Anda di halaman 1dari 14

Tugas farmakologi toksikologi

Disusun oleh :
Nama : karunia sari
Npm : 1343050050
Kelas : pagi A

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945
2016

1. Mekanisme Ikatan dengan sistem enzim.


Enzim bekerja mengkatalis reaksi dengan meningkatkan kecepatan reaksi.
Meningkatkan kecepatan reaksi ini dilakukan dengan menurunkan energy aktifasi
(energy yang dibutuhkan untuk reaksi). Penurunan energy aktifasi dilakukan dengan
cara membentuk kompleks dan substrat. Berikut merupakan cara kerja suatu enzim :
SUBSTRAT + ENZIM > (ENZIM + PRODUK) SUBSTRAT

GAMBAR ENZIM 1
Setelah produk dihasilkan dari suatu reaksi enzim,enzim akan dilepaskan.
Enzim bebas akan membentuk kompleks yang baru dengan substrat yang lain. Agar
dapat melakukan kerjanya suatu enzim tidak harus menyatu walaupun hanya sebentar,
pada umumnya ikatan yang terjadi antara enzim dengan sel atau organ bukanlah
ikatan kovalen akan tetapi ikatan hidrogen, ikatan ionik serta daya tarik antara gugus
hidrofobik dari dua molekul itu sendiri yang bekerja secara bersama sama mengikat
substrat enzim, kebanyakan dari interaksi ini bersifat lemah terutama jika atom-atom
yang bersangkutan berada di dalam jarak yang dekat oleh karena itu kedua molekul
harus sangat berdekatan dan meliputi suatu area yang cukup luas agar suatu substrat
enzim yang lemah dapat bereaksi sebagai katalisator protein. Aktifitas enzim sangat
dipengaruhi oleh keadaan suhu dan pH, tiap tiap enzim dapat bekerja dengan efektif
pada suhu dan pH tertentu dan aktivitasnya akan berkurang apabila dibawah atau
diatas suhu serta pH rata rata enzim untuk mengaktifasikan energy. Sebagian enzim
bekerja dalam suasana asam dimana indicator pH 1 s/d 2 dan sebagian enzim lainnya
hanya mampu bekerja dalam suasana basa dimana rentan pH 8. Lemahnya kinerja
kerja enzim dipengaruhi pula oleh bentuk ikatan yang terjadi secara kimiawi didalam
tubuh serta structural tersier yang terbentuk didalam fungsi enzim. Enzim hanya
mampu bekerja optimum pada suhu 38 oC 40oC dan pH antara 6-8, selain itu juga
penambahan konsentrasi enzim dan konsentrasi substrat mengakibatkan kecepatan
reaksi meningkat hingga dicapai kecepatan konstan. Adanya zat kimia tertentu juga
dapat mempengaruhi kinerja kerja enzim sementara itu dengan adanya inhibitor enzim
tidak dapat berikatan dengan substrat sehingga tidak dapat menghasilkan suatu
produk. Dalam hal ini terdapat dua macam inhibitor enzim yaitu inhibitor kompetitif
dan inhibitor nonkompetitif. Inhibitor kompetitif adalah molekul penghambat yang
cara kerjanya bersaing mendapatkan substrat sedangkan inhibitor nonkompetitif
adalah molekul penghambat enzim yang bekerja dengan cara melekatkan diri pada

luar sisi aktif sehingga bentuk enzim berubah dan sisi aktif tidak dapat berfungsi.
Aktifitas enzim di dalam sel diatur dengan ketat oleh kebutuhan tubuh dan aktifitas
enzim pada substrat dapat diatur oleh molekul lain yang terikat pada tempat lain
(allosterik) pada molekul enzim.

