Anda di halaman 1dari 5

Achmad Giffari G

1301113992
Kebijakan Pemerintah dalam Pembangunan Ekonomi

Lee Hsien Loong seorang wakil perdana menteri Singapura pernah mengatakan
saat suatu konfrensi di Hong Kong :
In Singapore anything not expressly permitted is forbiden, while in Hong Kong
everything not expressly forbidden is permitted 1
Di Singapura apapun yang belum tentu diperbolehkan tidak boleh dilakukan,
sementara di Hong Kong apapun yang belum tentu tidak diperbolehkan boleh
dilakukan
Pernyataan ini diucapkan oleh beliau dalam membandingkan perekonomian
Singapura dengan Hong Kong yang dimana keduanya terkenal sebagai kota
perdagangan dunia. Sesuai pernyataan diatas berbeda dengan Hong Kong yang
dimana dalam kebijakan pembangunan perekonomian negaranya menganut
sistem laissez-faire atau dominasi penuh pihak swasta dan pasar bebas dalam
menjalankan perekonomian negaranya, sementara Singapura dalam
menjalankan perekonomiannya (terutama di fase awal berdirinya Singapura)
intervensi negara dalam menjalankan perekonomian singapura sangatlah besar. 2
Disaat berpisah dari Federasi Malaysia pada tahun 1965, Singapura dihadapi
atas kondisi yang jelas sangat tidak menguntungkan bagi perekonomian mereka
mendatang. Singapura saat itu hanya memiliki pasar domestik yang sangat kecil,
dan juga angka pengangguran dan kemiskinan yang tinggi, sepertiga penduduk
singapura tinggal dikawasan kumuh (slumps), 14 persen warganya
pengangguran, dan setengah penduduknya masih buta huruf. 3
Dihadapi situasi yang sulit seperti itu, Lee Kuan Yew Perdana Menteri pertama
Singapura dengan partainya PAP (Peoples Action Party) menerapkan kebijakan
tangan besi dalam upaya pembangunan negaranya. Pemerintah memakai cara
ala pemerintahan diktator dalam menerapkan kebijakan ekonominya. Kebijakankebijakan pemerintahan diutamakan pada sektor-sektor seperti, gaji pekerja
(wages) tetap diusahakan berada dalam tingkat yang rendah agar lebih

1 Thomas J Bellows, Bureaucracy and development in Singapore, Asian Journal of


Public Administration, 1995, hal 55.
2 Ibid., hal 57
3 Kalim Siddiqui, The Political Economy of Development in Singapore, Research
in Applied Economics, 2010, hal 3-4.

kompetitif di dunia internasional, , didorongnya tingkat simpanan negara


(saving), dan juga investasi asing.4
Dampak kebijkan ini mengakibatkan Singapura menjadi salah satu tujuan utama
perusahaan-perusahaan asing untuk menamkan modalnya terutama untuk
kawasan asia tenggara, dan juga tingkat simpanan dan investasti di singapura
juga merupakan salah satu yang tertinggi di dunia. 5 Hal ini mengakibatkan
standar kehidupan warga singapura naik secara drastis dan pada tahun 1987
dalam pidatonya Lee Kuan Yew mengklaim kalau 80% penduduk Singapura
sudah tergolong sebagai middle-class. Selain itu Singapura juga digolongkan
sebagai negara macan asia bersama 3 negara asia timur lainnya yaitu Korea
Selatan, Taiwan, dan Hong Kong.
Dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 8% dari tahun 1965-1999, Singapura
jauh meninggalkan negara-negara Asia Tengara lainnya dalam hal kualitas hidup
dan juga tingkat industri. Hal ini menjadikan Singapura diluluskan oleh IMF
masuk golongan negara maju.6 Kesuksesan Singapura ini membuktikan kalau
demokrasi dan juga press yang bebas bukanlah faktor yang esensial dalam
pembangunan ekonomi. Hal ini juga memberikan argumen baru kalau
autoritarianisme dan juga kedisiplinan merupakan faktor yang lebih penting
dalam pembangunan ekonomi.
Setelah krisis ekonomi global dipertengahan 80-an, pemerintah Singapura mulai
meningkatkan peran perusahaan-perusahaan yang terikat dengan pemerintahan
(Government Linked Coorporations/GLCs) yang dimana memiliki beberapa
kemiripan dengan BUMN seperti di Indonesia. Biasanya pemimpin dari GLCs ini
berasal dari petinggi partai PAP. Pemerintah melalui GLCs ini mendominasi
ekonomi domestik singapura dalam berbagai macam sektor seperti finansial,
telekomunikasi, penerbangan, hingga manufaktur. 7
Dalam beberapa tahu terkahir, dikarenakan strategi kebijkan diversifikasi
ekonomi, pemerintah telah menginvestasikan sekitar 100 milliar dolar singapura
ke luar negeri yang dimana uang ini berasal dari pajak. Selain itu juga salah satu
GLCs yaitu Temasek Holding menginvestasikan sekitar 70 milliar dolar singapura
ke 40 pelaku bisnis besar. GLCs lain seperti Central Provident Fund dan juga Post
Office Saving Bank memegang mayoritas dari simpanan negara. Autoritas

4 M.H Toh, Saving, Capital Formation and economic growth in Singapore, East
West Centre Working Paper, 1997, hal 88.
5 Kalim Siddiqui, op.cit, hal 6.
6 IMF Advanced Economic List, International Monetary Fund, 1998, hal 134.
7 Garry Rodan, International Capital, Singapores State Companies, and Security,
Critical Asian Studies, 1989, Vol.36,479-489.

