Anda di halaman 1dari 151

Sejarah Sastra Arab

BAB III
SEJARAH SASTRA ARAB
A. Sejarah Sastra (Tarikhul Adab) dan Fungsinya
Tarikhul Adab atau Sejarah sastra adalah suatu ilmu yang membahas mengenai keadaan bahasa
serta sastra seperti puisi dan prosa yang diciptakan oleh anak-anak pengguna bahasa itu dalam
berbagai masa, sebab-sebab kemajuan dan kemudurannya, serta kehancuran yang mengancam
kedua produk sastra tersebut, serta mengalihkan perhatiannya terhadap para tokoh terkemuka
dari kalangan penulis dan ahli bahasa, serta melakukan kritik terhadap karya-karya mereka, dan
menjelaskan pengaruh mereka dalam ide, penciptaan, dan gaya bahasa (uslub).
Tarikhul Adab atau sejarah sastra dalam pengertian seperti di atas merupakan ilmu yang baru
tumbuh, dan dicetuskan oleh penulis Itali pada abad ke-18 M. Di kawasan timur, sejarah sastra
baru dikenal ketika pergaulan antara Kawasan Timur dan Kawasan Barat semakin menguat.
Orang yang pertama kali mentransfer ilmu mengenai sejarah sastra ke dalam dunia sastra Arab
ialah al-Ustadz Hasan Taufiq al-Adl, setelah kepulangannya dari Jerman, dan selanjutnya beliau
mengajar di Universitas Daarul Ulum (Bunyamin, 2003:6).
Pengertian sejarah sastra di atas adalah pengertian Tarikhul Adab/sejarah sastra secara dalam arti
khusus. Sedangkan pengertian Tarikhul Adab/sejarah sastra dalam pengertian umum adalah ilmu
yang mempelajari deskripsi kronologis sesuai perjalanan zaman yang terhimpun dalam bukubuku, tercatat dalam lembaran-lembaran, dan yang terpahat dalam batu-batu prasasti, yang
mengungkapkan perasaan (emosi), ide, pengajaran tentang suatu ilmu atau seni, pengabdian
suatu cerita, suatu realitas, termasuk di dalamnya penyebutan orang-orang yang muncul dan
terkenal (terkemuka) dari kalangan para ilmuan, para filosuf, dan para pengarang, serta
menjelaskan referensi yang mereka gunakan, aliran-aliran yang mereka anut, dan posisi mereka
dalam bidang seni yang digeluti, yang semua itu akan menunjukkan kemajuan atau kemunduran
dari semua ilmu pengetahuan.
Pada umumnya, bangsa-bangsa yang maju dan berkebudayaan mempunyai hasil karya
kesusastraan dari bahasa nasionalnya. Dan hasil karya sastra yang ditinggalkan itu akan dikenal
oleh generasi yang mendatang melalui pembelajaran sejarah kesusastraan. Demikian pula dengan
hasil karya kesusastraan Arab dapat dikenal dari sejarah kesusastraan Arab. Sehingga dapatlah
didefinisikan bahwa sejarah kesusastraan Arab ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari bahasa
Arab yang ditinjau dari segi hasil karya sastranya, baik dari segi puisi maupun prosanya, dari
sejak timbulnya dengan segala perkembangan menurut periodesasinya.
Ahmad al-Iskandari dan Musthafa Anani dalam al-Wasith fi al-Adab al-Arabi wa Tarikhihi
(1934:5) mengemukakan bahwa manfaat mempelajari sejarah sastra khususnya sejarah
kesusastraan Arab, antara lain:
a.
Mengetahui sebab-sebab kemajuan dan kemunduran sastra, yang ditinjau ari segi agama,
sosial, maupun politik.
b.
Mengetahui gaya-gaya (uslub) bahasa, cabang-cabang seninya, pemikiran-pemikiran
penggunanya, dan istilah-istilah yang mereka ciptakan, perbedaan cipta rasa mereka dalam prosa
dan puisi mereka, sehingga dapat memberikan wawasan baru kepada kita setelah mengkaji ilmu

ini untuk membedakan antara bentuk-bentuk bahasa pada suatu masa dengan bentuk-bentuk
bahasa pada masa yang lain.
c.
Mengenal dan mempejari tokoh-tokoh yang berpengaruh dari kalangan ahli bahasa dan
sastra pada setiap masa, serta mengetahui sesuatu yang baik dan buruk yang terdapat dalam puisi
dan prosa dalam karya-karya mereka, sehingga kita dapat meneladani contoh-contoh yang baik
dan menjauhkan diri dari contoh-contoh yang tidak baik.
B. Periodesasi Sejarah Sastra Arab
Berbicara mengenai periodesasi kesusastraan Arab, seringkali kita dibuat bingung dengan adanya
perbedaan penulisan periodesasi yang ditulis masing-masing penulis sejarah kesusastraan Arab,
baik dari segi peristilahannya maupun dari segi waktunya.
Pada umumnya, periodesasi kesusastraan dibagi sesuai dengan perubahan politik. Sastra
dianggap sangat tergantung pada revolusi sosial atau politik suatu negara dan permasalahan
menentukan periode diberikan pada sejarawan politik dan sosial, dan pembagian sejarah yang
ditentukan oleh mereka itu biasanya diterima begitu saja tanpa dipertanyakan lagi (Wellek,
1989:354). Penentuan mulainya atau berakhirnya masa setiap periodesasi hanyalah perkiraan,
tidak dapat ditentukan dengan pasti, dan biasanya untuk mengetahui perubahan dalam sastra itu
biasanya akibat perubahan sosial dan politik (Jamiat, 1993:18). Di bawah ini akan dipaparkan
bentuk penulisan periodesasi yang dilakukan oleh para ahli kesusastraan Arab, antara lain:
Hana al-Fakhuriyyah membaginya ke dalam lima periodesasi, yaitu:
1.
Periode Jahiliyyah, perkembangan kesusastraan Arab pada masa ini dibagi atas dua bagian,
yaitu masa sebelum abad ke-5, dan masa sesudah abad ke-5 sampai dengan Hijrahnya Nabi
Muhammad SAW ke Madinah (1 H/622 M).
2.
Periode Islam, perkembangan kesusastraan Arab pada masa ini berlangsung sejak tahun 1
H/622 M hinggga 132 H/750 M, yang meliputi: masa Nabi Muhammad SAW dan Khalifah arRasyidin (1-40 H/662-661 M), dan masa Bani Umayyah (41-132 H/661-750 M).
3.
Periode Abbasiyah, perkembangan kesusastraan Arab pada masa ini berlangsung sejak 132
H/750 M sampai 656 H/1258 M.
4.
Periode kemunduran kesusastraan Arab (656-1213 H/1258-1798 M), periode ini di mulai
sejak Baghdad jatuh ke tangan Hulagu Khan, pemimpin bangsa Mongol, pada tahun 1258 M,
sampai Mesir dikuasai oleh Muhammad Ali Pasya (1220 H/1805 M).
5.
Periode kebangkitan kembali kesusastraan Arab; periode kebangkitan ini dimulai dari masa
pemerintahan Ali Pasya (1220 H/1805 M) hingga masa sekarang.
Adapun Muhammad Said dan Ahmad Kahil (1953: 5-6) membagi periodesasi kesusastraan
Arab ke dalam enama periode sebagai berikut:
1.
Periode Jahiliyyah, dimulai sekitar satu tengah abad sebelum kedatangan Islam sekitar dan
berakhir sampai kedatangan Islam.
2.
Periode permulaan Islam (shadrul Islam); dimulai sejak kedatangan Islam dan berakhir
sampai kejatuhan Daulah Umayyah tahun 132 H.
3.
Periode Abbasiyah I, dimulai sejak berdirinya Daulah Abbasiyah tahun 132 H dan berakhir
sampai banyak berdirinya daulah-daulah atau negara-negara bagian pada tahun 334 H.
4.
Periode Abbasiyah II, dimulai sejak berdirinya daulah-daulah dalam pemerintahan
Abbasiyah dan berakhir dengan jatuhnya Baghdad di tangan bangsa Tartar atau Mongol pada
tahun 656 H.
5.
Periode Turki, dimulai sejak jatuhnya Baghdad di tangan bangsa Mongol dan berakhir
dengan datangnya kebangkitan modern sekitar tahun 1230 H.
6.
Periode Modern, dimulai sejak datangnya kebangkitan modern sampai sekarang.

Sedangkan Ahmad Al-Iskandi dan Mustafa Anani dalam Al-Wasit Al-Adab Al-Arobiyah Wa
Tarikhihi (1916:10) membagi periodesasi kesusastraan Arab ke dalam lima periode, yaitu:
1.
Periode Jahiliyah, periode ini berakhir dengan datangnya agama Islam, dan rentang
waktunya sekitar 150 tahun.
2.
Periode permulaan Islam atau shadrul Islam, di dalamnya termasuk juga periode Bani
Umayyah, yakni dimulai dengan datangnya Islam dan berakhir dengan berdirinya Daulah Bani
Abbas pada tahun 132 H.
3.
Periode Bani Abbas, dimulai dengan berdirinya dinasti mereka dan berakhir dengan
jatuhnya Bagdad di tangan bangsa Tartar pada tahun 656 H.
4.
Periode dinasti-dinasti yang berada di bawah kekuasaan orang-orang Turki, di mulai
dengan jatuhnya Baghdad dan berakhir pada permulaan masa Arab modern.
5.
Periode Modern, dimulai pada awal abad ke-19 Masehi dan berlangsung sampai sekarang
ini.
Adanya Perbedaan istilah dalam penulisan periodesasi kesusastraan Arab seperti dua contoh di
atas, merupakan suatu hal yang wajar, seperti yang dikemukakan Teeuw (1988: 311-317) bahwa
perbedaan itu disebabkan empat pendekatan utama, yaitu:
1.
Mengacu pada perkembangan sejarah umum, politik atau budaya.
2.
Mengacu pada karya atau tokoh agung atau gabungan dari kedua hal tersebut.
3.
Mengacu pada motif atau tema yang terdapat dalam karya sepanjang zaman.
4.
Mengacu pada asal-usul karya sastra.
http://vanxiber.blogspot.co.id/2013/03/sejarah-sastra-arab.html

SEJARAH SASTRA ARAB JAHILY


11:08:00 PM Adab
*Umar Abdul Hasib
A. Pendahuluan
Sastra merupakan refleksi lingkungan budaya dan merupakan satu teks dialektis antara
pengarang dan situasi sosial yang membentuknya atau merupakan penjelasan suatu sejarah
dialektik yang dikembangkan dalam karya sastra. Sehubungan dengan ini sering dikatakan
bahwa syair merupakan antologi kehidupan masyarakat Arab (Diwn al-`Arab). Artinya, semua
aspek kehidupan yang berkembang pada masa tertentu tercatat dan terekam dalam sebuah
karya sastra (syair).

Penyair bukanlah satu-satunya komunitas yang amat peduli kepada pendidikan syair. Secara
umum anggota masyarakat juga memiliki kepedulian yang sama. Untaian kata-kata dalam syair
bagi masyarakat Arab bukanlah semata-mata bunyi yang disuarakan lisan yang tanpa makna
(absurd), melainkan sarana yang ampuh untuk membakar semangat, menarik perhatian, dan
meredam emosi yang bergejolak di tengah kehidupan masyarakat. Bisa dipahami kalau
masyarakat meyakini bahwa para penyair memiliki pengetahuan magis[1] yang terekspresikan
dalam syair dan keberadaan syair ini sangat diperhatikan dan dipatuhi substansinya karena ia
merupakan realitas kehidupan kabilah. Nampaknya inilah alasan yang diyakini masyarakat ketika
mereka menempatkan para penyair pada posisinya yang terhormat. Mereka menjadi simbol
kejayaan suatu kabilah dan penyambung lidah yang mampu melukiskan kebaikan dan
kemenangan kabilah sebagaimana mereka mampu mendeskripsikan kejelekan dan kekalahan
perang yang diderita kabilah lain.
Dalam kajian keislaman, pengetahuan tentang sastra mempunyai posisi yang strategis,

hal itu karena sumber induk (Al-Quran) menggunakan bahasa sastrawi yang begitu indah
membuat takjub sastrawan di kawasan itu, selain itu pemahaman terhadap sastra juga
merupakan salah satu kunci dalam memahami wahyu Allah, baik yang matluw (Al-Quran)
maupun ghair al-matluw (Hadis). Untuk memahami tentang sastra tentunya kita harus
memahami sejarah serta perkembangnya sehingga kita tidak ahistoris serta menghasilkan
pemahaman yang objektif.

B. Pengertian Sastra
Sastra yang dalam ungkapan arab di sebut al-Adab, pada awalnya merupakan undangan untuk
menyantap makanan. Tradisi semacam ini merupakan perbuatan yang terpuji dan menunjukan
moralitas yang tinggi.[2] Sejalan dengan berjalannya waktu kata adab dipakai sebagai kata yang
mencakup pendidikan baik lisan atau budi pekerti sebagaimana dalam hadis : Addabani Rabbi fa
Ahsana Tadibi. Pada masa umayyah kata adab berarti pengajaran selanjutnya pengertian
adab diringkas menjadi sebuah tulisan yang indah dan mempunyai makna puisi dan syair.[3]
Dalam mendefinisikan adab (sastra) para Udaba berbeda-beda :


ungkapan puitis tentang pengalaman manusia
sebagian mendefinisikan


ungkapan puitis tentang pengalaman yang indah dengan menggunakan media bahasa

hasil pemikiran manusia yang diungkapkan dengan ungkapan yang mengandung seni dan
keindahan atau seni ungkapan yang indah.[4]
Dari berbagai macam definisi ini dapat disimpulkan bahwa sastra merupakan seni ungkapan
yang indah.

C. Periodesasi
Ada beberapa pendapat dalam membagi periode sastra, mayoritas membagi menjadi 5 periode,
yaitu :
1. al-asr al-jahili, dimulai 2 abad sebelum islam lahir sampai islam lahir.
2. al-Shadr al-Islam, dimulai sejak islam lahir sampai runtuhnya bani umayyah 132 H.
3. al-Shadr al-Abbasi, sejak berdirinya dinasti abbasiyah samapai runtuhnnya kota Baghdad
tahun 656 H.
4. al-Shadr al-Turki al-Ustmani, sejak runtuhnya Baghdad samapai timbulnya kebangkitan arab di
abad modern.
5. al-Shadr al-Hadis (modern), sejak timbulnya nasionalisme bangsa arab.[5]
Sebagian membagi menjadi 4 fase, yaitu :
a. al-Adab al-Qadim , sejak sebelum islam sampai runtuhnya dinasti umayyah.
b. al-Adab al-Muhdas, sejak keruntuhan dinasti umawi sampai berdirinya dinasti abbasi 656H.
c. al-Adab al-Turki, sampai kerunttuhan ottoman.
d. al-Adab al-Hadis.[6]
Sedangkan team dosen-dosen dari Negara Arab, membagi menjadi 4, yaitu :
i. al-Adab al-arabi al-Qadim,
ii. al-Adab al-arabi al-muwallad
iii. al-Adab al-arabi al-minhar
iv. al-Adab al-arabi al-jadid[7]
Dari berbagai pendapat diatas, sebenarnya tidak terdapat perbedaan yang signifikan,
perbedaanya hanya terletak pada pengunaan istilah saja.
D. Macam-macam sastra

Sastra arab terbagi menjadi dua, syair dan natsar. Syair (puisi) adalah
kata-kata yang berirama dan berqafiyah yang mengungkapkan
imajinasi nan indah dan bentuk ungkapan yang mempunyai kesan
mendalam.[8]Sedangkan prosa kebalikan dari puisi.
Jenis-jenis syair atau tujuan pengungkapannya pada masa
jahiliyah :
1.
Al-Madh pujian.
2.
Al-Hija ejekan.

3.
Al-Fakhr membanggakan.
4.
Al-Hammasah semangat yakni untuk membangkitkan semangat
ketika ada suatu peristiwa semacam perang atau membangun
sesuatu
5.
Al-Hikmah/ghazal atau ungkapan cinta bagi sang kekasih
6.
Al-Itidzar permohonan maaf.
7.
Ar-Ratsa belasungkawa
8. Al-Washf pemberian yaitu penjelasan perhadap sesuatu
dengan sangat simbolistik dan ekspresionistik[9]
Tingkatan penyair :
a)
Jahili seperti , Umru al-Qais, Zuhair bin Abi Sulma
b)
Mukhadramun, mereka yang dikenal dengan puisinya di
masa jahiliyah dan Islam seperti, Khansa dan Hasan bin Tsabit.
c)
Islamiyun, penyair yang hidup di masa islam tetapi masih
memegang tradisi arab seperti penyair-penyair pada masa
umawi.
d)
Muwalladun yaitu yang bahasanya telah rusak tetapi
berusaha memperbaikinya seperti penyair yang hidup di masa
abbasiyah.[10]
Jika di lihat dari sisi kualitas, penyair jahili terbagi menjadi tiga
tingkatan, yaitu :
1.
Umru al-Qais, Nabighah, Zuhair.
2.
Al-Asya Qais, Labid bin Rabiah, Tharafah bin al-Abd
3.
Antarah, Urwah bin al-Ward, Numair bin Taulab, Duraid bin
Shammah dan Muraqqas al-Akbar.[11]
Sedangkan Natsr pada masa jahiliyah terdapat beberapa macam,:
Khutbah, wasiat , Hikmah dan Matsal.
Khutbah: Yaitu serangkaian perkataan yang jelas dan lugas yang
disampaikan kepada khalayak ramai dalam rangka menjelaskan
suatu perkara penting.
Sebab-sebab munculnya khutbah pada periode Jahiliyah
1. Banyaknya perang antar kabilah.
2. Pola hubungan yang ada pada masyarakat Jahiliyyah seperti saling mengucapkan
selamat, belasungkawa dan saling memohon bantuan perang.
3. Kesemrawutan politik yang ada kala itu.

4. Menyebarnya buta huruf, sehingga komunikasi lisan lebih banyak digunakan daripada
tulisan.
5. Saling membanggakan nasab dan adat istiadat.[12]

Ciri khasnya
1. Kalimat yang ringkas
2. Lafadz yang jelas.
3. Makna yang mendalam.
4. Sajak (berakhirnya setiap kalimat dengan huruf yang sama).
5. Sering dipadukan dengan syair, hikmah dan matsal[13]

Diantara Khutaba yang terkenal adalah Kaab bin Luai, Dzul Isbai
al-Adwani, Khuwailid bin Amr al-Ghatfani, Qais bin Kharijah, Qus
bin Said al-Iyyadi.[14]
Wasiat : yaitu nasihat seorang yang akan meninggal dunia atau
akan berpisah kepada seorang yang dicintainya dalam rangka
permohonan untuk mengerjakan sesuatu, seperti wasiat Hasyim
bin Abdi Manaf kepada kaum Quraisy untuk memuliakan jamaah
haji.
Hikmah : Yaitu
kalimat yang ringkas yang menyentuh yang
bersumber dari pengalaman hidup yang dalam, didalamnya
terdapat ide yang lugas dan nasihat yang bermanfaat. Seprti : [15]

Perusak akal sehat manusia adalah hawa nafsunya


Matsal : Yaitu kalimat singkat yang diucapkan pada keadaan atau
peristiwa tertentu, digunakan untuk menyerupakan keadaan atau
peristiwa tertentu dengan keadaan atau peristiwa asal dimana
matsal tersebut diucapkan. seperti :[16]

Pedang telah mendahului celaan.


E. Ciri Umum Sastra Jahily

Ketinggian bahasa sastra Jahily saat itu memang tak diragukan


lagi oleh banyak pengamat kebudayaan, hal karena dikarenakan
kondisi sosio-historis yang melatarbelakanginya serta event pasar
sastra dan ayyam al-arab turut memberikan andil yang tidak sedikit.
Dari sisi makna sastra jahily adalah sebagai berikut :
1. Kejujuran dalam mengungkapkan apa yang dirasakan tanpa ungkapan yang berlebihan.

2. susunan kalimat yang ringkas


3. sederhana dalam struktur kalimat hal ini dilatarbelakangi kondisi sosiologis, cara mereka
hidup menciptakan karakter manusia yang sederhana sehingga mempengaruhi ketika menyusun
sebuah ungkapan.
4. Romantis, bahasa yang romantis ketika mengungkapkan jiwa perasaan penyair.[17]
5. al-Muhdhar menambahkan karakteristik sastra jahili adalah mengungkapkan kejantanan dan
keperwiraan, menceritakan pengalaman baik yang butuk maupun yang jelek.[18]

Dari berbagai karakter di atas dapat disimpulkan bahwa corak


sastra jahily sangaat sederhana hal itu dipengaruhi cara hidup
mereka yang sangat sederhana sehingga membentuk jiwa yang
sederhana, begitupun dalam mengungkapan sesuatu.
* disampaikan dalam Kajian Rutin kelas PKBA, 09-03-2011
[1] Ahmad Amin, Fadjrul Islam, (Kairo : Maktabah Nahdiyah, 1975), 55.
[2] Syauqi Dhaif, Tarikh al-Adab al-Arabi : al-Ashru al-Jahili, ( Kairo : Dar al-Maarif, 2001), 7-10.
[3] Lajnah, al-Mujaz di al-Adab al-Arabi wa Tarikhuhu, (Beirut : Dar al-Maarif, 1962), 5.
[4] Judzif al-Hasyim, al-Mufid fi al-Adab al-Araby, (Beirut : Maktabah al-Tijari, tt), 14.
[5] Ahmad Hasan Zayyat, Tarikh Adab al-Arabi, (Beirut : Dar al-Marifah, 1996), 8, Ahmad, alIskandari, Mustafa Anani, al-Wasith fi al-Adab al-Arabi wa Tarikhuhu, (Kairo : Dal Al-Marifah,
1916), 10..
[6] Umar Farukh, al-Manhaj al-Jadid fi al-Adab al-Arabi, (Beirut : Dar al-Ilm l al-malayin, tt), 24.
[7] Lajnah, al-Mujaz,
[8] Zayyat, Tarikh, 25.
[9] Wildan Wargadinata, Laily Fitriani, Sastra Arab dan Lintas Budaya,(Malang : UIN Press, 2008),
101.
[10] Ahmad bin Ibrahim al-Hasyimi, Jawahir al-Adab, Juz 2, (Beirut : Dar al-Kutub al-Ilmiyah,1971),
254.
[11] ibid
[12] al-Hasyimi, Jawahir, 245.
[13] Wildan, Sastra Arab, 164-166.
[14] al-Hasyimi, Jawahir, 245-246
[15] ibid, 252.
[16] Syauqi, Tarikh, 404.
[17] Wildan, Sastra Arab, 212-213.
[18] Yunus Ali al-Muhdar, Bey Arifin, Sejarah Kesusastraan Arab,(Surabaya : Bina Ilmu, 1983), 77.

http://aam-ezaam.blogspot.co.id/2012/04/sejarah-sastra-arab-jahily.html

Sejarah Sastra Arab Masa Permulaan Islam (Shadrul Islam)


May 30, 2015 One comment

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Para ulama sastra Arab membagi periode sastra Arab kedalam tujuh
periode. Yaitu masa jahiliyah, masa shadrul Islam, masa Umayah, masa
Abbasiyah, Massa kemunduran, masa Andalusia, dan masa kebangkitan modern
1
.
Setiap priode, sastra Arab memiliki kekhususnan dan karakteristik masing-masing
yang mebedakannya dengan periode-periode lainnya sesuai dengan keadaan sosial
dan politik yang berkembang saat itu
2
. Berkembang atau tidaknya dan kuat
lemahnya sastra tergantung pada dua hal itu.
Islam datang ditandai dengan diutusnya Muhammad SAW sebagi nabi dan
utusan Allah. Sang Nabi menyampaikan risalah baru-risalah Islam-kepada
kaumnya, masyarakat Arab Qurays yang saat itu sudah memiliki kesustraan yang
tarafnya sangat tinggi (periode ini disebut sastra masa jahilyah). Islam
berkembang dan mempengaruhi seluruh asfek kehidupan masyarakat Arab saat
itu. Tak luput pula asfek kesusastraan. Nilai-nilai Islam telah menjadi bagian
terpenting dalam perkembangan sastra saat itu.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana keadaan sastra Arab saat itu?
2. Bagaimana pengaruh Islam terhadap karya sastra?
3. Siapa saja tokoh-tokoh shadrul Islam?
C. Tujuan
1. Memahami keadaan sastra Arab shadrul Islam.

2. Mengetahui pengaruh Islam terhadap karya sastra Arab shadrul Islam.


3. Mengenal tokoh-tokoh shadrul Islam.
http://gunawanktt.blog.uns.ac.id/2015/05/30/sejarah-sastra-arab-masa-permulaanislam-shadrul-islam/

PERKEMBANGAN SEJARAH SASTRA ARAB (ADAB AL-ARABI)


December 7, 2013

2 Votes

Di edit oleh Hilman dari Studi penggunaan syair Arab Jahiliyyah dalam Tafsir al Kasysyaf
karya Asep Saeful.
Penyebaran sastra arab pada dasarnya sangatlah berkaitan erat dengan menyebarnya Islam secara
luas ke berbagai penjuru belahan dunia terutama pada abad ke 7 hijriah, hal ini dikarenakan
bahasa Arab adalah bahasa Al-Quran yang mulia. Bahasa yang indah ini menyebar ke berbagai
penjuru timur dan barat, sehingga sebagian besar peradaban dunia pada masa itu sangat terwarnai
oleh peradaban Islam.
Mereka yang berperan mengembangkan sastra arab pada masa kejayaan islam berasal dari
berbagai suku bangsa, diantara mereka berasal dari Jazirah Arab, Mesir, Romawi, Armenia,
Barbar, Andalusia dan sebagainya, walau berbeda bangsa namun mereka semua bersatu diatas
Islam dan Bahasa Arab, mereka berbicara dan menulis karya sastra serta berbagai kajian
keilmuan lainnya dengan Bahasa Arab .
Dan tidaklah Allah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Quran melainkan karena ia
adalah bahasa terbaik yang pernah ada. Allah Subhanahu wa Taala berfirman :
Sesungguhnya Kami telah jadikan Al-Quran dalam bahasa Arab supaya kalian
memikirkannya..20
Allah juga berfirman :
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik
seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu
memberikan buahnya pada Setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat
perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan
kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari
permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.21
Sastra dalam bahasa Indonesia berarti: (1) bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai di kitab-

kitab (bukan bahasa sehari-hari), (2) karya tulis, yang jika dibandingkan dengan tulisan lain
memiliki berbagai macam cirri keunggulan, seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi
dan ungkapannya, drama, epik, dan lirik, (3) kitab suci (Hindu), kitab (ilmu pengetahuan), (4)
pustaka, kitab primbon (berisi) ramalan, hitungan dan sebagainya, dan (5) tulisan, huruf.22
Walaupun penjelasan ini memberikan banyak kemudahan dalam hal keterangan maupun batasan
tentang sastra, tetapi banyak keterangan maupun batasan lain tentang sastra yang menunjukkan
bahwa ada saja yang menentang, mempertanyakan, atau menyangsikan keterangan-keterangan
ataupun batasan yang berlaku bagi sastra tertentu.23
Definisi sastra yang ada masih membuka peluang untuk diperdebatkan, namun kita juga perlu
menentukan cirri-cirinya, karena hal itu lebih urgen daripada membuat definisi yang holistic dan
komprehensif. Cirri-ciri tersebut adalah sebagai berikut:
1. Sastra bukanlah suatu komunikasi praktis, yang isi dan maksudnya langsung terlihat,
tertangkap, dan terpahami manakala membaca atau mendengar sebuah komunikasi, seperti
membaca buku-buku lainnya yang tidak bernama sastra. Dalam sastra, makna tersirat lebih
dominan daripada makna tersurat. Efek pengasingan dalam sastra melambatkan pencerapan kita
terhadap maknanya. Tetapi justru di situ pula letak intensitas maknanya.
2. Karya sastra adalah karya kreatif, bukan semata-mata imitative. Kreatif dalam sastra berarti
ciptaan, dari tidak ada menjadi ada. Baik bentuk maupun makna merupakan kreasi. Bahasa
sebagai system primer menurut Jurit Lotman, seorang ahli semiotika berkebangsaan Rusia, telah
mempunyai makna sebelum disusun menjadi sastra sebagai system sekunder. Kreatif dalam
sastra juga berarti pembaruan. Teeuw menegaskan bahwa pemerkosaan dan pelanggaran
konvensi adalah sifat karya seni yang khas. Malahan pada masa tertentu, hasil dan nilai sebuah
karya seni sebagian besar ditentukan oleh Berjaya tidaknya dalam usaha mendobrak dan
merombak konvensi.
3. Karya sastra adalah karya imajinatif. Ia bukan representasi dari kenyataan. Akan sia-sia bila
dapat berjumpa dengan kehidupan sebagaimana yang disajikan dalam karya sastra. Oleh karena
imajinatif, dengan sendirinya ia juga bersifat subjektif, baik subjektif dalam penciptaan maupun
subjektif dalam pemahaman.
Keselarasan yang ada dalam karya sastara tida secara otomatis berhubungan dengan keselarasan
yang ada dalam masyarakat tempat sastra itu lahir.
4. Karya sastra adalah karya otonom. Karya sastra adalah karya yang patuh pada dirinya sendiri.
Tentang otonomi karya sastra, sebagaimana yang diungkapkan oleh Teeuw, karya sastra atau
karya seni pada umumnya merupakan keseluruhan yang bulat, yang berdiri sendiri, yang otonom
dan yang boleh dan harus kita pahami dan tafsirkan pada sendirinya, sebuah dunia rekaan yang
tugasnya haya satu, patuh setia pada dirinya sendiri. Tetapi pada pihak lain, tidak ada karya seni
manapun juga yang berfungsi dalam situasi kosong, karena ia merupakan aktualisasi tertentu dari
system dan kode budaya.
5. Karya sastra adalah karya koheren. Orehensi dalam karya satra tidak mengandung arti tidak
satu unsurpun yang tidak fungsional, walaupun hanya sebuah titik. Koherensi dalam karya sastra
juga membedakan dengan karya-karya non-sastra, dalam karya sastra, setiap unsur mempunyai
hubungan dengan unsur-unsur yang lain. Begitu padunya hubungan itu, sehingga apabila ditukar
letaknya, apalagi diganti unsurnya, maka keseluruhan karya itu akan kehilangan kekuatannya
sebagai karya sastra dan akan menimbulkan perubahan makna. Karena yang dipahami dalam
karya sastra bukanlah meaning akan tetapi significance.
6. Konvensi suatu masyarakat amat menentukan mana karya yang dapat disebut sebagai karya

sastra dan mana yang tidak. Karya sastra pada masyarakat tertentu belum tentu disebut sastra
oleh masyarakat yang lain, karena perbedaan konvensi yang mereka anut. Karya sastra pada
masa lalu mungkin tidak akan disebut sebagai sastra pada masa berikutnya, karena perubahan
konvensi yang diakibatkan perubahan tata nilai dalam kehidupan.
7. Sastra tidak sekedar bahasa yang ditulis atau diciptakan, dan ia tidak sekadar permainan
bahasa. Akan tetapi ia adalah bahasa yang mengandung makna lebih. Ia menawarkan nila-nilai
yang dapat memperkaya ruhani dan meningkatkan mutu kehidupan. Bahkan ia mampu
memenuhi hasrat manusia untuk berkontemplasi.24 Sastra Arab yang dalam bahasa Arab ialah
Adab al-Arabi. Adab secara bahasa berasal dari kata yang berarti sopan atau berbudi
bahasa yang baik.25
Sedangkan secara khusus Al-Adab ialah :
Yaitu perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa
mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun
natsr atau prosa. 26
Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa adab al-Arabi terbagi dalam dua
macam bentuk yaitu:
1. Nastr (prosa) yaitu ungkapan yang indah namun tidak memiliki wazan (timbangan atau irama
kata yang menyusun suatu bait syair) maupun qofiyah (kesamaan bunyi huruf akhir dalam sebuat
bait syair). dan macam-macamnya
adalah: khotbah, surat, wasiat, perkataan hikmah, matsal, dan kisah. Sebagai contoh prosa ialah :
Khutbah dari Qas ib Saaadah sebagai berikut :
Artinya: Wahai manusia dengarkanlah, dan ingatlah, barangsiapa yang hidup akan mati, dan
barang siapa yang mati akan binasa, semua itu pasti terjadi. Malam yang gelap, siang yang
tenang, dan langit yang berbintang, ingatlah aku hendak menyampaikan pesan di padang pasir,
dan pelajaran di tempat penguburan!. Sesungguhnya ada berita di langit, dan ada pelajaran di
bumi, mengapa aku melihat manusia pergi, dan mereka tak kembali? Adakah mereka rela di
suatu tempat kemudian mendiaminya? Ataukah mereka meninggalkan kemudian tidur?. Wahai
kaum Iyad, di mana ayah dan kakek? Di mana orang yang sakit dan pengunjungnya? Di mana
raja yang kejam? Di mana orang yang membina dan membangun? Yang memperindah dan
memperluas? Ia terpesona oleh harta dan anak?. Apakah mereka tidak lebih banyak hartanya dari
kalian? Dan lebih panjang usianya?.
2. Syair secara etimologis, kata syair berakar dari kata yang berarti
mengetahui, merasakan, sadar, mengomposisi, atau menggubah sebuah syair. Sedangkan secara
terminologis ialah kata-kata yang berirama dan berqofiyah yang diciptakan dengan sengaja.28
Sebagai contoh syair ialah:
Syair dari Ibn Khafajah:
Sungai itu bengkok seperti gelang, seakan-akan sungai dan bunga itu
dipelihara turunnya hujan
Di pagi hari ranting-ranting pohon yang mengelilingi, seperti bulu mata
mengelilingi bola mata yang biru29
Sastra Arab bisa dikatakan sebagai sastra yang paling kaya secara umum diantara bahasa-bahasa
samawi, karena sastra arab terbentuk oleh percampuran berbagai sastra dari berbagai umat dalam
peradaban Islam yang terkumpul dalam Daulah Islamiyah seperti orang-orang Arab, Persia,
Turki, Iraq, Mesir, Romawi dan lain-lain. Dan mereka semua menterjemahkan dan membuat
syair-syair Arab dan mereka juga mengarang kitab-kitab berbahasa Arab dalam bentuk tata
bahasa, nahwu, sejarah, kedokteran, keilmuan, filsafat.30 Maka oleh sebab itulah bahasa Arab

diliputi oleh berbagai tata karma dan perangai dan juga banyaknya uslub-uslub lafadz asli
mereka yang masuk dengan tanpa disadari.31
Sejarah sebuah sastra sangat memiliki hubungan erat dengan sejarah politik maupun sosial
sebuah umat tertentu, sehingga keduanya memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap
perkembangan sebuah sastra. Setiap sebuah bentuk politik dan kebangkitan sosial yang terjadi
pada sebuah masyarakat akan terekam dalam sebuah fikiran yang kemudian akan diungkapkan
oleh para penyair dan tulisan para ulama karena pekanya mereka terhadap kejadian-kejadian
yang ada yang kemudian menyebar kepada seluruh umat yang berbentuk syair, khitabah, kitab
dan lain-lain.32
Maka dari itu pembagian sejarah perkembangan sastra Arab menjadi lima sesuai dengan
perkembangan sejarah politik dan sosial bangsa Arab:
1. Zaman Jahiliyyah yaitu dimulai pada pertengahan abad kelima tahum masehi sampai
datangnya Islam pada tahun 622 M.
2. Zaman daulah Islamiyyah dan Bani Umayyah yaitu di buka pada masa muncul Islam sampai
berdirinya daulah Abbasiah pada tahun 132 H.
3. Zaman daulah Abbasiyah yaitu dimulai ketika berdirinya daulah Abbasiyah sampai jatuhnya
Bagdad ke dalam kekuasaan pada tahun 656 H.
4. Zaman Turki yaitu dimulai ketika jatuhnya Bagdad sampai pada kebangkitan Islam yaitu pada
tahun 1220 H.
5. Zaman baru yaitu dimulai pada tahun 1220 H sampai saat ini.33
20. Q.S. Yusuf [12] : 2
21 QS. Ibrahim [14] : 24-25
22 Lukman Ali, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka. 1994). Hal. 786
23 Akhmad Muzakki, Kesusastraan Arab (Pengantar Teori dan Terapan), (Jogjakarta: AR-RUZZ
MEDIA. 2006). Hal. 29
24 Akhmad Muzakki, Kesusastraan Arab (Pengantar Teori dan Terapan),Hal. 35-36
25 A. W. Munawwir , Kamus Al-Munawwwir Arab-Indonesia Terlengkap ,( Surabaya : Pustaka
Progresif, 1997), Hal. 12
26 Ahmad Husain az-Ziyat, Trkhu Al-Adab Al-Arab, (Kairo: Darr Nahdloh Mesir , 1977) Hal.
32
27 Ahmad Husain az-Ziyat, Trikhu Al-Adab Al-Arab,,Hal. 25
28 Akhmad Muzakki, Kesusastraan Arab (Pengantar Teori dan Terapan),Hal. 41
29 Akhmad Muzakki, Kesusastraan Arab (Pengantar Teori dan Terapan),Hal.78
30 Jarji Zaidan, Trkh al-Adab al-Lugah Al-Arabiyyah, (Kairo : Dar al-Marifah, 1975). Hal. 23
31 Jarji Zaidan, Trkh al-Adab al-Lugah Al-Arabiyyah,,, Hal. 23
32 Ahmad Husain az-Ziyat, Trkh Al-Adab Al-Arab, Hal. 5
33 Akhmad Muzakki, Kesusastraan Arab (Pengantar Teori dan Terapan),Hal.62
https://kajianfahmilquranhfd.wordpress.com/2013/12/07/perkembangan-sejarahsastra-arab-adab-al-arabi/

Tuesday, 27 November 2012


Makalah Sejarah Sastra Arab : Sastrawan Arab
PENDAHULUAN
Sastra adalah bagian dari entitas budaya yang wujudnya tercermin dalam
karya-karya sastra. Semua kebudayaan dan peradaban di dunia mengalami suatu
periode perubahan yang mendalam (Peursen, 1990:72). Termasuk juga di dalamnya
kebudayaan bangsa Arab. Puisi, prosa dan drama Arab banyak bernuansa Islam
karena mayoritas bangsa Arab menganut agama Islam.[1] Dengan demikian, teori
sastra berkaitan sekali dengan Islam. Baylu berpendapat bahwa teori sastra Islam
tidak

dapat

dipisahkan

dari

konsep

sastra

secara

universal.

Sedangkan

kesusastraan Arab (al-Adab al-Arabiy) merupakan kesusastraan terkaya, karena


merupakan kesusastraan yang tercipta sejak masa kanak-kanak manusia sampai
runtuhnya kebudayaan Arab. Periode Jahiliyyah, yang menjadi periode lahir dan
berkembangnya tokoh-tokoh penyair dalam pembahasan makalah ini dimulai
sekitar satu tengah abad sebelum kedatangan Islam sekitar dan berakhir sampai
kedatangan Islam.
Pada umumnya, periodesasi kesusastraan dibagi sesuai dengan perubahan
politik. Sastra dianggap sangat tergantung pada revolusi sosial atau politik suatu
negara dan permasalahan menentukan periode diberikan pada sejarawan politik
dan sosial, dan pembagian sejarah yang ditentukan oleh mereka

itu biasanya

diterima begitu saja tanpa dipertanyakan lagi (Wellek, 1989:354). Penentuan


mulainya atau berakhirnya masa setiap periodesasi hanyalah perkiraan, tidak dapat
ditentukan dengan pasti, dan biasanya untuk mengetahui perubahan dalam sastra
itu biasanya akibat perubahan sosial dan politik (Jamiat, 1993:18).
Secara konseptual, sastra Islam adalah bagian dari sastra umum. Berbagai
karya yang dihasilkan dari sastra Arab Islam turut menghiasi sastra pada umumnya.
Tidak heran jika setelah lahir beberapa karya sastra Arab, terdapat karya-karya
barat yang terinspirasi dari karya sastra Arab tersebut. Sebut saja Gullivers Travels
dan Robins Karzou (Robinson Crusoe) yang terinspirasi dari Hikayat Alfu Laylah wa
Laylah (Syakah, 1974:723). Dalam hal ini, secara universal, sastra pada umumnya

telah menggait dua sastra besar yaitu sastra Arab dan sastra Barat. Tentu saja,
keberhasilan karya tersebut berasal dari penulisnya. Hal ini yang mendasari penulis
membuat biografi beberapa sastrawan Arab Klasik beserta karya-karya terbaik
mereka.
Beberapa nama tersebut diantaranya adalah: Umru Alqoys, Annabighah AzZibyani, Zuhair bin Abu Sulma dan Al-Asya bin Alqaisi. Dengan demikian, sebagai
contoh, karya-karya yang ada pada masa sastra Arab klasik pra Islam khususnya
puisi-puisi tentang kepahlawanan Jahiliah menjadi acuan bagi para penulis puisi
pada Dinasti Abbasiyah dan dipandang sebagai karya klasik oleh para penyair
Abbasiyah. Hanya saja sayangnya dukungan yang diberikan oleh para khalifah,
wazir dan gubernur Dinasti Abbasiyah kepada para penyair tidak sekedar
melahirkan pujian dan menjadi genre sastra yang paling di senangi tapi telah
mendorong

para

penyair

melakukan

pelacuran

sastra,

dan

pada

akhirnya

memunculkan nuansa kemegahan palsu, dan kebohongan kosong yang sering


dikatakan sebagai unsur yang melekat dalam puisi Arab.[2]

PEMBAHASAN

1. Umru Alqoys

Umru Alqoys merupakan salah satu penyair terkenal di masa pra Islam. Ia
seringkali muncul dalam artikel-artikel dengan julukan yang berbeda yaitu
Amrulkais. Ia seorang pangeran yang penuh dengan hawa nafsu percintaan
sehingga membuat sang ayah murka, termasuk syeh dan raja suku bangsa dan
akhirnya ia diusir dan diasingkan dalam hidupnya hingga menjadi penggembala.
Dengan demikian ia melarikan diri dari kehancuran suku bangsanya dan ia
meninggalkan

identitas

kesukuannya

serta

mengalami

masa

pengejaran.[3]

Akhirnya ia tiba sekitar pada tahun 530 di Romawi, pada masa kepemimpinan
Maharaja Justin di Konstantinopel di mana penyair pengembara sangat dihargai.
Tradisi mencatat ia tewas dengan penyiksaan demi memenangkan cinta sang putri

dari keturunan Maharaja Justin. Mohammed mendeklarasikan bahwa Umru Alqoys


merupakan salah satu penyair arab termashyur dan pangeran penyair yang pernah
dan pertama kali memerosotkan irama liar individual dan menegakkan penyanyipenyanyi padang pasir lebih awal.[4]
Pendapat mengenai kematian Umru Alqoys memiliki banyak versi. Pendapat
yang pertama sama seperti yang telah disebutkan bahwa Umru meninggal karena
dibunuh (namun bukan penyiksaan seperti yang telah dikatakan sebelumnya) tapi
diracun. Hal ini diceritakan lebih detail yaitu karena ia dikabarkan mencintai anak
gadis Kaisar Romawi yang bernama Unaizah. Karena kecintaannya itu ia sering
menyanjung sang putri dengan puisinya. Hal itu membuat kaisar cemburu dan
menyusun rencana untuk membunuh Umru dengan cara memberikan baju yang
sudah dilumuri racun. Ketika mengenakan baju tersebut, ia menjadi sakit dan tidak
lama kemudian meninggal dunia di Ankara Turki tahun 545 M.[5] Sementara itu,
pendapat yang lainnya mengatakan bahwa Umru tidak sampai ke Romawi karena
meninggal di dalam pengejarannya dan ada juga yang mengatakan bahwa ia
menderita

sakit

saat

hendak

meminta

tolong

pada

Kaisar

Romawi

agar

menyelamatkannya dari kejaran Bani Asad.


Karya-karya yang dilahirkan oleh Umru merupakan syair yang memiliki
daya khayal tinggi. Maka dari itu, Umru terkenal dengan sebutan Al-Malik Ad-Dakhil
(raja dari segala raja penyair) di mana hal ini menjelaskan kualitas syairnya yang
begitu tinggi, bernas dan padat. Salah satu contoh puisi yang dibuat oleh Umru
adalah sebagai berikut:
Di kala gulita malam seperti badai lautan tengah meliputiku dengan berbagai
macam keresahan untuk mengujiku(kesabaranku). Di kala malam itu tengah
memanjakan waktunya, maka aku katakan padanya. Hai malam yang panjang,
gerangan apakah yang menghalangiku untuk berganti dengan pagi harinya? Ya,
walaupun pagi hari itupun juga belum tentu akan sebaik kamu.[6] Puisi tersebut
melukiskan kerisauannya di malam hari.

2. Annabighah Az-Zibyani
Annabighah Az-Zibyani Abu Umamah Ziyad bin Muawiyah merupakan
penyair yang sejak muda sudah pandai membuat puisi. Ia menjabat sebagai dewan

hakim dalam perlombaan puisi yang sering diadakan di pasar Ukadz. Ia sering
dihasut oleh lawan karena kerap kali mendekatkan diri pada para pembesar dan
menjadikan puisi sebagai media pergaulannya. Nabighah berasal dari Dzubyan.
Cara ia menghidupi diri adalah dengan mendapat upah dari puisi, maka
kemuliaannya berkurang.

Hampir seluruh umurnya, ia habiskan di kalangan

keluarga raja Hira, sehingga raja Hira yang bernama Nu'man bin Mundzir sangat
cinta kepadanya, sehingga dalam suatu riwayat dikatakan bahwa penyair ini di
kalangan raja Hira selalu memakai bejana dari emas dan perak, dan hal itu
menunjukkan kedudukannya yang tinggi di sisi raja Hira. Hal itu berlangsung cukup
lama, sampai salah seorang saingannya memfitnahnya dan menghasut Nu'man,
sehingga ia marah dan merencanakan untuk membunuh An-Nabighah. Salah
seorang pengawal Nu'man secara diam-diam menyampaikan berita tersebut,
sehingga An-Nabighah pun segera melarikan diri dan meminta perlindungan kepada
raja-raja

Ghossan

yang

menjadi

saingan

raja-raja

Manadzirah

dalam

memperebutkan penguasaan atas bangsa Arab.


Namun, karena lamanya persahabatan yang ia jalin dengan Nu'man bin
Mundzir, An-Nabighah berusaha untuk membersikan diri atas fitnah yang ditujukan
kepadanya

dan

meminta

maaf

kepadanya

dengan

puisi-puisinya

untuk

melenyapkan kebencian Nu'man dan meluluhkan hatinya, serta menempatkan


kembali posisinya semula di sisi raja Nu'man bin Mundzir. Hal tersebut dapat dilihat
dalam puisi i'tidzariyat (permohonan maafnya) di bawah ini:
"Sesungguhnya

engkau

bagaikan

malam

yang

kujelang

meski

aku

didera

kehampaan, tapi tempat berharap maaf darimu sungguh luas membentang"


An-Nabighah berusia panjang dan meninggal menjelang keutusan Nabi
Muhammad. Sebagian besar ahli sastra Arab mendudukan puisi Nabighah pada
deretan ketiga sesudah sesudah Umru al-Qais dan Zuhair bin Abi Sulma. Hanya saja
penilaian ini sangat relatif sekali, karena setiap orang pasti mempunyai penilaian
masing-masing. Walaupun demikian karya puisi merupakan puisi yang sangat tinggi
nilainya. Karena pribadi penyair ini sangat berbakat dalam berpuisi. Oleh sebab itu,
tidak heran bila penyair ini diangkat sebagai dewan juri dalam setiap perlombaan
berdeklamasi dan berpuisi tiap tahun di pasar Ukadz. Dalam perlombaan deklamasi
dan berpuisi itu, para penyair berdatangan dari segala penjuru tanah Arab
semuanya berkumpul di pasar Ukadz, Daumat Al-Jandal, dan Dzil Majanah. Dalam
kesempatan ini, mereka mendirikan panggung untuk dewan juri, dan salah seorang

dari dewan juri itu adalah An-Nabighah sendiri, karena dia dikenal sebagai seorang
yang mahir dalam menilai puisi. Dan apabila ada puisi yang dinilai baik, maka puisi
itu akan ditulis dalam lembaran khusus dengan menggunakan tinta emas,
kemudian

digantungkan

pada

dinding

Kabah

sebagai

penghormatan

bagi

penyairnya.
Keistimewaan puisi Nabighah bila dibandingkan dengan puisi Umru Alqays
dan Zuhair bin Abi Sulma, maka puisi Nabighah lebih indah dan kata-katanya lebih
mantap, bahasanya sederhana sehingga mudah dimengerti oleh semua orang. Dan
para penyair lain pun tidak jarang yang meniru gaya Nabighah dalam berpuisi,
sehingga orang yang suka akan kelembutannya puisinya, seperti Jarir, menganggap
bahwa ia merupakan penyair Jahiliyyah yang paling piawai. Ketergiurannya untuk
mencari penghidupan dengan puisi, justru membuka teknik baru dalam jenis puisi
madah (pujian) serta melakukan perluasan dan pendalaman dalam jenis puisi itu,
sehingga dia mampu memuji sesuatu yang kontradiktif.
Kepiawaiannya itu terlihat ketika pada suatu hari ia hendak memuji raja
Nu'man bin Mundzir yaitu seorang raja yang paling disukainya. Waktu itu ia melihat
matahari yang sedang terbit dengan terang. Oleh karena itu raja Nu'man
diumpamakan dalam puisinya sebagai matahari yang terbit, dimana matahari bila
sedang terbit, maka sinarnya itu akan mengalahkan sinar bintang di malam hari.
Untuk itu penyair itu berkata seperti di bawah ini:
"Sesungguhnya kamu adalah matahari dan raja-raja selainmu adalah bintangbintangnya, yang mana bila matahari terbit, maka bintang-bintang itupun akan
hilang dari penglihatan".
Selain dari bait puisi di atas, masih banyak lagi dari kumpulan puisinya yang
diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Perancis oleh Monsieur Dierenburg
pada tahun 1868, karena puisinya banyak digemari orang.
An-Nabighah mempunyai diwan (antologi) puisi yang dikomentari oleh
Batholius (Ibnu Sayyid al-Batholius) yang telah berulang-ulang dicetak, meskipun
antologi puisinya itu tidak menghimpun seluruh puisinya. Di antara puisinya yang
paling indah adalah yang terdapat di dalam mu'allaqat-nya yang bait-bait
pertamanya berbunyi:
"Berhentilah kalian untuk menyapa, menyalami, sungguh indah reruntuhan
perkampungan, apa yang kalian salami adalah timbunan tanah dan bebatuan"

"Tanah lenggang, sepi dari binatang liar, dan telah diubah oleh hembusan badai
serta hujan yang datang dan pergi"
"Aku berdiri di atasnya, ditengah reruntuhan dan bertanya kepadanya tentang
serombongan unta yang biasa lewat di sana"
"Reruntuhan rumah yang indah , demikian asing, membisu tak mau berbicara pada
kami, dan reruntuhan rumah itu, andai ia mau berbicara pada kami, pasti ia punya
banyak cerita"

3. Zuhair bin Abu Sulma

Zuhair merupakan salah satu penyair terkenal di masa pra Islam. Zuhair
memiliki versi yang kurang menyindir, tidak seperti syair-syair yang dibuat
kakaknya. Ia berjuang keras untuk mengekspresikan pikirannya lebih dalam
menggunakan kata-kata sederhana, jelas dan dengan frasa yang terang untuk
menyampaikan ide-ide secara besar dan luhur kepada masyarakat. Zuhair adalah
seorang legendaris dan kaya raya, dan yang terpenting, keluarganya mencatat
kemampuan bersyair dan kesungguhannya dalam agama. Singkatnya, Zuhair
adalah seorang pemuda filosofis diantara penyair-penyair Arab lainnya.[7]
Ia adalah salah seorang dari tiga serangkai dari penyair Jahiliyyah setelah
Umru al-Qais dan An-Nabighah az-Zibyani. Penyair ini amat terkenal karena
kesopanan kata-kata puisinya. Pemikirannya banyak mengandung hikmah dan
nasehat. Sehingga banyak orang yang menjadikan puisi-puisinya itu sebagai contoh
hikmah dan nasehat yang bijaksana. Zuhair bin Abi Sulma, tumbuh dan besar dalam
lingkungan keluarga penyair. Rabi'ah ayahnya, Aus bin Hujr ayah tirinya, dan
Basyamah pamannya, mereka adalah para penyair, dan saudaranya Sulma dan alKhansa, mereka berdua juga penyair. Oleh karena itulah ia sudah terkenal pandai
berpuisi sejak kecil. Ia terkenal dengan bakat puisi yang dimilikinya dan disenangi
oleh kaumnya. Zuhair terkenal juga dengan budi pekertinya yang luhur sehingga
setiap pendapat yang keluar darinya selalu mendapat persetujuan dan diterima
baik oleh kaumnya.
Ia menikah dua kali. Pertama dengan Ummu Aufa. Kehidupan rumah
tangganya

dengan

Ummu

Aufa

banyak

disebut-sebut

dalam

puisi

dan

muallaqatnya. Sayang, setelah semua anak-anak dari Ummu Aufa meninggal


dunia, mereka bercerai. Kemudian ia menikah lagi dengan Kabsyah binti Amr AlGhatafaniyyah. Dari pernikahannya yang kedua, ia memiliki tiga orang putra yaitu
Kaab, Bujair dan Salim. Sayangnya Salim meninggal dunia sebelum Islam datang.
Sedangkan ia dan keluarganya yang lain masih hidup sampai tiba datangnya masa
Islam dan masuk ke dalam Islam dan dikenal sebagai penyair.
Zuhair hidup dalam masa terjadinya peperangan yang berlarut-larut selama
40 tahun antara kabilah Abbas dan Bani Dzubyan, yang terkenal dengan
peperangan Dahis dan Gabra'. Dalam peristiwa perang ini, ia pun turut ambil bagian
dalam usaha mendamaikan dua suku yang sedang berperang tersebut. Dalam
usaha perdamaian itu, ia menganjurkan kepada para pemuka bangsa Arab untuk
mengumpulkan dana guna membeli tiga ribu ekor unta untuk membayar tebusan
yang dituntut oleh salah satu dari kedua suku yang sedang berperang itu. Adapun
yang sanggup menanggung keuangan itu adalah dua orang pemuka bangsa Arab
yang bernama Haram bin Sinan dan Harits bin Auf. Sehingga berkat usaha kedua
orang ini, peperangan yang telah terjadi selama 40 tahun dapat dihentikan. Untuk
mengingat kejadian yang amat penting itu, Zuhair mengabadikan dalam salah satu
puisi muallaqatnya, seperti di bawah ini:
"Aku bersumpah dengan Ka'bah yang ditawafi oleh anak cucu Quraisy dan Jurhum".
Aku bersumpah, bahwa kedua orang (yang telah menginfakkan uangnya untuk
perdamaian itu) adalah benar-benar pemuka yang mulia, baik bagi orang yang
lemah, maupun bagi orang yang perkasa".
"Sesungguhnya mereka berdua telah dapat kesempatan untuk menghentikan
pertumpahan darah antara bani Absin dan Dhubyan, setelah saling berperang
diantara mereka".
"Sesungguhnya mereka bedua telah berkata: "Jika mungkin perdamaian itu dapat
diperoleh dengan uang banyak dan perkataan yang baik, maka kami pun juga
bersedia untuk berdamai".
"Sehingga dalam hal ini kamu berdua adalah termasuk orang yang paling mulia,
yang dapat menjauhkan kedua suku itu dari permusuhan dan kemusnahan".

"Kamu berdua telah berhasil mendapatkan perdamaian, walaupun kamu berdua


dari kelurga yang mulia, semoga kalian berdua mendapatkan hidayah, dan barang
siapa yang mengorbankan kehormatannya pasti dia akan mulia"[8]

4. Al-Asya bin Alqaisi

Nama Al-A'sya merupakan julukan baginya, karena ia memiliki kadar


penglihatan

yang

lemah

(rabun).