Interaksi antara zat toksik dengan sistem enzim antara lain berupa:
inhibisi enzim secara tidak bolak balik,
inhibisi enzim secara bolak-balik,
pemutusan reaksi biokimia,
inhibisi fotosintetik pada tumbuhan air,
sintesis zat mematikan,
pengambilan ion logam yang penting bagi kerja enzim,
inhibisi penghantaran elektron dalam rantai pernafasan

2. Mekanisme Inhibisi transpor oksigen.


Terjadinya inhibisi pada transpor oksigen antara lain dapat disebabkan oleh:
a. Keracunan karbon monoksida Karbon monoksida (CO) mengandung
tempat ikatan yang sama pada hemoglobin seperti oksigen sehingga dapat
menghilangkan kemampuan Hb mengikat oksigen (O2). Kompleks ikatan
Hb dengan CO disebut karboksi hemoglooglobin yang cenderung lebih
kuat daripada ikatan Hb dengan O2.
b. Pembentukan methemoglobin Methemoglobin merupakan hasil oksidasi
Hb yang sudah tidak memiliki kemampuan lagi mengangkut O2. Jika
methemoglobin hanya terbentuk dalam jumlah kecil, maka dapat direduksi
kembali menjadi Hb dengan bantuan enzim methemoglobinreduktase.
c. Proses hemolitik Hemolitik merupakan proses pembebasan Hb dari dalam
eritrosit akibat kerusakan membran eritrosit. Hemoglobin yang dibebaskan
akan kehilangan kemampuan mengikat O2.

3. Gangguan Fungsi Umum dari Sel

Beberapa jenis zat kimia setelah masuk ke dalam tubuh organisme dapat
berinteraksi dengan fungsi umum sel. Interaksi zat kimia dengan fungsi umum sel
tersebut antara lain dapat diwujudkan dalam bentuk efek narkose. Disamping itu,
interaksi zat kimia tertentu dengan fungsi sel umum dapat diwujudkan dalam bentuk
gangguan pada penghantaran rangsang neurohumoral. Mekanisme gangguan
penghantaran rangsang tersebut disebabkan zat kimia mempengaruhi sinapsis antara
sel saraf satu dengan sel saraf lainnya atau mempengaruhi ujung sel saraf efektor.

4. Gangguan sintesa DNA-RNA (mutagenik, karsinogenik)


Zat-zat toksik tertentu juga dapat menyebabkan gangguan pada sintesis ADN
(asam deoksiribonukleat) dan ARN (asam ribonukleat). Gangguan tersebut dapat
tejadi pada: penggandaan ADN selama pembelahan sel, transkripsi informasi ADN
kepada ARN, penyampaian informasi melalui ARN pada sintesis protein,
penghambatan sintesis enzim yang berperan serta, dan proses pengaturan yang
menentukan pola aktivitas sel. Disamping dapat menyebabkan gangguan pada sintesis
ADN dan ARN, beberapa zat toksik tertentu juga dapat berpengaruh terhadap
organisme melalui mekanisme kerja sitostatika (penghambatan pembelahan sel), kerja
imunsupresiva (penekanan pertahanan imunologi melalui penekanan proliferasi sel
tertentu, terutama limfosit), kerja mutagenik (mengubah sifat genetik sel), kerja
karsinogenik (pemicu timbulnya tumor), kerja teratogenik (penyebab organisme lahir
cacat), reaksi hipersensitif atau reaksi alergi, iritasi pada jaringan, toksisitas pada
jaringan dan penimbunan zat asing.

5. Teratogenik
Proses Kerja Teratogen :
Cacat terjadi karena beberapa hal, diantaranya yang pentiung adalah :
gangguan pertumbuhan kuncup suatu alat (agenesis)

terhenti pertumbuhan di tengah jalan


kelebihan pertumbuhan
salah arah differensiasi
Agenesis atau terganggunya pertumbuhan suatu kuncup alat, menyebabkan
adanya janin yang tak berginjal, tak ada anggota, tak ada pigment (albino), dan
sebagainya. Kalau pertumbuhan berhenti di tengah jalan, terjadi cacat seperti
sumbing atau dengan langit-langit celah. Kalau kelebihan pertumbuhan,
contohnya gigantisme dan kembar. Sedangkan yang salah arah differensiasi
menimbulkan tumor, teratoma, dan lain-lain (Yatim, 1994). Secara natural cacat
itu sulit dipastikan apa penyebabnya yang khusus. Mungkin sekali gabungan atau
kerja sama berbagai faktor genetis dan lingkungan. Secara experimental dapat
dibuat cacat dengan mempergunakan salah satu teratogen dan mengontrol faktor
lainnya. Proses kerja teratogen adalah sebagai berikut :

mengubah kecepatan proliferasi sel


menghalangi sintesa enzim
mengubah permukaan sel sehingga agregasi tidak teratur
mengubah matrix yang mengganggu perpindahan sel-sel
merusak organizer atau daya kompetisi sel berespons

