanjang (-)

3. Faring
9

Mukosa tidak hiperemis

Permukaan tampak licin

Granul (-)

Post nasal drip (-)

Abses Parafaring (-)

Abses Peritonsil (-)

Hasil Pemeriksaan Paru


Pasien tidak dilakukan pemeriksaan fisik paru. Bila dilakukan pemeriksaan fisik paru hasil yang
didapat sebagai berikut:
Thoraks Anterior
1. Inspeksi
Warna kulit, Lesi kulit, bentuk thoraks anterior, jenis pernapasan, melihat pergerakan dada
saat statis dan dinamis.
Melihat apakah terdapat retraksi sela iga dan pelebaran sela iga.
Irama pernapasannya dan suara pernapasan abnormal (mengi, stridor)

2. Palpasi
Meraba apakah terdapat benjolan, rasa nyeri tekan, meraba sela iga menyempit atau
melebar, pergerakan thoraks saat statis dan dinamis, dan melakukan pemeriksaan vokal
fremitus.
3. Perkusi
Apakah hasil perkusi sonor atau tidak pada paru-parunya, pemeriksaan batas paru-hati dan
paru-jantung.
4. Auskultasi
Jenis suara napas (trakeal, bronchial, bronchovesikuler, vesikuler), Suara napas tambahan
seperti ronkhi basah, ronkhi kering, wheezing.
Diagnosis penyakit: Infeksi Saluran Pernapasan Akut Non Pneumonia
Diagnosis Banding: Rhinitis, Nasofaringitis, Laringitis, Tuberkulosis paru
Diagnosis Keluarga: Keluarga Aulia dalam kondisi sehat namun berisiko tertular penyakit yang
diderita oleh aulia karena kondisi tempat tinggal yang sempit namun dihuni banyak orang
memungkinkan penularan terjadi.
Pemeriksaan Penunjang:
1. Darah Rutin

10

Hemoglobin (anak <10-16 gram/dL)


Hematokrit (Wanita 33-38%)
Leukosit (9000-12.000 sel/mm3)
Trombosit (150.000-400.000 sel/mm3)
Eritrosit (4-5,5 Juta sel/mm3)
2. Pemeriksaan Dahak
Pewarnaan Gram
Pewarnaan BTA
Kultur Mikobakteri
3. Foto Toraks
Dugaan Hasil Pemeriksaan Penunjang:

Darah Rutin:
Hemoglobin, Hematokrit, Trombosit, Eritrosit dalam batas normal. Leukosit dan laju endap
darah meningkat.

Pemeriksaan Dahak
Pewarnaan Gram: sesuai bakteri yang ditemukan
Pewarnaan BTA: Kemungkinan didapatkan BTA (-)

Foto Toraks: Kemungkinan ada Infiltrat paru

Anjuran Penatalaksanaan penyakit


1. Promotif: Pemberian penyuluhan tentang ISPA dan bagaimana cara pencegahan dan
mengobatinya. Perbaikan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
2. Preventif:
mempertahankan daya tahan tubuh dengan gizi seimbang, menjaga kondisi udara

sekitar
Khusus bayi melalui pemberian ASI eksklusif
Upaya mencuci tangan
Imunisasi
Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan
Mencegah anak-anak berhubungan dengan penderita ISPA

3. Kuratif:
Antitusif: Dekstrometorfan, 15-30 mg setiap 4-6 jam.
Analgetik-antipiretik: Paracetamol tablet 500 mg 3 kali sehari selama 5 hari.
11

4. Rehabilitatif:
Pemberian makanan cukup gizi dan cukup istirahat.
Prognosis
a) Penyakit: Baik jika terapi adekuat, konsumsi makanan bergizi, dan cukup istirahat.
b) Keluarga: Kemungkinan tertular besar. Mengingat kondisi tempat tinggal yang sempit
namun dihuni banyak orang. Keluarga perlu diberi edukasi untuk selalu menjaga
kebersihan perorangan, lingkungan, dan makan-makanan bergizi.
c) Masyarakat: kemungkinan penularan ke orang lain besar, sebab rata-rata lokasi rumah
penduduk yang berdekatan, dalam gang-gang kecil dan sempit, memperbesar
kemungkinan kontak dengan droplet pasien.
Resume:
Aulia (4 tahun) datang ke Puskesmas Grogol , diantar ibunya dengan keluhan batuk pilek sejak 2
hari yang lalu. Di diagnosis menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut. Untuk Menyingkirkan
diagnosis banding lain perlu dilakukan pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan darah rutin,
Pemeriksaan dahak, dan foto rontgen toraks.

12

Rumah aulia dan keluarga (tampak dalam)

13

Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention)


Intervensi yang ditujukan bagi pencegahan faktor risiko dapat dianggap sebagai strategi untuk
mengurangi kesakitan (insiden). Termasuk disini ialah:
Penyuluhan, dilakukan oleh tenaga kesehatan dimana kegiatan ini diharapkan dapat mengubah
sikap dan perilaku masyarakat terhadap hal-hal yang dapat meningkatkan faktor resiko penyakit
ISPA. Kegiatan penyuluhan ini dapat berupa penyuluhan penyakit ISPA, penyuluhan ASI
Eksklusif, penyuluhan imunisasi, penyuluhan gizi seimbang pada ibu dan anak, penyuluhan
kesehatan lingkungan rumah, penyuluhan bahaya rokok.
14

Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention)


Upaya penanggulangan ISPA dilakukan dengan upaya pengobatan sedini mungkin. Upaya
pengobatan yang dilakukan dibedakan atas klasifikasi ISPA yaitu :
a) Untuk kelompok umur < 2 bulan, pengobatannya meliputi :

Pneumonia Berat: rawat dirumah sakit, beri oksigen (jika anak mengalami sianosi sentral,
tidak dapat minum, terdapat penarikan dinding dada yang hebat), terapi antibiotik dengan
memberikan benzilpenisilin dan gentamisin atau kanamisin.