Nama

pada

saat

karier

kepenyairannya

meningkat, ia dijuluki Abu Basir yang berarti orang yang mempunyai penglihatan.
Konon ayahnya mempunyai julukan "Orang yang mati kelaparan", karena pada
suatu ketika ayahnya memasuki sebuah goa hanya untuk berteduh di dalamnya
dari cuaca panas, tetapi malang baginya tiba-tiba sebuah batu besar jatuh dari atas
gunung dan menutupi mulut goa, yang menyebabkan ayahnya mati kelaparan di
dalamnya. Mengenai kejadian itu, juhunnam seorang penyair membuat sebuah puisi
hija' (sindiran) untuk ayahnya yaitu:
"Ayahmu Qais bin Jundul mati kelaparan, kemudian pamanmu itu disusui oleh
budak dari Khuma'ah".
Khuma'ah adalah tempat kelahiran ibu dari Al-A'sya. Saudara kakeknya,
Musayyub bin Alas mempunyai jasa yang besar dalam mengabadikan puisi AlA'sya. Para ahli sastra Arab menganggapnya sebagai orang keempat setelah
ketiga penyair yang telah disebutkan di atas. Penyair ini ditakuti akan ketajaman
lidahnya, sebaliknya ia juga disenangi orang bila ia telah memuji seseorang, dan
orang itu seketika itu pula akan menjadi terkenal.
Puisi-puisi Al-A'sya banyak menceritakan pengembaraannya ke sebagian
daerah jazirah Arab untuk memuji para pemimpin (kepala suku) dan para
bangsawan. Sehingga di dalam diwannya (kumpulan puisi), dia banyak memuji
Aswad bin Mundzir dan saundaranya yaitu Nu'man bin Mundzir dan Iyas bin
Qubaisah. Dia juga banyak membicarakan mengenai perdamaian antara salah
seorang penguasa di Yaman dengan bani Abdul Madin bin Diyan di Najran, dan

penguasa yang bernama Hauzah bin Ala Sayid dari bani Hanifah, yang tidak
diketahui latar belakang mengenai perselisihan di antara ketiganya.
Al-A'sya sering melakukan pengembaraan dan mengunjungi kawasan Hirah,
Yaman, dan Diyar (sebuah daerah berbukit di Yaman), dan Najran, begitu pula
dengan daerah Syam, Persia, dan Jerussalem. Khususnya di daerah Yaman, Nejed,
dan Hirah, ia memuji para pejabat teras di sana. Begitu pula dengan kepergiaannya
ke Diyar, ia mendapatkan hadiah sebagai balasan atas puisi-puisi yang telah
diucapkannya dengan indah kepada bani Amr.
Louis seorang orientalis barat, menganggap bahwa penyair ini penganut
Nasrani, ia berpendapat dengan kesukaan Al-A'sya dalam menyusun lagu-lagu
rohani. Puisi madahnya banyak memuji para uskup Najran, dan kebanyakan baitbait puisi-nya berkaitan dengan orang-orang nasrani di Hirah. Namun, hal ini tidak
dapat dibenarkan, karena kepercayaan Nasrani telah lama dianut dan merupakan
agama nenek moyang. Sehingga setelah ia menerima ajaran ini, kebiasaan buruk
dalam melakukan perbuatan dosa dan kemaksiatan telah ada pada diri al-A'sya. Hal
ini

dapat

dilihat

jelas

dalam

puisi-nya

yang

banyak

menggambarkan

kesenangannya akan mabuk-mabukkan dan pencinta harta. Dan untuk meneliti


lebih lanjut tentang puisi Al-A'sya dapat dilihat dalam kitab Sy'ir was Syuara' karya
Ibnu Al-Qutaibah, kitab Al-Jamhara, dan kitab Al-Aghany karya Al-Asfahany.
Kumpulan puisi Al-A'sya banyak diterbitkan oleh Jayir di London pada tahun
1928. Jayir menyalinnya dari Isykuriyal yang diambil dari Tsa'labah pada tahun 291
H. Sebagian dari puisi-nya juga diterbitkan oleh Daar al-Kutub, Mesir. Jumlah
kasidahnya tidak kurang dari 77 bait kasidah, ditambah lagi l15 kasidah yang tidak
diketahui asalnya, tetapi diyakini sebagai puisinya. Namun, kemungkinan besar
puisi pilihan itu dikumpulkan oleh Tsa'labah. Selanjutnya Daar al-Kutub menemukan
40 bait kasidah al-A'sya yang diambil dari salinan di kantor perwakilan Yaman. Hal
ini diketahui dari kalimat pendahuluan oleh penyusun diwan-nya. Puisi-puisi Al-A'sya
memiliki ciri khas tersendiri, seperti pemakaian kasidah yang panjang, sebagaimana
yang terlihat dalam puisinya terdapat pemborosan kata-kata. Puisinya banyak
mengandung pujian, sindiran atau ejekan, kemegahan atau kebesaran, kenikmatan
khamr

(arak),

menggambarkan

atau

melukisakan

sesuatu,

dan

mengenai

percintaan.
Tidak seperti penyair lainnya, dalam hal pengungkapan puisi madah, AlA'sya hanya ingin berusaha mendapatkan pemberian atau hadiah, seperti dalam

pengembaraannya kesebagian jazirah Arab, yaitu untuk memuji para pemimpin dan
pejabat di sana. Pemberian atau hadiah itu dapat berupa unta, budak perempuan,
piring yang terbuat dari logam perak, atau pakaian yang terbuat dari kain sutera
yang bermotif lukisan.
Dalam

puisi

madahnya

banyak

mengisahkan

mengenai

kemuliaan,

keberanian, kesetiaan, pertolongan terhadap kaum lemah, dan pujian terhadap


tentara yang berlaga di medan peperangan. Puisi madahnya banyak mengandung
ungkapan-ungkapan yang dikeluarkan secara bebas (spontanitas). Oleh karena itu,
Al-A'sya juga ditakuti akan ketajaman lidahnya, karena bila seseorang telah
mendapatkan pujian darinya, maka orang itu akan menjadi terkenal.
Dalam suatu riwayat, diceritakan bahwa di kota Mekkah ada seorang miskin
yang bernama Muhallik, orang itu mempunyai tiga orang puteri yang belum
mempunyai jodoh dikarenakan kemiskinan mereka. Pada suatu waktu, keluarga ini
mendengar kedatangan Al-A'sya di Mekkah, maka isterinya meminta kepada
suaminya untuk mengundang Al-A'sya ke rumahnya. Setelah Al-A'sya datang ke
rumah miskin itu, maka isterinya memotong seekor unta untuk menjamu Al-A'sya.
Penyair ini sangat heran dengan kedermawanan orang miskin ini. Ketika ia keluar
dari rumah itu, ia langsung pergi ke tempat orang-orang yang sedang berkumpul
untuk mengabadikan kedermawanan Muhallik dalam suatu bait puisinya yang
sangat indah. Setelah ia membacakan puisi itu, maka banyak orang yang datang
meminang ketiga puteri Muhallik. Adapun bait puisi yang diucapkan Al-A'sya seperti
dibawah ini:
"Aku tidak dapat tidur di malam hari, bukan karena sakit ataupun cinta"
"Sungguh banyak mata yang melihat api yang menyala di atas bukit itu"
"Api itu dinyalakan untuk menghangatkan tubuh kedua orang yang sedang
kedinginan di malam itu, dan di tempat itulah Muhallik dan kedermawanannya
sedang bermalam"
"Di malam yang gelap itu keduanya saling berjanji untuk tetap bersatu"
"Kamu lihat kedermawanan di wajahnya seperti pedang yang berkilauan"
"Kedua tangannya selalu benar, yang satu untuk membinasakan sedang yang lain
untuk berderma"
Di dalam suatu riwayat lain juga diceritakan bahwa ketika Al-A'sya
mendengar diutusnya Nabi Muhammad dan berita mengenai kedermawanannya,
maka penyair ini sengaja datang ke kota Mekkah dengan membawa suatu kasidah

yang telah dipersiapkan untuk memuji Nabi Muhammad. Namun, sayang sekali
maksud baik ini dapat digagalkan oleh pemuka bangsa Quraisy.
Ketika Abu Sufyan mendengar kedatangan Al-A'sya, Abu Sufyan langsung
berkata kepada para pemuka Quraisy: "Demi Tuhan, bila Al-A'sya bertemu dengan
Muhammad dan memujinya, maka pasti dia akan mempengaruhi bangsa Arab
untuk mengikuti Muhammad. Karena itu, sebelum itu terjadi, kumpulkanlah seratus
ekor unta dan berikan kepadanya agar tidak pergi menemui Muhammad".
Kemudian, saran Abu Sufyan ini, dituruti oleh bangsa Quraisy, yang akhirnya AlA'sya mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan beliau. Adapun puisi yang
telah dipersiapkan olehnya untuk memuji Nabi Muhammad seperti dibawah ini:
"Demi Allah, onta ini tidak akan aku kasihani dari keletihannya, dan dari sakit
kakinya sebelum dapat bertemu dengan Muhammad"
"Nanti jika kau telah sampai ke pintu Ibnu Hasyim, kau akan dapat beristirahat dan
akan mendapatkan pemberiannya yang berlimpah-limpah"
"Seorang Nabi yang dapat mengetahui sesuatu yang tak dapat dilihat oleh mereka,
dan namanya telah tersiar di seluruh negeri dan di daerah Nejed"
"Pemberiannya tidak akan terputus selamanya, dan pemberiaannya sekarang tidak
akan mencegah pemberiannya di hari esok"

PENUTUP
Kesimpulan
Penulis-penulis yang terkenal di zaman pra Islam yang dibahas dalam makalah ini
adalah:
1. Umru Alqoys
2. Annabighah Az-Zibyani
3. Zuhair bin Abu Sulma
4. Al-Asya bin Alqaisi

Masa klasik atau Jahili merupakan masa di mana perkembangan kesusastraan Arab
pada masa ini dibagi atas dua bagian, yaitu masa sebelum abad ke-5, dan masa
sesudah abad ke-5 sampai dengan Hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke Madinah (1
H/622 M)

DAFTAR PUSTAKA
Manshur, Fadlil Munawwar. 2011. Perkembangan Sastra Arab dan Teori Sastra Islam.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hitti, Philip K. 2008. History of The Arabs. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.
http://www.answering-islam.de
http://www.adab.com/en/
poems adab.com
http://jiwasastra.wordpress.com/
arabicmirantikejer.blogspot.co.id/2012/11/makalah-sejarah-sastra-arabsastrawan.html

PERKEMBANGAN SASTRA ARAB MODERN

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG

Kesusasteraan arab terus mengalami dinamika sejak masyarakat arab menghadapi


lingkungannya; geografis yang amat memungkinkan timbulnya imajinasi dan kreativitas.
Yakni sebuah kebudayaan yang terbentuk sebagai ekspresi purba dan menyatakan
kehendak. Perang dan anggar garis keturunan ke atas. Ayyam al Arab, yaitu peristiwaperistiwa penting yang menimpa masyarakat Arab dan al ansab (geneologi) yang membuat
silsilah keturunan, secara umum menjadi simbol kebanggan bagi masyarkat Arab. Dua jenis
pengetahuan ini banyak terekam karya sastra (Dr. H. Ahmad Muzakki, M.A, 2011;1).
150 tahun sebelum syiar Islam datang, masyarakat timur tengah boleh dikategorikan
purba. Karena mereka memiliki tradisi yang berat bagi kehidupan. Bagaimana perempuan
yang baru lahir harus dikubur hidup-hidup karena tidak mampu berperang mengalahkan
pihak lawan. Dan justru memperlemah kekuatan kabilah.Tujuan dan bentuk puisi pun secara
alamiah memang murni dari alam. Seperti hentak kuda dan pelecehan suku lawan dengan
habis-habisan, menjadi petunjuk kesusteraan arab mereka. Mereka pun mengapresiasi puisi
terbaik untuk ditunjukkan kepada semua orang di kabbah dengan menggantungnya.
Sejalan dengan fase kehidupan, berangsur-angsur dari syiar Islam, perlu suatu sistem
untuk menghimpun rakyat, kedaulatan, dan wilayah sehingga terbentuknya kerajaankerajaan paska wafatnya Rasulullah di timur tengah, sampai bagaimana peradaban Islam di
Eropa menandai satu massa di mana kesusasteraan tidak menggeliat seperti di zaman
jahiliyah dan Islam. Sebab negara-negara timur tengah mulai mendirikan kerajaan dan fokus
kepada pembentukan dan pertahanan negaranya masing-masing. Untungnya di satu titik
ada di masa dinasti Abbasiah, lembaga penerjamahan (dar al hikmah) sangat membantu
mengembangkan karya sastra dan di bidang keilmuwan lain. Justru ketika Turki sebagai
negara eropa yang merupakan bagian dari peradaban Islam masuk ke timur tengah,
menyebabkan bahasa dan sastra Arab semakin jauh dari kesusasteraan arab. Karena
percampuran bahasa dan represif bahasa negara.
Ketika Mesir dan negara timur tengah lainnya menjadi objek pendudukan Francis, para
kolonial memperkenalkan kepada mereka pemberitaan, lembaga penerbitan, dan majalah.

Sebagai satu titik di mana mereka juga memperkenalkan kesusteraan Francis bagi negara
mereka. Gubernur Mesir, Muhammad Ali merasa perlu mengirim orang-orang untuk
mendalami dan mempelajari kesusasteraan negara-negera Eropa. Sehingga studi demikian
sebagai pertanda adanya kebaharuan di bidang kesastraan yang akan dibawa pulang.
Upaya demikian juga memicu bentuk baru dalam karya sastra.
Ketika

madrasah

dan

lembaga

keilmuwan

yang

telah

ada

digunakan

untuk

mengapresiasi karya sastra dari studi ke eropa, maka memudahkan untuk mempelajari
sebanyak mungkin peradaban eropa. Sungguh telah bertambah perhatian studi sejarah
bentuk kesastraan sejak abad 19 tahun di eropa. Dalam buku Sastra Arab Modern (fi al
Adab al Hadis), Dr. Hasan Hanafi menyebutkan bahwa madrasah bentuk kesastraan telah
berkembang di abad ke-20 dan telah ada dari dua agama yakni Protestan dan madrasah
Tubnjan. Dan telah dimulai kritik sejarah untuk kitab suci pada abad ke-18, kemudian
muncul madrasah kesejarahan pada abad ke-19 dan ilmu sejarah perbandingan agama, lalu
muncul pula penelitian-penelitian studi sejarah bentuk kesastraan dua kitab suci dan
kesastraan klasik khususnya dari peradaban yunani dan peradaban yahudi.

Kritik dari

madrasah terbaru telah berganti dari kritik sumber menjadi kritik bentuk, atau
sebagaimana istilah ulama-ulama studi hadis, perpindahan dari kritik sanad kepada kritik
matan, dan madrasah yang baru telah meminjam bentuk kesastraan dari kritik sastra
kompatibel dari teori umum karena sejarah sastra adalah sejarah bentuk kesastraan,
madrasah yang baru bergantung pada studi-studi jenis-jenis kesastraan pada sastra klasik,
dan perkembangan kritik sastra (Dr. Majid Soidi, 17).
Bagaimana kesastraan arab mengalami totalitas identitas yang berubah seiring
bagaimana sebuah negara atau pembentukan negara terus berlangsung mengalami
dinamika. Secara sederhana, identitas keindahan dan wazan puisi arab tidak kalah baik dan
indah bila membaca karya sastra modern yang sudah bebas tanpa ada ikatan wazan.
1.2 RUMUSAN MASALAH
a.

Bagaimana perkembangan karya sastra arabmodern?

b.

Bagaimana puisi arab modern?

c.

Bagaimana prosa arab modern?

d.

Bagaimana drama arab modern?

1.3 TUJUAN PEMBAHASAN


a.

Memahami perkembangan karya sastra modern

b.

Memahami puisi Arab modern

c.

Memahami prosa Arab modern

d.

Memahami drama Arab modern

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Perkembangan Karya Sastra Arab Modern
Masa modern dimulai sejak tahun ke-19 bersamaan dengan kedatangan atau
pendudukan Francis ke Mesir sejak 1213 H sampai 1798 H.[1] Faktor-faktor maraknya sastra
di masa modern saat itu adalah karena pembelajaran, penelitian ilmiah ke Eropa,
penerjemahan, percetakan, perpustakaan-perpustakaan, lembaga/balai bahasa dan kampuskampus bahasa, orientalisme, drama, dan broadcasting.
Dua sebab yang menyebabkan perkembangan modern, pertama komunikasi dengan
kitab-kitan klasik yang terdahulu sehingga menyebabkan penyebaran percetakan dan
perpustakaan-perpustakaan dan tampaknya adanya kampus-kampus bahasa.Dan yang
kedua karena komunikasi dengan peradaban barat modern yang menyebabkan adanya
penelitian ilmiah ke Eropa, penerjemahan, orientalisme, dan asilimasi dengan bahasa asing.
Dari yang sebab kedua juga menyebabkan perkembangan dan perbedaan dalam karya
sastra. Dalam bidang prosa, para sastrawan mulai meninggalkan tema-tema yang lama
seperti surat, pitutur, dan munculnya jenis prosa baru, yakni cerita, naskah drama, dan
makalah/laporan. Dan kalau dalam puisi, mulai ditinggalkannya tema-tema lama dan
diperkenalkannya tema-tema baru seperti puisi sosial, politik dan lain sebagainya. Adanya
seni baru seperti puisi drama dan puisi epos[2]. Dan adanya aliran-aliran sastra.
2.2 Puisi Arab Modern
Pada bidang puisi perkembangan karya sastra ditunjukkan dengan adanya aliran-aliran
puisi. Ada tiga tingkatan dalam puisi dan di setiap aliran ada karakteristik seni yang
istimewa. Yakni aliran neo-klasik, aliran romantisme dan aliran puisi baru atau puisi bebas:
a.

Aliran neo-klasik
Aliran ini memiliki ciri-ciri:

1.

Dari segi kandungan puisi berisi tentang tema-tema lama seperti al madh, al ghozal,
fakhr, dan tema-tema yang baru yang berhubungan dengan kehidupan dan permasalahan
sosial dan politik.

2.

Dari segi gagasan, bentuk, dan ungkapan, dari segi gagasan masih yang masih
melingkupi gagasan tentang akal dan hikmah. Sedangkan bentuknya atau tipografinya
masih seperti yang lama, dan lafaz-lafaz serta struktur merupakan bagian yang teratur dan
berirama.

3.

Dari segi lirik syair dan kesatuan seni masih menggunakan wazan dan qofiyah

4.

Penyair-penyair dalam aliran ini adalah Ahmad Syauqi, Hafiz Ibrahim, dan Ali al Jarim dari
Mesir, Jamil Jahawi, dan Maruf al Rosafi dari Irak, Hamid Said al amudi, Hamzah Saatah, dan
Tohir Zamhasyari dari Arab Saudi

5.

Contoh Syiir aliran neo-klasik seperti dalam kitab al Wasith:




b.

Aliran Romantisme
Adanya romantisme menimbulkan dua aliran yang berlawanan dan berkesamaan.
Yakni Dr. Ahmad Muzakki dalam bukunya Pengantar Teori Sastra Arab menjelaskan bahwa
aliran yang pertama, mereka hanya terikat pada qafiyah (sajak), sebagaimana yang
dilakukan Abu Al Athiyah pada masa Abbasyiah. Dalam hal ini mereka juga dipengaruhi oleh
William Shakespere, seorang sastrawan romantik Inggris terkenal. Pada masa mereka yang
dikenal dengan sebutan puisi lepas (syiir al mursal). Yang kedua adalah yang beraliran
bahwa mereka sama sekali tidak menerima arudl, baik wazan (musikalitas) maupun
qafiayah (sajak), tidak terikat oleh aturan klasik, atau bergaya prosa liris. Salah satu dari
keduanya dari tanah arab dan pemuka dari aliran ini adalah Khalil Gibran dan dari aliran
romantisme menimbulkan dan membekaskan pada perasaan dan emosi yang lembut,
kealamihan yang indah yang berasal dari Libanon dan karena hubungan dari kebudayaan
Francis. Dan Khalil Gibran memulainya dengan lirik syair dengan judul al masa pada tahun
1902 H dan telah dipelajari. Dan karakteristik dari aliran ini adalah:

a.

Pemerhatian kepada perasaan dan ungkapan tentang zat

b.

Bergantung pada imajinasi dan kalimat retoris/ balaghah

c.

Emosi yang alami dan personifikasi

d.

Menggunakan bahasa sensitif/menyentuh dan music yang tenang

e.

Dan ada juga yang tetap menjaga kesatuan sajak dan rima

f.

Madrasah diwan didirikan oleh tiga pemuka gerakan pembaruan; mereka adalah Abbas
Muhammad al Aqod, Ibrohim Abdul Qodir al Mazani, dan Abdurrahman Syukri.

g.

Contoh puisi aliran romantisme adalah puisi dari Khalil Gibran:


Dan ada juga aliran romantisme ini berasal dari aliran imigran. Dan penyair dari jenis
ini memaksudkan pada sastra (migrasi) arab, karena mereka berhijrah atau bermigrasi dari
Syam ke Amerika Utara dan Amerika selatan. Alasan mereka berhijrah adalah karena ingin

mempelajari majalah dan koran bekas peninggalan kolonial. Imigrasi dimulai pada abad ke19. Faktor-faktor yang mempengaruhi puisi-puisi imigran adalah:
a.

Kepribadian mereka dipengaruhi oleh budaya barat dan masyarakat sekitar mereka yang
ikut bermigrasi

b.

Kerinduan pada tanah air dan rasa nasionalisme

c.

Komunikasi dengan kebudayaan asing


Karakteristik puisi imigran adalah:

1.

Dari segi isi: mereka menggunakan teori eksistensi dan masyarakat humanis tentang
cinta, kasih sayang, kebaikan, seruan akan sadar pada prinsip, persamaan, simpati dan
tenggang rasa. Selain itu tentang kealamiahan (mencakup penggambaran tentang anganangan dan adaptasi) dan kerindauan pada tanah air. Dan terakhir simbol-simbol.

2.

Dari segi bentuk: pembaruan dalam wazan dan qofiyah, jelas dan mudah dalam struktur,
dominasi bentuk syair cerita dalam lirik syair, sedikit mengikuti orisinalitas leksikologi serta
memperhatikan pada irama lafaz.

3.

Contoh Puisi Imigran adalah puisi dari Ilya Abu Madhi:


c.

Aliran Puisi Baru atau Puisi Bebas


Aliran ini berdiri karena didorong oleh faktor politik dan ekonomi paska perang dunia
kedua, bersamaan dengan lemahnya pengaruh aliran romantisme yang dibangun atas dasar
imajinasi, dan telah tampak kecenderungan lain yang dikenal dengan kecondongan kepada
hal-hal yang fakta, serta dari segi isi dan bentuk berbeda dengan apa yang pernah ditulis
sebelumnya.
Dalam kitab al adab wa an nusus lighairi an natiqina bil arobiyyah, disebutkan bahwa
ada dua hal yang disampaikan dalam isi atau makna puisi arab baru atau puisi bebas:

a.

Puisi yang menyampaikan tentang pengalaman nyata yang hakiki yang dimaksudkan
bahwa semua puisi bertema-tema kehidupan.

b.

Puisi memiliki fungsi sosial untuk membuka tentang rakyat yang terbelakang, menyeru
pada percampuran semua penduduk, membantu gerakan-gerakan pembebasan dan
berusaha menciptakan hidup yang lebih baik.
Puisi ini tidak terikat dengan aturan wazan dan qofiyah, tetapi masish terikat dengan
satuan irama khusus yang menjadi karakteristik karya sastra bernilai tinggi. Penyair hanya
mengungkapkan perasaan dan imajinasi, sehingga iramanya berisfat subjektif (Dr. H. Ahmad
Muzakki, M.A, 2011;57).

A. Tema-tema, gaya bahasa, dan makna-makna pada puisi modern:


1.

Tema-tema puisi modern

a.

Al Washf

Al Washf adalah tema puisi yang sudah menjadi tema umum dari masa klasik
kesusasteraan Arab sampai di masa modern.Tema ini selalu membicarakan puisi untuk
menggambarkan keadaan alam dan lingkungan.Al washfu dianggap sebagai tema-tema
orisinil kesusasteraan arab, semenjak mereka menemui setiap tempat

dekat dengan

perasaan mereka, yang mereka dapatkan, atau apa yang deskripsikan, sehingga tidak heran
bahwa para penyair modern menghadapi lebih banyak ketika penulisan tema ini dengan
banyak

hal;

tema.

Sungguh-sungguh

mereka

telah

mendeskripsikan

tentang

ketubuhan/olahraga, pepohonan, laut, sungai dan setiap pemandangan dari yang jelek
sampai yang bagus, menjadi pengaruh pada jiwa mereka menjadi takjub dan tak percaya
(Dr. Muhammad Said bin Husain, 1405 H:26).
Berikut contoh puisi Ahmad Syauqi tentang laut (Dr. Muhammad Said bin Husain,
1405 H:26)










))((
b.
Al Madah
Selain al washfu, al madah juga karakter puisi arab modern. yang selalu
membicarkan tentang pujian. Obyeknya berbeda-beda, bisa kepada sifat baik dan akhlak
yang mulia orang lain atau kepada makhluk Tuhan. Berikut contoh puisi Ahmad Syauqi
tentang pujian kepada bunga mawar (Dr. Muhammad Said bin Husain, 1405 H:27)


c.

Ar Ritsa
Ar ritsa adalah puisi yang membicarakan kesedihan. Karena selalu mengungkapkan
tentang rasa gagal, sendu, dan tidak menyenangkan.Dalam ritsa, kadang-kadang penyair
mengungkapkan sifat-sifat yang terpujii dari orang telah meninggal, atau mengajak kita
untuk berpikir tentang kehidupan dan kematian. Tema ini paling banyak memberikan
pengaruh, karena penyair mengungkapkan tentang kejadian yang disaksikan (Dr. H. Ahmad
Muzakki, M.A, 2011;113).
Berikut contoh puisi Ahmad Syauqi tentang ayahnya:



d.

Al Ghozal

Yakni seni yang membicarakan tentang perilaku orang-orang arab. Khusus di masa
modern. Berikut contoh puisi Rofii:






e.

Al Fakhr wa al hammasah
Fakhr adalah tema ini pada mulanyad digunakan untuk menggambarkan kemegahan
diri atau suku, namun sekarang digunakan untuk kepentingan bangsa (Dr. H. Ahmad
Muzakki, M.A, 2011;133). Sebagaimana puisi Al Barudi:

f.

Al Hija
Merupakan salah satu tema yang sedikit menjadi urusan di masa modern, semenjak
diangkat kembali oleh para penyair.Khususnya puisi hija kepada seseorang.Puisi ini sangat
sarat kelembutan dalam lafaz-lafaznya.Pada masa ini hija ditujukan kepada musuh-musuh
bangsa, musuh-musuh Islam.Para penyair yang sering menuliskan tema hija adalah
Muhromi, Hafiz, dan lain sebagainya.
Dan ketika mereka mencela seseorang dengan aib mereka, akhlak mereka, dan sifatsifat mereka yang agung dan baik.Seperti Syauqi ketika menghina Mustafa Kalam Turki.

g.

Puisi tanah air


Puisi menggambarkan tentang nasionalisme rakyat dari satu negeri, angan-angan
mereka, perspektif mereka terhadap kolonial-kolonial dan lawan negeri.Dan tema puisi
tanah air sebenarnya berisi tentang penghinaan.Puisi dengan tema cinta tanah air berupa
pujaan kepada tanah kelahiran atau negeri tercinta.

h.

Puisi Sosial
Puisi membicarkan tentang kondisi masyarakat, himbauankepada perbaikan dari apa
saja yang merusak kehidupan bermasyarakat. Memberitakan tentang kemiskinan dan
sebab-sebabnya, dan pengkhianatan dari para arsitektur, para dokter, para ilmuwan, dan
para fuqoha, dan lain sebagainya. Sama halnya seperti yang mereka bicarakan tentang
khurafat dan kekuasaan dalam masyarakat. Dan mereka mengatur tentang pendidikan para
remaja dan pembangunan sosial dan penyediaannya. Dengan sastra bertema puisi sosial ini
menghimbau untuk menyebarkan rasa untuk belajar dan memerangi kebodohan
kemiskinan.

dan



Dan selain puisi-puisi neo-klasik di atas, pada masa modern ada juga puisi bertema
sejarah, pendidikan, puisi simpati dan puisi keagamaan.
2.

Seni Baru dalam Puisi

a.

Musikalisasi Puisi
Puisi yang membicarakan tentang musik dan mengungkapkan perasaan dan emosi
sebagaimana perasaan orang dulu yakni al madh, al fakhr, al ghozal, ar ritsa, al washfu dan
lain sebagainya.

b.

Epos
Yakni puisi tematik yang menyampaikan tentang kisah-kisah yang berhubungan
dengan kehidupan seorang pahlawan dan dipadukan dengan legenda yang pernah bergolak
dengan perasaan. Dan lirik syairnya panjang karena sampai pada 1000 bait.
Dengan adanya komunikasi dengan sastra dari para bangsa barat dan menerjemah
epos Yunani seperti Elijah dan Odessa (Homerus), dan Synamah dari puisi al Faris (Firdaus)
para penyair berusaha memasukkannya dengan warna sastra arab, dan contohnya (pemuda
gunung

yang

hitam)

Khalil

Gibran,

(Elizah

Islam)

Ahmad

Muhrom,

yakni

yang

menggambarkan tentang saat-saat perang-perang masa Rasulullah. Dan Tidak lupa pada
apa yang disusun oleh Umar Abu Rishah yakni epos-epos pahlawan dalam Tarikh al Arab
(Hasan Khamis al Maliji: 1149; 340)-341.

c.

Puisi Drama
Jenis puisi yang membicarkan tentang berbagai peristiwa ragam kepribadian dan
berbagai percakapan yang ditulis untuk drama menjadi sebuah sandiwara atau yang
dibangun dengan alur peristiwa. Dan jenis ini adalah asli dari sastra arab modern dari
penyair Ahmad Syauqi yang dirintisnya dalam bidang puisi drama dianggap sebagai pemuka
drama puisi (Hasan Khamis al Maliji: 1149; 341).

2.3 Prosa Modern


Pada awal masa-masa ini, bahasa aamiyah berada dalam puncak kemerosotan.
Kemudian setelah pengajaran tersebar ke semua lapisan masyarakat Mesir, masuklah
kedalam bahasa mereka banyak sekali kata-kata fasih, yang kemudian meluas kepada
keluarga mereka yang buta huruf dan kepada kaum wanita.
Hal ini ditunjang oleh penggunaan bahasa fasih dalam pengaduan-pengaduan ke
Mahkamah, dan oleh banyaknya surat kabar, majalah-majalah, dan cerita-cerita sastra.
Puisi-puisi jenis zaji, mawaliya dan wawu berkembang, dan wawu berkembang, dan pada
masa Ismail Pasya puisi zaji mencapai puncaknya. Diantara para tokoh-tokohnya yang

kenamaan ialah Muhammad Usman Jalal Bey, Sayid Abdullah an-Nadiem, Syaikh Muhammad
an-Najjar, Syaikh Muhammad al-Qoushy, dan lain-lain tetapi jenis puisi ini akhirnya merosot
sebab dikalahkan oleh puisi fasih dan dikarenakan keengganan para pembesar untuk
mendengarkannya.[3]
Perkembangan prosa dalam kesusastraan Arab dapat dibedakan menjadi dua tahap,
yaitu:[4]
1. Prosa pada tahap permulaan pembaharuan
Pada masa ini, para penulis masih mengikuti para pengarang masa sebelumnya,
yaitu masa Turki. Mereka tidak saja meniru gayanya, tapi juga isinya. Mereka masih tetap
memperhatikan saja' (prosa lirik), jinas (asonansi), dan tibaq (antitesis). Mereka lebih
mementingkan permainan kata-kata daripada isi dan idenya. Gaya dan isi seperti ini muncul
di berbagai negara Arab. Akan tetapi, setelah itu, muncul unsur-unsur pembaharuan seperti
yang tampak pada pengarang terkenal seperti: Adurrahman Jabarti (1754-1822), Ismail
Khasab (w. 1815), dan Abdullah Fikri (1834-1889).
Unsur-unsur pembaharuan dalam prosa Arab ini berkembang secara bertahap dalam
masyarakat Arab. Para pengarang sudah mulai memperhatikan aspek pemikiran dan makna
tulisannya, kebiasaan mengarang sudah mulai tumbuh dalam masyarakat Arab. Di antara
para pengarang masa ini adalah Rifa'at Tahtawi (1801-1873), Ibrahim al-Muwailihi (18461906), dan Nasif al-Jazili (1800-1871).

2. Prosa pada tahap pembaharuan


Terjadinya pembaharuan di bidang prosa pada masa ini disebabkan oleh munculnya
para reformis dan pemikir yang menyebabkan terjadinya pembaharuan dalam masyarakat
Arab dan Islam, seperti Muhammad Abdul Wahab (1703-1792) di Saudi Arabia, Jamaludin alAfgani (1838-1897) di Afganistan, dan Muhammad Abduh (1839-1905) di Mesir, serta
Abdurrahman Kawakibi (1849-1902) di Syiria, serta munculnya sarana-sarana kebudayaan,
terutama bidang penerbitan dan surat kabar. Surat kabar mempunyai peran besar dalam
pembaharuan prosa di negara-negara Arab, juga munculnya kesadaran politik dan sosial di
negara-negara Arab.
Ciri-ciri prosa pada masa ini adalah lebih memperhatikan pemikrian daripada unsur
gayanya, tidak banyak menggunakan kata-kata retoris seperti saja' tibaq, seperti pada masa
sebelumnya. Pemikirannya runtun dan sistematis, penulis tidak keluar dari sati gagasan ke
gagasan yang lain, kecuali gagasan yang satu telah selesai, pendahuluannya tidak terlalu
panjang, temanya cenderung pada tema yang sedang terjadi pada masyarakat, seperti
masalah politik, sosial, dan agama.
Perkembangan prosa Arab pada tahap ini tidak berjalan pada satu garis, melainkan
berjalan pada dua kecenderungan. Kecenderungan pertama, mereka yang menyerukan agar

berpegang teguh pada kebudayaan Arab dan Islam yang asli dengan mengambil manfaat
dari kebudayaan Barat. Di antara para pengarang yang mempunyai kecenderungan seperti
ini adalah: Mustafa Luthfi al-Manfaluti, Mustafa Shadiq ar-Rafi'i (1881-1937), Abdul Aziz
Bisyri (1886-1943), Syarkib Arsalan (1869-1946), Ahmad Hasan az-Ziyat (1885-1968), dan
Mahmud Abbas al-Aqqad.
Kecenderungan kedua, mereka yang sama sekali menjauhkan diri dari pengaruh
kebudayaan Barat. Di antar pengarang yang masuk ke dalam kecenderungan ini adalah:
Amin Rihani (1876-1940), Ibrahim Abdul Qadir al-Mazini (1890-1949), Muhamad Husein
Haekal (1869-1946), Ahmad Amin (1878-1954), dan Taha Husein.
A. Genre Prosa Modern[5]
1. Rosail atau risalah
Rosail merupakan salah satu genre prosa yang ada pada masa ini. pada akhir abad
ke 19 dan awal abad ke 20 banyak terdapat kitab rosail terkenal karangan para sastrawan
pada masa ini seperti Abdullah Fikry, Syeikh Muhammad Abduh, Hifni Nashif, Adib Ishaq,
Ahmad Miftah, Abdul Aziz jwiz, dan bahitah al badiyah. Karangan mereka terkenal dengan
sebutan Rasail Al-Ikhwaniyah yang

mana penjelasan didalamnya menjelaskan tentang

sebagian hubungan kemanusiaan (hubungan sosial) diantaranya adalah ucapan selamat,


ucapan bela sungkawa, rindu, harapan, celaan, dan sifat yang menggambarkan tentang
permasalahan kehidupan, dan hubungan antara antara manusia. (Mansyur Ahmad dkk,
1972: 174)
2. Khitabah
Khitabah adalah sejenis perkataan dan merupakan cara untuk memuaskan sesuatu dalam
mempengaruhi

seseorang

ataupun

kelompok,

hadirnya

khitabah

adalah

untuk

mempertahankan pendapatnya sendiri dan merupakan reaksi terhadap hal-hal yang


menyangkut pendapat tersebut. Sedangkan perkembangan khitobah pada masa ini lebih
berisi tentang as siyaisyah atau politik. (Mansyur Ahmad dkk, 1972: 177)
3. Kisah (Qishshah) adalah cerita tentang berbagai hal, baik yang bersifat realistis maupun
fiktif, yang disusun menurut urutan penyajian yang logis dan menarik, perkembangan
Qishshah pada masa sastra Arab modern terbagi dalam 3 tahapan (Mansyur Ahmad dkk,
1972: 178), yaitu:
1.

Fase pertama ialah fase penerjemahan Qishshah sastra Barat kedalam bahasa Arab, Rifah
Athohtowi merupakan sastrawan pertama penerjemah Qishashah pada fase ini

2.

Fase yang kedua adalah fase untuk Qishshah bahasa Arab, Qishshah ini muncul
dikarenakan munculnya kisah-kisah tentang sejarah. George zaedan merupakan orang yang
pertama kali menulis 18 kisah yang disandarkan pada sejarah Arab Islam.

3.

Fase yang ketiga adalah Qishshah bahasa Arab yang muncul dikarenakan adanya kisah
social.

Prosa modern mempunyai tiga jenis utama, yaitu:[6]


1. Kitabah Diwaniyah()
Kitabah Diwaniyah adalah prosa yang ditulis dengan pena para kuttab diwan dan
editor di sebuah lembaga pemerintahan dan umum. Kitabah diwaniyah terdapat di Mesir
dan Syam (Syria) pada permulaan masa modern. Prosa jenis ini menggunakan bahasa
amiyah yang bercampur dengan bahasa Turki, sedangkan bahasa fushahnya ditiadakan. Hal
itu membuat prosa ini menjadi lemah. Jenis prosa ini hanya ada di dua negara tersebut
(Mesir dan Syam) dan negara-negara disekitarnya, seperti Irak kira-kira hingga tahun 1325
H. Kemudian para pemikir muda di Mesir mulai mengadopsi reformasi metode-metode
kitabah diwaniyah. Hal itu mengalami kemajuan dalam perkembangannya dari waktu ke
waktu hingga pertengahan abad keempat belas dan sangat bagus dalam hal kefasihan lafaz,
kontinuitas gaya bahasa dan menjaganya dengan mudah.
2. Kitabah at-Talif ()
Kitabah at-Talif adalah metode yang dirumuskan/disusun dari realitas ilmiah dalam
segala bidang ilmu seperti fiqh, sastra, kedokteran, dan lain-lain. Prosa ini menggunakan
bahasa fushah yaitu gaya bahasa yang jelas, beda dengan kitabah diwaniyah.
Dalam prosa ini tidak diperbolehkan menggunakan majaz serta jenis-jenisnya, seperti
majaz aqli, mursal, istiaroh, kinayah dan tasybih dimni. Sedangkan tasybih wadih boleh
digunakan ketika dibutuhkan untuk menjelaskan beberapa masalah. Pada permulaan masa
modern bahasa karangan merupakan kelemahan seni badi, seperti halnya bahasa amiyah
pada gaya bahasa sebagian para pengarang, termasuk al-Gibrani dan Ibnu Ghanam. Ketika
koran mulai bermunculan, percetakan mencetak buku-buku tersebut. Para pengarang mulai
menyusun gaya bahasa baru seperti al-Jahith dan Ibnu Kholdun. Maka kitabah talif
mengalami kemajuan hingga mendapat tempat di dunia percetakan. Gaya bahasa
pengarang yang ilmiah menjadi percontohan bahasa arab asli baik secara lafad maupun
gaya bahasa.
3. Kitabah Adabiyah ()
Kitabah adabiyah adalah prosa yang dihasilkan oleh rasa dan perasaan insan yang
menggambarkan keburukan dan kecantikan serta kejadian-kejadian dalam kehidupan
manusia. Yang mana ketika sastrawan mulai merangkai kata-kata mereka dipengaruhi intuisi
dan perasaan dalam suatu kejadian yang berbeda dengan kecenderungan dan orientasi
sang sastrawan pada tema-tema dan seni sastra. Begitu pula perbedaan kemampuan
sastrawan dalam bidang bahasa dan penggambaran sastra.
Pada permulaan masa modern prosa jenis ini memiliki struktur lafaz tanpa rasa,
intuisi, dan perasaan seperti dalam media massa. Sebelum pertengahan abad ketigabelas
hijriah orang-orang Nasrani Barat menggiatkan prosa di Syam, khususnya Lebanon. Mereka
juga membuka sekolah-sekolah yang berusaha menarik minat anak-anak negeri pada prosa.

Dan menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa pendidikan, dan diharuskan menggunakan
buku-buku sastra arab dalam belajar mengajar. Maka anak-anak Syam dipengaruhi oleh
gaya bahasa arab klasik dan mereka mulai berusaha menyalinnya. Kitabah fanniyah
digiatkan di Syam dan benar-benar diajarkan pada masyarakatnya yang mayoritas orangorang Nasrani yang hijrah dari Mesir yang melarikan diri dari Usmani. Mereka merintis koran
(media cetak) di Mesir, yang mereka adaptasi dari koran Syam. Masyarakat Mesir melihat
adanya pemikiran dan sastra yang mirip dengan Syam. Hal itu menghasilkan gerakan sastra
yang menghidupkan kitabah fanniyah dengan baik dan para pemuda yang sangat unggul
dalam bidang sastra itu memprioritaskan kitabah adabiyah. Hal ini diwarisi dari tulisantulisan yang ada pada hadis-hadis dan karangan-karangan. Orang-orang yang pertama kali
menyebutkannya antara lain Mustafa Lutfi, Muh. Husein Haikal, Thoha Husein, dan masih
banyak lagi. Dengan tangan merekalah kitabah adabiyah mencapai puncak kejayaannya
hingga pada tahun 1372 H koran dan majalah tidak lagi berpedoman pada pemikiran
ketuhanan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kitabah:
1.

Munculnya warisan Arab

2.

Adanya koran

3.

Digiatkannya gerakan kritik

4.

Kebangkitan umum yang mengawali di bidang ini


B. Karakteristik Prosa Modern:[7]
Dalam

sejarah

kesusastraan

Arab

modern,

sastra

prosa

telah

berhasil

mengekspresikan suasana yang kontemporer dan menyebarkan isu-isu individu, keluarga,


dan masyarakat. Ciri-ciri kebangkitan sastra prosa pada masa ini dapat dilihat dengan
adanya perhatian yang besar terhadap bangkitnya kembali karya-karya Arab klasik, baik
dalam bentuk kesusastraan, filsafat, dan disiplin ilmu lainnya (Ahmad Bahruddin, 2011).
Ciri-ciri prosa pada masa ini adalah lebih memperhatikan pemikrian daripada unsur
gayanya, tidak banyak menggunakan kata-kata retoris seperti saja, tibaq, seperti pada
masa sebelumnya. Pemikirannya runtun dan sistematis, penulis tidak keluar dari satu
gagasan ke gagasan yang lain, kecuali gagasan yang satu telah selesai, pendahuluannya
tidak terlalu panjang, temanya cenderung pada tema yang sedang terjadi pada masyarakat,
seperti masalah politik, sosial, dan agama. Perkembangan bahasa pun mengalami
perubahan dari gaya tradisional, kalimat yang panjang-panjang, dan berbunga-bunga akibat
pengaruh pleonasme dan penggunaan kosakata klasik berganti dengan gaya yang sejalan
dengan zaman, serba singkat, dan serba cepat. Perkembangan bahasa pun mengalami
perubahan dari gaya tradisional, kalimat yang panjang-panjang, dan berbunga-bunga akibat
pengaruh pleonasme dan penggunaan kosakata klasik berganti dengan gaya yang sejalan
dengan zaman, serba singkat, dan serba cepat (Ahmad Bahruddin, 2011).

2.4 Drama Arab Modern

Defenisi Drama yaitu suatu karya sastra yang mengungkapkan suatu cerita melalui
dialog-dialog para tokohnya. Salah satu ciri drama adalah dialog, dialog merupakan unsur
drama yang membedakan antara drama dengan epos dan kisah-kisah.[8]
A.

Drama Dalam Sastra Arab


Pertama kali drama Arab dirintis sekitar pertengahan abad 19 di suriah. Suriah juga
mencakup libanon dan palestina karena semuanya di gabungkan. Adapun orang yang
pertama kali memulai drama arab yaitu (marwan an-naqos 1817-1855). Sedangkan
kebudayanya bangsa italia, perancis, turki dan kebudayaan bangsa arab itu mengambil dari
seni italia akan tetapi dari segi tema mereka bergantung pada drama-drama dan
kebudayaan perancis. Pada tahun 1848 marwan naqos menampilkan drama di rumahnya
yang terletak di Beirut dengan bantuan ahli penerjemah karya sastra drama, drama yang
ditampilkan berjudul ( LAvare) dalam drama yang ditampilkan tersebut menunjukan
karakter bangsa-bangsa arab dilihat dari segi nama- nama tokohnya dan latarnya. Adapun
drama yang ke dua yaitu drama komedi oleh Abu Hasan yang diambil dari karya sastra 1001
malam. Abu Hasan adalah keturunan dari kholifah Harun ar-Rosyid, dan drama yang ke tiga
sekaligus drama terakhir yang menceritakan sejarah drama oleh Moliere .
Kelompok dramawan suriya yang dipimpin oleh salim an-naqos (ibn akhi marwan annaqos tiba di mesir pada abad 19. Diantara kelompok ini Adib ishaq dan Yusuf Khayat
merupakan orang pertama yang tiba di mesir sejak tahun 1876. Mereka juga sebagai wakil
dramawan di kairo atau iskandariah, dan sudah banyak drama-drama perancis klasik yang
sudah di terjemahkannya. Seperti drama (Andromak), (vedder) oleh penyair perancis yaitu
rosin , drama oleh penyair , drama ( )oleh penyair perancis klasik yaitu
Iabbe Daubignac.[9]
Drama di bagi menjadi 2 yaitu:
1.

Komedi adalah cerita yang akhirnya menyenangkan

2.

Tragedy adalah cerita yang akhirnya menyedihkan


Sastra Arab baru mengenal genre drama pada masa modern. Mereka mengambil

genre tersebut dari Barat. Dalam perkembangan berikutnya, seni drama di dalam sastra
Arab adalah melalui empat fase:
1.

fase Marun Nuqas al-Lubnani yang meresepsi seni drama ini dari Italia. Dalam karya
dramanya berjudul al-Bakhil karya Muller. Kemudian diikuti pula oleh karya-karya drama
yang lain seperti Harun al-Rasyid (1850). Karya dramanya yang bersifat jenaka musikal lebih
dapat dikatakan sebagai seni operet yang begitu memperhatikan aspek musikalitas dari
pada dialoq. Karya-karya dramanya dapat dicerna oleh cita rasa awam, hanya saja karya ini

ditulis dengan menggunakan bahasa campuran antara fusha, ami, dan Turki dalam gaya
longgar (tidak baku).
2.

fase Abu Khalil al-Qubbani di Damaskus yang memajukan seni drama dengan
menampilkan banyak sekali kriteria-kriterianya serta bercita rasa dapat dinikmati oleh awam
dengan cara memilih drama-drama kerakyatan seperti alfu laylah. Dialognya menggunakan
bahsa fusha berupa

campuran

antara

puisi

dan

prosa

yang

kadang-kadang

mempertimbangkan juga sisi persajakan. Ia terus menghasilkan karya-karya drama di


Damskus antara 1878-1884. Sayangnya, beberapa saat setelah itu panggung dramanya
ditutup dia pun lalu hijrah ke Mesir dan tetap menulis karya drama.
3.

fase Yakkub Sannu. Pada masa pemerintahan Ismail Basha yang pada saat itu
dibangun

gedung

pertunjukan

di

mana

disitu

ditampilkan

opera

Aida

dengan

menggunakan bahasa Perancis, dipentaskan pada pembukaan terusan Suez tahun 1869.
Pada tahun 1876 muncul tokoh Mesir dalam bidang drama yang bernama Sannu, populer
dengan nama Abu Nazarah. Ia cenderung mengkritisi sosial politik dengan menggunakan
bahasa ammi. Kelompok-kelompok penulis Siria dan Mesir melanjutkan penulisan karya
drama di Mesir.
4.

fase perkembangan pada awal abad 20. Hingga pada tahap ini, banyak drama di Mesir
merupakan hasil terjemahan atau resepsi, sebagian diantaranya diterangkan ini. Fase
pertama 1910, George Abyad pulang dari Perancis setelah di sana mempelajari prinsipprinsip seni drama, lalu dibuatkan karya drama sosial antara lain berjudul Misr alJadidah tulisan Farh Anton, juga dibantu oleh Khalil Mutron dalam menerjemahkan beberapa
novel Shakespeare seperti Tajir al-Bunduqiyah,Athil, Macbat, dan Hamlet. Fase kedua,
adalah Yusuf Wahbi mendirikan kelompok ramsis yang memperhatikan tragedi. Ketua
kelompok ini telah menulis kurang lebih 200 drama. muncul pula kelompok Najib al-Raihani
yang memiliki kecenderungan drama komedi kritik sosial. Fase ketiga, pasca perang dunia
pertama. Di dalam dunia drama muncul aliran Mesir Baru (madrasah al-Misriyah al-Jadidah)
yang begitu perhatian terhadap karya drama. Memberikan sentuhan pada probelatika sosial
serta cara-cara mengatasinya dengan pasti. Di antara tokohnya adalah Muhammad dan
Mahmud Taymur. Fase keempat, mucullah penulis drama Arab modern terbesar Taufiq elHakim yang berhasil menuntaskan studi atas prinsip pokok drama di Perancis. Ia menulis
lebih dari 60 judul karya drama lengkap dengan struktur dan temanya, demikian pula dialog
dan penokohannya. Taufiq begitu ambisius untuk dapat menyertai gerakan perkembanga
modern dalam dunia drama. Oleh karena itu, tampak terus mengikuti perkembanga draman
barat beserta kecenderungannya. Tidak heran, bila ia dapat berpindah-pindah tema dari
drama sejarah ke drama sosial, lalu drama ideologis yang menyelesaikan problema
mentalitas. Setelah di dunia Barat muncul drama absurd, ia pun juga melakukan hal yang
sama berjudul, Ya Tali Syajarah, dan Taam Likulli Famm.

2.5 Para Sastrawan Modern


1. Abbas Mahmud Al-Aqqod (1307 H 1384 H)
Lahir di kota Aswan, Mesir 28 Juni 1889 M / 1307 H. Dia merupakan penyair dan
penulis prosa. Sejak kecil dia suka membaca buku atau majalah di perpustakaan ayahnya,
terutama yang berkaitan dengan sastra. Dia juga suka mendengar syair-syair dan hadist di
majlis ilmu Syekh Ahmad Al-Jadawi.[10]Tampak dalam dirinya aura kecerdasan. Kegemaran
dan kepiawaian al-Aqqd dalam bidang tulis-menulis, membuatnya dibanjiri pujian oleh
guru-gurunya. Seperti Muhammad Abduh, Sad Zaglul, dan Abdullah Ndim. Sementara di
luar sekolah, ia juga belajar kepada Qadhi Ahmad Jadami, seorang ahli fiqih sahabat
Jamaluddin al-Afgani.
Al-Aqqd adalah seorang jurnalis, kritikus, dan sastrawan Mesir terkemuka.
Kontribusi pemikirannya cukup berperan dalam pengembangan wacana keagamaan dan
sosial. Bahkan dirinya juga termasuk salah seorang penyair ternama Mesir yang bersama
Abdurrahmn Syukri dan Ibrhm Abd al-Qdir rl-Mzin membentuk grup Diwan, yaitu
kelompok pembaharu dalam sastra arab Mesir.
Karier al-Aqqod sebagai jurnalis dimulai sejak ia berumur 16 tahun. Pada mulanya,
cita-citanya ingin menjadi pegawai pemerintah, tetapi peraturan yang ada mensyaratkan
bahwa calon pegawai harus berumur 18 tahun. Sehingga keinginannya belum dapat
tercapai, sebab ia harus menunggu dua tahun lagi. Pada masa menunggu inilah , al-Aqqod
menerbitkan majalah mingguan Raju Sada, juga menjadi penulis pada majalah aljaridah pimpinan Ahmad Luthf al-Sayyid, dan majalah az-Zahir pimpinan Abu Syadi, alMuayyad, dan al-Liwa. Dalam bidang jurnalistik ini, ia mendapat bimbingan dari
Muhammad Fard Wajdi, seorang ulama dan penulis terkemuka di Mesir dan pernah
bergabung dalam penerbitan surat kabar ad-Dustur. Membaca adalah hobinya, sehingga
membuat dirinya bekerja hanya untuk dapat membeli buku. Akibatnya, tulisan-tulisannya
begitu tajam, kritis dan cerdas.
Sebagai satrawan, sumbangan al-Aqqod terlihat pada tulisan-tulisannya, baik dalam
bentuk puisi maupun prosa. Ciri khas puisinya terletak pada sisi kehalusan perasaan
(kepekaan rasa) dan pikiran yang menjadi suatu paduan yang sangat serasi. Karya puisipuisinya mengetengahkan pendapat-pendapat yang brilian. Menurutnya, puisi yang hanya
menerbitkan bentuk teksnya saja tidak akan berbobot dan puisi tidak hanya cukup pada
cerita atau puisi cerita. Akan tetapi, yang terpenting dalam puisi adalah maknanya. Sebagai
kritikus, al-Aqqod telah memberikan kritik terhadap puisi dan prosa yang ada sambil
mengemukakan pendapat untuk memperbaharuinya. Susunan bahasa puisi dan prosa yang
penuh hinaan tak berisi diarahkannya kepada susunan kata yang penuh arti dan padat isi.
Hal tersebut dapat digali dari keindahan lingkungan dan kekayaan budaya Mesir. Sebab, hal

itu dapat menjadi bahan imajinasi dan bahan gubahan. Pikiran-pikirannya dalam bentuk
puisi dipublikasikan di majalah yang telah disebutkan di atas sejak sebelum Perang Dunia I.
Al-Aqqod berpendapat bahwa seorang penulis sejati adalah pemikiran orisinil dari pikiran
dan metodenya sendiri tanpa mencontoh sedikitpun karya-karya sebelumnya. Oleh karena
itu, ia mengkritik penulis-penulis seperti Ahmad Syauqi dan Thaha Husein yang dianggapnya
hanya mampu berfikir dengan metode orang lain dan sedikit sekali pemikiran orisinil yang
dihasilkannya.[11]
Bukunya mengenai peradaban mencapai seratus buku.Salah satunya yaitu
. Buku ini menjelaskan tentang uslub (gaya bahasa) yang dipakai para
ilmuwan ahli sastra serta mencakup ide dan pemikiran Al-Aqqod.[12] Selain itu, karyanya
yang berjudul Mausuah Abbas Mahmud al-Aqqad (Ensiklopedi Abbas Mahmud al-Aqqad)
(1970) yang terdiri dari 5 jilid juga diterbitkan oleh Dar al-Kitab al-Arabi di Beribut. Buku
tersebut adalah kumpulan tulisan. Dalam karya-karya itulah al-Aqqad mempublikasikan
beberapa pemikiran yang dianggap orisinil tentang berbagai segi kehidupan umat Islam.
Pemikiran yang berupa obsesi untuk membawa umat Islam kepada kemajuan.
Karya sastra al-Aqqod pertama kali diterbitkan pada tahun 1916 berupa antologi
puisi. Setelah itu menyusul beberapa buku antologi puisi yang lainnya seperti: ,
, , dan . Abbs Mahmd Al-Aqqod meninggal di Kairo 12
Maret 1964.
2. Mustafa Shodiq ar-Rofii (1298 H 1356 H)
Lahir pada tahun 1298 H di Mesir. Pada masanya, dia adalah pembawa bendera asli
sastra dan balaghah. Dia memulai kehidupan sastranya dengan menjadi penyair dan mulai
membuat tiga diwan yang membuat takjub para sastrawan pada zamannya. Mereka
menyebutnya Penyairnya Pemuda Pemudi. Kemudian dia beranggapan bahwa syair tidak
realistis dan dia mulai menulis prosa dan kadang-kadang menulis syair.[13]
3. Thaha Husein[14]
Thaha Husein dilahirkan tahun 1889 M. di Izbat al-Kilu. Ketika berumur dua tahun
telah terkena penyakit optualmia (kebutaan), penyakit yang biasa menyerang anak-anak
ketika itu, namun penyakit tersebut tidak menghalanginya menuntut ilmu. Ia belajar alQuran dan dapat menghafalnya pada usia sembilan tahun.
Pada tahun 1902, ia dikirim orang tuanya untuk belajar di al-Azhar dengan harapan
agar

kelak

Thaha

Husein

menjadi

alim

Azhar,

memberi

palajaran

agama

dalam halaqah yang besar.