Faktor Teratogen :

Faktor yang menyebabkan cacat ada dua kelompok, yaitu faktor genetis dan
lingkungan. Faktor genetis terdiri dari :

Mutasi, yakni perubahan pada susunan nukleotida gen (ADN). Mutasi


menimbulkan alel cacat, yang mungkin dominan atau resesif.

yakni perubahan pada sususnan kromosom. Contoh cacat karena ini adalah
berbagai macam penyakit turunan sindroma.

Faktor lingkungan terdiri atas :Infeksi, cacat dapat terjadi jika induk yang kena
penyakit infeksi, terutama oleh virus. Obat, berbagai macam obat yang
diminum ibu waktu hamil dapat menimbulkan cacat pada janinnya. Radiasi,
ibu hamil yang diradiasi sinar-X , ada yang melahirkan bayi cacat pada otak.
Mineral radioaktif tanah sekeliling berhubungan erat dengan lahir cacat bayi di
daerah bersangkutan. Defisiensi, ibu yang defisiensi vitamin atau hormon
dapat menimbulkan cacat pada janin yang sedang dikandung.

Tahap Pradiferensiasi :
Selama tahap ini, embrio tidak rentan terhadap zat teratogen. Zat ini dapat
menyebabkan kematian embrio akibat matinya sebagian besar sel embrio, atau
tidak menimbulkan efek yang nyata. Bahkan, bila terjadi efek yang agak
berbahaya, sel yang masih hidup akan menggantikan kerusakan tersebut dan
membentuk embrio normal. Lamanya tahap resisten ini berkisar antara 5 9
hari, tergantung dari jenis spesiesnya (Lu, 1995).

Tahap Embrio :
Dalam periode ini sel secara intensif menjalani diferensiasi, mobilisasi, dan
organisasi. Selama periode inilah sebagian besar organogenesis terjadi.
Akibatnya, embrio sangat rentan terhadap efek teratogen. Periode ini biasanya

berakhir setelah beberapa waktu, yaitu pada hari ke-10 sampai hari ke-14 pada
hewan pengerat dan pada minggu ke-14 pada manusia. Selain itu, tidak semua
organ rentan pada saat yasng sama dalam suatu kehamilan (Lu, 1995).

Tahap Janin :
Tahap ini ditandai dengan perkembangan dan pematangan fungsi. Dengan
demikian, selama tahapan ini, teratogen tidak mungkin menyebabkan cacat
morfologik, tetapi dapat mengakibatkan kelainan fungsi. Cacat morfologik
umumnya mudah dideteksi pada saat kelahiran atau sesaat sesudah kelahiran,
tetapi kelainan fungsi, seperti gangguan SSP, mungkin tidak dapat didiagnosis
segera setelah kelahiran (Lu, 1995).

6. Reaksi hipersensitivitas
Hipersensitivitas adalah reaksi yang terjadi akibat terpajan antigen yang
berulang yang menyebabkan memicu reaksi patologi. Ada beberapa ciri-ciri yang
umum pada hipersensitivitas yaitu antigen dari eksogen atau endogen dapat memicu
reaksi hipersensitivitas, penyakit hipersensitivitas biasanya berhubungan dengan gen
yang dimiliki setiap orang, reaksi hipersensitivitas mencerminkan tidak kompaknya
antara mekanisme afektor dari respon imun dan mekanisme kontrolnya.
Hipersensitivitas dapat diklasifikasikan atas dasar mekanisme imunologis
yang memediasi penyakitnya. Klasifikasi ini juga membedakan antara respon imun
yang menyebabkan luka jaringan atau penyakit, patologinya, dan juga manifestasi
klinisnya. Tipe-tipe klasifikasi hipersensitivitas adalah:
Hipersensitivitas immediate (tipe I) respon imun dimediasi oleh sel TH2,
antibodi IgE, dan sel mast; yang pada akhirnya akan mengeluarkan mediator
inflamasi.
Hipersensitivitas antibody-mediated (tipe II) antibodi IgG dan IgM dapat
menginduksi inflamasi dengan mempromosikan fagositosis atau lisis terhadap
luka pada sel. Antibodi juga mempengaruhi fungsi selular dan menyebabkan
penyakit tanpatanpa ada luka jaringan.
Hipersensitivitas kompleks imun (tipe III) antibodi IgG dan IgM mengikat
antigen yang biasanya ada di sirkulasi darah, dan kompleks antibodi-antigen
mengendap di jaringan yang pada akhirnya akan menginduksi proses
inflamasi.
Hipersensitivitas cell-mediated (tipe IV) luka seluler dan jaringan akan
menyebabkan tersintesisnya sel limfosit T (TH1, TH2, dan CTLs). Sel TH2
menginduksi lesi yang termasuk kedalam hipersensitivitas tipe I, tidak
termasuk hipersensitivitas tipe IV.