Bukan Pneumonia: terapi antibiotik sebaiknya tidak diberikan, nasihati ibu untuk menjaga
agar bayi tetap hangat, memberi ASI secara sering, dan bersihkan sumbatan pada hidung
jika sumbatan itu menggangu saat memberi makan.

b) Untuk kelompok umur 2 bulan - <5 tahun, pengobatannya meliputi :

Pneumonia Sangat Berat: rawat di rumah sakit, berikan oksigen, terapi antibiotik dengan
memberikan kloramfenikol secara intramuskular setiap 6 jam. Apabila pada anak terjadi
perbaikan (biasanya setelah 3-5 hari), pemberiannya diubah menjadi kloramfenikol oral,
obati demam, obati mengi, perawatan suportif, hati-hati dengan pemberian terapi cairan,
nilai ulang dua kali sehari.

Pneumonia Berat: rawat di rumah sakit, berikan oksigen, terapi antibiotik dengan
memberikan benzilpenesilin secara intramuskular setiap 6 jam paling sedikit selama 3 hari,
obati demam, obati mengi, perawatan suportif, hati-hati pada pemberian terapi cairan, nilai
ulang setiap hari.

Pneumonia: obati di rumah, terapi antibiotik dengan memberikan kotrimoksasol, ampisilin,


amoksilin oral, atau suntikan penisilin prokain intramuskular per hari, nasihati ibu untuk
memberikan perawatan di rumah, obati demam, obati mengi, nilai ulang setelah 2 hari.

Bukan Pneumonia (batuk atau pilek): obati di rumah, terapi antibiotik sebaiknya tidak
diberikan, terapi spesifik lain (untuk batuk dan pilek), obati demam.

Pneumonia Persisten: rawat (tetap opname), terapi antibiotik dengan memberikan


kotrimoksasol dosis tinggi untuk mengobati kemungkinan adanya infeksi pneumokistik,
perawatan suportif, penilaian ulang.

Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention)

15

Tingkat pencegahan ini ditujukan kepada penderita ISPA agar tidak bertambah parah dan
mengakibatkan kematian.

Pneumonia Sangat Berat: jika anak semakin memburuk setelah pemberian kloramfenikol
selama 48 jam, periksa adanya komplikasi dan ganti dengan kloksasilin ditambah
gentamisin jika diduga suatu pneumonia stafilokokus.

Pneumonia Berat: jika anak tidak membaik setelah pemberian benzilpenisilin dalam 48
jam atau kondisinya memburuk setelah pemberian benzilpenisilin kemudian periksa
adanya komplikasi dan ganti dengan kloramfenikol. Jika anak masih menunjukkan tanda
pneumonia setelah 10 hari pengobatan antibiotik maka cari penyebab pneumonia
persistensi.

Pneumonia: Coba untuk melihat kembali anak setelah 2 hari dan periksa adanya tandatanda perbaikan (pernafasan lebih lambat, demam berkurang, nafsu makan membaik).
Nilai kembali dan kemudian putuskan jika anak dapat minum, terdapat penarikan dinding
dada atau tanda penyakit sangat berat maka lakukan kegiatan ini yaitu rawat, obati sebagai
pneumonia berat atau pneumonia sangat berat. Jika anak tidak membaik sama sekali tetapi
tidak terdapat tanda pneumonia berat atau tanda lain penyakit sangat berat, maka ganti
antibiotik dan pantau secara ketat.

Saran

Bagi Orang Tua: Untuk mencegah terjadinya penyakit ISPA pada balita, diharapkan orang
tua dapat menciptakan lingkungan yang aman bagi balita seperti kebiasaan membuka
jendela untuk mengurangi kelembaban udara, tidak merokok di dekat balita dan menjaga
jarak apabila menderita ISPA.

Bagi Masyarakat: Sebagai tindakan pencegahan, diharapkan masyarakat bisa bekerja sama
menciptakan lingkungan dan perilaku hidup sehat (tidak merokok di dalam ruangan,
pemberian ASI Eksklusif pada balita, kebiasaan membuka jendela pada pagi dan siang
hari, dan menjaga jarak dengan balita apabila menderita ISPA baik dalam keluarga
maupun kehidupan bermasyarakat).

Bagi Instansi Terkait: Diharapkan program kesehatan khususnya Program Pemberantasan


Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (P2ISPA) dapat lebih diperbaiki dan
dilaksanakan seperti kegiatan penyuluhan mengenai syarat rumah sehat dan bahaya rokok
kepada masyarakat sehingga angka kejadian penyakit ISPA mengalami penurunan.

Daftar Pustaka

16

1.

Amin Z, Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Stiati Manifestasi Klinik dan
Pendekatan pada Pasien dengan Kelainan Sistem Pernapasan Dalam: Ilmu penyakit dalam.
Edisi ke-5 jilid III. Jakarta. Interna Publishing; 2009.h.2189-95.

17