Akan

tetapi

Thaha

Husein

keluar

dari

al-Azhar,

ia

kecewa

dengan

sistem

pengejarannya yang sempit dan tidak berkembang serta materi pelajarannya amat
tradisonal dan menjemukan. Pada tahun 1905, ia mendalami pemikiran Muhammad Abduh,
salah satu yang amat menonjol dari keterpengaruhannya adalah sikapnya yang menentang

praktek tawassul di

desanya

sehingga

dicap

sebagai

seorang

yang

tersesat

dan

menyesatkan.
Pada tahun 1908 bersamaan dengan dibukanya Universitas Kairo, Thaha Husein
mendaftarkan diri, di sinilah ia berkenalan dengan sederatan orientalis semisal Iguazio Buidi,
Enno Litman, Santillana, Nallino dan Masignon. Pada tanggal 5 Mei 1914 Thaha Husein
mempertahankan disertasinya yang berjudul Dzikra Abi al-'Ala dan berhasilyudisium jayyid
jiddan pada tahun itu juga Thaha Husein dikirim ke Perancis untuk belajar sejarah.
Di Perancis Thaha Husein mulai mengkaji hal-hal yang selama ini ia cari, ia belajar
pada beberapa ilmuan, di antaranya Glota, G. Blook, Seigneboj, Emile Durkheim. Pada tahun
1917 ia menikah dengan seorang wanita Perancis yang bernama Suzanne Brusseau. Pada
tahun 1918, Thaha Husein berhasil menyelesaikan penulisan disertasi doktornya yang
berjudul Etude Analitique et Critique de la Philosophie Sociale d' Ibn Khaldoundengan
memperoleh yudisium tres honorable, dan di tahun berikutnya memperoleh gelar Doctorat
d' Etat.
Pada tahun beikutnya 1919, ia kembali ke Mesir dan ditunjuk menjadi dosen sejarah
Yunani dan Romawi Kuno di Universitas Kairo hingga tahun 1925. Ia juga aktif menulis di
surat kabar dan menjadi redaktur al-Siyasah pada tahun 1922. Pada tahun 1926 diangkat
menjadi dosen sejarah sastra Arab pada Universitas Negeri. Pada tahun 1930 diangkat
menjadi dosen sastra dan pada tahun 1932 dialih tugaskan ke kementerian pengajaran.
Pada tahun 1942 diangkat menjadi rektor Universitas Iskandaria hingga 1944. Pada
tahun 1950-1952 ia ditunjuk sebagai Menteri pendidikan Mesir. Pada tahun 1973 Thaha
Husein ditetapkan untuk mendapat hadiah nobel dalam bidang sastra. Thaha Husein wafat
pada tanggal 28 Oktober 1973.
4. Kahlil Gibran
Khalil Gibran adalah seorang seniman Lebanon-Amerika, penyair dan penulis. Lahir di
kota Bsharri, Lebanon, ia bermigrasi dengan keluarganya ke Amerika Serikat di mana ia
belajar seni dan memulai karir sastra. Di dunia Arab, Gibran dianggap sebagai pemberontak
sastra dan politik, gaya romantisis-nya berada di jantung renaissance dalam sastra Arab
modern, khususnya puisi prosa. Di Lebanon, ia masih dipuja sebagai pahlawan sastra, di
negara-negara lain Gibran mulai dikenal pada 1923 dengan karya bukunya The Prophet,
sebuah contoh awal dari fiksi inspirasional dengan serangkaian esai filosofis yang ditulis
dalam prosa puitis bahasa Inggris. Buku ini dijual dengan baik dan mulai populer di tahun
1930-an. Gibran adalah penyair dengan penjualan terbaik ketiga setelah Shakespeare dan
Lao-Tzu. Sebagian besar dari tulisan-tulisan awal Gibran berbahasa Arab, yang akhirnya
diterbitkan setelah tahun 1918 dalam bahasa Inggris.
Sebagai seorang seniman yang bisa menggambar dan melukis, ia masuk sekolah
seni di Paris 1908-1910, mengejar gaya romantisis dan simbiolis. Gibran mengadakan

pameran seni pertama pada tahun 1904 di Boston. Pada pamerannya tersebut, Gibran
bertemu Mary Elizabeth Haskell, yang akhirnya menjadi wanita yang membawa pengaruh
besar tidak hanya di kehidupan pribadi Gibran, tetapi juga karirnya.
Gibran meninggal di New York City pada tanggal 10 April 1931, penyebabnya karena
sirosis hati dan TBC. Sebelum kematiannya, Gibran mengatakan keinginan untuk dikuburkan
di Lebanon. Keinginan ini dipenuhi oleh kekasihnya Haskell pada tahun 1932.
5. Najib Mahfudz
Nama lengkapnya adalah Najib Mahfuz Abdul Aziz Ibrahim Basya, dilahirkan pada
tanggal 15 Desember 1911, di Bandar Gamalia daerah pinggiran Kairo, Mesir. Keluarganya
tergolong misikin dan tidak mengecap pendidikan yang memadai. Ayahnya adalah seorang
pegawai rendahan yang kemudian beralih profesi menjadi pedagang. Pada tahun 1917, usia
enam tahun, Mahfuz dan keluarganya pindah ke kawasan Abbasiyah. Pada saat itu, Mahfuz
mulai mengecap pendidikan dasar, al-Madrasah al-Ibtida'iyyah. Pada tahun 1924, di usia tiga
belas tahun, Mahfuz memasuki Sekolah Lanjutan; al-Madrasah ats-Tsanawiyyah Fu'ad alAwwal.
Seiring

peningkatan

perekonomian

keluarganya,

pada

tahun

1930

Mahfuz

melanjutkan studinya di jurusan Filsafat Islam Universitas Kairo. Pada tahun 1934, Mahfuz
mengantongi ijazah Sarjana Filsafat. Sebenarnya, Mahfuz mendapatkan tawaran dari
Mustafa Abdul Raziq, salah seorang Guru Besar Universitas Kairo untuk menempuh program
Doktor dalam bidang Filsafat dan Mistik Islam, namun tawaran itu ditolaknya. Kesenjangan
sosial yang dirasakannya sejak kecil dan penderitaan kaum kecil yang tertindas oleh
kekuasaan birokrasi Mesir membuat solidaritasnya bangkit. Mahfuz memilih pekerjaan di
almamaternya dan menekuni bidang tulis-menulis.
Sejak pertengahan 1936 sampai 1939, Mahfuz mengabdi di almamaternya sebagai
staf Sekretaris Universitas. Karier Mahfuz menanjak perlahan. Selepas dari pekerjaan ini, ia
ditugaskan di Kementrian Agama dan Urusan Waqaf. Pekerjaan ini ditekuninya hingga tahun
1964. Pada tahun yang sama, di usia 43 tahun, ia mengakhiri masa lajangnya. Dan sejak
saat itulah terjadi perubahan mendasar pada karier Mahfuz, ia diangkat sebagai Direktur
Pengawasan Seni.
Sepanjang kehidupannya, Mahfuz telah menulis sekitar 70 cerita pendek, 46 karya
fiksi, serta sekitar 30 naskah drama. Hingga saat ini, karya-karyanya telah diterjemahkan ke
dalam berbagai bahasa dunia termasuk Indonesia. Karya pertama Mahfuz diterbitkan pada
tahun 1932, di usia 21 tahun, dalam bentuk terjemahan berjudul al-Misr al-Qadimah. Sejak
itu berturut-turut Mahfudz menulis; Hams al-Junun (1938, Cerpen), Abats al-Akdar (1939),
serta Redouvis (1943) dan kisah Kifah Thibah (1944). Karya-karyanya tersebut di atas, kerap
dianggap sebagai akhir dari periode romantisme Mahfuz. Setelah karya-karya tersebut, ia

menjauhi gaya bahasa Manfalutisme (gaya bahasa yang digunakan oleh al-Manfaluti).
Kemudian Mahfuz menulis al-Qahirah al-Jadidah (1945).
Tahun 1946, Mahfuz menulis Khan al-Khalili. Selanjutnya berturut-turut ia menulis
Zuqaq al-Midaq (1947), as-Sarab (1948), serta Bidayah wa Nihayah (1949). Karya-karyanya
ini menandai perubahan gaya bertutur Mahfuz dari romantisme menjadi realisme. Pada
tahun 1956-1957, Mahfuz mulai menulis triloginya; Baina al-Qasrain, Qasr asy-Syauq, dan
as-Sukriyyah. Trilogi setebal 1500 halaman ini menjadikannya dianugerahi hadiah Nobel
Sastra yang diterimanya pada tanggal 13 Oktober 1988 dari Akademi Sastra Internasional di
Swedia.
Tahun 1960, Mahfuz menulis Aulad Haratina (edisi bahasa Inggris oleh Philip Steward
dengan judul The Children of Our Quarter, London; 1981). Novel panjang ini terbagi dalam
lima bab, yakni; Adham, Jabal, Irfah, Rifa'ah, dan Qasim. Penulisan serial novel ini sekaligus
menggambarkan

arah

baru

gaya

kepenulisan

Mahfuz,

yakni

Simbolisme-Filosofis.

Selanjutnya, Mahfuz menulis al-Liss wa al-Kilab (1961), as-Samman wa al-Kharif, dan Dunya
Allah (1962), ath-Thariq (1964), Bait Sayyi' as-Sum'ah dan asy-Syihaz (1965) serta Sarsarah
Fauza an-Nil (1966), masih dengan kecenderungan Simbolisme-Filosofis. Pertengahan tahun
1967 sampai 1969, ia membuat cerpen-cerpennya yang merespon persoalan-persoalan
keagamaan, nasionalisme Mesir, dan politik. Hal ini bisa dilihat dalam Khimarah al-Qiththi alAswad dan Tahta al-Mizallah serta Qisytamar (1969), Hikayah Bi La Bidayah Wa La Nihayah
dan Syahru al-'Asal (1971), al-Maraya (1972), al-Hubbu Tahta al-Mathar (1973), al-Karnak
(1974), Hikayat Haratina, Qalbu al-Lail, dan Hadhrat al-Muhtaromi (1975), Milhamah alHarafisy (1977), al-Hubbu Fauqa Hadhbat al-Haram dan asy-Syaithan (1979), 'Ashru al-Hubbi
(1980), dan Afrah al-Qubbah (1981).
Pada tahun 1994, Mahfuz mengalami kejadian yang tidak mengenakkan. Ia ditikam di
bagian leher dengan sebilah pisau dapur. Kejadian ini membuat tangan kanan Mahfuz
hampir mengalami kelumpuhan. Dua orang anggota kelompok militan yang terlibat dalam
kejadian ini, divonis hukuman mati oleh pemerintah Mesir. Pada masa tuanya, Najib Mahfuz
hidup dengan mata yang hampir buta dan kemudian meninggal pada 30 Agustus 2006
setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Perkembangan

puisi

modern

ditunjukkan

dengan

adanya

dinamika

dalam

pengembangan puisi. Di antaranya ditunjukkan dengan adanya aliran-aliran dalam


puisi.Seperti aliran neo-klasik, aliran romantisme, dan aliran puisi bebas.Ketiganya memiliki
ciri-ciri dan latar belakang yang berbeda.Aliran neo-klasik adalah aliran yang masih menjaga
karakteristik puisi klasik.Mereka membuat puisi dengan tetap menjaga wazan dan
qafiyah.Tema-tema sastranya pun seperti halnya masa-masa klasik.Dan mereka juga
membuat puisi-puisi dengan tema sosial, politik, keagamaan, pendidikan dan lain
sebagainya.Aliran romantisme ada karena mereka melakukan migrasi ke negara-negara
eropa.Dalamnya ada dua aliran yang berbeda dan berkesamaan. Karena satu golongan
masih menjaga irama dalam puisi dan satu golongan lain malah sebaliknya. Sedangkan
yang ketiga aliran puisi bebas adalah aliran puisi dengan bahasa yang familiar dan tidak lagi
menggunakan wazan dan qofiyah dalam berpuisi.
Perkembangan prosa arabmodern dibedakan dalam dua tahap, yakni prosa terhadap
permulaan pembaharauan dan prosa terhadap perkembangan. Prosa modern dibedakan
pada tiga jenis utama yakni prosa diwan, kitabah adabiyah, kitabah diwaniah, dan kitabh at
talif. Sedangkan genre prosa modern dibagi tiga yaitu rosail, khitabah, dan qishshah.
Karakteristiknya yang membedakan dengan sastra klasik yaitulebih memperhatikan
pemikiran daripada unsur gayanya, tidak banyak menggunakan kata-kata retoris seperti
saja, tibaq, seperti pada masa sebelumnya, pemikirannya runtun dan sistematis,
pendahuluannya tidak terlalu panjang, temanya cenderung pada tema yang sedang terjadi
pada masyarakat, perkembangan bahasa pun mengalami perubahan dari gaya tradisional,
kalimat yang panjang-panjang, dan berbunga-bunga akibat pengaruh pleonasme dan
penggunaan kosakata klasik berganti dengan gaya yang sejalan dengan zaman, serba
singkat, dan serba cepat.
Drama Arab dirintis sekitar pertengahan abad 19 di Suriah yang diprakarsai
oleh Marwan an-naqos. Genre drama Arab meliputi fase Marun Nuqas al-Lubnani,
fase Abu Khalil al-Qubbani, fase Yakkub Sannu,fase perkembangan pada awal
abad

20.

Sedangkan

para

sastrawan

Arab

pada

masa

ini

banyak

sekali

diantaranya Abbas Mahmud al-Aqqod, Thaha Husein, Kahlil Gibran, dan Najib
Mahfudz.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad al Isykindi, Syekh, Syekh Mustofa Annan, al Wasith fi al adab al arobi wa tarikhihi,
(Darul Maarif Bimad).
Al Maliji, Hasan Khamis, al Adab wa annusus lighairi an natiqina biha bil arobiyyah (Riyadh:
Jamiah al Malik as Suud, 1149 H)
Bin Said Bin Hasan, Dr. Muhammad, al Adab al Arobiyyu wa Tarikhuhu (al asru al hadis),
(Riyadh: Jamiah al Imam Muhammad bin Saud al Islamiyyah, 1405 H)
Majid Soidi, Dr, Dr. Toriq Syamli, Fi al Adab al Arobiy al Hadis, (Jamiah Ain Hasyim)
Muzakki, Ahmad Dr. Pengantar Teori Sastra, (Malang:UIN Press, 2011)
Husein, Muhammad bin Saad. Al Adab Al Aroby wa Tarikhuhu. Saudi Arabia: Jamiah Imam
Muhammad bin Suud Islamiyah.
(http://bocahsastra.wordpress.com/2012/12/08/sejarah-munculnya-drama/)
(http://bocahsastra.wordpress.com/2012/12/08/sejarah-munculnya-drama/ )
(http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/sastra-arab-modern/)
http://alwaysterk.blogspot.com/2011/10/perkembangan-prosa-arab-modern.html.

[1] Hal; 234.


[2] cerita kepahlawanan; syair panjang yg menceritakan riwayat perjuangan seorang pahlawan;
wiracarita
[ 3]
[4]http://alwaysterk.blogspot.com/2011/10/perkembangan-prosa-arab-modern.html.
[5]http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/sastra-arab-modern/.
.69-67 ,[ 6]
[7]http://blog.uin-malang.ac.id/fityanku/sastra-arab-modern/.
[8]http://bocahsastra.wordpress.com/2012/12/08/sejarah-munculnya-drama/
[9]Ibid.
.79-77 ,[ 10]
[11]www.uinblog.com
.80 ,[ 12]
.82-81 ,[ 13]
[14]http://www.referensimakalah.com/2012/07/biografi-thaha-husein.html.

http://cak-son.blogspot.co.id/2015/01/perkembangan-sastra-arab-modern_8.html

Sejarah sastra arab (adab) pada masa Jahiliyah

TARIKH ADAB MASA


JAHILIYAH
BAB I
PENDAHULUAN
Sastra merupakan refleksi lingkungan budaya dan merupakan satu teks
dialektis antara pengarang dan situasi sosial yang membentuknya atau merupakan
penjelasan suatu sejarah dialektik yang dikembangkan dalam karya sastra.
Sehubungan dengan ini sering dikatakan bahwa syair merupakan antologi
kehidupan masyarakatArab (Diwn al-`Arab). Artinya, semua aspek kehidupan yang
berkembang pada masa tertentu tercatat dan terekam dalam sebuah karya sastra
(syair).
Sastra Arab yang sering disebut dengan Adab sudah berkembang jauh
sebelum masa islam datang. Pada masa Jahily bahkan orang Arab terkenal dengan
kemampuan mebuat syair-syair yang sangat indah. Ketinggian bahasa sastra Jahily
saat itu sudah tak diragukan lagi oleh banyak pengamat kebudayaan, hal ini
dikarenakan kondisi sosio-historis yang melatarbelakanginya serta event pasar
sastra dan ayyam al-arab turut memberikan andil yang tidak sedikit.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian sastra
Secara umum memiliki arti menghias diri dengan akhlak yang luhur
seperti jujur, amanah dan lain sebagainya, orang bijak mengatakan :
Robbku telah mendidikku dengan sebaik-baiknya pendidikan. Dalam
definisinya, Al-Jurjani meletakkan Adab sebagai sesuatu yang setara dengan
Marifah yang mencegah pemiliknya dari terjerumus kedalam berbagai bentuk
kesalahan. Secara Khusus Al-Adab berarti :

Artinya : Yaitu perkataan yang indah dan jelas, dimaksudkan untuk menyentuh jiwa
mereka yang mengucapkan atau mendengarnya baik berupa syair maupun natsr
atau prosa.
Dalam mendefinisikan adab (sastra) para Udaba(ulama adab) memiliki
banyak pendapat, diantaranya:

Ungkapan puitis tentang pengalaman manusia

Ungkapan puitis tentang pengalaman yang indah dengan menggunakan
media bahasa

Hasil pemikiran manusia yang diungkapkan dengan ungkapan yang
mengandung seni dan keindahan atau seni ungkapan yang indah.
Dari berbagai macam definisi ini dapat disimpulkan bahwa sastra merupakan seni
ungkapan yang indah.[1]

B. Sejarah perkembangan Adab/Sastra masa jahiliyah


1.

Periodesasi sastra
Sebelum membahas lebih rinci mengenai sejarah perkembangan Adab pada
masa Jahily, disini akan disebutkan terlebih dahulu mengenai periodesasinya. Ada
beberapa pendapat dalam membagi periode sastra, mayoritas membagi menjadi 5
periode, yaitu :
a.
b.

al-asr al-jahili, dimulai 2 abad sebelum islam lahir sampai islam lahir.
al-Shadr al-Islam,dimulai sejak islam lahir sampai runtuhnya bani

umayyah 132 H.
c.
al-Shadr al-Abbasi, sejak berdirinya dinasti abbasiyah samapai runtuhnnya
kota Baghdad tahun 656 H.
d.
al-Shadr al-Turki al-Ustmani, sejak runtuhnya Baghdad samapai timbulnya
kebangkitan arab di abad modern.
e.
al-Shadr al-Hadis (modern), sejak timbulnya nasionalisme bangsa arab.
Sebagian membagi menjadi 4 fase, yaitu :
a.

al-Adab al-Qadim , sejak sebelum islam sampai runtuhnya dinasti

umayyah.
b.
al-Adab al-Muhdas, sejak keruntuhan dinasti umawi sampai berdirinya
dinasti abbasi 656H.
c.
al-Adab al-Turki, sampai kerunttuhan ottoman.
d.
al-Adab al-Hadis.
Sedangkan team dosen-dosen dari Negara Arab, membagi menjadi 4, yaitu :
a.
b.
c.
d.

al-Adab al-arabi al-Qadim,


al-Adab al-arabi al-muwallad
al-Adab al-arabi al-minhar
al-Adab al-arabi al-jadid [2]
Dari pendapat-pendapat yang disebutkan diatas, pada dasarnya tidak ada

perbedaan yang sangat signifikan didalamnya. Perbedaanya hanya terjadi pada


penggunaan istilah-istilah yang berbeda satu sama lain.

2.

Sastra pada masa jahilyah


Batasan waktu zaman jahiliyah adalah 150 sampai 200 tahun sebelum
kedatangan Islam. Para pengkaji sastra tidak memasuki fase waktu sebelum itu
tetapi memfokuskan masa pada 150 tahun sebelum kenabian, suatu masa di mana
bahasa Arab mengalami kematangan dan puisi jahili mengalami kematangan.
Pada masa jahili (pra islam) sudah ada dan terdapat tradisi keilmuaan yang
tinggi yakni bersyair dan penyair. Syair-syair yang dihasilkan pada masa ini disebut
dengan muallaqat. Dinamakan muallaqat (kalung perhiasan) karena indahnya
puisi-puisi tersebut menyerupai perhiasan yang dikalungkan oleh seorang wanita.
Sedangkan secara umum muallaqat mempunyai arti yang tergantung, sebab hasil
karya syair yang paling indah dimasa itu, pasti digantungkan di sisi Kabah sebagai
penghormatan bagi penyair atas hasil karyanya. Dan dari dinding Kabah inilah
nantinya masyarakat umum akan mengetahuinya secara meluas, hingga nama
penyair itu akan dikenal oleh segenap bangsa Arab secara kaffah dan turun
temurun. Karena bangsa Arab sangat gemar dan menaruh perhatian besar terhadap
syair, terutama yang paling terkenal pada masa itu. Seluruh hasil karya syair
digantungkan pada dinding Kabah selain dikenal dengan sebutan Muallaqat juga
disebut Muzahabah yaitu syair ditulis dengan tinta emas. [3]

3.

Faktor faktor berkembangnya sastra pada masa jahilyah.


Pada periode ini seperti yang telah dijelakan diatas, sastra arab cukup
berkembang dengan baik. Hal ini tidak lepas dari beberapa factor yang
mendukungnya hal itu, antara lain:

Iklim dan tabiat alam


Ciri khas etnik bangsa Arab yang menjadi bangsa yang lahir untuk memuja dan
memuji sastra
Peperangan
Agama
Ilmu pengetahuan
Politik
Interaksi dengan berbagai bangsa dan budaya lain
Selain itu, ada faktor-faktor lain yang mendukung perkembangan sastra, yaitu pasar
sastra (al-Aswaq) dan ayyam al-Arab (hari-hari orang Arab).

C. Macam-macam beserta ciri dan contoh sastra di masa


jahilyah

1.
a.

Macam-macam sastra pada masa jahily


Natsr atau Prosa.
Pada periode ini terdapat beberapa jenis Natsr, diantaranya: Khutbah, wasiat ,
Hikmah dan Matsal.
Khutbah: Yaitu serangkaian perkataan yang jelas dan lugas yang disampaikan
kepada khalayak ramai dalam rangka menjelaskan suatu perkara penting.
Sebab-sebab munculnya khutbah pada periode Jahiliyah

1.

Banyaknya perang antar kabilah.

2.

Pola hubungan yang ada pada masyarakat Jahiliyyah seperti saling mengucapkan
selamat, belasungkawa dan saling memohon bantuan perang.

3.

Kesemrawutan politik yang ada kala itu.

4.

Menyebarnya buta huruf, sehingga komunikasi lisan lebih banyak digunakan


daripada tulisan.

5.

Saling membanggakan nasab dan adat istiadat.


Ciri khasnya

1.

Ringkasnya kalimat.

2.

Lafaznya yang jelas.

3.

Makna yang mendalam.

4.

Sajak (berakhirnya setiap kalimat dengan huruf yang sama).

5.

Sering dipadukan dengan syair, hikmah dan matsal.


Contoh Khutbah :
Khutbah Hani Bin Qobishoh pada Pertempuran Dzi-Qorin

, , ,
, , ,
: , ,

Wahai sekalian kaum Bakr, orang yang kalah secara terhormat lebih baik dari
orang yang selamat karna lari dari medan juang, sesungguhnya ketakutan tidak
akan melepaskan kalian dari ketentuan Tuhan, dan sesungguhnya kesabaran adalah
jalan kemenangan. Raihlah kematian secara mulia, jangan kalian memilih
kehidupan yang hina ini. Menghadapi kematian lebih baik daripada lari darinya,
tusukan tombak di leher-leher depan lebih mulia dibanding tikaman dipunggung

kalian, wahai kaum Bakr.. Berperanglah!!!! Karena kematian adalah suatu


kepastian
Wasiat: yaitu nasihat seorang yang akan meninggal dunia atau akan berpisah
kepada seorang yang dicintainya dalam rangka permohonan untuk mengerjakan
sesuatu.Wasiat memiliki banyak persamaan dengan khutbah hanya saja umumnya
wasiat lebih ringkas.
Contoh Wasiat :
Wasiat Disaat Dzul Isba Al-adwani kepada anaknya Usaid

, , ,
,
, , , ,
,
Berlemah lembutlah kepada manusia maka mereka akan mencintaimu, dan
bersikap rendah hatilah niscaya mereka akan mengangkat kedudukanmu, sambut
mereka dengan wajah yang selalu berseri maka mereka akan mentaatimu, dan
janganlah engkau bersikap kikir maka mereka akan menghormatimu. Muliakanlah
anak kecil mereka sebagaimana engkau mencintai orang-orang dewasa diantara
mereka, maka anak kecil tadi akan tumbuh dengan kecintaan kepadamu,
mudahkanlah hartamu untuk kau berikan, hormatilah tetanggamu dan tolonglah
orang yang meminta pertolongan, muliakanlah tamu dan selalulah berseri ketika
menghadapi orang yang meminta-minta, maka dengan itu semua sempurnalah
kharismamu.
Hikmah: Yaitu kalimat ringkas yang menyentuh yang bersumber dari
pengalaman hidup, didalamnya terdapat ide yang lugas dan nasihat yang
bermanfaat.
Contoh_Hikmah:


Perusak akal sehat manusia adalah hawa nafsunya.


Kehancuran seorang lelaki terletak dibawah kilaunya ketamakan

Matsal : Yaitu kalimat singkat yang diucapkan pada peristiwa tertentu,


digunakan untuk menyerupakan peristiwa tertentu dengan peristiwa asal dimana
matsal tersebut diucapkan.
Contoh Matsal :


Pedang telah mendahului celaan.
Bermakna nasi sudah menjadi bubur dimana celaan tidak akan mampu merubah
kejadian yang telah terjadi.[4]
b.

Syair / puisi
Pada masa jahiliyah ini,jenis sastra yang paling terkenal dikalangan
masyarakat adalah syair. Sebab syair memiliki kedudukan yang penting dan
memberi pengaruh yang kuat sehingga setiap kabilah saling berbangga dengan
kemunculan seorang penyair handal dari kalangan mereka, mereka pun kerap kali
mengadakan acara khusus untuk menyaksikan dan menikmati syair-syair tersebut.
Selain itu, sastra jenis ini begitu sangat menonjol dikalangan masyarakat
jahiliy karena syair memiliki puncak keindahan dalam sastra. Sebabsyair adalah
gubahan yang dihasilkan dari kehalusan perasaan dan keindahan daya khayal. Para
penyair pada zaman jahiliyah mewakili kelas tedidik (intelegensia), karena syair
dalam bahasa Arab memiliki arti al-ilm (pengetahuan).
Puisi pada zaman jahiliyah diartikan sebagai kata-kata yang berirama dan
berqafiah yang mengungkapkan imajinasi yang indah dan bentuk-bentuk ungkapan
yang mengesankan lagi mendalam.
Jenis-jenis syair pada masa jahiliyah :

1.

Al-Madh atau pujian.

2.

Al-Hija atau cercaan.

3.

Al-Fakhr atau membangga.

4.

Al-Hamaasah atau semangat yakni untuk membangkitkan semangat ketika ada


suatu peristiwa semacam perang atau membangun sesuatu

5.

Al-Ghozal atau ungkapan cinta bagi sang kekasih

6.

Al-Itidzar atau permohonan maaf.

7.

Ar-Ritsa atau belasungkawa

8.

Al-Washf atau pemerian yaitu penjelasan perhadap sesuatu dengan sangat


simbolistik dan ekspresionistik.

Contoh puisi pada masa ini adalah:









Angin bertanya, siapa aku
Aku adalah jiwanya yang bingung, diingkari zaman
Aku seperti dirinya, tidak punya tempat
Selalu berjalan, tanpa akhir
Selalu berlanjut, tanpa henti
Bila aku sampai di tikungan,
Aku mengira, itu adalah akhir penderitaan
Tapi, itu ternyata tanah lapang
c.

Al-Muallaqot
Yaitu merupkan Qasidah panjang yang indah yang diucapkan oleh para
penyair jahiliyah dalam berbagai kesempatan dan tema. Sebagian Al-Muallaqot ini
diabadikan dan ditempelkan didinding-dinding Kabah pada masa Jahiliyah.
Dinamakan dengan Al-Muallaqot ( Kalung ) karena indahnya syair-syair tersebut
menyerupai perhiasan yang dikalungkan oleh seorang wanita.[5] Para pujangga AlMuallaqot berjumlah tujuh orang, yaitu :








Contoh Syair Al-Muallaqot karya Zuhair Bin Abi Sulma,







Aku telah letih merasakan beban kehidupan
Sungguh aku letih setelah hidup delapan puluh tahun ini
Aku tahu apa yang baru saja terjadi dan kemarin hari
Namun terhadap masa depan sungguh aku buta
Barang siapa yang lari dari kematian sungguh akan menemuinya
Walau ia panjat langit dengan tangganya
Barang siapa yang memuji orang yang tak pantas dipuji
Maka esok hari pujiannya itu akan disesali
Seorang manusia tentu memiliki tabiat tertentu
Walau ia sangka tertutupi pasti orang lain akan mengetahui
Itu karena lidah seseorang adalah kunci hatinya
Lidahnyalah yang menyingkap semua rahasia
Lidah itu adalah setengah pribadi manusia dan setengahnya lagi adalah hati
Tidak ada selain itu kecuali daging dan darah sahaja

2.

Ciri-ciri sastra pada masa jahilyah


Ada beberapa ciri umum yang terdapat dalam sastra arab pada masa jahily,
diantaranya:

Kejujuran dalam mengungkapkan apa yang dirasakan tanpa ungkapan yang


berlebihan.
Susunan kalimat yang ringkas
Sederhana dalam struktur kalimat hal ini dilatarbelakangi kondisi sosiologis, cara
mereka hidup menciptakan karakter manusia yang sederhana sehingga

mempengaruhi ketika menyusun sebuah ungkapan.


Romantis, bahasa yang romantis ketika mengungkapkan jiwa perasaan penyair.

Al-Muhdhar menambahkan karakteristik sastra jahili adalah mengungkapkan


kejantanan dan keperwiraan, menceritakan pengalaman baik yang butuk maupun
yang jelek.
Dari berbagai karakter di atas dapat disimpulkan bahwa corak sastra jahily
sangaat sederhana hal itu dipengaruhi cara hidup mereka yang sangat sederhana
sehingga membentuk jiwa yang sederhana, begitupun dalam mengungkapan
sesuatu.[6]
Sedangkan ciri-ciri dari segi bentuknya diantaranya:

Mementingkan ilmu Arudh karena disepakati sebagai suatu tradisi seni dalam
sastra Arab yang melekat kuat pada pendengaran orang-orang Arab yang tak bisa

dipisahkan
Mereka menilai wazan sebagai sesuatu yang penting dalam syair
Dalam prosa, mereka mementingkan fasahah (ketepatan diksi) dan bayan(suatu
gaya bahasa indah yang menyentuh rasa dan mampu memnggambarkan makna
dengan jelas).[7]

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pada dasarnya perkembangan Adab / Sastra Arab telah dimulai jauh sejak
zaman pra-Islam, atau yang sering kita kenal dengan Zaman Jahiliyah. Bahkan
berabad-abad sebelum islam datang telah berkembang banyak sekali berbagai
macam sastra dalam kalangan masyarakat Arab kuno. Namun pada
pembahasanya, para ulama sejarah hanya berfokus pada sekitar 150 tahun
sebelum islam datang, atau sekitar satu hingga dua abad masa pra-Islam. Jarang
sekali ditemukan pembahasan mengenai sastra sebelum masa itu.
Cukup banyak jenis-jenis sastra yang berkembang pada masa ini.
Diantaranya yang paling menonjol adalah syair atau puisi. Ini disebabkan syair
memiliki tingkat kebahasaan yang paling tinggi diantara sastra-sastra jenis lain.
Banyak sekali syair-syair indah yang tercipta pada masa ini. Syair dianggap
sebagai symbol ketinggian intelektual. Maka tidak heran jika para penyairpenyair di masa ini sangat disanjung, bahkan menjadi orang yang sangat
terkenal dan dianggap memiliki kedudukan yang tinggi dimata masyrakat.
http://blitarsastra.blogspot.co.id/2014/06/sejarah-sastra-arab-adab-pada-masa.html

Ani Suryani Rabu, 03 Desember 2014 00.57 Tidak ada komentar:


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan
ke Pinterest

Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayahNya,

sehingga

kami

dapat

menyelesaikan

makalah

yang

berjudulPerkembangan dan periodisasi Sastra Arab Dalam penulisan


makalah ini penulis telah banyak

menerima bantuan dari beberapa pihak

sehingga dalam waktu yang relative singkat karya tulis yang sederhana ini dapat
terwujud. Oleh karena itu penulis berkenan untuk menyampaikan ucapan terima
kasih kepada:
1.

Kedua orang tua tercinta dan segenap keluarga yang telah banyak memberi
dorongan moril maupun materil.

2.

Ibu Retno Purnama Irawati dan Ustadzah Nailur Rahmawati selaku pembimbing
dan pengampu mata kuliah Pengantar Ilmu Sastra.

3.

Teman- teman yang memberi semangat dan motivasi serta memberi inspirasi.
Kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari
sempurna.

Oleh karena itu kami

mengharapkan

kritik dan

saran

yang

membangun dari semua pihak. Dengan iringan doa semoga karya tulis ini bisa
bermanfaat dalam pengembangan pendidikan.

Semarang, 25 November 2014


Penulis

BAB 1
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Manusia sejak lahir dititipi tuhan dengan naluri keindahan dalam dirinya,
sehingga kalau disuruh untuk memilih sesuatu maka dia pasti akan memilih yang
terbaik dan terindah. Pilihan ini jatuh karena manusia memiliki naluri terhadap
keindahan. Dunia sastra sangat identik dengan keindahan, karena sastra
merupakan ungkapan jiwa seseorang yang diapresiasikan dalam berbagai
bentuk dan memiliki nilai yang tinggi. Dalam setiap Negara pasti mempunyai
karya sastra namun karya satra dalam setiap Negara itu pastilah berbeda baik
yangdisebabkan karna factor intrinsik maupun ektrinsik dari Negara tersebut.
Layaknya sastra Indonesian dan sastra Arabpun pasti akan berbeda baik bentuk
maupun indahannya. Untuk mengetahui keindahan sastra perlulah bagi kita
untuk mengetahui keindahan keindahan sastra yang lain seperti sastra Arab.
Untuk itu marilah kita mempelajari sastra arab melalui makalah ini
menambah hasanah wawasan ilmu kita mengenai sastra Arab.

untuk

BAB 2
PEMBAHASAN
A. Sastra Arab
Sastra arab adalah hasil kebudayaan bangsa asia barat yang telah berumur
ribuan tahun,

dari dulu hingga sekarang bahasa arab terus mengalami

perkembangan yang cukup signifikan bahkan keberadaannya sekarang bisa


menyaingi sastra-sastra yang ada didunia. Kenyataan itu dibuktikan dengan
penerimaan penghargaan nobel yang diterima oleh Najib Mahfiud pada tahun
1988.

Sastra

arab

mempunyai

peranan

penting

dalam

perkenbangan

kebudayaan khususnya di kawasan timur tengah (asia barat). Pada zaman arab
klasik, sastra merupakan alat kebanggaan bagi setiap warga arab, orang merasa
bangga

ketika

bisa

menghasilkan

sebuah

karya

sastra

yang

nantinya

diikutlombakan dikota-kota, dan barang siapa yang karyanya bagus nantinya


akan di sepajang di dinding kabah dengan tinta emas dan itu menjadi suatu
kebangga bagi setiap orang yang menerimanya sehingga orang akan berlombalomba untuk mmbuat karya sastra, bahkan sudah menjadi kebiasaan orang
datang kepasar-pasar itu hanya untuk mendengarkan dongeng-dongeng ataupun
syair-syair dari para sastra yang mereka bacakan dipasar-pasar. Pada abad ke
enam masehi datanglah islam yang dimotori oleh nabi Muhammad SAW dengan
membawa kitab suci Al-Quran yang merupakan kitab yang memiliki nilai sastra
yang sangat tinggi. Kedatangan nabi ini membawa perubahan yang sangat besar
terhadap kebudayaan arab tidak terkecuali sastra yang menjadi hobi bagi
masyarakat arab.
Keberlangsungan sastra terus berkembang ketika memasuki zaman sahabatsahabat nabi, bahkan ketika itu muncul berbagai ilmu-ilmu pengetahuan yang
menjadi penunjang untuk mengupas kedalaman sastra yang terkandung didalam
al-Quran, seperti ilmu Balaghah, Mantiq, asbab an-Nuzul dan sebagainya. Hingga
kini keberadaan sastra dapat kita rasakan, bahkan bentuknya dapat kita nikmati
dengan berbagai varian, mulai dari yang berbentuk tulisan, gambar, hingga
gambar visual seperti film.
B.

Perkembangan dan Periodisasi Sastra Arab

Perkembangan sastra arab dari tahun ketahun mengalami perkembangan yang pesat.
Namun perkembangan sastra

tersebut tak lepas dari sejarahnya yang terbagi menjadi

beberapa periode.
a.

Periode Jahiliyyah
Periode ini merupakan periode pembentukan dasar-dasar bahasa Arab.
Pada periode ini ada kegiatan-kegiatan yang dapat membantu perkembangan
bahasa Arab, yakni kegiatatn di suq (pasar) Ukaz, Zu al-Majaz, dan Majannah
yang merupakan festival dan lomba bahasa Arab antara suku Quraisy dan sukusuku lain yang datang ke Mekkah untuk berbagai keperluan, yang dapat
membentuk suatu kesusastraan yang baku. Sebagaimana diungkapkan diatas,
bahasa arab yang kita kenal sekarang ini adalah merupakan bahasa hasil dari
campuran bahasa arab yang berbeda-beda. Tidak bisa diketahui secara pasti
kapan bahasa arab tersebut bercampur dan bagaimana awal percampuran itu
terjadi serta apa saja faktor-faktor yang menyebabkan percampuran bahasa arab
tersebut. Namun menurut sebagian pendapat, ada yang mengungkapkan sebabsebab percampuran bahasa arab sebagai berikut :
Adapun sebab-sebab percampuran bahasa adalah:

1.

Hijrahnya bani Khathan ke semenanjung arab, percampuran mereka dengan


arab Baidah di Yaman yang kemudian terpencar ke seluruh penjuru jazirah akibat
pecahnya bendungan marib.

2.

Hijrahnya Ismail ke jazirah arab dan percampuran keturunannya dengan


Qahthan dengan adanya perkawinan, bertetangga, penggembalaan, peperangan
dan perdagangan. Tempat yang paling terkenal dalam percampran bahasa arab
adalah haji.
Pada masa ini sudah terdapat tradisi keilmuan yang tinggi yakni bersyair.
Dan penyair yang terkenal pada saat ini di sebut penyair muallaqat. Para penyair
ini merupakan penyair kenamaan, mempunyai reputasi dan pengaruh tinggi terhadap sejarah
kesusastraan dan peradaban bangsa arab. Namun dari sekian banyak yang paling terkenal
akan keindahan syairnya hanya ada tujuh sampai sepuluh orang saja, sebab dari sebagian
hasil karya mereka masih utuh dan terjaga hingga sekarang. Pada masa Tabrizy ada sepuluh
jumlah penyair muallaqat diantaranya:

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Umrul Qais,
Nabighah,
Zuhar,
Tarah,
Antaah,
Labd,
Amr ibn Kulsum,

8.
9.

Al-Haris ibn Hilza


dan Abidul Abros
Seluruh hasil karya dari kesepuluh orang penyair itu semunya dianggap hasil karya syair
yang terbaik dari karya syair yang pernah dihasilkan oleh bangsa Arab. Hasil syair karya
mereka terkenal dengan sebutan Muallaq. Muallaqat mempunyai arti yang tergantung, sebab
hasil karya syair yang paling indah dimasa itu, pasti digantungkan di sisi Kabah sebagai
penghormatan bagi penyair atas hasil karyanya. Dan dari dinding Kabah inilah nantinya
masyarakat umum akan mengetahuinya secara meluas, hingga nama penyair itu akan
dikenal oleh segenap bangsa Arab secara kaffah dan turun temurun. Karena bangsa Arab
sangat gemar dan menaruh perhatian besar terhadap syair, terutama yang paling terkenal
pada masa itu. Seluruh hasil karya syair digantungkan pada dinding Kabah selain dikenal
dengan sebutan Muallaqat juga disebut Muzahabah yaitu syair ditulis dengan tinta emas.
Sebab setiap syair yang baik sebelum digantungkan pada dinding Kabah ditulis dengan tinta
emas terlebih dahulu sebagai penghormatan terhadap penyair.
Puisi (syair) pada masa jahiliah mempunyai kedudukan sangat tinggi dalam
peradaban mereka, tidak hanya pada masa jahiliah tetapi pada masa islam, pada masa
khalifah dan daulah islamiah sampai sekarang kepada kita puisi mempunyai tempat yang
teramat special dihati masyarkat arab secara global. Bisa dikatakan bahwa puisilah menjadi
identitas kemurniaan sastra arab yang diwariskan dari pendahulu mereka. Lebih dari itu puisi
arab terutama puisi pada masa jahiliah dijadikan rujukan sejarah bagi masyarakat dan
perabadan terdahulu bangsa arab yang paling utama dan di jadikan sumber otentik untuk
mengetahui dan meneliti bukti sejarah (disamping al quran dan kitab injil umat nasrani)
karena bisa diasumsikan bahwa puisi-puisi pada masa jahiliah adalah bukti sejarah yang riil
yang sampai kepada kita melihat dari itu banyak bukti-bukti sejarah seperti bangunanbangunan, prasasti-prasasti mereka cepat rusak dimakan zaman. Tidak sedikit dari para
pakar sejarah merujuk kepada puisi-puisi klasik untuk mencari sumber bangsa arab terdahulu
terutama

pada

puisi-puisi

arab

jahilah.

Kendati pada masa ini disebut masa jahiliah, tetapi mereka mempunyai kebudayaan dan
peradaban tinggi. Bersyair merupakan sebuah karya yang sangat orisinil bangsa Arab pada
masa itu menjadi sumber hukum, yang pertama. Baru setelah datangnya masa Islam semua
itu berobah total. Islam sebagai rahmatan lil alamin dengan quran dan hadis sebagai sumber
hukumnya, menyeru kepada kebaikan, menghormati sesama jenis, saling mencintai dan
saling mengenal, yang bertitik beratkan kepada aspek moral yakni makarimal akhlak. pada

masa islamlah bangsa arab menjadi bangsa besar yang telah menaklukan emperium bangsa
romawi dan emperium bangsa persia yang menjadi sumber peradaban dunia.
Definisi syair sendiri pada masa ini yaitu
berirama terikat pada wazan, bahr, dan qafiyah.

untaian kata kata yang


Puisi haruslah memiliki

penulisan kata dan imajinasi yang kuat supaya terciptanya karya yang abadi
serta syair harusnya menggambarkan keadaan pada masa itu serta bentuk
hurufnya muqaha (huruf ujungnya sama).
Jenis jenis syair:

. Al-Madh puisi pujian. Puisi jenis ini biasanya digunakan untuk memuji seseorang dengan
segala sifat dan kebesaran yang dimilikinya seperti kedermawanan, keberanian maupun

tingginya kepribadiab ahlak seseorang yang dipujinya

Al-Hija puisi cercaan puisi ini digunakan untuk mengeejeek atau mencaci seorang musuh
dengam menyebutkan keburukan musuh, baik itu untuk mengejek individu mushnya maufun

kabilahnya
Al-Fakhr puisi membangga. Puisi jenis ini biasanya digunakan untuk berbangga-bangga
dengan segala jenis kelebihan dan keunggulan yang dimuliki oleh suatu kaum. Pada
umumnya puisi ini digunakan untuk kemenangan dan kemenangan seseorang atau kabilah

dalam peperangan.
Al-Hamaasah puisi semangat yakni puisi ini digunakan untuk membangkitkan semangat dan
membakar emosi pasukannya ketika ada suatu peristiwa semacam perang atau membangun

sesuatu motivasi dalam hidup untuk berjuang


Al-Ghozal/ tasybih adalah jenis puisi yang didalamnya ber isi tentang ungkapan cinta bagi
sang kekasih biasanya menyebutkan tentang wanita dan kecantikannya dahkan tempat

tinggalnya atau pun segala sesuatu yang berhubungan dengan kisah percintaan mereka.
Al-Itidzar puisi permohonan maaf. Puisi seperti ini biasanya digunakan untuk mengajukan
udzur dan alas an dalam suatu perkara dengan jalan mohon maaf dan mengakui kesalahan

yang telah ia perbuat

Ar-Ritsa puisi belasungkawa, puisi ini digunakan untuk mengingat jasa seseorang yang

sudah meninggal dunia.


Al-Washf merupakan sebuah jenis puisi yang bisanya digunakan untuk menggambarkan
suatu kejadian dengan penggambaran alam. Biasanya puisi seperti ini memberikan suatu
gambaran

ataupun

penjelasan

perhadap

sesuatu

dengan

sangat

simbolistik

dan

ekspresionistik seperti menggambarkan jalannya perang, keindahan alam dll.

Hikmah puisi petuah bijak. jenis puisi seperti ini biasanya berisi tentang pelajaran
kehidupan

yang

baik

pada

Dibawah ini merupakan contoh puisi hikmahnya zuhair bin abi sulma

masa

jahiliah.

Menurut juzif al hasyim faktor faktor berkembangnya sastra arab pada masa ini
adalah:

Iklim dan tabiat alam


Syai'r jahiliah terpengaruh begitu kuat dengan alam padang pasir dan kehidupan kaum
badui, kata-katanya keras menggambarkan kehidupan yang keras, kesunyian, kerinduan.
Uslubnya mirip-mirip antara penyair satu dengan yang lain yang merupakan refleksi dari

b.
1.

pemandangan gurun hampir sama, imajinasi penuh dengan kesederhanaan


Ciri khas etnik, bangsa Arab menjadi bangsa yang lahir untuk memuja dan memuji sastra
Peperangan
Factor kemakmuran dan kemajuan
Agama
Ilmu pengetahuan
Politik
Interaksi terhadap berbagai bangsa dan budaya
Periode Permulaan islam
Pada masa rasulullah
Pada masa Rasulullah SAW, karya sastra tertinggi pada masa itu adalah AlQuran dan Hadits. Dari segi kaidah kebahasaan, Al-quran memiliki aturanaturan terutama di bidang fonologis, morfologis, dan sintaksis yang sangat valid
dan solid. Hal ini berdampak pada segi bahasa dan keilmuan. Salah satunya
pengaruhnya dalam bidang sastra.
Al-quran berbentuk prosa, hal ini mengakibatkan orang-orang pada masa
itu sudah tidak lagi peduli pada puisi. Hal tersebut dikarenakan pesona prosa
lebih kuat daripada pesona puisi. Landasan yang memperkuat pernyataan ini
yaitu QS. Asyuara.
Di samping itu, Al-quran juga telah mengubah tema kesusastraan pada
masa ini, dari yang dulunya beraliran naturalis-realis yang berisi pujian yang
berlebihan terhadap wanita (porno), hujatan dan ratapan berganti menjadi pujipujian terhadap Rasul dan orang-orang sholeh dan tidak ada puisi ratapan
Selain itu pada periode ini muncul jenis syair baru yaitu syair dakwah islamiyah, syair
pembangkit semangat juang, syair untuk mengingat kebaikan para syuhada serta
pendeskripsian alat-alat perang. Para periode ini pula jenis-jenis syair yang telah ada sejak
zaman Jahiliyah semakin diperkuat dengan ruh islami. Contoh Syair Pada periode ini
HASSAN BIN SABIT MENANTANG KAUM MUSYRIKIN SEBELUM FATHU MEKKAH.
Kaum Quraisy membuat kesepakatan damai salama sepuluh tahun dengan Nabi pada
tahun ke 6 Hijriah, akan tetapi mereka mengkhianati perjanjian tersebut, maka Rasulullah
pun menyiapkan bala tentara untuk memerangi kaum musyrikin Quraisy dan membuka kota
Mekkah.

Pada syair berikut ini Hassan bin Sabit menggambarkan persiapan pasukan kaum
muslimin dalam rangka menghadapi musuh mereka dengan memuji Rasulullah dan para
sahabatnya serta mencela dan menantang musuh mereka, Ia berkata :








Kami
jika

akan
kalian

Walaupun
dan

musnahkan

tidak

kalian

melihatnya

menghalangi

membuka

kota

kuda-kuda

menghempaskan
jalan

kami,

Mekkah

kami

debu

kami

hingga

menuju

akan

tetap

tersingkaplah

Kada
berumroh

kebenaran

Namun jika kalian tetap menghalangi maka bersabarlah terhadap hari yang ganas
dan

Allah

Jibril

selalu

Sang

dan

Ruhul

Allah

berkata

demi
Aku

menolong
Utusan

Qudus

disini

bersaksi

takkan

yang

selalu
ada

ia

kebenaran
atas

saja

Allah

bahwa

menyampaikan

siapa

kerasulannya

bersama
yang

telah
bagi

dikehendaki-Nya
menandinginya

mengirimkan

siapa
maka

mari

yang
berdiri

kami
utusan-Nya

membutuhkannnya
dan

bersaksilah

mengirimkan

pasukan

namun kalian mengatakan kami tidak akan berdiri dan tak mau bersaksi
Allah

telah

berkata

bahwa

ia

telah

mereka adalah kaum Anshar yang kepiawaiannya bertempur


Para ahli sastra menetapkan Rasulullah SAW sebagai sastrawan tertinggi di masa Shadrul
islam karena mukjizat Al-quran dan hadist. Sedangkan peringkat kedua diduduki oleh ali bin
Abi Thalib (hasan zayyad) dengankarya yang dibukukan dengan judul nahjul Balaghoh oleh
Syarif radli
2.

Khulafaur Rasyidin
Sastra adalah inti seni, bagaikan tercermin dari segala yang hidup
dikalangan bangsa Arab, baik yang bersifat spiritual, politik, maupun selain
keduanya. Islam terkait dan tak dapat dipidahkan dari bahasa Arab melalui alQuran. Kesusteraan Arab dimulai dengan lembaran yang tak mungkin dicipta
oleh manusia. Tebukti bahasa Arab merupakan bahasa yang sempurna dalam
menangani topik yang sangat halus dari bentuk bahasa yang ditampilkan.

Pengamat sastra pada umumnya menyatakan ada dua pendapat tentang


perkembangan sastra masa Khulafa al-Rasyidun :
1. Sastra mengalami stagnasi karena perhatian yang lebih kepada bahasa alQuran, sehingga syair dan sastra kurang berkembang.
2. Al-Quran sebagai sumber inspirasi untuk kegiatan sastra, karena dalam
berdakwah diperlukan bahasa yang indah. Pengaruh Quran dan Hadis tidak bisa
dilepaskan karena keduanya menjadi sumber pokok ajaran Islam.
Secara khusus dijelaskan bahwa puisi pada masa tersebut tidak jauh dari
puisi pada masa Rasul, yang juga tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya
(Jahiliyah). Maksudnya bahwa puisi kurang majudan berkembang kerena lebih
memperhatikan al-Quran, sehingga aroma struktural kata dalam puisi sangat
terpengaruh oleh al-Quran. Prosa tertuang dalam 2 bentuk yaitu Khithabah
( bahasa pidato) dan kitabah (bahasa korespondensi). Khithabah menjadi alat
yang paling efektif untuk berdakwah mengalami kesempurnaannya karena
pengaruh al-Quran. Ruhnya khitabah adalah Rasul dan para khalifah, mereka
adalah pemimpin yang sekaligus sastrawan, mereka sangat baligh dan fasih
dalam berkhotbah. Ahli pidato yang sangat terkenal adalah Ali ibn Abi Thalib,
khutbahnya dikumpulkan dalam kitab Nahj al-Balaghah Tentang Kitabah tidak
mengalami

kemajuan

sepesat

khithabah

meskipun

di

dalamnya

banyak

didapatkan nilai-nilai sastra.


Para

penyair

dua

masa

yaitu

pra

Islam

dan

masa

Islam

disebut

Mukhadhram, seperti Hasan ibn Tsabit dan Kaab ibn Zuhair. Hasan ibn
Tsabir adalah penyair rumah tangga Rasul, ia selalu mengubah syair-syair untuk
membela Islam dan memuliakan Rasulnya.
c. Pada masa Dinasti Umayyah
.

Periode umayah adalah periode yang paling gencar dengan sastra syairnya,
Pada masa bani Umayah terdapat banyak golongan-golongan muncul dalam
islam diantaranya adalah Syiah dan Khowarij dan pengikut Abdullah bin Zubair
dan lain-lain. Keadaan sedemikian itu menyebabkan posisi syair justru menjadi
penyambung

lidah

sesuai

dengan

tujuan

dari

tiap-tiap

golongan

islam

tersebut.Apalagi pada zaman bani Umayah khalifah memberikan kebebasan


kepada para penyair untuk mengexpresikan bentuk syairnya masing-masing.
Para khalifah bani Umayah sangat memberikan perhatian kepada para penyair
sehingga banyak memberikan fasilitas yang cukup memadai demi untuk
memperkuat politik mereka. Dalam memegang pemerintahan pada masa itu,
para khalifah sengaja memecah belah antara penyair dengan jalan memberikan

fasilitas yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya bagi mereka yang
pro dan kontra dengan pemerintahan.
Tokoh tokoh sastra pada masa dinasti umayyah diantaranya :
1.

Ali al-Qali, karyanya al-Amali dan al-Nawadir, wafat pada tahun 696 M.

2. Abu Bakar Muhammad Ibn Umar. Di samping terkenal sebagai ahli sejarah, ia
adalah seorang ahli bahasa Arab, nahwu, penyair, dan sastrawan. Ia meninggal
pada tahun 977 M. Ia menulis buku dengan judul al-Afal dan Faalta wa Afalat.
3. Abu Amr Ahmad ibn Muhammad ibn Abd Rabbih, karya prosanya diberi nama
al-Aqd al-Farid. Ia meninggal tahun 940 M.
4. Abu Amir Abdullah ibn Syuhaid. Lahir di Cordova pada tahun 382 H/992 M dan
wafat pada tahun 1035 M. Karyanya dalam bentuk prosa adalah Risalah al
-awabi wa al-Zawabig, Kasyf al-Dakk wa Aar al-Syakk dan Hanut Athar.
Jenis jenis syair pada masa dinasti umayyah

Puisi Politik (Syiir al-Siyasi)


Seiring dengan munculnya golongan atau partai politik, maka munculah para
penyair yang mendukung golongan atau partai politik tersebut, sehingga
melahirkan puisi yang bernuansa politik seperti: Kasidah al-Kumait yang
mendukung ahlu bait, Al-Qithry ibn Al-Fajaah pendukung Khawarij, dan Al-Akhthal
pendukung bani umayah.

Puisi Polemik (Syiir al-Naqoid)


Puisi Al-Naqoid yaitu jenis puisi yang menggabungkan antara

kebanggaan

(fakhr), pujian(madh), dan satire (haja).