Yang akan dibahas disini hanyalah hipersensitivitas tipe I dan IV:

I.

Hipersensitivitas Immediate (tipe I)


Hipersensitivitas ini adalah reaksi imunologis cepat yang terjadi hanya
setelah satu menit kombinasi antigen dan antibodi terikat oleh sel mast.
Reaksi ini biasa disebut dengan alergi, dan antigen yang memicunya
disebut dengan alergen. Hipersensitivitas immediate dapat terjadi sebagai
kelainan sistemik atau sebagai reaksi lokal. Biasanya, selama beberapa
menit pasien akan shok yang dapat berakibat fatal. Reaksi lokal berbedabeda dan bermacam-macam tergantung bagaimana masuknya alergen
tersebut, contohnya bisa jadi localized cutaneous sweeling (alergi kulit),
hay fever, asma, atau allergic gasteroentritis (alergi makanan). Banyak
cepat yang terjadi mempunya ciri utama yaitu vasodilaatasi, vascular
leakage, dan tergantung dari lokasinya. Perubahan yang terjadi biasanya
akan menjadi jelas sekitar 5-30 menit setelah terekspos antigen, dan akan
mereda setelah 60 menit, reaksi kedua fase lambat akan terjadi 2-24 jam
setelahnya tanpa harus terekspos oleh antigen dan akan berakhir setelah
beberapa hari. Reaksi fase lambat ini bercirikan adanya infiltrasi jaringan
dari eosinofil, neutrofil, basofil, monosit, dan sel T CD4+ yang
mengakiatkan kerusakan jaringan. Kebanyakan reaksi hipersensitivitas ini
dimediasi oleh antibodi IgE, aktivasi dari sel mast, dan leukosit lainnya.
Sel mast adalah derivat dari sumsum tulang blakang yang terdistribusikan
secara luas di jaringan. Sel mast terkumpul banyak di dekat pembuluh
darah, saraf, dan subephitelial tissue; yang memperjelas bahwa reaksi
hipersensitivitas biasa terjadidi daerah-daerah ini. Sel mast memiliki
granula sitoplasmic yang berisikan berbagai macam mediator aktif. Sel
mast dapat teraktivasi oleh ikatan silang dari IgE Fc receptor yang
mempunya afinitas tinggi; sel mast juga dapat teraktivasi oleh komplemen
seperti C5a dan C3a (disebut sebagai anaphylatoxin karena dapat
menimbulkan reaksi seperti anaphylaxis), reaksinya dengan mengikat pada
reseptor di membran sel mast. Basofil hampir sama dengan sel mast dilihat
dari reseptor dan granula sitoplasmiknya. Bedanya dengan sel mast adalah
basofil tersebar di sirkulasi darah. Reaksi yang diperankan oleh basofil
dari hipersensitivitas ini masih belum diketahui jelas yang pasti basofil
akan tertarik ke daerah inflamasi akibat dari granulasi sel mast.
Sel TH2 memiliki peran utama dalam menginisiasi reaksi
hipersensitivitas immediate ini dengan menstimulasi produksi IgE dan
mempromosikan inflmasi. Sel TH2 muncul karena adanya presentasi dari
antigen dengan sel T helper CD4+, mungkin oleh sel dentritik yang
menangkap antigen dari tempat awal masuknya. Respon yang ditimbulkan
akibat dari antigen dan stimuli lain, termasuk sitokin (IL4), sel T akan
berdiferensiasi menjadi sel TH2. Sel TH2 akan memproduksi sitokin
dalam jumlah besar (IL4, IL5, dan IL13). IL4 akan bereaksi terhadap sel B
untuk menstimulasi produksi dari IgE dan mempromosikan lebih banyak