Keuangan (Monetary Authority) di Singapura juga selain berperan sebagai


penentu kebijakan moneter juga berperan sebagai bank sentral negara. 8
Selain di sektor keuangan, di sektor tenaga kerja pemerintah juga melakukan
intervensi. Setelah merdeka, pemerintah langsung menasionalisasikan Serikat
Buruh. Dan biasanya PAP lah yang meletakkan siapa yang menjadi ketua dari
serikat ini. Hal inii mengakibatkan para pekerja atau buruh ini tidak bisa
melakukan demonstrasi atau mogok kerja, karena apabila mereka melakukan hal
tersebut konsekuensinya tidak lain adalah pemecatan dan hilangnya pekerjaan. 9
Pemerintah Singapura selalu menyerukan kepada para pekerjanya, kalau
singapura sebagai negara kecil yang tidak memiliki apapun akan susah untuk
mengembangkan ekonominya apabila para buruh tidak mau bekerja sama
demi membangun perekonomian yang kuat.
Dalam pembangunan industrinya, pemerintah singapura berusaha mengundang
sebanyak mungkin perusahaan-perusahaan asing yang dimana kemudian akan
melakukan kolaborasi dan juga berpartisipasi secara penuh dalam proses
industrialisasi negara. Pemerintah juga sadar kalau perusahaan asing akan mau
melakukan investasi apabila rate of return-nya tinggi. Hal ini menciptakan
kebijakan kawasan free-export dan juga tax breaks untuk investor asing.
Kebijakan ini sukses, hingga singapura selalu menjadi kawasan investasi utama
dikawasan asia. Dengan bukti kalau Singapura memiliki rate of return teringgi
bagi investor asing di Asia yang dimana mencapai 35,4% pada periode 19741984, yang dimana apabila dibandingkan negara industri asia lainnya seperti
Hong Kong yang hanya 16,9%, taiwan 18,4% dan Korea Selatan 15,2% di periode
yang sama.10
Dalam beberapa tahun terkahir Singapura dihadapi tantangan dengan
banyaknya perusahaan manufaktur asing yang dimana melakukan relokasi ke
negara-negara tetangga Singapura seperti Malaysia, Thailand, dan Indonesia. Hal
ini diakibatkan seiring dengan meningkatnya pendapatan per-kapita Singapura
maka biaya yang dibutuhkan untuk menggaji pekerjanya juga semakin tinggi,
hingga melakukan relokasi ke negara yang dimana masih berpendapatan rendah
merupakan pilihan yang lumrah dilakukan. Untuk mengatasi persoalan ini,
pemerintah Singapura sudah fokus untuk mengubah tujuan investasi dari sektor
manufatur ke sektor jasa atau ke sektor manufaktur yang lebih kompleks dan
membutuhkan tingkat SDM yang lebih tinggi seperti sektor Biokimia. 11

8 Ibid., hal 493-495.


9 Ibid., hal 498.
10 A Pereira, State Collaboration with Transnational Coorporations: The Case of
Singapore Industrial Programme, 2000, Vol.4 hal 20-25.
11 Ibid., hal 32.

Sehingga dapat disimpulkan kebijakan ekonomi pemerintahan Singapura bisa


dibagi dalam 3 fase yaitu :
1. 1965-1980: Menciptakan sektor manufaktur dan industri negara
2. 1980-1990: Peningkatan level industri (dari penghasil teknologi rendah
menjadi penghasil teknologi canggih)
3. 1990-2010: Regionalisasi ekonomi, fokus untuk melakukan investasi
besar-besaran dikawasan regional (Asia tenggara dan Asia Timur)

Daftar Pustaka
Bellows TJ. 1995. Bureaucracy and development in Singapore.Asian Journal of
Public Administration.
Siddiqui Kalim. 2010. The Political Economy of Development in Singapore.
Research in Applied Economics.
Toh, M.H. 1997. Saving, Capital Formation and economic growth in Singapore.
East West Centre Working Paper.
Rodan G. 1989. International Capital, Singapores State Companies, and Security.
Critical Asian Studies
Pereira, A. 2000. State Collaboration with Transnational Coorporations: The
Case of Singapore Industrial Programme. Competition and Change Vol.4.