Puisi cinta (Syiir al-Ghazal)


puisi jenis ini berkembang menjadi seni bebas/independent yang
mengkhususkan pada kasidah-kasidah.

d.

Bani Abbasiyah
Selama periode ini perkembamgan sastra masih mendapatkan perhatian.
Lapangan

kehidupan pada masa ini mengalami kemajuan yang sangat pesat

terutama dalam ilmu pengetahuan. Berkat kemajuan yang diperoleh tersebut,


rakyatnya dapat bergembira dengan hasil cocok tanam mereka dan kemegahan
kota Baghdad sebagai ibu kota kerajaannya. Sampai saat ini terkenal sebagai
salah satu tempat kejayaan kebudayaan Islam. Ibu kota kerajaan itu menjadi
tempat

tujuan

mendapatkan

penyair.

Para

kesenangan

mengagungkannya

penyair
dari

raja

tersebut
dengan

saling
jalan

berlomba
menjadi

untuk
dan

Pada masa abasiyah, masyarakat kota arab sudah berasimilasi dengan rangorang awam dan berbaur dengan cara bekerja di lapangan seperti perindustrian,
pertanian, dan pekerjaan-pekerjaan lain yang beraneka ragam. Disamping itu
masyarakat arab sudah bercampur dengan orang-rang asing yang masuk ke
wilayah

arab

bahkan

berbesan

dan

bertetangga,

mereka

benar-benar

berkecimpung dalam peradaban dan kemodernan. Sebagian besar penduduk


arab menekuni bidang bahasa, adat istiadat, cara berfikir, sehingga hal ini
berpengaruh kuat dalam bidang bahasa baik puisi maupun prosa. Maka pada
masa ini munculah istilah arabisasi, menggali hukum syariat dari kitab suci alQuran dan menyusun ilmu bahasa arab untuk menjamin keutuhan bahasa arab
khususnya al-Quran. Adapun tujuan-tujuan penggalian bahasa pada masa
Abbasiyah adalah sebagai berikut :
1.

Penyusunan

ilmu-ilmu syariat yang

belum pernah ditulis pada masa

sebelumnya. Penyusunan ilmu tersebut mencakup tentang penyusunan ilmu


Fikih, Aqidah, Balaghah, Ushul Fiqh dan Nahwu dan Sorof.
2. Penerjemahan buku-buku bahasa asing kedalam bahasa arab, khususnya ilmuilmu yang lahir dari bangsa yunani kuno. Ilmu seperti ini dapat kita jumpai dalam
ilmu mantik (logika) seperti yang penah dilakuan oleh Imam Abdul Rahman alAhdlori.
3.

Penggarapan sektor industry sebagai buah dari kemajuan peradaban dalam


bidang sains dan teknologi yang dicapai pada masa Abbasiyah.

4.

Mulai menjamurnya kegiatan-kegiatan ilmiah seperti seminar, diskusi, dan


pengajaran ilmu-ilmu pengetahuan.

e.

Abad Pertengahan
Kehancuran

kota

Baghdad,

menyebabkan

hancurnya

pusat

ilmu

pengetahuan umat Isalam. Penyerbuan tentara Mongolia ke Baghdad yang


dipimin oleh Hulagu Khan menyebabkan banyaknya para ilmuan islam meningal
dunia dan sebagian penyair ada yang lari ke Syam dan Kairo, maka pada
akhirnya kedua kota ini menjadi pusat Islam dan bahasa Arab. Perkembangan
syair di masa ini sangat lemah. Kegairahan penyair untuk mencipta jauh
berkurang dari masa sebelumnya . Bait-bait syair pada masa itu hanya
ditujukan untuk mendekatkan diri pada khaliq dan bahkan sampai ada
yang menjadian al-Quran hanya sebagai obat dan jimat, sehingga makna yang
terkandung dalam al-Quran menjadi tabu dan tidak berkembang.
f.

Abad Modern

Pada akhir abad XVIII ketika bangsa Arab di bawah pemerintahan Daulat
Usmaniyah keadaannya sangat lemah. Bangsa Eropa setelah melihat keadaan
ini, kembali mengulangi ekspansinya ke Timur Tengah. Mereka datang tidak
dengan kekerasan tetapi kedatangan ini dengan dalih untuk menyebarkan ilmu
pengetahuan dan

memperluas roda perdagangan. Pemerintahan berikutnya

yang jatuh kepada Muhammad Ali (yang semula diangkat oleh Sultan Usmani
menjadi Gubernur Mesir) berusaha untuk menerima kebudayaan Barat dan hasil
ilmu

pengetahuan

Barat,

Ali

tidak

lagi

mementingkan

pemerintah

dan

pembangunan, maka perkembangan di bidang sastra berkurang. Dua abad


kemudian barulah muncul lagi karya sastra Arab yang baru, dan para
penyair menyesuaikan diri dengan
mulai melepaskan diri

keadaan zaman modern, mereka

dari ciri khas klasik, namun

keterikatannya

masih ada. Keistimewaan syair modren ini lebih mementingkan isi dari
pada sampiran, bahasanya mudah dan sesuai dengan keadaan.
Pada masa ini banyak puisi puisi modern yang sudah tidak terikat pada
kaidah lama yaitu ilmu Al Arud. ). Puisi-puisinya sangat halus, romantis,
tetapi sangat religius. Beberapa pengamat menganggapnya banyak terpengaruh
oleh romantisme Perancis abad ke-19, terutama Lamartine. Mungkin sudah
terdapat jarak antara penyair ini dan penyair-penyair modern semi-klasik
sebelumnya, seperti Ahmad Syauqi atau Hafidz Ibrahim (1872-1932) yang
dipandang sebagai penyair-penyair besar.
Dalam sastra Arab modern, Mesir dapat dikatakan merupakan pembuka jalan
meskipun dari para sastrawan itu banyak yang berasal dari Libanon dan Suriah.
Mereka pindah ke Mesir untuk menyalurkan bakatnya di negeri ini. Terlebih lagi
karena di Mesir sudah ada universitas yang terkenal yaitu Unversitas al-Azhar
Cairo yang dibangun pada masa dinasti Fatimiyah. Di kawasan arab termasuk
Arab Saudi, dikenal istilah dengan sebutan as-Sir al-Mahjar atau The Emigran
Poet, ialah penyair-penyair yang berimigrasi umumnya ke Amerika Selatan.
Perkembangan bahasa pun mengalami perubahan dari gaya tradisional, kalimat
yang panjang-panjang, dan berbunga-bunga akibat pengaruh pleonasme dan
penggunaan kosakata klasik berganti dengan gaya yang sejalan dengan zaman,
serba singkat, dan serba cepat. Ciri khas perkembangan bahasa dalam sastra
Arab Modern ialah digunakannya bahasa percakapan (vernacularism) dalam
dialog, sekalipun dalam pemerian tetap dengan bahasa baku. Kecenderungan
seperti ini ada pembelanya, tetapi juga banyak penentangnya. Bahkan pernah
ada kecenderungan sebagian kalangan yang ingin mengubah huruf Arab

sedemikian rupa supaya dapat juga dibaca dalam huruf Latin. Di Libanon malah
ada sekelompok sastrawan yang mencoba menggantikan huruf Arab dengan
huruf Latin. Bahkan sudah ada novel yang terbit dalam bahasa Arab dengan
menggunakan huruf Latin.
Sastrawan pada masa ini diantaranya;

Abdur Rahman Syukry (1886-1958)


Lahir di Bur Said dan menerima pelajaran ibtidaiyah dan tsanawiyah di Iskandariyah
kemudian masuk Dar al Muallimin di Kairo sebelum dikirim ke Inggris untuk belajar bahasadi
Inggris. Ketika dia kembali ke Mesir, dia menjadi mentri penndidikan sampai pensiun.
Dia menerbitkan antologinya dalam tujuh volum, yang pertama terbit pada tahun 1909 dan
yang terakhir terbit pada tahun 1919. Syukry juga menulis kritik sastra dan menyebarkan
diktat diktatnya dengan nama Mustaar.

Abas Muhammad al- Aqod (1889-1974)


Lahir di Aswan, setelah menyelesaikan pendidikeran Ibtidaiyah dia berkerja sebagai guru
agama untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tidak lama dia meninggalkan pekerjaan ini dan
beralih ke jurnalistik dan unggul di bidang kritikus. Pada saat partai wafad mengalami puncak
kejayaan, ia menulis editorial politik di surat kabarnya. Dan dia meletakkan perselisihanya
dengan pemimpinnya yaitu Saad Zaghlul, dan dijatuhkan hukuman 9 bulan atas serangannya
terhadap raja Fuad karena memperjuangkan kebebasan demokrasi.
Dia dikenal dengan berbagai karya-karyanya

yang

membahas

berbagai topik politik,

sosial, sastra, filsafat dan agama. Karangannya pertama kali diterbitkan pada tahun 1916.
Dia juga menulis cerita yang berjudul Sarah yang diterbitkan pada tahun 1921, dia juga
menulis karangan yang bernama Diwan kumpulan kritik yang menyerang para sastrawan dan
para penyair tradisional.
Mustafa Lutfi al-Manfaluti (1876-1924),
Sastrawan dan ulama dari al-Azhar yang sudah amat dikenal di Indonesia,
dapat digolongkan sebagai pengarang cerita-cerita pendek bergaya semi-klasik
semi-modern. Ia, yang juga banyak menerjemahkan, sedikit banyak terpengaruh
karya-karya

pengarang

Perancis

abad

yang

lalu.

Dalam

perkembangan

selanjutnya penerjemahan tidak hanya terbatas pada karya sastra Perancis,


tetapi sudah meluas ke kawasan Eropa lainnya, terutama Inggris, Rusia, dan
Jerman dengan prinsip mengutamakan terjemahan langsung dari bahasa asal.

Muhammad Husein Haekal (1888-1956)


Selain dikenal sebagai seorang sastrawan, ia juga dikenal sebagai wartawan
terkemuka dan pemikir, sedangkan yang kemudian dapat dikatakan diwakili oleh
Abbas Mahmud Al-Aqqad (1889-1973) dan Ibrahim al-Mazini (1890-1949).

Muhammad Husain Haekal selain besar pengaruhnya dalam sastra


Arab mutakhir, juga mempunyai tempat yang penting dalam literatur Islam
setelah serangkaian bukunya tentang studi-studi Islam terbit, terutama sekali
bukunya yang berjudul Hayh Muhammad (1936). Haekal dianggap perintis
karya sastra modern setelah novelnya. Zainab, terbit (1914). Ia juga banyak
menulis kritik sastra dan cerita pendek.

BAB 3
PENUTUP
Kesimpulan
Sastra arab adalah sebuah karya seni yang lahir dikawasan asia barat / timur
tengah. Sastra arab identik dengan bahasa arab, karena bahasa arab merupakan
sebuah kunci untuk menguak seluruh isi/ rahasia yang terkandung dalam
teks/sastra arab. Dalam sejarahnya, sastra arab memiliki perjalanan yang
panjang sehingga bisa seperti yang saat ini, dalam sejarahnya itu ia mengalami
perubahan yang cukup signifikan terutama pada masa pemerintahan abasiyah
dan pada masa modern, perubahan tersebut berupa arabisasi (serapan kata dari
bahasa asing ke bahasa arab) yang pada awalnya terjadi pada masa Abbasiyah
kemudian berlanjut pada masa modern setelah sempat terhenti pada masa abad
pertengahan. Perubahan itu terjadi karna pengaruh yang diberikan oleh agama
islam pada saat nabi Muhammad diutus sebagai rosul yang mebawa syariat
islam di tanah arab, kemudian faktor lainnya adalah bercampurnya masyarakat
arab dengan kaum pendatang (asing) sehingga menyebabkan pertukaran fikiran
yang mengakibatkan campuran kebudayaan. Kemudian faktor ketiga adala
adanya penerjemahan buku-buku bahasa asing yang mengakibatkan proses
arabisasi separti yang sudah disebutkan sebelumnya. Perubahan tersebut terus
berlangsung hingga zaman sekarang dan akan terus berlanjut sampai akhir
zaman.
http://habibatillah.blogspot.co.id/2014/12/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html

Sejarah Perkembangan Sastra Arab Pada Masa


SEJARAH PERKEMBANGAN SATRA ARAB MASA JAHILIYAH DAN PERMULAAN ISLAM
1.

Periode

Jahiliyah

Periode ini merupakan periode pembentukan dasar-dasar bahasa Arab. Pada


periode ini ada kegiatan-kegiatan yang dapat membantu perkembangan bahasa
Arab, yakni di suq (pasar) Ukaz, Zual-Majaz, dan Majannah yang merupakan
festival dan lomba bahasa Arab antara suku Quraisy dan suku-suku lain yang
datang ke Mekkah untuk berbagai keperluan, yang dapat membentuk suatu
kesusastraan yang baku. perkembangan kesusastraan Arab pada masa ini dibagi
atas dua bagian, yaitu masa sebelum abad ke-5, dan masa sesudah abad ke-5
sampai dengan Hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke Madinah (1 H/622M).
2.

Periode

permulaan

islam

Sejak datangnya Islam sampai berdirinya Bani Umayyah. Setelah Islam


Berkembang luas, terjadilah perpindahan orang-orang Arab ke daerah-daerah
baru. Mereka tinggal dan menetap di tengah-tengah penduduk asli, sehingga
mulailah terjadi asimilasi dan pembaharuan yang memperkuat kedudukan
bahasa arab. Perkembangan kesusastraan Arab pada masa ini berlangsung sejak
tahun 1 H/622 M hinggga 132H/750M, yang meliputi: masa Nabi Muhammad
SAW dan Khalifah ar-Rasyidin (1-40H/662-661 M), dan masa Bani Umayyah (41132
H/661-750
M).
(Ahmad
Hasan
Kahil.1953:
5-6)
Adanya Perbedaan istilah dalam penulisan periodesasi kesusastraan Arab seperti
dua contoh di atas, merupakan suatu hal yang wajar, seperti
yangdikemukakanTeeuw bahwa perbedaan itu disebabkan empat pendekatan
utama,
yaitu:
1. Mengacu pada perkembangan sejarah umum, politik atau budaya
2. Mengacu pada karya atau tokoh agung atau gabungan dari kedua
haltersebut.
3. Mengacu pada motif atau tema yang terdapat dalam karya sepanjangzaman.
4. Mengacu pada asal-usul karya sastra
http://makalahpelajaran.blogspot.co.id/2012/12/sejarah-perkembangan-sastraarab-pada.html

KAJIAN SASTRA ARAB

Kajian Sastra
Sebuah Catatan Akhir
PENGANTAR SASTRA ARAB
BAGI MAHASISWA BAHASA DAN SASTRA ARAB
UIN MALIKI MALANG
oleh :Dr.Helmi Syaifuddin,M.Fil.I
TAHUN 2010

DAFTAR ISI
A. BANGSA ARAB: AKAR BAHASA & SASTRA ARAB
1. Bahasa dan Budaya Arab
2. Sastra Bahasa (Adab Lughah)
3. Pengertian Adab dari Masa ke Masa
B. PEMBAGIAN KESUSASTRAAN ARAB
1. PROSA (NATSR)
a. Pengertian Prosa
b. Amtsal
c. Al-Hikam
d. Al-Wasiyyah
e. Khithobah
2. PUISI (SYIIR)
a. Pengertian Syiir
b. Awal Mula Timbulnya Syiir Arab
c. Pembagian Jenis Syiir dan Tujuannya
C. SEJARAH SASTRA ARAB
1. Sejarah Sastra dan Fungsinya
2. Periodesasi Sejarah Sastra Arab
D. SASTRA ARAB JAHILIYAH
1. Kedudukan Penyair dalam Masyarakat Arab Jahiliyah
2. Perhatian Masyarakat Jahiliyah terhadap Sastra
3. Faktor yang Mendukung Perkembangan Sastra Arab Jahiliyah
4. Tingkatan Penyair Jahiliyah
5. Karakteristik Syiir Jahiliyah
6. Al-Muallaqat
E. SASTRA ARAB MODERN
Perkembangan Kesusastraan Arab Modern
F. SASTRAWAN ARAB
1.

BAB I
BANGSA ARAB: AKAR BAHASA DAN SASTRA ARAB
A. Bahasa dan Bangsa Arab
Bahasa Arab termasuk rumpun bahasa Semit, yaitu bahasa yang digunakan oleh
bangsa-bangsa yang tinggal di sekitar sungai Tigris dan Furat, dataran Syiria,
dan jazirah Arabia (Timur Tengah). Seperti bahasa Siryania, Finisia, Assyiria,
Babilonia, Ibrania, dan Arabia. Dari sekian bahasa di atas yang dapat bertahan
sampai sekarang hanya bahasa Arab dan Ibrani. Diperkirakan bahwa bahasa
Arab adalah cabang bahasa Semit yang paling mendekati bahasa aslinya, karena
bangsa Arab tidak banyak bergaul dengan bangsa-bangsa lain, dan tidak pernah

lama di bawah kekuasaan bangsa asing.


Sebenarnya, bahasa Arab itu timbul sejak beberapa Abad sebelum Islam. Hanya
saja pencatatan dari bahasa tersebut baru dimulai dua abad sebelum lahirnya
Islam. Karena bukti peninggalan kesusastraan Arab yang dapat dicatat hanya
dimulai sejak dua abad sebelum Islam. Sedangkan, hasil karya yang ada di masa
sebelumnya dapat dikatakan hilang dimakan masa. Dengan demikian, kita tidak
dapat mengetahui dengan pasti bagaimanakah bentuk bahasa Arab di masa lalu.
Demikian pula dengan berita-berita yang menerangkan keadaan bangsa Arab
kuno, tidak dapat kita ketahui dari pencatatan sejarah. Hanya saja berita
mengenai mereka dapat kita ketahui dari Al-Quran dan kitab suci lainnya,
misalnya cerita mengenai kaum Aad, kaum Tsamud, kaum Nuh, dan lain-lain.
Berita mengenai mereka hanya terdapat dalam kitab suci Al-Quran.
Menurut perkiraan yang kuat, keadaan bangsa Arab kuno, lebih maju daripada
bangsa Arab yang lahir di masa timbulnya Islam. Karena dalam penggalian
sejarah, ditemukan bekas peninggalan monumental dan kota besar yang
dibangun oleh bangsa Arab kuno. Pendapat ini dikuatkan oleh Allah Swt di dalam
Al-Quran. Sedangkan, bangsa Arab yang lahir di masa lahirnya Islam, mereka
lebih dikenal sebagai bangsa Arab Badui (Nomaden), yang suka hidup berpindahpindah mengikuti sumber kehidupan. Cara kehidupan seperti itu dapat
membentuk karakter dan tabiat bangsa Arab seperti bangsa Barbar yang hidup
ditempat lain.
Perlu diketahui bahwa sebelum bangsa Arab mempunyai bahasa persatuan, di
setiap daerah telah mempunyai bahasa daerah sendiri yang berlainan satu
dengan yang lainnya. Seperti penduduk Yaman, mereka memiliki bahasa sendiri
yang dikenal dengan bahasa Himyar, orang Nejed memiliki bahasa yang dipakai
di Nejed saja, dan lainnya. Walaupun setiap suku Arab mempunyai bahasa yang
saling berbeda, namun berkat adanya Ka'bah di Mekkah, dimana mereka sering
berkumpul di tempat itu setiap tahunnya, akhirnya bangsa Arab mempunyai
bahasa persatuan yang dapat oleh setiap suku Arab.
Bahasa persatuan mereka adalah bahasa Mudlor yaitu bahasa yang dipakai oleh
penduduk Hijaz, khususnya bahasa orang-orang Mekkah. Bahasa Mudlor itu juga
berasal dari percampuran bahasa daerah yang ada di seluruh jazirah, ditambah
dengan beberapa kata asing yang berasala dari bahasa Yunani, Persia,
Sansekerta, dan Ibrani.
Sehingga, bahasa Mudlor inilah yang kelak dipilih menjadi bahasa Al-Quran dan
As-Sunnah. Di mana berkat Al-Quran, maka bahasa Mudlor ini akan kekal dan
dikenal di seluruh dunia Islam. Bangsa Arab terdiri dari tiga generasi, yaitu:
1. Bangsa Arab al-Baidah yaitu bangsa Arab yang telah punah. Berita mengenai
mereka yang sampai kepada kita tidak ada sedikit pun yang benar, kecuali yang
dikisahkan Allah Swt dalam al-Quran dan yang banyak disebutkan dalam Hadist
Nabi Saw. Di antara kabilah-kabilah mereka yang terkenal antara lain: Thasam,
Jadis, Ad, Tsamud, Imliq, dan Abdu Dakhm.
2. Bangsa Arab al-Aribah, yaitu bangsa Arab murni, mereka adalah anak
keturunan Qahthan, yang meninggalkan tempat asal mereka di sekitar sungai
Euphrat, dan memilih Yaman sebagai tempat tinggal mereka. Bahasa mereka
berbaur dengan bahasa pendahulu mereka di Yaman. Kemudian mereka
menyebar ke berbagai pelosok Jazirah Arab. Di antara induk kabilah-kabilah
mereka adalah Kahlan dan Himyar.
3. Bangsa Arab al-Musta'ribah, yaitu bangsa Arab campuran. Mereka adalah anak
keturunan Ismail bin Ibrahim a.s. yang mengalahkan orang-orang Qahthan dan
berbaur dengan mereka, baik dalam bahasa maupun dalam silsilah
keturunan/nasab, yang kemudian dikenal dengan sebutan orang-orang Adnan. Di
antara induk kabilah-kabilah mereka adalah Rabi'ah, Mudlar, Iyyad, da Anmar.

Selain ketiga generasi bangsa Arab yang telah disebutkan di atas, ada juga yang
disebut bangsa Arab Baru, yaitu bangsa Arab yang merupakan anak keturunan
dari kabilah-kabilah tersebut di atas yang berbaur dengan anak-anak dari
kabilah-kabilah lain dari Samudera Atlantik sampai seberang Laut Persi dan
Sungai Tigris, dan juga dari sebelah hulu sungai Euphrat dan Sungai Tigris
sampai ke seberang laut Jawa dan Sumatera. Mereka berbicara dengan dialekdialek bangsa Arab Amiyah (bahasa Arab pasaran) yang berbeda-beda yang
dapat dikembalikan kepada bahasa Arab baku/fushha yang mereka ketahui
melalui pembelajaran.
B. Sastra Bahasa (Adabul Lughah)
( lafal yang diungkapkan oleh
Bahasa adalah
setiap kaum atau masyarakat untuk mengungkapkan maksud mereka (baik isi
hati maupun pemikiran mereka).
Adapun sastra bahasa (Adabul-Lughah) itu sendiri adalah kata-kata indah yang
mengandung imajinasi yang cermat, pelukisan yang lembut, yang diwariskan
atau dihasilkan oleh para penyair dan penulis, bertujuan untuk mendidik jiwa,
menghaluskan rasa, dan membudayakan bahasa. Ada juga yang mendefinisikan
bahwa sastra bahasa adalah segala bentuk prosa dan puisi yang dihasilkan oleh
pikiran seseorang yang menggambarkan watak dan kebiasaan, daya khayal,
serta batas kemampuan mereka dalam menggunakan bahasa yang bertujuan
mendidik jiwa, memperbaiki pikiran dan meluruskan lisan.
Terkadang kata "Adab" digunakan juga untuk menyebutkan segala pembahasan
ilmiah dan cabang-cabang seni sastra yang dihasilkan oleh setiap bahasa.
Sehingga kata "Adab" dapat mencakup segala sesuatu yang dihasilkan oleh akal
pikiran para ilmuan, penulis, dan penyair atau sastrawan.
Kesusastraan Arab (al-Adab al-Arabiy) merupakan kesusastraan terkaya, karena
merupakan kesusastraan yang tercipta sejak masa kanak-kanak manusia sampai
runtuhnya kebudayaan Arab. Bahasa Mudlor, setelah masa Islam, bukan hanya
menjadi bahasa suatu bangsa saja, tetapi menjadi bahasa bagi semua bangsa
yang masuk ke dalam agama Allah (Islam), atau berada di bawah lindungannya.
Mereka menciptakan makna-makna dan konsep-konsep, serta memperluas
makna-makna dengan bantuan rahasia-rahasia bahasa mereka. Kemudian
mereka menjelajah kepelosok bumi dengan membawa agama, sastra, budaya,
dan ilmu. Lalu mereka berakulturasi dengan setiap bahasa yang didatangainya,
serta menyebarluaskan ilmu pengetahuan orang-orang masa lampau dan
peradaban orang-orang-orang terdahulu, dari bangsa-bangsa Yunani, Persia,
Yahudi, Hindu, dan Habsyi. Dia berdiri kokoh menghadapi halangan dan
rintangan selama berabad-abad yang panjang. Dia menyaksikan pertarungan
bahasa-bahasa di sekelilingnya dengan kepala tengadah dan langkah yang
tegap, mewarisi hasil cipta rasa dan buah akal pikiran dari setiap peradaban
(sastra/literature) dan kepercayaan. Bahasa bangsa-bangsa dengan beraneka
ragam perbedaannya, bagaikan parit-parit dan sungai-sungai yang mengalir, lalu
bercabang-cabang, kemudian berhimpun dan bermuara pada satu samudera,
yaitu bahasa Arab.
C. Pengertian Adab dari Masa ke Masa
Sebagai sebuah istilah, kata "Adab" mengalami perkembangan yang cukup
panjang dalam sejarah kesusastraan Arab. Perkembangan kata "Adab" sejalan
dengan perkembangan kehidupan bangsa Arab. Pengambilan kata itu dari
masyarakat Arab Badui sampai masyarakat Arab perkotaan yang telah
mempunyai peradaban. Kata "Adab" terdapat banyak perbedaan mengenai
maknanya, dan perbedaan makna itu sangat dekat, maksudnya perkembangan
dan perubahan makna itu tidak terlalu kontras dengan makna aslinya.

Perubahan itu diketahui sampai sekarang melalui perkataan-perkataan dan


tulisan-tulisan. Penafsirannya jelas hanya kecenderungan pendengar pendengar
pada pengucapan kata "Adab" tersebut.
Pada zaman Jahiliyyah kata "Adab" berarti "( " mengajak makan
atau undangan ke perjamuan makan), dan arti ini sudah jarang digunakan,
kecuali pada kata "Ma'dubah" dari akar kata yang sama yaitu "Adab". Kata
"Ma'dubah" berarti jamuan atau hidangan, dengan kata kerja "Adaba-ya'dibu"
yang berarti menjamu atau menghidangkan makanan. Sebagaimana yang
terdapat dalam perkataan Tharafah bin Abdul Bakri al-Wa'illi:

"Pada musim paceklik (musim kesulitan pangan), kami mengundang orang-orang
ke perjamuan makan, dan engkau tidak akan melihat para penjamu dari
kalangan kami memilih-milih orang yang diundang"
Kata "Adab" juga digunakan dalam arti "prilaku yang terpuji atau terhormat dan
sifat-sifat yang mulia" seperti yang terdapat di dalam dialoq antara Atabah
dengan Hindun, puterinya. Atabah berkata kepada puterinya tentang Abu
Sufyan yang datang melamarnya:
"... . ..."
".... Asal-usulnya mulia, keluarganya terhormat, dia sopan dan hormat kepada
keluarganya, meski diantara keluarganya ada yang tidak menghormatinya....".
Akhirnya Hindun pun setuju menikah dengan Abu Sufyan sambil berkata:
" , , ..."
"Sungguh, aku benar-benar menyukai akhlak dan perilaku yang demikian, dan
aku setuju menikah dengannya dan akan kujadikan ia suami yang dihormati, dan
dengan kesetiaan aku akan selalu berada di rumah, dan tidak akan berselingkuh
dibelakangnya".
Seperti yang dikemukakan oleh Bakalla (1984:34-36) bahwa pada zaman
Pemulaan Islam, ketika agama Islam datang dengan membawa ajaran-ajaranya
yang menyeru kepada akhlak mulia, maka kata "Adab" berarti "
( " ajakan untuk memuji dan berakhlak baik), dan juga mempunyai
arti at-Tahdzib (pendidikan atau pengajaran), dan al-Khulqu (budi pekerti), seperti
yang disabdakan oleh Nabi Muhammad Saw:
" ..."
"Tuhanku telah mendidikku, maka baiklah pendidikanku/akhlak"
Beliau Saw juga bersabda:
""
"Sesungguhnya Al-Qur'an ini adalah sumber peradaban Allah di muka bumi, oleh
karena itu belajarlah kalian pada sumber peradaban-Nya"
Umar bin Khattab berkata kepada puteranya:

" , ..."
"Wahai anakku, nisbatkanlah (hubungkanlah silsilah keturunan) dirimu, niscaya
akan bersambung hubungan dengan keluargamu, dan hafalkanlah puisi-puisi
indah, niscaya akan menjadi lembut budi pekertimu"
Pada zaman Umayyah, kata Adab mempunyai arti at-Ta'lim (pengajaran),
sehingga dari kata itu lahir kata turunan al-Mu'addibun yaitu sebutan bagi orangorang yang masa itu bertugas memberikan pelajaran tentang puisi, khutbah,
sejarah orang-orang Arab, mulai dari keturunan mereka sampai pada peristiwaperistiwa yang mereka alami di zaman Jahiliyyah dan zaman permulaan Islam
kepada putera-putera khalifah.
Sementara pada zaman Abbasiyyah yang terkenal dengan zaman kebangkitan
ilmu pengetahuan, kata Adab mempunyai arti at-Tahdzibu wa at-Ta'liimu ma'an
(pendidikan sekaligus pengajaran), atau berarti semua ilmu pengetahuan yang
dihasilkan umat manusia dan juga tata cara yang perlu diikuti dalam suatu
disiplin tertentu. Arti "Adab" pada masa ini lebih mengacu pada kebudayaan.
Seperti yang pernah ditulis oleh Ibn al-Muqaffa (wafat 142 H.) dalam bukunya
yang berhudul al-Adab al-Kabir yang berisikan kumpulan-kumpulan surat-surat
panjang Ibn al-Muqaffa' yang terbagi menjadi dua bagian yaitu khusus mengenai
sultan, politik, dan pemerintahannya, dan yang berhubungan dengan
persahabatan dan sejenisnya. Dan al-Adab al-Shaqir yang berisikan surat-surat
pendek Ibn al-Muqaffa' yang berisi kumpulan wasiat mengenai budi pekerti,
kemasyarakatan, dan mengenai apa yang harus dipersiapkan oleh manusia
dalam kehidupannya seperti bagaimana bergaul dengan atasan, bawahan, dan
sesamanya. Selain itu, kata "Adab" telah meluas artinya dan sering diterapkan
pada puisi, prosa, peribahasa, dan balaghah, juga diterapkan pada bidang ilmu
nahwu, sharf, ushul, dan sebagainya.
Pada Abad ke-4 H, kata "Adab" semakin memiliki arti yang luas, sehingga
terkadang dari kata itu difahami sebagai segala sesuatu yang keberadaannya
mengandung nilai pendidikan, peningkatan intelektual dan moral manusia baik
dari segi sosial maupun budaya, serta pembentukan seseorang menjadi
cemerlang, memiliki keistimewaan yang cocok bagi penampilan figur kelas elit
dalam kehidupan intelektul sekaligus kehidupan material. Kata "Adiib" yang
berarti satrawan, mengarah kepada makna yang kita sekarang dari kata
"mutsaqqif" yang berarti budayawan atau orang yang memiliki intelektual tinggi.
Dengan berakhirnya abad ke-4 H, seiring dengan berkembangnya ilmu bahasa
dan sastra, kata "Adab" mengandung pengertian ungkapan-ungkapan yang
indah, baik dalam bentuk puisi maupun prosa, dan ungkapan-ungkapan yang
memerlukan penafsiran dan penjelasan yang bekenaan dengan segi-segi baik
dan buruk yang terdapat didalamnya. Makna "Adab" yang demikian itu, masih
dapat difahami dan digunakan pada masa sekarang (modern). Dari sini, kita
dapat mengatakan bahwa kata "Adab" memiliki dua makna yang berbeda.
Pertama, kata "Adab" dalam pengertian yang khusus berarti perkataan indah
yang menimbulkan kenikmaan seni dalam jiwa pembaca atau pendengarnya,
baik perkataan itu berbentuk puisi maupun prosa. Kedua, kata "Adab" dalam
pengertian umum, yaitu hasil cipta rasa akal yang dilukiskan dalam kata-kata
yang ditulis dalam buku-buku.
Puisi indah, essai yang memikat, orasi (khutbah) yang memukau, dan kisah yang
mengesankan, semua ini termasuk "Adab" dalam pengertian khusus, karena
ketika kita membaca atau mendengarkannya, anda mendapatkan kenikmatan
seni seperti yang kita dapatkan ketika mendengarkan nyanyian seorang
penyanyi, alunan musik, serta ketika kita melihat lukisan atau patung yang

mempesona. Dengan demikian, maka "Adab" atau satra adalah sesuatu yang
berhubungan dengan citrarasa, perasaan, dan kesadaran kita. Sementara, dalam
referensi Barat disebutkan bahwa yang dimaksud dengan "Adab" dalam
pengertian literature adalah kumpulan peninggalan baik prosa atau puisi yang
terdapat pada bahasa dan bangsa tertentu dan mempunyai keistimewaan dalam
gaya dan idenya; Peninggalan yang berbentuk naskah atau cetakan khusus yang
terdapat dalam sebuah bahasa atau bangsa tertentu; Semua tulisan yang
membicarakan topik-topik tertentu, seperti adabul falak (tulisan tentang ilmu
falak/penanggalan) atau adab az-Ziraa'at (tulisan tentang ilmu pertanian); atau
sesuatu yang dihasilkan manusia dalam bentuk naskah atau cetakan, seperti
buku tentang ilmu Nahwu, Sharf, filsafat, termasuk kata "Adab" dalam
pengertian umum, karena itu merupakan gambaran atau konsepsi berbagai
pengetahuan yang dihasilkan manusia, terlepas ketika membacanya akan
menimbulkan kenikmatan seni dalam diri kita atau tidak (Mahmud Jad Akawi
dalam al-Mujaz fi al-Adab al-Arabi, 1972, jilid I hal: 5-9).
Kemudian pertanyaan yang timbul adalah apakah hubungan antara kata Adab
yang bermakna umum dengan kata Adab yang bermakna khusus? Dahulu,
bangsa Arab memiliki tata cara tentang prilaku dan sikap yang harus diikuti oleh
kelas masyarakat tertentu, seperti para bangsawan Arab. Tata cara tersebut
ditulis dalam bentuk karya sastra, seperti puisi, khutbah (pidato), amtsal
(pribahasa), dan sebagainya. Berdasarkan konsep inilah, kemudian kata Adab ini
diberi arti yang lebih spesifik yaitu sastra (Bakalla, 1984:113).
Teeuw (1988, 21-24) mengatakan bahwa kata sastra dalam bahasa Indonesia
berasal dari bahasa sanskerta. Akar kata sas- berarti mengarahkan,
mengajarkan, memberi petunjuk atau instruksi. Akhiran -tra biasanya
menunjukkan alat atau sarana. Sehingga kata sastra dapat diartikan alat untuk
mengajar, buku petunjuk, atau buku pengajaran. Dalam bahasa Arab tidak ada
sebuah kata yang artinya bertepatan dengan sastra. Kata yang paling
mendekatai adalah kata Adab. Dalam arti yang sempit, kata Adab berarti belleslettres, atau susastra. Awalan su- berarti indah atau baik. Kata susastra ini tidak
terdapat dalam bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno, tetapi merupakan kata Jawa
atau Melayu yang muncul kemudian. Kata Adab juga berarti kebudayaan,
sivilisasi atau yang dalam bahasa Arab disebut Tamaddun. Sastra sebagai konsep
yang khas tidak diberi istilah yang umum dalam kebudayaan Arab. Hal itu pasti
berkaitan dengan pendirian orang Arab mengenai sastra.

BAB II
PEMBAGIAN KESUSASTRAAN ARAB

Secara garis besar, kesusastraan Arab di bagi menjadi dua bagian, yaitu prosa
(an-Natsr) dan puisi (syi'r). Prosa terdiri atas beberapa bagian, yaitu: kisah
(Qishshah), peribahasa (amtsal) atau kata-kata mutiara (al-hikam), sejarah
(tarikh) atau riwayat (sirah), dan karya ilmiah (abhats 'ilmiyyah).
Kisah (Qishshah) adalah cerita tentang berbagai hal, baik yang bersifat realistis
maupun fiktif, yang disusun menurut urutan penyajian yang logis dan menarik.
Kisah terdiri dari 4 macam yaitu:
1. Riwayat adalah yaitu cerita panjang yang didasarkan atas kenyataan yang
terjadi dalam masyarakat.
2. Hikayat, yaitu cerita yang mungkin didasarkan atas fakta maupun rekaan
(fiksi).
3. Qishah qasirah, yaitu cerita pendek.
4. Uqsusah, yaitu cerita yang lebih pendek daripada Qishah qasirah.
Kisah berkembang menurut zamannya. Pada masa jahiliyyah, yang berkembang
adalah kisah mengenai berbagai hal yang berkenaan dengan kehidupan suku
Badui, adapt, dan sifat-sifat mereka. Pada masa Islam, yang berkembang ialah
kisah-kisah keagamaan, seperti cerita para nabi dan rasul yang bersumber dari
kitab Taurat, Injil dan al-Qur'an. Kisah yang berkembang pada masa Abbasiyyah
tidak hanya terbatas pada cerita keagamaan, tetapi sudah berkaitan dengan halhal lain yang lebih luas, seperti kisah filsafat.
Adapun pada masa modern, kisah berkembang lebih pesat lagi, karena
perkembangan hubungan antara Islam dan peradaban-peradaban lain yang ada
di dunia Barat. Kisah yang berkembang pada masa ini adalah cerita panjang
yang bersambung. Missalnya Muntakhabat ar-Riwayat (cerita-cerita plihan) oleh
Iskandar Kurku, Riwayah Zainab oleh Muhammad Husein Haikal (1888-1956), alKhiyam fi Rubu' asy-Syam oleh Salim Bustani (1848-1884), Kifah Tayyibah
(perjuangan terpuji) oleh Naguib Mahfudz (1912-?), dan al-Ajnihah alMutakassirah (sayap-sayap patah) oleh Gibran Khalil Gibran (1883-1931).
Peribahasa (amtsal) dan Kata-Kata Mutiara (al-hikam) adalah ungkapanungkapan singkat yang bertujuan memberikan pengarahan dan bimbingan untuk
pembinaan kepribadian dan akhlak. Amtsal dan al-Hikam pada Masa Jahiliyyah
lebih mengggambarkan bangsa Arab yang hidup dalam keadaan yang penuh
dengan kefanatikan terhadap kelompok dan suku. Pencipta amtsal dan al-Hikam
yang terkenal pada masa ini adalah Aksam bin Saifi at-Tamimi, Qus bin Sa'idah
al-Iyadi, dan Zuhair bin Abi Sulma.
Amtsal dan al-Hikam pada masa Islam lebih menekankan pada hal-hal yang
bersifat religius serta berdasarkan pada al-Qur'an dan hadits. Tokoh yang
terkenal pada masa ini ialah Ali bin Abi Talib dengan karyanya Nahj al-Balaghah.
Adapun Amtsal dan al-Hikam pada masa Abbasiyah dan setelahnya lebih
menggambarkan hal-hal yang berhubungan dengan filsafat sosial dan akhlak.
Tokoh yang terkenal pada masa ini adalah Ibnu al-Muqaffa (720-756).
Sejarah (tarikh) atau Riwayat (sirah), mencakup sejarah beberapa negeri dan
kisah perjalanan yang dilakukan oleh para tokoh terkenal. Karya sastra terkenal
dibidang ini, antara lain: Mu'jam al-Buldan (Ensiklopedi Kota dan Negara) oleh
Yaqut ar-Rumi (1179-1229), Tarikh al-Hindi (Sejarah India) oleh al-Biruni (w. 448
H/1048 M), Tuhfah an-Nazzar fi Gara'ib Amsar wa 'Aja'ib al-Asfar (Persembahan
Seorang Pengamat tentang Negeri-Negeri Asing dan Perjalanan Yang
Menakjubkan) oleh Ibnu Batutah, Zakha'ir al-'Ulum wa Ma Kana fi Salif ad-Duhur
(Perbendaharaan Ilmu dan Peristiwa Masa Lalu) oleh Abu Hasan Ali bin Husein
bin Ali al-Mas'udi (w. 956), dan Muluk al-'Arab (Raja-raja Arab) oleh Amin arRaihan (1876-1940).
Karya Ilmiah (abhats 'ilmiyyah) adalah mencakup berbagai bidang ilmu. Karyakarya terkenal yang berkenaan dengan kajian ini ialah KItab al-Hayawan (Buku

tentang Hewan) dan Kitab al-Bukhhala (Buku tentang Orang Bakhil) oleh al-Jahiz
(w. 225 H/869 M), 'Aja'ib al-Makhluqat wa Gara'ib al-Maujudat (Makhluk-Makhluk
Yang Menakjubkan dan Benda-benda Yang Aneh) dan Asar al-Bilad wa Akhbar
al-'Ibad (Peninggalan Negeri-Negeri dan Berita Tentang Manusia) oleh Abu Yahya
Zakaria bin Muhammad al-Qazwaini (1208-1283), dan Sirr an-Najah (Rahasia
Kesuksesan), dan Siyar al-Abtal wa al-Qudama al-'Uzama (Sejarah Para Pahlawan
dan Pembesar-Pembesar Terdahulu) oleh Ya'qub Sarruf (1852-1928).
Adapun puisi (Syi'r) terbagi atas dua bagian, yaitu asy-Syi'r al-Ginai dan asy-Syi'r
al-Hikami atau asy-Syi'r at-Ta'limi. Asy-Syi'r al-Ginai merupakan puisi hiburan
yang berisi ungkapan perasaan sang penyair. Puisi ini terdiri atas tiga bagian,
yaitu:
1. Asy-Syi'r al-Wijdani, adalah puisi yang mengungkapkan perasaan penyair,
seperti gembira, suka cita, dan berita. Para penyair yang dipandang sebagai
tokoh dalam puisi jenis ini adalah Abu Firas al-Hamdani (932-968) dengan
kumpulan puisinya yang terkenal Diwan Abi Firas yang diterbitkan pertama kali
tahun 1873, dan al-Mutanabbi yang terkenal dengan kumpulan puisinya Diwan
al-Mutanabbi.
2. Asy-Syi'r al-Ratsai, adalah puisi hiburan yang diungkapkan oleh penyair ketika
meratapi seseorang yang telah meninggal. Di antara sastrawan yang dianggap
tokoh dalam puisi jenis ini adalah al-Muahhil (w. 531) dengan kumpulan puisinya
yang terkenal Ratsa'uh li Akhihi Kulaib (Ratapannya kepada Saudaranya Kulaib),
dan Abu Jazrah Jarir bin Atiyah (653-7330 dengan kumpulan puisinya yang
terkenal Diwan Jarir fi al-Madh wa ar-Ratsa (Kumpulan Puisi Jarir tentang
Sanjungan dan Ratapan).
3. Asy-Syi'r al-Fakhr, adalah puisi yang menyanjung kebesaran dan keperkasaan
seseorang atau kelompok tertentu. Yang dianggap sebagai tokoh dalam jenis
puisi ini ialah Antarah bin Syaddad (w. 615) dengan kumpulan puisinya yang
terkenal Diwan 'Antarah fi al-Fakhr wa al-Hamasah wa al-Gazal (Kumpulan Puisi
Antara Tentang Kebanggaan, Semangat, dan Sajungan).
Adapun asy-Syi'r al-Hikami atau asy-Syi'r at-Ta'limi adalah puisi yang berisikan
pendidikan atau pengajaran. Yang dianggap tokoh dalam jenis puisi ini ialah
Zuhair bin Abi Sulma (530-627) dengan karyanya al-Hauliyyat, Labib bin Rabi'ah
(560-661) yang terkenal dengan karyanya Hikmah ar-Ratsa (Mutiara-Mutiara
Ratapan), Addi bin Zaid (w. 604) yang terkenal dengan puisi Hikam (Kata-Kata
Mutiara) dan Zuhdiyyat (Kezuhudan), Abu al-'Ala al-Ma'arri (973-1058) yang
terkenal dengan karyanya al-Luzumiyyat (Kebutuhan) dan Risalah alGufranLamiyah ibn al-Wardi (Ratapan Ibnu al-Wardi), dan Nasif al-Yaziji (18001871) dengan puisinya yang terkenal Diwan Syi'r Nasif. (Risalah Pengampunan),
Ibnu al-Wardi (1290-1349) dengan karyanya yang terkenal
Pada masa modern, penyair yang terkenal dalam jenis puisi ini adalah Ahmad
Syauqi (1868-1932) dengan karyanya yang terkenal asy-Syauqiyyat (Puisi-Puisi
Syauqi), dan Muhammad Hafiz Ibrahim (1872-1932) dengan kumpulan puisinya
Diwan Hafiz Ibrahim (Kumpulan Puisi Hafiz Ibrahim).
A. PROSA
1. Pengertian Natsr (Prosa)
Terdapat banyak perbedaan definisi yang dikemukan oleh para ahli sastra Arab.
Akan tetapi, perbedaan ini hanyak terletak bahasa penyampaiannya saja.
Namun, mengenai hakikat sebuah prosa mereka memiliki pendapat yang sama,
seperti yang dikemukakan di bawah ini :
, :

"Prosa adalah ungkapan atau tulisan yang tidak sama dengan Syi'r, ia tidak
terkait dengan wazan atau qafiyah"
Sebagian para ahli sastra Arab berpendapat bahwa timbulnya natsr lebih dahulu
daripada timbulnya syi'r, sebab prosa tidak terikat oleh sajak dan irama. Prosa
itu bebas bagaikan derasnya air. Sedangkan timbulnya syi'r sangat erat
hubungannya dengan kemajuan manusia dalam cara berpikir. Sehingga mereka
berpendapat bahwa manusia baru dapat mengenal bentuk-bentuk syi'r setelah
mencapai kemajuan dalam bidang bahasa. Terdapat dua jenis natsr yaitu natsr
ghair fanni dan natsr fanni. natsr ghair fanni adalah ungkapan prosa yang keluar
dari lisan mereka baik ketika terjadinya percakapan maupun ketika melakukan
orasi (khutbah), yang mereka lakukan secara spontan. Sedangkan natsr fanni
adalah prosa yang diungkapkan dengan keindahan nilai-nilai sastra yang
membekas ke dalam jiwa dan perasan.
Secara umum natsr Jahiliyyah terbagi ke dalam beberapa jenis diantaranya : alKhutbah, al-Wasiyat, al-Hikmah, al-Matsal (Amtsal), dan ada juga ahli sastra Arab
memasukan Saj'u Khuhan (mantera dukun) ke dalam pembagian jenis prosa Arab
Jahiliyyyah.
Adapun karakteristik yang dimiliki Natsr Jahiliyyah antara lain kalimat yang
digunakan ringkas, lafaznya jelas, memiliki kedalaman makna, bersajak
(mengakhiri setiap kalimat dengan huruf yang sama), terkadang sering
dipadukan dengan syi'r, amtsal dan yang lainnya.
2. Al-Amtsal (Pribahasa)
Pengertian Amtsal,


Amtsal adalah kalimat singkat yang diucapkan pada keadaan atau peristiwa
tertentu, digunakan untuk menyerupakan keadaan atau peristiwa tertentu
dengan keadaan atau peristiwa asal dimana matsal tersebut diucapkan.
Kata amtsal adalah bentuk jamak dari masalun dan mislun, yang mengandung
arti bidal atau bandingan. Terdapat banyak arti kata masalun dan mislun yang
dapat kita jumpai, misalnya persamaan, padanan, sederajat, sepangkat, sejalan
(dengan), menurut kias, sama (dengan). Atau dalam terjemahan bahasa asing
lainnya kita jumpai seperti simelar, equal dan analogous. Dalam sastra Indonesia
amtsal ini sama dengan pribahasa atau pepatah.
Dalam sejarah Mesir Kuno banyak dikenal buku-buku bidal yang berisi
pengajaran dan nasehat-nasehat dengan menggunakan kata-kata amtsal,
misalnya: Al-Fallah al-Fasyih, Sibawaih dan Aibur. Koleksi buku-buku ini disebut
Sifru al-Amtsal (Kitab Bidal/The Book of Proverbs). Di bawah ini terdapat
beberapa contoh dari amtsal, di antaranya :

"Sebelum memanah penuhi dahulu busur-busur"
Pribahasa di atas memiliki kesamaan dengan pribahasa "Sedia payung sebelum
hujan" yang merupakan sebuah pesan agar sebelum bertindak kita haruslah
mempersiapkan sesuatu yang berkaitan dengan tindakan yang akan dilakukan.

"Si peminta dan yang meminta lemah"


Pribahasa di atas merupakan sebuah ungkapan di waktu kita diminta seseorang
agar membantunya berupa uang atau bantuan yang lain, pada kita sendiri tidak
mempunyai uang atau bantuan yang dapat diberikan.
Diriwayatkan bahwa ada seorang Arab mengutus anaknya untuk mencari
untanya yang hilang, namun anaknya tak kunjung pulang, maka pergilah sang
ayah untuk mencari anaknya tersebut pada bulan haram, ditengah perjalanan ia
bertemu dengan seorang pemuda dan menemaninya, sang pemuda tersebut
kemudian berkata: beberapa waktu lalu aku bertemu dengan seorang pemuda
dengan ciri-ciri begini dan begini dan aku rampas pedang ini darinya, sang ayah
pun berfikir dan melihat pedang tersebut, barulah ia sadar bahwa pemuda inilah
yang membunuh anaknya, sang ayah pun menebas pemuda tadi hingga mati,
ketika masyarakat mengetahui hal tersebut mereka mengatakan " mengapa kau
membunuh di bulan haram, sang ayah berkata :

"pedangku telah mendahului celaan kalian."
Diriwayatkan pula bahwa pada suatu musim panas seorang lelaki tua menikahi
gadis muda yang cantik jelita, lelaki tadi memiliki begitu banyak unta dan
kambing yang senantiasa memproduksi susu. Akan tetapi wanita ini tidak
mencantai lelaki tua itu dan meminta untuk diceraikan, maka merekapun
bercerai. Wanita tadi akhirnya menikah dengan seorang pemuda yang tampan
namun miskin, tidak punya kambing apalagi unta, pada musim dingin wanita tadi
melihat sekawanan kambing milik lelaki tua mantan suaminya dan memohon
agar diberikan susu dari kambing-kambing tersebut, namun lelaki tua itu
menolak dan berkata :

"Musim panas yang lalu kau telah menyia-nyiakan susu yang aku beri"
Matsal di atas diucapkan kepada seorang yang telah menyia-nyiakan
kesempatan dimasa lalu namun kini mengharapnya kembali.
3. Al-Hikam (Kata-Kata Mutiara)
Pengertian Hikam,
: .
"Hikam atau kata-kata mutiara adalah ucapan kalimat yang ringkas yang
menyentuh yang bersumber dari pengalaman hidup yang dalam, di dalamnya
terdapat ide yang lugas dan nasihat yang bermanfaat."
Terkadang kata-kata mutiara juga terdapat di dalam sebuah syi'r sebagaimana
banyak ditemukan di dalam Syi'r Zuhair bin Abi Sulma. Adapun di antara para
penghikmah yang terkenal, antara lain : Qus bin Sa'idah dan Dzul Isba'
Al-Adwani. Di bawah terdapat beberapa contoh dari hikam atau kata-kata
mutiara :

"Perusak akal sehat manusia adalah hawa nafsunya."