lagi sel TH2. IL5 akan terlibat dalam perkembangan dan pengaktivasian
eosinofil, yang merupakan efektor penting dalam hipersensitivitas ini. Efek
dari IL13 adalah meningkatkan produksi IgE dan menstimulasi produksi
mukus pada sel epitel. Sel TH2 juga memproduksi kemokin yang dapat
menarik sel TH2 lebih banyak dan leukosit lain kedalam situs reaksinya.
Sel mast dan basofil memiliki reseptor dengan afinitas tinggi yang
disebut FceRI, yang speseifik terhadap IgE dan secara aktif berikattan
dengan antibodi IgE. Pertamakali, antigen (alergen) akan berikatan dengan
antibodi IgE, lalu IgE akan melekat pada sel mast. Ikatan IgE dengan
reseptor Fce akan mengaktivasi sinyal transduksi ke sitoplasma sel mast.
Sinyal ini akan menyebabkan sel mast berdegranulasi yang akan
mengakibatkan pelepasan mediator aktif yang ada di granula sel mast.
Mediator-mediator inilah yang bertanggung jawab terhadap munculnya
gejala-gejala hipersensitivitas immediate ini, dan menyebabkan akan
terjadinya reaksi fase-lambat dari hipersensitivitas ini.
Mediator yang terkandung dalam granula sel mast dapat dibagi
menjadi 3 kategori yaitu:
a. Vasoactive amines:
Contohnya : histamine yang menyebabkan kontraksi otot polos,
permeability vascular meningkat, dan sekresi mukus di hidung,
bronkus, dan kelenjar lambung
b. Enzymes
c. Enzim-enzim hidrolase Preteoglycans
Contohnya heparin yang mempunyai efek anti coagulant dan
chondroitin sulfate.
Ada juga mediator lipid yang teraktivasi, akibat dari reaksi membran
sel mast akan mengaktivasi phospholipase A2, enzim yang bereaksi di
membran sel mast dan akan menghasilkan asam arakidonat yang merupakan
komponen utama dalam perubahan 5-lipoxygenes dan cyclooxygenase
menjadi leukotrien dan prostaglandin.
Sel mast juga mengeluarkan sitokin yang berperan penting juga dalam
hipersensitivitas ini. Sitokin (TNF, IL1, dan kemokin) akan memicu
pengrekrutan leukosit (ciri dari reaksi fase-lambat), IL4, dan beberapa lagi
yang lain.
Orang dengan atopik biasanya mempunya level IgE yang tinggi dan
IL4 yg lebih banyak dibandingkan orang pada umumnya. Keluarga dengan
tingkat alergi yang tinggi 50%nya adalah atopik. Meskipun belum ditemukan
hubungan secara pasti, tetapi pasien dengan asma ditemukan mempunya
perbedaan pada beberapa lokus di DNAnya. Gen itu adalah 5q31 dimana juga
merupakan tempat pengkodean sitokin IL3, IL4, IL5, IL9, IL13
Kesimpulannya adalah hipersensitivitas immediate (tipe I) kelainan yg
kompleks yang terjadi akibat mediasi IgE yang memicu sel mast dan

akumulasi sel radang pada situs tersebut. Akumulasi ini terjadi karena adanya
induksi dari sel TH2 yang menstimulasi produksi IgE (mengaktifkan sel mast),
menyebabkan akumulasi sel radang, dan memicu sekresi mukus.
II.