"Kehancuran seorang lelaki terletak dibawah kilaunya ketamakan"


4. Al-Wasiat
Pengertian al-wasiat,
, ,
, .
"Wasiat itu sama seperti khutbah yaitu ucapan atau pesan yang disampaikan
oleh seseorang, baik dari orang tua kepada anaknya, dari pemimpin kepada anak
buahnya, dari hakim kepada masyrakatnya. Biasanya wasiyat disampaikan oleh
seseorang yang merasa bahwa ajalnya sudah dekat atau seseorang yang hendak
melakukan perjalanan".
Wasiat memiliki banyak persamaan dengan khutbah hanya saja umumnya
wasiat itu lebih ringkas. Di bawah ini adalah contoh wasiat yang disampaikan
oleh Dzul Isba' Al-Adwani kepada anaknya yang bernama Usaid. Diriwayatkan
bahwa disaat Dzul Isba' Al-adwani merasakan ajalnya ia memanggil anaknya
Usaid, ia menasihati anaknya dengan beberapa nasihat demi mewujudkan
kedudukan yang mulia ditengah manusia dan menjadikannya seorang yang
mulia, terhormat dan dicintai oleh kaumnya. Ia berkata :
, , ,
, , ,
, , ,
"Berlemah lembutlah kepada manusia maka mereka akan mencintaimu, dan
bersikap rendah hatilah niscaya mereka akan mengangkat kedudukanmu,
sambut mereka dengan wajah yang selalu berseri maka mereka akan
mentaatimu, dan janganlah engkau bersikap kikir maka mereka akan
menghormatimu. Muliakanlah anak kecil mereka sebagaimana engkau mencintai
orang-orang dewasa diantara mereka, maka anak kecil tadi akan tumbuh dengan
kecintaan kepadamu, mudahkanlah hartamu untuk kau berikan, hormatilah
tetanggamu dan tolonglah orang yang meminta pertolongan, muliakanlah tamu
dan selalulah berseri ketika menghadapi orang yang meminta-minta, maka
dengan itu semua sempurnalah kharismamu."
5. Khithobah (Orasi)
Pengertian khutbah atau orasi,

.
Khithobah atau orasi adalah serangkaian perkataan yang jelas dan lugas yang
disampaikan kepada khalayak ramai dalam rangka menjelaskan suatu perkara
penting.
Adapun penyebab munculnya khithobah pada periode Jahiliyah antara lain :
banyaknya perang yang terjadi antar kabilah, pola hubungan yang ada pada
masyarakat Jahiliyyah seperti saling mengucapkan selamat, belasungkawa dan
saling memohon bantuan perang, kekacauan politik yang ada kala itu,
menyebarnya buta huruf, sehingga komunikasi lisan lebih banyak digunakan
daripada tulisan, dan saling membanggakan nasab dan adat istiadat.
Ciri khas yang dimiliki oleh khithobah pada masa ini antara lain: penggunaan

kalimat yang ringkas, lafaz yang jelas dan ringkas, makna yang mendalam,
bersajak (berakhirnya setiap kalimat dengan huruf yang sama) dan terkadang
sering terjadi perpaduan antara syi'r, hikmah dan matsal.
Khithobah memiliki peranan yang besar dalam kehidupan masyarakat Jahiliyyah
pada waktu itu. Bagi mereka khutbah merupakan alat komunikasi untuk
menunjukkan kehebatan suatu kabilah atau menjadi semangat dalam sebuah
peperangan antar kabilah. Adapun tempat-tempat yang biasa dipakai untuk
berorasi antara lain:
1. Sebelum peperangan antar kabilah terjadi, dimana sang orator berdiri diatas
kuda atau unta untuk memberikan semangat pada pasukannya agar dapat
memenangkan peperangan.
2. Ketika munafarah, yaitu dimana seseorang membanggakan diri di depan
orang lain, atau membanggakan satu kabilah dengan kabilah yang lain. Dalam
keadaan ini sang orator akan berorasi didepan khayalak ramai untuk
membanggakan kabilahnya.
3. Ketika berada di hadapan utusan raja atau amir, sang orator maju dihadapan
para utusan tersebut dan berorasi untuk menyampaikan keinginan-keinginan
mereka.
4. Ketika acara pernikahan, khutbah pada acara pernikahan ini sudah menjadi
kebiasaan masyarakat Arab sejak dahulu yang hingga saat ini masih
dipertahankan, sebagaimana yang dilakukan paman Nabi SAW, Abu Thalin ketika
menikahkan Beliau SAW dengan Siti Khadijah.
Di antara para orator yang terkenal pada masa Jahiliyyah, antara lain : Aktsam
bin Shaifi, Qus bin Sa'idah al-Iyady (sang orator Ukadz), Amr bin Ma'dayakiribah
Al-Zabidy.
Di bawah ini terdapat contoh khutbah yang disampaikan oleh Hani' Bin Qobishoh
ketika terjadi peperangan Dzi-Qorin. Diriwayatkan bahwa Kisra ( Raja Persia )
memaksa Hani bin Qobishoh Asa-Syaibani agar menyerahkan harta amanah
yang dititipkan kepadanya oleh Nu'man ibnul Mundzir-salah seorang penguasa
Irak-. Hani menolak permintaan tersebut demi menjaga amanah yang dititipkan
kepadanya sehingga terjadilah perang antara tentara Persia dengan kabilah Bakr
yang dipimpin oleh Hani, pertempuran tersebut berlangsung pada sebuah
tempat dekat Bashrah di Irak yang bernama Dzi-Qorin, pertempuran tersebut
akhirnya dimenangkan oleh Kabilah Bakr, sebelum pertempuran tersebut
berlangsung Hani' membakar semangat para pasukannya dengan
perkataannya :
, , ,
, , , ,
: ,
"Wahai sekalian kaum Bakr, orang yang kalah secara terhormat lebih baik dari
orang yang selamat kar'na lari dari medan juang, sesungguhnya ketakutan tidak
akan melepaskan kalian dari ketentuan Tuhan, dan sesungguhnya kesabaran
adalah jalan kemenangan. Raihlah kematian secara mulia, jangan kalian memilih
kehidupan yang hina ini. Menghadapi kematian lebih baik daripada lari darinya,
tusukan tombak di leher-leher depan lebih mulia dibanding tikaman dipunggung
kalian, wahai kaum Bakr..... Berperanglah!!!! Karena kematian adalah suatu
kepastian.. "
B. PUISI
1. Pengertian Syi'r


.
Syi'r adalah ungkapan atau ungkapan yang berwazan dan berqafiah yang
mengungkapkan imajinasi yang indah dan bentuk-bentuk ungkapan yang
mengesankan lagi mendalam (Zayyat, 1996: 25).
Para penyair pada zaman jahiliyah dianggap sebagai kaum intelektual. Mereka
dianggap golongan orang yang paling tahu berbagai macam ilmu yang
dibutuhkan bangsa Arab pada masanya. Yaitu pengetahuan tentang nasab,
kabilah-kabilah dan ilmu lain yang mashur pada masa itu. Menurut Ahmad Amin
(1933: 55) secara etimologi kata sya'ara sendiri berarti 'alima (mengetahui).
Seperti kalimat sya'artu bihi artinya alimtu. Dari sini dapat dipahami juga pada
ayat berikut:






.
"Dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang
mereka tidak akan beriman"(QS. 6: 109).
Dalam kamus lisan al-Arab, kata sya'ara ( )dimaknai ilmu dan makrifah.
Karena itu kata asy-sya'ir ( )artinya ( )wa asy-syua'ara' artinya ulama.
Kemudian kata syi'r berkembang menjadi sebuah istilah yang khusus, dalam allisan disebutkan:
.
"Puisi itu merupakan rangkaian kata-kata, yang biasanya tersusun dalam bentuk
wazan dan qafiyah"
Pada zaman jahiliyah para penyair adalah golongan masyarakat jahiliyah yang
paling berilmu. Di samping golongan lain yang disebut dengan hukkam.
Golongan ini memberi keputusan atas berbagai perselisihan antar anggota
masyarakat dalam hal derajat dan nasab. Setiap kabilah memiliki satu hakim
atau lebih, di antara hakim yang terkenal Aqsam ibn Saifi, Hajib ibn Zurarah, alAqra' ibn habis dan Amir ibn Gharb. Secara intelektual mereka ini lebih tinggi
dari para penyair akan tetapi secara imajinasi para penyair lebih luas dan lebih
membekas. Sehingga bangsa Arab menyatakan bahwa :

"Sesungguh puisi itu merupakan diwan bangsa Arab"
Yang dimaksud dengan diwan di sini adalah catatan bahwa Syi'r mencatat
berbagai hal tentang tata krama, adat istiadat, agama dan peribadatan mereka
serta keilmuan mereka, atau dengan kata lain mereka mencatat tentang diri
mereka sendiri dalam Syi'r. Dahulu para sastrawan menggunakan syair Arab
jahiliyah untuk memahami berbagai perang dan memahami kepahlawanan,
kedermawanan dan kelicikan yang digunakan untuk menciptakan Syi'r madah
dan hija' (Amin, 1933: 57).
Beberapa kumpulan diwan Arab jahiliyah adalah sebagai berikut: al-Mu'allaqat
as-Sab'u yang dikumpulkan oleh Hammat ar-Rawiyah, al-Mufadhdholiyyat yang
disusun oleh al-mufadhdhal adh-dhobiyyu terdiri dari 128 qasidah, diwan alhammasah yang disusun oleh Abi Tamam yang berisi potongan-potongan syi'ir
jahiliyah yang sangat banyak, al-Hammasah karangan al-Bukhturi, al-Aghani,
asy-Syi'ru wa asy-Syu'ara' karangan Ibnu Kutaibah, Mukhtarat Ibnu Sajary,

Jamharotu Asy'aru al-Arab karangan Abu Zaid al-Kurasyi, Syi'r jahiliyah yang
sampai kepada kita tidak lebih dari 150 tahun sebelum kenabian, hasil
pengamatan kepada Syi'r Arab menunjukkan tema-temanya tidak variatif,
maknanya tidak melimpah, Syi'r-Syi'r jahiliyah, qasidah dan musiqahnya serta
iramanya satu, tasybih dan isti'arahnya sering terulang, miskin kreasi dan miskin
variasi (Amin, 1933: 58).
Syi'r menjadi panglima kehidupan pada zaman jahiliyah, menjadi idola dalam
seluruh bidang kehidupan. Berbagai momen kehidupan baik ritual keagamaan,
sosial politik, perang dan perdagangan menggunakan Syi'r sebagai alat motivasi
handal. Syukri Faishol menggambarkan dominasi Syi'r pada masa jahiliyah
sebagai berikut :




...

"Syi'r begitu dominan menguasai berbagai macam bentuk ungkapan di berbagai


bidang dalam peperangan, dalam perdamaian seperti fakhr dan hija' dalam
penghayatan keagamaan, dalam pemikiran filosofis. Semua bidang tersebut
pada masa jahiliyah tumbuh dalam suasana puitis, bahkan rotsa yang biasa
digunakan para dukun-dukun jahiliyah pun bersajak sehingga dikenal dengan
saja'ul-kuhhan. Hubungan antara keduanya begitu dekat dalam wazan dan
qafiyahnya. Secara historis prosa liris tidak memiliki akar yang kuat dalam
kehidupan jahiliyah tidak seperti jahiliyah, memiliki tradisi puitis dan memiliki sisi
historis yang panjang. Yang menopang kekokohan keberadaannya dari segi
produksi, sastrawan dan periwayatannya." (Syukri Faishol, 1973: 351).
2. Awal Mula timbulnya Syi'r Arab
Sejarah mengenai awal mula Syi'r Arab merupakan sejarah yang sulit untuk
menentukan batasannya. Akan tetapi para ahli sejarah sastra Arab berpendapat
bahwa timbulnya Syi'r Arab telah lebih dahulu daripada prosa. Syi'r Arab
Jahiliyyah yang sampai kepada kita saat ini hanya sebagian Syi'r yang
pengumpulannya pada perang Busus sekitar 150 tahun sebelum Islam. Itupun
tidak merupakan keseluruhan Syi'r yang dihasilkan bangsa Arab di masa
tersebut. Sehingga Syi'r Jahiliyyah yang sampai kepada kita sekarang ini
hanyalah sebagian kecil saja dari Syi'r Jahiliyyah yang dapat diselamatkan dari
kepunahan.
Syi'r Jahiliyyah yang sempat dihapal oleh generasi yang datang di masa Islam
akhirnya dicatat dan dibukukan dalam catatan-catatan pribadi, kemudian
diajarkan kepada generasi berikutnya. Kemudian dari hapalan-hapalan tersebut
lalu dikumpulkan oleh para pengumpul Syi'r, seperti Hammad Arrowy, Al-Asmaiy,
Khallaf bin Amru dan Abu Bakar Hawarizmy. Merekalah yang mengumpulkan Syi'r
yang masih ada pada suku Badui Arab. Karena suku Badui sangat terkenal dalam
kekuatan hapalannya untuk menjaga adat istiadat dan hasil karya nenek moyang
mereka. Selanjutnya, hasil karya sastra Arab yang telah dibukukan, kelak akan
dijadikan sandaran bahasa Arab oleh para ahli linguistik Arab, ahli balaqhah, dan
juga para penyair Islam yang datang di masa sesudahnya.
Mengenai sejarah awal mula timbulnya Syi'r Arab Jahiliyyah, sosok Muhalhil bin
Rabiah Attaghliby dianggap sebagai orang pertama yang menciptakan Syi'r Arab.
Hal ini dikarenakan dari sekian banyak Syi'r Arab yang ditemukan hanyalah
sampai pada zaman Muhalhil, dan dari sekian banyak Syi'r Muhalhil yang dapat
diselamatkan hanya sekitar 30 bait saja.
Anggapan bahwa Muhalhil adalah perintis pertama dalam menciptakan Syi'r
Arab, bukan berarti bahwa permulaan timbulnya Syi'r Arab itu dimulai dari

zaman Muhalhil. Bahkan jauh sebelum zaman Muhalhil, Syi'r Arab telah ada,
hanya saja Syi'r Arab kuno yang ada sebelum zaman Muhalhil telah lenyap.
Pendapat ini dikuatkan oleh Umru' Al-Qais yang menyatakan bahwa sebelum
zaman Muhalhil, bangsa Arab telah mengenal Syi'r.


#
Mari kita kembali (mengenang) kepada puing-puing yang runtuh, karena kami
akan mengenang (menangisi) kembali kekasih yang telah pergi, seperti yang
telah dilakukan oleh Ibnu Al-Huzama.
Bait syi'r di atas memberikan penerangan kepada kita bahwa segala apa yang
dilakukan penyair yang ada pada masa Jahiliyyah hanyalah sebuah tiruan atau
pengulangan dari yang telah dilakukan oleh penyair masa sebelumnya. Pendapat
Umru' Al-Qais ini dikuatkan oleh pendapat Zuhair bin Abi Sulma dalam bait
syi'rnya di bawah ini
#
Apa yang kami ucapkan waktu ini, tidak lain hanyalah jiplakan (tiruan) atau
ulangan dari ucapan syair di masa lampu.
Dari kutipan-kutipan syi'r di atas dapatlah kita ketahui bahwa sejak sebelum
Masehi, bangsa Arab telah mengenal syi'r, hanya saja karya mereka telah lenyap
dimakan waktu. Adapun Muhalhil hanyalah sebagai seorang penerus atau
perintis syi'r Arab Jahiliyyah.
3. Pembagian Jenis-jenis Syi'r dan Tujuannya
Bahasa Arab pada zaman Jahiliyah ada dua bentuk prosa dan syair. Prosa
berfungsi sebagai alat komunikasi tetapi kedudukannya tidak lebih tinggi dari
syair, sehingga prosa ini kurang mendapat tempat dihati orang-orang Arab,
anggapan mereka bahwa prosa tidak mengandung unsur keindahan dan seni
dalam mengungkapkan apa yang hendak mereka ungkapkan. Lain lagi halnya
dengan syair, bangsa Arab mempunyai ketajaman dalam menilai bahasa,
keindahan dalan berucap yang senantiasa disatukan dengan perasaan yang
sangat halus yang merela miliki, sehingga mereka mampu berimajinasi dengan
sangat tinggi. Faktor inilah yang menjadi modal dasar bangsa Arab untuk
menggugah syair yang indah dengan berbagai tujuannya sesuai dengan apa
yang sedang bergejolak dalam jiwanya. Karna menurut pandangan bangsa Arab
syair merupakan puncak keindahan dalam sastra mereka dibanding dengan hasil
sastra lainnya.
Syair -syair yang mereka lantunkan dapat memukau dan mempengaruhi jiwa
sipendengarnya, sehingga sudah menjadi tradisi dan kebiasaan orang Arab
untuk selalu menghafalkan apa yang telah mereka dengar sampai benar-benar
hafal. Kemudian syair-syair itu diajarkan kepada anak cucunya atau kerabat
dalam kabilah itu sehingga sampai kepada beberapa generasi berikutnya. Peran
dan fungsi bahasa pada zaman Jahiliyah sangatlah sederhana seirama dengan
kesederhanaan letak geografisnya, ketandusan wilayahnya yang menyebabkan
mereka tidak dapat bertani, dan jalannya perdagangan sangat sulit dan rumit
akibat daerah yang satu dengan yang lainnya sangat berjauhan, dan juga
peperangan antar suku kerap terjadi. Hal seperti inilan membuat bahasa mereka
sangat sederhana.
Adapun puisi (Syi'r) terbagi atas dua bagian, yaitu asy-Syi'r al-Ginai dan asy-Syi'r

al-Hikami atau asy-Syi'r at-Ta'limi. Asy-Syi'r al-Ginai merupakan puisi hiburan


yang berisi ungkapan perasaan sang penyair. Adapun asy-Syi'r al-Hikami atau
asy-Syi'r at-Ta'limi adalah puisi yang berisikan pendidikan atau pengajaran.
Menurut Syauqi Dhaif (2001: 196) yang pertama kali melakukan tipologi tema
Syi'r Arab dan membukukannya adalah Abu Tamam (w. 232 H). Abu Tamam
membagi tema Syi'r Arab dalam 10 (sepuluh) tema yaitu Hammasah, Maratsi,
Adab, Nasib, Hija`, Adyaf, Madih, Sifat, Sair, Nu'as, Milh, Mazammatu Nisa`.
Tema-tema tersebut tidak teratur kadang Adyaf masuk dalam kategori madih,
kadang masuk ke hammasah dan kadang masuk ke fakhr. Sedang tema siar dan
nu'as masuk kepada tema sifat sebagaimana Madzammatun Nisa' masuk ke Hija'
dan al-Milh sering tidak jelas maksudnya. Qudamah dalam bukunya Naqdu asySyi'ri membagi tema Syi'r Arab menjadi enam, yaitu madih, hija', nasif, maratsi
wa al-wasfu wa at-tasybih. Kemudian dia mencoba untuk meringkasnya saja
menjadi dua bab saja yaitu bab madah dan hija'. Ibnu Rasyiq membagi menjadi
sepuluh dalam bukunya al-'Umdah yaitu an-nasib, al-madih, al-iftikhar, ar-ritsa,
al-iqtidho', al-istinjas, al-'itab, al-wa'id, al-indzar, al-hija' dan al-i'tidzar.
Sedangkan Abu Hilal al-'Askary mengatakan sebetulnya Syi'r Arab jahiliyah itu
dibagi menjadi lima yaitu: al-madih, al-hija', al-wasf, at-tasybih dan al-miratsi.
Sampai kemudian an-Nabighah menambahkan satu tema yaitu al-i'tidzar.
Sesungguhnya ini adalah pembagian yang baik akan tetapi Abu Bakar al-Asy'ari
melupakan satu tema yaitu al-hammasah, padahal tema ini yang paling banyak
digunakan oleh orang Arab jahiliyah.
Dalam hal ini, jenis Syi'r Arab jahiliyah menurut tujuannya terbagi menjadi
beberapa macam, sesuai bentuk dan warnanya yang berlainan antara yang satu
dengan yang lain, yang semuanya mewarnai corak yang sesuai dengan
tujuannya masing-masing.
a. Tasybih/ghazal ialah suatu bentuk puisi yang di dalamnya menyebutkan
wanita dan kecantikannya, Syi'r ini juga menyebutkan tentang kekasih, tempat
tinggalnya dan segala apa saja yang berhubungan kisah percintaan. Seperti Syi'r
A`sa ketika tidak tega ditinggal kekasihnya Harirah:







Seolah-olah jalannya dari rumah tetangganya
Seperti jalannya awan tidak lambat dan tidak juga cepat
Atau Syi'r Imru al-Qais menggambar keindahan Unaizah (kekasihnya) dalam bait
Syi'rnya seperti di bawah ini:











Ketika kami berdua telah lewat dari perkampungan, dan sampai di tempat yang
aman dari intaian orang kampung
Maka kutarik kepalanya sehingga Ia (Unaizah) dapat melekatkan dirinya
kepadaku seperti pohon yang lunak
Wanita itu langsing, perutnya ramping dan dadanya putih bagaikan kaca
Lehernya jenjang seperti lehernya kijang, jika dipanjangkan tidak bercacat sedikit
pun, karena lehernya dipenuhi kalung permata
Rambutnya yang panjang dan hitam bila terurai di bahunya bagaikan mayang

kurma. (Al-Zauziny, 16-17 dan Al Muhdar, 1983: 48).


b. Hammasah/Fakher, jenis Syi'r ini biasanya digunakan untuk berbangga dengan
segala macam kelebihan dan keunggulan yang dimiliki oleh suatu kaum. Pada
umumnya Syi'r ini digunakan untuk menyebutkan keberanian dan kemenangan
yang diperoleh. Seperti Syi'r Rasyid ibn Shihab al- Yaskary yang menantang Qais
ibn Mas`ud al-Syaibany di Pasar Ukaz;








Jangan mengancamku, sungguh bila kau menemui aku
Bersamaku pedang tajam dengan darah yang terus mengalir karena sayatannya
Dan celaan yang membuat pingsan korbannya karena malu dan hina
Disaksikan berbagai kabilah di bawah pohon (di pasar Ukaz) di Qubab Adam
(Dhaif, 2001: 200).
c. Madah, Bentuk Syi'r ini digunakan untuk memuji seseorang dengan segala
macam sifat dan kebesaran yang dimilikinya seperti kedermawanan dan
keberanian maupun ketinggian budi pekerti seseorang. Seperti Syi'r Nabighah
ketika memuji raja Nu`man:













Kamu adalah matahari sedang raja yang lain adalah bintang
Apabila matahari terbit maka bintang-bintang yang lain tidak mampu
menunjukkan diri (Mursyidi, 97).
Atau seperti Syi'r A`sya ketika memuji kedermawanan Muhallik:







#




#
:









Kamu lihat kedermawanan di wajahnya seperti pedang yang berkilauan.
Kedua tangannya selalu benar, yang satu untuk membinasakan sedang yang lain
untuk berderma (Al-Iskandary, 1978: 82-83).
Syi'r ini ditulis oleh an-Nabighah untuk memuji kaum Ghassasinah, khususnya
kepada raja Amru ibn al-Harits al-Ghassany.






Mereka (kabilah Ghassan) memiliki sifat kedermawanan, dan cara berfikir
cemerlang yang tidak diberikan oleh Allah kepada yang lain
Sandalnya halus, selalu mengendalikan diri, semua manusia menghormati
mereka dengan wangi-wangian pada hari raya sabasib
Mereka sangat berpengalaman, kebaikan tidak melupakan mereka dari
kesengsaraan-kesengsaraannya, demikian juga musibah dan penderitaan tidak
membuat mereka berputus asa. (Mursyidi, t.t.:90).
Ini adalah Syi'r Khansa` yang sangat bangga pada saudaranya Shakhr

Setiap malam aku tersiksa oleh ingatanku


Dan di pagi hari kudapati diriku yang kemarin sembuh sakit kembali
Karena ingatanku kepada Sakhr, adakah pemuda yang seperti Sakhr Pada saat
terjadi peperangan dan tebasan pedang bagai kilatan cahaya
Dan tak pernah kulihat musibah mengerikan itu yang menimpa jin
Juga tak pernah kulihat musibah sepertinya yang menimpa manusia
Lebih dahsyat dari bala' yang menimpa dunia sepanjang masa
Peristiwa yang luar biasa dan tidak orang yang bisa memungkirinya.
Setiap datang pengetuk pintu atau datang orang yang meminta perlindungan
selalu menggetarkan hatinya, maka dia akan memuliakannya dan akan
melindunginya.
Dan ketika datang malam hari hatinya menjadi tenteram dari segala kesialan.
d. Rotsa', jenis Syi'r ini digunakan untuk mengingat jasa seorang yang sudah
meninggal dunia. Seperti Syi'r Khansa` yang sangat terkenal dengan rangkaian
Syi'r ratsa`nya;











Aku selalu teringat Sakhr, aku teringat padanya setiap matahari terbit.
Dan aku teringat padanya ketika matahari terbenam.
Aku teringat padanya antara keduanya.
Ingatanku padanya tidak bisa hilang.
Kalau bukan karena aku melihat banyak orang yang menangisi mayat-mayat
saudaranya yang mati, mungkin aku sudah bunuh diri.
Juga Syi'rnya yang menggambar kesedihannya yang luar biasa sampai
melupakan suaminya;




Aku bersumpah demi Allah aku tidak akan melupakanmu sampai maut
memisahkan diriku
Aku tinggalkan sejak aku berpisah dengan Shakhr,
Abi Hasan untuk diriku dan aku melupakannya
Aku merindukannya dan juga ibuku merindukannya
Apa dia telah menjadi tanah dan didalamnya dia berada.(Al-Maliji, 1989: 38-39).
e. Hijaa', jenis puisi ini digunakan untuk mencaci dan mengejek seorang musuh
dengan menyebutkan keburukan orang itu. Seperti Syi'r Zuhair yang
mengancam al-Harits ibn Warqa` al-Asady yang merampas unta keluarganya.
Warqa` terpaksa mengembalikan untanya yang dirampasnya.









Kamu akan mendapatkan hujatan pedas yang mematikan dariku
Tidak akan bisa hilang seperti baju putih yang terkena lemak
(Dhaif, 2001: 197).
Atau seperti Syi'r Juhannam yang mengejek A`sya dengan menghina bapak dan
pamannya.

.














Bapakmu mati karena kelaparan (korban kelaparan) Qais ibn Jandal
Dan pamanmu hamba dari kabilah Khuma'ah yang rendahan (Dhaif, 2001:335).
f. I'tidzar, Jenis puisi ini digunakan untuk mengajukan udzur dan alasan dalam
suatu perkara dengan jalan mohon maaf dan mengakui kesalahan yang telah
diperbuatnya. Syi'r ini dibuat oleh A'sya untuk meminta maaf kepada Aus ibn
Lam (dari kabilah Thayyi') yang sebelumnya dia ejek dengan Syi'r hija'nya




Sesungguhnya aku menyesal atas apa yang telah aku lakukan dan aku mohon
ampunan kepada Aus ibn Lam, dan aku mohon ampunan dari Aus dan
menghapus segala kesalahanku adalah keinginanku, berilah aku kehidupan dan
kehidupan akan terjaga dengan kesyukuranku kepadamu dan pemberianmu
adalah yang terbaik aku akan menghapus kesalahanku dengan pujian kepadamu
dan ini adalah pengakuan yang jujur sedangkan ejekan kepadamu yang lalu
sebenarnya adalah bohong (Al-Iskandary, 1978: 55).
Atau seperti Syi'r Nabighah yang terkenal dengan Syi'r i`tidzariyatnya, memohon
maaf kepada raja Nu`man.






Tetapi sesungguhnya aku adalah orang yang punya tempat alternatif lain
Di bumi di mana aku mengais rizki dan tempat melarikan diri
Yaitu para raja dan teman-teman, yang jika aku datang pada mereka
Aku bisa menggunakan harta mereka semauku, dan mendekatkan diri
persis seperti apa yang kamu lakukan pada kaum yang kamu beri berbagai
limpahan dan ternyata ketika mereka tidak bisa bersyukur, maka hal itu bagimu
mereka telah berdosa
Jangan kau biarkan aku dalam ancamanmu, sehingga karena ancamanmu
aku seolah-olah dilumuri ramuan kudis, semua orang menjauh dariku karena
takut ancamanmu

Tidakkah kau tahu bahwa Allah telah menganugerahkan kepadamu kedudukan


yang tinggi, yang raja-raja selain kamu tidak mampu menyandangnya.
Kamu adalah matahari sedang raja yang lain adalah bintang
Apabila matahari terbit maka bintang-bintang yang lain tidak mampu
menunjukkan diri.
Kamu tidak mungkin menemukan saudara yang tidak kamu cela karena
kesalahan kecil.
Apakah mungkin ada orang yang tanpa cela (Mursyidi, t.t.: 95-97).
g. Wasfun, Jenis Syi'r ini biasanya digunakan untuk menggambarkan sesuatu
kejadian ataupun segala hal yang menarik seperti menggambarkan jalannya
peperangan, keindahan alam dan sebagainya. Kebanyakan para penyair jahiliyah
adalah orang Badui yang begitu menyatu dengan kehidupan alamnya. Sehingga
begitu terpengaruh dengan lingkungannya. Mereka mengambarkan dalam
Syi'rnya tentang padang pasir, langit, bintang, angin, hujan, tenda-tenda
perkemahan, puing-puing perkampungan, tempat-tempat bermain anak-anak
dan unta, tentang kuda dan ciri-cirinya, perjalanan, peperangan, alat-alat
perang, perburuan dan peralatannya, hal ini terlihat jelas pada Syi'r-puisnya
Imru'ul Qais. Imru al-Qais menggambarkan kudanya dengan ungkapan yang
begitu indah;




, ,










,
,


,




,




Pagi-pagi aku sudah pergi berburu saat itu burung-burung masih tidur
disangkarnya
Mengendarai kuda yang bulunya pendek besar larinya cepat mampu mengejar
binatang buas yang sedang berlari kencang
Maju dan mundur bersamaan secepat kilat seperti hanya satu gerakan
Seperti batu besar yang runtuh terbawa banjir dari tempat tinggi
Pemuda yang kurus akan kesulitan duduk di pelananya
Sebagaimana orang yang kasar dan besar juga akan kerepotan merapikan
bajunya
Pinggangnya seperti pinggang beruang, kakinya panjang dan keras seperti kaki
burung Unta
Kalau berlari ringan seperti larinya kijang, apabila berlari kencang mengangkat
kedua kaki depannya bagai larinya serigala liar (Mursyidy, t.t.: 75-77).
h. Hikmah: puisi ini berisi pelajaran kehidupan yang terkenal pada zaman
jahiliyah Seperti Syi'rnya Labid,
















Sesungguhnya segala sesuatu selain Allah pasti akan lenyap
dan setiap kenikmatan pasti akan sirna.
Setiap orang pada suatu saat pasti akan didatangi oleh
maut yang memutihkan jari-jari.
Setiap orang kelak pada suatu hari pasti akan tahu amalannya
jika telah dibuka catatannya di sisi Tuhan (Al-Iskandary, 1978: 88-89).

Juga Syi'rnya Zuhair yang luar biasa:
















Aku lihat maut itu datang tanpa permisi dulu, siapa yang didatangi pasti mati
dan siapa yang luput dia akan lanjut usia.
Siapa yang selalu menjaga kehormatannya maka dia akan terhormat dan siapa
yang tidak menghindari cercaan orang, maka dia akan tercela.
Siapa yang menepati janji tidak akan tercela, siapa yang terpimpin hatinya maka
dia akan selalu berbuat baik.
Siapa yang takut mati pasti dia akan bertemu juga dengan maut walaupun dia
naik ke langit dengan tangga (melarikan diri) (Az-Zauzini, tt.: 73-76 dan Al
Muhdar, 1983: 55-56).

BAB III
SEJARAH SASTRA ARAB
A. Sejarah Sastra (Tarikhul Adab) dan Fungsinya
Tarikhul Adab atau Sejarah sastra adalah suatu ilmu yang membahas mengenai
keadaan bahasa serta sastra seperti puisi dan prosa yang diciptakan oleh anakanak pengguna bahasa itu dalam berbagai masa, sebab-sebab kemajuan dan
kemudurannya, serta kehancuran yang mengancam kedua produk sastra
tersebut, serta mengalihkan perhatiannya terhadap para tokoh terkemuka dari
kalangan penulis dan ahli bahasa, serta melakukan kritik terhadap karya-karya
mereka, dan menjelaskan pengaruh mereka dalam ide, penciptaan, dan gaya
bahasa (uslub).
Tarikhul Adab atau sejarah sastra dalam pengertian seperti di atas merupakan
ilmu yang baru tumbuh, dan dicetuskan oleh penulis Itali pada abad ke-18 M. Di
kawasan timur, sejarah sastra baru dikenal ketika pergaulan antara Kawasan
Timur dan Kawasan Barat semakin menguat. Orang yang pertama kali

mentransfer ilmu mengenai sejarah sastra ke dalam dunia sastra Arab ialah alUstadz Hasan Taufiq al-Adl, setelah kepulangannya dari Jerman, dan selanjutnya
beliau mengajar di Universitas Daarul Ulum (Bunyamin, 2003:6).
Pengertian sejarah sastra di atas adalah pengertian Tarikhul Adab/sejarah sastra
secara dalam arti khusus. Sedangkan pengertian Tarikhul Adab/sejarah sastra
dalam pengertian umum adalah ilmu yang mempelajari deskripsi kronologis
sesuai perjalanan zaman yang terhimpun dalam buku-buku, tercatat dalam
lembaran-lembaran, dan yang terpahat dalam batu-batu prasasti, yang
mengungkapkan perasaan (emosi), ide, pengajaran tentang suatu ilmu atau seni,
pengabdian suatu cerita, suatu realitas, termasuk di dalamnya penyebutan
orang-orang yang muncul dan terkenal (terkemuka) dari kalangan para ilmuan,
para filosuf, dan para pengarang, serta menjelaskan referensi yang mereka
gunakan, aliran-aliran yang mereka anut, dan posisi mereka dalam bidang seni
yang digeluti, yang semua itu akan menunjukkan kemajuan atau kemunduran
dari semua ilmu pengetahuan.
Pada umumnya, bangsa-bangsa yang maju dan berkebudayaan mempunyai hasil
karya kesusastraan dari bahasa nasionalnya. Dan hasil karya sastra yang
ditinggalkan itu akan dikenal oleh generasi yang mendatang melalui
pembelajaran sejarah kesusastraan. Demikian pula dengan hasil karya
kesusastraan Arab dapat dikenal dari sejarah kesusastraan Arab. Sehingga
dapatlah didefinisikan bahwa sejarah kesusastraan Arab ialah ilmu pengetahuan
yang mempelajari bahasa Arab yang ditinjau dari segi hasil karya sastranya, baik
dari segi puisi maupun prosanya, dari sejak timbulnya dengan segala
perkembangan menurut periodesasinya.
Ahmad al-Iskandari dan Musthafa Anani dalam al-Wasith fi al-Adab al-Arabi wa
Tarikhihi (1934:5) mengemukakan bahwa manfaat mempelajari sejarah sastra
khususnya sejarah kesusastraan Arab, antara lain:
a. Mengetahui sebab-sebab kemajuan dan kemunduran sastra, yang ditinjau ari
segi agama, sosial, maupun politik.
b. Mengetahui gaya-gaya (uslub) bahasa, cabang-cabang seninya, pemikiranpemikiran penggunanya, dan istilah-istilah yang mereka ciptakan, perbedaan
cipta rasa mereka dalam prosa dan puisi mereka, sehingga dapat memberikan
wawasan baru kepada kita setelah mengkaji ilmu ini untuk membedakan antara
bentuk-bentuk bahasa pada suatu masa dengan bentuk-bentuk bahasa pada
masa yang lain.
c. Mengenal dan mempejari tokoh-tokoh yang berpengaruh dari kalangan ahli
bahasa dan sastra pada setiap masa, serta mengetahui sesuatu yang baik dan
buruk yang terdapat dalam puisi dan prosa dalam karya-karya mereka, sehingga
kita dapat meneladani contoh-contoh yang baik dan menjauhkan diri dari
contoh-contoh yang tidak baik.
B. Periodesasi Sejarah Sastra Arab
Berbicara mengenai periodesasi kesusastraan Arab, seringkali kita dibuat
bingung dengan adanya perbedaan penulisan periodesasi yang ditulis masingmasing penulis sejarah kesusastraan Arab, baik dari segi peristilahannya
maupun dari segi waktunya.
Pada umumnya, periodesasi kesusastraan dibagi sesuai dengan perubahan
politik. Sastra dianggap sangat tergantung pada revolusi sosial atau politik suatu
negara dan permasalahan menentukan periode diberikan pada sejarawan politik
dan sosial, dan pembagian sejarah yang ditentukan oleh mereka itu biasanya
diterima
itu saja tanpa dipertanyakan lagi (Wellek, 1989:354). Penentuan mulainya atau
berakhirnya masa setiap periodesasi hanyalah perkiraan, tidak dapat ditentukan
dengan pasti, dan biasanya untuk mengetahui perubahan dalam sastra itu

biasanya akibat perubahan sosial dan politik (Jami'at, 1993:18). Di bawah ini
akan dipaparkan bentuk penulisan periodesasi yang dilakukan oleh para ahli
kesusastraan Arab, antara lain:
Hana al-Fakhuriyyah membaginya ke dalam lima periodesasi, yaitu:
1. Periode Jahiliyyah, perkembangan kesusastraan Arab pada masa ini dibagi
atas dua bagian, yaitu masa sebelum abad ke-5, dan masa sesudah abad ke-5
sampai dengan Hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke Madinah (1 H/622 M).
2. Periode Islam, perkembangan kesusastraan Arab pada masa ini berlangsung
sejak tahun 1 H/622 M hinggga 132 H/750 M, yang meliputi: masa Nabi
Muhammad SAW dan Khalifah ar-Rasyidin (1-40 H/662-661 M), dan masa Bani
Umayyah (41-132 H/661-750 M).
3. Periode Abbasiyah, perkembangan kesusastraan Arab pada masa ini
berlangsung sejak 132 H/750 M sampai 656 H/1258 M.
4. Periode kemunduran kesusastraan Arab (656-1213 H/1258-1798 M), periode
ini di mulai sejak Baghdad jatuh ke tangan Hulagu Khan, pemimpin bangsa
Mongol, pada tahun 1258 M, sampai Mesir dikuasai oleh Muhammad Ali Pasya
(1220 H/1805 M).
5. Periode kebangkitan kembali kesusastraan Arab; periode kebangkitan ini
dimulai dari masa pemerintahan Ali Pasya (1220 H/1805 M) hingga masa
sekarang.
Adapun Muhammad Sa'id dan Ahmad Kahil (1953: 5-6) membagi periodesasi
kesusastraan Arab ke dalam enama periode sebagai berikut:
1. Periode Jahiliyyah, dimulai sekitar satu tengah abad sebelum kedatangan
Islam sekitar dan berakhir sampai kedatangan Islam.
2. Periode permulaan Islam (shadrul Islam); dimulai sejak kedatangan Islam dan
berakhir sampai kejatuhan Daulah Umayyah tahun 132 H.
3. Periode Abbasiyah I, dimulai sejak berdirinya Daulah Abbasiyah tahun 132 H
dan berakhir sampai banyak berdirinya daulah-daulah atau negara-negara
bagian pada tahun 334 H.
4. Periode Abbasiyah II, dimulai sejak berdirinya daulah-daulah dalam
pemerintahan Abbasiyah dan berakhir dengan jatuhnya Baghdad di tangan
bangsa Tartar atau Mongol pada tahun 656 H.
5. Periode Turki, dimulai sejak jatuhnya Baghdad di tangan bangsa Mongol dan
berakhir dengan datangnya kebangkitan modern sekitar tahun 1230 H.
6. Periode Modern, dimulai sejak datangnya kebangkitan modern sampai
sekarang.
Sedangkan Ahmad Al-Iskandi dan Mustafa Anani dalam Al-Wasit Al-Adab AlArobiyah Wa Tarikhihi (1916:10) membagi periodesasi kesusastraan Arab ke
dalam lima periode, yaitu:
1. Periode Jahiliyah, periode ini berakhir dengan datangnya agama Islam, dan
rentang waktunya sekitar 150 tahun.
2. Periode permulaan Islam atau shadrul Islam, di dalamnya termasuk juga
periode Bani Umayyah, yakni dimulai dengan datangnya Islam dan berakhir
dengan berdirinya Daulah Bani Abbas pada tahun 132 H.
3. Periode Bani Abbas, dimulai dengan berdirinya dinasti mereka dan berakhir
dengan jatuhnya Bagdad di tangan bangsa Tartar pada tahun 656 H.
4. Periode dinasti-dinasti yang berada di bawah kekuasaan orang-orang Turki, di
mulai dengan jatuhnya Baghdad dan berakhir pada permulaan masa Arab
modern.
5. Periode Modern, dimulai pada awal abad ke-19 Masehi dan berlangsung
sampai sekarang ini.

Adanya Perbedaan istilah dalam penulisan periodesasi kesusastraan Arab seperti


dua contoh di atas, merupakan suatu hal yang wajar, seperti yang dikemukakan
Teeuw (1988: 311-317) bahwa perbedaan itu disebabkan empat pendekatan
utama, yaitu:
1. Mengacu pada perkembangan sejarah umum, politik atau budaya.
2. Mengacu pada karya atau tokoh agung atau gabungan dari kedua hal
tersebut.
3. Mengacu pada motif atau tema yang terdapat dalam karya sepanjang zaman.
4. Mengacu pada asal-usul karya sastra.

BAB IV
SASTRA ARAB JAHILIYYAH
A. Kedudukan Penyair Dalam Masyarakat Arab Jahiliyah
Bangsa Arab sangat gemar menggubah syair, mereka memandang bahwa setiap
penyair mempunyai kedudukan yang sangat penting dan terhormat di dalam
masyarakat, manakala ia telah mampu mengangkat derajat kaumnya atau
kabilahnya melalui gubahan syair-syairnya. Mengingat perannya yang begitu
penting dalam suatu tatanan dalam masyarakat jahili, maka para penyair
mempunyai banyak fungsi, diantaranya :
1. Sebagai pemberi semangat, dorongan dan motifasi kepada pasukan yang
akan berperang, sehingga diharapkan dorongan dan motifasi yang dikobarkan
penyair lewat syairnya mampu mempengaruhi jiwa dan semangat pasukan yang
berperang diharapkan nantinya akan mendapatkan kemenangan yang gemilang.
2. Sebagai Pemberi dukungan terhadap kontestan yang akan dipilih atau
diangkat sebagai ketua adat, atau kepala kabilah. Bila seorang penyair telah
mempunyai status social yang tinggi, syair-syairnya popular dan terkenal, maka
penyair ini akan lebih mudah mempengaruhi jiwa sipemilih sehingga diharapkan
akan mendapat perolehan suara yang terbanyak bagi kontestan yang
diunggulkan penyair itu.
3. Seringkali terjadi antar kabilah itu berperang, dan selalu memakan waktu
yang cukup lama, korban yang tidak sedikit, kerugian-kerugian lainnya yang
telah mereka terima, kemudian, acapkali sering mengalami kebuntuan dalam
mencari jalan penyelesaiannya. Maka dengan kefasihan bahasa syairnya,
seorang penyair dalam melantunkan syairnya,, ia mampu mempengaruhi kubukubu yang sedang bertikai. Berbagai pergolakan dalam konflik dapat
dilumpuhkan dengan cara memberikan gambaran -gambaran kenyamanan jiwa
yang damai, nasihat-nasihat, memberikan penjelasan-penjelasan dari suatu
kerugian yang diakibatkan peperangan dan lain sebagainya.
Bangsa Arab adalah bangsa yang amat senang terhadap puisi, karena itu mereka
memandang para penyair sebagai orang yang memiliki kedudukan penting
dalam masyarakat. Hal ini dapat dimaklumi karena seorang penyair dapat
membela kehormatan kaum, keluarga, atau bangsanya. Bila di dalam sebuah
kaum atau bangsa mereka menemukan seorang pemuda yang pandai dalam
mencipta dan menggubah puisi, maka pemuda tersebut akan dimuliakan oleh
seluruh anggota kabilah dari suku itu. Karena mereka beranggapan bahwa
pemuda itu pasti akan menjadi tunas yang akan membela kaum atau bangsa
dari segala serangan dan ejekan dari penyair kaum atau bangsa lain.

Bagi bangsa Arab, para penyair memiliki kedudukan yang tinggi, keputusan yang
dikeluarkan oleh seorang penyair akan selalu dilaksanakan. Bagi mereka seorang
penyair merupakan penyambung lidah yang dapat mengungkapkan kebanggaan
dan kemuliaan mereka. Ibnu Rasyik meriwayatkan dalam kitabnya yang berjudul
Umdah, ia mengatakan:
"Biasanya setiap kabilah bangsa Arab yang mendapatkan seorang pemuda yang
dapat merangkum sebuah gubahan puisi, maka anggota kabilah itu berdatangan
untuk memberi ucapan selamat, dan mereka menyediakan berbagai aneka
macam makanan. Sementara kaum wanita pun ikut berdatangan sambil
memainkan rebana seperti yang biasa mereka mainkan dalam sebuah acara
perkawinan. Kaum laki-laki, baik yang tua maupun yang muda, sama-sama
bergembira. Karena mereka beranggapan bahwa penyair adalah seorang
pembela kabilah dari serangan dan ejekan penyair dari kabilah lain, dan penyair
itu pasti akan menjaga nama baik kabilahnya sendiri, yang akan mengabadikan
kebanggaan-kebanggaan mereka dan yang akan menyebarluakan kebaikankebaikan mereka. Kebiasaan tidak memberikan sambutan hangat, kecuali
kepada anak bayi yang baru dilahirkan ibunya, kepada seorang penyair, dan
kepada kuda kesayangan"
Bangsa Arab telah menganggap betapa pentingnya peranan seorang penyair.
Sehingga seringkali mereka mengiming-imingi seorang penyair yang dapat
memberikan semangat dalam perjuangan dengan memberikan sokongan suara
bagi seseorang agar dapat diangkat sebagai kepala kabilah. Adapula yang
menggunakan mereka sebagai perantara untuk mendamaikan pertikaian yang
terjadi antara kabilah, bahkan ada juga yang menggunakan penyair untuk
memintakan maaf dari seseorang penguasa.
Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa di kota Mekkah ada seorang miskin yang
bernama Muhallik, orang itu mempunyai tiga orang puteri yang belum
mempunyai jodoh dikarenakan kemiskinan mereka. Pada suatu waktu, keluarga
ini mendengar kedatangan al-A'sya seorang penyair Arab Jahiliyyah yang
terkenal ke kota Mekkah, maka isterinya meminta kepada suaminya untuk
mengundang al-A'sya ke rumahnya. Setelah al-A'sya datang ke rumah miskin itu,
maka isterinya memotong seekor unta untuk menjamu al-A'sya. Penyair ini
sangat heran dengan kedermawanan orang miskin ini. Ketika ia keluar dari
rumah itu, ia langsung pergi ke tempat orang-orang yang sedang berkumpul
untuk mengabadikan kedermawanan Muhallik dalam suatu bait puisinya yang
sangat indah. Setelah ia membacakan puisi itu, sehingga dalam waktu yang
tidak beberapa lama banyak orang yang datang meminang ketiga puteri
Muhallik. Adapun bait puisi yang diucapkan al-A'sya seperti dibawah ini:
#


#
#

#

#

#


"Aku tidak dapat tidur di malam hari, bukan karena sakit ataupun cinta"
"Sungguh banyak mata yang melihat api yang menyala di atas bukit itu"
"Api itu dinyalakan untuk menghangatkan tubuh kedua orang yang sedang
kedinginan di malam itu, dan di tempat itulah Muhallik dan kedermawanannya
sedang bermalam"
"Di malam yang gelap itu keduanya saling berjanji untuk tetap bersatu"

"Kamu lihat kedermawanan di wajahnya seperti pedang yang berkilauan"


"Kedua tangannya selalu benar, yang satu untuk membinasakan sedang yang
lain untuk berderma"
Dalam riwayat lain diceritakan. ketika al-A'sya mendengar diutusnya Nabi
Muhammad Saw dan berita mengenai kedermawanannya, maka penyair ini
sengaja datang ke kota Mekkah dengan membawa suatu kasidah yang telah
dipersiapkan untuk memuji Nabi Muhammad Saw. Namun, sayang sekali maksud
baik ini dapat digagalkan oleh pemuka bangsa Quraisy. Ketika Abu Sufyan
mendengar kedatangan al-A'sya, Abu Sufyan langsung berkata kepada para
pemuka Quraisy:
, ,

...
"Demi Tuhan, bila al-A'sya bertemu dengan Muhammad dan memujinya, maka
pasti dia akan mempengaruhi bangsa Arab untuk mengikuti Muhammad. Karena
itu, sebelum itu terjadi, kumpulkanlah seratus ekor unta dan berikan kepadanya
agar tidak pergi menemui Muhammad".
Kemudian, saran Abu Sufyan ini, dituruti oleh bangsa Quraisy, yang akhirnya alA'sya mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan beliau. Adapun puisi yang
telah dipersiapkan olehnya untuk memuji Nabi Muhammad Saw. seperti dibawah
ini:

#
#
#

#
"Demi Allah, onta ini tidak akan aku kasihani dari keletihannya, dan dari sakit
kakinya sebelum dapat bertemu dengan Muhammad"
"Nanti jika kau telah sampai ke pintu Ibnu Hasyim, kau akan dapat beristirahat
dan akan mendapatkan pemberiannya yang berlimpah-limpah"
"Seorang Nabi yang dapat mengetahui sesuatu yang tak dapat dilihat oleh
mereka, dan namanya telah tersiar di seluruh negeri dan di daerah Nejed"
"Pemberiannya tidak akan terputus selamanya, dan pemberiaannya sekarang
tidak akan mencegah pemberiannya di hari esok"
Kisah-kisah seperti yang disebutkan di atas, merupakan sedikit dari banyaknya
kisah yang dapat memberikan keterangan kepada kita mengenai betapa besar
peranan seorang penyair dalam kehidupan masyarakat Arab. Peranan penyair ini
tidak saja berhenti pada masa Jahiliyyah. Bahkan dalam penyiaran modern ini,
penyair memiliki peranan yang cukup besar. Karena orang-orang Quraisy dalam
melancarkan serangan mereka terhadap Islam tidak terbatas hanya dengan
senjata (peperangan). Bahkan mereka juga menggunakan lidah penyair untuk
menyerang dan menjelek-jelekan Islam. Untuk menghadapi hal ini, Nabi
Muhammad Saw juga mempersiapkan penyair Islam untuk menghadapi ejekan
orang kafir. Nabi Saw sangat menyukai puisi para penyair Islam, seperti Abdullah
bin Ruwaihah, Ka'ab bin Malik, dan Hassan bin Tsabit. Sebagaimana diriwayatkan
oleh Imam al-Khattib dan Ibnu Asakir, bahwa Nabi SAW pernah memerintahkan
Hassan bin Tsabit untuk membalas ejekan kaum musyrikin Quraisy;

"Balaslah ejekan kaum musyrikin itu, semoga Jibril selalu menyertaimu. Jika para
sahabatku yang lain berjuang dengan senjata, maka berjuanglah kamu dengan
lisanmu (kepandaian syairmu)".
Dari gambaran di atas dapat kita simpulkan bahwa peranan penyair dalam
kehidupan bangsa Arab sangat tinggi, sebab bangsa Arab merupakan bangsa
yang sangat gemar terhadap puisi.
Kedudukan puisi dan penyairnya sangat tinggi di mata orang Arab Jahiliyyah.
Sebuah karya puisi dapat mempengaruhi, bahkan mengubah sikap atau posisi
seseorang atau sekelompok orang terhadap sikap atau posisi orang dan
kelompok lainnya. Para penyair, dengan demikian juga berfungsi sebagai agen
perubahan sosial dan perubahan kebudayaan. Kedudukan atau pengaruh
sedemikian ini hanya dapat ditandingi oleh para politisi tingkat tinggi di zaman
modern ini. Kekuatan penyair bersumber dari kekuatan isi karyanya. Kedudukan
puisi Arab Jahiliyyah juga diakui, atau setidak-tidaknya diberi kesaksian, oleh
Islam. Salah satu surat dalam al-Quran bahkan bernama asy-Syu'ara (para
penyair).
Puisi tidak jarang menjadi rujukan umum dalam berbagai kesempatan dan
penyairnya sering dijadikan sebagai ensiklopedi berjalan. Untuk menafsirkan
kata-kata konotatif (kalimat musytarak) dalam al-Quran atau hadits Nabi Saw,
para ulama sering menggunakan kata-kata yang terdapat dalam puisi sebagai
penguat atau perbandingan dalam mengartikan kata-kata konotatif itu.
B. Perhatian Masyarakat Jahiliyyah terhadap Sastra Bahasa
Kehidupan masyarakat Arab pra-Islam atau masyarakat zaman Jahiliyyah dapat
dilihat dalam karya sastra yang merupakan produk zaman itu, karena sastra
Arab Jahiliyyah adalah cerminan langsung bagi keseluruhan kehidupan bangsa
Arab zaman Jahiliyyah tersebut, dari hal-hal yang bersifat pribadi sampai
persoalan masyarakat umum. Dalam wacana kesusastraan Arab ini tergambar
jelas kehidupan "kemah", alam sekitar, masyarakat, budaya, dan peradaban,
baik yang masih murni maupun yang telah dipengaruhi oleh bangsa asing,
seperti Persia, Yunani, India, dan Romawi.
Sebenarnya sastra Arab Jahiliyyah berakar jauh sekali, bahkan pada masa-masa
ribuan tahun sebelum Islam muncul. Akan tetapi, dalam catatan sejarah
kesusastraan Arab, sastra Jahiliyyah dikenal sejak kira-kira satu abad menjelang
Islam lahir sampai tahun pertama Hijriah. Hanna al-Fakhuri, seorang kritikus dan
sastrawati dari Libanon, mengatakan bahwa sastra Jahiliyyah baru mulai
(dianggap) ada pada akhir abad ke-5 dan mencapai puncaknya pada paruh
pertama abad ke-6.
Pada umumnya kesusastraan Arab Jahiliyyah mendeskripsikan keberadaan
kemah[1] , hewan sebagai kendaraan tunggangan, kehidupan mewah para
bangsawan agar dengan begitu para pujangga mendapatkan imbalan materi dan
pujian tertentu, alam sekitar, keberanian seseorang atau sekelompok kabilah,
atau kecantikan seorang wanita pujaan. Hal lain yang menjadi tujuan atau
kecenderungan sastra Arab Jahiliyyah adalah ritsa' (ratapan), ode (pujian), satire
(serangan terhadap kabilah tertentu), fakhr (kebanggaan kelompok tertentu),
anggur sebagai lambang eksentrik para sastrawan atau untuk kebanggaan
memiliki suasana trance (keadaan tak sadarkan diri). Akan tetapi, deskripsi
dalam sastra tersebut senantiasa diselipi dengan nasihat atau filsafat hidup
tertentu.
Genre sastra Arab Jahiliyyah yang paling populer adalah jenis Syi'r/syair di

samping sedikit amtsal (semacam pepatah atau kata-kata mutiara), dan pidato
pendek yang disampaikan oleh para pujangga yang disebut sebagai prosa liris.
Dan semua itu dihapal di luar kepala secara turun-temurun.
Dalam sastra Jahiliyyah, terdapat perbedaan antara Syi'r dan prosa.
Dibandingkan dengan jenis sastra Syi'r, sastra prosa Jahiliyyah tercatat dalam
sejarah sastra lebih terbelakang. Hal itu disebabkan karena sastra prosa lebih
membutuhkan kepandaian menulis atau pentadwinan (pengumpulan),
sementara keterampilan menulis baru dikuasai oleh orang Arab pada masa-masa
belakangan setelah Islam lahir. Dan hal ini tidak terjadi pada Syi'r/puisi yang
telah "dicatat" dalam ingatan para ruwat, pencerita, atau "pencatat benak",
tanpa harus mencatatnya dalam pengertian yang sebenarnya. Di samping itu,
Syi'r merupakan bahasa wujdan, emosi, dan imajinasi yang sifatnya lebih
personal, sedangkan prosa lebih merupakan bahasa intelek, dan juga prosa lebih
cenderung ke hal-hal yang bersifat kolektif. Dengan kata lain, sastra Syi'r lebih
berdimensi psikologis, sementara sastra prosa lebih bersifat sosiologis.
Para ruwat, pencerita, merupakan para penghapal Syi'r dan silsilah para tokoh
dari setiap kabilah Arab. Dengan begitu kelangsungan transmisi sastra Syi'r itu
bisa terjaga dari generasi ke generasi. Diantara para pencerita yang dipandang
memiliki hapalan paling kuat dari suku Quraisy pada masa Jahiliyyah adalah
Mukhrimah bin Naufal dan Khuwaitib bin Abdul Uzza.
Menurut dugaan para sejarawan sastra Arab lama, hanya sedikit Syi'rArab
Jahiliyyah itu yang dapat direkam sejarah. Karya yang tidak tertulis dan
kemudian hilang jauh lebih banyak. Hal itu disebabkan bahwa sebagian tersebut
tidak sempat dikenal kemudian dihafal, sementara yang telah dihafal oleh
sastrawan lain juga hilang bersamaan dengan meninggalnya mereka.
Bentuk semenanjung Arab memanjang tidak sama ukurannya. Sebelah utara
berbatasan dengan Palestina dan dataran Syam, sebelah timur berbatasan
dengan dataran Irak dan teluk Persia, sebelah selatan berbatasan dengan lautan
Hindia, dan sebelah barat berbatasan dengan Laut Merah. Jika ditinjau dari segi
letak geografisnya Jazirah Arab memang sangat strategis, karena dibatasi oleh
tiga laut dari tiga jurusan, ditambah dengan ketandusan Jazirah Arab itu sendiri
sehingga kedua faktor inilah yang dapat melindungi jazirah itu dari serangan
pihak luar.
Apabila kita mengikuti keadaan gambaran Jazirah Arab, akan kita dapatkan
bahwa dataran ini sangat mengerikan sekali. Karena dataran yang luas itu tidak
ada sumber mata air yang cukup. Curah hujan yang turun boleh dikatakan hanya
sedikit sekali, hampir seluruh tanahnya diliputi gunung batu dan pasir yang
membentang luas. Di tambah lagi dengan suhu udara yang amat panas,
sehingga tanah yang luas itu sukar untuk ditumbuhi oleh tanaman, kecuali
daerah-daerah seprti Yaman, Thaif, dan Madinah. Oleh karena itu, tidak heran
apabila tanah Arab boleh dikatakan tidak pernah di datangi oleh penjajah asing,
karena mereka segan untuk tinggal di daerah yang amat mengerikan itu.
Keadaan Jazirah Arab yang demikian itu, menjadikan bangsa Arab mempunyai
watak dan rabiat yang keras dan tidak pernah takut kepada siapa pun , kecuali
kepada kepala suku mereka sendiri. Dari sini, kita ketahui bahwa mereka tidak
pernah bersatu dengan suku lain kecuali bila terjadi tali persahabatan.
Kesenangan mereka hanya terbatas untuk kepentingan suku mereka saja.
Seorang kepala suku akan bertindak seperti raja yang akan bertanggung jawab
hanya kepada anak buahnya saja.
Sumber kehidupan bangsa Arab adalah berdagang, karena tanah mereka sukar
untuk ditanami. Walaupun demikian, ada juga beberapa daerah yang sumber
kehidupannya dari bercocok tanam, seperti daerah Yaman, karena daerah ini
terletak dekat katulistiwa. Selain itu, ada juga daerah yang sangat subur seperti
Irak, karena dialiri oleh dua sungai besar yaitu sungai Furat dan Tigris. Selain

kedua daerah tersebut, masih ada daerah lain seperti Thaif dan Madinah yang
kehidupannya bercocok tanam, namun hasil yang diperoleh dapat dikatakan
masih sangat terbatas.
Pada umumnya, telah menjadi kebiasaan bangsa Arab untuk mengadakan
perjalanan perdagangan antar kota-kota besar. Bangsa Arab mengadakan
perjalanan perdagangan dua kali setiap tahun, yaitu ke Yaman pada musim
dingin dan ke Syam pada musim panas. Dalam perjalanan itu, mereka akan
singgah dahulu di kota Mekkah baik untuk melakukan ibadah Haji maupun untuk
melengkapi perbekalan dalam perjalanan.
Dan telah menjadi kebiasaan mereka untuk mengadakan pasaran bersama di
kota Mekkah setiap musim haji. Oleh karena itu, di tiga tempat seperti Yaman,
Syam, dan Mekkah timbul pusat peradaban bangsa Arab saat itu.
Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa bangsa Arab memiliki watak dan
tabiat yang keras. Akan tetapi, perlu kita ketahui bahwa bangsa Arab juga
memiliki watak dan tabiat yang terpuji, seperti berani dalam membela yang hak
dan benar, teguh pada janji dan bersikap amanah, selalu memuliakan tamu yang
berkunjung ke rumah, mereka sangat menghormati kaum wanita, karena itu
mereka sering memilih nama yang baik untuk panggilan kaum wanita seperti
Lu'lu' (permata), Wardah (mawar), Suroyah (nama bintang), dan lain-lain. Melalui
hal yang demikian, kita akan mendapatkan berbagai macam sebutan dan
sanjungan terhadapa wanita dalam syair mereka. Dan yang paling menonjol
sekali, mereka sangat gemar menunggang kuda dalam medan peperangan. Oleh
karena itu, bangsa Arab menyenangi kuda yang berasal dari keturunan yang
baik, sehingga tidak heran bila kita menemukan pada beberapa bait syair Arab
yang memuji kuda kesayangannya.
Pada saat itu bangsa Arab masih belum mengenal ilmu pengetahuan dengan
sempurna, karena kebanyakan dari mereka tidak mengenal baca dan tulis. Oleh
karena itu, nanti akan kita dapatkan bahwa mereka lebih menyukai Syi'r
daripada prosa, karena Syi'r lebih mudah dihafal.
Di samping itu, bangsa Arab juga mengerti ilmu perbintangan. Karena mereka
hidup di alam terbuka, dan sering menggunakan bintang sebagai pedoman
dalam perjalanan untuk menentukan arah. Dan ditambah lagi bangsa Arab
banyak mengenal jejak telapak kaki, karena pengetahuan semacam itu sangat
dibutuhkan untuk mengejar musuh mereka. Pada dasarnya berbagai macam ilmu
pengetahuan yang mereka miliki itu tidak bersumber dari kitab atau buku
pegangan, melainkan dari pengalaman sehari-hari.
Telah menjadi ketetapan kodrat, bahwa setiap bangsa mempunyai kelebihan
tersendiri. Bahwa jadi bahwa kelebihan yang dimiliki oleh suatu bangsa tidak
akan dimiliki oleh bangsa lain. Dalam perkembangan sejarah umat manusia telah
disebutkan bahwa bangsa Yunani kuno mempunyai kelebihan dalam berpikir dan
berfilsafat, sehingga bangsa tersebut dapat melahirkan beberapa filosof yang
amat terkenal seperti Plato, Aristoteles, Socrates, dan lain-lain. Jasa baik yang
mereka berikan dalam bidang filsafat tidak akan dilupakan oleh umat manusia
hingga akhir zaman.
Selain bangsa Yunani masih ada bangsa lain yang juga mempunyai kontribusi
besar dalam peradaban dunia. Sejarah peradaban telah mencatat bahwa bangsa
India, tiongkok, Mesir kuno, dan bangsa Arab, keseluruhan bangsa tersebut telah
mengenal peradaban tinggi sebelum bangsa barat maju.
Keistimewaan bangsa Arab, mereka mempunyai perhatian yang besar terhadap
bahasa dan keindahan sastranya, karena mereka mempunyai perasaan yang
halus dan ketajaman penilaian terhadap sesuatu. Dua sifat itulah yang menjadi
faktor utama bagi mereka untuk mempunyai kelebihan dan kemajuan dalam
bahasa. Karena keindahan bahasa bersandarkan pada perasaan halus dan daya
khayal yang tinggi (imajinasi), maka dengan kedua faktor inilah bangsa Arab

dapat mengeluarkan segala sesuatu yang bergejolak dalam jiwa mereka dalam
bentuk syair-syair yang indah.
Di sini, perlu disebutkan mengenai faktor-faktor yang mendorong bangsa Arab
Jahiliyyah lebih cenderung pada bahasa dan keindahannya, antara lain:
1. Bahasa digunakan sebagai alat komunikasi diantara sesama mereka untuk
menggambarkan dan menceritakan perjalanan mereka dalam mengarungi
padang pasir, dan juga digunakan untuk menceritakan mengenai keindahan
binatang, maupun menggambarkan ketangkasan kuda, dan banyaknya hasil
rampasan perang yang mereka menangkan.
2. Bahasa digunakan untuk mengobarkan semangat perjuangan, menghasut api
pertikaian sesama mereka, seperti mengobarkan rasa balas dendam dan
menggambarkan kepahlawanan serta kemenangan yang diperolehnya. Dan
untuk itu semua mereka menggunakan syair sebagai sarananya.
3. Bahasa digunakan untuk menerangkan segala kejadian penting dan nasihat
yang dibutuhkan oleh anak buahnya, seperti memberikan cerita mengenai
keagungan nenek moyang mereka.
Selain faktor-faktor di atas, ada juga hal yang meningkatkan perhatian bangsa
Arab Jahiliyyah terhadap bahasanya sendiri. Misalnya mengadakan perlombaan
deklamasi yang diadakan setiap tahun di kota Mekkah, dan diikuti oleh semua
bangsa Arab yang datang di Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji, yang
sebelumnya mereka akan mengadakan pasaran bersama. Di dalam suatu
kesempatan,mereka juga mengadakan perlombaan bersyair, dan juka dalam
perlombaan itu ada seorang penyair yang menang, maka bait syairnya akan
ditulis dengan tinta emas dan digantungkan di dinding Ka'bah agar bait syair itu
dapat dikenal oleh setiap orang yang berthawaf.
Syair yang telah dihafal oleh seseorang akan diajarkan kepada anak dan
kaumnya, kemudian diteruskan sampai turun-temurun sehingga syair itu akan
dihafal oleh beberapa generasi mendatang.
Demikianlah seterusnya perkembangan syair dari sejak zaman jahiliyah sampai
masa sekarang. Gambaran di atas menunjukkan kepada kita akan besarnya
perhatian bangsa Arab terhadap bahasanya, dan tidak terdapat pada bangsa
lain, sehinggal itulah keistimewaan bangsa dan bahasa Arab.
Bahasa dan kandungan Syi'r Arab Jahiliyyah sangat sederhana, padat, jujur, dan
lugas. Namun demikian, emosi dan rasa bahasa serta nilai sastranya tetap
tinggi, dikarenakan imajinasi dan simbol yang dipakai sangat baik dan mengenai
sasaran. Meskipun demikian, ada beberapa Syi'r Arab Jahiliyyah yang sangat
remang-remang atau sangat imajiner dan simbolis. Syi'r seperti ini digubah
dengan sangat padat dan sering menggunakan simbol yang samar sehingga sulit
dicerna oleh kalangan umum, sehingga yang mampu mengapresiasikan Syi'r
imajiner adalah kalangan tertentu yang memiliki pengetahuan sejarah dan latar
belakang sang penyair. Dari sudut gaya, Syi'r Arab Jahiliyyah sangat
mementingkan irama, ritme, rima, musik atau lagu, serta sajak (dikenal dengan
nama qafiyah). Tetapi semua ini dilakukan secara wajar, bukan dengan memaksa
mencari kata-kata hanya untuk kepentingan ritme dan sajak.
C. Faktor-Faktor Yang Mendorong Perkembangan Sastra Jahiliyah
Kondisi geografis dan etnis masyarakat Arab, menjadi faktor yang cukup
dominan bagi perkembangan sastra pada masa awal sejarah sastra Arab yaitu
pada masa jahiliyah. Menurut Juzif al-Hasyim (1968: 23) dalam bukunya al-Mufid,
Ada banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan sastra, yaitu: Pertama
adalah iklim dan tabiat alam. Syi'r jahily terpengaruh begitu kuat dengan alam
padang pasir dan kehidupan kaum badui, kata-katanya keras menggambarkan
kehidupan yang keras, kesunyian, kerinduan. Uslubnya mirip-mirip antara

penyair satu dengan yang lain yang merupakan refleksi dari pemandangan
gurun hampir sama, imajinasi penuh dengan kesederhanaan. Kedua adalah ciri
khas etnik, bangsa Arab menjadi bangsa yang lahir untuk memuja dan memuji
sastra. Tidak semua bangsa mencintai sastra, seperti di Indonesia suku-suku
yang memiliki sense sastra yang kuat seperti suku Minang dan mayoritas orang
Melayu yang lain. Ketiga peperangan, dan keempat adalah faktor kemakmuran
dan kemajuan, kelima agama, keenam ilmu pengetahuan, ketujuh adalah politik,
kedelapan adalah interaksi dengan berbagai bangsa dan budaya.
Selain faktor-faktor yang telah penulis sebutkan di atas, untuk perkembangan
sastra zaman jahily, ada dua faktor lain yang cukup dominan yang
mempengaruhi perkembangan sastranya, yaitu pasar sastra dan ayyam al-Arab.
1. Pasar (al-Aswaq)
Menurut Khalil Abdul Karim (2002: 290) ada dua macam pasar jazirah Arab, yaitu
pasar umum dan pasar khusus atau lokal (Mahalliah), atau pasar luar dan pasar
dalam.
Ukaz adalah contoh dari pasar dalam pasar yang paling terkenal. Pasar ini
dimulai sejak tanggal 1 sampai tanggal 20 Dzul Qa'dah. Kemudian pasar
majannah, yang dimulai sejak tanggal 20 sampai dengan tanggal 30 Dzul
Qa'dah, sedangkan pasar Dzul Majaz dimulai pada awal bulan Dzul Qa'dah
sampai dengan tanggal 8, saat hari tarwiyah, dimana sejak itu ibadah haji besar
dimulai. Kemudian pasar Khaibar yang dilaksanakan setelah musim haji sampai
pada akhir bulan Muharram. Pasar Ukaz terletak di sebelah tenggara kota Mekah,
30 mil dari kota Mekah dan 10 mil dari Thaif. Pasar ini paling terkenal dan
menjadi tempat berkumpul bagi orang-orang Quraisy, Hawazin, Ghatfan,
Khuza'ah, dan 'Adhal". Al-Idrisi menyebut pasar Ukaz sebagai pasar umum.
Pasar Dzul Majaz dilaksanakan oleh para saudagar sejak awal bulan Dzul Hijjah
sampai pada hari tarwiyah; pasar Majannah dilakukan oleh para saudagar sejak
tanggal 20 sampai pada penghujung bulan Dzul Hijjah, yaitu setelah pasar Ukaz
berakhir. Ia terletak di dekat kota Mekah. Sebagaimana telah penulis paparkan
bahwa orang-orang Quraisy menghubungkan pasar-pasar tersebut dengan
musim haji besar, hal ini karena sebagian besar pasar itu (Ukaz dan Majannah)
berlangsung dekat dengan musim haji. Pasar tersebut merupakan suatu
keistimewaan yang hanya dapat dinikmati oleh suku Quraisy dan hanya
dilakukan di Mekah. Karena itu, musim haji menjadi musim besar bagi para
saudagar, terutama di Hijaz. Oleh sebab itu, layak bagi penulis untuk memahami
bahwa keistimewaan ini merupakan hasil perenungan para saudagar Quraisy,
bukan datang begitu saja. Karena dalam sehari-hari, mereka mengedarkan
barang dagangannya.
Kemudian mereka melakukan aktivitas jual beli dan kembali dengan membawa
keuntungan yang banyak. Untuk menyelamatkan musim ini, orang Quraisy
dengan sekuat kemampuannya menjadikan hari-hari itu untuk melindungi para
pendatang dan memberikan bantuan yang pantas bagi mereka. Jadi orang
Quraisy itulah yang memperluasnya menjadi pasar-pasar di musim haji besar
dan memberikan perlindungan serta bantuan kepada para pendatang. Oleh
karena itu, pasar-pasar tersebut dapat mendatangkan keuntungan yang besar
dan penghasilan yang mapan bagi para tokoh Mekah dan Thaif, sebab jual beli
merupakan penopang kekayaan bagi orang Quraisy khususnya. Berbeda dengan
suku-suku lain yang menggantungkan kekayaannya pada hasil penyerbuan dan
peperangan serta beberapa harta rampasan yang lain. Ats-Tsa'alabi menjelaskan
bahwa sebab-sebab penerimaan orang Quraisy terhadap mata pencaharian
berdagang adalah karena mereka memegang teguh agama, sehingga mereka
menjauhi dan membenci peperangan serta membenci tindakan menghalalkan
segala kekayaan. Ketika meninggalkan cara-cara perampokan maka mata

pencaharian yang ada hanyalah berdagang (Karim, 2002: 290).


Haji adalah musim terbesar yang dapat mendatangkan keuntungan bagi orang
Quraisy. Menurut Hamdan Abdul Majid al-Kubaisi, sebagian pasar-pasar tersebut
ada yang mungkin dapat dikategorikan sebagai pasar luar. Pasar itu dilakukan di
atas laut, seperti: Aden, Shan'a', dan Amman. Pasar-pasar itu tidak sulit
dijangkau oleh orang Quraisy, sebagaimana penulis jelaskan sebelumnya.
Fungsi pasar tidak sekedar memberikan keuntungan yang besar bagi para
konglomerat kota Mekah, Thaif, Yamamah, dan Yatsrib yang merupakan pusat
perkotaan di tengah-tengah Jazirah Arab. Tetapi pasar itu juga mendatangkan
keuntungan yang lain, yaitu memboyong segala kesejahteraan ke Arab. Hal itu
karena barang dagangan yang dibawa oleh rombongan haji dan saudagar, yang
dijual di pasar-pasar luar, khususnya di atas air dan pelabuhan, mungkin
sebagiannya dapat dikategorikan sebagai barang-barang mewah; seperti
pakaian sutera, parfum, minyak wangi, sandal mewah, surban warna-warni,
lampu warna-warni, dan pedang Hindia, yang harganya hanya dapat dijangkau
oleh orang-orang kaya yang menempati pusat-pusat peradaban, dan juga
kalangan terdidik serta para tokoh Quraisy; sesuatu yang makin menjauhkan
jarak antara orang-orang fakir dengan orang-orang yang kaya.
Pasar-pasar itu juga tidak hanya terbatas di Jazirah Arab saja. Bahkan di
beberapa pasar, bukan di Jazirah Arab melainkan di negara-negara sekitarnya,
terdapat diskusi-diskusi politik, dimana para tokoh saudagar membahas hukumhukum politik, karena sebenarnya hubungan antara politik dan perdagangan
merupakan persoalan yang ada sejak dahulu. "Kota Mekah juga mengenal
adanya diskusi politik yang tercermin dalam pasar. Ini juga mencerminkan satu
bentuk politik, dimana di sana terdapat sekelompok manusia yang mempunyai
kepentingan, ada juga muktamar-muktamar yang memutuskan banyak hal yang
memiliki hubungan dengan politik masing-masing suku dan juga hubungan antar
suku". Pasar-pasar tersebut juga mempunyai peran yang jelas dalam bidang
sosial budaya, sebagai tempat festival sastra (Karim, 2002: 294).
Secara praksis pasar-pasar itu juga menjadi peran sastra dan budaya yang
dihadiri oleh para penyair, kelas menengah dan kelas bawah. Pada waktu itu
kecintaan terhadap Syi'r dan penyair bagi seluruh masyarakat Arab hampir
menjadi sebuah naluri alamiah. Para penyair besar melantunkan qashidahqashidah dan Syi'r mu'allaqatnya untuk menentukan siapa penyair yang
menempati kelas dua, dan mendengarkan Syi'r para penyair terkenal yang lain.
Para khutaba' juga mendatangi pasar tersebut, seperti Qus ibn Sa'adah al-Iyadi
yang telah penulis sebutkan, dimana Nabi Muhammad SAW. pernah
mendengarkan khotbahnya di pasar Ukaz sebagaimana telah penulis singgung di
muka. Pada saat beliau mendatangi suku Iyad, beliau meminta kepada mereka
untuk mengulangi khotbah Qus ibn Sa'adah, maka kemudian beliau memujinya.
Mungkin lebih tepat jika pasar Ukaz dikatakan sebagai pesan sastra dan budaya
yang resmi.
Hal itu dikuatkan oleh pendapat Burhanuddin Dallau, yang mengatakan, pasar
Ukaz tidak saja merupakan tempat dan pesan perdagangan sosial, tapi juga
merupakan pesan diskusi sastra Arab secara umum, dimana para penyair dan
khutoba' berkumpul dan berlomba-lomba dalam berSyi'r dan berkhotbah. Para
sejarawan menceritakan bahwa Nabighah adz-Dzubyani dibuatkan sebuah kubah
dari kulit di pasar Ukaz. Di tempat tersebut para penyair berkumpul dan
mendendangkan Syi'rnya, diantaranya; Khansa' binti Amr ibn Syarid dan Hassan
ibn Tsabit. Ini tidak terbatas di pasar Ukaz saja, tetapi termasuk juga pasar-pasar
yang lain. Pasar-pasar tersebut telah berperan dalam memunculkan pesan sastra
dalam mempercepat proses ilmiah (obyektif) untuk menatap keadaan sosial,
ekonomi, dan budaya demi mencapai persatuan (Karim, 2002: 312).

2. Ayyam al-Arab
Salah satu fenomena sosial yang menggejala di Arab menjelang kelahiran Islam
adalah apa yang dikenal dengan sebutan "hari-hari orang Arab" (ayyam al-Arab).
Ayyam al-Arab merujuk pada permusuhan antar suku yang secara umum
muncul akibat persengketaan seputar hewan ternak, padang rumput, atau mata
air. Persengketaan itu menyebabkan seringnya terjadi perampokan dan
penyerangan, memunculkan sejumlah pahlawan lokal, para pemenang dari sukusuku yang bersengketa, serta menghasilkan perang syair yang penuh kecaman
di antara penyair yang berperan sebagai juru bicara setiap pihak yang
bersengketa. Meskipun selalu siap berperang, orang-orang Badui tidak sertamerta berani mati. Jadi, mereka bukanlah manusia haus darah seperti yang
mungkin dikesankan dari kisah-kisah yang kita baca. Meskipun demikian, Ayyam
al-Arab merupakan cara alami untuk mengendalikan jumlah populasi orang orang Badui, yang biasanya hidup dalam kondisi semi kelaparan, dan yang telah
menjadikan peperangan sebagai jati diri dan watak sosial. Berkat Ayyam al-Arab
itulah pertarungan antar suku menjadi salah satu institusi sosial keagamaan
dalam kehidupan mereka.
Rangkaian peristiwa dari masing-masing hari ini, seperti yang diriwayatkan
kepada kita, kurang lebih mengikuti pola yang sama. Pada mulanya, sengketa
hanya melibatkan segelintir orang yang menyebabkan munculnya sengketa
perbatasan dan penghinaan terhadap seseorang. Pertikaian itu kemudian
menjadi persoalan seluruh suku. Perdamaian biasanya berakhir setelah ada
campur tangan dari pihak yang netral. Suku yang menderita korban lebih sedikit
akan membayar sejumlah uang tebusan kepada suku lawannya sesuai dengan
selisih korban. Kenangan akan para pahlawan akan tetap hidup selama berabadabad kemudian (Hitti, 2005: 110).
Ayyam al- Arab menjadi media yang cukup efektif bagi pengembangan tematema Syi'r Arab. Peran penyair dalam peperangan sangat besar; sebagai
motivator atau untuk menjatuhkan lawan secara psikologis dengan Syi'r-Syi'r
hija'nya yang pedas. Syi'r-Syi'r legendaris juga banyak lahir dari medan perang
seperti Syi'r-Syi'rnya Antarah, Syanfara dan lain-lainnya.
D. Tingkatan Penyair Jahiliyah
Para ahli sejarah kesusastraan Arab (al-Zayat, 1982:45) menyatakan bahwa ada
empat tingkat para penyair pada masa jahiliyah bila dilihat dari masa hidup para
penyair tersebut, yaitu:
1. Jahiliyun; Mereka yang hidup pada masa sebelum Islam, seperti: Imru'ul Qais,
Zuhair ibn Abi Sulma.
2. Mukhadhramun; Mereka yang dikenal dengan puisinya di masa jahiliyah dan
Islam, seperti: Khansa', Hassan ibn Tsabit.
3. Islamiyyun; Mereka yang hidup di masa Islam tetapi masih memegang tradisi
Arab, dan mereka ini para penyair bani Umayyah.
4. Muwalladun; mereka yang telah rusak tradisi berbahasanya dan berusaha
memperbaikinya, mereka ini para penyair bani Abbas.
Bila ditinjau dari segi kualitas puisinya, para penyair jahiliyah terbagi ke dalam
tiga tingkatan:
1. Tingkat pertama: Imru'ul Qais, Zuhair, Nabighah
2. Tingkat kedua: al-A'sya, Labid, Tharfah.
3. Tingkat ketiga: 'Antaroh, Duraid ibn ash-Shammah, Umayyah ibn Abi ashShallat.
Beberapa ahli bahasa dan sastra sepakat dengan Broklemen (Lajnah ,1962: 64)
membagi penyair jahiliyah menjadi enam kelompok:
1. Penyair al-Badiyah: yang terbagi menjadi dua kelompok;

Penyair Sha'alik : Syanfara, Taabbata Syarran, Urwah ibn Ward


Ghair Sha'alik : Muhalhil, Harits ibn Hilzah, Amru ibn Kaltsum, Antarah.
2. Penyair al-Amir (Penyair Raja): Imru'ul Qais
3. Penyair Bilath wa at-Takassub: Tharfah ibn 'Abd, Abid ibn al-Abrash, AnNabighah adz-Dzibyani, al-A'sya al-Akbar, al-Huthai'ah.
4. Penyair Hikmah: Zuhair ibn Abi Sulma, Labid ibn Rabi'ah.
5. Penyair al-Madzahib: As-Samau'ell, 'Adi ibn Zaid, Umayyah ibn Abi ash-Shullt.
6. Penyair-penyair perempuan: al-Khansa'.
E. Karakteristik Syi'r Jahiliyyah
Pada umumnya karakteristik syi'r Jahiliyyah adalah terletak pada corak
pemikirannya yang terbatas, sesuai dengan corak kehidupan mereka yang
sangat sederhana. Hanya saja kebanyakan penyair masa ini lebih banyak
menyandarkan pada daya khayal yang ada ditambah dengan pengalaman
kehidupan mereka sehari-hari. Oleh karena itu, jika kita hendak menilai keadaan
suatu syi'r Jahiliyyah, maka kita tidak dapat terlepas dari keadaan penyair itu
sendiri.
Corak pemikiran yang sederhana ini dikarenakan mereka belum banyak
mengenal kebudayaan yang tinggi atau mendapat pengaruh dari bangsa lain.
Kehidupan mereka hanya terbatas dalam kehidupan Baduwi yang penuh dengan
dunia pengembaraan, peperangan, dan hidup bebas dari segala hukum dan
ikatan undang-undang.
Karakteristik yang paling menonjol pada syi'r Arab Jahiliyyah adalah karakter
yang mengedepankan sifat kejantanan dan kepahlawanan, menceritakan segala
macam pengalaman yang baik maupun yang buruk, menggunakan bahasa yang
indah, pemilihan kata-kata yang ringkas tetapi mengandung makna yang dalam.
F. Al-Mu'allaqat
Masyarakat Jahiliyyah sering mengadakan fastival sastra secara periodik. Ada
festival sastra mingguan, bulanan, dan tahunan. Mereka juga membuat apa yang
yang sekarang disebut dengan pasar seni. Di pasar seni ini para pujangga saling
unjuk kemampuan dalam bersastra. Di antara pasar seni yang paling bergengsi
pada zaman Jahiliyyah adalah pasar Dzu al-Majaz, yang terletak di daerah
Yanbu', dekat Sagar (kini termasuk wilayah Madinah); pasar seni Dzu al-Majinnah
di sebelah barat Mekkah, dan pasar seni Ukadz yang terletak di timur Mekkah,
antara Nakhlah dan Tha'if. Di tiga tempat ini, masyarakat Jahiliyyah
melangsungkan festival seni selasa selama 20 hari, sejak bulan Dzulqaidah.
Di pasar Ukadz para penyair berlomba mendendangkan karya-karya mereka di
depan dewan juri yang terdiri dari sejumlah pujangga yang telah memiliki
reputasi. Karya-karya puisi yang dinyatakan sebagai yang terbaik akan ditulis
dengan tinta emas di atas kain yang mewah, kemudian akan digantungkan di
dinding Ka'bah, yang kemudian dikenal dengan istilah al-Mu'allaqat (puisi-puisi
yang digantungkan pada dinding Ka'bah).
Sastra puisi Arab yang paling terkenal pada zaman Jahiliyyah adalah puisi-puisi
al-Mu'allaqat. Dinamakan al-Mu'allaqat, karena puisi-puisi tersebut digantungkan
pada dinding Ka'bah. Pada zaman Jahiliyyah, menggantungkan sesuatu pada
dinding Ka'bah bukanlah hal yang aneh, karena setiapkali ada urusan yang
penting, pasti akan digantungkan pada dinding Ka'bah. Pada masa Rasulullah
SAW, pernah terjadi konflik antara Beliau SAW dan Suku Quraisy. Suku Quraisy
sepakat untuk tidak lagi berhubungan dengan Bani Hasyim. Mereka tidak akan
kawin dan melakukan jual-beli dengan keturunan Bani Hasyim. Kesepakatan
tersebut ditulis di atas perkamen dan digantungkan pada dinding Ka'bah.
Puisi al-Mu'allaqat berbentuk qasidah (ode) panjang, dan memiliki tema
bermacam-macam, yang menggambarkan keadaan, cara, dan gaya hidup orang-

orang Arab Jahiliyyah. Selain memiliki sebutan al-Mu'allaqat, puisi-puisi yang


digantungkan tersebut juga memiliki sebutan lain, antara lain:
1. As-Sumut (Kalung), karena menurut orang-orang Arab Jahiliyyah, rangkaian
puisi-puisi yang tergantung pada dinding Ka'bah berbentuk seperti kalung yang
tergantung pada dada wanita.
2. Al-Mudzahhabaat (yang ditulis dengan tinta emas), karena puisi-puisi yang
tergantung pada dinding Ka'bah ditulis dengan menggunakan tinta yang terbuat
dari emas.
3. Al-Qasha'id al-Masyhuraat (Qasidah-qasidah yang terkenal), karena puisi-puisi
yang tergantung pada dinding Ka'bah tersebut adalah puisi-puisi terkenal yang
ada saat itu dibandingkan dengan puisi-puisi yang lainnya.
4. As-Sab'u at-Tiwal (Tujuh buah puisi yang panjang-panjang), karena puisi-puisi
yang tergantung pada dinding Ka'bah tersebut terdiri dari tujuh buah puisi dan
panjang-panjang. Nama ini diberikan oleh orang yang berpendapat bahwa puisi
yang tergantung pada dinding Ka'bah tersebut ada tujuh buah.
5. Al-Qasha'id al-Tis'u (Sembilan buah Qasidah), karena puisi-puisi yang
tergantung pada dinding Ka'bah itu terdiri dari sembilan buah puisi. Nama ini
diberikan oleh orang-orang yang berpendapat bahwa puisi-puisi yang tergantung
tersebut terdiri dari sembilan buah puisi.
6. Al-Qasha'id al-Asru (Sepuluh buah qasidah), karena puisi-puisi yang
tergantung pada dinding Ka'bah itu terdiri dari sepuluh buah puisi. Nama ini
diberikan oleh orang-orang yang berpendapat bahwa puisi-puisi yang tergantung
tersebut terdiri dari sepuluh buah puisi.
Sejarah sastra Arab mencatat sepuluh penyair al-Mu'allaqat, yaitu Umru al-Qais
bin Hujrin bin al-Harits al-Kindi, Zuhair bin Abi Sulma al-Muzani, an-Nabigah adzDzibyani, al-A'sya al-Qaisi, Lubaid bin Rabi'ah al-Amiri, Amr bin Kultsum atTaghlibi, Tharafah bin Abdul Bakri, Antarah bin Syaddad al-Absi, al-Harits bin
Hilliziah al-Bakri, dan Ummayah bin ash-Shalt.
Penyair Jahiliyyah lain yang sangat terkenal, tetapi tidak termasuk penyair alMuallaqat, adalah al-Khansa (w. 664, penyair wanita dari kabilah Mudhar yang
akhirnya memeluk Islam), al-Khutaiyah (w.679, juga berasal dari kabilah Mudhar
dan masuk Islam), Adi bin Rabi'ah (w. 531, dikenal dengan nama al-Muhalhil),
Sabit bin Aus al-Azdi (w.510, dikenal dengan nama asy-syanfari).

BAB V
SASTRA ARAB MODERN
A. Perkembangan Kesusastraan Arab Modern
Penulisan prosa berupa cerita-cerita pendek modern dalam bahasa Arab,
demikian juga novel dan drama, baru dimulai pada akhir abad lalu. Belakangan
ini bentuk puisi juga mengalami perubahan yang cukup besar.
Puisi-puisi Arab modern sudah banyak yang tidak terikat lagi pada gaya lama
yang dikenal dengan 'Ilm al-'Ard. Meskipun sebagian penyair dewasa ini senang
juga menciptakan puisi bebas, tetapi masih banyak juga yang bertahan dengan
gaya lama kendati tidak lagi terikat pada persyaratan tertentu, seperti penyair
MAHMUD ALI TAHA (w.1949). puisi-puisinya sangat halus, romantis, tetapi sangat
religius. Beberapa pengamat menganggapnya banyak terpengaruh oleh
romantisme Perancis abad ke-19, terutama Lamartine. Mungkin sudah terdapat
jarak antara penyair ini dan penyair-penyair modern semi-klasik sebelumnya,
seperti Ahmad Syauqi atau Hafidz Ibrahim (1872-1932) yang dipandang sebagai
penyair-penyair besar.
Dalam sastra Arab modern, Mesir dapat dikatakan merupakan pembuka jalan
meskipun dari para sastrawan itu banyak yang berasal dari Libanon dan Suriah.
Mereka pindah ke Mesir untuk menyalurkan bakatnya di negeri ini.
Sastrawan dan pemikir besar menjelang pertengahan abad ke-20 adalah
MUHAMMAD IQBAL (1877-1938) yang lahir di Sialkot dan wafat di Lahore,
Pakistan. Ia mengungkapkan filsafatnya dengan puisi dalam bahasa Urdu dan
Persia. Beberapa prosanya ditulis dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab. Dari
kumpulan puisinya, yang terkenal adalah Asrari Khudi di samping karya
filsafatnya, The Reconstruction of Religious Thought in Islam.
Dalam abad ke-19 kegiatan penerjemahan buku-buku ke dalam bahasa Arab
sudah mulai dirintis secara besar-besaran, yang sudah tentu sebagian besar
berupa karya-karya sastra Barat. Nama-nama mulai dari Villon sampai pada
angkatan Sartre dalam sastra Perancis, atau Marlowe sampai angkatan Auden
dalam sastra Inggris, sudah tidak asing lagi, di samping dari Eropa lainnya. Yang
menjadi pelopor dalam hal ini tentu mereka yang telah mendapatkan pendidikan
Barat sebagai akibat pembaharuan yang dilakukan oleh Muhammad Ali (17691849) dan sampai puncaknya sebagai gelombang kedua pada masa Khediwi
(Khedive) Ismail (1830-1895). Pada waktu itulah banyak karya sastra Barat,
terutama karya sastra Perancis, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab,
seperti Paul et Virginie, dongeng-dongeng La Fontain dan Victor Hugo.
Sungguhpun begitu, sastra Arab baru ini masih tetap dapat bertahan pada
tradisinya sendiri.
MUSTAFA LUTFI AL-MANFALUTI (1876-1924), sastrawan dan ulama dari al-Azhar
yang sudah amat dikenal di Indonesia, dapat digolongkan sebagai pengarang
cerita-cerita pendek bergaya semi-klasik semi-modern. Ia, yang juga banyak
menerjemahkan, sedikit banyak terpengaruh karya-karya pengarang Perancis

abad yang lalu. Dalam perkembangan selanjutnya penerjemahan tidak hanya


terbatas pada karya sastra Perancis, tetapi sudah meluas ke kawasan Eropa
lainnya, terutama Inggris, Rusia, dan Jerman dengan prinsip mengutamakan
terjemahan langsung dari bahasa asal.
Sesudah Perang Dunia I pemikiran-pemikiran intelektual di Mesir, Suriah, dan
Irak semakin terasa. Dalam kesusastraan mereka terbagi ke dalam dua kelompok
besar. Pada satu pihak pengarang-pengarang yang mempunyai latar belakang
pendidikan Barat cenderung pada sastra Perancis dan pada pihak lain lebih
cenderung pada sastra Inggris. Yang pertama diwakili oleh Muhammad Husein
Haekal (1888-1956) selain sebagai seorang sastrawan, ia juga dikenal sebagai
wartawan terkemuka dan pemikir, sedangkan yang kemudian dapat dikatakan
diwakili oleh Abbas Mahmud Al-Aqqad (1889-1973) dan Ibrahim al-Mazini (18901949).
MUHAMMAD HUSEIN HAEKAL selain besar pengaruhnya dalam sastra Arab
mutakhir, juga mempunyai tempat yang penting dalam literatur Islam setelah
serangkaian bukunya tentang studi-studi Islam terbit, terutama sekali bukunya
yang berjudul Hayh Muhammad (1936). Haekal dianggap perintis karya sastra
modern setelah novelnya. Zainab, terbit (1914). Ia juga banyak menulis kritik
sastra dan cerita pendek.
Al-Aqqad dan al-Mazini sama-sama tumbuh mula-mula sebagai penyair
pembaharuan yang melepaskan diri dari ikatan tradisi. Selain puisi-puisinya, alAqqad juga terkenal karena novel semi-autobiorafinya, Sarah. Pada tahun-tahun
belakangan ia banyak mencurahkan perhatian pada penulisan buku-buku keIslaman.
Pengarang-pengarang cerita pendek yang penting dicatat adalah MAHMUD
TAIMUR (1894-1973), pengarang dan seniman yang menjadi kebanggan Mesir.
Kritik-kritiknya sangat diperhatikan para ahli. Karya-karya Mahmud Taimur sudah
banyak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia.
Ada beberapa pengarang kontemporer yang memiliki kecenderungan
mengelolah cerita lama sebagai bingkai dengan pakaian baru untuk
memperbincangkan masalah baru. Buku-buku seperti Seribu Satu Malam dan
Kallah wa Dimnah oleh pengarang-pengarang itu diolah kembali menjadi karya
baru untuk kemudian diisi dengan pikiran-pikiran mereka, seperti yang dilakukan
oleh TAHA HUSEIN, TAUFIK AL-HAKIM, YAHYA HAQQI, dan NAGUIB MAHFUDZ.
Masing-masing negara berbahasa Arab mempunyai caranya sendiri dalam
membenahi budayanya sehingga tidak ada keseragaman mutlak. Sebagai
contoh, udara sastra di Irak mungkin lebih sering diwarnai oleh agitasi politik dan
ideologi yang mengakibatkan timbulnya pergolakan dan revolusi, seperti terjadi
pada 1958 dan 1960 sampai pada Revolusi 68 yang dikatakan membawa angin
baru kepada seni dan budaya dengan diterbitkannya kembali buku-buku sastra.
Banyak pengarang Irak yang terpengaruh oleh suasana demikian sehingga
pernah lahir yang disebut Penulis Angkatan 60, dan sebagainya. Namun
bagaimanapun ada beberapa penulis cerpen Irak yang cukup dikenal di tanah
airnya, seperti ABDUL MALIK NURI (1923), FU'AD TAKERLI (1927), dan SYAKIR
KHUSYBAK, guru besar di Universitas Baghdad. Dari yang terakhir ini beberapa
cerpennya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Sebelum itu, yang dapat dinobatkan sebagai perintis puisi modern di Irak adalah
penyair JAMIL SIDQI AZ-ZAHAWI (1863-1936), penyair tua yang bernada keras
dan dikenal sebagai pembela hak-hak perempuan di samping MA'RUF AR-RUSAFI
(1877-1945).
Masih dalam dunia kepenyairan, seorang penyair yang mati muda, yang
dianggap penyair Arab terbesar sampai waktu itu adalah BADR SYAKIR ASSAYYAB (1926-1964). Dalam hidup dan pemikiran, ia selalu gelisah. Bersama
ABDUL WAHHAB AL-BAYYATI yang kekiri-kirian, ia menanamkan bibit neo-klasik

untuk menggantikan romantisme. Aliran yang belakangan ini memang tak dapat
bertahan lebih lama di Irak.
Kalangan kritik sastra Arab memang banyak menyoroti puisi-puisi AS-SAYYAB
yang beberapa antologinya yang tebal sudah diterbitkan bersamaan dengan
terbitnya buku-buku studi sastra tentang dia dan karyanya. Puisi-puisinya sekitar
tahun 50-an dinilai banyak terpengaruh oleh penyair-penyair kelompok Apollo
dan Mahjar yang lebih romantik - barangkali termasuk juga pengaruh Shelley
dan Keats - tetapi dalam teknik ada yang membandingkannya dengan Eliot.
Puisi-puisinya memang dalam, banyak diwarnai bahasa semiotik, hidup, dan
indah, tetapi tidak mudah ditangkap pembaca biasa (awam). Di Irak, yang pada
sekitar tahun 50-an menjadi tempat persinggahan Marxisme yang cukup subur
dan memaraknya paham nasionalisme yang menggebu-gebu, as-Sayyab
membuat pembaharuan yang cukup mengejutkan ketika kemudian ia menguak
ke depan dengan membawa puisi-puisinya yang banyak menyelip ayat al-Qur'an
ke dalamnya, atau kadang rima, simbolisme, atau nada musiknya; bahkan irama,
gaya, dan kata-kata al-Qur'an yang terasa kuat sekali pantulannya. Tokoh-tokoh
dan peristiwa-peristiwa dalam al-Qur'an dan dalam tradisi Islam sering
ditimbulkannya kembali untuk menggantikan mitologi dan pengaruh lain.
Sungguhpun ia bertahan dengan nilai lama yang lalu diperbaruinya, ia juga
terbuka menyerap puisi-puisi Eropa modern.
Di suriah, ABDUS SALAM AL-UJAILI (lahir. 1918), yang juga seorang dokter medis,
aktif dalam penulisan novel dan cerita pendek. Beberapa cerpennya sudah
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Demikian juga WALID IKHLASI (lahir.
1935), seorang dosen ekonomi pertanian.
Dari Sudan, yang agak menonjol dapat disebut nama penyair dan penulis cerita
pendek, TAYYIB SALEH. Demikian juga di Maroko, tak banyak yang dapat dikenal.
ABDUL QADIR AS-SAMIHI termasuk pengarang Maroko yang cerpen-cerpennya
sering muncul dalam majalah sastra terkemuka, seperti al-Adab atau al-Majallah.
TAHAR BEN JALOUN lebih dikenal sebagai pengarang yang menulis ke dalam
bahasa Perancis.
Karya-karya sastra Aljazair modern banyak yang dipengaruhi oleh iklim perang
kemerdekaan melawan Perancis. Namun sekaligus timbul paradoks, yakni
banyak sastrawan negera di Afrika Utara ini yang menulis karya-karya sastranya
dalam bahasa Perancis dan gaya penulisannya pun tidak jauh berbeda dengan
gaya pengarang Perancis. Bahkan pemikir dan ulama Aljazair terkemuka, MALIK
BIN NABI, menulis pikiran keagamaannya dalam bahasa Perancis. Beberapa
karya sastra Aljazair ada yang sudah diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia.
Dari kawasan Teluk, termasuk Arab Saudi, belum banyak yang dapat disebutkan.
Yang dikenal dengan sebutan as-S'ir al-Mahjar atau The Emigran Poet ialah
penyair-penyair yang berimigrasi umumnya ke Amerika Selatan.
Perkembangan bahasa pun mengalami perubahan dari gaya tradisional, kalimat
yang panjang-panjang, dan berbunga-bunga akibat pengaruh pleonasme dan
penggunaan kosakata klasik berganti dengan gaya yang sejalan dengan zaman,
serba singkat, dan serba cepat. Ciri khas perkembangan bahasa dalam sastra
Arab Modern ialah digunakannya bahasa percakapan (vernacularism) dalam
dialog, sekalipun dalam pemerian tetap dengan bahasa baku. Kecenderungan
seperti ini ada pembelanya, tetapi juga banyak penentangnya. Bahkan pernah
ada kecenderungan sebagian kalangan yang ingin mengubah huruf Arab
sedemikian rupa supaya dapat juga dibaca dalam huruf Latin. Di Libanon malah
ada sekelompok sastrawan yang mencoba menggantikan huruf Arab dengan
huruf Latin. Bahkan sudah ada novel yang terbit dalam bahasa Arab dengan
menggunakan huruf Latin.

BAB VI
SASTRAWAN ARAB
1. UMAYAH BIN ABI ASH-SHALT
Nasab Keluarga Dan Kabilah
Nama aslinya adalah Abu Utsman Umayyah bin Abi ash-Shalt Abdullah ibn Abi
Rabi'ah ibn Auf Ats-Tsaqafi. Ia merupakan penyair Tsaqif dan termasuk salah
seorang pencari agama yang benar pada masa Jahiliyyah. Ia dibesarkan di Thaif.
Ayahnya adalah seorang penyair terkenal, ia banyak belajar kepada sang ayah
dalam berpuisi, untuk bekal pandangan-pandangan agama ia mencarinya
kepada Ahlul Kitab.
Umayyah bin Abi ash-Shalt merupakan salah seorang yang banyak
meriwayatkan berita-berita tentang orang-orang Yahudi, Nasrani, dan sisa-sisa
agama Ibrahim serta Ismail, berita tentang kisah penciptaan langit, bumi,
malaikat, jin, syari'at para nabi dan rasul yang masih tersimpan dalam ingatan
para sesepuh Arab Jahiliyyah. Ia selalu aktif beribadah dan mengenakan pakaian
pengembara. Dia juga merupakan seseorang yang mengharamkan Khamr
(minuman keras/arak) dan meragukan kepercayaan terhadap berhala.
Di dalam kitab-kitab yang dibacanya, ia menemukan berita gembira tentang
akan diutusnya seorang Nabi dari bangsa Arab. Mendengar berita mengenai hal
itu, ia pun berambisi menjadi seorang Nabi yang dimaksudkan tersebut. Hingga
suatu ketika, Rasulullah Saw diutus, hati Umayyah bin Abi ash-Shalt ragu dan
memendam rasa dengki dan iri, ia berusaha melawan dan mengingkari agama
yang dibawa oleh beliau Saw, meskipun dia tahu bahwa agama yang dibawa
oleh Nabi Muhammad Saw itu benar. Umayyah mengajak dan mendorong orangorang Quraisy untuk mengingkari Nabi Saw, dan meratapi orang-orang Quraisy
yang meninggal dalam perang Badar.
Nabi Muhammad Saw. melarang periwayatan puisinya yang berkenaan dengan
hal itu. Sehingga berkenaan dengan kejadiaan tersebut, turunkanlah ayat alQur'an yang berbunyi:
""
"Dan bacakanlah kepada mereka berita tentang seseorang yang telah kami
berikan kepadanya ayat-ayat kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab) kemudian
dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu (mengingkarinya), lalu dia diikuti oleh
setan-setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk golongan orangorang yang sesat" (Al-A'raf, 7: 175).
Dan apabila Nabi Saw mendengar puisi Umayah yang berkenaan dengan tauhid,
keimanan, dan pujian kepada Allah Swt, maka beliau Saw. bersabda:

"Dia beriman lidahnya, tetapi hatinya kafir"
Kebanyakan puisi-puisi pujian (madah) Umayyah bin Abi ash-Shalt pada masa
Jahiliyyah dikhususkan kepada Abdullah ibn Jud'an, salah seorang bangsawan
dan hartawan Quraisy, sehingga dia menempati kedudukan seperti kedudukan
Zuhair bin Abi Sulma pada Haram ibn Sinan. Dia menghabiskan sisa-sisa
hidupnya di Thaif sampai meninggal dalam kekafiran pada tahun ke-9 Hijrah.
Puisi-Puisinya
Umayyah bin Abi ash-Shalt temasuk salah seorang pembesar penyair pedesaan,
meskipun dikalangan mereka sedikit sekali puisi yang beredar. Hanya saja yang

membuat puisinya tercela dalam pandangan sebagaian sarjana bahasa Arab,


sehingga mereka mengugurkan untuk berargumen dengan puisinya adalah
karena dalam puisinya banyak menggunakan bahasa serapan dari bahasa Ibrani
dan Suryani. Seakan-akan mereka mengingkari kebenaran adanya ta'rib
(serapan ke dalam bahasa Arab) karena seringnya berbaur dengan orang-orang
asing, meski bahasa Arabnya jelas. Sebagaimana mereka mengingkari Adi ibn
Zaid karena dia banyak memasukkan kata-kata dari bahasa Persia ke dalam
puisinya karena dia lama bergaul dengan mereka.
Umayyah bin Abi ash-Shalt menyebut langit (as-sama`/ ) dengan
shooquuroh (). Dia menyatakan bahwa bulan memiliki kulit penutup yang
jika terjadi gerhana bulan ia masuk ke dalamnya, ia menamakan dengan assaahuur (), serta ia menamakan Allah dalam puisinya dengan as-Sulthith (
), At-Taghruur (), dan sebagainya.
Puisi yang diciptakannya berbeda dengan puisi para penyair lainnya, dengan
kemudahan dalam kosakatanya dan dengan menyebutkan keajaiban-keajaiban
dari kisah-kisah fiksi dan legenda-legenda, penciptaan alam dan kehancurannya,
keadaan akhirat, sifat-sifat Sang Pencipta dan kekhusyukan pada-Nya. Dalam
menyebutkan hal tersebut Umayyah menggunakan kata-kata yang belum pernah
digunakan oleh seorang penyair pun sebelumnya. Puisinya juga diselingi oleh
kata-kata hikmah dan pribahasa. Diantara puisi-puisinya adalah:




"Segala puji milik Allah kala kita berada di saat pagi dan petang, semoga
Tuhanku memberikan kebaikan pada kita pada pagi dan petang"
"Tuhan Ibrahim yang Hanif, yang tak habis-habis simpanan-Nya, memenuhi
cakrawala dengan kekuasaan-Nya yang tak terbatas"
"Ingatlah, ada seorang Nabi diantara kita yang diangkat dari kalangan kita, lalu
memberitahukan kepada kita munculnya pemimpin yang menjadi tujuan kita"
"Kami telah mengetahuii berbagai ilmu yang bermanfaat bagi kami, bahwa
orang-orang yang terakhir akan mengikuti orang-orang yang terdahulu dari
kami"
Dia mencela anaknya dengan mengatakan:






"Pagi hari kau lahir, siang hari kau besar, semoga demikian adanya yang aku
petik darimu dan yang kau reguk dari minum pertamamu"
"Ketika di suatu malam kau terluka, semalaman aku tak bias tidur, buka karena
mendengar keluhannya, tetapi karena terjaga dan rasa bosan"
"Seakan-akan aku sendiri yang memukul-mukulmu dengan pukulan-pukulan yang
dipukulkan padaku sehingga merasa kelelahan"
"Kau takut hal yang terburuk menimpa jiwamu, padahal sesungguhnya aku tahu
bahwa sang maut pasti datang menjemput"
"Ketika kau telah mencapai usia dewasa dan mencapai tujuan, yang kau gapai

sejauh kau dapat menggapainya. Aku pun tak dapat lagi mengharapkan apa-apa
darimu"
"Kau jadikan balasan buatku kekasaran dan kebencian, seakan engkau sendiri
yang memberikan kesenangan yang berlebihan"
Di antara puisi madah-nya (puisi yang berisikan pujian) :


"Pemberianmu adalah hiasan bagi orang yang telah kau berikan kebaikan,
padahal tidak setiap pemberian dapat menjadi perhiasan"
"Bukanlah sesuatu yang dikehendaki oleh seseorang adalah akan mengarahkan
wajahnya padamu, seperti sebagian yang diminta bukanlah yang dikendaki"
Di antara puisi-puisinya yang berisikan mengenai kematian ketika datang
menjemputnya adalah:

"Jika Engkau berkenan mengampuni, Ya Allah Tuhanku, ampunilah semuanya,
sebab hamba mana yang tiada berharap mendapat ampunan-Mu"
2. LUBAID BIN RABI'AH
Nasab Keluarga Dan Kabilah
Nama lengkapnya adalah Lubaid bin Rabi'ah bin Malik. Ia sering juga dijuluki Abu
'Uqail al-'Amiry. Ia termasuk salah satu penyair yang disegani pada masa
jahiliyyah. Ia berasal dari kabilah Bani 'Amir Ibnu Sho'sho'ah, yaitu salah satu
pecahan dari kabilah Hawazin Mudhar[1]. Ibunya berasal dari kabilah 'Abas.
Lubai dilahirkan sekitar tahun 560 M. Selain sebagai penyair, ia juga dikenal
sebagai orang dermawan dan pemberani. Sifat kedermawanannya diwarisi dari
ayahnya yang dijuluki dengan "Rabi' al-Muqtarin". Sedangkan sifat
keberaniannya diwarisi dari kabilahnya.
Lubaid bin Rabi'ah al-Amiri adalah penyair Jahiliyyah yang memiliki usia yang
panjang. Dia berumur 145 tahun, dan sempat mendapatkan masa Islam. Namun,
penyair ini tetap digolongkan ke dalam penyair Jahiliyyah, karena sesudah masuk
Islam, ia tidak mengucapkan puisi lagi kecuali hanya satu bait saja.
Dahulu, di antara kabilah Bani 'Amir dengan kabilah Bani 'Abas terjadi
permusuhan yang sengit. Hingga akhirnya kedua utusan dari kedua kabilah
tersebut dipertemukan dihadapan al-Nu'man bin al Mundzir. Dari Bani 'Abas
diantaranya ada al-Rabi' bin Ziyad dan dari Bani Amir diantaranya ada para
pendekar. Pada saat itu al Rabi' dan al Nu'mn duduk-duduk bersama menikmati
hidangan makan dan minum. Ia merasa iri dengan orang-orang dari Bani Amir,
maka iapun menyebut-nyebut aib dan kekejian mereka. Maka ketika utusan dari
mereka masuk menemui al-Nu'man, ia tak memperdulikannya dan memalingkan
mukanya. Hal inilah yang kemudian membuat mereka jengkel, dan kemudian
keluar dengan wajah memerah karena kemarahan. Pada saat kejadian itu, Lubaid
masih kecil, sehingga ketika ia bertanya tentang siapa saja para ahli pidato dari
mereka, ia pun diejeknya karena dianggap belum cukup umur. Ia begitu sangat
berharap bisa bergabung dengan mereka. Iapun bersumpah akan memberi
pelajaran kepada al-Rabi' kelak nanti di hadapan al-Nu'man. Sumpahnya
akhirnya terwujud, al-Nu'man akhirnya membenci al-Rabi' dan ia tak lagi mau
menemuinya serta melaknatnya. Setelah itulah, Bani 'Amir mulai terangkat. Raja

menghormati mereka dan memenuhi segala kebutuhannya. Inilah awal dari


popularitas Lubaid. Ia melantunkan puisi-puisi singkat dan puisi-puisi
panjangnya. Ketika puisinya dilantunkan, an-Nabighah pun mengakui bahwa
Lubaid adalah seorang penyair yang paling ulung dari kalangan Kabilah Hawazin
dengan usia yang masih relatif muda. Puisi yang membuat al Nbighah terbius
adalah puisi pada mu'allaqahnya yang bait pertamanya berbunyi :

"Bekas-bekas reruntuhan perkampungan itu telah lenyap, tempatnya di Mina,
tanahnya rendah dan tingginya menyeramkan"
Mendengarkan puisinya itu, lalu an-Nabighah berkata:
"Pergilah hai anak, sesungguhnya kamu akan menjadi penyair suku Qais yang
terkenal[2]".
Para ahli sastra Arab menggolongkan puisinya ke dalam kelas tinggi, yang dilihat
dari segi kesopanan dan lebih condong kepada ketuhanan. Dalam puisinya
banyak menunjukkan sifat mulia dan kemauannya yang keras dalam mencapai
martabat yang tinggi. Yang paling menonjol sekali dari puisinya, ia tidak pernah
mengejek atau menjelek-jelekan siapa pun, dan juga tidak pernah merendahkan
diri kepada orang besar (raja atau bangsawan). Karena penyair ini tidak
menjadikan puisinya sebagai modal untuk mencari kedudukan ataupun harta
kekayaan seperti yang banyak dilakukan oleh penyair Jahiliyyah lainnya.
Sebaliknya ia selalu membanggakan kaumnya yang selalu berusaha
mendapatkan kemuliaan dalam menolong orang yang lemah.
Ketenaran penyair ini juga tidak menghalanginya untuk beriman kepada Nabi
Muhammad Saw. Dalam suatu riwayat diceritakan, bahwa pada suatu hari ketika
rombongan yang diperintahkan oleh Nabi Saw untuk mendakwahkan Islam di
Madinah, dan Lubaid mulai tertarik akan agama Islam yang dibawa oleh Nabi
Saw. Akan tetapi, pada saat itu ia masih belum menyatakan keislamannya.
Setelah beberapa tahun kemudian barulah ia bersama rombongannya datang
kepada Rasulullah Saw untuk menyatakan keislamannya, dan ia kembali pulang
ke kabilahnya dan menerangkan mengenai surga, neraka, hari kebangkitan, dan
mengajarkan al-Quran kepada kaumnya.
Puisi-Puisinya
Diwan Lubaid telah dikodifikasikan oleh banyak sekali para sastrawan terkenal.
Sedangkan periwayatan yang ada hanyalah periwayatan dari Ali bin Abdullah alThusy yaitu salah seorang murid dari Ibn al-'Araby yang meninggal pada tahun
231 H/844 M.
Pada masa Umar bin al Khathab - Setelah terjadi pembukaan beberapa kota Lubaid pergi ke Kufah. Lubaid tinggal dan hidup di sana cukup lama,
mpai ajal menjemputnya pada awal masa kekhalifahan Mu'awiyyah pada tahun
41 H / 661 M.[3] Ada yang mengatakan bahwa usianya mencapai 130 tahun. Ia
termasuk salah satu pemilik mu'allaqat. Ia memiliki sebanyak kurang lebih 122
qasidah dan 1322 bait puisi.
Sebagian para ahli kesusastraan Arab menggolongkan Lubaid sebagai penyair
Jahiliyyah, karena sesudah masuk Islam, penyair ini tidak lagi mengucapkan
puisi, kecuali hanya satu bait saja, sebuah puisi yang diucapkannya ketika
menyatakan diri ke dalam Islam seperti yang terdapat di bawah ini[4]:

"Al-Hamdulillah, ajalku tidak datang sebelum aku menjadi seorang muslim"

Akan tetapi, sebagian ahli kesusastraan Arab yang lain menggolongkan Lubaid
ke dalam penyair Islam, karena ia banyak menghasilkan puisi-puisi yang
bernafaskan Islam, dan puisi-puisinya telah terpengaruh oleh ayat-ayat suci alQuran.
Pada zaman Jahiliyyah puisi-puisinya banyak membicarakan seputar pujian
(madah), mencaci atau mengejek (hija'), bahkan banyak dari puisinya yang
berisikan kebanggaan terhadap kaumnya. Seperti yang terdapat dalam kutipan
puisi di bawah ini[5]:








"Bila beberapa kabilah sedang berkumpul, maka kaumku akan menandingi
mereka dalam berdebat ataupun bertanding"
"Kaumku adalah pembagi yang adil, yang memberikan hak keluarganya, dan
kaumku adalah sangat pemarah kepada siapa pun yang merampas hak
keluarganya"
"Kaumku menolong dengan suka rela, karena mereka suka menolong, suka
memaafkan, dan suka pada suatu kemuliaan"
"Kaumku berasal dari keturunan yang suka pada kemuliaan, dan bagi setiap
kaum pasti mempunyai adat dan pemimpin sendiri"
"Kaumku tidak pernah merusak kehormatannya dan tidak suka mengotori budi
pekertinya, karena mereka tidak senang mengikuti hawa nafsu"
"Bila keluarganya sedang tertimpa musibah, mereka akan membantu, merekalah
pahlawan bila keluarga sedang terserang dan merekalah yang akan
menundukkan musuh"
"Kaumku adalah penolong bagi siapa pun yang meminta pertolongan, dan
pembantu bagi janda yang tertimpa kemalangan"
Kemudian, pada masa permulaan Islam, puisi-puisinya sudah banyak
terpengaruh oleh gaya bahasa al-Quran dan isinya banyak mengandung ajaranajaran yang bernafaskan Islam, dikarenakan setelah memasuki Islam, Lubaid
lebih tekun mempelajari ajaran-ajaran agama Islam yang terkandung dalam
ayat-ayat suci al-Quran, seperti dalam salah satu bait-bait puisinya yang
menerangkan keimanannya terhadap hari kebangkitan, di bawah ini[6]:







"Sesungguhnya segala sesuatu selain Allah pasti akan lenyap dan setiap
kenikmatan pasti akan sirna"
"Dan pada suatu saat, setiap orang pasti akan didatangi oleh maut yang
memutihkan jari-jari"
"Setiap orang kelak pada suatu hari pasti akan mengetahui amalannya jika telah
dibuka catatannya di sisi Tuhan".
Dalam menanggapi kemantapan isi bait puisi di atas, Nabi Muhammad Saw
berkomentar dalam suatu sabdanya yang diriwayatkan oleh Bukhari dan

Muslim[7]:
)
(
"Sebaik-baik puisi yang pernah diucapkan seorang penyair adalah ucapan Lubaid
yang berbunyi: "Sesungguhnya segala sesuatu selain Allah pasti akan lenyap"
3. AL-HARITS BIN HILLIZIAH AL-BAKRI
Nasab Keluarga Dan Kabilah
Nama aslinya adalah Al-Harits bin Hillizah al-Yasykuri al-Bakri, ia merupakan
salah seorang pemilik puisi mu'allaqat yang terkenal dengan satuan bait-bait
puisinya, pemikirannya bagus dan spontanitas, menjadi pribahasa dalam puisi
hammasah (patriotik) dan fakhr-nya (berbangga). Silsilah keturunannya sampai
kepada Bakr bin Wail.
Posisinya dalam kabilah itu seperti posisi Amru bin Kultsum dalam kabilah
Taghlib. Peninggalan karya puisinya hanyalah puisi-puisi pendek yang sederhana
dan puisi mu'allaqat-nya, yang permulaannya adalah:

"Perpisahannya dengan kami memberitahukan nama-nama dewa yang
bersemayam di sana dibuat bosan bersemayam di sana"
Adalah dikarenakan oleh mu'allaqqat-nya inilah Amru bin Hindun, salah seorang
raja Hirah mendamaikan antara kabilah Bakr dan kabilah Taghlib menyusul
peperangan antara kedua kabilah tersebut yang terkenal dengan perang alBasus, serta mengambil dari masing-masing kedua belah pihak jaminan
tanggungan dari anggota kabilah untuk menghentikan pertikaian satu sama
lainnya dan untuk mengikat bagi pihak yang menyerang dan diserang. Kemudian
terjadi peristiwa bahwa raja meminta ganti serombangan ternak dari kabilah
Taghlib dalam suatu keperluan. Kabilah Taghlib mengatakan bahwa hewanhewan ternak itu menjarah air milik kabilah Bakr, lalu mereka menghalaunya dan
menggiringnya ke daerah padang pasir yang gersang hingga ternak-ternak itu
mati kehausan. Sementara kabilah Bakr mengatakan bahwa mereka memberi
minum dan menggiring mereka ke arah jalan pulang, tetapi mereka lalu tersesat
dan mati. Kedua pihak saling membela diri dihadapan Amru bin Hindun. Amru
bin Hindun kemudian memihak kepada kabilah Taghlib, maka dengan
spontanitas al-Harist bin Hillizah mencercanya dengan puisinya. Hal itu terjadi di
majelis pertemuan dalam keadaan dia menutupi dirinya dengan tirai agar tidak
kelihatan oleh raja, itu dikarenakan al-Harits menderita penyakit campak.
Puisinya itu diungkapkan dengan spontanitas, di dalam puisi itu ia
membanggakan kaumnya, menyanjung perbuatan mereka, serta kebaikan
mereka dalam mendampingi dan menyertai raja dalam sebagian besar
peperangan-peperangannya. Begitu al-Harits selesai berpuisi, raja berpindah ke
samping kabilah Bakr, dan mendekati al-Harits serta membuka tirai yang
menutupinya, lalu mereka berdua duduk bersama dalam tempat duduknya. AlHarits berusia panjang, sehingga sebagian ulama sastra menyatakan bahwa
sesungguhnya dia mendendangkan puisinya ini dalam usia seratus tiga puluh
lima tahun".