Hipersensitivitas T cell-mediated (tipe IV)


hipersensitivitas ini diinisiasi oleh antigen yang mengaktivasi limfosit
T, termasuk sel T CD4+ dan CD8+. Sel T CD4+ yang memediasi
hipersensitivitas ini dapat mengakibatkan inflamasi kronis. Banyak
penyakit autoimun yang diketahui terjadi akibat inflamasi kronis yang
dimediasi oleh sel T CD4+ ini. Dalam beberapa penyakit autoimun sel T
CD8+ juga terlibat tetapi apabila terjadi juga infeksi virus maka yang lebih
dominan adalah sel T CD8+.
Reaksi inflamasi disebabkan oleh sel T CD4+ yang merupakan
kategori hipersensitivitas reaksi lambat terhadap antigen eksogen. Reaksi
imunologis yang sama juga terjadi akibat dari reaksi inflamasi kronis
melawan jaringan sendiri. IL1 dan IL17 keduanya berkontribusi dalam
terjadinya penyakit organ-spesifik yang dimana inflamasi merupakan
aspek utama dalam patologisnya. Reaksi inflamasi yang berhubungan
dengan sel TH1 akan didominasi oleh makrofag sedangkan yang
berhubungan dengan sel TH17 akan didominasi oleh neutrofil.
Reaksi yang terjadi di hipersensitivitas ini dapat dibagi menjadi
beberapa 2 tahap:
Proliferasi dan diferensiasi sel T CD4+ sel T CD4+ mengenali susunan
peptida yang ditunjukkan oleh sel dendritik dan mensekresikan IL2 yang
berfungsi sebagai autocrine growth factor untuk menstimulasi proliferasi
antigen-responsive sel T. Perbedaan antara antigen-stimulated sel T dengan
TH1 atau Th17 adalah terrlihat pada produksi sitokin oleh APC saat
aktivasi sel T. APC (sel dendritik dan makrofag) terkadang akan
memproduksi IL12 yang menginduksi diferensiasi sel T menjadi TH1.
IFN- akan diproduksi oleh sel TH1 dalam perkembangannya. Jika APC
memproduksi sitokin seperti IL1, IL6, dan IL23; yang akan berkolaborasi
dengan membentuk TGF- untuk menstimulasi diferensiasi sel T menjadi
TH17. Beberapa dari diferensiasi sel ini akan masuk kedalam sirkulasi dan
menetap di memory pool selama waktu yang lama.

Respon terhadap diferensiasi sel T efektor apabila terjadi pajanan


antigen yang berulang akan mengaktivasi sel T akibat dari antigen yang
dipresentasikan oleh APC. Sel TH1 akan mensekresikan sitokin (umumnya
IFN-) yang bertanggung jawab dalam banyak manifestasi dari
hipersensitivitas tipe ini. IFN- mengaktivasi makrofag yang akan memfagosit
dan membunuh mikroorganisme yang telah ditandai sebelumnya.
Mikroorganisme tersebut mengekspresikan molekul MHC II, yang
memfasilitasi presentasi dari antigen tersebut. Makrofag juga mensekresikan
TNF, IL1 dan kemokin yang akan menyebabkan inflamasi. Makrofag juga
memproduksi IL12 yang akan memperkuat respon dari TH1. Semua
mekanisme

7. Penimbunan di organ tertentu


Pengikatan toksin dalam jaringan tubuh menyebabkan lebih tinggi kadar
toksin dalam tubuh. Tempat-2 penyimpanan/ pengikatan toksin dalam jaringan tubuh
antara lain : a. Hati dan ginjal Keduanya memiliki kapasitas yg lebih tinggi untuk
mengikat zat-zat kimia, memiliki sifat pengikatan khusus seperti misal metalotionein (
jenis protein yang memiliki BM rendah yang terdiri dari mata rantai polipeptida
tunggal dari beberapa asam amino) yg penting untuk mengikat logam Cd,Pb,Hg dan
As di hati dan ginjal. Albumin mudah melepaskan ion logam Cd ke dalam jaringan
yang memerlukannya. 30 menit setelah pemberian dosis tunggal Cd kadarnya dalam
hati 50 kali lebih tinggi dari kadarnya dalam plasma darah. Tulang Tulang merupakan
tempat penimbunan utama untuk toksikan Fluorida (F), Timbal (Pb) dan Stronsium
(Sr). Penimbunan ini terjadi dengan cara penyerapan silang antara toksikan dalam
cairan interstisial dalam tulang. Karena ukuran dan muatan yang sama maka toksin F-