Puisi-Puisinya

Kebanyakan para perawi dan kritikus puisi terkagum-kagum dengan spontanitas


al-Harits bin Hillizah dalam menciptakan puisi yang demikian panjangnya,
dengan tepatnya susunan, banyaknya kata-kata unik (asing), teknik dan
temanya variatif serta mengandung banyak informasi tentang peperangan
bangsa Arab dan peristiwa-peristiwa pentingnya.
Di antara kata-katanya yang di dalamnya mengandung sesuatu yang demikian
ringkas padat adalah kata-katanya yang melukiskan kepandaiannya dalam
menciptakan puisi dengan spontan, kebenaran, dan kejelasannya dalam
menggambarkan kenyataan:

,
"Mereka menyepakati urusan mereka waktu Isya, tapi manakala pagi hari tiba
mereka ribut, hiruk pikuk"
"Ada yang memanggil-manggil, ada yang menjawab bergalau dengan suarasuara ringkikan kuda diselingi dengan suara-suara unta"
Di antara perkataannya:


"Orang mulia tidak akan tinggal di negeri yang datar, orang lemah dan hina tidak
berguna, bagi orang cerdas akan berjalan cepat"
"Tidak akan selamat orang yang melarikan diri menjauhi puncak gunung dan
jalan berbatuan hitam walau dengan telapak kaki kuda yang tebal"
Di antara perkataannnya di luar mu'allaqat-nya adalah:




"Barang siapa menghakimi di antara aku dengan sang masa, maka ia akan
memihakku secara sengaja"
"Tebusan telah tampak pada para pemimpinkami, dan mereka telah
meninggalkan pada kami senjata dan kuda"
"Kudaku dan penunggangnya dan ayahmu lebih banyak bersedih karena
kehilangan"
"Andaikan ada yang berlindung kepadaku, niscaya tak akan tertimpa gunung
Tsahlan yang runtuh"
"Maka tanggalkanlah kerudung penutup kepalamu, sesungguhnya bencana sang
waktu telah melenyapkan kaum Ma'ad"
"Pada kalian aku melihat sekelompok orang, mereka telah mengumpulkan harta
dan anak-anak"
"Mereka adalah gumpalan awan yang diam terpekur, yang tidak lagi
mendengarkan gelegar halilintar"

"Hiduplah kamu dengan terus bekerja keras, kebodohan itu tidak akan
membahayakan sepanjang kau mau terus bekerja keras"
"Lebih baik hidup di bawah naungan kebodohan, daripada hidup di bawah
himpitan kesengsaraan"
Di antara perkataannya yang lain adalah:

"Sesungguhnya orang yang bahagia, adalah orang yang memiliki pengajaran
bagi orang lain, dan di dalam berbagai pengalaman hidup terdapat kemampuan
mengadili dan memberi pelajaran
4. AL-A'SYA BIN AL-QAISI
Nasab Keluarga Dan Kabilah
Nama lengkap dari penyair ini adalah Maimun al-A'sya bin al-Qaisi bin Jundul alQaisyi, dilahirkan di Manfuhah dikawasan Yumamah. Ia berasal dari kabilah Bakar
bin Wail yang menurut riwayat kabilah ini merupakan bagian dan kelompok di
Jazirah Timur yaitu lembah sungai Eufrat sampai Yamamah. Adapun keturunan
(bani) yang lebih dan banyak dikenal dari kabilah ini ialah bani Syaiban, bani
Yasykur, bani Jusyam, bani I'jul yang berada di lembah sungai Eufrat, bani
Hanifah, dan bani Qais bin Tsa'labah yang berada dikawasan Yamamah. Dari
bani-bani tersebut, bani Qais-lah yang lebih utama, yang secara turun-temurun
berlanjut kepada bani-bani lainnya. Salah satunya adalah bani Malik bin Dubai'ah
dari kerabat mereka yaitu bani Jahdar dan bani Sa'ad bin Dubai'ah, dari bani-bani
inilah yang kemudian merupakan asal usul (satu keturunan) dari penyair al-A'sya
bin al-Qais.
Nama al-A'sya merupakan julukan baginya, karena ia memiliki kadar penglihatan
yang lemah (rabun). Nama pada saat karier kepenyairannya meningkat, ia
dijuluki Abu Basir yang berarti orang yang mempunyai penglihatan. Konon
ayahnya mempunyai julukan "Orang yang mati kelaparan", karena pada suatu
ketika ayahnya memasuki sebuah goa hanya untuk berteduh di dalamnya dari
cuaca panas, tetapi malang baginya tiba-tiba sebuah batu besar jatuh dari atas
gunung dan menutupi mulut goa, yang menyebabkan ayahnya mati kelaparan di
dalamnya. Mengenai kejadian itu, juhunnam seorang penyair membuat sebuah
puisi hija' (sindiran) untuk ayahnya yaitu:
"Ayahmu Qais bin Jundul mati kelaparan, kemudian pamanmu itu disusui oleh
budak dari Khuma'ah".
Khuma'ah adalah tempat kelahiran ibu dari al-A'sya. Saudara kakeknya,
Musayyub bin Alas mempunyai jasa yang besar dalam mengabadikan puisi alA'sya.
Para ahli sastra Arab menganggapnya sebagai orang keempat setelah ketiga
penyair yang telah disebutkan di atas. Penyair ini ditakuti akan ketajaman
lidahnya, sebaliknya ia juga disenangi orang bila ia telah memuji seseorang, dan
orang itu seketika itu pula akan menjadi terkenal.
Puisi-puisi al-A'sya banyak menceritakan pengembaraannya ke sebagian daerah
jazirah Arab untuk memuji para pemimpin (kepala suku) dan para bangsawan.
Sehingga di dalam diwan-nya (kumpulan puisi), dia banyak memuji Aswad bin
Mundzir dan saundaranya yaitu Nu'man bin Mundzir dan Iyas bin Qubaisah. Dia
juga banyak membicarakan mengenai perdamaian antara salah seorang
penguasa di Yaman dengan bani Abdul Madin bin Diyan di Najran, dan penguasa

yang bernama Hauzah bin Ala Sayid dari bani Hanifah, yang tidak diketahui latar
belakang mengenai perselisihan di antara ketiganya.
al-A'sya sering melakukan pengembaraan dan mengunjungi kawasan Hirah,
Yaman, dan Diyar (sebuah daerah berbukit di Yaman), dan Najran, begitu pula
dengan daerah Syam, Persia, dan Jerussalem. Khususnya di daerah Yaman,
Nejed, dan Hirah, ia memuji para pejabat teras di sana. Begitu pula dengan
kepergiaannya ke Diyar, ia mendapatkan hadiah sebagai balasan atas puisi-puisi
yang telah diucapkannya dengan indah kepada bani Amr.
Louis seorang orientalis barat, menganggap bahwa penyair ini penganut Nasrani,
ia berpendapat dengan kesukaan al-A'sya dalam menyusun lagu-lagu rohani.
Puisi madah-nya banyak memuji para uskup Najran, dan kebanyakan bait-bait
puisi-nya berkaitan dengan orang-orang nasrani di Hirah. Namun, hal ini tidak
dapat dibenarkan, karena kepercayaan Nasrani telah lama dianut dan
merupakan agama nenek moyang. Sehingga setelah ia menerima ajaran ini,
kebiasaan buruk dalam melakukan perbuatan dosa dan kemaksiatan telah ada
pada diri al-A'sya. Hal ini dapat dilihat jelas dalam puisi-nya yang banyak
menggambarkan kesenangannya akan mabuk-mabukkan dan pencinta harta.
Dan untuk meneliti lebih lanjut tentang puisi al-A'sya dapat dilihat dalam kitab
Sy'ir was Syuara' karya Ibnu al-Qutaibah, kitab al-Jamhara, dan kitab al-Aghany
karya al-Asfahany.

Puisi-Puisinya
Kumpulan puisi al-A'sya banyak diterbitkan oleh Jayir di London pada tahun
1928. Jayir menyalinnya dari Isykuriyal yang diambil dari Tsa'labah pada tahun
291 H. Sebagian dari puisi-nya juga diterbitkan oleh Daar al-Kutub, Mesir. Jumlah
kasidahnya tidak kurang dari 77 bait kasidah, ditambah lagi l15 kasidah yang
tidak diketahui asalnya, tetapi diyakini sebagai puisinya. Namun, kemungkinan
besar puisi pilihan itu dikumpulkan oleh Tsa'labah. Selanjutnya Daar al-Kutub
menemukan 40 bait kasidah al-A'sya yang diambil dari salinan di kantor
perwakilan Yaman. Hal ini diketahui dari kalimat pendahuluan oleh penyusun
diwan-nya.
Puisi-puisi al-A'sya memiliki ciri khas tersendiri, seperti pemakaian kasidah yang
panjang, sebagaimana yang terlihat dalam puisinya terdapat pemborosan katakata. Puisinya banyak mengandung pujian, sindiran atau ejekan, kemegahan
atau kebesaran, kenikmatan khamr (arak), menggambarkan atau melukisakan
sesuatu, dan mengenai percintaan.
Tidak seperti penyair lainnya, dalam hal pengungkapan puisi madah, al-A'sya
hanya ingin berusaha mendapatkan pemberian atau hadiah, seperti dalam
pengembaraannya kesebagian jazirah Arab, yaitu untuk memuji para pemimpin
dan pejabat di sana. Pemberian atau hadiah itu dapat berupa unta, budak
perempuan, piring yang terbuat dari logam perak, atau pakaian yang terbuat
dari kain sutera yang bermotif lukisan.
Dalam puisi madah-nya banyak mengisahkan mengenai kemuliaan, keberanian,
kesetiaan, pertolongan terhadap kaum lemah, dan pujian terhadap tentara yang
berlaga di medan peperangan. Puisi madah-nya banyak mengandung ungkapanungkapan yang dikeluarkan secara bebas (spontanitas). Oleh karena itu, al-A'sya
juga ditakuti akan ketajaman lidahnya, karena bila seseorang telah mendapatkan
pujian darinya, maka orang itu akan enjadi terkenal.
Dalam suatu riwayat, diceritakan bahwa di kota Mekkah ada seorang miskin
yang bernama Muhallik, orang itu mempunyai tiga orang puteri yang belum
mempunyai jodoh dikarenakan kemiskinan mereka. Pada suatu waktu, keluarga
ini mendengar kedatangan al-A'sya di Mekkah, maka isterinya meminta kepada

suaminya untuk mengundang al-A'sya ke rumahnya. Setelah al-A'sya datang ke


rumah miskin itu, maka isterinya memotong seekor unta untuk menjamu alA'sya. Penyair ini sangat heran dengan kedermawanan orang miskin ini. Ketika ia
keluar dari rumah itu, ia langsung pergi ke tempat orang-orang yang sedang
berkumpul untuk mengabadikan kedermawanan Muhallik dalam suatu bait
puisinya yang sangat indah. Setelah ia membacakan puisi itu, maka banyak
orang yang datang meminang ketiga puteri Muhallik. Adapun bait puisi yang
diucapkan al-A'sya seperti dibawah ini[1]:




:

"Aku tidak dapat tidur di malam hari, bukan karena sakit ataupun cinta"
"Sungguh banyak mata yang melihat api yang menyala di atas bukit itu"
"Api itu dinyalakan untuk menghangatkan tubuh kedua orang yang sedang
kedinginan di malam itu, dan di tempat itulah Muhallik dan kedermawanannya
sedang bermalam"
"Di malam yang gelap itu keduanya saling berjanji untuk tetap bersatu"
"Kamu lihat kedermawanan di wajahnya seperti pedang yang berkilauan"
"Kedua tangannya selalu benar, yang satu untuk membinasakan sedang yang
lain untuk berderma"
Di dalam suatu riwayat lain juga diceritakan bahwa ketika al-A'sya mendengar
diutusnya Nabi Muhammad Saw dan berita mengenai kedermawanannya, maka
penyair ini sengaja datang ke kota Mekkah dengan membawa suatu kasidah
yang telah dipersiapkan untuk memuji Nabi Muhammad Saw. Namun, sayang
sekali maksud baik ini dapat digagalkan oleh pemuka bangsa Quraisy.
Ketika Abu Sufyan mendengar kedatangan al-A'sya, Abu Sufyan langsung
berkata kepada para pemuka Quraisy: "Demi Tuhan, bila al-A'sya bertemu
dengan Muhammad dan memujinya, maka pasti dia akan mempengaruhi bangsa
Arab untuk mengikuti Muhammad. Karena itu, sebelum itu terjadi, kumpulkanlah
seratus ekor unta dan berikan kepadanya agar tidak pergi menemui
Muhammad". Kemudian, saran Abu Sufyan ini, dituruti oleh bangsa Quraisy, yang
akhirnya al-A'sya mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan beliau. Adapun
puisi yang telah dipersiapkan olehnya untuk memuji Nabi Muhammad Saw.
seperti dibawah ini[2]:


)(


"Demi Allah, onta ini tidak akan aku kasihani dari keletihannya, dan dari sakit
kakinya sebelum dapat bertemu dengan Muhammad"
"Nanti jika kau telah sampai ke pintu Ibnu Hasyim, kau akan dapat beristirahat
dan akan mendapatkan pemberiannya yang berlimpah-limpah"
"Seorang Nabi yang dapat mengetahui sesuatu yang tak dapat dilihat oleh
mereka, dan namanya telah tersiar di seluruh negeri dan di daerah Nejed"
"Pemberiannya tidak akan terputus selamanya, dan pemberiaannya sekarang
tidak akan mencegah pemberiannya di hari esok"

5. THARAFAH BIN ABDUL BAKRI AL-WA'ILLI


Nasab Keluarga Dan Kabilah
Amru bin al-`Abd al-Bakri adalah salah seorang tokoh terkemuka pada zaman
Jahiliyyah, dan berumur pendek. Ia juga seorang penyair yang memiliki puisipuisi panjang dan indah, dan yang paling bagus dalam melukiskan unta dalam
puisinya. Ayahnya meninggal dunia ketika ia masih kecil, kemudian ia diasuh
oleh para pamannya. Ia cenderung melakukan hal-hal yang buruk, hidup
berfoya-foya, dan suka mengambil hak milik orang lain, sehingga keluarga dan
kaumnya mencercanya, bahkan Amru bin Hindun salah seorang raja Arab yang
memimpin kerajaan Hirah pun ikut mencercanya, meskipun ia mencari kebajikan
dan pemberian raja tersebut.
Sampailah berita kepada Amru bin Hindun tentang cercaan Tharafah kepadanya,
maka Amru bin Hindun pun membencinya. Ketika Tharafah datang kepadanya
bersama pamannya, al-Multamis, untuk meminta hadiah, sementara Amru bin
Hindun telah mendapat kabar tentang al-Multamis seperti kabar tentang
Tharafah.
Akan tetapi, agar kebencian Amru bin Hindun tetap memperlihatkan sikap ceria
dan kesukaan mereka keduanya. untuk menenangkan mereka berdua dan
memerintahkan kepada masing-masing mereka diberi hadiah. Sang raja menulis
surat untuk masing-masing mereka yang ditujukan kepada Gubenur Bahrain
untuk melaksanakan isi surat itu. Ketika keduanya dalam perjalanan menuju
Bahrain, al-Multamis merasa curiga dengan surat itu, lalu ia menghentikan
perjalanannya dan meminta salah seorang budak untuk membacakan isi surat
itu. Namun, Tharafah tidak mau berhenti, ia terus melanjutkan perjalanannya.
Setelah dibuka ternyata isi surat itu adalah perintah kepada Gubenur Bahrain
untuk membunuh mereka berdua. Al-Multamis melemparkan surat itu dan
bermaksud menyusul Tharafah, tetapi tidak dapat tersusul, lalu ia melarikan diri
dan meminta perlindungan kepada raja Ghassan. Sementara itu, Tharafah terus
melanjutkan perjalanannya untuk menjumpai Gubenur Bahrain. Di sanalah ia
terbunuh dalam usia sekitar dua puluh lima tahun.
Puisi-Puisinya
Tharafah menciptakan puisi sejak ia masih kanak-kanak dan dia muncul dalam
bidang itu sehingga dalam usia belum mencapai dua puluh tahun ia sudah
terhitung sebagai tokoh penyair terkemuka. Puisi panjangnya yang melukiskan
unta uang terdiri dari 35 bait, merupakan puisi yang belum pernah ada seorang
penyair pun yang menciptakan puisi seperti itu sebelumnya. Mu'allaqat-nya
termasuk mu'allaqat yang paling indah, paling banyak memuat kata-kata unik,
sarat dengan makna, dan tepat dalam penempatan kata (diksi). Diriwayatkan
pula selain mu'allaqat, puisinya ada berbentuk lain, tetapi sangat sedikit bila
dibandingkan dengan populeritasnya. Kiranya hal ini menunjukkan kepada
kenyataan bahwa perawi itu tidak mengetahui lebih banyak mengenai puisinya
atau dengan kata lain mereka (para perawi) kehilangan jejak dari kebanyakan
puisi Tharafah.
Tharafah bagus sekali ketika memaparkan washf dalam puisinya, dengan singkat
dan menjelaskan hakekat dengan tujuan yang melampaui batas, terikat dalam
sebagian susunan kata dan lepas bebas dalam penjelasan kata dan makna yang
tersembunyi. Demikian pula puisi hija'-nya (cercaan) nadanya keras sekali. Bait
puisi mu'allaqat-nya adalah:

"Untuk mengenang Khaulah ada reruntuhan di tanah berbatuan Tsahmada yang


menyembul bagai kulit mengeras di permukaan telapak tangan"
Di antara bait-bait puisinya yang paling indah adalah:


( )

"Aku melihat sang maut memilih orang mulia sejati, juga memilih orang mulia
karena harta yang dia dapatkan melalui perbuatan jahat dan kejam"
"Aku lihat kehidupan adalah harta simpanan yang terus berkurang setiap malam"
"Demi Tuhan pemberi usiamu, sungguh sang maut itu (tidak akan menerkam
pemuda) sungguh, dia bagaikan tali pengikat binatang yang salah satu ujungnya
di genggaman tangan"
"Di suatu hari, kapan saja dia mau, dia akan menyeretmu, barang siapa dalam
ikatan kematian, dia pasti akan mati"
Di antara bait-bait puisinya yang tersebar luas di tengah-tengah masyarakat
adalah:



"Orang yang mendzalimi kerabat dekat lebih jahat daripada tusukan panah
beracun"
"Kulihat sang maut merenggut jiwa-jiwa dan esok hari tidak kulihat sebagai saat
yang jauh, betapa dekatnya hari ini dari hari esok"
"Hari-hari akan memperlihatkan kepadamu apa yang dulu kau tidak ketahuim,
akan datang kepadamu dengan membawa berbagai berita

"Kadang kala persoalan kecil tumbuh menjadi besar, hingga karenanya darah
pun terus mengucur"
Di antara puisi-puisi fakhr-nya adalah:











"Di musim paceklik, kami mengundang semua orang ke perjamuan, dan kamu
tidak akan melihat para pejamu dari kami memilih-milih orang yang diundang"

"Di kala orang-orang berkata di tempat duduk mereka, apakah ini aroma daging
bakar atau harum kayu cendana?"
"Kami tahu dan anggota perkumpulan kami pada datang mengerumuni perapian
berminyak lemak kala dingin kian menusuk"
"Bagaikan telaga besar yang airnya terus mengalir untuk memuliakan para tamu
atau untuk orang-orang yang hadir bersama kami"
"Lalu daging-daging itu tidaklah kami simpan yang disimpan hanyalah daging
yang dikeringkan"
"Kabilah Bakr sungguh telah tahu bahwa kami mudah menyembelih kambing
dan mudah berderma"
"Kabilah Bakr sungguh telah bahwa kami mengutamakan akal, sehingga dalam
menghadapi bencana tidak terguncang"
"Kami dapat menyingkap bencana dari mereka yang dihimpit oleh kesulitan dan
kami mampu mengalahkan orang-orang yang sebelumnya tidak terkalahkan"
"Mimpi-mimpi mereka lebih unggul daripada tetangga mereka tangannya luas
dengan berbagai kebajikan"
"Bersegera menghunus pedang maju ke medan perang untuk menumpahkan
darah, menghadapi keganasan medan perang tetap tegar tidak melakukan
desersi"
"Memegang teguh kendali kuda, walaupun kuda itu menjadi semakin liar, yang
mampu mengendalikannya saat itu hanyalah orang-orang yang tangguh"
6. AMR BIN KULTSUM
Nasab Keluarga Dan Kabilah
Nama lengkapnya adalah Abu al-Aswad Amr bin Kultsum bin Malik at-Taghlibi
dari kabilah Taghlib. Lahir dari kalangan keluarga bangsawan dan juga sangat
ahli dalam menunggang kuda. Penyair ini merupakan seorang tokoh Arab dan
penyair yang terkenal dengan puisinya yang tersendiri dan yang bagus sekali
dalam puisi fakhr-nya. Ibunya bernama Laila binti Muhalhil, saudara Kulaib.
Di dalam lingkungan kabilah Taghlib di Jazirah Euphrat, Amru tumbuh dan
berkembang sebagai sosok yang pemberani dan penuh semangat serta sebagai
orator yang memiliki sifat-sifat mulia. Dia telah menjadi pemimpin kaumnya
dalam usia lima belas tahun, dan memimpin pasukan perangnya yang selalu
mendapatkan kemenangan dalam berbagai peperangan mereka.
Kebanyakan kekacauan dan peperangan yang dihadapi kabilah Taghlib adalah
peperangan dalam menghadapi saudaranya sendiri, yaitu kabilah Bakr bin Wail
yang menyebabkan terjadinya peperangan sengit yang terkenal dengan alBasus. Perdamaian terakhir mereka adalah di tangan Amru bin Kultsum. Raja
Hirah terakhir dari keluarga al-Mundzir. Tidak selang beberapa lama setelah
perjanjian perdamaian terwujud, terjadilah perhelatan dan pesta besar di tempat
Amru bin Kultsum, yang dalam acara itu para penyair kabilah Bakr, yaitu AlHarist bin Hiliziah mendendangkan puisi terkenalnya.
Begitu selesai acara tersebut, tampaklah bagi Amru bin Kultsum bahwa Ibnu
Hindun mengincar kerajaan bersama kabilah Bakr. Amru bin Kultsum pun pulang
dengan hati penuh kecurigaan. Kemudian terbetiklah dalam hati Ibnu Hindun
untuk memecah belah kekuatan kabilah Taghlib dengan menghinakan
pemimpinnya, yaitu Amru bin Kultsum. Kemudian Ibnu Hindun mengundang
Amru bin Kultsum dan ibunya, Laila binti Muhalhil, dan mengelabui ibunya untuk
membantunya dalam menyelesaikan salah satu urusannya. Laila berteriak: "Oh,
alangkah hinanya!". Teriakan ibunya itu membuat Amru bin Kultsum marah dan
seketika itu juga ia membunuh Ibnu Hindun di Majelis pertemuannya.
Selanjutnya Amru bin Kultsum segera pergi, kembali ke negerinya di al-Jazirah,
dan menyusun mu'allaqat-nya, yang bait awalnya berbunyi:


"Ingatlah, hidangkan gelas anggurmu, kita minum di pagi hari ini dan tidak
menyisakan sedikit pun khamr (arak) buatan Andarina"
Dalam mu'allaqat-nya ia melukiskan peristiwa mengenai dirinya dengan Ibnu
Hindun, ia membanggakan pertempuran-pertempuran kaumnya dan
peperangan-peperangan mereka yang terkenal. Ia juga berorasi di pasar Ukadz
dan pasar-pasar lainnya. Anak keturunan Taghlib banyak yang menghafal
puisinya dan banyak orang yang meriwayatkannya. Amru bin Kultsum meninggal
dunia sekitar setengah abad sebelum lahirnya Islam.
Puisi-Puisinya
Amru bin Kultsum termasuk orang besar, bangsawan, dan pahlawan bangsa Arab
Jahiliyyah yang lebih disibukkan dengan tugas-tugasnya sebagai pemimpin dan
terjun di medan peperangan daripada berkonsentrasi untuk berpuisi dan
membuka pintu-pintunya seperti kebiasaan para penyair yang menjadikan puisipuisi mereka sebagai profesi dan bisnis dalam mencari kekayaan. Oleh karena
itu, Amru bin Kultsum tidak terkenal kecuali dengan satu mu'allaqat-nya, yang
menduduki posisi sebagai puisi yang memenuhi persyaratan, karena katakatanya indah, komposisi ungkapannya begitu rapi, maknanya jelas, stil
bahasanya mempesona, dan kebanggannya tinggi dan tujunnya agung.
Andaikan di dalam puisinya ia tidak membanggakan dan tidak menyebut-nyebut
warisan peninggalan kaumnya, puisinya tidak akan diingat orang.
Di riwayatkan juga puisi-puisi muqaththa'at (puisi-puisi pendek)-nya yang
tujuannya tidak jauh berbeda dengan tujuan-tujuan mu'allaqat-nya. Kiranya
populeritasnya dengan orasi tidaklah kurang dari populeritasnya dengan puisi. Di
antara puisi fakhr-nya yang tinggi dalam mu'allaqat-nya adalah:










"Kabilah-kabilah telah mengetahui siapa yang berbahagia, jika berkemah di
dataran luas kami pun membangun perkemahan"
"Bahwa kami adalah orang-orang yang bisa makan, bila kami mampu
mendapatkan makanan"
"Dan kami adalah orang-orang yang porak-poranda, bila kami tak henti dihantam
bencana"
"Kami adalah orang-orang yang mampu menahan diri, tidak sembarangan
menggapai apa yang kami kehendaki, dan kami adalah orang-orang yang tinggal
dimana kami suka,
"Dan kami adalah orang-orang yang meninggalkan sesuatu bila kami tidak suka,
dan kami adalah orang-orang yang mengambil bila kami memang suka"
"Kami minum bila menemukan sumber air yang jernih, sedangkan selain kami
mau minum dari air yang keruh bercampur tanah"

"Jika seorang raja mengungguli manusia dengan perbuatan rendah, maka kami
akan menolak dan tidak membiarkan diri kami berbuat rendah"
"Kami memiliki dunia dengan semua orang yang berada di atasnya, kami
berkuasa ketika kami mampu menguasai"
"Orang-orang dzalim berbuat kejam dan kami tidak mau mendzalimi, tetapi kami
akan mulai melawan orang-orang yang mendzalimi kami"
"Kami telah memenuhi daratan sehingga kami merasa sesak terjepit, dan kami
memenuhi lautan dengan perahu-perahu kami"
"Bila bayi di kalangan kami mencapi usia dipisah dari menyusuinya, orang-orang
perkasa pilihan pada tersungkur bersujud padanya"
Amru bin Kultsum berkata mengancam Amru bin Hujr al-Ghassani:
) (


"Ingatlah dan ketahuilah (kau tak akan mau melakukan sesuatu perbuatan yang
membuat kau dikutuk orang) dan sesungguhnya kami, kapan pun kami mau
akan sengaja datang"
"Kau tahu bahwa pelana kami sangatlah berat, dan serangan pasukan kami
sangatlah kuat"
"Dan bahwasanya kami tidak hidup dari persiapan yang kami pertimbangkan bila
baju besi dikenakan"
Amr bin Kultsum berkata dalam puisinya di bawah ini[1]:


"Wahai Amr bin Hindin, mana mungkin kami mau menjadi pelayan para
pembantumu"
"Wahai Amr bin Hindin, mana mungkin kami mau taat kepada orang-orang hina,
dan engkau sendiri telah mengetahui siapa kami"
Puisi di atas diucapkan oleh Amr bin Kultsum kepada Amr bin Hindin, seorang
raja yang zalim dan sombong. Ia menghina ibu amr bin Kultsum dengan
menjadikan ibunya sebagai pelayan ibu Amr bin Hindin, sehingga Amr bin
Kultsum marah dan membunuhnya dengan sebilah pedang. Dalam puisinya di
bawah ini[2]:


"Apabila anak kita sudah sampai waktu penyapihan (berhenti menyusu), maka
orang-orang besar dan sombong akan tunduk sujud kepadanya"
7. ANTARAH BIN SYADDAD AL-ABSI
Nasab Keluarga Dan Kabilah
Penyair ini dilahirkan dari ayah seorang bangsawan Absi dan ibu dari kalangan
budak Habsyi. Ia mewarisi kulit hitam dari ibunya, sehingga orang mengira ia
bukan berdarah Arab, bibirnya terbelah (memble) seperti ibunya, sehingga orang
sering memanggilnya dengan julukan Antarah al-Falha'u yaitu "Antarah si bibir
memble". Dalam adat-istiadat Jahiliyyah, anak yang terlahir dari ibu seorang

budak, tidak akan mendapatkan pengakuan dari sang ayah, kecuali dia dapat
memiliki sifat mulia berupa kedermawanan dan keberanian. Oleh karena itu,
ayah penyair ini tidak mau mengakuinya sebagai anak kandung, bahkan
menganggapnya sebagai seorang budak yang dapat disuruh untuk mengembala
ternak. Perlakuan ayahnya itu, telah membuat hati penyair ini sangat tertekan.
Bahkan pamannya sendiri telah ikut menghalangi puteri yang bernama Ablah
untuk bercinta dengannya, sebab pamannya menganggap bahwa tidaklah
pantas mengawinkan puterinya dengan seorang anak budak.
Tekanan-tekanan psikologis itu telah membuatnya keras terhadap semua orang,
bahkan terhadap ayahnya sendiri. Kebenciaannya terhadap sang ayah, terlihat
ketika ayahnya memerintahkannya untuk berperang melawan musuh yang
datang menyerbu, mendengar ajakan ayahnya itu, ia berkata[1]:
"Sesungguhnya seorang budak tidaklah layak untuk berperang, tetapi hanya
layak untuk menjaga ternah dan memerah susu saja".
Ucapan Antarah tersebut dirasakan oleh ayahnya sebagai penderitaan batin
seorang anak, maka setelah mendengar ucapannya itu, akhirnya sang ayah
mengakuinya sebagai anak, dengan berkata: "Berperanglah kamu, karena
sesungguhnya kamu adalah seorang yang merdeka (bukan lagi seorang budak)".
Dan sejak saat itu nama nasab orang tuanya selalu diikutkan dengan nama asli
penyair ini. Dan sejak itu pula nama penyair ini selalu disebut orang dalam
segala macam pertempuran.
Keberanian Antarah mengilhami keberanian orang Arab dalam berperang di
dalam maupun di luar jazirah Arab, seperti ketika melawan Romawi, Ethopia,
Iran, Perancis, Afrika Utara, dan Andalus melawan tentara Salib. Bahkan dengan
namanya yang agak terdengar angker, penyair ini lebih dikenal sebagai seorang
pahlawan yang amat ditakuti oleh lawan-lawannya. Sehingga pribadi penyair ini,
kelak pada masa Daulat Fatimiyyah, sering diagungkan dengan penulisan kisah
kepahlawanan yang dinisbatkan kepada pribadi penyair ini.
Puisi-Puisinya
Pada mulanya penyair ini tidak terkenal sebagai penayir ulung, tetapi untungnya
sejak muda penyair ini telah menyimpan bakat untuk berpuisi. Dan bakat inilah
yang mendorong untuk meningkatkan prestasinya dalam berpuisi. Kebanyakan
puisinya dikumpulkan dalam mu'allaqadnya yang sangat panjang.
Adapun penyebab yang mendorongnya untuk mencipatakan mu'allaqadnya
adalah bahwa pada suatu hari penyair ini diejek orang di majelis ayahnya
setelah diakuinya sebagai anak oleh ayahnya, di mana ia diejek dari keturunan
ibunya yang merupakan seorang budak, sehingga membuatnya marah dan
berkata:
" ,



" : " " : "
"Aku adalah seorang yang gemar menghadiri pertempuran, aku adalah orang
yang paling adil, dan aku tidak pernah meminta dan aku selalu dermawan
dengan yang kumiliki dan aku adalah pembuka jalan buntu. Orang yang
menejeknya berkata: "Aku lebih fasih dalam berpuisi daripada kamu". Lalu
Antarah berkata: "Akan kamu lihat kelak kefasihanku!"
Sejak saat itu, Antarah mulai merangkum kasidah mu'allaqadnya yang
mengisahkan percintaan dengan kekasihnya yang bernama Ablah. Selain itu, ia
juga mengisahkan tentang keberanian dan keagungan dirinya dalam medan
pertempuran.

Para ahli sastra Arab menggolongkan puisi Antarah ke dalam kelas tertinggi
dalam menggambarkan dan mensifati segala kejadian yang dialaminya. Dalam
salah sati bait puisinya, penyair ini menerangkan kepada kekasihnya bahwa ia
adalah seorang yang baik bila ia tidak diganggu dan dirampas miliknya. Akan
tetapi, jika ia diganggu, maka ia akan membalas perbuatan orang itu dengan
kekerasan yang dapat dijadikan pelajaran selama hidup orang yang
menggangunya. Seperti contoh di bawah ini[2]:



"Pujilah aku (wahai kekasihku) dari apa yang kamu ketahui dari kelakuan baikku.
Sesungguhnya aku adalah seorang yang lemah lembut bila tidak dizalimi oleh
siapa pun"
"Namun, jika aku dizalimi oleh seseorang, maka aku akan membalasnya dengan
balasan yang lebih keras dari kezalimannya"
Selain itu penyair ini mempunyai sifat dermawan kepada siapa pun, karena sifat
inilah yang paling disukai oleh bangsa Arab dan selalu dibanggakan. Dalam hal
ini penyair ini menyebutkan bahwa dirinya adalah seorang yang sangat
dermawan dan suka menolong orang lain walaupun itu dalam keadaan yang
tidak sadar, seperti dalam keadaan mabuk, yang mana biasanya dalam keadaan
seperti itu tidak mungkin seorang akan berlaku baik ataupun berderma. Namun,
penyair ini masih tetap bisa melakukan kebaikan dan berderma walaupun dalam
keadaan mabuk, hal itu dapat dilihat dari bait puisinya di bawah ini[3]:



"Jika aku sedang minum arak, maka aku akan menghabiskan seluruh hartaku
untuk menjamu kawan-kawanku, dan hal itu tidak akan merusak kehormatanku"
"Dan jika aku telah sadar dari mabukku, maka aku akan menghamburkan
hartaku untuk berderma, sebagaimana telah kamu ketahui akan budi perkerti
baikku ini (berbanggalah wahai kekasihku dengan segala budi pekertiku seperti
ini)"
Antarah selain terkenal sebagai penyair ulung, juga terkenal sebagai seorang
pahlawan yang gagah berani di medan peperangan. Gambaran akan
kegagahannya dalam berperang dapat dilihat dalam bait puisi di bawah ini[4]:

"Wahai puteri Malik, tidakkah engkau tanyakan kepada ksatria itu tentang diriku
di medan peperangan, jika engkau tidak tahu?"
"Tidakkah engkau tanyakan kepada ksatria itu tentang diriku ketika aku sedang
berada di atas kuda yang dilukai oleh musuh?"
"Ada kalanya aku bawa kuda itu untuk menyerang musuh, namun adakalanya

aku membawa kudaku untuk bergabung dengan pasukan yang banyak"


"Jika kamu bertanya tentang diriku pada orang yang hadir dalam peperangan itu,
maka mereka akan memberitahukan kepadamu bahwa aku adalah orang yang
selalu maju (berada di depan) dalam setiap peperangan dan aku orang yang
tidak tamak dalam pembagian rampasan perang"
"Adakalanya ada ksatria yang berani dan sangat ditakuti oleh musuhnya dan
tidak mau menyerah"
"Namun tanganku buru-buru menerkamnya dengan tusukan tombak yang kuat"
"Dan ketika ksatria itu aku tusuk dengan tombak yang keras, yang dapat
menembus baju jirahnya. Dan orang bangsawan pun tidak mustahil untuk
terbunuh"
"Setelah ksatria itu terbunuh, maka aku tinggalkan begitu saja agar menjadi
santapan binatang buas yang akan menghancurkan jari tangan dan lengannya
yang bagus itu"
Sebenarnya kita masih dapat mengikuti puisinya yang menerangkan keagungan
pribadi penyair ini, untuk itu dapat kita lihat dalam kasidah al-Mu'allaqat-nya
yang panjang.
8. ZUHAIR BIN ABI SULMA
Nasab Keluarga Dan Kabilah
Nama lengkapnya adalah Zuhair bin Abi Sulma bin Rabi'ah bin Rayyah al-Muzani.
Ayahnya bernama Rabi'ah yang berasal dari kabilah Muzainah. Pada zaman
Jahiliyyah kabilah ini hidup berdekatan dengan kabilah bani Abdullah
Ghatafaniyyah yang menghuni di daerah Hajir, Nejed, sebelah timur kota
Madinah. Kabilah ini juga bertetangga dengan kabilah Bani Murrah bin Auf bin
Saad bin Zubyan. Ia adalah salah seorang dari tiga serangkai dari penyair
Jahiliyyah setelah Umru al-Qais dan An-Nabighah az-Zibyani. Penyair ini amat
terkenal karena kesopanan kata-kata puisinya. Pemikirannya banyak
mengandung hikmah dan nasehat. Sehingga banyak orang yang menjadikan
puisi-puisinya itu sebagai contoh hikmah dan nasehat yang bijaksana.
Rabi'ah bersama isteri dan anak-anaknya tinggal dalam lingkungan kabilah Bani
Murrah (kabilah Zubyan) dan kabilah Bani Abdullah Ghatafaniyyah. Setelah
ayahnya meninggal, ibunya menikah lagi dengan Aus bin Hujr, seorang penyair
terkenal dari Bani Tamim. Sementara Zuhair dan saudara-saudaranya, Sulma dan
al-Khansa`, diasuh oleh Basyamah bin al-Ghadir, paman mereka yang juga
seorang penyair. Dengan demikian Zuhair adalah keturunan kabilah Muzainah
yang dibesarkan di tengah-tengah kabilah Bani Ghatafaniyyah.
Dibesarkan Dalam Lingkungan Penyair
Zuhair dibesarkan dalam keluarga penyair dan sejak kecil ia belajar puisi dari
pamannya sendiri yang bernama Basyamah bin al-Ghadir dan Aus bin Hujur.
Basyamah termasuk tokoh Arab Jahiliyyah yang terhormat, kaya-raya, dan
sangat dihormati oleh kaumnya. Di samping sebagai penyair, Basyamah juga
seorang yang cerdas dan memiliki pendirian yang lurus, dia menjadi tempat
bertanya kaumnya dalam menghadapi berbagai persoalan. Ketika ia meninggal
dunia, seluruh hartanya diwariskan kepada keluarganya termasuk kepada Zuhair.
Disamping mendapatkan harta warisan, Zuhair juga mendapatkan warisan
kemampuan berpuisi dan kemuliaan akhlak yang diajarkan Basyamah.
Zuhair bin Abi Sulma, tumbuh dan besar dalam lingkungan keluarga penyair.
Rabi'ah ayahnya, Aus bin Hujr ayah tirinya, dan Basyamah pamannya, mereka
ada para penyair, dan saudaranya Sulma dan al-Khansa`, mereka berdua juga

penyair. Oleh karena itulah ia sudah terkenal pandai berpuisi sejak kecil. Selain
terkenal akan bakat puisi yang dimilikinya sejak kecil, ia juga disenangi oleh
seluruh kaumnya akan budi pekertinya yang luhur, sehingga setiap pendapat
yang dikeluarkannya selalu diterima baik oleh kaumnya.
Zuhair menikah dengan dua orang wanita, pertama dengan Ummu Aufa, yang
banyak disebut-sebut dalam puisinya, termasuk dalam mu'allaqat-nya.
Kehidupan rumah tangganya bersama Ummu Aufa kurang bahagia, dan itu
terjadi setelah Ummu Aufa melahirkan anak-anaknya yang kesemuanya
meninggal dunia, lalu ia pun menceraikannya. Setelah itu ia menikah lagi dengan
Kabsyah binti Amr al-Ghatafaniyyah, dan dari isteri keduanya ini lahirlah puteraputeranya, yaitu Ka'ab, Bujair, dan Salim. Salim meninggal dunia ketika Zuhair
masih hidup, sehingga banyak dari puisinya yang menggambarkan ratapannya
terhadap kematian anaknya itu. Sedangkan Ka'ab dan Bujair, keduanya hidup
sampai datangnya masa Islam, dan mereka berdua masuk Islam dan juga
menjadi penyair yang terkenal.
Hidup Dalam Situasi Peperangan
Zuhair hidup dalam masa terjadinya peperangan yang berlarut-larut selama 40
tahun antara kabilah Abbas dan Bani Dzubyan, yang terkenal dengan
peperangan Dahis dan Gabra'. Dalam peristiwa perang ini, ia pun turut ambil
bagian dalam usaha mendamaikan dua suku yang sedang berperang tersebut.
Dalam usaha perdamaian itu, ia mengajurkan kepada para pemuka bangsa Arab
untuk mengumpulkan dana guna membeli tiga ribu ekor unta untuk membayar
tebusan yang dituntut oleh salah satu dari kedua suku yang sedang berperang
itu. adapun yang sanggup menanggung keuangan itu adalah dua orang pemuka
bangsa Arab yang bernama Haram bin Sinan dan Harits bin Auf. Sehingga berkat
usaha kedua orang ini, peperangan yang telah terjadi selama 40 tahun dapat
dihentikan. Untuk mengingat kejadian yang amat penting itu, Zuhair
mengabadikan dalam salah satu puisi muallaqat-nya, seperti di bawah ini[1]:






"Aku bersumpah dengan Ka'bah yang ditawafi oleh anak cucu Quraisy dan
Jurhum".
Aku bersumpah, bahwa kedua orang (yang telah menginfakkan uangnya untuk
perdamaian itu) adalah benar-benar pemuka yang mulia, baik bagi orang yang
lemah, maupun bagi orang yang perkasa".
"Sesungguhnya mereka berdua telah dapat kesempatan untuk menghentikan
pertumpahan darah antara bani Absin dan Dhubyan, setelah saling berperang
diantara mereka".
"Sesungguhnya mereka bedua telah berkata: "Jika mungkin perdamaian itu
dapat diperoleh dengan uang banyak dan perkataan yang baik, maka kami pun
juga bersedia untuk berdamai".
"Sehingga dalam hal ini kamu berdua adalah termasuk orang yang paling mulia,
yang dapat menjauhkan kedua suku itu dari permusuhan dan kemusnahan".
"Kamu berdua telah berhasil mendapatkan perdamaian, walaupun kamu berdua
dari kelurga yang mulia, semoga kalian berdua mendapatkan hidayah, dan
barang siapa yang mengorbankan kehormatannya pasti dia akan mulia"
Kemunculan Zuhair Sebagai Penyair

Kemunculan Zuhair sebagai penyair tidak lepas dari pengaruh guru-guru


utamanya, yaitu Rabi'ah ayahnya, Aus ibn Hujr ayah tirinya, dan Bisyamah
pamannya. Dari ketiga penyair itulah Zuhair didikkan dalam menciptakan puisi.
Dia juga meriwayatkan puisi-puisi dari ketiga penyair tersebut. Sebagai seorang
yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga penyair, Zuhair pun kemudian
mendedikasikan hidupnya untuk puisi. Dia menciptakan puisi dan mengajarkan
penciptaan puisi kepada orang lain, terutama kepada kedua putranya Ka'ab dan
Bujair. Di antara penyair yang kemudian muncul dari hasil didikkannya, selain
kedua putranya adalah al-Khutaiyyah (Syauqi Dlaif, 1960:303).
Kalangan para perawi puisi menyatakan bahwa Zuhair lambat dalam
menciptakan puisi. Hal itu dikarenakan dalam menciptakan puisi dia menempuh
langkah-langkah: penggagasan, pngolahan, dan penyeleksian (penyuntingan),
sebelum kemudia puisi tersebut dipublikasikan (dibacakan dihadapan khalayak
ramai). Oleh karena itulah kepadanya disandarkan kisah proses penciptaan puisi
hauliyaat[2]. Hal itu dapat dilihat pula Ka'ab dan Al-khutaiyyah yang mengikuti
alirannya (Taha Husein, 1936: 284).
Keistimewaan karyanya terletak pada kekuatan bahasa dan susunan katakatanya, banyak terdapat kata-kata asing (sulit) dalam puisinya, dia berupaya
untuk mencari hakekat makna asli untuk mengeluarkannya pada konkrisitas
materi yang sebenarnya. Dengan kekuatan akal dan wawasannya dalam
penggambaran-penggambaran dan imajinasinya. Pada umumnya, apa yang
diungkapkannya tidaklah jauh dari hakekat realitas yang konkret. Zuhair juga
termasuk penyair masa Jahiliyyah yang terkenal dalam pengungkapan kata-kata
hikmah dan pribahasa. Dalam kehidupannya ia terkenal dengan konsistensi dan
kecerdasannya. Pendapatnya sesuai dengan kehidupannya. Posisi
kesusastraannya, menurut kebanyakan para kritikus sastra Arab, dibangun atas
hikmah dan kata-kata bijak yang dikenal pada masanya (Karum al-Bustani,
1953:6).
Kepercayaan Hanief
Pada umumnya, masyarakat Arab masa Jahiliyyah adalah penganut kepercayaan
berhala. Meskipun demikian, Zuhair bin Abi Sulma termasuk penyair Arab
Jahiliyyah yang percaya akan adanya hari Kiamat, adanya Hisab (perhitungan
amal perbuatan), dan adanya siksaan serta balasan. Penyair ini memang tidak
sempat merasakan masa ketika diutusannya Nabi Muhammad Saw. Akan tetapi,
penyair ini sudah percaya akan datangnya hari Kiamat dan hari pembalasan.
Seperti terlihat pada bait puisinya dibawah ini[3]:



"Janganlah sekali-kali kalian menyembunyikan kepada Allah (penghianatan dan
pelanggaran atas sumpah kalian) dalam hati kalian dengan tujuan untuk
menyembunyikannya, tetapi ingatlah!! Walau kalaian sembunyikan, Allah maha
mengetahui".
"Ditangguhkan, lalu dicatat dalam buku amal dan disimpan untuk kemudian
diungkapkan di hari perhitungan, atau disegerakan pembalasannya dalam
kehidupan dunia ini".
Jika benar bait-bait puisi di atas dinisbatkan kepada Zuhair bin Abi Sulma, maka
hal itu dapat dijadikan petunjuk bahwa dia termasuk salah seoorang penyair
masa Jahiliyyah yang mempunyai kepercayaan yang hanief (lurus), dan
kepercayaan keberhalaannya diragukan. Bahkan ada yang berpendapat bahwa
dia termasuk golongan orang-orang yang mengharamkan khamr (arak atau

minuman keras), mabuk, dan mengundi nasib dengan panah (Syauqi Dhoif,
1960:303). Zuhair berumur panjang dan meninggal sekitar setahun sebelum
Nabi Muhammad Saw diangkat menjadi Rasul.
Puisi-Puisinya
Kumpulan puisi Zuhair telah diterbitkan bersama kumpulan-kumpulan puisi dari
lima penyair terkenal lainnya, yaitu Umru al-Qais, an-Nabighah, Tharafah,
Antarah, dan al-Qamah. Kumpulan puisi yang lain diterbitkan pada tahun 1889
dalam bentuk serial yang berjudul "Tharafa Arabiyyah", kemudian dicetak ulang
di Mesir dan di kota-kota lain yang diusahakan oleh Musthafa Saqa.
Ada dua sumber mengenai kumpulan puisi Zuhair, Pertama, berasal dari ulama
Basrah yang mengatakan bahwa ada 18 kasidah, sebagaimana ada komentar
yang berbunyi: "Mencakup semua kasidah Zuhair yang sampai pada kita atas
dasar riwayat yang ada". Adapun sumber kedua, berasal dari ulama Kufah yang
mengatakan bahwa ada tambahan sepuluh kasidah, tetapi bahwa tambahan itu
adalah ulah tangan orang lain.
Para ahli sastra Arab berpendapat bahwa puisi Zuhair bin Abi Sulma termasuk ke
dalam katagori yang tinggi, dan hampir dapat disamakan dengan puisi Umru alQais dan An-Nabighah az-Zibyani. Dalam hal itu mereka beralasan bahwa Zuhair
memiliki keistimewaan-keistimewaan sebagai berikut:
1. Ijaz-nya bagus dan suka membuang tambahan pembicaraan serta kata-kata
yang kurang dipelukan, sehingga ia menciptakan sedikit kata banyak makna,
seperti dalam kata-katanya di bawah ini:

"Tak ada kebaikan yang mereka persembahkan. Sesungguhnya kebaikan yang
mereka miliki hanyalah warisan dari nenek moyang mereka sebelumnya"
2. Madah-nya bagus dan menjauhi kedustaan di dalamnya. Dia tidak memuji
seseorang melainkan karena akhlaknya dan sifat-sifat terpuji yang diketahuinya,
seperti dalam kata-katanya di bawah ini:

"Terhadap mereka yang banyak hartanya ia sediakan pemberian untuk orangorang yang meminjam dari mereka. Pada orang yang berkurangan, ia sangat
bertoleran dan memberi bantuan"
3. Kata-katanya jauh dari ta'qid (komplikasi) kata dan makna, serta jauh dari
pembicaraan yang tidak perlu dan asing (sulit dicari maknanya), seperti dalam
kata-katanya di bawah ini:

"Jika pujian dapat membuat seseorang menjadi abadi, mereka pun pasti akan
abadi. Tetapi, pujian orang-orang tidak akan bisa membuatnya abadi"
4. Puisinya sedikit sekali mengandung kata-kata yang buruk. Oleh karena itu,
puisi-puisinya bersih dan sedikit sekali adanya cercaan di dalamnya. Pernah
suatu kali, ia mencerca suatu kaum, namun ia sedih dan menyesali apa yang
telah diperbuatnya.
5. Banyak mengungkapkan amtsal (pribahasa) dan kata-kata hikmah, sehingga
penyair ini dianggap sebagai orang yang pertama dalam menciptakan kata-kata

hikmah dalam puisi Arab, yang kelak akan diikuti oleh penyair lainnya, seperti
Shalih bin Abdul Kudus, Abu al-Atahiyah, Abu Tamam, al-Mutanabby, dan Abu alAla' al-Ma'ary dari kalangan Arab peranakan (al-Muwalidin). Di antara katakatanya yang berisikan amtsal dan kata hikmah seperti terdapat di bawah ini:








"Aku dapat mengetahui segala yang terjadi pada hari ini dan kemarin, tetapi aku
tetap tidak akan tahu apa yang akan terjadi esok hari"
"Barang siapa berbuat kebaikan dari kedalaman harga dirinya, ia akan
terpelihara, dan barang siapa yang tidak melindungi diri dari cercaan, ia akan
dicerca"
"Barang siapa memiliki kelebihan harta, lalu ia bakhil (pelit) dengan hartanya itu
terhadap kaumnya, maka ia tidak akan berguna dan akan dicerca"
"Barang siapa memenuhi kewajibannya, ia tidak akan dicerca, barang siapa
hatinya mendapat petunjuk menuju ketentraman dalam berbuat kebaikan, maka
ia tidak akan terguncang oleh ketegangan"
"Aku lihat maut itu datang tanpa permisi terlebih dahulu, barang siapa yang
didatangi pasti akan mati, dan barang siapa yang luput dia akan mengalami
lanjut usia".
"Barang siapa yang takut mati, pasti ia akan bertemu juga dengan kematian itu,
walaupun ia naik ke langit dengan tangga"
"Barang siapa yang menolong orang yang tidak berhak untuk ditolong, maka ia
akan menerima resikonya dan akan menjadikan penyesalan baginya".
9. AN-NABIGHAH ADZ-DZIBYANI
Nasab Keluarga Dan Kabilahnya
Penyair ini memiliki nama asli An-Nabighah Az-Zibyani Abu Umamah Ziyad bin
Muawiyah. Namun, ia lebih terkenal dengan panggilan an-Nabighah, yang berarti
seorang yang pandai berpuisi, karena memang sejak muda ia pandai berpuisi.
An-Nabighah merupakan salah seorang tokoh penyair terkemuka Arab Jahiliyyah
dan juga menjabat sebagai dewan hakim dalam perlombaan puisi yang diadakan
di pasar Ukadz.
Penyair ini selalu berusaha mendekatkan dirinya kepada para pembesar dan
menjadikan puisinya sebagai alat yang paling ampuh untuk mendapatkan
kedudukan dan kekayaan. Oleh karena itulah ia kerapkali dihasut oleh lawannya.
An-Nabighah termasuk salah seorang pemimpin para bangsawan kabilah
Dzubyan, hanya saja karena usahanya mendapatkan harta melalui puisi,
mengurangi kemuliaannya. Hampir seluruh umurnya, ia habiskan di kalangan
keluarga raja Hira, sehingga raja Hira yang bernama Nu'man bin Mundzir sangat
cinta kepadanya, sehingga dalam suatu riwayat dikatakan bahwa penyair ini di
kalangan raja Hira selalu memakai bejana dari emas dan perak, dan hal itu
menunjukkan kedudukannya yang tinggi di sisi raja Hira. Hal itu berlangsung
cukup lama, sampai salah seorang saingannya memfitnahnya dan menghasut
Nu'man, sehingga ia marah dan merencanakan untuk membunuh An-Nabighah.
Salah seorang pengawal Nu'man secara diam-diam menyampaikan berita
tersebut, sehingga An-Nabighah pun segera melarikan diri dan meminta

perlindungan kepada raja-raja Ghossan yang menjadi saingan raja-raja


Manadzirah dalam memperebutkan penguasaan atas bangsa Arab.
Namun, karena lamanya persahabatan yang ia jalin dengan Nu'man bin Mundzir,
An-Nabighah berusaha untuk membersikan diri atas fitnah yang ditujukan
kepadanya dan meminta maaf kepadanya dengan puisi-puisinya untuk
melenyapkan kebencian Nu'man dan meluluhkan hatinya, serta menempatkan
kembali posisinya semula di sisi raja Nu'man bin Mundzir. Hal tersebut dapat
dilihat dalam puisi i'tidzariyat (permohonan maaf)-nya di bawah ini:


"Sesungguhnya engkau bagaikan malam yang kujelang meski aku didera
kehampaan, tapi tempat berharap maaf darimu sungguh luas membentang"
An-Nabighah berusia panjang dan meninggal menjelang keutusan Nabi
Muhammad Saw.
Kedudukan Puisinya
Sebagian besar ahli sastra Arab mendudukan puisi an-Nabighah pada deretan
ketiga sesudah sesudah Umru al-Qais dan Zuhair bin Abi Sulma. Hanya saja
penilaian ini sangat relatif sekali, karena setiap orang pasti mempunyai penilaian
masing-masing. Walaupun demikian karya puisi merupakan puisi yang sangat
tinggi nilainya. Karena pribadi penyair ini sangat berbakat dalam berpuisi. Oleh
sebab itu, tidak heran bila penyair ini diangkat sebagai dewan juri dalam setiap
perlombaan berdeklamasi dan berpuisi tiap tahun di pasar Ukadz.
Dalam perlombaan deklamasi dan berpuisi itu, para penyair berdatangan dari
segala penjuru tanah Arab semuanya berkumpul di pasar Ukadz, Daumat alJandal, dan Dzil Majanah. Dalam kesempatan ini, mereka mendirikan panggung
untuk dewan juri, dan salah seorang dari dewan juri itu adalah an-Nabighah
sendiri, karena dia dikenal sebagai seorang yang mahir dalam menilai puisi. Dan
apabila ada puisi yang dinilai baik, maka puisi itu akan ditulis dalam lembaran
khusus dengan menggunakan tinta emas, kemudian digantungkan pada dinding
Ka'bah sebagai penghormatan bagi penyairnya.
Keistimewaan puisi an-Nabighah bila dibandingkan dengan puisi Umru al-Qais
dan Zuhair bin Abi Sulma, maka puisi an-Nabighah lebih indah dan kata-katanya
lebih mantap, bahasanya sederhana sehingga mudah dimengerti oleh semua
orang. Dan para penyair lain pun tidak jarang yang meniru gaya an-Nabighah
dalam berpuisi, sehingga orang yang suka akan kelembutannya puisinya, seperti
Jarir, menganggap bahwa ia merupakan penyair Jahiliyyah yang paling piawai.
Ketergiurannya untuk mencari penghidupan dengan puisi, justru membuka
teknik baru dalam jenis puisi madah (pujian) serta melakukan perluasan dan
pendalaman dalam jenis puisi itu, sehingga dia mampu memuji sesuatu yang
kontradiktif.
Kepiawaiannya itu terlihat ketika pada suatu hari ia hendak memuji raja Nu'man
bin Mundzir yaitu seorang raja yang paling disukainya. Waktu itu ia melihat
matahari yang sedang terbit dengan terang. Oleh karena itu raja Nu'man
diumpamakan dalam puisinya sebagai matahari yang terbit, dimana matahari
bila sedang terbit, maka sinarnya itu akan mengalahkan sinar bintang di malam
hari. Untuk itu penyair itu berkata seperti di bawah ini[1]:


"Sesungguhnya kamu adalah matahari dan raja-raja selainmu adalah bintangbintangnya, yang mana bila matahari terbit, maka bintang-bintang itupun akan

hilang dari penglihatan".


Selain dari bait puisi di atas, masih banyak lagi dari kumpulan puisinya yang
diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Perancis oleh Monsiur Dierenburg
pada tahun 1868, karena puisinya banyak digemari orang.
Puisi-Puisinya
An-Nabighah mempunyai diwan (antologi) puisi yang dikomentari oleh Batholius
(Ibnu Sayyid al-Batholius) yang telah berulang-ulang dicetak, meskipun antologi
puisinya itu tidak menghimpun seluruh puisinya. Di antara puisinya yang paling
indah adalah yang terdapat di dalam mu'allaqat-nya yang bait-bait pertamanya
berbunyi:




"Berhentilah kalian untuk menyapa, menyalami, sungguh indah reruntuhan
perkampungan, apa yang kalian salami adalah timbunan tanah dan bebatuan"
"Tanah lenggang, sepi dari binatang liar, dan telah diubah oleh hembusan badai
serta hujan yang datang dan pergi"
"Aku berdiri di atasnya, ditengah reruntuhan dan bertanya kepadanya tentang
serombongan unta yang biasa lewat di sana"
"Reruntuhan rumah yang indah , demikian asing, membisu tak mau berbicara
pada kami, dan reruntuhan rumah itu, andai ia mau berbicara pada kami, pasti ia
punya banyak cerita"
Di antara kata-katanya yang paling bagus dalam puisi i'tidzar-nya seperti yang
terdapat di bawah ini:
) (




"Telah sampai berita padaku tentang abaital la'ni bahwa engkau mencercaku,
itulah yang membuat penting dan aku menjadi sangat lelah" "semalaman,
seakan para pembesuk menjengukku, menebar duri-duri tajam di atas tempat
tidur dan menusuk-nusukku"
"Aku bersumpah tidak akan meninggalkan keraguan pada dirimu. Setelah Allah,
bagi seseorang tidak ada lagi tempat kembali"
"Jika berita mengenai dosa yang aku lakukan telah sampai padamu, yang
menyampaikan berita padamu itu, sungguh penjilat yang paling jahat dan paling
dusta"
"Tetapi aku adalah orang yang memiliki tempat yang lain di bumi, di mana aku
mengais rizqi dan tempat melarikan diri"
Di antara puisi-puisinya yang lain,



"Engkau bagaikan sang masa, terbentang luas tali-tali kasihnya. Sang masa, tak
ada tempat berlindung dan tempat melarikan diri selainnya"
"Sahara menjadi lengang, penduduknya memikul beban, yang menghancurkan
Lubad telah dihancurkannya"
"Aku mendapat berita bahwa Abu Qabus mengancamku, tapi dalam auman singa
tak ada yang pasti"
"Jika golongan kanan cukup menimbulkan kebencianmu, karena berkhianat.
Sungguh aku sendiri dari golongan kanan yang berasala dari golongan kiri"
10. UMRU' AL-QAIS BIN HUJRIN
Kabilah Dan Keluarga Umru' Al-Qais
Penyair ini memiliki nama lengkap Umru' al-Qais bin Hujrin bin al-Harits al-Kindi,
dan berasal dari suku Kindah, yaitu suatu suku yang pernah berkuasa penuh di
daerah Yaman. Karena itu, ia lebih dikenal sebagai penyair Yaman (Hadramaut).
Kabilah ini adalah keturunan dari bani Harits yang berasal dari Yaman, daerah
Hadramaut Barat. Mereka mendiami daerah Nejed sejak pertengahan abad ke-5
Masehi.
Suku Kindah merupakan salah satu kabilah bangsawan Arab yang harus
menghadapi dua saingan kerajaan yang cukup kuat, yaitu Malik al-Khairah dan
Husasanah. Keduanya saling berusaha untuk menghalang-halangi pengaruh suku
Kindah terhadap suku-suku lain, sehingga mengakibatkan terjadinya peperangan
terus-menerus dan turun-menurun.
Nasab penyair ini termasuk ke dalam kalangan terhormat, ia anak seorang raja
Yaman yang bernama Hujur al-Kindi, sedangkan ibunya bernama Fatimah binti
Rabiah saudara Kulaib Taghlibiyyah, yaitu seorang pewira Arab yang amat
terkenal dalam peperangan al-Basus dan saudara dari Muhalhil, yang juga
seorang penyair.
Hujur al-Kindi adalah ayah Umru' al-Qais, yang meninggal dibunuh oleh kabilah
Bani Asad. Namun, para sastrawan dan kritikus sastra Arab berselisih pendapat
tentang sebab terbunuhnya ayah Umru' al-Qais. Salah satunya adalah pendapat
pengarang kitab al-Aghni (Ibnu Mandzur, tt:248). Ia berpendapat bahwa
penyebab kematiannya terdapat empat riwayat, yaitu:
1. Diriwayatkan dari Hisam ak-Kalabi (w.204 H), menyatakan sebab terbunuhnya
Hujur al-Kindi adalah sebagai tindakan balas dendam bani Asad terhadapnya.
Karena pemimpin mereka Amr bin Mas'ud al-Asadi dipenjara dan harta kekayaan
mereka dirampas serta mereka diusir dari rumah tempat tinggal mereka.
2. Diriwayatkan dari Abu Faraj dan Abi Amr as-Saibani (w. 213 H), berpendapat
bahwa terbunuhnya Hujur al-Kindi merupakan akibat kelalaian dirinya sendiri
ketika ia berlindung kepada Uwair bin Sijnah karena rasa takutnya kepada bani
Asad.
3. Diriwayatkan dari Abu Faraj dari Ibnu Sikkit (w. 244 H), berpendapat bahwa
Hujur al-Kindi meninggal terbunuh oleh seorang pemuda ketika berperang
melawan bani Asad sebagai balas dendam kepadanya.
4. Diriwayatkan dari Abu Faraj dari Hisam bin 'Adi (w. 206 H), pendapat ini sama
dengan pendapat no. 2, hanya saja ia dibunuh sebab kelengahannya ketika
berperang dengan bani Asad.
Namun, menurut Syauqi Dhaif[1], ia berpendapat bahwa riwayat yang paling
benar adalah riwayat terakhir.
Kehidupan Umru' Al-Qais

Di dalam buku-buku atau lteratur sastra Arab telah terjadi perselisihan pendapat
mengenai siapa sebenarnya nama Umru' al-Qais Terdapat bermacam-macam
nama bagi penyair ini, yaitu Hunduj, 'Adiyan, dan Mulaikah. Nama pendeknya
Abu Wahab, Abi Zaid, dan Abu Harits. Ada juga yang mengatakan bahwa ia
dijuluki dengan nama Dzu al-Qurut[2] dan al-Malik ad-Dlalil[3]. Akan tetapi
julukan (laqab)nya yang paling terkenal adalah Umru' al-Qais. Julukan al-Qais
diambil dari nama salah satu berhala di masa Jahiliyyah. Mereka
mengagungkannya dan menisbatkan segala sesuatu kepadanya.
Sebagian ahli sastra Arab berpendapat bahwa nasab Umru' al-Qais dari ayahnya
Semith bin Umru' al-Qais bin Amr al-Kindi. Adapun nasab ibunya, Tamaluk bin
Amr bin Zubaid bin Madzhad dari Suku Amr bin Ma'ad Yakrub. Diriwayatkan
bahwa di masa Jahiliyyah terdapat enam belas penyair Arab yang kesemuanya
bernama Umru' al-Qais, sehingga terjadi perselisihan di antara satu sama lain[4].
Adapun tentang kapan dilahirkannya, para ahli sejarah sastra Arab tidak
mengetahui dengan pasti kapan dia dilahirkan. Namun, ada yang mengatakan
bahwa ia dilahirkan pada permulaan abad ke-6 M.
Dari segi nasab tersebut, sangat berpengaruh terhadap kepribadian penyair
Yaman ini. Sejak kecil penyair ini dibesarkan di Nejed, di tengah-tengah Bani
Asad, rakyat ayahnya. Ia hidup di dalam kalangan keluarga bangsawan yang
gemar berfoya-foya. Kehidupannya sebagai anak seorang raja berpengaruh
sekali dalam pembentukan kepribadiannya. Ia memiliki kebiasaan bermain cinta,
bermabuk-mabukkan, dan melupakan segala kewajiban sebagai anak raja yang
seharusnya pandai mawas diri dan berlatih untuk memimpin masyarakat. Ia
kerapkali dimarahi oleh ayahnya karena perangainya yang buruk, bahkan
akhirnya dia diusir dari istana.
Selama masa pembuangan, Umru' al-Qais bergabung dengan para
yamun, preman/brandalan, serta tunawisma Arab yang sebaya dengannya. Ia
mengembara ke sebagian besar daerah jazirah Arab untuk menghabiskan
waktunya bersama masyarakat Badui. Orang-orang Badui ini gemar sekali
mengikutinya karena disamping mereka butuh akan hartanya, mereka juga
membutuhkan spritit lewat puisi-puisinya untuk menghadapi lawan-lawan
mereka.
Masa pengembaraan penyair ini berlangsung cukup lama. Dan pengalaman
pengembaraannya itu kelak akan membawa pengaruh yang amat kuat pada
puisi-puisinya. Selama pengembaraannya itu, ia mendapatkan pengetahuan,
pelajaran, dan pengalaman yang baru yang dituangkan dalam karya-karyanya.
Dibandingkan dengan penyair lain yang tidak banyak berkelana, puisi Umru' alQais memiliki nilai lebih, baik dari keindahan maupun sistematika bahasa.
Kebiasaan buruk Umru' al-Qais yang senang berfoya-foya, tidak juga hilang
meskipun ia dalam masa pembuangan. Suatu hari, ketika ia sedang berada di
salah satu warung minuman dan hiburan di Dammun, datang seorang kurir
menyampaikan berita mengenai kematian orang tuanya yang terbunuh di
tangan kabilah Bani Asad, yaitu sebuah kabilah yang sedang memberontak
terhadap kekuasaan ayahnya. Mendengar berita kematian orang tuanya itu tidak
membuatnya terkejut dan menuntut balas, tetapi berita itu tidak disambut baik
olehnya, bahkan dengan malas-malasan ia berkata[5]:
" , , , , ,"
"Dulu, sewaktu aku kecil, aku dibuang, dan kini setelah aku dewasa, aku dibebani
dengan darahnya, biarkan saja urusan itu, sekarang waktunya untuk bermabukmabukan, dan esok barulah waktu untuk menuntut darahnya"[6].
Namun akhirnya, ia berangkat juga menuju Nejed untuk menuntut balas atas
kematian orang tuanya. Dalam menunaikan pembalasannya itu, ia terpaksa
meminta bantuan kepada kabilah-kabilah Arab yang berada di sekitarnya.

Sehingga pertempuran itu berkecamuk lama, dan akhirnya ia melarikan diri


menuju kerajaan Romawi Timur (Byzantium) di Turki. Di tengah perjalanan,
penyair itu terbunuh oleh musuhnya dan di makamkan di kota Angkara, Turki,
dan tidak diketahui secara pasti tahun berapa ia terbunuh, diperkirakan kurang
lebih 82 sebeum Hijriyyah atau 530-540 Masehi.
Karya Sastra Umru' Al-Qais
Sebagian besar ahli sastra Arab berpendapat bahwa diantara puisi-puisi alMu'allaqat, puisi Umru' al-Qais merupakan puisi yang palin terkenal dan
menduduki posisi penting dalam khazanah kesusastraan Arab Jahiliyyah.
Mu'allaqat Umru' al-Qais merupakan peninggalan yang paling monumental yang
mempunyai peranan penting dalam perkembangan kesusastraan Arab pada
masa-masa selanjutnya. Puisi-puisinya seringkali dipakai sebagai referensi dalam
kajian ilmu-ilmu bahasa Arab seperti nahwu, sharf, maupun balaghah.
Keistimewaan puisi-puisinya, bersandarkan pada kekuatan daya khayalnya dan
pengalaman dalam pengembaraannya. Bahasa yang digunakan sangat tinggi
dan isinya padat. Bait-bait puisinya menggambarkan cerita yang panjang, satu
bait puisinya memiliki tujuan yang sangat banyak. Ia juga dianggap sebagai
orang pertama yang menciptakan cara menarik perhatian dengan cara istikafusShahby[7], cara seperti ini sangat menarik bila digunakan dalam puisi ghazal dan
tasybib (cara untuk merayu wanita), dan cara seperti itulah yang amat digemari
penyair Arab untuk membuka kasidahnya untuk menarik perhatian orang. Ia juga
dianggap sebagai penyair pertama dalam mensifati kecantikan seorang wanita
dengan mengumpamakannya seperti seekor kijang yang panjang lehernya,
karena seorang wanita yang panjang lehernya, menandakan sebagai seorang
wanita yang cantik.
Orang yang mempelajari puisi karya Umru' al-Qais dengan mendalam, maka
akan ditemukan bahwa keindahan penyair ini terletak pada caranya yang halus
dalam puisi ghazal-nya. Ditambah dengan gaya isti'arah (kata-kata kiasan dan
perumpamaan). Sehingga banyak yang beranggapan bahwa ialah orang pertama
yang menciptakan perumpamaan dalam puisi Arab. Walauun terkadang puisipuisinya juga tidak luput dari perumpamaan yang cabul, tetapi itu tidak
mengurangi nilai dalam puisinya, karena bentuk kecabulannya itu tidak terlalu
berlebihan, dan perumpamaan semacam itu merupakan kebiasaan dari para
penyair Arab.
Secara garis besar bait-bait puisinya yang terkumpul dalam kasidah mu'allaqatnya meliputi beberapa tema, antara lain:
Mengenai perpisahan seorang sahabat yang membekas dan memilukan, yang
menyebabkan air mata bercucuran menyertai kepergfiannya untuk
mengembara.
Mengenang hari daratul jaljal sebagai cerminan kisah romantis. Tema ini
merupakan ungkapan cinta sejati yang tidak mungkin terlupakan. Dan konon
tema inilah yang membuat Umru' al-Qais terpilih menjadi penyair al-Mu'allaqat.
Mengenai senda gurau yang diibaratkan pertarungan dengan seorang pelacur.
Mengenai doa untuk kekasihnya Unaizah, sebagai persembahan cinta yang
sejati.
Mengenai pertarungan untuk merebut idaman hati.
Menggambarkan malam dan waktu-waktu yang dilaluinya, serta kejadiankejadian luar biasa yang dialaminya.
Mengenai penderitaan akan kegagalan.
Mengenai simbolisasi kuda dengan kecepatan yang luar biasa.
Mengenai pengibaratan pemimpin suku Badui dengan kilat dan hujan,
sedangkan pengikutnya dengan jurang yang dalam dan pegunungan yang tinggi.

Walaupun pemakaian kata-kata kiasan, pengibaran dengan alam, dan


simbolisasinya, tidak hanya didominasi oleh puisi-puisi Umru' al-Qais, tetapi
dilakukan juga oleh para penyair lain. Akan tetapi, para ahli puisi Arab,
berpendapat bahwa ialah orang yang pertama kali menciptakan puisi-puisi
kontoversial pada zamannya, dan tidak jarang kata-kata yang bernada sinisme
juga dipakai oleh Umu al-Qais dalam puisi-puisinya.
Terkadang ia juga berkata vulgar yang mengarah ke pornografi dalam ungkapanungkapan komparasi dan pembicaraannya mengenai wanita. Tercium pula aroma
kecerdasan dan kepiawaiannya, serta tersirat pula indikasi-indikasi
kepemimpinannya. Hal itu diantaranya terdapat dalam kata-katanya di bawah
ini:


"Gadis-gadis itu terus melahap dagingnnya dan lemaknya bagaikan kain sutra
putih"
"Mereka terus memasak daging antara yang matang dengan dipanggang, dan
ada yang direbus setengah matang"


"Seandainya yang kuusahakan ini untuk kehidupan yang rendah, aku sudah
kecukupan, dan tak perlu lagi mencari secuil harta"
"Akan tetapi, aku berusaha untuk suatu keagungan sejati, yang terkadang
keagungan sejati itu mampu tergapainya orang-orang sepertiku"
Di bawah ini merupakan contoh puisi Umru' al-Qais dalam bab Ghazal yang
menceritakan perjalanan bersama kekasihnya yang bernama Unaizah, seperti di
bawah ini[8]:



"Suatu hari ketika aku sedang masuk ke dalam Haudat[9] kekasihnya Unaizah,
maka Unaizah berkata kepadaku: "Celakalah kamu, jangan kamu beratkan
untaku".
"Ketika punggung untanya agak condong ke bawah (karena berat), maka ia
berkata kepadaku: "Turunlah hai Umru al-Qais, janganlah kamu ganggu jalan
untaku ini".
"Di saat itu, kukatakan kepadanya: "Teruskanlah perjalananmu dan lepaskanlah
tali kekangnya, janganlah engkau jauhkan aku dari sisimu".
Penyair ini juga mensifati kecantikan kekasihnya, Unaizah, seperti dalam bait
puisi di bawah ini[10]:






"Ketika kami berdua telah melewati perkampungan, dan sampai di tempat yang

aman dari intaian orang kampung"


"Maka kutarik dirinya sehingga ia dapat merapat kepadaku, perutnya ramping
dan dadanya putih bagaikan kaca".
"Lehernya jenjang bak leher kijangi, jika dipanjangkan tidak bercacat sedikit pun,
karena lehernya dipenuhi kalung permata".
"Rambutnya yang panjang dan hitam bila terurai di bahunya bagaikan mayang
korma".
Pada bait puisi di atas Umru' al-Qais menggambarkan kecantikan kekasihnya
dengan gayanya yang khas, dan gambaran yang seindah itu tidak dapat
terlukiskan, kecuali bagi orang yang mempunyai daya khayal yang tinggi,
ditambah dengan pengalaman yang luas, sehingga dengan itu semua ia dapat
melukiskan sesuatu dengan berbagai macam perumpamaan dan sepertinya
benar-benar terjadi.
Contoh lain yang menunjukkan kemahiran penyair ini dalam menggambarkan
suatu kejadian dengan gayanya yang khas sehingga bayangan yang ada benarbenar terjadi. Seperti kesusahan yang dialaminya pada malam hari, seperti
dibawah ini[11]:





"Di kala gelap malam bagaikan badai laut yang tengah meliputiku dengan
berbagai macam keresahan untuk mengujiku (kesabaranku)".
"Di kala malam itu tengah memanjangkan waktunya, maka aku katakan
padanya".
"Hai malam yang panjang, gerangan apakah yang menghalangimu untuk
berganti dengan pagi hari? Ya walaupun pagi itu pun belum tentu akan sebaik
kamu".
Pada bait-bait puisi di atas, sebenarnya penyair ini ingin mengutarakan betapa
malang nasibnya. Di mana keresahan hatinya akan bertambah susah bila malam
hari tiba. Karena saat itu ia merasa seolah-olah malam itu sangat panjang sekali.
Sehingga ia mengharapakan waktu pagi segera tiba, agar keresahannya dapat
berkurang, namun sayang sekali keresahannya itu tidak juga berkurang
walaupun pagi hari telah tiba. Puisi di atas, tidak lain merupakan contoh dari
kepandaian Umru' al-Qais dalam menggambarkan suatu keadaan. Sehingga
seolah-olah itu benar-benar terjadi.
Bait puisinya terkumpul semuanya dalam kasidah mu'allaqat-nya. Mu'allaqat
Umru' al-Qais sangat terkenal dikalangan setiap orang yang mempelajari
kesusastraan Arab. Penyair ini menciptakan kasidah muallaqadnya tidak lain
adalah untuk mengabadikan suatu kejadian yang dialaminya. Seperti kejadian
yang dialaminya besama sang kekasih Unaizah.
Pada suatu ketika Umru' al-Qais ingin bertemu kekasihnya, namun keinginannya
itu selalu dihalangi oleh pamannya, karena ia takut anak puterinya itu akan
terbujuk dengan puisi Umru' al-Qais. Karena itulah, Umru' al-Qais berusaha
dengan sekuat tenaga untuk mendapatkan kesempatan agar dapat bertemu
dengan anak pamannya yang bernama Unaizah. Dan pada suatu ketika, ia
berhasil bertemu dengan Unaizah dan bersepakat bertemu dalam kesempatan
lain bila anggota kabilahnya sedang pergi mengambil air. Dan telah menjadi
kebiasaan kabilah itu, bila hendak mengambil air kaum lelaki berjalan terlebih
dahulu, kemudian barulah diikuti kaum wanita dari belakang.
Sewaktu kaum lelaki pergi ke mata air, Umru' al-Qais tidak keluar bersama

mereka, bahkan penyair ini menunggu keberangkatan kaum wanita. Dan ketika
kaum wanita keluar menuju mata air, maka Umru' al-Qais keluar mendahului
mereka agar dapat sampai lebih dahulu. Sesampainya di mata air yang bernama
Juljul yang terletak di daerah Kindah (Nejed), penyair ini langsung bersembunyi
di balik batu yang tidak terlalu jauh dari tempat itu.
Ketika rombongan wanita yang di dalamnya terdapat kekasihnya tiba di mata air
Juljul, maka mereka langsung menanggalkan pakaiannya masing-masing, dan
meletakkannya di atas batu. Setelah mereka masuk ke dalam air, maka Umru' alQais yang tengah asyik memperhatikan dari balik batu, langsung mengambil
pakaian mereka semua, dan berjanji tidak mengembalikannya kecuali bila
mereka keluar dari mata air itu dengan keadaan telanjang bulat. Melihat kejadian
itu, semua kaum wanita terkejut dan meminta Umru' al-Qais untuk
mengembalikan pakaian mereka. Namun Umru' al-Qais tetap bersikeras tidak
mengembalikan pakaian mereka bila mereka tidak mau keluar dalam keadaan
telanjang bulat.
Akhirnya, dengan keadaan terpaksa kaum wanita itu keluar dari mata air Juljul
dalam keadaan telanjang bulat untuk mengambil pakaian mereka dari tangan
Umru' al-Qais, tetapi hanya Unaizah yang tidak mau keluar dari mata air, dan ia
meminta Umru' al-Qais untuk mengembalikan pakaiannya. Setelah ia
mengetahui bahwa Umru' al-Qais tidak akan mengembalikan pakaiannya, maka
dengan terpaksa Unaizah keluar dari mata air dengan keadaan telanjang dan
meminta Umru' al-Qais untuk mengembalikan pakaiannya. Dan kemenangannya
itu, diabadikannya dalam kasidah mu'allaqat-nya.
Umru' al-Qais juga memiliki puisi-puisi panjang dan pendek. Puisi panjangnya
yang paling terkenal dan menjadi buah bibir orang dalam kepopulerannya,
terdapat dalam kumpulan mu'allaqat-nya seperti terdapat di bawah ini:


"Marilah kita berhenti untuk menangis (mengenang) kekasih dan rumahnya di
Siqthi liwa antara Dakhul dan Haumal"
"Tudlih dan Miqrat, bekas-bekasnya belumlah lenyap karema hembusan angina
selatan dan angina utara"
Umru' al-Qais juga memiliki puisi yang berisikan hikmah-himah atau kata-kata
mutiara, seperti yang terdapat di bawah ini:


"Seseorang, bila lisannya tidak dapat memelihara dirinya, maka tidak ada
sesuatu pun yang dapat dipeliharanya"
"Sesungguhnya kamu tidak akan dibanggakan sebagai orang lemah kamu tidak
akan dikalahkan oleh orang yang berkali-kali kalah"
Dwan (kumpulan puisi-puisi) Umru' al-Qais telah mengalami cetakan berulangulang. Pertama kali dicetak di Paris pada tahun 1837 M oleh De Slane. Pada
tahun 1870 dibukukan kembali oleh Ahlwardt dan pada tahun 1958 Muhammad
Abu Fadl Ibrahim bersama lembaga Dr al-Ma'arif Kairo telah mengeluarkan
kembali Dwan Umru' al-Qais yang baru, yaitu dengan mengambil dari nushah
yang ditulis oleh De Slane. Dwan tersebut meliputi 28 kasidah dengan sarah
(penjelasan) Assantamri (riwayat dari orang Kufah)[12].

11. Hani Bin Qabishah Bin Hani Bin Mas'ud Asy-Syaibani


Hani bin Qabishah bin Hani bin Mas'ud asy-Syaibani adalah seorang kepala
kabilah dari bani Syaiban, yang terkenal dengan keberaniannya pada akhir
zaman Jahiliyyah.
Mengenai keberaniannya, suatu hari, ia diminta oleh Raja Kisra dari Persia, untuk
memberikan amanat kepada Nu'man bin al-Mandzur, salah seorang Raja
Munadzirat di Hira, Irak, tetapi ia menolak. Maka, terjadilah peperangan antara
Persia dan Bakr, suku bani Hani, di sebuah tempat dekat Basrah di Irak, yang
dikenal dengan perang Dzi Qaar (yaumu Dzi Qaar), dalam peperangan itu suku
Bakr memperoleh kemenangan. Di bawah ini adalah pidato Hani kepada
kaumnya pada perang tersebut:
" , , , ,
, , , ,
, ," .
"Wahai segenap orang-orang kabilah Bakr, mati dalam medan peperangan lebih
baik daripada orang yang selamat dengan lari dari perang. Melarikan diri
(ketakutan) tidak akan menyelamatkan dari takdir. Sesungguhnya kesabaran
merupakan salah satu faktor penyebab kemenangan. Kematian bukanlah sebuah
kehinaan. Menyongsong kematian (maut) lebih baik daripada menghindarinya.
Tusukan di tenggorakan lebih mulia daripada tusukan di leher dan pundak. Wahai
keluarga Bakr, berperanglah! Janganlah kalian takut akan mati, karena kematian
akan dimana pun akan menghadang kalian"
12. Aktsam bin Shaifi
Aktsam bin Shaifi dikenal sebagai orator bangsa Arab Jahiliyyah yang paling
bijak, ia juga dikenal sebagai seorang yang paling mengetahui silsilah keturunan
bangsa Arab. Di dalam orasinya ia banyak menyisipkan kata-kata hikmah dan
peribahasa. Pendapat yang dikeluarkan selalu tepat dan argumentasinya kuat.
Selain dikenal sebagai seorang orator yang ulung, ia juga sebagai hakim yang
dihormati dan disegani.
Aktsam bin Shaifi memiliki kedudukan yang tinggi disisi kaumnya dan termasuk
tokoh pemimpin yang dimuliakan, dan juga penguasa pembesar di kalangan
mereka. Sangat sedikit pada masanya, orator yang dapat menandinginya dalam
keluasan pengetahuan di bidang silsilah keturunan bangsa Arab, dalam
penciptaan pribahasa, dan kata-kata hikmah, juga dalam memecahkan berbagai
permasalahan, dan dalam keluhuran pemikirannya.
Aktsam bin Shaifi merupakan ketua dari para orator yang diutus oleh Raja
Nu'man untuk menghadap Raja Kisra, Persia. Raja Kisra sangat kagum terhadap
Aksam, sehingga ia menyatakan: "Seandainya bangsa Arab tidak memiliki lagi
orator sepertimu, kamu sendiri pun sudah cukup".
Aktsam bin Shaifi memiliki usia yang panjang, ia sempat mengalami masa
diutusnya Nabi Muhammad Saw, Ketika ia mendapat berita mengenai di utusnya
Nabi Muhammad Saw, ia mengumpulkan kaumnya dan mengajak mereka untuk
beriman kepada Nabi Muhammad Saw.
Di dalam pidato-pidatonya, Aktsam jarang menggunakan kata-kata majaz,
kalimat-kalimat pidatonya begitu ringkas, padat, merdu, dan mengandung
makna yang luas. Pidato-pidatonya juga banyak dihiasi dengan kata-kata
mutiara dan pribahasa. Ungkapan orasinya tidak begitu mementingkan
persajakan (rima), tetapi lebih cenderung untuk memuaskan pendengarnya
dengan argumentasi yang baik dan bukti. Dia menyandarkan orasinya pada
kekuatan pengaruh dan kesan yang ditimbulkan dari kepiawaiannya dalam
berorasi. Di bawah ini adalah salah satu contoh orasinya (pidato) yang
disampaikan dihadapan Raja Kisra, Persia:

" , , , ,
, , , , ,
, , , ,
, ,
. , , ,
, , ,
, , , , ,
"
"Sesungguhnya, seutama-utamanya sesuatu adalah yang paling tinggi. Setinggitinggi orang adalah raja mereka. Seutama-utama raja adalah yang paling merata
kemamfaatannya. Sebaik-baik masa adalah masa yang paling subur (jaya).
Seutama-utama orator adalah orator yang paling jujur. Kejujuran adalah
penyelamat. Kedustaan adalah lembah kehancuran. Kejahatan adalah
berlarutnya pertikaian. Tekad kuat adalah kendaraan yang paling sulit dinaiki.
Kelemahan adalah kendaraan yang paling mudah dinaiki. Penyakit berpikir
adalah hawa nafsu. Kelemahan adalah kunci kefakiran. Sebaik-baik perkara
adalah kesabaran. Baik sangka adalah sesuatu yang menyulitkan. Buruk sangka
adalah suatu perlindungan. Memperbaiki kerusakan rakyat lebih baik daripada
memperbaiki kerusakan penguasa. Barang siapa yang rusak kawan-kawan dan
kroni-kroninya, bagaikan tenggelam dalam air. Seburuk-buruk negeri adalah
negeri yang tidak memiliki pemimpin. Sejahat-jahat raja adalah raja adalah raja
yang ditakui oleh orang-orang bersih. Seorang akan menjadi lemah jika tidak
memiliki usaha. Sebaik-baik pembantu adalah orang yang tidak menentang
nasihat. Sebaik-baik tentara yang berhak mendapatkan kemenangan adalah
tentara yang baik intusi perangnya. Cukuplah bekal buatmu, yang dapat
menghantarkan sampai ke tempat tujuan. Cukuplah kejahatan itu, kamu
mendengarnya saja. Balaghah adalah ijaz (kata ringkas dan padat makna).
Barang siapa yang kasar akan dijauhi orang, dan barang siapa yang ramah akan
didekati orang".
13. Qus bin Sa'idah Al-Iyadi
Qus bin Sa'idah al-Iyyadi merupakan seorang orator ulung Arab Jahiliyyah dan
menjadi idola dalam ke-balaghah-an orasinya, kata-katanya banyak mengandung
hikmat dan nasihat-nasihat yang baik. Ia menganut kepercayaan tauhid dan
beriman kepada hari kebangkitan. Ia menyeru masyarakatnya untuk
menghentikan penyembahan terhadap berhala, dan berusaha membimbing
mereka untuk menyembah kepada Yang Maha Pencipta (al-Khaliq). Dia
mengorasikan hal itu kepada masyarakatnya dalam berbagai acara dan pada
musim-musim pasaran.
Sebagian ahli sastra Arab menyatakan bahwa Qus bin Sa'idah al-Iyyadi adalah
orator pertama yang berorasi di tempat yang tinggi, orator pertama yang
mengatakan dalam orasinya kata-kata "amma ba'du" (kemudian dari
itu/selanjutnya), dan orator pertama yang berorasi sambil bertelekan
(memegang) pedang dan tongkat. Masyarakat banyak yang datang kepadanya
untuk meminta pengadilan dan penyelesaian terhadap sebuah permasalahan,
dan ia pun mampu mengadili mereka dengan pemikiran yang jernih dan
keutusan yang tepat.
Qus bin Sa'idah al-Iyyadi juga orang pertama yang mengatakan: "Pembuktian
atas orang yang mendakwa dan sumpah atas orang yang mengingkari". Ia
pernah menjadi duta (wakil) yang diutus kepada Kaisar Romawi. Pada suatu
ketika Kaisar Romawi bertanya kepadanya:
"Akal apakah yang paling mulia?"

Qus menjawab: "Akal yang membuat seseorang dapat mengenal dirinya".


Kaisar bertanya: "Ilmu apakah yang paling utama?"
Qus menjawab: "Ilmu yang dapat membuat seseorang melindungi dirinya".
Kaisar bertanya: "Sifat apakah yang paling mulia dari seorang ksatria?"
Qus menjawab: "Yaitu sifat ksatria seseorang akan mampu mengendalikan air
mukanya".
Kaisar bertanya: "Harta apakah yang paling mulia?"
Qus menjawab: "Harta yang dapat membuat seseorang dapat menyelesaikan
hak-haknya".
Nabi Muhammad Saw sebelum diutus menjadi pernah mendengar Qus berorasi
di pasar Ukadz di atas unta yang berwarna kelabu. Beliau Saw begitu
mengagumi keindahan kata-katanya dan mengagumi kelurusannya serta
memujinya. Qus berusia panjang dan meninggal menjelang Nabi Muhammad
Saw diutus menjadi Rasul.
Kata-kata yang digunakan dalam berorasi begitu selektif, sehingga kesan yang
ditimbulkan sangat kuat, jauh dari kesalahan, dan senda gurau. Saja' (prosa
bersajak), pharase-pharase pendek-pendek, selalu muncul secara spontan dalam
setiap orasinya. Di antara pidatonya, adalah pidato yang disampaikannya di
pasar Ukadz, sebagaimana yang terdapat dalam kitab Shubhi al-A'sya (1: 212),
seperti yang terdapat di bawah ini:
, , , , , , ,
, , , , ,
, ,
. :
" .
"Wahai segenap manusia dengarlah dan sadarlah. Sesungguhnya orang yang
hidup itu akan mati. Orang yang mati itu telah berlalu. Segala yang akan datang
itu pasti datang. Malam yang gelap gulita, siang yang terang benderang, langit
yang berhias bintang-bintang. Bintang gemintang yang berkerlap-kerlip, lautan
yang bergelombang, gunung-gunung yang tinggi menjulang, bumi yang
menghampar, dan sungai-sungai yang mengalir. Sesungguhnya di langit itu ada
kabar berita, dan di bumi itu penuh dengan pengajaran. Bagaimanakah
gerangan berita tentang orang-orang yang telah pergi dan tak kembali? Adakah
gerangan karena mereka suka dan mereka menetap di sana? Qus bersumpah
demi Allah, suatu sumpah yang tidak mengandung dosa: Sesungguhnya Allah
memiliki agama yang lebih disukai-Nya buat kalian, dan lebih utama daripada
agama yang kalian jalani. Sesungguhnya kalian benar-benar mendatangkan
urusan yang mungkar (yang tidak disukai)".
Diriwayatkan bahwa setelah berorasi itu, Qus mendendangkan Syi'rnya:


:


"Pada orang-orang terdahulu yang telah berlalu pergi berabad-abad silam, kita
mendapatkan berbagai pelajaran"
"Ketika kulihat meeka beramai-ramai menuju telaga kematian yang tidak dapa
dihindari"
"Da kulihat kaumku pun menuju ke arah sana dengan tidak perduli, mereka yang

tua renta maupun mereka yang muda belia"


"Yang telah berlalu tak akan kembali lagi kepadaku, dan sementara mereka yang
masih tersisa tak akan pernah tetap berada"
"Aku pun yakin, bahwa tak ayal lagi aku pun pasti berlalu pergi, menuju tempat
ke mana kaumku pergi"
http://waklehganteng.blogspot.co.id/2012/04/kajian-sastra-arab.html

Sejarah Kesusastraan Arab

A. Sejarah Kesusastraan
Sastra merupakan segala aktivitas manusia atau prilakunya, baik
yang berbentuk verbal maupun fisik, yang berusaha dipahami oleh ilmu
pengetahuan.Aktifitas itu berupa fakta manusia yang melahirkan aktivitas
social tertentu, aktivitas politik tertentu, maupun kreasi cultural seperti
filsafat, seni rupa, seni gerak, seni patung, seni music, seni sastra dan
yang lainnya.Setiap kita hidup dan beraktivitas, kita tidak sadar bahwa
sebenarnya dunia sastra sangat berkaitan erat dengan kita semua.
Teeuw pernah berpendapat bahwa sastra berada dalam urutan
keempat setelah agama, filsafat, ilmu pengetahuan, sebagai disiplin ilmu
ia menempati posisi keempat karena ke empat bidang tersebut saling
bertransformasi dan meregulasi diri (self regulating) bidang mereka
masing masing. Pengaruhnya jelas terasa hingga saat ini dan bangsa Arab
menyebutnya miratul hayat sebagai cerminan kehidupan mereka, bukan
hanya itu dengan bersastra ia akan mengetahui rekaman sejarah
kehidupan mereka pada masa lalu.

B. Periodisasi Kesusastraan Arab


Berbicara mengenai periodesasi kesusastraan Arab, seringkali kita
dibuat bingung dengan adanya perbedaan penulisan periodesasi yang

ditulis masing-masing penulis sejarah kesusastraan Arab, baik dari segi


peristilahannya maupun dari segi waktunya.
Pada umumnya, periodesasi kesusastraan dibagi sesuai dengan
perubahan politik. Sastra dianggap sangat tergantung pada revolusi sosial
atau politik suatu negara dan permasalahan menentukan periode
diberikan pada sejarawan politik dan sosial, dan pembagian sejarah yang
ditentukan oleh mereka

itu biasanya diterima begitu saja tanpa

dipertanyakan lagi (Wellek, 1989:354).


Penentuan mulainya atau berakhirnya masa setiap periodesasi
hanyalah perkiraan, tidak dapat ditentukan dengan pasti, dan biasanya
untuk mengetahui perubahan dalam sastra itu biasanya akibat perubahan
sosial dan politik (Jami'at, 1993:18). Di bawah ini akan dipaparkan bentuk
penulisan periodesasi yang dilakukan oleh para ahli kesusastraan Arab,
antara lain:
Hana al-Fakhuriyyah membaginya ke dalam lima periodesasi, yaitu:
1.

Periode Jahiliyyah, perkembangan kesusastraan Arab pada masa ini

dibagi atas dua bagian, yaitu masa sebelum abad ke-5, dan masa sesudah
abad ke-5 sampai dengan Hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke Madinah (1
H/622 M).
2.

Periode Islam, perkembangan kesusastraan Arab pada masa ini

berlangsung sejak tahun 1 H/622 M hinggga 132 H/750 M, yang meliputi:


masa Nabi Muhammad SAW dan Khalifah ar-Rasyidin (1-40 H/662-661 M),
dan masa Bani Umayyah (41-132 H/661-750 M).
3.

Periode Abbasiyah, perkembangan kesusastraan Arab pada masa ini

berlangsung sejak 132 H/750 M sampai 656 H/1258 M.


4.

Periode kemunduran kesusastraan Arab (656-1213 H/1258-1798 M),

periode ini di mulai sejak Baghdad jatuh ke tangan Hulagu Khan,


pemimpin bangsa Mongol, pada tahun 1258 M, sampai Mesir dikuasai oleh
Muhammad Ali Pasya (1220 H/1805 M).

5.

Periode

kebangkitan

kembali

kesusastraan

Arab;

periode

kebangkitan ini dimulai dari masa pemerintahan Ali Pasya (1220 H/1805
M) hingga masa sekarang.
Adapun Muhammad

Sa'id dan Ahmad

Kahil (1953:

5-6)

membagi

periodesasi kesusastraan Arab ke dalam enama periode sebagai berikut:


1.

Periode Jahiliyyah, dimulai sekitar satu tengah abad sebelum

kedatangan Islam sekitar dan berakhir sampai kedatangan Islam.


2.

Periode permulaan Islam (shadrul Islam); dimulai sejak kedatangan

Islam dan berakhir sampai kejatuhan Daulah Umayyah tahun 132 H.


3.

Periode Abbasiyah I, dimulai sejak berdirinya Daulah Abbasiyah

tahun 132 H dan berakhir sampai banyak berdirinya daulah-daulah atau


negara-negara bagian pada tahun 334 H.
4.

Periode Abbasiyah II, dimulai sejak berdirinya daulah-daulah dalam

pemerintahan Abbasiyah dan berakhir dengan jatuhnya Baghdad di


tangan bangsa Tartar atau Mongol pada tahun 656 H.
5.

Periode Turki, dimulai sejak jatuhnya Baghdad di tangan bangsa

Mongol dan berakhir dengan datangnya kebangkitan modern sekitar


tahun 1230 H.
6.

Periode Modern, dimulai sejak datangnya kebangkitan modern

sampai sekarang.
Sedangkan Ahmad Al-Iskandi dan Mustafa Anani dalam Al-Wasit AlAdab

Al-Arobiyah

Wa

Tarikhihi (1916:10)membagi

periodesasi

kesusastraan Arab ke dalam lima periode, yaitu:


1.

Periode Jahiliyah, periode ini berakhir dengan datangnya agama

Islam, dan rentang waktunya sekitar 150 tahun.


2.

Periode permulaan Islam atau shadrul Islam, di dalamnya termasuk

juga periode Bani Umayyah, yakni dimulai dengan datangnya Islam dan
berakhir dengan berdirinya Daulah Bani Abbas pada tahun 132 H.

3.

Periode Bani Abbas, dimulai dengan berdirinya dinasti mereka dan

berakhir dengan jatuhnya Bagdad di tangan bangsa Tartar pada tahun 656
H.
4.

Periode dinasti-dinasti yang berada di bawah kekuasaan orang-

orang Turki, di mulai dengan jatuhnya Baghdad dan berakhir pada


permulaan masa Arab modern.
5.

Periode Modern, dimulai pada awal abad ke-19 Masehi dan

berlangsung sampai sekarang ini.


Adanya Perbedaan istilah dalam penulisan periodesasi kesusastraan Arab
seperti dua contoh di atas, merupakan suatu hal yang wajar, seperti yang
dikemukakan Teeuw (1988: 311-317) bahwa perbedaan itu disebabkan
empat pendekatan utama, yaitu:
1.

Mengacu pada perkembangan sejarah umum, politik atau budaya.

2.

Mengacu pada karya atau tokoh agung atau gabungan dari kedua

hal tersebut.
3.

Mengacu pada motif atau tema yang terdapat dalam karya

sepanjang zaman.
4.

Mengacu pada asal-usul karya sastra.

Pada masa jahili (pra islam) sudah ada dan terdapat tradisi
keilmuaan yang tinggi yakni bersyair dan penyair yang terkenal pada
masa itu disebut dengan penyair mualaqat. Seluruh hasil karya dari
kesepuluh orang penyair itu semunya dianggap hasil karya syair yang
terbaik dari karya syair yang pernah dihasilkan oleh bangsa Arab.Hasil
syair karya mereka terkenal dengan sebutan Muallaqat.Dinamakan
muallaqat

(kalung

perhiasan)

karena

indahnya

puisi-puisi

tersebut

menyerupai perhiasan yang dikalungkan oleh seorang wanita.Sedangkan


secara umum muallaqat mempunyai arti yang tergantung, sebab hasil
karya syair yang paling indah dimasa itu, pasti digantungkan di sisi Kabah
sebagai penghormatan bagi penyair atas hasil karyanya. Dan dari dinding
Kabah inilah nantinya masyarakat umum akan mengetahuinya secara

meluas, hingga nama penyair itu akan dikenal oleh segenap bangsa Arab
secara kaffah dan turun temurun. Karena bangsa Arab sangat gemar dan
menaruh perhatian besar terhadap syair, terutama yang paling terkenal
pada masa itu.Seluruh hasil karya syair digantungkan pada dinding
Kabah selain dikenal dengan sebutan Muallaqat juga disebut Muzahabah
yaitu syair ditulis dengan tinta emas.Sebab setiap syair yang baik
sebelum digantungkan pada dinding Kabah ditulis dengan tinta emas
terlebih dahulu sebagai penghormatan terhadap penyair.
Berdasarkan temanya, puisi zaman jahiliyah dibedakan atas "Al
Fakhru"

(membangga-banggakan

diri

atau

suku),

"Al

Hamasah"

(kepahlawanan), "Al Madah" (puji-pujian),"Ar-ritsa" (rasa putus asa,


penyesalan, dan kesedihan),"Al Hujaa" (kebencian dan olok-olok), "Al
Washfa" (tentang keadaan alam), "Al ghozal" (tentang wanita),dan "Al
i'tidzaar" (permintaan maaf).
Kendati pada masa ini disebut masa jahili (pra islam), tetapi mereka
mempunyai kebudayaan tinggi. Bersyair merupakan sebuah karya yang
sangat orisinil bangsa Arab pada masa itu menjadi sumber hukum yang
pertama.Baru

setelah

datangnya

masa

Islam

semua

itu

berobah

total.Islam sebagai rahmatan lil alamin dengan quran dan hadis sebagai
sumber hukumnya, menyeru kepada kebaikan, menghormati sesama
jenis, saling mencintai dan saling mengenal, yang bertitik beratkan
kepada aspek moral yakni makarimal akhlak.
Setelah Islam datang, tidak berarti bahwa puisi-puisi menjadi
dilarang.Islam datang untuk memelihara yang sudah baik, memperbaiki
yang kurang baik, menghilangkan yang buruk-buruk saja, dan melengkapi
yang masih lowongTentang puisi, Nabi bersabda,"Inna Minasy-syi'ri
hikmatun" (Sesungguhnya diantara puisi itu terdapat hikmah). Ketika
Hasan ibn Tsabit (Syaa'itul Islaam ) mengajak untuk mencemooh musuh musuh Islam, Nabi berkata, Hujaahum wa Jibril ma'aka" (Cemoohlah
mereka, Jibril bersamamu). Nabi pernah memuji puisi Umayyah ibn Abu
Shalti, seorang penyair jahiliyah yang menjauhi khamr dan berhala.Nabi
juga pernah memuji puisi Al-Khansa, seorang wanita penyair zaman
jahiliyyah.

Bahkan, Nabi pernah menghadiahkan burdah (gamis)-nya kepada


Kaab ibn Zuhair saat Kaab membacakan qasidahnya yang berjudul
"Banaatu Su'aad" .
Karena itu, muncullah apa yang disebut dengan Qasidah Burdah. Di
masa permulaan Islam ini, berkembang pula genre pidato dan surat
korespondensi. Surat-surat pada mulanya dibuat oleh Nabi untuk menyeru
raja-raja di sekitar Arab agar masuk Islam.
.Pada

masa

Bani

Umayyah,

muncul

tema-tema

politik

dan

polemiknya sebagai dampak dari ramainya pergelutan politik dan aliran


keagamaan.
Namun, pada masa ini Islam juga mencapai prestasi pembebasan (
)yang luar biasa, sehingga banyak memunculkan "Sya'rul Futuuh Wa
ad-Da'watul Islamiyyah (Puisi Pembebasan dan Dakwah Islam).Para
penyair yang terkenal pada masa ini antara lain Dzur Rimah, Farazdaq,
Jarir, Akhtal, dan Qais ibn Al-Mulawwih (terkenal dengan sebutan Majnun
Laila).
Pada zaman Bani Abbasiyah, surat menyurat menjadi semakin
penting dalam rangka penyelenggaraan sistem pemerintahan yang
semakin kompleks. Dalam genre prosa, muncul prosa pembaruan (AnNatsrut Tajdidiy) yang ditokohi oleh Abdullah ibn Muqaffa dan juga prosa
lirik yang ditokohi oleh antara lain Al-Jahizh. Salah satu prosa terkenal dari
masa ini ialah Kisah Seribu Satu Malam (Alfu lailah wa lailah). Dalam dunia
puisi juga muncul puisi pembaruan yang ditokohi oleh antara lain Abu
Nuwas dan Abul Atahiyah.
Masa Bani Abbasiyah sering disebut-sebut sebagai Masa Keemasan
Sastra Arab.Karena Islam juga eksis di Andalusia (Spanyol), maka tidak
ayal lagi kesusastraan Arab juga berkembang disana.Pada zaman Harun
Al-Rasyid, berdiri Biro Penerjemahan Darul Hikmah. Namun hal lain yang
perlu dicatat ialah bahwa pada masa ini banyak terjadi kekeliruan
berbahasa di tengah masyarakat akibat pergumulan yang kuat bangsa
Arab dengan bangsa ajam (non Arab).
Setelah melewati Masa Keemasan, kesusastraan Arab kemudian
memasuki masa kemunduran, yang sering juga disebut sebagai zaman

pertengahan,

zaman

kemunduran

ini

politik.Bahasa

Arab

Mamluk,

disebabkan
saat

itu

atau

zaman

oleh

mulai

bahkan

bisa

Turki.Secara
timbulnya

dikatakan

umum

instabilitas

telah

hancur

dihadapan bahasa resmi, Turki.Meski namanya zaman kemunduran,


namun tidak sedikit para sastrawan ternama muncul pada masa ini.
Menjelang zaman modern, sastra Arab mulai dihadapkan dengan
sastra Barat.Dalam hal ini, terdapat dua aliran utama.
Pertama, aliran konservatif (Al Muhaafizhuun), yakni mereka yang
masih memegang kaidah puisi Arab secara kuat. Mereka itu antara lain
Mahmud Al-Barudi dan Ahmad Syauqi. Yang terakhir disebut ini sering
dikenal dengan sebutan Amiirusy Syu'araa (Pangeran Para Penyair) dan
Poet of Court (Penyair Istana).Disamping itu terdapat pula Hafizh Ibrahim
yang dikenal dengan sebutan Poet of People (Penyair Rakyat).
Aliran yang kedua ialah aliran modernis (Al Mujaddiduun), yakni
mereka yang ingin lepas dari kaidah dan gaya tradisional serta sangat
terpengaruh oleh sastra Barat.Setelah hampir lima abad berada dalam
masa surut bahkan keterpurukan di berbagai bidang, maka pada akhir
abad ke-18 M bangsa Arab mulai memasuki fase sejarah kesadaran dan
kebangkitan. Kesadaran ini semakin mendapat energinya setelah mereka
bersentuhan dengan kebudayaan Barat melalui ekspedisi Napoleon
Bonaparte ke Mesir pada tahun 1798. Kesadaran dan tambahan energi itu
lantas

diimplementasikan

di

masa

Muhammad

Ali

dengan

cara

mengirimkan banyak sarjana ke Barat. Penerjemahan berbagai karya


asing Barat, baik tentang kesusastraan atau ilmu pengetahuan lainnya
digalakkan dengan motor Rifaah Rafi al Tahtawy (1801-1873 M). Banyak
percetakan dan penerbitan majalah atau surat kabar muncul. Dalam
kondisi penuh semangat pembaharuan ini, kesusastraan Arab merangkak
bangkit. Era baru kesusastraan modern pun dimulai.Baru pada masa
modern ini sastra Arab mulai berkembang karena girah dan kesadaran
akan pentingnya khazanah peradaban yang di pelopori oleh Al-Barudi,
Khalil

Mutaran

Ahmad

Syauki

dkk.

Pada

masa

ini

sudah

transformasi intelektual dengan berpuncak pada revolusi Mesir.

terjadi

Dari masa Rasulullah, Khufahurasidin, sampai keruntuhan Abasiah


akibat ekspedisi Hulagukhan dengan berimbas

berdirinya

kerajaan

mamluk di Turki (Konstantinopel) sastra Arab masih tetap bertahan


kendati mengalami pasang surut pada dinasti keruntuhan Abasiah dan
mamluk.Sebenarnya begitu banyak fenomena kesustraan Arab yang
masih harus diselami. Andai Lautan menjadi tinta, hingga dikali lipat
banyaknya, tentu, ia tak akan cukup menuliskan kegemilangan sastra ini.
http://mouzena20.blogspot.co.id/2013/01/sejarah-kesusastraan-arab.html