mudah menggantikan OH- dalam tulang, Pb2+, Cd2+ dan Sr2+ mudah menggantikan
Ca2+ dalam tulang. Jaringan lemak Merupakan depo penyimpanan yang penting bagi
zat yg larut dalam lipid misal. DDT, dieldrin, PCB. Saat kelaparan kadarnya semakin
tinggi karena penyerapannya lebih kuat. Protein plasma darah Sebagian besar toksin,
misalnya Pb terikat pada albumin ( bagian dari protein ). Namun karena pengikatan
ini bersifat reversibel toksin itu dapat lepas dari albumin shg kadar bahan kimia yang
bebas di luar protein plasma darah meningkat. Pengikatan toksin dalam jaringan
melalui dua mekanisme, yaitu : 1. Irreversibel/ tak bolak-balik ( tak terpulihkan) Bila
toksin masuk ke dalam suatu jaringan maka toksin tersebut akan terikat kuat dan sulit
lepas sehingga memberikan dampak besar pada jaringan. Contoh inhibisi insektisida
malathion, jenis organofisfat terhadap enzim asetilkolinesterase yang berikatan
kovalen dengan terhadap enzim asetilkolinesterase yang berikatan kovalen dengan
organoposfat. Oleh karena itu asetikolin tidak dapat dihidrolisis organoposfat. Oleh
karena itu asetikolin tidak dapat dihidrolisis sehingga impuls saraf dari satu sel ke sel
yang lain atau ke efektor sehingga impuls saraf dari satu sel ke sel yang lain atau ke
efektor terganggu. terganggu. Reversibel/ bolak-balik ( dapat terpulihkan) Bila toksin
masuk ke dalam jaringan maka toksin itu bisa lepas kembali karena ikatan yang lemah
antara toksin dengan jaringan.Ikatan ini banyak terjadi dalam tubuh. Misal Efek
terhadap enzim dapat terjadi karena logam berat seperti air Hg, Pb,As dimana terjadi
ikatan kovalen antara logam tadi dengan gugus SH pada enzim, sehingga enzim tidak
dapat berfungsi. Contoh lain, pengikatan Pb oleh albumin (pada protein plasma
darah). Pb dapat lepas kembali sehingga kadar Pb di dalam protein plasma darah
semakin menurun dan di luar protein plasma darah semakin meningkat. Contoh :
Reaksi antara Arsen trivalen dengan protein dan enzim yang mengandung sulfihidril.
Contoh-contoh reaksi pengikatan lain : 1. Reaksi pengikatan As dengan gliseraldehid3 posfat sehingga menghambat produksi ATP Bentuk: garam As 2 O 3 Toksik asam
arsenat H 4 AsO 4 Toksik OksidaA 2 O 5 Toksik Garam komplekPbHAs5O 4 Kurang
toksik Organik AsIkatan kovalen dengan rantai karbon alifatik Bentuk Trivalen dan
pentavalen Gas arsinAsH3Paling toksik Mekanisme toksisitas As NormalToksisitas
AsD-gliseraldehid 3-fosfat + NAD 1,3-difosfogliserat + NAD + H+1-arseno-3fosfogliserat 3-fosfogliserat + ATP3-fosfogliserat + HAsO4 2 (ATP tidak diproduksi)
Reaksi pengikatan As dengan gliseraldehid-3 fosfat sehingga terhambatnya produksi
ATP

Jelaskan mekanisme penghambatan metabolisme racun melalui


1. Pengurangan biosintesis enzim atau kofaktor
Penghambatan aktifitas enzim ada dua tipe:
a. Kompetitif: zat penghambat mempunyai struktur yang mirip dengan substrat
sehingga dapat bergabung dengan sisi aktif enzim. Terjadi kompetisi antara
substrat dengan inhibitor untuk bergabung dengan sisi aktif enzim (misal feed
back effect)

b. Non kompetitif: zat penghambat menyebabkan struktur enzim rusak sehingga


sisi aktifnya tidak cocok lagi dengan substrat

Kofaktor ini dapat dibagi dalam 3 (tiga) kelompok :


Gugus Prostetik
Kelompok kofaktor yang terikat pada enzim dan tidak mudah terlepas dari
enzimnya. Misalnya : Flavin Adenin Dinukleotida enzim suksinat
dehidrogenasi
Aktivator
Ion-ion logam yang dapat terikat atau mudah terlepas dari enzim. Misalnya :
K+ Mn++ Mg++ Cu++ Zn++
Koenzim
Molekul organik kecil, tahan terhadap panas, mudah terdisosiasi dan dapat
dipisahkan dari enzimnya dengan cara dialisis.
KOFAKTOR :

Ikatan bersifat sementara, tdk sekuat prostetic group

Bisa berikatan dg enzim atau substrat (ATP)


Terbanyak berupa ion-ion logam (metal-activated enzyme)

2. Peningkatan degradasi enzim atau kofaktornya


a. Konsentrasi enzim
b.

c.

d.

e.

Pada suatu konsentrasi substrat tertentu, kecepatan reaksi bertambah dengan


bertambahnya konsentrasi enzim.
Konsentarsi Substrat
Hasil eksperimen menunjukkan bahwa dengan konsentrasi enzim yang tetap,
maka pertambahan konsentrasi substrat akan menaikkan kecepatan reaksi.
Akan tetapi pada batas konsentrasi tertentu, tidak terjadi kenaikan kecepatan
reaksi walaupun konsentrasi substrat diperbesar.
Suhu
Pada suhu rendah reaksi kimia berlangsung lambat, sedangkan pada
suhu yang lebih tinggi reaksi berlangsung lebih cepat. Di samping itu, karena
enzim adalah suatu protein, maka kenaikan suhu dapat menyebabkan
terjadinya proses denaturasi, sehingga bagian aktif enzim akan terganggu dan
dengan demikian konsentrasi efektif enzim menjadi berkurang dan kecepatan
reaksinya pun menurun. Kenaikan suhu sebelum terjadinya proses denaturasi
dapat menaikkan kecepatan reaksi. Namun kenaikan suhu pada saat terjadinya
denaturasi akan mengurangi kecepatan reaksi. Oleh karena ada dua pengaruh
yang berlawanan, maka akan terjadi suatu titik optimum, yaitu suhu yang
paling tepat bagi suatu proses reaksi yang menggunakan enzim tersebut.
Pengaruh pH
Struktur ion enzim tergantung pada pH lingkungan. Enzim dapat
berbentuk ion positif, ion negative atau ion bermuatan ganda (zwitter ion).
Dengan demikian perubahan pH lingkungan akan berpengaruh terhadap
efektifitas bagian aktif enzim dalam membentuk kompleks enzim substrat.
Tinggi rendahnya pH juga dapat menyebabkan denaturasi yang dapat
menurunkan aktifitas enzim, sehingga diperlukan suatu pH optimum yang
dapat menyebabkan kecepatan reaksi enzim yang paling tinggi.
Pengaruh Inhibitor
Molekul atau ion yang dapat menghambat reaksi pembentukan kompleks
enzim-substrat disebut inhibitor.
Peningkatan reaksi kimia dipengaruhi oleh peningkatan suhu (misalnya: kopi

ditambah gula dikasih air panas kopi dan gula akan larut tetapi jika dikasih air dingin
maka kopi dan gula tidak larut. Mengapa? karena dengan peningkatan suhu yang
berubah adalah energi kinetik/ energi gerak). Peningkatan reaksi kimia juga
dipengaruhi oleh katalisator yang merubah energi aktivasi tetapi tidak merubah G.
Kekhususan enzim ada 2, yaitu absolut (spesifik) dan relatif. Absolut atau spesifik
yaitu 1 enzim yang hanya bisa mereaksikan 1 substrat, contohnya enzim glukokinase

yang hanya untuk substrat glukosa. Relatif yaitu 1 enzim yang bisa mereaksikan
beberapa substrat, contohnya enzim hexokinase yang bisa mereaksikan glukosa dan
fruktosa. Kekhususan tergantung sifat ikatan enzim dengan substrat, sifat gugus
katalitik, kofaktor organik, ion logam, bentuk komplementer, muatan listrik, sifat
hidrofilik/ hidrofobik dari enzim maupun substrat.